Nama : Tamara Damon Nim : 19059110
TUGAS 7 HUBUNGAN INDUSTRIAL 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan status hubungan kerja!
Jawab :
Status hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai unsur pekerjaan, upah dan perintah.
Perjanjian kerja ini dapat berakhir karena berbagai hal seperti masa kerja dan pemutusan hubungan kerja. Pemutusan hubungan kerja dapat diajukan oleh pemberi kerja maupun pekerja.
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan PKWT, PKWTT dan outsourcing!
Jawab :
PKWT adalah perjanjian kerja antara pekerja atau buruh dengan pengusaha yang hanya dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu. PKWT disebut juga sebagai pekerja kontrak.
PKWTT adalah perjanjian kerja yang tidak ditentukan waktunya dan bersifat tetap. Perjanjian kerja ini dibuat untuk waktu tidak tertentu yaitu tidak dibatasi jangka waktunya.
Outsourcing adalah tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan kepuasannya kepada pihak lain (outside provider), dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak. Outsourcing juga sebagai penyerahan kegiatan perusahaan baik sebagian ataupun secara menyeluruh kepada pihak lain yang tertuang dalam kontrak perjanjian.
3. Jelaskan apa beda pegawai kontrak dengan outsourcing!
Jawab :
a. Dari segi sistem kerja
Karyawan kontrak direkrut oleh sebuah perusahaan untuk bekerja dengan adanya sistem kontrak kerja dimana artinya adalah perusahaan mengadakan hubungan kerja dengan karyawan kontrak untuk suatu pekerjaan yang berlangsung selama waktu periode tertentu.
Karyawan outsourcing menyerahkan sebagian proses rekrutmen dilakukan oleh pihak ketiga, dimana outsourcing dibagi menjadi dua yaitu pemborong seluruh pekerjaan dan penyedia jasa penyalur tenaga kerja.
b. Dalam segi perjanjian kerja
Perjanjian kerja untuk karyawan kontrak pada umumnya dibuat secara tertulis antara karyawan dengan pihak perusahaan biasanya perjanjian ini disebut dengan PKWT.
Karyawan outsourcing tidak mengharuskan adanya perjanjian seperti karyawan kontrak namun idealnya tetap harus dibuat oleh pihak penyedia tenaga kerja.
c. Masa Kerja
Masa kerja dari karyawan kontrak biasanya disepakati berdasarkan kontrak kesepakatan kerja antara pihak perusahaan dengan karyawan maksimal adalah dua tahun.
Karyawan outsourcing masa kerja tidak akan pasti, tergantung dengan pihak perusahaan yang membutuhkan jasanya waktunya biasanya tiga bulan hingga satu bulan.
4. Jelaskan keuntungan dan kerugian outsourcing bagi pengusaha dan pekerja!
Jawab :
Keuntungan outsourcing bagi pengusaha
a. Mengurangi beban biaya rekrutmen karyawan
Perusahaan tidak perlu repot lagi merekrut karyawan satu persatu karena perusahaan sudah bisa langsung mendapatkan pekerja outsource terpilih dari perusahaan outsource.
b. Menghemat anggaran untuk memberikan pelatihan
Biasanya pekerja outsource sudah mempunyai keahlian spesifik yang dibutuhkan, misalnya keahlian dalam membersihkan atau mengorganisir barang. Perusahaan yang membutuhkan jasa pekerja outsourcing bisa menghemat anggaran untuk memberikan pelatihan (training).
c. Karyawan bisa lebih fokus mengurus kegiatan utama bisnis
Ketika menggunakan jasa pekerja outsource, perusahaan tidak perlu khawatir lagi mengenai pekerjaan teknis sehari-hari yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan utama perusahaan.
Kekurangan sistem outsorcing bagi pengusaha a. Informasi perusahaan rentan bocor
b. Kontrak pekerja outsourcing relative singkat c. Ketergantungan pada tenaga kerja outsourcing d. Kehilangan control manajerial
Keuntungan bagi Pekerja a. Penerimaan relatif mudah
Bagi para Fresh Graduate mendaftar pada perusahaan outsourcing adalah salah satu solusi untuk segera mendapatkan pekerjaan, karena penerimaan pada perusahaan outsourcing relatif mudah
b. Menambah kemampuan
Dikarenakan banyak perusahaan penyedia jasa outsourcing memiliki Standar Operasional Prosedur yang mengharuskan mereka mendapatkan berbagai macam pelatihan agar karyawan memiliki banyak keterampilan yang bermanfaat di dunia kerja
Kelemahan bagi Pekerja a. Tidak ada jenjang karir
Menjadi pekerja outsourcing tentu tidak memiliki jenjang karir yang jelas b. Masa kerja tidak jelas
Para karyawan outsourcing disebut-sebut rentan mengalami PHK c. Kesejahteraan kurang terjamin
Berbeda dengan pekerjaan tetap yang memiliki klausul-klausul terkait kesejahteraan, biasanya para pekerja outsourcing tidak banyak diberikan tunjangan oleh perusahaan
5. Jelaskan beda isi UU Cipta Kerja Omnibus Law dan UU Ketenagakerjaan 13/2003 tentang PKWT dan Outsourcing!
Jawab :
UU Ketenagakerjaan RUU Cipta Kerja Waktu Istirahat
Dalam pasal 79 ayat 2 huruf b UU Dalam RUU Cipta Kerja, Pasal 79 ayat 2 Ketenagakerjaan disebutkan: huruf b tersebut mengalami perubahan
“Istirahat dimana aturan 5 hari kerja itu dihapus, 1. Istirahat
Mingguan
mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam)
hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau
sehingga berbunyi: istirahat mingguan 1 hari untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu 2
(dua) hari untuk 5(lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu”
2. Istirahat Panjang
Dalam Pasal 79 ayat 2 huruf d UU Ketenagakerjaan disebutkan bahwa pekerja berhak atas istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing satu bulan jika telah bekerja selama 6 tahun secara terus-menerus pada perusahaan
Dalam Pasal 79 ayat 2 huruf d UU
Ketenagakerjaan disebutkan bahwa pekerja berhak atas istirahat panjang sekurang kurangnya 2 bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan yang disepakati
yang sama
Upah
1. Upah Satuan Hasil dan Waktu
UU Ketenagakerjaan tidak mengatur upah satuan hasil dan waktu
Dalam RUU Cipta Kerja, upah satuan hasil dan waktu dalam Pasal 88 B. Dalam ayat 2 Pasal 88 B tersebut juga dijelaskan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai upah satuan hasi dan waktu diatur dalam peraturan pemerintah (PP)
Omnibus Law Cipta Kerja menghapus pasal
2. Upah Minimum
Dalam UU Ketenagakerjaan, upah minimum ditetapkan di tingkat provinsi, kabupate/kota madya, dan sektoral diatur lewat Pasal 89 dan diarahkan pada pencapaian kelayakan hidup.
tersebut dan menggantinya dengan Pasal 88
C. Dalam pasal pengganti tersebut upah sektoral dihapuskan sedangkan penetapan upah minimum provinsi diatur dan
ditetapkan gubernur berdasarkan kondisi Sektoral dan
Upah Minimum
Dalam pasal tersebut, upah minimum provinsi ditetapkan Gubernur dengan
ekonomi dan ketenagakerjaan dengan syarat tertentu
Kab/Kota memperhatikan rekomendasi dari Dewan Pengupahan Provinsi atau Bupati/Walikota.
Sedangkan perhitungan komponen serta pelaksanaan tahapan pencapaian kebutuhan hidup layak diatur dengan Keputusan Menteri.
Uang Pengganti Hak Dalam UU Ketenagakerjaan, uang
pengganti hak diatur dalam pasal 156 ayat 4. Dalam UU Ketenagakerjaan, uang pengganti hak terdiri dari uang pengganti cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur; uang pengganti biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ke tempat di mana diterima bekerja;
dan uang pengganti perumahan serta pengobatan dan perawatan yang ditetapkan 15% dari uang pesangon atau uang penghargaan masa kerja bagi
yang memenuhi syarat
Dalam RUU Cipta Kerja, ketentuan uang pengganti hak yang wajib dibayarkan pengusaha sebagai pesangon karyawan di PHK berkurang
Dalam Pasal 156 ayat 4 bagian Ketenagakerjaan Omnibus Law Cipta Kerja,
hanya ada dua jenis uang pengganti hak yang
diwajibkan kepada pengusaha, yakni uang pengganti cuti tahunan yang belum diambil
dan belum gugur serta biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan
keluarganya
ke tempat dimana mereka diterima bekerja Jaminan Sosial
1. Jaminan Pensiun
UU Ketenagakerjaan Pasal 167 ayat 5 menyatakan bahwa pengusaha yang tak
mengikutsertakan pekerja yang terkena
PHK karena usia pensiun pada program pensiun wajib memberikan uang pesangon sebesar 2 kali, uang pengganti hak . jika hal tersebut tak dilakukan, maka pengusaha dapat terkena sanksi pidana
RUU Cipta Kerja menghapus ketentuan sanksi pidana bagi perusahaan tersebut, yakni pasal 184 UU Ketenagakerjaan yang menyatakan “Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 ayat 5, dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun”
2. Jaminan Kehilangan Pekerjaan
_
Dalam Omnibus Law Cipta Kerja, pemerintah menambahkan program jaminan
sosial baru yaitu Jaminan Kehilangan Pekerjaan, yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan berdasarkan prinsip asuransi sosial. Hal ini tercantum dalam Pasal 82 RUU Cipta Kerja
Pemutusan Hubungan Kerja Dalam UU Ketenagakerjaan
perusahaan boleh melakukan PHK dengan 9 alasan yang meliputi : perusahaan bangkut, perusahaan tutup karena merugi, perubahan status perusahaan, pekerja melanggar perjanjian kerja, pekerja melakukan kesalahan berat, pekerja
mengundurkan diri, pekerja meninggal
dunia, serta pekerja mangkir
Dalam Omnibus Law Cipta Kerja, pemerintah menambahkan poin alasan perusahaan boleh melakukan PHK dalam Pasal 154 A. Beberapa alasan tersebut diantaranya: perusahaan melakukan penggabungan, pelemburan,
pengambilalihan, atau pemisahan; dan perusahaan dalam keadaan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) Kemudian, perusahaan melakukan perbuatan
yang merugikan pekerja, pekerja mengalami
sakit berkepanjangan atau cacat akibat kecelakaan kerja dan tidak dapat melakukan
pekerjaannya setelah melampaui batas 12 bulan; pekerja buruh memasuki usia pensiun,
dan pekerja meninggal Status Kerja
Pasal 56 UU Ketenagakerjaa mengatur
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) terhadap pekerja maksimal dilakukan selama 2 tahun, lalu boleh diperpanjang kembali dalam waktu 1 tahun
Sementara dalam Omnibus Law Cipta Kerja,
ketentuan Pasal 59 itu dihapus. Dengan penghapusan pasal ini, tidak ada batasa aturan seorang pekerja bisa dikontrak.
Akibatnya bisa saja pekerja tersebut menjadi
pekerja kontrak seumur hidup Jam Kerja
Dalam UU Ketenagakerjaan, waktu kerja kembur paling lama hanya 3 jam per hari dan 14 jam per minggu
Dalam Omnibus Law Cipta Kerja waktu kerja lembur diperpanjang menjadi maksimal
4 jam per hari dan 18 jam per minggu