Tema Pembangunan
KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2015
” PEMANTAPAN KUALITAS
INFRASTRUKTUR DASAR DAN
INFRASTRUKTUR PENUNJANG
PERTUMBUHAN KAWASAN ”
Dengan pertumbuhan ekonomi 6,41%
Mengandalkan sector Perdagangan, Hotel & Restoran sebagai basis ; Yang didukung sector pertanian, industri, jasa – jasa, pengangkutan & komunikasi, Keuangan, Sewa & Jasa Perusahaan, listrik, gas & air
bersih, Konstruksi, serta pertambangan sebagai lokomotif percepatan pembangunan daerah menuju ” Jombang Sejahtera
KATA PENGANTAR
Berdasarkan Undang – undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 7 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Jombang Tahun 2005-2025, Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 10 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Jombang Tahun 2014-2018, dan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tahun 2014 mulai tingkat Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur dan Nasional, maka dengan Peraturan Bupati Jombang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Jombang Tahun 2015, dengan tema ” Pemantapan Kualitas Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Penunjang Pertumbuhan Kawasan ”, diharapkan perencanaan pembangunan yang disusun dapat bermanfaat dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Jombang.
Dalam upaya mengoptimalkan daya dan hasil guna Rencana Kerja ini, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jombang menyebarluaskan kepada stakeholders agar dapat dijadikan sebagai panduan/pedoman dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan di Kabupaten Jombang Tahun 2015. Khusus kepada Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah agar menindaklanjuti dengan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) yang menjabarkan lebih rinci mengenai program, kegiatan, indicator kinerja dan target capaian masing-masing.
Demikian, kiranya bermanfaat dan atas kerjasama semua pihak disampaikan terimakasih.
Jombang, Mei 2014
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jombang
Drs. EKSAN GUNATI, M.Si Pembina Tingkat I
DAFTAR ISI
RKPD KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2015
BAB I PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang
1.2. Dasar Hukum Penyusunan 1.3. Hubungan Antar Dokumen 1.4. Sistematika Dokumen RKPD 1.5. Maksud dan Tujuan
BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN 2013 DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
2.1. Gambaran Kondisi Umum Daerah 2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi
2.1.1.1. Karakteristik Lokasi Wilayah
2.1.1.1.1. Letak Geografis Luas Wilayah, dan Batas Administrasi 2.1.1.1.2. Topografi
2.1.1.1.3. Geologi 2.1.1.1.4. Hidrologi 2.1.1.1.5. Klimatologi 2.1.1.1.6. Penggunaan Lahan
2.1.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah
2.1.1.2.1. Pertanian 2.1.1.2.2. Perkebunan 2.1.1.2.3. Peternakan
2.1.1.2.4. Perikanan dan Kehutanan 2.1.1.2.5. Kawasan Strategis Cepat Tumbuh
2.1.1.3. Wilayah Rawan Bencana
2.1.1.3.1. Banjir
2.1.1.3.2. Tanah Longsor 2.1.1.3.3. Puting Beliung 2.1.1.3.4. Gempa Bumi
2.1.1.4. Demografi
2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat
2.1.2.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
2.1.2.1.1. Perkembangan PDRB 2.1.2.1.2. PDRB Perkapita 2.1.2.1.3. Pertumbuhan Ekonomi 2.1.2.1.4. Laju Inflasi
2.1.2.2. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
2.1.2.3. Tingkat Kemiskinan pendekatan garis kemiskinan
2.1.3. Aspek Pelayanan Umum
2.1.3.1. Urusan Pendidikan a) Angka melek huruf
b) Angka rata-rata lama sekolah c) Angka Partisipasi Murni d) Angka Partisipasi Kasar (APK) e) Pendidikan dasar :
1) Angka partisipasi sekolah
2) Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah 3) Rasio guru/murid
4) Rasio guru/murid per kelas rata-rata f) Pendidikan menengah:
1) Angka partisipasi sekolah
2) Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah 3) Rasio guru terhadap murid
4) Rasio guru terhadap murid per kelas rata- rata
g) Penduduk yang berusia>15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) h) Fasilitas Pendidikan:
i) Angka Putus Sekolah:
1) Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI 2) Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs 3) Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA j) Angka Kelulusan:
a. Angka Kelulusan (AL) SD/MI b. Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs c. Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA
ii
d. Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs
e. Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA 2.1.3.2. Urusan Kesehatan
a) Angka kelangsungan hidup bayi/angka kematian bayi b) Angka usia harapan hidup
c) Persentase balita gizi buruk d) Rasio posyandu per satuan balita
e) Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk f) Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk
g) Rasio dokter per satuan penduduk h) Rasio tenaga medis per satuan penduduk 2.1.3.3. Urusan Pekerjaan Umum
a) Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik b) Rasio Jaringan Irigasi
c) Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk
d) Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk/Jumlah sampah yang terangkut ke TPA
e) Persentase penanganan sampah 2.1.3.4. Urusan Perumahan
a) Rumah layak huni
b) Rumah tangga pengguna air bersih c) Rumah tangga ber-Sanitasi d) Rumah tangga pengguna listrik 2.1.3.5. Urusan Penataan Ruang
a) RasioRuang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB b) Rasio bangunan ber- IMB per satuan bangunan
2.1.3.6. Urusan Perencanaan Pembangunan 2.1.3.7. Urusan Perhubungan
a) Jumlah arus penumpang angkutan umum b) Rasio ijin trayek
c) Jumlah uji KIR angkutan umum d) Angkutan darat
e) Kepemilikan KIR angkutan umum
f) Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) g) Biaya pengujian kelayakan angkutan umum h) Pemasangan Rambu-rambu
i) Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan 2.1.3.8. Urusan Lingkungan Hidup
a) Persentase luas pemukiman yang tertata
b) Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan amdal. c) Pencemaran status mutu air
d) Penegakan hukum lingkungan 2.1.3.9. Urusan Pertanahan
a) Persentase luas lahan bersertifikat b) Penyelesaian kasus tanah Negara c) Penyelesaian izin lokasi
2.1.3.10. Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil a) Pelayanan akte kelahiran
b) Rasio pasangan ber akte nikah c) Kepemilikan KTP
d) Kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk
e) Penerapan KTP Nasional berbasis NIK/NIK berbasis SIAK 2.1.3.11. Urusan Pemberdayaan Perempuan
a) Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah b) Jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak
2.1.3.12. Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a) Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate) b) Rasio akseptor KB
c) Rasio Peserta KB dan PUS d) Pentahapan keluarga sejahtera e) Cakupan peserta KB aktif
f) Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I 2.1.3.13. Urusan Sosial
a) Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi b) PMKS yang memperoleh bantuan sosial
2.1.3.14. Urusan Ketenaga kerjaan
a) Angka partisipasi angkatan kerja b) Pencari kerja yang ditempatkan c) Tingkat pengangguran terbuka
iii
d) Rasio ketergantungan
e) Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun 2.1.3.15. Urusan Koperasi dan UKM
a) Persentase koperasi aktif
b) Usaha Mikro dan Kecil Menengah 2.1.3.16. Urusan Penanaman Modal
a) Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) b) Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) c) Rasio daya serap tenaga kerja
2.1.3.17. Urusan Kebudayaan a) Jumlah grup kesenian b) Jumlah gedung
c) Penyelenggaraan festival seni dan budaya d) Sarana penyelenggaraan seni dan budaya
e) Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan 2.1.3.18. Urusan Kepemudaan dan Olahraga
a) Jumlah klub olahraga dan gedung olah raga
b) Jumlah pemuda berprestasi pada berbagai bidang di tingkat nasional c) Jumlah cabang berprestasi pada berbagai bidang di tingkat nasional d) Lapangan olah raga
2.1.3.19. Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri a) Kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas dan OKP b) Kegiatan pembinaan politik daerah
2.1.3.20. Urusan Otonomi Daerah
a) Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk b) Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk
c) Sistem informasi Pelayanan Perijinan dan administrasi pemerintah d) Penegakan PERDA
e) Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban, ketentraman, keindahan) di Kabupaten
f) Cakupan pelayanan bencana kebakaran kabupaten
g) Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK)
h) Sistim Informasi Manajemen Pemda i) Jenis dan jumlah bank dan cabang
j) Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang k) Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah l) Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha m)Lama proses perijinan
n) Jenis, kelas, dan jumlah restoran
o) Jenis, kelas, dan jumlah penginapan/hotel p) Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita q) Produktivitas total daerah
r) Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat 2.1.3.21. Urusan Ketahanan Pangan
a) Regulasi ketahanan pangan b) Ketersediaan pangan utama 2.1.3.22. Urusan Pemberdayaan Masyarakat
a) Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) b) Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK
c) Jumlah LSM d) PKK aktif e) Posyandu aktif
f) Swadaya Masyarakat terhadap Program pemberdayaan masyarakat 2.1.3.23. Urusan Statistik
a) Buku ”kabupaten dalam angka” b) Buku ”PDRB kabupaten” 2.1.3.24. Urusan Kearsipan
a) Pengelolaan arsip secara baku
b) Peningkatan SDM pengelola kearsipan 2.1.3.25. Urusan Komunikasi dan Informatika
a) Jumlah jaringan komunikasi
b) Rasio wartel/warnet terhadap penduduk c) Jumlah surat kabar nasional/lokal d) Jumlah penyiaran radio/TV lokal e) Website milik pemerintah daerah
f) Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon 2.1.3.26. Urusan Perpustakaan
iv
a) Jumlah perpustakaan
b) Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun c) Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah 2.1.3.27. Urusan Pertanian
a) Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar b) Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB
c) Jumlah kemitraan agribisnis d) Nilai tukar petani
2.1.3.28. Urusan Kehutanan
a) Rehabilitasi hutan dan lahan kritis b) Jumlah produksi hasil hutan 2.1.3.29. Urusan Energi dan SDM
a) Pertambangan tanpa izin
b) Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 2.1.3.30. Urusan Pariwisata
a) Kunjungan wisata
2.1.3.31. Urusan Kelautan dan Perikanan a) Produksi perikanan
b) Konsumsi ikan 2.1.3.32. Urusan Perdagangan
a) Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB b) Cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal 2.1.3.33. Urusan Perindustrian
a) Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB
b) Perkembangan volume usaha industri kecil dan menengah 2.1.3.34. Urusan Ketransmigrasian
a) Transmigran swakarsa
b) Kontribusi transmigrasi terhadap PDRB
2.2. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD
(Matriks Evaluasi Tahun 2013 per Urusan per Program per Kegiatan)
2.3. Permasalahan Pembangunan Daerah
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
3.1.1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2013 dan Perkiraan Tahun 2014
3.1.2. Tantangan Dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2014 dan Tahun 2015 3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah
3.2.1. Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan 3.2.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah
3.2.2.1. Arah Kebijakan Pendapatan Daerah 3.2.2.2. Arah Kebijakan Belanja Daerah 3.2.2.3. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah
BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
4.1. Rancangan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2015
4.2. Rancangan Prioritas Pembangunan Provinsi Jawa Timur Tahun 2015 4.3. Rancangan Prioritas Pembangunan Kabupaten Jombang Tahun 2015 BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS
(MATRIKS PROGRAM/KEGIATAN TAHUN 2015)
I-1
LAMPIRAN : PERATURAN BUPATI JOMBANG NOMOR :
TANGGAL :
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD)
KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar BelakangPerencanaan merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan dimasa mendatang secara tepat dan efesien melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia baik sumber daya manusia maupun kemampuan anggaran yang tersedia di daerah. Secara umum perencanaan pembangunan adalah teknik untuk mencapai tujuan pembangunan secara tepat, terarah dan efisien sesuai dengan kondisi didaerah. Sedangkan tujuan dari pembangunan itu sendiri adalah untuk mendorong proses pembangunan secara lebih tepat, guna mewujudkan masyarakat yang lebih maju, makmur dan sejahtera.
Adapun komponen utama dari perencanaan pembangunan terdiri dari : (1) Usaha pemerintah secara terencana dan sistematis untuk mengendalikan dan
mengatur proses pembangunan, (2) mencakup periode jangka panjang, menengah, dan tahunan, (3) menyangkut dengan variable-variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi makro dan pembangunan secara keseluruhan baik secara langsung maupun tidak langsung dan (4) mempunyai suatu sasaran pembangunan yang jelas sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dari penjelasan diatas sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang telah dijabarkan secara teknis dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerahmengamanatkan bahwa setiap daerah diwajibkan untuk menyusun perencanaan pembangunan daerah untuk jangka panjang 20 tahun (RPJPD), jangka menengah 5 tahun (RPJMD), serta jangka pendek 1 tahun (RKPD). Terkait dengan amanat Undang-undang Pemerintah Kabupaten Jombang telah menyusun RPJPD tahun 2005-2025 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2009, RPJMD tahun 2014-2018 yang di jabarkan ke dalam Renstra SKPD.
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Tahun 2015 merupakan dokumen perencanaan tahunan daerah serta indikasi program dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk periode satu tahun kedepansecara terencana melalui sumber pembiayaan baik APBD Kabupaten, APBD Provinsi maupun APBN. RKPD merupakan dokumen yang berpedoman pada RPJMD serta Renstra SKPD terutama dalam usulan terkait program dan kegiatan yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu, dokumen RKPD disusun melalui beberapa pendekatan, yaitu pendekatan teknokratis, demokratis, partisipatif, politis, top-down dan bottom-up, sehinggadokumen RKPD diharapkan mampu untuk berperan dalam menjembatani sinkronisasi harmonisasi rencana tahunan dengan perencanaan strategis daerah, sehingga hasil dari proses perencanaan dapat diimplementasikan secara lebih baik, dan terukur untuk tercapainya rencana strategis jangka menengah daerah. Dengan berdoman kepada visi dan misi RPJMD Kabupaten Jombang Tahun 2014-2015 yaitu ”Jombang Sejahtera Untuk Semua”, maka pada periode tahun kedua RKPD Kabupaten Jombang tahun 2015, arah kebijakan pembangunan diarahkan untuk tercapainya ”Pemantapan
I-2
Kualitas Infrastruktur Dasar dan Infrastruktur Penunjang Pertumbuhan Kawasan”. Sebagaimana arahan pembangunan dalam RPJMD Kabupaten Jombang tahun 2014-2018, infrastruktur merupakan faktor kunci dalam mendukung pembangunan Kabupaten Jombang, tidak hanya sebagai penggerak roda ekonomi di daerah, namun turut membentuk perkembangan wilayah serta melayani masyarakat dalam mengartikulasi kehidupan sosial masyarakat. Perbaikan infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi, karena mendukung pelaksanaan pembangunan dalam rangka meningkatkan kinerja pemerintah daerah, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan wilayah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun dalam proses penyusunan RKPD tahun 2015 arah kebijakan tidak hanya terkait infrastruktur saja, tetapi juga diarahkan pada penanganan pemerataan percepatan pembangunan desa, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Jombang telah merumuskan kebijakan pemberian pagu indikatif desa (PID) dengan memberikan sejumlah patokan batas minimal anggaran SKPD yang dilaksanakan di wilayah desa yang alokasinya dilakukan secara partisipatif melalui musrenbang desa yang berdimensi strategis kewilayahan. Melalui kebijakan PID tersebut diharapkan dapat menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan sinergi perencanaan pembangunan antara kabupaten dan desa, menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan dan penganggaran serta menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan.
Dokumen RKPD Kabupaten Jombang Tahun 2015, digunakan sebagai pedoman/acuan dalam menyusun Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD Kabupaten Jombang Tahun Anggaran 2015, yang selanjutnya digunakan sebagai pedoman dalam proses penyusunan RAPBD Kabupaten Jombang Tahun Anggaran 2015. RKPD Kabupaten Jombang Tahun 2015 juga menjadi acuan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam penyempurnaan Rencana Kerja (Renja) SKPD Tahun 2015 yang menggambarkan rencana kerja, pendanaan dan prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Pagu indikatif yang menjadi substansi penting pada RKPD ini merupakan gambaran investasi Pemerintah yang dalam penjabarannya diinteraksikan dengan komponen sumberdaya yang lain, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCHT), dekonsentrasi maupun tugas pembantuan. Oleh karena itu perencanaan program dan kegiatan yang dilaksanakan nantinya diharapkan dapat sejalan dengan arah kebijakan yang ingin dicapai baik oleh Pemerintah Provinsi maupun Pusat dan dokumen RKPD ini merupakan subsistem penting sebagai input dalam penyusunan program/kegiatan dan penganggaran bagi SKPD.
1.2. Dasar Hukum Penyusunan
Penyusunan RKPD mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
I-3
5. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4738);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
11. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014;
12. Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan;
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011;
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
15. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 38 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014; 16. Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 15 Tahun 2006 tentang
Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;
17. Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 7 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Jombang Tahun 2005-2025;
18. Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 21 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jombang Tahun 2009-2029.
1.3. Hubungan Antar Dokumen
Penyusunan RKPD Kabupaten Jombang Tahun 2015 yang merupakan rencana pembangunan tahun kedua dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kabupaten Jombang tahun 2014-2018 yangmengacu pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2015 dan RKPD Provinsi Jawa Timur Tahun 2015. RKPD juga disusun dengan tetap memperhatikan hasil kinerja pembangunan yang dicapai pada tahun sebelumnya, situasi dan kondisi yang berkembang, isu strategis yang akan dihadapi pada tahun pelaksanaan RKPD serta mempertimbangkan sinergitas antar sektor, antar wilayah dan penjaringan aspirasi secara bertahap melalui Musrenbang desa/kelurahan, forum SKPD dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten. Dokumen-dokumen perencanaan lain yang harus diperhatikan khususnya untuk menjaga konsistensi pembangunan di masing-masing urusan/sektor, yaitu RTRW Nasional, RTRW Provinsi Jawa Timur tahun 2011-2031, RTRW Kabupaten Jombang tahun 2009-2029, Rencana Investasi Pembangunan
I-4
Jangka Menengah (RPIJM), Millenium Development Goals (MDGs) serta target Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan tentunya juga pokok - pokok pikiran DPRD.
RKPD Kabupaten Jombang Tahun 2015 menjadi acuan bagi daerah dalam menyusun Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS), yang selanjutnya digunakan sebagai pedoman dalam proses penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Jombang Tahun Anggaran 2015. RKPD Kabupaten Jombang Tahun 2015 juga menjadi acuan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam penyempurnaan Rencana Kerja (Renja) SKPD Tahun 2015.
Dengan adanya keterkaitan hubungan antar dokumen perencanaan pembangunan tersebut merupakan sebagai suatu upaya untuk mewujudkan perencanaan pembangunan daerah yang selaras dan sinergis antara dokumen perencanaan tingkat Nasional, Provinsi dan Kabupaten, sehingga capaian sasaran pembangunan dapat tercapai. Adapun keterkaitan hubungan dokumen RKPD dengan dokumen perencanaan dan penganggaran baik tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta dokumen perencanaan lainnya dapat dilihat pada masing-masing gambar di bawah ini :
Gambar I.1
1.4. Sistematika Dokumen RKPD
RKPD Kabupaten Jombang Tahun 2015 disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I. PENDAHULUAN
Berisi penjelasan latar belakang, landasan hukum, hubungan RKPD dengan dokumen-dokumen perencanaan lainnya, sistematika dokumen RKPD, serta maksud dan tujuan penyusunan RKPD Kabupaten Jombang Tahun 2015.
BAB II. EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN 2013 DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
Berisi gambaran umum tentang kondisi daerah, evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan RKPD sampai tahun 2013, serta identifikasi permasalahan pembangunan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan tahun 2013.
I-5
BAB III. RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
Menjelaskan arah kebijakan ekonomi daerah dan arah kebijakan keuangan daerah, yang meliputi arah kebijakan pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan daerah.
BAB IV. PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
Menjelaskan tentang hubungan visi, misi, tujuan, dan sasaran berdasarkan dokumen RPJMD, serta prioritas pembangunan daerah tahun 2015.
BAB V. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH
Berisi rincian program dan kegiatan prioritas Kabupaten Jombang Tahun 2015dengan penyajian per urusan daerah.
BAB VI. PENUTUP
1.5. Maksud dan Tujuan
Maksud Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Jombang tahun 2014, yakni sebagai berikut ini:
1. Untuk menjaminn adanya keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan dalam jangka waktu satu tahun anggaran.
2. Sebagai dokumen perencanaan pembangunan tahunan yang memberikan strategi pembangunan daerah dan program pembangunan serta sasaran-sasaran strategis yang ingin dicapai selama 1 (satu) tahun.
3. Untuk menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efektif, efisien, berkeadilan dan berkelanjutan serta terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi antar pelaku pembangunan.
4. Menyediakan pedoman bagi pemerintah daerah dan juga bagi SKPD dalam menentukan program dan kegiatan prioritas pembangunan.
Adapun tujuan penyusunan RKPD adalah:
1. Sebagai acuan bagi Daerah dalam menyusun Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS), yang selanjutnya digunakan sebagai pedoman dalam proses penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Jombang Tahun Anggaran 2015.
2. Sebagai pedoman bagi Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Jombang dalam penyempurnaan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) Tahun 2015;
3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan (planning), penganggaran (budgetting), pelaksanaan (executing), serta pengendalian dan evaluasi (monitoring and evaluating) pembangunan yang terukur.
4. Menyelaraskan prioritas dan sasaran pembangunan daerah Kabupaten Jombang dengan arah kebijakan, prioritas dan sasaran pembangunan daerah Provinsi maupun Pusat.
II-1
BAB II
EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN 2012 DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
2.1. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1.1. ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI 2.1.1.1. Karakteristik Lokasi Wilayah
2.1.1.1.1. Letak Geografis, Luas Wilayah dan Batas Administrasi
Kabupaten Jombang merupakan salah satu dari 38 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur yang terletak pada koridor bagian tengah wilayah Provinsi Jawa Timur. Secara geografis, Kabupaten Jombang terletak antara 7°20’48,60” sampai dengan 7°46’41,26” Lintang Selatan serta antara 112°03’46,57” sampai dengan 112°27’21,26” Bujur Timur.
Kabupaten Jombang memiliki letak yang sangat strategis, karena berada pada perlintasan jalan arteri primer Surabaya-Solo-Jakarta dan jalan kolektor primer Malang-Jombang-Babat. Selain itu, Kabupaten Jombang juga dilintasi ruas jalan tol Surabaya-Mojokerto-Kertosono yang kini sedang dalam tahap konstruksi, sebagai bagian dari jalan tol Trans Jawa. Dalam skenario pengembangan sistem perwilayahan Jawa Timur, Kabupaten Jombang termasuk dalam kawasan Wilayah Pengembangan Germakertosusila Plus, dan Perkotaan Jombang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL),yakni kawasan perkotaan yang memiliki fungsi pelayanan dalam lingkup lokal (skala kabupaten atau beberapa kecamatan).
Luas wilayah Kabupaten Jombang 1.159,50 km², atau menempati sekitar 2,5% luas wilayah Provinsi Jawa Timur. Secara administratif, Kabupaten Jombang terdiri dari 21 kecamatan, yang meliputi 302 desa dan 4 kelurahan, serta 1.258 dusun/lingkungan.
Batas wilayah administrasi Kabupaten Jombang adalah sebagai berikut: a. Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan Kabupaten
Bojonegoro;
b.Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto;
c. Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang;
d.Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk. Tabel 2.1
Letak Geografis, Luas Wilayah, dan Batas Administrasi No. Kecamatan Luas (Km²) Jumlah Desa / Kelurahan Jumlah Dusun
1 Bandarkedungmulyo 32,50 11 42 2 Perak 29,05 13 36 3 Gudo 34,39 18 75 4 Diwek 47,70 20 100 5 Ngoro 49,86 13 82 6 Mojowarno 78,62 19 68 7 Bareng 94,27 13 50 8 Wonosalam 121,63 9 48 9 Mojoagung 60,18 18 60 10 Sumobito 47,64 21 76 11 Jogoroto 28,28 11 46 12 Peterongan 29,47 14 56
II-2
No. Kecamatan Luas (Km²) Jumlah Desa / Kelurahan Jumlah Dusun
13 Jombang 36,40 20 72 14 Megaluh 28,41 13 41 15 Tembelang 32,94 15 65 16 Kesamben 51,72 14 61 17 Kudu 77,75 11 47 18 Ngusikan 34,98 11 39 19 Ploso 25,96 13 50 20 Kabuh 97,35 16 87 21 Plandaan 120,40 13 57 Jumlah 1.159,50 306 1.258
Sumber: Bappeda Kabupaten Jombang Tahun 2013
2.1.1.1.2. Topografi
Berdasarkan pola relief topografi, Kabupaten Jombang dapat dibagi menjadi tiga satuan morfologi, yaitu:
(1) Bagian selatan, merupakan morfologi perbukitan vulkan, yang meliputi sebagian Kecamatan Mojoagung, sebagian Kecamatan Bareng, serta Kecamatan Wonosalam, dengan puncaknya antara lain G. Gede-1 (1.629 m), G. Gentonggowok (1.942 m), G. Gede-2 (1.868 m), G. Watujuwadah (1.629 m) dan G. Tambakmerang (1.360 m);
(2) Bagian tengah, merupakan morfologi dataran aluvial. Satuan ini menempati sebagaian besar wilayah Kabupaten Jombang, yang dicirikan oleh topografi datar dengan elevasi 21-100 meter dpal dan kemiringan lereng 0-2%, dimana terdapat aliran sungai besar yang permanen (perenial) seperti Sungai Brantas beserta anak-anak sungainya. Kawasan ini telah berkembang sebagai pemukiman dan perkotaan yang pesat, terbentuk tanah-tanah yang tebal dan subur, serta terdapat lahan pertanian beririgasi teknis. Pada satuan ini elevasi berkisar antara 21 hingga 100 meter dpal;
(3) Bagian utara, merupakan perbukitan struktural lipatan, meliputi sebagian Kecamatan Kabuh, Kecamatan Ngusikan, Kecamatan Kudu, dan Kecamatan Plandaan. Satuan morfologi ini dicirikan oleh adanya pola kontur yang kasar, dengan kemiringan lereng 16-40%. Pola kontur tidak teratur, karena pengaruh proses erosi dan banyaknya puncak-puncak bukit rendah, seperti G. Selolanang (261 m), G. Guwo (231 m), G. Wadon (220 m), G. Resek (164 m), dan G. Pucangan (168 m).
Sebagian besar wilayah Kabupaten Jombang terdiri dari darataran rendah, yakni 95% wilayahnya memiliki ketinggian kurang dari 500 meter, sementara 4,38% memiliki ketinggian 500-700 meter, dan 0,62% memiliki ketinggian >700 meter. Sesangkan secara morfometri, Kabupaten Jombang dapat dibagi menjadi 4 (empat) kelas kemiringan lereng, yaitu:
(1)Kelas kemiringan 0–2%, meliputi seluruh kecamatan di Kabupaten Jombang, kecuali Kecamatan Wonosalam, Kudu dan Ngusikan;
(2)Kelas kemiringan 2–5%, meliputi sebagian wilayah Kecamatan Mojowarno, Bareng, Wonosalam, Mojoagung, Jombang, Kudu, Ngusikan, Kabuh dan Plandaan;
(3)Kelas kemiringan 15–40%, meliputi sebagian wilayah Kecamatan Bareng, Wonosalam, Mojoagung, Kudu, Ngusikan, Kabuh dan Plandaan;
(4)Kelas kemiringan >40%, meliputi sebagian wilayah Kecamatan Bareng, Wonosalam, Mojoagung, Ngusikan dan Plandaan
II-3 Gambar 2.1.
Peta Topografi Kabupaten Jombang
Sumber: Bappeda Kabupaten Jombang Tahun 2013
2.1.1.1.3. Geologi
Geologi wilayah Kabupaten Jombang secara umum tersusun atas batuan dan endapan berumur kuarter. Struktur geologi yang kompleks terdapat di kawasan utara Sungai Brantas, sedangkan kawasan selatan Sungai Brantas lebih didominasi oleh hasil aktivitas vulkanisme.
Stratigrafi daerah Kabupaten Jombang bagian utara merupakan bagian dari stratigrafi Mandala Kendeng yang umumnya terdiri dari endapan turbidit klastik, karbonat dan vulkaniklastik yang merupakan endapan laut dalam, kemudian endapan laut menjadi semakin dangkal, sehingga terbentuk endapan non laut.
Urutan stratigrafi Kabupaten Jombang dari yang tertua sampai termuda adalah (1) Formasi Kalibeng Bawah; (2) Formasi Kalibeng Atas; (3) Formasi Pucangan; (4) Formasi Kabuh; (5) Formasi Notopuro; (6) Endapan Vulkanik Tua; (7) Endapan Vulkanik Muda; serta (8) Aluvium.
Satuan Aluvium mendominasi sebagian besar wilayah Kabupaten Jombang, yang menliputi Kecamatan Jombang, Megaluh, Kesamben, Diwek, Peterongan, Tembelang, Sumobito, Gudo, Jogoroto, Perak dan Bandar Kedungmulyo. Litologi satuan ini berupa endapan aluvial dan endapan sungai berupa material lepas dominan berukuran lempung sampai kerikil.
II-4 Gambar 2.2.
Peta Geologi Kabupaten Jombang
Sumber: Bappeda Kabupaten Jombang Tahun 2013
2.1.1.1.4. Hidrologi
Hidrogeologi wilayah Kabupaten Jombang sangat dipengaruhi oleh sebaran litologi, topografi dan struktur geologi. Pembagian wilayah hidrogeologi secara umum tercermin dari kondisi satuan-satuan morfologinya. Kondisi topografi yang khas, dimana daerah Jombang secara umum merupakan lembah antar bukit (intermountain basin) yang dapat digunakan sebagai dasar perkiraan, bahwa aliran air bawah tanah akan mengalir dari perbukitan vulkan ke arah utara dan dari perbukitan struktural ke arah selatan. Berdasarkan kondisi geologi dan hidrogeologinya, Kabupaten Jombang termasuk dalam wilayah Sub Cekungan Air Bawah Tanah Mojokerto. Sub Cekungan Air Bawah Tanah Mojokerto merupakan bagian dari Cekungan Air Bawah Tanah Brantas yang sebarannya berada di wilayah Sungai Brantas dengan luas sekitar 6.186 km².
Hampir seluruh wilayah Kabupaten Jombang termasuk dalam DAS Brantas (99,2%), dan hanya sebagian kecil saja yang masuk DAS Bengawan Solo (0,8%). Sungai-sungai utama yang melintasi wilayah Kabupaten Jombang antara lain Sungai Brantas, Sungai Konto, Sungai Jarak, Sungai Pakel, dan Sungai Gunting.
II-5 Tabel 2.2.
Luas DAS dan Sub DAS di Kabupaten Jombang
DAS Sub DAS Ha Luas %
Brantas Beng 7.923 6,8
Konto 14.402 12,4
Marmoyo 23.166 20,0
Ngotok-Ringkanal 43.352 37,4
Gunting 26.204 22,6
Bengawan Solo Solo Hilir 21 0,0
Lamongan 882 0,8
Jumlah 115.950 100,0
Sumber: BPDAS Brantas Tahun 2013
Kabupaten Jombang memiliki potensi sumber daya air untuk keperluan irigasi, yaitu sungai sepanjang 394,30 km, saluran induk sepanjang 62,90 km, saluran sekunder sepanjang 434,44 km, saluran suplesi sepanjang 4,33 km, serta saluran pembuang sepanjang 187,08 km. Di samping itu, untuk memenuhi ketersediaan air, terdapat 20 embung.
2.1.1.1.5. Klimatologi
Kabupaten Jombang memiliki iklim tropis, dengan suhu rata-rata 20-34°C. Menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson, Kabupaten Jombang termasuk tipe B (basah). Curah hujan rata-rata per tahun adalah 1.800 mm. Berdasarkan peluang curah hujan tahunan, wilayah Kabupaten Jombang tergolong beriklim sedang sampai basah. Di bagian tenggara dan timur, curah hujan sedikit lebih besar.
2.1.1.1.6. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kabupaten Jombang meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. Berdasarkan pola ruang dalam RTRW Kabupaten Jombang, kawasan lindung di Kabupaten Jombang meliputi kawasan hutan lindung (2.864,70 Ha), sempadan sungai (1.212 Ha), kawasan sekitar waduk (26,0 Ha), kawasan sekitar mata air (34,60 Ha), serta hutan kota (1.271,97 Ha).
Adapun kawasan budidaya yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan. Kawasan budidaya ini meliputi kawasan pertanian lahan basah (40.676 Ha), kawasan pertanian lahan kering (14.284,90 Ha), kawasan perkebunan (5.431,62 Ha), kawasan hutan produksi (20.580,80 Ha), kawasan permukiman (27.445,0 Ha), serta kawasan peruntukan industri (2.122,30 Ha).
2.1.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah 2.1.1.2.1. Pertanian
Pada kawasan budidaya pertanian, penggunaan lahandi Kabupaten Jombang secara umum terdiri atas 2 bagian besar, yaitu lahan sawah dan lahan tegalan. Berdasarkan BPS Kabupaten Jombang Tahun 2013, penggunaan lahan terbesar adalah untuk kegiatan budidaya pertanian sawah dengan kisaran mencapai 43,21% dari luas wilayah Kabupaten Jombang. Berdasarkandata luas lahan sawah yang ada, berdasarkan jenis pengairannya,
II-6
maka 80,45% berpengairan teknis, 3,51% sawah ½ teknis, 3,12% sawah irigasi sederhana, 0,05% sawah irigasi desa dan 12,87% sawah tadah hujan.
Pembangunan pertanian di Kabupaten Jombang diarahkan pada upaya terwujudnya agribisnis yang kuat dan kokoh sebagai penyangga perekonomian daerah, melalui peningkatan produktivitas pertanian, memantapkan kawasan agropolitan dan menumbuhkembangkan industri olahan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani.
Untuk menjamin keberlangsungan produksi pertanian, maka Pemerintah Kabupaten Jombang sebagaimana tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah membentuk kawasan strategis yang diwujudkan dalam Kawasan Agropolitan Kabupaten Jombang. Langkah lain yang ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Jombang untuk mengamankan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, yaitu dengan mulai menginvetarisir lahan pertanian tanaman pangan untuk selanjutnya ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Hal ini selaras dengan kebijakan Pemerintah Pusat yang menerbitkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut, Kabupaten Jombang berencana mengalokasikan lahan seluas 40.676 Ha sebagai lahan pertanian abadi, dengan luasan minimal yang harus dipertahankan seluas 31.569,36 Ha.
2.1.1.2.2. Perkebunan
Kawasan perkebunan yang ada di Kabupaten Jombang dikembangkan berdasarkan potensi yang ada di wilayah masing-masing berdasarkan prospek ekonomi yang dimiliki. Pengembangan kawasan perkebunan diarahkan untuk meningkatkan peran serta, efisiensi, produktivitas dan keberlanjutan, dengan mengembangkan kawasan industri masyarakat perkebunan yang selanjutnya disebut Kimbun. Berdasarkan komoditasnya, pengembangan perkebunan dibagi dalam dua kelompok, yakni perkebunan tanaman tahunan seperti cengkeh, kopi, coklat, karet, dan perkebunan tanaman semusim, antara lain berupa tebu, panili, dan tembakau.
Pengembangan perkebunan rakyat di Kabupaten Jombang masih di dominasi oleh komoditas tebu yang pada tahun 2013 ini produksinya sebesar 978.023,80 ton. Selain komoditas tebu, masih terdapat beberapa potensi perkebunan yang berada di Kabupaten Jombang, antara lain tembakau yang produksinya di tahun 2013 ini sebesar 47.402,47 ton daun basah, cengkeh 765 ton bunga kering dan kakao 141,3 tonbiji kering.
2.1.1.2.3. Peternakan dan Perikanan
Prospek pengembangan kawasan peternakan ke depan diarahkan sesuai dengan pengaturan pemanfaatan lahan atau kawasannya. Penyebaran pengembangan kawasan peternakan yang ada, yaitu:
1) Pengembangan ternak besar jenis sapi potong di Kecamatan Kudu, Kabuh, Bareng dan Plandaan, sedangkan jenis sapi perah di Kecamatan Wonosalam, Ngoro, Diwek dan Mojoagung;
2) Ternak kecil (kambing dan domba) diarahkan di sisi utara Kabupaten Jombang, yang meliputi Kecamatan Kesamben, Tembelang, Kudu, Plandaan, Wonosalam dan Ngusikan;
3) Unggas (ayam petelur, ayam potong, itik) diarahkan tidak terlalu berdekatan dengan permukiman, yakni di Kecamatan Plandaan, Kudu, Ngusikan dan Kabuh.
Untuk pengembangan perikanan, yang dikembangkan di wilayah Kabupaten Jombang adalah perikanan budidaya. Prospek pengembangan
II-7
kawasan perikanan budidaya di Kabupaten Jombang dialokasikan pada kawasan sekitar sungai-sungai besar. Sementara ini perkembangan perikanan budidaya, khususnya kolam, paling besar berada di Kecamatan Diwek dan Kecamatan Ngoro. Pada pengembangan selanjutnya, alokasi pengembangan kawasan perikanan tetap mempertahankan pola yang sudah ada, dan untuk mengakomodasi perkembangan selanjutnya, pembentukan kawasan perikanan dialokasikan di Kecamatan Perak, dan Kecamatan Bandarkedungmulyo.
2.1.1.2.4. Kehutanan
Menurut fungsinya, hutan dibagi menjadi hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi. Hutan produksi yang ada di wilayah Kabupaten Jombang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Jombang dan KPH Mojokerto. Hutan konservasi yang ada berbentuk hutan wisata dan taman hutan raya. Sedangkan hutan lindung lebih diarahkan untuk fungsi perlindungansistem penyangga kehidupan dalam upaya mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan memelihara kesuburan tanah.Selain ketiga fungsi hutan tersebut, juga terdapat hutan rakyat yang pengelolaan dan pemeliharaannya berada di lahan milik masyarakat.
Dalam rangka pemenuhan pencapaian konservasi hutan dan lahan maka kegiatan pembangunan di bidang kehutanan dilaksanakan melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan berupa kegiatan penanaman vegetatif serta pembangunan sipil teknis. Pada tahun 2013 realisasi kegiatan yang sudah terlaksana seluas 2.465,82 Ha dengan kegiatan sipil teknis berupa pembangunan dam penahan, dam pengendali, biopori, gully plug dan penyelamat tebing.
Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jombang tahun 2012, bahwa kawasan hutan produksi di wilayah administrasi Kabupaten Jombang seluas 18.754,9 Ha, yang terbagi atas KPH Jombang seluas 14.900,7 Ha dan KPH Mojokerto seluas 3.854,2 Ha. Hutan lindung seluas 873,1Ha. Sedangkan kawasan konservasi yang berbentuk hutan wisata seluas 11,4Ha dan Taman Nasional (Tahura) seluas 2.864,70Ha.
Perkembangan produksi hasil hutan, khususnya yang berasal dari hutan rakyat pada tahun 2013 mencapai 2.209 m³ kayu, mengalami penurunan jika dibandingkan produksi tahun 2012 sebesar 4.918,77 m³ kayu.
2.1.1.2.5. Kawasan Strategis Cepat Tumbuh
Kawasan strategis cepat tumbuh merupakan daerah yang mempunyai pertumbuhan melebihi dari daerah-daerah yang lain, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Di Kabupaten Jombang terdapat beberapa kecamatan yang masuk dalam pengembangan kawasan strategis cepat tumbuh, diantaranya Kecamatan Mojoagung, Kecamatan Ploso, Kecamatan Bandarkedungmulyo dan Kecamatan Mojowaro. Daerah-daerah tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda di dalam RTRW Kabupaten Jombang. Rencana pengembangan kawasan strategis cepat tumbuh di dalam RTRW yaitu:
1. Kawasan Ekonomi Khusus Mojowarno
a) Wilayah pengembangan kegiatan AGROBISNIS kabupaten. Agrobisnis tersebut mencakup sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan agrowisata.
b) Didukung dengan pengembangan fasilitas pergudangan, perbankan, pusat penelitian dan pelatihan pengembangan SDA khususnya disektor agrobisnis, dan PASAR AGRIBISNIS Kabupaten Jombang.
II-8 2. Kawasan Ekonomi Terpadu Mojoagung
Kawasan ekonomi terpadu Mojoagung adalah kawasan untuk kegiatan ekonomiperdagangan, berupa pasar induk, yang terpadu dengan keberadaanterminal penumpang, terminal cargo dan rest area.
3. Kawasan Strategis dan Cepat Tumbuh Bandarkedungmulyo dan Perak Keberadaan kawasan ini sebagai respon keberadaan ruas Jalan Tol Surabaya-Bandarkedungmulyo, dimana interchange (simpang susun) pintu tol terletak di Kecamatan Bandarkedungmulyo dan Tembelang. Pengembangan kawasan ini diarahkan untuk pengembangan industri manufaktur yang non polutif. Pengembangan kegiatan industri menengah dan manufaktur akan didukung dengan kegiatan perdagangan, hotel dan restoran yang dikembangkan di Perkotaan Perak dan Bandarkedungmulyo. 4. Kawasan Strategis dan Cepat Tumbuh Tembelang
Keberadaan exit tol yang berada di wilayah Kecamatan Tembelang akan memberikan dukungan terhadap pengembangan wilayah Kecamatan Tembelang dan dapat dijadikan sebagai kawasan strategis cepat tumbuh. Kawasan strategis cepat tumbuh Tembelang merupakan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK). Pengembangan Kecamatan Tembelang pada masa mendatang dapat berfungsi sebagai pintu masuk Kabupaten Jombang yang merupakan pusat koleksi dan distribusi barang dagangan. Dengan pengembangan Perkotaan Tembelang sebagai kawasan strategis cepat tumbuh, maka Perkotaan Tembelang dapat dikembangkan sebagai salah satu pusat perkembangan wilayah Kabupaten Jombang yang fungsi utamanyaadalah pusat kegiatan perumahan, perdagangan dan pemerintahan.
5. Kawasan Strategis dan Cepat Tumbuh Ploso
Peran dan fungsi utama perkotaan Ploso merupakan kawasan pertumbuhan baru di bagian utara Kabupaten Jombang. Oleh karena itu Kecamatan Ploso direncanakan sebagai Kawasan Strategis Kabupaten (KSK). Perkotaan Ploso merupakan wilayah pengembangan kegiatan industri skala besar di Kabupaten Jombang dan pusat distribusi hasil perkebunan dan kehutanan. Lokasi Perkotaan Ploso yang terdapat pada lahan yang kurang subur dan berdekatan dengan pusat kegiatan industri di Lamongan dan Tuban, sangat berpotensi sebagai kawasan strategis cepat tumbuh industri besar. Arahan pengembangan kawasan strategis cepat tumbuh Ploso adalah kawasan industri yang dilengkapi dengan pergudangan, permukiman industri, green belt dan ruang publik, pusat pengolahan limbah industri, frontage road
untuk kawasan industri dan kegiatan perdagangan. Untuk memperlancar akses pada jalan kolektor primer direncanakan akan dibangun jembatan baru Ploso yang dapat membantu aksesibilitas distribusi barang dan jasa. 2.1.1.3.Wilayah Rawan Bencana
2.1.1.3.1. Banjir
Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal, sehingga sistim pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan tersebut dan terjadi luapan. Kemampuan/daya tampung sistem pengaliran air dimaksud tidak selamanya sama, tetapi berubah akibat sedimentasi, penyempitan sungai akibat phenomena alam dan ulah manusia, tersumbat sampah serta hambatan lainnya. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan (catchment area) juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena debit/pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi sehingga melampaui kapasitas pengaliran dan menjadi pemicu terjadinya erosi pada lahan curam yang
II-9
menyebabkan terjadinya sedimentasi di sistem pengaliran air dan wadah air lainnya.
Berdasarkan sumber airnya, air yang berlebihan tersebut dapat dikategorikan dalam empat kategori:
Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia.
Banjir yang disebabkan oleh kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan, bendung, tanggul, dan bangunan pengendalian banjir.
Banjir akibat kegagalan bendungan alam atau penyumbatan aliran sungai akibat runtuhnya/longsornya tebing sungai. Ketika sumbatan/bendungan tidak dapat menahan tekanan air maka bendungan akan hancur, air sungai yang terbendung mengalir deras sebagai banjir bandang.
Wilayah yang paling berpotensi terjadi banjir di Kabupaten Jombang terdapat di Kecamatan Mojoagung, karena wilayah tersebut menjadi pertemuan tiga sungai, yaitu K. Gunting, K. Catakgayam dan K. Jiken. Secara historis, hampir 50% dari jumlah kecamatan yang ada di Jombang pernah mengalami banjir.
2.1.1.3.2. Tanah Longsor
Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng. Penyebab longsoran dapat dibedakan menjadi penyebab yang berupa faktor pengontrol gangguan kestabilan lereng serta proses pemicu longsoran. Secara topografis, wilayah kecamatan yang rawan terkena longsor adalah Kecamatan Bareng, Wonosalam, Mojoagung, Sumobito, Ngusikan, dan Plandaan. Kecamatan Wonosalam terletak pada posisi topografi paling tinggi (lereng tengah-atas) dan paling rawan longsor.
2.1.1.3.3. Puting Beliung
Hasil perekaman kejadian puting beliung, teridentifikasi wilayah yang pernah terjadi bencana angin puting beliung di Kabupaten Jombang, yaitu: 1.Kecamatan Bandarkedungmulyo, yang meliputi: Desa Mojokambang (Dsn.
Mojotengah, Dsn. Kemendung, Dsn. Krembung, Dsn. Wonorejo).
2.Kecamamatan Perak, meliputi Desa Plosogenuk (Dsn. Sukorejo), Desa Kalangsemanding, dan Desa Glagahan.
3.Kecamatan Ngoro, meliputi Desa Genukwatu (Dsn. Genukwatu, Dsn. Godong), Desa Sugihwaras (Dsn. Cermenan), Desa Gajah (Dsn. Gandan), Desa Ngoro (Dsn. Pandean, Dsn. Ngoro Kidul), Desa Kauman (Dsn. Kauman, Dsn. Genggeng), Desa Rejoagung (Dsn. Genggeng).
4.Kecamatan Tembelang, meliputi: Desa Gabusbanaran, Desa Sentul, dan Desa Pesantren.
2.1.1.3.4. Gempa Bumi
Beberapa lokasi di Kabupaten Jombang memiliki potensi mengalami bahaya dari aspek geologi, yakni gempa tektonik. Berdasarkan kondisi aspek geologi dan pergerakan tanah di Kabupaten Jombang, kawasan yang berpotensi mengalami gempa bumi berada di wilayah Kecamatan Plandaan, Kabuh, Ngusikan, serta sebagian Kecamatan Megaluh, dan Kecamatan Bandar Kedungmulyo.
Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah adanya Patahan Ploso. Meskipun sudah lama tidak aktif serta terbentuk dari sungai Brantas yang berkelok, namun terdapat kemungkinan terjadinya patahan.
II-10 2.1.1.4. Demografi
Penduduk merupakan obyek sekaligus subyek dari pembangunan sehingga data kependudukan merupakan piranti yang sangat diperlukan guna mengetahui profil penduduk di kabupaten jombang yang selanjutnya bisa dijadikan prioritas utama dalam pembangunan dan dapat dikembangkan menjadi sumber daya yang handal.Jumlah penduduk kabupaten jombang pada tahun 2013 berdasarkan hasil perhitungan bps ri (pergerakan proyeksi sp2010) sebesar 1.224.467 jiwa terdiri atas 607.898 jiwa penduduk laki-laki (49,65%) dan 616.569 jiwa penduduk perempuan (50,35%). Secara administratif berdasarkan data pada dinas kependudukan dan pencatatan sipil kabupaten jombang, penduduk kabupaten jombang pada 24 nopember 2013 tercatat berjumlah 1.419.137 jiwa terdiri atas 716.113 jiwa penduduk laki-laki (50,5%) dan 703.024 jiwa penduduk perempuan (49,5%).
Grafik 2.1
Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Jombang Tahun 2012-2013
(Jiwa)
Sumber Data : BPS Kab. Jombang Tahun 2013
Penduduk Kabupaten Jombang pada tahun 2013 bertambah sebesar 6.907 jiwa atau meningkat 0,57% jika dibandingkan dengan penduduk pada tahun 2012 yang sebesar 1.217.560 jiwa.
Kepadatan penduduk Kabupaten Jombang pada tahun 2013 tergolong tinggi. Dengan luas wilayah sebesar 1.159,50 Km2, kepadatan penduduk
Kabupaten Jombang pada tahun 2013 sebesar1.056 jiwa/Km2.
Sex Rasio atau perbandingan jenis kelamin penduduk Kabupaten Jombang tahun 2013 sebesar 99, kondisi ini mengindikasikan bahwa jumlah penduduk laki-laki di Kabupaten Jombang lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan dimana setiap 100 penduduk berjenis perempuan terdapat 99 penduduk berjenis laki-laki.
Tabel 2.3
Jumlah Penduduk Kabupaten Jombang Menurut Kelompok Umur Tahun 2013
(Jiwa)
No Kelompok umur Laki-laki Perempuan Jumlah
1. 0 – 4 Tahun 53.655 50.976 104.631 2. 5 – 9 Tahun 50.092 47.804 97.896 3. 10 – 14 Tahun 51.204 48.611 99.815 4. 15 – 19 Tahun 54.253 51.773 106.026 5. 20 – 24 Tahun 45.697 45.530 91.227 6. 25 – 29 Tahun 45.989 46.700 92.689 1.217.560 1.224.467 1.214.000 1.216.000 1.218.000 1.220.000 1.222.000 1.224.000 1.226.000 2012 2013 Total
II-11
No Kelompok umur Laki-laki Perempuan Jumlah
7. 30 – 34 Tahun 46.611 46.988 93.599 8. 35 – 39 Tahun 45.855 46.829 92.684 9. 40 – 44 Tahun 46.441 47.428 93.869 10. 45 – 49 Tahun 42.425 44.635 87.060 11. 50 – 54 Tahun 37.446 38.108 75.554 12. 55 – 59 Tahun 29.494 29.237 58.731 13. 60 – 64 Tahun 21.487 21.926 43.413 14. 65 Tahun keatas 37.249 50.024 87.273 Jumlah 607.898 616.569 1.224.467
Sumber Data: BPS Kab. Jombang Tahun 2013
Berdasarkan pada kelompok umur, penduduk Kabupaten Jombang pada tahun 2013 di dominasi oleh penduduk usia produktif yaitu umur 15-64 tahun sebesar 68,18%. Sedangkan penduduk usia muda (usia dibawah 15 tahun) sebesar 24,69% dan penduduk usia tua (65 tahun keatas) sebesar 7,13%. kondisi ini sangat menguntungkan karena penduduk usia produktif berpotensi sebagai modal pembangunan.
Beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif tergolong rendah, rasio ketergantungan penduduk Kabupaten Jombang pada tahun 2013 sebesar 46,67% dimana setiap 100 penduduk produktif menanggung 47 penduduk usia belum produktif (usia muda) dan penduduk yang dianggap tidak produktif lagi (usia tua). Nilai ini disumbangkan oleh rasio ketergantungan penduduk usia muda sebesar 36,22% dan rasio ketergantungan penduduk usia tua sebesar 10,45%. Apabila dirinci menurut jenis kelamin maka beban tanggungan laki-laki lebih kecil daripada beban tanggungan perempuan dengan nilai 46,24% untuk laki-laki dan 47,10% untuk perempuan karena usia penduduk perempuan relatif lebih panjang. 2.1.2. ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
2.1.2.1. Produk Domestik Regional Bruto
PDRB dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemakmuran masyarakat yang selanjutnya sebagai tolok ukur peningkatan kesejahteraan masyarakat. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah total nilai produksi barang dan jasa yang diproduksi di wilayah (regional) tertentu dalam waktu tertentu (satu tahun).
Dalam rentang waktu 5 (lima) tahun terakhir perkembangan PDRB Kabupaten Jombang, baik berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan, menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya nilai tambah barang dan jasa, yang diindikasikan dengan pesatnya peningkatan nilai PDRB atas dasar harga berlaku dari Rp.11,30 trilyun pada tahun 2008 menjadi Rp.12,52 trilyun pada tahun 2009, kemudian menjadi Rp.14,06 trilyun pada tahun 2010, menjadi Rp. 15,95 trilyun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012 angka sementara PDRB atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp.18,07 trilyun dan tahun 2013 angka sangat sementara sebesar 20,62 trilyun.
Selain itu, struktur perekonomian wilayah Kabupaten Jombang juga semakin kokoh yang diindikasikan dengan semakin naiknya PDRB atas dasar harga konstan yaitu sebesar Rp.5,66 trilyun pada tahun 2008 menjadi Rp.5,96 trilyun pada tahun 2009 menjadi Rp.6,33 trilyun pada tahun 2010, dan naik menjadi Rp.6,76 trilyun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012 untuk angka sementara, PDRB atas dasar harga konstan kembali menunjukkan peningkatan yaitu sebesar Rp.7,23 trilyun dan angka sangat sementara pada
II-12
tahun 2013 menjadi Rp.7,69 trilyun.Adapun kecenderungan peningkatan PDRB sejak tahun 2008 hingga 2013 adalah sebagaimana berikut.
Grafik 2.2
Perkembangan PDRB Kabupaten Jombang Tahun 2008-2013 (Juta Rupiah)
Sumber: BPS Kabupaten Jombang Tahun 2013
Perkembangan struktur perekonomian wilayah Kabupaten Jombang ditinjau dari 9 (sembilan) sektor lapangan usaha dalam PDRB menunjukkan bahwa perekonomian Kabupaten Jombang masih didominasi oleh empat sektor dominan yang selama ini menjadi penyangga utama struktur perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang, yaitu sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran dengan kontribusi 36,9%, Sektor Pertanian 27,19%,Sektor Jasa-jasa 11,56% dan Sektor Industri Pengolahan 10,79%. Perkembangan kontribusi sektor lapangan usaha dalam PDRB tersaji dalam tabel berikut:
Tabel 2.4
Pergeseran Proporsi Sektor Ekonomi Berdasarkan PDRB ADHK Tahun 2011-2013 (%)
No. Sektor PDRB 2011 2012*) 2013**)
1 Pertanian 28,23 27,19 26,17
2 Pertambangan dan Penggalian 1,56 1,51 1,46
3 Industri dan Pengolahan 10,86 10,79 10,78
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 1,03 1,02 1,01
5 Bangunan 1,86 1,85 1,87
6 Perdagangan, Hotel dan
Restoran 35,78 36,90 37,88
7 Angkutan dan Komunikasi 4,62 4,73 4,85
8 Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 4,30 4,45 4,55
9 Jasa-jasa 11,76 11,56 11,43
Sumber Data : BPS Kabupaten Jombang, diolah *) Angka sementara
**) Angka sangat sementara
11302,601 12519,634 14060,872 15945,609 18065,849 20615,588 5663,244 5962,262 6327,278 6759,495 7230,304 7693,798 -5000,000 10000,000 15000,000 20000,000 25000,000 2008 2009 2010 2011 2012 2013 ADHB ADHK
II-13
Apabila dilihat lebih jauh dari tabel di atas, terlihat bahwa peranan keempat sektor tersebut telah mengalami pergeseran. Pada tahun 2013, berdasarkan BPS Kabupaten Jombang (angka sangat sementara) nampak bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran menggeser dominasi sektor pertanian.
2.1.2.1.2. PDRB Per Kapita
Indikator PDRB perkapita dapat digunakan untuk melihat kondisi kesejahteraan masyarakat suatu daerah. PDRB Per kapita adalah indikator makro yang secara agregat dihitung dari PDRB (ADHB) dibagi jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Hal ini penting untuk mengetahui pertumbuhan pendapatan masyarakat dalam hubungannya dengan kemajuan sektor ekonomi. PDRB per kapita pada umumnya selain dipengaruhi oleh faktor produksi juga sangat dipengaruhi oleh harga barang dan jasa yang berlaku dipasar. Dengan demikian maka pengaruh inflasi menjadi cukup dominan dalam pembentukan pendapatan regional suatu daerah.
Perkembangan PDRB Per Kapita Kabupaten Jombang pada tahun 2011 dan 2012 tersaji dalam tabel berikut:
Tabel 2.5
PDRB Per Kapita Kabupaten Jombang Tahun 2011-2013 (Dalam Juta Rupiah)
No. Uraian Tahun 2011 Tahun 2012*) 2013 **)
1. PDRB Atas Dasar Harga
Berlaku (ADHB) 15.945.609.060 18.045.848.600 20.615.588.260 2. Penduduk Pertengahan
Tahun 1.209.596 1.217.560 1.224.467
3. PDRB Per Kapita 12.711,185 14.313,550 16.836,377
4. Rata-Rata PDRB Per
Kapita per Bulan 1.059,265 1.192,796 1.403,031
5. Pertumbuhan (%) 12, 89 12,61 17,63
Sumber: BPS Kabupaten Jombang, diolah *) Angka sementara
**) Angka sangat sementara
Sedangkan perkembangan pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku di Kabupaten Jombang selama 5 tahun terakhir adalah sebagaimana tersaji dalam grafik berikut:
II-14 Grafik 2.3
Perkembangan PDRB per Kapita ADHB di Kabupaten Jombang Tahun 2008-2012
Sumber data : BPS Kab. Jombang, PDRB Tahun 2000-2012 *) 2012 adalah angka sementara
**) 2013 adalah angka sangat sementara
Dari grafik di atas, nampak bahwa selama lima tahun terakhir ini, PDRB Perkapita atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan yang cukup
berarti. Pada tahun 2008 PDRB Perkapita atas dasar harga berlaku sebesar Rp9.139.095 meningkat menjadi Rp10.015.096 pada tahun 2009, tahun 2010 menjadi Rp11.259.569 dan meningkat menjadi Rp12.711.185 pada tahun 2011. Sedangkan tahun 2012 pendapatan per kapita mencapai
Rp14.313.550dan tahun 2013 meningkat sebesar 17,63% menjadi sebesar Rp.16.836.377.
2.1.2.1.3. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat diukur berdasarkan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jombang Tahun 2013 apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami perlambatan yaitu dari sebesar 6,97% pada tahun 2012 (angka sementara) menjadi sebesar 6,41% pada tahun 2013(angka sangat sementara). Laju pertumbuhan hampir semua sektor pembentuk perekonomian Kabupaten Jombang mengalami perlambatan kecuali sektor bangunan mengalami peningkatan dari 6,79% menjadi 7,14%. Kondisi ini disebabkan selama tahun 2013 perekonomian Kabupaten Jombang dihadapkan pada situasi iklim yang kurang bersahabat bagi sektor pertanian yang berakibat pada penurunan produksi hasil pertanian. Selain itu juga adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan depresi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 9,28% dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9,26% sebaliknya yang mengalami pertumbuhan paling rendah adalah sektor pertanian sebesar 2,41% dan sektor pertambangan dan penggalian 2,95%. Kecenderungan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jombang sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2013 tersaji dalam grafik berikut:
9139,095 10015,096 11259,569 12711,185 14313,550 16836,377 2008 2009 2010 2011 2012 *) 2013**)
II-15 Grafik 2.4
Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Jombang Tahun 2008-2012 (%)
Sumber: BPS Kabupaten Jombang dan BPS Prov. Jawa Timur Tahun 2013 Sedangkan perkembangan pertumbuhan ekonomi masing-masing sektor selama tahun 2011 - 2013 adalah sebagaimana tabel berikut:
Tabel 2.6
Perkembangan Pertumbuhan Sektor di Kabupaten Jombang Tahun 2009-2013 Sektor 2009 2010 2011 2012*) 2013**) 1. Pertanian 3,30 2,10 2,90 3,02 2,41 2.Pertambangan dan Penggalian 4,39 8,69 3,24 3,37 2,95 3.Industri Pengolahan 4,88 3,51 5,74 6,29 6,33
4.Listrik, Gas dan Air
Bersih 3,06 3,70 5,19 6,06 5,42 5.Bangunan 2,22 1,45 5,76 6,79 7,14 6.Perdagangan, Hotel dan Restoran 7,01 10,76 10,47 10,30 9,26 7.Pengangkutan dan Komunikasi 8,97 11,43 10,47 9,37 9,28 8.Keuangan, Persewaan
dan Jasa Perusahaan 5,01 10,81 10,62 10,70 8,79
9.Jasa-jasa 5,72 3,25 5,06 5,17 5,14
2.1.2.1.4. Laju inflasi
Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang secara umum. Laju inflasi yang tidak terkendali dapat memicu penurunan daya beli masyarakat, terutama oleh masyarakat miskin yang tidak memiliki tabungan. Selain itu, tingginya laju inflasi juga memberikan dampak semakin melebarnya tingkat distribusi pendapatan di masyarakat. Inflasi yang tinggi juga berpotensi menghambat investasi produktif. Hal ini karena tingginya tingkat ketidakpastian (mendorong investasi jangka pendek) dan tingginya bunga. Dan
2008 2009 2010 2011 2012 2013 Jatim 5.9 5.01 6.68 7.22 7.27 6.55 Jombang 5.79 5.28 6.12 6.83 6.97 6.41 0 1 2 3 4 5 6 7 8 %
II-16
secara makro, dalam jangka panjang inflasi yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat.
Kondisi inflasi yang terjadi di wilayah Kabupaten Jombang dalam lima tahun terakhir adalah sebesar 5,21% pada tahun 2009, sebesar 5,83% pada tahun 2010 dan sebesar 6,15% pada tahun 2011. Sedangkan besaran inflasi pada tahun 2012 angka sementara adalah sebesar 5,92% dan angka sangat sementara tahun 2013 mencapai 7,24%. Perkembangan inflasi di Kabupaten Jombang selama lima tahun terakhir tersaji dalam grafik berikut:
Grafik 2.5
Perkembangan Inflasi di Kabupaten Jombang Tahun 2009-2013 (%)
Sumber: BPS Kabupaten Jombang dan BPS Provinsi Jatim Tahun 2013 2.1.2.2. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indikator yang mencerminkan tingkat pencapaian kesejahteraan penduduk. IPM tersusun dari 3 (tiga) komponen indeks yaitu indeks harapan hidup, indeks pendidikan dan indeks kemampuan daya beli. IPM Kabupaten Jombang pada tahun 2013 mencapai 75,69%. Capaian ini meningkat sebesar 1,06 poin jika dibandingkan dengan IPM pada tahun 2012 sebesar 74,63. Berdasarkan kriteria UNDP capaian IPM Kabupaten Jombang tahun 2013 termasuk dalam kategori menengah atas. Kondisi ini mengindikasikan bahwa secara umum kesejahteraan penduduk Kabupaten Jombang mengalami peningkatan dan kebijakan Pemerintah Kabupaten dibidang kesejahteraan masyarakat telah berjalan sesuai dengan rencana dan terus mengalami peningkatan. Secara grafis dapat dijelaskan sebagaimana pada grafik 2.6
2008 2009 2010 2011 2012 2013 Jatim 1.59 0.49 6.96 4.09 ,4.50 ,7.59 Jombang 9.73 5.21 5.83 6.15 5.92 7.24 0 2 4 6 8 10 12 %
II-17 GRAFIK 2.6
Perkembangan IPM Kabupaten Jombang Tahun 2012-2013 (dalam %)
Sumber Data : Bappeda Kabupaten Jombang Tahun 2013.
Selanjutnya perkembangan Indeks Pembangunan Manusia tahun 2012 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.7
Perkembangan IPM Kabupaten Jombang Tahun 2012–2013
(dalam %)
Indikator 2012 2013 selisih
IPM 74,63 75,69 1,06
- Indeks Harapan Hidup 77,85 78,20 0,35
- Indeks Pendidikan 79,13 79,94 0,81
- Indeks Daya Beli 66,93 68,92 1,99
Sumber Data: Bappeda Kab. Jombang Tahun 2013
Peningkatan capaian IPM Kabupaten Jombang tahun 2013 disumbangkan oleh kenaikan indeks harapan hidup sebesar 0,35 poin dari 77,85% pada tahun 2012 menjadi 78,20% pada tahun 2013, kenaikan indeks pendidikan sebesar 0,81 poin dari 79,13% pada tahun 2012 menjadi 79,94 pada tahun 2013 dan peningkatan indeks kemampuan daya beli sebesar 1.99 poin dari 66,93% pada 2012 menjadi 68,92% pada 2013. Berdasarkan kriteria UNDP status capaian indeks harapan hidup dan indeks tingkat pendidikan termasuk dalam kategori menengah atas. Sedangkan untuk status indeks kemampuan daya beli masih tergolong dalam kategori tingkat menengah bawah.
Untuk melihat capaian IPM secara lebih lanjut, dapat dilihat dari capaian masing-masing komponen pembentuknya, yaitu indeks harapan hidup yang diukur dengan harapan hidup pada saat lahir, indeks pendidikan yang diukur dengan kombinasi antara angka melek huruf pada penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah, serta indeks standar hidup layak yang diukur dengan pengeluaran perkapita yang telah disesuaikan atau paritas daya beli.
Untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya, dapat melalui pendekatan Angka Harapan Hidup (AHH). Angka Harapan Hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup
60 65 70 75 80 2012 2013 IPM 74.63 75.69
Indeks Harapan Hidup 77.85 78.2 Indeks Pendidikan 79.13 79.94 Indeks Daya Beli 66.93 68.92