BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian merupakan suatu proses dari langkah-langkah yang digunakan

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian

Penelitian merupakan suatu proses dari langkah-langkah yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi untuk meningkatkan pemahaman mengenai suatu topik atau isu (Creswell, 2012:3). Dengan adanya penelitian, diharapkan mampu menemukan suatu kebenaran melalui cara-cara ilmiah atau metode ilmiah.

Berdasarkan permasalahan penelitian yang berjudul “Model Pelatihan Ketangguhan (Hardiness) Untuk Mereduksi Burnout Pada Mahasiswa”, maka penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2016:8).

Pada penelitian ini menggunakan desain penelitian One-Group Pretest-Posttest Design yakni desain eksperimen dengan memberikan pre-test sebelum dan posttest sesudah diberikan perlakuan atau eksperimen, dengan tidak adanya kelompok kontrol atau pembanding.

Adapun rancangan penelitian yang digunakan yaitu: Tabel 3.1

Rancangan Penelitian

Keterangan :

O1 = Nilai Pretest (Sebelum diberi perlakuan)

O2 = Nilai Post-test (Setelah diberi perlakuan)

X = Eksperimen/Perlakuan

Di dalam proses penelitian ditentukan kelas sebagai subyek penelitian, yaitu kelas eksperimen.

(2)

B. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, yang terletak di jalan Tamansari Gobras No. 29, Tasikmalaya, Jawa Barat, 46196. 2. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya angkatan 2017. Banyaknya populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 122 orang mahasiswa yang terbagi ke dalam 6 kelas, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 3.2 Populasi Penelitian

No. Prodi/Kelas Jumlah Mahasiswa 1. Bimbingan & Konseling/A 31 2. Bimbingan & konseling/B 24

3. PGSD 26

4. PGPAUD 3

5. PTI 14

6. Sendratasik 24

Jumlah 122

Selanjutnya, dilakukan pengambilan sampel yang bertujuan agar sampel yang diambil dari populasinya “representative” (mewakili), sehingga dapat diperoleh informasi yang cukup untuk mengestimasi populasinya. Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016:85).

Kriteria pemilihan kelas eksperimen berdasarkan pada pengambilan sampel yang ditentukan peneliti dengan mempertimbangkan karakteristik yang sesuai dengan struktur penelitian, kriteria yang dimaksud antara lain:

(3)

1) Mahasiswa Angkatan 2017 berada pada rentang usia 19-21 tahun dalam lingkup psikologi perkembangan individu pada saat ini memasuki masa dewasa awal.

2) Mahasiswa yang diberikan perlakuan (treatment) adalah 13 mahasiswa yang mengalami burnout pada kategori sedang/tinggi, dan merupakan mahasiswa dari salah satu Program Studi yang memiliki intensitas burnout paling tinggi dibanding mahasiswa Program Studi lain. Adapun, pertimbangan menentukan jumlah peserta didasarkan pada perspektif bimbingan kelompok bahwa jumlah anggota kelompok yang efektif adalah 8-15 orang (Winkel, 1997; Natawidjaja, 1987; ABKIN, 2008 dalam Sugara, 2011:53).

3) Mahasiswa bersedia mengikuti proses perlakuan (treatment).

C. Pengembangan Instrumen Penelitian 1. Definisi Operasional Variabel

Varibel yang diteliti dalam penelitian terdiri atas dua variabel, yaitu pelatihan ketangguhan sebagai variabel bebas dan burnout sebagai variabel terikat. a. Burnout

Maslach & Leiter (Sugara, 2011) mendefinisikan ‘burnout’ sebagai hasil dari tekanan emotional yang konstan dan berulang, yang diasosiasikan dengan keterlibatan yang intensif dalam hubungan antar personal untuk jangka waktu yang lama.

Cherniss (Sugara, 2011) berpendapat bahwa burnout merupakan bentuk penarikan diri secara psikologis dalam merespon stres yang berlebihan atau terhadap ketidakpuasan.

Sugara (2011) menyebutkan bahwa burnout sindrom psikologis yang dialami oleh mahasiswa yang ditandai dengan : (1) keletihan emosional, (2) sinis atau depersonalisasi, dan (3) menurunnya keyakinan akademis sebagai akibat dari keterlibatan siswa secara intensif dengan kegiatan belajar yang berlangsung cukup lama.

(4)

Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa burnout yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kondisi kelelahan secara fisik, mental, dan emosional, serta menurunnya keyakinan akademik yang mengakibatkan individu merasa terpisah dari lingkungannya, ditambah dengan tingginya standar keberhasilan pribadi yang dialami oleh individu akibat dari munculnya stres dalam jangka waktu yang lama dan dengan intensitas yang cukup tinggi.

Aspek-aspek burnout pada mahasiswa terdiri dari 3 aspek, di antaranya: 1.) Keletihan emosi (emotional exhaustion), yang ditunjukkan dengan sering

merasa lelah, frustasi, mudah tersinggung, sedih, putus asa, tidak berdaya, merasa tertekan, mudah marah, dan perasaan tidak nyaman dalam melakukan tugas-tugas sekolah.

2.) Depersonalisasi (Cynism), yaitu menjauhnya individu dari lingkungan sekitar, merasa tidak mampu bersosialisasi terhadap orang lain, mudah menegeluh setiap hari, merasa tidak perduli dengan orang lain, emosi tidak terkontrol, kehilangan harapan dalam belajar, merasa terjebak, dan merasa gagal.

3.) Menurunnya keyakinan akademik (Reduce Academic Efficacy), ditandai dengan perasaan rendah diri terhadap dirinya sendiri, kehilangan semangat belajar, merasa tidak kompeten, individu mengalami ketidak puasan terhadap prestasi yang didapat dan merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

b. Pelatihan Ketangguhan

Pelatihan ketangguhan yang dimaksud dalam penelitian merupakan kegiatan pelatihan untuk mereduksi burnout yang dialami oleh mahasiswa, dengan meningkatkan kemampuan mengontrol atau mempengaruhi kejadian-kejadian dalam hidupnya dan mampu mengubah situasi stres dari potensi ancaman menjadi peluang, sehingga mahasiswa mampu mengatasi secara efektif keadaan yang penuh tekanan, memberi dan mendapatkan bantuan dan dorongan dalam interaksi sosial, terlibat dalam perawatan mandiri yang mendukung koping yang efektif dan dukungan sosial, dan menggunakan umpan balik dari kegiatan ini untuk memperdalam sikap ketangguhan mereka terhadap commitment, control, dan challenge.

(5)

2. Penyusunan Kisi-kisi Instrumen

Instrumen pengungkap data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Instrumen Pengungkap Burnout yang dikembangkan oleh Gian Sugiana Sugara (2011) berdasarkan MBI-SS (Maslach Burnout Inventory-Student Survey). Kisi-kisi Instrumen Pengungkap Burnout disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 3.3

Kisi-kisi Instrumen Pengungkap Burnout

Aspek Indikator No. Item

Keletihan Emosi

1. Merasa gagal dalam belajar 2. Mudah benci

3. Mudah marah 4. Mudah cemas

5. Menyalahkan orang lain 6. Merasa bersalah

7. Merasa lelah dan letih setiap hari

1,17 2,18 3,19 4,20,21 5,22 6,23 7,24 Depersonalisasi 1. Enggan terlibat aktif dalam

kegiatan belajar

2. Kehilangan antusias untuk belajar, 3. Merasa terbebani dengan banyak

tugas belajar

4. Ragu terhadap apa yang dipelajarinya 8,25,26 9,27 10,28 11,29 Menurunnya keyakinan akademis

1. Kehilangan semangat belajar 2. Mudah menyerah

3. Merasa tidak kompeten, 4. Merasa rendah diri dan tidak

percaya diri

5. Motivasi rendah dalam belajar.

12,30 13,31,32

14,33 15,34

(6)

3. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen a. Uji Validitas

Pengujian validitas butir item yang dilakukan terhadap seluruh item yang terdapat dalam angket yang mengungkap burnout pada mahasiswa. Kegiatan uji validitas butir item bertujuan untuk mengetahui kevalidan instrument yang akan digunakan.

Pengujian validitas butir item menggunakan rumus korelasi pearson product-moment dengan skor mentah. Pengujian yang dilakukan dengan mengkorelasikan skor butir dengan skor total dengan rumus sebagai berikut:

rxy=

 

 

 

 2 2 2 2 y y n x x n y x xy n Keterangan :

rxy : Koefisien korelasi yang dicari x : jumlah skor butir

y : jumlah skor total

xy : Jumlah perkalian antara skor x dan skor y x2 : Jumlah skor x yang dikuadratkan

y2 : Jumlah skor y yang dikuadratkan

Selanjutnya dengan mencari thitung dengan menggunakan rumus t sebagai

berikut. 2

2

1

n

t

r

r

-=

-Keterangan:

t = harga thitung untuk tingkat signifikansi

r = koefisien korelasi n = banyaknya subjek

Setelah diperoleh nilai thitung, maka langkah selanjutnya adalah

membandingkan dengan ttabel untuk mengetahui tingkat signifikasinya dengan

ketentuan thitung > ttabel. Pendekatan uji signifikan dilakukan untuk menentukan valid

(7)

maka pernyataan tersebut dinyatakan valid. Dan sebaliknya, jika thitung lebih kecil

daripada ttabel, maka pernyataan tersebut dinyatakan tidak valid.

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas

Kesimpulan Item Jumlah

Valid 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36 35 Tidak Valid 23 1

Hasil pengujian validitas instrumen burnout menunjukkan bahwa dari 36 item pernyataan yang disusun terdapat 1 item yang tidak valid pada tingkat kepercayaaan 95 % yaitu pada item nomor 23.

b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas menunjukkan sejauh mana instrumen yang digunakan dapat dipercaya atau keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh oleh subjek penelitian dengan instrumen yang sama dalam kondisi yang berbeda.

Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik Cronbach’s Alpha, karena instrumennya berupa skala likert. Adapun titik tolak ukur koefisien reliabilitas digunakan klasifikasi rentang koefisien reliabilitas sebagai berikut

Tabel 3.5

Pedoman Penafsiran Koefisien Reliabilitas Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000 Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

(8)

Sugara (2011) telah melakukan uji reliabilitas instrumen dengan menggunakan teknik belah dua (split-half) Spearman-Brown dan diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,867 yang menunjukkan bahwa derajat keterandalan instrumen sangat tinggi. Kemudian, dilakukan uji reliabilitas kembali oleh peneliti dengan bantuan SPSS 16.00 for windows. Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang telah dilaksanakan, dapat diketahui bahwa nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,858, sehingga dapat dikatakan instrumen dalam penelitian ini reliabel atau dapat dipercaya serta layak untuk dijadikan instrumen pada penelitian ini. Adapun nilai reliabilitas yang diperoleh 0,858 berada pada taraf interpretasi sangat tinggi.

4. Pedoman Skoring

Angket burnout dibuat dalam bentuk pernyataan-pernyataan beserta kemungkinan jawabannya. Angket burnout pada penelitian ini menggunakan skala likert. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan (Sugiyono, 2016:93).

Item pernyataan tentang intensitas burnout dibuat dalam bentuk alternatif respon subjek yaitu selalu, sering, kadang-kadang, dan tidak pernah. Jika siswa menjawab pada kolom selalu diberi skor 4, kolom sering diberi skor 3, kolom kadang-kadang diberi skor 2, dan kolom Tidak Pernah diberi skor 1. Ketentuan pemberian skor gejala burnout dapat dilihat pada tabel 3.6.

Tabel 3.6

Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban

Alternatif Jawaban Skor Jawaban Negatif Selalu 4 Sering 3 Kadang-kadang 2 Tidak Pernah 1

(9)

D. Langkah-langkah Intervensi

Secara singkat, alur penelitian meliputi: Tabel 3.7 Alur Penelitian

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pretest

Penyebaran angket diberikan kepada mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya Angkatan 2017 Tahun Ajaran 2018/2019. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai tes awal serta untuk memperoleh data mengenai gambaran umum burnout pada mahasiswa.

2. Perlakuan (Treatment)

Pemberian perlakuan berupa pelatihan ketangguhan terhadap mahasiswa yang mengalami burnout, dirancang berdasarkan hasil pretest gejala burnout.

Pretest

Pengolahan data sehingga menghasilkan skor yang menggambarkan tingkat burnout pada mahasiswa

Membagi mahasiswa menjadi kelompok eksperimen

Pelatihan Ketangguhan Fase 1 : “Break the Challenge” Pelatihan Ketangguhan Fase 2 : “Take the Control”

Pelatihan Ketangguhan Fase 3 : “Yes, I Have to Commited”

Posttest

Pengolahan data sehingga menghasilkan skor yang menggambarkan tingkat burnout setelah diberikan intervensi

Menganalisis hasil pengukuran dari prestest dan posttest apakah terjadi terjadi penurunan tingkat burnout setelah pemberian intervensi

(10)

MODUL PELATIHAN KETANGGUHAN (HARDINESS) UNTUK MEREDUKSI BURNOUT PADA MAHASISWA A. Rasional

Mahasiswa rata-rata berada pada rentang usia 18-25 tahun atau jika dikategorikan ke dalam tahap perkembangan individu, mahasiswa telah memasuki fase dewasa awal. Hurlock (2002:246) menjelaskan bahwa pada masa dewasa awal individu diharapkan mampu melakukan penyesuaian diri secara mandiri. Penyesuaian diri perlu dilakukan agar mahasiswa tidak mengalami hambatan dalam menuntaskan berbagai tuntutan dan kewajibannya, tidak hanya dalam segi akademik, tetapi juga dalam kehidupan berorganisasi, maupun kebutuhan hidup pribadinya.

Pada praktiknya, tidak semua individu mampu melakukan penyesuaian diri secara optimal dan terkadang menemukan kesulitan-kesulitan dalam menghadapi permasalahan. Individu akan berusaha menggunakan berbagai macam cara dalam menghadapi hambatan yang dialaminya tersebut agar tidak menimbulkan dampak stres pada dirinya, namun tidak semua orang berhasil melakukannya. Sejalan dengan pendapat Hurlock (2002:248) yang menjelaskan bahwa masalah-masalah yang harus dihadapi oleh orang muda itu rumit dan memerlukan waktu dan energi untuk diatasi, maka berbagai penyesuaian diri ini tidak akan dilakukan pada waktu yang bersamaan, demikian pula bentuk akhir penyesuaiannya tidak akan diterima secara serempak.

Individu yang mampu menangani stres dapat meningkatkan kematangan dan wawasan dalam menjalani kegiatannya, sebaliknya individu yang tidak mampu menangani stres, akan mengakibatkan seseorang terbelenggu dalam situasi yang memperburuk kondisi fisik maupun mentalnya. Stress yang dialami individu dalam jangka waktu lama dengan intensitas yang cukup tinggi akan mengakibatkan individu yang bersangkutan akan mengalami kelelahan, baik kelelahan fisik ataupun kelelahan mental, kondisi inilah yang dinamakan dengan burnout.

Muna (2013) berpendapat bahwa burnout merupakan suatu kondisi mental di mana seorang mahasiswa mengalami kebosanan yang amat sangat untuk melakukan aktivitas belajar, dan kebosanan tersebut membuat motivasi belajar

(11)

mereka menurun, timbulnya rasa malas yang besar, dan menurunnya prestasi belajar. Burnout merujuk pada kondisi di mana mahasiswa mulai mengalami berkurangnya motivasi belajar atau antusias terhadap belajar, serta meningkatnya kelelahan baik secara emosional maupun fisik. Sejalan dengan pendapat Yang (2004) yaitu berpendapat bahwa burnout pada mahasiswa dapat menyebabkan tingkat absensi yang lebih tinggi, motivasi yang lebih rendah untuk melakukan sebuah pekerjaan, persentase putus sekolah yang lebih tinggi dan memiliki efek negatif pada prestasi akademik.

Burnout dapat dikategorikan ke dalam 3 aspek, pertama adalah keletihan emosi yaitu digambarkan sebagai perasaan terlalu emosional dan terkuras oleh orang lain (Schaufeli & Greenglass, 2001). Kedua, depersonalisasi yang dideskripsikan sebagai sikap negatif atau tidak pantas terhadap orang lain, kehilangan idealisme, dan penarikan diri (Maslach & Leiter, 2016). Serta ketiga, menurunnya keyakinan akademik yaitu mengacu pada penurunan perasaan kompetensi dan pencapaian sukses individu dengan orang lain (Schaufeli & Greenglass, 2001).

Burnout merupakan merupakan masalah kompleks yang harus segera ditangani. Sesuai dengan pendapat Pham (2004) yang menyatakan bahwa “learning burnout is actually something a lot more serious than people just being stressed from school”, burnout merupakan fenomena perilaku yang kompleks, unik dan pada sisi tertentu dapat dikatakan sulit untuk ditebak. Sehingga, apabila fenomena burnout yang dialami oleh mahasiswa tidak segera ditangani, disamping dapat menggangu proses pembelajaran, juga ditakutkan dapat membuat individu merasa terjebak dan dan secara terus-menerus mengalami perasaan lelah dan tidak nyaman yang pada gilirannya meningkatkan rasa kesal, kelelahan fisik, kelelahan mental dan emosional.

Bimbingan dan konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling yang dilakukan untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya (Suherman, 2015:4). Sejalan dengan pendapat Yusuf & Nurihsan (2014:196) bahwa bimbingan dan konseling sebagai komponen pedidikan merupakan pemberian layanan bantuan

(12)

kepada individu-individu dalam upaya mengembangkan potensi diri atau tugas-tugas perkembangannya (developmental task) secara optimal. Singkatnya, layanan bimbingan dan konseling di perguruan tinggi hadir sebagai bentuk layanan psikopedagogis yang bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam proses perkembangannya selama melakukan studi, baik dalam aspek pribadi-sosial, belajar maupun karir sehingga mampu membuat mahasiswa berkembang secara optimal. Hal ini perlu dilakukan agar mahasiswa mampu melakukan strategi coping secara efektif, khususnya untuk membantu mahasiswa mengatasi burnout.

Hurlock (2002:249) berpendapat bahwa salah satu alasan mahasiswa tidak mampu melakukan penyesuaian diri terhadap masalah-masalah yang dialaminya adalah karena orang-orang muda itu tidak memperoleh bantuan dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah mereka. Sehingga sangat diperlukan bantuan dari orang lain, seperti konselor, yang diharapkan mampu memberikan bantuan kepada konseli secara efektif.

Adapun salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi burnout adalah dengan menggunakan pelatihan ketangguhan (hardiness). Pelatihan ketangguhan dilakukan berdasarkan teori ketangguhan, yang menekankan pada bagaimana cara mengatasi situasi menekan secara efektif, berinteraksi dengan orang lain dengan memberi dan mendapatkan bantuan dan semangat, menggunakannya untuk self-care yang dapat memfasilitasi usaha dan interaksi yang suportif, serta belajar bagaimana menggunakan umpan balik yang diperoleh dari berbagai upaya untuk memperdalam hardy attitudes, yaitu meliputi commitment, control, dan challenge (Maddi, 2013; Wong & Wong, 2006). Di dalam sesi pelatihan memungkinkan peserta mengubah keadaan stres menjadi masalah yang harus dipecahkan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan menuju solusi.

Adapun asumsi kritis teori ketangguhan pada kondisi burnout adalah bahwa individu yang tangguh tidak mudah terancam atau terganggu oleh aspek-aspek burnout. Dari sudut pandang teoritis, mahasiswa yang tangguh diharapkan dapat bereaksi terhadap pengaturan baru dengan rasa minat dan tujuan yang tulus, menilai persyaratan akademik sebagai tantangan yang menantang yang dapat diatasi dengan

(13)

dedikasi dan komitmen, dan menerapkan jumlah yang diperlukan dari upaya untuk berhasil dan menyesuaikan diri dengan lingkungan akademik (Hystad, et al, 2009). Pendapat tersebut juga didukung dengan adanya hasil penelitian yang dilakukan oleh Widiastuti & Astuti (2008) bahwa terdapat korelasi negatif antara kepribadian tangguh dengan burnout, semakin rendah kepribadian tangguh maka burnout cenderung semakin tinggi dan sebaliknya semakin tinggi kepribadian tangguh maka burnout cenderung lebih rendah. Kemudian, hasil penelitian Moradi, Poursarrajian & Naeeni (2013) juga melakukan penelitian mengenai hubungan antara ketangguhan dan burnout dan memperoleh simpulan bahwa terdapat hubungan antara sifat ketangguhan dengan salah satu dimensi burnout. Yaitu ditemukan bahwa individu yang tangguh memiliki sikap positif terhadap perubahan dan menganggap dirinya perlu untuk melakukan perubahan, mendapatkan lebih banyak kesuksesan dalam kehidupan dan pekerjaan dan ini berarti bahwa burnout berkurang dalam hal hilangnya rasa pencapaian pribadi/keyakinan akademik.

Dengan adanya pemberian intervensi melalui pelatihan ketangguhan dapat membantu peserta untuk mempraktekkan keterampilan koping dan dukungan ke dalam keadaan nyata dan menggunakan umpan balik yang mereka dapatkan dari upaya mereka untuk memperdalam sikap tangguh mereka. Sehingga peserta mampu memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mengubah tekanan yang berpotensi mengganggu menjadi sebuah keuntungan atau kesempatan (Maddi, 2005).

Pemberian intervensi berupa pelatihan ketangguhan dalam rangka mereduksi burnout yang dialami oleh mahasiswa sangatlah diperlukan. Hal ini bertujuan agar mampu memberikan kekuatan pada mahasiswa dan meyakinkannya untuk mengatasi tekanan dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan yang perlu dihadapi bukan dihindari. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu mengungkap keefektifan pelatihan ketangguhan dalam menangani burnout pada mahasiswa.

(14)

B. Sasaran

Peserta yang akan mengikuti program pelatihan ketangguhan adalah mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Angkatan 2017 di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Adapun pemberian intervensi pelatihan ketangguhan dilakukan terhadap 13 mahasiswa yang memiliki intensitas burnout yang sedang dan tinggi.

C. Tujuan

Secara umum tujuan dari adanya pelatihan ketangguhan ini adalah untuk menurunkan intensitas gejala burnout pada mahasiswa. Sedangkan secara khusus, tujuan dari adanya pelatihan ketangguhan ini adalah diharapkan mahasiswa lebih mampu memberikan kontrol dan terlibat secara aktif terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup mereka, serta menjadikan hambatan sebagai sebuah tantangan yang perlu mereka hadapi.

D. Struktur Pelatihan 1. Situational Reconstruction

Di dalam tahap ini, peserta dianjurkan untuk membuat daftar keadaan stres yang saat ini mereka alami dan belum mampu terselesaikan. Kemudian, setiap individu memilih keadaan yang penuh tekanan dari daftar tersebut, serta secara khusus mencoba membayangkan bagaimana stressor bisa menjadi lebih buruk, dan juga, bagaimana itu bisa menjadi lebih baik (Maddi, 2013:32).

Peserta diberi satu set pertanyaan untuk dijawab mengenai keadaan yang penuh tekanan. Peserta akan menggunakan imajinasinya untuk melihat berbagai konsekuensi dan kemungkinan yang ditimbulkan oleh stresor dan bagaimana interaksi peserta dengan hal tersebut (Maddi & Khoshaba, 2005:111).

2. Focusing

Pada tahap focusing, di dalamnya mencoba untuk melihat upaya lain yang dapat dilakukan oleh peserta dalam melakukan perlindungan pertahanan pada dirinya, mewujudkan keadaan emosional peserta yang sebenarnya, dan

(15)

mempertimbangkan wawasan tersebut dalam mencoba membuat Rencana Aksi. Dalam tahap ini, peserta mengarahkan perhatiannya ke pesan yang dikirim oleh tubuh, ketika membayangkan situasi yang menekan (Maddi, 2013:33).

Adapun contoh pesan yang didapat adalah, seperti: detak jantung yang cepat, gemuruh perut, sakit leher dan bahu, dan ketegangan otot. Dalam mencoba memahami gejala-gejala tubuh ini, peserta mungkin menemukan cara berpikir baru tentang keadaan yang menekan, yang kita sebut sebagai wawasan berbasis emosi. Jika peserta mendapatkan wawasan semacam itu, peserta kembali mencoba Situational Reconstruction lagi, dengan dimasukkannya wawasan berdasarkan pemfokusan.

3. Compensatory Self-Improvement

Dalam tahap ini, upaya peserta bergeser menjadi untuk menemukan keadaan menekan lainnya yang dalam pandangannya tidak dapat diselesaikan, dan bekerja pada situasi lain sebagai gantinya. Secara keseluruhan, hal terbaik yang dapat ditanyakan adalah bekerja dengan tekanan yang dapat diselesaikan, dan menerima yang lain yang tidak dapat dikerjakan (Maddi, 2013:34).

4. Formulating and Carrying out an Action Plan

Pada tahap ini, peserta dianggap telah mampu memperluas perspektifnya dan memperdalam pemahamannya tentang keadaan burnout yang sedang ia alami (Maddi & Khoshaba, 2005:124). Peserta sudah siap untuk membuat sebuah rencana aksi yang berasal dari proses pemikirannya dalam membuat efek yang mampu mengubah masalah menjadi sebuah keuntungan.

Rencana Aksi terdiri dari tujuan keseluruhan, dan langkah-langkah instrumental yang perlu diambil untuk mencapai tujuan. Selain itu, urutan langkah-langkah instrumental yang perlu diambil juga harus ditunjukkan. Ketika Rencana Aksi dilaksanakan, peserta perlu menggunakan umpan balik yang diperoleh dalam proses ini untuk memperdalam sikap komitmen, kontrol, dan tantangan yang kuat (Maddi, 2013:35).

(16)

E. Metode 1. Permainan

Permainan merupakan suatu metode di mana peserta terlibat dalam suatu aktivitas yang didalamnya memiliki prosedur dan aturan tertentu. Metode ini dapat dilakukan pada saat sebelum penyampaian materi sebagai bentuk ice breaking atau juga setelah penyampaian materi sebagai bentuk simulasi yang nyata sebagai pengaplikasian keterampilan yang telah dipelajari.

2. Simulasi

Metode simulasi merupakan metode pelatihan yang meragakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan sesungguhnya. Metode ini dapat dilakuan dengan pemberian teknik relaksasi, di mana peserta mampu memperoleh bayangan secara nyata mengenai keadaan yang membuat dirinya terancam ataupun nyaman.

3. Ceramah

Metode ceramah merupakan suatu metode pemberian layanan informasi maupun pengetahuan yang disampaikan secara lisan. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan media seperti power point, audio visual, dan sebagainya untuk membuat presentasi terkemas secara lebih menarik.

4. Diskusi

Metode diskusi merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berbagi pendapat maupun pengalaman terkait dengan permasalahan yang tengah dihadapi, serta strategi yang telah dan akan dilakukan untuk mengatasi masalah burnout. Metode ini dilakukan dengan cara membagi peserta ke dalam beberapa kelompok kecil untuk melakukan diskusi, kemudian mempresentasikan hasil temuannya ke dalam kelompok besar.

(17)

5. Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan berhasil dilaksanakan. Di dalam evaluasi juga diberikan refleksi maupun feedback terhadap setiap aktivitas yang telah dilakukan oleh peserta pelatihan agar mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya.

F. Sesi Pelatihan

Pelaksanaan pelatihan ketangguhan diberikan kepada 13 mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya Angkatan 2017 Tahun Ajaran 2018/2019 berdasarkan hasil analisis data dari angket pretest. Kegiatan pelatihan ketangguhan dilakukan sebanyak 3 fase pertemuan selama 2 hari pelatihan, dan berlangsung selama kurang lebih 4-6 jam tiap harinya. Durasi waktu pelatihan disesuaikan berdasarkan rujukan dari penelitian Arsyad (2015) serta sejalan dengan pendapat Maddi (2004) yang menyebutkan bahwa pelatihan ketangguhan dapat selama satu jam setiap kali pertemuan pada tiap minggunya selama 5 minggu atau juga dapat dilakukan dalam satu waktu tertentu secara langsung.

Pelatihan yang dilakukan selama 3 fase diharapkan mampu membantu peserta dalam menghadapi kondisi burnout akademik serta membantu dalam hal menemukan strategi koping. Kemudian, kegiatan monitoring dilakukan 1 minggu setelah pelatihan berlangsung, di mana di dalamnya memuat pengukuran post-test untuk mengetahui sejauh mana keefektifan pelatihan ketangguhan dalam mereduksi burnout pada mahasiswa. Adapun gambaran setiap sesi pelatihan sebagai berikut:

Fase 1

Fase 1 berjudul “Break the Challenge!”, yaitu bertujuan untuk dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam hal melihat perubahan sebagai peluang untuk berkembang, serta mampu menghadapi perubahan yang membuat stres, mencoba memahaminya, belajar darinya, dan menyelesaikannya. Selain itu, peserta juga diharapkan mampu menerima tantangan hidup, tidak menyangkal dan

(18)

menghindarinya, serta tidak memandangnya sebagai ancaman. Di dalam fase ini memuat sesi simulasi permainan snow tower, dan situational reconstruction.

Fase 2

Fase 2 berjudul “Take the Control”, yaitu bertujuan agar mahasiswa dapat memiliki kemampuan untuk terlibat, memberikan pengaruh atau mengendalikan apa saja yang terjadi dalam hidupnya, serta mampu berusaha secara positif memengaruhi hasil dari perubahan yang terjadi disekitarnya daripada membiarkan diri tenggelam dalam kepasifan dan ketidakberdayaan, serta melakukan yang terbaik untuk menemukan solusi untuk masalahnya. Di dalam fase ini memuat sesi focusing dan compensatory self-improvement.

Fase 3

Fase 3 berjudul “Yes, I Have to Commited”, yaitu bertujuan agar mahasiswa memiliki komitmen yang tinggi serta memaknai setiap keterlibatan dirinya dalam situasi yang sedang dilakukan atau dihadapi, serta mampu melibatkan diri dalam sebuah aktivitas dalam hidup, memiliki minat yang sungguh- sungguh, serta keingintahuan yang kuat mengenai aktivitas tersebut. Di dalam fase ini memuat sesi formulating and carrying out an action plan.

G. Indikator Keberhasilan

Evaluasi keberhasilan pelatihan ketangguhan untuk mereduksi burnout dilakukan pada 1 minggu setelah sesi pelatihan berakhir. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan instrumen burnout yang dikembangkan oleh Sugara (2011) berdasarkan MBI-SS (Maslach Burnout Inventory-Student Survey). Secara keseluruhan, untuk mengetahui pengaruh pelatihan ketangguhan dalam mereduksi burnout pada mahasiswa ditandai dengan menurunnya skor gejala burnout yang dapat dilihat dari grafik penelitian.

(19)

Peserta yang berhasil mengikuti pelatihan adalah peserta yang mampu mengembangkan sikap control, commitment, dan challenge-nya dalam menjalani aktivitas. Selain itu, peserta juga mampu mengubah kondisi burnout yang dialaminya menjadi sebuah peluang untuk lebih berkembang.

3. Posttest

Pelaksanaan posttest diberikan kepada mahasiswa kelompok eksperimen, atau mahasiswa yang telah melaksanakan perlakuan. Pengumpulan data posttest dilakukan dengan menggunakan angket yang sama dengan angket pretest. Hal ini dilakukan untuk melihat perubahan kondisi burnout mahasiswa setelah diberikan perlakuan.

E. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif mengenai burnout pada mahasiswa. Untuk menganalisis data yang diperoleh digunakan analisis statistik yang dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan dalam penelitian ini:

1. Untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai profil burnout dilakukan dengan menggunakan persentase jawaban mahasiswa mengenai burnout yang kemudian diolah dan dianalisis sebagai bahan acuan dalam menyusun program intervensi dan memberikan makna diagnostik terhadap skor. Setelah itu, peneliti melakukan kategorisasi burnout ke dalam kategorisasi tinggi, sedang, dan rendah, dengan mengacu pada tabel 3.8.

Tabel 3.8

Rumus Kategorisasi Burnout

Rentang Kategori (µ + 1,0σ) ≤ x Tinggi (µ - 1,0σ) ≤ x < (µ + 1,0σ) Sedang

x < (µ - 1,0σ) Rendah

(20)

Hasil perhitungan sesuai dengan tabel 4.8, dengan rata-rata (µ) sebesar 62 dan simpangan baku (σ) sebesar 10, pengelompokkan data untuk profil burnout pada mahasiswa dapat dilihat pada tabel 3.9.

Tabel 3.9

Kategorisasi Burnout Pada Mahasiswa FKIP Angkatan 2017 Rentang Rentang

Skor

Kategori Kualifikasi

72 ≤ x 73-91 Tinggi Mahasiswa sudah mampu melakukan strategi koping yang efektif sehingga kurang mengalami keletihan emosi, memiliki sikap depersonalisasi yang rendah dan memiliki keyakinan akademis yang tinggi dibanding mahasiswa lainnya.

51 ≤ x < 72

51-72 Sedang Mahasiswa sudah cukup memiliki strategi koping yang sesuai, tetapi masih memiliki kecenderungan untuk mengalami gejala-gejala burnout, seperti: mengalami keletihan emosi, menunjukkan sikap depersonalisasi yang cukup tinggi dan mulai menurunnya keyakinan akademik.

x < 51 42-50 Rendah Mahasiswa belum memiliki strategi koping yang sesuai sehingga cenderung mengalami keletihan baik secara fisik maupun psikisnya; mengalami sikap depersonalisasi yang tinggi yang ditandai dengan hilangnya antusias untuk belajar dan merasa terbebani dengan kegiatan belajar; serta menurunnya keyakinan akademis yang tinggi yang ditandai dengan kehilangan semangat belajar, merasa tidak kompeten dan lain sebagainya.

(21)

Persentase digunakan untuk mengungkap gejala burnout yang dialami mahasiswa. Bila persentase semakin tinggi, maka gejala burnout mahasiswa termasuk dalam karakteristik tinggi. Namun sebaliknya, bila persentase rendah, maka gejala burnout mahasiswa termasuk dalam karakteristik rendah. Selain itu, untuk mendapatkan gambaran tingkat burnout secara lebih rinci, dilakukan perhitungan persentase terhadap masing-masing indikator dalam dimensi burnout dengan rumus:

Skor Aktual/Skor Ideal x 100 %

Setelah itu, mengkaji mengenai profil mahasiswa tiap prodi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dilakukan dengan menghitung rata-rata skor di setiap mahasiswa tiap prodi. Sehingga diperoleh hasil perbandingan tiap prodi dan dapat menentukan subjek untuk kelas eksperimen.

2. Untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai model pelatihan ketangguhan untuk mereduksi burnout pada mahasiswa adalah menggunakan rujukan dari modul pelatihan ketangguhan yang dikembangkan oleh Arsyad (2015), yang kemudian dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan pelatihan, seperti dalam pemilihan materi disesuaikan dengan indikator tinggi yang terdapat dalam hasil penelitian.

3. Untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai efektifitas pelatihan ketangguhan untuk mereduksi burnout pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, peneliti melakukan uji perbedaan rata-rata dua berpasangan (paired-samples t-test) dengan menggunakan bantuan SPSS 16.00 for windows dengan cara membandingkan data pretest dan posttest kelompok eksperimen.

(22)

Adapun prosedur pengujian efektivitas ini sebagai berikut:

a. Menguji normalitas data dengan uji Kolmogorov-Smirnov, untuk memperlihatkan bahwa data sampel yang diperoleh berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Dasar pengambilan keputusannya adalah jika nilai signifikansi (sig.) > 0,05, maka data tersebut berdistribusi normal, dan jika nilai signifikansi (sig.) <0,05, maka data tersebut tidak berdistribusi normal. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.00 for windows.

b. Menguji homogenitas untuk mengetahui bahwa data yang dibandingkan bersifat homogen. Dasar pengambilan keputusannya adalah jika nilai signifikansi (sig.) > 0,05 maka data tersebut homogen, dan jika nilai signifikansi (sig.) < 0,05, maka data tersebut tidak homogen. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.00 for windows.

c. Menguji efektivitas dengan perbedaan rata-rata dua berpasangan (paired-samples t-test). Perhitungan dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.00 for windows. Pengambilan keputusan dapat dilakukan menggunakan dua cara, yaitu: (1) membandingkan nilai sig. (2-tailed) dengan α = 0,05 dengan dasar pengambilan keputusannya adalah: jika sig. (2- tailed) < α (0,05), maka pemberian intervensi efektif dilakukan; (2) membandingkan nilai t hitung dengan t tabel dengan dasar pengambilan keputusannya adalah : jika t hitung > t tabel, maka pemberian intervensi efektif dilakukan.

Figur

Tabel 3.1  Rancangan Penelitian

Tabel 3.1

Rancangan Penelitian p.1
Tabel 3.2  Populasi Penelitian

Tabel 3.2

Populasi Penelitian p.2
Tabel 3.4  Hasil Uji Validitas

Tabel 3.4

Hasil Uji Validitas p.7
Tabel 3.7  Alur Penelitian

Tabel 3.7

Alur Penelitian p.9

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :