PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari kegiatan komunikasi. Sehingga sekarang ilmu komunikasi berkembang pesat. Salah satu kajian ilmu komunikasi ialah komunikasi kesehatan yang merupakan hubungan timbal balik
antara tingkah laku manusia masa lalu dan masa sekarang dengan derajat kesehatan dan penyakit, tanpa mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut atau partisipasi profesional dalam program-program yang bertujuan memperbaiki derajat kesehatan melaui pemahaman yang lebih besar tentang hubungan PERANAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PERAWAT DALAM UPAYA
PENYEMBUHAN PASIEN DI RUMAH SAKIT ELIZABETH SITUBONDO Oleh: Sudahri*
*Staf Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jember
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan, antara lain : Untuk mendePenelitiankan bentuk komunikasi antara perawat dan pasien dalam upaya pemulihan dan penyembuhan pasien di RS Elizabeth Situbondo ; peranan dan proses komunikasi antara perawat dan pasien dalam upaya pemulihan dan penyembuhan pasien di RS Elizabeth Situbondo ; dan hambatan-hambatan dalam komunikasi antara perawat dan pasien di RS
Elizabeth Situbondo. Teori yang dipergunakan adalah definisi komunikasi , peranan komunikasi, Konsep
komunikasi interpersonal dan peranannya serta komunikasi terapeutik. Jenis penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sasaran penelitian dalam hal ini adalah perawat dan pasien di RS Ewlizabeth Situbondo. Pengumpulan data memakai metode wawancara atau interview dan Metode purpossive sampling.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa : Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi untuk
personal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar petugas kesehatan dengan pasien. Jadi intinya pasien datang kepada kami untuk disembuhkan dan kamisiap melayani dengan memberikan
upaya atau jasa penyembuhan ; Komunikasi interpersonal yang dilalukan oleh perawat tersebut memang
lebih terasa sangat efektif dalam usaha penyembuhan yang dialami oleh seseorang karena komunikasi ini pada dasarnya adalah suatu proses dinamis dan berkesinambungan mengubah pihak-pihak ynag berkomunikasi.
Kata Kunci : Komunikasi Interpersonal, Perawat, Pasien
The Role of Interpersonal Communication of Nurses As An Effort of Healing Patients in Elizabeth Hospital Situbondo
ABSTRAK
This research aims, among others: To describe forms of communication between nurses and patients in recovery and healing of patients in Elizabeth Hospital Situbondo, roles and communication process between nurses and patients in recovery and healing of patients in Elizabeth Hospital Situbondo; and barriers in communication between nurses and patients in Elizabeth Hospital Situbondo. The theory
used is the definition of communication, the role of communication, interpersonal communication con -cepts and roles and therapeutic communication. This type of research uses descriptive and qualitative re-search method. The rere-search target in this case are nurses and patients in Elizabeth Hospital Situbondo. Data was collected by interviews and purposive sampling method.
The results showed that: therapeutic communication, including personal communication with the starting point for mutual understanding among health care workers give and patients. So basically the patient came to us to be healed and we were ready to serve by providing medical healing services, interpersonal communication was done by the nurses felt more highly effective in healing effort experi-enced by someone because the communication is basically a dynamic and continuous process of change communication parties involved.
timbal balik melalui perubahan tingkah laku sehat ke arah yang diyakini akan meningkatkan kesehatan yang lebih baik.
Rumah Sakit Perkebunan Situbondo atau lebih dikenal oleh masyarakat Situbondo dengan sebutan Rumah Sakit Elizabeth adalah salah satu dari tiga rumah sakit milik PT. Perkebunan
Nusantara XI (Persero) yang menjadi salah satu
unit usaha strategis tauladan dari perusahaan, sebagai organisasi layanan dan tempat berkarya
yang membanggakan. Komitmen Rumah Sakit
Elizabeth adalah Melaksanakan Pelayanan
Kesehatan yang Bermutu Tinggi dan manusiawi
kepada masyarakat, Memberikan layanan kesehatan berlandaskan etika profesi, kepuasan pelanggan dan mencerminkan unit sosioekonomi yang mandiri, dengan melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan
(kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang
dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan
upaya peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif) serta melaksanakan upaya rujukan.
Hal tersebut telah diterapkan dalam manajemen
Rumah Sakit Elizabeth, Situbondo. (www.ptpnxi. co.id)
Komunikasi adalah proses pertukaran
informasi dari dua belah pihak atau lebih.
Komunikasi merupakan bagian terpenting dalam
kehidupan mengingat manusia itu sendiri adalah
manusia sosial/bermasyarakat. Komunikasi Interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan dengan orang lain. Berhadapan dengan orang
lain atau komunikasi interpersonal adalah sebuah metode komunikasi yang sering digunakan oleh manusia pada saat bekerja,bergaul dan bermasyarakat. Miskinnya komunikasi merupakan masalah yang sering dihadapi oleh semua orang. Padahal, komunikasi adalah hal yang sangat mudah secara teori dan prakteknya, namun bagi sebagian orang menjadi sulit untuk diterapkan.
Untuk melakukan komunikasi dengan baik, sebaiknya kita mengetahui situasi dan kondisi serta karakteristik lawan bicara kita.Sebagaimana yang kita tahu, bahwa setiap manusia itu seperti sebuah radar yang melingkupi lingkungan. Manusia bisa menjadi sangat sensitif pada bahasa tubuh, ekspresi wajah, postur, gerakan, intonasi suara dan masih banyak lagi. Untuk mengefektifkan komunikasi, dinamika komunikasi interpersonal harus senada dengan perkataan kita. Kata-kata lebih jarang
digunakan oleh orang yang terlingkupi makna dari komunikasi itu sendiri.
Tanpa menyadari adanya orang-orang semacam itu, yang melakukan komunikasi, termasuk faktor-faktor dalam dinamika komunikasi interpersonal, pasti kehilangan apa sesungguhnya yang akan dikomunikasikan. Pada
saat yang sama, jika orang berkomunikasi tanpa memahami keseluruhan dinamika komunikasi interpersonal dari hati dan pendengarannya orang yang diajak berkomunikasi maka orang tersebut
telah gagal dalam berkomunikasi. Bahasa tubuh,
ekspresi wajah, postur, gerakan dan intonasi suara akan membantu individu untuk memberi penekanan pada kebenaran, ketulusan dan reliabilitas dari komunikasi itu sendiri sehingga komunikasi itu sendiri dapat mempengaruhi pola
pikir lawan bicara kita. Komunikasi yang efektif
ditandai dengan hubungan interpersonal yang
baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi,
bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. Anita Taylor
mengatakan Komunikasi interpersonal yang
efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting. Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas
komunikasi (2001 :36).
Komunikasi yang jelas dan tepat penting
untuk memberikan asuhan keperawatan yang efektif, komunikasi terapeutik berbeda dari komunikasi sosial, yaitu pada komunikasi terapeutik selalu terdapat tujuan atau arah yang
spesifik untuk komunikasi. Keperawatan adalah
suatu interaksi antara perawat dan pasien, perawat dan profesional kesehatan lain, serta perawat dan komunitas. Proses interaksi manusia terjadi melalui komunikasi: verbal dan nonverbal, tertulis dan tidak tertulis, terencana dan tidak terencana. Agar perawat efektif dalam berinteraksi, mereka harus memiliki ketrampilan komunikasi yang baik. Mereka harus menyadari kata-kata dan bahasa tubuh yang mereka sampaikan pada
orang lain. Ketika perawat mengemban peran
kepemimpinan, mereka harus menjadi efektif, baik dalam ketrampilan komunikasi verbal maupun
komunikasi tertulis (Kathleen, 2007 : 72).
Perawat dituntut untuk melakukan komunikasi terapeutik dalam melakukan tindakan keperawatan agar pasien atau keluarganya tahu tindakan apa yang akan dilakukan pada pasien dengan cara bahwa perawat harus memperkenalkan diri, menjelaskan tindakan yang akan dilakukan, membuat kontrak waktu untuk melakukan
tindakan keperawatan selanjutnya. Kehadiran,
atau sikap benar-benar ada untuk pasien, adalah bagian dari komunikasi terapeutik. Perawat tidak boleh terlihat bingung; sebaliknya, pasien harus merasa bahwa dia merupakan fokus utama perawat selama interaksi. Agar perawat dapat berperan aktif dan terapeutik, perawat harus menganalisa
dirinya yang meliputi kesadaran diri, klarifikasi
nilai, perasaan dan mampu menjadi model yang bertanggung jawab. Seluruh perilaku dan pesan yang disampaikan perawat hendaknya bertujuan
terapeutik untuk pasien. Analisa hubungan intim yang terapeutik perlu dilakukan untuk evaluasi perkembangan hubungan dan menentukan teknik dan ketrampilan yang tepat dalam setiap tahap untuk mengatasi masalah pasien.
Komunikasi terapeutik pada prinsipnya
sebagai cara bicara, komunikasi kepada pasien, dalam pemberian informasi, dan juga dalam memberikan terapi pengobatan. Pendapat pasien
ini memang sedikit berbeda dengan definisi yang sebenarnya, akan tetapi sudah mendekati definisi
komunikasi terapeutik yaitu suatu proses interaktif antara pasien dan perawat yang membantu pasien mengatasi stress sementara untuk hidup harmonis dengan orang lain, menyesuaikan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah, dan mengatasi hambatan psikologis yang menghalangi realisasi
(Kathleen,2007).
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian yang dipergunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini akan dilakukan Rumah Sakit Elizabeth Situbondo, dalam penelitian ini meliputi wawancara dengan informan sebagai data primer dan data sekunder, Teknik Penentuan Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Purposive, Metode Pengumpulan Data adalah menggunakan metode kualitatif. Dalam metode pengumpulan data, penelitian ini akan memakai metode wawancara atau yang sering disebut juga dengan interview. Selain itu metode penelitian dilakukan dengan melakukan
pengamatan (observasi). Teknik pengumpulan data
dalam penelitian ini memakai tiga macam cara, yaitu : Wawancara tak terstruktur, Observasi Non Partisipasif dan Studi Dokumentasi. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, melalui tiga tahapan yaitu : Reduksi Data, Display Data dan Pengambilan
kesimpulan dan verifikasi
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bentuk Komunikasi Antara Perawat Dan Pasien Dalam Upaya Pemulihan Dan Penyembuhan Pasien Di RS Elizabeth Situbondo
Hubungan perawat dan pasien yang bersifat terapeutrik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman perbaikan emosi pasien. Dalam hal ini perawat memakai dirinya secara terapeutik dengan menggunakan berbagai teknik komunikasi agar perilaku pasien berubah ke arah positif seoptimal mungkin,. Untuk dapat melaksanakan komunikasi terapeutik yang efektif, perawat harus mempunyai keterampilan yang cukup dan memahami betul tentang dirinya.
Komunikasi merupajkan hubungan ;
hubungan antara perawat dan pasien yang terapeutik tidak mungkin dicapai tanpa komunikasi. Hubungan terapeutik sebagai pengalaman belajar
baik bagi pasien dan perawat yang diidentifikasikan dalam 4 (empat) tindakan yang harus diambil
antara perawat dan pasien, yaitu : Tindakan diawali oleh perawat ;
1.
Respon reaksi dari pasien ;
2.
Interaksi dimana perawat dan pasien mengkaji 3.
hubungan kebutuhan klien dan tujuan ;
Transaksi dimana hubungan timbal balik pada 4.
akhirnya dibangun untuk mencapai tujuan hubungan.
Dalam komunikasi terapeutik antara perawat
dan pasien perawat harus hadir secara utuh (fisik dan psikologis). Pada saat berkomunikasi dengan
pasien, perawat tidak cukup hanya mengetahui tehknik komunikasi dan isi komunikasi tetapi yang sangat penting adalah sikap atau penampilan dalam berkomunikasi. Salah satu hal penting dalam
komunikasi terapeutik adalah sikap fisik perawat
sebagai perilaku non verbal. Perilaku non verbal tersebut dapat diuraikan lagi menjadi beberapa tindakan, antara lain :
Gerakan mata : Gerakan mata dapat dipakai
1.
untuk memberikan perhatian, dimana pasien kadangkla sangat peka terhadap perawat dalam memberikan pelayanannya, misalnya perawat melotot manakala pasien tidak mau menghabiskan makanan yang sudah disiapkan menunjukkan bahwa perawat tidak suka dengan perilaku pasien tersebut dan sikap ini menjadi ancaman bagi pasien.
Ekspresi muka : Perawat perlu menyadari
2.
dan menjaga tentang perubahan yang terjadi
pada dirinya. Keberadaan perawat diibaratkan
sebagai penolong pasien, sehingga perlu dituntut berekspresi yang sejuk dan hangat kepada pasien.
Sentuhan : Sebagai cara interaksi yang mendasar.
3.
Sentuhan dalam hal ini sebagai alat komunikasi dan memperlihatkan kehangatan, kasih sayang, yang juga sebagai bentuk perhatian yang lebih pada seseorang.
Dalam pelaksanaan komunikasi dengan pasien, perawat harus mampu mengaplikaksikan tujuan komunikasi tersebut dan kepada siapa komunikasi tersebut ditujukan, sesuai dengan tingkatannya kepada anak, dewasa, atau kepada
lansia (lanjut usia), karena masing-masing
memiliki karakter dan perbedaan yang mendasar.
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk
mempengaruhi tingkah laku manusia ke arah yang lebih baik sehingga perawat perlu untuk menguasai taknik dan model konsep komunikasi yang tepat untuk setiap karakteristik pasien.
Peranan dan Proses Komunikasi Antara Perawat Dan Pasien Dalam Upaya Pemulihan Dan Penyembuhan Pasien Di RS Elizabeth Situbondo
Dalam berkomunikasi dengan pasien, selain pengetahuan dan ketulusan seorang perawat haruslah bersemangat. Semangat hidup yang tinggi dapat mempengaruhi semangat pasien. Akan halnya penyakit yang diderita oleh pasien lebih cepat sembuh bila nasihat dan saran-saran serta anjuran dokter ditaati sepenuhnya oleh pasien. Untuk dapat berbicara yang baik atau komunikatif tidaklah cukup sekedar teori saja, namun lebih ditekankan pada praktis terapan atau praktek. Pribadi yang tampil utuh sebagai seorang perawat bukanlah suatu hal yang mudah. Lingkungan menuntut untuk mampu melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, sementara kepribadian perawat juga mendapat porsi yang sama. Untuk itu agar lebih luwes namun sigap serta tidak kaku dalam berbicara maka latihan intensif salah satu jalan keluarnya dan kemampuan dalam rangka praktek berbicara setiap harinya harus lebih ditingkatkan hingga mencapai kondisi yang diinginkan oleh perawat itu sendiri.
Komunikasi yang jelas mengenai perawatan
dan mengenai informasi pasien sama pentingnya, baik dalam bentuk interaksi verbal dengan rekan kerja, catatan tertulis, atau publikasi dalam
jurnal profesional. Komunikasi adalah sebuah
faktor yang paling penting yang digunakan untuk menetapkan hubungan terapeutik antara perawat dan pasien. Menemukan cara yang efektif untuk mengatasi hambatan komunikasi akan memberikan kesempatan bagi perawat menjembatani budaya dalam pemberian asuhan keperawatan. Perawat yang menggunakan sumber yang tersedia dan memecahkan masalah saat terdapat kesulitan komunikasi akan lebih bisa membantu klien dan keluarga untuk mengakses perawatan dan manfaat dari layanan asuhan keperawatan. Saat perawat mampu berkomunikasi dengan baik dalam bentuk verbal dan tertulis, kualitas manfaat publikasi professional dan perawat dapat memberikan sumber yang lebih baik terhadap profesi. Proses interaktif antara pasien dan perawat yang membantu pasien mengatasi stress sementara untuk hidup harmonis dengan orang lain, menyesuaikan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah, dan mengatasi hambatan psikologis yang menghalangi realisasi ini disebut komunikasi terapeutik.
Komunikasi terapeutik berbeda dari
komunikasi sosial, yaitu pada komunikasi terapeutik
selalu terdapat tujuan atau arah yang spesifik
untuk komunikasi; oleh karena itu, komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang terencana.
Komunikasi paling terapeutik berlangsung ketika
pasien dan perawat keduanya menunjukkan sikap
hormat akan individualitas dan harga diri. Perawat dituntut untuk melakukan komunikasi terapeutik dalam melakukan tindakan keperawatan agar pasien atau keluarganya tahu tindakan apa yang akan dilakukan pada pasien dengan cara bahwa perawat harus memperkenalkan diri, menjelaskan tindakan yang akan dilakukan, membuat kontrak waktu untuk melakukan tindakan keperawatan
selanjutnya. Kehadiran, atau sikap benar-benar
ada untuk pasien, adalah bagian dari komunikasi terapeutik. Perawat tidak boleh terlihat bingung; sebaliknya, pasien harus merasa bahwa dia merupakan fokus utama perawat selama interaksi. Agar perawat dapat berperan aktif dan terapeutik, perawat harus menganalisa dirinya yang meliputi
kesadaran diri, klarifikasi nilai, perasaan dan
mampu menjadi model yang bertanggung jawab. Seluruh perilaku dan pesan yang disampaikan perawat hendaknya bertujuan terapeutik untuk pasien. Analisa hubungan intim yang terapeutik perlu dilakukan untuk evaluasi perkembangan hubungan dan menentukan teknik dan ketrampilan yang tepat dalam setiap tahap untuk mengatasi masalah pasien
Proses ini terdiri dari unsur komunikasi prinsip komunikasi dan tahapan komunikasi. Unsur komunikasi terdiri dari : Sumber komunikasi yaitu pengirim pesan atau sering disebut komunikator yaitu orang yang menyampaikan atau menyiapkan
pesan. Komunikator dalam Penelitian ini adalah
para perawat yang tugas utamanya ialah membantu pasien dalam mengatasi masalah sakit akut, sakit kronis, dan memberikan pertolongan pertama pada
pasien dalam keadaan gawat darurat. Komunikator
memiliki peranan penting untuk menentukan keberhasilan dalam membentuk kesamaan persepsi dengan pihak lain dalam makalah ini ialah pasien.
Kemampuan komunikator mencakup keahliaan
atau kredibilitas daya tarik dan keterpercayaan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dan menentukan keberhasilan dalam melakukan komunikasi.
Unsur komunikasi terapeutik selain komunikator, yaitu pesan merupakan salah satu unsur penting yang harus ada dalam proses komunikasi. Tanpa kehadiran pesan, proses komunikasi tidak
terjadi. Komunikasi akan berhasil bila pesan
yang disampaikan tepat, dapat dimengerti, dan
dapat diterima komunikan. Keberhasilan proses
komunikasi tersebut, sangat ditentukan oleh daya tarik pesan bahwa komunikasi akan berhasil bila pesan yang disampaikan memenuhi syarat sebagai berikut :
Pesan harus direncanakan
a)
Pesan menggunakan bahasa yang dapat
b)
dimengerti kedua belah pihak
Pesan itu harus menarik minat dan kebutuhan
c)
Pesan harus berisi hal-hal yang mudah
d)
difahami
Pesan yang disampaikan tidak samar-samar.
e)
Untuk itu, seorang perawat dituntut untuk mampu menyampaikan komunikasi dengan
efektif dan tepat sasaran ke pasien. Komunikasi
interpersonal dalam bentuk komunikasi terapeutik dalam kaitannya dengan hubungan antara perawat dan pasien ; mempunyai beberapa prinsip yang sama dengan komunikasi interpersonal yaitu keterbukaan, empati, sifat mendukung sikap positif dan kesetaraan. Pada umumnya hubungan antar pribadi berkembang melalui tahap-tahap yaitu :
Tahap awal atau tahap orientasi pada tahap
1)
ini antara petugas dan pasien terjadi kontak
dan pada tahap ini penampilan fisik begitu penting karena dimensi fisik paling terbuka untuk diamati. Kualitas-kualitas lain seperti
sifat bersahabat kehangatan, keterbukaan dan dinamisme juga terungkap. Yang dapat dilakukan pada terapi ini ialah pengenalan,
mengidentifikasi masalah dan mengukur
tingkat kecemasan diri pasien.
Tahap lanjutan adalah tahap pengenalan lebih
2)
jauh, menurut purwanto dilakukan untuk meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, komunikasi pada tahap ini mengikatkan pada diri kita untuk lebih mengenal orang lain dan juga mengungkapkan diri kita. Pada tahap ini termasuk pada tahap persahabatan yang menghendaki agar kedua pihak harus merasa mempunyai kedudukan yang sama, dalam artian ada keseimbangan dan kesejajaran kedudukan. persahabatan mempunyai beberapa fungsi, yaitu :
Membagi pengalaman agar kedua pihak
a)
merasa sama-sama puas dan sukses Menunjukan hubungan emosional
b)
Membuat pihak lain menjadi senang
c)
Membantu sesama kalau dia berhalangan
d)
untuk suatu urusan
Pada tahap komunikasi terapeutik ini harus (1)
melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah
yang ada (2) meningkatkan komunikasi (3)
mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada. Secara psikologis komunikasi yang bersifat terapeutik akan membuat pasien lebih tenang, dan tidak gelisah.
Tahapan terminasi menurut purwanto pada tahap
3)
ini terjadi pengikatan antar pribadi yang lebih jauh, merupakan fase persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang kesimpulan perawatan yang didapat dan mempertahankan batas hubungan yang ditentukan, yang diukur antara lain mengantisipasi masalah yang akan
timbul karena pada tahap ini merupakan tahap persiapan mental atas rencana pengobatan, melakukan peningkatan komunikasi untuk mengurangi ketergantungan pasien pada petugas. Terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan antara petugas dengan klien. Tahap terminasi dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir. Terminasi sementara adalah akhir dari setiap pertemuan, pada terminasi ini klien akan bertemu kembali pada waktu yang telah ditentukan, sedangkan terminasi akhir terjadi jika klien selesai menjalani pengobatan.
Penjelasan Perawat-terhadap pasien yang baru datang merupakan beberapa hal yang perlu dijelaskan oleh perawat kepada klien yang baru datang adalah meliputi :
Peraturan-peraturan rumah sakit
a)
Peraturan jam berkunjung
b)
Peraturan makan sehari 3 kali
c)
Makanan yang perlu dimakan (dietnya) atau
d)
bila ada keluarga yang membawa makanan sendiri
Bel dimeja bila keperluan memanggil perawat
e)
Jam kunjungan dokter
f)
Bagi klien yang bisa jalan, perlu diberitahu
g)
tempat kamar mandi, WC dan sebagainya. Waktu jam mandi
h)
Memperkenalkan teman klien sekamar (klien
i)
di bed sebelahnya/jika ada).
Budi Pekerti Dalam Keperawatan merupakan salah satu pendorong kekuatan (stimulus) bagi
perawat dalam melaksanakan tugasnya setiap hari.
Karena dari budi pekertilah yang menentukan
martabat/derajat tinggi rendahnya sifat manusia itu sendiri. Sedangkan untuk keberhasilan suatu pekerjaan tergantung pada manusia yang jujur dalam menjalankannya. Lebih-lebih pekerjaan di rumah sakit, di mana hidup dan mati sering tergantung pada hal-hal yang remeh saja. Orang yang jujur dapat menjamin kekekalan persahabatan, keberesan pekerjaan dan kehormatan. Mempertebal kejujuran itu bukan suatu usaha yang mudah. Hal ini memerlukan latihan intensif dari athun ke tahun yang sabar. Jujur serta bertanggung jawab dalam mengurus pasiennya setiap hari. Dalam dunia keperawatan kejujuran itu mempunyai arti yang luas sekali. Jujur dalam kelakuan dan tindakan serta pembicaraan adalah penting untuk klien dan
lingkungannya. Kejujuran dalam keperawatan dapat dibagi menjadi 3 (tiga), antara lain :
Jujur terhadap pekerjaan misalnya mengenai
1)
pengobatan, laporan-laporan yang berhubungan dengan keadaan pasien. Dengan demikian dapat diketahui perkembangan kondisi pasien tersebut selama dirawat di rumah sakit yang bersangkutan.
Jujur terhadap lingkungan. Hal ini penting
2)
karena perawat dalam melaksanakan pekerjaannya setiap hari selalu berhubungan dengan orang banyak. Hendaknya jangan sekali-kali memiliki atau menggunakan barang orang lain secara tidak sah tanpa
ijin pemiliknya. Kejujuran ini penting bagi
perawat itu sendiri maupun bagi rumah sakit dan masyarakat umum.
Jujur dalam perkataan ; tidak berbohong,
3)
melaporkan hal sebenarnya tentang keadaan klien kepada atasan secara benar. Tidak menceritakan kejengkelan orang lain ataupun
mengadu domba. Kejujuran dalam menunaikan
tugas bagi perawat sangat penting karena bertalian dengan keselamatan jiwa pasien. Mengisi status atau daftar mengenai pasien harus tepat dan yakin akan ketepatannya. Menuliskan suhu klien tidak bisa dikira-kira begitu saja karena mengacaukan diagnosis nantinya tindakan demikian tidak jujur namanya. Jika menemukan kesalahan dalam mengambil tindakan atau dalam pelaksanaan tugas, hendaknya segera lapor kepada atasan atau kepala ruangan. Sehingga kesalahan itu dapat segera dibetulkan/diperbaiki atau sekurang-kurangnya bisa disederhanakan.
Bila menemukan perawat tidak jujur dalam
arti kata memalsukan laporan atau membuat laporan tidak betul sehingga fatal bagi pasien seharusnya tidak diberi tanggung jawab atau diskors sama sekali dari tugas-tugasnya.
Karena menjadi perawat tidak boleh sembrono
dalam bertindak.
Komunikasi terapeutik merupakan
komunikasi yang terstruktur dan memiliki
tahapan-tahapan. Komunikasi terapeutik terbagi
menjadi empat tahapan yaitu tahap persiapan atau tahap pra-interaksi, tahap perkenalan atau orientasi, tahap kerja dan tahap terminasi. Dari hasil penelitian didapatkan pada tahap perkenalan perawat ada yang melakukan dan juga ada yang tidak melakukan, kecenderungan perawat hanya menanyakan identitas pasien, akan tetapi tidak memperkenalkan diri ke pasien. Sifat judes masih terlihat pada sosok seorang perawat. Seharusnya tugas perawat dalam tahapan ini adalah memberikan salam dan tersenyum pada pasien, memperkenalkan diri dan menanyakan nama
pasien, melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif) pada pertemuan selanjutnya, menentukan
mengapa pasien mencari pertolongan, menyediakan kepercayaan, penerimaan, dan komunikasi terbuka. Membuat kontrak timbal balik, mengeksplorasi perasaan klien, pikiran dan tindakan. Selanjutnya
mengidentifikasi masalah pasien, mendefinisikan
tujuan dengan pasien, menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan dan menjelaskan kerahasiaan.
Pada tahap kerja, dari hasil penelitian didapatkan bahwa perawat bertanya kepada pasien mengenai keluhannya berkaitan dengan pelaksanaan asuhan keperawatan dan menjalankannya dengan baik. Akan tetapi tugas perawat pada tahap kerja tidak hanya itu saja, seharusnya perawat juga harus memberi kesempatan pasien untuk bertanya sebelum tindakan dilaksanakan. Dan setelah selesai tindakan dilakukan evaluasi kerja dan disampaikan kepada pasien. Untuk itu perawat perawat harus benar-benar melakukan tahap ini dengan baik, sehingga nilai kerja dan pendokumentasian akan lebih kongkrit.
Tahap terakhir atau perpisahan (terminasi)
yang didapatkan dari penelitian menunjukkan bahwa kesan perawat kurang baik perawat UGD hanya memberi tahu pasien bahwa tindakan di UGD sudah selesai dan akan dipindah keruang rawat inap atau boleh pulang. Tugas perawat pada fase ini adalah menciptakan realitas perpisahan, menyimpulkan hasil kegiatan ; evaluasi hasil dan proses. Saling mengeksplorasi perasaan penolakan, kehilangan, sedih, marah dan perilaku lain. Memberikan reinforcement positif dan merencanakan tindaklanjut dengan klien. Melakukan kontrak untuk pertemuan selanjutnya
(waktu, tempat, topik) serta mengakhiri kegiatan
dengan baik. Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting, karena hubungan saling percaya sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Perawat dan klien keduanya merasa kehilangan. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau saat klien akan pulang. Untuk melalui fase ini dengan sukses dan bernilai terapeutik, perawat menggunakan konsep kehilangan.
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat, yang dibagi dua yaitu : terminasi sementara, berarti masih ada pertemuan lanjutan; terminasi akhir, terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh. Agar kesan tidak baik tersebut dapat dikurangi, sebaiknya memberikan salam perpisahan dengan baik sebelum pasien meninggalkan ruang UGD. Meskipun demikian para pasien yang menjadi partisipan mengatakan bahwa pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan terhadap pasien.
Dalam hal ini perawat berusaha mengerti pasien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan pasien. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan mendengar
perawat mengetahui perasaan pasien. Beri
kesempatan lebih banyak pada pasien untuk berbicara. Perawat harus menjadi pendengar
yang aktif. Ketrampilan mendengarkan dengan
sepenuh perhatian meliputi pandang klien ketika berbicara, pertahankan kontak mata yang
memancarkan keinginan untuk mendengarkan, sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan, hindarkan gerakan yang tidak perlu, anggukkan kepala jika pasien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik, condongkan tubuh ke arah lawan bicara.
Menerima tidak berarti menyetujui, menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. Perawat sebaiknya menghindarkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau menggelengkan kepala seakan tidak percaya. Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi
yang spesifik mengenai apa yang disampaikan
oleh klien. Selama pengkajian ajukan pertanyaan secara berurutan Mengulangi ucapan pasien dengan menggunakan kata-kata sendiri. Melalui pengulangan kembali kata-kata pasien, perawat memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan pasien dan berharap komunikasi dilanjutkan.
Klasifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk
menjelaskan dalam kata-kata ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh pasien. Agar pesan dapat sampai dengan benar, perawat perlu memberikan contoh yang kongkret dan mudah dimengerti pasien.
Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih
spesifik dan dimengerti. Perawat tidak seharusnya
memutuskan pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru Perawat perlu memberikan umpan balik kepada pasien dengan menyatakan hasil pengamatannya, sehingga dapat diketahui apakah pesan dapat diterima dengan benar. Memberikan tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien yang bertujuan memfasilitasi pasien untuk mengambil keputusan.
Diam saat berkomunikasi dengan pasien akan memberikan kesempatan kepada perawat dan pasien untuk mengorganisir. Diam memungkinkan pasien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri, mengorganisir pikiran dan memproses informasi. Meringkas pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk membantu mengingat topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan selanjutnya. Memberikan salam kepada pasien dengan menyebutkan namanya, menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi, menghargai klien sebagai manusia seutuhnya mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu. Penghargaan janganlah sampai menjadi beban untuk klien dalam arti jangan sampai pasien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan
pujian dan persetujuan atas perbuatannya.
Pasien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain, atau pasien tidak mampu untuk membuat dirinya mengerti. Seringkali perawat hanya menawarkan kehadirannya, rasa tertarik, teknik komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih. Memberi kesempatan kepada pasien untuk berinisiatif
dalam memilih topik pembicaraan. Biarkan pasien
merasa bahwa dia yang memimpin pembicaraan. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan, teknik ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan
yang mengidentifikasi bahwa pasien sedang
mengikuti apa yang sedang dibicarakan dan tertarik dengan apa yang akan dibicarakan selanjutnya.
Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan pasien untuk melihatnya dalam suatu perspektif. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menguraikan persepsinya. Apabila perawat ingin mengerti pasien, maka perawat harus melihat segala sesuatunya dari perspektif. Pasien harus merasa bebas untuk
menguraikan persepsinya kepada perawat. Refleksi
menganjurkan pasien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Dengan demikian perawat
mengidentifikasi bahwa pendapat klien adalah
berharga dan pasien mempunyai hak untuk mengemukakan pendapatnya, untuk membuat keputusan, dan memikirkan dirinya sendiri. Hambatan-Hambatan Dalam Komunikasi Antara Perawat Dan Pasien Di RS Elizabeth Situbondo
Dalam mencapai tujuan ini sering sekali perawat memenuhi kendala komunikasi yaitu :
Tingkah laku perawat
1)
Dirumah sakit pemerintah maupun swasta, perawat memegang peranan penting; tingkah laku; gerak-gerik perawat selalu dinilai oleh
masyarakat. Bahkan sering juga surat kabar
memuat beritaberita tentang perawat rumah
sakit. Bertindak yang tidak sebenarnya.
Dipandang oleh klien perawat judes, jahat dan sebagainya.
Perawatan yang berorientasi Rumah sakit
2)
Pelaksanaan perawatan difokuskan pada penyakit yang diderita klien semata, sedangkan psikososial kurang mendapat perhatian. Tujuan pelaksaan perawatan yang sebenarnya yaitu manusia seutuhnya yang meliputi bio,
psiko dan sosial. Bio adalah Kebutuhan dasar,
makan minum, oksigen dan perkembangan keturunan ; Psiko merupakan Jiwa, perawat supaya turut membantu memecahkan masalah yang ada hubungnnya dengan jiwa ; sedangkan Sosial adalah bahwa perawat juga mengetahui
kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat dari pasien di dalam masyarakat.
Perawat kurang tanggap terhadap kebutuhan,
3)
keluhan-keluhan,serta kurang memperhatikan apa yang dirasakan oleh klien sehingga menghambat hubungan baik.
Hal inilah yang sering terjadi sehingga dapat menghambat terjalinnya komunikasi terapeutik yang harmonis diantara perawat dan pasien. Demikian halnya dengan nasehat yang diberikan perawat kepada pasien adakalanya dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan oleh pasien sehingga perawat tersebut dianggap terlalu berlebihan, cerewet, judes dan lain sebagainya ; Padahal tujuan utama perawat memberikan nasehat kepada pasien adalah baik demi kesembuhan pasien namun masih dianggap sebagai hal yang tidak menyenangkan oleh pasien. Dalam hal ini perlu terjalin komunikasi yang baik sehingga tujuan positif komunikasi antara perawat dengan pasien dalam hubungan terapeutik penyembuhan dapat terjalin dengan baik.
Di tengah-tengah permasalahan yang dihadapi, rumah sakit umum mempunyai peran yang cukup penting dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka dalam kegiatan operasionalnya selalu berupaya untuk membuat para pemakai jasanya untuk menjadi puas dan percaya melalui sistem penyampaian jasa yang baik dan strategi peningkatan kepuasan pelanggan
(customer satisfaction).
Rumah sakit umum secara kontinu harus meningkatkan citra dan kepercayaan pelanggan. Citra rumah sakit sakit dan kepercayaan pelanggan dipengaruhi oleh sistem penyampaian jasa yang meliputi physical support dan contact personnel. Diperlukan upaya penyempurnaan dengan melakukan perbaikan secara terus menerus terhadap komponen layanan baik yang terletak
di back office maupun di front office, sehingga
para pelanggan semakin tertarik menggunakan jasa pelayanan kesehatan pada rumah sakit umum tersebut. Sistem penyampaian jasa akan memberikan stimuli kepada para masyarakat untuk memakai jasa rumah sakit, karena itu pihak rumah sakit diharapkan mampu mendesain suatu sistem penyampaian jasa yang unik, berbeda dengan rumah sakit lain, sehingga dapat memberikan kesan berbeda dengan pesaingnya, citra yang baik dan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat selaku pemakai jasa pelayanan kesehatan.
Pemakai jasa perawatan kesehatan termasuk rumah sakit selalu memperhatikan kualitas staf medis, pelayanan gawat darurat, perawatan perawat, tersedianya pelayanan yang lengkap, rekomendasi dokter, peralatan yang moderen, karyawan yang sopan santun, lingkungan yang baik, penggunaan rumah sakit sebelumnya,
ongkos perawatan, rekomendasi keluarga, dekat dari rumah, ruangan pribadi dan rekomendasi
teman. Contact elements (physical environment dan contact personnel) berpengaruh terhadap
citra perusahaan ; sedasngkan citra bisa dibentuk melalui simbol, warna, slogan, atribut spesial,
bangunan ataupun ruang fisik dan suasana.
Adanya hubungan antara citra perusahaan dengan loyalitas pelanggan yaitu intensi pembelian ulang dan keinginan merekomendasikan kepada orang lain citra mempengaruhi kepuasan, kepuasan mempengaruhi kepercayaan dan kepercayaan mempengaruhi komitmen pelanggan.
Komitmen pelanggan mempunyai pengaruh
yang kuat terhadap intensi pembelian, intensitas
harga dan word of mouth (WOM). Sebagai salah
satu unit pelayananan kesehatan, rumah sakit selalu berupaya menciptakan kesan yang unik dalam sistem penyampaian jasa. Rumah sakit diharapkan mampu mendesain berbagai fasilitas
fisik yang mendukung (physical support), dan
kemampuan dari pada karyawan dan manajemen
dalam menciptakan hubungan-hubungan (contact personnel) baik internal maupun eksternal. Pihak
rumah sakit umum dapat mengetahui secara tepat
apa yang menjadi harapan pelanggan (customer expectation) saat ini yang berada dalam target
pasarnya, untuk dijadikan dasar dalam merumuskan dan menetapkan arah dari suatu kebijakan dalam mengantisipasi berbagai harapan pelanggan
(customer expectation) yang terus berkembang.
Upaya untuk mengimplementasikan sistem penyampaian jasa ke dalam program pelayanan pelanggan yang rill, dengan adanya fasilitas
fisik yang mendukung yaitu berupa benda-benda
tidak bergerak, nyata dan dapat dirasakan oleh pasien seperti bangunan yang layak, peralatan yang representatif, interior bangunan yang asri, eksterior bangunan, fasilitas parkir, kantin, bank, dan jaminan keamanan dan dukungan penuh dari seluruh karyawan dan manajemen rumah sakit umum, melalui peningkatan kemampuan
(capability), melaksanakan program tersebut.
Hal ini menjadi penting mengingat jasa rumah sakit merupakan customer servicefocus yang
aktivitasnya berorientasi kepada orang (people based service). Pada rumah sakit lingkungan fisik mencakup lokasi, peralatan dan fasilitas,
yang dianggap penting oleh pasien rumah sakit, sedangkan contact personnel merupakan semua unsur manusia yang ikut terlibat dalam penyampaian jasa dan selanjutnya mempengaruhi persepsi pembeli.
Contact personnel tersusun dari seluruh karyawan yang berada pada lini depan organisasi dan mempunyai kontak langsung dengan pelanggan. Peningkatan sistem penyampaian jasa
pihak rumah sakit umum akan memudahkan upaya peningkatan citra rumah sakit, kepuasan pelanggan dan kepercayaan pelanggan. Citra rumah sakit yang baik akan mempengaruhi kepercayaan pelanggan. bahwa, inanimate environment dan contact personnel berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan.
Hal ini didukung oleh physical support dan contact personnel berpengaruh terhadap citra perusahaan. Fasilitas dan pelayanan yang diberikan oleh staf berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan, sedangkan kepuasan akan mempengaruhi kepercayaan dan komitmen pelanggan. Physical environment dan contact personnel berpengaruh terhadap kepercayaan pelanggan dan loyalitas pelanggan. Adanya hubungan antara citra perusahaan dengan loyalitas pelanggan yaitu intensi pembelian ulang dan keinginan merekomendasikan kepada orang lain. citra perusahaan dengan kepuasan, kepercayaan dan komitmen pelanggan. Selanjutnya citra perusahaan akan berpengaruh besar terhadap intensi pembelian pelanggan dan keinginan untuk merekomendasikan.
PENUTUP
Berdasarkan uraian-uraian pada bab-bab
sebelumnya dalam kaitannya dengan pokok permasalahan yang ada, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut : Komunikasi dalam
bidang keperawatan merupakan proses untuk menciptakan hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien untuk mengenal kebutuhan pasien dan menentukan rencana tindakan serta kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu komunikasi terapeutik memegang peranan penting memecahkan masalah yang dihadapi pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi proposional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien pada komunikasi terapeutik terdapat dua komponen penting yaitu proses komunikasinya dan efek komunikasinya.
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi untuk
personal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar petugas kesehatan dengan pasien. Jadi intinya pasien datang ke Rumah Sakit untuk disembuhkan dan mereka siap melayani dengan memberikan upaya atau jasa penyembuhan.
Komunikasi interpersonal yang dilalukan
oleh perawat tersebut memang lebih terasa sangat efektif dalam usaha penyembuhan yang dialami oleh seseorang karena komunikasi ini pada dasarnya adalah suatu proses dinamis dan berkesinambungan mengubah pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam konteks komunikasi transaksional antar pasien dan perawat ini, pengamatan atas aspek tertetu saja, atau pada pesan verbal atau nonverbal
saja ini tidak akan menunjukkan gambaran
komunikasi yang utuh. Implikasi dari terapi ini
adalah perubahan tingkah laku, dimana terbentuk seseorang yang normal dengan konsep diri positif yang tidak merasa terisolasi dari lingkungan. Jika telah terjadi keseimbangan dari unsur kesehatan pasien tersebut maka berarti proses komunikasi yang digunakan dalam rangka melakukan pendekatan melalui komunikasi interpersonal sudah berjalan dengan baik.
Hambatan dalam komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien adalah manakala pesan komunikasi tersebut tidak sampai kepada tujuan. Adakalanya nasehat dari seorang perawat kepada pasien, dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan oleh pasien sehingga perawat tersebut dianggap terlalu berlebihan, cerewet, judes dan lain sebagainya ; Padahal tujuan utama perawat memberikan nasehat kepada pasien adalah baik demi kesembuhan pasien namun masih dianggap sebagai hal yang tidak menyenangkan oleh pasien. Dalam hal ini perlu terjalin komunikasi yang baik sehingga tujuan positif komunikasi antara perawat dengan pasien dalam hubungan terapeutik penyembuhan dapat terjalin dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anita Taylor, 2001 : Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Jakarta : Penerbit Kanisius Judy. C. Pearson.1999. Komunikasi Kesehatan.
Jakarta Penerbit UI
Devito, 1997, Psikologi Komunikasi Bandung:
Remaja Rosdakarya
Kariyoso.1994. Pengantar Komunikasi Bagi Siswa Perawat.Penerbit Buku Kedokteran EGC Laksono Trisnantoro. 2005. Hukum Kesehatan dan
Tenaga Kesehatan, Bandung, Citra Aditya Bakti
Marrylinn, 2000 E. Doengoes. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta. EGC.
Mundakir, 2006, Komuniukasi Keperawatan ;
Aplikasi dalam Pelayanan, Yogyakarta,
Graha Ilmu
Meidiana Dwidiyani, 2008 Keperawatan Dasar. Konsep ”caring”, Komunikasi, Etik dan
Spiritual dalam pelayanan keperawatan.
Semarang. Hasani. 2008
Moleong, Lexy J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya
Riswandi, 2009, Ilmu Komunikasi, Yogyakarta : Graha Ilmu
Suprapto, Tommy dan Fahrianoor.2004. Komunikasi Penyuluhan : dalam teori dan Praktek. Yogyakarta : Arti Bumi Intaran
Suryani. 2007 ; Komunikasi Terapeutik : Teori &