1
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia dalam genggaman. Pada era digitalisasi istilah “dunia dalam genggaman” merujuk pada kemudahan-kemudahan manusia dalam mengakses apapun hanya dengan sentuhan jari. Era baru globalisasi yang sering dikenal dengan istilah revolusi industri 4.0, mengarah pada transformasi digital, dimana peran dan pengaruh teknologi digital menjadi sangat vital di tengah kehidupan manusia saat ini. Karakteristik mendasar dari konsep revolusi industri 4.0 adalah adanya kombinasi dari berbagai perkembangan teknologi baru seperti, sistem teknologi komunikasi dan informasi, jaringan komunikasi, big data, dan cloud computing.
Era digital dimana semua hal dapat dilakukan dengan mudah, menggunakan gawai yang tergenggam di tangan. Hanya dengan sentuhan jari, kita semua mampu melakukan banyak aktifitas seperti, menonton acara favorit yang sempat terlambat kita tonton, mengikuti berita yang tengah menjadi tren masyarakat, berbelanja kebutuhan sehari-hari, memesan transportasi online, bersosialisasi dengan kerabat, kolega maupun rekan kerja, tanpa harus bertemu secara langsung dengan menggunakan media sosial sampai memesan makanan favorit yang kita inginkan tanpa harus meninggalkan pekerjaan kita atau repot-repot keluar rumah.
Transformasi digital di era revolusi industri 4.0, memunculkan berbagai fenomena baru dalam gaya hidup masyarakat saat ini. Salah satu fenomena yang sedang berekembang, seiring dengan maraknya digitalisasi akibat kecanggihan teknologi informasi, terjadi pada sistem transaksi pembayaran. Transaksi pembayaran menuju sebuah cashless society adalah sebuah tren yang tidak dapat dihindari. Fenomena cashless society didukung penerapannya untuk memberikan efisiensi pada sektor keuangan. Tidak jarang kita mendapati uang yang beredar di sekitar kita bentuknya telah rusak bahkan tidak utuh, untuk itu Bank Indonesia melakukan pencetakan uang baru, yang tentunya memakan biaya banyak untuk material dan proses pembuatan uang baru. Hal ini sungguh tidak efisien karena setiap tahunnya pemerintah harus menggelontorkan banyak dana untuk mencetak uang baru. Dengan adanya transaksi non-tunai maka kemungkinan biaya -biaya
2
pencetakan uang baru bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain. Penghematan biaya karena adanya sistem pembayaran non-tunai, yang memangkas biaya pencetakan dan distribusi uang tunai, cash handling, hingga administratif manajemen akan membantu perkenomian negara (Tee, 2017).
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat mulai sering melakukan transaksi keuangan menggunakan uang eletronik (e-money) dari mulai pembayaran sistem transportasi, akses untuk parkir, pembelian fast food, transaksi belanja online dan beberapa transaksi pembayaran lainnya melalui toko-toko atau penyedia jasa yang memiliki kerjasama dengan perusahaan penyedia uang elektronik. Pada tahun 2017 terdapat 4 provider uang elektronik yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, antara lain Mandiri E-money dengan persentase pengguna sebanyak 43,8%, disusul BCA Flazz dengan persentase sebesar 39,1% dan Telkomsel T-Cash sebesar 29,1%, lalu yang ke 4 adalah Go-Pay dengan persentase pengguna sebesar 27,1% (JakPat, 2017).
Perkembangan e-money di Indonesia diinisiasi oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia. Pada tahun 2007 Telkomsel meluncurkan T- cash sebagai pelopor e-money di Indonesia. Walaupun masih sangat asing bagi masyarakat awam, Telkomsel menjadi penggerak pertama dengan meluncurkan T- Cash. Pada tahun 2008 berikutnya, Indosat selaku kompetitor Telkomsel pun meluncurkan aplikasi Dompetku. Perkembangan uang elektronik masih terasa lambat hingga pada tahun 2012, akhirnya beberapa perusahaan telekomunikasi maupun perbankan meluncurkan produknya masing-masing seperti XL Tunai dan CIMB Rekening Ponsel. Semakin berkembang, dalam kurun waktu 4 tahun berikutnya (2013 - 2017) diluncurkannya Mandiri e-Cash, Uangku, Sakuku juga turut meramaikan segmen uang elektronik di industri finansial Indonesia (Pertiwi dan Hillary, 2019).
Perkembangan e-money yang diiringi dengan pekembangan teknologi mobile, membuat instrument transaksi non tunai mulai beradaptasi dengan menggunakan aplikasi dan juga qr code yang dapat diakses melalui ponsel pintar. Hal ini berkaitan dengan pola perilaku masyarakat yang mulai bergeser dalam penggunaan gadget ketika melakukan pembelanjaan dan bertransaksi. Hingga akhirnya per Januari 2018, sudah terdapat 27 uang elektronik yang beredar di Indonesia. Saat ini pun
3
semakin mulai terasa memanasnya persaingan dalam dunia uang elektronik, apalagi dengan semakin gencarnya imbalan yang diberikan dan dilakukan oleh para pemain uang elektronik seperti Go Pay, T-Cash, OVO, Dana, Doku Wallet (Pertiwi dan Hillary, 2019).
Dilansir dari Websindo1 dari 268,2 juta jiwa tercatat penggunaan ponsel pintar dan tablet (mobile technology) sebesar 355,5 juta, dan 150 juta dari penduduk Indonesia merupakan pengguna internet aktif. Websindo mencatat, 91% penduduk Indonesia menggunakan mobile phone untuk berselancar di dunia maya dan mengunjungi situs e-commerce. Besarnya pengguna teknologi mobile, memicu perkembangan e-money untuk menghadirkan sistem pembayaran e-wallet, yaitu dompet elektronik dengan produk digital wallet (dompet digital) guna memfasilitasi kebutuhan transaksional masyarakat menggunakan teknologi mobile.
1 https://websindo.com/indonesia-digital-2019-tinjauan-umum/
Gambar 1.1 Grafik Penetrasi Pelanggan Smartphone vs Penetrasi Platform E-Banking
(Sumber: MDI Ventures & Mandiri Sekuritas)
4
Berdasarkan Gambar 1.1 tentang grafik olahan MDI Ventures dan Mandiri Sekuritas di atas, penetrasi masyarakat terhadap aplikasi pembayaran melalui smartphone dari tahun 2012 ketahun 2017 meningkat sangat tajam dibandingkan dengan ke 4 jenis media pembayaran yang ada. Hal ini menunjukkan tren yang positif dalam adaptasi e-wallet oleh masyarakat.
Ketika ada peningkatan penggunaan internet dan smartphone serta akses internal maka, pada saat yang sama, konsumen juga akan dididik dan berkembang karena konsumen akan menganggap teknologi sebagai faktor yang meningkatkan kualitas hidup seseorang sehingga fenomena adopsi teknologi akan tumbuh sangat cepat terutama di kalangan anak muda yang memiliki karakteristik yang sangat terhubung. Dengan kata lain teknologi e-wallet di Indonesa akan mudah diadopsi oleh generasi saat ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Alfina (2019), terkait bagaimana kebiasaan konsumen saat ini dalam bertransaksi, menyebutkan bahwa transaksi non tunai sangat digemari karena selain memberikan kemudahan dan efektifitas waktu, tetapi juga banyaknya promosi berupa diskon maupun cashback yang disediakan oleh penyedia layanan pembayaran non tunai. Dalam hal ini, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Houstoun (2020) yang menyatakan bahwa, konsumen tertarik untuk menggunakan pembayaran digital karena adanya promo dan diskon untuk produk-produk yang mereka gemari. Seperti saat t-cash bekerja sama dengan beberapa merchant makanan seperti Chattime dan Mc Donalds konsumen setia dari kedua brand tersebut berbondong-bondong untuk menggunakan t-cash karena banyaknya diskon dan cashback (sumber?).
Sedangkan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Thomas et al. (2013), memperkenalkan kerangka kerja dalam mengukur indikator penerapan transaksi pembayaran non-tunai (cashless) di berbagai negara. Ada tiga indikator dalam kerangka kerja ini untuk mengukur progres dari perkembangan cashless, antara lain:
a. Share, yang berarti mengukur persentase dari nilai pembayaran secara non-tunai oleh pelanggan.
b. Trajectory, yang berarti mengukur pergeseran transaksi pembayaran tunai yang dilakukan oleh pelanggan.
5
c. Readiness, mengukur level kesiapan negara untuk berpindah dari transaksi pembayaran tunai ke transaksi pembayaran non-tunai melalui akses pelayanan finansial, faktor-faktor ekonomi makro dan budaya, skala perdagangan dan kompetisi, serta teknologi dan infrastruktur.
Berdasarkan dari kategori dan indikator yang dijelaskan di atas, setiap negara dapat dikategorikan berdasarkan hasil pegukuran ketiga indikator. Terdapat empat kategori yaitu, inception/initial level ketika transaksi non-tunai kurang dari 40%, transition level, ketika transaksi non-tunai mencapai 40-60%, tipping point level, yaitu ketika transaksi non-tunai mencapai 60-80% dan kategori terakhir adalah nearly cashless level, dimana lebih dari 80% transaksi pembayaran telah menggunakan non-tunai.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahardy dan Xena (2019) berdasarkan indikator dari kerangka kerja Thomas et al. (2013) menyatakan bahwa faktor readiness atau kesiapan Indonesia dalam mengadopsi sistem pembayaran non-tunai masih dalam tingkatan inisial dengan nilai 24 dari 100. Sehingga dilakukan penelitian terkait faktor–faktor yang mendasari kesiapan Indonesia dalam menerapkan sistem cashless, khususnya pada UMKM yang menjadi poros perekonomian Indonesia. Rahardy dan Xena tahun 2019 dalam penelitiaannya mengemukakan kerangka konseptual terkait faktor–faktor yang mempengaruhi kesiapan UMKM di Indonesia menuju cashless society. Ada 6 faktor kesiapan UMKM dalam mengadopsi teknologi pembayaran non-tunai yaitu, performance expectancy, culture, acceptance of technology, social influence, perceived security, effort expectancy.
Menyadari bahwa UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) menjadi salah satu pilar perekonomian di Indonesia yang memberikan kontribusi begitu besar, seiring dengan era digitalisasi yang berkembang, pemerintah membuat program- program dalam memaksimalkan peran UMKM di era transformasi digital saat ini, untuk mendukung terwujudnya ekosistem transaksi digital di Indonesia, salah satunya adalah program UMKM Go Online. UMKM Go Online juga sebagai strategi pemerintah untuk mewujudkan visi pemerintah yaitu Go Digital Vision 2020 sebagai sarana pemerintah untuk menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara (Ministry of Foreign Affair, 2017).
6
Program UMKM Go Online ini dicanangkan juga sebagai bentuk adaptasi dari fenomena pergeseran pola perilaku belanja masyarakat yang mengarah pada sistem pembelanjaan online. Hadirnya berbagai platform layanan online dalam bentuk penjualan produk maupun jasa, meningkatkan keinginan masyarakat yang ingin serba cepat. Didukung oleh adanya ponsel pintar yang mampu menjadi media pendukung mobilitas masyarakat masa kini, membuat pelaku usaha di Indonesia dituntut untuk cepat beradaptasi agar mampu menghadapi persaingan yang kian kompetitif.
Dalam Program UMKM Go Online, Pemerintah melalui Kementerian Kominfo, Kementerian Keuangan, Kementrian Koperasi dan UMKM mulai berkolaborasi dengan beberapa Lembaga untuk melakukan empat tahapan yang dimulai sejak tahun 2018 lalu, yaitu : Tahap pertama, on boarding, pemerintah berupaya mendorong pelaku UMKM yang masih menggunakan sistem offline menjadi online, mulai dari anjuran untuk bergabung dengan e-commerce dalam penjualan produk, penggunaan media sosial untuk pemasaran, dan sistem transaksi pembayaran secara digital. Tahap yang kedua, active selling, merupakan upaya pemerintah dalam pendampingan kepada UMKM yang sudah menggunakan sistem online untuk meningkatkan transaksi online. Tahap ketiga, scale up yaitu bantuan untuk pelaku UMKM untuk meningkatkan skala bisnisnya dan tahap yang terakhir adalah tahap go international, dimana pemerintah berupaya untuk mendorong pelaku UMKM meningkatkan jangkauan pasarnya hingga ke ranah internasional (Kemenkominfo, 2019).
Pada Tahun 2019 Kemenkominfo berkolaborasi dengan Dinas Koperasi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Keuangan, Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo), pihak perbankan, hingga marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Bibli, Lazada, Blanja.com, Go-Food, dan sebagainya. Mereka juga turut menggandeng pelaku pembayaran digital, seperti OVO, Go-Pay, LinkAja, Dana, T-money, hingga Visionet untuk mendukung program UMKM Go Online (Kemenkominfo, 2019).
Go Jek dan Grab merupakan salah satu perusahaan platform yang berkolaborasi dengan pemerintah untuk mendorong UMKM mewujudkan strategi pemerintah Go Digital Vision. Berawal dari layanan transportasi online, dua platform paling
7
banyak penggunanya di Indonesia saat ini melebarkan sayapnya dengan layanan pesan antar produk makanan dan minuman yang dikenal dengan Go Food dan Grab Food. Keduanya memiliki mitra yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Selain layanan pesan antar makanan dan minuman Go Jek melakukan diversifikasi dengan menyediakan layanan pembayaran digital yaitu Go Pay, sementara Grab bekerjasama dengan penyedia teknologi pembayaran digital OVO untuk mendukung kegiatan operasional bisnis mereka. Go Food dan Grab Food berupaya mendorong UMKM Indonesia untuk berkembang dengan program-program yang mereka canangkan, serta fitur-fitur yang tersedia di platform mereka seperti fitur pesan antar makanan jadi UMKM tidak perlu menyediakan kurir sendiri untuk mengantarkan produk mereka konsumen sehingga biaya operasional bisnis para UMKM sektor makanan dan minuman lebih efisien, selain itu mereka tidak perlu membuka atau menyewa toko karena dengan dirumah produk mereka dapat dikenal konsumen melalui fitur Go Food dan Grab Food.Go-Food dan Grab-food dengan fitur teknologi pembayaran digitalnya pelan-pelan mendorong masyarakat untuk dapat terbiasa bertransaksi non tunai. Salah satu strateginya adalah dengan memberikan potongan harga jika menggunakan Go Pay dan OVO.
Dilansir dari situs resmi Grab, Kabupaten Tuban Jawa Timur merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang telah dijangkau oleh Grab-food. Potensi UMKM sektor makanan dan minuman di Tuban Jawa Timur sendiri tergolong besar, menurut data dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tuban tahun 2018, 60% pelaku UMKM di Tuban bergerak di sektor makanan dan minuman. Kegiatan transaksi non-tunai telah berkembang di Tuban, ditandai dengan mayoritas minimarket, supermarket, bahkan café dan restoran di Kota Tuban telah menyediakan mesin EDC (Electronic Debit Card) namun kegitan transaksi non-tunai masih sangat jarang untuk dilakukan. Berdasarkan informasi dari bloktuban.com potensi UMKM di Tuban untuk mengembangkan bisnis mereka melalui program UMKM go online sangat besar, tetapi kegiatan transaksi non-tunai menggunakan pembayaran digital masih belum marak.
Terjadinya fenomena UMKM go online seiring dengan fenomena cashless society, menghasilkan upaya–upaya untuk memaksimalkan adopsi teknologi digital di masyarakat, khususya UMKM yang menjadi pilar kuat perekonomian Indonesia.
8
Berdasarakan data BPS Kabupaten Tuban tahun (2019) perekonomian di Kabupaten Tuban Jawa Timur, masih tergolong rendah dengan UMR berkisar Rp 2.500.000. Selain itu informasi terkait perekembangan penggunaan teknologi pembayaran digital pun masih sangat minim di Kota Tuban. Hal ini menjadi pertanyaan bagaimana realita di lapangan tentang kesiapan UMKM sektor makanan dan minuman di Kabupaten Tuban dalam menghadapi tren pembayaran digital.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara spesifik dan mendalam mengenai proses kesiapan UMKM sektor makanan dan minuman di Kabupaten Tuban sebagai salah satu daerah di Jawa Timur yang kegiatan transaksi non-tunai menggunkaan teknologi pembayaran digital dalam kehidupan masyarakatnya sehari-hari masih minim, dalam mengadopsi teknologi pembayaran digital untuk mendukung terwujudnya tren cashless society di Indonesia.
1.2 Fokus Penelitian dan Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, fokus penelitian ini mengenai eksplorasi secara spesifik dan mendalam yang berkaitan dengan proses kesiapan UMKM sektor makanan dan minuman dalam mengadopsi sistem pembayaran digital untuk mendukung terwujudnya cashless society di Tuban Jawa Timur. Sebagai bahan penjabaran dalam studi penelitian ini, rumusan masalah yang diperoleh adalah:
Bagaimana proses kesiapan dan apa saja yang dihadapi UMKM sektor makanan dan minuman di Tuban Jawa Timur dalam mengadopsi sistem pembayaran digital dalam mendukung terwujudnya cashless society di Tuban Jawa Timur?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, fokus penelitian ini mengenai eskplorasi secara spesifik dan mendalam yang berkaitan dengan proses kesiapan UMKM di Tuban Jawa Timur dalam mengadopsi teknologi pembayaran digital untuk mendukung terwujudnya cashless society di Tuban Jawa Timur. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
Mengamati, menganalisis dan mengeksplorasi secara spesifik dan mendalam yang berkaitan dengan proses kesiapan UMKM sektor makanan dan minuman
9
dalam mengadopsi teknologi pembayaran digital untuk mendukung terwujudnya cashless society.
1.4 Manfaat Penelitian
Dalam proses penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Akademisi
a. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam pembelajaran teori maupun penerapan praktik.
b. Penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pihak-pihak yang ingin melakukan penelitian lanjutan.
2. Bagi UMKM dan Instansi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi kepada pihak manajemen UMKM dan instansi pemerintahan di Kabupaten Tuban Jawa Timur serta pihak penyedia teknologi pembayaran digital mengenai pengamatan dan eskplorasi secara spesifik dan mendalam yang berkaitan dengan proses kesiapan UMKM di Tuban Jawa Timur dalam mengadopsi teknologi pembayaran digital untuk mendukung terwujudnya cashless society.
Sehingga dapat memberikan gambaran srategi apa yang harus dilakukan untuk mendukung terwujudnya UMKM go online dan cashless society di Tuban Jawa Timur.
10
Halaman ini sengaja dikosongkan