7 2.1 Tinjauan Topik
Environmentally sustainable, healthy and livable human settlement
bergantung pada penciptaan lingkungan yang lebih baik bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia, yang akan meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat dan mengurangi kesenjangan dalam kualitas hidup mereka. Kesehatan penduduk bergantung sama banyaknya dengan pengendalian masalah lingkungan kesehatan yang buruk, seperti pada respon klinis terhadap penyakit. Anak-anak sangat rentan terhadap lingkungan perkotaan yang berbahaya dan harus dilindungi. Langkah-langkah untuk mencegah penyebaran penyakit sama pentingnya dengan ketersediaan perawatan medis yang tepat. Oleh karena itu penting untuk mengambil pendekatan holistik terhadap kesehatan, dimana pencegahan dan perawatan ditempatkan dalam konteks kebijakan lingkungan, didukung oleh sistem manajemen yang efektif dan rencana tindakan menggabungkan target yang mencerminkan kebutuhan dan kapasitas lokal.
2.1.1 Tinjauan Healing Environment
Healing Environment merupakan salah satu bagian dari environmentally sustainable, healthy and livable human settlement. Kata “healing” atau
penyembuhan berasal dari bahasa Anglo-Saxon “haelen” yang berarti keseluruhan atau dapat pula diartikan sebagai keselarasan antara pikiran, tubuh, dan jiwa.
Penyembuhan tidak sama dengan pengobatan. Pengobatan terfokus pada memperbaiki masalah, memberantas penyakit, dan mengurangi gejala. Manusia dapat disembuhkan (secara psikologis) walaupun mereka tidak sembuh (secara jasmani). Misalnya, mereka yang memiliki penyakit kronis dapat belajar untuk berdamai dengan kondisi mereka sendiri. Seorang wanita yang menderita kanker payudara akan semakin tertekan bila kondisi jiwanya penuh dengan amarah dan duka. Dengan demikian, Healing Environment merupakan sebuah lingkungan yang dirancang untuk menciptakan keharmonisan antara pikiran, tubuh, dan jiwa.
Sejumlah penelitian telah menghubungkan kondisi lingkungan fisik rumah sakit dengan hasil kesehatan. Menurut Ulrich dan Zimring dalam jurnal “Role Of
menyatakan, lebih dari 600 penelitian yang menggambarkan bagaimana aspek desain perawatan kesehatan dapat mempengaruhi kesembuhan pasien. Sebagian besar penelitian ini telah menunjukan bahwa rumah sakit konvensional telah dirancang dengan skema warna yang hambar, lorong-lorong yang bergema, kamar pasien yang sempit dan kaku, telah memberikan konstribusi terhadap stress.
E.R.C.M Huisman, E. Morales, J. van Hoof, dan H.S.M Kort dalam jurnal “Healing Environment: A review of the impact of physical environmental factors on
users” tahun 2012, ada enam topik utama yang mempengaruhi Healing Environment, yaitu:
• Mereduksi faktor human error
Salah satu kekhawatiran utama pasien adalah faktor human error yang mungkin terjadi oleh tenaga medis. Untuk mengurangi faktor tersebut terdapat beberapa solusi desain yaitu:
a. Ruang kamar yang identik
Adanya standarisasi dan keseragaman bentuk kamar pasien beserta perlengkapannya dapat memudahkan dan mengurangi kesalahan dari tenaga medis rumah sakit yang mungkin terjadi. Ketika fasilitas rawat memiliki bentuk yang sama persis, tenaga medis rumah sakit akan bekerja dengan pelayanan yang sama persis pada tiap pasien. Hal ini dapat mengurangi kesalahan-kesalahan fatal yang mungkin terjadi.
b. Pencahayaan
Pencahayaan pada tiap ruang harus diperhatikan agar mencukupi tiap-tiap kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh tenaga medis. Pencahayaan yang kurang akan meningkatkan faktor kesalahan tindakan penanganan pasien. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan solusi desain yang sesuai adalah mengatur ruang yang sama persis dan mengatur pencahayaan ruang.
• Meningkatkan keamanan pasien
Aspek ini berhubungan dengan pengaturan seluruh elemen dan perangkat rumah sakit dengan tujuan meningkatkan keamanan pasien. Untuk menunjang topik ini terdapat beberapa usaha yang dapat dilakukan, yaitu mengurangi resiko jatuh pada pasien, mengurangi resiko infeksi yang mungkin terjadi pada ruang, dan kualitas udara ruang.
Memberikan pasien pilihan akan lingkungannya sendiri menjadi kunci penting dalam psikologi lingkungan. Pemberian kontrol penuh kepada pasien memberikan pasien ketenangan dan mereduksi kadar stress pasien. Hal-hal yang berkaitan dengan kontrol lingkungan adalah kontrol akan posisi tempat tidur, kontrol akan temperatur, kontrol akan pencahayaan, kontrol akan suara, dan kontrol akan cahaya alami.
• Privasi
Hal ini berhubungan dengan kenyamanan pasien melakukan aktivitas sehari-harinya didalam ruangan. Solusi desain dari aspek ini adalah single-room. • Kenyamanan
Kenyamanan berhubungan dengan pengaruh lingkungan terhadap perilaku pasien. Aspek ini membahas mengenai material yang digunakan, positive
distractor yang ditambahkan dalam ruang seperti seni, view, dan visual comfort,
kenyamanan akustik, dan orientasi ruang. • Dukungan keluarga
Pengunjung yang menjenguk pasien memiliki peran penting dalam penyembuhan pasien. Aspek ini membahas mengenai pengakomodasian keluarga dan pengunjung dalam perancangan kamar rawat pasien. Fasilitas untuk keluarga dan pengunjung harus dirancang dengan nyaman agar keluarga dapat menemani pasien dengan nyaman.
• Memasukan unsur lingkungan
Unsur lingkungan dapat menjadi terapi yang baik bagi pasien. Banyak hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa pasien yang keluar kamar minimal sehari sekali untuk berjalan-jalan di taman dan mendapatkan udara segar memiliki tingkat kesembuhan yang lebih tinggi dibanding dengan pasien yang selalu berada di dalam kamarnya. Oleh karena itu perancangan lingkungan alami menjadi salah satu poin penting dalam aspek Healing Environment.
Berdasarkan penjelasan tersebut, variabel yang mempengaruhi Healing
Tabel x Variabel Healing Environment
Variabel Indikator
Reduction of errors Layout kamar seragam
Pencahayaan
Increasing safety and security
Menghindari resiko jatuh Menghindari resiko infeksi Kualitas udara dalam ruang
Enhancing control Kontrol posisi tempat tidur Kontrol suhu ruang
Kontrol pencahayaan Kontrol suara
Kontrol pencahayaan alami
Privacy Kamar pribadi
Comfort Material Seni View Kenyamanan visual Kenyamanan akustik Orientasi
Family support Ruang tunggu keluarga Ruang sosialisasi keluarga
Natural Distraction Healing garden
2.1.2 Healing Environment Dalam Arsitektur
Laurens (2004) menyatakan bahwa manusia normal dengan segala kelengkapan dan psikis memungkinkan untuk menyesuaikan respon terhadap stimulus yang diterimanya dan ketika stimulus yang diterima berada di luar batas optimal, mereka data mengalami stress psikologis yang mengharuskan proses adaptasi secara dinamis.
Kegagalan proses adaptasi seseorang terhadap lingkungannya dapat menyebabkan stress psikologis, terutama pada seseorang yang sedang sakit (pasien). Stress psikologis dalam diri pasien sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhannya. Konsep Healing Environment dalam lingkungan rumah sakit ditujukan untuk menyeimbangkan penyebuhan medik dengan potensi internal pasien (respon pasien terhadap lingkungan). Penerapan ini akan tampak pada kondisi akhir kesehatan pasien, yaitu pengurangan waktu rawat, pengurangan biaya pengobatan, pengurangan rasa sakit, pengurangan rasa stress, membangkitkan suasana hati yang positif, membangkitkan semangat, dan meningkatkan pengharapan pasien pada lingkungan (Debri Harynda Putri, 2013).
Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut, Healing Environment
membahas mengenai pengkondisian suatu lingkungan. Arsitektur tidak akan pernah terlepas dari perancangan suatu lingkungan hidup manusia, oleh karena itu penerapan konsep Healing Environment kedalam perancangan arsitektur diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesembuhan pasien didalam rumah sakit.
2.2 Tinjauan Rumah Sakit
Menurut Assosiation of Hospital Care (1947) dikutip dari Iwan (2011), rumah sakit merupakan pusat pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan serta penelitian kedokteran diselenggarakan. Menurut Wopler dan Pena (1997) dikutip dari Iwan (2011), rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat, dan tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan.
2.2.1 Fungsi Rumah Sakit
Menurut Permenkes RI No. 159b/MenKes/Per/1998, fungsi rumah sakit adalah:
a. Menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan medik, penunjang medik, rehabilitasi, pencegahan dan peningkatan kesehatan.
b. Menyediakan tempat pendidikan dan atau latihan tenaga medik dan paramedis. c. Tempat penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan.
2.4.2 Tugas Rumah Sakit
Tugas rumah sakit adalah melaksanakan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan kegiatan penyembuhan penderita dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan seara terpadu.
2.4.3 Klasifikasi Rumah Sakit
Menurut Azwar (1996), ada lima jenis rumah sakit ditinjau dari kemampuan yang dimiliki, yakni:
1. Rumah Sakit Kelas A
Rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas, biasa disebut rumah sakit pusat.
2. Rumah Sakit Kelas B
Rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis luas dan subspesialis terbatas.
3. Rumah Sakit Kelas C
Rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas. 4. Rumah Sakit Kelas D
Rumah sakit yang bersifat transisi karena pada suatu saat akan ditingkatkan menjadi rumah sakit kelas C.
5. Rumah Sakit Kelas E
Rumah sakit khusus yang hanya menyelenggarakan satu macam pelayanan kedokteran saja.
2.3 Tinjauan Rumah Sakit Ibu dan Anak
Rumah Sakit Ibu dan Anak berdasarkan klasifikasi tipe rumah sakit adalah rumah sakit khusus tipe E (spesial hospital) yang menyalenggarakan hanya satu macam pelayan kesehatan kedokteran saja, yaitu dalam bidang pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak. Di dalam Rumah Sakit Ibu dan Anak pelayanan dan fasilitas yang ada ditujukan supaya ibu dan anak merasa aman serta nyaman untuk berada di rumah sakit. Diketahui bahwa baik ibu yang sedang mengandung maupun tidak serta ibu yang sedang mengalami penyakit seputar kehamilan memiliki karakter yang berbeda, sehingga perlu pelayanan khusus untuk para ibu di bidang kesehatan. Hal ini hampir serupa dengan karakter anak kecil yang tidak mungkin disamakan dengan orang dewasa pada umumnnya, sehingga dalam perkembangan jaman saat ini, pelayanan maupun fasilitas bagi ibu dan sangat diharapkan keberadaannya.
2.3.1 Jenis Pelayanan Pada Rumah Sakit Ibu dan Anak
Pelayanan pada Rumah Sakit Ibu dan Anak yang diberikan kepada pasien antara lain :
a. Preventif
Merupakan pelayanan untuk mencegah pasien terjangkit dari penyakit, hal ini dapat dilakukan dengan cara :
• Pemeriksaan rutin terhadap perkembangan bayi dan ibu hamil • Konsultasi kesehatan
• Imunisasi dan KB b. Kuratif
Merupakan usaha penyembuhan pada pasien dengan cara pengobatan dan perawatan berupa :
• Persalinan • Pembedahan • Pengobatan c. Rehabilitasi
Merupakan tindakan penyembuhan kondisi fisik pasien setelah melampaui masa pengobatan berupa :
• Perawatan atau pemulihan kesehatan • Perawatan bayi
2.3.2 Kegiatan di Rumah Sakit Ibu dan Anak:
Kegiatan Medis • Poliklinik
Merupakan bagian yang melayani pasien rawat jalan khususnya pasien bayi atau anak, ibu hamil, atau ibu yang memiliki penyakit kandungan. Poliklinik biasanya terdiri dari beberapa poli, antara lain :
• Poli Anak
Merupakan unit yang melayani anak usia 0-12 tahun, pelayanan berupa imunisasi, konsultasi kesehatan, perkembangan kesehatan anak dan pengobatan penyakit anak.
• Poli Kandungan dan Kebidanan
Berdasarkan ketentuan dari Departemen Kesehatan RI, setiap rumah sakit harus dilengkapi dengan spesialisasi lainnya, salah satunya adalah unit kandungan. • Poli Gizi
Merupakan unit yang mengontrol segala nutrisi dan gizi dari pasiennya, khususnya ibu dan anak, karena diketahui baik ibu dan anak membutuhkan asupan gizi yang cukup.
• Unit Gawat Darurat
Merupakan bagian pertolongan pertama kepada pasien. Unit ini bekerja tiap hari selama 24 jam dan bersifat sementara, bisa juga merupakan unit pengganti poliklinik ketika sudah tutup. Kegiatan pelayanan di UGD meliputi :
• Pasien diterima di UGD
• Pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter
• Jika kondisi pasien membaik maka diperbolehkan untuk pulang, namun jika tidak maka akan di bawa ke ruang perawatan.
• Farmasi
Penyediaan fasilitas berupa apotik serta penyediaan obat-obatan. Sasarannya adalah pasien poloklinik dan umum. Pendistribusian obat dilakukan ke bagian perawatan, pelayanan dan penunjang secara medis.
• Terapi
Merupakan kegiatan-kegiatan fisik yang berguna untuk memulihkan kondisi pasien. Pelayanan ini berupa penggunaan otot-otot motorik pada tingkat sederhana baik pada pasien rawat jalan maupun rawat inap.
• Bedah
Terdiri dari bagian operasi atau pembedahan yang digunakan untuk menolong kelahiran secara operasi dan bagian persalinan normal.
• Perawatan
Perawatannya dibrdakan antara perawatan normal dengan perawatan isolasi. Bagian ini dibedakan atas perawatan ibu dan bayi, masing-masing bagian perawatan mendapat pengawasan dari stasiun perawat. Beberapa macam perawatan antara lain :
• Perawatan umum
Perawatan kepada pasien yang bersifat umum, dalam arti tidak memiliki penyakit khusus yang harus dirujuk ke unit lain.
• Perawatan isolasi
Merawat pasien yang memiliki penyakit khusus, biasanya jenis penyakit menular. Memiliki ruangan yang serba tertutup guna menghindari persebaran penyakit.
• ICU
Merawat pasien yang memerlukan perawatan dan pengawasan secara intensif karena kondisi tubuhnya tergolong kritis.
Kegiatan Non Medis • Kegiatan Administratif
Meliputi kegiatan pendaftaran pasien, mendata keluhan dan penyakit pasien, serta laporan perkembangan pasien
• Kegiatan Perawatan Inap
Unit perawatan inap beserta seluruh pendukungnya. • Unit-unit pendukung pelayanan medis
Fungsi-fungsi yang terkait seperti : laboratorium, farmasi, radiologi, UGD, ICU, Instalasi bedah dan ruang bersalin.
• Kegiatan Pendukung Non-Medis
Terdiri dari unit gizi, unit sterilisasi, kantor, dan sebagainya. • Kelompok kegiatan Komersial dan Sosial
Fungsinya sebagai salah satu pemasukan, meliputi : area parkir, kantin, wartel, dan sebagainya.
• Sarana Penunjang
Unit penunjang pada bagian servis antara lain dapur, pos keamanan, janitor, dan sebagainya.
2.4 Persyaratan Rumah Sakit
A. Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Sakit
Menurut Permenkes no 147/2010, ada persyaratan luas tanah minimal yang dibutuhkan untuk mendirikan rumah sakit di Indonesia, yaitu:
1.
uas tanah untuk Rumah Sakit dengan bangunan tidak bertingkat, minimal 1½ (satu setengah) kali luas bangunan.
2.
ntuk bangunan bertingkat minimal 2 (dua) kali luas bangunan lantai dasar. 3.
uas tanah dibuktikan dengan akta kepemilikan tanah yang sah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selain itu, menurut peraturan sebelumnya, syarat luas tanah dan bangunan Menurut SK. Dirjen yanmed no: HK.00.06.3.5.5797 tanggal 17 April 1998:
1. Perbandingan 1 Tempat tidur : 50 m2 2. Rumah Sakit Umum
Milik Yayasan :
- Luas bangunan minimal 2.500 m2. Milik Perseroan Terbatas (PT)
- Minimal mempunyai 100 tempat tidur - Luas bangunan minimal 5.000 m2.
3. Rumah Sakit Khusus, misalnya RS Ibu dan Anak (RSIA), RS THT - Minimal harus mempunyai 25 tempat tidur.
- Luas bangunan minimal 1.250 m2.
4. Luas bangunan tersebut belum termasuk luas tanah untuk fasilitas umum seperti: area parkir, taman, maupun jalan rumah sakit.
Permenkes no. 56 Tahun 2014 tentang klasifikasi dan perizinan rumah sakit pasal 13 butir ke-3 mengatur tentang persyaratan tata bangunan dan lingkungan rumah sakit, yaitu:
a. Peruntukan lokasi dan intensitas bangunan sesuai ketentuan peraturan daerah setempat.
b. Desain bangunan Rumah Sakit, yang meliputi:
1) Bentuk denah bangunan Rumah Sakit simetris dan sederhana.
2) Massa bangunan harus mempertimbangkan sirkulasi udara dan pencahayaan. 3) Tata letak bangunan-bangunan (siteplan) dan tata ruang dalam bangunan
harus mempertimbangkan zonasi berdasarkan tingkat resiko penularan penyakit, zonasi berdasarkan privasi, dan zonasi berdasarkan kedekatan hubungan fungsi antar ruang pelayanan.
4) Tinggi rendah bangunan harus dibuat tetap menjaga keserasian lingkungan dan peil banjir.
5) Aksesibilitas di luar dan di dalam bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia.
6) Bangunan Rumah Sakit harus menyediakan area parkir kendaraan dengan jumlah area yang proporsional disesuaikan dengan peraturan daerah setempat.
7) Perancangan pemanfaatan tata ruang dalam bangunan harus efektif sesuai dengan fungsi-fungsi pelayanan.
c. Pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
B. Persyaratan Ruang Rawat Inap
Menurut Petunjuk Pelaksanaan SK Menteri Kesehatan RI NO. 920/ MENKES/PER/XII/1986, menentukan jumlah tempat tidur untuk tiap-tiap kelas ruangan hendaknya tidak melebihi prosentase berikut :
1. ICU/NICU : 5%
2. Kelas Utama : 5% 3. Kelas I : 15% 4. Kelas II : 15%
5. Kelas III : 40 % (termasuk golongan kurang/tidak mampu membayar, ditetapkan sebanyak 25%)
2.5 Studi Literatur
1. Phoenix Children’s Hospital
Gambar 3. Phoenix Children Hospital
Sumber: Diakses dari archdaily.com, pada tanggal 29 Maret 2015
Lokasi : Arizona, USA Arsitek : HKS Architect
Konsep desain keseluruhan untuk Rumah Sakit Anak Phoenix adalah untuk menciptakan sebuah oase yang secara visual terhubung ke pemandangan sekitarnya, meniru pegunungan dan gurun. Perencanaan gedung diorientasikan pada utara-selatan dan timur-barat sumbu untuk menjaga kemudahan navigasi.
Untuk memudahkan navigasi, rumah sakit ini menggunakan warna, mural dinding dan patung-patung yang memandu jalan ke berbagai fasilitas juga menambahkan sentuhan estetika dan semangat kepada lingkungan rumah sakit.
Gambar 4. Lobby area at Phoenix Children Hospital Sumber: Diakses dari archdaily.com, pada tanggal 29 Maret 2015
Tujuan utama dari rumah sakit ini adalah untuk memberikan perawatan dan kenyamanan bagi seluruh keluarga, bukan hanya pasien. Oleh karena itu HKS
Architect menyediakan lingkungan yang nyaman dengan taman-taman sebagai
lansekap, warna-warna cerah, patung-patung yang menarik, dan tanaman asli sebagai ornamen pendukungnya. Cahaya alami juga digunakan untuk menerangi ruang urama seperti ruang tunggu, ruang baca, dan koridor.
Gambar 5. Room at Phoenix Children Hospital Sumber: Diakses dari archdaily.com, pada tanggal 29 Maret 2015
Pasien memiliki kamar pribadi, dengan fasilitas yang memberikan pasien kontrol penuh atas lingkungan mereka setiap kamar juga dilengkapi dengan sofa-bed dan area tempat duduk seingga anggota keluarga dapat menemani pasien.
2. Nemours Children’s Hospital
Gambar 6. Nemours Children’s Hospital
Sumber: Diakses dari archdaily.com, pada tanggal 29 Maret 2015
Lokasi : Orlando, USA
Arsitek : Stanley Beaman & Sears
Filosofi rumah sakit adalah merangkul anak-anak dengan berbagai diagnosa mulai dari ringan sampai kronis maupun diagnosa yang kompleks dan penyakit yang mengancam jiwa. Gedung rumah sakit dirancan untuk meyakinkan, menginspirasi, dan menyenangkan, memadukannya dengan lansekap dan alam.
Gambar 7. Nemours Children’s Hospital - Room Sumber: Diakses dari archdaily.com, pada tanggal 29 Maret 2015
Filosofi rumah sakit juga berpusat pada kelurga pasien, menyebabkan desain yang dihasilkan juga untuk mendukung keluarga pasien, mulai dari: kamar pribadi pasien yang mampu mengakomodasi dua orang tua, fasilitas laundry, serta memberikan orang tua akan kontrol lingkungan dalam kamar.
Gambar 8. Nemours Children’s Hospital - Garden Sumber: Diakses dari archdaily.com, pada tanggal 29 Maret 2015
Tersedia pula lounge yang cukup luas dan ruang bermain yang memberikan akses ke luar ruangan yang dirancang untuk istirahat dan rekreasi. Terdapat pula
rooftop garden, taman air, dan acara komunitas outdoor sebagai pertunjukan
2.6 Kerangka Berpikir
2.7 Jurnal
E.R.C.M Huisman, E. Morales, J. van Hoof, dan H.S.M Kort dalam jurnal
Healing Environment: A review of the impact of physical environmental factors on users, melakukan dua penelitian untuk meneliti faktor Healing Environment yang
berpengaruh pada rumah sakit, yaitu faktor Healing Environment yang mempengaruhi psikologi kesembuhan pada pasien dan keluarga, dan faktor Healing
Environment yang mempengaruhi psikologi pada staff. Hasil dari penelitian ini
mengungkapkan bahwa pada pasien dan keluarga, faktor yang mempengaruhi kesembuhan adalah: (1) Mengurangi faktor human error (kamar yang sama persis, pencahayaan), (2) Meningkatkan keamanan (mengurangi kemungkinan jatuh, mengurangi kemungkinan infeksi, dan meningkatkan kualitas udara dalam ruang), (3) Kontrol penuh, (4) Privasi, (5) Kenyamanan (Material, seni, kenyamanan visual, kenyamanan akustik, dan orientasi), (6) Dukungan keluaga, dan (7) Unsur alam. Sedangkan faktor yang mempengaruhi psikologi staff adalah: (1) Organisasi dan fungsi, (2) Dukungan teknis, dan (3) Kenyamanan.
Dejana Nedučin, Milena Krklješ, dan Nađa Kurtović-Folić dalam jurnal
Hospital Outdor Spaces - Therapeutic Benefits And Design Considerations meneliti
perbandingan rumah sakit kuno dan rumah sakit modern dimana rumah sakit kuno memiliki ruang-ruang yang terhubung langsung kepada ruang terbuka sedangkan rumah sakit modern memiliki desain yang lebih tertutup. Mereka menyimpulkan bahwa menciptakan ruang-ruang luar yang terhubung langsung ke alam merupakan hal yang positif untuk diterapkan sebagai kesatuan dari Healing Environment. Terciptanya lingkungan yang familiar dan nyaman bagi pasien dapat meningkatkan kesehatan pasien dan mempercepat proses penyembuhan pasien.
Kirsten Kaya Roessler dalam jurnal Healthy Architecture! Can environments
evoke emotional responses? Meneliti tentang hubungan antara psikologi, kesehatan
dan lingkungan dengan membandingkan tiga tempat yaitu sebuah ruang publik di Berlin (Potsdamer Platz, Berlin, Germany), lingkungan kesehatan di Swedia
(Healing Gardens, Alnarp, Sweden), dan sebuah fitness center di Denmark. Jurnal ini
menyimpulkan bahwa pendekatan yang berorientasi kesehatan dapat membantu pemahaman antara lingkungan dengan perilaku.
Vidra Lidayana, M. Ridha Alhamdani, Valentinus Pebriano dalam jurnal
Konsep dan Aplikasi Healing Environmet dalam Fasilitas Rumah Sakit
menyimpulkan bahwa terdapat tiga unsur Healing Environment yaitu alam, indra, dan psikologis. Perpaduan ketiga unsur tersebut dalam interior dan eksterior rumah sakit merupakan solusi dalam mengatasi masalah stress pada pasien, keluarga, maupun staff rumah sakit.
Umi Solikhah dalam jurnal Keperawatan Anak Efektifitas Lingkungan
Terapetik Terhadap Hospitalisasi pada Anak, menyebutkan bahwa lingkungan
terapetik efektif untuk meminimalkan reaksi hospitalisasi. Reaksi hospitalisasi ditunjukkan dengan angka signifikansi dari variabel reaksi hospitalisasi yang meliputi kecemasan anak (p-value=0,004), sikap kooperatif (p-value=0,000), respon anak (p-value=0,000), mood anak (pvalue=0,000), dan sikap penerimaan pada petugas (p-value=0,000.