1
Anak memiliki dunia tersendiri, eksistensinya sebagai anak kecil mengindikasikan bahwa ia memiliki dunia sendiri yang berupa kecenderungan, kesenangan, dan keinginan untuk melakukan sesuatu . Dalam hal ini, hendaknya orang tua mengarahkan dunia anak dengan benar dan memberi perhatian yang penuh kepadanya. (Abdurrahaman, 2012, p: 84)
Perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya dengan menganggap mereka sebagai anak dari keduanya, harus bersandar pada prinsip kasih sayang, cinta kasih dan keadilan, dalam memperlakukan semua anak, tidak pilih kasih, tidak lebih menyayangi sebagian dan mengabaikan sebagian yang lainnya. Ini merupakan dasar-dasar perlakuan orangtua terhadap anak- anaknya dengan pertimbangan bahwa mereka adalah anak bagi keduanya. . (Abdurrahaman,2012, p: 90)
Setiap anak membutuhkan pendampingan orangtua, siapapun dan bagaimanapun keadaannya. Anak-anak yang normal pun tetap membutuhkan pendampingan orangtua sampai mereka mengalami kematangan secara fisik, psikis dan kepribadiannya. Demikian halnya dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus, pendampingan orangtua mutlak diperlukan. Hanya saja, dibutuhkan keterampilan khusus disamping cinta dan kasih sayang bagi orangtua yang mendampingi anak-anak yang berkebutuhan khusus. (Ratih dan Afin,2013, p:76)
Islam menjelaskan kewajiban-kewajiban dan hak-hak yang selayaknya dinikmati oleh setiap individu. Islam memfokuskan pada hak-hak anak yang harus dipenuhi agar ia bisa tumbuh sehat dan baik, serta terbebas dari segala macam keruwetan-keruwetan yang bisa membuat ia berakhlak negatif.
Pemenuhan hal tersebut akan menciptakan suasana yang kondusif dan ia
memiliki akhlak yang positif. Hak-hak ini menuntut ditanamkannya rasa
percaya diri, kehormatan, kemuliaan, kemampuan untuk menolong orang
lain, cinta Negara, tanah air, serta membela Islam dalam jiwa anak. Islam telah mengatur bahwa hak-hak anak dalam Islam adalah:
1. Hak Anak dalam mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.
Telah banyak dijelaskan bahwa hati kedua orang tua ditakdirkan mencintai anaknya, memiliki kedekatan emosional, menyayangi, memiliki rasa belas kasihan, dan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan anak.
Jika tidak ada rasa yang merupakan fitrah ini maka para ayah tidak akan bersabar dalam menjaga, mendidik, dan menumbuh kembangkan anak dalam kehidupan bermasyarakat serta mencukupi kebutuhan hidupnya, mempertimbangkan kemaslahatanya, mengontrol hal-hal yang berkaitan dengannya, mendidik serta membawanya ke arah yang lebih baik.(Abdurrahman, 2012, p: 130)
Al-Qur’an telah menggambarkan bagaimana seharusnya perasaan ayah dan anak merupakan perhiasan dalam kehidupan sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 46 yang berbunyi
Artinya:Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
2. Hak anak untuk disandarkan pada nasab ayahnya.
Syariat Islam menegaskan bahwa nasab tidak akan ada kecuali
melalui kelahiran nyata yang terjadi karena adanya ikatan hubungan
antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Oleh sebab itu,
Islam mengharamkan adopsi anak dengan pengharaman yang cukup
tegas. Dan Islam juga menafikan bahwa adopsi anak dapat
menyebabkan terciptanya nasab berdasarkan firman Allah dalam
Quran surat Al Ahzab.
3. Hak hidup bagi anak.
Hak hidup dianggap sebagai hak yang paling berkaitan dengan keberadaan manusia dimuka bumi. Ini merupakan hak alami bagi setiap individu dan termasuk nikmat yang dilimpahkan oleh Allah SWT. Akan tetapi terdapat beberapa peradaban yang menghalangi manusia untuk memperoleh hal tersebut. Pada masa silam, manusia tidak menetapkan aturan yang jelas dalam hal ini. Mereka bisa menghilangkan nyawa anak dikarenakan takut hidup fakir, malu, atau aib. Oleh sebab itu Al-Quran datang melarang berbagai bentuk pembunuhan dan pertumpahan darah. Islam menetapkan Qishas sebagai bentuk hukuman yang setimpal bagi yang melanggar hukum- hukum Allah SWT. Islam memberikan hak hidup bagi anak dan mengancam orang yang menentang ketetapan Islam dengan berbagai ancaman. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-An’am ayat 140 yang berbunyi
Artinya:Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah.
Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk
.4. Hak anak untuk mendapatkan perlindungan secara menyeluruh (sandang, pangan dan nafkah)
Rasulullah SAW bersabda
Artinya:” Dinar yang kamu nafkahkan dijalan Allah dan dinar yang
kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak serta dinar
yang kamu shadakahkan kepada orang miskin dan dinar
yang kamu berikan kepada anggota keluargamu, maka
yang paling besar pahalanya adalah dinar yang kamu
berikan kepada anggota keluargamu”.(H.R Muslim)
Jika seorang ayah mendapatkan pahala dan ganjaran karena telah memberikan kelapangan bagi keluarga dan memberi nafkah kepada anggota keluarga, maka sebaliknya seorang ayah akan mendapat dosa dan hukuman jika menolak menafkahi keluarganya, sementara ia bisa memberi makan dan minum kepada mereka.(Abdurrahman, 2012, p :131-135)
5. Hak anak untuk mendapatkan perlakuan adil dan tidak pilih kasih.
Islam menganggap perlakuan yang sama dalam pengasuhan anak- anak laki-laki maupun perempuan, termasuk persoalan penting yang menjadi titik tolak keluarga dalam membangun prinsip tumbuh kembang mereka.
Rasulullah SAW bersabda.
Artinya:”berlaku adillah terhadap anak-anak kalian”(H.R Attabrani).
Hadist tersebut menegaskan bahwa keluarga tidak boleh melebihkan atau memprirotaskan anak laki-laki dari anak perempuan, atau mengutamakan anak laki-laki yang paling besar diantara saudara- saudaranya yang perempuan atau lebih menyayangi seorang anak laki- laki dibanding saudara laki-lakinya yang lain, karena faktor poligami atau faktor apapun. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 8 yang bebunyi
artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-
orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah,
menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat
kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Islam tidak pernah membedakan anak laki-laki dan perempuan dalam hal mendapatkan kasih sayang dan kelembutan dari kedua orangtua. jika dalam masyarakat muslim ditemukan para ayah yang melihat anak perempuannya dengan sebelah mata, tidak seperti ketika memandang anak laki-lakinya, maka semua itu disebabkan oleh lingkungan yang rusak yang melahirkan tradisi-tradisi yang tumbuh dimasyarakat jahiliah. sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat An Nahl ayat 58-59 yang berbunyi:
artinya:Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.
Selain itu, realitas tersebut juga disebabkan oleh lemahnya iman yang ditandai dengan keberadaan orang-orang yang tidak puas dengan sesuatu yang telah diberikan olah Allah SWT kepada mereka, yaitu anak perempuan. (Abdurrahman, 2012, p: 136-137)
Islam dengan seruannya terhadap persamaan mutlak dan keadilan penuh, tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan dalam mendapatkn kasih sayang dan kelembutan dari kedua orangtua.
Kewajiban dan tanggung jawab keluarga (orangtua) terhadap anak
dijelaskan dalam UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
pasal 26 bahwa
1. Orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk;
a. mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak.
b. Menumbuh kembangkan anak sesuai kemampuan, bakat, dan minatnya
c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak 2. Dalam hal orangtua tidak ada, atau tidak diketahui
keberadaannya, atau karena satu sebab, tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya, maka kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dapat beralih kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Undang-Undang No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak)
Untuk memelihara dan melindungi kepentingan anak, Undang- Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam Pasal 4 menjelaskan bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup. Tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusian, serta mendapat perlindungan dari kekerasan diskriminasi. Di dalam Pasal 51 dijelaskan bahwa anak yang menyandang cacat fisik dan atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa.
Untuk memelihara dan melindungi hak-hak anak berkebutuhan khusus Undang-Undang telah mengaturnya yaitu Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas dalam Pasal 10 menyebutkan Hak pendidikan untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak:
a. Mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif dan khusus;
b. Mempunyai Kesamaan Kesempatan untuk menjadi pendidik atau
tenaga kependidikan pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur,
dan jenjang pendidikan;
c. Mempunyai Kesamaan Kesempatan sebagai penyelenggara pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan; dan
d. Mendapatkan Akomodasi yang Layak sebagai peserta didik.
Setelah dijelaskan tentang hak pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dijelaskan didalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang disabilitas dan didalam hukum Islam yang mengatur tentang pemenuhan hak-hak anak maka penulis membatasi tentang pemenuhan hak anak berkebutuhan khusus oleh orangtua di bidang pendidikan.
Berdasarkan survei yang penulis lakukan di sekolah Luar Biasa Lima Kaum dan mewawancarai kepala sekolah pada hari jumat tanggal 5 April 2017, penulis mendapatkan informasi tentang hak-hak anak yang berkebutuhan khusus bahwa perhatian dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terhadap anak yang berkebutuhan khusus sudah maksimal, baik itu pendidikan, kesehatan dan operasional untuk anak di lingkungan sekolah ini. Namun perhatian dari orangtua dan lingkungan masyarakat belum tampak dan belum dilaksanakan dengan semestinya, misalnya banyak dari anak yang berkebutuhan khusus yang putus sekolah dikarenakan orangtua tidak mau mengantarkan anaknya kesekolah, orangtua berpandangan anaknya tidak mampu untuk sekolah dan juga kurangnya perhatian dari lingkungan masyarakat terhadap anak tersebut salah satunya terjadinya diskriminasi terhadap anak ditandai dengan cara memperlakukan anak berkebutuhan khusus yang dianggap berbeda dengan anak-anak normal lainya.
Berdasarkan data yang penulis peroleh dari Dinas Sosial Perlindungan
Perempuan dan Anak Kabupaten Tanah Datar dan Sekolah Luar Biasa Lima
Kaum, penulis mendapat data bahwa ada beberapa anak disabilitas yang
menempuh pendidikan akan tetapi telah putus sekolah dan ada anak
disabilitas yang tidak memperoleh pendidikan sama sekali.seperti yang
dijelaskan dalam tabel dibawah ini
Tabel 1.1 No Nama anak Pernah
sekolah
Belum pernah sekolah
Umur Alamat
1 Andre saputra 17 Tahun Lima kaum 2 Muhammad
adib
Lima kaum
3 Oki pantoni 16 Tahun Lima kaum
4 Kevin 15 Tahun Parambahan
5 Wahyu chandra 17 Tahun Labuah
6 Yodi ahmad 18 Tahun Cubadak
7 Dafa 14 Tahun Cubadak
8 Arif budiman 14 Tahun Baringin
9 Rina 17 Tahun Baringin
10 Raihan 11 Tahun Baringin
Sumber: Data penyandang masalah sosial anak dengan kecacatan kabupaten Tanah Datar Tahun 2016
Berdasarkan uraian diatas maka penulis membahas permasalahan
tersebut dalam sebuah skripsi dengan judul “PEMENUHAN HAK
PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI
KECAMATAN LIMA KAUM DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM
ISLAM DAN HUKUM POSITIF”. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan
Lima Kaum.
B. Fokus penelitian 1. Fokus masalah.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis memfokuskan masalah yang penulis teliti yaitu pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus ditinjau dari perpektif hukum Islam dan hukum positif studi kasus di Kecamatan Lima Kaum.
2. Rumusan masalah
a. Faktor-faktor penghambat pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus di kecamatan Lima Kaum?
b. Bagaimana analisis pelaksanaan pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Lima Kaum Perspektif Hukum Islam dan hukum Positif ?
C. Tujuan Penelitian.
1. Untuk mengetahui dan menjelaskan faktor-faktor penghambat pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus di Kecamatam Lima Kaum 2. Untuk menganalisis pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan
khusus di kecamatan Lima Kaum perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif
D. Manfaat dan Luaran Penelitian.
Manfaat penelitian ini untuk memberikan pemahaman bagi orangtua
tentang pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus menurut
perspektif hukum Islam dan hukum Positif. Diharapkan dapat memberikan
pemahaman bagi orangtua dan sekolah luar biasa tentang pemenuhan hak
pendidikan anak berkebutuhan khusus dari perpektif hukum Islam dan hukum
positif. Sedangkan bagi penulis manfaat penelitian ini adalah dapat
mengetahui dan menganalisis tentang bagaimana pemenuhan hak pendidikan
anak berkebutuhan khusus ditinjau dari perspektif hukum Islam dan hukum
Positif, dan juga berguna sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana S1 pada jurusan Ahwal Al-Syaksiyyah Fakultas Syariah IAIN
Batusangkar.
Sementara luaran penelitian ini adalah agar diterbitkan pada jurnal ilmiah IAIN Batusangkar, dan juga diharapkan dapat berguna untuk dijadikan bahan acuan untuk penelitian berikutnya
E. Definisi Opereasional.
Pemenuhan hak pendidikan adalah proses, cara untuk memenuhi hak seorang anak untuk mendapatkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia. Yang penulis maksud disini adalah segala kegiatan untuk menjamin dan memenuhi hak pendidikan anak berkebutuhan khusus agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, dan terlindungi dari kekerasan dan diskriminasi di Kecamatan Lima Kaum perspektif hukum Islam dan Hukum Positif.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat memenuhi hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak, yang penulis maksud berkebutuhan khusus disini adalah tentang anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik, mental, di Kecamatam Lima Kaum. (UU No 35 tahun 2014),
Perspektif menurut KBBI adalah pandangan atau cara pandang, yang penulis maksud disini adalah pandangan atau cara pandang hukum Islam dan hukum positif terhadap permasalahan pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Lima Kaum.
Hukum Islam adalah peraturan-peraturan yang mengatur tentang
kehidupan manusia berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Yang penulis
dimaksud disini adalah semua aturan-aturan baik itu dari Al-Qur’an dan
Sunnah yang mengatur tentang hak pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Hukum Positif adalah peraturan-peraturan atau hukum yang berlaku saat ini dalam suatu Negara. Lebih fokusnya maksud dari penulis disini ialah segala peraturan-peraturan yang berlaku saat sekarang ini dan mengatur tentang hak-hak anak berkebutuhan khusus, baik itu UU perlindungan anak dan UU penyandang disabilitas atau UU lain yang mengatur tentang pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Judul yang penulis angkat setelah dioperasionalkan adalah
“PEMENUHAN HAK PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN
KHUSUS DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN
HUKUM POSITIF”
13