• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA PRIMIGRAVIDA DENGAN MULTIGRAVIDA PADA KEHAMILAN TRIMESTER KETIGA SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA PRIMIGRAVIDA DENGAN MULTIGRAVIDA PADA KEHAMILAN TRIMESTER KETIGA SKRIPSI"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA PRIMIGRAVIDA DENGAN MULTIGRAVIDA PADA

KEHAMILAN TRIMESTER KETIGA

SKRIPSI

Oleh :

AFLAH AINUN MARWAH MARTONDI DAULAY 170100070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA PRIMIGRAVIDA DENGAN MULTIGRAVIDA PADA

KEHAMILAN TRIMESTER KETIGA

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh :

AFLAH AINUN MARWAH MARTONDI DAULAY 170100070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

i UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(4)

ii

ABSTRAK

Latar Belakang. Dalam menghadapi persalinan ada sebanyak 5.355 orang (59,8%). Dari hasil penelitian sebelumnya pada September-Oktober 2006 terdapat 20 ibu hamil pada trimester III terdapat 15 (75%) ibu hamil yang menyatakan cemas dalam menghadapi persalinan. Masalah kesehatan mental seperti depresi dan ansietas sangat umum terjadi selama kehamilan. Hampir 20% dari wanita menderita gangguan kesehatan mental selama kehamilan yang berpotensi mengakibatkan kenaikan angka kematian ibu dan anak secara signifikan. Sekitar sepersepuluh wanita di negara maju, dan sepertiga wanita di negara berkembang memiliki masalah kesehatan mental selama kehamilan.

Tujuan. Mengetahui perbedaan tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida pada kehamilan trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan.

Metode. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional, yaitu dengan mengambil sampel ibu hamil trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan tahun 2020 serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Sampel penelitian dipilih dengan metode consecutive sampling.

Hasil. Berdasarkan hasil analisis uji chi square dijumpai nilai p=0,034 yang artinya menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida paa kehamilan trimester ketiga di poli obgyn RSUD Sibuhuan.

Kesimpulan. Terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida pada kehamilan trimester ketiga di RSUD Sibuhuan

Katakunci: kecemasan, primigravida, multigravida, trimester ketiga

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(5)

iii

ABSTRACT

Background. in facing childbirth there were as many as 5,355 people (59.8%). From the result of preveous studies in September-October 2006 there were 20 pregnant womwn in the 3rd trimester, 15 ( 75%) pregnant womwn expressed anxiety in facing childbirth. Mental health problems such as depression and anxiety are very common during pregnancy. Nearly 20% of women suffer from mental health problems during pregnancy which have the potential to result in a significant increase in maternal and child mortality. About a tenth of women in developed countries, and one third of women in developing countries have mental health problems during pregnancy.

Purpose. Know the difference in the level of anxiety between primigravida and multigravida in the third trimester of pregnancy at the poly obgyn RSUD Sibuhuan.

Method. This research ia a descriptive analytic study with a cross-sectional approach, namely by taking a sample of third trimester pregnant women in the poly obgyn at RSUD Sibuhuan in 2020 and fulfilling the inclusion and exclusion criteria. The research sample was selected by consecutive sampling method.

Result. Based on the results of the analysis of the chi square test, the value of p=0.034 was found, which means that there is a significant difference between primigravidas and multigravida in the third trimester of pregnancy at RSUD Sibuhuan.

Conclusion. There is a difference in the level of anxiety between primigravida an multigravida in the third trimester at RSUD Sibuhuan.

Keywords. Anxiety, Primigravida, Multigravida, Third Trimester

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(6)

iv

KATA PEGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan pnyusunan laporan hasil penelitian ini. Laporan hasil penelitian ini disusun sebagai rangkaian tugas akhir dalam menyelesaikan pendidkan program studi Sarjana Kedokteran, Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi- tingginya kepada semua pihak yang telah turut serta membantu penulis dalam menyelesaikan laporan akhir hasil penelitian ini, diantaranya :

1. Kepada Prof. Dr.dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp. S(K) seaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

2. Kepada Dr.dr. Imam Budi Putra, MHA, Sp. KK selaku wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

3. Kepada dr. Zaimah Z. Tala, Sp. GK selaku wakil Dekan II Fakultas Koktran Universitas Sumatra Utara

4. Kepada Prof. Dr.dr. Dina Keumala Sari, M. Gizi, Sp.GK selaku wakil Dekan III Faukultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

5. Kepada Dosen Pembimbing dalam penulisan Penelitian ini, dr.

Khairani, M.Ked(OG), Sp.OG(K), yang dengan sepenuh hati telah meluangkan segenap waktu dan bimbingan dan mengarahkan penulis, mulai dari awal penyusuna penelitian, pelaksanaan penelitian, dan pembuatan laporan hasil, sehingga selesai laporan hasil penelitian ini.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(7)

v

6. Kepada Dosen Penguji dalam penulisan penelitian ini Dr.dr. Ichwanul Adenin, M.Ked(OG), Sp.OG(K) , selaku ketua penguji dan Dr.dr.

Makmur Sitepu, M.Ked (OG), Sp.OG(K) selaku anggota penguji 7. Kepada RSUD Sibuhuan yang telah memberikan izin untuk

melakukan penelitian

8. Kepada orangtua penulis, Ayahanda Parsaulian Daulay dan Ibunda Nuraini Tanjung yang senantiasa mendoakan, mendukung, dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Kepada orang-orang terdekat penulis, Nanda, Ani Chan, Ochaa, Aqilah, Fatimah, Ela, Fitri, Ujing Saminta, Nantulang Saindah, Nantulang Ably, Nantulang Andri, Nenek Hajja, Abang Ikhwan, Abang Hilman, Ka Indah, Ka Fia, dan semua yang telah memberikan dukungannya yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang senantiasa mendengar cerita penulis, memberikan semangat kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan laporan hasil penelitian ini masih belum sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisannya.

Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membnagun demi perbaikan laporan hasil penelitian ini dikemudian hari.

Medan, Desember 2020

A.Ainun Mawah M. Daulay

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(8)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Pengesahan ... i

Abstrak ... ii

Abstract ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... vi

Daftar Tabel ... viii

Daftar Gambar ... ix

Daftar Singkatan ... x

Daftar Lampiran ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 2

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 2

1.3.1 Tujuan Utama ... 2

1.3.2 Tujuan Khusus ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 3

1.4.1 Bagi Peneliti ... 3

1.4.2 Bagi Institusi ... 3

1.4.3 Bagi Masyarakat ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Kecemasan ... 4

2.1.1 Pengertian Kecemasan ... 4

2.1.2 Faktor Penyebab Kecemasan ... 4

2.2 Kehamilan ... 7

2.2.1 Fisiologi Kehamilan ... 7

2.2.2 Perubahan Anatomi & Fisiologi Wanita Hamil .... 9

2.2.3 Diagnosis Kehamilan ... 10

2.2.4 Fisiologi Persalinan ... 13

2.2.5 Sebab-sebab Terjadinya Persalinan ... 14

2.3 Kecemasan Pada Kehamilan ... 19

2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan Pada Ibu Hamil 20 2.5 Kerangka Teori ... 22

2.6 Kerangka Konsep ... 23

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(9)

vii

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

3.1 Jenis Penelitian ... 25

3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 25

3.3 Populasi Dan Sampel Penelitian ... 25

3.3.1 Populasi ... 25

3.3.2 Sampel ... 25

3.3.3 Besar Sampel ... 26

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 26

3.5 Instrumen Penelitian ... 26

3.6 Defenisi Operasioal ... 27

3.7 Metode Pengolahan Data ... 28

3.8 Metode Analisis Data ... 28

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 29

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 34

DAFTAR PUSTAKA ... 35

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(10)

viii

DAFTAR TABEL Nomor

2.1

Judul

Diameter-diameter Dalam Bidang Pelvic………17

Halaman

3.1 Defenisi Operasional………..27 4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Ibu Hamil...29 4.2

4.3 4.4 4.5

4.6

Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan...29 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan...30 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Gravida Ibu...30 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Kecemasan....31 Tingkat Kecemasan Antara Primigravida Dengan

Multigravida Pada Kehamilan Trimester Ketiga...31

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(11)

ix

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Bidang Hodge………. 17

2.2 Anatomi os Cranium……….. 18

2.3 Kerangka Teori Penelitian………. 22

2.4 Kerangka Konsep Penelitian………. 23

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(12)

x

DAFTAR SINGKATAN GABA : gamma-aminobutyric acid

hCG : human Chorionic Gonadotropin hPL : hormone Placental Lactogen PGH : Placental Growth Hormon PG : Prostaglandin

PAP : Pintu Atas Panggul UUK : Ubun-ubun Kecil

IUGR : Intra Uterine Growth Restriction

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(13)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN JUDUL

1. Biodata Penulis 2. Lembar Orisinalitas

3. Lembar penjelasan kepada calon subjek penelitian 4. Lembar persetujuan subjek penelitian

5. Ethical Clereance 6. Surat izin penelitian

7. Surat keterangan telah melaksanakan penelitian 8. Data induk penelitian

9. Data statistik SPSS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kecemasan adalah suatu yang normal terjadi dalam pertumbuhan, perubahan, pengalaman baru, dan dapat menyertai penemuan identitas diri dan arti hidup. Kecemasan merupakan suasana perasaan takut terus menerus akan tetapi itu hanya perasaan saja, dan tidak nyata. Gejala cemas bervariasi pada setiap individu. Gejalanya seperti gelisah, pusing, dada berdebar, tremor dan sebagainya, tergantung individu tersebut Secara individu cemas dapat mengganggu, dan proses kehamilan menjadi salah satu stresor yang besar dalam meningkatkan kecemasan pada wanita hamil (Kaplan, 2010).

Prevalensi Di USA pada tahun 2004, dari 8000 wanita hamil terdapat 21.9% yang menderita kecemasan. Di Indonesia terdapat data wanita hamil yang mengalami kecemasan dalam menghadapi persalinan ada sebanyak 107.000 orang (28,7%). Di kabupaten Lampung Tengah ada sebanyak 8.948 ibu hamil, dan yang mengalami kecemasan dalam menghadapi persalinan ada sebanyak 5.355 orang (59,8%). Dari hasil penelitian sebelumnya pada September-Oktober 2006 terdapat 20 ibu hamil pada trimester III terdapat 15 (75%) ibu hamil yang menyatakan cemas dalam menghadapi persalinan. Pada bulan Juni-Juli 2009 terdapat 15 ibu hamil pada trimester III dan 10 (66,6%) diantaranya ibu primigravida mengalami cemas dalam menghadapi persalinan (Selain itu hampir 80% wanita menolak kehamilannya di trimester I, sering gelisah dan murung, dan terdapat 15% ibu hamil mengalami gangguan jiwapada trimester I kehamilannya (Anggraini, 2010).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(15)

Masalah kesehatan mental seperti depresi dan ansietas sangat umum terjadi selama kehamilan. Hampir 20% dari wanita menderita gangguan kesehatan mental selama kehamilan yangberpotensi mengakibatkan kenaikan angka kematian ibu dan anak secara signifikan (Kusum et al, 2013). Sekitar sepersepuluh wanita di negara maju, dan sepertiga wanita di negara berkembang memiliki masalah kesehatan mental

selama kehamilan (WHO, 2008). Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2015, bahwa dalam setahun wanita yang akan melahirkan meninggal dunia mencapai angka 303.000 orang (WHO, 2015).

Menurut Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2015 terdapat AKI sebesar305/100.000 kelahiran (Kemenkes, 2017).

Hasil penelitian oleh Mandagi (2013) menyatakan bahwa bahwa tidak terdapat perbedaan secara signifikan kecemasan yang terjadi pada ibu hamil primigravida dan multigravida di RSIA Kasih Ibu Manado. Dari responden primigravida yang ada di RSIA Kasih Ibu Manado, didapatkan ada yang mengalami kecemasan sedang, kecemasan ringan dan yang paling banyak tidak mengalami kecemasan (Mandagi, 2013).

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti terarik ingin melakukan penelitian mengenai perbedaan tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida pada kehamilan trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas maka didapati rumusan masalah bagaimanakah perbedaan tingkat kecemasan antara primigravida dengan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(16)

multigravida pada kehamilan trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan ?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 TUJUAN UTAMA

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida pada kehamilan trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan.

1.3.2 TUJUAN KHUSUS

Tujuan khusus pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi karakteristik demografi (graviditas, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan) ibu hamil primigravida dan multigravida di Poli Obgyn RSUD Subuhan.

2. Mengidentifikasi tingkat kecemasan ibu hamil primigravida dan multigravida pada kehamilan trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan.

3. Mengetahui perbedaan tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida pada kehamilan trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Subuhan.

1.4 MANFAAT PENELITIAN 1.4.1 Bagi Peneliti

Penelitian ini berguna sebagai pengalaman belajar dan menambah pengetahuan sehingga dapat dijadikan pedoman dalam penelitian selanjutnya dan sebagai pengalaman yang nyata.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(17)

1.4.2 Bagi Institusi

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang perbedaan tingkat ansietas ibu hamil primigravida dan multigravida dalam menghadapi kehamilan.

1.4.3 Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat agar menjadi bahan konseling dan motivasi bagi ibu hamil primigravida dan multigravida dalam menghadapi kehamilan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(18)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KECEMASAN

2.1.1 Pengertian Kecemasan

Kecemasan merupakan perasaan takut seseorang yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Individu yang merasakan cemas akan merasa tidak nyaman atau takut, namun tidak mengetahui alasan kondisi tersebut terjadi. Kecemasan tidak memiliki stimulus yang jelas yang dapat diidentifikasi (Videbeck, 2012).

Secara umum, terdapat dua teori mengenai etiopatogenesis munculnya kecemasan, yaitu teori psikologis dan teori biologis. Teori psikologis terdiri atas tiga kelompok utama yaitu teori psikoanalitik, teori perilaku dan teori eksistensial.

Sedangkan teori biologis terdiri atas sistem saraf otonom, neurotransmiter, studi pencitraan otak, dan teori genetik. (Sadock, 2015).

2.1.2 Faktor Penyebab Kecemasan

Menurut Sadock (2015), kecemasan dapat disebabkan oleh :

1. Teori psikoanalitik dimana Sigud Freud mengidentifikasikan kecemasan sebagai konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian, yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting seseorang dan impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang yang dikendalikan oleh norma dan budaya. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

2. Teori interpersonal Sullifan menyebutkan bahwa perasaan cemas timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(19)

Kecemasan juga berkaitan dengan perkembangan trauma, seseorang yang merasa harga dirinya rendah akan rentan merasakan kecemasan yang berat.

3. Teori perilaku meyebutkan kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu karena mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli perilaku lain menganggap bahwa kecemasan sebagai suatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk meghindari kesedihan. Ahli teori pembelajaran meyakini bahwa individu terbiasa sejak kecil dihadapkan dengan suatu ketakutan berlebihan lebih sering menunjukkan kecemasan pada kehidupan selanjutnya. Ahli teori konflik memandang kecemasan sebagai pertentangan antar dua kepentingan yang berlawanan. Para ahli meyakini bahwa adanya hubungan timbal balik antara konflik dengan kecemasan yaitu konflik menimbulkan kecemasan, dan kecemasan menimbulkan perasaan tidak berdaya, yang pada gilirannya meningkatkan konflik yang dirasakan

4. Kajian keluarga menyebutkan kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Kesemasan juga terkait dengan tugas perkembangan individu dalam keluarga.

5. Kajian Biologis menyebutkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gama aminobutirat (GABA), yang berperan dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan kecemasan. Kesehatan umum seseorang dan riwayat kecemasan dalam keluarga memiliki efek yang nyata sebagai predisposisi kecemasan. Kecemasan bisa disertai oleh gangguan fisik dan selanjutnya

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(20)

menurunkan kemampuan individu untuk mengatasi stressor.

(Sadock,2015).

Menurut Sadock (2015) respon terhadap kecemasan meliputi respon fisiologi, perilaku, kognitif dan efektif yaitu :

1. Respon fisiologi

Gejala somatik/fisik (otot), meliputi : kaku, nyeri, sakit dan kedutan pada otot. Gejala sensorik meliputi : telinga berdengung, wajah merah atau pucat, penglihatan terasakabur, merasa lelah, dan perasaan seperti ditusuk- tusuk.

Gejala pada jantung dan pembuluh darah, meliputi : denyut jantung cepat, berdebar- debar, nyeri dada, denyut nadi mengeras, rasa lesu/lemas seperti mau pingsan, detak jantung menghilang (berhenti sekejap). Gejala pernafasan meliputi : dada seperti tertimpa beban berat, perasaan seperti tercekik, merasa nafas pendek/sesak, sering menarik nafas panjang. Gejala pada gastrointestinal meliputi : sulit untuk menelan, perut terasa melilit, gangguan pencernaan, nyeri pada saat sebelum dan sesudah makan, perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau kembung, mual, muntah, buang air besar lembek, sukar buang air besar (konstipasi), kehilangan berat badan. Gejala pada urogenital, meliputi : buang air kecil terlalu sering, tidak dapat menahan buang air kecil, tidak datang bulan (tidak ada haid), masa haid amat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan.

Adapun gejala-gejala yang dialami oleh orang yang mengalami kecemasan adalah :

a. Ketegangan motorik/alat gerak seperti : gemetar, tegang, nyeri otot, letih,

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(21)

tidak dapat santai, gelisah, tidak dapat diam, kening berkerut, mudah kaget.

b. Hiperaktifitas saraf autonom (simpatis dan saraf parasimpatis) seperti keringat berlebihan, jantung berdebar-debar, rasa dingin ditelapak tangan dan kaki, mulut kering, pusing, rasa mual, sering buang air kecil, diare, muka merah/ pucat, denyut nadi mengeras dan nafas cepat.

c. Rasa khawatir yang berlebihan tentang hal-hal yang akan datang seperti : cemas, takut, khwatir, membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya

d. Kewaspadaan berlebihan seperti : Perhatian mudah beralih, sukar konsentrasi, sukar tidur, mudah tersnggung, tidak sabar

2. Respon perilaku

Respon terhadap perilaku seperti gelisah, tremor reaksi terkejut, bicara dengan cepat, kurangnya koordinasi, cenderung untuk mengalami cidera, menarik diri dari hubungan interpersonal, melarikan diri dari masalah, menghindar, hiperventilasi dan sangat waspada.

3. Respon kognitif

Respon kognitif meliputi; perhatian yang terganggu, sulit konsentrasi, pelupa, salah dalam memberikan penilaian, hambatan berfikir, lapang persepsi menurun, kreativitas menurun, produktifitas menurun, bingung, sangat waspada, kehilangan objektivitas, takut kehilangan kendali, takut pada gambar visual, takut cidera atau kematian, mimpi buruk.

4. Respon afektif

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(22)

Respon kecemasan pada afektif adalah mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, gugup, ketakutan, waspada, kengerian, kekhawatiran, kecemasan, mati rasa, rasa bersalah, dan malu. Menurut suliswati (2005), seseorang akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan dan curiga berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan.

2.2 KEHAMILAN

2.2.1 Fisiologi kehamilan

Untuk tiap kehamilan harus ada spermatozoa, ovum dan pembuahan ovum (konsepsi), dan nidasi (implantasi) hasil konsepsi. Setiap sprematozoa terdiri atas tiga bagian yaitu kaput atau kepala yang berbentuk lonjong agak gepeng dan mengandung bahan nukleus, ekor dan bagian yang silindrik (leher) menghubungkan kepala dengan ekor. Dengan getaran ekornya spermatozoa dapat bergerak cepat. Pertumbuhan pada embrional oogonium yang akan menjadi ovum terjadi di genital ridge dan oogonium akan terus bertambah sampai pada kehamilan enam bulan (Prawirohardjo, 2014).

a. Pembuahan

Ovarium melepaskan ovum yang kemudian disapu oleh mikrofilamen- mikrofilamen fimbria infundibulum tuba ke arah ostium tuba abdominalis, kemudian disalurkan terus kearah medial. Dari jutaan spermatozoa yang telah ditumpahkan di forniks vagina dan disekitar portio pada

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(23)

waktu koitus hanya beberapa ratus ribu spermatozoa yang bisa terus ke kavum uteri dan tuba, dan hanya beberapa ratus yang bisa sampai ke bagian ampula tuba dimana spermatozoa bisa memasuki ovum yang telah siap untuk dibuahi. Hanya terdapat satu sperma yang memiliki kemampuan untuk membuahi. Fertilisasi (pembuahan) merupakan penyatuan ovum dan spermatozoa yang biasanya berlangsung di ampula tuba. Fertilisasi meliputi penetrasi spermatozoa kedalam ovum, fusi spermatozoa dan ovum, diakhiri dengan fusi materi genetik (Prawirohardjo, 2014). Dalam waktu beberapa jam setelah terjadi pembuahan, mulailah pembelahan zigot. Hal ini dapat berlangsung karena banyak zat asam amino dan enzim di dalam sitoplasma ovum. Segera setelah terjadi pembelahan, dalam 3 hari akan terbentuk suatu kelompok sel yang sama besarnya. Hasil dari konsepsi berada dalam stadium morula.

Selanjutnya, hasil konsepsi ini akan disalurkan terus kearah kavum uteri oleh arus serta getaran silia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba (Prawirohardjo, 2014).

b. Nidasi

Hasil konsepsi yang telah mencapai stadium blastula yang disebut dengan blastokista terjadi pada hari keempat. Blastokista merupakan suatu bentuk yang bagian luarnya adalah trofoblas dan bagian dalamnya disebut massa inner cell. Massa inner cell ini akan berkembang menjadi janin dan trofoblas akan berkembang menjadi plasenta. Dengan demikian, blastokista yang diselubungi oleh suatu simpai yang disebut trofoblast.

Hormon Human Chorionic Gonadotropin (hCG) diproduksi sejak

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(24)

trophoblast terbentuk. Hormon hCG merupakan hormon yang memastikan bahwa endometrium akan menerima (reseptif) dalam proses implantasi embrio. Nidasi akan diatur oleh proses yang kompleks antara trofoblas dan endometrium. Trofoblas memiliki kemampuan invasif yang kuat, dan di sisi lain endometrium akan mengontrol invasi trofoblas dengan menyekresikan faktor-faktor yang aktif setempat yaitu inhibitor cytokines dan protease. Keberhasilan proses nidasi dan plasentasi yang normal adalah hasil keseimbangan proses antara trofoblas dan endometrium.

Produksi hormon human chorionic gonadotropin (hCG) akan meningkat kurang lebih sampai hari ke-60 kehamilan dan kemudian akan turun lagi. Setelah proses nidasi berhasil, hasil konsepsi selanjutnya akan tumbuh dan berkembang didalam endometrium. Saat proses nidasi telah terjadi, maka proses diferensiasi sel-sel blastokista akan dimulai. (Prawirohardjo, 2014).

c. Plasentasi

Plasentasi merupakan sebuah proses pembentukan struktur dan jaringan plasenta. Plasentasi dimulai setelah terjadi nidasi embrio ke dalam endometrium.

Pada manusia proses plasentasi berlangsung selama 12-18 mingu setelah proses fertilisasi. Pada perkembangan hasil konsepsi dalam 2 minggu pertama, trofoblas invasif telah melakukan penetrasi kedalam pembuluh darah endometrium.

Selanjutnya akan terbentuk sinus intertrofoblastik yang merupakan ruangan- ruangan yang berisi darah maternal dari pembuluh-pembuluh darah yang telah dihancurkan. Pertumbuhan ini akan terus berjalan, sehingga akan timbul ruangan- ruangan interviler dimana vili korialis seolah-olah terapung-apung diantara ruangan-ruangan tersebut sampai terbentuknya plasenta. (Prawirohardjo, 2014).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(25)

Tiga minggu setelah proses fertilisasi, sirkulasi darah pada janin dapat diidentifikasi dan akan dimulai proses pembentukan vili korialis. Sirkulasi darah janin ini berakhir dilengkung kapiler didalam vili korialis yang ruang intervilinya dipenuhi dengan darah maternal yang dipasok oleh arteri spiralis dan dikeluarkan melalui vena uterina. Vili korialis ini akan bertumbuh menjadi suatu massa jaringan yaitu plasenta (Prawirohardjo, 2014).

2.2.2 Perubahan anatomi dan fisiologi pada wanita hamil

Perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil sebagian besar sudah terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan.

2.2.3 Diagnosis kehamilan

Ditinjau dari usia kehamilan, kehamilan dibagi dalam 3 bagian, masing- masing:

1) Kehamilan trimester pertama (antara 0 sampai 12 minggu) 2) Kehamilan trimester kedua (antara 12 sampai 28 minggu)

3) Kehamilan trimester akhir (antara 28 sampai 40 minggu) (Prawirohardjo, 2014).

Dalam trimester pertama alat-alat vital mulai dibentuk. Dalam trimester kedua alat-alat telah dibentuk, tetapi belum sempurna dan viabilitas janin masih disangsikan.

Janin yang dilahirkan dalam trimester terakhir telah viable (dapat hidup).

Perubahan endokrinologis, fisiologis, dan anatomis yang menyertai kehamilan akan menimbulkan gejala dan tanda yang memberikan bukti

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(26)

bahwa adanya kehamilan. Gejala dan tanda tersebut dibagi menjadi tiga kelompok, antara lain :

a. Bukti Presumtif (tidak pasti) Gejalanya :

 Mual dengan atau tanpa muntah

 Gangguan berkemih

 rasa mudah lelah

 Persepsi adanya gerakan janin Tanda :

 Terhentinya menstruasi

 Perubahan pada payudara

 Perubahan warna mukosa vagina

Meningkatnya pigmentasi kulit dan timbulnya striae pada abdomen Perubahan endokrinologi dan fisiologis pada ibu hamil

diantaranya sebagai berikut:

1. Perubahan sistem endokrin. Pada saat kehamilan terjadi perubahan sekresi hormon, adanya hormone hCG yang di produksi oleh sel-sel trofoblas menyebakan peningkatan produksi ovarian steroid hormone, fungsi endokrin dari plasenta menjadi lebih luas untuk menghasilkan hormone maupun releasing factor. Hormon yang dihasilka plasenta meliputi:

 Human chorionic gonadotropin. Hormone ini dihasilkan trofoblas sejak

hari ke-7 setelah terjadinya fertilisasi, dan baru terdeteksi di dalam sirkulasi ibu hamil pada hari ke 10 saat

trofoblas telah terimplantasi dan menyatu dengan pembuluh darah ibu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(27)

hamil, dan dapat terdeteksi di dalam urin pada minggu ke 2 setelah fertilisasi. Keberadaan hCG pada awal kehamilan berperan dalam mempertahankan korpus luteum agar tidak terjadi atresia, sehingga masih mampu menghasilkan progesteron. Dengan tetap adanya progesteron, maka uterus dipertahankan tetap dalam keadaan tenang.

 Hormone steroid. Progesteron disintesis dari progesterone maternal di

dalam sinsitiotrofoblas. Kenaikan progesteron dalam sirkulasi maternal telah terjadi sejak dimulainya kehamilan. Produkdi progesteron oleh corpus luteum di awal kehamilan yang tida adekuat, atau kenaikan progesteron yang dihasilkan plasenta tidak mengimbangi penurunan yang dilakukan corpus luteum, dapat menyebabkan terjadinya abortus.

Estrogen primer pada saat kehamilan adalah Oestriol, pada awal kehamilan terjadi peningkatan oestrone dan oestradiol, sedangkan oestriol mulai meningkat pada minggu ke 9. Estrogen berperan penting dalam kehamilan untuk meningkatkan perkembangan endometrium dan payudara, meningkatkan aktivitas myometrium, meningkatkan sekresi prolactin, meningkatkan vasodilatasi myometrium, menstimulasi retensi cairan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap progesterone pada akhir masa kehamilan.

 Hormone placental lactogen. Sekresi hPL meningkat setelah penurunan

hCG, keberadaan hPL ini untuk mencegah terjadinya penolakan janin oleh tubuh maternal. Jika hPL rendah dapat menyebabkan terjadinya abortus spontan, preeklampsia, kehamilan mola dan insufiensi plasenta, sedangkan jika hPL terlalu tinggi dapat menyebakan tumor plasenta dan inkontabilitas

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(28)

resus.

 Placental growth hormone. Hormone pertumbuhan ini disekresi oleh

kelenjar hipofisis pada awal kehamilan, dan akan turun secara bertahap.

Secara umum, PGH menggantikan fungsi hormon pertumbuhan ibu hamil, selama kehamilan hormon ini akan diproduksi secara terus-menerus untuk memfasilitasi metabolic ibu hamil terhadap kehamilannya dan untuk menyediakan kebutuhan glukosa bagi janin.

 Relaxin. Hormone ini di produksi di korpus luteum, berperan dalam

pelunakan tulang panggul agar memudahkan janin bergerak, dan menjaga agar uterus tetap dalam keadaan tenang.

2. Perubahan pada sistem reproduksi. Uterus mengalami penebalan dan peningkatan vaskularisasi terutama pada bagian fundus dan badan uterus.

Uterus yang membesar juga akan menyebabkan pembesaran pada abdomen, saat usia kehamilan 12 minggu ukuran uterus kira-kira seukuran buah jeruk. Usia kehamilan yang terus bertambah akan menyebabkan uterus mengalami penyesuaian. Pada kehamilan trimester akhir, bagian terendah janin akan turun ke pelvis da menyebabkan berkurangnya tinggi fundus, adanya tekanan pada pelvis akan membuat ibu hamil mengalami sering berkemih, dan konstipasi.

3. Perubahan pada sistem pernapasan. Selama kehamilan volume kapasitas da kapasitas paru- paru meningkat, begitu juga pada ventilasi maternal.

4. Perubahan pada payudara. Saat kehamilan payudara akan membesar karena peningkatan suplai darah, stimulasi sekresi estrogen dan progesteron. Pada awal kehamilan, ibu akan merasa panas dan nyeri pada

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(29)

payudaranya, puting akan membesar dan pada daerah aerola terjadi hiperpigmentasi.

5. Perubahan pada sistem kardiovaskular. Curah jantung meningkat sejak usia kehamilan memasuki minggu kelima, selama kehamilan normal tekanan arteri rerata dan resistensi vascular akan menurun, sedangkan volume darah dan laju metabolic basal akan meningkat, yang menyebabkan pada awal kehamilan curah jantung maternal saat diukur dalam posisi berbaring lateral, meningkat secara bermakna.

6. Perubahan pada sistem pencernaan. Perubahan sistem pencernaan terjadi pada traktus gastrointestinal dan organ asesorius lainnya, refluks dan nyeri ulu hati disebabkan oleh pembesaran uterus dan pergeseran diafragma.

Peningkatan air di kolon karena transit makanan yang melambat melalui usus halus dapat menyebakan konstipasi.

7. Perubahan pada kulit. Saat hamil pada abdomen akan tampak tanda peregangan kulit (striae gravidarum), pada daerah dahi, pipi, dan leher akan tampak warna kecoklatan yang tidak merata.

8. Perubahan pada sistem muskuloskeletal. Dalam keadaan hamil sistem musculoskeletal banyak mengalami perubahan, dalam hal ini terjadi lordosis karena pembesaran uterus sebagai kompensasi posisi anterior menyesuaikan gravitasi ke eksremitas bawah, beban sendi juga meningkat dua kali lipat, simfisis pubis mengalami peregangan sekita 1 cm yang dapat menyebabkan nyeri. (Husin, 2014).

b. Bukti kemungkinan kehamilan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(30)

 Pembesaran abdomen.

 Perubahan bentuk, ukuran, dan konsistensi uterus.

 Perubahan anatomis pada serviks.

 Kontraksi Braxton Hicks. Bila uterus diransang mudah berkontraksi.

Tanda ini khas untuk uterus dalam masa hamil. Pada keadaan uterus yang membesar tetapi tidak ada kehamilan misalnya pada mioma uteri, tanda ini tidak ditemukan.

 Adanya gonadotropin korionik di urin atau serum

c. Tanda Positif Kehamilan

 Identifikasi kerja jantung janin yang terpisah dan tersendiri dari kerja

jantung ibu.

 Pengenalan mudigah dan janin setiap saat selama kehamilan dengan USG (Prawirohardjo, 2014).

2.2.4 Fisiologi persalinan

Persalinan (partus) adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan biasa atau persalinan normal atau persalinan spontan terjadi apabila bayi lahir dengan presentasi belakang kepala tanpa memakai alat-alat atau alat bantu serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. (Prawirohardjo, 2014)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(31)

2.2.5 Sebab-sebab terjadinya persalinan

Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang memang diperlukan untuk mengeluarkan hasil konsepsi berupa janin, maka tubuh materna mengalami perubahan-perubahan baik secara fisiologis, anatomis maupun hormonal guna mempersiapkan diri menghadapi persalinan. Ada banyak teori yang menerangkan bagaimana terjadinya/dimulainya persalinan pada gravida. Adapun teori-teori yang menjadi penyabab persalinan antara lain:

1. Perubahan pada struktur uterus dan sirkulasi uterus (sirkulasi uteroplasenta). Pada minggu- minggu akhir kehamilan bagian otot-otot uterus makin membesar dan menegang. Hal ini menyebabkan terganggunya aliran darah menuju otot uterus terutama pada bagian arteri spiralis yang mensuplai darah keplasenta. Hal ini menyebabkan gangguan sirkulasi uteroplasenta yang mengakibatkan degradasi plasenta dan menurunnya nutrisi untuk janin. Mulai menurunya asupan nutrisi janin akan memberi rangsangan untuk dimulainnya proses persalinan.2

2. Faktor neurologis. Selain itu, tegangan rahim yang semakin meningkat seiring bertambah besarnya janin menyebabkan terjadinya penekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser dibelakang serviks.

Perangsangan ganglion ini mampu membangkitkan kontraksi uterus yang merupakan awal dari proses partus (Prawirohardjo, 2014).

Dalam proses kelahiran/partus, ada beberapa aspek yang berpengaruh, yaitu power, passage, dan passenger. Power adalah segala tenaga yang mendorong bayi keluar melalui jalan lahir. Terdiri atas tegangan kontraksi HIS dan tenaga meneran dari ibu. Passage adalah jalan lahir, termasuk

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(32)

didalamnya perubahan anatomi pada jalan lahir menjelang persalinan.

Passenger adalah bayi itu sendiri (Cunningham, 2007).

 Power

HIS adalah kontraksi uterus yang datang secara teratur menjelang persalinan.

Adapun HIS yang sempurna memiliki sifat kejang otot paling tinggi terdapat di fundus uteri, dan puncak kontraksi terjadi simultan disemua bagian uterus. Selain itu, diikuti relaksasi yang tidak sempurna. Artinya, meskipun otot relaksasi, tapi tidak pernah kehilangan tonus ototnya. Sehingga tegangan ruang amnion tetap dipertahankan sebesar 6-12 mmHg. Pada tiap akhir kontraksi, akan terjadi retraksi fisiologis pada otot-otot uterus. Retraksi ini menyebabkan

tarikan pada serviks yang menyebabkan serviks semakin menipis dan berdilatasi seiring pemendekan otot-otot uterus (Cunningham, 2007).

Adapun HIS umumnya dimulai pada bagian uterus dekat muara tuba falopii.

Kontraksi menyebar dari sel ke sel melalui area dengan resistensi lebih rendah.

Area dengan resistensi lebih rendah ini dikaitkan dengan adanya gap-junction yang meningkat menjelang aterm akibat pengaruh estrogen yang meningkat dan menurunnya progesteron. Gap-junction ini diduga terdapat lebih banyak pada muara tuba faloppii, sehingga seolah-olah terdapat pacemaker yang memulai kontraksi uterus pada bagian ini (Prawirohardjo, 2014).

Mekanisme terjadinya HIS sangat dipengaruhi oxytocin dan PG. Kedua senyawa ini akan terikat pada reseptornya di miometrium yang selanjutnya akan mengaktifasi phosfolipase

C. Phosfolipase C akan menghidrolisis lipid membran (phosphatidylinositol 4,5- biphosphate) menjadi diacylglycerol dan inositol triphosphate. Selanjutnya,

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(33)

inositol triphosphate akan menginduksi pelepasan dari kalsium dari retikulum sarkoplasma. Sehingga terjadi peningkatan kalsium intraselular yang nantinya akan merangsang dari kontraksi myofibril (Cunningham, 2007).

Selain HIS, tenaga lain yang berperan dalam persalinan adalah tenaga meneran ibu yang membantu memperkuat dorongan. Pengetahuan ibu mengenai mengejan juga berpengaruh pada persalinan normal. Dari penelitian, pengetahuan yang kurang menyebabkan mengejan sebelum waktunya sehingga ibu akan kehilangan tenaga karena ibu telah mengedan sebelum waktunya dan juga berpengaruh terhadap kemajuan persalinan (Cunningham, 2007).

Serta tegangan dari cairan amnion. Tegangan cairan amnion tidak pernah menjadi nol. Bahkan ketika relaksasi otot-otot uterus diantara kontraksi HIS, tonus otot tetap dipertahankan rendah. Hal ini menyebabkan tegangan cairan amnion tetap dipertahankan sebesar 6-12 mmHg. Seperti sifat sebuah cairan, ia akan menekan kesegala arah. Demikian pula halnya dengan cairan amnion. Karena dinding uterus tidak sama komposisi dan ketebalannya, sehingga pada arah SBR (segmen bawah rahim) dan serviks, tegangan cairan amnion ini menyebabkan terdorongnya serviks dan membantu penipisan dan dilatasi serviks serta penurunan bagian terbawah janin ke rongga panggul (Prawiroharjo, 2014).

 Passage

Passage terkait dengan anatomi jalan lahir. Terutama yang berperan dalam

menentukan dapat tidaknya kelahiran pervaginam adalah anatomi dari pelvic minor. Yang perlu diperhatikan dalam anatomi pelvis adalah bidang-bidang khusus yang membentuk struktur pelvik. Ukuran bidang pelvis sangat mempengaruhi dapat tidaknya kelahiran pervaginam terkait

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(34)

dengan ukuran pelvik dibanding ukuran bayi (Cunningham, 2007).

Adapun bidang yang penting dalam anatomi pelvis adalah:

 PAP (pelvic inlet) dibatasi oleh promontorium vertebra, alla sacrum, linea

terminalis, ramus horizontal os. Pubis dan simfisis pubis. Ukuran diameter bidang PAP yang tidak sesuai/lebih kecil dari normal dapat menyebabkan abnormalitas dalam presentasi janin. Adapun bidang PAP memiliki beberapa diameter yaitu konjugata vera (true conjugate) yang menghubungkan promontorium dengan bagian atas simfisis, konjugata obstetrika (obstetric konjugate) yang menghubungkan promontorium dengan bagian tengah simfisis, dan diameter transversal yang menghubungkan dua sisi linea terminalis (Cunningham, 2007).

 Midpelvic adalah ruang/bidang setinggi spina isciadika dan merupakan

bidang tersempit dari panggul. Hal ini dikarenakan adanya spina isciadika yang menonjol kerongga panggul. Adapun ukuran diameter yang penting adalah diameter AP, bispinosus dan posterior sagital.2

 Pelvic outlet merupakan bidang terbawah rongga panggul yang

dibatasi/dibentuk oleh ujung terbawah sacrum, sisi ligamentum sacrosciatic, dan ischial tuberosities (Cunningham, 2007).

Tabel 2.1 Diameter-diameter dalam bidang Pelvik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(35)

Bentuk pelvis minor ini menyerupai saluran yang mempunyai sumbu yang melengkung ke depan, disebut sumbu Carus. Sumbu ini secara klasik adalah garis yang menghubungkan garis persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera pintu atas panggul dengan titik- titik sejenis di Hodge II, III, dan IV. Sampai Hodge III sumbu ini lurus, sejajar dengan sacrum, untuk seterusnya melengkung ke depan sesuai dengan lengkungan sacrum. Panggul terbagi atas pintu atas panggul, ruang panggul, dan pintu bawah panggul (Cunningham, 2007).

Gambar 2.1 Bidang Hodge.

 Bidang Hodge I: Bidang yang dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul, yaitu bagian atas simfisis dan promontorium dan linea terminalis.

 Bidang Hodge II: Bidang sejajar Hodge I setinggi pinggir bawah simfisis.

 Bidang Hodge III: Bidang sejajar Hodge I/II setinggi spina ischiadica.

 Bidang Hodge IV: Bidang sejajar Hodge I/II/III setinggi os coccygis.

 Passenger

Passenger terkait dengan ukuran dan posisi janin menjelang kelahiran.

Adapun untuk ukuran, yang penting diperhatikan adalah ukuran kepala janin yang memang merupakan bagian tubuh terbesar janin. Adapun

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(36)

bagian dan ukuran kepala janin yang penting adalah diameter suboksipito- bregmatikus (9,5 cm), sumento-bregmatikus (9,5), oksipito-mentalis (13,5) dan oksipito-frontalis (11,5) (Prawiroharjoo, 2010).

Gambar 2.2 Anatomi os cranium.

Selain ukuran diameter kepala, anatomi janin juga digambarkan dalam 4 kategori yaitu letak, posisi, habitus, dan presentasi (Cunningham, 2007).

 Letak, menggambarkan axis janin terhadap axis ibu. Dapat longitudinal,

horizontal atau obliq. Letak normal ketika mulai memasuki PAP adalah longitudinal

 Presentasi, menggambarkan bagian janin yang menempati posisi terbawah

(pertama masuk pelvis). Dapat presentasi kepala, bokong atau melintang.

Presentasi normal adalah pesentasi kepala belakang/UUK.

 Habitus/sikap, berupa gerakan/posisi tubuh janin dan letak/posisi

ekstremitas. Normal kepala janin fleksi, tangan terlipat kedada, kaki fleksi pada lutut dan pangkal paha

 Posisi, menggambarkan bagian tertentu dalam presentasi apakah berada di dekstra atau sinistra. Normal UUK bisa berada dibagian dekstra maupun

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(37)

sinistra

Semua hal diatas, power, passage dan passenger sangat penting artinya dalam kelahiran pervaginam. Ketidaknormalan atau ketidaksesuaian salah satu komponen dapat menyebabkan gangguan dan komplikasi dalam persalinan (Cunningham, 2007).

2.3 KECEMASAN PADA KEHAMILAN

Kecemasan atau anxiety adalah suatu sinyal yang menyadarkan memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman dari perubahan dan pengalaman dari sesuatu yang baru yang belum pernah dicoba (Kaplan & Sadock, 2010).

Kehamilan adalah penyatuan ovum dan sperma saat terjadi proses fertilisasi yang selanjutnya terjadi proses implantasi embrio di dalam dinding rahim (Cunningham et al, 2013).

Wanita yang sedang hamil mungkin akan mengalami kecemasan tentang berbagai masalah dari satu trimester ke trimester berikutnya. Selama kehamilan khususnya pada kehamilan pertama atau biasanya disebut dengan primigravida.

Seorang ibu primigravida mengingat kembali tentang masa awal perkembangannya sendiri. (Kaplan & Sadock, 2011; Cunningham et al, 2013).

Saat kehamilan memasuki trimester ketiga menjelang persalinan kecemasan berhubungan dengan kelahiran bayi. Dengan lahirnya seorang bayi, maka orang tua harus dapat mempersiapkan diri dan dapat melakukan perawatan pasca kelahiran. Pada umumnya primigravida akan cenderung lebih cemas dibandingkan multigravida. Multigravida adalah wanita yang telah mengalami kehamilan lebih dari satu kali. Hal ini terjadi karena multigravida sudah memiliki pengalaman

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(38)

yang cukup tentang persalinan, sehingga sudah mengetahui tandatanda persalinan (Jeyanthi & Kavitha, 2008; Putranti, 2014).

Terdapat hubungan yang kuat antara ibu dengan kecemasan pada kehamilan trimester ketiga dan berbagai masalah perkembangan janin seperti oligohidramnion, IUGR, berkurangnya plasenta perfusi, dan persalinan premature.

Efek dari kecemasan yang tinggi dirasakan oleh wanita hamil trimester ketiga.

Wanita yang mengalami kecemasan berat dapat melahirkan bayi yang lebih kecil. ( Sabrina et al, 2015;Hosseini et al, 2009 ). Hasil penelitan Septianingrum (2016) menunjukkan bahwa terapi relaksasi otot progresif mampu mengurangi kecemasan prenatal selama kehamilan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Oktaviani dan Anggraini (2016) bahwa ada pengaruh relaksasi terhadap penurunan kecemasan pada ibu hamil yang berisiko tinggi, sehingga diharapkan tenaga kesehatan mampu memberikan terapi relaksasi secara rutin pada ibu hamil minimal dapat dilakukan dalam kegiatan posyandu. Ibu hamil berisiko tinggi yang melakukan relaksasi akan menjadi lebih rileks, ketegangan otot akibat cemas berlebihan akan menurun, sehingga respons relaksasi alamiah pada tubuh akan nampak, diantaranya pernafasan yang melambat, tekanan darah menurun, dan menimbulkan perasaan yang lebih tenang dan bahagia sehingga secara psikologis cemas ibu hamil menurun. Penelitian Marliana (2017) juga sejalan dengan penelitian tersebut bahwa relaksasi gim (guided imagery and music) dan aromaterapi lavender mampu menurunkan kecemasan ibu hamil primigravida trimester III

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(39)

2.4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN PADA IBU HAMIL

Penyebab kecemasan pada saat masa kehamilan terutama pada trimester ketiga seperti rasa cemas dan takut mati, trauma persalinan, perasaan bersalah atau berdosa dan ketakutan seperti bayinya akan lahir cacat. Perasaan cemas ibu hamil pada trimester ketiga dalam memikirkan proses melahirkan serta kondisi bayi yang akan dilahirkan tidak hanya berlangsung pada saat kehamilan pertamanya, tetapi juga pada kehamilan berikutnya. Walaupun ibu hamil telah memiliki pengalaman dalam menghadapi proses persalinan tetapi rasa cemas tetap akan selalu ada. (Febria Syafyu, 2017).

Selama kehamilan, maternal akan mengalami perubahan fisik dan psikis yang terjadi akibat hormone yang tidak stabil, yaitu hormon progesteron dan estrogen yaitu hormon kewanitaan yang ada di dalam tubuh ibu sejak terjadinya proses kehamilan. (Eka Roisa Shodiqoh, 2014).

Ketika ibu hamil mengalami kecemasan dalam menghadapi proses persalinan maka dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan oleh ibu hamil agar dapat menenangkannya. Dukungan keluarga merupakan bantuan yang dapat diberikan oleh keluarga lain berupa barang, jasa, informasi, dan nasehat yang akan membuat ibu hamil akan merasa disayangi dan dihargai. Oleh karena itu, dukungan keluarga sangat memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Bila anggota keluarga menginginkan kehamilan tersebut, dan memberikan dukungan kepada ibu hamil bahkan memperlihatkan dukungannya dalam berbagai hal maka ibu hamil akan merasa lebih tenang, percaya diri, lebih bahagia, dan ibu hamil lebih siap dalam menjalani proses kehamilan, persalinan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(40)

dan masa nifas. ( Febria Syafyu, 2017 ).

Paritas ibu pada primigravida, merupakan pengalaman pertama kali, sehingga trimester III dirasakan semakin mencemaskan karena semakin dekat dengan proses persalinan. Ibu akan cenderung merasa cemas dengan kehamilannya, merasa gelisah, dan takut menghadapi persalinan, mengingat ketidaktahuan menjadi faktor penunjang terjadinya kecemasan. Sedangkan ibu yang pernah hamil sebelumnya (multigravida), mungkin kecemasan berhubungan dengan pengalaman masa lalu yang pernah dialaminya. Menurut J. M. Seno Adjie, ahli kebidanan dan kandungan dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, untuk umur yang dianggap paling aman menjalani kehamilan dan persalinan adalah >20 dan

<35 tahun. Di rentang usia ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu memberi perlindungan, mental pun siap untuk merawat dan menjaga kehamilannya secara hati-hati. Kehamilan di umur kurang dari 20 tahun bisa menimbulkan masalah, karena kondisi fisik belum 100 % siap. Beberapa resiko yang bisa terjadi pada kehamilan di umur ini adalah kecenderungan naiknya tekanan darah dan pertumbuhan janin terhambat. Sedangkan setelah umur 35 tahun, sebagian wanita digolongkan pada kehamilan beresiko tinggi terhadap kelainan bawaan dan adanya penyulit pada waktu persalinan. Tingkat pendidikan

seseorang juga berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang datang baik dari dalam maupun dari luar. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah atau mereka yang tidak berpendidikan. Kecemasan adalah respon yang dapat dipelajari. Dengan demikian pendidikan yang rendah menjadi faktor penunjang terjadinya kecemasan. (Heriani, 2016).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(41)

Penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian Istikhomah dan Suryani (2014) bahwa pendampingan suami pada kunjungan ANC mampu menurunkan tingkat kecemasan pada ibu hamil. Hasil penelitian lain yang mendukung hasil penelitian Zamriati adalah penelitian Alibasjah, Izza, dan Susiloningsih (2016) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia ibu primigravida trimester III dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi persalinan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin muda usia ibu primigravida maka tingkat kecemasan juga semakin berat. Hal ini dapat dipengaruhi dengan belum adanya pengalaman kehamilan sebelumnya (Suryani, 2014; Alibasjah, 2016).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(42)

Kehamilan

Usia

Perubahan fisiologis Perubahan psikis

Informasi dari lingkungan Dukungan suami dan keluarga Status kesehatan

Kepribadian

Kecemasan

Respon Afektif Respon

Perilaku Respon

Kognitif Respon

Psikologi

2.5 KERANGKA TEORI

Primigravida Multigravida

Gambar 2.3 Kerangka teori penelitian.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(43)

2.6 KERANGKA KONSEP

Gambar 2.4 Kerangka konsep penelitian.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(44)

31 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 JENIS PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross- sectional, yaitu dengan mengambil sampel ibu hamil trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan.

3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Poli Obgyn RSUD Sibuhan dilakukan pada bulan Desember 2020 sampai dengan selesai.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

3.3.1 POPULASI

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil primigravida dan multigravida pada trimester tiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan 3.3.2 SAMPEL

Sampel pada penelitian ini adalah ibu hamil primigravida dan multigravida pada trimester tiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria Inklusi

a. Ibu hamil dengan kehamilan primigravida dan multigravida dengan usia kehamilan minimal 27 minggu di Poli Obgyn RSUD Sibuhan.

b. Bersedia menjadi responden dengan menandatangani lembar inform

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(45)

consent.

Kriteria Eksklusi

a. Ibu hamil memiliki riwayat gangguan kesehatan dan penyakit kronik sebelum dan selama kehamilan

3.3.3 BESAR SAMPEL

Sampel pada penelitian ini merupakan ibu hamil primigravida dan multigravida pada trimester tiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan yang meliputi kriteria. Teknik pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling, yaitu mengambil setiap sampel yang memenuhi kriteria penelitian

dan sampel ada saat dilakukan penelitian.

n= N

2

1 + N (e) Keterangan :

n = besarnya sampel

N = besarnya populasi (213 orang)

e = tingkat batas toleransi kesalahan (margin of error 10 %) Dengan hasil perhitungan sebagai

berikut:

n = 213

2

1 + 213 (0,1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(46)

= 68 orang

Jadi, sampel minimal yang digunakan dalam penelitian ini adalah 68 pasien

3.4 METODE PENGUMPULAN DATA

Data diperoleh dan dikumpulkan dari rekam medis sesuai dengan data IPSS. Kemudian diolah menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) dan kemudian di distribusikan secara deskriptif menggunakan tabel distribusi frekuensi dan dilakukan pembahasan data yang diperoleh.

3.5 INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner yang terdiri atas dua bagian. Bagian petama merupakan data karakreristik responden (ibu hamil pimigravida dan multigravida trimester ketiga) yang terdiri dari:

nama/inisial, usia, status pendidikan, status pekerjaan, status ekonomi, dan status lingkungan rumah tinggal.

Bagian kedua adalah kuisioner HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety) terdiri dari 14 pertanyaan yang merupakan kelompok gejala kecemasan.

Masing-masing kelompok gejala diatas diberi penilaian angka antara 0-4, yang dirincikan sebagai berikut: 0= tidak ada gejala sama sekali; 1= gejala ringan, apabila terdapat 1 dari semua gejala yang ada; 2= gejala sedang jika terdapat separuh dari gejala yang ada; 3= gejala berat jika terdapat lebih dari separuh dari gejala yang ada; dan 4= gejala berat sekali jika terdapat semua gejala yang ada.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(47)

Masing-masing nilai dari 14 kelompok gejala dijumlahkan dan dinilai derajat kecemasannya, yaitu: < 14: tidak ada kecemasan; 14-20: kecemasan ringan; 21-27: kecemasan sedang; 28-41: kecemasan berat; dan 42-56:

kecemasan berat sekali. Pertanyaan dari kuisioner HRS-A memiliki tingkat validitas 0,93 dan tingkat reabilitas 0,97.

3.6 DEFINISI OPERASIONAL

Tabel 3.1. Definisi operasional.

Defenisi Operasional

Cara

Ukur Alat Ukur Hasil Ukur

Skala Ukur

Usia Lama waktu Observasi Rekam <20 Interval

hidup atau ada Medis 21-30

(sejak dilahirkan >30

atau diadakan)

Kecemasan Perasaan takut Observasi Menggunaka 1. < 14 : Ordinal

dan tidak n kuesioner Tidak

nyaman yang HRS-A yang Ada

tidak jelas terdiri dari kecemasan

Penyebabnya 14 item, 2. 14 – 20 :

yang dialami dengan skala Kecemasan

oleh ibu hamil masing Ringan

Primigravida masing item 3. 21 – 27 : dan multigravida 0-4, dengan Kecemasan

Trimester total skor Sedang

ketiga.batasbatas keseluruhan 4. 28 – 41 :

normal, 0-56 kecemasan

yang diukur Berat

Berdasarkan 5. 42 – 56 :

skala HARS Kecemasan

sangat berat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(48)

3.7 METODE PENGOLAHAN DATA

Pengolahan data dilakukan secara manual. Langkah-langkah pengelolaan data pada umumnya melalui langkah-langkah sebagai berikut :

a. Pemeriksaan Data (editing), adalah memeriksa rekam medis pada lembar yang diserahkan oleh para pengumpul data.

b. Data Kode (coding), adalah pada tahap pengolahan ini peneliti mengklasifikasikan isi rekam medis

c. Memasukkan Data (entry data), adalah data yang sudah diberikan kode kategori kemudian dimasukkan dalam tabel dengan cara menghitung frekuensi data. Memasukkan data dengan cara menggunakan Statistic Program for Social Science (SPSS).

e. Tabulasi (Tabulating)

Tabulating merupakan proses pengolahan data yang bertujuan untuk membuat tabel-tabel yang dapat memberikan gambaran statistik sehingga dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai kategori.

3.8 METODE ANALISIS DATA

Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis univariat yakni untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dan presentasi dari data-data yang sudah diolah, disajikan dalam bentuk tabel.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(49)

36 BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Poli Obgyn RSUD Sibuhan Penelitian dilakukan kepada Ibu hamil yang berjumlah 68 orang. Penelitian dilakukan melalui kuisioner yang dibagikan kepada ibu hamil yang control kehamilan di Poli Obgyn RSUD Sibuhan. Penelitian telah dilakukan pada bulan November 2020.

Berikut hasil penelitian mengenai perbedaan tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida pada kehamilan trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan akan dijelaskan sebagai berikut :

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Ibu Hamil

Usia Frekuensi Persentase

< 20 tahun 4 5.9

20-30 tahun 58 85.3

>30 tahun 6 8.8

Total 68 100

Berdasarkan tabel 4.1 menyatakan bahwa paling banyak responden berusia 20- 30 tahun tahun sebanyak 58 orang (85%), > 30 tahun sebanyak 6 orang (8%), dan usia < 20 tahun sebanyak 4 orang (6%).

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu Hamil

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

SMP 10 14.7

SMA 43 63.2

S1 15 22.1

Total 68 100

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(50)

Berdasarkan tabel 4.2 menyatakan bahwa paling banyak responden adalah berpendidikan SMA sebanyak 43 orang (63%), SMP sebanyak 10 orang (14%), dan S1 sebanyak 15 orang (22%).

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu Hamil

Pekerjaan Frekuensi Persentase

IRT 23 33.8

Wiraswasta 12 17.6

Petani 25 36.8

PNS 8 11.8

Total 68 100

Berdasarkan tabel 4.3 menyatakan bahwa paling banyak responden bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 23 orang (33%), petani sebanyak 25 orang (36%), wiraswasta sebanyak 12 orang (17%) dan PNS sebanyak 8 orang (11%).

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Gravida Ibu Hamil

Status Gravida Frekuensi Persentase

Primigravida 33 48.5

Multigravida 35 51.5

Total 68 100

Berdasarkan tabel 4.4 menyatakan bahwa paling banyak responden dengan status multigravida sebanyak 35 orang (51%) dan primigravida sebanyak 33 orang (48%).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(51)

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil di Poli Obgyn RSUD Sibuhan

Kecemasan Frekuensi Persentase

Ringan 29 42.6

Sedang 25 36.8

Berat 14 20.6

Total 68 100

Tabel 4.6 Tingkat Kecemasan antara Primigravida dengan Multigravida pada Kehamilan Trimester Ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan

Tingkat Kecemasan

Ringan Sedang Berat Total Nilai p Status Gravida n % N % N % n % 0,034 Primigravida 17 25 7 10.3 9 13.2 33 48.5

Multigravida 12 17.6 18 26.5 5 7.4 35 51.5 Total 29 42.6 25 36.8 14 20.6 68 100.0

Berdasarkan tabel 4.6 menyatakan bahwa dari 33 orang ibu hamil dengan status primigravida sebanyak 17 orang (25%) memiliki tingkat kecemasan ringan, 7 orang (20%) dengan tingkat kecemasan sedang, sebanyak 9 orang (13%).

Sedangkan pada 35 orang ibu hamil dengan status multigravida sebanyak 12 orang (42%) dengan tingkat kecemasan ringan, 18 orang (26%) dengan tingkat kecemasan sedang, dan sebanyak 5 orang (7%) dengan tingkat kecemasan berat (20%). Berdasarkan hasil analisis uji chi square dijumpai niai p= 0,034 yang artinya menyatakan bahwa

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(52)

terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida pada kehamilan trimester ketiga di Poli Obgyn RSUD Sibuhan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida pada kehamilan trimester ketiga. Berdasarkan usia paling banyak berusia 20-35 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Shodiqoh (2014) yang menyatakan bahwa sebagian besar responden pada kelompok usia 20-35 tahun (Shodiqoh, 2014).

Pada kisaran usia 20–35 tahun diharapkan para ibu telah siap secara psikologi dalam menghadapi proses persalinan. Menurut hasil penelitian Laili (2010), bahwa tidak adanya pengaruh yang signifikan antara usia dengan tingkat kecemasan pada ibu primigravida trimester III, dapat dilihat diatas bahwa usia 20–

35 tahun dan >35 tahun mengalami frekuensi tingkat kecemasan yang sama.

Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Kartono (2007), bahwa kehamilan diusia mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat–zat gizi selama kehamilannya. Penyulit kehamilan yang lebih tinggi adalah pada usia <20 tahun, hal tersebut disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk hamil sehingga akan merugikan kesehatan ibu maupun kesehatan janin. Keadaan tersebut akan lebih menyulitkan bila ditambah dengan tekanan/stres psikologis, sosial, dan ekonomi sehingga memudahkan keguguran, persalinan prematur, kelainan bawaan, mudah terjadi infeksi, anemia kehamilan, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Kartono, 2007).

Berdasarkan pendidikan paling banyak responden berpendidikan SMA. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Laili (2010), bahwa tidak ada hubungan yang

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(53)

bermakna antara tingkat pendidikan dengan tingkat kecemasan menjelang persalinan pada ibu hamil primigravida trimester III. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2010), bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi seseorang, semakin tinggi tingkat pendidikan individu maka semakin tinggi juga tingkat pengetahuan yang didapat sehingga lebih mudah untuk menerima informasi terutama dalam hal yang berhubungan dengan kesehatan dan hal ini akan berpengaruh pada perilaku individu tersebut. Ibu hamil trimester ketiga yang berpendidikan rendah atau tinggi mempunyai peluang yang sama untuk terjadi kecemasan dalam menghadapi persalinan, karena kecemasan yang terjadi tidak hanya tergantung pada pendidikan yang dimiliki tetapi juga tergantung dari pengetahuan, hubungan interpersonal, serta keluarga (Notoatmodjo, 2010).

Berdasarkan pekerjaan paling banyak responden bekerja sebagai ibu rumah tangga. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakuakn oleh Shodiqoh (2014) bahwa sebagian besar responden bekerja sebagai ibu rumah tangga mengalami tingkat kecemasan ringan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Windi (2008), bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi persalinan pada ibu hamil trimester III. Hal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2010), bahwa bekerja umumnya adalah kegiatan yang menyita waktu sehingga ibu hamil yang bekerja mengalami kecemasan lebih ringan dibandingkan ibu yang tidak bekerja dikarenakan pekerjaan dapat mengalihkan perasaan cemas ibu (Windi, 2008;

Notoatmodjo, 2010).

Hasil penelitian menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan antara primigravida dengan multigravida pada kehamilan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar

Tabel 2.1 Diameter-diameter dalam bidang Pelvik.
Gambar 2.1 Bidang Hodge.
Gambar 2.2 Anatomi os cranium.
Gambar 2.3 Kerangka teori penelitian.
+3

Referensi

Dokumen terkait

Mengetahui tingkat kecemasan menghadapi persalinan pada suami dari

Dalam skripsi ini penulis meneliti tentang “Hubungan Peran Suami Dengan Tingkat Kecemasan Ibu Primigravida Trimester III Dalam Menghadapi Persalinan Di UPTD

Dalam skripsi ini penulis meneliti tentang “Hubungan Peran Suami Dengan Tingkat Kecemasan Ibu Primigravida Trimester III Dalam Menghadapi Persalinan Di UPTD

Meskipun hasil yang diperoleh dalam penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu, namun masih terdapat kelemahan, antara lain peneliti tidak mengetahui

Berbeda dengan ibu yang hamil untuk kedua kali dan seterusnya, yang mana ibu ini telah memiliki pengalaman sebelumnya tentang persalinan.Tapi ada juga ibu multigravida

Setelah mendapat penjelasan dari penelitian tentang penelitian “ Hubungan Karakteristik Dengan Tingkat Kecemasan Ibu Primigravida Pada Trimester III dalam menghadapi

Hasil analisis dengan korelasi didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu hamil primigravida dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi

Hasil Penelitian Setelah melakukan penelitian Hubungan Komunikasi Terapeutik Dengan Tingkat Kecemasan Ibu Primigravida Dalam Menghadapi Persalinan Di Bidan Hj.Sholiha Bantar Gebang