• Tidak ada hasil yang ditemukan

bermartabat melalui sikap kritis dan berpikir logis.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "bermartabat melalui sikap kritis dan berpikir logis."

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Teori

2.1.1. Mata Pelajaran Matematika 2.1.1.1. Pengertian Matematika

Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani “mathein” atau “manthenein” yang berarti mempelajari. Kata matematika juga diduga erat hubungannya dengan kata dari Bahasa Sansekerta “medha” atau “widya” yang berarti kepandaian, ketahuan atau intelegensia. Pengertian matematika menurut Jujun S (2007) matematika merupakan bahasa yang eksak, cermat dan terbebas dari emosi. Matematika sebagai bahasa merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan.

Subarinah (2006) menyatakan bahwa matematika merupakan ilmu deduktif, aksiomatik, formal, hirarkis, abstrak, bahasa simbol yang padat arti dan semacamnya adalah sebuah sistem matematika yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan- persoalan nyata. Matematika juga berguna untuk memberi pola pikir matematika yang sistematis, logis, kritis dengan penuh kecemasan. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memberikan kontribusi positif tercapainya masyarakat yang cerdas dan bermartabat melalui sikap kritis dan berpikir logis.

Matematika menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003) merupakan bahan kajian yang memiliki objek abstrak dibangun melalui proses deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.

(2)

Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan kerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.

Pelajaran matematika di SD merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sulit dan ditakuti oleh siswa. Padahal matematika adalah pelajaran yang sangat penting dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Kesulitan siswa karena konsepnya yang pasti dan bersifat eksak serta melibatkan rumus-rumus, angka dan bilangan.

Guru yang profesional seharusnya dapat mengemas materi dalam pembelajaran matematika agar lebih menarik minat dan motivasi belajar siswa sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai.

Pembelajaran SD kelas III semester I (satu) tentang pengukuran panjang berdasarkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006) adalah salah satu cakupan dari materi pengukuran. Standar kompetensi yang digunakan adalah menggunakan pengukuran waktu, panjang dan berat dalam pemecahan masalah. Dalam mengajarkan pengukuran maka memiliki alat ukur sesuai dengan fungsinya (jam, meteran, timbangan) menggunakan alat ukur dalam pemecahan masalah. Kompetensi Dasar dari materi pengukuran panjang adalah menggunakan alat ukur dalam pemecahan masalah dan mengenal hubungan antar satuan waktu, antar satuan panjang dan antar satuan berat.

(3)

Jadi berdasarkan KTSP 2006 dalam pembelajaran matematika, siswa diharapkan dapat menentukan kesetaraan hubungan antar satuan panjang dan menggunakan pengukuran panjang dalam kehidupan sehari-hari. Matematika merupakan alat yang efisien yang sangat diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan tanpa bantuan matematika semuanya tidak akan mendapatkan kemajuan yang berarti (Sujono dan Hayati, 2006 : 1).

2.1.1.2. Tujuan Matematika

Berdasarkan KTSP 2006, mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau logaritma secara luwes, akurat, efisiensi dan tepat dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4. Mengomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Mata pelajaran Matematika SD / MI meliputi aspek-aspek yaitu bilangan, geometri, pengukuran dan pengolahan data.

(4)

2.1.1.3. Ruang Lingkup

Standar kompetensi matematika merupakan seperangkat kompetensi matematika yang dibukukan dan harus ditunjukkan oleh siswa pada hasil belajarnya dalam mata pelajaran matematika. Standar ini dirinci dalam komponen kompetensi dasar beserta hasil belajarnya, indikator dan materi pokok untuk setiap aspeknya. Pengorganisasian dan pengelompokan materi pada materi didasarkan menurut disiplin ilmunya atau didasarkan menurut kemahiran atau kecakapan yang hendak dicapai. Aspek atau ruang lingkup materi pada standar kompetensi matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

1. Bilangan

2. Geometri dan pengukuran 3. Pengolahan data.

2.1.1.4. Ciri – ciri Pembelajaran Matematika di SD

Seorang guru atau calon guru di sekolah dasar harus benar-benar mengerti tentang karakteristik pembelajaran matematika di SD. Matematika sendiri merupakan ilmu yang abstrak sedangkan siswa SD yang pada umunya berada pada usia 7 hingga 12 tahun masih berada pada tahapan operasional konkrit. Pada usia seperti ini masih belum bisa berfikir secara formal. Oleh karena itu, pembelajaran matematika tidak boleh terlepas dari hakikat matematika dan hakikat ana didik di SD. Lalu, apa ciri-ciri pembelajaran Matematika di SD?

Pembelajaran matematika di sekolah dasar berbeda dengan pembelajaran matematika di SMP dan SMA. Pembelajaran matematika SD mempunyai ciri-ciri :

1. Pembelajaran Matematik menggunakan metode spiral.

(5)

Pendekatan spiral merupakan pendekatan dimana suatu topik matematika selalu dikaitkan dengan topik yang sebelumnya. Topik sebelumnya menjadi sebuah prasyarat dan topik baru yang akan dipelajari merupakan perluasan dari topik sebelumnya. Konsep-konsep yang diberikan harus dimulai dengan benda-benda konkrit.

2. Pembelajaran Matematika bertahap.

Pembelajaran Matematika bertahap maksudnya adalah pembelajaran matematika dilakukan secara bertahap yaitu dari pembelajaran tentang konsep matematika yang sederhana kemudian ke konsep matematika yang lebih sulit.

Penggunaan benda-benda konkrit pada tahap awal dapat mempermudah siswa memahami konsep-konsep yang sederhana. Setelah itu, penggunaan gambar- gambar yang semi konkrit dan akhirnya ke simbol-simbol pada tahap abstrak.

3. Pembelajaran Matematika bermakna.

Pembelajaran bermakna merupakan cara yang mengutamakan pengertian dari pada hafalan. Dalam pembelajaran bermakna, aturan-aturan, sifat-sifat, dan dalil-dalil tidak diberikan dalam bentuk jadi. Semua itu ditemukan sendiri oleh siswa melalui contoh-contoh.

2.1.2. Model Pembelajaran Explicit Instruction

2.1.2.1. Pengertian Model Pembelajaran Explicit Instruction

Menurut Arends (dalam Trianto, 2009:41) “model pembelajaran explicit instruction adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural

(6)

yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah”.

Model Pembelajaran explicit instruction atau pengajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah.

Model explicit instruction merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah.

Pendekatan mengajar ini sering disebut model pengajaran langsung. Apabila guru menggunakan model pengajaran langsung ini, guru mempunyai tanggung jawab untuk mengidentifikasi tujuan pembelajaran dan tanggung jawab yang besar terhadap penstrukturan isi/materi atau keterampilan, menjelaskan kepada siswa, pemodelan/mendemonstrasikan yang dikombinasikan dengan latihan, memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang telah dipelajari serta memberikan umpan balik.

Tujuan model pembelajaran explicit instruction agar sisiwa dapat memahami serta benar-benar mengetahui pengetahuan secara menyeluruh dan aktif dalam suatu pembelajaran. Jadi model pembelajaran ini sangat cocok diterapakan dikelas dalam materi tertentu yang bersifat dalil pengetahuan agar proses berpikir siswa dapat mempunyai keterampilan procedural.

2.1.2.2. Ciri – ciri dari Model Pembelajaran Explicit Instruction

Ciri – ciri model pembelajaran lansung menurut Kardi dan Nur (2000:3) adalah sebagai berikut :

(7)

1. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar.

2. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran

3. Sistem pengelolaan dan lingkukngan belajar model yang diperlukan. Dalam hal ini model pembelajaran DI memperhatikan variabel – variabel lingkungan yatu fokus akademik, arahan dan control guru, harapan yang tinggi untuk kemajuan siswa, waktu dan dampak netral dari pembelajaran.

2.1.2.3. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Explicit Instruction

Secara umum tiap-tiap model pembelajaran tentu terdapat kelebihan-kelebihan yang membuat model pembelajaran tersebut lebih baik digunakan dibanding dengan model pembelajaran yang lainnya. Seperti halnya pada Model Pembelajaran Explicit Instruction pun mempunyai beberapa kelebihan yang disajikan sebagai berikut :

1. Guru mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.

2. Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan- keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi rendah sekalipun.

3. Model ini dapat digunakan untuk membangun model pembelajaran dalam bidang studi tertentu. Guru dapat menunjukan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati, bagaimana informasi dianalisis, bagaimana suatu pengetahuan dihasilkan.

4. Model ini dapat diterapkan secara efektif dalam kelas besar maupun kelas yang kecil.

5. Siswa dapat mengetahui tujuan-tujuan pembelajaran dengan jelas.

6. Waktu untuk berbagi kegiatan pembelajaran dapat dikontrol dengan ketat.

7. Dalam model ini terdapat penekanan pada pencapaian akademik.

(8)

8. Kinerja siswa dapat dipantau secara cermat.

9. Umpan balik bagi siswa berorientasi akademik.

10. Siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya 11. Semua siswa aktif / terlibat dalam pembelajaran.

Selain mempunyai kelebihan-kelebihan, pada setiap model pembelajaran akan ditemukan keterbatasan-keterbatasan. Begitu pula dengan Model Pembelajaran Explicit Instruction. Keterbatasan-keterbatasan Model Pembelajaran Explicit Instruction adalah

sebagai berikut:

1. Karena guru memainkan peranan pusat dalam model ini, maka kesuksesan pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias dan terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pembelajaran akan terhambat.

2. Model Pembelajaran Explicit Instruction sangat bergantung pada gaya komunikasi guru. Komunikator yang kurang baik cenderung menjadikan pembelajaran yang kurang baik pula.

3. Jika materi yang disampaikan bersifat kompleks, rinci atau abstrak, mungkin tidak dapat memberikan siswa kesempatan yang cukup untuk memproses dan memahami informasi yang disampaikan.

4. Jika terlalu sering digunakan akan membuat siswa percaya bahwa guru akan memberitahu siswa semua yang perlu diketahui. Hal ini akan menghilangkan rasa tanggung jawab mengenai pembelajaran siswa itu sendiri.

(9)

5. Demonstrasi sangat bergantung pada keterampilan pengamatan siswa. Sayangnya, banyak siswa bukanlah merupakan pengamat yang baik sehingga dapat melewatkan hal-hal yang dimaksudkan oleh guru.

2.1.2.4. Langkah – langkah Model Pembelajaran Explicit Instruction

Secara garis besar, terdapat lima langkah dalam pengajaran Explicit Instruction (Herdian, 2009), antara lain sebagai berikut:

1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa;

Mempersiapkan siswa dan menyampaikan tujuan merupakan langkah pertama pada model Explicit Instruction. Hal ini dilakukan di awal pelajaran oleh guru, dimaksudkan untuk menyamakan konsep guru dan siswa mengenai materi yang akan disampaikan. Kegiatan yang dilakukan dalam mempersiapkan siswa diantaranya adalah memberikan apersepsi kepada siswa mengenai pembelajaran yang telah lalu.

Sedangkan penyampaian tujuan dimaksudkan agar siswa mengetahui kompetensi apa saja yang harus dikuasai dari materi yang akan disampaikan

2. Guru mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan

Metode demonstrasi menurut Syah (1995) adalah .metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Sedangkan menurut Dalam kamus Inggris-Indonesia, demonstrasi yaitu .mempertunjuk-kan atau mempertontonkan.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa kegiatan demonstrasi di kelas yaitu guru memperagakan atau mengerjakan materi yang sedang diberikan kepada siswa

(10)

pada saat pembelajaran yang kemudian diikuti siswa. Sehingga materi yang diberikan akan lebih bermakna di ingatan mereka.

Misalnya guru mendemostrasikan cara membuat dokumen baru, maka siswa tidak hanya akan mengingat langkah-langkahnya saja tetapi juga akan mengetahui dan hafal menu dan icon apa saja yang dipakai

3. Guru membimbing murid dalam pelatihan

Setelah pemberian materi dan memberikan demonstrasi kepada siswa, kini saatnya guru memberikan latihan kepada murid. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah siswa sudah benar-benar mengerti mengenai materi yang diberikan. Tetapi pada saat siswa mengerjakan latihan ini, guru harus memiliki asumsi siswa lupa dengan materi yang tadi diberikan atau kurang paham dengan materi setelah diaplikasikan dipertanyaan. Karena itu guru harus membimbing siswanya dalam pelatihan tersebut agar tidak terjadi kesalahan sehingga dapat mengerjakan soal dengan baik

4. Guru mengecek pemahaman murid dan memberikan umpan balik

Untuk mengecek ketercapaian kompetensi guru akan mengecek pemahaman murid dan memberikan umpan balik. Hal yang dilakukan biasanya memberikan pertanyaan seputar materi yang telah diberikan. Selain memberikan pertanyaan guru juga bisa menminta siswa untuk menyimpulkan apa saja yang telah dipelajari pada pembelajaran hari itu

5. Guru memberikan kesempatan kepada murid untuk latihan lanjutan

Pada langkah yang terakhir dari metode ini yaitu guru harus memberikan latihan lanjutan atau latihan mandiri. Latihan lanjutan ini bisa berupa pekerjaan rumah. Hal ini

(11)

dimaksudkan agar siswa tidak melupakan pelajaran yang telah lalu dan tetap berlatih untuk meningkatkan kompetensinya

Menurut Kardi dan Nur (dalam Trianto, 2009:43) sintaks model pembelajaran explicit instruction disajikan dalam lima tahap seperti tampak pada tabel 1.1

Tabel 1

Sintaks Model Pembelajaran Explicit Instruction

Fase Peran Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.

Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.

Fase 2

Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan.

Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.

Fase 3

Membimbing pelatihan

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal.

Fase 4

Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.

Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.

Fase 5

Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.3 Hasil Belajar 2.1.3.1. Pengertian Belajar

R. Gagne dalam Slameto (2003 : 13) memberikan definisi mengenai belajar :

(12)

1. Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku.

2. Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang diperoleh dari instruksi.

Slameto (2003 : 2) berpendapat : Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Gagne dan Berliner dalam Anni (2004 : 2) : Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dapat diukur, bila siswa berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur. Belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman.

Sidiq (2008 : 1-3) menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang disengaja dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan sesuatu atau anak yang tadinya tidak terampil menjadi terampil.

2.1.3.2. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Belajar

Secara umum faktor-faktor yang memengaruhi belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut saling memengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.

a. Faktor Internal

(13)

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.

1) Faktor fisiologis

Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu.

Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.

2) Faktor psikologis

Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, bakat dan percaya diri.

b. Faktor-faktor eksogen/eksternal

Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa. Dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktor faktor eksternal yang memengaruhi belajar

(14)

dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.

1) Lingkungan sosial

 Lingkungan sosial keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.

 Lingkungan sosial sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman- teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa.

Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan memahami bakat yang dimiliki oleh anaknya atau peserta didiknya, antara lain dengan mendukung, ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakatnya.

 Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak telantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa

(15)

kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.

2) Lingkungan nonsosial.

Faktor faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah:

 Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat.

 Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olahraga. Contohnya, letak sekolah atau tempat belajar harus memenuhi syarat-syarat seperti di tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan- peraturan sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.

 Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru

(16)

harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.

2.1.3.3. Pengertian Hasil Belajar

Belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan. Beajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek dalam belajar.

Sedangkan mengajar merujuk pada apa yang seharusnya dilakukan seseorang guru sebagai pengajar.

Dua konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru terpadu dalam satu kegiatan. Diantara keduannya itu terjadi interaksi dengan guru. Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar saja harus bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui kreatifitas seseorang itu tanpa adanya intervensi orang lain sebagai pengajar.

Oleh karena itu hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang siswa setelah ia menerima perlakukan dari pengajar (guru), seperti yang dikemukakan oleh Sudjana.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 : 22).

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

(17)

2.1.3.4. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 1989). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh Clark (1981) menyatakan bahwa hasil belajar siswa disekolah 70

% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan. Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang paling dominan berupa kualitas pembelajaran (Sudjana, 2002) "Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan lingkungannya" (Muhammad, 204). Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil.

Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kamampuan siswa dan kualitas pengajaran.

Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik).

Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan personal (internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan. Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian

(18)

terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif.

2.1.4 Hubungan antara Model Pembelajaran Explicit Intruction dengan Hasil Belajar Matematika

Untuk menunjang proses pembelajaran pada materi pengukuran panjang, model pembelajaran Explicit Intruction sangat efektif digunakan karena dengan model pembelajaran ini, guru dapat menunjukkan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati, bagaimana informasi dianalisis, dan bagaimana suatu pengetahuan dihasilkan. Selain itu, guru juga dapat mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh peserta didik sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh peserta didik.

Model Pembelajaran Explicit Intruction didukung oleh teori belajar perilaku yang berakar pada pemikiran behaviorisme, teori belajar sosial Bandura, dan teori belajar Jerome S. Burner. Teori – teori ini mendukung bahwa dalam belajar terdapat sebuah proses yang dapat mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Proses itu berupa stimulus respon melalui pengamatan secara selektif dan mengingat apa yang disampaikan oleh guru. Hasil pengamatan ini kemudian dimantapkan dengan cara menghubungkan pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya atau mengulang-ulang kembali sehingga memperoleh perubahan perilaku berupa kebiasaan. Proses pengajaran peserta didik juga diarahkan pada konsep-konsep dan struktur – struktur yag termuat dalam pokok bahasan yang telah diajarkan sehingga peserta didik lebih mudah memahami dan mengingat. Berdasarkan teori-teori yang telah disebutkan, proses pembelajaran dengan

(19)

menggunakan model pembelajaran Explicit Intruction pada materi pengukuran panjang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

2.2. Kajian Hasil Penelitian yang Relevan

Octari (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Metoda Pembelajaran Explicit instruction dan Metoda Konvensional Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X Teknik Komputer Jaringan pada Mata Diklat Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) di SMK N 1 Tilatang Kamang”. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan populasi penelitian 70 orang dan besar sampel penelitian berdasarkan sistem total sampling adalah 70 orang. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji-t untuk membandingkan (membedakan) apakah kedua variabel tersebut sama atau berbeda setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap kedua sampel. Dari hasil pengolahan data didapatkan hasil belajar mata diklat Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) siswa yang menggunakan metoda pembelajaran Explicit instruction rata-ratanya adalah 77,26 dan yang menggunakan metoda pembelajaran konvensional rata-ratanya adalah 59. Sedangkan dari perhitungan pengujian dengan menggunakan uji-t diperoleh nilai t hitung adalah 6,58 dan table t adalah 1,997 pada taraf  = 0,05. Dengan demikian hasil pengujian membuktikan bahwa terdapat pengaruh penggunaan metoda pembelajaran Explicit instruction terhadap hasil belajar siswa kelas X Teknik Komputer Jaringan pada mata diklat Keterampilan Komputer dan pengolahan Informasi (KKPI) di SMK N 1 Tilatang Kamang.

Stiyas ( 2012 ) dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan model Explicit Instuction untuk meningkatkan kualitasa pembelajaran IPA siswa kelas IV A Sdn Lesanpuro 3 Kota Malang” Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3

(20)

Kota Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 35 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan model siklus yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart yang meliputi empat tahapan yaitu: planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, pemberian tugas mandiri, dan catatan lapangan.

Hasil penelitian mencerminkan bahwa penerapan model Explicit instruction pada siswa kelas IVA SDN Lesanpuro 3 Kota Malang dapat berhasil dengan baik. Hal ini terbukti dengan tercapainya keberhasilan penerapan model Explicit instruction pada siklus I mencapai 87,5%, dan meningkat menjadi 94,65% pada siklus II. Selain itu, aktivitas siswa juga mengalami peningkatan setelah diterapkan model Explicit Instruction. Pada siklus I nilai rata-rata aktivitas siswa mencapai 70,5 dan menjadi 78,5 pada siklus II. Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh nilai rata-rata 69,7 dengan ketuntasan belajar siswa mencapai 50%, dan menjadi 77,96 dengan ketuntasan belajar siswa mencapai 81,5% pada siklus II.

Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Explicit instruction dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA siswa kelas IVA SDN

Lesanpuro 3 Kota Malang. Pada penelitian ini, disarankan agar guru mempunyai cara untuk memusatkan perhatian siswa terutama setelah kegiatan pelatihan, mengorganisasikan waktu lebih baik lagi serta terus melatih, memotivasi siswa agar mau menanggapi umpan balik yang diberikan, serta menyesuaikan materi yang akan diajarkan.

(21)

2.3. Kerangaka Pikir

Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan, dapat disusun suatu kerangka berfikir guna memperoleh jawaban sementara. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang bersifat reflektif khususnya bagi guru sebagai pengajar dengan melakukan tindakan- tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional. Penelitian ini diperlakukan tahap awal untuk mengetahui masalah yang terjadi di kelas seperti rendahnya hasil belajar matematika.

Sedangkan observasi sebagai upaya menemukan fakta-fakta yang digunakan untuk melengkapi kajian teori yang ada dan menyusun rencana tindakan yang tepat dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.

Tindakan kelas yang dilakukan berupa pengajaran di kelas secara sistematis dengan tindakan pengelolaan kelas melalui pendekatan pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran yang digunakan yaitu Explicit Instruction. Dalam penelitian ini, peneliti akan mengamati reaksi siswa dalam setiap tindakan pengajaran yang dilakukan di depan kelas dengan model pembelajaran Explicit Instruction. Dengan adanya model pembelajaran Explicit Instruction ini diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

Adapun skema dari kerangka berfikir sebagai berikut:

(22)

Gambar 1 Alur Kerangka Berfikir PenelitianTindakan Kelas

2.4. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah: “Dengan menggunakan model pembelajaran Explicit Instruction pada pembelajaran matematika materi pengukuran panjang maka diduga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas 3 SD N Kasepuhan 01 Kecamatan Batang”.

Pembelajaran Matematika Materi Pengukuran Panjang

Pembelajaran belum menggunakan model Explicit Instruction , siswa pasif,

komunikasi satu arah, hanya guru yang aktif dan pembelajaran tidak

efektif.

Hasil belajar siswa rendah

Penerapan model Explicit Instruction siswa dan guru aktif (sebagai pelaku demonstrasi) siswa memahami konsep

pembelajaran, KBM lebih intensif.

Hasil belajar siswa meningkat Pemantapan penerapan model explicit

Instruction, siswa menemukan konsep pembelajaran tentang materi

pengukuran panjang.

Hasil belajar siswa lebih meningkat

Gambar

Gambar 1  Alur Kerangka Berfikir PenelitianTindakan Kelas

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu pada Perguruan Tinggi Raharja dinilai masih mengalami kesulitan dalam melakukan komunikasi atau diskusi pembelajaran di luar jam perkuliahan lalu masih mengalami

Penelitian ini dilakukan berdasarkan pada fakta yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Munculnya berbagai macam film dan lagu dari negara luar

Gambar 1 Grafik Nilai Konduktivitas Papercrete , Hebel dan Batako Merapi. Hasil perbandingan nilai

Untuk membuktikan kebenaran dari hipotesis pertama, yaitu bahwa diduga secara serempak, variabel kinerja keuangan yang meliputi: EPS, ROA, NPM , dan DER mempunyai pengaruh yang

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah- NYA, sehingga tugas akhir ini dengan judul “ PENGARUH PASIR KREAS SEBAGAI SUBSITUSI

TIM penyusun mengambil tema Intensitas Berwirausaha, Kemandirian, Tanggung Jawab, dan Kedisiplinan dengan tujuan siswa SMK mampu mengembangkan potensi diri melalui

Dengan adanya pendekatan yang terbukti lebih efektif untuk hasil belajar matematika, maka diharapkan kepada kepala sekolah untuk meningkatkan dan megembangkan

Kebijakan ini sebenarnya merupakan salah satu rangkaian upaya Bank Indonesia dalam mewujudkan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) khususnya pilar kesatu yaitu