7 A. Deskripsi Teoritik
1. Pengertian, peranan dan tugas guru a. Pengertian guru
Guru adalah pendidik, yang dijadikan tokoh dan panutan oleh peserta didiknya. Oleh karena itu seorang guru haruslah memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang di dalamnya mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.1
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat (2) disebutkan:
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran belajar, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.2
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana yang dikutip Syarifudin Nurdin, dkk3 mengatakan bahwa:
Guru adalah seseorang yang mempunyai gagasan yang harus diwujudkan untuk kepentingan anak didik, sehingga menunjang hubungan sebaik-baiknya dengan anak didik, sehingga menjunjung tinggi, mengembangkan dan menerapkan keutamaan yang menyangkut agama, kebudayaan, keilmuan.Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar- mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukkan sumber daya manusia yang potensional di bidang pembangunan.
Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat (1), menyatakan bahwa:
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
1E. Mulyasa2.2006.Menjadi Guru Profesional.Bandung:Rosda Karya, hal. 37
2 Fokusmedia. 2010. Undang-undang SISDIKNAS Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia, hal.
21 3
Syarifudin Nurdin dan Basyiruddin Usman.Op.Cit., hal. 8
Tugas utama tersebut di atas akan efektif apabila guru memiliki derajat profesionalitas tertentu yang tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan, atau keterampilan yang memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu.4
Menurut Hamzah B. Uno5, “guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan.” Sedangkan menurut Masdudi,
Guru adalah pendidik dalam lembaga pendidikan formal (sekolah) maupun nonformal yang tentunya secara langsung dan tegas menerima kepercayaan dari masyarakat untuk memangku jabatan sebagai guru dan tanggungjawab pendidik dengan memenuhi syarat-syarat utama menjadi guru dalam rangka mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.6
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang guru merupakan seorang pendidik yang dijadikan panutan bagi para peserta didiknya maupun lingkungannya. Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk memiliki kompetensi, berpendidikan luas dan bercita-cita tinggi serta memiliki standar kualiatas tertentu agar bisa menjadi seorang guru yang disiplin dan bertanggungjawab. Guru juga harus bisa bertanggung jawab terhadap segala tindakannya dalam pembelajaran disekolah, dan didalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, guru juga berperan dalam membentuk watak bangsa dan menggali potensi yang dimiliki oleh para peserta didiknya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.
Dengan kata lain, guru bisa disebut juga pendidik, akan tetapi dalam penulisan ini peneliti menggunakan istilah guru. Penggunaan istilah pendidik tetap digunakan jika kalimat tersebut merupakan sebuah kutipan langsung.
b. Tugas dan peranan guru
Guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya-upaya membentuk watak bangsa melalui perkembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Oleh karena itu, peranan guru sulit digantikan oleh orang lain.
4 Sudarwan Danim. 2010. Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru. Bandung: Alfabeta, hal. 17
5Hamzah B. Uno, Op. Cit., hal. 15
6Masdudi.2011.Etika Profesi Keguruan.Cirebon:Al-Tarbiyah Press, hal.45-46
Jika dipandang dari sisi pembelajaran, peranan guru di dalam masyarakat tetap dominan walaupun teknologi berkembang dengan pesat saat ini. Hal ini disebabkan dalam proses pembelajaran yang diperankan oleh guru tidak sepenuhnya dapat tergantikan oleh teknologi.
Sejak dulu hingga sekarang seorang guru di dalam masyarakat terutama di daerah-daerah pedesaan masih memegang peranan amat penting meskipun status sosial guru ditengah masyarakat sudah berubah. Guru dalam segala keterbatasannya tetap dianggap sebagai pelopor ditengah masyarakat.7
Guru juga harus berpacu dalam pembelajaran dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai berikut:8
1. Orang tua yang penuh kasih sayang kepada peserta didiknya
2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan, dan bakatnya.
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
6. Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan (bersilaturahmi) dengan orang lain secara wajar.
7. Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antar peserta didik, orang lain, dan lingkungannya.
8. Mengembangkan kreativitas.
9. Menjadi pembantu ketika diperlukan.
Untuk memenuhi tuntutan di atas, guru harus mampu memaknai pembelajaran, serta menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan kompetensi dan perbaikan kualitas pribadi peserta didik.9
Adapun tugas dan peranan guru menurut E.Mulyasa, diantaranya sebagai berikut:10
1) Guru sebagai pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus
7Udin Syaefudin Saud. 2009.Pengembangan Profesi Guru.Bandung: CV Alfabeta, hal. 32
8E. Mulyasa2.Op. Cit., hal. 36
9Ibid
10Ibid., hal 37-50
memiliki strandar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.
Berkaitan dengan tanggung jawab, guru harus mengetahui serta memahami nilai, norma moral, dan sosial serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya dalam pembelajaran di sekolah, dan dalam kehidupan bermasyarakat.
Berkenaan dengan wibawa, guru harus memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai spiritual, emosional, moral, sosial, dan intelektual dalam pribadinya. Guru juga harus mampu mengambil keputusan secara mandiri, terutama dalam berbagai hal yang berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa guru sebagai seorang pendidik merupakan seseorang yang ditiru dan dijadikan panutan oleh peserta didiknya. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk bisa bertanggungjawab, berwibawa, bisa mengambil keputusan secara mandiri serta disiplin agar bisa menjadi contoh yang baik bagi di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya.
2) Guru sebagai pengajar
Perkembangan teknologi belum mampu mengubah dan menggantikan peran dan fungsi guru dalam pembelajaran. Perkembangan teknologi hanya mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Sebagai seorang yang bertugas menjelaskan sesuatu, guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan berusaha lebih terampil dalam memecahkan masalah. Untuk itu, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan guru dalam pembelajaran, sebagai berikut:11
a) Membuat ilustrasi b) Mendefinisikan c) Menganalisis d) Mensintesis
11Ibid., hal. 39
e) Bertanya f) Merespon g) Mendengarkan
h) Menciptakan kepercayaan
i) Memberikan pandangan yang bervariasi
j) Menyediakan media untuk mengkaji materi standar k) Menyesuaikan metode pembelajaran
l) Memberikan nada perasaan 3) Guru sebagai pembimbing
Guru sebagai pembimbing memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melakukan empat hal berikut:
a) Guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Tugas guru adalah menetapkan apa yang telah dimiliki oleh peserta didik sehubungan dengan latar belakang kemampuannya, serta kompetensi apa yang mereka butuhkan untuk dipelajari dalam mencapai tujuan.
b) Guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
c) Guru harus memaknai kegiatan belajar. Guru harus bisa memberikan kehidupan dan arti terhadap kegiatan belajar.
d) Guru harus melaksanakan penilaian. Dalam hal ini diharapkan guru dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana keadaan peserta didik dalam pembelajaran? Bagaimana peserta didik membentuk kompetensi? Bagaimana peserta didik mencapai tujuan?
Jika berhasil mengapa, dan jika tidak mengapa?
4) Guru sebagai pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Karena tanpa latihan seorang peseta didik tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar, dan tidak akan mahir dalam berbahai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar.
Oleh karena itu, guru harus berperan sebagai pelatih yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar, sesuai dengan potensi masing-masing.
5) Guru sebagai penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun merelka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Agar guru
lebih memahami perannya sebagai orang kepercayaan, penasehat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental. Pendekatan psikologis dan ilmu kesehatan mental akan banyak menolong guru dalam menjalankan funginya sebagai penasehat, yang telah banyak dikenal bahwa ia banyak membantu peserta didik untuk dapat membuat keputusannya sendiri.
6) Guru sebagai pembaharu (inovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Hal ini berfungsi untuk menjebatani antara generasi muda yaitu peserta didik sendiri dengan para generasi tua, selain itu berfungsi juga sebagai penerjemah pengalaman, oleh karena itu guru harus menjadi pribadi yang terdidik. Tugas guru sebagai pembaharu adalah memahami bagaimana keadaa jurang pemisah antara satu generasi dan bagaimana cara menjebataninya secara efektif.
7) Guru sebagai model dan teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan oleh seorang guru akan mendapatkan sorotan dari peserta didik dan orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Sehubungan dengan itu, beberapa hal di bawah ini perlu mendapat perhatian dan bila perlu didiskusikan oleh para guru.12
a) Sikap dasar
b) Bicara dan gaya bicara c) Kebiasaan bekerja
d) Sikap melalui pengalaman dan kesalahan e) Pakaian
f) Hubungan kemanusiaan g) Proses berfikir
h) Prilaku neurotis i) Selera
j) Keputusan k) Kesehatan
l) Gaya hidup secara umum 8) Guru sebagai pribadi
12Ibid., hal. 46
Sebagai individu yang bergelut dalam dunia pendidikan, seorang guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibandingkan profesi lainnya. Uangkapan yang sering dikemukakan bahwa “ guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani. Guru sering menjadi panutan bagi masyarakat, oleh karena itu guru harus mengenal nilai-nilai yang dianut dan berkembang dalam masyarakat tempat mereka melaksanakan tugas dan bertempat tinggal.
Sedangkan Ace Suryadi dan Wiana Mulyana sebagaimana dikutip oleh D.
Deni Koswaran dan Halimah13 mengemukakan pendapatnya bahwa: paling sedikit ada enam tugas dan tanggungjawab guru dalam mengembangkan profesinya, yaitu sebagai berikut:
1) Guru sebagai pengajar
Guru sebagai pengajar lebih menekankan pada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Dalam tugas ini guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, disamping menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkannya. Menurut Abu Ahmadi sebagaimana dikutip oleh D. Deni Koswara dan Halimah ada 3 macam persiapan guru sebagai pengajar yang harus dipenuhi, yaitu: (a) Persiapan batin, (b) Persiapan materiil, dan (c) Persiapan tertulis secara sistematis.14
2) Guru sebagai pembimbing
Tugas dan tanggung jawab guru sebagai pembimbing yaitu memberi tekanan kepada tugas memberikan bantuan kepada peserta didik dalam meemcahkan masalah yang dihadapinya. Tugas ini merupakan aspek mendidik sebab tidak hanya berkenaan dengan penyampaian ilmu pengetahuan, melainkan juga menyangkut pembinaan kepribadian dan pembentukan nilai para peserta didik.
3) Guru sebagai administrator kelas
13D.Deni Koswara, dkk. 2008. Seluk-Beluk Profesi Guru. Bandung: PT Pribumi Mekar, hal. 86-93
14Ibid
Tugas dan tanggungjawab guru sebagai administrator kelas pada hakikatnya merupakan jalinan antara ketatalaksanaan bidang pengajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya. Namun demikian, ketatalaksanaan bidang pengajaran jauh lebih menonjol dan lebih diutamakan pada profesi guru.
4) Guru sebagai pengembang kurikulum
Tanggungjawab mengembangkan kurikulum membawa implikasi bahwa guru dituntut untuk selalu mencari gagasan-gagasan baru, penyempurnaan praktik pendidikan, khususnya dalam praktik pengajaran.
Misalnya, ia tidak puas dengan cara mengajar yang selama ini digunakan, kemudian ia mencoba mencari jalan keluar bagaimana usaha mengatasi kekurangan alat peraga dan buku pelajaran yang diperlukan oleh peserta didik. Tanggungjawab guru dalam hal ini ialah berusaha untuk mempertahankan apa yang sudah ada serta mengadakan penyempurnaan praktik pengajaran agar hasil belajar peserta didik dapat ditingkatkan.
5) Guru bertugas untuk mengembangkan pofesi
Tanggungjawab mengembangkan profesi padadasarnya ialah tuntutan dan panggilan untuk selalu mencintai, menghargai, menjaga dan meningkatkan tugas dan tanggungjawab profesinya. Guru harus sadar bahwa tugas dan tanggungjawabnya tidak bisa dilaksanakan oleh orang lain, kecuali oleh dirinya. Demikian pula, ia harus sadar bahwa dalam melaksanakan tugasnya selalu dituntut untuk bersungguh-sungguh, bukan sebagai pekerjaan sambilan. Guru juga harus menyadari bahwa yang dianggap baik dan benar saat ini, belum tentu benar pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, guru dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan, kemampuan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas profesinya. Ia harus peka terhadap perubahan- perubahan yang terjadi, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran, dan pada masyarakat pada umumnya.
6) Guru bertugas untuk membina hubungan dengan masyarakat
Tanggungjawab dalam membina hubngan dengan masyarakat berarti guru harus dapat berperan mewujudkan dan membina kerjasama dengan semua pihak yang ikut bertanggungjawab terhadap proses pendidikan anak- anak. Kerja sama itu harus diselenggarakan dengan orangtua murid, pimpinan sekolah, masyarakat sekitar, dan bahkan dengan peserta didik-siswi yang
dihadapinya sehari-hari. Kerja sama itu harus diselenggarakan juga antar sesama guru dan bahkan dengan guru-guru dari sekolah lain.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tugas dan peranan guru diantarnya yaitu sebagai berikut:
1) Guru sebagai pendidik, 2) Guru sebagai pengajar, 3) Guru sebagai pembimbing, 4) Guru sebagai pelatih, 5) Guru sebagai penasehat,
6) Guru sebagai pembaharu inovator, 7) Guru sebagai model dan teladan, 8) Guru sebagai pribadi,
9) Guru sebagai adminidtrator kelas, 10) Guru sebagai pengembang kurikulum,
11) Guru bertugas untuk mengembangkan profesi, dan
12) Guru bertugas untuk membina hubungan dengan masyarakat.
2. Faktor kendala guru
Proses belajar mengajar merupakan suatu rangkaian kegiatan guna menumbuhkan organisasi proses belajar mengajar yang efektif. Organisasi proses belajar itu meliputi kegiatan dalam proses pembelajaran seperti kompetensi yang harus dicapai, pengaturan penggunaan waktu luang, pengaturan ruang dan alat perlengkapan pelajaran di kelas serta pengelompokkan peserta didik dalam belajar.
Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang ikut menentukan keberhasilan yaitu pengaturan proses belajar mengajar, dan pengajaran itu sendiri.
Keduanya saling ketergantungan satu sama lain. Kemampuan mengatur proses belajar mengajar yang baik akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar, sehingga merupakan titik awal keberhasilan proses pengajaran.
Menurut E. Mulyasa15 faktor – faktor yang sering menjadi kendala bagi seorang guru dalam pembelajaran antara lain:
a. Guru sering masuk kelas tanpa ada perencanaan karena dianggap bahwa mengajar merupakan pekerjaan rutin yang setiap hari dikerjakan dengan
15E. Mulyasa1. Op. Cit., hal. 103-110
karakteristik setiap peserta didik setiap tahun sama, kurikulum dan bahan ajar yang sama pula. Oleh karena itu para guru tersebut mengajar sesuai dengan apa yang di ingat tanpa memerhatikan tingkat kompetensi perserta didik ketika memulai mengajar karena tidak memiliki ukuran evaluasi harian sebelumnya, dan pembelajarannya tidak memerhatikan karakteristik peserta didik.
b. Di dalam kelas di setiap sekolah, setiap mata pelajaran mempunyai indeks perbedaan kemampuan peserta didik, baik dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan sekitar maupun pengalaman belajar sebelumnya. Hal ini menjadi sebuah kendala guru untuk meningkatkan kemampuan semua peserta didiknya.
c. Banyak guru yang membuat RPP hanya untuk kepentingan administratif saja, dan tidak dijadikan pedoman dalam pembelajaran sehingga tidak bisa memberikan dampak bagi peserta didik.
d. Karena banyak guru yang masuk tanpa perencanaan dan tidak bertindak sesuai RPP ketika pembelajaran mengakibatkan pembelajaran dikelas kurang efektif, sehingga hal itu menurunkan motivasi dan hasil belajar peserta didik.
Semua orang tahu bahwa dalam semua ikhtiar pendidikan, guru mempunyai peranan kunci, di samping faktor-faktor lain seperti sarana dan prasarana, biaya, kurikulum, sistem pengelolaan, dan peserta didik sendiri. Apa yang kita siapkan dalam pendidikan berupa sarana dan prasarana, biaya, dan kurikulum, hanya akan berarti jika diberi arti oleh guru. Ronald Brandt dalam Educational Leadership (Maret, 1993) sebagaimana dikutip oleh Udin Syaefudin Saud16 menyatakan:
Hampir semua usaha reformasi dalam pendidikan seperti pembaharuan kurikulum dan penerapan metode mengajar baru, akhirnya tergantung kepada guru. Tanpa mereka menguasai bahan pelajaran dan strategi belajar mengajar, tanpa mereka dapat mendorong peserta didiknya untuk belajar sungguh- sungguh guna mencapai prestasi yang tinggi, maka segala upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan mencapai hasil yang maksimal.
Sementara itu, Dedi Supriadi sebagaimana dikutip oleh Udin Syaefudin Saud17 mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang berkaitan dengan beratnya tantangan yang dihadapi oleh profesi keguruan dalam usaha untuk meningkatkan kewibawaannya di mata masyarakat yaitu sebagai berikut :
Pertama, berkenaan dengan profesi keguruan, masih ada kekurang jelasan tentang definisi profesi keguruan, bidang garapannya yang khas, dan tingkat keahlian yang dituntut dari pemegang profesi ini.
Kedua, kenyataan yang terjadi sepanjang sejarah profesi keguruan menunjukkan bahwa desakan kebutuhan masyarakat dan sekolah akan guru, maka profesi ini tidak cukup terlindungi dari terjadinya “gangguan” dari luar.
16Udin Syaefudin Saud. Op.Cit., hal. 116
17Ibid., hal. 116-117
Ketiga, penambahan jumlah guru secara besar-besaran membuat sulitnya standar mutu guru dikendalikan dan dijaga. Hal ini terjadi hampir pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Akibatnya, ada anggapan bahwa seakan-akan tidak ada relevansinya untuk berbicara tentang profesionalisme guru ditengah mendesaknya kebutuhan akan guru dalam jumlah besar.
Keempat, PGRI sendiri cenderung bergerak di “pertengahan” antara pemerintah dan guru-guru. PDRI belum banyak aktif melakukan kegiatan- kegiatan yang secara sistematis dan langsung berkaitan dengan peningkatan profesionalisme guru. Hal serupa juga berlaku dalam upaya memperjuangkan nasib para guru. Diakui bahwa pada beberapa tahun terakhir PGRI makin aktif menyuarakan aspirasi guru, namun secara umum tidak berlebihan bila dikatakan PGRI masih harus berbuat banyak untuk menjadi penyalur dan penyambung lidah para guru dalam menyampaikan aspirasinya untuk perbaikan statusnya.
Kelima, tuntutan dan harapan masyarakat yang terus meningkat dan berubah membuat guru semakin ditantang. Perubahan yang terjadi di dalam masyarakat melahirkan tuntutan-tuntutan baru terhadap peran yang seharusnya dimainkan oleh guru. Akibatnya setiap penambahan kemampuan guru selalu berpacu dengan meningkatnya kemampuan dan harapan masyarakat tersebut yang kadang-kadang lebih cepat dari kemampuan guru untuk memenuhinya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktor kendala yang dihadapi olehguru meliputi aspek-aspek; guru yang masuk kelas tanpa ada perencanaan, tingkat perbedaan kemampuan para peserta didiknya, kurangnya sarana dan prasarana, motivasi peserta didik yang rendah serta kurangnya dukungan administrasi yang sering dialami oleh seorang guru dalam pembelajaran sehingga menjadi kendala bagi guru tersebut untuk bertanggungjawab terhadap profesi yang diembannya serta untuk meningkatkan kinerjanya dalam pendidikan.
3. Kinerja guru matematika
Menurut Nasrudin, sebagaimana dikutip oleh Sofiah18, menyatakan bahwa kinerja (performance) dapat diartikan sebagai prestasi, hasil, atau kemampuan yang dicapai atau diperlihatkan dalam pelaksanaan kerja, kewajiban, atau tugas.
E.Mulyasa menyatakan bahwa:“kinerja guru dalam pembelajaran berkaitan dengan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai pembelajaran, baik yang berkaitan dengan proses maupun hasilnya.”19
18Sofiah. 2012. Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru Matematika Pada Sekolah Mengengah Pertama (SMP) Negeri Se-Kabupaten Cirebon. Skripsi. Tidak diterbitkan. Cirebon: Institut Agama Islam Negeri (IAIN), hal. 24
19E. Mulyasa1.Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru.Op.Cit., hal. 103-110
Mohamad Surya menyatakan “kinerja profesional guru adalah kepuasaan kerja yang berkaitan erat dengan kesejahteraan guru. Kepuasaan ini dilatarbelakangi oleh faktor-faktor: imbalan jasa, rasa aman, hubungan antar pribadi, kondisi lingkungan kerja, dan kesempatan untuk pengembangan dan peningkatan diri”20
Berdasarkan pengertian diatas, dapatlah dinyatakan bahwa kinerja guru matematika dalam penelitian ini adalah hasil kerja yang dicapai guru setelah melaksanakan tugasnya sebagai pengajar yang dapat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran khususnya pada pembelajaran matematika. Kinerja guru bisa berarti kemampuan, kecakapan atau keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam mengelola proses belajar mengajar dan hasilnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi- kompetensi agar dapat meningkatkan kinerjanya serta bisa bertanggungjawab terhadap profesi yang diembannya.
Perbedaan pokok antara profesi guru dengan profesi lainnya terletak pada tugas dan tanggungjawabnya. Tugas dan tanggungjawab tersebut erat kaitannya dengan kemampuan-kemampuan yang disyaratkan untuk memangku profesi tersebut. Kemampuan dasar tersebut tidak lain ialah kompetensi guru.21Menurut Masdudi22kompetensi guru merupakan “suatu kemampuan atau keahlian yang mencakup pengetahuan, sikap, keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.”
Adapun Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kompetensi berarti kewenangan atau kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal.23 Sementara itu menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Bab II Pasal 3 ayat (1): “kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”.24
Adapun kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagaimana yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Pasal 28 ayat (3) bahwa
20 Mohamad Surya. 2004. Bunga Rampai Guru dan Pendidikan. Jakarta: Balai Pustaka., hal. 10
21 Udin Syaefudin Saud. Op.Cit., hal. 44
22 Masdudi. Op. Cit., hal. 66
23 Pusat Bahasa. 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: Gramedia., ha 719
24 Fokusmedia (a). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005. Tentang Guru Dan Dosen.
Bandung, hal. 65
kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial25. Dalam hal ini E.
Mulyasa menjelaskan bahwa26: 1) Kompetensi pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.Lebih lanjut dikemukakan bahwa: kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang- kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut:27
a) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan b) Pemahaman tentang peserta didik
c) Pemahaman tentang kurikulum atau silabus d) Kemampuan dalam perancangan pembelajaran
e) Kemampuan dalam pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
f) Kemampuan dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran g) Kemampuan dalam evaluasi hasil belajar, dan
h) Kemampuan dalam pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yanng dimilikinya
2) Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian ialah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Djam’an Satori dkk mengemukakan bahwa “kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari”28
Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi kepribadian ini memliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara, dan bangsa pada umumnya. Oleh karena itu setiap guru dituntut untuk memiliki kompetensi kepribadian yang
25 Fokusmedia. 2010. UUD SISDIKNAS Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia, hal. 77
26 Mulyasa3.2008.Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru.Bandung:Rosda Karya, hal. 75-173
27Ibid., hal, 75
28 Djam’an Satori, dkk. 2010. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka., hal. 2.5
memadai, bahkan kompetensi ini akan menjadi landasan bagi kompetensi- kompetensi yang lainnya. Kemampuan personal (pribadi) mencakup29:
a) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur- unsurnya.
b) Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru.
c) Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para peserta didiknya.
3) Kompetensi profesional
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.
Kemampuan profesional mencakup30:
a. Penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkan itu.
b. Penguasaan dan pengahayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan.
c. Penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan, dan pembelajaran peserta didik.
4) Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, yang sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk31:
a) Berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat.
b) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan;
d) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
29Martinis Yamin.2006. Sertifikasi Profesi Keguruan D Indonesia. Jakarta: Gaung Persada Press., hal. 22
30Martinis Yamin. Ibid., hal. 22
31E. Mulyasa3. Op.Cit., hal. 173
Kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawa tugasnya sebagai guru.32
B. Tinjauan Hasil Penelitian yang Relevan
Berbagai penelitian tentang faktor kendala guru dan kinerja guru yang sudah dilakukan diantaranya sebagai berikut.
1. Analisis Faktor-faktor Penghambat Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Madrasah Tsanawiyah Negeri Winong Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2010/2011. Penelitian ini dilakukan oleh Arif Nadliroh, Jurusan Ilmu Pendidikan Matematika Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang pada tahun 2011.
Penelitian ini dilakukan untuk kepentingan skripsi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hambatan yang paling dominan ditemui oleh guru matematika di lingkungan MTs tersebut, diantaranya:
a. Faktor peserta didik yang menempati presentase 22,13% dari kelima faktor yang ada.
b. Faktor guru (tenaga pendidik) yang menempati presentase 21,91% dari kelima faktor yang ada.
c. Faktor proses pembelajaran. Penghambat dalam proses pembelajaran ini terkait guru dan peserta didik. Guru di lingkungan MTs N Winong masih menggunakan metode klasik seperti ceramah dan penugasan. Sedangkan dari segi peserta didiknya, proses pembelajaran menjadi terhambat karena peserta didik yang masih berbekal konsep yang salah sedari sekolah dasar, selain itu juga terkait minat belajar yang kurang.
d. Faktor sarana prasarana yang menjadi penghambat di lingkungan MTs N Winong adalah keadaan jendela kelas masing-masing yang dirasa cukup lebar sehigga mengganggu konsentrasi belajar. Selain itu juga terkait dengan alat peraga matematika yang masih sangat sedikit.
e. Faktor evaluasi pembelajaran. Kesulitan guru dalam megadakan evaluasi pembelajaran matematika adalah terkait penyusunan alat evaluasi yang bervariasi seperti kuis, portofolio, atau proyek. Selaun itu kesulitan selanjutnya yakni terkait dengan hasil evaluasi, waktu yang ada masih kurang untuk menganalisis secara penuh hasil evaluasi.
Adapun usaha yang telah dilakukan oleh guru untuk mengatasi hambatan tersebut yaitu dengan mengadakan musyawarah kecil di tingkat guru. Selain itu,
32Martinis Yamin. Op.Cit., hal. 22
ada juga pelatihan yang sifatnya guru sebaai partisipan, seperti pelatihan yang diadakan oleh Kementrian Agama Wilayah Jawa Tengah.33
2. Analisis Kesulitan-kesulitan Guru dalam Pembelajaran IPS Terpadu (Studi Kasus pada SMP Negeri 8 Kota Malang). Penelitian ini dilakukan oleh Endah Suci Pratiwi, jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Malang pada tahun 2012. Penelitian ini dilakukan untuk kepentingan skripsi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemahaman guru tentang konsep dasar dan tujuan dari pembelajran IPS Terpadu cukup baik. Dalam penerapan pembelajaran IPS Terpadu di kelas sesuai dengan yang diharapkan pembelajaran IPS Terpadu.
Beberapa kesulitan guru pada saat pembelajaran IPS Terpadu di antara lain; (a) Guru mengalami kesulitan pada saat menyampaikan materi yang bukan merupakan bidang ilmunya, (b) Guru mengalami kesulitan pada saat menyusun perencanaan pembelajaran karena banyaknya indikator yang akan ditempuh oleh peserta didik dan tidak semua materi dapat dipadukan. Sehingga apabila ingin memadukan ilmu-ilmu sosial tersebut harus dipilah-pilah terlebih dahulu dan disesuaikan dengan tema yang sudah ditentukan, (c) Kesulitan dialami karena kurangnya pedoman untuk mengintegrasikan materi-materi yang tercakup dalam SK dan KD IPS Terpadu yang disusun secara tematik, (d) Sulitnya membagi waktu antara menyampaikan materi yang tercakup dalam IPS dan melaksanakan pembelajaran IPS Terpadu, (e) Kesulitan dialami guru karena kurikulum IPS Terpadu yang dianggap masih terpisah-pisah dan butuh pengkajian ulang apabila ingin bisa dipadukan dengan baik, (f) Faktor-faktor eksternal, misalnya peserta didik yang malas dan lain-lain.Dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut, guru IPS Terpadu di SMP Negeri 8 Malang telah melakukan berbagai upaya.
Upaya-upaya tersebut antara lain; (a) belajar sebelum mengajar terutama sebelum mengajar yang bukan merupakan bidang ilmu guru tersebut, (b) membentuk forum guru IPS Terpadu disekolah yang kegiatannya antara lain mengembangkan silabus IPS Terpadu, diskusi-diskusi dan lain-lain, (c) menambah wawasan melalui MGMP, PLPG dan sebagainya, (d) variasi gaya mengajar dan model- model pembelajaran, (e) penggunaan berbagai sumber dan media belajar antara
33Arif Nadliroh. 2011. Analisis Faktor-faktor Penghambat Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Madrasah Tsanawiyah Negeri Winong Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi. Tidak diteribitkan. Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo, hal. 60
lain lingkungan sekolah, lingkungan sekitar peserta didik, buku dan internet sekolah (wifi), dan pemanfaatan fasilitas teknologi yang disediakan oleh sekolah seperti LCD dan komputer.34
3. Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan pada Satuan Pendidikan Dasar di Kecamatan Dawuan Kabupaten Majalengka. Penelitian ini dilakukan oleh Mega Kharisma, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada tahun 2012.
Penelitian ini dilakukan untuk kepentingan skripsi. Hasil penelitian menyimpulkan respon guru pada Satuan Pendidikan Dasar terhadap Sertifikasi Guru di Kecamatan Dawuan Kabupaten Majalengka berada pada rentang 76% - 100% termasuk dalam kategori baik. Disamping itu, kinerja gurunya pun berada pada rentang 56% - 75% termasuk dalam kategori cukup baik. Besarnya pengaruh sertifikasi terhadap kinerja guru dalam meningkatkan mutu pendidikanyang dihitung dengan koefisien korelasi sebesar 0,13 dengan signifikansi korelasi thitung lebih kecil dari ttabel atau 0,80 < 1,684. Artinya, tidak ada pengaruh yang signifikan dari sertifikasi terhadap kinerja guru dalam meningkatkan Mutu Pendidikan pada Satuan Pendidikan Dasar di Kecamatan Dawuan Kabupaten Majalengka.35
4. Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru Matematika pada sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Se-Kabupaten Cirebon. Penelitian ini dilakukan oleh Sofiah Jurusan Tadris Matematika IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada tahun 2012. Penelitian ini dilakukan untuk kepentingan skripsi. Hasil penelitian yang didapat yaitu motivasi kerja guru matematika menunjukkan kategori sangat tinggi dengan presentase sebesar 82,9% sedangkan untuk kinerja guru matematika menunjukkan kategori sangat tinggi dengan presentase sebesar 97,14%. Berdasarkan uji hipotesis diperoleh nilai signifikansi F yaitu 0,000.
Karena nilai signifikansi lebih kecil dari alpha yang digunakan yaitu 0,05, maka
34Endah Suci Pratiwi. 2012. Analisis Kesulitan-kesulitan Guru dalam Pembelajaran IPS Terpadu (Studi Kasus Pada SMP Negeri 8 Kota Malang). Skripsi. Tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang, hal. 75
35Mega Kharisma, 2012. Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan pada Satuan Pendidikan Dasar di Kecamatan Dawuan Kabupaten Majalengka. Skripsi. Tidak diterbitkan. Cirebon: Institut Agama Islam Negeri (IAIN), hal. 137
H0 ditolak. Artinya ada pengaruh yang signifikan antara motivasi kerja terhadap kinerja guru matematika pada SMP Negeri Se-Kabupaten Cirebon. Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru matematika pada SMP Negeri Se-Kabupaten Cirebon sebesar 0,484. Artinya besarnya pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru matematika pada SMP Negeri Se-Kabupaten Cirebonsebesar 48,4%.
Sedangkan sisanya 51,6% dipengaruhi oleh faktor kinerja.36
Dari keempat hasil penelitian diatas terdapat relevansinya dengan masalah yang akan diteliti oleh penulis yaitu: faktor kendala guru dan kinerja guru. Akan tetapi dari hasil penelitian tersebut tidak ada yang sama persis permasalahannya dengan masalah yang akan diteliti.
1. Hasil penelitian yang pertama, masalah penelitiannya sama, yaitu mengenai analisis penghambat guru dalam pembelajaran matematika, akan tetapi yang menjadi lokasi penelitiannya berbeda, yaitu MTs Negeri Winong Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2010/2011. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti bertempat di SMP N 1 Cigandamekar dan MTs N Sangkanurip.
2. Hasil penelitian yang kedua, masalah penelitiannya sama, tetapi sasaran penelitian dan lokasinya berbeda, yaitu pada pembelajaran IPS Terpadu (study kasus di SMP N 8 Kota Malang), sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sasaran penelitiannya yaitu pada pembelajaran Matematika dan lokasinya yaitu bertempat di SMP N 1 Cigandamekar dan MTs N Sangkanurip.
3. Hasil penelitian yang ketiga merupakan penelitian mengenai kinerja guru yang dilihat dari sertifikasi guru, sedangkan pada penelitian ini akan diteliti mengenai kinerja guru yang dilihat dari faktor kendala guru dalam pembelajaran.
4. Hasil penelitian yang keempat merupakan penelitian mengenai kinerja guru yang dipengaruhi oleh motivasi kerja, sedangkan pada penelitian kali ini akan dibahas mengenai kinerja guru yang dilihat dari faktor kendala guru dalam pembelajaran.
36Sofiah. 2012. Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru Matematika Pada Sekolam Mengengah Pertama (SMP) Negeri Se-Kabupaten Cirebon. Skripsi. Tidak diterbitkan. Cirebon: Institut Agama Islam Negeri (IAIN), hal. 66
Oleh karena itu, penelitian dengan judul “Analisis Faktor Kendala Guru dalam Pembelajaran Matematika di SMP N 1 Cigandamekar dan MTs N Sangkanurip” layak dilakukan karena masalah yang akan diteliti bukan duplikasi dari penelitian-penelitian yang sebelumnya.
C. Kerangka Pemikiran
Guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) merupakan ujung tombak keberhasilan pembinaan disekolah. Seorang guru memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama seorang guru ialah merancang, mengelola, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran.
Guru dengan perannya yang begitu besar dalam dunia pendidikan, tentu tidak akan mencapai perannya secara maksimal jika tidak didukung dengan faktor-faktor atau komponen pendidikan yang lain. Diantaranya sarana, prasarana, kurikulum, sistem pengelolaan kelas, atau bahkan peserta didiknya sendiri. Oleh karena itu, jika faktor-faktor yang mendukung keprofesionalan seorang guru tidak seperti apa yang seharusnya, maka tentu hal itu akan menjadi sebuah masalah dan menjadi tantangan bagi profesi seorang guru.
Perbedaan pokok antara seorang guru dengan profesi lainnya yaitu terletak pada tugas dan tanggung jawabnya. Tugas dan tanggung jawab tersebut erat kaitannya dengan kemampuan-kemampuan yang harus dipenuhi agar bisa menjadi seseorang yang profesional. Selain itu, untuk menjadi seorang yang profesional dalam keguruan, ia memerlukan wawasan tentang pendidikan serta pengetahuan dan keterampilan keguruan.
Guru pada zaman dahulu berbeda dengan guru di zaman sekarang. Guru pada zaman dahulu akan terlihat berwibawa dan membuat segan para peserta didiknya.
Berbeda dengan zaman sekarang, guru di zaman sekarang kurang disegani oleh para peserta didiknya. Bahkan sudah tidak asing lagi pada zaman sekarang ada peserta didik yang tidak segan untuk menyatakan cinta kepada gurunya. Di samping itu, ada pula perilaku guru yang tidak mencerminkan kewibawaannya dengan melakukan kekerasan kepada peserta didiknya, bahkan ada yang tidak segan untuk berpacaran dengan peserta didiknya sendiri. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi keprofesionalan seorang guru.
Masyarakat menempatkan seorang guru pada posisi yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan menjadi suri tauladan yang baik. Lalu apa yang akan terjadi jika perilaku seorang guru tidak sesuai dengan profesi yang di sandangnya.
Masyarakat akan menjadi kurang percaya terhadap seorang guru untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada anak-anak mereka. Terlebih lagi dengan kemajuan teknologi sekarang sulit untuk membuat peranan seorang guru tetap utuh dalam masyarakat dan dalam pembelajaran. Akan tetapi peranan seorang guru tetap dominan dibandingkan dengan teknologi. Karena apa yang diperankan oleh guru tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Banyak faktor yang memengaruhi keprofesionalan dan kinerja seorang guru dalam pembelajaran. Diantaranya kebiasaan guru untuk memasuki kelas tanpa melakukan perencanaan terlebih dahulu dikarenakan ia menganggap bahwa mengajar merupakan suatu pekerjaan rutin yang biasa dikerjakan dengan materi yang sama, karakteristik yang sama dan kurikulum yang sama tanpa memerdulikan tingkat kompetensi yang harus di miliki oleh peserta didiknya.
Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan yang mempunyai posisi strategis. Maka dari itu perlu usaha untuk meningkatkan jumlah guru serta mutu dan kualitas dari guru itu sendiri. Selain itu, faktor lingkungan dan hubungan antar unsur-unsur kependidikan pun ikut memengaruhi dan menunjang kegiatan seorang guru dalam meningkatkan kinerjanya.
Berdasarkan uraian diatas, maka kinerja guru harus selalu ditingkatkan mengingat tantangan dunia pendidikan untuk menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global semakin ketat. Selain itu, perlu dilakukan pula analisis faktor-faktor yang menjadi kendala guru dalam pembelajaran serta upaya-upaya dari seorang guru untuk mengatasi kendala tersebut agar dapat meningkatkan kinerja dan keprofesionalan dari seorang guru.