• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 53/PUU-XV/2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 53/PUU-XV/2017"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

rtin

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 53/PUU-XV/2017

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG PEMILIHAN UMUM TERHADAP UNDANG- UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN

1945

ACARA

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN (I)

J A K A R T A

KAMIS, 24 AGUSTUS 2017

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 53/PUU-XV/2017

PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum [Pasal 173 ayat (1) dan ayat (3) serta Pasal 222]terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PEMOHON Partai Idaman

ACARA

Pemeriksaan Pendahuluan (I)

Kamis, 24 Agustus 2017, Pukul 10.46 – 11.27 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Anwar Usman (Ketua)

2) Aswanto (Anggota)

3) Manahan MP Sitompul (Anggota)

Yunita Rhamadani Panitera Pengganti

(3)

Pihak yang Hadir:

A. Kuasa Hukum Pemohon:

1. Mariyam Fatimah 2. Ramdansyah 3. Heriyanto

(4)

1. KETUA: ANWAR USMAN

Sidang perkara Nomor 53/PUU-XV/2017 dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua, om swastiastu.

Jadi, kebetulan hari ini ada kehadiran dari Para Advokat yang sedang mengikuti pelatihan di Pusdik Pancasila dan Konstitusi Mahkamah Konstitusi di Puncak yang kebetulan kemarin baru penutupan ya, selamat datang ya, silakan menyaksikan proses beracara sesuai dengan materi yang diterima adalah pelatihan. Silakan, Pemohon memperkenalkan diri.

2. KUASA HUKUM PEMOHON: MARIYAM FATIMAH

Baik, terima kasih, assalamualaikum wr. wb. Selamat pagi kepada Yang Mulia, kami dari Kuasa Hukum dari Partai Idaman mengajukan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum atau Pemilu dengan perkara Nomor Perkara 53/PUU- XV/2017.

Perkenankanlah saya Mariyam Fatimah, S.H., M.H., dan di sebelah saya ini Ramdansyah, S.H., dan di sebelah kiri saya adalah Bapak Heriyanto, S.H.,M.H., jadi kami bertiga dan mohon maaf prinsipil kami hari ini tidak bisa hadir karena ada keperluan lain, Prinsipil kami adalah Bapak H. Rhoma Irama Ketua Umum Partai Idaman.

3. KETUA: ANWAR USMAN

Jadi, apa ... Prinsipalnya Rhoma Irama selaku Ketua Umum?

4. KUASA HUKUM PEMOHON: MARIYAM FATIMAH Ya, selaku ketua umum.

5. KETUA: ANWAR USMAN Tidak sama sekjennya?

SIDANG DIBUKA PUKUL 10.46 WIB

KETUK PALU 3X

(5)

6. KUASA HUKUM PEMOHON: MARIYAM FATIMAH

Betul, sama Sekjen. Sekjen kebetulan beliau juga hadir sebagai Kuasa Hukum juga, Bapak Ramdansyah, Yang Mulia.

7. KETUA: ANWAR USMAN

Jadi, untuk Sekjen ini memberi Kuasa kepada dirinya sendiri juga ya?

8. KUASA HUKUM PEMOHON: MARIYAM FATIMAH Ya.

9. KETUA: ANWAR USMAN Ha?

10. KUASA HUKUM PEMOHON: MARIYAM FATIMAH

Ya, mengatasnamakan diri sendiri juga dan mengatasnamakan partai.

11. KETUA: ANWAR USMAN

Selaku Kuasa? Selaku Kuasa juga dari Rhoma Irama?

12. KUASA HUKUM PEMOHON: MARIYAM FATIMAH Dan selaku Kuasa juga, betul, dari Partai Idaman.

13. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, baik. Kami sudah membaca permohonannya, tapi karena ini sidang pendahuluan pertama, ya untuk penyampaian permohonan, ya walaupun kami sudah membaca, sudah menelaah sesuai ketentuan hukum acara, Saudara dipersilakan untuk menyampaikan permohonannya. Tetapi tidak perlu dibaca semua, pokok-pokoknya saja.

Silakan.

14. KUASA HUKUM PEMOHON: MARIYAM FATIMAH

Baik, Yang Mulia. Sebelum kami membacakan pokok-pokok perkara gugatan kami bahwa kami mempunyai alasan untuk mengajukan gugatan undang-undang uji materi tersebut, yaitu yang pertama bahwa

(6)

Partai Idaman sudah menghitung bahwa penetapan Undang-Undang Pemilu dilakukan oleh Presiden paling lambat tanggal 21 Agustus 2017 atau 30 hari setelah putusan paripurna DPR Republik Indonesia.

Yang kedua, Undang-Undang Pemilu yang belum diberi nomor saat itu menyatakan bahwa Pasal 167 ayat (1) berbunyi bahwa tahapan pemilu dimulai 20 bulan sebelum hari pemungutan suara atau KPU menetapkan tanggal 17 April 2019 sebagai hari pelaksanaan pemilu.

Pemungutan suara akan dilaksanakan pada bulan April 2018, maka Undang-Undang Pemilihan ... Pemilu ini telah berlaku sejak Agustus 2017. Kemudian, Mahkamah Konstitusi hanya memiliki waktu 42 hari kalender atau 32 hari kerja untuk melakukan persidangan dan pembacaan putusan ketika KPU menetapkan tahapan pendaftaran partai politik sudah dimulai pada tanggal 3 Oktober 2017.

Yang keempat. Jika selama 32 hari kerja tidak ada pembacaan atau putusan sidang Mahkamah Konstitusi, maka terjadi diskriminasi yang nyata terhadap Partai Idaman. Dan baru diundangkan tanggal 16 Agustus 2017, LN Nomor 182, TLN Nomor 6109. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, Partai Idaman menyampaikan kepada Hakim Mahkamah Konstitusi, percepatan persidangan di sidang pendahuluan tanggal 24 Agustus 2017. Demikian, Yang Mulia.

15. KETUA: ANWAR USMAN Petitumnya?

16. KUASA HUKUM PEMOHON: RAMDANSYAH Izin, Yang Mulia.

17. KETUA: ANWAR USMAN Silakan.

18. KUASA HUKUM PEMOHON: RAMDANSYAH

Untuk legal standing perlu disampaikan? Di sini akan saya bacakan?

19. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, dianggap dibacakan, ya.

20. KUASA HUKUM PEMOHON: RAMDANSYAH

Oke. Dianggap dibacakan. Jadi, petitum ... positanya dulu.

(7)

21. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO

Oke. Mohon izin, Yang Mulia. Terkait legal standing, Partai Idaman adalah partai yang berbadan hukum berdasarkan SK Kementerian Hukum dan HAM sebagaimana kami sudah lampirkan dalam bukti. Bahwa ketentuan Pasal 173 ayat (1) sepanjang frasa telah ditetapkan dan Pasal 173 ayat (3) dan Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 itu membuat tindakan diskriminatif terhadap partai baru yang baru berbadan hukum dengan mewajibkan verifikasi hanya kepada partai politik yang baru berbadan hukum dan tidak kepada partai politik yang ada di DPR RI saat ini.

Bahwa ketentuan Pasal 222 terkait presidential threshold itu juga membatasi hak dari H. Rhoma Irama yang kebetulan sudah diputuskan dalam Rapat Pleno Partai Idaman sebagai calon presiden yang akan diusung Partai Idaman pada pemilu tahun 2019.

Terkait dengan posita, Yang Mulia. Adapun alasan Pemohon mengujikan Pasal 137 ayat (1) sepanjang frasa telah ditetapkan, Pasal 173 ayat (3) dan Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dengan uraian sebagai berikut. Ini kebetulan uraiannya ada beberapa yang kami tambahkan dan ini akan kami masukkan setelah persidangan ini, mohon izin, Yang Mulia.

22. KETUA: ANWAR USMAN

Begini. Tadi sudah disampaikan pokok-pokoknya oleh Kuasa Hukum yang satunya kan, ya.

23. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO Oke.

24. KETUA: ANWAR USMAN

Tidak perlu lagi dibaca ulang, toh kami juga sudah baca.

25. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO

Ya. Mungkin yang belum kami serahkan saja sedikit, Yang Mulia.

Mohon (...)

26. KETUA: ANWAR USMAN Silakan (...)

(8)

27. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO

Mohon waktu sedikit begitu, Yang Mulia. Yang pertama adalah terkait dengan verifikasi partai politik. Perlu diketahui bahwa terkait dengan syarat Pasal 173 ayat (2) itu pada pemilu tahun 2014 itu tidak sepenuhnya diverifikasi oleh KPU, dalam hal ini contohnya adalah tidak dilakukannya verifikasi keanggotaan ... verifikasi kepengurusan 50%

kecamatan pada kabupaten/kota yang bersangkutan.

Yang kedua, apabila dipaksakan hasil verifikasi tahun 2014 untuk menjadi dasar penetapan di 2000 ... pada pemilu 2019, maka bisa dipastikan beberapa partai politik akan tidak memenuhi syarat. Sebagai contoh misalkan kami mencontohkan di sini, kebetulan di Sulawesi Barat itu ada pemekaran satu kabupaten/kota sehingga menjadi enam kabupaten/kota sehingga syarat minimal 75% kabupaten/kotanya itu adalah lima kabupaten/kota. Sedangkan salah satu partai, kami sebut saja misalkan PDIP, di tahun 2014 dia hanya memenuhi syarat empat kabupaten sehingga kalau misalkan dipaksakan hasil verifikasi itu digunakan, maka di Sulawesi Barat ini menjadi tidak memenuhi syarat.

Yang kedua ada provinsi baru, yaitu Kalimantan Utara yang baru terbentuk itu pada tahun … apa ... baru berlaku provinsi tersebut itu tahun 2015 dimana otomatis seluruh partai yang ada di DPR RI itu tidak pernah diverifikasi di Provinsi Kalimantan Utara.

Terusnya juga terkait dengan … apa ... bahwa kami di sini mengibaratkan kompetisi pemilu itu sebagai kompetisi sepakbola piala dunia dimana mengenai aturan fairplay walaupun Jerman juara piala dunia tahun 2014, tetap saja Jerman harus melalui proses kualifikasi sebelum bisa ikut … apa ... dalam piala dunia 2018.

Bahwa verifikasi terhadap kantor kepengurusan dan keanggotaan itu juga … apa ... membuat partai politik lebih siap menghadapi pemilu tahun 2019 karena pada faktanya partai politik yang tidak mendapatkan kursi di DPR RI itu ada dua di tahun 2014, itu PBB dan PKPI, Yang Mulia.

Ini belum tentu kepengurusan kantor di tingkat daerah itu masih ada karena ibarat kata hidup segan mati tak mau karena tidak ada … apa ...

perwakilan di DPR RI, begitu.

Yang kedua adalah kita juga sudah mengetahui bahwa di tahun 2015 terjadi konflik internal partai politik yang menimpa Partai Golkar dan Partai PPP itu juga berdasarkan pengalaman, Yang Mulia, mungkin kita masih mengingat pada saat zaman orde baru itu ada PDI (Partai Demokrasi Indonesia) antara kubu Soerjadi dengan kubu Megawati yang pada saat itu kubu Soerjadi itu mendapatkan legalitas dari Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kehakiman ketika itu, pemerintah pada saat itu. Namun justru yang menang adalah pada pemilu 2000 ... pemilu 1999 adalah PDI baru, yaitu PDI Perjuangan.

Artinya, bisa sangat mungkin terkait dengan keanggotaan 1.000 atau ... 1.000 … 1 per 1.000 dari jumlah keanggotaan ... keanggotaan

(9)

tersebut, partai politik baru lebih siap karena mengambil keanggotaan dari partai politik yang sudah ada. Sebagai contoh misalkan di sini ada beberapa statement dari misalkan PPP kubu Muktamar Surabaya mengatakan, “Silakan saja, daripada membuat PPP Perjuangan, lebih baik gabung dengan Partai Idaman,” seperti itu sehingga kepengurusan- kepengurusan di daerah itu banyak bergabung dengan Partai Idaman.

Keanggotaannya juga begitu sehingga verifikasi harus dilakukan kepada semua partai politik untuk mengetahui kesiapan terkait kepengurusan dan keanggotaan, dan kantor di daerah serta ... seperti itu.

Terusnya juga terkait dengan … apa ... presidential threshold, Yang Mulia, ini kami tambahkan bahwa walaupun Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 14/PUU-XI/2013 menyatakan bahwa ketentuan syarat pencalonan presiden itu sebagai open legal policy DPR RI ... open legal policy dari pembentuk undang-undang, namun kami ingin mengatakan di sini bahwa open legal policy itu tidak utuh dan tidak bulat. Kenapa?

Karena ada empat fraksi, yaitu Fraksi Gerindra, Fraksi Golkar ... sori ...

Fraksi Gerindra, Demokrat, PKS, dan Partai PAN itu menolak presidential threshold ini. Artinya, dia tidak utuh, tidak bulat sebagai sebuah satu kesatuan open legal policy dari pembentuk undang-undang.

Bahwa kenapa ada alasan mendasar yang perlu di … sama-sama kita renungkan di sini, Yang Mulia, dari sisi filosofi hukum, dari filsafat hukum bahwa Pasal 22 ... 222 undang-undang a quo tentang presidential threshold 20% kursi atau 25% perolehan suara itu dengan mengacu pada Pemilu tahun 2014 itu secara langsung itu telah bertentangan dengan prinsip one person, one vote, one value dari pemilu tahun 2014 itu sendiri. Satu suara, satu ... satu orang, satu suara, satu nilai pada 2014.

Pada tahun 2014, pemilih telah memilih calon anggota DPR pada pemilu anggota DPR tahun 2014. Dari suara pemilih tersebut, dia menghasilkan tiga nilai, konversi nilai menjadi kursi. Yang pertama adalah menentukan partai politik yang berhak mendapatkan kursi DPR RI periode 2014-2019, yakni 10 partai politik yang memenuhi ambang batas parliamentary threshold.

Yang kedua adalah menentukan calon anggota DPR RI yang berhak menduduki kursi DPR RI tersebut.

Yang ketiga adalah partai politik yang mendapatkan kursi di DPR RI dari konversi suara pemilih pada pemilu DPR RI 2014 berhak menentukan pasangan calon presiden dan wakil presiden tahun 2014.

Bahwa konversi suara pemilih menjadi kursi pada tahun 2014 telah digunakan untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden pada tahun 2014. Pemaksaan berlakunya presidential threshold Pasal 222 telah mencampuradukkan suara pemilih, jadi dia telah mencampuradukkan suara pemilih di tahun 2014 yang telah digunakan dan kedaluwarsa tersebut ke dalam pemilu tahun 2019.

(10)

Dengan pemaksaan berlakunya presidential threshold tersebut, Pasal 222 undang-undang a quo, sama saja nilai kursi dari konversi suara pemilih di tahun 2014, juga berlaku pada Pemilu tahun 2019. Satu suara pemilih pada Pemilu tahun 2014 dikonversi menjadi nilai kursi pada 2 kurun waktu pemilu yang berbeda untuk pencalonan presiden dan wakil presiden di masa lalu dan di masa yang akan datang.

Dengan demikian secara rasio legis, Pasal 222 undang-undang a quo telah menjadikan pemilih pemula dan pensiunan TNI/Polri yang baru menggunakan hak pilih pada Pemilu tahun 2019 telah menjadikan ...

sekali lagi, telah menjadikan pemilih pemula dan pensiunan TNI/Polri yang baru menggunakan hak pilih pada pemilu tahun 2019 sebagai warga negara kelas dua, sedangkan pemilih yang pernah menggunakan hak pilihnya pada Pemilu tahun 2014 sebagai warga negara kelas satu yang punya privilege, hak istimewa untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden di tahun 2019.

Kondisi demikian telah nyata-nyata bertentangan dengan kedaulatan rakyat di mana sohibul hajat atau yang punya hajat dan berdaulat pada pemilu tahun 2019 adalah warga negara yang memenuhi syarat dan terdaftar sebagai pemilih pada Pemilu tahun 2019 sehingga dengan demikian pasal presidential threshold Pasal 222 undang-undang a quo telah bertentangan dengan Pasal 6A juncto Pasal 22 ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ... Pasal 22E ayat (2) Undang- Undang Dasar Tahun 1945, Pasal 27 ayat (1), Pasal 28 ayat (1), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28D ayat (3), dan Pasal 28I ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

28. KUASA HUKUM PEMOHON: RAMDANSYAH Izin, Yang Mulia? Langsung ke petitum.

29. KETUA: ANWAR USMAN Ya, silakan.

30. KUASA HUKUM PEMOHON: RAMDANSYAH

Ada berapa petitum yang kami ingin sampaikan bahwa dari seluruh dalil dan uraian sudah disebutkan dalam tulisan maupun tadi verbal, kuasa hukum, maka kami kepada ... minta kepada Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi untuk kiranya berkenan memberikan putusan sebagai berikut.

1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

2. Menyatakan Pasal 173 ayat (1) sepanjang frasa telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum/Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, LN Nomor 182, TLN

(11)

Nomor 6109 bertentangan atau inkonstitusional dengan Undang- Undang Dasar Tahun 1945.

3. Menyatakan Pasal 173 ayat (1) sepanjang frasa telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum/Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, LN Nomor 182, TLN Nomor 6109 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

4. Menyatakan Pasal 173 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum/Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, LN Nomor 182, TLN Nomor 6109 bertentangan atau inkonstitusional dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

5. Menyatakan Pasal 173 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum/Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, LN Nomor 182, TLN Nomor 6109 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

6. Menyatakan Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum/Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, LN Nomor 182, TLN Nomor 6109 bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

7. Menyatakan Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum/Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, LN Nomor 182, TLN Nomor 6109 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

8. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Repubik Indonesia sebagaimana mestinya atau apabila Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang adil dan yang baik. Demikian, Yang Mulia.

31. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, baik. Terima kasih. Permohonan Pemohon ya, secara umum harus diperbaiki ya, terutama terkait dengan teknis penulisan maupun substansi. Ya, pertama, dari petitum. Itu antara petitum satu sampai dengan petitum 7 ... 8 itu, tidak ada koma atau titik. Jadi, langsung sambung, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan seterusnya. Ya, mestinya pakai titik koma antara satu dan yang lain.

Yang kedua. Untuk petitum 3, sepanjang frasa telah ditetapkan itu tidak sesuai dengan uraian dalam posita permohonan. Yang diuraikan di posita kan, secara umum norma. Tetapi di petitum tiba-tiba muncul frasa telah ditetapkan. Jadi, harus sinkron antara posita dan petitum.

Kemudian, untuk petitum 2 dan 3, kemudian 4 dan 5, serta 6 dan 7, ya, terutama 2, 3, dan 4, 5 itu harus di ... cukup disatukan. Misalnya, menyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Disesuaikan dengan amar putusan MK yang model baru itu, jadi tidak perlu dipisah.

Kemudian, mengenai Pak Sekjennya ini, ya. Kalau berperkara di MK kan, bisa hadir sendiri, jadi tidak perlu memberi kuasa kepada orang

(12)

lain dan ternyata Pak Sekjennya ada, ya? Hadir sendiri. Jadi, tidak perlu memberi kuasa kepada diri sendiri atau orang lain. Dia bisa hadir sendiri.

Baik, itu sementara dari saya. Silakan, Yang Mulia Prof. Aswanto.

32. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Terima kasih, Yang Mulia Ketua Panel. Saudara Pemohon, tadi sudah disinggung oleh Ketua Panel mengenai surat kuasa. Ini mungkin perlu dipikirkan kembali, apakah sesuatu yang lazim, pemberi kuasa … apa ... pemberi kuasa memberi kuasa kepada dirinya sendiri, gitu. Ya, bisa saja mungkin dalam kapasitas yang berbeda dan saya kira ini ada sengaja mungkin dibuat penyelundupan.

Di surat kuasa itu yang bertanda tangan di bawah ini, (1) Rhoma Irama, lalu Ramdansyah Selaku Sekretaris. Kemudian, Penerima Kuasa Ramdansyah, S.H. Jadi, sengaja dihilangkan S.H.-nya yang di atas atau gimana, gitu? Ini jangan-jangan sengaja diselundupkan S.H.-nya, gitu.

Jadi, kelihatan di atas, tidak tahu hukum. Setelah tahu hukum, dikasih kuasa, gitu ya.

Nah, ini ... ini ... apa namanya ... sekadar apa ... share saja supaya mana yang lebih ... lebih ... apa ... lebih apa ... ya, mungkin dalam kapasitas yang berbeda memang, ya, mungkin bisa. Tetapi nanti kan akan banyak … apa ... banyak ... karena tugas kami kan, hanya menerima permohonan ini, kemudian kami akan laporkan nanti ke Rapat Permusyawaratan Hakim supaya tidak muncul pertanyaan nanti lagi ya, ini mungkin perlu di ... di ... dicermati kembali.

Tapi, kami tidak mengatakan ini salah, gitu. Cuma agak ... agak apa ya ... agak ... ya, apakah lazim, gitu ya? Saya memberi kuasa diri saya sendiri, gitu. Padahal menurut saya, kenapa tidak? Misalnya ketua karena ketua sibuk sebagai Prinsipal, dia tidak bisa hadir mungkin setiap saat sehingga bisa memberi kuasa, gitu ya, kepada Kuasa. Termasuk juga mungkin … apa namanya ... sekretaris ... sekretaris selain sebagai Prinsipal, juga sebagai kuasanya ketua, gitu. Ya, jangan menguasakan kepada dirinya sendiri, gitu kan. Jadi, mungkin di ... didesain seperti itu, Pak Ramdan, ya.

Jadi, karena ketua tidak bisa, mungkin karena kesibukan, menghindari … apa ... supaya nanti dianggap tidak serius karena tidak bisa hadir di persidangan sehingga ketua memberi kuasa kepada beberapa orang, termasuk kepada sekretaris.

Tapi, sekretaris di samping sebagai penerima kuasa dari ketua, dia juga sebagai prinsipal. Jadi, dalam dua kapasitas juga. Tetapi tidak kemudian Pak Ramdansyah memberi kuasa kepada Ramdansyah, S.H., gitu ya. Ini jangan-jangan diselundupkan ini, Pak, S.H.-nya? Di atas belum S.H., di bawah sudah S.H., gitu ya. Ini untuk sinkronisasi saja, Pak, ya. Saya tidak mengatakan ini keli ... salah, tetapi ini untuk kita … apa ... share saja, ya. Itu yang pertama.

(13)

Yang kedua, saya sudah baca, kami sudah baca, bahkan sudah dikaji permohonan Bapak-Bapak ini. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu dielaborasi kembali. Yang pertama pada bagian kewenangan Mahkamah. Di kewenangan Mahkamah sebenarnya tidak perlu terlalu panjang. Kewenangan Mahkamah itu cukup mengatakan bahwa yang kami minta untuk diuji ini adalah undang-undang terhadap Undang- Undang Dasar. Sehingga menurut apa namanya … ketentuan yang … ketentuan apa namanya … ketentuan Undang-Undang Dasar yang memberi kewenangan Mahkamah, salah satu kewenangannya itu adalah menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar sehingga ini menjadi kewenangan Mahkamah, enggak usah panjang-panjang. Enggak

… apa namanya … biar singkat, tapi lebih mudah dipahami itu jauh lebih bagus. Daripada panjang, terlalu banyak viralnya, nanti malah banyak belok-beloknya, ya. Itu yang pertama, mengenai kewenangan Mahkamah.

Yang kedua, di legal standing, pada bagian legal standing. Ini di bagian legal standing ini saya kira ya memang seringkali, seringkali ada kerancuan antara bagian yang diuraikan pada legal standing dengan bagian yang diuraikan pada posita, gitu. Memang susah untuk di … apa

… susah untuk tidak saling beririsan itu karena sebenarnya yang diurai pada bagian legal standing juga itu nanti akan diuraikan pada bagian posita. Tetapi di bagian posita itu, itu dielaborasi lebih komprehensif sehingga kelihatan betul kerugian konstitusionalnya.

Di bagian legal standing kan … apa … uraian singkat bahwa Pemohon ini memang mempunyai kerugian konstitusional dengan berlakunya norma yang diminta untuk diuji itu. Tentu dengan merujuk ketentuan Undang-Undang Mahkamah Pasal 51 ayat (1) itu, termasuk PMK 6. Nah, itu mungkin perlu di … apa … dicermati kembali, Pak, ya.

Lalu kemudian … nah, ini ada satu yang ini. Menarik sekali kalau ada datanya ini. Di halaman 6 ya, di halaman 6 ini masih bagian … apa

… bagian … bagian legal standing ya halaman 6 itu. Angka 8, “Bahwa sangat tidak adil dan bersifat diskriminatif hanya menetapkan partai politik peserta pemilu pada pemilu terakhir 2014 sebagai peserta pemilu, berikutnya 2019, padahal verifikasi partai politik pada pemilu 2014 merupakan verifikasi dagelan.”

Nah, ini perlu ini, kalau ada bukti menarik, nih. Apa betul dagelan? Kita enggak boleh asumsi di sini, Pak. Di sini pengadilan dan ini kita terbuka untuk umum. Jadi, segala sesuatu dalil yang diutarakan harus dilengkapi dengan data, gitu. Nanti kita dianggap dagelan kalau enggak ada datanya. Tapi kalau punya data itu saya kira kan, Pak Ramdansyah ini mantan Bawas. Ya, tahu persislah apakah betul verifikasi itu verifikasi dagelan, ya.

Saya juga pernah menjadi panitia pengawas. Memang ketika kita melakukan verifikasi, banyak partai-partai yang menyewa ruko. Dan setelah lewat masa verifikasi itu kita mau menyurat kembali kepada

(14)

mereka, dialamatkan ke alamat tempat verifikasi ternyata sudah pindah, gitu. Rupanya sewa 2 hari, sewa 3 hari ruko itu. Nah, itu mungkin yang dimaksud dagelan itu ya. Nah, kalau ada data saya kira itu menarik.

Tetapi kemudian memang saya juga sarankan untuk lebih … apa

… lebih firm di situ. Mungkin teman-teman Pemohon juga bisa melihat Putusan Mahkamah, ada putusan kita Putusan Nomor 52 Tahun 2012, ya. Putusan Nomor 52 Tahun 2012 itu, itu terkait dengan … apa namanya … pengujian undang-undang yang ada kaitannya dengan … apa … terkait dengan apa persoalan yang diujikan sekarang gitu, soal verifikasi, gitu. Ini bisa dilihat biar lebih firm karena memang menurut Mahkamah atau pertanyaan yang harus kita jawab. Apakah setiap pemilu itu, setiap pemilu akan dimulai, atau tahapan pemilu itu akan dimulai, akan dilakukan verifikasi ulang kepada partai-partai yang sudah dinyatakan lolos sebelumnya, gitu?

Tadi kan disampaikan oleh Pemohon yang menurut Pemohon belum ada di dalam ya, tambahan. Mestinya sama dengan kejuaraan dunia bola, gitu ya. Setiap mulai kejuaraan dimulai lagi dari awal, gitu kan? Nah, apakah pemilu juga harus begitu? Apakah pemilu juga harus dimulai begitu? Bahwa ketika akan dilakukan pemilu lagi, semua partai diverifikasi ulang lagi, gitu. Jangan-jangan memang betul sudah pindah alamat lagi, gitu, kan? Atau dulu ... apa ... ya, tadi istilah ... saya ... saya hanya mengutip istilahnya Pemohon, ya. Itu verifikasi dagelan. Itu perlu dicermati.

Lalu kemudian, masuk ke bagian Posita. Di bagian Posita, ini memang panjang Positanya. Saya menyarankan kalau bisa, bisa di ...

apa ... di ... lebih fokus lagi sehingga lebih mudah dipahami, gitu.

Misalnya, kan ini ada ... ada empat ... ya, ada dua pasal yang diuji sebenarnya, tapi ada empat norma, ya. Pasal 173 ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan Pasal 222, gitu.

Nah, itu lebih ... lebih menarik kalau misalnya Pasal 173 ayat (1) itu coba disandingkan dengan pasal di dalam Undang-Undang Dasar Indonesia Tahun 1945 yang dianggap bertentangan, gitu karena saya lihat di bagian permohonan Saudara ini banyak sekali juga, ada 10 kalau enggak salah, 10 pasal yang dijadikan ... ya, 11 malah, ya. Ada 11 pasal yang dijadikan sebagai landasan pengujian.

Nah, ini menarik kalau misalnya Saudara bisa memperbaiki.

Misalnya, Pasal 173 ayat (1) itu bertentangan dengan pasal ini Undang- Undang Dasar Indonesia Tahun 1945 sehingga lebih mudah kami melihat, “Wah, ini memang persoalan konstitusional sesuai dengan kewenangan kita, tidak menangani persoalan konkret, tetapi yang kita tangani adalah persoalan norma,” gitu.

Nah, demikian juga dengan pasal-pasal, ayat-ayat yang lain, ayat (2), ayat (3), ayat ... kemudian, Pasal 222 sehingga mungkin, ada kemungkinan tidak perlu 11 pasal. Mana pasal yang paling ... apa ...

paling tepat untuk dijadikan sebagai landasan pengujian sehingga

(15)

nampak bahwa norma ini bertentangan dengan norma yang ada di dalam konstitusi sesuai dengan pasal yang Saudara tunjuk tadi yang ada 11 itu.

Lalu kemudian, masih perlu penguraian ... perlu penguraian.

Kalau kita melihat ke Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, di Pasal 51 juga itu kan ... apa namanya ... tidak hanya di ... apa ... tidak hanya di ... mestinya tidak hanya ditempel di permohonan ini, tetapi justru itulah yang diuraikan tadi, saya kembali mundur sedikit sehingga itulah yang harus diurai kembali sehingga kelihatan bahwa memang punya legal standing, gitu. Sebagai badan hukum misalnya, ya. Kalau kita lihat Pasal 51, kan ada ... ada ... apa ... beberapa poin di situ. Siapa yang bisa mengajukan permohonan, kemudian syarat-syarat permohonannya itu.

Nah, itu nanti di ... di ... tidak hanya menempel norma yang menentukan syarat, tetapi norma itu diisi, gitu. Diisi dengan kondisi objektif yang menurut Saudara dialami oleh Pemohon sehingga kelihatan bahwa ya, betul memang ada legal standing dan ada kerugian kon ...

karena ada kerugian konstitusional, gitu, ya.

Bahkan harus dijelaskan, harus ada uraian lebih lanjut bahwa kerugian yang dialami oleh Para Pemohon ini bukan hanya kerugian yang faktual sudah terjadi, tetapi potensi kerugian konstitusional yang mungkin terjadi itu juga bisa dijadikan dasar. Jadi, Saudara bisa mengurai bahwa bukan sekadar kerugian faktual yang dialami. Faktual dalam arti konstitusional ... kerugian konstitusional yang faktual, tetapi juga kerugian konstitusional yang belum terjadi, tetapi potensi. Menurut penalaran yang wajar, akan terjadi, gitu. Itu juga Saudara harus urai.

Dan harus dilanjutkan bahwa ternyata kalau norma-norma yang diminta untuk diuji oleh Saudara-Saudara ini dikabulkan, katakanlah dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Indonesia Tahun 1945, maka potensi kerugian itu tidak akan terjadi lagi.

Nah, itu yang ... kemudian, saya juga belum melihat causal verband-nya, mungkin juga perlu diurai causal verband antarkerugian konstitusional dengan keberadaan norma walaupun sebenarnya kalau kita membaca secara umum bisa ditangkap, tetapi secara tersurat belum. Tersirat sudah bisa kita maknai, tetapi secara tersurat belum.

Padahal, mestinya itu juga secara tersurat. Bahwa ada causal verband antarkerugian yang dialami oleh Saudara (kerugian konstitusional) dengan berlakunya norma itu. Dan kalau ini dikabulkan, maka kerugian, baik yang faktual maupun yang potensial itu tidak akan terjadi lagi. Nah, itu yang menurut saya perlu dielaborasi kembali.

Tetapi sekali lagi karena ini adalah amanat undang-undang, kami harus memberi nasihat. Kalau mau diterima boleh, tidak diterima juga enggak apa-apa. Pasal 39 ayat (2) mewajibkan kami untuk memberi nasihat. Dari saya cukup, Yang Mulia, terima kasih.

(16)

33. KETUA: ANWAR USMAN

Baik. Silakan, Yang Mulia Pak Manahan.

34. HAKIM ANGGOTA: MANAHAN MP SITOMPUL

Baik. Terima kasih, Yang Mulia. Saya hanya menambahkan sedikit saja. Mungkin itu tadi Kuasa itu ya, mungkin itu lebih dipertegaskan lagi sebagai pimpinan partai politik ya, maupun sebagai pribadi sebagai yang menggugat … eh … yang mengajukan permohonan, itu juga baik untuk kepentingan ini maupun untuk kepentingan diri sendiri. Barangkali itu sudah biasa di dalam mengajukan gugatan di pengadilan ya, seperti itu.

Jadi, dasarnya tetap sama sebagai Principal maupun sebagai Kuasa.

Kemudian, saya melihat di sini masih dikosongkan nomor undang- undangnya. Apa memang sampai sekarang nomor undang-undang itu belum ada? Belum turun?

35. KUASA HUKUM PEMOHON: RAMDANSYAH Sudah, Yang Mulia.

36. HAKIM ANGGOTA: MANAHAN MP SITOMPUL Sudah, ya.

37. KUASA HUKUM PEMOHON: RAMDANSYAH Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017.

38. HAKIM ANGGOTA: MANAHAN MP SITOMPUL 17?

39. KUASA HUKUM PEMOHON: RAMDANSYAH Ya, eh Nomor 7 (...)

40. HAKIM ANGGOTA: MANAHAN MP SITOMPUL Nomor 7, benar (...)

41. KUASA HUKUM PEMOHON: RAMDANSYAH Nomor 7 Tahun 2017.

(17)

42. HAKIM ANGGOTA: MANAHAN MP SITOMPUL

Jang … nanti di … dilengkapi, ya. Nanti dilengkapi, se … kalau sudah ada juga dengan lembaran negaranya, tambahan lembaran negaranya juga dileng … dilengkapi.

Kemudian, di kewenangan Mahkamah barangkali juga bisa dilihat atau ditambahkan nanti di ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 mengenai Pembentukan Peraturan Perundang- undangan itu supaya lebih lengkap, ya.

Nah, ini memang dasar pengujiannya seperti apa tadi yang sudah disarankan, maunya Pasal 173 ayat (1) disandingkan dengan dasar pengujian yang mana di Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Pasal 173 ayat (3) kemudian disandingkan mana yang didasarkan pengujiannya dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 itu karena pasal-pasal ini seluruhnya dari Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ini punya ketentuan tersendiri bila dihadapkan dengan tiga, Pak, pasal yang diuji, ya.

Jadi, Pasal 173 ayat (1), Pasal 173 ayat (3), yaitu mengenai soal partai politik sedangkan Pasal 222 itu mengenai presidential threshold- nya itu. Mana yang cocok ke sana nanti memang perlu sekali supaya kita lihat nanti di mana kerugian konstitusional dari para Pemohon ini.

Kemudian, selanjutnya mungkin ada penekanan ke Pasal 222 itu tadi, ada di situ ditentukan presidential threshold itu sudah ditentukan berapa persen itu dan memang di halaman 6 sudah dikemukakan bahwa Roma Irama sebagai calon presiden, ya. Nanti apakah ada data-data yang di … apa namanya … menyertai rencana ini untuk dia dijadikan sebagai seorang calor … calon presiden, itu mungkin perlu dilengkapi lebih lanjut, ya. Poin 11, halaman 6 itu mungkin di … perlu nanti dielaborasi dan kalau beliau ada surat-surat yang mendukung itu perlu dilengkapi lebih lanjut lagi.

Kemudian, saya langsung ke petitum saja karena di petitum itu tadi masih di … dipisahkan antara ti … bertentangan dengan Undang- Undang Dasar Tahun 1945 itu sekaligus dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Jadi, jangan te … diuraikan seperti dalam petitum yang sekarang ini, masih diuraikan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan kemudian langsung disebutkan bahwa tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, yaitu Pasal 173 ayat (1), Pasal 173 ayat (3), dan Pasal 222 ya, dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tersebut. Hal-hal lain tadi barangkali sudah seluruhnya diuraikan oleh Yang Mulia Ketua dan pe … Panel lainnya. Barangkali dari saya cukup sekian, Yang Mulia, terima kasih.

43. KETUA: ANWAR USMAN

Baik, terima kasih. Jadi, itulah beberapa catatan dari Majelis Panel yang kesemuanya itu kembali kepada Pemohon, apakah mau diterima

(18)

semua atau sebagian atau tidak sama sekali. Tetapi, yang pasti kalau sampai nanti perbaikannya nomor undang-undangnya tidak dicantumkan, ya, ya, sulit juga untuk mencari. Jadi, nanti diisi, ya yang masih kosong ini dalam perbaikan. Untuk itu, Pemohon diberi waktu selama 14 hari untuk perbaikan permohonannya.

44. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO Mo … mohon izin, Yang Mulia.

45. KETUA: ANWAR USMAN Ya.

46. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO

Sedikit saja. Mungkin karena di sini juga terkait dengan kata-kata verifikasi dagelan tadi, kami … ini kami ubah. Nanti akan kami ubah dengan … dengan kata-kata verifikasi tidak sesuai dengan peraturan perundang-perundangan (...)

47. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, ya, nanti itulah sekaligus (...) 48. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO

Karena … karena kebetulan kami ada … ada data terkait verifikasi di tahun 2014 kami sudah sebagai masukan sebagai daftar bukti di situ.

49. KETUA: ANWAR USMAN Ya, ya, ya, baik (...)

50. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO Seperti itu (...)

51. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, sekalian nanti diperbaiki (...) 52. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO

Baik (...)

(19)

53. KETUA: ANWAR USMAN Dengan yang lainnya (...)

54. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO Baik.

55. KETUA: ANWAR USMAN

Sekali lagi, Pemohon diberi kesempatan selama 14 hari sehingga perbaikannya harus diterima oleh Mahkamah paling lambat hari Rabu, 6 September 2017, pukul 09.00 WIB, pagi, ya. Sudah jelas? Tidak ada lagi yang ingin disampaikan?

56. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO Mohon izin, Yang Mulia.

57. KETUA: ANWAR USMAN Ya.

58. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO

Satu lagi, terkait percepatan sidang, Yang Mulia, karena ini ada alasan mendesak tanggal 3 Oktober sudah mulai pendaftaran verifikasi (...)

59. KETUA: ANWAR USMAN Ya (...)

60. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO Partai politik baru (...)

61. KETUA: ANWAR USMAN He em.

(20)

62. KUASA HUKUM PEMOHON: HERIYANTO

Mohon kira-kira … mohon kiranya ini menjadi pertimbangan, Yang Mulia. Terima kasih.

63. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, nanti begini, prosedural dulu, ya. Jadi, prosedurnya dipenuhi dulu seperti perbaikan tadi. Itu kan, tadi paling lambat 14 hari itu, Rabu, 6 September 2017, pukul 09.00 WIB. Jadi, tidak perlu menunggu hari Rabu, 6 September, ya. Sebelum itu ya, lebih cepat lebih baik, gitu ya.

Baik, ada lagi? Cukup, ya? Baik, kalau begitu sidang selesai dan ditutup.

Jakarta, 24 Agustus 2017 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d.

Yohana Citra Permatasari NIP. 19820529 200604 2 004

SIDANG DITUTUP PUKUL 11.27 WIB KETUK PALU 3X

Referensi

Dokumen terkait

(1) Badan Usaha Angkutan Udara Niaga berjadwal yang telah menetapkan standar pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat ( 1), wajib mempublikasikan maklumat

Sedangkan pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak kedua cavum nasi sempit, sekret bening, konka inferior berwarna livide , terdapat massa lunak, bertangkai, bulat,

Hasil penelitian ini, yaitu perbedaan kelas sosial yang ada pada cerpen “Perkawinan Mustaqimah” karya Zulfaisal Putera yang terbagi menjadi dua, yaitu golongan sangat

Dengan adanya modul pengembangan bimbingan kelompok untuk mencegah perilaku seks bebas pada peserta didik, diharapkan dapat membantu guru dalam memberikan

Dalam proses penelitian ini peneliti berperan langsung, bertindak sekaligus sebagai instrument dalam pengumpulan data, karena penelitian ini dilakukan dengan fokus

Untuk kegiatan sholat wajib dhuhur dan ashar berjamaah siswa berada di tanggung jawab pihak sekolah karena setiap waktunya sholat dhuhur dan sholat ashar siswa di

zingiberi asal Temanggung dan Boyolali yang telah disimpan dalam medium tanah steril selama enam tahun masih tumbuh dengan baik pada medium PDA dan memenuhi cawan Petri setelah

Pengkajian transtivitas terhadap pidato kampanye Ahok pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 menghasilkan tiga simpulan, yakni 1) seluruh tipe transitivitas