TESIS
OLEH:
YANTI ARNILIS NIM : 177005017/HK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MAGISTER ILMU HUKUM
MEDAN 2019
EKSEKUSI OBJEK JAMINAN FIDUSIA YANG TIDAK DIDAFTARKAN DAN AKIBAT HUKUMNYA BAGI KREDITUR (Studi Pada Bank BRI
Cabang Takengon dan PT. Mandala Finance cabang takengon)
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Magister Ilmu Hukum dalam Program Studi Ilmu Hukum pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara
YANTI ARNILIS NIM : 177005017/HK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MAGISTER ILMU HUKUM
MEDAN 2019
ABSTRAK Yanti Arnilis1 Tan Kamello2
Sunarmi3 Dedi Harianto4
Keistimewaan dari jaminan fidusia yakni objek yang dibiayai oleh lembaga pembiayaan juga merupakan objek jaminan atas kontrak bisnis para pihak, penguasaannya justru dikuasi oleh konsumen atau debitur itu sendiri bukan di dalam penguasaan kreditur.
Salah satu wujud dari pemberian kepastian hukum hak–hak kreditur adalah dengan mengadakan lembaga pendaftaran jaminan fidusia. Konsekuensi yuridis bagi kreditur yang tidak mendaftarkan akta jaminan fidusia yaitu tidak mendapat perlindungan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah akibat hukum bagi kreditur yang tidak mendaftarkannya objek jaminan fidusia, pelaksanaan eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan pada Bank BRI cabang Takengon dan PT. Mandala Finance dan hambatan- hambatan dan upaya yang dilakukan oleh BRI cabang Takengon dan PT. Mandala Finance dalam melakukan eksekusi objek jaminan yang tidak didaftarkan.
Jenis metode penulisan yang diaplikasikan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, objek dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan, mensistemasikan dan menganalisis norma-norma hukum positif di Indonesia yang pengaturannya berkenaan dengan eksekusi jaminan fidusia.
Akibat hukum bagi kreditur yang tidak mendaftarkan objek jaminan fidusia adalahtidak melahirkan hak kebendaan jaminan fidusia bagi Bank maupun perusahaan pembiayaan selaku kreditur, kreditur tidak mempunyai hak preferen, kreditur tidak dapat melakukan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia, kreditur tidak dapat meminta pengamanan eksekusi kepada Kepolisian. Hambatan yang menjadikan BRI cabang Takengon sulit untuk melaksanakan eksekusi adalah adanya ketentuan yang mengatur tentang jumlah minimal nilai objek jaminan yang dapat didaftarkan yaitu Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah), proses eksekusi membutuhkan waktu yang lama, objek jaminan fidusia musnah, penerima fasilitas atas nama, nilai barang yang menjadi objek jaminan berkurang dan debitur pindah alamat, dan hambatan yang tidak termasuk dalam katagori hukum adalah masyarakat kurang paham mengenai jaminan fidusia. Hambatan bagi PT. Mandala Finance dalam eksekusi adalah PT. Mandala Finance tidak dapat melakukan eksekusi karena tidak mendaftarkkan objek jaminan fidusia pada Kantor Pendaftaran Fidusia. upaya yang dilakukan BRI cabang Takengonadalah dengan kesepakatan, eksekusi dengan menggunakan perjanjian penyerahan hak kepemilikan secara kepercayaan terhadap barang, melalui gugatan sederhana dan mendaftarkan kembali jaminan fidusia. Upaya yang dapat dilakukan PT. Mandala Finance dalam eksekusi objek jaminan yang tidak didaftarkan adalah dengan surat kuasa penarikan dan negosiasi kepada debitur.
Kata kunci : Eksekusi, Jaminan Fidusia, Kreditur
1Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara.
2Ketua Komisi Pembimbing
3Dosen Pembimbing
4Dosen pembimbing
ABSTRACT Yanti Arnilis51 Tan Kamello62
Sunarmi73 Dedi Harianto84
The distinction of fiduciary collateral is that its object is financed by a financing company which is simultaneously a collateral for the business contract between all concerned parties, which is in fact controlled by the consumer or debtor instead of the creditor. One form of the provision of legal certainty for the creditor’s rights is by running institution for registration of fiduciary collateral. The juridical consequence for a creditor who does not register his fiduciary collateral deed is that it is not protected by the Law No. 42/1999 on Fiduciary Collateral. The research problems are how about the legal consequence for a creditor who does not register his fiduciary object, how about the execution of unregistered fiduciary object in Bank BRI Takengon Branch and PT. Mandala Finance, and how about the obstacles encountered and efforts made by Bank BRI Takengon Branch and PT. Mandala Finance in the execution of the unregistered fiduciary object.
This is a normative juridical research. The object is to collect, systemize, and analyze norms of positive law in Indonesia on fiduciary object execution.
The legal consequence for a creditor who does not register his fiduciary object is that the fiduciary object does not have any material rights for either Bank or financing companies as the creditor, the creditor does not have preference rights, the creditor does not have the rights to execute the fiduciary object and cannot request for protection to the police. What impedes Bank BRI Takengon Branch from conducting the execution is the provisions regulating that the minimum amount of a fiduciary object is IDR 50,000,000 (fifty million Rupiahs), the execution process takes much time, the fiduciary object is destroyed, the facility receiver name is different, the values of the fiduciary object is declined, and the debtor has different address. The impediment which is not included into a legal category is that the society has little understanding of fiduciary collaterals. The obstacles encountered by PT. Mandala Finance in the execution is that PT. Mandala Finance cannot make an execution because he has not registered the fiduciary object to the Fiduciary Collateral Office.
The efforts made by BRI Takengon Branch is making an agreement; the execution is conducted by using an agreement of ownership right transfer of the object with trusts, by filinga simple lawsuit and re-registering the fiduciary object. The efforts that can be made by PT. Mandala Finance in the execution of the unregistered fiduciary object is by issuing Power of Attorney to grant the withdrawal authority and make negotiations with the debtor.Keywords: Execution, Fiduciary Collateral, Creditor
1A student in Study of Master Jurisprudence, University of Sumatera Utara Program
2A Head of Supervising Board
3Supervisor
4Supervisor
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada kehadirat Allah SWT atas kesehatan dan kesempatan yang diberikan kepada saya dapat menyelesaikan tesis ini. Adapun judul tesis yang saya teliti adalah EKSEKUSI OBJEK JAMINAN FIDUSIA YANG TIDAK DIDAFTARKAN DAN AKIBAT HUKUMNYA BAGI KREDITUR (Studi Pada Bank BRI Cabang Takengon dan PT. Mandala Finance cabang takengon).
Dalam penyusunannya masih memerlukan penyempurnaan karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya dalam penyelesaiannya.Untuk itu dengan segala kerendahan hati, saya mengharapkan saran dan kritik dalam penyempurnaan tesis ini.
Secara khusus saya mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua saya Bapak Sabran dan Ibu Radiah, telah membantu dalam usaha dan doa sehingga perkuliahan dapat berjalan lancar sampai kepada penyelesaian tesis ini. Dalam penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, terlebih kepada :
1. Prof. Budiman Ginting, SH. M.Hum. Selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Sunarmi, SH. M.Hum. Selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Tan Kamello, SH. MS. Selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan saran dan petunjuk dalam penulisan tesis ini.
4. Prof. Dr. Sunarmi, SH.M.Hum. selaku Dosen Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, saran dan masukan dalam penulisan tesis ini.
5. Dr. Dedi Harianto. SH. M.Hum. selaku Dosen Pembimbing III, yang telah membimbing dan meberikan saran dan petunjuk dalam penulisan tesis ini.
6. Seluruh Pengajar di Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
7. Para staf dan pegawai di Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
8. Selurus staf dan karyawan BRI Cabang Takengon dan PT. Mandala Finance.
9. Seluruh rekan-rekan Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, kelas Reguler A dan Kelas Kosentrasi Hukum Perdata.
10. Seluruh pihak yang turut serta membantu dalam penulisan tesis ini.
Akhir kata saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi setiap orang atau pihak-pihak yang berkepentingan.
Medan,29Juli 2019
YANTI ARNILIS
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Permasalahan ... 11
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Manfaat Penelitian ... 13
1. Manfaat Teoretis ... 13
2. Manfaat praktis ... 13
E. Keaslian Penulisan ... 14
1. Kerangka Teori ... 17
2. Kerangka Konsep ... 23
F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsep ... 17
G. Metode Penelitian ... 27
1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 28
2. Sumber Data ... 29
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 31
4. Analisis Data ... 32
BAB II AKIBAT HUKUKM BAGI KREDITUR YANG TIDAK MENDAFTARKAN OBJEK JAMINAN FIDUSIA ... 35
A. Tentang Jaminan Fidusia ... 35
1. Latar Belakang Lahirnya Jaminan Fidusia ... 35
2. Ruang Lingkup Jaminan Fidusia ... 42
3. Asas-Asas Jaminan Fidusia ... 48
4. PengalihandanHapusnyaJaminanFidusia... 57
B. Pendaftaran Jaminan Fidusia ... 61
1. Kewajiban Pendaftaran Jaminan Fidusia ... 64
2. Benda Jaminan Fidusia Sebagai Benda Terdaftar . 68 3. Alasan Tidak Didaftarkan Jaminan Fidusia... 71 C. Akibat Hukum Tidak Didaftarkannya Jaminan Fidusia . 73
BAB III PELAKSANAAN EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA OLEH LEMBAGA PERBANKAN DAN LEMBAGA PEMBIAYAAN ... 85 A. Pengaturan Eksekusi Objek Jaminan Fidusia ... 85 B. Pelaksanaan Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Pada
Bank BRI Cabang Takengon dan PT. Mandala Finance Takengon ... 91
1. Pelaksanaan Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Pada BRI Cabang Takengon... 91
a Pelaksanaan Jaminan Pada BRI Cabang Takengon ... 91 b Pelaksanaan Eksekusi Objek Jaminan Fidusia
Pada BRI Cabang Takengon ... 98 2. Pelaksanaan Eksekusi Objek Jaminan Fidusia
Pada PT. Mandala Finance Takengon ... 101 a Pelaksanaan JaminanPada PT. Mandala
Finance Takengon ... 101 b Pelaksanaan Eksekusi Pada PT. Mandala
Finance Takengon ... 106 C. Penyelesaian Eksekusi Jaminan Fidusia yang Tidak
Didaftarkan... 107
BAB IV HAMBATAN-HAMBATAN DAN UPAYA YANG DILAKUKAN DALAM PELAKSANAAN EKSEKUSI OBJEK JAMINAN PADA JAMINAN FIDUSIA YANG TIDAK DIDAFTARKAN ... 111 A. Hambatan-Hambatan yang Dihadapi Oleh Bank BRI
Cabang Takengon dan PT. Mandala Finance Dalam Melaksanakan Eksekusi Objek Jaminan Fidusia yang tidak didaftarkan ... 111
1. Hambatan Eksekusi Terhadap Objek Jaminan Fidusia yang Tidak Didaftarkan Pada BRI Cabang Takengon ... 114 2. Hambatan Eksekusi Terhadap Objek Jaminan
yang Tidak Didaftarkan Pada PT. Mandala Finance... 122
B. Upaya Yang Dilakukan Bank BRI Cabang Takengon dan PT. Mandala Finance Dalam Menyelesaikan
Eksekusi Objek Jaminan Fidusia ... 124
1. Upaya Yang Dilakukan BRI Cabang Takengon Terhadap Eksekusi Objek Jaminan Yang Tidak Didaftarkan ... 125
2. Upaya Yang Dilakukan PT. Mandala Finance Terhadap Eksekusi Objek Jaminan Yang Tidak Didaftarkan ... 131
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 135
A. Kesimpulan ... 135
B. Saran ... 137
DAFTAR PUSTAKA ... 139
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam struktur perekonomian nasional, kebijakan perkreditan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebijaksanaan pembangunan secara makro, kebijaksanaan perkreditan adalah searah dengan tujuan pembangunan, penyaluran kredit harus merata agar semua lapisan masyarakat ikut berperan serta dalam pembangunan.9 Upaya untuk mendapatkan modal melalui pemberian kredit oleh pihak bank bagi pengusaha menengah keatas tidak begitu sulit untuk mendapatkan fasilitas kredit, karena pada mereka biasanya persyaratan–persyaratan yang diminta oleh pihak bank dapat mereka penuhi dengan baik dalam keyakinan bank atas watak, kemampuan dan modal. Prospek usaha dan jaminannya karena pengusaha tersebut mempunyai kemampuan yang lebih dibanding dengan para pengusaha kecil ditambah lagi para pengusaha menengah keatas mempunyai kemampuan yang tinggi.10
Kredit sebagai salah satu aktivitas ekonomi telah memberi berbagai kemungkinan dalam lalu lintas ekonomi terutama di sektor pengembangan pembangunan. Kredit sangat vital bagi pembangunan ekonomi, karena itu kredit selalu dibutuhkan bagi pengembangan dan pembangunan usaha oleh para
9Yurizal, aspek pidana dalam Undang – Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, (Malang : media Nusa Creative). Hlm 2
10Ibid, hlm 3.
pengusaha, baik pengusaha besar atau pun pengusaha menengah maupun pengusaha kecil.11
Dalam kehidupan sehari – hari keperluan akan dana guna menggerakkan roda perekonomian dirasakan semakin meningkat. Di satu sisi ada masyarakat yang kelebihan dana, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengusahakannya, dan disisi lain ada juga sekelompok masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk berusaha tetapi terhambat di dana, bahkan banyak pada kalangan masyarakat yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk berusaha dan tidak memiliki dana sama sekali. Untuk dipertemukan keduanya maka diperlukan intermediary yang akan bertindak selaku kreditor yang bisa menyediakan dana bagi debitor. Dari sinilah timbul perjanjian utang piutang atau pemberian kredit.
Jaminan dalam rangka pemberian kredit dapat dibedakan atas dua bagian yaitu jaminan atas benda bergerak dan jaminan atas benda tidak bergerak atau benda tetap. Jaminan merupakan sesuatu yang diberikan oleh debitur kepada kreditur untuk memberikan keyakinan atau kepastian kepada kreditur, bahwa debitur akan mampu membayar utangnya dengan yang diperjanjikan. Hal ini bisa dimaklumi karena setiap pemberian kredit melalui lembaga perkreditan memerlukan suatu kepastian hukum.12Seperti yang dikatakan oleh Sri soedewi Masjchoen Sofwan:13
11Ibid, hlm. 1
12 Agra Putra Abdi Laksana, Perjanjian 9kredit pada koperasi simpan pinjam (KSP) dengan jaminan fidusia yang tidak didaftarkan, http://repository.unej.ac.iddiakses pada tanggal 15 Januari 2019.
13 Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok – Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan,cetakan ke 4 (Yogyakarta: Liberty,2007), hlm. 2
“Dalam rangka pembangunan ekonomi yang tidak bisa dilepaskan dari bidang hukum diantaranya ialah lembaga jaminan, karena perkembangan ekonomi dan pandangan akan diikuti oleh perkembangan kebutuhan akan kredit dan pemberian fasilitas kredit memerlukan jaminan demi keamanan pemberi kredit ini”.
Secara garis besar, dikenal dua macam bentuk jaminan yaitu jaminan perorangan dan jaminan kebendaan.14 Jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung para perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitor tertentu, terhadap harta kekayaan debitor umumnya.
Jaminan perorangan memberikan hak verhaal (hak untuk meminta pemenuhan piutangnya) kepada kreditorterhadap benda keseluruhan dari kreditor untuk memperoleh pemenuhan dari piutangnya, sedangkan jaminan kebendaan adalah jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu benda yang mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya dan dapat dialihkan, tujuan dari jaminan yang bersifat kebendaan ini bermaksud memberikan hak verhaal kepada kreditor, terhadap hasil penjualan benda–benda tertentu dari debitor untuk pemenuhan piutangnya. Selain itu hak kebendaan dapat dipertahankan terhadap siapapun juga, yaitu terhadap mereka yang memperoleh hak baik berdasarkan atas hak yang umum maupun khusus, juga pada kreditor dan pihak lainnya.
Jaminan yang paling disukai bank adalah jaminan kebendaan. Salah satu jenis jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum positif adalah jaminan fidusia.
14 Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan (Bandung : PT. Alumni, 2006). Hlm 2.
Sebagai lembaga jaminan atas benda bergerak jaminan fidusia banyak dipergunakan oleh masyarakat bisnis.15 Jaminan yang diminta bank atau non bank dapat berupa jaminan pokok dan jaminan tambahan. Jaminan pokok berupa barang, proyek atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit tersebut, sedangkan jaminan tambahan adalah harta kekayaan nasabah debitur.
Jaminan yang diberikan oleh lembaga pembiayaan berupa jaminan fidusia16. Jaminan fidusia ini diberikan kepada pihak kreditur oleh lembaga pembiayaan.
pemberian jaminan tersebut nantinya akan berguna bagi lembaga pembiayaan dalam hal eksekusi benda jaminan.17 Dengan kata lain, apabila debitur wanprestasi atau melalaikan kewajibannya berupa kelalaian dalam melakukan pelunasan utangnya yang sudah waktunya ditagih, maka dalam peristiwa seperti itu, kreditur dapat melaksanakan eksekusi atas benda jaminan.
Lembaga jaminan fidusia diatur melalui peraturan perundang – undangan yaitu Undang–Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, dengan berlakunya Undang–Undang Jaminan Fidusia, pengikatan jaminan hutang yang dilakukan melalui jaminan fidusia wajib mematuhi ketentuan Undang – Undang tersebut.
15Ibid, hlm. 2
16 Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang ettap berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap kreditor lainnya. Dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
17 Rega Satya Rachellariny, “eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan lembaga keuangan non bank”, privat law vol. IV, 2016. Hlm 2.
Pada dasarnya lembaga jaminan fidusia dipakai untuk memberi kemudahan dan sekaligus memenuhi kebutuhan sangat besar yang terus meningkat bagi dunia usaha. Dalam perkembangannya jaminan fidusia tidak hanya digunakan oleh pengusaha besar saja, tetapi juga digunakan oleh masyarakat pada umumnya.
Keistimewaan dari jaminan fidusia yakni objek yang dibiayai oleh lembaga pembiayaan yang juga merupakan objek jaminan atas kontrak bisnis para pihak, penguasaannya justru dikuasi oleh konsumen atau debitur itu sendiri bukan didalam penguasaan lembaga perbankan selaku kreditur.18 Konsep lembaga jaminan tersebut sengaja dirancang semata-mata guna menunjang aktifitas perdagangan dari pada debitur di samping menjadi sebuah solusi bagi para debitur yang membutuhkan dana dalam jumlah besar yang sekaligus menjadi objek pembiayaan yang nantinya penguasaannya justru tetap berada di tangan para debitur. Hal ini tentunya berbeda dengan lembaga jaminan gadai, yang penguasaan objek jaminan berpindah penguasaan kepada kreditur setelah debitur mendapatkan sejumlah dana dari kreditur.19
Salah satu wujud dari pemberian kepastian hukum hak–hak kreditur adalah dengan mengadakan lembaga pendaftaran jaminan fidusia20 dan tujuan untuk pendaftaran itu tidak lain adalah untuk menjamin kepentingan dari pihak yang
18 Munir Fuadi, Hukum Tentang Pembiayaan dalam Teori dan Praktek, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002). Hlm.248.
19 Hadi Setia Tunggal, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, (Jakarta : Harvarindo, 2006). Hlm.2.
20 Diatur pada pasal 11 Undang-Undang No 42 Tahun 1999, yang menyatakan bahwa : (1) benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan. (2) dalam hal benda yang dibebani dengan jaminan fidusia berada di luar negaraa Republik Indonesia, kewajiban sebagaimana dimaksud ayat (1) tetap berlaku. Dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang jaminan fidusia.
menerima fidusia. Lebih dari itu, dalam penjelasan ternyata bahwa kepentingan yang dilindungi lebih luas, sebab kepastian hukum ditujukan kepada para pihak yang berkepentingan.21 Bank sebagai kreditur fidusia memiliki kepentingan atas jaminan fidusia berdasarkan perjanjian jaminan khusus, oleh karena itu kreditur berkewajiban untuk mendaftarkan akta jaminan fidusia yang dibuat oleh Notaris untuk medapatkan sertifikat jaminan fidusia.
Dengan diaturnya data–data yang harus termuat dalam akta jaminan fidusia secara tidak langsung memberikan pegangan yang kuat bagi kreditur, khususnya mengenai tagihan mana yang dijamin dan besarnya nilai jaminan, yang menentukan seberapa besar tagihan kreditur preferen. Dimungkinkan pemberian jaminan untuk hutang yang akan datang tentunya diberikan untuk menampung kebutuhan praktek dari para kreditur.
Pendaftaran jaminan fidusia akan melahirkan hak kebendaan, sehingga mendudukan kreditur menjadi kreditur separatis dengan segala hak istimewa yang diberikan oleh undang-undang.22 Oleh karena pendaftaran tersebut secara tidak langsung memberikan mamfaat bagi pihak kreditur, maka kewajiban pendaftaran berlaku pada pihak kreditur sedangkan debitur tidak memiliki kepentingan atas didaftarkan atau tidaknya jaminan tersebut, bahkan debitur akan lebih diuntungkan
21 J. Satrio, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan Fidusia, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002), hlm 143
22 Witanto, Hukum Jaminan Fidusia dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen, (Bandung : Mandar Maju, 2015). Hlm 174
seandainya benda yang diserahkan sebagai jaminan fidusia tidak didaftarkan oleh pihak kreditur.23
Saat ini banyak lembaga pembiayaan (finance) dan bank menyelenggarakan pembiayaan bagi konsumen sewa guna usaha (leasing)24, anjak piutang (factoring25).
Mereka umumnya menggunakan tata cara perjanjian yang mengikutkan adanya jaminan fidusia bagi objek benda jaminan fidusia. Prakteknya lembaga pembiayaan menyediakan barang bergerak yang diminta konsumen (seperti motor atau mesin industri) kemudian diatas namakan konsumen sebagai debitor secara fidusia. Artinya debitor sebagai pemilik atas nama barang menjadi pemberi fidusia kepada kreditor yang dalam posisi sebagai penerima fidusia.
Praktek sederhana dalam jaminan fidusia adalah debitor / pihak yang punya barang mengajukan pembiayaan kepada kreditor, lalu kedua belah pihak sama – sama sepakat menggunakan jaminan fidusia terhadap benda milik debitor dan dibuatkan akta notaris lalu didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia. Kreditor sebagai penerima fidusia akan mendapat sertifikat jaminan fidusia maka kreditor serta merta mempunyai hak eksekusi langsung (parate eksekusi), seperti terjadi dalam pinjam meminjam dalam perbankan. Kekuatan serfikat tersebut sama dengan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap.
23Ibid, hlm 175.
24 Leasing atau equipment funding, yaitu pembiayaan peralatan atau barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam, Jurnal Ekonomi islam. Vol. I, No2, Desember 2007.
25Factoring atau anjak piutang adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang dalam jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut, dalam keputusan Menteri Keuangan No. 84 /PMK.012/2006.
Sebelum lahirnya Peraturan Menteri Keuangan No. 130/PMK.010/2012 tentang Pendafaran Jaminan Fidusia bagi perusahaan pembiayaan yang melakukan pembiayaan konsumen dengan pembebanan jaminan fidusia, undang-undang No 42 Tahun 1999 tentang jaminan fidusia tidak menyatakan secara tegas dan jelas terkait konsekuensi hukum apapun bagi lembaga pembiyaan perbankan yang tidak mendaftarkan jaminan fidusia kepada kantor pendaftaran fidusia.26
Hal tersebut tentunya menjadi salah satu faktor penyebab lembaga pembiayaan tidak mendaftarkan jaminan yang dibebani jaminan fidusia karena di dalam pasal undang-undang No 42 Tahun 1999 tentang jaminan fidusia tidak menyebutkan secara tegas terkait dengan sanksi hukum yang diberikan kepada lembaga pembiayaan bank maupun non bank atas tidak didaftarkannya jaminan fidusia kepada lembaga fidusia.27
Faktor penyebab lainnya tidak didaftarkannya jaminan fidusia antara lain jangka waktu kreditnya hanya berlangsung selama tidak lebih dari satu tahun, nilai pinjaman kecil dan debiturnya sudah dikenal dengan baik oleh bank yang bersangkutan. Jadi dianggap sangat kecil kemungkinan debitur melakukan
26 Yosef Warmanto Panggabean, sanksi hukum terhadap lembaga perbankan yang tidak mendaftarkan jaminan fidusia dalam praktik pembiayaan kredit pemilikan mobil (studi pada PT. Bank X), dalam hasis penelitian tesis. Hlm 7.
27Ibid, Hlm 8
wanprestasi.28 Dan dilihat dari faktor biaya yang ditentukan dalam pendaftaran fidusia yang terlalu besar untuk jaminan fidusia.29
Konsekuensi yuridis bagi kreditur yang tidak mendaftarkan akta jaminan fidusia tidak mendapat perlindungan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia,30 sebagaimana sesuai dengan amanat undang- undang jaminan fidusia untuk mendapatkan perlindungan hukum sebagaimana yang diatur dalam undang-undang tersebut, pembebanan benda dengan akta jaminan fidusi harus dibuat dengan akta otentik dan dicatatkan dalam Buku Daftar Fidusia. Jika ketentuan tersebut tidak dipenuhi maka hak-hak kreditur tidak mendapat perlindungan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang No 42 tentang Jaminan Fidusia.
Undang–Undang Jaminan fidusia telah memberikan aturan mengenai pelaksanaan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang dilakukan oleh lembaga jaminan fidusia, namun fakta di lapangan pelaksanaan eksekusi yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan bank atau pun non bank tidak memenuhi aturan undang–undang yang berlaku. Tidak jarang di pelaksaan eksekusi yang dilakukan oleh lembaga
28Op.Cit. Hlm 214
29 PP No. 21 Tahun 2015 Pasal 18 menyebutkan bahwa : pembuatan akta jaminan fidusia dikenakan berdasarkan biaya yang besarnya ditentukan berdasarkan nilai penjamin, dengan ketentuan sebagai berikut :
a Nilai penjaminan sampai dengan Rp. 100.000.000,00, biaya pembuatan akta paling banyak 2,5% .
b Nilai penjaminan diatas Rp. 100.000.000,00 sampai dengan Rp. 1.000.000.000,00, biaya pembuatan akta paling banyak 1,5%
c Nilai penjaminan diatas Rp. 1.000.000.000,00 biaya pembuatan akta berdasarkan kesepakatan antara Notaris dengan para pihak, tetapi tidak melebihi 1% dari objek yang dibuatkan aktanya.
30Op.cit, Hlm 216
pembiayaan terjadi penyimpangan. Lembaga pembiyaan atau pihak bank juga dapat ditemukan tidak melalukan kontrak pembiayaan dengan debitur dihadapan notaris, sehingga perjanjian tersebut hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai perjanjian dibawah tangan karena tidak ada akta notaris sebagai kekuatan hukum perjanjian tersebut.
Pemberi kredit di bank atau pun dilembaga pembiayaan non bank juga sering sekali tidak mendaftarkan jaminan fidusia pada Kantor Pendaftaran Jaminan Fidusia dibawah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia maka apa yang terjadi di dalam prakteknya dan apa yang diharapkan oleh Undang–Undang Jaminan Fidusia tidak tercapai. Dengan latar belakang tersebut antara peraturan yang ada dengan kenyataan dimasyarakat serta kekuatan mengikatnya perjanjian kredit terhadap jaminan fidusia yang tidak didaftarkan dalam pelaksanaan eksekusi tidak seperti yang diharapkan, dibutuhkan solusi yang cocok untuk mengsinkronkan antara aturan yang ada dengan kenyataan yang terjadi dimasyarakat.
Salah satu perusahaan pembiayaan (non bank) yang melakukan praktek penjaminan secara fidusia adalah PT. Mandala Finance yang disahkan berdasarkan keputusan Menteri Keuangan RI No. 323/KMK.017/1997, kegiatan usaha perusahaan meliputi sewa guna usaha, anjak piutang, usaha kartu kredit dan pembiayaan konsumen, yang sampai saat ini perusahaan menfokuskan diri pada kegiatan usaha pembiayaan konsumen khususnya pembiayaan roda dua.31 Khususnya pada PT.
31 Anonim, Sejarah, visi dan misi, http://mandalafinance.com/tentang-kami/sejarah-visi-misi/ , diakses pada tanggal, 26 Maret 2019.
Mandala Finance cabang Takengon belum ada nya dilakukan pendaftaran jaminan fidusia, dan pengikatan objek jaminan hanya melalui perjanjian dibawah tangan saja, yang mana tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu undang-undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
Pada lembaga perbankan yaitu pada bank BRI cabang Takengon salah satu pelaksanaan kredit dengan menggunakan pengikatan jaminan fidusia, dimana pada bank BRI cabang Takengon ini pendaftran jaminan fidusia hanya untuk objek jaminan yang senilai dari Rp. 50.000.000,00 (Lima Puluh Juta) keatas yang didaftarkan, sebaliknya objek jaminan yang nilai nya dibawah Rp.50.000.000,- hanya melakukan perjanjian dibawah tangan antara pihak bank sebagai kreditur dengan pihak debitur.
Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan suatu penelitian tentang “Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Yang Tidak Didaftarkan Dan Akibat Hukumnya Bagi Kreditur Dan Debitur (Studi Pada Bank BRI Cabang Takengon dan PT. Mandala Finance cabang takengon)”.
B. Permasalahan
1. Apakah akibat hukum bagi kreditur yang tidak mendaftarkan objek jaminan fidusia ?
2. Bagaimanakah pelaksanaan eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan pada Bank BRI cabang Takengon dan PT. Mandala Finance ?
3. Apakah hambatan-hambatan dan upaya yang dilakukan oleh BRI cabang Takengon dan PT. Mandala Finance dalam melakukan eksekusi objek jaminan yang tidak didaftarkan ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk menganalisis akibat hukum bagi kreditur dan debitur dari tidak didaftarkannya objek jaminan fidusia dalam melakukan eksekusi objek jaminan pada Bank BRI cabang Takengon dan PT. Mandala Finance dalam melakukan eksekusi terhadap barang jaminan fidusia.
2. Untuk menganalisis eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan pada Bank BRI cabang Takengon dan PT. Mandala Finance dan untuk mengetahui apakah pengaturan pendaftaran jaminan fidusia tersebut sudah sesuai dengan seperti yang di atur dalam peraturan perundang-undangan.
3. Untuk menganalisis apa saja hambatan-hambatan dan upaya yang dilakukan BRI cabang Takengon dan PT. Mandala Finance dalam melakukan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan.
D. Manfaat Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi baik teoretis kepada disiplin ilmu hukum yang ditekuni oleh peneliti maupun praktis kepada para praktisi hukum.32
Dapat dijelaskan kegunaan secara teoretis dan praktis bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun bagi praktek33 :
1. Kegunaan atau manfaat yang bersifat teoritis adalah mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat menyumbangkan pemikiran dibidang hukum yang akan mengebangkan disiplin ilmu hukum.
2. Kegunaan atau manfaat yang bersifat praktis adalah bahwa hasil penelitian nantinya dapat memberikan jalan keluar yang akurat terhadap permasalahan yang diteliti dan disamping itu hasil penelitian ini dapat mengungkapkan teori – teori yang sudah ada.
Kegiatan penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis adalah sebagai berikut :
1. Secara teoretis.
a Untuk memberikan informasi dan kontribusi baru bagi pengembangan bidang pengetahuan hukum umumnya dan hukum perdata khususnya.
b Untuk memberikan sumbangan pemikiran dan suatu gambaran lebih nyata mengenai dampak tidak didaftarkannya jaminan fidusia terhadap eksekusi objek jaminan fidusia, sehingga dapat dibaca dan
32 Ediwarman, Metode Peneitian Hukum, Panduann Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi.(Yogyakarta : Genta Publishing, 2016). Hlm. 63.
33Ibid, hlm 63
dipelajari lebih lanjut oleh para mahasiswa Fakultas Hukum serta memicu diadakannya penelitian lain yang lebih mendalam tentang eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan.
c Untuk perkembangan hukum di Indonesia, terutama dapat menambah pengetahuan tentang tata cara pendaftaran jaminan fidusia dan kewajiban pendaftaran fidusia agar tercapainya perlindungan hukum bagi pihak kreditur sebagai pemberi fidusia maupun debitur sebagai penerima fidusia.
2. Secara praktis
a Untuk memberikan kontribusi pemikiran dan masukan bagi penyempurnaan pranata peraturan hukum dalam rangka mengoptimalkan eksekusi jaminan fidusia yang tidak didaftarkan.
b Untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi aparat penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan, Hakim, Pengacara) dan masyarakat dalam memahami eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui penelusuran hasil-hasil penelitian baik yang ada di lingkungan Universitas Sumatera Utara khususnya perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, bahwa penelitian dengan judul “Eksekusi Jaminan Fidusia yang Tidak Didaftarkan dan Akibat Hukumnya Bagi Kreditur dan Debitur, Studi pada Bank BRI cabang Takengon dan PT. Mandala Finance”. Merupakan penelitian baru dan asli sesuai dengan asas-asas keilmuan yaitu
jujur, rasional dan objektif dan terbuka sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah dan terbuka untuk kritikan- kritikan yang membangun sehubungan dengan topik dan permasalahan di dalam penelitian ini.
Guna menghindari terjadinya duplikasi penelitian terhadap masalah yang sama, maka peneliti melakukan pengumpulan data dan juga pemeriksaan terhadap hasil-hasil penelitian yang ada. Berdasarkan hasil observasi, ada beberapa penelitian yang memiliki topik yang sama, yakni :
1. Yosef Warmanto Panggabean, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, dengan judul tesis: “Sanksi Hukum Terhadap Lembaga Perbankan Yang Tidak Mendaftarkan Jaminan Fidusia Dalam Praktik Pembiayaan Kredit Pemilikan Mobil (Studi Pada PT. Bank X ). Rumusah masalah :
a. Mengapa lembaga perbankan perlu mendaftarkan jaminan fidusia dalam pembiayaan kredit pemilikan mobil ?
b. Faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi lembaga perbankan yang tidak mendaftarkan jaminan fidusia kepada kantor pendaftaran jaminan fidusia ?
c. Bagaimana sanksi hukum yang dapat dikenakan terhadap lembaga perbankan atas tidak didaftarkannya jaminan fidusia berdasarkan hukum nasional ?
2. Anggiat Ferdinan, 077005002, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, dengan judul tesis “ Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Jaminan Fidusia Terhadap Objek Jaminan Dalam Kepailitan”. Rumusan masalah :
a Bagaimana kekuatan eksekutorial sertifikat jaminan fidusia dapat memberikan perlindungan kepada pemegang hak jaminan fidusia dalam kepailitan ?
b Bagaimana proses pelaksanaan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia dalam kepailitan ?
c Kendala-kendala apa yang dapat menghambat proses eksekusi terhadap objek jaminan fidusia dalam kepailitan ?
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya seperti yang disebutkan diatas adalah pada penelitian dari Yosep Warmanto Panggabean, membahas tentang sanksi hukum terhadap perbankan yang tidak mendaftarkan objek jaminannya. Dan pada penelitian kedua dari Anggiat Ferdinan, yang membahas tentang kekuatan eksekutorian dari sertifikat jaminan fidusia. Dari kedua penelitian tesebut belum ada yang membahas tentang eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan dan akibat hukumnya bagi kreditur dan debitur khususnya pada pada bank BRI cabang Takengon dan pada PT. Mandala Finance, oleh karena itu penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya dan belum ada penelitian yang sama dengan penetian ini.
F. Kerangka Teori dan Kerangka konseptual 1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah bagian penting dalam penelitian. Artinya teori hukum harus dijadikan dasar dalam memberikan deskripsi atau penilaian apa yang seharusnya memuat hukum. Kerangka teori merupakan landasan yang digunakan untuk menjawab permasalahan atau pertanyaan penelitian. Kerangka teori juga digunakan untuk membedah suatu kasus atau permasalahan sebagai pegangan teoretis.34 Penelitian ini merupakan penelitian hukum, maka kerangka teori diarahkan secara ilmu hukum dan mengarahkan diri kepada unsur hukum. Soejono Soekanto menyatakan bahwa “perkembangan ilmu hukum selain bergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori”.35 Fungsi teori dalam penelitian adalah untuk mensistematiskan penemuan–penemuan penelitian, membuat prediksi atas dasar penemuan dan menyajikan penjelasan yang dalam hal ini untuk menjawab pertanyaan. Artinya teori merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskan dan harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Ada beberapa teori yang dipakai dalam penelitian ini yaitu teori kepastian hukum, teori perlindungan hukum dan teori sistem hukum.
34 Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta : Universitas Gajah Mada Press, 2003). Hlm 39.
35 Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005).
Hlm. 6.
a Teori Kepastian Hukum
Tentang teori kepastian hukum Soejono Soekanto mengemukakan :36
“Wujud dari kepastian hukum adalah peraturan – peraturan dari pemerintah pusat yang berlaku umum diseluruh wilayah negara.
Kemungkinan lain adalah peraturan tersebut berlaku umum bagi golongan tertentu, selain itu dapat pula peraturan setempat, yaitu peraturan yang dibuat oleh penguasa setempat yang hanya berlaku di daerahnya saja”.
Kepastian hukum berarti dengan adanya aturan hukum yang jelas dan tegas, maka setiap orang mengetahui dan menjalankan apa yang menjadi kewajiban dan haknya sehingga tercipta ketertiban dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu kepastian hukum dimaknai dapat memberikan jaminan perlindungan hukum kepada setiap orang dalam melaksanakan kewajiban serta haknya.37
Tujuan hukum yang mendekati realistis adalah kepastian hukum dan kemanfaatan hukum. Kaum positivisme hukum lebih menekankan kepada kepastian hukum dan sedangkan kaum fungsionalisme mengutamakan kepada kemanfaatan hukum. Dengan demikian kendatipun keadalian bukan merupakan tujuan hukum satu – satunya akan tetapi tujuan hukum yang paling substantif adalah keadilan.38
Ajaran kepastian hukum ini berasal dari ajaran Yuridis Dogmatik yang didasarkan pada aliran pemikiran positivisme di dunia hukum yang cenderung melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom yang mandiri, karena bagi penganut
36Soejono Soekanto A, Beberapa Permasalahan Hukum dalam Kerangka Pembangunan Indonesia, (Jakarta :UI Press, 1974). Hlm 56.
37 Heo Hujibers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, (Yogyakarta: Kanisius, 1982). Hlm 163.
38 Domikinos Rato, Filsafat Hukum Mnecari dan memahami hukum, (Yogyakarta : Laksbang Pressindo,2010). Hlm 59.
aliran ini hukum tak lain dari sekedar menjamin terwujudnya kepastian hukum.
Kepastian hukum itu diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang hanya membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum. Sifat umum dari aturam-aturan hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan melainkan semata–mata untuk kepastian.39
Teori kepastian hukum digunakan untuk melihat apakah seperangkat aturan yang mengatur tentang lembaga perbankan atau non perbankan dalam melakukan pembiayaan dengan jaminan fidusia dan keseluruhan undang-undang serta perangkat peraturan turunan lainnya memberikan kepastian, ketegasan dan memberikan batasan serta informasi menyeluruh kepada masyarakat umum. Dengan berlakunya Undang- Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, mengatur tentang kewajiban pendaftaran jaminan fidusia agar memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentigan. Dan dengan adanya kepastian hukum dalam pendaftaran akta jaminan fidusia akan dapat memberikan jaminan perlindungan bagi setiap orang, mengingat kepastian hukum itu sendiri adalah alat atau syarat untuk memberikan perlindugan kepada para pihak.
b Teori Kemanfaatan Hukum
Eksistensi hukum bertujuan untuk memberikan keamanan dan ketertiban serta menjamin adanya kesejahteraan yang diperoleh masyarakat dari negara sebagai
39 Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum, Suatu Kajian Filosofis dan Sosiogis, (Jakarta :TokoGunung Agung 2002). Hlm 82-83
payung bermasyarakat.40 Identifikasi setiap permasalahan merupakan tugas dari hukum untuk memberikan jaminan adanya kepastian hukum. Masyarakat berkembang pesat di dunia komunitasnya atau dalam bernegara, hal ini dipengaruhi oleh perkembangan zaman sehingga kebutuhan harus dipenuhi sesuai zamannya.
Keberlakuan ini secara langsung tidak memiliki relevansi dengan kepastian hukum, karenamya hukum akan bersifat statis tanpa adanya penyesuaian antara hukum dan perilaku masyarakat atau terjadi kerancuan hukum.41
Untuk itu perlu hukum yang kontekstual, dalam arti dapat mengakomodir praktik–praktik sosial di masyarakat dengan diatur oleh norma dan hukum. Ajaran ajaran hukum yang diterapkan, menurut Jhonson “agar tercipta korelasi antara hukum dan masyarakatnya, yaitu hukum sosial yang lebih kuat dan lebih maju daripada ajaran–ajaran yang diciptakan oleh hukum perorangan.42 Artikulasi hukum ini akan mencitakan hukum yang sesuai cita–cita masyarakat. Karenanya muara hukum tidak hanya keadilan dan kepastian hukum, akan tetapi aspek kemanfaatan juga harus terpenuhi.
Penganut mazhab utilitarialisme memperkenalkan tujuan hukum yang ketiga, disamping keadilan dan kepastian hukum. Dilanjutkan tujuan hukum itu adalah untuk kemanfaatan bagi seluruh orang. Teori ulititas (utilitarialisme) atau teori kemanfaatan yang dipelopori oleh Jeremy Bentham dan selanjutnya dikembangkan oleh Jhon
40 Sudikno Mertokusuo, Teori Hukum, Cetakan ke 1 (Yogyakarta : Universitas Atma Jaya, 2011). Hlm 16.
41Suwardi Sagama, “Analisis Konsep Keadilan, Kepastian Hukum dan Kemamfaatan dalam Pengelolaan Lingkungan”, Mazhab Jurnal Pemikiran Hukum Islam. Vol XV 2016. Hlm 14
42 Alvin S Jhonson, Sosiologi Hukum, Cetakan ke 3 (Jakarta : Asdi Mahastya,2006). Hlm.
204.
Stuart Mill. Utilitarialisme disebut lagi suatu teleologis (telos = tujuan, dalam bahasa Yunani), sebab menurut teori ini kualitas etis suatu perbuatan diperoleh dengan dicapainya tujuan pembuatan. Perbuatan yang memang bermaksud baik tetapi tidak mengahasilkan apa-apa, menurut utilitarialisme tidak dapat dikatakan baik.43
Kemanfaatan merupakan tujuan hukum yang memiliki peranan hukum saat praktek mengenyampingkan keadilan dan kepastian hukum. Dikatakannya hukum baik adalah apabila aplikasi norma hukum memberikan kemanfaatan yang baik bagi masyarakat serta menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat lainnya. Untuk itu penegak hukum dapat mengimplementasikan peraturan perundang-undangan dengan mengutamakan rakyat.
Teori ini digunakan untuk menganalisis dan membahas permasalahan mengenai pengaturan pendaftaran akta jaminan fidusia. Dengan mendaftarkan jaminan fidusia kepada kantor pendaftaran fidusia maka penerima fidusia akan memperoleh sertifikat jaminan fidusia yang dapat memberikan manfaat kekuatan eksekutorial, yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Sertikat jaminan fidusia tersebut dapat digunakan untuk melakukan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia jika sewaktu-waktu pemberi fidusia cidera janji.
43 K. Bertens, Etika dan Etiket, Pentingnya Sebuah Perbedaan, (Yogyakarta : Kanisius, 1989), hlm 67.
c. Teori Sistem Hukum
Salah satu tokoh yang cukup dikenal yang menganggap hukum sebagai komponen struktur, substansi dan budaya hukum yaitu Friedman yang menggambarkan komponen struktural hukum sebagai “perangkat keras” yang memungkinkan sistem hukum dapat bekerja secara nyata dalam masyarakat.
Pengembangan berbagai institusi hukum di Indonesia seperti Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan institusi hukum lainnya harus dapat menjamin tegaknya hukum dan keadilan. Diantara institusi di atas apabila tanpa sumber daya berkualitas, niscaya hukum hanya ada diatas kertas.44 Komponen substansi adalah segala produk yang dikeluarkan oleh masyarakat, baik yang sifatnya tertulis maupun yang tidak tertulis, yang fungsinya sebagai norma hukum dalam masyarakat.45 Pendapat Friedman selanjutnya tentang komponen budaya hukum yang dikatakan sebagai “bensinnya”
motor keadilan.46 Sehingga tergambar bagaimana serangkaian nilai dan sikap mempunyai hubungan dalam sistem hukum. Bagaimana pun hukum itu dibuat sebagai institusi dan nilai serta sikap akan mempengaruhi prilaku masyarakat baik secara positif maupun negatif.47
44 Mahmud Kusuma, Menyelami Semangat Hukum Progresif : TerapiParadigma Bagi Lemahnya Hukum Indonesia, (Yogyakarta : Antonylib, 2009). Hlm 96.
45Ibid, hlm 97
46Ibid, hlm 98
47 Ariya Zurnetti dan Himawan Ahmed Sanusi, “Perkembangan Pertentangan Hukum Suatu Sistem Dalam Perspektif Penegekan Hukum Di Indonesia”. Jurnal Normatif , Vol 5Tahun 2017. Hlm 4.
Hampir sejalan dengan pendapat Friedman Sudikno Mertkusumo menjelaskan bahwa:48
“Hukum merupakan sistem yang berarti bahwa hukum merupakan tatanan dan suatu kesatuan yang utuh yang terdiri bagian-bagian atau unsur-unsur yng saling terkait erat satu sama lain. Sistem hukum adalah satu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama lain dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kesatuan tersebut”.
Penelitian tesis ini difokuskan pada sistem hukum dalam budaya hukum yang menyangkut sikap masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum yaitu terhadap Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang jaminan fidusia, terkhusus masalah pendaftaran jaminan fidusia yang merupakan suatu kewajiban para pihak untuk mendaftarkan akta jaminan fidusia.
Unsur – unsur hukum bekerja secara integral satu dengan yang lainya agar tujuan dari hukum dapat tercapai, yaitu keadilan, kepastian dan kemanfaat dari suatu hukum. Tercapainya suatu hukum dapat menekan kepada para pihak yang melakukan perjanjian kredit dengan jaminan fidusia agar mendaftarkan objek jaminan fidusia kepada kantor pendaftaran jaminan fidusia yang merupakan kewajiban sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang jaminan fidusia.
2. Kerangka konseptual
Konsepsi merupakan salah satu bagian terpenting dari teori peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan dunia teori dan observasi, antara
48Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum : Suatu Pengantar (Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2010). Hlm 115
abstaksi dan realitas.49 Peranan konsep dalam penelitian adalah sebagai suatu upaya menghadirkan suatu abstrak lalu kemudian bermetamorfosis menjadi suatu bentuk baru yang lebih konkrit, jelas dan tegas yang disebut Operational Definition. Definisi operational memainkan peranan yang sangat penting guna menghindari adanya suatu perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubitus) atau bahkan kesalahan sebuah interprestasi dari istilah yang digunakan. Oleh karena itu didalam penelitian ini menterjemahkan beberapa konsep fundamental agar kiranya secara penerapan diharapkan mendapatkan suatu hasil penelitian analisis dalam menjelaskan rumusan masalah yaitu sebagai berikut :
a Lembaga perbankkan merupakan segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.50
b Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk laiinya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.51
c Debitur adalah pihak yang mempunyai hutang karena perjanjian atau Undang-Undang.52
49 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Raja grafindo Persada, 1998). Hlm 3.
50 Pasal 1 angka 1 Undang – Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Perbankan.
51 Pasal 1 angka 2 undang-undang No 10 Tahun 2008 tentang Perbankan.
52 Pasal 1 ayat (9) Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia
d Kreditur adalah pihak bank atau lembaga pembiayaan lainnya yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-Undang.53
e Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda tas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya yang diadakan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda itu.54 f Pemberi fidusia adalah orang perseorangan atau korporasi pemilik
benda yang menjadi objek jaminan fidusia.55
g Penerima fidusia adalah orang perseorangan atau korporasi yang mempunyai piutang yang pembayarannya dijamin dengan jaminan fidusia.56
h Jaminan adalah menjamin dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum.57
i Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik berwujud maupun tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang No 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan Pemberi fidusia sebagai agunan
53 Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia
54Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
55 Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
56 Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia
57 Tan Kamello , Hukum Jaminan fidusia, suatu kebutuhan yang didambakan, (Bandung : PT.
Alumni, 2004). Hlm 31
bagi pelunsan hutang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap Kreditur Lainnya.58 j Objek jaminan fidusia adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan
dialihkan, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar, yang bergerak maupun yang tidak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan atau hipotik.59
k Eksekusi objek jaminan fidusia adalah jika debitur cidera janji (wanprestasi) eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang dapat dilakukan dengan cara :
1) Pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (2) oleh Penerima Fidusia, yakni dengan menggunakan kekuatan eksekutorial yang bersifat Inkrachr Van Gewisjde (berkekuatan hukum tetap) dari sertifikat fidusia.
2) Penjualan yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan Penerima Fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan.
3) Penjualan dibawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemberi Fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan para pihak.
58Ibid, hlm 31.
59Ibid, hlm. 32.
l Cidera janji / wanprestasi adalah keadaan dimana seseorang debitur tidak memenuhi atau melaksanakan prstasi sebagaimana yang telah dijanjikan, melaksanakan apa yang dijanjikan, namun tidak seperti apa yang dijanjikan atau terlambat melakukan sesuatu menurut perjanjian tidak boleh diakukan.60
m Kantor Pendaftaran Fidusia adalah kantor tempat mendaftarkan jaminan fidusia yang berada dibawah lingkup Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang Menerbitkan dan menyerahkan kepada Penerima Fidusia / Notaris Rekanan Kreditur sebagai Penerima kuasapada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran.61
G. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah rangkaian langkah sistematis untuk memecahkan suatu rangkaian sebab akibat dan menemukan jawaban ilmiah terhadap permasalahan.
Setiap penelitian berangkat dari ketidaktahuan dan berakhir pada suatu keraguan, dan selanjutnya berangkat dari keraguan dan berakhir pada suatu hipotesis.62 Peter Marzuki merumuskan:63
“penelitian hukum sebagai suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi”.
60 Pasal 1313 KUHPerdata
61 Kheriah, Independensi Pengurus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Dalam Hukum Kepailitan, Jurnal Ilmu Hukum, Portal Garuda, Vol. 3 No 2.
62 Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian ( Jakarta : Rajawali Pers, 2013), hlm 19.
63Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, cetakan ke II (Jakarta : Kencana, 2008), hlm 29.
Suatu karya ilmiah selalu disusun berdasarkan data – data yang benar dan bersifat objektif sehingga dapat diuji kebenarannya, serta tunduk pada suatu metodelogi. Demikian juga halnya dengan penulisan tesis ini, mempergunakan metode ilmiah dalam mengumpulkan bahan–bahan atau sumber-sumber data yang dibutuhkan, sehingga penelitian ini dapat diuji objektifitasnya berdasarkan metode–
metode ilmiah. Adapun metode penelitian hukum yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis metode penulisan yang diaplikasikan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif (legal Research). Dikatakan sebagai penelitian hukum normatif karena objek dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan, mensistemsikan dan menganalisis norma-norma hukum positif di Indonesia yang pengaturannya berkenaan dengan eksekusi jaminan fidusia. Hukum dalam penelitian ini dikonsepsikan sebagai sekumpulan asas dan kaidah – kaidah hukum dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang eksekusi jaminan fidusia. Oleh karena itu, pada awal penelitian ini mengkaji tentang norma – norma hukum yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia dan peraturan – peraturan lain yang berkaitan dengan jaminan fidusia.
Sifat penelitian yang digunakan adalah deskriftif analitis, yang artinya adalah mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori
hukum yang menjadi objek penelitian.64 Deskriptif analitis bertujuan untuk mendeskrpsikan atau menggambarkan dan menganalisis data yang diperoleh secara sistematis, faktual dan akurat tentang bagaimana akibat hukum dari eksekusi jaminan fidusia yang tidak didaftarkan.
2. Sumber Data
Dalam penelitian pada umumnya dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan–bahan pustaka. Yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data primer (data dasar), sedangkan yang diperoleh dari bahan – bahan pustaka lazimnya dinamakan data sekunder.65 Dalam penelitian hukum normatif digunakan data sekunder, adapun data yang digunakan adalah sebagai berikut :
a Bahan hukum primer
Bahan hukum primer yaitu bahan – bahan hukum yang mengikat pada masyarakat, yang terdiri dari norma – norma atau kaidah – kaidah, peraturan dasar, peraturan perundang–undangan, bahan hukum yang tidak dikodifikasikan seperti hukum adat, yurisprudensi, traktat dan bahan hukum lainnya. Peraturan perundang-undangan berkaitan dengan pendaftaran jaminan fidusia, antara lain yaitu :
1) Udang-Undang No.42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
64 Ibrahim Johni, Teori dan Metodelogi Hukum Normatif (Malang : Bayu Media Publishing, 2005), hlm 336.
65 Soerjono soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada), hal 12.
2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia.
3) Peraturan Menteri Keuangan No. 130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan yang Melakukan Pembiyaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan Fidusia.
4) Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 10 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Eletronik.
5) Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 8 Tahun 2011 tentang Pengamanan Eksekusi Fidusia.
b Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder yaitu yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Seperti rancangan undang–undang, hasil–hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum dan seterusnya.
c Bahan hukum tertier
Bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti Kamus Hukum dan Kamus Umum Bahasa Indonesia.66
66Ibid, hlm 13
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yakni studi pustaka (Library Research) dan studi lapangan (Field Research). studi pustaka (Library Research) yaitu penelusuran kepustakaan untuk memperoleh data sekunder yang meliputi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan hakim. Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tetang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum dan komentar-komentar atas putusan pengadilan. Studi lapangan (Field Research) dengan mengumpukan data serta informasi yang diperoleh langsung dari responden dan mengamati secara langsung penerapan peraturan perundang-undangan.
Alat pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah studi dokumen (Decomantary Research) dan pedoman wawancara. Studi dokumen yaitu suatu alat untuk menyelesaikan pemasalahan dengan menelusuri sumber-sumber tulisan yang pernah dibuat sebelumnya.67 Wawancara adalah cara untuk memperoleh informasi dengan bertanya langsung pada informan, yang merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi.68 Yang menjadi Informan pada penelitian ini adalah pihak bank BRI yaitu bagian Administrasi kredit dan pihak PT. Mandala Finance yang akan bagian kredit.
67 Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, Jakarta : Yayasa Obor Indonesia, 2008. Hlm 2.
68 Ediwarman, Op.Cit. hlm 81
4. Analisis Data
Analisi data merupakan sebuah proses yang mencoba mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam sebuah pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan sebuah tema serta dapat juga dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan data.69 Metode yang digunakan untuk mengalisis data adalah analisis data secara kualitatif yaitu masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek/objek penelitian.70 Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitiannya adalah eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan dan akibat hukumnya kepada para pihak yang melakukan pengikatan jaminan.
Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif yaitu proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang besifat umum.71
69Ibid, hlm 103
70Op.Cit. hln 88
71Op.Cit. hlm 89.