PENDAHULUAN
Pada saat ini industri dunia telah memasuki era 4.0. yang ditandai dengan otomatisai dan digitalisasi perangkat kerja untuk mempermudah proses produksi dan meningkatkan kualitas produk. Pada beberapa tahun ke belakang untuk dapat mengadakan rapat atau pertemuan orang harus bertatap muka dalam satu tempat, berbeda dengan saat ini ketika teknologi digital mampu mempertemukan orang hanya dengan audio dan visual, memangkas jarak dan mempercepat mobilitas. Ini merupakan digitalisasi di bidang komunikasi. Tidak hanya pada bidang komunikasi digitalisai mampu berkembang pada sector perbankan, digitalisasi terus digalakkan yang awalnya kegiatan transaksi harus dilakukan di bank, seperti pembukaan rekening dan penyaluran kredit saat ini hal tersebut dapat diselesaikan secara digital atau online. Menurut Ardhienus (2021) yang merupakan asisten direktur departeman surveilans system keuangan, Bank Indonesia berpendapat bahwa ditengah kondisi pandemic seperti saat ini digitalisasi yang dilakukan oleh perbankan merupakan terobosan yang baik,
karena selain memudahkan dalam bertransaksi terobosan ini juga mendukung untuk memutus rantai penyebaran virus covid 19.
Perhatian konsumen terhadap produk yang dihasilkan terus mengalami perubahan mulai dari kualitas produk dan juga kualitas pelayanan seperti kemudahan dalam mendapatkan produk lalu kemudahan dalam bertransaksi serta kenyaman dalam malakukan interaksi jual beli. Pada kondisi Covid-19 saat ini banyak inovasi dalam pelayanan publik berbasis elektronik tentu saja hal ini demi kenyamanan penjual maupun konsumen dalam berinteraksi.
Perusahaan – perusahan dunia bersaing untuk menjadi yang terbaik dengan cara melakukan perbaikan proses kerja dan penyempurnaan pada produk yang di hasilkan. Apa yang di lakukan perusahaan pada saat ini merupakan cerminan dari kaizen yaitu perbaikan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkelanjutan. Dalam kaizen, kualitas merupakan aspek dasar dalam proses produksi sehingga menjadikan kaizen landasan dalam berpikir dan bertindak untuk menghasilkan Produk yang berkualitas.
PENERAPAN 5S DAN ANALISIS DAMPAKNYA TERHADAP
PERSEPSI PELANGGAN
(STUDI KASUS DI BENGKEL KARBURATOR MOBIL)
Budi Cahyanto¹, Fathurohman²
Prodi Manajemen, Universitas Pelita Bangsa
E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk implementasi 5S pada sebuah bengkel karburator mobil serta
menganalisa dampak implementasinya pada persepsi pelanggan. Penelitian ini menggunakan
mix research yaitu kualitatif deskriptif dan kuantitatif deskriptif. Analisa data kuantitatif
dilakukan terhadap persepsi pelanggan menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil dari
penerapan 5S ini meliputi area parkir angkot, lemari penyimpanan, area tunggu, area limbah
oli, area parkir konsumen, penyimpanan smallparts, area paking, paking master, dan tools
area. Lebih dari 97% yang memberikan penilaian dampak penerapan 5S melihat bahwa area
telah tertata rapih dan aman (Seiri), peralatan kerja, sparepart label dan petunjuk jelas, baik
dan rapih (Seiton), serta merasa nyaman dengan kebersihan area tunggu dan bengkel (Seiso).
Kata kunci: Implementasi 5S, Kaizen, Persepsi Pelanggan.
Setiap perusahaan menginginkan pengurangan pemborosan guna meningkatkan profit. Dalam konsep kaizen pengurangan pemborosan dimulai pada tingkat paling dasar yaitu melakukan pengamatan dan berinovasi pada lingkungan kerja masing masing. Perubahan dan perbaikan sekecil apapun akan berdampak pada perusahaan. Terdapat 2 proses penerapan budaya kaizen yaitu konsep 3M (Muda, Mura, Muri) dan konsep 5s (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, shitsuke). Konsep 3M merupakan konsep untuk mengurangi banyaknya proses kerja, mempersingkat waktu produksi (efisiensi) dan meningkatkan mutu proses dan mutu produk. Di dunia industry terdapat 7 jenis pemborosan yang perlu di eliminasi (Imai;2008:72) yaitu produksi berlebih, aktivitas yang tidak terkondisi, menunggu proses, terlalu banyak pergerakan, proses kerja yang tidak tepat, terlalu banyak stok, dan transportasi. Kemudian konsep 5S pada perusahaan adalah sebuah kebiasaan pola pikir dan kebiasaan aktivitas yang terorganisir guna membangun dan memelihara lingkungan yang berkualitas. Konsep 5S pada dasar nya merupakan metode untuk mengatur tempat kerja, baik di lingkungan industry dilingkungan kantor, indutri kecil (UMKM), ataupun toko kelontong.
Penelitian terdahulu yang bertema 5S dan kaizen berfokus pada penentuan factor yang berkontribusi pada keberhasilan implementasi kaizen pada usaha (Maarof & Mahmud, 2016) lalu terdapat penelitian yang bertema Mencari hubungan 5S dan produktifitas (Mohan Sharma et al., 2018)), (Fatmawati, 2017), terdapat juga penelitian yang bertema penerapan 5S untuk mencegah kecelakaan kerja (Dwi et al., 2020) implementasi 5S di perusahaan manufaktur (Soesilo, 2017), implementasi 5S di gudang perusahaan daerah air minum (Pujotomo et al., n.d.).
Penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan implementasi 5S di usaha kecil dan menengah yaitu sebuah bengkel karburator mobil. Evaluasi atas penerapan budaya 5S ini dilanjutkan dengan mengukur persepsi pelanggan sebelum implementasi 5S dan setelah penerapan implementasi 5S.
Berdasarkan dari uraian latar belakang di atas, maka akan dilakukan penelitian dengan judul “PENERAPAN 5S DAN ANALISIS
DAMPAKNYA TERHADAP PERSEPSI
PELANGGAN (STUDI KASUS DI BENGKEL KARBURATOR MOBIL)”
Dari uraian diatas maka ditentukan rumusan masalah masalah yaitu,
Bagaimana
kondisi bengkel sebelum penerapan 5S ?,
Bagaimana
kondisi
bengkel
setelah
penerpan 5S?,Dampak penerapan 5s pada
bengkel.
Tujuan penelitian ini adalah Untuk
mengetahui dan menganalisis kondisi
bengkel sebelum penerapan 5S, kemudian
untuk mengetahui
dan
menganalisis
kondisi bengkel setelah penerapan 5S, dan
untuk mengetahui
dan
menganalisis
dampak penerapan 5s pada bengkel
karburator mobil.
LANDASAN TEORI
KaizenKaizen merupakan istilah dalam bahasa Jepang terhadap konsep Continous Incremental Improvement. Kai berarti perubahan dan Zen berarti baik. Kaizen berarti penyempurnaan yang berkesinambungan yang melibatkan setiap orang. Pendekatan ini hanya dapat berhasil dengan baik apabila disertai dengan usaha sumber daya manusia yang tepat. Faktor manusia merupakan dimensi yang terpenting dalam perbaikan kualitas dan produktivitas. Semangat Kaizen yang tinggi dalam perusahaan Jepang telah membuat mereka maju pesat dan unggul dalam kualitas. Kaizen pada dasarnya merupakan suatu kesatuan pandangan yang komprehensif dan terintegrasi yang bertujuan untuk melaksanakan perbaikan secara terus-menerus. Menurut Gasperz semangat kaizen adalah berlandaskan pada pandangan berikut (Cyrilla Indri parwati, 2012):
1. Hari ini harus lebih baik daripada kemarin, dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini. 2. Tidak boleh ada satu hari pun yang lewat tanpa perbaikan/ peningkatan.
3. Masalah yang timbul merupakan suatu kesempatan untuk melaksanakan perbaikan/ peningkatan.
4. Menghargai adanya perbaikan/ peningkatan meskipun kecil.
5. Perbaikan/ peningkatan tidak harus memerlukan investasi yang besar.
Yulianto Nur Saputro berpendapat bahwa penerapan filosofi kaizen yang dilakukan oleh perusahaan jepang dalam perbaikan kualitas dan reduksi biaya terus-menerus membuat mereka unggul di pasar global. (Cyrilla Indri parwati, 2012)
Gerakan 5-S memperoleh namanya dari inisial kata Jepang yang dimulai dari huruf S : Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke sebagai bagian dari manajemen visual suatu program menyeluruh.
Petunjuk mengulangi langkah-langkah itu seringkali dipasang ditempat kerja guna melatih karyawan untuk dapat mematuhi peraturan yang diterapkan perusahaan (Masaaki Imai, 1997).
1. Seiri (Pemilahan) Seiri berarti memilih dan mengelompokkan barang-barang sesuai dengan jenis dan fungsinya, sehingga jelas mana yang tidak diperlukan. Situasinya yaitu semua barang dan bahan berantakkan disuatu area bercampur baur tidak menentu sehingga tidak jelas mana yang penting, diperlukan dan tidak diperlukan.
2. Seiton (Penataan) Seiton berarti menyusun dan meletakkan bahan dan barang sesuai dengan tempatnya agar mudah ditemukan kembali atau dijangkau bila diperlukan. Situasinya yaitu semua barang diletakkan menumpukasal-asalan, disembarang tempat, atau dokumen menumpuk disatu meja atau lemari tanpa ada penyusunan yang memadai. 3. Seiso (Kebersihan) Seiso berarti membersihkan semua fasilitas dan lingkungan kerja dari kotoran serta membuang sampah pada tempatnya. Situasinya yaitu : sampah dan kotoran yang terjadi selama aktivitas kerja dibiarkan beegitu saja atau menumpuk. Misalnya : debu, tanah, minyak, oli bekas menempel pada mesin/ peralatan kerja.
4. Seiketsu Seiketsu berarti memelihara semua barang atau peralatan, pakaian, tempat kerja dan material lainnya tetap dalam kondisi bersih dan tertata rapi. Pemantapan ini merupakan hasil dari kegiatan pemilihan, penataan, dan kebersihan, yang dilaksanakan secara tepat dan berulang-ulang.
5. Shitsuke (Pembiasaan) Shitsuke berarti membentuk sikap untuk memenuhi
aturan-aturan dan disiplin mengenai kebersihan dan kerapian terhadap peralatan dan tempat kerja.
Persepsi Pelanggan
Persepsi adalah sebuah sikap atau pandangan terhadap sesuatu yang bersifat subjektif. Persepsi dapat dinilai dengan panca indra (Wagner & Hollenbeck, 1995). Persepsi juga dapat di pengaruhi oleh pelaku persepsi, objek serta keadaan ( Robbins, 2003). Persepsi adalah proses individu dalam memahami hubungan atau kontak dengan dunia yang ada di sekelilingnya (Suranto Aw, 2010).
Pelanggan adalah orang – orang yang memberikan perhatian penuh terhadap produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Persepsi pelanggan adalah penilaian pelanggan atau konsumen melalui indranya tentang objek dan peristiwa kemudian menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan dimana pelanggan secara langsung atau tidak langsung akan memberikan penilaian terhadap jasa yang akan dibeli atau yang pernah dikonsumsinya. Sehingga ketika melakukan penilaian berdasarkan apa yang dirasakan dengan apa yang diharapkan terhadap objek.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain :
a. Sikap
Sikap yang dapat mempengaruhi positif atau negatifnya tanggapan yang akan diberikan seseorang.
b. Motivasi
Motivasi merupakan hal yang mendorong seseorang mendasari sikap tindakan yang dilakukannya.
c. Minat
Merupakan faktor lain yang membedakan penilaian seseorang terhadap suatu hal atau objek tertentu, yang mendasari kesukaan ataupun ketidaksukaan terhadap objek tersebut. d. Pengalaman masa lalu
Dapat mempengaruhi persepsi seseorang karena kita biasanya akan menarik kesimpulan yang sama dengan apa yang pernah dilihat dan didengar. e. Harapan
Mempengaruhi persepsi seseorang dalam membuat keputusan, kita akan cenderung menolak gagasan, ajakan atau tawaran yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
f. Sasaran
Sasaran dapat mempengaruhi penglihatan yang akhirnya akan mempengaruhi persepsi.
g. Situasi
Situasi atau keadaan disekitar kita atau disekitar sasaran yang kita lihat akan turut mempengaruhi persepsi. Sasaran atau benda yang sama yang kita lihat dalam situasi yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang berbeda pula.
Kualitas pelayanan menurut Kotler (2008) dalam (Lubis & Andayani, 2017) suatu tindakan seorang penjual kepada pembeli / konsumen demi memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Kualitas pelayanan yang baik akan memberikan dampak yang baik pula terhadap keberlangsungan suatu bisnis karena memungkinkan menjadi pelanggan yang setia dan menguntungkan perusahaan.
Terdapat beberapa dimensi kualitas layanan sebagai berikut :
a. Bukti fisik (Tangible)
Bukti fisik merupakan suatu service yang bisa dilihat, bisa dicium dan bisa diraba, maka aspek tangible menjadi penting sebagai ukuran terhadap pelayanan. Bukti fisik suatu perusahaan dalam menunjukkan esksitensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa yang meliputi fasilitas fisik perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi. Tangible yang baik akan mempengaruhi persepsi pelanggan. b. Kehandalan (Reliability)
Reliability merupakan kemampuan perusahaan untuk melaksanakan jasa sesuai dengan apa yang telah dijanjikan secara tepat waktu. Pentingnya dimensi ini adalah kepuasan konsumen akan menurun bila jasa yang diberikan tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Jadi komponen atau unsur dimensi reliability ini merupakan kemampuan perusahaan dalam menyampaikan jasa secara tepat dan pembebanan biaya secara tepat.
c. Ketanggapan (Responsiveness) Merupakan kemampuan perusahaan yang dilakukan langsung oleh karyawan untuk memberikan pelayanan dengan cepat dan tanggap. Daya tanggap dapat menumbuhkan persepsi yang positif terhadap kualitas jasa yang diberikan. Termasuk didalamnya jika terjadi kegagalan atau keterlambatan dalam penyampaian jasa, pihak penyedia jasa berusaha memperbaiki atau meminimalkan kerugian konsumen dengan segera. Dimensi ini menekankan pada perhatian dan kecepatan karyawan yang terlibat untuk menanggapi permintaan, pertanyaan, dan keluhan konsumen. Jadi komponen atau unsur dari dimensi ini terdiri dari kesigapan karyawan dalam melayani pelanggan, kecepatan karyawan dalam melayani pelanggan dan penanganan keluhan pelanggan.
d. Jaminan (Assurance)
Merupakan pengetahuan dan perilaku employee untuk membangun kepercayaan dan keyakinan pada diri konsumen dalam mengkonsumsi jasa yang ditawarkan. Dimensi ini sangat penting karena melibatkan persepsi konsumen terhadap resiko ketidakpastian yang tinggi terhadap kemampuan penyedia jasa. Perusahaan membangun kepercayaan dan kesetiaan konsumen melalui karyawan yang terlibat langsung menangani konsumen. Jadi komponen dari dimensi ini terdiri dari kompotensi karyawan yang meliputi ketrampilan, pengetahuan yang dimiliki karyawan untuk melakukan pelayanan dan kredibilitas perusahaan yang meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan konsumen kepada perusahaan seperti, reputasi perusahaan, prestasi dan lain-lain. e. Empati (Empathy)
Merupakan kemampuan perusahaan yang ilakukan langsung oleh karyawan untuk memberikan perhatian kepada konsumen secara individu, termasuk juga kepekaan atau kebutuhan konsumen. Jadi komponen dari dimensi ini merupakan gabungan dari akses (access) yaitu kemudahan
untuk memanfaatkan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.
f. Kepuasan Pelanggan
Kepuasaan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya (Kotler & Keller, 2007). Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepuasan pelanggan yang ditinjau dari sisi pelanggan yaitu mengenai apa yang telah dirasakan pelanggan atas pelayanan yang telah diberikan dibandingkan dengan apa yang mereka inginkan. Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dia rasakan dibandingkan dengan harapannya. Sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan. Kepuasan pelanggan terhadap suatu produk ataupun jasa, sebenarnya sesuatu yang sulit untuk didapat jika perusahaan jasa atau industri tersebut tidak benar-benar mengerti apa yang diharapkan oleh konsumennya.
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini akan di analisa tentang penerapan kaizen terutama 5S terhadap kegiatan jasa bengkel karburator. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mix research, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan penelitian digunakan untuk mengolah data secara ilmiah dan diharapkan proses penelitian lebih sistematis dan tujuan penelitian tercapai. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, yaitu dengan menganalisa kondisi sebenarnya yang terdapat dilapangan lingkup perbaikan dan menyajikan data secara sistematis dengan konsep 5S sehingga dapat lebih mudah dipahami, dan metode kuantitatif deskriptif yaitu jenis penelitian yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendiskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul, penelitian ini menggunakan pendekatan korelasi (correlational research) yang dilakukan untuk menemukan adanya korelasi antara butir kuesioner dengan teori 5S.
Desain penelitian
Desain penelitian mencakup serangkaian keputusan bagaimana penelitian akan dilakukan. Desain /rancangan penelitian berguna untuk menjelaskan seluruh rencana penelitian mulai dari permasalahan sampai analisis yang digunakan dalam penelitian. Kerangka pemikiran merupakan synopsis dari rancangan penelitian yang menggambarkan proses penelitian.
Metode Analisis
Pengolahan data – data pada penelitian ini menggunakan metode sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data
Data yang diperoleh dari mengumpulkan kuisioner kemudian disajikan dalam bentuk table. Hal ini dilakukan agar memudahkan dalam memahami data tersebut sehingga bisa dilakukan analisa lebih lanjut.
2. Menentukan planning perbaikan Dari data informasi mengenai permasalahan yang ada kemudian dibuat rencana perbaikan. Rencana atau planning perbaikan merupakan
patokan peneliti dalam menyelesaikan implementasi 5S. 3. Membuat rekomendasi usulan
perbaikan dengan metode 5S Membuat list perbaikan yang telah disepakati dengan mangacu pada metode 5S, sehingga perbaikan yang dilakukan jelas tentang waktu pelaksanaan, cara pelaksanaan, bahan yang dibutuhkan dan proses pelaksanaan.
4. Implemenntasi perbaikan 5S Setelah terdapat kesepakatan dengan pemilik usaha maka tindakan selanjutnya adalah melakukan implementasi 5S. Dengan konsep 5S maka hal yang dilakukan pertama yaitu memilah barang yang digunakan dan tidak digunakan, selanjutnya menata barang tersebut agar efisien, terjangkau saat di perlukan dan jauh dari potensi bahaya, selanjutnya membersihkan area kerja, peralatan dan semua yang berada di area usaha, kemudian merawat serta menjadikan kegiatan yang baik menjadi sebuah kebiasaan.
Gagasan Implemantasi 5S
Setelah melakukan observasi lapangan dan melihat kondisi yang sebenarnya maka berikut merupakan ide atau gagasan yang
menjadi patokan dalam mengimplementasikan 5S pada bengkel bapak Toto.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan yang merupakan hasil implemantasi dari metodologi penelitian yang telah diuraikan sebelumnya. Hasil pengolahan data dan pembahasan dalam penelitian ini diperoleh dari penyebaran kuesioner sebelum dan sesudah implementasi 5S dilakukan. Penelitian ini melibatkan 30 konsumen dan 2 pegawai sebagai responden. Pemilihan sample dilakukan secara acak selama 1 bulan seblum implementasi dan 1 bulan setelah implementasi.
Analisis Statistik
Uji Validitas
Teknik yang digunakan untuk menganalisis adalah metode corrected item-Total correlation (sugiono), yaitu suatu variable dikatakan valid jika nilai r hitung > r table, nilai r table diperoleh dari (df = n-k) dengan n merupakan jumlah responden dan k jumlah butir pertanyaan. α yang digunakan 5%.
Dengan df = n – k = 30 – 10 = 20, maka R table 20 = 0,4438
Dari table diatas menunjukkan bahwa pernyataan yang diuji memiliki kriteria valid untuk semua item pernyataan berdasarkan R hitung lebih besar dari R table 0,4438.
Uji Reliabilitas
Teknik yang digunakan untuk mengukur tingkat Reliabilitas adalah Cronbach Alpha dengan cara membandingkan dengan cara nilai Alpha dengan standarnya.
Dari hasil yang diperoleh bahwa data memiliki nilai Cronbach’s alpha yaitu 0,863. Maka data yang di peroleh menunjukkan reliable karena nilai alpha yang diperoleh lebih dari 0,60.
Hasil Implementasi
Setelah melakukan serangkaian rencana implementasi 5S berikut merupakan hasil dari implementasi 5S pada bengkel bapak Toto.
A. Penataan Tempat parkir
Pada area parkir mobil angkot yang merupakan bagian terpisah dari bengkel karburator mobil milik bapak Toto awalnya terlihat tidak rapih, penataan mobil tidak rapih, hal ini menimbulkan potensi kerusakan antara lain antar mobil bersentuhan menyebabkan kerusakan, mengurangi potensi lahan parker yang semestinya dapat menampung lebih banyak mobil.
Dapat dilihat pada tabel diatas bahwa
rencana yang implementasi yang terdapat pada kolom ke 2 adalah dengan menata mobil pada satu arah, memberikan ruang untuk akses keluar masuk area bengkel maupun parkir angkot. Pada kolom ke 3 adalah hasil implementasi sesuai prakiraan layout. Setelah implementasi terlihat perbedaan dalam hal kerapihan dan kejelasan alur masuk dan keluar mobil.
B. Penataan Lemari Penyimpanan
Pada lemari penyimpanan awalnya semua peralatan dan barang lainya terletak pada satu
tempat. Terlihat penataan barang bertumpuk sehingga menimbulkan potensi bahaya.
Pada prakiraan layout terdapat klasifikasi sebagai berikut pada lemari bagian atas adalah area barang ringan dan jarang digunakan, pada kolom ke dua area barang ringan, sering digunakan, pada kolom ke 3 adalah area barang berat sedang sering digunakan, dan kolom trakhir untuk area barang berat sering digunakan. Klasifikasi tersebut berguna untuk mengurangi potensi bahaya, mempercepat proses pengambilan barang.
C. Penataan Area Tunggu
Area tunggu konsumen sebelum implementasi tidak memiliki atap dan berada pada area dekat dengan area parkir sehingga terdapat potensi bahaya.
Pada rencana implementasi area tunggu dipindahkan yang awalnya berada jauh dari area teduh kemudian
di pindahkan ke area
bersebelahan
dengan area kerja. Hal inidilakukan agar pelanggan dapat mengamati proses kerja dan apabila terdapat complain agar dengan cepat tersampaikan kemudian pemindaahan ini dilakukan agar jauh dari potensi bahaya karena sebelum pemindahan area tunggu berada di area parkir yang apabila terdapat mobil yang hendak parkir kesulitan.
D. Penataan Limbah Oli
Potensi bahaya dapat terjadi di manapun sehingga meminimalisir potensi bahaya merupakan hal yang harus dilakukan. Salah satunya yaitu dengan memindahlan limbah oli ke area yang jauh dari potensi bahaya.
Memindahkan limbah oli yang awalnya berada dekat dengan tumpukan kayu dan parkir angkot memungkinkan adanya potensi bahaya, lalu dipindahkan ke area yang sudah di siapkan jauh dari percikan api dan potensi bahaya lainya.
E. Penataan Area Parkir Konsumen
Area kerja merupakan area yang seharusnya tertata rapih dan bersih. Sebelum implementasi area kerja bengkel bapak Toto menjadi satu dengan bengkel spesialis yang lain. Alas area parkir masih berupa tanah jika hujan maka akan terdapat genangan air sehingga menyebabkan area licin dan peralatan menjadi kotor.
Setelah impelementasi 5s alas tanah dirubah menjadi plur. Area parkir mobil konsumen dan area kerja di beri jarak. Peralatan di gantung pada dinding dan diberi label identitas agar memudahkan pegawai dalam bekerja.
F. Penataan Area Penyimpanan Smallparts
Smallparts atau part part kecil sebelum implementasi menjadi satu dalam satu tempat seperti mur dan baut berbagai ukuran. Hal ini menyulitkan dalam mengidentifikasi barang.Setelah implementasi 5S dilakukan pemilahan sesuai jenis, fungsi dan ukuran barang hal ini memudahkan pekerja dalam mengambil parts yang di inginkan dan mempercepat proses kerja.
G. Penataan Area paking
Area paking sebelum implementasi berada pada tempat penyimpanan menjadi satu dengan barang lainya. Memungkinkan salah dalam pengambilan paking karena tidak terdapat label identitas. Paking sering rusak karena bertumpuk dengan barang lainya hal ini berpengaruh pada proses kerja.
Implementasi 5S pada area ini meliputi pemindahan paking ke area yang mudah di jangkau, pemilahan paking sesuai jenis mobil dan pemberian label identitas sesuai jenis paking untuk mempermudah dalam proses kerja.
H. Penataan paking master
Paking master merupakan master dari paking yang dibuat oleh pegawai, master paking ini berfungsi sebagai acuan dalam pembuatan paking.
Sebelum implementasi 5S paking master berada satu tempat dan bertumpuk, menyebabkan paking master mengalami kerusakan dan menyulitkan dalam proses kerja. implementasi 5S pada paking master yaitu dengan melakukan pemilahan dan pengelompokan paking master sesuai jenis mobil lalu meletakkan pada sebuah dokumen file.
I. Penataan Tools
Sebelum implementasi 5S peralatan berada pada satu tempat terdapat obeng, kunci pas berbagai ukuran, tang dan lain – lain hal ini menyebabkan kerusakan pada peralatan, dan tidak terkontrol nya alur masuk dan keluar peralatan sehingga menimbulkan peralatan sering hilang, tidak adanya label identitas menyulitkan pegawai dalam mengambil peralatan sehingga memperlambat proses kerja.
Implementasi 5S pada peralatan kerja yaitu dengan memilah peralatan, mengelompokkan sesuai jenis, meletakkan pada area yang mudah dijangkau oleh pegawai dan pemberian label identitas pada peralatan. Sehingga peralatan menjadi terawat, mudah dalam mengontrol ketersediaan peralatan kerja, mempercepat proses kerja dan terlihat lebih rapih.
Pembahasan
Alur pembahasan penelitian ini adalah menggunakan konsep 5S (seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke). Dimana setiap konsep 5S menjelaskan implementasi yang dilakukan dan perubahan pendapat dari sisi konsumen.
a. Seiri
Seiri atau pemilahan merupakan dasar dari konsep 5S. yaitu dengan cara mengatur segala sesuatu, memilah sesuai dengan aturan atau prinsip tertentu guna di implementasikan pada bengkel bapak Toto. Seiri dalam 5S berarti membedakan antara yang digunakan dengan yang tidak digunakan serta menerapkan manajemen stratifikasi untuk membuang, mengelompokkan alat kerja, small parts serta item lainya.
Kondisi sebelum implementasi 5S pada bengkel bapak Toto alat kerja berada pada satu tempat tercampur antara satu dan yang lain. Penempatan smallpart antara lain mur, baut, ring, spuyer dan yang lain dengan berbagai ukuran berada pada satu tempat dan tercampur sehingga menyulitkan dalam proses kerja terutama dalam pengambilan part atau alat kerja. Kondisi paking tercampur berada pada satu tempat dan tanpa label menyulitkan proses kerja dalam pengambilan paking sebab berbeda jenis mobil berbeda pula jenis paking yang digunakan.
Kondisi setelah implementasi 5S pada bengkel bapak Toto adalah memilah – milah part, alat kerja serta paking. Pemilahan parts sesuai jenis, ukuran dan pemberian label identitas. Pemilahan alat kerja adalah dengan menempatkan alat kerja tidak bertumpuk dan di letakkan pada area yang mudah dijangkau serta pemberian label identitas. Memilah paking sesuai jenis mobil, menempatkan paking pada area yang mudah dijangkau serta
pemberian label identitas. Konsep seiri dapat dilihat pada pernyataan no 5 yaitu tentang Area kerja tertata rapih dan jauh dari potensi bahaya terdapat perubahan yang signifikan dari responden. Bisa dilihat dari gambar dibawah ini sebelum implementasi sebanyak 77% responden berpendapat area area kerja tidak tertata rapih dan jauh dari potensi bahaya. Setelah implementasi 5S terdapat perubahan pendapat sebanyak 97% responden berpendapat area kerja tertata rapih dan jauh dari potensi bahaya.
Kemudian pada pernyataan “Petunjuk dan label identitas terpasang dengan baik”. Sebanyak lebih dari 50% responden berpendapat sebelum implementasi 5S pekerjaan yang dilakukan pegawai kurang efisien dan setelah implementasi 5S dilakukan 100% responden berpendapat bahwa terdapat perbedaan waktu pekerjaan dengan
adanya
petunjuk
dan
identitas
terpasang dengan baik. Dapat dilihat
pada gambar dibawah ini.
b. Seiton
Konsep seiton atau penataan ialah penyimpanan barang di tempat yang tepat serta pengaturan tata letak ruang kerja. Dalam melakukan penyimpanan dan melakukan tata letak ruang kerja baiknya memperhatikan efisiensi, kualitas dan keamanan agar dapat mengoptimalkan area kerja serta nyaman dalam bekerja.
Kondisi sebelum implementasi 5S pada bengkel bapak Toto penempatan pada lemari penyimpanan tidak tersusun rapih, area kerja tidak memiliki ruang cukup, area parkir tidak tertata rapih, tong limbah oli tidak memiliki area khusus.
Kondisi setelah implementasi 5S pada bengkel bapak Toto, penyusunan lemari dengan konsep memilah berdasarkan berat barang dan frekuensi keguanaan barang tersebut, bagian atas adalah document, lalu area kedua paking master serta alat alat paking, area ketiga area penyimpanan smallparts, area bawah adalah area penyimpanan sparepart karburator. Penataan area parkir untuk memaksimalkan parkir serta keluar masuk mobil. Penempatan khusus tong limbah oli agar terhindar dari potensi bahaya.
Pada pernyataan “Peralatan tertata rapih” responden berpendapat dari sangat tidak setuju sampai netral sebanyak 70% bahwa peralatan kerja tertata rapih sebelum dilakukan implementasi 5S, dan sebaliknya sebanyak 100% berpendapat setuju sampai sangat setuju bahwa perlatan kerja tertata rapih. Pada konsep seiso peralatan yang rapih dan bersih akan berdampak pada produktivitas, usia peralatan dan Kenyamanan dalam bekerja. hal ini dapat dapat dilihat pada gambar di bawah.
Selain menghindari bahaya konsep seiton antara lain adalah efiensi waktu dan kualitas, ini tercermin pada pernyataan “ peralatan dalam kondisi baik” ini merupakan hasil dari konsep seiton yaitu menata peralatan sebaik mungkin agar peralatan tersebut siap digunakan setiap saat dengan tetap mempertahankan kualitas dapat di lihat pada gambar berikut
Sebelum implementasi sebanyak 63% responden berpendapat bahwa peralatan kerja tidak dalam kondisi yang baik, terdapat perlatan yang rusak ataupun terdapat perlatan yang hilang sehingga harus meminjam perlatan pada bengkel lain dan menambah waktu proses kerja. setelah implementasi 100% responden berpendapat bahwa perlatan kerja dalam kondisi baik perubahan ini signifikan dan berpengaruh dalam proses kerja.
Tidak hanya peralatan pada sparepart pun responden berpendapat terdapat perubahan yang signifikan antara sebelum implementasi 5S dan sesudah implementasi 5S. hal ini dapat dilihat pada gambar berikut,
Pada pernyataan “Sparepart dalam kondisi baik” sebanyak 63% responden berpendapat sparepart tidak dalam kondisi baik sebelum implementasi 5S di lakukan, setelah dilakukan implementasi 5S terdapat perubahan pendapat, sebesar 100% responden berpendapat bahwa sparepart yang tersedia dalam kondisi baik dan langsung dapat digunakan.
c. Seiso
Konsep seiso adalah melakukan pembersihan barang – barang dan area kerja agar selalu bersih dan rapih. Membersihkan tempat kerja secara teratur, merawat alat kerja agar dalam kondisi baik serta dapat menemukan kerusakan lebih
dini sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal.
Kondisi sebelum implementasi 5S pada bengkel bapak Toto area parkir masih beralaskan tanah merah, kurangnya alat kebersihan, alat kerja kotor karena oli pada saat awal dan akhir kerja.
Kondisi setelah implementasi 5S pada bengkel bapak Toto yaitu dilakukan pengepluran area kerja agar rapih, penambahan alat kebersihan, serta melakukan pembersihan alat kerja sebelum kerja setelah digunakan agar tetap dalam kondisi baik setiap saat.
Pada pernyataan “Area bengkel tertata rapih dan bersih”. Responden memberikan respon berbeda antara sebelum implementasi dan setelah implementasi.
Sebelum implementasi 5S sebanyak 24 responden dari total 30 responden atau sebesar 80% responden berpendapat bahwa area bengkel kurang tertata rapih dan bersih. Setelah melakukan implementasi 5S sebanyak 97% responden menyatakan adanya perubahan dengan berpendapat bahwa aera bengkel tertata rapih dan bersih.
Begitu pula dengan area tunggu bagi konsumen harus jauh dari potensi bahaya dan nyaman bagi konsumen. Respon dari responden bisa dilihat dari gambar dibawah ini.
Pada pernyataan “Area tunggu nyaman dan rapih” pada sebelum implementasi sebesar 67% responden berpendapat area tunggu kurang nyaman karena tidak adanya atap dan tidak rapih.
Setelah implementasi 5S dilakukan sebanyak 100% responden berpendapat area tunggu nyaman dan rapih.
d. Seiketsu dan Shitsuke
Konsep seiketstu dan shitsuke merupakan konsep kelanjutan dari 3 konsep sebelumnya dari konsep 5S. dimana penilaian dari konsep seiketsu dan shitsuke adalah konsistensi dalam merawat serta menjaga hal yang sudah dilakukan sehingga menimbulkan suatu budaya yang baik. Menilai konsistensi ini memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga peneliti membatasi pembahasan sampai konsep 3S awal yaitu seiri, seiton dan seiso.
Hasil penelitian di bengkel bapak Toto menunjukkan adanya keterkaitan antara implementasi 5S dan kinerja pegawai bengkel dengan adanya perbedaan pendapat konsumen antara sebelum implementasi 5S dan sesudah implementasi 5S, hasil ini sama dengan apa yang dilakukan oleh Mohan Sarma (2017) yang dilakukan pada perusahaan dari Negara Romania penelitian ini menunjukkan hubungan positif antara 5S dan produktivitas di pabrik produksi kabel otomotif. Selanjutnya pada penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2017) pada UMKM PT Ramadhan Kue menunjukkan bahwa budaya kaizen (5S), teknologi, dan inovasi secara bersama – sama berpengaruh positif dan signifikan. Kemudian pada penelitian yang dilakukan oleh Pujoutomo (2016) yaitu membandingkan kondisi sebelum dan sesudah implementasi budaya 5S. Secara jelas dapat diketahui jumlah score sebelum yaitu 6 (tidak menyadari kegunaan dari 5S) dan setelah dengan jumlah score 68 (sudah pada tingkat pendekatan formal).
KESIMPULAN DAN SARAN
KesimpulanKesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah
1. Kondisi bengkel sebelum penerapan 5S Menurut konsumen area bengkel tidak rapih dan area tunggu tidak nyaman karena tidak memiliki atap serta bercampur dengan area tunggu supir, area parkir kendaraan kurang bersih dan tidak tertata rapih. Letak alat kerja tidak rapih.
Sedangkan Menurut pegawai/montir area kerja dan area parkir berdekatan sehingga menyulitkan dalam proses kerja, alat kerja bertumpuk dan kotor menyulitkan dalam proses kerja. smallparts berada pada satu wadah sehingga menyulitkan proses kerja dan meningkatkan salah ambil parts. 2. Kondisi bengkel setelah implementasi 5S
Setelah melakukan observasi dan mengajukan usulan untuk implementasi 5S terdapat beberapa perubahan yaitu pada seiri (pemilahan) dimulai dari memilah barang barang yang digunakan dan tidak digunakan, barang yang digunakan diletakkan berdasarkan derajat kebutuhan. Sehingga pegawai lebih mudah dalam mengambil barang barang yang digunakan. Seiton (penataan) yaitu meletakkan barang barang secara khusus sesuai fungsi, ukuran dan potensi bahaya. Pemberian label identitas pada alat kerja, tempat penyimpanan, small parts dan lain lain untuk mempermudah dalam pencarian barang. Seiso (pembersihan) yaitu membersihkan area kerja dan alat kerja sehingga area kerja bersih alat kerja menjadi siap digunakan kapanpun dan awet. Area kerja yang bersih dapat meningkatkan produktivitas kerja dan menimbulkan rasa nyaman untuk pekerja. seiketsu (pemantapan) yaitu merawat hal yang sudah baik dan menjaga konsistensi dari 3 konsep (seiri,seiton dan seiso) sebelumnya. Shitsuke (pembiasaan) yaitu berkomitmen untuk terus menjalankan hal
yang sudah baik atau dengan kata lain
menjadi rajin dengan hal hal yang sudah
baik dilakukan secara terus menerus.
3. Dampak penerapan 5s pada bengkelLebih dari 97% yang memberikan penilaian dampak penerapan 5S melihat bahwa area telah tertata rapih dan aman (Seiri), peralatan kerja, sparepart label dan petunjuk jelas, baik dan rapih (Seiton), serta merasa nyaman dengan kebersihan area tunggu dan bengkel (Seiso).
Saran
Konsep 5S merupakan konsep perbaikan yang harus dilakukan secara terus menerus atau berkelanjutan. Pada bengkel karburator mobil bapak Toto implementasi 5S
baru dapat diterapkan sebanyak 3 point antara lain seiri, seiton dan seiso untuk shitsuke dan saiketsu butuh waktu dan konsestensi dalam menerapkannya. Konsep 5S adalah konsep yang dapat dilakukan dari hal yang paling kecil sehingga tidak perlu menunggu permasalahan muncul baru dilakukan perbaikan akan tetapi terus melakukan perbaikan walaupun itu hal kecil.
Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menganalisis permasalahan dengan lebih detail terutama pada tataletak dan potensi bahaya yang ditimbulkan. Serta implementasi shitsuke dan saiketsu agar dapat di terapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Cyrilla Indri parwati, R. M. sakti. (2012). Pengendalian Kualitas Produk Cacat Dengan Pendekatan Kaizen Dan Analisis Masalah Dengan Seven Tools. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III, ISSN: 1979-911x, 1–24.
Dwi, N., Saputro, N., Indriani, S., & Adriantantri, E. (2020). UPAYA
PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA DI BAGIAN PRODUKSI DENGAN 5S DALAM KONSEP KAIZEN DI PT . BOMA BISMA INDRA ( PERSERO ). jurnal Valtech (Jurnal Mahasiswa Teknik Industri)3(2), 11–18.
Farihah, T., & Krisdiyanto, D. (2018). Penerapan 5S (Seiri, Seiso, Seiton, Sheiketsu, Shitsuke) pada UKM Olahan Makanan di Dusun Sempu, Desa
Wonokerto. Jurnal Bakti Saintek: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains Dan Teknologi, 2(2), 43.
https://doi.org/10.14421/jbs.1260
Fatkhurrohman, A. (2016). skripsi 4 Penerapan kaizen dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas produk pada bagian banbury PT.Bridgestone Tire Indonesia. Jurnal Administrasi Kantor, 4(1), 14–31.
Higuchi, Y., Nam, V. H., & Sonobe, T. (2015). Sustained impacts of Kaizen training. Journal of Economic Behavior and
Organization, 120, 189–206.
https://doi.org/10.1016/j.jebo.2015.10.00 9
Laura, N. S., & Paramta, C. C. P. (2018). Pengaruh Konsep Kaizen (5S) Terhadap Peningkatan Daya Saing Usaha Kecil Dan Menengah (Ukm). Jurnal
Pengabdian Dan Kewirausahaan, 2(1), 38–50.
Lubis, A. S., & Andayani, N. R. (2017). PENGARUH KUALITAS PELAYANAN ( SERVICE QUALITY ) TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT . SUCOFINDO. Journal of business administration Vol 1, no 2.
Maarof, M. G., & Mahmud, F. (2016). A Review of Contributing Factors and Challenges in Implementing Kaizen in Small and Medium Enterprises. Procedia Economics and Finance, 35, 522–531.
https://doi.org/10.1016/s2212-5671(16)00065-4
Mohan Sharma, K., & Lata, S. (2018). Effectuation of Lean Tool “5S” on Materials and Work Space Efficiency in a Copper Wire Drawing Micro-Scale Industry in India. Materials Today: Proceedings, 5(2), 4678–4683.
https://doi.org/10.1016/j.matpr.2017.12.0 39
Mohan Sharma, K., Lata, S., Maarof, M. G., Mahmud, F., Veres, C., Marian, L., Moica, S., Al-Akel, K., Sebuah, Y. H., Hoang, V., & Sonobe, T. (2018). Case study concerning 5S method impact in an automotive company. Procedia
Economics and Finance, 5(2), 900–905. https://doi.org/10.1016/j.matpr.2017.12.0 39
Soesilo, R. (2017). Implementasi Kaizen dan konsep 5S pada pengeringan produk di proses plating pabrik busi. Jurnal Teknik Industri, 18(2), 121.
https://doi.org/10.22219/jtiumm.vol18.no 2.121-126
Studi, P., Manajemen, M., Bhayangkara, U., Raya, J., Studi, P., Manajemen, M., Bhayangkara, U., & Raya, J. (n.d.).
PENGARUH BUDAYA KAIZEN ( 5S ), TEKNOLOGI DAN INOVASI. 2. Veres, C., Marian, L., Moica, S., & Al-Akel,
K. (2018). Case study concerning 5S method impact in an automotive company. Procedia Manufacturing, 22, 900–905.
https://doi.org/10.1016/j.promfg.2018.03. 127
https://investor.id/opinion/efisiensi-perbankan-saat-pandemi