• Tidak ada hasil yang ditemukan

INOVASI TEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN PERBIBITAN DAN BUDIDAYA KERBAU LUMPUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INOVASI TEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN PERBIBITAN DAN BUDIDAYA KERBAU LUMPUR"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

INOVASI TEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN

PERBIBITAN DAN BUDIDAYA KERBAU LUMPUR

(Technology Inovation for Improvement in Productivity

and Breeding of Swamp/Beef Buffalo)

BESS TIESNAMURTI danC.TALIB

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Jl. Raya Pajajaran Kav. E 59, Bogor 16151

ABSTRACT

Buffalo has significant roles for rural inhabitans and contributes Nationally to ward the meat production. However, buffalo manajemen are still undergo traditionally where as intensive management system only uppheid to limited stakeholder. Therefore, efforts to accelerate the increase in population and productivity of individuals and local buffalo population as a meat-producing livestock should be done more intensively. Improved productivity is focused mainly to produce high meat production per unit of livestock and increase in population. The two targets for improvement can be achieved through a variety of applications applied technology innovations include feed technology, management, reproduction and breeding. Feed technology focused on feed formulation that meets the standards of buffalo production in accordance with physiological and functional status based on local feed resources. Improved management intended to implement changes to buffalo trasisional system without the intervention of technology to the open acceptance of technological innovation and increasing the amount of business scale. Improvements aimed at improving reproductive efficiency of reproduction through the regulation of marriage and the detection system to accurately and lust or lechery synchronize of oestrous which ended with breeding that produced the maximum number of gestation. While the technology is aimed at the selection and breeding stud formation and their use to minimize the marriage in the family system and suppress the level of inbreeding within the group and together with the application of cattle feed and management technologies to build superior Indonesia elite buffalo herd.

Key Words: Technology, Breeding, Rearing, Buffalo

ABSTRAK

Kerbau memiliki peran yang sangat besar bagi masyarakat pedesaan dan berkontribusi secara Nasional terhadap ketersediaan daging. Sejauh ini pemeliharaan ternak kerbau masih dilaksanakan secara tradisional, sementara pemeliharaan intensif hanya dilaksanakan oleh segelintir orang. Kerbau ditargetkan sebagai salah satu pendukung utama swasembada daging sapi dengan dimasukkannnya kedalam program yang sebelumnya adalah PSDS (Program Swasembada Daging Sapi) menjadi PSDSK (Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau). Populasi kerbau nasional saat ini berjumlah total 1,3 juta ekor, yang menyebar di seluruh Indonesia dengan tingkat kepadatan berbeda dan pada agroekosistem yang juga berbeda. Pada saat sekarang konsumsi perkapita daging sapi dan kerbau baru mencapai sekitar 7 kg per kapita per tahun dengan target pencapaian konsumsi nasional sebesar 10,1 kg/kapita/tahun. Sementara itu program PSDSK yang sangat diharapkan untuk memenuhi target konsumsi pada tahun 2014 mengalami ujian pertama yaitu penghentian ekspor sapi hidup oleh pemerintah Australia selama minimal 6 bulan. Untuk swasembada berdasarkan kondisi terakhir maka Indonesia hanya punya satu pilihan yaitu swasembada berdasarkan sumber daya lokal yang dimiliki. Oleh karena itu, usaha untuk mempercepat peningkatan populasi dan produktivitas individual dan populasi kerbau lokal sebagai ternak penghasil daging harus dilakukan dengan lebih intensif. Perbaikan produktivitas difokuskan terutama untuk menghasilkan produksi daging yang tinggi per satuan unit ternak dan peningkatan populasi. Sasaran perbaikan tersebut dapat ditempuh melalui berbagai aplikasi inovasi teknologi terapan meliputi teknologi pakan, manajemen, reproduksi dan pemuliaan. Teknologi pakan difokuskan pada formulasi pakan yang memenuhi standar produksi kerbau sesuai dengan status fisiologis dan fungsional berbasis sumber daya pakan lokal. Perbaikan manajemen ditujukan untuk menerapkan perubahan budidaya kerbau dari sistem tradisional kepada keterbukaan penerimaan inovasi teknologi serta peningkatan jumlah skala usaha. Perbaikan reproduksi ditujukan pada peningkatan efisiensi reproduksi melalui pengaturan sistem

(2)

perkawinan dan pendeteksian birahi secara akurat dan atau penyerentakan birahi yang diakhiri dengan perkawinan yang menghasilkan jumlah kebuntingan maksimal. Sedangkan teknologi pemuliaan ditujukan pada pemilihan dan pembentukan pejantan unggul serta pemanfaatannya untuk menekan tingkat inbreeding dalam kelompok ternak serta bersinergi dengan penerapan teknologi pakan dan manajemen membangun elite

herd kerbau unggul Indonesia.

Kata Kunci: Teknologi, Perbibitan, Budidaya, Kerbau

PENDAHULUAN

Kerbau lumpur (swamp/beef buffalo) adalah kerbau lokal yang mendominasi populasi kerbau di Indonesia dengan jumlah kromosom 48 buah, sedangkan kerbau sungai (river/dairy buffalo) (memiliki kromosom 50 buah) hanya terdapat dalam jumlah kurang dari 2000 ekor dan terkonsentrasi di Sumatera Utara (Sumut) serta sedikit kerbau persilangan antara keduanya di Sumut (BAHRI dan TALIB, 2008). Di Indonesia, kerbau lumpur tersebar secara luas hampir di seluruh Indonesia mulai dari NAD (Nangroe Aceh Darussalam) sampai ke Papua dan mulai dari Maluku Utara sampai ke Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dari sisi performans umum, maka kerbau lumpur serupa satu sama lainnya di Indonesia, tetapi karena ada penerapan beberapa karakter kearifan lokal dan traditional knowledge yang sangat intensif maka timbullah beberapa keragaman pada kerbau lumpur di Indonesia, yaitu timbulnya variasi pada warna, ukuran tubuh dan kemampuan adaptasi. Disamping itu juga muncul berbagai nama pada kerbau tersebut berdasarkan nama tempat keberadaannya maupun berdasarkan warnanya. Maka dikenal berbagai nama seperti kerbau aceh, binanga, sumba, sumbawa, kalang, pampangan, belang, moa dan lainnya (TALIB, 2010). Sudah ada yang ditetapkan sebagai plasmanutfah asli yaitu kerbau moa dan sumbawa, sedangkan yang lainnya Insya Allah menyusul (DITJEN PKH, 2011).

Berdasarkan hasil sensus Tahun 2011 maka populasi kerbau di Indonesia berjumlah 1,3 juta ekor yang menurun drastis jika dibandingkan dengan angka populasi kerbau sebelum sensus tersebut dilakukan pada tahun yang sama berdasarkan prediksi dari jumlah populasi tahun-tahun sebelumnya yaitu lebih besar dari 2 juta ekor (DITJENNAK, 2011; PSPK2011, 2011).

Penyebaran kerbau yang berjumlah

2011 meliputi Pulau Sumatera (39,3%), Jawa (27,8%), Bali/Nusa Tenggara (19,7%), Sulawesi (8,5%), Kalimantan (3,2%) dan Maluku/Papua (1,5%). Walaupun jumlah populasi kerbau terbanyak di Pulau Sumatera, namun populasi tertinggi terdapat di NTT dan terendah di Papua. Data ini menunjukkan bahwa pulau-pulau besar potensial untuk pengembangan kerbau masih tersedia terutama di Papua dan Kalimantan mengingat sumber pakan yang berlimpah serta agroklimat yang dapat ditolerir oleh kerbau.

Struktur populasi kerbau tersebut adalah betina dewasa 50%; betina muda (umur 1 – 2 tahun) 11%; betina < 1 tahun 8% dan jantan dewasa 8% sedangkan 23% lainnya adalah jantan muda dan pedet. Dari struktur populasi tersebut menunjukkan bahwa hampir 70% populasi adalah ternak betina, maka potensi kerbau untuk dapat dijadikan ternak potong setiap tahunnya adalah maksimal 20% dari populasi agar dapat tetap mempertahankan pertumbuhan populasi minimal 3% per tahun.

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memanfaatkan semua sumber daya lokal ternak kerbau dan faktor pendukung pengembanganya serta saran usulan teknologi yang dapat diterapkan dalam budidaya dan perbibitan di Indonesia.

PERAN TERNAK KERBAU

Ternak kerbau di Indonesia mempunyai peran yang cukup signifikan tidak hanya sebagai sumber pangan dan pendapatan masyarakat peternak kecil (berupa tabungan) tetapi juga terkait dengan culture dan kepercayaan masyarakat setempat serta pariwisata (ALLOSAMBA, 2009; GANA, 2008; FADILLAH, 2010). Sumber pangan utama yang dihasilkan adalah daging dan susu serta produk olahan dari tradisional knowledge masing-masing daerah terutama dari susu kerbau, seperti dadiah, tahu susu, sago puan, susu

(3)

goreng dan danke (BAMUALIM danZULBARDI, 2007; BAHRI dan TALIB, 2008).

Produk non pangan yang dihasilkan dari kerbau yang terkenal adalah kulit kerbau yang banyak digunakan untuk kulit beduk dan peralatan musik tepuk/pukul tradisional lainnya karena lebih kuat dibandingkan dengan kulit ternak lainnya dan memberikan suara yang lebih sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu juga adalah sebagai sumber tenaga kerja tarik dan tenaga pengolah pada lahan pertanian.

Peran ternak kerbau sebagai sumber energi gas bio dan pupuk organik belum banyak diangkat, padahal kotoran kerbau dan sapi seharusnya hampir sama dalam proses produksi gasbio dan pupuk organik. Saat ini yang banyak dilakukan petani adalah memanfaatkan kotoran sapi untuk kedua produk tersebut. Mudah-mudahan kedepan peran tersebut dapat diangkat karena memberikan dampak langsung pada penngkatan pendapatan dan penghematan pengeluaran peternak kecil. Dua daerah yang paling populer dalam memanfaatkan kerbau untuk pariwisata dalam hubungannya dengan kepercayaan dan budaya setempat adalah Tana Toraja di Sulawesi Selatan dan Sumba di NTT (ALLOSAMBA, 2009; GANA, 2008). Acara ini didominasi oleh pemotongan kerbau jantan terbaik yang ternyata mempunyai performan/ fenotipe yang sangat baik.

PENURUNAN POPULASI

Menurunnya populasi ternak kerbau di Indonesia berdasarkan hasil sensus ternak sapi dan kerbau tahun 2011dibandingkan dengan angka prediksi populasi tahun 2011 sebesar sekitar 30%, diduga disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: (a) Tergantikannya peran kerbau sebagai pengolah lahan pertanian dengan tenaga mesin; (b) Meningkatnya pemotongan kerbau karena lebih menguntungkan per kg bobot hidup dibandingkan dengan sapi potong (penyusutan karkas dalam pelayuan lebih sedikit dibandingkan dengan sapi potong); (c) Meningkatnya laju inbreeding yang berdampak pada menurunnya performan produksi dan reproduksi; serta (d) Menurunnya kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsi karena

beralihnya fungsi lahan penggembalaan menjadi penggunaan lainnya.

DE CRUZ (2009) menggambarkan bahwa salah satu penyebab utama menurunnya populasi kerbau lumpur di Asia Tenggara adalah karena terabaikannya fungsi tenaga kerja yang digantikan oleh mesin pertanian. Hal tersebut berdampak pada menurunnya semangat peternak kecil dalam memelihara kerbau.

Meningkatnya permintaan pemotongan kerbau sebagai dampak dari tingginya permintaan daging kerbau, disebabkan karena penyusutan daging kerbau dibandingkan dengan sapi pasca pemotongan, ternyata pada bobot potong yang sama, kerbau lebih menguntungkan 5 – 8% dibandingkan dengan sapi (KARYANTO, 2009). Hal lain yang diperkirakan mengakibatkan penurunan populasi kerbau adalah tingginya derajat inbreeding pada kerbau. Hal tersebut disebabkan karena pemeliharaan dalam kelompok ternak tertutup yang jarang atau tidak pernah mendapatkan pasokan pejantan dari luar kelompoknya sehingga terjadi perkawinan dalam keluarga, dimana derajat inbreeding pada studi kasus di Banten diperkirakan telah mencapai lebih dari 12,5% (PRAHARANI et al., 2010). Peningkatan derajat inbreeding tersebut akan memperlambat kinerja reproduksi dan menurunkan produktivitas. Hal tersebut masih diperburuk lagi dengan perkawinan yang terjadi bukan dilakukan oleh pejantan terbaik yang dihasilkan oleh kelompok ternak tersebut, karena pejantan terbaik telah masuk kepasar sebelum digunakan sebagai pejantan dalam kelompoknya. Dampaknya adalah keturunan yang dihasilkan akan lebih kecil performan produksinya dari tetuanya.

Kekurangan pakan baik secara kuantitas maupun kualitas juga terjadi, karena sistem pemeliharaan tradisional yang bergantung pada luasan areal penggembalaan. Akhir-akhir ini telah terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi pemanfaatan non pertanian yang tidak bisa lagi digunakan untuk penggembalaan kerbau. Seharusnya dari sinilah dibuat titik ungkit untuk pengembangan kerbau berdasarkan ketersediaan sumber bahan pakan lokal yang tidak hanya bergantung pada lahan

(4)

penggembalaan. Image bahwa budidaya kerbu harus digembalakan perlu diganti bahwa dengan pemeliharaan intensif dalam kandang kerbau tetap dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pendapatan keluarga peternak.

Ternyata penggemukan kerbau dengan memanfaatkan pakan yang bersumber pada bahan pakan lokal, mampu mencapai pertambahan bobot badan yang lebih besar dari 1 kg/ekor/hari, dengan kualitas pakan lebih rendah daripada yang digunakan pada penggemukan sapi untuk mencapai pertambahan bobot badan yang sama. Namun mempunyai batas maksimal yaitu mencapai 1,1 kg/ekor/hari pada penggemukan 30 hari pertama (KARYANTO, 2009; PASHA, 2011).

KARAKTERISTIK BIOLOGI

Berdasarkan penciptaannya, kerbau mempunyai beberapa karakter biologis yang berbeda dengan sapi yang terlihat pada keunggulan maupun kelemahan dari ternak tersebut jika dibandingkan dengan sapi potong.

Beberapa hal tersebut antara lain (a) Mempunyai ketahanan terhadap parasit yang lebih tinggi karena mempunyai kulit yang lebih tebal, (b) Memanfaatkan pakan dengan kandungan serat kasar tinggi dengan kualitas rendah karena komponen biologis mikro-organisme rumennya yang berbeda dengan sapi, (c) Menghasilkan daging yang rendah kandungan kholesterol yaitu hampir 50% lebih rendah dari kolesterol daging sapi dalam keadaan segar (SOMPOTAN, 2011), tetapi ketika dibuat abon (shredder meat) dapat mempunyai kandungan yang hanya sedikit lebih rendah sehingga rasanya hampir sama dengan daging sapi (MUNADI et al., 2003) dan (d) Kandungan

lemak susu segar kerbau lebih tinggi 100 – 300% total protein lebih tinggi 11,4%, makro mineral Fe, Ca dan P lebih tinggi 30 – 118%, Vit A lebih tinggi dan kandungan bahan bioprotektif juga lebih tinggi sedangkan kolesterol leboh rendah 0,65 vs 3,14 mg/g dari kandungan dalam susu sapi. Hal tersebut penting untuk dipopulerkan karena sudah jelas susu kerbau maupun daging kerbau ternyata lebih baik sebagai pangan kesehatan dibandingkan dengan susu dan daging sapi (INDIA DAIRY, 2011).

Disamping keunggulan tersebut ada juga kelemahannya yaitu daya reproduksi rendah yang disebabkan karena lama kebuntingan lebih panjang, calving interval panjang, dewasa kelamin lambat, pertumbuhan lambat. Hal-hal tersebut dialami oleh para peternak tradisional di Indonesia, padahal dalam pemeliharaan intensif di Pakistan, India, Filipina dan Italia, hal-hal tersebut tidak terlihat kecuali pada umur kawin pertama (DE CRUZ, 2010).

Dari Tabel 1 terlihat bahwa umur kawin pertama kerbau lumpur dan sungai memang hampir sama walaupun lebih lama dari sapi potong, demikian pula siklus birahi kerbau dan sapi potong ternyata sama. Tetapi karena kekurangan dalam manajemen pemeliharaan pada kerbau lumpur maka terlihat bahwa daya reproduksi kerbau lumpur jauh; lebih rendah dari kerbau sungai.

Data pada Tabel 2 dan 3 menunjukkan bahwa pertumbuhan kerbau lumpur hanya sebesar 0,3 kg/ekor/hari dari lahir sampai dewasa. Hal inilah yang diduga menyebabkan umur kawin pertama mundur menjadi lebih dari 3.5 tahun, sedangkan pada sapi potong 13 bulan dan sapi perah 12 bulan dengan pertumbuhan sampai umur setahun 0,5 – 0,6 kg/ekor/hari.

Tabel 1. Karakter reproduksi kerbau lumpur, kerbau sungai dan crossbred

Kriteria Kerbau lumpur*) Crossbred Kerbau sungai

Kawin pertama (bulan) 40 37 36

Beranak pertama, (bulan) 50 48 46

Kebuntingan, (hari) 320 310 300

Jarakberanak, (hari) 620 540 510

Siklus estrus, (hari) 21 22 22

(5)

Tabel 2. Karakter produksi kerbau lumpur

Parameter Ukuran

Berat lahir (kg) 24 Berat setahun (kg) 150 Berat 2 tahun (kg) 270 Berat dewasa jantan/betina (kg) 480/420 Berat potong (kg) 375

ADG (kg) 0,35

Karkas (%) 45

Produksi susu (kg/270 hari laktasi)

Kerbau lumpur 700 Kerbau sungai 2270

Sumber: Hasil-hasil penelitian Balitnak

Tabel 3. Rataan ukuran tubuh kerbau lumpur dan

kerbau sungai Parameter Kerbau lumpur Kerbau sungai Betina Tinggi badan (cm) 127 131 Panjang badan (cm) 141 143 Lingkar dada (cm) 192 195 Bobot hidup (kg) 458 457 Jantan Tinggi badan (cm) 131 138 Panjang badan (cm) 143 154 Lingkar dada (cm) 198 207 Bobot hidup (kg) 494 595

Sumber: Hasil-hasil penelitian Balitnak

Diduga jika pertumbuhan kerbau diperbaiki menjadi seperti yang diterapkan pada sapi potong maupun sapi perah maka umur kawin pertama kerbau juga dapat mendekati umur kawin pertama yang telah dicapai pada ternak sapi. Sementara itu, ukuran-ukuran pertumbuhan lainnya akan mengikuti seiring dengan bobot perbaikan yang dilakukan per satuan umur.

STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI DAN POPULASI

Beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh untuk perbaikan produktivitas dan

daya reproduksi dapat ditempuh melalui perbaikan pakan, perbaikan daya reproduksi dan penerapan program pemuliaan.

PERBAIKAN PAKAN

Jika kekurangan pakan yang dialami oleh kerbau disebabkan karena kekurangan lahan penggembalaan, maka ternak dapat dipindahkan ke kawasan yang banyak tersedia pakan ternak seperti perkebunan, areal sawah, mapun kawasan pengolahan pangan. Hal tersebut disebabkan karena kawasan-kawasan tersebut pastilah menghasilkan produk samping/limbah yang masih dapat digunakan untuk pakan ternak dengan membangun sistem integrasi ternak dengan kawasan terkait seperti SITS (sistem integrasi ternak sawit), SIT Padi dan sistem-sistem integrasi lainnya.

Dalam beberapa kasus produk samping maupun limbah tersebut dapat langsung digunakan sebagai pakan ternak, tetapi dalam beberapa hal lainnya perlu diolah/memperoleh perlakuan khusus terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai pakan ternak yang memenuhi nilai gizi dan kesehatan bagi ternak tersebut maupun bagi manusia sebagai konsumen utama produk hasil ternak. Hal lainnya adalah mengintroduksi tanaman pakan ternak yang sesuai dengan kawasan integrasi ternak-tanaman tersebut.

Berbagai produk tersebut telah dihasilkan oleh UPT (unit pelaksana teknis) lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbang Peternakan). Produk-produk tersebut adalah sebagaimana yang disampaikan berikut ini. Cara pembuatan dan nilai gizi dan pemanfaatan lainnya serta kontak person untuk diskusi lanjutan secara lebih detail dapat dilihat pada kumpulan inovasi teknologi peternakan dan veteriner (TALIB et al., 2011).

Cassapro

Produk ini dihasilkan melalui proses fermentasi pada ampas singkong (onggok) setelah diambil patinya dengan menggunakan spora (bibit fermentasi) Aspergillus niger. Manfaat cassapro adalah meningkatkan kandungan protein, meningkatkan daya cerna, dan menurunkan kandungan serat kasar.

(6)

Biovet

Produk ini dapat menggantikan penggunaan antibiotik yang dulunya sering digunakan sebagai imbuhan pakan. Manfaat biovet lainnya adalah tidak diperlukan lagi antibiotik sebagai imbuhan pakan (produk lebih aman, bebas residu antibiotik), kandungan kolesterol pada daging/telor lebih rendah, meningkatkan kinerja dan produktivitas ternak, meningkatkan daya tahan terhadap stress, mencegah Salmonella, menekan populasi E. coli dalam usus dan ramah lingkungan, mengurangi bau kotoran/kandang.

Probion

Bahan pakan aditif dalam bentuk probiotik untuk ternak ruminansia. Probion mampu memberikan ketersediaan energi dalam bentuk asam lemak mudah terbang lebih awal yang selanjutnya akan meningkatkan kecepatan pertambahan bobot badan ternak. Manfaatnya adalah peningkatan produksi ternak dan efisiensi pakan, sebagai starter fermentasi jerami, dan sebagai decomposer pupuk organik untuk mempercepat proses pengomposan faeces ternak.

Bioplus

Produk unggulan bagi ruminansia, mampu meningkatkan produktivitas ternak. Keuntungan bioplus adalah pemberian cukup 1 kali selama periode pemeliharaan, cocok untuk lokasi panas dan pakan berserat tinggi. Bioplus terdiri dari beberapa produk yaitu bioplus serat (bs) pencerna serat pakan berserat tinggi, bioplus antitoksin (br) mempercepat adaptasi, meningkatkan kecernaan ransum kaya tanin, kumarin dan sianida (lebih cocok untuk ternak domba), dan bioplus pedet (bp) mempercepat umur penyapihan pedet dengan mempercepat penyempurnaan fungsi rumen dan mencegah diare.

Comin block

Pakan imbuhan padat mineral untuk ruminansia.Tersusun dari komponen bahan ransum seperti: dedak padi, campuran mineral lengkap, molases, kapur, garam dan semen.

ketersediaan unsur mineral yang dibutuhkan ternak, mudah dalam aplikasi pemberian mineral, nafsu makan meningkat, penampilan ternak lebih baik, mencegah kerugian yang disebabkan kelainan metabolisme tubuh sebagai akibat kekurangan mineral.

Tanaman pakan ternak (TPT)

Tanaman pakan ternak (TPT) masih seperti yang telah dikenal umum yaitu terdiri dari berbagai jenis rumput dan leguminosa. Jenis tanaman pakan ternak yang disarankan untuk dikembangkan tergantung dari kesediaan lahan serta adaptasi tumbuh.

Rumput

TPT rumput yang disarankan adalah rumput Raja dengan produksi yang dapat mencapai 700 ton/ha/tahun dan rumput gajah 500 ton/ha/tahun sebagai rumput potong karena kapasitas produksi hijauan yang tinggi dan rumput Brachiaria brizantha, Panicum maximum cv. Natsukaze untuk TPT yang digunakan dalam kawasan penggembalaan kerbau karena tahan injakan.

Legum pohon

TPT leguminosa pohon yang disarankan adalah Gliricidia spp. karena daya adaptasinya yang luas dari daerah kering sampai daerah basah dan Calliandra spp. yang khusus untuk daerah basah dan Desmodium spp.

Legum herba

TPT legum herba yang disarankan adalah Arachis spp. dan Macroptilium spp. karena mempunyai sifat merambat dan tahan injakan pada Arachis spp. dan merambat dan menyatu pada TPT rumput potong sehingga dapat menghasilkan protein hijauan pakan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kerbau.

PERBAIKAN REPRODUKSI

Perbaikan reproduksi yang dapat diterapkan dalam pengembangan kerbau pada skala peternak kecil adalah melalui perbaikan

(7)

yang digabungkan secara sinergis dengan perbaikan pakan untuk meningkatkan calfcrop.

Teknologi bioteknologi reproduksi yang disarankan untuk diterapkan pada kondisi tersebut adalah melakukan penyerantakan birahi yang diikuti dengan pelaksanaan IB. Sedangkan teknologi MOET (multiple ovulation and embryo transfer) belum disarankan pada kondisi saat ini.

Teknologi lain yang dapat diterapkan sesuai kondisi setempat adalah semen cair dingin untuk mendukung penerapan IB di lapangan jika pemeliharaan semen beku mengalami kesulitan. Semen cair dingin hasil proses pengawetan sperma dengan cara diencerkan dan diikuti dengan pendingin sampai suhu 5°C. Semen cukup disimpan pada lemari es atau tempat yang bersuhu 5°C sampai 1 minggu dengan kualitas sperma yang tetap baik.

Teknologi pemisahan, sperma X dan Y dapat disosialisasikan dan diterapkan kepada beberapa kelompok peternak.

PERBAIKAN GENETIK

Perbaikan genetik dapat dilakukan melalui seleksi dan persilangan. Untuk penerapan seleksi yang berhasil dengan menggunakan sumber daya genetik (SDG) lokal, maka langkah yang paling sederhana adalah memanfaatkan pejantan-pejantan terbaik yang ada dalam kawasan yang sama. Dalam pengaturan perkawinan maka pejantan yang digunakan hanya boleh mengawini betina-betina dalam kelompok lain (outbreeding) dan tidak boleh mengawini kerbau betina dalam kelompoknya sendiri untuk menghindarkan terdinya peningkatan inbreeding dalam kelompok ternak tersebut. Semakin jauh hubungan keluarga antar pejantan dan induk yang dikawini akan semakin baik.

Sedangkan perbaikan genetik melalui persilangan maka perlu ditetapkan target akhir kerbau yang dihasilkan tersebut adalah untuk produksi daging atau susu. Jika diarahkan untuk produksi daging maka carilah kerbau lumpur yang ukurannya lebih besar dari kerbau lumpur lokal yang ada. Saat ini sudah ada beberapa kerbau lumpur yang telah ditetapkan sebagai rumpun/galur kerbau di Indonesia seperti kerbau Sumbawa, kerbau moa dan

kerbau belang (DITJEN PKH, 2011) sehingga masing-masing fenotipenya dapat dilihat dan dipilih mana yang terbaik untuk suatu kawasan pengembangann untuk perbaikan kualitas genetik kerbau lokal pada tempat tertentu.

Kalau ingin mentargetkan untuk membentuk kerbau susu dengan memanfaatkan potensi kerbau lokal maka dapat dengan impor semen beku kerbau unggul yang dapat dipilih dari Italia (mediteranian buffalo) dan inilah yang produksinya tertinggi atau kerbau murrah, jaffarabadi, surti dari India ataupun nilli ravi dan kundhi dari Pakistan atau kerbau asal Bulgaria dari Filipina (european buffalo). Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan backcrossing kearah kerbau perah yang diimpor sampai kandungan darahnya maksimal 87,25% untuk dilaksanakan intersee mating. Namun jika dalam perjalanan untuk mencapai kandungan darah tersebut tercatat ada yang lebih baik produksinya (misalnya 50% atau 75% sudah bagus, maka disarankan untuk pelaksanaan intersee mating pada tahapan dengan produksi yang terbaik.

Dapat juga jika diinginkan untuk menghasilkan kerbau komposit, maka pemeliharaan galur-galur murni kerbau yang digunakan perlu dilakukan agar dapat tetap memproduksi kerbau komposit terbaik yang akan dihasilkan secara kontinu.

Yang penting dalam pelaksanaan seleksi, persilangan maupun komposit adalah mengusahakan agar komposisi genetik yang telah terbentuk dapat terus dijaga stabilitasnya sheingga kualitas genetik yang dihasilkan tidak menurun yang tergambarkan dari kapasitas produksi yang dihasilkan oleh kerbau-kerbau rakitan tersebut. Jika jumlah ternak yang digunakan cukup maka minimal dalam 5 generasi, baru kestabilan tersebut dapat dicapai. Tetapi jika jumlah ternak yang digunakan sedikit maka dibutuhkan jumlah generasi yang lebih banyak lagi.

Jika kegiatan perbaikan genetik tersebut sudah dapat berjalan baik maka dapat dibagi menjadi kawasan bibit sebagai penghasil bibit dan kawasan budidaya untuk memanfaatkan bibit yang baik agar dapat meningkatkan kapasitas produksi ternak yang dimilikinya. Jadi hanya ternak yang baik saja yang dipelihara untuk memperoleh keuntungan maksimal.

(8)

STRATEGI PENGEMBANGAN

Dalam pengembangan pada kawasan budidaya maka hal yang terpenting adalah sinergikan kerbau yang memiliki potensi genetik tinggi dengan pemberian pakan yang sesuai dengan arah pengembangan yang diharapkan dan padukan dengan perhatian yang sewajarnya pada aspek reproduksi. Jika inginkan kerbau beranak setiap tahun satu ekor maka pertumbuhan minimal pedet dari lahir sampai usia setahun minimal 0,4 kg daily weight gain dan selanjutnya 0,35 kg, hal tersebut penting agar bobot kawin pertama sudah dapat dicapai dalam usia maksimal 2,5 tahun kemudian mempertahankan agar kerbau betina tersebut tidak kurus saja.

Sedangkan untuk penggemukan maka pilihlah kerbau bakalan yang baik pertulangannya dan kurus kondisi tubuhnya (minimal bobot badan 225 kg dengan umur 2,5 – 3 tahun) sehingga dapat diperoleh pertumbuhan yang cepat pada saat digemukkan dalam jangka waktu maksimal 100 hari.

KESIMPULAN

1. Peran kerbau cukup besar bagi masyarakat pedesaan dan juga nasional dan sayangnya tetap dipertahankan dalam kondisi terkebelakang walaupun ditargetkan sebagai pendukung utama swasembada daging sapi Tahun 2014.

2. Populasi kerbau nasional saat ini berjumlah total 1,3 juta ekor, yang menyebar di seluruh Indonesia dengan tingkat kepadatan berbeda dan pada agroekosistem yang juga berbeda menurun jumlahnya dari tahun-tahun sebelumnya.

3. Oleh karena itu usaha untuk mempercepat peningkatan populasi dan produktivitas individual kerbau lokal harus dilakukan dengan sosialisasi teknologi yang ada, diikuti dengan kegiatan penerapannya secara on farm serta pengawalan dan pendampingannya.

4. Teknologi terapan perlu dibuat sesederhana mungkin agar mudah dalam aplikasi inovasi teknologi terapan tersebut sesuai dengan kebutuhan peternak kerbau.

5. Penyediaan bibit unggul kerbau sampai saat ini masih menjadi kewajiban pemerintah sebelum terbentuk asosiasi perbibitan kerbau yang dapat mengambil alih tugas tersebut secara baik dan benar.

6. Dalam penggunaan bibit kerbau berkualitas maka harus diikuti juga dengan konsumsi pakan yang baik disertai dengan manajemen yang benar barulah dapat diperoleh produktivitas yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

ALLOSOMBA, I.M. 2009. Perkembangan program aksi pembibitan kerbau di Kabupaten Tana Toraja. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau. Tana Toraja, 24 – 26 Oktober 2008. Dinas Peternakan dan Pangan Kabupaten Tana Toraja, Disnak Provinsi Sulawesi Selatan, Ditjennak dan Puslitbang Peternakan. Bogor. hlm. 155 – 158.

BAHRI, S. dan C. TALIB. 2008. Strategi pengembangan pembibitan ternak kerbau. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau. Jambi, 22 – 23 Juni 2007. Disnakan Kabupaten Batanghari, Disnak Provinsi Jambi, Ditjennak dan Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 1 – 11.

BAMUALIM,A.M.,M.ZULBARDI danC.TALIB. 2008. Studi dan keberadaan ternak kerbau di Indonesia. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau. Jambi, 22 – 23 Juni 2007. Disnakan Kabupaten Batanghari, Disnak Provinsi Jambi, Ditjennak dan Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 32 – 39.

BORGHESE A. 2007. Buffalo breeding development in Italy. Paper dipresentasikan dalam kunjungan ke Sumatera Selatan (Unpublished).

BORGHESE, A. 2008. The main factors influencing buffalo development. Paper dipresentasikan dalam Semiloka Kerbau di Tana Toraja. (Unpublished)

DE CRUZ,L.C. 2010. Transforming swamp buffaloes to producers of milk and meat through crossbreeding and backcrossing. Wartazoa 19(3): 103 – 116.

DITJEN PKH. 2011. Penetapan Rumpun/Galur

Ternak Indonesia Tahun 2010 – 2011. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Jakarta.

(9)

DITJEN PKH. 2011. Statistik Peternakan Indonesia Tahun 2010. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Jakarta.

FADILLAH, MA. 2010. Kerbau dan Masyarakat Banten: Perspektif etno-historis. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau, Lebak, 2 – 4 November 2010. Disnak Provinsi Banten, Disnak Kabupaten Lebak, Dirbit–Ditjennak dan Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 23 – 29.

GANA,R.2008. Program aksi perkembangan ternak

kerbau di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau. Jambi, 22 – 23 Juni 2007. Disnakan Kabupaten Batanghari, Disnak Provinsi Jambi, Ditjennak dan Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 189 – 192.

INDIA DAIRY. 2011. Buffalo_milk_vs cow milk. http://www.indiadairy.com/info_buffalo_milk _vs.html.

KARYANTO. 2009. Feedlotter kerbau di Indonesia. Komunikasi pribadi.

MUNADI, SANTOSO, D. NINGSIH and HARYOKO, I. 2003. Comparative Study on Fat and Cholesterol Contents of Shredded Beef and Buffalo Meat. Anim. Prod. J. 5(2): 69 – 72. PASHA,T.N.2011. Contribution on buffalo in milk

and meat production in Pakistan. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau, Lebak, 2 – 4 November 2010. Disnak Provinsi Banten, Disnak Kabupaten Lebak, Dirbit– Ditjennak dan Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 246 – 251.

PRAHARANI,L.,E.JUARINI dan BUDIARSANA. 2010. Parameter indikator inbreeding rate pada populasi ternak kerbau di Kabupaten Lebak, Banten. Pros. Semiloka Kerbau Nasional di Brebes Tahun 2009. Puslitbang Peternakan. hlm: 93 – 99.

PSPK2011. 2011. Hasil rilis terakhir sensus peternakan di Indonesia. Biro Pusat Statistik, Jakarta.

SOMPOTAN,J. 2011. Sejuta manfaat daging kerbau. http://www.okefood.com/read/2011/09/26/299 /507080/sejuta-manfaat-daging-kerbau. TALIB, C. 2010. Peningkatan populasi dan

produktivitas kerbau di padang penggembalaan tradisional. Pros. Semiloka Kerbau Nasional di Brebes, Jateng, 2009. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 109 – 118. TALIB, C., B. TIESNAMURTI, L. YUNIA dan A.

RIYANTO. 2011. Kumpulan Inovasi Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan, Bogor.

TALIB, C., R.H. MATONDANG dan T. HERAWATI. 2011. Pembibitan kerbau menunjang swasembada daging di Indonesia. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau, Lebak, 2 – 4 November 2010. Disnak Provinsi Banten, Disnak Kabupaten Lebak, Dirbit– Ditjennak dan Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 8 – 15.

Gambar

Tabel 1. Karakter reproduksi kerbau lumpur, kerbau sungai dan crossbred
Tabel 3.  Rataan  ukuran  tubuh  kerbau  lumpur  dan  kerbau sungai  Parameter  Kerbau  lumpur  Kerbau sungai  Betina  Tinggi badan (cm)  127  131  Panjang badan (cm)  141  143  Lingkar dada (cm)   192  195  Bobot hidup (kg)  458  457  Jantan  Tinggi badan

Referensi

Dokumen terkait

2) Pada perhitungan prediksi data populasi ternak Sapi Propinsi NTT dengan metode pemulusan eksponensial tunggal atau single exponential smoothing didapat hasil RMSE

Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa populasi kerbau di kabupaten Serang menurun sebesar -8,22 persen dari tahun 1982 populasi kerbau sebesar 408 ekor menjadi

Teknologi pemeliharaan yang sederhana ini sangat berpotensi untuk dijadikan usaha peternakan kerbau yang intensif, memberi harapan untuk melaksanakan agribisnis ternak kerbau

Kecamatan Maja memiliki populasi kerbau sebesar 3418 ekor yang terdiri dari 1061 jantan dan 2357 betina, Meskipun populasi ternak kerbau tidak cukup besar, Kecamatan Maja

Menurut W IRYOSUHANTO (1980) populasi kerbau di Indonesia menurun sejak tahun 1925 dengan laju penurunan yang makin membesar. Diduga bahwa penurunan populasi kerbau ini

populasi ternak kerbau di kantong bibit sapi potong lokal Kabupaten Grobogan memperlihatkan bahwa pada tahun 2008 terdapat 2.531 ekor yang tersebar di 19 kecamatan (Tabel 2)..

Selain itu pertimbangan sosial seperti tingkat kesukaan peternak memilih ternak kerbau sebagai pilihan utama karena lebih ekonomis dan menguntungkan dari pada beternak sapi,

Pengambangan usaha ternak sapi juga akan memeberikan dampak posifif bagi perekonomian keluarga seperti peningkatan pendapatan, menurunnya tingkat penganguran karena penyerapan tenaga