• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi Rek e a k y a a y s a a s a G e G n e e n t e i t k i a

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Teknologi Rek e a k y a a y s a a s a G e G n e e n t e i t k i a"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

Teknologi

Rekayasa Genetika

Rekayasa Genetika

(2)

Pokok Bahasan: Teknologi Rekayasa Genetik Sub Pokok Bahasan:

• Hukum Mendel

• Pemuliaan Mutasi

• Teknologi DNA Rekombinan

TIK:

TIK:

• Mahasiswa dapat menjelaskan teknologi rekayasa genetik

• Mahasiswa memahami Hukum Mendel, pemuliaan mutasi dan teknologi DNA rekombinan

Waktu: 4x (2x50 menit)

(3)

I. Pendahuluan

• Gen adalah suatu unit fungsional dasar

hereditas yang merupakan titik focal dalam ilmu genetika modern. Pada semua cabang-cabang ilmu genetika, gen merupakan benang merah yang mempersatukan keberagaman dalam yang mempersatukan keberagaman dalam pelaksanaan percobaan.

• Konsep gen (bukan kata ’gen’nya) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1865 oleh Gregor

Mendel.

(4)

II. Percobaan Mendel

• Mendel mempelajari tanaman kacang polong (Pisum Sativum) untuk dua alasan utama. Pertama, kacang

polong tersedia dari berbagai jenis susunan bentuk dan warna yang berbeda yang dapat dengan mudah

diidentifikasi dan dianalisis. Kedua, tanaman kacang polong dapat melakukan penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang.

penyerbukan silang.

• Penyerbukan sendiri pada tanaman kacang polong terjadi karena bagian laki-laki (anthers) dan bagian

wanita (ovaries) pada bunganya menghasilkan serbuk yang mengandung sperma, dan indung telur yang

mengandung sel telur, dimana masing-masing tertutup oleh dua kelopak yang bergabung membentuk sebuah ruang/ kompartemen yang disebut keel. (Gbr 2-1).

(5)

III. Perbedaan Tanaman dalam Satu Karakter

Kata ‘character’ berarti sifat spesifik dari sebuah organisme; para ahli genetika menggunakan istilah ini sebagai sinonim untuk sifat atau ciri-ciri.

Dua dari garis keturunan tanaman kacang polong yang

ditumbuhkan oleh Mendel terbukti asli menurunkan karakter warna bunga. Satu garis keturunan asli menurunkan bunga berwarna

bunga. Satu garis keturunan asli menurunkan bunga berwarna ungu, dan garis yang lainnya menurunkan bunga berwarna putih.

Jadi ketika tanaman-tanaman ini dilakukan penyerbukan sendiri atau silang diantara satu garis keturunan, maka keturunannya juga menghasilkan bunga berwarna ungu, dan seterusnya. Demikian pula garis keturunan bunga berwarna putih akan menghasilkan bunga yang berwarna putih saja seluruh generasinya.

Mendel mendapat tujuh pasang garis keturunan murni dengan 7 karakter, dimana tiap pasangan berbeda hanya satu karakter saja (Gambar 2-3).

(6)

• Tiap pasangan dari garis keturunan tanaman Mendel dapat dikatakan menunjukkan sebuah perbedaan

karakter, yaitu sebuah perbedaan yang kontras di antara dua garis keturunan organisme (atau di antara dua

organisme) dalam satu karakter tertentu.

• Perbedaan garis keturunan (atau individu) mewakili

• Perbedaan garis keturunan (atau individu) mewakili perbedaan bentuk yang terjadi pada karakter yang disebut bentuk-bentuk karakter, variasi karakter atau fenotip.

• Istilah ‘fenotip’ (berasal dari Yunani) secara harfiah

berarti “ bentuk yang tampak”; merupakan istilah yang digunakan oleh ahli genetika saat ini.

(7)

• Gambar 2-3 menunjukkan tujuh karakter tanaman kacang polong, masing-masing diwakilkan oleh dua

fenotip yang kontras. Fenotip yang kontras untuk sebuah karakter khusus/tertentu merupakan titik awal untuk

analisa genetika.

• Sebuah organisme bisa saja terbagi menjadi beberapa karakter melalui berbagai macam cara. Contohnya, kita dapat menyatakan bahwa satu karakter tanaman kacang polong berbeda, melalui tiga cara:

polong berbeda, melalui tiga cara:

Karakter Fenotip

Warna bunga ungu atau putih Keunguan bunga ada atau tidak Keputihan bunga ada atau tidak

(8)

• Pada awalnya, Mendel menyerbukkan tanaman berbunga ungu dengan serbuk dari tanaman

berbunga putih. Kita menyebut tanaman yang berasal dari garis keturunan asli/murni sebagai generasi parental (P).

• Semua tanaman yang dihasilkan dari

penyilangan ini menghasilkan bunga berwarna penyilangan ini menghasilkan bunga berwarna ungu (Gambar 2-4).

• Hasil keturunan ini disebut generasi filial pertama (F1). Generasi berikutnya yang dihasilkan dengan penyerbukan sendiri

dilambangkan dengan F2, F3, dan seterusnya.

(9)

• Mendel juga melakukan penyilangan terbalik (reciprocal crosses). Pada kebanyakan tanaman, penyilangan

manapun dapat dibuat dengan dua cara, tergantung

pada fenotip mana yang digunakan sebagai laki-laki ( ♂) atau wanita (♀). Contohnya, untuk dua penyilangan:

Fenotip A (wanita) x fenotip B (pria) Fenotip B (wanita) x fenotip A (pria) Fenotip B (wanita) x fenotip A (pria)

merupakan “penyilangan terbalik Mendel”, dimana

Mendel menyerbukkan tanaman berbunga putih dengan serbuk dari tanaman berbunga ungu mendapatkan hasil yang sama (semua berbunga ungu) pada F1-nya (Gbr.

2-5).

(10)

• Mendel menyimpulkan bahwa tidak ada

bedanya penyilangan manapun yang dilakukan.

• Jika satu dari keturunan asli/murni parent

(induk) adalah bunga berwarna ungu dan yang lain bunga berwarna putih, semua tanaman di F1 memiliki bunga berwarna ungu. Warna

F1 memiliki bunga berwarna ungu. Warna bunga ungu pada generasi F1 sama dengan tanaman induk (parental) yang berbunga ungu.

• Dalam hal ini, turunannya bukan merupakan

campuran warna ungu dan putih sehingga

menghasilkan warna intermediate.

(11)

• Kemudian, Mendel melakukan ’penyerbukan sendiri’

pada tanaman F1, membiarkan serbuk sari dari setiap bunganya untuk jatuh pada stigma masing-masing.

• Ia mendapatkan 929 biji kacang polong dari

penyerbukan ini (individu F2) dan menanamnya.

• Beberapa dari hasil tanaman tersebut berbunga putih;

fenotip berwarna putih telah muncul kembali.

• Mendel kemudian melakukan sesuatu yang luar biasa yang akan menandai kelahiran genetika modern: Mendel menghitung jumlah tanaman pada tiap fenotip.

(12)

• Mendel mendapatkan 705 tanaman berbunga ungu dan 224 tanaman berbunga putih. Ia mendapatkan bahwa rasio/perbandingan 705:224 adalah mendekati 3:1

(kenyataannya memang 3:1).

• Mendel mengulangi prosedur penyilangan untuk keenam pasang karakter tanaman kacang polong yang lain. Ia mendapatkan rasio 3:1 yang sama pada generasi F2 mendapatkan rasio 3:1 yang sama pada generasi F2 pada tiap pasang tanaman tersebut (Tabel 2-1).

• Dalam setiap kasus, satu fenotip induk (parental) hilang pada F1 dan muncul kembali ¼ bagian di F2. Fenotip warna putih contohnya, betul-betul tidak tampak pada generasi F1 tetapi muncul kembali (dengan bentuk asli yang utuh) sebanyak ¼ bagian dari keseluruhan pada tanaman F2.

(13)

• Mendel menduga bahwa tanaman F1 menerima dari induknya kemampuan untuk menghasilkan baik fenotip bunga ungu maupun putih dan kemampuan ini disimpan dan dikeluarkan untuk generasi berikutnya namun tidak menghasilkan warna campuran.

• Mengapa fenotip warna putih tidak tampak pada

tanaman F1? Mendel menggunakan istilah dominan dan tanaman F1? Mendel menggunakan istilah dominan dan resesip untuk menggambarkan fenomena ini tanpa

menjelaskan mekanismenya. Dalam istilah modern,

fenotip berwarna ungu dominan terhadap fenotip warna putih dan fenotip berwarna putih resesip terhadap warna ungu.

• Fenotip induk yang tampak pada individu F1 secara definisi merupakan fenotip dominan.

(14)

• Mendel melanjutkan bahwa pada kelas F2

• Dalam kasus ini, ia bekerja dengan warna biji. Pada tanaman kacang polong, warna bijinya ditentukan oleh keadaan genetik biji itu sendiri, dan tidak dari induknya.

• Hal ini sangat memudahkan karena para peneliti dapat

• Hal ini sangat memudahkan karena para peneliti dapat memperlakukan tiap tanaman kacang polong sebagai sebuah individu dan dapat diamati fenotipnya secara langsung tanpa harus menumbuhkan tanaman dari biji tersebut terlebih dahulu seperti yang biasa dilakukan untuk studi warna bunga.

(15)

• Warna biji yang digunakan oleh Medel adalah kuning dan hijau. Ia menyilangkan garis keturunan warna

kuning asli dangan garis keturunan warna hijau asli, dan didapatkan bahwa kacang polong F1 yang muncul

semuanya berwarna kuning.

• Secara simbolik dijabarkan sebagai berikut :

• Secara simbolik dijabarkan sebagai berikut : P : kuning x hijau

F1 : semua berwarna kuning

Sehingga, secara definisi, warna kuning adalah fenotip dominan dan warna hijau adalah resesip.

(16)

• Mendel menumbuhkan tanaman F1 dari biji

kacang polong F1 ini, dan kemudian melakukan penyerbukan sendiri terhadap tanaman tersebut.

• Buah kacang polong yang berkembang pada tanaman F1 mewakili generasi F2.

tanaman F1 mewakili generasi F2.

• Ia mendapatkan bahwa buah polong dari

tanaman F1, ¾ bagiannya adalah buah polong yang berwarna kuning dan ¼ bagiannya

berwarna kuning. Jadi pada F2 kembali kita lihat

rasio fenotip 3:1.

(17)

Mendel mengambil sampel yang terdiri dari 519 kacang polong F2 dan menumbuhkan tanaman dari kacang polong tersebut.

Pada tanaman F2 ini dilakukan penyerbukan sendiri secara individu dan kacang polong yang berkembang dicatat.

Mendel menemukan 166 dari tanaman tersebut menghasilkan hanya kacang polong berwarna kuning, dan masing–masing dari sisa 353 tanaman menghasilkan campuran kacang polong berwarna kuning dan hijau dengan rasio 3:1.

Selain itu, kacang polong F2 yang berwarna hijau ditumbuhkan dan dilakukan penyerbukan sendiri, dan menghasilkan hanya kacang polong berwarna hijau.

Kesimpulannya, semua F2 berwarna hijau terbukti keturunan

asli/murni seperti garis keturunan induk berwarna hijau, tetapi F2 berwarna kuning, 2/3 bagiannya seperti F1 berwarna kuning

(menghasilkan biji kuning dan hijau dengan rasio 3:1) dan 1/3 bagiannya seperti warna keturunan asli induknya.

(18)

• Sehingga, studi untuk generasi berikutnya (F3)

mengungkapkan bahwa berdasarkan rasio fenotip pada generasi F2 ada rasio 1:2:1 yang lebih fundamental

sebagai berikut:

1/4 bagian warna kuning turunan murni 3/4 bagian

warna kuning warna kuning

2/4 bagian warna kuning tidak murni

1/4 bagian 1/4 bagian warna hijau warna hijau turunan asli

(19)

Mendel menyimpulkan beberapa penjelasan berikut ini mengenai rasio1:2:1 tersebut:

• Ada faktor-faktor penentu hereditas dalam sebuah

partikulat alam. Kita sekarang menyebut faktor penentu ini gen.

• Tiap-tiap tanaman kacang polong dewasa memiliki dua gen (sepasang gen) pada setiap sel untuk tiap karakter yang dipelajari. Pada tanaman F1 contohnya, harus

memiliki satu gen yang bertanggung jawab terhadap fenotip dominan dan gen yang lain terhadap fenotip resesif.

(20)

• Anggota-anggota dari pasangan-pasangan gen tersebut terbagi dua menjadi gametes, atau sel telur dan sperma.

• Sebagai konsekuensinya, tiap gamete membawa hanya satu anggota dari tiap pasangan gen.

• Penyatuan dari satu gamete dari tiap induk bersifat acak, dimana gametes berkombinasi tanpa memandang

anggota pasangan gen mana yang dibawa, membentuk sel pertama (disebut zigot) pada sebuah individu

keturunan baru.

(21)

Poin-poin tersebut dapat digambarkan secara diagramatik untuk sebuah kasus umum,

menggunakan lambang A untuk melambangkan gen penentu fenotip dominan dan lambang a

untuk melambangkan gen resesif.

Pada Gambar 2-6, simbol-simbol tersebut

digunakan untuk menggambarkan bagaimana

kelima poin di atas menjelaskan rasio 1:2:1.

(22)

• Mendel kemudian menguji modelnya.Ia mengambil

sebuah tanaman F1 yang ditumbuhkan dari sebuah biji berwarna kuning dan disilangkan dengan tanaman yang tumbuh dari biji berwarna hijau.

• Sebuah rasio 1:1 dari bibit berwarna kuning terhadap bibit berwarna hijau dapat diprediksi pada generasi berikutnya.

berikutnya.

• Jika kita lambangkan Y untuk gen yang menentukan fenotip dominan (biji kuning) dan y untuk gen yang menentukan fenotif resesif (biji berwarna hijau), kita

dapat membuat diagram perkiraan Mendel seperti pada Gambar 2-7.

(23)

• Pada percobaan ini, Ia mendapatkan 52 berwarna kuning (Yy) dan 52 berwarna hijau (yy), sebuah

perkiraan yang sangat presisi untuk memprediksi rasio 1:1 dan sebuah konfirmasi dari konsep pemisahan

setara dari Y dan y pada individu F1. Konsep

pemisahan setara ini menghasilkan penghargaan formal sebagai Hukum Pertama Mendel.

Hukum Pertama Mendel. Dua anggota dari sebuah pasangan gen membelah membentuk gametes,

sehingga satu bagian dari gametes membawa satu

anggota dari pasangan gen dan yang lainnya membawa anggota pasangan gen yang lain.

(24)

• Individu yang dilambangkan sebagai Aa, disebut sebagai heterozigot, atau terkadang hibrid, sedangkan individu yang yang merupakan garis keturunan murni disebut homozigot. Hetero berarti berbeda, sedangkan homo berarti identik.

• Jadi sebuah tanaman AA dikatakan homozigos dominan;

sebuah tanaman aa merupakan homozigos untuk gen resesip.

resesip.

• Sehingga YY dan Yy contohnya, adalah berbeda genotip walaupun biji dari kedua jenis tersebut memiliki fenotip yang sama (yaitu kuning). Dalam situasi ini, fenotip

dapat dipikirkan secara simpel sebagai bentuk luar dari genotip yang mendasarinya.

(25)

• Jadi, yang mendasari rasio fenotip 3:1 pada F2 adalah rasio genotip 1: 2 : 1 dari YY : Yy : yy.

• Perlu dicatat bahwa ekspresi ”dominan” dan

”resesif” merupakan sifat dari fenotip. Fenotip yang dominan ditentukan/ dibuktikan dalam analisis oleh tampilan F1.

analisis oleh tampilan F1.

• Mendel menunjukkan bahwa kedominanan suatu

fenotip terhadap yang lain adalah secara nyata

disebabkan oleh kedominanan satu anggota dari

sepasang gen terhadap yang lainnya.

(26)

IV. Tanaman yang Memiliki Dua Karakter Berbeda

• Sekarang kita dapat bertanya apakah yang terjadi dalam sebuah penyilangan dihibrida, di mana garis keturunan induk yang murni memiliki dua gen berbeda yang

mengontrol dua karakter berbeda yang terpisah?

• Kita dapat menggunakan istilah yang digunakan Mendel untuk menunjukkan genotip warna biji (Y dan y) dan

bentuk biji (R dan r). R memberikan biji bundar, dan r memberikan biji yang berkerut/keriput. Dalam sebuah penyilangan monohibrida, sebuah rasio ¾ bundar dan

¼ keriput muncul pada F2 (Gambar 2-8).

(27)

• Sebuah garis keturunan murni dari tanaman Rryy

melalui penyerbukan sendiri, menghasilkan biji yang bundar dan hijau. Garis keturunan murni yang lain adalah rrYY; melalui penyerbukan sendiri garis

keturunan ini akan menghasilkan biji berwarna kuning yang keriput.

• Ketika Mendel menyilangkan tanaman dari kedua garis keturunan ini, ia mendapatkan biji F1 yang bundar dan keturunan ini, ia mendapatkan biji F1 yang bundar dan kuning, seperti yang diharapkan. Hasil pada F2 dapat disimpulkan pada Gambar 2-9.

• Mendel melakukan percobaan serupa menggunakan

pasangan karakter yang lain dalam banyak penyilangan dihibrida lainnya, dalam hal ini ia mendapatkan rasio

9:3:3.

(28)

• Jika anda melihat hanya pada fenotip bundar dan keriput dan menjumlahkan semua biji yang berada pada dua kelas ini pada Gambar 2-9, maka totalnya adalah (315 + 101) : (108+32) = 416 : 410, sekali lagi mendekati 3:1.

• Dari petunjuk ini Mendel menyimpulkan bahwa dua sistem hereditas tersebut adalah bebas satu

• Dari petunjuk ini Mendel menyimpulkan bahwa dua sistem hereditas tersebut adalah bebas satu sama lain.

• Mendel cukup cerdas secara matematis untuk

menyadari bahwa rasio 9:3:3:1 tidak lebih dari

sekedar sebuah kombinasi acak dari dua rasio

3:1 yang bebas.

(29)

• Komposisi F2 dari peyilangan dihibrida kacang polong dapat diprediksi jika mekanisme untuk menempatkan R atau r dalam sebuah gamete adalah bebas dari

mekanisme untuk menempatkan Y atau y ke dalam gamete.

• Frekuensi dari tipe gametes dapat dihitung dengan

• Frekuensi dari tipe gametes dapat dihitung dengan menentukan kemungkinan mereka menurut aturan probabilitas.

• Sehingga jika anda mengambil sebuah gamete secara acak, kemungkinan mengambil tipe gamete tertentu adalah sama dengan frekuensi dari tipe gamete itu.

(30)

• Sebuah tanaman RrYy membentuk empat jenis gamete.

Kemungkinan sebuah gamete membawa R dan Y ditulis sebagai p(RY). Demikian pula, p(R,r) menunjukkan

kemungkinan sebuah gamete membawa R dan y.

• Dengan asumsi bahwa pembelahan R atau r menjadi sebuah gamete adalah bebas dari pembelahan Y atau y dan membentuk gamete yang sama, kita dapat

menggunakan aturan hasil kali pada teori probabilitas menggunakan aturan hasil kali pada teori probabilitas untuk menghitung kemungkinan dari tiap kombinasi gametis:

p(RY) = ½ x ½ = 1/4 p(ry) = ½ x ½ = ¼ p(ry) = ½ x ½ = ¼ p(rY) = ½ x ½ = ¼

(31)

• Sehingga kita dapat menjabarkan generasi F2 dengan sebuah bujursangkar/kotak Punnett (mengikuti nama penemunya), seperti ditunjukkan pada Gambar 2-10.

Kolom dari bujursangkar tersebut tersusun dari

kontribusi induk pria pada F2 dan baris tersusun dari kontribusi induk wanita.

• Kemungkinan dari 1/16 yang ditunjukkan untuk tiap kotak dalam bujursangkar juga didapatkan dengan kotak dalam bujursangkar juga didapatkan dengan

aturan hasil kali. Susunan dari sebuah zigot adalah hasil dari dua kejadian bebas – kejadian yang membentuk

gamete laki-laki dan kejadian yang membentuk wanita.

• Sehingga, contohnya, kemungkinan (atau frekuensi) dari zigot RRYY (kombinasi dari sebuah gamet laki-laki RY dengan sebuah gamete wanita RY) adalah ¼ x ¼ = 1/16.

(32)

• Mengelompokkan semua tipe ini seperti pada Gambar 2- 9, kita mendapatkan rasio 9:3:3:1 (sekarang menjadi

tidak terlalu misterius) sebagai berikut:

Bundar, kuning 9/16 atau 9 Bundar, hijau 3/16 atau 3 Keriput, kuning 3/16 atau 3 Keriput, hijau 1/16 atau 1 Keriput, hijau 1/16 atau 1

• Kebebasan dari pembelahan allelik untuk dua gen yang berbeda merupakan konsep yang penting. Ini disebut

”independent assortment” (penggabungan bebas), dan pernyataan umum ini sekarang dikenal sebagai Hukum Mendel Kedua.

(33)

Hukum Kedua Mendel:

Selama pembentukan gamete, pembelahan allele dari suatu gen adalah bebas dari

pembelahan allele dari gen yang lainnya.

Sebuah catatan peringatan: kita harus melihat kemudian bahwa sebuah fenomena yang

disebut ikatan gen (gene linkage) menghasilkan

sebuah pengecualian penting terhadap Hukum

Kedua Mendel.

(34)

• Mendel menguji hukum kedua ini juga.

Contohnya, ia menyilangakan F1 dihibrida RrYy dengan sebuah strain resesip homozigos rryy.

Sebuah persilangan terhadap resesif homozigos sekarang dikenal sebagai sebuah ”testcross”.

• Testcross memfokuskan percobaan pada

genotip yang mendasari fenotip dominan dalam satu individu karena induk resesif homozigos mengkontribusi hanya allele resesif pada

keturunannya.

(35)

• Untuk testcross ini, Mendel memperkirakan bahwa

dihibrida RrYy akan menghasilkan tipe gametik RY, Ry, ry, dan rY dalam frekuensi yang sama- yang ditunjukkan sepanjang satu pinggiran dalam bujursangkar Punnet dalam Gambar 2-10, dengan frekuensi ¼, ¼, ¼, dan ¼.

• Sebaliknya karena homozigos, tanaman rryy

menghasilkan hanya satu tipe gamet (ry), tanpa

menghiraukan pembelahan identik atau penggabungan bebas. Sehingga, fenotip keturunannya akan merefleksi menghiraukan pembelahan identik atau penggabungan bebas. Sehingga, fenotip keturunannya akan merefleksi langsung tipe gamatik dari induk RrYy (karena kontribusi ry resesif dari induk rryy tidak mengubah fenotip seperti yang ditunjukkan oleh gemete yang lain).

• Sehingga, Mendel memprediksi sebuah rasio 1:1:1:1 untuk keturunan RrYy, Rryy, rryy dan rrYy dari testcross ini, dan prediksinya dikonfirmasi.

(36)

V. Metode Untuk Menghitung Rasio Genetika

• Bujursangkar Punnett jelas dan dapat dipercaya, tetapi sulit dipakai; hanya cocok untuk ilustrasi, tidak untuk perhitungan efisien.

• Sebagai alternatif, sebuah diagram bercabang dapat

• Sebagai alternatif, sebuah diagram bercabang dapat digunakan untuk menyelesaikan beberapa masalah.

• Contohnya, rasio fenotip 9:3:3:1 dapat diturunkan

dengan menggambar sebuah diagram bercabang dan mengaplikasikan aturan hasil kali untuk menentukan frekuensi. (Catat bahwa penggunaan kaidah bahwa R-- mewakili baik RR dan Rr; yaitu allele manapun dapat menempati tempat yang ditunjukkan oleh garis hubung).

(37)

F1 RrYy hasil penyerbukan sendiri

Komposisi F2 By product rule

¾ bagian akan 9/16

¾ bundar berwarna kuning (Y-) bundar, kuning (R-Y-) (R-)

¼ bagian akan 3/16

¼ bagian akan 3/16

berwarna hijau (yy) bundar, hijau (R-yy)

¾ bagian akan 3/16

¼ keriput berwarna kuning (Y-) keriput, kuning (rrY-) (rr)

¼ bagian akan 1/16

berwarna hijau (yy) keriput, hijau (rryy)

(38)

• Diagram cabang tersebut dapat digunakan untuk rasio fenotip dan genotip.

• Dapat diperpanjang menjadi sebuah rasio trihibrida (seperti AaBbCc x AaBbCc) dengan menggambar set cabang yang lain pada bagian ujungnya.

cabang yang lain pada bagian ujungnya.

• Namun, semakin banyak jumlah gennya, jumlah fenotip yang dapat diidentifikasi meningkat dan jumlah genotip meningkat lebih tinggi seperti ditunjukkan pada Table 2- 3. Dengan jumlah yang besar tersebut, bahkan metode cabang menjadi sulit dipakai.

(39)

• Ketika hasil-hasil Mendel ditemukan kembali pada

tahun1900, prinsip dasarnya diuji dalam spektrum luas.

Hasil-hasil dari uji ini menunjukkan bahwa prinsip Mendelian secara umum dapat diaplikasikan.

• Rasio Mendelian (seperti 3:1, 1:1, 9:3:3:1, dan 1:1:1:1) secara ekstensif dilaporkan (Gambar 2-13),

menyarankan bahwa pembelahan identik dan

penggabungan yang saling bebas merupakan proses keturunan yang fundamental yang dapat ditemukan di penggabungan yang saling bebas merupakan proses keturunan yang fundamental yang dapat ditemukan di seluruh alam semesta.

• Hukum Mendel tidak hanya tentang kacang polong saja tetapi hukum tentang genetika dari organisme eukariotik secara umum. Pendekatan penelitian yang digunakan oleh Mendel dapat diaplikasikan secara ekstensif pada tanaman.

(40)

• Namun, pada beberapa tanaman, dan di

sebagian besar hewan, teknik penyerbukan

sendiri tidak mungkin terjadi. Masalah ini dapat diatasi dengan persilangan genotip yang identik.

• Contohnya, sebuah F1 hewan hasil dari

pertemuan induk garis keturunan murni yang pertemuan induk garis keturunan murni yang berbeda dapat dipertemukan dengan F1

saudaranya (saudara laki-laki atau perempuan) untuk menghasilkan sebuah F2. Individu-

individu F1 adalah identik untuk gen yang

dipertanyakan, jadi penyilangan F1 sama

dengan sebuah penyerbukan sendiri.

(41)

VI. Genetika Mendelian Sederhana dalam Agrikultur (Pertanian)

• Dengan adanya genetika Mendelian, terbukti bahwa kualitas yang diinginkan dari garis keturunan yang

berbeda dapat dikombinasikan melalui hibridisasi dan penyeragaman susunan gen. Prosedur ini membentuk dasar bagi pengembang-biakkan tanaman moderen.

• Pengembang-biakkan tanaman untuk menghasilkan genotip yang baru dan kualitas meningkat dapat

dilakukan dengan dengan cara tersebut.

• Untuk tanaman yang mengalami penyerbukan sendiri secara alami, seperti padi atau gandum, dua garis

keturunan murni (masing-masing dari genotip berbeda yang diinginkan) dihibridisasi dengan penyerbukan

silang secara manual dan berkembanglah sebuah F1.

(42)

• F1 ini kemudian dibiarkan mengalami penyerbukan sendiri dan pasangan heterozigos dari allele-nya

digabungkan untuk menghasilkan berbagai genotip yang berbeda, beberapa mewakili kombinasi baru yang

diinginkan dari gen induk.

• Sebagian kecil dari genotip baru ini sudah merupakan keturunan murni; sedangkan yang bukan merupakan keturunan murni, beberapa generasi dari penyerbukan keturunan murni, beberapa generasi dari penyerbukan sendiri akan menghasilkan homozigositas dari gen yang relevan. Gambar 2-24 menyimpulkan metode ini.

• Sebuah contoh pentingnya metode ini dalam

perkembang-biakan yang sangat produktif, yaitu pada garis keturunan padi kerdil, yang merupakan salah satu bahan makanan pokok dunia. Program perkembang-

biakan ditunjukkan pada Gambar 2-25.

(43)

• Sebuah contoh peningkatan genetik dari suatu spesies yang sangat familiar adalah tomat. Setiap orang yang pernah membaca katalog bibit/ biji dewasa ini akan

terbiasa dengan singkatan V, F, dan N yang tercantum pada jenis-jenis tomat. Ini mewakili keresistenan masing- masing terhadap patogen Verticillium, Fusarium, dan

Nematodes – keresistenan yang telah diturunkan pada tomat domestik, khususnya dari golongan liar.

• Sebuah fenotip tomat yang berguna dapat menentukan pertumbuhan. Ujung cabang-cabang tanaman tomat kebanyakan dapat terus tumbuh (pertumbuhan

indeterminate), tetapi pada garis keturunan determinate sebagian besar ujung cabang mernyerupai rangkaian bunga. Tanaman determinate lebih rindang dan padat, dan tidak membutuhkan tiang pancang (gambar 2-26).

(44)

• Pertumbuhan determinate disebabkan oleh allele resesif sp (self-pruning), yang telah disilangkan dengan varietas modern. Simbol sp mewakili sebuah gen tunggal;

kebanyakan simbol gen lebih dari satu huruf.

• Allele yang berguna dari gen yang lain adalah u (uniform ripening); allele ini menghilangkan green patch atau

ripening); allele ini menghilangkan green patch atau shoulder disekitar batang dari buah yang matang. Ahli genetika tomat telah menghasilkan susunan besar

berbagai jenis morfologi tomat yang berbeda, yang banyak terdapat di supermarket atau toko tanaman (Gambar 2-27).

(45)

VII. Varian dan Pemotongan Genetik

• Analisis genetika, seperti yang telah kita lihat, harus dimulai dari perbedaan (varian) induk.

Tanpa varian, tidak ada analisis genetika yang mungkin.

• Kebanyakan varian seperti yang digunakan oleh Mendel (dan oleh petani/peternak jaman dulu

dan modern) muncul secara spontan di alam

atau pada populasi petani/ peternak tanpa

pengerjaan genetika yang sengaja dilakukan.

(46)

• Beberapa varian yang jarang (rare varian) adalah

abnormal. Tidak diragukan lagi di alam banyak dari jenis itu yang mati oleh seleksi alam, tetapi mereka dapat

tetap hidup dengan perawatan sehingga allele yang bertanggung jawab dapat dipelajari.

• Sebaliknya, dari sekian banyak gen ada dua atau lebih allele yang umum dalam sebuah populasi yang

• Sebaliknya, dari sekian banyak gen ada dua atau lebih allele yang umum dalam sebuah populasi yang

menghasilkan polimorfisme genetik — koeksistensi antara fenotip varian tertentu secara genetika.

• Walaupun alasan keberadaan polimorfisme ini biasanya tidak mudah ditemukan, namun bagi ahli genetika

polimorfisme adalah sumber allele varian yang berguna untuk diperlajari.

(47)

Kita telah melihat bahwa analisis genetika dari varian dapat

mengidentifikasi sebuah gen istimewa yang penting untuk proses biologi.

Aspek inti dari genetika modern adalah pemotongan genetika (genetic dissection). Mendel adalah orang yang pertama kali melakukan pembedahan genetik.

Menggunakan analisis genetika, ia dapat mengidentifikasi dan membedakan beberapa komponen dari proses hereditas dengan membedakan beberapa komponen dari proses hereditas dengan cara yang meyakinkan seolah-olah ia telah melakukan

pembedahan/pemotongan mikro terhadap komponen –komponen tersebut. Kenyataannya, gen yang digunakannya adalah gen bentuk kacang polong, warna kacang polong dan seterusnya, yang sangat tidak relevan.

Gen-gen tersebut digunakan dengan mudah sebagai marker

genetik, yang memungkinkan bagi Mendel untuk melacak proses hereditas pembelahan dan penggabungan.

(48)

• Marker genetik adalah allele varian yang digunakan

untuk memberi label sebuah struktur biologi atau proses, melalui jalannya percobaan.

• Hampir seolah-olah Mendel dapat ”mewarnai” dua allele dengan dua warna yang berbeda dan melakukan

penyilangan untuk melihat bagaimana perlakukan mereka.

• Marker genetik sekarang secara rutin digunakan dalam ilmu genetika dan biologi untuk mempelajari semua jenis proses dimana gen marker sendiri tidak berpengaruh

secara langsung.

• Marker umumnya morfologikal, seperti dalam contoh kacang polong. Namun varian molekular (DNA dan protein) sudah semakin banyak digunakan sebagai marker juga.

(49)

VIII. Kesimpulan

Genetika modern berdasarkan pada konsep gen, unit fundamental dalam hereditas.

Dalam percobaannya dengan kacang polong, Mendel adalah orang pertama yang mengetahui tentang keberadaan gen.

Contohnya, dengan penyilangan sebuah garis keturuan murni dari tanaman kacang polong berbunga ungu dengan sebuah keturunan murni tanaman kacang polong berbunga putih dan kemudian

murni tanaman kacang polong berbunga putih dan kemudian

melakukan penyerbukan sendiri generasi F1-nya yang seluruhnya berbunga ungu, Mendel mengasilkan generasi F2 berupa tanaman berbunga ungu dan berbunga putih dengan rasio 3:1. Pada

penyilangan tanaman kacang polong yang menghasilkan biji kuning dan biji hijau, ia menemukan bahwa sebuah rasio 1:2:1 mendasari semua rasio 3:1.

(50)

Dari rasio yang tepat secara matematika ini, Mendel menyimpulkan bahwa ada penentu keturunaan dari sebuah partikulat alam

(sekarang dikenal sebagai gen).

Pada sel tanaman tingkat tinggi dan sel hewan, gen berada dalam bentuk berpasangan. Bentuk varian dari sebuah gen disebut alleles.

Alleles individu dapat merupakan allele dominan ataupun resesif.

Dalam penyilangan tanaman berbiji kuning yang heterozigos (Yy) dengan tanaman berbiji hijau homozigos (yy), dihasilkan sebuah dengan tanaman berbiji hijau homozigos (yy), dihasilkan sebuah rasio 1:1 warna kuning terhadap hijau.

Dari rasio ini Mendel mengkonfirmasi Hukum Pertama-nya, yang menyatakan bahwa dua anggota dari sebuah pasangan gen akan berpisah satu sama lain selama pembentukan gamete meghasilkan jumlah gamete yang sama. Sehingga setiap gamete hanya akan membawa satu anggota dari tiap pasangan gen. Penyatuan gemete untuk membentuk sebuah zigot adalah acak tergantung pada allele mana yang dibawa oleh gamete.

(51)

• Pada persilangan dihibrid, Mendel menemukan rasio 9:3:3:1 pada F2, yang betul-betul merupakan rasio 3:1 dikombinasikan secara acak. Dari rasio ini Mendel

menyimpulkan bahwa allele dari kedua gen dalam

sebuah persilangan dihibrid berperilaku secara bebas.

Konsep ini adalah Hukum Kedua Mendel.

• Walaupun, persilangan yang terkontrol tidak dapat

• Walaupun, persilangan yang terkontrol tidak dapat

dilakukan dalam manusia, genetika Mendelian memiliki arti yang besar bagi manusia.

• Banyak penyakit dan kondisi luar biasa lain pada manusia yang ditentukan oleh allele resesif yang

diturunkan dengan cara Mendelian; kondisi luar biasa lain disebabkan oleh allele dominan.

(52)

• Selain itu, genetika Mendelian telah digunakan secara luas dalam agrikultur modern. Dengan mengkombinasi kualitas yang diingikan dari garis keturunan yang

berbeda melalui hibridisasi dan penyusunan kembali susunan gen, maka ahli genetika tanaman dan hewan dapat menghasilkan garis keturunan baru dari fenotip yang unggul.

• Terakhir, Mendel berkontribusi pada teknik dasar dari pemotongan genetik yang masih digunakan sekarang ini. Satu dari teknik itu adalah penggunaan gen sebagai marker genetik untuk melacak proses hereditas

pemisahan dan penyusunan. Teknik yang lain adalah studi tentang varian abnormal untuk menemukan

bagaimana gen beroperasi secara normal.

(53)

Thank you

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Karakteristik Individu dan Kondisi Kerja dengan Kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS) (Studi pada Operator Komputer Warung Internet di Kelurahan Sumbersari

Penelitian yang berjudul “ BENTUK PENGAWASAN BEBAS VISA KUNJUNGAN SINGKAT (BVKS) OLEH KANTOR KEIMIGRASIAN KEPADA WARGA NEGARA ASING YANG TINGGAL DI INDONESIA ”

[r]

[r]

menggunakan web browser dan koneksi internet. Pada penelitian ini, dibangun sistem kontrol dan monitoring tanaman hidroponik secara otomatis berbasis Internet of Things

Tugas sarjana ini merupakan penelitian yang berisi perancangan sistem pendukung keputusan berupa aplikasi dengan menggunakan software visual basic untuk memudahkan

Refleksi awal dilakukan untuk mendapatkan gambaran awal sebelum dilakukan tindakan, tentang situasi kelas. Gambaran situasi ini memudahkan peneliti untuk mengetahui masalah

Pemeliharaan pada saat shutdown testing adalah berupa pengujian individu yaitu, pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kinerja dan karakteristik relai itu