MODUL PEMBELAJARAN
METODE PENELITIAN SOSIAL KUANTITATIF
Oleh:
Joko Tri Nugraha, S.Sos, M.Si
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TIDAR
MAGELANG
1 KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan curahan nikmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Modul Pembelajaran Metode Penelitian Sosial Kuantitatif (MPS Kuantitatif) dapat diselesaikan dengan baik.
Ide untuk menulis dan merivisi modul pembelajaran ini berkembang dari pengalaman sebagai pengajar metode penelitian, khususnya metode kuantitatif untuk penelitian sosial dan diskusi dengan rekan-rekan satu profesi. Maksud dari Modul Pembelajaran Metode Penelitian Sosial Kuantitatif ini adalah membahas berbagai tipe rancangan dan metode penelitian yang secara umum digunakan, proses mendasar melalui mana studi-studi peneliti diadakan, hingga peneliti menginterpretasi hasil dan melaporkan. Buku ajar ini lebih menekankan pada metode ilmiah (scientific method) untuk melakukan satu penelitian. Itu mencakup seluruh tahapan-tahapan penelitian terutama berbagai metode pengumpulan data dan analisis data untuk penelitian kuantitatif.
Modul ini perlu dan sangat penting dibaca bagi mahasiswa atau siapapun yang ingin melakukan satu treatment komprehensif tentang metode, strategi dan teknik penelitian tetapi dengan perhatian khusus untuk pendekatan kuantitatif. Modul ini juga ideal untuk pembaca dengan pengetahuan intermediate yang memerlukan satu quick refresher berdasarkan aspek-aspek tertentu dan rancangan penelitian dan metodologi. Sementara, untuk pembaca dengan advance knowledge tentang rancangan dan metodologi penelitian, buku ini dapat digunakan sebagai satu concise summary of basic research techniques and principles, atau sebagai suatu adjust to a more advanced research methodology and design textbook.
Semoga modul pembelajaran ini dapat sebagai pendukung keberhasilan proses belajar mengajar dan dapat mencapai sasaran pembelajaran serta bermanfaat bagi semua pihak.
Magelang, Februari 2017 Penyusun
2 DAFTAR ISI
Halaman
Bab I. Ilmu Pengetahuan dan Penelitian ... 3
Bab II. Konsep Dasar Riset ... 9
Bab III. Jenis-Jenis Riset ... 14
Bab IV. Perspektif Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi ... 18
Bab V. Proses Penelitian, Masalah, Variabel dan Paradigma Penelitian ... 39
Bab VI. Proses Penelitian Survei ... 45
Bab VII. Landasan Teori, Kerangka Berpikir dan Pengajuan Hipotesis ... 50
Bab VIII. Penyusunan Kuesioner ... 56
Bab IX. Populasi dan Sampel ... 62
Bab X. Validitas dan Reliabiltas Instrumen Penelitian ... 68
Bab XI. Analisis Data Kuantitatif ... 87
Bab XII. Pengujian Hipotesis ... 94
Bab XIII. Menyusun Proposal Penelitian ... 98
Bab XIV. Menyusun Laporan Penelitian ... 105
Daftar Pustaka ... 108
3 BAB I. ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN
Pengantar
Ilmu atau “sains” adalah pengetahuan tentang fakta-fakta, baik natura atau sosial, yang berlaku umum dan sistematis. Karena ilmu berlaku umum, maka darinya dapat disimpulkan pernyataan-pernyataan yang didasarkan pada beberapa kaidah umum pula. Ilmu tidak lain adalah suatu pengetahuan yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematis menurut kaidah umum.
1. Ilmu dan Proses Berpikir
Dua buah definisi dari ilmu adalah sebagai berikut:
“Ilmu pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah yang umum.”
“Ilmu ialah pengetahuan yang sudah dicoba dan diatur menurut urutan dan arti serta menyeluruh dan sistematis.”
Ilmu lahir karena manusia diberkahi Tuhan suatu sifat ingin tahu. Keingintahuan seseorang terhadap permasalahan di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Misalnya, dari pertanyaan apakah bulan mengelilingi bumi, apakah matahari mengelilingi bumi, timbul keinginan untuk mengadakan pengamatan secara sistematis, yang akhirnya melahirkan kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bahwa bulan mengelilingi matahari dan bumi juga mengelilingi matahari. Juga, bidang ilmu-ilmu sosial, keingintahuan tentang masalah-masalah sosial telah membuat orang mengadakan pengamatan-pengamatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena sosial seperti Sosiologi, Antropologi dan sebagainya.
Menurut Maranon (1953), ilmu mencakup lapangan yang sangat luas, menjangkau semua aspek tentang progress manusia secara menyeluruh. Termasuk di dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus, yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Tan (1954) berpendapat bahwa ilmu bikan saja merupakan suatu himpunan pengetahuan yang sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi. Ilmu telah memberikan metode dan sistem, yang mana tanpa ilmu semua itu akan merupakan suatu kebutuhan saja. Nilai dari ilmu tidak saja terletak dalam pengetahuan yang dikandungnya, sehingga si penuntut ilmu menjadi seorang yang ilmiah, baik dalam keterampilan, dalam pandangan maupun tindak-tanduknya.
Ilmu menemukan materi-materi alamiah serta memberikan suatu rasionalisasi sebagai hukum alam. Ilmu membentuk kebiasaan serta meningkatkan keterampilan observasi, percobaan (eksperimentasi), klasifikasi, analisis serta membuat generalisasi. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus-menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir secara logis, yang sering disebut penalaran. Biasanya manusia normal selalu berpikir dengan situasi permasalahan. Hanya terhadap hal-hal yang lumrah saja, biasanya reaksi manusia terjadi tanpa berpikir. Ini adalah suatu kebiasaan atau tradisi. Akan tetapi, jika masalah yang dihadapi adalah masalah yang rumit, maka manusia normal akan mencoba memecahkan masalah tersebut menurut langkah-langkah tertentu. Berpikir demikian dinamakan berpikir secara reflektif (reflective thinking).
4
Bagaimana kira-kira proses yang terjadi ketika kita berpikir? Menurut Dewey (1993), proses berpikir dari manusia normal mempunyai urutan sebagai berikut:
a. Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal sifat ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
b. Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
c. Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesis, inferensi atau teori.
d. Ide-ide pemecahan diurakan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data).
e. Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkannya baik melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.
Menurut Kelly (1930), proses berpikir menuruti langkah-langkah sebagai berikut: a. Timbul rasa sulit.
b. Rasa sulit tersebut didefinisikan. c. Mencari suatu pemecahan sementara.
d. Menambah keterangan terhadap pemecahan tadi yang menuju kepada kepercayaan bahwa pemecahan tersebut adalah benar.
e. Melakukan pemecahan lebih lanjut dengan verifikasi eksperimental (percobaan). f. Mengadakan penilaian terhadap penemuan-penemuan eksperimental menuju
pemecahan secara mental untuk diterima atau ditolak sehingga kembali menimbulkan rasa sulit.
g. Memberikan suatu pandangan ke depan atau gambaran mental tentang situasi yang akan datang untuk dapat menggunakan pemecahan tersebut secara tepat. Dari keterangan-keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa berpikir secara nalar mempunyai dua buah kriteria penting, yaitu:
1) Ada unsur logis di dalamnya.
Tiap bentuk berpikir mempunyai logikanya sendiri. Dengan perkataan lain, berpikir secara nalar tidak lain adalah berpikir secara logis. Perlu juga dijelaskan, bahwa berpikir secara logis mempunyai konotasi jamak dan bukan konotasi tunggal. Karena itu, suatu kegiatan berpikir dapat saja logis menurut logika lain. Kecenderungan tersebut dapat menjurus kepada apa yang dinamakan kekacauan penalaran. Hal ini disebabkan karena tidak adanya konsistensi dalam menggunakan pola berpikir.
2) Ada unsur analitis di dalamnya.
Dengan logika berpikir yang ada ketika berpikir, maka kegiatan berpikir itu secara sendirinya mempunyai sifat analitis, yang mana sifat ini merupakan konsekuensi dari adanya pola berpikir tertentu. Berpikir secara ilmiah berarti melakukan kegiatan analitis dalam menggunakan logika secara ilmiah. Dengan demikian, berpikir tidak terlepas dari daya imajinatif seseorang dalam merangkaikan rambu-rambu pikirannya ke dalam suatu pola tertentu, yang dapat timbul sebagai kejeniusan seorang ilmuwan.
2. Apa yang Dimaksud dengan Penelitian?
Penelitian adalah terjemahan dari kata Inggris research. Dari itu, ada juga ahli yang menerjemahkan research sebagai riset. Research itu sendiri berasal dari kata re
5
yang berarti “kembali” dan to search yang berarti mencari. Dengan demikian, arti sebenarnya dari research atau riset adalah “mencari kembali”.
Menurut Kamus Webster’s New International, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Menurut ilmuwan Hillway (1956) penelitian tidak lain adalah suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan masalah yang tepat terhadap masalah tersebut. Whitney (1960) menyatakan bahwa di samping untuk memperoleh kebenaran, kerja menyelidiki harus pula dilakukan secara sungguh-sungguh dalam waktu yang lama. Dengan demikian, penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran sehingga penelitian juga merupakan metode berpikir secara kritis.
Dalam hubungannya dengan definisi penelitian, Gee (1975) memberikan tanggapan sebagai berikut:
“Dalam berbagai definisi penelitian, terkandung ciri tertentu yang lebih kurang bersamaan. Adanya suatu pencarian, penyelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurangnya sebuah pengaturan baru atau interpretasi (tafsiran) baru dari pengetahuan yang timbul. Metode yang digunakan bisa saja ilmiah atau tidak, tetapi pandangan harus kritis dan prosedur harus sempurna. Tenaga bisa saja signifikan atau tidak. Dalam masalah aplikasi, maka tampaknya aktivitas lebih banyak tertuju pada pencarian (search) dari pada suatu pencarian kembali (re-search). Jika proses yang terjadi adalah hal-hal yang selalu diperlukan, maka penelitian sebaiknya digunakan untuk menentukan ruang lingkung dari konsep dan bukan kehendak untuk menambah definisi lain terhadap definisi-definisi yang telah begitu banyak”.
Penelitian denganmenggunakan metode ilmiah (scientific method) disebut penelitian ilmiah (scientific research). Dalam penelitian ilmiah ini, selalu ditemukan dua unsur penting, yaitu unsur observasi (pengamatan) dan unsur nalar (reasoning) (Ostle, 1975). Unsur pengamatan merupakan kerja dengan mana pengetahuan menggunakan persepsi (sense of perception). Nalar, adalah suatu kekuatan dengan mana arti dari fakta-fakta, hubungan dengan interelasi terhadap pengetahuan yang timbul sebegitu jauh ditetapkan sebagai pengetahuan yang sekarang.
3. Ilmu, Penelitian dan Kebenaran
Ilmu dan penelitian mempunyai hubungan yang sangat erat. Menurut Almack (1930), hubungan antara dan penelitian adalah seperti hasil dan proses. Penelitian adalah proses, sedangkan hasilnya adalah ilmu (lihat gambar 1.1)
Gambar 1.1
(Proses) (Hasil)
Akan tetapi Whitney (1960), berpendapat bahwa ilmudan penelitian adalah sama-sama proses, sehingga ilmu dan penelitian adalah proses yang sama. Hasil dari proses tersebut adalah kebenaran (truth), lihat pada gambar 1.2.
6 Gambar 2.1
(Proses) (Proses) (Hasil)
Bagaimana pula hubungan antara berpikir, penelitian dan ilmu? Konsep berpikir, ilmu dan penelitian juga sama. Berpikir, sama seperti halnya dengan ilmu, juga merupakan proses untuk mencari kebenaran. Proses berpikir adalah hasil refleksi yang hati-hati dan teratur. Kebenaran yang diperoleh melalui penelitian terhadap fenomena yang fana adalah suatu kebenaran yang telah ditemukan melalui proses ilmiah, karena penemuan tersebut dilakukan secara ilmiah. Sebaliknya banyak juga kebenaran terhadap fenomena yang fana diterima tidak melalui proses penelitian.
Umumnya, suatu kebenaran ilmiah dapat diterima dikarenakan oleh tiga hal, yaitu: (1) Adanya Koherensi; (2) Adanya Korespondensi dan; (3) Pragmatis. Suatu pernytaan dianggap benar jika pernyataan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya, suatu pernyataan bahwa si Badu akan mati dapat dipercaya, karena pernyataan tersebut koheren dengan pernyataan bahwa semua orang akan mati. Kebenaran matematika misalnya, didasarkan atas sifat koheren, karena dalil matematika disusun berdasarkan beberapa aksioma yang telah diketahui kebenarannya terlebih dahulu.
4. Kebenaran Non Ilmiah
Tidak selamanya penemuan kebenaran diperoleh secara ilmiah. Kadang kebenaran dapat ditemukan melalui proses non ilmiah, seperti:
a. Penemuan Kebenaran Secara Kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan tidak lain dari takdir Allah. Walaupun penemuan kebenaran secara kebetulan bukanlah kebenaran yang ditemukan secara ilmiah, tetapi banyak penemuan tersebut telah menggoncangkan dunia Pengetahuan.
b. Penemuan Kebenaran Secara Common Sense (Akal Sehat)
Common sense merupakan serangkaian konsep atau bagan konseptual yang memuaskan untuk digunakan secara praktis. Akal sehat dapat menghasilkan kebenaran dan dapat pula menyesatkan. Misalnya, di abad-19 dengan akal sehat (common sense) orang percaya bahwa hukuman untuk anak didik merupakan alat utama dalam pendidikan.
c. Penemuan Kebenaran Melalui Wahyu
Kebenaran yang didasarkan atas wahyu merupakan kebenaran mutlak, jika wahyu datangnya dari Allah melalui Rosul dan Nabi. Kebenaran yang diterima sebagai wahyu bukanlah disebabkan oleh hasil usaha penalaran manusia secara aktif. Wahyu diturunkan Allah kepada Rosul dan Nabi. Akan tetapi, kebenaran yang dibawakan melalui wahyu merupakan kebenaran yang asasi.
d. Penemuan Kebenaran Secara Intuitif
Kebenaran dengan intuisi diperoleh secara cepat sekali melalui proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir, ataupun melalui suatu renungan. Kebenaran yang diperoleh secara intuisi sukar dipercaya, karena kebenaran ini tidak menggunakan langkah yang sistematis untuk memperolehnya.
7
e. Penemuan Kebenaran Secara Trial and Error
Bekerja secara trial and error adalah melakukan sesuatu secara aktif dengan mengulang-ngulang pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar-nukar cara dan materi. Pengulangan tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang jelas sampai seseorang menemukan sesuatu.
f. Penemuan Kebenaran Melalui Spekulasi
Penemuan kebenaran secara spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya dari penemuan secara trial and error. Jika dalam penemuan secara trial and error peneliti tidak mempunyai panduan sama sekali, maka dalam penemuan dengan spekulasi, seseorang dibimbing oleh suatu pertimbangan, walaupun pertimbangan tersebut kurang dipikirkan secara masak-masak tetapi dilaksanakan dengan suasana penuh resiko.
g. Penemuan Kebenaran Karena Kewibawaan
Kebenaran ada kalanya diterima karena dipengaruhi oleh kewajiban seseorang. Pendapat dari seorang ilmuwan yang berbobot tinggi ataupun yang mempunyai otorita dalam suatu bidang ilmu dan mempunyai banyak pengalaman sering diterima begitu saja tanpa diuji kebenarannya terlebih dahulu.
5. Proposisi, Dalil, Teori dan Fakta
Prosisi adalah pernyataan tentang sifat dari realita. Proposisi tersebut dapat diuji kebenarannya. Jika proposisi sudah dirumuskan sedemikian rupa dan sementara diterima untuk diuji kebenarannya, proposisi tersebut disebut hipotesis. Dalam ilmu sosial, proposisi biasanya berupa pernyataan antara dua atau lebih konsep. Contoh proposisi adalah (Effendi, 2012):
a. Tingkat modernitas suami istri adalah salah satu faktor penentu perilaku kontraseptif mereka.
b. Penerimaan kontrasepsi modern dipengaruhi oleh persepsi tentang nilai ekonomis anak.
Kedua pernyataan di atas adalah proposisi. Proposisi tersebut menghubungkan dua faktor yaitu faktor penyebab dari faktor lainnya. Proposisi ini jika dirumuskan untuk diuji kebenarannya, ia akan menjadi hipotesis. Hipotesis adalah suatu pernyataan yang diterima secara sementara untuk diuji kebenarannya.
Proposisi yang sudah mempunyai jangkauan cukup luas dan telah didukung oleh data empiris dinamakan dalil (scientific law). Dengan perkataan lain, dalil adalah singkatan dari suatu pengetahuan tentang hubungan sifat-sifat tertentu, yang bentuknya lebih umum jika dibandingkan dengan penemuan-penemuan empiris yang mana dalil tersebut didasarkan (Seltiz, 1964).
Teori adalah sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematis dalam gejala social maupun natura yang akan diteliti. Teori merupakan abstraksi dari pengertian atau hubungan dari proposisi atau dalil. Menurut Kerlinger (1973), teori adalah sebuah set konsep atau construct yang berhubungan satu dengan lainnya, suatu set dari proposisi yang mengandung suatu pandangan sistematis dari fenomena.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan jika ingin mengenal teori. Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:
8
1. Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri atas konstrak (construct) yang sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam set tersebut secara jelas pula.
2. Teori menjelaskan hubungan antar variabel atau antar konstrak (construct) sehingga pandangan yang sistematis dari fenomena-fenomena yang diterangkan oleh variabel-variabel dengan jelas kelihatan.
3. Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variabel mana yang berhubungan dengan variabel mana.
Teori adalah alat dari ilmu (tool of science). Di lain pihak, teori juga merupakan alat penolong teori. Sebagai alat dari ilmu, teorimempunyai peranan sebagai berikut: a. Teori mendefinisikan orientasi utama dari ilmu dengan cara memberikan definisi
terhadap jenis-jenis data yang akan dibuat abstraksinya.
Fungsi pertama dari teori adalah memberi batasan terhadap ilmu dengan cara memperkecil jangkauan (range) dari fakta yang akan dipelajari. Karena banyak fenomena yang akan dipelajari dari berbagai aspek, maka teori membatasi aspek mana saja yang akan dipelajari dari fenomena tertentu.
b. Teori memberikan rencana (scheme) konseptual, dengan rencana mana fenomena-fenomena yang relevan disistematiskan, diklasifikasikan dan dihubung-hubungkan. Tugas dari ilmu juga mengembangkan sistem klasifikasi dan struktur konsep. Dalam pengembangan tersebut, ilmu memegang peranan penting, karena konsep serta klasifikasi selalu berubah karena pentingnya suatu fenomena berubah-ubah.
c. Teori memberikan ringkasan terhadap fakta dalam bentuk generalisasi empiris dari sistem generalisasi.
Teori meringkaskan hasil penelitian. Dengan adanya teori, generalisasi terhadap hasil penelitian dapat dengan mudah dilakukan. Teori juga dapat memadu generalisasi-generalisasi satu sama lain secara empiris sehingga dapat diperoleh suatu ringkasan hubungan antar generalisasi atau pernyataan.
d. Teori memberikan prediksi terhadap fakta.
Penyingkatan fakta-fakta oleh teori akan menghasilkan uniformitas dari pengamatan-pengamatan. Dengan adanya uniformitas tersebut, maka dapat dibuat prediksi terhadap fakta-fakta yang akan datang.
e. Teori memperjelas celah-celah di dalam pengetahuan kita.
Karena meringkaskan fakta-fakta sekarang dan memprediksikan fakta-fakta yang akan datang, yang belum diamati, maka teori dapat memberikan petunjuk dan memperjelas daerah mana dalam khazanah ilmu pengetahuan yang belum dieksplorasikan.
Penelitian dan teori mempunyai hubungan yang sangat erat. Teori memberikan dukungan kepada penelitian dan di lain pihak, penelitian juga memberikan kontribusi kepada teori. Teori dapat memandu penelitian sehingga penelitian yang dilakukan memberikan hasil yang diharapkan. Kontribusi timbal balik antara teori dan penelitian merupakan proses yang berketerusan. Penelitian yang didasarkan atas pertimbangan teori dapat menghasilkan isu-isu teoritis yang baru. di lain pihak, adanya isu-isu teoritis yang baru tersebut menghendaki adanya penelitian lebih lanjut. Proses tersebut akan terjadi terus-menerus.
9 BAB II. KONSEP DASAR RISET
1. Pendahuluan
Beberapa peneliti berargumentasi bahwa riset harus dilakukan secara ilmiah. Sebagai tandingan riset metode naturalis. Walaupun secara konsep kedua metode ini berbeda, tetapi sebaiknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan, karena keduanya mempunyai kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahannya tersendiri, sehingga seharusnya digunakan secara komplementer, satu melengkapi yang lainnya. Pendekatan komplementer ini disebut dengan triangulasi.
Riset metode ilmiah menggunakan pendekatan deduksi dalam proses pengambilan keputusannya, sedang riset metode naturalis menggunakan pendekatan induksi. Macam-macam riset harus diketahui oleh periset, karena periset harus memilih jenis riset yang akan dilakukan ini. Untuk melakukan riset dengan baik, maka karakteristik riset yang baik perlu dipahami untuk dijadikan pedoman.
2. Definisi Riset
Riset (research) didefinisikan oleh Sekaran (2003) sebagai:
Suatu investigasi atau keingintahuan saintifik yang terorganisasi, sistematik, berbasis data, kritikal terhadap suatu masalah dengan tujuan menemukan jawaban atau solusinya (an organized, systematic, data-based, critical, scientific inquiry or investigation into a specific problem under taken the objective of finding answers or solution to it).
Sedang Kinney, Jr. (1986) mendefinisikan riset (research) sebagai berikut:
Pengembangan dan pengujian teori-teori baru tentang bagaimana dunia nyata bekerja atau penolakan dari teori-teori yang sudah ada.
Lebih spesifik pada aplikasi di bisnis, riset bisnis (business research) didefinisikan oleh Cooper and Schindler (2001) sebagai:
Pencarian yang sistematik yang menyediakan informasi untuk mengarahkan keputusan-keputusan-keputusan bisnis (as a systematic inquiry that-provides information to guide business decicions).
3. Riset Ilmiah
Definisi-definisi riset tersebut menunjukkan riset yang menggunakan metode ilmiah (scientific method). Cooper and Schindler (2001;2003) menunjukkan bahwa hal penting dari riset metode ilmiah (scientific method) adalah:
a. Observasi langsung terhadap fenomena (direct observation of phenomena). b. Variabel-variabel, metode-metode dan prosedur-prosedur riset didefinisikan
dengan jelas (clearly defined variable, methods and procedures).
c. Hipotesis-hipotesis diuji secara empiris (empirically testable hypotheses).
d. Mempunyai kemampuan mengalahkan hipotesis saingan (the ability to rule out rival hypoyhese).
e. Justifikasi kesimpulan secara statistic tidak secara bahasa (statistical rather than linguistic justification on conclucion) dan
f. Mempunyai proses membetulkan dirinya sendiri (the self-correcting process). Kerlinger (1973) juga menjelaskan riset metode ilmiah (scientific method) sebagai investigasi yang sistematik, terkendali dan empiris terhadap suatu set hipotesis-hipotesis yang dibangun dari suatu struktur teori.
10
Dari definisi di atas, maka dapat dipahami bahwa penelitian menggunakan metode ilmiah atau metode saintifik (scientific method) dilakukan dengan membangun satu atau lebih hipotesis-hipotesis berdasarkan suatu struktur atau kerangka teori dan kemudian menguji hipotesis atau hipotesis-hipotesis tersebut secara empiris, seperti tampak pada gambar berikut ini.
Gambar 3.2 Proses Penelitian Menggunakan Metode Saintifik Pengkonstruksian teori (theory construction)
Pengujian atau verifikasi teori (theory verification)
Dari gambar 3.2 terlihat bahwa penelitian menggunakan metode ilmiah melibatkan theory construction dan theory verification. Pengkonstruksian teori (theory construction) adalah proses untuk membentuk struktur atau kerangka teori. Struktur atau kerangka teori adalah hubungan sebab-akibat (casual links) antara variabel-variabel yang akan diteliti yang didukung oleh suatu teori yang sudah ada atau hasil penelitian-penelitian sebelumnya atau oleh alas an-alasan logis atau alasan-alasan konsep (conseptual reasoning) yang dapat mengarahkan ke suatu hubungan-hubungan variabel.
Dari hasil struktur teori dapat dikembangkan suatu hipotesis yang relevan dengan struktur teorinya. Hipotesis ini kemudian akan diuji secara empiris (dengan menggunakan fakta).
Verifikasi teori (theory verification) adalah proses memverifikasi teori lewat pengujian hipotesis secara empiris. Secara empiris berarti menggunakan fakta yang obyektif, secara hati-hati diperoleh, benar-benar terjadi, tidak tergantung dari kepercayaan atau nilai-nilai (value free atau tidak value laden) peneliti maupun kepercayaan orang lain. Bebas nilai (value free) adalah peneliti tidak menggantungkan pada kepercayaannya tetapi pada fakta yang ditunjukkan secara empiris.
Sekaran (1992; 2003) lebih lanjut membedakan riset saintifik dengan riset-riset lainnya sebagai berikut:
1. Berketujuan (purposiveness), yaitu riset saintifik mempunyai tujuan yang jelas. 2. Kokoh (rigor), menunjukkan proses riset saintifik dilakukan dengan hati-hati
(prudent) dengan tingkat keakurasian yang tinggi. Basis teori dan rancangan riset yang baik akan menambah kekokohan dari riset saintifik.
3. Ujibilitas (tesability) menunjukkan bahwa riset saintifik dapat menguji hipotesis-hipotesis dengan pengujian statistic menggunakan data yang dikumpulkan. 4. Replikabilitas (eplircability), yaitu riset saintifik dapat diulang dengan
menggunakan data yang lain. Struktur Teori
Hipotesis-hipotesis
11
5. Ketepatan dan keyakinan (precicion dan confidence), menunjukkan bahwa tidak ada riset yang sempurna dan ketepatannya tergantung keyakinan periset yang diterima umum. Kesalahan pengukuran data dan bias yang lainnya dapat menyebabkan ketepatan riset menurun. Desain riset harus dilakukan dengan baik sehingga hasil riset dapat dekat dengan kenyataannya (precicion) dengan tingkat probabilitas keyakinan (confidence) tinggi yang harus diterapkan.
6. Objektivitas (objectivity), menunjukkan bahwa riset saintifik memberikan hasil dan konklusi yang obyektif tidak dipengaruhi oleh faktor subyektif peneliti.
7. Generalisasibilitas (generalizability), yaitu riset saintifik mampu untuk diuji ulang dengan hasil yang konsisten dengan waktu, obyek dan situasi yang berbeda. 8. Sederhana (parsimony) yaitu riset saintifik mempunyai kemudahan di dalam
menjelaskan risetnya.
4. Riset Metode Ilmiah Vs Riset Metode Naturalis
Lawan dari penelititan pendekatan ilmiah (scientific method) adalah penelitian pendekatan alamiah atau naturalis (naturalistic approach). Pendekatan naturalis menolak bentuk terstruktur dari riset. Proses pembentukan struktur teori tidak dilakukan. Isu penelitian atau pertanyaan riset tidak perlu dihubungkan dengan teori-teori yang ada kecuali jika tujuan penelitiannya ingin membuktikan atau menemukan keterbatasan dari suatu teori. Tujuan riset seperti ini jarang dilakukan dan yang umum dilakukan adalah untuk menemukan teori yang baru. periset pendekatan naturalis bebas berpikir dengan teori apapun. Pendekatan naturalis juga tidak membutuhkan hipotesis-hipotesis secara eksplisit.
Menurut Abdel-Khalik dan Ajinkya (1979), penelitian menggunakan metode naturalis ini sejalan dengan grounded theory yang dikembangkan oleh Glaser dan Straus (1967). Teori membumi (grounded theory) percaya bahwa cara terbaik untuk menjelaskan dan membangun teori adalah dengan menemukannya dari data. Pendekatan ini menganggap bahwa teori grounded didatanya. Pendekatan saintifik menolak hal ini dan berargumentasi bahwa “fact do not speak for themselves” (Blalock, 1969). Pendekatan saintifik membutuhkan pengujian secara kuantitatif dan statistik.
Perbedaan dari penelitian menggunakan metode saintifik atau ilmiah dengan pendekatan naturalis dapat diringkas dalam tabel berikut:
Tabel 1.2
No Pendekatan Saintifik Pendekatan Naturalis
1 Menggunakan struktur teori. Tidak menggunakan struktur teori karena lebih bertujuan menemukan teori bukan memverifikasi teori, kecuali tujuan penelitiannya ingin membuktikan atau menemukan keterbatasan dari suatu teori. 2 Struktur teori digunakan untuk
membangun satu atau lebih hipotesis-hipotesis.
Hipotesis jika ada sifatnya hanya implisit tidak eksplisit.
3 Pendekatan ilmiah melakukan setting
artificial misalnya dengan metode
eksperimen dengan memanipulasi beberapa variabel.
Pendekatan naturalis menolak bentuk terstruktur dari riset. Pendekatan naturalis juga menolak pengaturan-pengaturan riset secara artifisial.
Penelitian pendekatan naturalis lebih menggunakan dan menjaga setting alamiah (natural) di mana fenomena atau perilaku yang akan diamati terjadi.
12 4 Pendekatan saintifik menolak bahwa
teori membumi (grounded) didatanya dan berargumentasi bahwa “fact do not
speak for themselves” (Blalock, 1969).
Sejalan dengan konsep grounded theory yang dikembangkan oleh Glaser dan Straus (1967) yangpercaya bahwa cara terbaik untuk menjelaskan dan membangun teori adalah dengan menemukannya dari data. Pendekatan ini mengganggap bahwa teori grounded didatanya.
5 Pendekatan saintifik membutuhkan pengujian secara kuantitaitf dan statistik.
Pengikut grounded theory termasuk yang mengembangkan metode penelitian eksplorasi (exploratory research) yang tidak menggunakan data kuantitatif dan teknik statistik untuk menyimpulkan hasil yang diobservasi. Metode naturalis dan metode eksplorasi bersifat kualitatif menggunakan data kualitatif.
Pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis masing-masing mempunyai kelemahan-kelemahan dan kebaikan-kebaikannya masing-masing. Tabel berikut menunjukkan kelemahan-kelemahan dan kebaikan-kebaikan untuk kedua pendekatan tersebut:
Tabel 2.2
No Pendekatan Saintifik Pendekatan Naturalis
1 (+) Menilai data lebih obyektif, karena tidak boleh terpengaruh oleh nilai atau kepercayaan periset atau orang lain (harus value free).
(-) Menilai data lebih subyektif karena hasil observasi langsung periset dan periset sendiri yang menyimpulkannya.
2 (-) Setting tidak natural (artifisial) dapat
menurunkan validitas penelitian. (+) Setting natural tidak diubah oleh periset. 3 (-) Penelitian kurang terfokus tetapi
lebih luas, sehingga kurang mendalam. (+) Penelitian lebih terfokus dan lebih mendalam. 4 (-) Penelitian biasanya menjelaskan
dan memprediksi fenomena yang tampak, sehingga lebih mengarah ke verifikasi teori.
(+) Penelitian lebih mendetail ke hal-hal di bawah permukaan yang belum tampak, seperti misalnya penelitian tentang kultur. Lebih untuk menentukan teori baru.
5 (+) Dari segi kemudahan mendapatkan data, data sekunder yang tersedia dapat digunakan.
(-) Data primer harus dikumpulkan sendiri oleh periset yang biasanya membutuhkan waktu yang lama (bulanan sampai dengan tahunan) untuk mendapatkannya dengan terlibat langsung sebagai pengobservasi di tempat kejadian.
6 (+) Eksternal validitas lebih tinggi karena dapat melibatkan permasalahan yang lebih luas menggunakan waktu yang lebih panjang dan perusahaan yang lebih banyak sebagai obyek penelitian karena tersedia di data sekunder.
(-) Eksternal validitas rendah karena hanya melibatkan satu permasalahan di suatu organisasi saja karena data primer harus diobservasi sendiri yang tidak mungkin dan membutuhkan banyak waktu untuk melibatkan banyak organisasi.
Keterangan: Tanda (+) menunjukkan kelebihannya dan tanda (-) menunjukkan kekurangannya **Catatan:
Walaupun secara konsep riset metode ilmiah dan riset metode naturalis berbeda, tetapi sebaiknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan, karena keduanya
13
mempunyai kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahannya tersendiri, sehingga seharusnya digunakan secara komplementer, satu dapat melengkapi yang lainnya. Pendekatan komplementer ini disebut dengan triangulation. Jika salah satu dari pendekatan ini harus dipilih, bukan berarti yang lebih baik dari yang lainnya, tetapi karena hanya ada perbedaan aliran risetnya, perbedaan kondisi atau lingkungan risetnya, pemilihan kekuasaan atau kedalaman risetnya.
14 BAB III. JENIS-JENIS RISET (SKRIPSI, TESIS, DISERTASI)
Ketika menempuh studi di perguruan tinggi, pada jenjang akhir proses studinya mahasiswa S1 dipersyaratkan untuk menyusun skripsi, mahasiswa S2 menyusun tesis dan mahasiswa menyusun disertasi. Dalam pengalaman membimbing mahasiswa S1 selama ini, terdapat kebingungan yang sering dihadapi oleh mahasiswa dalam menyusun karya akhirnya tersebut. Kebingungan tersebut disebabkan terutama karena dosen pembimbingnya tidak secara eksplisit menyatakan, di awal proses pembimbingan, batasan bagi jenis penelitian skripsi yang dipersyaratkan dan ketidakmengertian mahasiswa tentang sejauh dan sedalam apa karya akhir yang merupakan syarat kelulusan program studinya.
Ketidaksepahaman antara dosen dan mahasiswa tersebut terkait dengan kedalaman materi riset atau penelitian yang dipersyaratkan karena seringkali tesis yang disusun sebenarnya hanya cocok untuk level skripsi atau sebaliknya, seringkali skripsi yang diminta pembimbing sudah memasuki level tesis sehingga mahasiswa merasa kesulitan untuk menyelesaikannya. Bahkan yang sering ditemui adalah kebingungan mahasiswa dalam menyusun disertasi S3 nya, karena tidak adanya panduan yang digunakan sebagai acuan.
Sementara itu, di antara dosen pembimbing pertama, dosen pembimbing kedua atau dosen pembimbing ketiga seringkali timbul perbedaan orientasi dan pengertian karena perbedaan latar belakang pendidikan yang mereka tempuh saat menempuh program S3 nya dulu atau bahkan mereka mengalami perbedaan standar pencapaiannya. Karena saat mengambil S3 dulu, mereka menempuh pendidikan di negara yang berbeda. Misalnya, di Indonesia, Jepang, Australia, Inggris, Perancis atau Amerika Serikat yang seringkali menetapkan standar yang berbeda bahkan di antara promotor di satu universitas dengan promotor dari universitas lainnya dalam satu negara atau bahkan perbedaan standar tersebut sering terjadi antara dosen yang satu dengan dosen yang lain dalam satu universitas.
Sebenarnya bagi mahasiswa level S1 perguruan tinggi di negara maju seperti di Inggris dan Australia, mahasiswa tidak diwajibkan untuk membuat skripsi yang berkaitan dengan “penelitian ilmiah” tetapi lebih pada pemberian tugas komprehensif dan tugas-tugas yang mengarahkan pengertian pada penerapan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dalam praktik di lapangan kerja. Oleh karena itu, pemberian tugas tersebut lebih diarahkan untuk memahami isi kuliah, pembentukan pola pikir yang komprehensif dan sistematika kerja di lapangan, belum merupakan dasar sebuah riset. Fokus dari lulusan S1 adalah menciptakan lulusan yang mampu bekerja, baik bekerja di berbagai perusahaan maupun membentuk usahanya sendiri. Tentu saja kemampuan yang diharapkan dari seorang lulusan S1 adalah bekerja secara sistematis, dengan pendekatan ilmiah yang ada dasar teorinya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tetapi, harus diingat seorang lulusan S1 tidak dirancang untuk menciptakan “ilmu baru”, pendekatan ilmiah-ilmiah baru.
Bagi mahasiswa S2, terdapat dua aliran ekstrem yang ditempuh mahasiswa dan dibedakan menjadi Master by Course dan Master by Research. Di Australia, untuk mahasiswa yang mengambil jalur Master by Course, pembuatan tesis seringkali dilakukan secara berkelompok, antara dua sampai empat orang dengan kajian yang komprehensif sehingga setiap orang dalam anggota kelompok tersebut memiliki peran yang signifikan. Master by Course biasanya ditempuh di negara Australia, Amerika Serikat, Indonesia, Inggris, Perancis, Belanda, Jepang dan mayoritas jenjang
15
pendidikan master di dunia. Hanya intensitas penyusunan tesisnya bervariasi kadarnya, tergantung di negara mana pendidikan itu ditempuh.
Hanya di negara Australia sajalah yang menekankan penyusunan tesis secara berkelompok pada beberapa program studi tertentu. Walaupun di beberapa universitas di Indonesia sudah mulai dilakukan pembuatan tesis berkelompok, terutama di sekolah bisnis atau kajian sosiologis. Selain untuk mengkaji permasalahan yang dihadapi secara lebih mendalam dan lingkupnya luas, tujuan yang ingin dicapai dengan pengerjaan tesis berkelompok ini adalah untuk menyesuaikan dengan periode waktu studi yang terbatas dan untuk melatih kemampuan kerja sama antar anggota kelompok. Selain tentu saja karena masalah dalam bidang bisnis, yang secara komprehensif ditemui di lapangan, sulit diselesaikan dalam batas waktu studi yang biasanya berkisar 3-6 bulan, lama penyelesaian yang dipersyaratkan oleh universitas.
Sementara itu, Master by Research menekankan pada 100 % pembuatan tesis secara individu dan sebagai hasil akhir, tesis tersebut harus diuji secara lebih intens oleh tim penguji internal universitas atau penguji eksternal dari universitas yang lain. Negara yang menganut Master by Research adalah Inggris dan Australia dan biasanya Master by Research ini menjadi syarat untuk dapat melanjutkan ke program doktor. Oleh karena itu, pemegang Master by Course seringkali masih diwajibkan untuk melengkapi beberapa persyaratan semacam matrikulasi atau preliminary sebelum bisa masuk ke program doktorat tersebut. Jadi jika boleh dibandingkan, Master by Research memiliki strata yang lebih tinggi karena tidak membutuhkan persyaratan apapun sebelum masuk ke program doktor dan mahasiswa yang bersangkutan dianggap sudah memiliki kemampuan riset sebelumnya yang menyangkut metodologi penelitian, pengolahan data, analisis dan presentasi hasil riset dalam publikasi ilmiah.
Untuk mahasiswa S3 juga terdapat dua mazhab, yaitu pertama S3 yang ditempuh dengan metode campuran seperti yang dilakukan di Indonesia, Amerika Serikat, Perancis, Jepang dan kedua metode riset murni seperti di Australia dan Inggris. Sebenarnya kedua mazhab S3 tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu menghasilkan kontribusi ilmiah yang signifikan. Hanya saja penganut mazhab yang pertama perlu membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar untuk melakukan riset, sedangkan penganut mazhab kedua menganggap bahwa yang mengambil S3 adalah mature student atau mahasiswa dewasa, baik dari sikap maupun bekal keilmuan, sehingga yang bersangkutan dianggap sudah seharusnya memiliki kesadaran sendiri untuk mencari sumber dan cara penelitian yang benar. Walaupun demikian, tujuan akhir program S3 dapat diringkaskan menjadi dua macam dan biasanya inilah yang dicari dan diperiksa oleh penguji dari disertasi yang dikumpulkan, yaitu Pertama, orisinalitas atau keaslian topic riset yang disusun yang dapat menyangkut penerapan metode baru, lingkup penelitian yang baru, formula atau pendekatan baru. Kedua, knowledge contribution, yang berupa kontribusi pengetahuan yang disumbangkandari hasil riset tersebut ke kalangan akademis dan mengisi gap yang masih ada dari periset sebelumnya.
Oleh karena itu, dalam penelitian untuk program doktor, penting untuk dapat mengetahui akar suatu ilmu dan sampai di mana riset telah dilakukan dalam lingkup keilmuannya yang seringkali diistilahkan sebagai state of the arts. Adanya internet dan situs web seperti saat ini benar-benar sangat membantu proses penelitian, bukan saja mengetahui sejauh mana riset telah dilakukan oleh para pakar sedunia, tetapi juga klaim yang lebih valid terhadap nilai kebaruan hasil penelitian dengan mengeceknya diberbagai jurnal ataupun situs web universitas yang telah tersebar.
16
Penjelasan tentang titik berat penelitian di level S1, S2 dan S3 diringkas dalam tabulasi di bawah agar menjadi perhatian kita dalam membuat riset sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
Tabel 3.3 Fokus Penelitian S1, S2 dan S3
Aspek Skripsi Tesis Disertasi
Sifat Penerapan pendekatan/teori dalam praktek
Kombinasi penerapan beberapa pendekatan dalam praktek, atau pembuatan metode baru dalam penyelesaian masalah, atau pengujian atas teori yang sudah ada dan penambahan dari kekurangan teori lama
Perumusan
pendekatan yang sama sekali baru
atau suatu
permasalahan
Karakter Praktis applicable Praktis, penerapan, kombinasi
beberapa teori Teori baru yang validitasnya dapat diuji Penerapan pada insitusi yang berbeda sudah merupakan hasil skripsi yang berbeda
Penerapan pada insitusi yang berbeda, pendekatan yang tidak harus terikat pada teori
yang sudah ada,
pendapat/sumbangan penulis
pada pemecahan
masalah/penyusunan metode yang paling sesuai dengan pokok bahasan
Pendekatan yang komprehensif terhadap suatu permasalahan yang belum ditelaah oleh peneliti sebelumnya terdapat knowledge contribution dan orisinilitas dari penulis terhadap permasalahan yang dipecahkan Jangka waktu
penyusunan 3-6 bulan 3-12 bulan 3-5 bulan
Target
pembaca Orang bergerak di bidang yang tersebut dan akademisi terbatas
Akademisi level nasional, praktisi atau orang yang bergerak di bidang riset
Mayoritas para peneliti terkait dan para akademisi di bidang tersebut, level nasional dan internasional
Kedalaman
ilmiah Merupakan analisis terhadap permasalahan
Setidaknya merupakan gabungan antara analisis dan sintesis terhadap permasalahan
Harus merupakan analisis, sintesis dan pemikiran baru Referensi Referensi minimal
satu pendekatan dalam buku ajar (text book)
Minimal beberapa pendekatan yang ditelaah (reviewed), 1-10 jurnal
40-200 jurnal, buku ajar sebagai referensi setiap langkah yang dicapai. Kajian harus dilakukan terhadap referensi yang diacu Proses
pembimbingan 1x1 minggu; 0,5 jam 1x1 minggu; 1-0,5 jam 1x1 mingu; 0,5-2 jam Proses 20 menit 25 menit presentasi Siding tertutup Pengujian Presentasi, 2 2 penguji @ 30 menit. Bagi Siding terbuka,
17 penguji @ 25 menit Master by Research seringkali
pengujian dilakukan melalui pengiriman tesis untuk diuji pakar di luar universitas yang bersangkutan pengujian level proposal, level kedalaman teknis, dengan pembimbing 3 doktor/professor dan penguji 3-5 doktor/profesor Definisi Riset
Riset didefinisikan sebagai proses pengumpulan, pencatatan dan analisis data yang sistematis dan obyektif dalam kajian ilmu tertentu untuk mengetahui fenomena sehingga dapat diketahui rangkaian sebab-akibat dan formulasi permodelan atau pemecahannya. Dari definisi ini mensyaratkan beberapa hal:
1. Informasi riset tidak dikumpulkan secara intuitif atau kebetulan. Secara harfiah, riset berasal dari kata re-search yang berarti “mencari kembali” (search again). Hal ini mengandung konotasi sebagai sesuatu studi yang cermat yang merupakan proses investigasi didasari oleh pengetahuan (scientific investigation) di mana peneliti dengan hati-hati mengamati data untuk menemukan segala sesuatu yang dapat diketahui tentang subyek studi.
2. Informasi yang didapat atau data yang dikumpulkan dan dianalisis harus mencukupi dan akurat. Oleh karena itu, peneliti harus bersikap obyektif.
3. Obyektivitas yang dipersyaratkan adalah untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang dapat menyangkut semua aspek.
Riset Dasar dan Riset Terapan
Salah satu alasan manusia untuk melakukan riset adalah mengembangkan dan mengevaluasi suatu konsep dan teori. Riset dasar (dalam istilah asing sering disebut basic research atau pure research) dilakukan untuk memperluas batas-batas pengetahuan. Artinya, riset dasar tidak ditujukan secara langsung untuk mendapatkan pemecahan bagi suatu permasalahan yang spesifik. Hasil dari riset dasar pada umumnya tidak dapat diimplementasikan secara langsung. Riset dasar dilakukan untuk verifikasi terhadap diterimanya (acceptability) teori yang sudah ada atau untuk mengetahui lebih jauh tentang sebuah konsep.
Sebagai contoh, riset dasar dilakukan untuk menemukan apakah terdapat stereotip suku-suku di Indonesia dalam bekerja, misalnya suku Jawa, Batak, Padang, Ambon dan sebagainya sebagai dasar dalam penempatan pegawai.
Berbeda dengan riset dasar, riset terapan dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan yang spesifik atau untuk membuat keputusan tentang suatu tindakan atau kebijakan khusus. Sebagai contoh, suatu organisasi melakukan riset terapan untuk mempelajari waktu yang dihabiskan karyawannya pada komputer pribadi (personal computer) dalam seminggu.
18 BAB IV. PERSPEKTIF METODE PENELITIAN KUANTITATIF, KUALITATIF DAN
KOMBINASI A. Pengertian Metode Penelitian
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan pada hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu: cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan.
Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu
rasional, empiris dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh panca indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sedangkan sistematis, artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.
Data yang diperoleh melalui penelitian itu adalah data empiris (teramati) yang mempunyai kriteria tertentu yaitu valid, reliabel dan obyektif. Valid menunjukkan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada obyek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti. Misalnya, dalam masyarakat tertentu terdapat 5000 orang miskin, sementara peneliti melaporkan jauh di bawah atau di atas 5000 orang miskin, maka derajat validitas hasil penelitian itu rendah. Atau, misalnya dalam suatu unit kerja pemerintahan di mana dalam unit kerja tersebut iklim kerjanya sangat bagus, sementara peneliti melaporkan iklim kerjanya tidak bagus, maka data yang dilaporkan tersebut juga tidak valid. Untuk mendapatkan data yang langsungvalid dalam penelitian sering sulit dilakukan, oleh karena itu data yang telah terkumpul sebelum diketahui validitasnya, dapat diuji melalui pengujian reliabilitas dan obyektivitas. Pada umumnya kalau data itu reliabel dan obyektif, maka terdapat kecenderungan data tersebut akan valid.
Data yang valid pasti reliabel dan obyektif. Teliabel berkenaan dengan derajat konsistensi/keajegan data dalam interval waktu tertentu. Misalnya pada hari pertama wawancara, sumber data mengatakan bahwa jumlah karyawan yang berdemostrasi sebanyak 1000 orang, maka besok atau lusa pun sumber data tersebut kalau ditanya akan tetap mengatakan bahwa jumlah karyawan yang berdemonstrasi tetap sebanyak 1000 orang. Obyektivitas berkenaan dengan interpersonal agreement (kesepakatan antar banyak orang). Bila banyak orang yang menyetujui bahwa karyawan yang berdemonstrasi sebanyak 1000 orang, maka data tersebut adalah data yang obyektif (obyektif lawannya subyektif).
Data yang reliabel belum tentu valid, misalnya setiap hari seseorang karyawan perusahaan pulang malam dengan alas an ada rapat, padahal kenyataannya tidak ada rapat. Hal ini diucapkan secara konsisten tetapi berbohong, sehingga data tersebut terlihat reliabel (konsisten) tetapi tidak valid. Data yang obyektif juga belum tentu valid, misalnya 99 % dari sekelompok orang yang menyatakan bahwa si A adalah seorang pencuri dan 1 % menyatakan bukan pencuri. Pernyataan kelompok tersebut terlihat obyektif (disepakati 99 %) tetapi tidak valid.
Untuk mendapatkan data yang valid, reliabel dan obyektif dalam penelitian kuantitatif, maka instrumen penelitiannya harus valid dan reliabel, pengumpulan data dilakukan dengan cara yang benar pada sampel yang representatif (mewakili populasi). Untuk mendapatkan data dalam penelitian kualitatif yang valid dan reliabel, maka
19
peneliti harus dapat menjadi human instrument yang baik, mengumpulkan data secara triangulasi dari berbagai sumber data yang tepat dan melakukan pengujian keabsahan data. Untuk mendapatkan data yang valid, reliabel dan obyektif dalam penelitian kombinasi, maka dilakukan dengan menggabungkan cara yang dilakukan dalam metode kuantitaitf dan kualitatif.
Setiap penelitian mempunyai tujuan dan kegunaan tertentu. Secara umum tujuan penelitian ada tiga macam, yaitu yang bersifat penemuan, pembuktian dan pengembangan. Penemuan berarti data, tindakan dan produk yang diperoleh dari penelitian itu adalah betul-betul baru yang sebelumnya belum pernah ada. Pembuktian berarti data yang diperoleh itu digunakan untuk membuktikan adanya keragu-raguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu. Sedangkan pengembangan berarti memperdalam dan memperluas pengetahuan, tindakan dan produk yang telah ada.
Penelitian yang bersifat penemuan misalnya, menemukan cara yang paling efektif untuk memberantas korupsi, penelitian yang bersifat membuktikan misalnya, membuktikan apakah betul bahwa insentif dapat meningkatkan prestasi kerja di unit tertentu atau tidak. Selanjutnya penelitian yang bersifat mengembangkan misalnya, mengembangkan sistem pemberdayaan masyarakat yang efektif.
Mellaui penelitian manusia dapat menggunakan hasilnya. Secara umum data yang diperoleh dari penelitian dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah. Memahami berarti memperjelas suatu masalah atau informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya menjadi tahu, memecahkan berarti meminimalkan ataumenghilangkan masalah dan mengantisipasi berarti mengupayakan agar masalah tidak terjadi.
Penelitian yang akan digunakan untuk memahami masalah misalnya, penelitian tentang sebab-sebab jatuhnya pesawat terbang atau sebab-sebab membudayanya korupsi di Indonesia. Penelitian yang bersifat memecahkan masalah misalnya, penelitian untuk mencari cara yang efektif untuk memberantas korupsi di Indonesia dan penelitian yang bersifat antisipasi masalah misalnya penelitian untuk mencari cara agar korupsi tidak terjadi pada pemerintahan baru.
B. Macam-Macam Data Penelitian
Seperti telah dikemukakan bahwa, penelitian itu dilakukan untuk mendapatkan data. Terdapat bermacam-macam data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti. Macam-macam data dapat dilihat pada gambar di bawah berikut ini.
Gambar 4.4 Macam-Macam Data Penelitian
Data Ordinal Data Interval Data Rasio Macam Data Penelitian Data Kualitatif Empiris Data Kualitatif Data Kualitatif Bermakna Data Kuantitatif Data Diskrit Data Kontinum
20
Berdasarkan gambar 4.4 tersebut terlihat bahwa terdapat dua macam data penelitian, yaitu, data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang benrentuk kata, kalimat, gerak tubuh, ekspresi wajah, bagan, gambar dan foto. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan/scoring. Data kuaitatif dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu data kualitatif empiris dan data kualitatif bermakna. Data kualitatif empiris adalah data sebagaimana adanya (tidak diberi makna). Peneliti melihat seorang pegawai memakai baju merah atau baju hitam dilaporkan sebagaimana adanya. Data kualitatif bermakna adalah data dibalik fakta yang tampak. Seseorang memakai baju hitam dapat diberi makna bermacam-macam, misalnya sedang pulang dari takziah, merupakan seragam anggota kelompok tertentu atau karena kesenangannya memakai baju hitam.
Penelitian kualitatif akan lebih banyak berkaitan dengan data kualitatif yang bermakna, oleh karena itu peneliti kualitatif harus memberi makna terhadap fakta-fakta yang diperoleh di lapangan.
Selanjutnya data kuantitatif dibedakan menjadi dua, yaitu data diskrit dan data kontinum. Data diskrit sering juga disebut data nominal, adalah merupakan data kuantitatif yang satu sama lain terpisah, tidak dalam satu garis kontinum. Data ini diperoleh dari hasil menghitung atau membilang. Contoh dalam satu ruang kelas ada 30 murid, 16 wanita dan 14 pria. Angka 30, 16 dan 14 adalah data diskrit.
Data kontinum adalah data kuantitatif yang satu sama lain berkesinambungan dalam satu garis. Data ini diperoleh dari hasil mengukur, seperti mengukur derajat kesehatan,berat badan, kemampuan, motivasi, IQ dan lain-lain. Data kontinum dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu data ordinal, interval dan ratio.
Data ordinal merupakan data kuantitatif yang berbentuk peringkat/ranking. Antar ranking jaraknya tidak sama. Misalnya, antara ranking 1 (nilai 100), ranking 2 (nilai 95) jaraknya sama dengan 5. Ranking 2 (nilai 95) dengan ranking 3 (nilai 75) jaraknya 20 dan seterusnya. Contoh data ordinal misalnya dalam kejuaraan (Juara I, II dan III), urutam prestasi belajar (ranking 1, 2, 3, 7, 15). Eselonisasi jabatan misalnya Eselon I, II, III, IV dan V.
Pada data ordinal makin kecil angkanya, semakin tinggi posisinya. Misalnya juara I lebih baik dari juara II. Eselon I lebih tinggi dari eselon II. Tetapi di Indonesia, dalam golongan gaji pegawai negeri sipil, tidak sesuai dengan teori data ordinal, karena golongan I justru lebih rendah dari golongan II dan seterusnya. Mestinya eselon I golongan gajinya golongan I.
Data interval adalah data kuantitatif kontinum yang jaraknya sama tetapi tidak mempunyai nilai nol absolut. Contoh data interval adalah skala thermometer yang digunakan untuk mengukur suhu. Suhu udara bisa minus (-), bisa nol (0) dan bisa di atas nol (+). Pada data interval tidak bisa dibuat penjumlahan seperti pada data ratio. Air 1 gelas suhu 10 0 C ditambah air 1 gelas dengan suhu 20 0 C tidak menjadi 30 0 C
tetapi 15 0 C.
C. Macam-Macam Metode Penelitian
Bermacam-macam metode penelitian bila dilihat dari landasan filsafat dan analisisnya dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu metode penelitian kuantitatif, metode penelitian kualitatif dan metode penelitian kombinasi (mixed methods) hal ini ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
21 Macam Metode Penelitian
Gambar 5.4 Macam-Macam Metode Penelitian
Berdasarkan gambar 5.4 tersebut telihat bahwa yang termasuk dalam metode kuantitatif adalah metode survei dan metode eksperimen. Yang termasuk metode kualitatif adalah phenomenology, grounded theory, ethnography, case study dan narrative. Selanjutnya yang termasuk dalam penelitian kombinasi adalah model sequential (berurutan) dan model concurrent (kombinasi campuran). Model urutan (sequential) ada dua model yaitu model sequential explanatory (urutan pembuktian) dan sequential exploratory (urutan penemuan). Model concurrent (campuran) ada dua yaitu, model concurrent triangulation (campuran kuantitatif dan kualitatif secara berimbang) dan concurrent embedded (campuran kuantitatif dan kualitatif yang tidak berimbang).
Dalam hal metode kuantitatif dan kualitatif, Borg dan Gall (1989) menyatakan sebagai berikut:
“Many labels have been used to distinguish between tradisional research methods and these new methods: positivistic versus post positivistic research; scientific versus artistic research; confirmatory versus discovery-oriented research; quantitative versus qualitative research. The quantitative-qualitative distinction seem
Macam Metode Penelitian Survei Kuantitatif Kualitatif Kombinasi (Mixed Methods) Eksperimen Phenomenology Grounded Theory Ethnography Case Study Narrative Sequential/ Berurutan Concurrent/ Campuran Sequential/ Explanatory Sequential/ Exploratory Concurrent Triangulation Sequential Embedded
22
most widely used. Both quantitative researchers and qualitative researcher go about inquiry in different ways”.
1. Metode Kuantitatif
Metode penelitian kuantitatif secara lebih rinci diberikan pada bab selanjutnya. Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memnuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional dan sistematis. Metode ini juga disebut metode konfirmatif, karena metode ini cocok digunakan untuk pembuktian/konfirmasi. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.
Dengan demikian metode kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Filsafat positivisme memandang realitas/gejala/fenomena itu dapat diklasifikasikan, relatif tetap, konkrit, teramati, terukur dan hubungan gejala bersifat akibat-akibat. Penelitian pada umumnya dilakukan pada populasi atau sampel tertentu yang representatif. Proses penelitian bersifat deduktif, di mana untuk menjawab rumusan masalah digunakan konsep atau teori sehingga dapat dirumuskan hipotesis. Hipotesis tersebut selanjutnya diuji melalui pengumpulan data lapangan. Untuk mengumpulkan data digunakan instrumen penelitian. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif atau inferensial sehingga dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak. Penelitian kuantitatif pada umumnya dilakukan pada sampel yang diambil secara random, sehingga kesimpulan hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi di mana sampel tersebut diambil.
Dalam hal ini metode kuantitatif dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode eksperimen dan metode survei. Metode penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh treatment tertentu (perlakuan)dalam kondisi yang terkontrol (laboratorium). Dalam hal metode eksperimen Creswell (2009) menyatakan “Experimental research seeks determine if a specific treatment influence an outcome in a study. This impact is assessed by providing a specivic treatment to one group and withholding it from another group and then determining how both groups score on an outcome”. Selanjutnya dalam hal metode survei dinyatakan bahwa “survey design provide a plan for a quantitative or numeric description of trend, attitudes, or opinions of population by studying a sample of that population”. Kerlinger (1973) mengemukakan bahwa penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis.
Penelitian survei pada umumnya dilakukan untuk mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam. Walaupun metode survei ini tidak memerlukan
23
kelompok kontrol seperti halnya metode eksperimen, namun generalisasi yang dilakukan bisa lebih akurat bila digunakan sampel yang representatif (David Kline, 1980).
2. Metode Kualitatif
Metode penelitian kualitatif dinamakan sebagai metode baru, karena popularitasnya belum lama, dinamakan sebagai metode postpositivistik karena berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Metode ini disebut juga sebagai metode artistik, karena proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola) dan disebut sebagai metode interpretive karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan. Metode ini juga sering disebut metode konstruktif karena, dengan metode kualitatif dapat ditemukan data-data yang berserakan, selanjutnya dikonstruksikan dalam suatu tema yang lebih bermakna dan mudah dipahami.
Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) disebut juga sebagai metode etnografi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian di bidang antropologi budaya, disebut sebagai metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif.
Filsafat postpositivisme sering juga disebut sebagai paradigm interpretif dan konstruktif, yang memandang realitas social sebagai sesuatu yang holistic/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna dan hubungan gejala bersifat interaktif (reciprocal). Penelitian dilakukan pada obyek yang alamiah. Obyek yang alamiah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument, yaitu peneliti itu sendiri. Untuk menjadi instumen, maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret dan mengkonstruksi situasi social yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap situasi social yang diteliti, maka teknik pengumpulan data bersifat triangulasi, yaitu menggunakan berbagai teknik pengumpulan data secara gabungan/simultan. Analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan dan kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis dan teori. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai dibalik data yang tampak. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna. Generalisasi pada penelitian kualitatif dinamakan transferability.
Dengan demikian metode penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang amaliah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) di mana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.
Dalam hal penelitian kualitatif, Creswell (2009) menyatakan bahwa “Qualitative research is a means for exploring and understanding the meaning individuals or groups ascribe to a social or human problem. The process of research involves emerging questions and procedures; collecting data in the participants setting; analyzing the data
24
inductively, building from particular to general themes; and making interpretations of the meaning of data. The final written report has a flexible writing structure”.
Menurut Creswell (2009), metode kualitatif dibagi menjadi lima macam yaitu phenomenological research, grounded theory, ethnography, case study and narrative research.
1. Phenomenological research is qualitative strategy in which the researcher identifies the essence of human experiences about a phenomenon as describe by participants in a study (Fenomenologis adalah merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif, di mana peneliti melakukan pengumpulan data dengan observasi partisipan untuk mengetahu fenomena esensial partisipan dalam pengalaman hidupnya).
2. Grounded theory is a qualitative strategy in the which researcher derives a general, abstract theory of a process, action or interaction grounded in the views of participants in study (teori grounded adalah merupakan salah satu jenis metode kualitatif, di mana peneliti dapat menarik generalisasi (apa yang diamati secara induktif), teori yang abstrak tentang proses, tindakan atau interaksi berdasarkan pandangan dari partisipan atau peneliti.
3. Ethnography is a qualitative strategy in which the researcher studies an intact cultural group in a natural setting over a prolonged period of time by collecting primarily observational and interview data (etnografi adalah merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif, di mana peneliti melakukan studi terhadap budaya kelompok dalam kondisi yang alamiah melalui observasi dan wawancara).
4. Case studies, are qualitative strategy in which the researcher explores in depth program, event, activity, process, or one or more individuals. The case (s) are bounded by time and activity and researchers collect detailed information using a variety of data collection procedures over sustained period of time (studi kasus adalah merupakan salah satu jenis penelitian kuaitatif, di mana peneliti melakukan eksplorasi secara mendalam terhadap program, kejadian, proses, aktivitas, terhadap stu atau lebih orang. Suatu kasus terikat oleh waktu dan aktivitas dan peneliti melakukan pengumpulan data secara mendetail dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data dan dalam waktu yang berkesinambungan. 5. Narrative research is qualitative strategy in which the researcher studies the kivess
of individuals and asks one or more individuals to provide stories about their lives. This information is then often retold or restoried by the researcher into a narrative chronology (penelitian naratif adalah merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif, di mana peneliti melakukan studi terhadap satu orang individu atau lebih untuk memperoleh data tentang sejarah perjalanan dalam kehidupannya. Data tersebut selanjutnya oleh peneliti disusun menjadi laporan yang naratif dan kronologis.
Karakteristik penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Biklen (1982) adalah sebagai berikut:
a. Qualitative research has the natural setting as the direct source of data and researcher is the key instrument.
b. Qualitative research is descriptive. The data collected is in the form of words of pictures rather than number.