No. Daftar FPEB : 429/UN.40.7.D1/LT/2013
PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP
KELENGKAPAN MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT
(Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menempuh Ujian Sidang Sarjana
Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Akuntansi
Oleh
FITRI HANI PRATIWI 0906684
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG
PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP
KELENGKAPAN MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT
(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2012)
Oleh:
Fitri Hani Pratiwi
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis
Fitri Hani Pratiwi 2013 Universitas Pendidikan Indonesia
Oktober 2013
Hak cipta dilindungi undang-undang
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian,
PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP KELENGKAPAN MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT
(Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012)
Fitri Hani Pratiwi
Pembimbing : Dr.Hj. Meta Arief, M.Si.
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelengkapan mandatory
disclosure financial statement perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia Tahun 2012. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik perusahaan (ukuran perusahaan, porsi saham publik, dan likuiditas) sebagai variabel independen terhadap kelengkapan mandatory
disclosure financial statement sebagai variabel dependen, pada perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif verifikatif. Metode dengan menggunakan indeks wallace digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk meneliti kelengkapan mandatory disclosure
financial statement. Sampel penelitian dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh sampel dalam penelitian ini sebanyak 30
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012. Pengujian statistik yang digunakan adalah analisis regresi multiple dengan uji F dan uji t pada taraf signifikansi 5%. Perhitungan statistik tersebut dibantu
software SPSS V.16 for windows dan Microsoft Excel 2007.
Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata kelengkapan mandatory
disclosure financial statement pada perusahaan manufakur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia tahun 2012 berdasarkan Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep.347/BL/2012 sebesar 68,04% yang termasuk kategori sedang. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement
.
Kata Kunci: Karakteristik Perusahaan, Kelengkapan Mandatory Disclosure
THE EFFECT OF FIRMS CHARACTERISTICS ON THE COMPLETENESS MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT
(Study on Manufacturing Company Listed In Indonesia Stock Exchange For The Year of 2012 )
Fitri Hani Pratiwi
Advisor : Dr.Hj. Meta Arief, M.Si.
ABSTRACT
This study aims to examine the completeness of mandatory disclosure financial statements by listed manufacturing companies in Indonesia Stock Exchange for the year of 2012. This study also examines the influence of firm characteristics (firm size, public shares, and liquidity) as independent variables towards completeness of mandatory disclosure financial statement as a dependent variable
The method used in this research is descriptive method verivikatif . indeks Wallace used as a tool for data collection to examine completeness of mandatory disclosure financial statement. Sample was collected using purposive sampling method and 30 by listed manufacturing companies in Indonesia Stock Exchange for the year of 2012 are collected. Statistical test was done using multiple regression analysis and using F test and t-test with significant level at 5%. Statistical calculation are assisted by software SPSS V.16 for Windows and Microsoft Excel 2007 .
The results showed that the average completeness of mandatory disclosure financial statement by manufacturing listed in Indonesia Stock Exchange for the year of 2012 based Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-347/BL/2012 is 68,04% which is classified as middle. This study also found that firm size have positive influence on completeness of mandatory disclosure financial statement.
DAFTAR ISI
1.2 Rumusan Masalah ... 11
1.3 Tujuan Penelitian ... 12
1.4 Kegunaan Penelitian ... 13
1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 13
1.4.2 Kegunaan Praktis ... 13
BAB II LANDASAN TEORI ... 14
2.1 Teori Signalling ... 14
2.2 Teori Agensi ... 16
2.3 Laporan Keuangan Perusahaan ... 18
2.3.1 Definisi Laporan Keuangan ... 18
2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan ... 19
2.3.3 Komponen Laporan Keuangan ... 20
2.3.4 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan ... 21
2.3.5 Pemakai Laporan Keuangan ... 22
2.4 Pengungkapan (Disclosure) ... 23
2.4.1 Definisi Pengungkapan ... 23
2.4.2 Tujuan Pengungkapan ... 25
2.4.3 Konsep Pengungkapan ... 27
2.4.4 Jenis Pengungkapan ... 28
2.5 Karakteristik Perusahaan ... 32
2.5.1 Ukuran Perusahaan ... 34
2.5.2 Porsi Saham Publik ... 35
2.5.3 Likuiditas ... 36
2.6 Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement ... 37
2.6.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement ... 37
2.6.2 Pengaruh Porsi Saham Publik Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement .. 39
2.6.3 Pengaruh Likuiditas Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement ... 40
2.7 Penelitian Terdahulu ... 41
2.8 Kerangka Pemikiran ... 46
2.9 Hipotesis ... 50
BAB III METODE PENELITIAN ... 52
3.1Desain Penelitian ... 52
3.2Operasionalisasi Variabel ... 53
3.3Populasi dan Sampel ... 59
3.4Teknik Pengumpulan Data ... 60
3.5Jenis dan Sumber Data ... 61
3.6Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 61
3.6.1 Analisis Karakteristik Perusahaan ... 62
3.6.2 Analisis Kelengkapan Mandatory Disclosure ... 63
3.6.3 Uji Asumsi Klasik ... 64
3.6.3.1 Uji Normalitas ... 64
3.6.3.2 Uji Linieritas ... 65
3.6.3.3 Uji Multikolinieritas ... 65
3.6.3.4 Uji Heteroskedastisitas ... 66
3.6.4 Analisis Regresi Multiple ... 66
3.6.5.1 Uji F ... 67
3.6.5.2 Uji t ... 68
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 71
4.1 Gambaran Obyek Penelitian ... 71
4.1.1 Gambaran Umum Aktivitas Perusahaan Manufaktur ... 71
4.1.2 Risiko Perusahaan Manufaktur ... 74
4.1.3 Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur ... 76
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ... 77
4.2.1 Karakteristik Perusahaan Manufaktur ... 77
4.2.1.1 Ukuran Perusahaaan ... 80
4.2.1.2 Porsi Saham Publik ... 83
4.2.1.3 Likuiditas ... 86
4.2.2 Kelengkapan Mandatory Disclosure ... 89
4.3 Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 97
4.3.1 Uji Asumsi Klasik ... 97
4.3.1.1 Uji Normalitas ... 98
4.3.1.2 Uji Linieritas ... 98
4.3.1.3 Uji Multikolinieritas………101
4.3.1.4 Uji Heteroskedastisitas………102
4.3.2 Pengujian Hipotesis………..103
4.3.2.1 Analisis Regresi Multiple...103
4.3.2.2 Uji Keberartian Regresi………. 105
4.3.2.3 Uji t……….107
4.4 Pembahasan Hasil Penelititian………...109
4.4.1 Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement………...109
4.4.4 Pengaruh Likuiditas terhadap Kelengkapan Mandatory
Disclosure Financial Statement………...115
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………...117
5.1 Kesimpulan………....117
5.2 Saran………...118
DAFTAR PUSTAKA………...120
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Perbedaan Perusahaaan Go Public dan Non Go Public ...3
Tabel 2.1 Klasifikasi Skala Usaha ...35
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu ...44
Tabel 3.1 Item Mandatory Disclosure Financial Statement ...56
Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel ...58
Tabel 3.3 Daftar Sampel yang Digunakan Dalam Penelitian ...60
Tabel 3.4 Sumber dan Jenis Data ...61
Tabel 4.1 Profil Perusahaan Sampel ...73
Tabel 4.2 Deskripsi Data Variabel Penelitian ...79
Tabel 4.3 Nilai Total Aset ...81
Tabel 4.4 Prosentase Porsi Saham Publik ...84
Tabel4.5 Nilai Current Ratio (Likuiditas) ...87
Tabel 4.6 Tingkat Kelengkapan Mandatory Disclosure ...91
Tabel 4.7 Kelengkapan Mandatory Disclosure per Kandungan ...96
Tabel 4.8 Uji Normalitas Data ...98
Tabel 4.9 Uji Multikolinieritas ...101
Tabel 4.10 Hasil Analisis Regresi Linier Multiple ...104
Tabel 4.11 Hasil uji statistik F ...106
DAFTAR GAMBAR
Grafik 1.1 Tingkat Kelengkapan Mandatory Financial Statement 2010 ...6
Grafik 1.2 Tingkat Kelengkapan Mandatory Financial Statement 2011 ...6
Gambar 2.1 Model Hubungan Antar Variabel ...50
Gambar 4.1 Ukuran Perusahaan dalam Laporan Keuangan ...82
Gambar 4.2 Porsi Saham Publik Perusahaan Manufaktur ...85
Gambar 4.3 Rasio Likuiditas Perusahaan Manufaktur ...88
Gambar 4.4 Tingkat Kelengkapan Mandatory Disclosure ...93
Gambar 4.5 Kelengkapan Mandatory Disclosure per Komponen ...96
Gambar 4.6 Hasil Uji Linieritas ...99
Gambar 4.7 Hasil Uji Linieritas ...100
Gambar 4.8 Hasil Uji Linieritas ...100
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi saat ini, peran pasar modal menjadi vital dalam
pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pasar modal memiliki masa depan yang
gemilang, dikarenakan semakin lemahnya peranan perbankan sebagai institusi
sumber pembiayaan, pasca krisis ekonomi tahun 1998. Di kawasan Asia
Tenggara, pasar modal Indonesia berada pada fase menuju moderen dan belum
bisa berdiri sejajar dengan pasar modal negara lain, khususnya di kawasan Asia
Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Hal ini disebabkan ada
banyak persoalan yang harus ditangani dalam pasar modal Indonesia, misalnya
persoalan transparansi yang belum seratus persen dijalankan oleh emiten, pola
pengawasan, penegakan hukum, dan lain sebagainya.
Pasar modal yang adil, teratur, dan efisien adalah pasar modal yang
memberi perlindungan kepada investor publik terhadap praktik bisnis yang tidak
sehat, tidak jujur, dan bentuk-bentuk manipulasinya (Suta, 2000:94). Efisiensi
pasar modal ditunjang dengan pengungkapan (disclosure) yang memadai
(Sutanto, 2012:2), melalui pengungkapan laporan perusahaan, mencakup laporan
keuangan (financial statement) dan laporan tahunan (annual report).
Laporan keuangan tahunan merupakan media utama penyampaian
informasi oleh manajemen kepada pihak-pihak yang berkepentingan di luar
stakeholders lainnya berkaitan dengan kondisi keuangan dan informasi lainnya
sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi (Dibiyantoro,
2011:174). Laporan keuangan yang berkualitas adalah laporan keuangan yang
relevan, lengkap, dapat diperbandingkan, andal, serta dapat dipahami (Kartikahadi
et al., 2012:49). Dengan demikian agar dapat memenuhi karakteristik kualitatif
maka laporan keuangan harus disajikan sesuai standar akuntansi yang berlaku dan
dilengkapi pengungkapan yang memadai. Pengungkapan yang memadai hanya
dapat ditempuh melalui penerapan regulasi informasi yang baik.
Regulasi informasi di pasar modal, diatur oleh peraturan yang dikeluarkan
oleh otoritas yang ditunjuk oleh pemerintah, yakni BAPEPAM (Badan Pengawas
Pasar Modal). Berdasarkan UU Pasar Modal Pasal 69 Ayat 2, menyatakan bahwa
BAPEPAM berwenang untuk menetapkan ketentuan akuntansi di bidang pasar
modal. Dengan demikian emiten yang statusnya telah go public, wajib mentaati
peraturan yang dikeluarkan BAPEPAM, terutama berkaitan dengan keterbukaan
di bidang ekonomi melalui pengungkapan laporan keuangan, sebagai salah satu
pilar penting dari prinsip good corporate governance demi melindungi
kepentingan investor (Suta, 2000:157).
Dengan demikian, perusahaan yang telah go public memiliki
tanggungjawab yang lebih dalam hal akuntabilitas dan transparansi terhadap
masyarakat dibandingkan dengan perusahaan yang tidak go public (perusahaan
tertutup). Berikut ini gambaran perbedaan yang paling mendasar antara
3
Tabel 1.1
Perbedaan Perusahaan Go Public dan Non Go Public
No. Aspek-aspek Perusahaan tidak go
public
Sumber : ( Suta. Menuju Pasar Modal Moderen. 2000:108)
Berdasarkan tabel 1.1 dapat dilihat bahwa perusahaan yang telah go public
mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih berat dan harus tunduk kepada
peraturan-peraturan pasar modal yang dikeluarkan BAPEPAM. Dengan demikian
status go public, akan menuntut perusahaan tersebut melakukan keterbukaan,
sehingga perhatian berbagai pihak terhadap pelaporan keuangan yang dilakukan
perusahaan akan semakin intens.
Isu transparansi dan pengungkapan laporan keuangan menjadi salah satu isu yang penting di Indonesia, hal ini sejalan dengan adanya sebuah survey yang dipublikasikan oleh Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI,2006), berdasarkan survey yang dilakukan oleh Price Waterhouse Coopers pada tahun 1999 yang dilakukan terhadap investor internasional di Asia yang menunjukkan bahwa posisi Indonesia berada pada salah satu yang terburuk di mata investor berkaitan dengan standar audit dan kepatuhan, akuntabilitas, kepada pemegang saham, serta standar pengungkapan dan transparansi (Utami et al., 2012:1).
Informasi yang diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (mandatory disclosure)
yakni pengungkapan minimum, sesuai diatur dalam regulasi yang berlaku
laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas dan catatan atas laporan
keuangan) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) sifatnya sukarela
dan bergantung dari keinginan manajemen (Hendriksen, 2002:436).
Pengungkapan wajib (mandatory disclosure), merupakan suatu kewajiban
yang wajib ditaati oleh perusahaan yang go public, khususnya bagi perusahaan
manufaktur seiring pesatnya perkembangan perusahaan tersebut, karena
perusahaan manufaktur memiliki basis investor yang lebih luas, Renders dan
Gaeremynck (dalam Utami et al., 2012:3). Peraturan mandatory disclosure untuk
perusahaan manufaktur telah diatur dalam Surat Edaran Ketua BAPEPAM
No.SE-02/PM/2002 tanggal 27 Desember 2002, berkaitan dengan item-item yang
wajib diungkapkan dalam laporan keuangan. Tingkat kepatuhan pengungkapan
wajib, dilihat melalui kelengkapan pengungkapan wajib laporan keuangan.
Faktanya, industri manufaktur belum menerapkan keterbukaan ekonomi
sepenuhnya, melalui kelengkapan mandatory disclosure financial statement (Suta,
2000:159), sehingga ada indikasi bahwa perusahaan menyembunyikan informasi
penting yang seharusnya diungkap (Prawinandi et al., 2012:1).
Informasi yang tidak diungkapkan ini dapat merugikan stakeholders, salah
satunya kasus yang menimpa PT Petromine Energy Trading (anak perusahaan PT
Bakrie&Brothers Tbk), yang tidak mencantumkan pendapatan dari penyediaan
bahan bakar kepada AKR Corporindo senilai Rp1,370 triliun, dengan
menggunakan beban pokok pendapatan sebesar Rp8,000 triliun, karena kasus ini
PT Bakrie&Brothers dikenai sanksi senilai Rp4,000 miliar dari BAPEPAM
5
Begitupun di tahun 2001 terjadi suatu skandal mark-up laba bersih dalam
laporan keuangan yang dilakukan oleh salah satu perusahaan manufaktur yang
terdapat di BEI saat itu, yakni PT Kimia Farma. Dalam laporan keuangan tersebut
perusahaan menaikkan nilai laba perusahaan dengan memanipulasi data, dengan
menyebut perusahaan memperoleh laba sekitar Rp132,000 miliar padahal
perusahaan hanya memperoleh laba sebesar Rp99,594 miliar, sehingga terjadi
penggelembungan dana sebesar Rp32,668 miliar (Syahrul, 2002:1). Dengan
demikian, menurut Imhoff tingginya kualitas informasi akan sangat berkaitan
dengan tingkat kelengkapan.
Realitanya, kepatuhan perusahaan manufaktur melalui kelengkapan
mandatory disclosure perusahaan manufaktur di Indonesia secara umum rata-rata
hanya berkisar 72,203% (Utami et al., 2012:13), kondisi ini mengisyaratkan
belum sepenuhnya keterbukaan informasi melalui kelengkapan mandatory
disclosure financial statement dilakukan. Berikut ini grafik tingkat kelengkapan
mandatory disclosure financial statement perusahaan manufaktur di Indonesia
Grafik 1.1
Tingkat Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement Tahun 2010
Sumber : Butar-butar (2011)
Grafik 1.2
Tingkat Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement Tahun 2011
Sumber : (data diolah)
Berdasarkan grafik 1.1 dapat diketahui bahwa tingkat kelengkapan
mandatory disclosure financial statement perusahaan manufaktur yang go public
60% 62%
7
tahun 2010, perusahaan dengan indeks tertinggi mengungkapkan sebesar 82%
sementara perusahaan dengan indeks terendah mengungkapkan 55%. Sementara
berdasarkan grafik 1.2 dapat diketahui bahwa tingkat kelengkapan mandatory
disclosure financial statement tahun 2011, perusahaan dengan indeks tertinggi
mengungkapkan 85% dan perusahaan dengan indeks terendah mengungkapkan
60,29%. Data faktual yang telah diteliti, dapat menyimpulkan bahwa tingkat
kelengkapan mandatory disclosure financial statement perusahaan manufaktur
khususnya yang telah go public, belum sepenuhnya melakukan prinsip
transparansi berkaitan dengan regulasi yang ditetapkan oleh BAPEPAM, sesuai
dengan Surat Edaran Ketua BAPEPAM No.SE-02/PM/ 2002, yang diperbaharui
berdasarkan Surat Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal
No.KEP-347/BL/2012, dimana seharusnya tingkat kelengkapannya diungkapkan
sepenuhnya sebesar 100% sesuai pengungkapan minimum yang diatur oleh
BAPEPAM, agar kepentingan investor dapat terlindungi melalui kelengkapan
mandatory disclosure financial statement. Selain itu isu mengenai kegiatan
pengungkapan yang dilakukan perusahaan baik yang sifatnya wajib maupun
sukarela, menjadi suatu hal yang sangat esensial dalam praktik penerapan good
corporate governance.
Tingkat kelengkapan mandatory disclosure financial statement dari setiap
perusahaan bervariasi diakibatkan oleh aspek kultural, legal system (pembuatan
undang-undang) dan accounting system (Suta, 2000:158). Selain ketiga faktor
oleh karakteristik suatu perusahaan (Subiyantoro, 1996; Fitriany, 2001; Baridwan
et al., 2001; Hertanti, 2006:6; Almilia, 2007; Sihite, 2010:2).
Karakteristik perusahaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan kondisi
internal suatu perusahaan, yang meliputi kondisi manajemen, organisasi, SDM,
dan keuangan perusahaan yang tercermin dalam kinerja keuangannya (Jogiyanto,
2000:89). Lang dan Lundhom (1994) dalam Subiyantoro (1996:3) menyatakan,
dalam konteks laporan keuangan karakteristik perusahaan dibagi dalam tiga
kategori yaitu variabel struktur (ukuran perusahaan dan kemampuan melunasi
hutangnya), variabel kinerja (likuiditas perusahaan dan profitnya) dan variabel
pasar (porsi saham publik, umur perusahaan, status perusahaan).
Menurut Munawir (2010:65) faktor yang mempengaruhi penyajian data dalam pengungkapan wajib laporan keuangan adalah perbedaan letak perusahaan, ukuran perusahaan, jumlah aktiva tetap, umur kekayaan perusahaan, struktur permodalan (porsi kepemilikan saham publik), perbedaan sistem dan prosedur akuntansi, serta kinerja keuangan perusahaan melalui rasio solvabilitas, likuiditas, dan rentabiltas.
Terdapat beberapa penelitian terdahulu mengenai hubungan karakteristik
perusahaan terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statements.
Subiyantoro (1996) melakukan penelitian mengenai pengaruh karakteristik
perusahaan terhadap luas pengungkapan wajib laporan keuangan. Berdasarkan
penelitian tersebut disimpulkan bahwa leverage, likuiditas, dan total aktiva
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap luas pengungkapan wajib.
Ainun dan Fuad (2000) melakukan penelitian mengenai analisis hubungan
antara kelengkapan pengungkapan laporan keuangan dengan struktur modal dan
tipe kepemilikan perusahaan. Berdasarkan penelitian tersebut disimpulkan bahwa
9
pengungkapan laporan keuangan, sementara porsi saham publik tidak memiliki
hubungan yang signifikan terhadap kelengkapan pengungkapan.
Marwata (2001), melakukan penelitian mengenai karakteristik perusahaan
terhadap tingkat ungkapan sukarela pada laporan keuangan, penelitian ini tidak
menemukan adanya hubungan yang signifikan antara variabel leverage, likuiditas,
basis perusahaan, umur perusahaan terhadap ungkapan sukarela dalam laporan
tahunan.
Fitriani (2001) melakukan penelitian mengenai signifikansi perbedaan
tingkat kelengkapan pengungkapan wajib dan sukarela pada perusahaan publik
yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa
faktor yang mempengaruhi kelengkapan pengungkapan wajib adalah ukuran
perusahaan, status perusahaan, jenis perusahaan, net profit margin, dan KAP.
Sementara tingkat leverage dan likuiditas tidak mempengaruhi kelengkapan
pengungkapan wajib dan sukarela.
Simanjuntak dan Widiastuti (2004), melakukan penelitian mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan pengungkapan laporan keuangan
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel kepemilikan
perusahaan, porsi saham publik, profitabilitas, umur perusahaan, leverage dan
likuiditas secara signifikan berpengaruh terhadap kelengkapan pengungkapan.
Bambang Irawan (2006) melakukan penelitian mengenai fakt0r-faktor
yang mempengaruhi kelengkapan pengungkapan laporan keuangan perusahaan
secara simultan DER, Profitabilitas, porsi saham publik, ukuran perusahaan, umur
perusahaan, OPM, NPM, ROE dan status perusahaan memiliki pengaruh
signifikan terhadap kelengkapan pengungkapan laporan keuangan.
Rahmawati et al (2007) melakukan penelitian mengenai pengaruh ukuran
perusahan, profitabilitas, leverage dan likuiditas terhadap kelengkapan laporan
keuangan, hasilnya bahwa ukuran perusahaan dan likuiditas yang berpengaruh
terhadap kelengkapan pengungkapan.
Denny Indra Prasetya (2011) melakukan penelitian mengenai pengaruh
ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan likuiditas terhadap pengungkapan
wajib pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia,
hasilnya menyatakan bahwa ukuran perusahaan saja yang berpengaruh terhadap
pengungkapan wajib.
Berdasarkan penelitian sebelumnya terdapat ketidakkonsistenan antara
indikator yang digunakan sebagai proxy karakteristik perusahaan terhadap
kelengkapan mandatory disclosure financial statement perusahaan manufaktur,
oleh karena itu memungkinkan dilakukannya penelitian lebih lanjut. Dengan
demikian, penelitian ini berusaha untuk meneliti lebih dalam seberapa jauh faktor
yang mempengaruhi kelengkapan mandatory disclosure financial statement
perusahaan manufaktur. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya
karena variabel independennya berfokus pada karakteristik perusahaan yang di
proxy kan melalui ukuran perusahaan, porsi saham publik, dan likuiditas serta
11
Pengungkapan informasi melalui kelengkapan mandatory disclosure
financial statements menarik untuk dikaji berkaitan dengan kepatuhan emiten
terutama yang telah go public pada regulasi yang berlaku, demi melindungi
kepentingan investor, hal ini dikarenakan perusahaan harus menerapkan prinsip
good corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik, terutama
melalui transparansi laporan keuangan terhadap publik, selain itu juga penerapan
financial disclosure diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
Memungkinkan peningkatan negara dari pajak, melalui praktik pelaporan yang sehat dan terbuka.
Mempercepat perkembangan pasar modal.
Mempercepat terjadinya flow of fund (perputaran aliran dana) yang memang dibutuhkan oleh perekonomian kita.
Merupakan bentuk pertanggungjawaban publik oleh setiap pengusaha kepada masyarakat.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap
Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement” (Studi Pada
Perusahaan Manufaktur Tahun 2012 di Bursa Efek Indonesia).
1.2 Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari fenomena yang telah dikemukakan pada latar belakang,
maka pokok permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran karakteristik perusahaan yang meliputi ukuran
perusahaan, porsi saham publik, dan likuiditas pada perusahaan
2. Bagaimana gambaran kelengkapan mandatory disclosure financial
statement baik dari segi jumlah maupun kandungan, pada perusahaan
manufaktur tahun 2012 di Bursa Efek Indonesia.
3. Bagaimana pengaruh karakteristik perusahaan berupa ukuran perusahaan,
terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
4. Bagaimana pengaruh karakteristik perusahaan berupa porsi saham publik,
terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
5. Bagaimana pengaruh karakteristik perusahaan berupa likuiditas terhadap
kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini pada dasarnya untuk memperoleh jawaban dan
informasi atas masalah yang telah diidentifikasikan dalam rumusan masalah,
adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui gambaran karakteristik perusahaan yang meliputi
ukuran perusahaan, porsi saham publik, dan likuiditas pada perusahaan
manufaktur tahun 2012.
2. Untuk mengetahui gambaran kelengkapan mandatory disclosure financial
statement baik dari segi jumlah maupun kandungan, pada perusahaan
manufaktur tahun 2012 di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik perusahaan berupa ukuran
perusahaan, terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial
13
4. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik perusahaan berupa porsi saham
publik, terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
5. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik perusahaan berupa likuiditas
terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini memiliki kegunaan atau manfaat bagi beberapa pihak,
khusunya penulis sendiri, terutama dalam pengembangan dan penerapan ilmu
yang dimiliki penulis, selama mengikuti perkuliahan. Kegunaan penelitian ini
terbagi atas :
1.4.1 Kegunaan Teoritis
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
pengembangan ilmu Akuntansi Keuangan dan Manajemen Keuangan, berkaitan
dengan pengaruh karakteristik perusahaan terhadap kelengkapan mandatory
disclosure financial statement perusahaan manufaktur. Hasil dari penelitian ini
juga diharapkan dapat digunakan sebagai literatur dalam penelitian selanjutnya
bagi para akademisi, maupun praktisi.
1.4.2 Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan bagaimana
perhatian para emiten terutama perusahaan manufaktur yang telah go public
terhadap regulasi yang berlaku, berkaitan dengan kelengkapan mandatory
disclosure financial statement, yang dipengaruhi oleh karakteristik perusahaan
dengan menghitung faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap
dijadikan sumber bagi investor dalam mempertimbangkan keputusan ekonomi di
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Dalam melakukan penelitian, harus didasarkan dan melalui prosedur
ilmiah, berdasarkan keilmuan. Menurut Sugiyono (2011:2), metode penelitian
adalah sebagai berikut :
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dilakukan secara ilmiah berdasarkan prinsip keilmuan untuk memperoleh data yang valid, reliable, dan objektif, dengan tujuan untuk ditemukan, dibuktikan dan dikembangkan datanya menjadi suatu pengetahuan, sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan serta mengantisipasi masalah.
Metode penelitian sebagai suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan tertentu, jelas menjadi unsur yang penting dalam penelitian, karena
melalui metode ini merupakan sarana dan upaya dalam pengumpulan data.
Pengumpulan datnya dilakukan secara rasional (masuk akal), empiris (dapat
diamati panca indera), dan sistematis (logis). Untuk itu maka metode penelitian
dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan verifikatif.
Menurut Sugiyono (2011: 147), “Analisis deskriptif dilakukan dengan cara
mendeskripsikan dan menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana
adanya, tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau
generalisasi”. Penggunaan metode ini dilakukan, karena penelitian ini digunakan
hanya pada sampel, dimana hasilnya hanya berlaku pada sampel dan bukan pada
berdasarkan penelitian sebelumnya. Metode verifikatif dilakukan untuk menguji
kebenaran atau teori yang telah ada bukan menciptakan teori baru. Menurut Iqbal
Hasan (2010:11) bahwa “penelitian yang bertujuan verifikatif yaitu menguji
kebenaran sesuatu dalam bidang yang telah ada sebelumnya”.
Desain penelitian merupakan kerangka kerja untuk merinci
hubungan-hubungan antara variabel yang terkait dengan kajian tersebut (Umar, 2005:5).
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain kausal, yakni dengan
menganalisis bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain. Dengan
demikian, dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk membuktikan adanya
pengaruh karakteristik perusahaan sebagai variabel independen, terhadap
mandatory disclosure financial statement sebagai variabel dependen. Periode
waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu tahun, dengan banyak
perusahaan (Cross Section ).
Adapun tahun yang dipilih adalah tahun 2012, mengingat penulis ingin
melihat konsistensi penelitian terdahulu, dengan data terbaru, yakni tahun 2012.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang berusaha menguji teori–teori
yang telah ada sebelumnya, sehingga dilakukan pengujian hipotesis.
3.2 Operasionalisasi Variabel
Menurut Sugiyono (2011:38), variabel penelitian adalah “segala sesuatu
yang berbentuk apa saja, yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya”.
54
a. Variabel Independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tiga
variabel, diantaranya ukuran perusahaan (X1), porsi saham publik (X2),
dan likuiditas (X3).
1) Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan berkaitan dengan besar kecilnya suatu perusahaan,
yang dihitung berdasarkan nilai total asetnya.
2) Porsi Saham Publik
Porsi saham publik mencerminkan prosentase struktur permodalan
yang dimiliki oleh publik (masyarakat). Variabel ini diukur dengan
membagi antara prosentase jumlah saham yang dimiliki masyarakat
(publik) dengan total saham yang dimiliki perusahaan dan
dilambangkan dengan PUB.
3) Likuiditas
Rasio likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan untuk
menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Variabel ini diukur
dengan rasio lancar (Current Ratio), yang menunjukkan sejauh mana
aktiva lancar menutupi kewajiban lancar.
b. Variabel dependen dalam penelitian ini diberi simbol Y, yakni
kelengkapan mandatory disclosure financial statement yang merupakan
seberapa besar kelengkapan pengungkapan wajib yang dipublikasikan
perusahaan terkait dengan aturan yang dikeluarkan BAPEPAM, melalui
Surat Keputusan Ketua BAPEPAM No.347/BL/2012 tanggal 25 Juni
kriteria kelengkapan pengungkapan dapat diperoleh dengan cara sebagai
berikut :
1) Memberi skor pengungkapan secara dikotomi, apabila perusahaan
mengungkapkan suatu item maka diberi nilai 1, apabila perusahaan tidak
mengungkapkan item tersebut diberi nilai 0.
2) Skor yang dimiliki perusahaan dijumlahkan untuk mendapatkan skor
total.
3) Menghitung indeks kelengkapan mandatory disclosure financial
statement dengan membagi skor yang diperoleh perusahaan dengan
jumlah semua butir pengungkapan yang seharusnya dipenuhi. Berikut ini
56
Tabel 3.1
Daftar Item Mandatory Disclosure Financial Statement No.KEP-347/BL/2012 Tanggal 25 Juni 2012 Komponen Laporan
3. Aset Keuangan Lancar Lainnya 4. Persediaan
5. Pajak Dibayar Dimuka 6. Biaya Dibayar Dimuka
7. Aset tidak lancar (kelompok lepasan yang dimiliki untuk dijual)
Aset Tidak Lancar
1. Piutang Pihak Berelasi Non-Usaha 2. Aset Keuangan Tidak Lancar Lainnya 3. Investasi Pada Perusahaan Asosiasi 4. Properti Investasi
4. Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek 5. Bagian Lancar atas Liabilitas Jangka
Panjang yang akan jatuh tempo dalam 1 tahun
6. Liabilitas Keuangan Jangka Pendek Lainnya
7. Liabilitas atas Pembayaran Berbasis Saham Jangka Pendek
8. Provisi Jangka Pendek
9. Liabilitas Terkait Aset/Kelompok Lepasan yang dimiliki untuk dijual
Liabilitas Jangka Panjang
1. Utang bank dan lembaga keuangan lain 2. Utang pihak berelasi non-usaha
3. Utang sewa pembiayaan 4. Utang obligasi
5. Sukuk
6. Obligasi konversi
8. Liabilitas atas pembayaran berbasis saham jangka panjang
9. Liabilitas imbalan kerja jangka panjang 10.Liabilitas pajak tangguhan
3. Selisih transaksi dengan pihak pengendali 4. Saham treasuri
8. Bagian laba (rugi) dari entitas asosiasi 9. Laba (rugi) sebelum pajak penghasilan 10.Beban (penghasilan) pajak
11.Laba (rugi) periode berjalan dari operasi yang dilanjutkan
12.Laba (rugi) periode berjalan dari operasi yang dihentikan setelah pajak
13.Laba (rugi) periode berjalan 14.Pendapatan komprehensif lain 15.Pajak penghasilan terkait
16.Pendapatan komprehensif lain periode berjalan setelah pajak
17.Total laba (rugi) komprehensif periode berjalan
18.Laba (rugi) periode berjalan yang dapat diatribusikan
19.Total laba (rugi) periode berjalan yang dapat diatribusikan
20.Laba (rugi) per saham dilusian
Laporan Perubahan Modal
1. Total laba (rugi) komprehensif selama suatu periode, yang menunjukkan secara terpisah jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non pengendali
58
diperkenankan oleh SAK untuk setiap komponen ekuitas
3. Rekonsiliasi antara jumlah yang tercatatpada awal dan akhir periode untuk setiap komponen ekuitas secara terpisah.
Laporan Arus Kas
1. Arus kas dari aktivitas operasi 2. Arus kas dari aktivitas investasi 3. Arus kas dari aktivitas pendanaan
Catatan atas Laporan Keuangan
1. Gambaran umum perusahaan
2. Dasar pengukuran/penyusunan laporan keuangan
3. Informasi tambahan untuk pos-pos yang disajikan
4. Ikhtisar kebijakan akuntansi 5. Pengungkapan lainnya
TOTAL 73 ITEM
Untuk lebih memahami mengenai variabel bebas dan variabel terikat,
maka berikut ini operasionalisasi variabelnya:
Tabel 3.2
Operasionalisasi Variabel Penelitian
Variabel Dimensi Indikator Skala
Karakteristik
Indeks mandatory disclosure dalam laporan keuangan
Jumlah mandatory
disclosure dalam LK
Jumlah pengungkapan yang seharusnya sesuai dengan No.Kep.347/BL/2012.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi adalah “wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2011:80).
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012 yang berjumlah 138 perusahaan.
Sementara sampel merupakan “bagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut” (Sugiyono, 2011:81). Untuk itu sampel dalam
penelitian ini diambil berdasarkan teknik purposive sampling, hal ini dilakukan
agar sampel yang diperoleh dapat mewakili populasi sehingga terdapat kriteria
spesifik yang ditentukan. Adapun kriterianya yakni :
a. Perusahaannya adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI), yang sahamnya aktif diperdagangkan selama tahun 2012.
b. Perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuangan tahunan tahun 2012.
c. Perusahaan menerbitkan data lengkap berkaitan dengan variabel yang akan
digunakan dalam penelitian.
d. Perusahaan tersebut haruslah yang memiliki laba.
Dari kriteria tersebut diperoleh sampel sebanyak 30 perusahaan dari
populasi yang ada. Berikut daftar perusahaan yang digunakan sebagai sampel
60
Tabel 3.3
Daftar Sampel yang Digunakan Dalam Penelitian
No. Kode Nama Perusahaan
1. ASII Astra International Tbk.
2. CPIN Chaeron Phokpand Indonesia Tbk.
3. GGRM Gudang Garam Tbk.
4. ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
5. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk.
6. INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
7. KLBF Kalbe Farma Tbk.
8. SMGR Semen Gresik (Persero) Tbk.
9. UNVR Unilever Indonesia Tbk.
10. KAEF Kimia Farma Persero Tbk.
11. TSPC Tempo Scan Pasific Tbk.
12. INDR Indorama Synthetichs Tbk.
13. AUTO Astra Otoparts Tbk.Dynaplast Tbk.
14. BRAM Indo Kordsa Tbk.
15. SCCO Sucaco Tbk.
16. BUDI Budi Acid Jaya Tbk.
17. UNIC Unggul Indah Cahaya Tbk.
18. ALMI Alumindo Light Metal Industry Tbk.
19. SMCB Holcim Indonesia Tbk.
20. AKR AKR Corportindo Tbk.
21. AALI Astra Agro Lestari Tbk.
22. INCO Vale Tbk.
23. AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.
24. ANTM Aneka Tambang (persero) Tbk.
25. BISI Bisi International Tbk.
26. BWPT BW Plantation Tbk.
27. CTBN Citra Tubindo Tbk.
28. HMSP HM Sampoerna Tbk.
29. TRST Trias Sentosa Tbk.
30. MYOR Mayora Indah Tbk.
Sumber : Bursa Efek Indonesia
3.4 Teknik Pengumpulan Data
“Kualitas data hasil penelitian dipengaruhi oleh dua faktor, yakni kualitas
instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data” (Sugiyono, 2011:137).
diperoleh valid, reliabel, dan objektif. Pengumpulan data dalam penelitian ini,
dilakukan dengan studi dokumentasi, dengan mengumpulkan data sekunder yang
diperlukan. Data sekunder diperoleh dari sumber secara tidak langsung (Sugiyono,
2011:225). Studi dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan dengan mengunduh
laporan keuangan tahunan perusahaan manufaktur di situs resmi Bursa Efek
Indonesia.
3.5 Jenis dan sumber data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini bersumber dari data
sekunder, sehingga teknik pengumpulan data yang digunakan berupa
dokumentasi. Dengan demikian, karena sumber yang digunakan berupa data
sekunder, maka jenis dan sumber data yang diperoleh adalah sebagai berikut :
Tabel 3.4
Sumber dan Jenis Data
No Sumber Data Jenis Data
1
Laporan Keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia tahun 2012
Sekunder
2
Indeks laporan keuangan diperoleh dari butir-butir kelengkapan laporan keuangan berdasarkan Surat Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-347/BL/2012
Sekunder
3.6 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian kali ini dibagi
beberapa bagian, yakni analisis data karakteristik perusahaan, indeks kelengkapan
pengungkapan wajib, uji asumsi klasik, analisis regresi multiple, uji F dan uji t
62
3.6.1 Analisis Karakteristik Perusahaan
a. Melakukan perhitungan ukuran perusahaan
Ukuran perusahaan dalam penelitian ini, dihitung melalui nilai total aset
yang dimiliki oleh perusahaan, dikarenakan nilai total aset perusahaan
memiliki besaran yang nilainya jutaan bahkan miliaran rupiah, maka nilai
total aset sebagai proxy ukuran perusahaan perlu disederhanakan dengan
mengkonversi data ke dalam logaritma natural dengan bantuan software
MS Excel 2007. “Sebab secara matematis variabel ukuran perusahaan
diukur dengan logaritma natural total aset” (Goyal, dalam Sembiring,
2012:3).
Rumus :
(Benardi dkk, 2009:10)
b. Melakukan perhitungan rasio porsi saham publik, dengan rumus sebagai
berikut :
(Mujiyono dan Nany, 2006:25)
c. Melakukan perhitungan likuiditas, dengan menghitung current ratio
dengan rumus sebagai berikut :
(Harahap, 2007:301)
Ukuran Perusahaan = Ln Total Aset
PUB =
X 100%
Rasio Lancar =
3.6.2 Analisis kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement
Penelitian ini menggunakan indeks pengungkapan yang dirumuskan
Imhoff (1992), dengan menggunakan indeks Wallace. Indeks kelengkapan
mandatory disclosure financial statement didasarkan atas Surat Keputusan Ketua
BAPEPAM No.347/BL/2012 yang terdiri dari lima komponen, yakni neraca
terdiri atas 42 item, laporan laba rugi terdiri atas 20 item, laporan perubahan
ekuitas terdiri atas 3 item, laporan arus kas terdiri atas 3 item, dan catatan atas
laporan keuangan terdiri atas 5 item. Total dari semua item tersebut adalah 73
item dengan kisaran nilai pengungkapan 0%-100%, dengan kategori rentang
menurut Sudjana (2003:152) sebagai berikut :
Rentang (%) = skor maksimum – skor minimum
= 100%-0%
=100%
Panjang kelas = rentang (%) : jumlah kelas
= 100% : 4
= 25%
Sehingga diperoleh kategori sebagai berikut :
0% – 25% = Sangat Rendah
25% - 50% = Rendah
50% - 75% = Sedang
75% - 100% = Tinggi
64
Indeks Mandatory Disclosure Financial Statement dihitung dengan
mekanisme yang dikemukakan Wallace et al (dalam Purwandari, 2012:39).
a. Memberi poin 1 terhadap item yang terdapat dalam laporan keuangan
tahunan suatu emiten.
b. Memberi poin 0 apabila item yang diharuskan tidak tersaji dalam laporan
keuangan tahunan suatu emiten.
c. Skor yang diperoleh tiap perusahaan sampel kemudian dijumlahkan.
Kemudian skor total dibagi 73, sehingga diperoleh indeks untuk
pengolahan data. Angka indeks dihitung sebagai berikut :
x100%
Keterangan :
n = jumlah butir pengungkapan yang terpenuhi
k = jumlah butir pengungkapan yang seharusnya dipenuhi total 73 item.
3.6.3 Uji Asumsi Klasik
3.6.3.1Uji Normalitas
Penelitian ini menggunakan data yang skalanya berbentuk rasio, sehingga
analisis data menggunakan statistik parametrik. Dengan demikian, diperlukan
adanya uji normalitas, seperti yang dikemukakan Ghozali (2012:160), uji
normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel penggangu
dan variabel residual memiliki distribusi normal. Alat uji yang digunakan adalah
Smirnov. Dasar pengambilan keputusan melalui probabilitas (asymptotic
signification), yakni :
a. Jika value 0,05 maka data berdistribusi normal.
b. Jika value 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.
3.6.3.2Uji Linieritas
Uji linieritas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah variabel
independen dan variabel dependen memiliki hubungan yang linear secara signifikan atau
tidak. Adapun cara untuk mengetahuinya adalah dengan menggunakan diagram Scatter
Plot dengan dibantu oleh software spss ver 16 for Windows.
3.6.3.3Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Ini perlu dilakukan
karena model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel
independen (Ghozali, 2012:105). Untuk mendeteksi ada tidaknya
multikolinearitas di dalam model regresi melalui Variance Inflation Factor (VIF),
dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Jika VIF 10 maka variabel bebas memiliki persoalan multikolineritas
dengan variabel bebas lainnya.
Jika VIF 10 maka variabel bebas tersebut tidak mempunyai persoalan
multikolinearitas.
66
3.6.3.4Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang
lain (Ghozali, 2012:139). Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas,
ditunjukkan dengan grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen
(ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Jika terdapat pola tertentu dalam grafik,
maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Akan tetapi, jika tidak
membentuk pola yang jelas atau menyebar di atas dan bawah angka nol berarti
tidak terjadi heteroskedastisitas. Dasar pengambilan keputusan (Ghozali,
2012:139) :
Jika ada pola tertentu pada grafik, seperti titik-titik yang membentuk pola
yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit) maka
mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik yang menyebar di atas dan
dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
3.6.4 Analisis Regresi Multiple
Analisis regresi digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel
bebas terhadap variabel terikat dan memprediksi variabel terikat dengan
menggunakan variabel bebas, karena variabel bebas dalam penelitian ini lebih dari
satu, maka analisis regresi yang digunakan adalah analisis regresi multiple.
Analisis regresi multiple dihitung melalui persamaan regresi linier multiple
Y = +
(Sudjana, 2003 : 76)
Keterangan :
Y = Variabel Dependen
, = Variabel Independen
= Konstanta
= Koefisien Regresi
e = Eror
3.6.5 Rancangan Pengujian Hipotesis
3.6.5.1Uji Statistik F (Uji Keberartian Regresi)
Uji F digunakan untuk menguji keberartian regresi, sebagaimana yang
dikemukakan Sudjana (2003 : 90) bahwa :
Menguji keberartian regresi linier multiple ini dimaksudkan untuk meyakinkan diri apakah regresi (berbentuk linier) yang didapatkan berdasarkan penelitian ada artinya bila dipakai untuk membuat kesimpulan mengenai hubungan sejumlah peubah yang sedang dipelajari.
Rumus Uji F :
68
Dengan :
JK (Reg) =
JK (s) = ∑
Hipotesis yang digunakan adalah :
maka regresi tidak berarti.
maka regresi berarti.
Pengujian dilakukan dengan membandingkan F hitung dengan F tabel
melalui derajat kebebasan (dk) = (n-k-1), maka kriteria keputusannya
adalah sebagai berikut:
Jika F-hitung F-tabel, maka akan ditolak (regresi berarti), sehingga
variabel independen memiliki tingkat keberartian terhadap variabel
dependen.
Jika F-hitung F-tabel, maka akan diterima (regresi tidak berarti),
sehingga variabel independen tidak memiliki tingkat keberartian
terhadap variabel dependen.
3.6.5.2 Uji Statistik t-test
Uji statistik t-test digunakan untuk menguji keberartian koefisien regresi,
atau menguji tingkat signifikansi pengaruh masing–masing variabel independen
terhadap variabel dependen.
Uji statistik t-test yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian
satu pihak, dengan α sebesar 5%, dan perhitungannya dibantu software SPSS V.16
(Sudjana, 2003 : 31)
Ket :
= Koefisien regresi
= kesalahan baku koefisien regresi multiple b
Hipotesis statistik yang digunakan :
a) : =0 :Karakteristik perusahaan berupa ukuran perusahaan tidak
berpengaruh terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
: 0 : Karakteristik Perusahaan berupa ukuran perusahaan berpengaruh
positif terhadap Kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
b) : 0 : Karakteristik Perusahaan berupa porsi saham publik tidak
berpengaruh terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
: 0: Karakteristik Perusahaan berupa porsi saham publik berpengaruh
positif terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
c) : 0 : Karakteristik Perusahaan berupa likuiditas tidak berpengaruh
terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
: 0 : Karakteristik perusahaan berupa likuiditas berpengaruh positif
70
Setelah diperoleh t-statistik atau t-hitung, kemudian bandingkan dengan
distribusi student-t dengan taraf signifikansi 5%, kemudian membuat taraf
keputusan, dengan menggunakan kaidah keputusan keberartiannya :
1. Apabila > akan ditolak.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data dan pengujian hipotesis, seperti yang
telah diuraikan dalam bab IV, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil perhitungan berkaitan dengan variabel karakteristik
perusahaan, diperoleh hasil bahwa rata-rata ukuran perusahaan dalam
perusahaan sampel dilihat dari skala usahanya tergolong kedalam kategori
besar. Sementara itu rata-rata porsi saham yang dimiliki, cenderung lebih
kecil sehingga akses publik terhadap informasi terbatas. Kinerja keuangan
perusahaan sampel rata-rata tinggi, sehingga menunjukkan kuatnya
kondisi keuangan perusahaan manufaktur tersebut.
2. Berdasarkan hasil perhitungan, terhadap 30 laporan keuangan tahunan
perusahaan, dengan menggunakan indeks Wallace mengenai kelengkapan
mandatory disclosure financial statement, diperoleh bahwa rata-rata
pengungkapan wajibnya berkisar 68,04% sehingga tergolong ke dalam
kategori sedang dan masih jauh dari apa yang diharapkan berdasarkan
aturan BAPEPAM No.347/BL/2012. Sedangkan dari segi isi (content),
kelengkapan mandatory disclosure financial statement, pada perusahaan
sampel paling banyak dilakukan pada komponen laporan arus kas
(98,89%), catatan atas laporan keuangan (97,34%), laporan perubahan
118
3. Berdasarkan penelitian ini diketahui, bahwa terdapat pengaruh positif dari
ukuran perusahaan terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial
statement. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan
merupakan pemicu utama dalam variasi praktik kelengkapan mandatory
disclosure financial statement pada perusahaan manufaktur.
4. Hasil uji statistik tidak membuktikan adanya pengaruh porsi saham publik
terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement. Dengan
demikian, hal ini jauh dari dugaan bahwa porsi saham publik memiliki
pengaruh. Hal ini dimungkinkan karena pada umumnya pemilik saham
publik hanya investor kecil yang tidak memiliki otoritas informasi
keuangan maupun non-keuangan. Sehingga porsi saham publik bukanlah
pemicu kelengkapan mandatory disclosure financial statement.
5. Hasil uji statistik tidak membuktikan adanya pengaruh likuiditas terhadap
kelengkapan mandatory disclosure financial statement. Dengan demikian,
hal ini jauh dari dugaan bahwa likuiditas memiliki pengaruh, hal ini
dimungkinkan karena pada umumnya perusahaan dengan likuiditas yang
tinggi memiliki kinerja keuangan yang kuat. Sehingga dalam hal ini aspek
kinerja keuangan bukanlah pemicu kelengkapan mandatory disclosure
financial statement.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan penulis dalam penelitian ini adalah
1. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mengevaluasi dan mengontrol laporan
keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan (emiten), agar perusahaan
terdorong untuk memberikan pengungkapan yang lebih lengkap sehingga
dapat memberikan manfaat bagi para pemakainya.
2. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mengeluarkan peraturan mengenai
peningkatan porsi saham yang dapat dimiliki publik, demi mendorong
investasi dan membatasi besarnya otoritas manajemen dalam informasi
keuangan maupun non-keuangan.
3. Penelitian selanjutnya hendaknya menambahkan variabel lain yang dapat
mewakili karakteristik perusahaan yang berpengaruh terhadap
kelengkapan mandatory disclosure financial statement, seperti umur
perusahaan, status kepemilikan manajerial, jenis KAP dan lain sebagainya.
4. Penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan sampel penelitian yang
lebih besar dan menggunakan data time series, agar hasil penelitian lebih
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku :
Belkoui, dan Riahi, Ahmed. (2011). Teori Akuntansi Edisi 5 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat
Chariri, A dan Ghozali, I. (2003). Teori Akuntansi. Semarang: UNDIP
Ghozali, I. (2012). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS 20. Cetakan IV. Semarang: UNDIP
Ikatan Akuntansi Indonesia. (2007). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat
Iqbal, Hasan. (2010). Analisis Data Penelitian Dengan Statistik. Jakarta: Bumi Aksara.
Halim. (2005). Analisis Investasi. Jakarta: Salemba Empat
Hanafi, Mamduh M., dan Halim, Abdul., (2007). Analisis Laporan Keuangan,
Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Harahap, S.S. (2007). Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Harahap, S.S. (2007). Teori Akuntansi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Hendriksen, Eldon. S dan Vabreda, Michael. F. (2002). Teori Akunting. Edisi Kelima Buku 2. Jakarta : Interaksara
Jogiyanto, Hartono. (2000). Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Kedua, Yogyakarta: BPFE UGM
Kartikahadi, H., Sinaga, R.U., Syamsul, M., Siregar, S.V., (2012). Akuntansi
Keuangan berdasarkan SAK berbasis IFRS. Jakarta : Salemba Empat
Munawir, S. (2010). Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta
Richard, T. George. (2010). Business Ethics. Amerika: Pearson
Sudjana. (2003). Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Bandung : Tarsito
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Suta, I Putu Gede Ary. (2000). Menuju Pasar Modal Moderen. Jakarta: Yayasan SAD Satria Bakti
Suwardjono. (2005). Teori Akuntansi : Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE
Tim Pertimbangan Pembimbingan Skripsi. (2013). Pedoman Operasional
Penulisan Skripsi. Bandung : Pendidikan Akuntansi.
Umar, H. (2005). Desain Penelitian Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: PT Raja Governance and Voluntary Disclosure in Corporate Annual Reports of Malaysian Listed Firms”, Journal of Applied Management Accounting
Research 7 (1): 1-20
Al-Akra, M., I.A. Eddie dan M.J. Ali. (2010). “The Influence of The Introduction of Accounting Disclosure Regulation on Mandatory Disclosure Compliance: Evidence from Jordan”, The British Accounting Review(42): 170–186
Benardi, M. Sutrisno, dan Assih, P. (2009). “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Luas Pengungkapan dan Implikasinya terhadap Asimetri Informasi (Studi Pada Perusahaan Sektor Manufaktur yang Go Public di Bursa Efek
Indonesia”.
Dibiyantoro. (2011). “Pengaruh Struktur Modal dan Profitabilitas Terhadap Mandatory Disclosure Financial Statement pada Perusahan Manufaktur Yang Terdaftar di BEI”, Jurnal Ekonomi dan Informasi Akuntansi
(JENIUS) Vol 1 no 2
Jensen, Michael C. and Meckling, William H. (1976). “Theory of Firm
122
Maryati dan Dwinurti, T. (2012). “Analisis Pengaruh Good Corporate
Governance, Kesempatan Tumbuh, dan Ukuran Perusahaan Terhadap
Kinerja Keuangan”.
Mujiyono dan Nany, M. (2006). “Pengaruh Leverage, Likuiditas, dan Saham Publik Terhadap Luas Pengungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan.
Jurnal Akuntansi dan Bisnis Vol.6, No.1 P.23-28
Naim, Ainun dan Rakhman, Fuad. (2000). “Analisis Hubungan Antara
Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan dengan Struktur Modal
dan Tipe Kepemilikan Perusahaan”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 15
Nugraheni, B Linggar Yekti., Oct. Digdo Hartomo dan Lucia Hary Patwoto.
(2002). “ Analisis Faktor-faktor Fundamental Perusahaan Terhadap Kelengkapan Laporan Keuangan, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol VIII
Renders, A. dan A. Gaeremynck. (2005). “Legal and Voluntary Investor Protection and Early IFRS-adoption: A Study of European Companies”,
De Economist 1 (155): 49–72
Sembiring, A.A. (2012). “Pengaruh Klasifikasi Industri dan Ukuran Perusahaan terhadap Risiko Bisnis Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di
BEI”. Jurnal Manajemen Vol.1 No.1 P.1-6
Simanjuntak, Binsar dan Widiastuti, Lucy. (2004). “Fator-faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Pada
Perusahaan Manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Jakarta”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol.7, No.3 Hal 351-366, September 2004.
Sudarmadji, A.M dan Lana Sularto. (2007). “Pengaruh Ukuran Perusahaan,
Profitabilitas, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary
Disclosure Laporan Keuangan Tahunan”, Jurnal PESAT Vol 2. Jakarta:
Universitas Gunadarma
Sutanto, F.D. (2012). “Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Tingkat Pengungkapan Intelectual Capital di Dalam Laporan Tahunan”.
Sumber Makalah :
Almilia, Luciana Spica dan Ikka Retrinasari. (2007). “Analisis Pengaruh
Karakteristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Pengungkapan dalam Laporan Tahunan Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ”,
Fitriani. (2001). “Signifikansi Perbedaan Tingkat Kelengkapan Pengungkapan
Wajib dan Sukarela Pada Laporan Keuangan Perusahaan Publik Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta”. Makalah dipresentasikan dalam
Simposium Nasional Akuntansi IV
Marwata. (2001).”Hubungan Antara Karakteristik Perusahaan dan Kualitas
Ungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan Perusahaan Publik di
Indonesia”, Simposium Nasional Akuntansi (SNA) IV
Prawinandi, et al. (2012). “Peran Struktur Corporate Governance dalam Tingkat
Kepatuhan Mandatory Diclosure Konvergensi IFRS”, Simposium
Nasional Akuntansi
Utami, W.D., Suhardjanto, D., dan Hartoko, S., (2012). “Tingkat Kepatuhan Pengungkapan Wajib dan Kaitannya dengan Mekanisme Good Corporate Governance : Investigasi dalam Konvergensi IFRS di Indonesia”, makalah dalam Seminar Nasional Akuntansi.
Sumber Skripsi dan Tesis:
Irawan, Bambang. (2006). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan
Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Sarjana
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia
Ivanna. (2006). Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Pada
Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Medan:
Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
Fatimah, Nurul. (2013). Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Tingkat
Pengungkapan Intellectual Capital (Studi Pada Perusahaan yang Tergabung dalam Indeks LQ45 Tahun 2012. Skripsi. Bandung: Program
Sarjana Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia
Prasetya, D.Indra. (2011). Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, Likuiditas,
Leverage, dan Profitabilitas terhadap mandatory disclosure. Skripsi.
Semarang: Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro
Purwandari, Arum. (2012). Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Struktur
Kepemilikan, dan Status Perusahaan terhadap Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Di Indonesia. Skripsi. Semarang:
Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro
Subiyantoro, Edi. (1996). Hubungan Antara Kelengkapan Laporan Keuangan
dengan Karakteristik Perusahaan Publik. Tesis Master. Yogyakarta:
124
Supriadi, D.A. (2010). Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Otomotif yang terdaftar di BEI. Skripsi. Jakarta: Program Sarjana Fakultas
Ekonomi UPN Veteran.
Sumber Dokumen :
Surat Keputusan Ketua BAPEPAM No.6/PM/2000. (2000). Tentang Penyajian
Laporan Keuangan Perusahaan Publik Yang Terdaftar di BEI. Jakarta:
BAPEPAM
Surat Edaran Ketua BAPEPAM No.SE-02/PM/2002. Tentang Pedoman
Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Manufaktur. Jakarta: BAPEPAM
Surat Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-347/BL/2012. Tentang Pedoman
Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Perusahaan Publik yang Terdaftar di BEI. Jakarta: BAPEPAM
Sumber Internet – Berita Online :
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI). (2006). How is the
Indonesian Corporate Governance Condition in Reality?.[Online].
Tersedia: http://www.fcgi.or.id/corporate-governance/articles.html. [22 Februari 2013]
Prayogi, W.E. (2011). Bapepam Telusuri Salah Catat Laporan Keuangan Bakrie&Brothers.[online].Tersedia:
http://finance.detik.com/read/2011/05/02/183124/1630743/6/bapepam-telusuri-salahcatat-laporan-keuangan-bakriebrothers. [20 Juni 2013]