• Tidak ada hasil yang ditemukan

WORKSHOP MANAJEMEN TEKANAN INTRA KRANIAL (TIK) PADA PASIEN CIDERA KEPALA SEDANG - BERAT DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "WORKSHOP MANAJEMEN TEKANAN INTRA KRANIAL (TIK) PADA PASIEN CIDERA KEPALA SEDANG - BERAT DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

WORKSHOP MANAJEMEN TEKANAN INTRA KRANIAL (TIK) PADA PASIEN CIDERA KEPALA SEDANG - BERAT DI RUMAH SAKIT

UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN

Grace Erlyn Damayanti Sitohang

1

1

Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab yang paling bermakna dalam meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Terdapat 1,4 juta cedera kepala terjadi setiap tahun, dengan lebih dari 1,1 juta yang datang ke Unit Gawat Darurat. Tekanan intrakranial (TIK) merupakan suatu tekanan total yang didesak oleh otak, darah, dan cairan serebrospinal yang berada di dalam kubah intrakranial ≥15 mmHg (nilai normal 3-15 mmHg). Tindakan keperawatan dalam mengatasi TIK, yaitu diperlukan oksigenasi yang adekuat, hiperventilasi, drainase untuk cairan serebro spinal (CSS), terapi diuretik dan hiperosmolar, hipotermi, lakukan kontrol gula darah dan nutrisi, dekompresi kraniektomi, posisi nyaman, stimulasi lingkungan manajemen tekanan darah, dan pencegahan kejang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana manajemen TIK pada pasien cedera kepala sedang- berat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan . Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan survey menggunakan kuesioner yang telah melewati tahap uji validitas dan reliabilitas. Penentuan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 88 pasien di instalasi gawat darurat dan ruang rawat intensif di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini menggunakan desain analisis univariat. Dari hasil penelitian ini, didapatkan manajemen TIK pada kategori baik sebanyak 56 (63,6%) responden dan kategori kurang baik sebanyak 32 (36,4%) responden.

Kata kunci: tekanan intrakranial, cidera kepala, manajemen Abstract

Head injury is one of the most significant causes of increasing morbidity and mortality. There are 1.4 million head injuries every year, with more than 1.1 million presenting to the Emergency Department. Intracranial pressure (ICP) is the total pressure exerted by the brain, blood, and cerebrospinal fluid in the intracranial vault 15 mmHg (normal value 3-15 mmHg). Nursing actions in overcoming ICT, which require adequate oxygenation, hyperventilation, drainage for cerebrospinal fluid (CSS), diuretic and hyperosmolar therapy, hypothermia, control blood sugar and nutrition, craniectomy decompression, comfortable position, stimulation of the blood pressure management environment, and seizure prevention. This study aims to determine how the management of ICT in patients with moderate to severe head injuries at the Haji Adam Malik General Hospital Medan. The research design used is descriptive with a survey approach using a questionnaire that has passed the validity and reliability test stages. Determination of the sample using total sampling with the number of respondents as many as 88 patients in the emergency department and intensive care room at Haji Adam Malik General Hospital Medan. This study used a univariate analysis design. From the results of this study, it was found that there were 56 (63.6%) respondents in the good category of ICT management and 32 (36.4%) respondents in the poor category.

Keywords: intracranial pressure, head injury, management

(2)
(3)

1. Pendahuluan

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab yang dapat menaikkan angka morbiditas dan mortalitas.

Terdapat sebanyak 1,4 juta cedera kepala terjadi setiap tahun, dengan lebih dari 1,1 juta yang datang ke UGD.

Kejadian cedera kepala yang terjadi pada anak usia 0-14 tahun sebanyak 475000 setiap tahun. Anak-anak yang bertahan setelah mengalami cedera kepala sedang dan berat berisiko tinggi menderita gangguan kognitif dan perilaku.

Hipertensi intrakranial adalah sebuah komplikasi yang sering terjadi pada cedera kepala berat. Cidera kepala paling sering menyebabkan hipertensi intrakranial, juga dapat meningkatkan tekanan intrakranial (TIK), seperti terjadinya hidrosefalus, stroke, tumor, trombosis sinus venosus, dan dapat menyebabkan perdarahan. Pada pasien cedera kepala, peningkatan TIK ada hubungannya dengan hasil buruk dan terapi agresif terhadap peningkatan TIK ini dapat memperbaiki outcome.

TIK normal bervariasi menurut umur, posisi tubuh, dan kondisi klinis.

Nilai TIK normal adalah 7-15 mmHg untuk dewasa, 3-7 mmHg untuk anak-anak, dan 1,5-6 mmHg untuk bayi. Terjadinya hipertensi intracranial tergantung pada patologi spesifik dan usia. Contohnya nilai TIK>15 mmHg dikatakan abnormal, tetapi penanganan yang diberikan dengan tingkatan yang berbeda tergantung patologinya. TIK >15 mmHg yang memerlukan penanganan yaitu pada pasien hidrosefalus, sedangkan setelah cedera kepala, penanganan diindikasikan bila TIK >20 mmHg.

Perawatan pasien dengan manajemen TIK rata-rata terjadi pada pasien dengan cedera kepala sedang hingga berat. Secara umum tingkat

keparahan cedera kepala diklasifikasikan menjadi cedera kepala ringan, cedera kepala sedang, dan cedera kepala berat.

Cedera pada kepala dapat menyebabkan tengkorak dan isinya bergetar, terjadinya kerusakan tergantung pada besar kecilnya getaran.

Semakin besar getaran dan tingkat keparahan maka semakin besar juga kerusakan yang ditimbulkan. Getaran dari benturan dapat menyebabkan pembuluh darah robek sehingga akan menyebabkan hematoma epidural, subdural maupun intrakranial, perdarahan tersebut juga akan mempengaruhi pada sirkulasi darah ke otak menurun sehingga suplai oksigen berkurang dan terjadi hipoksia jaringan dan menyebabkan edema serebral.

Akibatnya isi daripada otak akan terdorong ke arah yang berlawanan dan mengakibatkan naiknya TIK lalu merangsang kelenjar pituitari dan steroid adrenal sehingga sekresi lambung meningkat yang dapat menyebabkan rasa mual dan muntah.

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui workshop. Dalam pemaparan material menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus yang tersedia. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan diskusi antara pengabdi dan peserta seminar sehingga dapat menciptakan komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar sehingga terjadi peningkatan pemahaman.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi mengurus perizinan di

(4)

tempat pengabdian dan menunjukkan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mempersiapkan materi dan merancang kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta seminar melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat.

4. Langkah 4

Pengabdi melaksanakan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar.

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan sosialiasasi pengabdian pada masyarakat ini dilakukan agar dapat mengedukasi peserta workshop dalam memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat. Hasil kegiatan yang telah dicapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan telah dipahami peserta seminar dalam memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat. Hal ini ditinjau berdasarkan peningkatan nilai post test yang lebih baik.

2. Peserta mampu menguasai materi dan mampu memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sebanyak 98%.

Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan workshop pengabdian masyarakat ini adalah agar seluruh peserta seminar di rumah sakit sembiring dapat memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat.

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sebagai tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Peserta sangat antusias mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan dan dipantau secara ketat.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

a. Adanya respon positif dari peserta

seminar dengan munculnya

pertanyaan dan tanggapan yang

diberikan selama kegiatan seminar

dan diskusi.

(5)

b. Sebanyak 98% peserta workshop telah mampu memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat. Sehingga dapat melakukan antisipasi agar terhidar dari terjadinya Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat. Hal ini dinilai berdasarkan nilai post test peserta seminar yang semakin meningkat pada saat mengikuti post test.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

2. Direktur Rumah Sakit Pusat Haji Adam Malik Medan

6. Daftar Pustaka

1. Tjahjadi M, Arifin MZ, Gill AS, Faried A.

Early mortality predictor of severe traumatic brain injury: a single center study of prognostic variables based on admission characteristics. The Indian Journal of Neurotrauma. 2013;

10(1):3- 8.

2. Mak CHKM, Lu YY, Wong GK. Review and recommendations on management of refractory raised intracranial pressure in aneurysmal subarachnoid hemorrhage. Vascular Health and Risk Management. 2013;9(1): 353–359

3. Ranger-Castillo L, Gopinath S, Robertson CS. Management of Itracranial Hypertension. Neurol Clin.

May 2008; 26(2):521-41.

4. Purnama, Eka. Asuhan keperawatan pada klien dengan cedera kepala berat.

2013. [Diakses: 29 Februari 2016].

Available from:

http://digilib.unimus.ac.id/gdl.php?mo

d=browse&op=read&id=jtptunimus- gdl-ekapurnama-5391

5. Kim, BS., Jallo, J. 2008. Intracranial Pressure Monitoring and Management of raised Intracranial Pressure. In Neurosurgical Emergencies. Second edition. Loftus, C.B editor. New York;

AANS, pp. 11-12.

6. North, B. 1997. Intracranial Pressure

Monitoring. In head Injury. Reilly, P.,

Bullock, R.editors. London. pp. 209-

216.

Referensi

Dokumen terkait

Di bagian ini hukum internasional telah ada semenjak 4000 SM, hubungan yang mengikat terjadi antara setiap individu dan nations, namun pola dan bentuk interaksi yang dilakukan pada

Nama Lengkap dan

Menganalis is Sistem Pengendali an intern pemberian kredit suatu bank Jenis Penelitia n yang berbeda yaitu kuantita tif, alat analisis yang berbeda dan Populasi penelitia

Masalah yang akan dipecahkan adalah bagaimana bagian keuangan pada Unit Pelayanan Teknik Dinas Pendidikan Kecamatan Kuala dapat memanfaatkan aplikasi penggajian ini,

Merely the application of the M4P market system framework (Figure 1) to a typical RAS system, illustrates the usefulness of this framework – but also the importance

dengan pertumbuhan maksimal unsur hara yang terkandung pada kompos gulma dengari dosis 6 000. terkandung di dalam kompos gulma tersebut masih kgiha (Tabel 3) di mana

Berdasarkan tahapan dan jadwal lelang yang telah ditetapkan serta memperhatikan hasil evaluasi kualifikasi terhadap peserta yang lulus evaluasi dokumen penawaran,

Bentuk sosialisasi primer oleh keluarga inti prosesi tradisi Naik Ayun Keluarga besar menginformasikan kepada keluarga inti untuk mempersiapkan untuk peralatan naik