• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETHANOL JAHE MERAH (

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETHANOL JAHE MERAH ("

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETHANOL JAHE MERAH (Zingiber officinale Var.Rubrum Rhizoma) SEBAGAI ALTERNATIF IRIGASI

SALURAN AKAR TERHADAP BAKTERI E. FAECALIS SECARA IN- VITRO

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh

HADRIYANI DAHRIN J 111 11 281

UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

BAGIAN KONSERVASI GIGI MAKASSAR

2017

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul :EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETHANOL JAHE MERAH (Zingiber officinale Var.Rubrum Rhizoma) SEBAGAI ALTERNATIF IRIGASI SALURAN AKAR TERHADAP BAKTERI E. FAECALIS SECARA IN-VITRO

Oleh : Hadriyani Dahring / J 111 11 281

Telah Diperiksa dan Disahkan Pada Tanggal ………. 2017

Oleh Pembimbing

DR. drg. Juni Jekti Nugroho Sp. KG (K) NIP : 19710625 200501 2 001

Mengetahui,

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin

Dr. drg. Baharuddin Thalib, M.Kes., Sp.Pros NIP. 19640814 199103 002

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena hanyalah dengan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETHANOL JAHE MERAH (Zingiber officinale Var.Rubrum Rhizoma) SEBAGAI ALTERNATIF IRIGASI SALURAN AKAR TERHADAP BAKTERI E.

FAECALIS SECARA IN-VITRO. Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk

memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Selain itu skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan peneliti lainnya untuk menambah pengetahuan dalam bidang ilmu kedokteran gigi bagian bedah gigi dan mulut.

Dalam penulisan skripsi ini terdapat banyak hambatan yang penulis hadapi, namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga akhirnya, penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dr. drg. Baharuddin Thalib, M.Kes., Sp.Pros selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.

(4)

2. DR. drg. Juni Jekti Nugroho Sp. KG (K) selaku dosen pembimbing penulisan skripsi ini yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan arahan, petunjuk, serta bimbingan bagi penulis selama penyusunan skripsi ini.

3. Prof. H. Moh. Dharmautama, drg., Ph.D.,Sp.Pros(K) sebagai penasehat akademik yang senantiasa memberikan dukungan, nasihat, motivasi dan semangat, sehingga penulis berhasil menyelesaikan jenjang perkuliahan dengan baik.

4. Ayahandaku, Dahrin Hafid dan Ibundaku, Hasnah beserta adik - adikku, Muh.fajrul dan Muh.Arfah. Terima kasih dan penghargaan yang terdalam dari lubuk hati, penulis berikan kepada mereka semua yang senantiasa telah memberikan doa, dukungan, bantuan, didikan, nasihat, perhatian, semangat, motivasi, dan cinta kasih yang tak ada habis-habisnya. Tak ada kata atau kalimat yang mampu mengekspresikan besarnya rasa terima kasihku. Yang pasti, saya sungguh bersyukur dan bahagia memiliki kalian semua berada disisiku. Tiada apapun atau siapapun di dunia ini yang dapat menggantikan kalian. Sekali lagi, terima kasih.

5. Seluruh dosen yang telah bersedia memberikan ilmu, serta staf karyawan FKG Universitas Hasanuddin.

6. Segenap keluarga besar Oklusal 11, terima kasih untuk kekompakan dan rasa persaudaraan yang telah kalian tunjukkan, khususnya untuk my Sisters yang selalu support dan rela meluangkan waktu, tenaga dll Muqarramah Arifin, Winarmi Taswin, Friska Ranti, Andi Rasdiana, Dawalyati dachri serta teman seperjuangan skripsiku Wetricia dan Rusmini, yang senantiasa

(5)

membantuku dan memberikan semangat. Sangat bangga bisa menjadi bagian dari kalian.

7. Semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya skripsi ini yang namanya tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Penulis berharap kiranya Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan dari segala pihak yang telah bersedia membantu penulis. Akhirnya dengan segenap kerendahan hati, penulis mengharapkan agar kiranya tulisan ini dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran dan peningkatan kualitas pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi ke depannya, juga dalam usaha peningkatan perbaikan kualitas kesehatan Gigi dan Mulut masyarakat. Amin.

Makassar, ……….2017

Hadriyani Dahrin

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ··· i

LEMBAR PENGESAHAN ··· ii

KATA PENGANTAR ··· iii

DAFTAR ISI ··· vi

DAFTAR TABEL ··· ix

DAFTAR GAMBAR ··· x

BAB I. PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG ··· 1

I.2 RUMUSAN MASALAH ··· 3

I.3 TUJUAN PENELITIAN ··· 4

I.4 MANFAAT PENELITIAN ··· 4

II. TINJAUAN PUSTAKA II.1 PERAWATAN SALURAN AKAR (endodontic) ··· 5

II.2 INFEKSI SALURAN AKAR ··· 5

II.3 ENTEROCOCCUS FAECALIS··· 6

II.3.1 FAKTOR PERTAHANAN DAN VIRULENSI ··· 6

II.3.2 KLASIFIKASI ENTEROCOCCUS FAECALIS ··· 8

(7)

II.4 LARUTAN IRIGASI SALURAN AKAR ··· 9

II.4.1 SODIUM HYPOCHLORITE ··· 9

II.5 JAHE MERAH··· 9

II.5.1 TAKSONOMI DAH MORFOLOGI JAHE ··· 12

II.6 ISOLASI DAN PEMURNIAN SENYAWA FLAFONOID ·· 13

II.6.1 METODE EKSTRAKSI ··· 13

II.6.1.1 DEFINISI METODE EKSRAKSI ··· 13

II.6.1.2 TUJUAN METODE EKSTRAKSI ··· 13

II.6.3 METODE EKSTRAKSI ··· 14

III. KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP ··· 17

III.1 KERANGKA TEORI ··· 17

III.2 KERANGKA KONSEP ··· 19

IV. METODOLOGI PENELITIAN ··· 20

IV.1 JENIS PENELITIAN ··· 20

IV.2 DESIGN PENELITIAN ··· 20

IV.3 LOKASI PENELITIAN ··· 20

IV.3.1 TEMPAT PENELITIAN ··· 20

IV.3.2 WAKTU PENELITIAN ··· 21

IV.4 POPULASI PENELITIAN ··· 21

IV.5 SAMPEL ··· 21

IV.6 VARIABEL PENELITIAN ··· 21

IV.7 KRITERIA SAMPEL ··· 22

(8)

IV.8 ALAT UKUR ··· 22

IV.9 DEFINISI OPRASIONAL ··· 23

IV.10 ALAT dan BAHAN ··· 24

IV.11 ANALISIS DATA··· 26

IV.12 PROSEDUR PENELITIAN ··· 26

IV.13 ALUR PENELITIAN ··· 31

V. HASIL PENELITIAN ··· 32

VI. PEMBAHASAN ··· 41

VII. PENUTUP VII.1 PENUTUP ··· 44

VII.2 SARAN ··· 44

DAFTAR PUSTAKA………45 LAMPIRAN

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 Hasil uji KHM Ekstrak ethanol Jahe Merah terhadap E. Faecalis 32

Tabel 2 Hasil uji KHM ethanol Jahe Merah terhadap E. Faecalis 34

Tabel 3 Uji stastitik perbedaan diameter zona daya hambat antara konsentrasi ekstrak ethanol Jahe Merah terhadap E. Faecalis

dengan kontrol positif dan kontrol negative ··· 36

Tabel 4 Uji stastitik lanjutan mengenai perbedaan diameter zona daya hambat antara konsentrasi ekstrak ethanol Jahe Merah terhadap E.

Faecalis dengan kontrol positif dan kontrol negative. ··· 37

(10)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 Enterococcus Faecalis……… 8

Gambar 2 Jahe Merah ··· 12

Gambar 3 KHM ekstrak ethanol Jahe Merah terhadap

Enterococcus faecalis ··· 33

Gambar 4 Zona daya hambat ekstrak ethanol Jahe Merah terhadap

Enterococcus faecalis (replikasi pertama, kedua dan ketiga) 35

(11)

LAMPIRAN

1. Surat Izin Penelitian

2. Surat Pernyataan dari Perpustakaan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin

(12)

EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL JAHE MERAH (Zingiber officinale Var.Rubrum Rhizoma) SEBAGAI ALTERNATIF

IRIGASI SALURAN AKAR TERHADAP BAKTERI E. FAECALIS SECARA IN-VITRO

Oleh

Hadriyani Dahrin

ABSTRAK

Dalam penelitian ini Jahe Merah yang digunakan berasal dari jaeh lokal yang berdaging buah merah. Pemilihan jenis jahe merah didasarkan pada kebiasaan masyarakat yang lebih banyak menggunakan jahe lokal untuk obat tradisional. Jahe diperoleh dari pasar tradisional. Jahe yang di peroleh kemudian dibersihkan dan dikeringkan dengan pengeringan di Lab Fitokimia Farmasi sehingga diperoleh simplisia jahe yang siap diekstraksi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak ethanol jahe merah (Zingiber officinale Var.Rubrum Rhizoma) terhadap bakteri Entrococcus faecalis sebagai salah satu alternatif bahan irigasi saluran akar.

Jenis penelitian yang dilakukan adalah Eksprimen laboratorium, lokasi penelitian dilakukan di Laboratorium mikrobiologi fakultas farmasi universitas

(13)

hasanuddin untuk pengekstraksian Jahe Merah dan pengukuran zona daya hambat larutan ekstrak daun jambu biji. Jenis data adalah Data primer dan pengolahan data SPSS 16.0 for windows serta penyajian data dicantumkan dalam gambar dan table.

Hasil dari penelitian ini: ekstrak ethanol jahe merah (Zingiber officinale Var.Rubrum Rhizoma) memiliki efekstifitas daya hambat terhadap enterococcus faecalis secara invintro dan KHM (Konsentrasi Hambat Minimal) ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) adalah 20%

(14)

FKG - UNHAS 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam usaha mempertahankan gigi tetap berada dalam lengkungnya dan berfungsi dengan baik, salah satu perawatan yang dilakukan adalah perawatan saluran akar.1 Perawatan saluran akar (PSA) merupakan salah satu perawatan endodontik yang bertujuan untuk membersihkan jaringan pulpa dan bakteri yang terdapat didalam sistem saluran akar sehingga dapat dilakukan pengisian saluran akar dengan baik dan terjadi perbaikan jaringan periapikal.2 Keberhasilan perawatan saluran akar bergantung pada banyak faktor, namun eliminasi bakteri adalah salah satu yang terpenting.3 Pada kasus perawatan endodontik yang gagal, E.Faecalis meripakan salah satu jenis bakteri yang sering ditemukan pada saluran akar. Gambaran klinis akibat virulensi dari bakteri ini adalah periodontitis apikal akut, periodontitis kronis, periodontitis apikal eksaserbasi, periodontitis marginal dan abses periradikular.4

Tahapan terpenting dalam perawatan saluran akar gigi yang terinfeksi adalah preparasi, sterilisasi, dan pengisian Preparasi saluran akar gigi menunjang proses sterilisasi dan menghasilkan pengisian yang baik sehingga akan didapatkan hasil yang maksimal. Pada tahap preparasi diperlukan bahan

(15)

FKG - UNHAS 2 irigasi saluran akar yang bertujuan menghilangkan jaringan nekrotik, tumpukan serpihan dentin, dan guna membasahi saluran akar gigi sehingga mempermudah dalam preparasi serta mengurangi jumlah bakteri dalam saluran akar.5

Bahan yang dapat di gunakan untuk irigasi salah satunya adalah Sodium Hipoklorit (NaOCl). NaOCl pertama kali dikenali sebagai agen antibakteri pada tahun 1843 saat mencuci tangan dengan larutan hipoklorit antara pasien menghasilkan tingkat transmisi infeksi yang luar biasa rendah antara pasien. Ini pertama kali tercatat sebagai irigan endodontik pada tahun 1920 dan sekarang digunakan secara rutin di seluruh dunia.7

Kelebihan NaOCl adalah mampu melarutkan jaringan pulpa vital dan nekrotik, membilas debris keluar dari saluran akar, bersifat antibakteri dengan spekrum luas, sporisid, virusid, pelumas, harganya ekonomis dan mudah diperoleh. Akan tetapi larutan NaOCl dapat menyebabkan iritasi bila terdorong ke jaringan periapikal, tidak mampu melarutkan komponen anorganik, menyebabkan bercak putih bila mengenai pakaian pasien dan aromanya tidak enak.8 Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, herbal akan menjadi sumber terbaik untuk mendapatkan berbagai jenis obat. Sekitar 80% individu dari negara maju menggunakan bahan herbal, yang memiliki senyawa yang berasal dari tanaman obat (Nascimento et al., 2000).9

Maka dari itu herbal menjadi salah satu alternatif yang memiliki senyawa antibakteri butuh untuk dieksplorasi, salah satunya adalah rimpang jahe merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum).

(16)

FKG - UNHAS 3 Rimpang jahe merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum) mengandung gingerol yang memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi dan lain-lain (Kim et.al.,2005). Kandungan senyawa metabolit sekunder terutama pada tanaman jahe-jahean dari golongan flavonoid, fenol, terpenoid, dan minyak atsiri yang terdapat pada ekstrak jahe merupakan golongan senyawa bio aktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri.10

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa rimpang jahe memiliki daya antibakteri. Namun belum terdapat penelitian yang mengemukakan perbandingan efektivitas ekstrak etanol jahe merah sebagai larutan irigasi saluran akar terhadap bakteri E. faecalis. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang efektivitas ekstrak etanol jahe merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum) sebagai alternatif larutan irigasi saluran akar dalam menghambat bakteri E.faecalis secara in-vitro.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan uraian diatas, maka dapat di rumuskan masalah mengenai bagaimana efektivitas antibakteri ekstrak etanol jahe merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum) dalam menghambat pertumbuhan bakteri E.

faecalis sebagai salah satu bahan alternatif larutan irigasi saluran akar?

(17)

FKG - UNHAS 4 1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol jahe merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum) terhadap bakteri E. faecalis sebagai salah satu alternatif bahan irigasi saluran akar.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Sebagai informasi kepada masyarakat mengenai efektivitas antibakteri dari penggunaan ekstrak jahe terhadap bakteri E.faecalis.

2. Sebagai acuan bagi klinisi tentang bahan herbal yang dapat di gunakan sebagai bahan irigasi saluran akar yang digunakan untuk mengeliminasi bakteri anaerob pada saluran akar khususnya bakteri E.faecalis.

3. Sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas antibakteri ekstrak etanol jahe merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum) terhadap bakteri E. faecalis.

(18)

FKG - UNHAS 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perawatan saluran akar (endodontik)

Perawatan saluran akar (PSA) merupakan salah satu perawatan penyakit pulpa yang bertujuan untuk membersikan jaringan pulpa yang terdapat dalam system saluran akar, sehingga dapat di lakukan proses pengisian saluran akar yang baik dan terjadi proses penyembuhan jaringan periapikal. Perawatan saluran akar dikatakan berhasil apabila dalam waktu observasi minimal satu tahun tidak ada keluhan dan lesi periapikal yang ada berjurang atau tetap.

Keberhasilan perawatan endodontik tergantung banyak factor antara lain factor host, preparasi, mikroorganisme, dan lain-lain. Mikroorganisme yang tersisa pada saluran akar yang telah di preprasi atau yang tumbuh pasca obturasi saluran akar, merupakan penyabab utama kegagalan perawatan saluran akar.11

2.2 Infeksi Saluran Akar

Penyebab utama kegagalan perawatan saluran akar adalah persistensi infeksi saluran akar yang menghambat penyembuhan daerah apikal.12 Bakteri yang paling banyak di temukan pada daluran akar adalah bakteri anaerob, selaij itu juga terbadapt bakteri mikroaerofili, fakultatif aerob serta obligat aerob.13

(19)

FKG - UNHAS 6 Mokroorganisme pada infeksi saluran akar adalah polimikroba yang di dominasi oleh bakteri obligat anaerob. Mikroorganisme yang sering terdapat pada isolasi bakteri pada perawatan saluran akar adalah anaerob batang gram negative, anaerob kokkus gram positif, anaerob dan fakultatif batang gram positif, lactobacillus sp. Selama perawaatn saluran akar bakteri anaerob obligat lebih mudah di basmi. Bakteri facultatif seperti Streptococcus non mutans, Enterococcus dan Lactobacillus merupakan bakteri yang susah di hilangkan.

meskipun instrumentasi khemomekanikal dan medikasi saluran akar telah di lakukan.11

2.3 Enterococcus Faecalis

Enterococcus faecalis adala bakteri facultative aerob gram positi yang berbentuk coccus dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen dan merupakan flora normal pada manusia yang biasanya terdapat pada rongga mulut, saluran gastrosintestinal dan saluran vagina.14,15 Bakteri ini tidak membentuk spora fermentatif, berbentuk ovoid, berdiameter 0,5 – 1µm. tampak sebagai coccus tunggal, berpasangan atau membentuk rantai pendek dan permukaan koloni pada agar darah berbentuk bulat dan halus.16

2.3.1 Faktor pertahanan dan virulensi

Enterococcus faecalis sangat resisten terhadap medikasi selama perawatan saluran akar dan menyebabkan kegagalan perawatan saluran

(20)

FKG - UNHAS 7 akar. Enterococcus faecalis mempunyai kemampuan penetrasi kedalam tumbuli dentinalis sehingga memungkinkan bakteri tersebut terhindar dari instrumentasi alat-alat preparasi dan bahan irigasi yang digunakan selama preparasi biomecalical.14,15 Bakteri ini Sembilan kali terdapat lebih banyak pada infeksi pasca perawatan asluran akar dibandingkan infeksi primer.

Enterococcus faecalis mampu mengkatabolisme berbagai sumber energy dan dapat bertahan hidup dalam berbahai lingkungan termasuk pH alkali yang ekstrim, juga pada berbagai suhu, enterococcus faecalis bahkan juga dapat berkompetisi dengan abakteri lainnyamelalui pemeriksaan PCR. Pada beberapa kasus bahkan ditemukan bakteri enterococcus faecalis sebagai satu-satunya bakteriyang terdapat pada saluran akar yang sudah diobturasi dengan lesi preradikuler. 14,15

Kemampuan bertahan hidup dan virulensi dari enterococcus faecalis antara lain dari enzim litik, sitolisin, senyawa agregrasi, feromon dan asam lipoteikoat (LTA). Untuk melekat pasa host enterococcs faecalis mengekspresikan protein untuk berkompetisi dengan sel bakteri lain dan mengubah respon host . enterococcus faecalis mampu menekan aksi limfosit., yang mempunyai konrpotensi untuk berkontribusi dalam kegagalan endodontic. enterococcus faecalis mempunyai protese serin gelatinase dan protein pengikat kolagen yang membantu pengikatan dentin.

Kelebihan dari enterococcus faecalis adalah kemampuannya untuk bertahan hidup tanpa makanan sampai meperoleh suplay nutrisi adekuat. Serum yang

(21)

FKG - UNHAS 8 berasal dari tulang alveolar ataupun ligamentum periodontal juga dapat membatu bakteri enterococcus faecalis untuk terikat pada kolagen tipe I.17,18

2.3.2 Klasifikasi Enterococcus Faecalis 19

Bakteri enterococcus faecalis diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Bacteria

Division : Firmicitus Ordo : Lactobacillales Family : Enterococcaceae Genus : Enterococcus

Species : Enterococcus faecalis

Sumber : http://escambia.ifas.ufl.edu/marine/2017/07/02/the- health-advisory-bug-enterococcus-faecalis/

(22)

FKG - UNHAS 9 2.4 Larutan Irigasi Saluran Akar

2.4.1 Sodium Hypochlorite (NaOCl)

Bahan irigasi yang mengandung klorin telah di gunakan selama bertahun-tahun untuk mengisi saluran akar.20 Bahan itigasi yang mengandung klorin adalah sodium hypoclorite (NaOCl).

NaOCl merupakan salah satu pereduksi bahan, mengandung sekitar 5% klorin yang tersedia. Bila saluran akar diisi dengan larutan tersebut selama prosedur pembersihan, akan berperan sebagai lubrikan/ pelumas, pelarut jaringan pulpa, antiseptic dan pemutih.21,22 NaOCl adalah yang paling efektif diantara antiseptic yang telah diuji, tetapi keefektifan berkurang bila dicairkan.21 Meskipun aksi melarutkan dari NaOCl telah dapat dibuktikan, peneliti-peneliti lain menemukan bahwa sodium hypoclorite kurang efektif pada saluran akar sempit dibandingkan pada saluran akar lebar.21

2.5 Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum)

Saat ini dikenal banyak bahan alam yang memiliki daya antibakteri. Penggunaan bahan alam oleh masyarakat Indonesia, khususnya tanaman obat cenderung meningkat seiring tingginya harga obat dan fenomena resistensi dari obat-obatan kimia.1 Tanaman obat dapat dijadikan alternatif sebagai obat herbal untuk mikroorganisme yang

(23)

FKG - UNHAS 10 resisten terhadap obat kimia.23 Pemanfaatan bahan herbal untuk pengobatan tradisional banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, salah satunya adalah Jahe merah.

Jahe merah termasuk tanaman jenis rimpangan-rimpangan yang tumbuh di daerah dataran rendah sampai wilayah pegunungan dengan ketinggian 0 sampai 1.500 meter dari permukaan air laut.24

Jahe adalah tanaman rhizomatous yang tumbuh di seluruh Asia Tenggara, China dan di beberapa bagian di Jepang, Austria, Amerika Latin, Jamaika dan Afrika. Jahe telah digunakan sebagai rempah dan obat-obatan di India dan China sejak zaman kuno. Tanaman jahe ditanam dalam pot dan dibawa ke luar negeri dengan pelayaran panjang laut untuk mencegah kudis.

Bumbu itu dikenal di Jerman dan Prancis pada abad kesembilan dan di Inggris pada abad ke 10 untuk khasiat obatnya. Lebih dari tiga perempat populasi dunia masih mengandalkan tanaman dan ekstrak tumbuhan untuk perawatan kesehatan. Jahe banyak digunakan pada obat ayurveda dan obat- obatan cerita rakyat . Sekitar 8000 obat herbal telah dikodifikasi dalam ayurveda dan masih digunakan di seluruh India. Sebagian besar sediaan ayurveda mengandung lada kering dan jahe.25

Jahe merah (Zingiber officinale varietas rubrum), dikenal dengan nama lain di daerah, seperti halia udang di Aceh, dan jahe sunti di Jawa.

Jahe merah rimpangnya berukuran sedang atau lebih kecil dari jahe emprit, bagian luar merah, bagian dalam jingga muda hingga merah. Jahe merah

(24)

FKG - UNHAS 11 memiliki tingkat kepedasan tertinggi daripada jenis jahe lainnya Sehingga paling banyak digunakan untuk pengobatan. Dipanen antara 10-12 bulan, dengan ciri-ciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering.26

Kandungan senyawa metabolit sekunder pada tanaman jahe-jahean terutama golongan flavonoid, fenol, terpenoid dan minyak atsiri. Senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan tumbuhan Zingiberaceae ini umumnya dapat meng-hambat pertumbuhan patogen yang me-rugikan kehidupan manusia, diantaranya bakteri Escherichia coli, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, jamur Neurospora sp, Rhizopus sp. dan Penicillium sp. (Nursal et al., 2006).27

Banyak ilmuwan telah melaporkan sifat antimikroba beberapa tanaman. Aktivitas antiinflamasi dan anti-nekrotik (Lin dan Huang, 2002;

Omoya dan Akharaiyi, 2012) telah dilaporkan dari penggunaan ekstrak tumbuhan. Anggota Zingiber (jahe) yang paling terkenal adalah Zingiber officinale. Di banyak belahan dunia, Z. officinale memiliki nilai obat dan kuliner (Omoya dan Akharaiyi, 2012). Minyak jahe yang mudah menguap dan prinsip tajam lainnya tidak hanya memberi jahe aroma pedasnya, tapi yang paling kuat secara medis karena menghambat pembentukan prostaglandin dan leukotriene, yaitu produk yang mempengaruhi aliran darah dan pembengkakan (Longe et al, 2005; Omoya dan Akharaiyi, 2012).28

(25)

FKG - UNHAS 12 Pada penelitian (Elhadi M dkk, 2016) menunjukkan bahwa Ekstrak jahe, kayu manis dan kombinasinya menunjukkan pengurangan (CFU) dari jumlah awal 83 koloni menjadi rata-rata (CFU) masing-masing 26,5, 77,8 dan 49,7. Jahe menunjukkan khasiat antibakteri terbesar dibandingkan dengan kayu manis.29

2.5.1 Taksonomi dan Morfologi Jahe

Jenis genus keluarga ini adalah Zingiber, taksonominya adalah sebagai berikut :

Kingdom :Plantae

Division :Magnoliophyta Class :Liliopsida Order :Zingiberales Family :Zingiberaceae Genus :Zingiber Species :Z. officinale 30

(26)

FKG - UNHAS 13 Sumber : http://herbalwiki.blogspot.sg/2014/02/manfaat-jahe- merah-untuk-kesehatan.html.

2.6 Isolasi dan Pemurnia Senyawa Flafonoid 2.6.1 Metode ekstraksi

2.6.1.1 Definisi Metode Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak atsiri, alkaloida, falvonoida dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen POM, 2000). 31

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok. diluar pengaruh matahari langsung (Ditjen POM, 1979).31

2.6.1.2 Tujuan Metode Ekstraksi

Ekstraksi adalah penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari bagian tanaman obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk

(27)

FKG - UNHAS 14 biota laut. Zat-zat aktif terdapat di dalam sel, namun sel tanaman dan hewan berbeda demikian pula ketebalannya, sehingga diperlukan metode ekstraksi dengan pelarut tertentu dalam mengekstraksinya.

Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut. (Harbone, 1987; Dirjen POM, 1986). 32

2.6.1.3 Metode Ekstraksi a. Maserasi

Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri.(Agoes,2007). Metode ini dilakukan dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman.

Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak, dan

(28)

FKG - UNHAS 15 besar kemungkinan beberapa senyawa hilang. Selain itu, beberapa senyawa mungkin saja sulit diekstraksi pada suhu kamar. Namun di sisi lain, metode maserasi dapat menghindari rusaknya senyawa- senyawa yang bersifat termolabil.

b. Perkolasi

Pada metode perkolasi, serbuk sampel dibasahi secara perlahan dalam sebuah perkolator (wadah silinder yang dilengkapi dengan kran pada bagian bawahnya). Pelarut ditambahkan pada bagian atas serbuk sampel dan dibiarkan menetes perlahan pada bagian bawah. Kelebihan dari metode ini adalah sampel senantiasa dialiri oleh pelarut baru. Sedangkan kerugiannya adalah jika sampel dalam perkolator tidak homogen maka pelarut akan sulit menjangkau seluruh area. Selain itu, metode ini juga membutuhkan banyak pelarut dan memakan banyak waktu.

c. Soxhletasi

Metode ini dilakukan dengan menempatkan serbuk sampel dalam sarung selulosa (dapat digunakan kertas saring) dalam klonsong yang ditempatkan di atas labu dan di bawah kondensor.

Pelarut yang sesuai dimasukkan ke dalam labu dan suhu penangas diatur di bawah suhu reflux. Keuntungan dari metode ini adalah

(29)

FKG - UNHAS 16 proses ektraksi yang kontinyu, sampel terekstraksi oleh pelarut murni hasil kondensasi sehingga tidak membutuhkan banyak pelarut dan tidak memakan banyak waktu. Kerugiannya adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi karena ekstrak yang diperoleh terus-menerus berada pada titik didih.

d. Reflux dan Destilasi Uap

Pada metode reflux, sampel dimasukkan bersama pelarut ke dalam labu yang dihubungkan dengan kondensor. Pelarut dipanaskan hingga mencapai titik didih. Uap terkondensasi dan kembali ke dalam labu.

Destilasi uap memiliki proses yang sama dan biasanya digunakan untuk mengekstraksi minyak esensial (campuran berbagai senyawa menguap). Selama pemanasan, uap terkondensasi dan destilat (terpisah sebagai 2 bagian yang tidak saling bercampur) ditampung dalam wadah yang terhubung dengan kondensor.

Kerugian dari kedua metode ini adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi (Seidel V 2006).33

(30)

FKG - UNHAS 17

BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Teori

Obturasi Sterilisasi

NaOCL VS 2,5%

Ekstak Jahe Merah

Preparasi

Perawatan Endodontik

(31)

FKG - UNHAS 18 Keterangan :

Variabel yang di teliti : Variabel yang tidak di teliti :

(32)

FKG - UNHAS 19 3.2 Kerangka Konsep

Keterangan :

Variable Independen :

Variable Antara : : Variable Dependen :

Variable Kendali :

Reaksi Anti Bakteri

Bakteri E. Faecalis

1. Temperature Inkubasi 2. Lama Inkubasi 3. Papper disk Gingerol Ekstrak

Jahe Merah Larutan Irigasi

Sodium Hypochorite 2,5%

(33)

FKG - UNHAS 20

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis penelitian :

Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium.

4.2 Desain penelitian :

Desain penelitian yang digunakan adalah post test only control group design.

4.3 Lokasi Penelitian :

4.3.1 Tempat Penelitian :

1. Laboratorium Konservasi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin 2. Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas

Hasanuddin Makassar.

3. Laboratorium Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin Makassar.

(34)

FKG - UNHAS 21 4.3.2 Waktu Penelitian :

Penelitian ini di laksanakan bulan Oktober 2017

4.4 Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini yaitu koloni bakteri E.Faecalis

4.5 Sampel

1. Ekstrak Jahe merah berbagai konsentrasi 2. Larutan NaOCl 2,5%

4.6 Variabel penelitian:

1. Variabel bebas : Ekstak jahe merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum)

2. Variabel terikat : E. Faecalis 3. Variabel kendali :

a. Cara Inkubasi b. Waktu

c. Suhu d. Medium

(35)

FKG - UNHAS 22 4. Variabel Antara : Gangguan metabolisme sel bakteri

4.7 Kriteria Sampel

4.7.1 Kriteria Inklusi

a. Bakteri E.Faecalis yang sudah di biakkan b. Ekstrak Jahe merah yang telah di ekstrakkan c. Medium agar yang telah diSterilkan

4.7.2 Kriteria Ekslusi

a. Bakteri E. Faecalis yang terkontaminasi lingkungan b. Ekstrak Jahe merah yang terkontaminasi lingkungan c. Medium agar yang terkontaminasi lingkungan

4.8 Alat Ukur

Untuk mengukur luas zona hambat yang terdapat pada papper disc digunakan jangka sorong dalam satuan millimeter.

(36)

FKG - UNHAS 23 4.9 Definisi Oprasional

1. Ekstrak jahe merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum) adalah adalah hasil ekstraksi jahe merah yang telah di keringkan , dihaluskan, dan di maserasi.

2. NaOCl merupakan salah satu bahan irigasi saluran akar, dalam hal ini konsentrasi yang di gunakan adalah 2,5% sebagai kontrol positif.

3. Bakteri E.Faecalis merupakan bakteri anaerob gram positif yang paling sering di temukan resisten didalam saluran akar. Bakteri yang digunakan merupakan sediaan dari Lab.

4. Zona inhibisi merupakan luas daerah bening pada biakan medium bakteri setelah diinkubasi yang diukur diameternya menggunakan jangka sorong dalam satuan millimeter (mm).

5. Efektivitas daya hambat di nilai efektif ketika terbentuk zona inhibisi disekitar paper disc.

6. Konsentrasi hambat minimal (KHM) merupakan tabung yang memiliki konsentrasi rendah yang pertama kali terlihat jernih, setelah tabung yang lain diamati kekeruhannya.

7. Kontrol positif merupakan variabel yang diberikan dampak setelah diberikan perlakuan. Dalam hal ini NaOCL 2,5% digunakan sebagai kontrol positif.

(37)

FKG - UNHAS 24 8. Kontrol negatif merupakan variabel penelitian yang tidak menimbulkan

dampak atau efek setelah di berikan perlakuan. Dalam penelitian ini aquades di gunakan sebagai kontrol negatif.

4.10 Alat dan Bahan 4.10.1 Alat :

1. Alat penghancur (blender) 2. Cawan petri

3. Tabung reaksi 4. Ose bulat 5. Paper disk 6. Catton swab 7. Aluminium foil 8. Incubator

9. Timbangan analitik 10. Oven simplisia 11. Pipet mikro 12. Rotavapor 13. Labu enlemeyer 14. Kertas asring 15. Jangka dorong

(38)

FKG - UNHAS 25 16. Corong

17. Kertas lebel

18. Handskun dan masker 19. Pinset

20. Toples kaca 21. Mangkuk kecil 22. Botol vial

23. Batang pengaduk 24. Gelas ukur 25. Bunsen 26. Ose bulat 27. Autoclaf 28. Alat tulis 4.10.2 Bahan :

1. Aquades steril 2. Alkohol 3. NaOCl 2,5%

4. Etanol 96%

5. Jahe Merah yang telah di maserasi 6. Biakan bakteri E.Faecalis

7. Media Brain Heart Infusion Broth (BHIB) 8. Medium Muller-Hilton Agar (MHA)

(39)

FKG - UNHAS 26 4.11 Analisis Data

1. Jenis Data : Data Primer 2. Pengolahan Data : SPSS

3. Penyajian Data : Dalam bentuk tabel dan gambar 4. Analisis Data : Uji t berpasangan

4.12 Prosedur Penelitian

4.12.1 Tahap pembuatan ekstrak jahe 1. Persiapkan jahe merah

2. Rimpang jahe dibersihkan dan lakukukan sterilisasi permukaan dengan pemberian alkohol 70%.

3. Kupas lalu cuci menggunakan aquades steril.

4. Keringakan lalu gerus dan masukkan ke dalam oven simplisia dengan suhu 50ºC selama 24 jam. Jahe merah yang telah di gerus di nyatakan telah kering jika sudah mulai berkerut.

5. Blender hingga halus dan membentuk serbuk, lalu ambil serbuk jehe sebanyak 100gr.

6. Serbuk jahe 100gr direndam dan dimasukkan dalam toples dan diberi etanol 96% sebanyak 200ml serta tutup menggunakan

(40)

FKG - UNHAS 27 aluminium foil untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan, lalu di diamkan selama 48 jam. Proses ini disebut sebagai tahap maserasi.

7. Hasil saringan Jahe merah di ekstrak menggunakan roatvapor dengan suhu 50ºC selama 96 jam. Hal ini berguna untuk memisahkan pelarut dengan ekstrak jahe merah agar diperoleh ekstrak yang kental.

4.12.2 Peremajaan bakteri (sub culture)

Media BHIB (37gr/1 atau 3,7gr/100ml) yang berada dalam tabung tertutup di sterilkan dengan menggunakan autoclave pada suhu 121ºC selama 15 menit.

1. Bakteri biakan murni E.Faecalis yang berada dalam tabung reaksi di masukkan kedalam media BHIB dengan menggunakan ose bulat.

2. Kemudian di inkubasi pada suhu 30ºC selama 24 jam (untuk melihat adanya koloni bakteri yang terbentuk).

3. Lakukan pewarnaan gram pada bakteri untuk melihat morfologi sel dari bakteri E.Faecalis (gram positif berantai pendek merupakan ciri dari bakteri E.Faecalis.

(41)

FKG - UNHAS 28 4.12.3 Pembuatan ekstrak jahe dengan konsentrasi berbeda

1. Ekstrak jahe merah di timbang menggunakan timbangan analitik masing-masing sebanyak 1gr, 5gr, 10gr, 15gr dan 20gr yang di dapatkan dari rumus pengenceran :

Massa Konsentrasi =

Volume

2. Ekstrak jahe merah yang ditimbang kemudian di larutkan dengan 100ml aquades. Sehingga di dapatkan konsentrasi 1%, 5%, 10%, 15%, dan 20%. Setelah itu hasil pengenceran ekstrak jahe di masukkan kedalam botol vial dan di berikan lebel sesuai dengan konsentrasinya.

4.12.4 Penentuan konsentrasi hambat minimal (KHM) yang dapat menghambat pertumbuhan E.Faecalis.

1. Sebanyak enam buah tabung di siapkan pada rak. Lima buah tabung di isi dengan media BHIB sebanyak 5ml. sedangkan tabung ke enam berisi kontrol bakteri. Kemudian 0.02ml bakteri E.Faecalis yang berada dalam tabung kontrol bakteri, dimasukkan pada masing-masing tabung reaksi dengan menggunakan pipet mikro 0,02ml.

(42)

FKG - UNHAS 29 2. Ekstrak jahe merah yang telah di encerkan tersebut masing-

masing di masukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 5 ml dan diberi label sesuai konsentrasinya.

3. Semua tabung diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam kemudian di lakukan pemeriksaan ada atau tidaknya pertumbuhan bakteri yang ditandai dengan terjadinya kekeruhan dalam tabung.

4. KHM ditentukan dengan memperhatikan tabung dengan konsentrasi yang pertama lebih jernih. Tabung yang terlihat keruh menunjukkan masih adanya bakteri.

5. Tabung yang pertama kali terlihat jernih merupakan konsentrasi ekstrak jahe yang akan digunakan pada pengujian terhadap bakteri E.Faecalis.

6. Tahap selanjutnya, bakteri yang telah di biakkan pada media MHA, di ambil menggunakan ose bulat. Kemudian bakteri yang telah diambil di masukkan ke dalam larutan NaOCl 0,9% yang akan disamakan kekeruhannya dengan standarisasi McFlarland 0,5.

7. Kemudian siapkan tiga buah cawan petri yang berisi media MHA di siapkan. Cutton swab dicelupkan kedalam tabung reaksi berisi bakteri E.Faecalis dengan NaCl 0,9% yang kekeruhannya sama dengan McFarland 0,5. Kemudian

(43)

FKG - UNHAS 30 cotton swab digores sampe penuh pada permukaan agar medium MHA pada cawan petri dan disebar secara merata.

Tahap selanjutnya paper disc di masukkan kedalam tiap konsentrasi ekstrak jahe serta NaOCl 2,5% dengan menggunakan pinset. Kemudian peper disc tersebut diletakkan pada media yang terdapat pada biakan E.Faecalis, lalu ditekan dengan menggunakan pinset agar paper disc benar-benar menempel pada media MHA.

8. Cawan petri diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC.

Selanjutnya dilakuakan pengukuran zona inhibisi, yaitu daerah jernih pada permukaan media MHA, disekitar paper disc menggunakan jangka sorong,. Penelitian ini menggunakan replikasi sebanyak tiga kali untuk mendapatkan hasil yang valid dari pengujian yang di lakukan.

(44)

FKG - UNHAS 31 4.13 Alur Penelitian

Jahe Merah

Ektrak jahe dengan konsentrasi tertentu

sesuai KHM

NaOCL 2,5% Aquades

(Kontrol negatif)

Analisa data Penentuan KHM Prosedur Ekstraksi

Pengukuran zona inhibisi Uji daya hambat bakteri E.Faecalis Larutan Ekstrak Jahe

Inkubasi 24 jam

1% 5% 10% 15% 20%

(45)

FKG - UNHAS 32

BAB V

HASIL

Dari hasil percobaan diperoleh bahwa ekstrak etanol dari jahe merah dapat menghambat pertumbuhan bakteri Entrococcus faecialis sebagai salah satu alternative bahan irigasi saluran akar. Jumlah koloni bakteri pada percobaan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Hasil uji KHM Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var.

Rubrum) terhadap bakteri Entrococcus faecialis.

Tabung yang telah di inkubasi

Ekstrak Ethanol Jahe Merah (%) Kontrol

1 5 10 15 20 K+ KK

24 jam + - - - +

Berdasarkan Tabel 1. Hasil uji KHM Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) terhadap bakteri Entrococcus faecialis, dapat dilihat bahwa seluruh konsentrasi yang dicoba tidak mengalami kekeruhan. Namun pada tabung dengan konsentrasi terkecil, yaitu 1% mengalami kekeruhan. Berikut

(46)

FKG - UNHAS 33 gambar dari KHM ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var.

Rubrum) terhadap bakteri Entrococcus faecialis.

Gambar : KHM Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum) terhadap E. faecalis. (sumber : Data primer November 2017).

(47)

FKG - UNHAS 34 Tabel 2. Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat konsentrasi Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) terhadap bakteri Entrococcus faecialis.

Replikasi

Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum)

(mm)

K+

(mm)

1% 5% 10% 15% 20% 2,5%

I 7,2 8,9 10,4 12,1 14,1 14,2

II 8,2 10,5 11,2 11,4 16,7 17,4

III 7,9 10,6 10,9 11,9 17,2 16,4

Sumber: Data Primer

Berdasarkan Tabel 2. Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat konsentrasi Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) terhadap bakteri Entrococcus faecialis, dapat dilihat bahwa zona hambat diperoleh memuaskan pada konsentrasi 20% dan juga control positif pada replikasi II dan III dikarenakan diameter lebih besar dari 16 mm. Berikut adalah gambar cawan petri pada replikasi I, II, dan III.

(48)

FKG - UNHAS 35 Replikasi ke1 Replikasi ke 2 Replikasi ke 3

Gambar 5: Zona daya hambat Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum) terhadap E. faecalis (replikasi pertama kedua dan ketiga (Sumber: Data primer, November 2017)

(49)

FKG - UNHAS 36 Tabel 3. Hasil Uji statistik perbedaan diameter zona daya hambat konsentrasi Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) terhadap bakteri Entrococcus faecialis.

Sum of

Squares

df Mean Square F Sig.

Between Groups 165.887 5 33.177 28.780 .000 Within Groups 13.833 12 1.153

Total 179.720 17

Uji statistik One-way ANOVA Sig. p<0.05

Berdasarkan Tabel 3. Hasil Uji statistik perbedaan diameter zona daya hambat konsentrasi Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var.

Rubrum) terhadap bakteri Entrococcus faecialis, dengan uji statistic ANOVA menunjukkan hasil yang signifikan (p<0,05) yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara daya hambat pada masing-masing konsentrasi ekstrak ethanol jahe merah terhadap bakteri Entrococcus faecialis.

Untuk mengetahui secara detail hasil bahwa kelompok konsentrasi mana yang terdapat perbedaan yang bermakna, maka pengujian mengenai perbedaan diameter zona daya hambat antara konsentrasi ekstrak ethanol jahe merah terhadap

(50)

FKG - UNHAS 37 bakteri Entrococcus faecialis dengan control positif (K+) menggunakan uji LSD , ditempilkan dalam tabel berikut.

Tabel 4. Uji statistik lanjutan mengenai perbedaan diameter zona daya hambat dengan konsentrasi Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var.

Rubrum) terhadap bakteri Entrococcus faecialis.

(51)

FKG - UNHAS 38 (I) Kelompok (J) Kelompok Mean Difference (I-J) Std. Error Sig.

2.5% K(+) 1% 8.23333* .87665 .000

5% 6.00000* .87665 .000

10% 5.16667* .87665 .000

15% 4.20000* .87665 .000

20% .00000 .87665 1.000

1% 2.5% K(+) -8.23333* .87665 .000

5% -2.23333* .87665 .026

10% -3.06667* .87665 .004

15% -4.03333* .87665 .001

20% -8.23333* .87665 .000

5% 2.5% K(+) -6.00000* .87665 .000

1% 2.23333* .87665 .026

10% -.83333 .87665 .361

15% -1.80000 .87665 .063

20% -6.00000* .87665 .000

10% 2.5% K(+) -5.16667* .87665 .000

1% 3.06667* .87665 .004

5% .83333 .87665 .361

(52)

FKG - UNHAS 39

15% -.96667 .87665 .292

20% -5.16667* .87665 .000

15% 2.5% K(+) -4.20000* .87665 .000

1% 4.03333* .87665 .001

5% 1.80000 .87665 .063

10% .96667 .87665 .292

20% -4.20000* .87665 .000

20% 2.5% K(+) .00000 .87665 1.000

1% 8.23333* .87665 .000

5% 6.00000* .87665 .000

10% 5.16667* .87665 .000

15% 4.20000* .87665 .000

Sig. *p<0.05

Berdasarkan Tabel 4. Uji statistik lanjutan mengenai perbedaan diameter zona daya hambat dengan konsentrasi Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) terhadap bakteri Entrococcus faecialis dengan pengujian LSD diperoleh hasil bahwa antara konsentrasi kontrol positif (K+) dengan konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%, didapatkan hasil yang signifikan

(53)

FKG - UNHAS 40 (p<0,05) yang artinya ada perbedaan antara kontrol dan konsetrasi 1%,5%,10%, dan 15%, sedangkan untuk kontrol positif dengan konsentrasi 20% didapatkan hasil tidak signifikan (p>0,05) yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya.

Pada perbedaan antara masing-masing kelompok konsentrasi lainnya rata- rata memiliki hasil yang signifikan dengan nilai P<0,05, namun pada kelompok konsentrasi 5% dan 10%, 5% dan 15%, 10% dan 15% memiliki hasil yang tidak signifikan dimana masing-masing memperoleh p>0,05.

(54)

FKG - UNHAS 41

BAB VI PEMBAHASAN

Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri saluran akar pada gigi nekrosis atau disebut antimikroba. Antimikroba merupakan suatu zat yang dapat menghambat atau menghentikan pertumbuhan kuman dengan toksisitas rendah sehingga dapat langsung digunakan pada kulit, jaringan ataupun luka. Aktivitas suatu antimikroba selain dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu, pH dan keberadaan bahan-bahan organic, kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan kuman juga dipengaruhi oleh konsentrasi dan waktu kontak. Jika konsentrasi antimikroba semakin tinggi dan waktu kontaknya dengan bakteri semakin lama, maka aktifitas antibakterinya juga akan semakin besar tetapi toksisitasnya juga akan meningkat. Oleh karena itu, perlu ditentukan konsentrasi dan waktu kontak yang paling efektif dan efisien dalam menghambat pertumbuhan bakteri.

Pada penelitian ini bakteri Enetrococcus faecalis diuji dengan mengacu pada beberapa waktu kontak dan dengan berbagai konsentrasi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa kombinasi waktu kontak dan konsentrasi dapat mempengaruhi aktifitas Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) terhadap bakteri Enterococcus faecalis pada irigasi saluran akar. Hal ini dikarenakan dengan meningkatnya konsentrasi maka kadar bahan aktifnya akan

(55)

FKG - UNHAS 42 semakin besar. Sementara, peningkatan waktu kontak akan meningkatkan reaksi kimia antimikroba sehingga bakteri yang mati akan semakin banyak.

Uji KHM yang dilakukan memperlihatkan bahwa Jahe merah pada konsentrasi terkecil, yaitu 1% menunjukkan hasil positif terhadap pertumbuhan bakteri E. faecalis setelah di inkubasi selama 24 jam. Hal ini menunjukkan bahwa KHM dari Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) adalah 20%.

Berdasarkan Tabel 2 terlihat jelas bahwa zona daya hambat ekstak Daun jambu biji (Psidium guajava) jauh lebih baik dibandingkan dengan sodium hipoklorit (2,5%) yang digunakan sebagai kontrol. Hal ini membuktikan bahwa Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) jauh lebih baik dibandingkan sodium hipoklorit dalam menghambat pertumbuhan E. faecalis.

Semakin tinggi konsentrasi, maka zona daya hambat semakin besar. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Pelzcar dan Chan bahwa semakin tinggi konsentrasi suatu bahan antibakteri, maka aktivitas antibakterinya akan semakin kuat pula. Hal ini sesuai juga dengan uji statistik yang dilakukan bahwa terdapat perbedaan diameter zona daya hambat yang bermakana (p < 0,05) antar konsentrasi Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum).

NaOCl (sodium hipoklorit) mampu menhambat pertumbuhan e.faecalis karena adanya unsur Cl. Unsur ini merupakan elemen yang tidak berdiri sendiri, namun berikatan pada unsure lainnya membentuk senyawa, misalnya berikatan pada natrium (Na) membentuk senyawa natrium klorida (NaCl).unsur Cl

(56)

FKG - UNHAS 43 merupakan suatu unsure yan dihasilkan oleh neutrofil yang merupakan imun nonspesifik pada tubuh manusia. Hal inilah yang mengakibatkan NaOCl mampu menghambat pertumbuhan E.faecalis.

(57)

FKG - UNHAS 44

BAB VII PENUTUP

VII.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa : a. Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum)

memiliki efekstifitas daya hambat terhadap enterococcus faecalis secara invintro.

b. KHM (Konsentrasi Hambat Minimal) Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) adalah 20%.

VII.2 SARAN

1. Perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh Ekstrak Ethanol Jahe Merah (Zingiber offcinale Rosc.Var. Rubrum) terhadap pertumbuhan bakteri lain yang terdapat pada rongga mulut.

(58)

FKG - UNHAS 45

Daftar pustaka

1. Nevi Yanti. Biokompatibilitas Larutan Irigasi Saluran Akar. e-USU Repository 2004 Universitas Sumatera Utara. P 1.

2. Ni Gusti Ayu Ariani, Wignyo Hadriyanto. Perawatan Ulang Saluran Akar Insisivus Lateralis Kiri Maksila dengan Medikamen Kalsium Hidroksida- Chlorhexidine. Maj Ked Gi. Juni 2013; 20(1): 52-57.

3. Gisele FARIA, Paulo NELSON-FILHO, Aldevina Campos de FREITAS, Sada ASSED, Izabel Yoko ITO. Antibacterial Effect of Root Canal Preparation and Calcium Hydroxide Paste (calen) Intracanal Dressing in Primary Teeth With Apical Periodontitis. J Appl Oral Sci. 2005;13(4):351- 5

4. Aswal D, Beatrice L. Efek Antibakteri ekstrak buah mahkota dewa terhadap enterococcus faecalis sebagai medikamen saluran akar. Dentika Dental Journal; 2010; 15(1): 32-6

5. Agustin WD. Perbedaan khasiat antibakteri bahan irigasi antara hydrogen perioksida 3% dan infisum daun sirih 2% terhadap bakteri mix.

Maj.Kedokteran gigi 2005: 38 (1): 45-7.

6. Pratishta Jain, Manish Ranjan. Role of herbs in root canal irrigation-A review. IOSR Journal of Pharmacy and Biological Sciences (IOSR-JPBS)

(59)

FKG - UNHAS 46 e-ISSN: 2278-3008, p-ISSN:2319-7676. Volume 9, Issue 2 Ver. VI (Mar- Apr. 2014), PP 06-10

7. H. R. Spencer, V. Ike and P. A. Brennan. The use of sodium hypochlorite in endodontics — potential complications and their management. Britist drntal journal .Vol 202 No. 9 May 12 2007.

8. Fatemah Ramezanali, Shiva Samimi, Mohammadjavad Kharazifard, Farzaneh Afkhami. 2016. The in Vitro Antibacterial Afficicaci of Persian Green Tea Extract as an Intracanal Irrigan on Enterococcus Faecalis Biofilm. IEJ Irian Endodontic Journal 2016; 11 (4): 304-8.

9. Nada Khazal Kadhim Hindi, Zainab Adil Ghani Chabuck. Antimicrobial Activity of Different Aqueous Lemon Extracts. Journal of Applied Pharmaceutical Science Vol. 3 (06), pp. 074-078, June, 2013.

10. Prasetyo Handrianto. Uji Antibakteri Ekstrak Jahe Merah Zingiber officinale var. Rubrum terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Journal of Research and Technologies, Vol. 2 No. 1 Juni 2016.

11. Zehnder M. Root Canal Irigant. Journal Endod, 2006; 32: 389-98.

12. D’Arcangelo C, Varvara G, & Fazio, PD: An Evaluation of the Action of Different Root Canal Irigan on Facultative Aerobic-Anaerobic, Obligate Anaerobic, Microaerofilic Bacteria. J Endod 1999; 25: 351-53.

13. Baumgartner JG, Baland L K, Sugita El. Micobiology of Endodontic and Asepsis in Endodontic Practice. Endodontic 5th ed London BC Decke Inc, 2002; 67.

(60)

FKG - UNHAS 47 14. Siqueira JF, Rocas IN, Faveri A, & Lima KC. Chemomechanical Reduction

of the Bacterial Population in the Root Canal After Instrumentation and Irigation with 1%, 2,5%, and 5,25% Sodium Hypoclorite. J Endod 2000; 26:

331 - 4.

15. Siquera JF, Rocas IN, Sauto R, Uzeda M, & Colombo AP. Acinomyces Species, Streptococci, and Enterococcus Faecalis in Primary Root Canal Infection. J Endod. 2002; 31:312-7.

16. Rocos IN, Siqueira JF, & Santos KRN. Asosiation of Enterococcus Faecalis with different from of peradicular disease CH. J Endod 2004; 31: 312 – 7.

17. Stuard CH, Schwartz SA, Beeson TJ, & Owats CB. Enterococcus Faecalis:

its Role in Root Canal Treatment Failure and Currrent Concepts in Retreatment. J Endod. 2006; 32: 93-8.

18. Pinheiro ET, Gomes BP, Ferraz FC, Texiera FB, Zaia AA, & Sauza F.

Evaluetion of Root Canal Microorganism Isolated from Teeth with Endodontic failure and Their Antimicrobial Susceptibility. Oral Microbiol Immun. 2003. Apr; 18: 100- 1003.

19. Katie Fisher and Carol Phillips. The ecology, epidemiology and virulence of Enterococcus. Microbiology (2009), 155, 1749–1757.

20. Sapngberg L. Instruments, Materials, and devices. In: Cohen S, BurnsRC, eds. Pathway of the Pulp. 8th ed. St. Lois: Mosby. 2002: 544-7.

21. Grossman LI, Oliet S, Del Rio CE. Ilmu Endodontik Dalam Praktek. 11th ed. Alih Bahasa: Abyono R, Suryo S. Jakarta: ECG, 1995: 205-12, 244-54.

(61)

FKG - UNHAS 48 22. Grossman LI. Endodontic practice. 9th ed. Philadhelphia: Lea & Fibriger,

1978: 222-36.

23. Talitha Maghfira Ramadhinta, M. Yanuar Ichrom Nahzi, Lia Yulia Budiarti.

Uji Efektivitas Antibakteri Air Perasan Jeruk Nipis (citrus aurantifolia) Sebagai Bahan Irigasi Saluran Akar Alami Terhadap Pertumbuhan Enterococcus Faecalis In Vitro. Dentino Juenal Kedokteran Gigi. Vol I. No 2. September 2016. P: 124-5.

24. Prasetyo Handrianto. Uji Antibakteri ekstrak Jahe Merah Zingiber officinale var. Rubrum Terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Journal of Research and Technologies, Vol. 2 No. 1 Juni 2016. P:1-2.

25. Anitha L, and Sunita Raju K. A Review on Antimicrobial Activity of Vegetables, Herbs and Spices Against Cariogenic Bacteria. Research &

Reviews: Research Journal of Biology. RRJOB| Volume 4 | Issue 4 | October - December, 2016. P:15.

26. Southeast Asian Food And Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center Research and Community Service Institution BOGOR AGRICULTURAL UNIVERSITY. Tanaman Obat Herna Berakar Rimpang. September 2012. P: 4-5.

27. Kartika Indah Permata Sari, Periadnadi dan Nasril Nasir. Uji Antimikroba Ekstrak Segar Jahe-Jahean (Zingiberaceae) Terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Candida albicans. Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.) 2(1) – Maret 2013 : 20-24.

(62)

FKG - UNHAS 49 28. Akintobi OA, Onoh CC, Ogele JO, Idowu AA, Ojo OV, Okonko IO.

Antimicrobial Activity Of Zingiber Officinale (Ginger) Extract Against Some Selected Pathogenic Bacteria. Nature and Science 2013;11(1).

29. Elhadi M. Awooda, and Sally A. Abdelkarim. The Effect of Herbal Medicine against Enterococcus faecalis on Infected Root Canal Substrate:

An Ex-vivo Study. European Journal of Medicinal Plants 17(2): 1-10, 2016, Article no.EJMP.25915. p:1-2.

30. Subash kumar Gupta, Anand Sharma. Medicinal properties of Zingiber officinale Roscoe - A Review. IOSR Journal of Pharmacy and Biological Sciences (IOSR-JPBS) e-ISSN: 2278-3008, p-ISSN:2319-7676. Volume 9, Issue 5 Ver. V (Sep -Oct. 2014), PP 124-129.

31. This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah Export date: Tue Oct 10 3:40:43 2017 / +0000 GMT.

32. Fitokimia UMI www.fitokimiaumi.wordpress.com

33. Mukhriani. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Indentifikasi Senyawa Aktif. Jurnal Kesehatan Volume VII No. 2/2014 p: 361-7.

Referensi

Dokumen terkait

Pemantauan adalah usaha atau tindakan mengamati, mengawasi, dan memeriksa secara terstruktur perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan

Berbeza dengan pemerian lampau tentang bahasa Negeri Sembilan yang lebih berkisar pada huraian fonologi (seperti Sharman 1973, 1974; Mohd Pilus 1977; Arbak 1994), kosa kata

24 The Scoring Result of Students’ Achievement Test Use of Comic strip as Media to Improve the Reading Comprehension of Narrative Text for the Tenth Grade Students of SMA N

• Jika setiap pixel tepi melakukan “pemungutan suara” pada ruang parameter, maka keberadaan garis lurus pada citra ditandai dengan penumpukan suara pada tempat-tempat tertentu di

Visualisasi model 3D wilayah Kota Kupang dengan konsep 3D CGIS menampilkan model permukaan digital dan obyek 3D dari bangunan, Infrastruktur dan vegetasi yang

Berdasarkan dari data-data yang disebutkan diatas, maka media Mobile Learning Berbasis Android untuk meningkatkan nilai TOEFL mahasiswa angkatan XII di STTAL

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan Rahmat dan Ridho-Nya, penulis telah diberikan kemudahan dan kelancaran, sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan

Perseroan meraih laba bersih Rp1,05 triliun hingga periode Desember 2015 naik tajam dari laba bersih tahun sebelumnya yang Rp568,06 miliar di periode yang sama.. Pendapatan