• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP KELENGKAPAN MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT : Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP KELENGKAPAN MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT : Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012."

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

No. Daftar FPEB : 429/UN.40.7.D1/LT/2013

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP

KELENGKAPAN MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT

(Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menempuh Ujian Sidang Sarjana

Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Akuntansi

Oleh

FITRI HANI PRATIWI 0906684

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

(2)

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP

KELENGKAPAN MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT

(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek

Indonesia Tahun 2012)

Oleh:

Fitri Hani Pratiwi

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis

 Fitri Hani Pratiwi 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Oktober 2013

Hak cipta dilindungi undang-undang

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian,

(3)
(4)
(5)

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP KELENGKAPAN MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT

(Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012)

Fitri Hani Pratiwi

Pembimbing : Dr.Hj. Meta Arief, M.Si.

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelengkapan mandatory

disclosure financial statement perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia Tahun 2012. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik perusahaan (ukuran perusahaan, porsi saham publik, dan likuiditas) sebagai variabel independen terhadap kelengkapan mandatory

disclosure financial statement sebagai variabel dependen, pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif verifikatif. Metode dengan menggunakan indeks wallace digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk meneliti kelengkapan mandatory disclosure

financial statement. Sampel penelitian dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh sampel dalam penelitian ini sebanyak 30

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012. Pengujian statistik yang digunakan adalah analisis regresi multiple dengan uji F dan uji t pada taraf signifikansi 5%. Perhitungan statistik tersebut dibantu

software SPSS V.16 for windows dan Microsoft Excel 2007.

Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata kelengkapan mandatory

disclosure financial statement pada perusahaan manufakur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia tahun 2012 berdasarkan Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep.347/BL/2012 sebesar 68,04% yang termasuk kategori sedang. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement

.

Kata Kunci: Karakteristik Perusahaan, Kelengkapan Mandatory Disclosure

(6)

THE EFFECT OF FIRMS CHARACTERISTICS ON THE COMPLETENESS MANDATORY DISCLOSURE FINANCIAL STATEMENT

(Study on Manufacturing Company Listed In Indonesia Stock Exchange For The Year of 2012 )

Fitri Hani Pratiwi

Advisor : Dr.Hj. Meta Arief, M.Si.

ABSTRACT

This study aims to examine the completeness of mandatory disclosure financial statements by listed manufacturing companies in Indonesia Stock Exchange for the year of 2012. This study also examines the influence of firm characteristics (firm size, public shares, and liquidity) as independent variables towards completeness of mandatory disclosure financial statement as a dependent variable

The method used in this research is descriptive method verivikatif . indeks Wallace used as a tool for data collection to examine completeness of mandatory disclosure financial statement. Sample was collected using purposive sampling method and 30 by listed manufacturing companies in Indonesia Stock Exchange for the year of 2012 are collected. Statistical test was done using multiple regression analysis and using F test and t-test with significant level at 5%. Statistical calculation are assisted by software SPSS V.16 for Windows and Microsoft Excel 2007 .

The results showed that the average completeness of mandatory disclosure financial statement by manufacturing listed in Indonesia Stock Exchange for the year of 2012 based Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-347/BL/2012 is 68,04% which is classified as middle. This study also found that firm size have positive influence on completeness of mandatory disclosure financial statement.

(7)

DAFTAR ISI

1.2 Rumusan Masalah ... 11

1.3 Tujuan Penelitian ... 12

1.4 Kegunaan Penelitian ... 13

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 13

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 13

BAB II LANDASAN TEORI ... 14

2.1 Teori Signalling ... 14

2.2 Teori Agensi ... 16

2.3 Laporan Keuangan Perusahaan ... 18

2.3.1 Definisi Laporan Keuangan ... 18

2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan ... 19

2.3.3 Komponen Laporan Keuangan ... 20

2.3.4 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan ... 21

2.3.5 Pemakai Laporan Keuangan ... 22

2.4 Pengungkapan (Disclosure) ... 23

2.4.1 Definisi Pengungkapan ... 23

2.4.2 Tujuan Pengungkapan ... 25

2.4.3 Konsep Pengungkapan ... 27

2.4.4 Jenis Pengungkapan ... 28

(8)

2.5 Karakteristik Perusahaan ... 32

2.5.1 Ukuran Perusahaan ... 34

2.5.2 Porsi Saham Publik ... 35

2.5.3 Likuiditas ... 36

2.6 Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement ... 37

2.6.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement ... 37

2.6.2 Pengaruh Porsi Saham Publik Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement .. 39

2.6.3 Pengaruh Likuiditas Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement ... 40

2.7 Penelitian Terdahulu ... 41

2.8 Kerangka Pemikiran ... 46

2.9 Hipotesis ... 50

BAB III METODE PENELITIAN ... 52

3.1Desain Penelitian ... 52

3.2Operasionalisasi Variabel ... 53

3.3Populasi dan Sampel ... 59

3.4Teknik Pengumpulan Data ... 60

3.5Jenis dan Sumber Data ... 61

3.6Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 61

3.6.1 Analisis Karakteristik Perusahaan ... 62

3.6.2 Analisis Kelengkapan Mandatory Disclosure ... 63

3.6.3 Uji Asumsi Klasik ... 64

3.6.3.1 Uji Normalitas ... 64

3.6.3.2 Uji Linieritas ... 65

3.6.3.3 Uji Multikolinieritas ... 65

3.6.3.4 Uji Heteroskedastisitas ... 66

3.6.4 Analisis Regresi Multiple ... 66

(9)

3.6.5.1 Uji F ... 67

3.6.5.2 Uji t ... 68

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 71

4.1 Gambaran Obyek Penelitian ... 71

4.1.1 Gambaran Umum Aktivitas Perusahaan Manufaktur ... 71

4.1.2 Risiko Perusahaan Manufaktur ... 74

4.1.3 Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur ... 76

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ... 77

4.2.1 Karakteristik Perusahaan Manufaktur ... 77

4.2.1.1 Ukuran Perusahaaan ... 80

4.2.1.2 Porsi Saham Publik ... 83

4.2.1.3 Likuiditas ... 86

4.2.2 Kelengkapan Mandatory Disclosure ... 89

4.3 Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 97

4.3.1 Uji Asumsi Klasik ... 97

4.3.1.1 Uji Normalitas ... 98

4.3.1.2 Uji Linieritas ... 98

4.3.1.3 Uji Multikolinieritas………101

4.3.1.4 Uji Heteroskedastisitas………102

4.3.2 Pengujian Hipotesis………..103

4.3.2.1 Analisis Regresi Multiple...103

4.3.2.2 Uji Keberartian Regresi………. 105

4.3.2.3 Uji t……….107

4.4 Pembahasan Hasil Penelititian………...109

4.4.1 Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement………...109

(10)

4.4.4 Pengaruh Likuiditas terhadap Kelengkapan Mandatory

Disclosure Financial Statement………...115

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………...117

5.1 Kesimpulan………....117

5.2 Saran………...118

DAFTAR PUSTAKA………...120

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Perbedaan Perusahaaan Go Public dan Non Go Public ...3

Tabel 2.1 Klasifikasi Skala Usaha ...35

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu ...44

Tabel 3.1 Item Mandatory Disclosure Financial Statement ...56

Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel ...58

Tabel 3.3 Daftar Sampel yang Digunakan Dalam Penelitian ...60

Tabel 3.4 Sumber dan Jenis Data ...61

Tabel 4.1 Profil Perusahaan Sampel ...73

Tabel 4.2 Deskripsi Data Variabel Penelitian ...79

Tabel 4.3 Nilai Total Aset ...81

Tabel 4.4 Prosentase Porsi Saham Publik ...84

Tabel4.5 Nilai Current Ratio (Likuiditas) ...87

Tabel 4.6 Tingkat Kelengkapan Mandatory Disclosure ...91

Tabel 4.7 Kelengkapan Mandatory Disclosure per Kandungan ...96

Tabel 4.8 Uji Normalitas Data ...98

Tabel 4.9 Uji Multikolinieritas ...101

Tabel 4.10 Hasil Analisis Regresi Linier Multiple ...104

Tabel 4.11 Hasil uji statistik F ...106

(12)

DAFTAR GAMBAR

Grafik 1.1 Tingkat Kelengkapan Mandatory Financial Statement 2010 ...6

Grafik 1.2 Tingkat Kelengkapan Mandatory Financial Statement 2011 ...6

Gambar 2.1 Model Hubungan Antar Variabel ...50

Gambar 4.1 Ukuran Perusahaan dalam Laporan Keuangan ...82

Gambar 4.2 Porsi Saham Publik Perusahaan Manufaktur ...85

Gambar 4.3 Rasio Likuiditas Perusahaan Manufaktur ...88

Gambar 4.4 Tingkat Kelengkapan Mandatory Disclosure ...93

Gambar 4.5 Kelengkapan Mandatory Disclosure per Komponen ...96

Gambar 4.6 Hasil Uji Linieritas ...99

Gambar 4.7 Hasil Uji Linieritas ...100

Gambar 4.8 Hasil Uji Linieritas ...100

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi saat ini, peran pasar modal menjadi vital dalam

pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pasar modal memiliki masa depan yang

gemilang, dikarenakan semakin lemahnya peranan perbankan sebagai institusi

sumber pembiayaan, pasca krisis ekonomi tahun 1998. Di kawasan Asia

Tenggara, pasar modal Indonesia berada pada fase menuju moderen dan belum

bisa berdiri sejajar dengan pasar modal negara lain, khususnya di kawasan Asia

Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Hal ini disebabkan ada

banyak persoalan yang harus ditangani dalam pasar modal Indonesia, misalnya

persoalan transparansi yang belum seratus persen dijalankan oleh emiten, pola

pengawasan, penegakan hukum, dan lain sebagainya.

Pasar modal yang adil, teratur, dan efisien adalah pasar modal yang

memberi perlindungan kepada investor publik terhadap praktik bisnis yang tidak

sehat, tidak jujur, dan bentuk-bentuk manipulasinya (Suta, 2000:94). Efisiensi

pasar modal ditunjang dengan pengungkapan (disclosure) yang memadai

(Sutanto, 2012:2), melalui pengungkapan laporan perusahaan, mencakup laporan

keuangan (financial statement) dan laporan tahunan (annual report).

Laporan keuangan tahunan merupakan media utama penyampaian

informasi oleh manajemen kepada pihak-pihak yang berkepentingan di luar

(14)

stakeholders lainnya berkaitan dengan kondisi keuangan dan informasi lainnya

sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi (Dibiyantoro,

2011:174). Laporan keuangan yang berkualitas adalah laporan keuangan yang

relevan, lengkap, dapat diperbandingkan, andal, serta dapat dipahami (Kartikahadi

et al., 2012:49). Dengan demikian agar dapat memenuhi karakteristik kualitatif

maka laporan keuangan harus disajikan sesuai standar akuntansi yang berlaku dan

dilengkapi pengungkapan yang memadai. Pengungkapan yang memadai hanya

dapat ditempuh melalui penerapan regulasi informasi yang baik.

Regulasi informasi di pasar modal, diatur oleh peraturan yang dikeluarkan

oleh otoritas yang ditunjuk oleh pemerintah, yakni BAPEPAM (Badan Pengawas

Pasar Modal). Berdasarkan UU Pasar Modal Pasal 69 Ayat 2, menyatakan bahwa

BAPEPAM berwenang untuk menetapkan ketentuan akuntansi di bidang pasar

modal. Dengan demikian emiten yang statusnya telah go public, wajib mentaati

peraturan yang dikeluarkan BAPEPAM, terutama berkaitan dengan keterbukaan

di bidang ekonomi melalui pengungkapan laporan keuangan, sebagai salah satu

pilar penting dari prinsip good corporate governance demi melindungi

kepentingan investor (Suta, 2000:157).

Dengan demikian, perusahaan yang telah go public memiliki

tanggungjawab yang lebih dalam hal akuntabilitas dan transparansi terhadap

masyarakat dibandingkan dengan perusahaan yang tidak go public (perusahaan

tertutup). Berikut ini gambaran perbedaan yang paling mendasar antara

(15)

3

Tabel 1.1

Perbedaan Perusahaan Go Public dan Non Go Public

No. Aspek-aspek Perusahaan tidak go

public

Sumber : ( Suta. Menuju Pasar Modal Moderen. 2000:108)

Berdasarkan tabel 1.1 dapat dilihat bahwa perusahaan yang telah go public

mempunyai tanggung jawab yang jauh lebih berat dan harus tunduk kepada

peraturan-peraturan pasar modal yang dikeluarkan BAPEPAM. Dengan demikian

status go public, akan menuntut perusahaan tersebut melakukan keterbukaan,

sehingga perhatian berbagai pihak terhadap pelaporan keuangan yang dilakukan

perusahaan akan semakin intens.

Isu transparansi dan pengungkapan laporan keuangan menjadi salah satu isu yang penting di Indonesia, hal ini sejalan dengan adanya sebuah survey yang dipublikasikan oleh Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI,2006), berdasarkan survey yang dilakukan oleh Price Waterhouse Coopers pada tahun 1999 yang dilakukan terhadap investor internasional di Asia yang menunjukkan bahwa posisi Indonesia berada pada salah satu yang terburuk di mata investor berkaitan dengan standar audit dan kepatuhan, akuntabilitas, kepada pemegang saham, serta standar pengungkapan dan transparansi (Utami et al., 2012:1).

Informasi yang diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan dapat

dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (mandatory disclosure)

yakni pengungkapan minimum, sesuai diatur dalam regulasi yang berlaku

(16)

laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas dan catatan atas laporan

keuangan) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) sifatnya sukarela

dan bergantung dari keinginan manajemen (Hendriksen, 2002:436).

Pengungkapan wajib (mandatory disclosure), merupakan suatu kewajiban

yang wajib ditaati oleh perusahaan yang go public, khususnya bagi perusahaan

manufaktur seiring pesatnya perkembangan perusahaan tersebut, karena

perusahaan manufaktur memiliki basis investor yang lebih luas, Renders dan

Gaeremynck (dalam Utami et al., 2012:3). Peraturan mandatory disclosure untuk

perusahaan manufaktur telah diatur dalam Surat Edaran Ketua BAPEPAM

No.SE-02/PM/2002 tanggal 27 Desember 2002, berkaitan dengan item-item yang

wajib diungkapkan dalam laporan keuangan. Tingkat kepatuhan pengungkapan

wajib, dilihat melalui kelengkapan pengungkapan wajib laporan keuangan.

Faktanya, industri manufaktur belum menerapkan keterbukaan ekonomi

sepenuhnya, melalui kelengkapan mandatory disclosure financial statement (Suta,

2000:159), sehingga ada indikasi bahwa perusahaan menyembunyikan informasi

penting yang seharusnya diungkap (Prawinandi et al., 2012:1).

Informasi yang tidak diungkapkan ini dapat merugikan stakeholders, salah

satunya kasus yang menimpa PT Petromine Energy Trading (anak perusahaan PT

Bakrie&Brothers Tbk), yang tidak mencantumkan pendapatan dari penyediaan

bahan bakar kepada AKR Corporindo senilai Rp1,370 triliun, dengan

menggunakan beban pokok pendapatan sebesar Rp8,000 triliun, karena kasus ini

PT Bakrie&Brothers dikenai sanksi senilai Rp4,000 miliar dari BAPEPAM

(17)

5

Begitupun di tahun 2001 terjadi suatu skandal mark-up laba bersih dalam

laporan keuangan yang dilakukan oleh salah satu perusahaan manufaktur yang

terdapat di BEI saat itu, yakni PT Kimia Farma. Dalam laporan keuangan tersebut

perusahaan menaikkan nilai laba perusahaan dengan memanipulasi data, dengan

menyebut perusahaan memperoleh laba sekitar Rp132,000 miliar padahal

perusahaan hanya memperoleh laba sebesar Rp99,594 miliar, sehingga terjadi

penggelembungan dana sebesar Rp32,668 miliar (Syahrul, 2002:1). Dengan

demikian, menurut Imhoff tingginya kualitas informasi akan sangat berkaitan

dengan tingkat kelengkapan.

Realitanya, kepatuhan perusahaan manufaktur melalui kelengkapan

mandatory disclosure perusahaan manufaktur di Indonesia secara umum rata-rata

hanya berkisar 72,203% (Utami et al., 2012:13), kondisi ini mengisyaratkan

belum sepenuhnya keterbukaan informasi melalui kelengkapan mandatory

disclosure financial statement dilakukan. Berikut ini grafik tingkat kelengkapan

mandatory disclosure financial statement perusahaan manufaktur di Indonesia

(18)

Grafik 1.1

Tingkat Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement Tahun 2010

Sumber : Butar-butar (2011)

Grafik 1.2

Tingkat Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement Tahun 2011

Sumber : (data diolah)

Berdasarkan grafik 1.1 dapat diketahui bahwa tingkat kelengkapan

mandatory disclosure financial statement perusahaan manufaktur yang go public

60% 62%

(19)

7

tahun 2010, perusahaan dengan indeks tertinggi mengungkapkan sebesar 82%

sementara perusahaan dengan indeks terendah mengungkapkan 55%. Sementara

berdasarkan grafik 1.2 dapat diketahui bahwa tingkat kelengkapan mandatory

disclosure financial statement tahun 2011, perusahaan dengan indeks tertinggi

mengungkapkan 85% dan perusahaan dengan indeks terendah mengungkapkan

60,29%. Data faktual yang telah diteliti, dapat menyimpulkan bahwa tingkat

kelengkapan mandatory disclosure financial statement perusahaan manufaktur

khususnya yang telah go public, belum sepenuhnya melakukan prinsip

transparansi berkaitan dengan regulasi yang ditetapkan oleh BAPEPAM, sesuai

dengan Surat Edaran Ketua BAPEPAM No.SE-02/PM/ 2002, yang diperbaharui

berdasarkan Surat Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal

No.KEP-347/BL/2012, dimana seharusnya tingkat kelengkapannya diungkapkan

sepenuhnya sebesar 100% sesuai pengungkapan minimum yang diatur oleh

BAPEPAM, agar kepentingan investor dapat terlindungi melalui kelengkapan

mandatory disclosure financial statement. Selain itu isu mengenai kegiatan

pengungkapan yang dilakukan perusahaan baik yang sifatnya wajib maupun

sukarela, menjadi suatu hal yang sangat esensial dalam praktik penerapan good

corporate governance.

Tingkat kelengkapan mandatory disclosure financial statement dari setiap

perusahaan bervariasi diakibatkan oleh aspek kultural, legal system (pembuatan

undang-undang) dan accounting system (Suta, 2000:158). Selain ketiga faktor

(20)

oleh karakteristik suatu perusahaan (Subiyantoro, 1996; Fitriany, 2001; Baridwan

et al., 2001; Hertanti, 2006:6; Almilia, 2007; Sihite, 2010:2).

Karakteristik perusahaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan kondisi

internal suatu perusahaan, yang meliputi kondisi manajemen, organisasi, SDM,

dan keuangan perusahaan yang tercermin dalam kinerja keuangannya (Jogiyanto,

2000:89). Lang dan Lundhom (1994) dalam Subiyantoro (1996:3) menyatakan,

dalam konteks laporan keuangan karakteristik perusahaan dibagi dalam tiga

kategori yaitu variabel struktur (ukuran perusahaan dan kemampuan melunasi

hutangnya), variabel kinerja (likuiditas perusahaan dan profitnya) dan variabel

pasar (porsi saham publik, umur perusahaan, status perusahaan).

Menurut Munawir (2010:65) faktor yang mempengaruhi penyajian data dalam pengungkapan wajib laporan keuangan adalah perbedaan letak perusahaan, ukuran perusahaan, jumlah aktiva tetap, umur kekayaan perusahaan, struktur permodalan (porsi kepemilikan saham publik), perbedaan sistem dan prosedur akuntansi, serta kinerja keuangan perusahaan melalui rasio solvabilitas, likuiditas, dan rentabiltas.

Terdapat beberapa penelitian terdahulu mengenai hubungan karakteristik

perusahaan terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statements.

Subiyantoro (1996) melakukan penelitian mengenai pengaruh karakteristik

perusahaan terhadap luas pengungkapan wajib laporan keuangan. Berdasarkan

penelitian tersebut disimpulkan bahwa leverage, likuiditas, dan total aktiva

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap luas pengungkapan wajib.

Ainun dan Fuad (2000) melakukan penelitian mengenai analisis hubungan

antara kelengkapan pengungkapan laporan keuangan dengan struktur modal dan

tipe kepemilikan perusahaan. Berdasarkan penelitian tersebut disimpulkan bahwa

(21)

9

pengungkapan laporan keuangan, sementara porsi saham publik tidak memiliki

hubungan yang signifikan terhadap kelengkapan pengungkapan.

Marwata (2001), melakukan penelitian mengenai karakteristik perusahaan

terhadap tingkat ungkapan sukarela pada laporan keuangan, penelitian ini tidak

menemukan adanya hubungan yang signifikan antara variabel leverage, likuiditas,

basis perusahaan, umur perusahaan terhadap ungkapan sukarela dalam laporan

tahunan.

Fitriani (2001) melakukan penelitian mengenai signifikansi perbedaan

tingkat kelengkapan pengungkapan wajib dan sukarela pada perusahaan publik

yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa

faktor yang mempengaruhi kelengkapan pengungkapan wajib adalah ukuran

perusahaan, status perusahaan, jenis perusahaan, net profit margin, dan KAP.

Sementara tingkat leverage dan likuiditas tidak mempengaruhi kelengkapan

pengungkapan wajib dan sukarela.

Simanjuntak dan Widiastuti (2004), melakukan penelitian mengenai

faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan pengungkapan laporan keuangan

pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel kepemilikan

perusahaan, porsi saham publik, profitabilitas, umur perusahaan, leverage dan

likuiditas secara signifikan berpengaruh terhadap kelengkapan pengungkapan.

Bambang Irawan (2006) melakukan penelitian mengenai fakt0r-faktor

yang mempengaruhi kelengkapan pengungkapan laporan keuangan perusahaan

(22)

secara simultan DER, Profitabilitas, porsi saham publik, ukuran perusahaan, umur

perusahaan, OPM, NPM, ROE dan status perusahaan memiliki pengaruh

signifikan terhadap kelengkapan pengungkapan laporan keuangan.

Rahmawati et al (2007) melakukan penelitian mengenai pengaruh ukuran

perusahan, profitabilitas, leverage dan likuiditas terhadap kelengkapan laporan

keuangan, hasilnya bahwa ukuran perusahaan dan likuiditas yang berpengaruh

terhadap kelengkapan pengungkapan.

Denny Indra Prasetya (2011) melakukan penelitian mengenai pengaruh

ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan likuiditas terhadap pengungkapan

wajib pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia,

hasilnya menyatakan bahwa ukuran perusahaan saja yang berpengaruh terhadap

pengungkapan wajib.

Berdasarkan penelitian sebelumnya terdapat ketidakkonsistenan antara

indikator yang digunakan sebagai proxy karakteristik perusahaan terhadap

kelengkapan mandatory disclosure financial statement perusahaan manufaktur,

oleh karena itu memungkinkan dilakukannya penelitian lebih lanjut. Dengan

demikian, penelitian ini berusaha untuk meneliti lebih dalam seberapa jauh faktor

yang mempengaruhi kelengkapan mandatory disclosure financial statement

perusahaan manufaktur. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya

karena variabel independennya berfokus pada karakteristik perusahaan yang di

proxy kan melalui ukuran perusahaan, porsi saham publik, dan likuiditas serta

(23)

11

Pengungkapan informasi melalui kelengkapan mandatory disclosure

financial statements menarik untuk dikaji berkaitan dengan kepatuhan emiten

terutama yang telah go public pada regulasi yang berlaku, demi melindungi

kepentingan investor, hal ini dikarenakan perusahaan harus menerapkan prinsip

good corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik, terutama

melalui transparansi laporan keuangan terhadap publik, selain itu juga penerapan

financial disclosure diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

 Memungkinkan peningkatan negara dari pajak, melalui praktik pelaporan yang sehat dan terbuka.

 Mempercepat perkembangan pasar modal.

Mempercepat terjadinya flow of fund (perputaran aliran dana) yang memang dibutuhkan oleh perekonomian kita.

 Merupakan bentuk pertanggungjawaban publik oleh setiap pengusaha kepada masyarakat.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap

Kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement (Studi Pada

Perusahaan Manufaktur Tahun 2012 di Bursa Efek Indonesia).

1.2 Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari fenomena yang telah dikemukakan pada latar belakang,

maka pokok permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran karakteristik perusahaan yang meliputi ukuran

perusahaan, porsi saham publik, dan likuiditas pada perusahaan

(24)

2. Bagaimana gambaran kelengkapan mandatory disclosure financial

statement baik dari segi jumlah maupun kandungan, pada perusahaan

manufaktur tahun 2012 di Bursa Efek Indonesia.

3. Bagaimana pengaruh karakteristik perusahaan berupa ukuran perusahaan,

terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

4. Bagaimana pengaruh karakteristik perusahaan berupa porsi saham publik,

terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

5. Bagaimana pengaruh karakteristik perusahaan berupa likuiditas terhadap

kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini pada dasarnya untuk memperoleh jawaban dan

informasi atas masalah yang telah diidentifikasikan dalam rumusan masalah,

adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui gambaran karakteristik perusahaan yang meliputi

ukuran perusahaan, porsi saham publik, dan likuiditas pada perusahaan

manufaktur tahun 2012.

2. Untuk mengetahui gambaran kelengkapan mandatory disclosure financial

statement baik dari segi jumlah maupun kandungan, pada perusahaan

manufaktur tahun 2012 di Bursa Efek Indonesia.

3. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik perusahaan berupa ukuran

perusahaan, terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial

(25)

13

4. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik perusahaan berupa porsi saham

publik, terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

5. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik perusahaan berupa likuiditas

terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini memiliki kegunaan atau manfaat bagi beberapa pihak,

khusunya penulis sendiri, terutama dalam pengembangan dan penerapan ilmu

yang dimiliki penulis, selama mengikuti perkuliahan. Kegunaan penelitian ini

terbagi atas :

1.4.1 Kegunaan Teoritis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi

pengembangan ilmu Akuntansi Keuangan dan Manajemen Keuangan, berkaitan

dengan pengaruh karakteristik perusahaan terhadap kelengkapan mandatory

disclosure financial statement perusahaan manufaktur. Hasil dari penelitian ini

juga diharapkan dapat digunakan sebagai literatur dalam penelitian selanjutnya

bagi para akademisi, maupun praktisi.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan bagaimana

perhatian para emiten terutama perusahaan manufaktur yang telah go public

terhadap regulasi yang berlaku, berkaitan dengan kelengkapan mandatory

disclosure financial statement, yang dipengaruhi oleh karakteristik perusahaan

dengan menghitung faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap

(26)

dijadikan sumber bagi investor dalam mempertimbangkan keputusan ekonomi di

(27)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Dalam melakukan penelitian, harus didasarkan dan melalui prosedur

ilmiah, berdasarkan keilmuan. Menurut Sugiyono (2011:2), metode penelitian

adalah sebagai berikut :

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dilakukan secara ilmiah berdasarkan prinsip keilmuan untuk memperoleh data yang valid, reliable, dan objektif, dengan tujuan untuk ditemukan, dibuktikan dan dikembangkan datanya menjadi suatu pengetahuan, sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan serta mengantisipasi masalah.

Metode penelitian sebagai suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data

dengan tujuan tertentu, jelas menjadi unsur yang penting dalam penelitian, karena

melalui metode ini merupakan sarana dan upaya dalam pengumpulan data.

Pengumpulan datnya dilakukan secara rasional (masuk akal), empiris (dapat

diamati panca indera), dan sistematis (logis). Untuk itu maka metode penelitian

dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan verifikatif.

Menurut Sugiyono (2011: 147), “Analisis deskriptif dilakukan dengan cara

mendeskripsikan dan menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana

adanya, tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau

generalisasi”. Penggunaan metode ini dilakukan, karena penelitian ini digunakan

hanya pada sampel, dimana hasilnya hanya berlaku pada sampel dan bukan pada

(28)

berdasarkan penelitian sebelumnya. Metode verifikatif dilakukan untuk menguji

kebenaran atau teori yang telah ada bukan menciptakan teori baru. Menurut Iqbal

Hasan (2010:11) bahwa “penelitian yang bertujuan verifikatif yaitu menguji

kebenaran sesuatu dalam bidang yang telah ada sebelumnya”.

Desain penelitian merupakan kerangka kerja untuk merinci

hubungan-hubungan antara variabel yang terkait dengan kajian tersebut (Umar, 2005:5).

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain kausal, yakni dengan

menganalisis bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain. Dengan

demikian, dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk membuktikan adanya

pengaruh karakteristik perusahaan sebagai variabel independen, terhadap

mandatory disclosure financial statement sebagai variabel dependen. Periode

waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu tahun, dengan banyak

perusahaan (Cross Section ).

Adapun tahun yang dipilih adalah tahun 2012, mengingat penulis ingin

melihat konsistensi penelitian terdahulu, dengan data terbaru, yakni tahun 2012.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang berusaha menguji teori–teori

yang telah ada sebelumnya, sehingga dilakukan pengujian hipotesis.

3.2 Operasionalisasi Variabel

Menurut Sugiyono (2011:38), variabel penelitian adalah “segala sesuatu

yang berbentuk apa saja, yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga

diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya”.

(29)

54

a. Variabel Independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tiga

variabel, diantaranya ukuran perusahaan (X1), porsi saham publik (X2),

dan likuiditas (X3).

1) Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan berkaitan dengan besar kecilnya suatu perusahaan,

yang dihitung berdasarkan nilai total asetnya.

2) Porsi Saham Publik

Porsi saham publik mencerminkan prosentase struktur permodalan

yang dimiliki oleh publik (masyarakat). Variabel ini diukur dengan

membagi antara prosentase jumlah saham yang dimiliki masyarakat

(publik) dengan total saham yang dimiliki perusahaan dan

dilambangkan dengan PUB.

3) Likuiditas

Rasio likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan untuk

menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Variabel ini diukur

dengan rasio lancar (Current Ratio), yang menunjukkan sejauh mana

aktiva lancar menutupi kewajiban lancar.

b. Variabel dependen dalam penelitian ini diberi simbol Y, yakni

kelengkapan mandatory disclosure financial statement yang merupakan

seberapa besar kelengkapan pengungkapan wajib yang dipublikasikan

perusahaan terkait dengan aturan yang dikeluarkan BAPEPAM, melalui

Surat Keputusan Ketua BAPEPAM No.347/BL/2012 tanggal 25 Juni

(30)

kriteria kelengkapan pengungkapan dapat diperoleh dengan cara sebagai

berikut :

1) Memberi skor pengungkapan secara dikotomi, apabila perusahaan

mengungkapkan suatu item maka diberi nilai 1, apabila perusahaan tidak

mengungkapkan item tersebut diberi nilai 0.

2) Skor yang dimiliki perusahaan dijumlahkan untuk mendapatkan skor

total.

3) Menghitung indeks kelengkapan mandatory disclosure financial

statement dengan membagi skor yang diperoleh perusahaan dengan

jumlah semua butir pengungkapan yang seharusnya dipenuhi. Berikut ini

(31)

56

Tabel 3.1

Daftar Item Mandatory Disclosure Financial Statement No.KEP-347/BL/2012 Tanggal 25 Juni 2012 Komponen Laporan

3. Aset Keuangan Lancar Lainnya 4. Persediaan

5. Pajak Dibayar Dimuka 6. Biaya Dibayar Dimuka

7. Aset tidak lancar (kelompok lepasan yang dimiliki untuk dijual)

Aset Tidak Lancar

1. Piutang Pihak Berelasi Non-Usaha 2. Aset Keuangan Tidak Lancar Lainnya 3. Investasi Pada Perusahaan Asosiasi 4. Properti Investasi

4. Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek 5. Bagian Lancar atas Liabilitas Jangka

Panjang yang akan jatuh tempo dalam 1 tahun

6. Liabilitas Keuangan Jangka Pendek Lainnya

7. Liabilitas atas Pembayaran Berbasis Saham Jangka Pendek

8. Provisi Jangka Pendek

9. Liabilitas Terkait Aset/Kelompok Lepasan yang dimiliki untuk dijual

Liabilitas Jangka Panjang

1. Utang bank dan lembaga keuangan lain 2. Utang pihak berelasi non-usaha

3. Utang sewa pembiayaan 4. Utang obligasi

5. Sukuk

6. Obligasi konversi

(32)

8. Liabilitas atas pembayaran berbasis saham jangka panjang

9. Liabilitas imbalan kerja jangka panjang 10.Liabilitas pajak tangguhan

3. Selisih transaksi dengan pihak pengendali 4. Saham treasuri

8. Bagian laba (rugi) dari entitas asosiasi 9. Laba (rugi) sebelum pajak penghasilan 10.Beban (penghasilan) pajak

11.Laba (rugi) periode berjalan dari operasi yang dilanjutkan

12.Laba (rugi) periode berjalan dari operasi yang dihentikan setelah pajak

13.Laba (rugi) periode berjalan 14.Pendapatan komprehensif lain 15.Pajak penghasilan terkait

16.Pendapatan komprehensif lain periode berjalan setelah pajak

17.Total laba (rugi) komprehensif periode berjalan

18.Laba (rugi) periode berjalan yang dapat diatribusikan

19.Total laba (rugi) periode berjalan yang dapat diatribusikan

20.Laba (rugi) per saham dilusian

Laporan Perubahan Modal

1. Total laba (rugi) komprehensif selama suatu periode, yang menunjukkan secara terpisah jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non pengendali

(33)

58

diperkenankan oleh SAK untuk setiap komponen ekuitas

3. Rekonsiliasi antara jumlah yang tercatatpada awal dan akhir periode untuk setiap komponen ekuitas secara terpisah.

Laporan Arus Kas

1. Arus kas dari aktivitas operasi 2. Arus kas dari aktivitas investasi 3. Arus kas dari aktivitas pendanaan

Catatan atas Laporan Keuangan

1. Gambaran umum perusahaan

2. Dasar pengukuran/penyusunan laporan keuangan

3. Informasi tambahan untuk pos-pos yang disajikan

4. Ikhtisar kebijakan akuntansi 5. Pengungkapan lainnya

TOTAL 73 ITEM

Untuk lebih memahami mengenai variabel bebas dan variabel terikat,

maka berikut ini operasionalisasi variabelnya:

Tabel 3.2

Operasionalisasi Variabel Penelitian

Variabel Dimensi Indikator Skala

Karakteristik

Indeks mandatory disclosure dalam laporan keuangan

Jumlah mandatory

disclosure dalam LK

 Jumlah pengungkapan yang seharusnya sesuai dengan No.Kep.347/BL/2012.

(34)

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi adalah “wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2011:80).

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012 yang berjumlah 138 perusahaan.

Sementara sampel merupakan “bagian dari jumlah dan karakteristik yang

dimiliki oleh populasi tersebut” (Sugiyono, 2011:81). Untuk itu sampel dalam

penelitian ini diambil berdasarkan teknik purposive sampling, hal ini dilakukan

agar sampel yang diperoleh dapat mewakili populasi sehingga terdapat kriteria

spesifik yang ditentukan. Adapun kriterianya yakni :

a. Perusahaannya adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia (BEI), yang sahamnya aktif diperdagangkan selama tahun 2012.

b. Perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuangan tahunan tahun 2012.

c. Perusahaan menerbitkan data lengkap berkaitan dengan variabel yang akan

digunakan dalam penelitian.

d. Perusahaan tersebut haruslah yang memiliki laba.

Dari kriteria tersebut diperoleh sampel sebanyak 30 perusahaan dari

populasi yang ada. Berikut daftar perusahaan yang digunakan sebagai sampel

(35)

60

Tabel 3.3

Daftar Sampel yang Digunakan Dalam Penelitian

No. Kode Nama Perusahaan

1. ASII Astra International Tbk.

2. CPIN Chaeron Phokpand Indonesia Tbk.

3. GGRM Gudang Garam Tbk.

4. ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

5. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk.

6. INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

7. KLBF Kalbe Farma Tbk.

8. SMGR Semen Gresik (Persero) Tbk.

9. UNVR Unilever Indonesia Tbk.

10. KAEF Kimia Farma Persero Tbk.

11. TSPC Tempo Scan Pasific Tbk.

12. INDR Indorama Synthetichs Tbk.

13. AUTO Astra Otoparts Tbk.Dynaplast Tbk.

14. BRAM Indo Kordsa Tbk.

15. SCCO Sucaco Tbk.

16. BUDI Budi Acid Jaya Tbk.

17. UNIC Unggul Indah Cahaya Tbk.

18. ALMI Alumindo Light Metal Industry Tbk.

19. SMCB Holcim Indonesia Tbk.

20. AKR AKR Corportindo Tbk.

21. AALI Astra Agro Lestari Tbk.

22. INCO Vale Tbk.

23. AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.

24. ANTM Aneka Tambang (persero) Tbk.

25. BISI Bisi International Tbk.

26. BWPT BW Plantation Tbk.

27. CTBN Citra Tubindo Tbk.

28. HMSP HM Sampoerna Tbk.

29. TRST Trias Sentosa Tbk.

30. MYOR Mayora Indah Tbk.

Sumber : Bursa Efek Indonesia

3.4 Teknik Pengumpulan Data

“Kualitas data hasil penelitian dipengaruhi oleh dua faktor, yakni kualitas

instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data” (Sugiyono, 2011:137).

(36)

diperoleh valid, reliabel, dan objektif. Pengumpulan data dalam penelitian ini,

dilakukan dengan studi dokumentasi, dengan mengumpulkan data sekunder yang

diperlukan. Data sekunder diperoleh dari sumber secara tidak langsung (Sugiyono,

2011:225). Studi dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan dengan mengunduh

laporan keuangan tahunan perusahaan manufaktur di situs resmi Bursa Efek

Indonesia.

3.5 Jenis dan sumber data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini bersumber dari data

sekunder, sehingga teknik pengumpulan data yang digunakan berupa

dokumentasi. Dengan demikian, karena sumber yang digunakan berupa data

sekunder, maka jenis dan sumber data yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Tabel 3.4

Sumber dan Jenis Data

No Sumber Data Jenis Data

1

Laporan Keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia tahun 2012

Sekunder

2

Indeks laporan keuangan diperoleh dari butir-butir kelengkapan laporan keuangan berdasarkan Surat Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-347/BL/2012

Sekunder

3.6 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian kali ini dibagi

beberapa bagian, yakni analisis data karakteristik perusahaan, indeks kelengkapan

pengungkapan wajib, uji asumsi klasik, analisis regresi multiple, uji F dan uji t

(37)

62

3.6.1 Analisis Karakteristik Perusahaan

a. Melakukan perhitungan ukuran perusahaan

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini, dihitung melalui nilai total aset

yang dimiliki oleh perusahaan, dikarenakan nilai total aset perusahaan

memiliki besaran yang nilainya jutaan bahkan miliaran rupiah, maka nilai

total aset sebagai proxy ukuran perusahaan perlu disederhanakan dengan

mengkonversi data ke dalam logaritma natural dengan bantuan software

MS Excel 2007. “Sebab secara matematis variabel ukuran perusahaan

diukur dengan logaritma natural total aset” (Goyal, dalam Sembiring,

2012:3).

Rumus :

(Benardi dkk, 2009:10)

b. Melakukan perhitungan rasio porsi saham publik, dengan rumus sebagai

berikut :

(Mujiyono dan Nany, 2006:25)

c. Melakukan perhitungan likuiditas, dengan menghitung current ratio

dengan rumus sebagai berikut :

(Harahap, 2007:301)

Ukuran Perusahaan = Ln Total Aset

PUB =

X 100%

Rasio Lancar =

(38)

3.6.2 Analisis kelengkapan Mandatory Disclosure Financial Statement

Penelitian ini menggunakan indeks pengungkapan yang dirumuskan

Imhoff (1992), dengan menggunakan indeks Wallace. Indeks kelengkapan

mandatory disclosure financial statement didasarkan atas Surat Keputusan Ketua

BAPEPAM No.347/BL/2012 yang terdiri dari lima komponen, yakni neraca

terdiri atas 42 item, laporan laba rugi terdiri atas 20 item, laporan perubahan

ekuitas terdiri atas 3 item, laporan arus kas terdiri atas 3 item, dan catatan atas

laporan keuangan terdiri atas 5 item. Total dari semua item tersebut adalah 73

item dengan kisaran nilai pengungkapan 0%-100%, dengan kategori rentang

menurut Sudjana (2003:152) sebagai berikut :

Rentang (%) = skor maksimum – skor minimum

= 100%-0%

=100%

Panjang kelas = rentang (%) : jumlah kelas

= 100% : 4

= 25%

Sehingga diperoleh kategori sebagai berikut :

0% – 25% = Sangat Rendah

25% - 50% = Rendah

50% - 75% = Sedang

75% - 100% = Tinggi

(39)

64

Indeks Mandatory Disclosure Financial Statement dihitung dengan

mekanisme yang dikemukakan Wallace et al (dalam Purwandari, 2012:39).

a. Memberi poin 1 terhadap item yang terdapat dalam laporan keuangan

tahunan suatu emiten.

b. Memberi poin 0 apabila item yang diharuskan tidak tersaji dalam laporan

keuangan tahunan suatu emiten.

c. Skor yang diperoleh tiap perusahaan sampel kemudian dijumlahkan.

Kemudian skor total dibagi 73, sehingga diperoleh indeks untuk

pengolahan data. Angka indeks dihitung sebagai berikut :

x100%

Keterangan :

n = jumlah butir pengungkapan yang terpenuhi

k = jumlah butir pengungkapan yang seharusnya dipenuhi total 73 item.

3.6.3 Uji Asumsi Klasik

3.6.3.1Uji Normalitas

Penelitian ini menggunakan data yang skalanya berbentuk rasio, sehingga

analisis data menggunakan statistik parametrik. Dengan demikian, diperlukan

adanya uji normalitas, seperti yang dikemukakan Ghozali (2012:160), uji

normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel penggangu

dan variabel residual memiliki distribusi normal. Alat uji yang digunakan adalah

(40)

Smirnov. Dasar pengambilan keputusan melalui probabilitas (asymptotic

signification), yakni :

a. Jika  value  0,05 maka data berdistribusi normal.

b. Jika  value  0,05 maka data tidak berdistribusi normal.

3.6.3.2Uji Linieritas

Uji linieritas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah variabel

independen dan variabel dependen memiliki hubungan yang linear secara signifikan atau

tidak. Adapun cara untuk mengetahuinya adalah dengan menggunakan diagram Scatter

Plot dengan dibantu oleh software spss ver 16 for Windows.

3.6.3.3Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Ini perlu dilakukan

karena model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel

independen (Ghozali, 2012:105). Untuk mendeteksi ada tidaknya

multikolinearitas di dalam model regresi melalui Variance Inflation Factor (VIF),

dihitung dengan rumus sebagai berikut :

 Jika VIF  10 maka variabel bebas memiliki persoalan multikolineritas

dengan variabel bebas lainnya.

 Jika VIF  10 maka variabel bebas tersebut tidak mempunyai persoalan

multikolinearitas.

(41)

66

3.6.3.4Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi

terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang

lain (Ghozali, 2012:139). Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas,

ditunjukkan dengan grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen

(ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Jika terdapat pola tertentu dalam grafik,

maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Akan tetapi, jika tidak

membentuk pola yang jelas atau menyebar di atas dan bawah angka nol berarti

tidak terjadi heteroskedastisitas. Dasar pengambilan keputusan (Ghozali,

2012:139) :

 Jika ada pola tertentu pada grafik, seperti titik-titik yang membentuk pola

yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit) maka

mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

 Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik yang menyebar di atas dan

dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

3.6.4 Analisis Regresi Multiple

Analisis regresi digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel

bebas terhadap variabel terikat dan memprediksi variabel terikat dengan

menggunakan variabel bebas, karena variabel bebas dalam penelitian ini lebih dari

satu, maka analisis regresi yang digunakan adalah analisis regresi multiple.

Analisis regresi multiple dihitung melalui persamaan regresi linier multiple

(42)

Y = +

(Sudjana, 2003 : 76)

Keterangan :

Y = Variabel Dependen

, = Variabel Independen

= Konstanta

= Koefisien Regresi

e = Eror

3.6.5 Rancangan Pengujian Hipotesis

3.6.5.1Uji Statistik F (Uji Keberartian Regresi)

Uji F digunakan untuk menguji keberartian regresi, sebagaimana yang

dikemukakan Sudjana (2003 : 90) bahwa :

Menguji keberartian regresi linier multiple ini dimaksudkan untuk meyakinkan diri apakah regresi (berbentuk linier) yang didapatkan berdasarkan penelitian ada artinya bila dipakai untuk membuat kesimpulan mengenai hubungan sejumlah peubah yang sedang dipelajari.

Rumus Uji F :

(43)

68

Dengan :

JK (Reg) =

JK (s) = ∑

Hipotesis yang digunakan adalah :

 maka regresi tidak berarti.

maka regresi berarti.

Pengujian dilakukan dengan membandingkan F hitung dengan F tabel

melalui derajat kebebasan (dk) = (n-k-1), maka kriteria keputusannya

adalah sebagai berikut:

 Jika F-hitung  F-tabel, maka akan ditolak (regresi berarti), sehingga

variabel independen memiliki tingkat keberartian terhadap variabel

dependen.

 Jika F-hitung  F-tabel, maka akan diterima (regresi tidak berarti),

sehingga variabel independen tidak memiliki tingkat keberartian

terhadap variabel dependen.

3.6.5.2 Uji Statistik t-test

Uji statistik t-test digunakan untuk menguji keberartian koefisien regresi,

atau menguji tingkat signifikansi pengaruh masing–masing variabel independen

terhadap variabel dependen.

Uji statistik t-test yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian

satu pihak, dengan α sebesar 5%, dan perhitungannya dibantu software SPSS V.16

(44)

(Sudjana, 2003 : 31)

Ket :

= Koefisien regresi

= kesalahan baku koefisien regresi multiple b

Hipotesis statistik yang digunakan :

a) : =0 :Karakteristik perusahaan berupa ukuran perusahaan tidak

berpengaruh terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

: 0 : Karakteristik Perusahaan berupa ukuran perusahaan berpengaruh

positif terhadap Kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

b) : 0 : Karakteristik Perusahaan berupa porsi saham publik tidak

berpengaruh terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

: 0: Karakteristik Perusahaan berupa porsi saham publik berpengaruh

positif terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

c) : 0 : Karakteristik Perusahaan berupa likuiditas tidak berpengaruh

terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

: 0 : Karakteristik perusahaan berupa likuiditas berpengaruh positif

(45)

70

Setelah diperoleh t-statistik atau t-hitung, kemudian bandingkan dengan

distribusi student-t dengan taraf signifikansi 5%, kemudian membuat taraf

keputusan, dengan menggunakan kaidah keputusan keberartiannya :

1. Apabila > akan ditolak.

(46)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data dan pengujian hipotesis, seperti yang

telah diuraikan dalam bab IV, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan hasil perhitungan berkaitan dengan variabel karakteristik

perusahaan, diperoleh hasil bahwa rata-rata ukuran perusahaan dalam

perusahaan sampel dilihat dari skala usahanya tergolong kedalam kategori

besar. Sementara itu rata-rata porsi saham yang dimiliki, cenderung lebih

kecil sehingga akses publik terhadap informasi terbatas. Kinerja keuangan

perusahaan sampel rata-rata tinggi, sehingga menunjukkan kuatnya

kondisi keuangan perusahaan manufaktur tersebut.

2. Berdasarkan hasil perhitungan, terhadap 30 laporan keuangan tahunan

perusahaan, dengan menggunakan indeks Wallace mengenai kelengkapan

mandatory disclosure financial statement, diperoleh bahwa rata-rata

pengungkapan wajibnya berkisar 68,04% sehingga tergolong ke dalam

kategori sedang dan masih jauh dari apa yang diharapkan berdasarkan

aturan BAPEPAM No.347/BL/2012. Sedangkan dari segi isi (content),

kelengkapan mandatory disclosure financial statement, pada perusahaan

sampel paling banyak dilakukan pada komponen laporan arus kas

(98,89%), catatan atas laporan keuangan (97,34%), laporan perubahan

(47)

118

3. Berdasarkan penelitian ini diketahui, bahwa terdapat pengaruh positif dari

ukuran perusahaan terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial

statement. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan

merupakan pemicu utama dalam variasi praktik kelengkapan mandatory

disclosure financial statement pada perusahaan manufaktur.

4. Hasil uji statistik tidak membuktikan adanya pengaruh porsi saham publik

terhadap kelengkapan mandatory disclosure financial statement. Dengan

demikian, hal ini jauh dari dugaan bahwa porsi saham publik memiliki

pengaruh. Hal ini dimungkinkan karena pada umumnya pemilik saham

publik hanya investor kecil yang tidak memiliki otoritas informasi

keuangan maupun non-keuangan. Sehingga porsi saham publik bukanlah

pemicu kelengkapan mandatory disclosure financial statement.

5. Hasil uji statistik tidak membuktikan adanya pengaruh likuiditas terhadap

kelengkapan mandatory disclosure financial statement. Dengan demikian,

hal ini jauh dari dugaan bahwa likuiditas memiliki pengaruh, hal ini

dimungkinkan karena pada umumnya perusahaan dengan likuiditas yang

tinggi memiliki kinerja keuangan yang kuat. Sehingga dalam hal ini aspek

kinerja keuangan bukanlah pemicu kelengkapan mandatory disclosure

financial statement.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan penulis dalam penelitian ini adalah

(48)

1. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mengevaluasi dan mengontrol laporan

keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan (emiten), agar perusahaan

terdorong untuk memberikan pengungkapan yang lebih lengkap sehingga

dapat memberikan manfaat bagi para pemakainya.

2. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mengeluarkan peraturan mengenai

peningkatan porsi saham yang dapat dimiliki publik, demi mendorong

investasi dan membatasi besarnya otoritas manajemen dalam informasi

keuangan maupun non-keuangan.

3. Penelitian selanjutnya hendaknya menambahkan variabel lain yang dapat

mewakili karakteristik perusahaan yang berpengaruh terhadap

kelengkapan mandatory disclosure financial statement, seperti umur

perusahaan, status kepemilikan manajerial, jenis KAP dan lain sebagainya.

4. Penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan sampel penelitian yang

lebih besar dan menggunakan data time series, agar hasil penelitian lebih

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :

Belkoui, dan Riahi, Ahmed. (2011). Teori Akuntansi Edisi 5 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat

Chariri, A dan Ghozali, I. (2003). Teori Akuntansi. Semarang: UNDIP

Ghozali, I. (2012). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS 20. Cetakan IV. Semarang: UNDIP

Ikatan Akuntansi Indonesia. (2007). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat

Iqbal, Hasan. (2010). Analisis Data Penelitian Dengan Statistik. Jakarta: Bumi Aksara.

Halim. (2005). Analisis Investasi. Jakarta: Salemba Empat

Hanafi, Mamduh M., dan Halim, Abdul., (2007). Analisis Laporan Keuangan,

Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Harahap, S.S. (2007). Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Harahap, S.S. (2007). Teori Akuntansi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Hendriksen, Eldon. S dan Vabreda, Michael. F. (2002). Teori Akunting. Edisi Kelima Buku 2. Jakarta : Interaksara

Jogiyanto, Hartono. (2000). Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Kedua, Yogyakarta: BPFE UGM

Kartikahadi, H., Sinaga, R.U., Syamsul, M., Siregar, S.V., (2012). Akuntansi

Keuangan berdasarkan SAK berbasis IFRS. Jakarta : Salemba Empat

Munawir, S. (2010). Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta

Richard, T. George. (2010). Business Ethics. Amerika: Pearson

(50)

Sudjana. (2003). Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Bandung : Tarsito

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Suta, I Putu Gede Ary. (2000). Menuju Pasar Modal Moderen. Jakarta: Yayasan SAD Satria Bakti

Suwardjono. (2005). Teori Akuntansi : Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE

Tim Pertimbangan Pembimbingan Skripsi. (2013). Pedoman Operasional

Penulisan Skripsi. Bandung : Pendidikan Akuntansi.

Umar, H. (2005). Desain Penelitian Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: PT Raja Governance and Voluntary Disclosure in Corporate Annual Reports of Malaysian Listed Firms”, Journal of Applied Management Accounting

Research 7 (1): 1-20

Al-Akra, M., I.A. Eddie dan M.J. Ali. (2010). “The Influence of The Introduction of Accounting Disclosure Regulation on Mandatory Disclosure Compliance: Evidence from Jordan”, The British Accounting Review(42): 170–186

Benardi, M. Sutrisno, dan Assih, P. (2009). “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Luas Pengungkapan dan Implikasinya terhadap Asimetri Informasi (Studi Pada Perusahaan Sektor Manufaktur yang Go Public di Bursa Efek

Indonesia”.

Dibiyantoro. (2011). “Pengaruh Struktur Modal dan Profitabilitas Terhadap Mandatory Disclosure Financial Statement pada Perusahan Manufaktur Yang Terdaftar di BEI”, Jurnal Ekonomi dan Informasi Akuntansi

(JENIUS) Vol 1 no 2

Jensen, Michael C. and Meckling, William H. (1976). “Theory of Firm

(51)

122

Maryati dan Dwinurti, T. (2012). “Analisis Pengaruh Good Corporate

Governance, Kesempatan Tumbuh, dan Ukuran Perusahaan Terhadap

Kinerja Keuangan”.

Mujiyono dan Nany, M. (2006). “Pengaruh Leverage, Likuiditas, dan Saham Publik Terhadap Luas Pengungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan.

Jurnal Akuntansi dan Bisnis Vol.6, No.1 P.23-28

Naim, Ainun dan Rakhman, Fuad. (2000). “Analisis Hubungan Antara

Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan dengan Struktur Modal

dan Tipe Kepemilikan Perusahaan”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 15

Nugraheni, B Linggar Yekti., Oct. Digdo Hartomo dan Lucia Hary Patwoto.

(2002). “ Analisis Faktor-faktor Fundamental Perusahaan Terhadap Kelengkapan Laporan Keuangan, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol VIII

Renders, A. dan A. Gaeremynck. (2005). “Legal and Voluntary Investor Protection and Early IFRS-adoption: A Study of European Companies”,

De Economist 1 (155): 49–72

Sembiring, A.A. (2012). “Pengaruh Klasifikasi Industri dan Ukuran Perusahaan terhadap Risiko Bisnis Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di

BEI”. Jurnal Manajemen Vol.1 No.1 P.1-6

Simanjuntak, Binsar dan Widiastuti, Lucy. (2004). “Fator-faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Pada

Perusahaan Manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Jakarta”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol.7, No.3 Hal 351-366, September 2004.

Sudarmadji, A.M dan Lana Sularto. (2007). “Pengaruh Ukuran Perusahaan,

Profitabilitas, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary

Disclosure Laporan Keuangan Tahunan”, Jurnal PESAT Vol 2. Jakarta:

Universitas Gunadarma

Sutanto, F.D. (2012). “Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Tingkat Pengungkapan Intelectual Capital di Dalam Laporan Tahunan”.

Sumber Makalah :

Almilia, Luciana Spica dan Ikka Retrinasari. (2007). “Analisis Pengaruh

Karakteristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Pengungkapan dalam Laporan Tahunan Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ”,

(52)

Fitriani. (2001). “Signifikansi Perbedaan Tingkat Kelengkapan Pengungkapan

Wajib dan Sukarela Pada Laporan Keuangan Perusahaan Publik Yang

Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta”. Makalah dipresentasikan dalam

Simposium Nasional Akuntansi IV

Marwata. (2001).”Hubungan Antara Karakteristik Perusahaan dan Kualitas

Ungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan Perusahaan Publik di

Indonesia”, Simposium Nasional Akuntansi (SNA) IV

Prawinandi, et al. (2012). “Peran Struktur Corporate Governance dalam Tingkat

Kepatuhan Mandatory Diclosure Konvergensi IFRS”, Simposium

Nasional Akuntansi

Utami, W.D., Suhardjanto, D., dan Hartoko, S., (2012). “Tingkat Kepatuhan Pengungkapan Wajib dan Kaitannya dengan Mekanisme Good Corporate Governance : Investigasi dalam Konvergensi IFRS di Indonesia”, makalah dalam Seminar Nasional Akuntansi.

Sumber Skripsi dan Tesis:

Irawan, Bambang. (2006). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan

Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Sarjana

Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia

Ivanna. (2006). Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Pada

Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Medan:

Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

Fatimah, Nurul. (2013). Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Tingkat

Pengungkapan Intellectual Capital (Studi Pada Perusahaan yang Tergabung dalam Indeks LQ45 Tahun 2012. Skripsi. Bandung: Program

Sarjana Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia

Prasetya, D.Indra. (2011). Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, Likuiditas,

Leverage, dan Profitabilitas terhadap mandatory disclosure. Skripsi.

Semarang: Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

Purwandari, Arum. (2012). Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Struktur

Kepemilikan, dan Status Perusahaan terhadap Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Di Indonesia. Skripsi. Semarang:

Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Subiyantoro, Edi. (1996). Hubungan Antara Kelengkapan Laporan Keuangan

dengan Karakteristik Perusahaan Publik. Tesis Master. Yogyakarta:

(53)

124

Supriadi, D.A. (2010). Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Otomotif yang terdaftar di BEI. Skripsi. Jakarta: Program Sarjana Fakultas

Ekonomi UPN Veteran.

Sumber Dokumen :

Surat Keputusan Ketua BAPEPAM No.6/PM/2000. (2000). Tentang Penyajian

Laporan Keuangan Perusahaan Publik Yang Terdaftar di BEI. Jakarta:

BAPEPAM

Surat Edaran Ketua BAPEPAM No.SE-02/PM/2002. Tentang Pedoman

Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Manufaktur. Jakarta: BAPEPAM

Surat Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-347/BL/2012. Tentang Pedoman

Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Perusahaan Publik yang Terdaftar di BEI. Jakarta: BAPEPAM

Sumber Internet – Berita Online :

Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI). (2006). How is the

Indonesian Corporate Governance Condition in Reality?.[Online].

Tersedia: http://www.fcgi.or.id/corporate-governance/articles.html. [22 Februari 2013]

Prayogi, W.E. (2011). Bapepam Telusuri Salah Catat Laporan Keuangan Bakrie&Brothers.[online].Tersedia:

http://finance.detik.com/read/2011/05/02/183124/1630743/6/bapepam-telusuri-salahcatat-laporan-keuangan-bakriebrothers. [20 Juni 2013]

Gambar

Tabel 1.1 Perbedaan Perusahaan Go Public dan Non Go Public
Grafik 1.2 Mandatory Disclosure Financial Statement
Tabel 3.1 Mandatory Disclosure Financial Statement
Gambaran umum perusahaan pengukuran/penyusunan keuangan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan untuk daerah pelayaran kawasan timur adalah dari Fasilitas Apung pengolah limbah minyak menuju ke Pelabuhan Lembar Lombok selanjutnya menuju ke Pelabuhan

Pada periode akhir anak-anak, rasa takut timbul akibat fantasi yang dibentuk oleh anak itu sendiri yang menyebabkan harga dirinya terancam oleh lingkungannya (misalnya takut

Konsentrasi yang digunakan dalam pengujian ini adalah 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% dimana pada konsentrasi tersebut hasil zona hambat ekstrak aur bunga dan daun kecombrang

Dalam model tersebut, mereka menganggap keyakinan tentang kemudahan penggunaan dan kegunaan yang dirasakan sebagai faktor utama yang mempengaruhi sikap

BE memiliki distribusi yang tidak lengkap, kecuali fonem vokal; (2) masing-masing fonem tersebut merupakan fonem asal yang dapat membentuk morfem pangkal secara fonetis; (3)

Sebagai, salah satu upaya tersebut adalah terwujudnya kerangka hukum, yakni dengan merumuskan regulasi berupa Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Tengah yang

Subsidi yang diterima oleh pelanggan Industri I-2

[r]