LAPORAN KEMAJUAN PENELITIAN DOSEN PEMBINA
Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga
Tahun ke 1 dari rencana 1 tahun
Ketua : Dr. Dodih Heryadi, Drs., M.Pd. NIDN 0426065801 Anggota : Zulpi Miftahudin, M.Pd. NIDN 0429128101
UNIVERSITAS SILIWANGI JULI 2017
2
HALAMAN PENGESAHAN
Judul : Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga Peneliti / Pelaksana
Nama Lengkap : Dr. Dodih Heryadi, Drs., M.Pd.
NIDN : 0426065801
Jabatan Fungsional : Lektor
Program Studi : Pendidikan Sejarah Nomor HP : 081323129900
Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota (1)
Nama Lengkap : Zulpi Miftahudin, M.Pd.
NIDN : 0429128101
Perguruan Tinggi : Universitas Siliwangi Institusi Mitra (jika ada)
Nama Institusi Mitra : -
Alamat : -
Penanggung Jawab : -
Tahun Pelaksanaan : Tahun ke 1 (satu) dari rencana1 (satu) tahun Biaya Tahun Berjalan : Rp. 9.800.000
Biaya Keseluruhan : Rp. 14.000.000
3
RINGKASAN
Tujuan Jangka Panjang
Untuk jangka panjang yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Meningkatnya pemahaman Masyarakat Kampung Naga terhadap makna kujang sebagai symbol Jawa Barat
2. Meningkatnya pemahaman Masyarakat Kampung Naga terhadap nilai-nilai filosofis kujang
3. Meningkatnya aplikasi tentang makna yang terkandung dalam kujang pada Masyarakat Kampung Naga dalam kehidupan sehari-hari
Target Khusus
Target khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Perlu didorong kesadaran masyarakat dalam pemahaman makna kujang 4. Mendorong pemahaman masyarakat Kampung Naga terhadap nilai-nilai
filosofis kujang pada Masyarakat Kampung Naga
Metode Yang Akan di Pakai Untuk Mencapai Tujuan Jangka Panjang
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang mendeskripsikan suatu peristiwa, perilaku orang atau suatu keadaan pada tempat tertentu secara rinci dan mendalam dalam bentuk narasi. Karakteristik metode penelitian kualitatif adalah dilakukan dalam kondisi ilmiah, langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci, penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada produk
Rencana Kegiatan yang Diusulkan
Adapun rencana kerja yang diusulkan dalam penelitian ini adalah: 1. Mengetahui apa makna kujang pada Masyarakat Kampung Naga
2. Mengetahui apa nilai-nilai filosofis yang terdapat pada kujang bagi Masyarakat Kampung Naga
3. Mengetahui bagaimana aplikasi nilai-nilai filosofis kujang pada masyarakat Kampung Naga dalam kehidupan sehari-hari
4
PRAKATA
Alhamdulillah, puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kemajuan penelitian ini yang berjudul “Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga”.
Penelitian ini perlu untuk digali dikarenakan dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi dalam pemahaman tentang makna dan persepsi kujang yang dimiliki masyarakat Jawa Barat khususnya Masyarakat Kampung Naga, untuk pengetahuan dan pemahaman generasi berikutnya.
Penulis mengakui penelitian ini jauh dari sempurna. Penulis membuka kritik dan saran dari semua pihak untuk melengkapi laporan kemajuan penelitian ini.
Tasikmalaya, Juli 2017
5 DAFTAR ISI RINGKASAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... v BAB I PENDAHULUAN... 6
1.1. Latar Belakang Masalah... 8
1.2. Identifikasi Masalah... 8 1.3. Batasan Masalah... 8 1.4. Rumusan Masalah... 8 1.5. Tujuan Penulisan... 8 1.6. Hipotesis Penelitian... 8 1.7. Luaran Penelitian... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 10
2.1. Kajian Pustaka... 10
2.2. Bagian-bagian Kujang... 12
2.3. Jenis-jenis Kujang………... 13
2.4. Proses Pembuatan Kujang... 13
2.5. Penelitian yang Relevan………... 14
BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN... 18
3.1. Tujuan Penelitian... 18
3.2. Manfaat Penelitian... 18
BAB IV METODE PENELITIAN... 19
4.1. Metode Penelitian... 20
4.2. Lokasi Penelitian... 20
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian... 20
4.4. Tahapan Penelitian... 20
4.5. Strategi Penelitian... 20
4.6. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data... 21
BAB V HASIL YANG DICAPAI... 23
6 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam khasanah kebudayaan masyarakat Jawa Barat secara umum, senjata Kujang merupakan senjata yang memiliki keterkaitan erat dengan identitas jati diri masyarakat Sunda, serta kujang diakui sebagai senjata dalam kategori senjata tradisional yang keberadaannya sudah demikian lama, yang dalam pandangan sebagian masyarakat Jawa Barat senjata Kujang memiliki nilai sakral. Secara historis awal keberadaannya masih belum banyak terungkap, namun ada beberapa pendapat yang menjelaskan bahwa Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan tertua di Jawa sebagai cikal bakal lahirnya kujang. Dari beberapa pendapat kehadiran senjata Kujang pada awalnya merupakan senjata yang digunakan sebagai alat perladangan atau pertanian pada masa kerajaan Salakanagara dan terus berkembang pada masa Kerajaan Tarumanegara pada abad IV ketika sudah mampu menata sistem pertanian secara baik dengan dibangunnya sistem irigasi untuk perladangan dan pertanian, mungkin kujang sudah hadir dalam konteks perkakas perladangan atau perkakas pertanian dalam pranata sosial budaya masyarakat pada saat itu. Jika demikian maka usia senjata Kujang lebih tua dari hadirnya Jawa Barat sebagai ibu kota Provinsi.
Kujang dalam pandangan sebagian masyarakat secara umum dianggap sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata sejak dahulu hingga saat ini. Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Kujang sebagai lambang atau simbol sarat dengan niali-nilai filosofis yang tinggi terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang dipakai sebagai nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Provinsi Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat memiliki lambang daerah berupa gambar yang di tengahnya menampilkan senjata tradisional yang disebut kujang. Kujang adalah senjata tradisional berupa senjata tajam yang bentuknya menyerupai keris, parang, dengan bentuk unik berupa tonjolan pada bagian pangkalnya, bergerigi pada salah satu sisi di bagian tengahnya dan bentuk lengkungan pada bagian ujungnya. Bagi masyarakat Sunda, kujang lebih universal dibandingkan dengan keris, kujang merupakan senjata khas dari Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram. Kujang merupakan alat yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan serta melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran, dan menjadi ciri khas baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata. Kujang dikenal sebagai benda tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai
7
kekuatan magis. Beberapa ahlimenyatakan bahwa istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti seperti tergambar dalam sosok Prabu Siliwangi dalam cerita dan sejarah Masyarakat Jawa Barat.
Pada masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah di antaranya di daerah Rancah, Ciamis, dan masyarakat Kampung Naga Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.
Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12. Dengan berbagai nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam kujang, maka masyarakat Jawa Barat sangat menghargai nilai-nilai tersebut.
Masyarakat adat Kampung Naga sebagai masyarakat yang terkategorikan sebagai masyarakat tradisional dijadikan sebagai objek penelitian dengan pertimbangan bahwa masyarakat adat Kampung Naga memiliki komitmen dalam upaya memposisikan senjata Kujang sebagai senjata yang perlu dilestarikan. Pelestarian senjata Kujang tidak sekedar wujud bendanya tetapi nilai-nilai yang terkandung dalam senjata Kujang yang sarat dengan nilai-nilai filosofis dan menjadi pedoman dalam kehidupan dan penghidupan masyarakat adat Kampung Naga. Sebagai wujud komitmen mereka, masyarakat adat Kampung Naga membangun tugu kujang sebagai simbol masyarakat sunda yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan oleh para leluhurnya. Nilai-nilai dan konsep-konsep budaya masyarakat adat dibentuk melalui pewarisan secara lisan dan menjadi milik individu atas tumbuhnya kesadaran diri. Nilai emosional individu membimbing munculnya bentuk perilaku yang berorientasi pada dua pilihan yaitu menjungjung tinggi nilai adat karuhun atau membentuk pola perilaku berbasis nilai modernitas. Kedua hal tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat adat dalam keberlangsungan kehidupannya. Konsekuensi dari dua hal di atas, memunculkan bentuk perilaku yang berbeda, sebab manusia di dalam hidup tidak sekedar dipengaruhi oleh dunia rasional tetapi dipengaruhi oleh dunia imajinasi, artistik, mitologi dan berbagai bentuk ritual. Kenyataan ini memungkinkan lahirnya aspek keragaman sikap perilaku manusia serta dimensi-dimensi lain terutama nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam senjata kujang.
Berdasarkan gambaran diatas, Masyarakat adat kampung Naga menjadi menarik untuk diteliti dengan fokus penelitian “Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga”
8
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, masalah dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Pemahaman makna kujang pada Masyarakat Kampung Naga yang masih kurang
2. Pemahaman terhadap nilai-nilai filosofis yang terdapat pada Kujang di masyarakat Kampung Naga masih kurang
3. Masyarakat sulit mengaplikasikan nilai-nilai nilai-nilai filosofis yang terdapat pada senjata Kujang dalam kehidupan sehari-hari
4. Persepsi Masyarakat Kampung Naga pada kujang sebagai media penerapan nilai-nilai kearifan lokal
1.3. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, permasalahan yang ada cukup luas, sehingga perlu adanya pembatasan masalah yang akan diteliti. Maka penelitian ini akan dibatasi pada makna Kujang pada Masyarakat Kampung Naga.
1.4. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, penelitian ini terfokus pada beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan topik masalah yang akan diteliti;
1. Apa makna kujang pada Masyarakat Kampung Naga?
2. Apa nilai-nilai filosofis yang terdapat pada kujang bagi Masyarakat Kampung Naga?
3. Bagaimana aplikasi nilai-nilai filosofis kujang pada masyarakat Kampung Naga dalam kehidupan sehari-hari?
1.5. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penelitian ini, untuk mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal dalam mendukung pelestarian lingkungan. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sebagai berikut :
1. Mengetahui apa makna kujang pada Masyarakat Kampung Naga
2. Mengetahui apa nilai-nilai filosofis yang terdapat pada kujang bagi Masyarakat Kampung Naga
3. Mengetahui bagaimana aplikasi nilai-nilai filosofis kujang pada masyarakat Kampung Naga dalam kehidupan sehari-hari
1.6. Hipotesis
Berdasarkan asumsi di atas, maka hipotesis dari penelitian ini adalah “makna simbol kujang pada masyarakat Kampung Naga berpengaruh terhadap keidupan sehari-hari”.
1.7. Luaran Penelitian
Adapun target luaran wajib yang dicapai pada penelitian ini adalah: 1. Buku atau profil kujang
9
2. Bahan ajar pada Mata Kuliah Studi Masyarakat Indonesia dan Sejarah Kebudayaan
3. Publikasi ilmiah dalam jurnal lokal yang mempunyai ISSN atau jurnal nasional terakreditasi
BAB II
10 2.1 Kajian Pustaka
Kujang sebagai simbol sakral sebagian masyarakat Jawa Barat, memiliki fungsi dan makna yang berdiferensiasi dalam pandangan masyarakat Sunda. Kujang sebagai senjata khas Jawa Barat dipahami dari dua sisi yang berbeda, yaitu sebagai benda atau cidra mata dalam rangka penguatan identitas Jawa Barat. Kujang merupakan senjata sakral yang sarat dengan unsur mitos dikalangan pengguna yang dalam pemeliharaannya dilindungi dan dihormati sebagai benda warisan karuhun yang harus dijaga melalui aktivitas ritual tertentu dalam suatu waktu tertentu dan bersifat normatif.
Dalam kerangka budaya, senjata Kujang termasuk dalam tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal, yaitu termasuk ke dalam unsur perlengkapan hidup dalam sistem mata pencaharian hidup. Selain sebagai alat perlengkapan hidup, Kujang memiliki keunggulan bagi mereka yang mempercayainya, Kujang dianggap sebagai benda sakral dan ditampilkan dalam uapacara-upacara keagamaan berbasis kepercayaan. Kujang merupakan simbol keperkasaan dari orang-orang tertentu dalam suatu masyarakat, Kujang memiliki kekuatan magis, Kujang seringkali dimitoskan, dan Kujang simbol keteguhan.
Masyarakat Jawa Barat yang mayoritas beretnis Sunda memiliki lambang daerah berupa gambar yang di tengahnya menampilkan senjata tradisional yang disebut kujang. Kujang adalah senjata tradisional berupa senjata tajam yang bentuknya menyerupai keris, parang, dengan bentuk unik berupa tonjolan pada bagian pangkalnya, bergerigi pada salah satu sisi di bagian tengahnya dan bentuk lengkungan pada bagian ujungnya. Bagi masyarakat Sunda, kujang lebih umum dibandingkan dengan keris.
Kujang tidak hanya dipakai untuk lambang daerah tapi juga dipakai untuk nama perusahaan (Pupuk Kujang, Semen Kujang), nama kampung (Parungkujang, Cikujang, Kujangsari, Parakankujang), nama batalion (Batalyon Kujang pada Kodam III/Siliwangi), nama tugu peringatan (Tugu Kujang di Bogor, Tugu Kujang Bale Endah), dan lain-lain. Popularitas kujang bagi masyarakat etnis Sunda sudah tidak disangsikan lagi. Akan tetapi, ironisnya, eksistensi kujang baik sebagai perkakas maupun sebagai pusaka mulai sirna. Kujang kini hanya berada di museum-museum dengan jumlah yang relatif sedikit dan dimiliki oleh para sesepuh atau budayawan yang masih mencintai kujang sebagai pusaka leluhurnya.
Pada masyarakat etnis Sunda ada kelompok yang masih akrab dengan kujang dalam pranata kehidupan sehari-hari, yaitu masyarakat Sunda “Pancer Pangawinan” yang tersebar di Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak, Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor, di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi, dan masyarakat Sunda Wiwitan Urang Kanekes (Baduy) di
Kabupaten Lebak.
Kujang (Kujang Pamangkas) dalam lingkungan budaya mereka masih digunakan untuk upacara nyacar (menebang pohon untuk lahan huma) setahun sekali. Sebagai patokan pelaksanaan nyacar tersirat dalam ungkapan unggah kidang turun kujang yang artinya jika bintang kidang (orion) muncul
11
di ufuk timur waktu subuh, pertanda waktu nyacar telah tiba dan kujang digunakan sebagai pembuka kegiatan perladangan.
Bukti keberadaan kujang diperoleh dari naskah kuno di antaranya Serat Manik Maya dengan istilah kudi, Sanghyang Siksakandang Karesian dengan istilah kujang, dan dari berita pantun Pajajaran Tengah (Pantun Bogor). Kujang adalah pusaka tradisi Sunda, sejarah yang menceritakan awal keberadaannya masih belum terungkap. Kalau saja Kerajaan Salakanagara yang merupakan kerajaan tertua di Jawa sebagai cikal bakal lahirnya kujang, diyakini keberadaan kujang sudah sangat tua. Alasan tersebut diperkuat bahwa apabila kujang yang diperkirakan sebagai alat perladangan atau pertanian maka Kerajaan Tarumanegara pada abad IV sudah mampu menata sistem pertanian secara baik dengan dibangunnya sistem irigasi untuk perladangan dan pertanian, mungkin kujang sudah hadir dalam konteks perkakas perladangan atau perkakas pertanian dalam pranata sosial budaya masyarakat pada saat itu. Kujang diakui keberadaannya sebagai senjata khas masyarakat etnis Sunda. Kujang merupakan warisan budaya Sunda pramodern.
Kujang merupakan senjata, ajimat, perkakas, atau benda multifungsi lainnya yang memiliki berbagai ragam bentuk yang menarik secara visual. Kujang dengan keragaman bentuk gaya dengan variasi-variasi struktur papatuk, waruga, mata, siih, pamor, dan sebagainya sangat artistik dan menarik untuk dicermati karena struktur bentuk tersebut belum tentu ada dalam senjata lainnya di nusantara. Kujang sebagai senjata yang memiliki keunggulan.
Berbagai pendapat dari berbagai tokoh masyarakat mengarah ke sana.Kujang koleksi Sumedang Sejarah kerajaan yang tumbuh di Sumedang pada masa lalu erat kaitannya dengan Kerajaan Pajajaran. Koleksi kujang Pajajaran yang dimiliki Museum Prabu Geusan Ulun relatif banyak bahkan mungkin paling banyak jika dibandingkan dengan museum-museum yang ada di Jawa Barat atau Indonesia sekalipun. Kujang-kujang tersebut beragam varian Kujang Ciung, beragam varian Kujang Naga, Kujang Kuntul, Kujang Pamangkas, Kujang Wayang, dan sebagainya. Kujang-kujang yang tersimpan cukup terpelihara dengan baik di mana fisik waruga, pamor, siih, dan mata kujang masih banyak yang utuh. Bahkan, persepsi dari kebanyakan masyarakat bahwa semua kujang berlubang terbantahkan dengan masih adanya beberapa koleksi kujang di museum ini yang masih memiliki penutup lobang atau penutup mata. Mungkin hilangnya penutup lobang karena penutup lobang terbuat dari bahan-bahan yang bernilai seperti logam-logam mulia, permata, dan sejenisnya. Hilangnya pun mungkin diambil atau jatuh akibat dari ceruk lubangnya yang korosif. Kujang merupakan produk budaya masyarakat peladang. Penamaannya cenderung pada makhluk-makhluk yang banyak hidup di daerah ladang seperti Kujang Ciung dari burung Ciung, Kujang Naga dari ular, Kujang Bangkong dari kodok, Kujang Kuntul dari burung kuntul. Bahkan, Kujang Wayang diperkirakan sebagai simbol untuk kesuburan. Tokoh wanita pada kujang wayang mengingatkan pada simbol-simbol kesuburan, misalnya patung purba Venus Willendorf di Eropa yang
12
berbentuk manusia berperawakan subur sebagai simbolisasi kesuburan. Tokoh Dewi Sri dikenal sebagai dewi kesuburan. Mencermati secara fisik Kujang Wayang ini pun yang tidak memiliki sisi tajam di bagian tonggong dan beuteung yang mungkin sangat berbeda dengan kujang lainnya (kujang dua pangadekna/kujang memiliki dua sisi yang tajam) diperkirakan untuk kepentingan upacara yang erat kaitannya dengan kepentingan kesuburan. 2.2 Bagian-bagian Kujang
Secara umum, berikut bagian-bagian yang terdapat pada kujang
1. Papatuk (Congo); bagian ujung kujang yang runcing, gunanya untuk menoreh atau mencungkil.
2. Eluk (Siih); lekukan-lekukan atau gerigi pada bagian punggung kujang sebelah atas, gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh.
3. Waruga; nama bilahan (badan) kujang.
4. Mata; lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan kujang yang pada awalnya lubang- lubang itu tertutupi logam (biasanya emas atau perak) atau juga batu permata. Tetapi kebanyakan yang ditemukan hanya sisasnya berupa lubang lubang kecil. Gunanya sebagai lambang tahap status si pemakainya, paling banyak 9 mata dan paling sedikit 1 mata, malah ada pula kujang tak bermata, disebut “Kujang Buta”.
5. Pamor; garis-garis atau bintik-bintik pada badan kujang disebut Sulangkar atau Tutul, biasanya mengandung racun, gunanya selain untuk memperindah bilah kujangnya juga untukmematikan musuh secara cepat. 6. Tonggong; sisi yg tajam di bagian punggung kujang, bisa untuk mengerat
juga mengiris.
7. Beuteung; sisi yang tajam di bagian perut kujang, gunanya sama dengan bagian punggungnya.
8. Tadah; lengkung kecil pada bagian bawah perut kujang, gunanya untuk menangkis dan melintir senjata musuh agar terpental dari genggaman. 9. Paksi; bagian ekor kujang yang lancip untuk dimasukkan ke dalam gagang
kujang.
10. Combong; lubang pada gagang kujang, untuk mewadahi paksi (ekor kujang).
11. Selut; ring pada ujung atas gagang kujang, gunanya untuk memperkokoh cengkeraman gagang kujang pada ekor (paksi).
12. Ganja (landéan); nama khas gagang (tangkai) kujang. 13. Kowak (Kopak); nama khas sarung kujang.
Di antara bagian-bagian kujang tadi, ada satu bagian yang memiliki lambang “ke-Mandalaan”, yakni mata yang berjumlah 9 buah. Jumlah ini disesuaikan dengan banyaknya tahap Mandala Agama Sunda Pajajaran yang juga berjumlah 9 tahap, di antaranya (urutan dari bawah): Mandala Kasungka, mandala Parmana, Mandala Karna, Mandala Rasa, Mandala Séba, Mandala Suda, Jati Mandala, Mandala Samar, Mandala Agung.
13
Mandala tempat siksaan bagi arwah manusia yang ketika hidupnya bersimbah noda dan dosa, disebutnya Buana Karma atau Jagat Pancaka, yaitu Neraka.
2.3 Jenis-jenis Kujang
Karaktaristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.
Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain : Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan. 2.4 Proses Pembuatan Kujang
Pada zamannya Kerajaan Pajajaran Sunda masih jaya, setiap proses pembuatan benda-benda tajam dari logam termasuk pembuatan senjata kujang, ada patokan-patokan tertentu yang harus dipatuhi, di antaranya :
1. Patokan Waktu
Mulainya mengerjakan penempaan kujang dan benda-benda tajam lainnya, ditandai oleh munculnya Bintang Kerti, hal ini terpatri dalam ungkapan “Unggah kidang turun kujang, nyuhun kerti turun beusi”, artinya ‘Bintang Kidang mulai naik di ufuk Timur waktu subuh, pertanda masanya kujang digunakan untuk “nyacar” (mulai berladang). Demikian pula jika Bintang Kerti ada pada posisi sejajar di atas kepala menyamping agak ke Utara waktu subuh, pertanda mulainya mengerjakan penempaan benda-benda tajam dari logam (besi-baja)’. Patokan waktu seperti ini, kini masih berlaku di lingkungan masyarakat “Urang Kanékés” (Baduy).
2. Kesucian Guru Teupa (pembuat Kujang)
Seorang Guru Teupa (Penempa Kujang), waktu mengerjakan pembuatan kujang mesti dalam keadaan suci, melalui yang disebut “olah tapa” (berpuasa). Tanpa syarat demikian, tak mungkin bisa menghasilkan kujang yang bermutu. Terutama sekali dalam pembuatan Kujang Pusaka atau kujang bertuah. Di samping Guru Teupa mesti memiliki daya estetika dan artistika tinggi, ia mesti pula memiliki ilmu kesaktian sebagai wahana keterampilan dalam membentuk bilah kujang yang sempurna seraya mampu menentukan “Gaib Sakti” sebagai tuahnya.
14
Untuk membuat perkakas kujang dibutuhkan bahan terdiri dari logam dan bahan lain sebagai pelengkapnya, seperti:
a. Besi, besi kuning, baja, perak, atau emas sebagai bahan membuat waruga (badan kujang) dan untuk selut (ring tangkai kujang).
b. Akar kayu, biasanya akar kayu Garu-Tanduk, untuk membuat ganja atau landean (tangkai kujang). Akar kayu ini memiliki aroma tertentu.
c. Papan, biasanya papan kayu Samida untuk pembuatan kowak atau kopak (sarung kujang). Kayu ini pun memiliki aroma khusus.
d. Emas, perak untuk pembuatan “mata” atau “pamor” kujang pusaka
ataukujang para menak Pakuan dan para Pangagung tertentu. Selain itu, khusus untuk “mata” banyak pula yang dibuat dari batu permata yang indah-indah.
e. Peurah” (bisa binatang) biasanya “bisa Ular Tiru”, “bisa Ular Tanah”, “Bisa
Ular Gibug”, ”bisa Kelabang” atau “bisa Kalajengking”. Selain itu digunakan pula racun tumbuh-tumbuhan seperti ”getah akar Leteng” “getah Caruluk” (buah Enau) atau “serbuk daun Rarawea”, dsb. Gunanya untuk ramuan pelengkap pembuatan “Pamor”. Kujang yang berpamor dari ramuan racun-racun tadi, bisa mematikan musuh meski hanya tergores.
f. Tuah “Gaib Sakti” sebagai isi, sehingga kujang memiliki tuah tertentu. Gaib
ini terdiri dari yang bersifat baik dan yang bersifat jahat, bisa terdiri dari gaib Harimau, gaib Ulat, gaib Ular, gaib Siluman, dsb. Biasanya gaib seperti ini diperuntukan bagi isi kujang yang pamornya memakai ramuan racun sebagai penghancur lawan. Sedangkan untuk Kujang Pusaka, gaib sakti yang dijadikan isi biasanya para arwah leluhur atau para “Guriyang” yang memiliki sifat baik, bijak, dan bajik.
4. Tempat (khusus) Pembuatan Kujang
Tempat untuk membuat benda-benda tajam dari bahan logam besi-baja, baik kudi, golok, sunduk, pisau, dsb. Dikenal dengan sebutan Gosali, Kawesen, atau Panday. Tempat khusus untuk membuat (menempa) perkakas kujang disebut Paneupaan. Dalam khazanah kebudayaan masyarakat tatar Sunda, maung atau harimau merupakan simbol yang tidak asing lagi. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan eksistensi masyarakat Sunda dikorelasikan dengan simbol maung, baik simbol verbal maupun non-verbal seperti nama daerah (Cimacan), simbol Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi
2.5 Penelitian yang Relevan
Manusia sebagai mahluk sosial dalam kehidupannya memiliki kepentingan terhadap lingkungan. Lingkungan social, budaya, alam dalam kehidupan manusia memiliki saling keterkaitan satu sama lain, dan akan saling mengisi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Lingkungan melalui sentuhan manusia dapat dipelihara dengan baik apabila manusia memperlakukan alam dengan baik pula. Jika manusia mengekplorasi alam secara berlebihan, akibatnya bencana menimpa dalam kehidupan manusia.
15
Suryadi melakukan penelitian dengan judul “Kujang Sebagai Pusaka Sunda: Tinjauan Estetik dan Simbolik (2006) diterbitkan oleh STKIP Setiabudhi Rangkas Bitung. Dalam penelitian itu, Suryadi, mengungkapkan Penelitian ini berangkat dari fenomena kujang sebagai senjata khas masyarakat etnis Sunda. Kujang adalah warisan budaya Sunda pra-modern dan merupakan senjata, ajimat, perkakas atau multifungsi lainnya. Kujang dengan keragaman bentuk dengan variasi- variasi struktur papatuk, waruga, mata, siih, tadah, pamor dan sebagainya tidak dimiliki pada senjata lainnya di Nusantara. Kujang sebagai senjata yang memiliki keunggulan visual juga memiliki struktur estetik dan makna simbolik. Penelitian meliputi kujang yang dikoleksi Musium Sri Baduga Bandung, Musium Geusan Ulun Sumedang, Museum Keraton Kasepuhan Cirebon. Museum tersebut berada di wilayah yang memiliki hubungan sangat erat dengan sejarah peradaban masyarakat Sunda pada zaman dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur estetik pada kujang dan mengetahui makna simbolik pada kujang. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan penjelasan tentang kujang secara visual maupun simbolik khususnya pada masyarakat etnis Sunda, dapat menumbuhkan kesadaran untuk melestarikan artefak peninggalan para leluhur Sunda terutama pusaka kujang, dan dapat meningkatkan apresiasi terhadap pusaka kujang sebagai artefak peninggalan para leluhur Sunda. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitik kualitatif, menggunakan pendekatan multidisiplin dengan penekanan pada pendekatan kebudayaan melalui kajian eksoteri (bentuk) kujang dengan penekanan pada estetika (tampilan) dan isoteri (makna simbolik). Disiplin lain dianggap dibutuhkan untuk membedah kajian analisis penelitian seperti antropologi, sejarah, estetika, dan hermeneutika. Visualisasi estetis kujang ditinjau dari bentuk sangat beragam terdiri dari kujang ciung, jago, kuntul, bangkong, naga, wayang, kudi dan masih ada bentuk yang lainnya. Jenis kujang terdiri dari kujang pusaka, pakarang, pangarak, pamangkas. Kujang memiliki fungsi untuk simbolisasi keagungan, untuk alat berperang, untuk alat upacara, untuk alat pertanian. Secara historis, kujang dibuat sebagai alat pertanian, namun seiring dengan perkembangan jaman kujang menjadi simbolisasi dalam pranata sosial masyarakat etnis Sunda lama. Kujang memiliki struktur sistem sebagai simbol dan kerangka berfikir masyarakat Sunda. Kujang sebagai simbol “tritangtu” masyarakat Sunda, sebagai filosofi dasar cara berfikir masyarakat Sunda lama “kesatuan dualistik”, sebagai simbol kultur masyarakat huma / “pola tiga” dalam sistem budaya primordial Indonesia.
Penelitian kedua oleh Basuki Teguh Yuwono (2013) yang berjudul “Kujang Jejak Budaya Pesona Sunda”. Penelitian ini membahas Jejak historis, proses pembuatan sampai dengan tata cara pembawaan Kujang sehari-hari memperlihatkan Kujang sebagai "tradisi asli" masyarakat Desa, khususnya bagi petani atau peladang/mahuma. Berbeda dengan keris yang berasal dari lingkungan keraton, sehingga fungsi Keris lebih pada senjata dan pusaka, ketimbang perkakas sehari-hari. Kujang mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam kehidupan perkakas sehari-hari, souvenir yang multi-guna, sampai dengan bentuk Kujang sebagai pusaka yang mencegah "tragedi impor beras" di negeri ini.
16
Makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). (Djajasudarma, 2009:7). Makna merupakan istilah yang paling ambigu dan kontroversial dalam teori kebahasaan (Ullmann, 2011:65). Makna sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan para pemakainya sehingga dapat saling mengerti. Makna mempunyai tiga tingkatan, yakni: 1) pada tingkat pertama, makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan, 2) pada tingkat kedua, makna menjadi isi dari suatu kebahasaan, 3) pada tingkat ketiga, makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi sesuatu. (Djajasudarma 2009:8). Pada tingkat pertama dan kedua makna dilihat dari segi hubungan dengan penutur, sedangkan pada tingkat ketiga makna lebih ditekankan pada makna dalam komunikasi.
Memahami pandangan diatas, kecenderungan adanya perbedaan dalam suatu penafsiran terhadap suatu objek sangat mungkin terjadi, hal ini lebih disebabkan oleh perbedaan perkembangan yang terjadi di masyarakat, seperti dalam memberikan makna terhadap mitos Maung Panjalu yang selama ini dijadikan sebagai kerangka dalam beraktivitas khususnya berkenaan dengan keberadaan hutan lindung dan hutan keramat di Panjalu yang dalam pandangan masyarakat dimaknai sebagai kawasan peninggalam karuhun Panjalu yang harus dijaga karena dianggap sebagai kawasan religius. Namun demikian kecenderungan terjadi adanya pemaknaan yang berbeda terhadap mitos Maung Panjalu sangat mungkin terjadi.
Djajasudarma (2009:7) mengemukakan terdapat adanya 12 jenis makna, yakni: 1) makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran, 2) makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan, 3) makna kognitif adalah makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan, 4) makna konotatif dan emotif, makna yang dibedakan dari makna emitif karena yang disebut pertama bersifat negatif dan yang disebut kemudian bersifat positif, 5) makna referensial, adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), 6) makna kontruksi (contruction meaning), adalah makna yang terdapat dalam kontruksi, 7) makna leksikal dan gramatikal (lexical meaning, semantic meaning, external meaning) adalah makna-makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain. Makna leksikal ini dimiliki unsur-unsur bahasa secara tersendiri lepas dari konteks, makna gramatikal, adalah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat, 8) makna idesional (ideational meaning) adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan kata yang
17
berkonsep, 9) makna proposisi (propositional meaning) adalah makna yang muncul bila kita membatasi pengertian tentang sesuatu, 10) makna pusat (contral meaning) adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran, 11) makna Piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca, 12) makna idiomatic adalah makna leksikal terbentuk dari beberapa kata yang menghasilkan makna berlainan.
2.7 Kerangka Pemikiran
Gambar 3. Bagan Kerangka Pemikiran
BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.1. Tujuan Penelitian
Makna Kujang Simbol Kujang LINGKUNGAN
18
Tujuan dari penelitian ini, untuk mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal dalam mendukung pelestarian lingkungan. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sebagai berikut :
1. Mengetahui apa makna kujang pada Masyarakat Kampung Naga
2. Mengetahui apa nilai-nilai filosofis yang terdapat pada kujang bagi Masyarakat Kampung Naga
3. Mengetahui bagaimana aplikasi nilai-nilai filosofis kujang pada masyarakat Kampung Naga dalam kehidupan sehari-hari
3.2. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis
Dapat dijadikan bahan pembelajaran khususnya dalam pemahaman tentang makan simbol kujang
2. Manfaat Praktis a. Bagi masyarakat
Memberikan informasi tentang makna simbol kujang pada masyarakat Kampung Naga dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya.
b. Bagi pemeritah
Memberikan gambaran umum tentang makna simbol kujang. Memberikan gambaran tentang makan yang terkandung pada
kujang untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
BAB IV
19 4.1. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Cara ilmiah berarti dalam mendapatkan data dilandasi oleh metode keilmuan. Menurut Sugiyono (1997:1) menyatakan bahwa “Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu”.
Moleong (2011:4) menyatakan bahwa “Metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang mengungkap situasi sosial tertentu dengan mendeskripsikan kenyataan secara benar, dibentuk oleh kata-kata berdasarkan teknik pegumpulan data dan analisis yang relevan yang diperoleh dari situasi alamiah”.
Pemilihan metode penelitian berdasarkan pada suatu permasalahan yang akan diteliti, karena penggunaan metode penelitian yang tepat menunjukkan tingkat relevansi dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai. Menurut pendapat Winarno Surakhmad (1994:13) mengemukakah bahwa metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan teknik dan alat-alat tertentu. Cara utama ini dipergunakan setelah peneliti memperhitungkan kewajaran ditinjau dari penelitian serta situasi dan kondisi peneliti.
Metode penelitian adalah sebuah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Data yang diperoleh adalah data empiris (teramati), mempunyai kriteria tertentu, valid antara data yang sesunggguhnya pada objek dan data yang dikumpulkan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, karena objek yang diamati adalah manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasa dan peristilahannya. (Moleong, 1994:3).
Berdasarkan pendapat di atas, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang mendeskripsikan suatu peristiwa, perilaku orang atau suatu keadaan pada tempat tertentu secara rinci dan mendalam dalam bentuk narasi. Karakteristik metode penelitian kualitatif adalah dilakukan dalam kondisi ilmiah, langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci, penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada produk, pendekata-katan etnografi digunakan dalam upaya melengkapi data baik secara lisan maupun secara tertulis. 4.2. Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah Masyarakat Kampung Naga Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya
4.3. Populasi dan Sampel
Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dalam lima cara, 1) seleksi sederhana yaitu menggunakan satu kriteria, 2) seleksi konprehnsif yaitu seleksi berdasarkan unsur relevan, 3) seleksi kuota, yaitu populasi dijadikan
20
beberapa kelompok, 4) seleksi menggunakan perbandingan, yaitu untuk memperoleh ciri tertentu.
Sampling adalah merupakan teknik pengumpulan sampel, untuk digunakan dalam suatu penelitian. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bertujuan (purposive sampling) berstrata yang disesuaikan dengan objek penelitian. Agar data yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian, maka dibutuhkan adanya sejumlah informan yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini.
4.4. Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan. Tahapan pertama dari kegiatan penelitian ini meliputi penyusunan instrumen yang dibutuhkan, baik itu instrumen yang dibutuhkan untuk memperoleh data kualitatif. Tahap selanjutnya yaitu pengujian instrumen yang akan digunakan. Adapun prosedur dari kegiatan penelitian ini digambarkan sebagai berikut:
(Gambar 3.1. Tahahapan-Tahapan Penelitian)
4.5. Strategi Penelitian
Pada kegiatan penelitian ini strategi/model yang digunakan adalah strategi triangulasi konkuren. Dalam menggunakan strategi ini peneliti mengumpulkan data kualitatif dalam satu waktu yang bersamaan.
Pada strategi ini pencampuran kedua data dilakukan pada saat interpretasi dan pembahasan. Pencampuran tersebut dilakukan dengan menggabungkan kedua data secara berdampingan dalam pembahasan agar dapat dilihat masing-masing data yang diperoleh saling mendukung. Alasan pemilihan strategi ini adalah karena strategi ini dapat dilakukan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Hal ini karena pengumpulan data kualitatif dilakukan dalam satu waktu yang sama.
4.6. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data.
Studi Pendahuluan
Analisis Lingkungan Penyusunan instrumen
Pengambilan Data Pengolahan Data Kesimpulan
21
Djam’an Satori dan Aan Komariah (2011:27) menyatakan bahwa “penelitian kualitatif pergi kelapangan dan mengamati serta terlibat secara intensif sampai ia menemukan secara utuh apa yang dimaksudnya”. Maleong (2011:11) menyatakan bahwa “ ciri penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka”. Dengan demikian data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini merupakan hasil pengamatan langsung berupa kata-kata, gambar, yang akan dianalisa serta diinterpretasikan untuk mencapai tujuan penelitian.
Untuk memudahkan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu :
1. Observasi yang bertujuan untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan focus penelitian, yaitu kearifan lokal yang memberikan sumbangan pada pelestarian lingkungan dan bentuk aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat yang berada disekitiantar objek penelitian. Teknik ini digunakan dengan mempertimbangkan pengamat dapat melihat secara langsung dilapangan, menghindarkan adanya data yang meragukan dan terbatasnya wilayah penelitian. Observasi lapangan sebagai teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan untuk mendapatkan gambaran yang aktual secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek.
2. Observasi partisipasi adalah mencari informasi dengan cara peneliti terlibat dalam kegiatan di masyarakat.
3. Teknik wawancara yaitu suatu bentuk komunikasi verbal yang bertujuan memperoleh informasi. Adapun jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terbuka, wawancara terstruktur, dan wawancara tidak terstruktur.
Triangulasi adalah mengecek kebenaran data atau informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara mengurangi sebanyak mungkin bias yang terjadi pada saat pengumpulan dan analisis data sebagai cara untuk meningkatkan pengukuran validitas. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi teori dengan cara mengecek kebenaran temuan atau data teori-teori yang ada, triangulasi sumber data dengan cara mencari data dari sumber yang beragam yang masih terkait satu sama lain, dan triangulasi pakar dengan cara mengecek kebenaran temuan atau data dengan konfirmasi kepada beberapa orang yang dinilai oleh kalangan sebagai ahli atau pakar dibidang yang bersangkutan.
Pengolahan dan analisis data secara kualitatif dilakukan dengan dua cara. Menurut pendapat Sumaatmaja (1998:14) analisis data merupakan pengolahan dan interpretasi data untuk menguji kebenaran hipotesis dan menarik kesimpulan hasil penelitian.
Secara sistematis langkah-langkah dalam penelitian adalah : a. Analisis data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung b. Analisis data dilakukan setelah data terkumpul
Cara pertama dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a. Penegasan pada tujuan penelitian yaitu kearifan lokal pada upacara hajat laut yang berpengaruh terhadap pelestarian lingkungan
22 b. Berpedoman pada pertanyaan wawancara
c. Memasukkan data pada bagan sesuai dengan fokus penelitian
d. Memberikan pemaknaan secara umum tterhadap data yang diperoleh e. Memberikan catatan-catatan khusus apabila diperlukan
f. Mendalami literatur yang ada hubungan dengan fokus penelitian
Cara kedua, data yang terkumpul sebagai hasil pengamatan, wawancara, direkonstruksi kedalam teks, kemudian dianalisis. Reduksi data dilakukan dengan cara merangkum memilih hal-hal pokok dan penting sehingga memberi gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti mengumpulkan data.
BAB V
HASIL YANG DICAPAI
5.1 Makna Simbol Kujang pada masyarakat adat Kampung Naga
Masyarakat dan Kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan, keduanya memiliki keterhubungan yang saling berkaitan, artinya disitu ada masyarakat, disitu ada kebudayaan, demikian pula ada kebudayaan disitu ada masyarakat sebagai pendukungnya. Kebudayaan dalam kehidupan masyarakat merupakan kerangka konsep, ide, gagasan, nilai-nilai, aturan-aturan,
23
yang memberi arah kepada manusia bagaimana sebaiknya bertindak, bersikap dan berperilaku dalam kehidupan. Kebudayaan sebagai pelengkap dalam kehidupan manusia memberikan fungsi yang sangat universal untuk keberlangsungan kehidupan manusia dimanapun. Kebudayaan pada dasarnya bersifat universal berkenaan dengan; 1) bahasa, 2) sistem pengetahuan dan teknologi, 3) mata pencaharian hidup dan peralatan hidup, 4) sistem kemasyarakatan, 5) sistem ekonomi, 6) kesenian, 7) religi. Ke tujuh unsur kebudayaan tersebut ada dalam masyarakat manapun.
Kebudayaan pada dasarnya merupakan seperangkat ide yang tertanam dalam pikiran manusia atau masyarakat dapat digunakan untuk menginterpretasi, memahami, mengembangkan, melakukan inovasi dan kreasi dalam rangka memenuhi kebutuhan baik materian maupun nonmaterial, melalui kemampuan kebudayaan yang dimiliki masyarakat berbagai kebutuhan dapat dipenuhi sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat merupakan suatu kesatuan sosial dalam suatu wilayah tertentu berinteraksi secara kontinyu dan terikat identias khas yang dimiliki masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat sebagai suatu kesatuan sosial memiliki beberapa komponen yang berfungsi mengatur dalam kehidupan, salah satunya berkenaan dengan tertib sosial dalam rangka membangun keutuhan sosial di masyarakat.
Perkembangan dan perubahan yang terjadi di masyarakat dalam rangka menyongsong perubahan zaman juga ditentukan oleh kondisi kebudayaan yang berkembang di masyarakat. Kebudayaan (culture) adalah keseluruhan gagasan, tindakan dan hasil manusia dalam rangka kehidupan masyarakat dan dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat 1985:180). Proses penyesuaian dalam kondisi perkembangan zaman yang demikian kompleks, peran kebudayaan demikian penting. Setiadi (2007:39) mengemukakan beberapa variabel yang berhubungan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan. Pertama, physical environment, menunjuk pada lingkungan natural seperti, temperatur, curah hujan, iklim, wilayah geograsfis, flora dan fauna. Kedua, cultural social environment, meliputi aspek-aspek kebudayaan beserta proses sosialisasi seperti, norma-norma, adat istiadat, dan nilai-nilai. Ketiga, environment orientation and representation, mengacu pada persepsi dan kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat mengenai lingkungannya. Ke empat, environment behavior and process, meliputi bagaimana masyarakat menggunakan lingkungan dalam kehidupan sosial. Ke lima, out carries product, meliputi hasil tindakan manusia seperti membangun rumah, komunitas, berserta usaha-usaha manusia dalam memodifikasi lingkungan fisik seperti budaya pertanian dan iklim.
Soekanto, (1982:177) sifat hakikat kebudayaan adalah, 1) kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perikelakuan manusia, 2) kebudayaan telah ada terlebih dahulu dari pada lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan, 3) kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya, 4) kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan. Atas dasar hal itu, kebudayaan demikian penting untuk
24
kehidupan masyarakat dan memiliki fungsi yang sangat besar dalam mengatur kehidupan.
Terdapat tiga unsur lingkungan yang akan berpengaruh dalam kehidupan manusia, yaitu lingkungan alam, sosial, dan budaya. Ketiga unsur lingkungan tersebut dalam masyarakat memiliki kontribusi yang cukup kuat kea rah perubahan di masyarakat. Perubahan lingkungan alam akan mengenai unsur biotic (manusia, tumbuhan, dan hewan) dan abiotik (udara, air, tanah, dan iklim). Lingkungan sosial akan berkenaan dengan pola interaksi individu sebagai anggota dalam kesatuan. Lingkungan budaya, berkenaan dengan nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan yang mengatur ke dalam kehidupan masyarakat. Ketiganya akan saling memiliki keterkaitan dengan keberlangsungan hidup manusia, baik secara perseorangan maupun secara berkelompok.
Koentjaraningrat (1993:25), nilai budaya terdiri dari konsep-konsep yang hidup dalam alam pikiran sebagian warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap amat mulia. Konsep nilai budaya pada dasarnya adalah seperangkat ide, pandangan hidup, dan gagasan. Konsep ini digunakan untuk mengungkapkan bahwa mitos merupakan produk budaya yang bersifat abstrak, artinya nilai-nilai dan makna mitos hanya ada dalam pikiran manusia. Nilai-nilai mitos dibentuk melalui kebudayaan yang ada di masyarakat. Mitos dalam kehidupan masyarakat yang mempercayainya memiliki kekuatan mengikat dan berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dalam bertindak. Melalui konsep nilai budaya diharapkan terungkap makna da fungsi kujang dalam kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan upaya tertib sosial untuk kelangsungan hidup masyarakat.
Pewarisan nilai budaya lewat generasi-generasi dalam masyarakat memungkinkan akan terjadinya pergeseran sebagian makna nilai budaya, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya sebagian nilai budaya yang tidak mengalami pergerseran meskipun seringkali dianggap bersifat kontroversial dalam arti tidak rasional dalam pandangan masyarakat sekarang. Konsepsi nilai budaya dalam pandangan C. Kluckhohn mengenai lima masalah dasar dalam kehidupan manusia menyangkut perihal berikut.
1. Masalah mengenai hakikat dan hidup manusia (selanjutnya disingkat MH). 2. Masalah mengenai hakikat dari karya manusia (selanjutnya disingkat MK). 3. Masalah mengenai hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu
(selanjutnya disingkat MW).
4. Masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya (selanjutnya disingkat MA).
5. Masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya (selanjutnya disingkat MM).
Keterbatasan pengetahuan manusia dalam menghadapi persoalan dihadapi dengan menumbuhkan nilai keyakinan atau kepercayaan dalam kehidupan masyarakat, keberadaannya hampir bersamaan dengan sejarah perjalanan umat manusia, hal ini dapat kita pahami melalui perkembangan religi suatu masyarakat dengan kebudayaan tertentu, dimana manusia seringkali kagum akan hal-hal serta peristiwa-peristiwa gaib yang tidak dapat diterangkan dengan akalnya yang masih sangat terbatas. Ghazali (2011:78), keterbatasan
25
akal manusia dalam hidup telah mentranspormasikan kesadaran tentang adanya jiwa yang menjadi kepercayaan terhadap mahkluk-mahkluk halus. Atas dasar keterbatasan akal yang dimiliki manusia inilah muncul adanya suatu kepercayaan dalam masyarakat bahwa kekuatan gaib itu ada dalam segala hal yang sifatnya luar biasa. Sesuatu yang bersifat luar biasa itu diwujudkan dalam bentuk wujud binatang yang luar biasa, tumbuhan yang luar biasa, gejala alam yang luar biasa, benda-benda yang luar biasa (kujang), dan lingkungan atau tempat-tempat tertentu yang dianggap luar biasa.
Pandangan teori animisme, “bahwa asal mula dan dasar dari pada religi manusia adalah kepercayaan akan adanya mahkluk-mahkluk halus atau roh yang menempati seluruh alam” (Koentjaraningrat, 1958:150). Keyakinan yang tumbuh dalam pikiran manusia secara tidak langsung telah menuntun manusia untuk mempercayai suatu peristiwa yang terjadi dalam hidup, yang mendorong manusia untuk mempercayai bahwa di alam ini ada mahkluk lain selain manusia yang memengaruhi ke dalam kehidupan dan pola pikir masyarakat, kondisi inilah yang memunculkan adanya keyakinan atau kepercayaan dalam kehidupan manusia. Keterkaitan antara unsur kepercayaan di masyarakat terhadap keberadaan hutan lindung atau hutan keramat pada dasarnya adalah sebagai penyeimbang antara manusia dengan alam.
Perwujudan nilai keyakinan dalam kehidupan masyarakat dilakukan melalui aktivitas tradisi turun temurun dari satu generasi ke generasi berikut sesuai dengan kebiasaan yang berlangsung di masyarakat. Kehadiran tradisi dalam kehidupan masyarakat sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Tradisi hadir dalam kehidupan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur yang diperoleh selama hidup. Tradisi adalah bentuk atau gambaran tingkah laku manusia yang hadir dalam kehidupan manusia sejak manusia memiliki keyakinan atas hal yang berkaitan dengan lingkaran hidup manusia yang ditampilkan dalam berbagai acara ritual sesuai dengan kebudayaan yang ada dalam kehidupan manusia. Ritual adalah sarana untuk menghubungkan manusia dengan yang keramat yang di dalamnya terdapat tindakan dan tingkah laku manusia serta cara untuk merayakan peristiwa sejarah yang mempunyai arti keagamaan yang waktunya sudah ditentukan dan dilakukan berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan bathin mereka.
Tradisi adalah produk budaya yang berkembang di masyarakat, dan memiliki peran penting. Tradisi pada zamannya memiliki peran penting dalam mengatur kehidupan baik dalam skala kecil maupun skala besar. Perkembangan tradisi di masyarakat dilandasi oleh unsur kepercayaan yang hidup di masyarakat, tradisi hadir di masyarakat sebagai pelengkap kebutuhan manusia berhubungan dengan berbagai peristiwa dalam kehidupan, berhubungan dengan keselamatan hidup, dan sebagai penyelaras hubungan manusia dengan alam semesta. Tradisi sebagai produk adat yang hidup di masyarakat pada dasarnya dapat dijadikan sebagai kontrol sosial, pengendali sosial di masyarakat berkaitan dengan tata tertib yang sudah tergariskan dalam suatu tatanan adat istiadat yang hidup di masyarakat, baik secara perseorangan maupun secara kolektif berkenaan dengan norma-norma, nilai-nilai, keyakinan, sikap, yang dapat mendorong tingkah laku masyarakat. Nilai-nilai, norma-norma yang
26
terdapat dalam suatu tradisi dapat dipahami melalui proses pewarisan di masyarakat, melalui proses belajar yang dimulai sejak lahir sampai memasuki masa tua. Proses sosialisasi tradisi melalui pemahaman konsep nilai budaya dalam kehidupan masyarakat pada dasarnya adalah untuk mengatur hubungan keselarasan antara manusia dengan yang kuasa, membangun nilai kesadaran dalam diri individu tentang hidup, dan bagaimana manusia bersikap dan berperilaku di masyarakat. Idi, (2010:99) mengatakan bahwa sosialisasi merupakan hubungan interaktif dimana seorang dapat mempelajari kebutuhan sosial dan cultural yang menjadikan sebagai anggota masyarakat.
Pelestarian nilai-nilai tradisi dalam kehidupan masyarakat secara kuantitatif telah mengalami penurunan bila dibandingkan ketika tradisi menjadi penuntun dalam kehidupan manusia dan dijadikan sebagai bentuk aktivitas di masyarakat yang selalu dilaksanakan untuk tujuan mencapai keselamatan hidup lahiriah maupun bathiniah. Tradisi yang berhubungan dengan pertanian, antara lain tradisi masa tanam padi dan masa panen sudah tidak ada lagi, termasuk tradisi-tradisi dalam lingkungan keluarga sudah mengalami pergeseran, antara lain tradisi tujuh bulanan, tradisi kelahiran, tradisi empat puluh harian, tradisi potong rambut, dan tradisi anak awal bisa berjalan, Aktivitas pelaksanaan tradisi pada masyarakat pada zamannya bukan hanya sekedar hiburan tetapi merupakan bagian dari upacara kepercayaan dalam rangka menuju ke dalam keselamatan hidup (ruatan), kepercayaan pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap segala aspek alam semesta yang dianggap sebagai suatu kebenaran, dan bersifat normatif, terdapat sanksi hukum apabila tradisi itu tidak dilaksanakan, dan sanksi hukumnya bersifat kolektif, artinya akibat dari kesalahan satu orang bisa berpengaruh kepada orang lain.
Penguatan nilai-nilai tradisi adalah sebagai bentuk perwujudan, penghormatan terhadap pesan karuhun yang ditampilkan dalam berbagai aktivitas ritual baik dalam lingkungan keluarga maupun di masyarakat secara umum. Penguatan nilai-nilai tradisi dalam lingkungan keluarga dilakukan pada fase-fase peralihan atau lingkaran hidup manusia, dimulai masa bayi dalam kandungan sampai menuju masa tua dan diakhiri dengan tradisi kematian (Stages along the life cycles). Pewarisan nilai-nilai tradisi dalam lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting, hal ini dapat kita pahami karena keluarga merupakan agent utama dalam mewariskan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam keluarga. Pewarisan nilai budaya dalam tradisi merupakan suatu proses peralihan norma-norma, aturan-aturan, yang dilakukan melalui proses pembelajaran baik secara, informal, dan nonformal oleh generasi terdahulu kepada generasi berikutnya, dalam rangka menumbuhkan nilai karakter individu sebagai anggota masyarakat. Pada dasarnya tujuan pewarisan nilai-nilai tradisi dalam kehidupan masyarakat adalah upaya mengenalkan nilai-nilai-nilai-nilai, norma-norma, serta adat istiadat yang berlaku di masyarakat untuk dipahami dan dijadikan sebagai pedoman dalam bersikap dan berperilaku dalam rangka menciptakan suasana tertib sosial di masyarakat serta menumbuhkan nilai kesadaran manfaat dari sebuah tradisi untuk kehidupan di masyarakat.
Proses penguatan nilai-nilai tradisi di masyarakat membutuhkan waktu yang cukup lama, proses ini akan berlangsung sepanjang hidup dimana individu
27
sebagai anggota dalam suatu kesatuan sosial akan berusaha untuk menyatukan dirinya dengan lingkungan masyarakat, proses penyesuaian diri terjadi melalui proses adaptasi dimana individu akan belajar menghayati nilai-nilai umum yang berkembang di masyarakat dalam rangka menentukan bentuk tindakan yang dilakukan individu dalam kehidupan bermasyarakat. Proses penyesuaian nilai-nilai tradisi melalui peran pendidikan informal, nonformal dalam pelaksanaannya tidak menutup kemungkinan terjadi adanya modifikasi atau penyempurnaan disesuaikan dengan perkembangan zaman dan pengetahuan masyarakat yang disebabkan oleh masuknya unsur teknologi dalam kehidupan masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam merubah sikap dan perilaku individu di masyarakat. Peran media diantaranya televisi, koran, majalah, dan media-media lainnya yang penyebarannya sudah begitu luas di masyarakat, hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap unsur tradisi yang ada di masyarakat, derasnya arus modernisasi dan teknologi dalam kehidupan masyarakat secara tidak langsung telah menciptakan perubahan dalam bersikap dan berperilaku, yang pada akhirnya tidak menutup kemungkinan akan menghilangkan unsur-unsur tradisi di masyarakat, karena dianggap sudah tidak memiliki manfaat.
Tradisi berasal dari kata traditum yang berarti barang sesuatu yang diterima, dan dimiliki seseorang atau kelompok yang diturunkan dari generasi-generasi melalui proses identifikasi, imitasi, adaptasi, sosialisasi. Tradisi diciptakan manusia melalui kemampuan berpikir, berimajinasi dan tindakan. Nilai-nilai tradisi tidak diperoleh oleh seseorang atau kelompok melalui proses pendidikan atau pembelajaran formal, tetapi melalui proses turun temurun dari satu generasi ke generasi berikut (Mutakin,1989:64).
Tradisi berkembang di masyarakat merupakan bentuk pengulangan dan berkembang menjadi suatu kebiasaan dan berhubungan dengan bentuk penilaian atau suatu anggapan bahwa cara-cara itu merupakan sesuatu yang baik dan benar, yang pada zamannya memiliki kekuatan mengikat secara kolektif dalam suatu masyarakat, tradisi pada zamannya bersifat normatif, berdasarkan kesepakatan kolektif, ada akibat apabila tidak dilakukan atau dilaksanakan.
Kebudayaan sebagai keseluruhan ide yang berada didalam pikiran manusia, satuan ide tersebut memberikan kebebasan kepada manusia untuk menginterpretasi, memahami, dan memberikan fungsi pada lingkungan tetapi ide-ide tersebut akan membatasi kebebasan manusia untuk menentukan sikap dan perilakunya terhadap rangsangan dari luar berupa hukuman dan sangsi melalui habit dan concience. Sikap adalah disposisi atau keadaan mental yang ada dalam diri sesesorang untuk berinteraksi terhadap lingkungan, meskipun sikap pada dasarnya bersifat individula tetapi tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh nilai budaya masyarakat dan tempat tinggalnya. Sikap sering bersumber dari sistem nilai budaya masyarakat, apabila individu menolak suatu unsur inovasi dalam masyarakat karena pertimbangan rasional, tetapi dalam masyarakat tradisional akan berbeda atau menerimanya karena atas dasar pertimbangan nilai-nilai tradisi yang sudah dianutnya sejak lama.
Pemikiran tersebut, tergantung dari sudut pandang mana manusia melihatnya seperti dua orang atau lebih akan berbeda melihat rumah tinggal
28
yang sehat dan nyaman sebagai salah satu aspek kebutuhan manusia. Masing-masing akan bersikap dan berperilaku berbeda, individu yang menyatakan bahwa rumah sehat dan aman berdasarkan argumentasi teknis dan fisik tetapi individu atau kelompok lain akan menerima bahwa rumah sehat dan aman adalah rumah yang dibuat sesuai dengan ketentuan-ketentuan tradisi atau adat leluhurnya. Seperti masyarakat Kampung Naga dapat dilihat dari kebudayaan yang dimilikinya, sebagai berikut :
NO Konsep Variabel Unsur Operasional
1 Usaha tani
Bibit padi Pare gede
Pupuk Pupuk kandang, pupuk hijau Pengairan/Irigasi Irigasi sederhana
Racun hama Racun tradisional, matera-mantera
Mitos, magis padi Pengayom : Dewi Sri, Nyi Pohaci, etika perilaku pada padi, upacara ritual dalam siklus pertumbuhan padi
2 Peralatan
Rumah adat Bentuk : panggung, bubungan panjang
Bahan : kayu, bambu, injuk, tepus
Posisi : memanjang timur-barat, menghadap keutara atau selatan, setiap ruangan memiliki fungsi, etika, nilai magis
Lahan perumahan : milik adat, sektor bersih, sektor kotor Pakaian adat Harian : kain pelekat, celana
kompring, baju kampret, totopong
Upacara : jubah putih, kain pelekat, totopong
Pemangku adat Pimpinan masyarakat merupakan pembuat keputusan dalam urusan urusan adat, hubungan keluar
29 3 Organisasi
Kemasayarakatan
Musyawarah kampung
Urusan adat, hubungan keluar
Seuweu Putu Naga atau Sa Naga
Semua penduduk Kampung Naga, orang-orang Naga yang berdomisili diluar Kampung Naga
Sarana
komunikasi dan solidaritas
Upacara adat hajat kampung, leluhur yang sama yaitu Sembah Dalem Singaparana
4 Sistem kepercayaan
Tabu Benda : memakai, memiliki, memelihara
Pedoman hidup Perbuatan, ucapan, bahasa, seperangkat tradisi leluhur Upacara adat Hajat sasih : Susuci di kali
Ciwulan, meramu dan dupa berziarah ke makam leluhur, sanduk-sanduk kepada arwah leluhur, sungkem kepada kuncen, syukuran di kampung membawa macam-macam makanan ke mesjid, makan bersama
Upacara Siklus padi : saat menanam, saat panen, saat menyimpan, saat menumbuk padi, untuk pertamakalinya ngaleuleusan Penggunaan
waktu
Hari-hari yang ditabukan untuk membicarakan ihwal adat kepada tami seperti selasa, rabu, sabtu, bulan-bulan untuk upacara hajat sasih (Rayagung, Mulud, Ramadhan, Rajab)
Norma tidak hanya menetapkan tindakan apa yang baik untuk dilakukan, tetapi menetapkan juga sikap yang baik untuk ditampilkan. Seseorang dihargai bila ia mendukung sikap dan tindakan yang dianggap baik oleh masyarakat, sebaliknya masyarakat akan kecewa bila seseorang mendukung sikap dan tindakan yang salah menurut anggapan masyarakat, sehingga individu dituntut agar conform dengan masyarakat karena suatu tekanan sosial (social pressure) yang cukup berarti dalam perkembangan dan pengorganisasian sikap dan tindakan individu selanjutnya. Sumber
30
utama orientasi sikap dan tindakan seseorang dalam kelompoknya sering bertumpu pada central value. Bagi masyarakat tradisional, nilai sentral ini biasanya bertumpu pada nilai-nilai etika, magis, dan mitos yang diwariskan oleh leluhurnya.
Kampung Naga merupakan sebuah kawasan pemukiman tradisional yang berada di jalan yang menghubungkan Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Garut. Keberadaan Kampung Naga sudah ada sejak dulu dan sampai sekarang masih tetap lestari dan tetap dipertahankan sebagai bentuk pemukiman tradisional yang memegang teguh nilai-nilai luhur sebagai pedoman dalam bersikap daan berperilaku. Dalam komunitas Kampung Adat di Indonesia, Kampung Naga menjadi salah satu bagian yang tercatat sebagai anggota, artinya keberadaan masyarakat adat kampung Naga dikenal tidak hanya dalam lingkup komunitas masyarakat adat, tetapi dikalangan perguruan tinggi, akademisi, turis baik turis domestik maupun turis asing. Keunggulan masyarakat adat Kampung Naga dilihat dari sisi budaya menunjukkan kelebihan bila dibandingkan dengan masyarakat adat lainnya, dimana secara geografis letak masyarakat kampung Naga berada dalam lintasan penghubung antara Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Garut tetapi masyarakat Kampung Naga masih tetap mampu mempertahankan kondisi lingkungannya dengan berpedoman pada nilai-nilai luhur adat dan menjungjung tinggi pesan karuhun berbasis nilai-nilai kearifan lokal, baik dalam bertegur sapa, pengelolaan lingkungan pemukiman, keteguhan mempertahankan tradisi pertanian, sistem pengelolaan produksi, pemeliharaan lahan, pemilihan jenis tanaman pendistribusian hasil pertanian, pengembangan kawasan perkampungan berbasis kearifan lokal, keorganisasian adat, pola penyimpanan hasil pertanian, proses pengelolaan makanan dan saluran-saluran keyakinan berbasis adat.
Modernisasi sebagai perwujudan dari perkembangan perubahan ruang dan waktu menjadi sebuah tantangan yang sangat berat bagi kehidupan masyarakat adat dimanapun termasuk masyarakat Kampung Adat Naga. Masuknya pengaruh model-model rekayasan teknologi terhadap kehidupan masyarakat baik masyarakat kota, desa, termasuk masyarakat adat harus dihadapi secara bijak, dalam arti bahwa masyarakat adat harus dapat memahami perubahan zaman dan harus siap berkompetisi dalam dinamika perubahan ruang dan waktu dimana fakta yang ada dalam kehidupan seringkali kontroversial.
Konsepsi-konsep nilai budaya masyarakat adat dibentuk melalui pewarisan secara lisan dan menjadi milik individu atas tumbuhnya kesadaran diri. Nilai emosional individu membimbing munculnya bentuk perilaku yang berorientasi pada dua pilihan yaitu menjungjung tinggi nilai adat karuhun atau membentuk pola perilaku berbasis nilai modernitas. Kedua hal tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat adat dalam keberlangsungan kehidupannya. Konsekuensi dari dua hal diatas memunculkan bentuk perilaku yang berbeda, sebab manusia di dalam hidup tidak sekedar dipengaruhi oleh dunia rasional tetapi juga dipengaruhi oleh
31
dunia imajinasi, artistik, mitologi dan berbagai bentuk ritual. Kenyataan ini memungkinkan lahir aspek keragaman sikap perilaku manusia serta dimensi-dimensi lain.
Keteguhan masyarakat kampung Naga dalam melestarikan nilai-nilai adat sudah teruji sampai sekarang, berbagai unsur yang berkenaan dengan kelangsungan hidup dipertahankan demi terciptanya kondisi masyarakat yang tentram, aman dan sejahtera dalam konsep pemikiran masyarakat kampung Naga. Berbagai kegiatan dalam kehidupan masyarakat kampung Naga dikontrol berdasarkan nilai adat yang dipertahankan secara turun temurun berdasarkan tata laku adat, kebiasaan, norma dan nilai luhur masyarakat kampung Naga. Kondisi ini telah menumbuhkan kemampuan masyarakat kampung Naga berkompetisi dengan perubahan ruang dan waktu untuk tetap mempertahankan keberlanjutan kehidupan dengan mengandalkan kekuatan nilai adat yang sudah melembaga secara turun temurun.
Menjungjung tinggi nilai adat masyarakat kampung Naga tidak identik dengan membelenggu kebebasan untuk berinovasi. Nilai adat masyarakat kampung Naga memberikan kebebasan dalam menginterpretasi, memahami dan memberikan fungsi kepada anggota masyarakatnya dalam menghadapi perubahan zaman, tetapi sekaligus juga nilai-nilai adat membatasi kebebasan dalam menentukan sikap terhadap hal-hal yang datang dari luar yang dipandang akan mengganggu tatanan sosial yang ada yang selama ini dipelihara dan dihormati oleh masyarakat kampung Naga. Kondisi inilah yang memberikan keunggulan pada masyarakat kampung Naga dalam menghadapi badai modernisasi, menolak sebagian model-model dari luar hal itu tidak semata-mata atas dasar pertimbangan yang rasional, tetapi mungkin atas dasar pertimbangan nilai-nilai tradisi yang dianutnya. Norma yang dibangun dalam kehidupan masyarakat kampung Naga bukan sekedar untuk menetapkan tindakan-tindakan apa yang baik untuk dilakukan, tetapi juga menetapkan sikap-sikap mana yang baik untuk ditampilkan, seseorang dihargai bila ia mendukung sikap dan tindakan yang dianggap baik oleh masyarakatnya, dan sebaliknya masyarakat akan kecewa bila seseorang mendukung sikap dan tindakan yang salah menurut anggapan masyarakatnya.
Karakter merupakan sekumpulan tata nilai yang menuju kepada satu sistem yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan. Masyarakat kampung Naga sebagai satu satuan sosial memiliki beragam aktivitas yang berkaitan dengan kelangsungan kehidupan dan penghidupan secara berkesinambungan. Masyarakat kampung Naga terkategorikan sebagai masyarakat adat yang tentu saja ada batas terhadap penyerapan unsur teknologi baru dalam rangka mendukung keberlanjutan kehidupannya. Masyarakat kampung Naga adalah masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani sawah tradisional dimana jenis padi yang dijadikan sebagai bibit adalah padi gede yang secara turun temurun ditanam dan dipelihara dengan segala aspek etika, mitos, dan aspek ritual.