• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP BIAYA MODAL EKUITAS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA ARNIATI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP BIAYA MODAL EKUITAS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA ARNIATI"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

EKUITAS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

ARNIATI 10573 04527 13

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2017

(2)

i

PENGARUH MANANAJEMEN LABA TERHADAP BIAYA MODAL EKUITAS (PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI

BURSA EFEK INDONESIA)

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Program Akuntansi Fakultas Ekonomi Dn Bisnis Universitas

Muhammadiyah Makassar

ARNIATI 10573 04527 13

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2017

(3)
(4)
(5)

iv

Keberhasilan adalah sebuah proses.

Niatmu adalah awal keberhasilan.

Peluh keringatmu adalah penyedapnya.

Tetesan air matamu adalah pewarnanya.

Doamu dan doa orang-orang disekitarmu adalah bara api yang mematangkannya. Kegagalan di setiap langkahmu adalah

pengawetnya,

Maka dari itu bersabarlah!

Allah selalu menyertai orang-orang yang penuh kesabaran dalam proses menuju keberhasilan.

Sesungguhnya kesabaran akan membuatmu mengerti bagaimana cara mensyukuri arti sebuah keberhasilan.

Kupersembahkan cinta dan sayangku Kepada kedua orang tuaku, saudaraku, dan sahabatku Yang telah menjadi motivasi dan inspirasi dan tiada henti memberikan dukungan doanya buat aku

“Tanpa keluarga, manusia sendiri di dunia, gemetar dalam dingin”.

(6)

v

(pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia).

Skripsi ini. Dibimbing oleh Moh Aris pasigai, dan Agusdiwana Suarni, pada Program Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah manajemen laba berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas (pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas. Manajemen laba diproksi dengan menggunakan model yang diukur berdasarkan akrual modal kerja dengan penjualan, sedangkan biaya modal ekuitas diestimasi dengan model Ohlson. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2010-2012. Sedangkan sampel dipilih berdasarkan tehnik purposive sampling atau tehnik pengambilan dengan kriteria tertentu. Jumlah sampel yang terpilih sebanyak 7 perusahan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2010-2012. Data yang diperoleh merupakan data sekunder dengan menggunakan metode dokumentasi Hipotesis penelitian ini diuji dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana.

Berdasarkan hasil pengujian, ditemukan bahwa manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap biaya modal ekuitas, hal ini dapat dibuktikan dengan perolehan tingkat signifikan sebesar 0,004 yang lebih kecil dari tingkat signifikan yang diharapkan yaitu 0,05.

Kata Kunci : Manajemen Laba, Biaya Modal Ekuitas, Akrul Modal Kerja dengan Penjualan, Model Ohlson.

(7)

vi

Manufacturing Company Listed on Indonesia Stock Exchange). This thesis.

Guided by Moh Aris pasigai, and Agusdiwana Suarni, on Accounting Program Faculty of Economics and Business University of Muhammadiyah Makassar.

The formulation of the problem in this research is whether earnings management affect the cost of equity capital (in manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange). This study aims to determine the effect of earnings management on the cost of equity capital. Profit management is proxyed using a model measured on the accrual of working capital by sales, while the cost of equity capital is estimated by the Ohlson model. The population in this study is a manufacturing company listed on the Indonesia Stock Exchange during 2010-2012. While the sample is selected based on purposive sampling technique or technique of taking with certain criteria. The number of samples selected are 7 manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2010-2012 period. The data obtained is secondary data using documentation method The hypothesis of this study was tested by using simple linear regression analysis.

Based on the results of the test, found that earnings management significantly influence the cost of equity capital, this can be proved by the acquisition of a significant level of 0.004 is smaller than the expected significant level of 0.05.

Keywords: Profit Management, Equity Capital Cost, Acrul Working Capital with Sales, Ohlson Model.

(8)

vii

Syukur Alhamdulillah puji syukur ke hadirat Allah SWT. Karena berkat petunjuk dan hidayah-Nya, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi ini penulis dihadapkan pada berbagai macam hambatan, akan tetapi berkat ketekunan dan usaha keras, adanya bimbingan dari berbagai pihak, dan harapan yang tinggi atas keberkatan ilahi akhirnya skripsi yang berjudul “Pengaruh Manajemen Laba terhadap Biaya Modal Ekuitas pada Perusahaan Sektor Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” ini dapat diselesaikan.

Tiada jalan tanpa rintangan, tiada puncak tanpa tanjakan, tiada kesuksesan tanpa perjuangan. Dengan kesungguhan dan keyakinan untuk terus melangkah, akhirnya sampai dititik akhir penyelesaian karya ini. Namun, semua itu tak lepas dari dorongan berbagai pihak lewat dukungan, arahan, bimbingan serta bantuan moril dan materil.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang merupakan penuntun dan suri tauladan umat manusia sampai akhir zaman. Nabi yang sangat berpengaruh bagi perkembangan islam di muka bumi ini, Nabi yang telah menjadikan umat manusia sekarang ini menjadi manusia yang beradab dan berperikemanusiaan.

(9)

viii

dalam membesarkan, mendidik dan membiayai penulis serta doa restu yang tak henti- hentinya untuk keberhasilan penulis. Semoga apa yang beliau berikan kepada penulis bernilai kebaikan dan dapat menjadi penerang kahidupan di dunia dan di akhirat.

Pada kesempatan yang baik ini pula penulis tak lupa menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Bapak Dr. Abd. Rahman Rahim, S.E,. M.M Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, sebagai penanggungjawab aktivitas kampus tempat penulis menimba ilmu.

2. Bapak Ismail Rasulong, SE., MM., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Ismail Badollahi., selaku Ketua Jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Bapak Moh Aris Pasigai, SE., MM dan Ibu Agusdiwana Suarni, SE., M.ACC., selaku Pembimbing I dan II, disela-sela kesibukannya masih dapat meluangkan waktunya membantu dan membimbing penulis.

5. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas bimbingan, arahan, dan jasa-jasa yang tak ternilai harganya kepada penulis.

(10)

ix yang kompak sampai kapanpun.

7. Kepada Om Salo dan Tante Mulli yang selama ini telah memerankan sosok orang tua kedua bagi penulis.

8. Kepada saudara-saudara beserta dengan keluarga yang telah menjadi motivator serta kekutan bagi penulis hingga dapat sampai pada tahap ini.

9. Teman-teman Ak 11/13, yang telah berjuang bersama penulis mulai dari semester awal hingga saat ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca.

Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi almamater tercinta dan bermanfaat bagi pembaca serta pemerhati sastra guna perkembangan keilmuan sastra dimasa yang akan dating.

Makassar, 08 Oktober, 2017

Penulis

(11)

x

HALAMAN PERSETUJUAN ...ii

HALAMAN PENGESAHAN...iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN...iv

ABSTRAK ...v

ABSTRACT...vi

KATA PENGANTAR ...vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR... xiii

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...3

C. Tujuan Penelitian ...3

D. Manfaat Penelitian ...3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...4

A. Landasan Teori ...4

1. Laporan Keuangan ...4

2. Manajemen Laba ...10

3. Biaya Modal Ekuitas ...18

4. Penelitian Relevan...22

B. Kerangka Pikir ...29

C. Hipotesis Penelitian ...30

(12)

xi

B. Jenis dan Tehnik Pengumpulan Data ...31

C. Populasi Dan Sampel ...31

D. Defenisi Operasional ...33

E. Metode Analisis ...35

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN ...39

A. Sejarah Singkat dan Visi Misi Perusahaan ...39

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...50

A. Hasil Penelitian ...50

B. Pengujian hipotesis ...59

C. Pembahasan...51

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ...67

B. Saran ...67

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(13)

xii

3.1 Sampel Penelitian ...33

3.2 Defenisi Operasional ...35

5.1 Gambaran Manajemen Laba...53

5.2 Gambaran Biaya Modal Ekuitas...58

5.3 Hasil uji regresi linear sederhana...60

5.4 Hasil uji simultan F...62

5.5 Hasil uji kolmogrov-smirnov test...63

5.6 Hasil uji koefisien determinan (R2)...64

(14)

xiii

2.1 Penelitian Terdahulu...25 2.2 Karangka Pikir...29

(15)

xiv

Lampiran 2 Perhitungan Biaya Modal ekuitas...71 Lampiran 3 Hasil uji regresi linear sederhana...73 Lampiran 4 laporan tahunan tiap perusahaan...80

(16)

1 A. Latar Belakang

Bursa efek atau modal adalah suatu tempat yang menyediakan fasilitas untuk melakukan transaksi terkait jual beli sekuritas, baik obligasi maupaun saham atau sekuritas lain, dengan masa berlaku lebih dari satu tahun.

Akibat dari penerbitan saham atau obligasi tersebut perusahaan harus mengeluarkan biaya sebagai pengembalian atas pemberian dana yang diberikan investor dan kreditor, biaya tersebut disebut dengan biaya modal.

Biaya modal atau cost of capital adalah rate of return minimum suatu prusahaan yang diukur berdasarkan proporsi ekuitas dari seluruh investasi agar dapat mempertahankan harga pasar sekuritasnya, biaya modal mencerminkan tingkat pengembalian yang diminta investor atas suatu efek bagi perusahaan, sehingga dapat diartikan bahwa biaya modal suatu perusahaan adalah bagian yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memberi kepuasan pada para investornya pada tingkat risiko tertentu.

Keputusan investor atau kreditor untuk melakukan investasi maupunmemberikan kredit pada sebuah perusahaan, didasarkan pada laporan keuangan perusahaan, dimana laporan keuangan perusahaan berisi informasi yang dibutuhkan sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. Informasi keuangan terutama informasi laba sangat rentan dimanipulasi, hal ini disebabkan karena adanya konflik kepentingan antara manajemen (agent) dan pemilik (principal) atau yang kita sebut dengan (agency theory). Informasi laba untuk kepentingan manajer sedemikian rupa

(17)

dimanipulasi agar laporan keuangan perusahaan tampak baik sehingga bisa membuat para investor dan kreditor baru tertarik untuk melakukan investasi di perusahaan itu, sedangkan bagi para investor dan kreditor lama akan merasa puas atas kinerja manajemen pada periode yang bersangkutan. Tindakan tersebut dinamakan manajemen laba. Manajemen laba merupakan intervesi manajemen dengan sengaja dalam proses menyusun laporan keuangan eksternal sehingga dapat menaikkan atau menurunkan laba akuntansi biasanya untuk memenuhi tujuan pribadi.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa praktik manajemen laba masih dilakukan hingga saat ini. Penelitian empiris yang berusaha menguji secara langsung antara manajemen laba dan biaya modal ekuitas adalah dimana manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap biaya modal ekuitas. Oleh karena hasil penelitian yang berbeda, peneliti ingin menguji kembali mengenai pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas pada perusahaan manufaktur. Penelitian ini menguji investor di Bursa Efek Indonesia sudah memperhitungkan besaran akrual dalam menentukan tingkat imbal hasil saham, maka ia dapat mengantisipasi adanya praktik manajemen laba yang dilakukan oleh emiten.

Dengan demikian berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian yang kemudian akan dituangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul “Pengaruh Manajemen laba Terhadap Biaya Modal Ekuitas (pada Perusahaan Sector Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia).

(18)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang rumusan masalah pada penelitian ini, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi dan dirumuskan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut: Apakah manajemen laba berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas (pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia).?

C. Tujuan Penelitian

Sedangkan tujuan dari penelitian ini, bila dikaitkan dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya adalah untuk mengetahui pengaruh terhadap manajemen laba dengan biaya modal ekuitas (pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia).

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang akurat, dan dapat memberikan manfaat oleh berbagai pihak sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dibidang akuntansi, khususnya tentang manajemen laba dan biaya modal ekuitas.

2. Manfaat Praktis

Dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan dalam bidang ekonomi akuntansi mengenai pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

(19)

4 A. Landasan teori

1. Laporan Keuangan

a. Pengertian dan Tujuan Laporan Keuangan

Menurut PSAK No. 1 (2015: 1), laporan keuangan adalah penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas”. Laporan ini menampilkan sejarah entitas yang dikuantifikasi dalam nilai moneter.

Pengertian Laporan Keuangan menurut PSAK No.1 (2015:2) adalah laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan labarugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalamberbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana),catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagianintegral dari laporan keuangan. Disamping itu juga termasuk skedul daninformasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya,informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapanpengaruh perubahan harga.

Menurut Farid dan Siswanto (2011:2) yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah “Laporan keuangan merupakan informasi yang diharapkan mampu memberikan bantuan kepada pengguna untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat financial”.

(20)

Tujuan laporan keuangan menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 (2015:3) adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan suatu catatan informasi keuangan yang terstruktur yang dapat digunakan untuk menggambarkan posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang bermanfaat bagi para penggunanya dalam pengambilan keputusan ekonomi serta sebagai bentuk pertanggungjawaban yang telah dilakukan manajemen atas pengelolaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

b. Komponen Laporan Keuangan

Menurut PSAK No.1 (2015:3) adalah sebagai berikut: Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi :

1) Laporan Posisi Keuangan/Neraca (Statement of Financial Position) Neraca merupakan bagian dari laporan keuangan suatu perusahan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada akhir periode tersebut. Neraca minimal mencakup pos-pos berikut: kas dan setara kas; piutang usaha dan piutang lainnya; persediaan; properti investasi; aset tetap; aset tidak berwujud; utang usaha dan utang lainnya; aset dan kewajiban pajak; kewajiban diestimasi; ekuitas.

(21)

2) Laporan laba rugi (Statement of Comprehensive Income)

Laporan laba rugi menyajikan hubungan antara penghasilan dan beban dari entitas. Laba sering digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar untuk pengukuran lain, seperti tingkat pengembalian investasi atau laba per saham. Unsur-unsur laporan keuangan yang secara langsung terkait dengan pengukuran laba adalah penghasilan dan beban. Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos sebagai berikut: pendapatan; beban keuangan;

bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas; beban pajak; laba atau rugi neto.

3) Laporan perubahan ekuitas (Statement of Changes in Equity) Dalam laporan ini menunjukkan Seluruh perubahan dalam ekuitas untuk suatu periode, termasuk di dalamnya pos pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitasuntuk periode tersebut, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui dalam periode tersebut. Perubahan ekuitas selain perubahan yang timbul dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik termasuk jumlah investasi, penghitungan dividen dan distribusi lain ke pemilik ekuitas selama suatu periode.

4) Laporan arus kas (Statement of Cash Flow)

(22)

Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis atas kas dan setara kas entitas, yang menunjukkan secara terpisah perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

5) Catatan atas laporan keuangan

Yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lainnya. Catatan atas laporan keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan informasi pos-pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

c. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pengguna. Karakteristik kualitatif laporan keuangan dalam Kieso, et al (2014) terdiri dari:

1. Fundamental Qualities a. Relevan

Relevan adalah salah satu dari dua kualitas mendasar yang membuat informasi akuntansi berguna untuk pengambilan keputusan.

b. Faithful Representation (Kejujuran Penyajian)

(23)

Faithful representation berarti bahwa angka dan deskripsi sesuai dengan apa yang benar-benar ada atau terjadi. suatu keharusan karena kebanyakan pengguna tidak memiliki waktu maupun keahlian untuk mengevaluasi isi informasi faktual.

Unsur-unsur yang harus dipenuhi agar laporan keuangan dikatakan faithful representation (ingredients of fundamental quality) adalah :

1) Completeness (kelengkapan), semua informasi yang diperlukan harus disajikan secara jujur. Sebuah kelalaian dapat menyebabkan informasi yang palsu atau menyesatkan dan dengan demikian tidak bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan.

2) Neutrality (netral), perusahaan tidak dapat memilih informasi untuk mendukung satu set pihak yang berkepentingan atas yang lain

3) Free from error (bebas dari kesalahan), Semua item informasi harus bebas dari kesalahan, sehingga informasi menjadi lebih akurat dari sebuah item keuangan.

2. Enhancing Qualities

Membedakan informasi yang lebih berguna dari informasi yang kurang berguna. Terdiri dari :

a) Comparability (keterbandingan), Informasi yang diukur dan dilaporkan dengan cara yang sama untuk perusahaan yang berbeda dianggap sebanding.

(24)

b) Verifiability (keandalan), terjadi ketika suatu langkah independen, dengan menggunakan metode yang sama, memperoleh hasil yang sama.

c) Timeliness (ketepatan waktu), memiliki informasi yang tersedia untuk para pengambil keputusan sebelum kehilangan kemampuan untuk mempengaruhi keputusan. Memiliki informasi yang relevan yang tersedia cepat dapat meningkatkan kapasitas untuk mempengaruhi keputusan, dan kurangnya ketepatan waktu dapat menghilangkan informasi kegunaannya.

d) Understandability (dapat dimengerti), kualitas informasi yang cukup memungkinkan untuk para pengguna melihat makna dari informasi yang disampaikan. Informasi harus dimengerti antara pengguna dan pembuat keputusan.

d. Pengguna Laporan Keuangan

Pengguna laporan keuangan menurut Dwi Martani, dkk, (2012:33) adalah:

1) Investor

Menilai entitas dan kemampuan entitas membayar deviden di masa mendatang. Investor dapat memutuskan untuk membeli atau menjual saham entitas.

2) Karyawan

Kemampuan memberikan balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.

(25)

3) Pemberian jaminan

Kemampuan membayar utang dan bunga yang akan memengaruhi keputusan apakah akan memberikan pinjaman.

4) Pemasok dan kreditur lain

Kemampuan entitas membayar liabilitas pada saat jatuh tempo.

5) Pelanggan

Kemapuan entitas menjamin kelangsungan hidupnya.

6) Pemerintah

Menilai bagaimana alokasi sumber daya.

7) Masyarakat

Menilai tren dan perkembangan kemakmuran entitas.

3. Manajemen Laba

a. Pengertian Manajemen Laba

Widyaningdyah (2013:92 ) membagi definisi manajemen laba menjadi dua yaitu :

1) Definisi Sempit

Earning manajement dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earning manajement dalam artian sempit ini didefenisikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain”

dengan komponen discretionary accruals dalam penentuan besarnya laba.

2) Defenisi Luas

Manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas unit dimana

(26)

manajer bertanggung jawab tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan ) profitabilitas ekonomi jangka panjang unit tersebut.

Menurut Assih dan Gundono (2013:37) mengartikan manajemen laba sebagai suatu proses yang dilakukan dengan sengaj dalam batasan General Accepted Accounting Pincipples (GAAP) untuk mengarah pada suatu tingkat diiginkan atas laba yang dilaporkan.

Manajemen laba (Earnings management) dilakukan dengan mempermainkan komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan, sebab akrual merupakan komponen yang mudah untuk dipermainkan sesuai dengan keinginan orang yang melakukan pencatatan transaksi dan menyusun laporan keuangan. Alasannya, komponen akrual merupakan komponen yang tidak memerlukan bukti kas secara fisik sehingga upaya mempermainkan besar kecilnya komponen akrual tidak harus disertaidengan kas yang diterima atau dikeluarkan perusahaan.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen laba merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh manajer melalui pemilihan kebijakan akuntansi yang bertujuan untuk memaksimalkan utilitas manajemen dan/atau meningkatkan nilai pasar perusahaan.

Terdapat dua cara pandang dalam memahami manajemen laba yang dilakukan manajer perusahaan: pertama, bertujuan untuk memaksimalkan utilitas manajemen (opportunistic behavior). Kedua, bertujuan untuk memberikan keuntungan kepada semua pihak yang terkait dalam kontrak (efficient contracting) dimana manajemen laba

(27)

memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak, apabila manajemen laba bersifat oportunis, maka informasi laba tersebut dapat menyebabkan pengambilan keputusan investasi yang salah bagi investor.

b. Klasifikasi Manajemen Laba

Menurut Sastradipraja (2011:33) manajemen laba diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu :

1. Cosmetic Earnings Management

Cosmetic Earnings Management, terjadi jika manajer memanipulasi akrual yang tidak memiliki konsekuensi cash flow.

Teknik ini merupakan hasil dari kebebasan dalam aplikasi akuntansi akrual yang mungkin terjadi. Akuntansi akrual yang membutuhkan estimasi dan pertimbangan (judgements) menyebabkan kebebasan manajer dalam menetapkan angka akuntansi.

2. Real Earnings Management

Real Earnings Management, terjadi jika manajer melakukan aktivitas dengan konsekuensi cash flows. Insentif untuk melakukan earnings management mempengaruhi keputusan investasi (investing) dan pendanaan (financing) oleh manajer. real earnings management lebih bermasalah dibandingkan cosmetic

(28)

earnings management karena mencerminkan keputusan usaha yang seringkali mengurangi kekayaan pemegang saham.

c. Bentuk Manajemen Laba

Ada empat bentuk manajemen laba yaitu :

1. Taking a big bath. Tindakan ini dilakukan ketika keadaan buruk yang tidak menguntungkan dan tidak bisa dihindari pada periode berjalan, dengan cara mengakui biaya-biaya pada periode-periode yang akan datang dan kerugian periode berjalan.

2. Meminimumkan laba (income minimation), dilakukan saat perusahaan memperoleh profitabilitas yang tinggi dengan tujuan agar tidak mendapat perhatian secara politis. Kebijakan yang diambil bisa berupa pembebanan pengeluaran iklan, riset dan pengembangan yang cepat dan sebagainya.

3. Memaksimumkan laba (income maximization), yaitu memaksimalkan laba agar memperoleh bonus yang lebih besar.

4. Perataan laba (income smoothing), merupakan bentuk manajemen laba yang dilakukan dengan cara menaikkan dan menurunkan laba untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan sehingga perusahaan terlihat stabil dan tidak berisiko tinggi.

Badruzaman (2013) mengemukakan teknik-teknik untuk melakukan manajemen laba, diantaranya sebagai berikut :

a. Earnings Management within Boundary of GAAP 1) Perubahan metode penyusutan.

2) Perubahan masa manfaat aset yang akan disusutkan.

(29)

3) Perubahan estimasi nilai sisa aset yang disusutkan.

4) Penentuan penyisihan piutang tidak tertagih.

5) Estimasi penurunan nilai investasi.

6) Menentukan perlunya penurunan nilai persediaan.

7) Estimasi beban akrual lingkungan.

8) Mengubah periode amortisasi intangible assets.

9) Menentukan apakah investasi mengakibatkan adanya pengaruh signifikan terhadap investee

10) Menentukan permanen atau tidaknya suatu penilaian nilai investasi jangka pendek.

b. Abusive Earnings Management

1. Mempercepat pengakuan pendapatan (revenue recognition) yang seharusnya menjadi pendapatan periode berikutnya, atau bahkan mengakui pendapatan fiktif.

2. Mencatat understated expenses.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa upaya-upaya yang dilakukan manajemen untuk melakukan manajemen laba menghasilkan berbagai bentuk manajemen laba, yaitu tindakan kepalang basah (taking a big bath), meminimumkan laba (income minimization), memaksimumkan laba (income maximization), dan perataan laba (income smoothing). Tindakan tersebut dapat dilakukan oleh manajemen dengan cara memilih dan menerapkan metode akuntansi yang dapat memberikan informasi laba lebih baik dalam menyusun laporan keuangan maupun dengan cara abusive earnings

(30)

management untuk memperlihatkan kinerja manajemen yang baik dalam menghasilkan laba bagi perusahaan.

d. Motivasi Manajemen Laba

Scott (2011) menjelaskan bahwa motivasi manajer perusahaan dalam melakukan manajemen laba adalah :

1. Bonus purpose (rencana bonus). Secara lebih spesifik, ini merupakan perluasan hipotesis rencana bonus (bonus plan hypothesis), yang menyatakan bahwa manajer perusahaan yang menggunakan rencana bonus akan memaksimalisasikan pendapatan masa kini atau tahun berjalan mereka.

2. Debt covenant (kontrak utang jangka panjang). Motivasi ini sejalan dengan hipotesis debt covenant dalam teori akuntansi positif yaitu semakin dekat suatu perusahaan ke pelanggaran perjanjian utang maka manajer akan cenderung memilih metode akuntansi yang dapat “memindahkan” laba periode mendatang ke periode berjalan sehingga dapat mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami pelanggaran kontrak.

3. Political motivation (motivasi politik). Perusahaan-perusahaan besar dan industri strategis cenderung menurunkan laba untuk mengurangi visibilitasnya, khususnya selama periode kemakmuran tinggi. Tindakan ini dilakukan untuk memperoleh kemudahan dan fasilitas dari pemerintah misalnya subsidi.

4. Taxation motivation (motivasi perpajakan). Perpajakan merupakan salah satu alasan utama mengapa perusahaan mengurangi laba

(31)

yang dilaporkan. Dengan mengurangi laba yang dilaporkan maka perusahaan dapat meminimalkan besar pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah.

5. Pergantian CEO. CEO yang akan habis masa penugasannya atau pensiun akan melakukan strategi memaksimalkan laba untuk meningkatkan bonusnya.

6. Initial Public Offering (penawaran saham perdana). Saat perusahaan go public, informasi keuangan yang ada dalam prospektus merupakan sumber informasi yang penting. Informasi ini dapat dipakai sebagai sinyal kepada calon investor tentang nilai perusahaan. Untuk mempengaruhi keputusan calon investor maka manajer berusaha menaikkan laba yang dilaporkan.

Berdasarkan penjelasan motivasi manajemen laba tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketika pada suatu kondisi yang mana pihak manajemen tidak berhasil mencapai target laba yang ditentukan maupun laba yang dihasilkan melebihi dari target laba yang ditentukan, maka manajemen termotivasi untuk melakukan manajemen laba, motivasi manajer melakukan manajemen laba dibagi menjadi dua tujuan, yang pertama ditujukan untuk meningkatkan utilitas manajer itu sendiri, yaitu dalam hal memaksimalkan perolehan bonus, yang kedua meningkatkan nilai perusahaan seperti menghindari pelanggaran kontrak, meminimalkan biaya politik, meminimalkan besarnya pajak serta memaksimalkan nilai perusahaan pada saat penawaran saham perdana.

(32)

e. Pengukuran Manajemen Laba

Untuk mendeteksi adanya tindakan manajemen laba maka pengukuran yang digunakan adalah aggregate accrual yaitu model yang digunakan untuk mendeteksi aktivitas rekayasa dengan menggunakan discretionary accruals sebagai proksi manajemen laba.

Akrual diskresioner adalah akrual yang masih dapat diubah atau dipengaruhi oleh kebijakan yang dibuat manajemen atau manajemen mempunyai beberapa fleksibilitas untuk mengendalikan jumlahnya.

Akrual non-diskresioner adalah akrual yang tidak dapat dipengaruhi oleh kebijakan yang dibuat manajemen atau manajemen tidak mempunyai fleksibilitas untuk mengendalikan jumlahnya yang mana laba akrual diakui secara wajar sesuai dengan standar atau prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Oleh karena itu, akrual non-diskresioner merupakan akrual yang wajar dan apabila dilanggar akan mempengaruhi kualitas laporan keuangan (tidak wajar) maka akrual non-diskresioner ini tidak relevan dalam objek penelitian ini. Dengan kata lain bentuk akrual yang dianalisis dalam penelitian ini adalah bentuk akrual diskresioner yang merupakan akrual tidak normal dan merupakan pilihan kebijakan manajemen dalam pemilihan metode akuntansi.

5. Biaya Modal Ekuitas

a. Pengertian Biaya modal Ekuitas

Biaya modal ekuitas merupakan sebuah perhitungan tingkat diskonto yang dikenakan pada saham perusahaan oleh pelaku pasar

(33)

atas dasar perkiraan arus kas masa depan perusahaan untuk menentukan harga. Biaya modal merupakan konsep yang dinamis yang dipengaruhi oleh beberapa faktor ekonomi. Struktur biaya modal didasarkan pada beberapa asumsi yang berkaitan dengan risiko dan pajak.

Biaya modal atau cost of capital adalah semua biaya yang secara riil dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka mendapakan sumber dana. Biaya modal atau cost of capital adalah rate of return minimum suatu perusahaan yang diukur berdasarkan proporsi ekuitas dari seluruh investasi agar dapat mempertahankan harga pasar sekuritasnya dan penentuan biaya modal sendiri adalah yang paling sulit dilakukan karena yang dijadikan sebagai dasar untuk penentuan biaya modal adalah arus kas terutama deviden dan pertumbuhannya.

Dari uraian definisi di atas dapat disimpulkan bahwa biaya modal ekuitas (cost of equity capital) merupakan suatu tingkat pengembalian minimum yang harus dihasilkan oleh perusahaan atas penggunaan dana yang diinvestasikan dalam suatu proyek yang berasal dari modal sendiri.

b. Komponen Biaya Modal

Biaya modal dihitung atas dasar sumber dana jangka panjang yang tersedia bagi perusahaan. Ada empat sumber dana jangka panjang yaitu:

(34)

1. Hutang jangka panjang

Biaya hutang jangka panjang adalah biaya hutang sesudah pajak saat ini untuk mendapatkan dana jangka panjang melalui pinjaman.

2. Saham preferen

Biaya saham preferen adalah dividen saham preferen tahunan dibagi dengan hasil penjualan saham preferen.

3. Saham biasa

Biaya modal saham biasa yaitu biaya modal ekuitas adalah besarnya rate yang digunakan oleh investor untuk mendiskontokan dividen yang diharapkan diterima di masa yang akan datang.

4. Laba ditahan

Laba ditahan adalah bagian dari laba tahunan yang diinvestasikan kembali dalam usaha selain dibayarkan dalam kas sebagai deviden

c. Pengukuran Biaya Modal Ekuitas

Pengukuran biaya modal saham biasa (biaya modal ekuitas), dipengaruhi oleh model penilaian perusahaan yang digunakan. Ada beberapa model penilaian perusahaan, antara lain:

1. Dividen Valuation Model (DVM)

DVM menyatakan bahwa harga saham merupakan nilai sekarang dari seluruh dividen kas masa depan, dimana dividen masa depan didiskontokan dari tingkat pengembalian yang

(35)

diisyaratkan terhadap suatu ekuitas, biaya modal ekuitas merupakan penjumlahan dari dividen periode mendatang dibagi dengan harga saham saat ini (D1/P0) dan tingkat pertumbuhan dividen (g).

r

e

=

D₁

+ g

re = biaya modal ekuitas D1= dividen satu periode (t) g = tingkat pertumbuhan dividen

P0 = harga saham

2. Capital Asset Pricing Model (CAPM)

Berdasarkan model CAPM, biaya modal saham biasa adalah tingkat return yang diharapkan oleh investor sebagai kompensasi atas resiko yang tidak dapat didiversifikasi yang diukur dengan beta. Brigham dan Houston (2011) prosedur menggunakan pendekatan CAPM adalah sebagai berikut :

a. Mengestimasi tingkat bebas risiko (rRF) yang umumnya ditetapkan berdasarkan tingkat suku bunga obligasi atau promes pemerintah.

b. Tentukan koefisien beta saham (bi) dan gunakan sebagai indeks risiko saham.

(36)

c. Mengestimasi perkiraan premi risiko pasar, yang merupakan perbedaan antara rata-rata pengembalian yang diminta oleh investor atas saham dengan tingkat bebas risiko (rM . rRf).

d. Melakukan substitusi nilai-nilai ke persamaan CAPM untuk mengestimasi tingkat pengembalian yang diminta atas saham.

rs= rRF+(rM–rRF)bi

3. Model Ohlson

Model Ohlson digunakan untuk mengestimasi nilai perusahaan dengan mendasarkan pada nilai buku ekuitas ditambah dengan nilai tunai dari laba abnormal. Dalam model Ohlson, biaya modal ekuitas dihitung berdasarkan tingkat diskonto yang dipakai investor untuk menilaitunaikan future cah flow.

r=(B – )

Keterangan:

Pt = harga saham pada periode t

Bt = nilai buku per lembar saham periode t Xt+1 = laba per lembar saham pada periode t+1 r = biaya modal ekuita

6. Penelitian Relevan

Terkait penelitian yang akan dilakuka terdapat penelitian sebelumnya dengan judul Pengaruh manajemen laba rill terhadap biaya ekuitas pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2013-2014 yang dilakukan oleh Raden Aditya Wijaya Dharma dan Dewi Ratnanigsih (2016) dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh manajemen laba rill

(37)

yang diproksikan dengan REM Index terhadap biaya modal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen laba rillyang dilakukan perusahaan melalui manipilasi penjualan produksi tidak berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas.

Selain itu penelitian dengan judul Pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage terhadap manajemen laba pada perusahaan manufatur yang terdaftar di bursa efek indnesia (BEI) yang dilakukan oleh Ketut gunawan. Nyoman Ari Surya Darmawan. Gusti Ayu Purnawanti (2015). Tujuan penelitian ini Untuk menganalisis pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage terhadap manajemen laba pada perusahaan manufatur yang terdaftar di bursa efek indnesia (BEI). Hasil dari penelitian tersebut Secara parsial ukuran perusahaan profitabilitas, dan leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.

Penelitian selanjutnya datang dari Wiwik Utami (2015) dengan judul Pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas ( studi pada perusahaan public sector manufaktur ) tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bukti empiris pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas. Hasil penelitian Manajemen laba memiliki pengaruh positif terhadap biaya modal ekuitas.

Kemudian penelitian oleh Aprina Nugrahesthy Sulistya Hapsari dan Steven Sindu Santoso (2015) dengan judul Analisis dividen sebagai indikatoras laba studi empiris perusahaan manufaktur sector konsumsi yang terdaftar di BEI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui

(38)

apakah perusahaan yang memebagikan dividen dalm jumlah besar memiliki kualitas laba yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang membagikan dividen dalam jumlah kecil atau yang tidak membagikan. Hasil penelitian Menunjukkah perusahaan yang membagikan dividen dalam jumlah besar memiliki kualitas laba yang lebih baik dan signifika secara statistik memiliki hubungan yang cukup signifikan terhadap kualitas laba.

Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Putu Putri Suriyani, Gede Adi Yuniarta, Ananta Wikrama T.A (2015) dengan judul Faktor- faktor yang mempengaruhi manajemen laba ( studi empiris pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2008-2013). Penelitian ini bertujuan Untuk menganalisis pengaruh kepemilikan institusional, dewan komisaris, presentasi saham publik, komite audit secara simultan dan parsial terhadap manajemen laba. Hasilnya adalah Secara parsial tidak terdapat pengaruh antara kepemilikan institusional, dewan komisaris, presentasi saham publik, komite audit terhadap manajemen laba.

Selain itu penelitian oleh Margareta Hastuti Purwaningtias dan Surifah (2015) dengan judul “ Pengaruh Manajemen Laba Actual Terhadap Biaya Modal Ekuitas Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2011-2013”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas. Manajemen laba diproksi dengan menggunakan model Jones, dan biaya modal ekuitas diestimasi dengan modal Ohlson. Hasil

(39)

penelitian ini berupa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Dhiba Meutya Chancera (2014) dengan judul pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas pada perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2008-2009.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas. Hasilnya menujukkan bahwa manajemen laba berpengaruh signifikan positif terhadap biaya modal ekuitas.

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Syahril (2013) yang berjudul “ Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial untuk manajemen laba pada perusahaan yang terdaftar dari sektor manufaktur di Bursa Efek Indonesia di tahun 2008, dengan hasil penelitian kepemilikan institusi berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

Selanjutnya penelitian oleh Etty Murwaningsari (2012) dengan judul Faktor-faktor yang mempengaruhi cost of capital, tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh asimetri informasi dan manajemen laba terhadap pengungkapan dan biaya modal. Hasil penelitian ini adalah pengaruh signifikan asimetri informasi dengan pengungkapan, asimetri informasi dengan biaya modal dan manajemen laba dengan biaya modal.

(40)

Sementara itu penelitian dengan judul pengaruh Manajemen Laba terhadap Biaya Modal Ekuitas pada Perusahaan Otomotif yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang dilakukan oleh Jumirin (2011) dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas perusahaan, mendapatkan hasil bahwa manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap biaya modal ekuitas pada perusahaan otomotif yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia.

Gambar 2.1

Penelitian Terdahulu Mengenai Pengaruh Mnajemen Laba Terhadap Modal Ekuitas Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

(BEI)

No Peneliti Judul Metode

Analisis Tujuan Kesimpulan

1. Raden Aditya Wijaya Dharma dan Dewi

Ratnaningsih (2016)

Pengaruh manajemen laba rill teradap biaya ekuitas pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2013-2014

Analisis deskriptif dengan uji statistic.

Untuk menguji pengaruh manajemen laba rill yang

diproksikan dengan REM Index terhadap biaya modal.

Menunjukkan bahwa manajemen laba rill yang dilakukan perusaaan melalui manipulasi

penjualan, produksi yang berlebihan tidak berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas.

2. Ketut gunawan.

Nyoman Ari Surya Darmawan.

Gusti Ayu Purnawanti (2015)

Pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage terhadap manajemen laba pada perusahaan

Analisis regresi berganda

Untuk menganalisis pengaruh ukuran perushaan, profitabilitas, dan leverage terhadap

manajemen laba

Secara parsial ukuran perusahaan profitabilitas, dan leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba. Sedangkan secara simultan

(41)

manufatur yang terdaftar di bursa efek indnesia (BEI)

padaperusahaan manufatur yang terdaftar di bursa efek indnesia (BEI)

ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.

3. Wiwik Utami

(2015) Pengaruh

manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas ( studi pada

perusahaan public sector manufaktur )

Regresi berganda dengan resiko beta dan ukuran

Untuk mengetahui bukti empiris pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas.

Manajemen laba memiliki pengaruh positif terhadap biaya modal ekuitas .

4. Aprina Nugrahesthy Sulistya

hapsari. Steven Sindu Santoso (2015)

Analisis dividen sebagai indikator kualitas laba studi empiris perusahaan manufaktur sector

konsumsi yang terdaftar di BEI

Analisis regresi berganda

Untuk mengetahui apakah perusahaan yang

membagikan dividen dalm jumlah besar memiliki kualitas laba yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang

membagikan dividen dalam jumlah kecil atau yang tidak membagikan.

Menunjukkah perusahaan yang membagikan dividen dalam jumlah besar memiliki kualitas laba yang lebih baik dan signifika secara statistik memiliki hubungan yang cukup signifikan terhadap kualitas laba.

5. Putu Putri Suriyani, Gede Adi Yuniarta, Ananta Wikrama T.A (2015)

Faktor-faktor yangmempengaruhi manajemen laba ( studi empiris pada

Analisis regresi linear berganda

Untuk menganalisis pengaruh kepemilikan institusional, dewan

Secara parsial tidak terdapat pengaruh antara kepemilikan institusional, dewan komisaris, presentasi saham publik,

(42)

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2008- 2013)

komisaris, presentasi saham publik, komite audit secara simultan dan parsial terhadap manajemen laba.

komite audit

terhadap manajemen laba. Secara

simultan terdapat pengaruh antara kepemilikan

institusional, dewan komisaris, presentasi saham publik, komite audit

terhadap manajemen laba.

6. Margareta Hastuti

Purwaningtias

& Surufah (2015)

Pengaruh manajemen laba aktrual terhadap biaya modal ekuitas pada

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2011-2013

Mengguna kan model Jones dan model Olshon.

Untuk mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas. Hal ini di mungkinkan karena investor mempertimbangkan besarnya aktrual dalam menentukan tingkat imbalan hasil saham yang

diperoleh 7. Dhiba Meutya

Chancera (2014)

Pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas pada perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2008-2009

Analisis regresi berganda

Untuk mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas.

Menunjukkan bahwa manajemen laba berpengaruh signifikan positif terhadap biaya modal ekuitas. Ini menunjukkan bahwa investor telah

mengantisipasi benar tentang informasi mengenai

manajemen laba.

8. Syahrial

(2013) Faktor-faktor yang

mempengaruhi manajemen

Analisis regresi berganda

Untuk menguji pengaruh kepemilikan institusional dan

Kepemilikan

institusi berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Ini

(43)

laba pada perusahaan manufaktu terdaftar di Bursa Efek Indonesia

kepemilikan

manajerial berarti semakin besar kepemilikan institusi maka akan semakin besar pula laba yang di dapatkan.

9. Etty

Murwaningsari (2012)

Faktor-faktor yang

mempengaruhi cost of capital

Model

statistic Untuk

mengidentifikas ipengaruh asimetri informasi dan manajemen laba terhadap

pengungkapan dan biaya modal

Ada tiga hipitesis yang memiliki pengaruhsignifikan, asimetri informasi dengan

pengungkapan, asimetri informasi dengan biaya modal, dan manajemen laba dengan biaya modal.

10. Jumirin (2011) pengaruh Manajemen Laba terhadap Biaya Modal Ekuitas pada Perusahaan Otomotif yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Analisis statistik dengan mengguna kan uji regresi sederhana.

Untuk mengetahui apakah

manajemen laba berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas perusahaan.

Manajemen laba mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap biaya modal.

(44)

B. Kerangka Pikir

Manajemen laba adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh manajer melalui pemilihan kebijakan akuntansi yang bertujuan untuk memaksimalkan utilitas manajemen dan meningkatkan nilai pasar perusahaan, dalam penelitian ini manajemen laba diukur berdasarkan rasio akrual modal kerja dan penjualan. Kemudian, Biaya Modal Ekuitas merupakan sebuah perhitungan tingkat diskonto yang dikenakan pada saham perusahaan oleh pelaku pasar atas dasar perkiraan arus kas masa depan perusahaan untuk menentukan harga.

Biaya modal ekuitas diukur dengan menggunakan model ohlson yang menyatakan bahwa nilai perusahaan didasarkan pada nilai buku ekuitas ditambah dengan nilai tunai dari laba abnormah.

Berdasarkan uraian-uraian diatas, untuk lebih jelasnya dapat digambarkan sebagai berikut :

Pengaruh antara manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas

Gambar 2.2 Kerangka Pikir Manajemen Laba

 Akrual modal kerja

 penjualan

Biaya Modal Ekuitas

 Model Ohlson

(45)

Gambar 2.2 Kerangka Pikir C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pikir yang telah diuraikan, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap biaya modal ekuitas (pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia)”.

(46)

31 A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Bursa Efek Indonesia. Yang beralamat di jl. Dr. Sam Ratulangi no. 124 Makassar. Lamanya waktu penelitian yang dilakukan adalah 2 bulan mulai dari Juni – Juli 2017

B. Jenis dan Tehnik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder kuantitatif. Data sekunder merupakan data yang diperoleh seorang peneliti tidak secara langsung dari objeknya, tetapi melalui sumber lain baik lisan maupun tulisan, yaitu data mengenai akrual modal kerja yang dapat diperoleh dari Laporan Arus Kas dari aktivitas operasi dan data mengenai biaya modal ekuitas dihitung berdasarkan tingkat diskonto yang dipakai investor untuk menilai tunaikan future cash flow laporan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia Perode 2010-2012.

Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik dokumentasi yang terdiri dari penelusuran manual dan penelusuran computer. Penelusuran secara manual yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang suda disajikan kedalam format kertas hasil cetakan antara lain berupa buku, majalah, jurnal atau sumber data lainnya. Data yang memerlukan penelusuran komputer adalah data yang disajikan kealam bentuk

(47)

eletronik, penelusuran data dengan menggunakan komputer yaitu melalui akses internet www.idx.co.id.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purpose sampling yaitu pengambilan sampel yang berdasarkan pertimbangkan subyektif penelitian yang disesuaikan dengan tujuan penelitian.

Adapun kriteria sampel yang termasuk dalam kategori penelitian ini adalah:

a. Perusahaan tersebut bergerak di bidang makanan dan minuman yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2011.

b. Memiliki laporan keuagan dan tahunan yang lengkap selama tahun 2010-2012.

c. Perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012.

d. Perusahaan Manufaktur memiliki tahun buku beakhrir 31 Desember.

(48)

Tabel 3.1 Sampel Penelitian

No Kode Nama Perusahaan

1. DLTA Delta Djakarta Tbk

2. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk 3. MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk 4. MYOR Mayora Indah Tbk

5. PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk 6. ROTI Nippon Indosari Corporindo Tbk

7. ULTJ Ultrajaya Milk Industri & Tranding Compani Tbk

D. Defenisi Operasional

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi mengenai hal tersebut. Variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel terkait di dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan dengan benar. Variabel dalam penelitian ini adalah manajemen laba yang merupakan variabel independen dan biaya modal ekuitas yang merupakan variabel dependen.

1. Variabel Independen (X)

Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel independen dalam penelitian ini adalah manajemen laba.

(49)

Manajemen laba adalah campur tangan manajemen dalam proses pelaporan keuangan dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri, yang mencakup usaha manajemen untuk memaksimumkan, atau meminimumkan laba, termasuk perataan laba sesuai dengan keinginan manajemen tersebut.

Dalam penelitian ini manajemen laba diproksi dengan menggunakan model yang diukur berdasarkan rasio akrual modal kerja dengan penjualan. Rumus yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Manajemen Laba (ML) = Akrual Modal Kerja(t) Penjualan (t) Akrual Modal Kerja = ΔAL ΔHL Δkas Keterangan :

ΔAL = Perubahan aktiva lancar pada periode t ΔHL = Perubahan hutang lancar pada periode t ΔKas= Perubahan kas dan ekuitas kas pada periode t 2. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas, atau variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah biaya modal ekuitas.

Biaya modal ekuitas diproksi dengan menggunakan model Ohlson yang telah dimodifikasi model Utami (2005), alasan

(50)

menggunakan model yang sama dengan penelitian sebelumnya karena ingin melihat apakah dengan menggunakan model yang sama akan mendapatkan hasil yang sama dengan peneliti sebelumnya.

Rumus biaya modal ekuitas adalah sebagai berikut:

r

=

(B – )

Keterangan:

Pt = harga saham pada periode t

Bt = nilai buku per lembar saham periode t Xt+1 = laba per lembar saham pada periode t+1 r = biaya modal ekuitas

Tabel 3.2 Defenisi Operasional

Variabel Konsep Variabel Indikator Skala

Variabel X : Manajemen Laba

Manajemen laba merupakan pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajer atau tindakan yang dapat mempengaruhi laba yang bertujuan untuk mencapai beberapa tujuan dalam pelaporan laba.

Akrual modal kerja terhadap penjualan

Rasio

Variabel Y : Biaya Modal Ekuitas

Biaya modal dalam bentuk modal sendiri merupakan tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemilik sebelum mereka menyerahkan dananya ke perusahaan

Tingkat diskonto yang digunakan untuk menilai tunaikan future cash flow

Rasio

(51)

F. Metode Analisis

Agar mendapatkan hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian, maka diperlukan metode analisis data yang benar. Metode analisa data pada penelitian ini adalah:

1. Analisis Regresi Linier Sederhana

Analisis regresi dilakukan untuk mengetahui bagaimana variable dependen/kriteria dapat diprediksikan melalui variabel independen/prediktor secara individual. Dampak dari penggunaan analisis regresi dapat digunakan untuk memutuskan apakah naik dan menurunnya variabel dependen dapat dilakukan dengan menaikkan atau menurunkan keadaan variable independen, atau untuk meningkatkan keadaan variabel dependen dapat dilakukan dengan menurunkan variabel independen dan sebaliknya. Model regresi linier sederhana untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y = a + bx Keterangan :

Y = Nilai Biaya Modal Ekuitas X = Nilai Manajemen Laba

a = Konstanta (nilai Y bila X = 0) b = Koefisien regresi linier

n = Banyaknya sampel

(52)

2. Kriteria Pengujian Hipotesis

Jika menggunakan tingkat signifikansi sebesar 5% (α = 0,05), maka kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis adalah sebagai berikut :

H0 = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara manajemen laba dan biaya modal ekuitas.

H1= Terdapat pengaruh yang signifikan antara manajemen laba dan biaya modal ekuitas.

H0ditolak jika P < α dan H0diterima jika P ≥ α, Dimana :

P = signifikansi (sig) α = 0,05

1) Jika t hitung t tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. Artinya antara variabel independen dan variabel dependen tidak ada hubungannya.

2) Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima. Artinya antara variabel independen dan variabel dependen ada hubungannya.

(53)

39 A. Sejarah Singkat dan Visi Misi Perusaaan

1. DLTA ( Delta Djakarta Tbk).

a. Sejarah Singkat

PT Delta Djakarta Tbk. (“PT Delta” atau “Perusahaan”) pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1932 sebagai perusahaan bir Jerman yang bernama “Archipel Brouwerij, NV.” Perusahaan kemudian dibeli oleh kelompok usaha Belanda dan berganti nama menjadi NV De Oranje Brouwerij. Perusahaan menggunakan nama PT Delta Djakarta sejak tahun 1970. Pada tahun 1984, PT Delta Djakarta menjadi salah satu perusahaan Indonesia pertama yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia), mengokohkan statusnya sebagai pemain utama di industri bir dalam negeri.

Di era tahun 1990an, penanaman modal asing mengalir deras ke Indonesia. Pada masa inilah San Miguel Corporation ("SMC") menjadi pemegang saham pengendali di Perusahaan. San Miguel Corporation adalah salah satu konglomerat terbesar dan paling terdiversifikasi asal Filipina yang bergerak dalam berbagai bidang usaha mencakup minuman, makanan, kemasan, pembangkit tenaga listrik, bahan bakar dan penyulingan minyak, infrastruktur, pertambangan dan telekomunikasi.

(54)

Pemerintah Daerah DKI Jakarta juga menjadi pemegang saham utama di Perusahaan. Pada tahun 1997, Perusahaan memulai rencana ekspansi agresifnya dengan memindahkan fasilitas produksi birnya dari Jakarta Utara ke Bekasi, Jawa Barat dengan fasilitas yang lebih modern dan lebih luas. PT Jangkar Delta Indonesia, didirikan pada tahun 1998, adalah anak perusahaan PT Delta Djakarta yang bertindak sebagai distributor tunggal, dengan jaringan distribusi yang terbentang dari Medan di Sumatera Utara sampai Jayapura di Papua. PT Delta Djakarta memproduksi bir Pilsner dan Stout berkualitas terbaik yang dijual di pasar domestic Indonesia, dengan merek dagang Anker Bir, Anker Stout, Carlsberg, San Miguel Pale Pilsen, San Mig Light dan Kuda Putih.

b. Visi dan Misi 1) Visi Perusahaan

Menjadi nomor satu di pasar minuman berbasis malt di Indonesia.

2) Misi Perusahaan

a) Memproduksi minuman berkualitas dan aman dengan biaya optimal, yang akan memberikan hasil terbaik untuk pelanggan, melalui karyawan dan mitra bisnis yang handal.

b) Memberikan keuntungan yang terbaik kepada pemegang saham.

c) Memberi kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan kemampuan diri dan profesionalisme di lingkungan kerja.

d) Peduli terhadap masyarakat sekitar dan lingkungan Perseroan.

(55)

2. INDF ( Indofood Sukses Makmur Tbk) a. Sejarah Singkat

Indofood Sukses Makmur Tbk didirikan tanggal 14 Agustus 1990 dengan nama PT Pangan Jaya Intikusuma dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1990. Kantor pusat INDF berlokasi di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Lantai 21, Jl. Jenderal. Sudirman Kav. 76-78, Jakarta 12910 – Indonesia. Sedangkan pabrik dan perkebunan INDF dan anak usahan berloksi diberbagai tempat di Pulau Jawa, Sumater, Kalimantan, Sulawesi dan Malaysia.

Indofoot telah memiliki produk-produk dengan merek yang telah dikenal oleh masyarakat, antara lain mie instan (indomie, supermi, sarimi, sakura, pop mie, pop bihun dan mie telur cap 3 ayam), dan masih banyak lagi lainnya. Pada tahun 1994, INDF memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam- LK untuk melekukan penawaran umum perdana Saham INDF (IPO) kepada masyarakat sebanyak 21.000.000 dengan nilai nominal Rp.

1000,- per saham. Saham- saham tersebut dicatat pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 14 Juli 1994.

b. Visi dan Misi 1) Visi Perusahaan

Perusahaan total Food Solutions.

(56)

2) Misi Perusahaan

a) Memberikan solusi atas kebutuhan pangan secara berkelanjutan senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi dan teknologi kami.

b) Memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.

c) Meningkatkan stakeholders values secara berkesinambungan 3. MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk)

a. Sejarah Singkat

Pada tahun 1929 didirikan N.V. Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen di Medan Brewery pertama berada di Surabaya dan secara resmi beroperasi secara komersial sejak 21 November 1931. Pada tahun 1936, tempat kedudukan Perseroan dipindahkan dari Medan ke Surabaya dan Heineken menjadi pemegang saham terbesar Perseroan.

Nama Perseroan kemudian diubah menjadi N.V. Heineken’s Nederlandsch-Indische Bierbrouweerijen Maatschappij. Lalu pada tahun 1951, Perseroan kembali berubah nama menjadi Heineken’s Indonesische Bierbrouwerijen Maatschappij N.V.

Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan, Perseroan membangun brewery yang ke-dua di Tangerang pada tahun 1972. Di tahun yang sama pula, nama Perseroan diganti menjadi P.T. Perusahaan Bir Indonesia. Brewery yang kedua ini kemudian mulai beroperasi pada

(57)

tahun 1973. Pada tanggal 1 Januari 1981, Perseroan mengambil alih P.T.

Brasseries de l’Indonesie yang memproduksi bir dan minuman ringan di Medan. Untuk mencerminkan peningkatan usaha dan aktifitas akuisisi ini, sejak tanggal 2 September 1981, nama Perseroan diubah menjadi P.T.

Multi Bintang Indonesia dan tempat kedudukan kemudian dipindahkan ke Jakarta. Selanjutnya, Perseroan juga tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada tahun 2014, Multi Bintang sekali lagi menciptakan tonggak sejarah dengan membangun fasilitas produksi baru yang dilengkapi teknologi canggih untukmmemproduksi minuman non-alkohol di SampangmAgung, Jawa Timur. Dengan investasi sekitar Rp210 miliar, fasilitas produksi baru ini dibangun hanya dalam waktu 9 bulan dan secara resmi mulai beroperasi pada Desember 2014. Dengan sejarah yang panjang di Indonesia, Perseroan pun identik dengan salah satu produk unggulan yaitu Bir Bintang, sebuah merek bir yang ikonik dan telah dikenal luas di Indonesia. Multi Bintang juga memproduksi dan memasarkan merek bir premium internasional, Heineken®; minuman bebas alkohol Bintang Zero; invovasi produk terbaru Bintang Radler, kombinasi unik Bir Bintang dengan rasa buah lemon alami untuk memberikan kesegaran ganda; dan minuman ringan berkarbonasi, Green Sands.

(58)

b. Visi dan Misi 1) Visi Perusahaan

Melalui performanya, mereknya dan orang-orangnya.

2) Misi Perusahaan

Menjadi perusahaan minuman Indonesia yang memiliki reputasi baik dan bertanggung jawab, dengan portofolio merek bird an minuman ringan terkemuka

4. MYOR (Mayora Indah Tbk) a. Sejarah Singkat

PT. Mayora Indah Tbk. (Perseroan) didirikan pada tahun 1977 dengan pabrik pertama berlokasi di Tangerang dengan target market wilayah Jakarta dan sekitarnya. Setelah mampu memenuhi pasar Indonesia, Perseroan melakukan Penawaran Umum Perdana dan menjadi perusahaan publik pada tahun 1990 dengan target market; konsumen Asean. Kemudian melebarkan pangsa pasarnya ke negara negara di Asia.

Saat ini produk Perseroan telah tersebar di 5 benua di dunia.

Sebagai salah satu Fast Moving Consumer Goods Companies, PT.

Mayora Indah Tbk telah membuktikan dirinya sebagai salah satu produsen makanan berkualitas tinggi dan telah mendapatkan banyak penghargaan, diantaranya adalah “Top Five Best Managed Companies in Indonesia”

dari Asia Money, “Top 100 Exporter Companies in Indonesia” dari majalah Swa, “Top 100 public listed companies” dari Investor Magazine

(59)

Indonesia, “Best Manufacturer of Halal Products” dari Majelis Ulama Indonesia, dan banyak lagi penghargaan lainnya.

b. Visi dan Misi

1) Menjadi produsen makanan dan minuman yang berkualitas dan terpercaya di mata konsumen domestik maupun internasional dan menguasai pangsa pasar terbesar dalam kategori produk sejenis.

2) Dapat memperoleh Laba Bersih Operasi diatas rata rata industri dan memberikan value added yang baik bagi seluruh stakeholders Perseroan.

3) Dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan negara dimana Perseroan berada.

5. PSDN (Prasidha Aneka Niaga Tbk) a. Sejarah Singkat

Perseroan didirikan dengan Akta Pendirian nomor 7 tanggal 16 April 1974, semula bernama PT Aneka Bumi Asih dan berkedudukan di Jakarta. Mendapat Pengesahan dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman nomor Y.A.5/358/23 tanggal 3 Oktober 1974 dan diumumkan dalam Berita Negara nomor 37 tanggal 10 Mei 1994, Tambahan nomor 2488.

Pada tanggal 24 Mei 1994 Perseroan telah menandatangani Perjanjian Pendahuluan Pencatatan Efek dengan Bursa Efek Jakarta, disusul pada tanggal 1 Juni 1994 dengan Bursa Efek Surabaya dengan

(60)

nilai nominal Rp.1.000,- untuk ditawarkan kepada masyarakat dengan harga Penawaran Rp.3.000,- per saham. Pada tanggal 22 September 1994, Perseroan mendapatkan Pemberitahuan Efektif Pernyataan Pendaftaran nomor S-1645/PM/1994 dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal

b. Visi dan Misi 1) Visi Perusahaan

Menjadi perusahaan Agro Bisnis terdepan dengan manejemen profesional.

2) Misi Perusahaan

a) PT Prasidha Aneka Niaga Tbk mengembangkan usahanya atas dasar saling menghormati serta mempercayai. Kunci suksesnya perusahaan dalam membangun kepercayaan internasional adalah melalui pelayanan yang prima dan menjaga standar kualitas yang tinggi terhadap semua relasi bisnisnya.

b) Melalui kerja keras, dukungan serta kerjasama yang erat antara karyawan dan pimpinan, perusahaan selalu berupaya mengoptimalkan seluruh sumber daya perusahaan guna mencapai tujuan usaha

6. ROTI (Nippon Indosari Corporindo Tbk) a. Sejarah Singkat

Berdiri sebagai sebuah perusahaan Penanaman Modal Asing dengan nama PT Nippon Indosari Corporation. Perseroan beroperasi

(61)

secara komersial dengan memproduksi roti “Sari Roti” dan mengoperasikan pabrik pertama di Cikarang, Jawa Barat, pada tahun 2001, untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat perseroan meningkatkan kapasitas produksi dengan menambahkan dua lini mesin (roti tawar dan roti manis).

Pada tahun 2003, Merubah nama Perseroan dari PT Nippon Indosari Corporation menjadi PT Nippon Indosari Corpindo. Kemudian pada tahun 2006 Perseroan mendapatkan sertifikat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yaitu sertifikat jaminan keamanan pangan sebagai bukti komitmen Perseroan dalam mengedepankan prinsip 3H (Halal, Healthy, Hygienic) pada setiap produk Sari Roti. Selain itu, seluruh produk Sari Roti telah terdaftar melalui Badan BPOM Indonesia dan memperoleh sertifikat Halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia.

b. Visi dan Misi 1) Visi Perusahaan

Senantiasa tumbuh dan mempertahankan posisi sebagai perusahaan roti terbesar di Indonesia melalui penetrasi pasar yang lebih luas dan dalam dengan menggunakan jaringan distribusi yang luas untuk menjangkau konsumen di seluruh Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa fungsi terpenoid rendah dalam tumbuhan lebih bersifat ekologi dari pada fisiologi, tetapi banyak jenis senyawa ini yang menghambat

Tingkat  Pengangguran  Terbuka  (TPT)  tertinggi  di  Papua  berada  pada  penganggur  dengan  tingkat . pendidikan  sekolah  menengah  kejuruan  yang  mencapai 

Cara mandi wajib yang paling baik adalah mengikuti cara yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi.. Membaca bismillah sambil berniat untuk membersihkan

Adanya perbedaan tingkat kecerdasan emosional antara siswi yang bersekolah di SMA MUHAMADYAH dan SMA N 2 bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: faktor sosial

Salah satu pondasi yang digagas oleh UNESCO yang sering kita sebut sebagai empat pilar pendidikan, kemudian dalam pendidikan Islam juga mengenal ada istilah tiga

Tujuan pemberian beasiswa pada dasarnya adalah untuk mendukung kemajuan dunia pendidikan. Pemerataan kesempatan belajar bagi para mahasiswa yang berprestasi dan

[r]

Penelitian burnout sebagai variabel mediasi dalam role stress model diharapkan dapat membuktikan bahwa konstruk burnout sangat relevan diterapkan pada bidang