• Tidak ada hasil yang ditemukan

Disusun dan diusulkan oleh RIZKA FAJRIAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Disusun dan diusulkan oleh RIZKA FAJRIAH"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

STRATEGI KOMUNIKASI KEPALA SEKOLAH DAN GURUDALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN ONLINE DI MASA

PANDEMI COVID-19

(studi kasus SD Inpres Sambung Jawa 1)

Disusun dan diusulkan oleh

RIZKA FAJRIAH 105650005115

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKSSAR

2022

(2)

i

STRATEGI KOMUNIKASI KEPALA SEKOLAH DAN GURU DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN ONLINE DI MASA

PANDEMI COVID-19

(Studi Kasus SD Inpres Sambung Jawa 1)

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi Dan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom)

Di susun dan di ajukan oleh:

RIZKA FAJRIAH

Nomor Stambuk: 105650005115

KEPADA

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2022

(3)
(4)
(5)
(6)

v

Penerapan Pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19 (studi kasus SD Inpres Sambung Jawa 1)

(dibimbing oleh Dr. Hj. Ihyani Malik dan Indah Pratiwi M)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Strategi Kepala sekolah dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19 (studi kasus SD Inpres Sambung Jawa 1, serta hambatan-hambatan penetapan strategi komunikasi Kepala Sekolah dan Guru di SD Inpres Sambung Jawa 1. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif.

Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan Strategi Komunikasi Studi Kasus Pada SD Inpres Sambung Jawa 1 Dalam Penerapan Pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19 yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Guruadalah dengan 1.

Mengenal khalayak, 2. menyusun pesan 3. Penetapan metode dengan bahasa verbal maupun nonverbal

Adapun hambatan-hambatan penerapan Strategi Komunikasi Kepala Sekolah dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19 adalah hambatan yang terjadi terhadap para peserta komunikasi baik itu komunikator maupun komunikan,Hambatan kultural atau budaya hambatan yang terjadi karena adanya perbedayaan budaya salah satu contohnya adalah perbedaan bahasa, Hambatan Fisik hambatan yang yang berhubungan dengan fisik seseorang.

Keyword : Strategi komunikasi, Pembelajaran Penerapan pembelajaran

(7)

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas ridho dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Strategi Kepala Sekolah Dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19 (Studi Kasus SD Inpres Sambung Jawa 1)”

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (S1) Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis sangat menyadari bahwa banyak pihak yang telah berkontribusi. Karena itu penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sedalam – dalamnya kepada kedua orang tua saya Ayah Jayadi dan Ibu Rostini Rasjid atas segala kasih sayang, cinta pengorbanan serta do’a yang tulus dan ikhlas yang senantiasa beliau panjatkan kepada Allah SWT sehingga menjadi pelita terang dan semangat yang luar biasa bagi penulis dalam menggapai cita – cita, serta seluruh keluarga besar penulis yang selalu memberi semangat dan dukungan disertai segala pengorbanan yang tulus dan ikhlas.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini, tentu tak lepas dari arahan dan bimbingan serta dukungan secara moral maupun material dari berbagai pihak, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat, Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si selaku pembimbing I dan Ibu Indah Pratiwi M, S.Sos., MA selaku Pembimbing II yang telah berkenan meluangkan waktu dan tenaganya

(8)

vii terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Dr. Muhammad Tahir, M.Si selaku Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Makassar

3. Ibu Dr. Ihyani Malik, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Dr. Muh. Tahir, M.Si selaku Ketua Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Dian Muhtadiah Hamna, S.IP., M.I.Kom Selaku Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi yang selama ini turut membantu dalam kelengkapan berkas hal – hal yang berhubungan dengan administrasi perkuliahan dan kegiatan akademik.

6. Bapak dan Ibu Dosen Ilmu Komunikasi yang telah menyumbangkan ilmunya kepada penulis selama mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan.

7. Seluruh Staf Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah banyak membantu penulis pada masa perkuliahan.

8. Pihak SD Inpres Sambung Jawa 1 yang telah memberi izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

(9)

9. Semua keluarga yang selalu memberikan do’a, dukungan dan semangat dalam penyusunan skripsi ini terutama Saudara-Saudara saya : Idha Ayu Kusumawardhani, Muhammad Raihan dan Siti Nur Harisha yang selalu memberikan support kepada penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

10. Kepada seluruh Keluarga besar Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar, terutama kepada satu angkatan 2015 Ilmu Komunikasi terkhusus kelas IK 02.

11. Terimah Kasih kepada teman-teman saya : Febriyanti, Sri Nur Hardiyanti, Riskawati, Hartina, Didi dan Sheyla. yang selalu menemani hingga selesai dan sudah banyak membantu penulis.

12. Kakak-kakak purna pramuka yang selalu memberikan semangat dan dukungan kepada penulis.

13. Semua pihak dengan tidak mengurangi rasa hormat tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah memberikan arahan dan dukungan serta semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

14. Terimakasih untuk semua hal-hal menyenangkan serta positif yang dapat memberikan semangat dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan Skripsi ini

15. And last but not least, i wanna thank me, for believing in me, for doing all this hard work, for having no days off, for never quitting, for just being me at all

(10)

ix

membangun, demi kesempurnaan tugas – tugas selanjutnya. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Atas segala perhatiannya, kami ucapkan terimakasih.

Billahi fii sabilil haq, fastabiqul khaerat.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Makassar , 21 April 2022

Rizka Fajriah

(11)

DAFTAR ISI

Halaman Sampul/ Judul ... i

Halaman Persetujuan ... ii

Halaman Penerimaan Tim ... iii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv

Abstrak ... v

Kata Pengantar ... vi

Daftar Isi... x

Daftar Tabel ... xii

Daftar Gambar ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 11

C. Tujuan Penelitian ... 12

D. Manfaat Penilitian ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

A. PenelitianTerdahulu ... 13

B. Pengertian dan KonsepTeori ... 14

1. KonsepStrategiKomunikasi... 14

2. Unsur-UnsurdalamStrategiKomunikasi ... 19

3. TujuandariStrategiKomunikasi ... 21

4. Langkah-Langkah StrategiKomunikasi ... 24

5. Hambatan-Hambatan Komunikasi dan cara Mengatasinya ... 30

C. KerangkaPikir ... 35

D. Fokus Penelitian ... 36

E. DeskripsiFokusPenelitian ... 37

(12)

xi

B. Tipe dan Jenis Penelitian ... 39

C. Sumber Data... 40

D. Informan Penelitian ... 41

E. Teknik Pengumpulan Data ... 42

F. Dokumentasi ... 42

G. Teknik Analisis Data... 43

H. Keabsahan Data ... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 46

B. Strategi Komunikasi Organisasi Dinas Pendidikan Kota Makassar Dalam Penerapan pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19 ... 50

C. Hambatan Dalam Pelaksanaan Strategi Komunikasi Terkait Organisasi Penerapan Pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19 ... 61

BAB V PENUTUP ... 72

A. Kesimpulan ... 72

B. Saran ... 73 DAFTAR PUSTAKA

(13)

Daftar Tabel

Tabel 2.1 : Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu... 13

Tabel 3.1 : Informan Penelitian... 41

(14)

xii

Gambar 4.1 : Struktur Organisasi SD Inpres Sambung Jawa 1...49

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Virus Covid-19 atau yang awalnya dikenal sebagai 2019 novel coronavirus(2019-nCoV). Kemudian WHO mengumunkan nama baru pada tanggal 11 Februari 2020 yaitu menjadiCoronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang disebabkan oleh virus SevereAcuteRespiratorySyndrome Coronavirus2 (SARS-CoV-2).

Kasus Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok lalu mulai menyebar ke hampir seluruh dunia. Penyebaran Covid-19 ini sangat cepat dan tidak ada yang mempu memprediksi kapan berakhirnya pandemi Covid-19 ini.

Kasus Covid-19 menimbulkan kekhawatiran dari berbagai macam kalangan, khususnya masyarakat luas. Kekhawatiran ini semakin sangat terasa dengan melonjaknya kasus Covid-19 yang cukup cepat proses penularannya, dan juga melihat dari kurangnya kesiapan beberapa elemen yang cukup vital dalam

“memerangi” virus corona. Melihat dari sangat tingginya tingkat penyebarannya yang cukup mengharuskan pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis.

Dengan menetapkan kebijakan-kebijakan antisipatif guna untuk mengatasi dampak dari penyebaran Covid-19.

Berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh pemerintah indonesia untuk mengatasi, mengurangi atau meminimalisir jumlah tingkat penyebaran virus corona yaitu dengan cara memberlakukan sosial distancing, physical distancing, hingga pemberlakuan Pembatasan Social Berskala Besar (PSBB) termasuk proses

(16)

belajar dan bekerja harus dilakukan dirumah serta masyarakat diminta agar dapat menunda kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Di Kota Makassar sendiri sejak juli 2020 Pemerintah Kota Makassar telah mengeluarkan Perwali (Peraturan Walikota) tentang percepatan dalam proses pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Kota Makassar, yaitu Peraturan Walikota Makassar Nomor 36 Tahun 2020 Tentang Percepatan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Di Kota Makassar.Dimana Perwali ini hadir dengan harapan agar mampu untuk melakukan pengendalian atas penyebaran Virus Covid-19 yang ada di Kota Makassar. Dimana pada Perwali tersebut menjelaskan bahwa setiap orang yang akan masuk ataupun keluarMakassar wajib melengkapi diri dengan surat keterangan bebas Covid-19 dari Gugus Tugas dan atau Rumah Sakit, Puskesmas dari daerah asal yang berlaku selama 14 hari sejak tanggal awal diterbitkan.

Sejak terjadinya kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia sampai saat ini seluruh elemen telah melakukan berbagai upaya agar dapat meminimalisir penyebaran virus ini sehingga di terbitkannya beberapa peraturan seperti PP 21/2020 Tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar, Keppres 11/2020 Tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan masyarakat, pembatasan aktifitas masyarakat di luar rumah, anjuran penerapan protokol kesehatan dan upaya melakukan vaksinasi. Di Kota Makassarberdasarkan data sementara yang diambil dari Website resmi Pemerintah Kota Makassar terkait Covid-19 menjelaskan bahwa ada beberapa Kecamatan yang memiliki tingkat terkonfirmasi virus Covid-19 yang tinggi salah satunya yaitu di kecamatan Rappocini. Berdasarkan data

(17)

3

terakhir yang didapatkan kecamatan Rappocini yang terkonfirmasi terpapar virus covid-19 sebanyak 4,120 orang dan 1,327 lainnya terkonfirmasi suspek virus corona. Dengan semakin maraknya jumlah kasus dimakassar maka pemerintah mewajibkan agar masyarakat wajib untuk melakukan tes Covid-19. Pemerintah Kota Makassar juga memberlakukan aturan pembatasan terhadap aktivitas masyarakat di Kota Makassar termasuk berkumpul di tempat umum seperti pasar, pusat perbelanjaan, perkantoran, termasuk rumah makan. Dimana dengan pemberlakuan aturan tersebut tentu sangat memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat dan pengusaha yang ada di Kota Makassar sebagai salah satu kota yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pemerintah juga telah mengeluarkan berbagai Kebijakan-kebijakan guna untuk mengatasi dan membatasi penyebaran Covid-19 yang memberikan dampak besar pada berbagai bidang diseluruh dunia khususnya pada bidang pendidikan di Indonesia.

Salah satu dampak besar yang diakibatkan dari Covid-19 yaitu pada bidang pendidikan. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa pendidikan menjadi salah satu faktor yang sangat terkena dampak dari penyebaran virus corona di dunia. Menurut data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), setidaknya 290,5 juta peserta didik di seluruh dunia yang aktivitas belajarnya menjadi terganggu akibat sekolah yang harus ditutup untuk sementara.

Wabah Covid-19 mendesak pengujian pendidikan jarak jauh yang hampir belum pernah dilakukan secara serempak sebelumnya (Sun et al., 2020), bagi

(18)

semua elemen pendidikan yakni peserta didik, guru hingga orang tua.

Mengingat pada masa pandemik,waktu, lokasi dan jarak menjadi permasalahan besar saat ini. Sehingga pembelajaran jarak jauh menjadi solusi guna untuk mengatasi kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran secara tatap muka.

Hal ini merupakan tantangan bagi semua elemen dan jenjang pendidikan untuk mempertahankan kelas agar tetap aktif meskipun sekolah telah ditutup untuk sementara waktu akibat wabah Covid 19.

Krisis kesehatan yang diakibatkan dari wabah Covid-19 telah mejadi awal dalam penerapan pembelajaran online secara serempak. Pembelajaran online telah terjadi hampir diseluruh dunia selama pandemi Covid-19 mengharuskan bidang pendidikan untuk mempertahankan pembelajaran secara online atau daring (dalam jaringan). Kondisi saat ini mendesak untuk melakukan inovasi dan adaptasi terkait pemanfaatan teknologi yang tersedia untuk mendukung proses pembelajaran. Dimana pendidik maupun peserta didik diharuskan untuk berinteraksi dan melakukan transfer pengetahuan secara online.

Pembelajaran online dapat memanfaatkan berbagai platform berupa aplikasi, website, jejaring social maupun learning management system. Di kota Makassar sendiri pembelajaran menggunakan metode belajar secara online atau sistem daring (dalam jaringan) telah diberlakukan baik di daerah maupun pusat,melalui kebijakan yang telah diberikan oleh dinas pendidikan kota Makassar kepada seluruh pihak sekolah ataupun guru yang bersangkutan. Sejumlah sekolah telah mengumumkan untuk memberlakukan proses belajar mengajar menggunakan sistem online atau daring (dalam jaringan) hal ini guna untuk

(19)

5

meredam, meminimalisir dan memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 di kota Makassar.

Pihak Sekolah telah berupaya keras untuk memberikan pemahaman kepada orang tua murid dan siswa/siswi tentang bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan selama kegiatan belajar online diterapkan dirumah. Dengan memberikan pemahaman diharapkan agar seluruh kegiatan belajar-mengajar selama masa pandemi ini dapat berjalan secara efektif dan efisien, sehingga siswa- siswi terutama di tingkat Sekolah Dasar mampu memahami materi yang diberikan oleh guru meskipun hanya melalui perantara gadget saja bukan dengan tatap muka secara langsung seperti dulu.

Selain itu, dengan mewabahnya virus Covid-19 maka menjadi tantangan besar bag elemen pendidikan di kota Makassar untuk mengatasi efek dari penyebaran virus corona dibidang pendidikan khususnya di tingkat Sekolah Dasar. Salah satu Sekolah Dasar yang menerapkan pembelajaran daring (dalam jaringan) dikota makassar adalah SD Inpres Sambung Jawa 1, hal ini dilakukan sebagai pengganti pertemuan tatap muka dimasa pandemi Covid-19, agar siswa- siswi masih bisa menerima materi pembelajaran meskipun tanpa kesekolah seperti biasanya meskipun dengan model pembelajaran daring (dalam jaringan) yang merupakan sistem tanpa tatap muka yang dilakukan melalui Online dan menggunakan jaringan internet. Dimana guru dituntut dan diharuskan untuk bisa mendesain atau menciptakan media pembelajaran sebagai suatu inovasi dengan dengan memanfaatkan media daring (dalam jaringan/online).

(20)

Hal ini sesuai dengan anjuran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait surat edaran nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona virus disease 2019 (Covid-19). Dimana sistem pembelajaran dilakukan dengan teknologi yang ada di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini, contohnya yaitu menggunakan PC (personal computer), laptop, gadget/smartphone yang dapat terhubung dengan koneksi jaringan internet. Agar guru/tenaga pendidik dapat melakukan pembelajaran diwaktu yang sama dengan memanfaatkan grup di media sosial seperti WhatssApp (WA), telegram, zoom, google meet atau menggunakan media lainnya yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Dengan demikian guru dapat memastikan siswa-siswinya dapat mengikuti pembelajaran dengan waktu yang bersamaan meski sedang berada di tempat yang berbeda.

Namun selama proses daring yang akan atau sedang berlangsung tentu tidak selamanya berjalan dengan mulus ada beberapa kendala yang jika dilihat dari keadaan sekitar dimana masih ada beberapa siswa dan orang tua murid yang tidak memiliki smartphone/gadget untuk menunjang kegiatan pembelajaran daring (dalam jaringan/online). Hal ini cukup membuat mereka merasa kebingungan, sehingga membuat pihak sekolah ikut mencari solusi agar dapat mengantisipasi hal tersebut. Beberapa siswa yang tidak memiliki smartphone/gadget diminta untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara berkelompok dengan teman yang memiliki smartphone/gadget, sehingga mereka dapat melakukan aktivitas

(21)

7

pembelajaran secara bersama-sama. Proses pembelajaran tersebut dilakukan melalui videocall yang terhubung dengan guru. setelah pembelajaran selesai makaproses absensi siwa dilakukan menggunakan VN (Voice note) yang tersedia di fitur whatssApp dan juga pemberian tugas diberikan dalam bentuk video dengan durasi kurang dari 2 menit.

Permasalahan berikutnya terjadi bukan hanya pada sistem media pembelajaran akan tetapi ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya yang cukup tinggi harganya bagi siswa, orang tua siswa dan guru guna untuk memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak, dan banyak diantara orangtua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran/pengeluaran dalam menyediakan jaringan internet.Hal ini pun menjadi permasalahan yang sangat penting bagi siswa, jam berapa mereka harus belajar dan bagaimana data (kuota) yang mereka miliki, sedangkan beberapa dari orang tua mereka berpenghasilan rendah atau dari kalangan menengah kebawah (kurang mampu). Hingga akhirnya hal seperti ini dibebankan kepada orangtua siswa yang ingin anaknya tetap mengikuti pembelajaran daring.

Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari jaringan internet. Koneksi jaringan internet menjadi salah satu kendala yang dihadapi siswa yang tempat tinggalnya sulit untuk mengakses internet, apalagi siswa tersebut tempat tinggalnya di daerah pedesaan, terpencil dan tertinggal. Selain itu Perlu disadari bahwa ketidaksiapan guru dan siswa terhadap pembelajaran daring juga menjadi masalah. Perpindahan sistem belajar konvensional ke sistem daring amat mendadak, tanpa melakukan persiapan yang matang. Tetapi harus tetap

(22)

dilaksanakan agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan siswa-siswi aktif mengikuti walaupun dalam kondisi pandemi Covid-19.Pengalihan pembelajaran berbasis daring tentu membuat semua orang terasa tersentak, dan berusaha fokus pada pembelajaran berbasis daring. Secara umum, elemen yang paling berkaitan erat dengan pembelajaran berbasis daring ini adalah guru dan siswa. Pada konteks tertentu, pada siswa kelas Sekolah Dasar, yang masih memerlukan peran pendamping dalam pembelajaran daring yaitu orang tua atau orang sekelilingnya yang bertanggung jawab dalam membantu proses pembelajaran daring bagi anaknya.

Komunikasi pembelajaran sejak pertengahan Maret 2020 mengalami revolusi, ruang kelas yang biasanya dipenuhi siswa berubah menjadi ruang-ruang kosong tanpa penghuni.guru tidak lagi datang ke sekolah untuk menyampaikan materinya. Guru cukup berada di rumah atau tempat lain yang memungkinkan untuk memberikan materi ajar kepada siswa.

Selain jaringan internet, yang perlu kesiapan adalah aspek sumber daya manusia, yaitu guru dan siswa. Sudahkah semua guru dan siswa tidak mengalami

“gagap teknologi”. Penguasaan teknologi aplikasi pembelajaran menjadi elemen yang mempengaruhi proses pembelajaran daring. Para guru harus menyiapkan materi berbasis daring, dan siswa harus siap memahami materi melalui pembelajaran daring. Sebuah perubahan cepat yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran.

(23)

9

Perubahan proses pembelajaran ini tentu berdampak pada banyak hal, mulai dari berkurangnya intensitas interaksi antar siswa, sampai pada tingkat kejenuhan dalam pembelajaran model daring dan pembelajaran tatap muka dalam setting new normal. Pembelajaran via daring dianggap masih kurang efektif dan berbeda dengan komunikasi tatap muka (langsung) setidaknya dari pihak sekolah, siswa dan orang tua murid berupaya keras agar siklus perpindahan pembelajaran dari normal ke daring dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan walaupun hanya menggunakan media elektronik sebagai perantara komunikasi yang dilakukan selama masa pandemi Covid-19.

Hal ini juga perlu untuk ditindak lanjuti karena pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia sebagaimanatelah dijelaskan pada Q.S Al-Alaq 1-5 :

“bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, Dia telah mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al’Alaq 1-5).

(24)

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencari ilmu, baik yang terdapat didalam Al-Qur’an ataupun ilmu yang terdapat di alam semesta. Allah juga memerintahkan kita untuk mengenal asal-usul dari diciptakannya manusia di dunia ini. Dan Allah juga memerintahkan manusiauntuk mencatat ilmu menggunakan pena dan berbagi ilmu pengetahuan baru kepada manusia lainnya. Sesungguhnya Allah menjadikan manusia ke dunia dalam keadaan yang tidak mengerti apa-apa namun secara perlahan manusia mampu mempelajarinya melalui kemampuan mereka untuk melihat dan mendengarkan.

Alasan mengapa penulis mengangkat judul tersebut yaitu dikarenakan proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar (SD) sangat berbeda jauh dengan tingkatan lainnya. Jika ditingkat SMP, SMA, maupun ditingkat perguruan tinggi mereka cenderung memiliki pola pikir yang sudah cukup matang untuk menerima pembelajaran tanpa melakukan tatap muka sedangkan mereka yang masih berada ditingkatan Sekolah Dasar cenderung memiliki karakteristik atau sifat yang bervariasi sehingga masih sangat memerlukan perhatian khusus dari para guru disetiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Selain itu, pada jenjang sekolah dasar konsep-konsep awal pembelajaran dimulai sehingga siswa-siswi harus memahami materi yang diberikan sepenuhnya bukan hanya soal mengumpulkan tugas saja namun harus dilandaskan oleh hal-hal yang bermanfaat dan berkaitan dengan interaksi antar siswa lainnya ataupun lingkungan sekitar sehingga mereka

mampu menerima pelajaran yang diberikan.

(25)

11

Pada penelitian terdahulu membahas tentang strategi komunikasi yangdigunakan guru untuk belajar mengajar online dilakukan secara maksimal dan efektif untuk disampaikan kepada siswa, sebelum menyampaikan ilmu pengetahuan, guru mempersiapkan dengan matang materi dengan menggunakan power point sebagai aplikator materi yang disampaikan kepada siswanya agar dapat mudah dipahami (Safitri & Retnasary 2020). Selain itu pada penelitian terdahulu berikutnya menjelaskan tentang aktifitas Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19terfokus pada kondisi psikologi dan perilaku pengajar dan peserta didik saat melakukakan interaksi/pembelajaran jarak jauh (Rosali 2020)

Berdasarkan uraian latar belakang ini maka penulis tertarik untuk mengangkat judul skripsi yaitu “ Strategi Komunikasi Kepala Sekolah Dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19 (studi kasus SD Inpres Sambung Jawa 1)”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dirumuskan masalah pokok penelitian ini yaitu :

1. Bagaimana Strategi Komunikasi Kepala Sekolah Dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19?

2. Apa saja hambatan dalam pelaksanaan Strategi Komunikasi terkait Penerapan Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19?

(26)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui Strategi Komunikasi Kepala Sekolah dan GuruDalam Penerapan Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19.

2. Untuk mengetahui pelaksanaan Strategi Komunikasi Kepala Sekolah dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu : 1. Manfaat Teoritis

Diharapkan dengan penelitian ini dapat menjadi bahan informasi kepada pembaca dan dapat dijadikan referensi bagi peneliti yang lain.

2. Manfaat Praktis

Sebagai tambahan pengetahuan mengenai Strategi Komunikasi dalam mengatasi efek corona dalam pembelajaran Online Tingkat Sekolah Dasar khususnya manfaat bagi SD Inpres Sambung Jawa 1

(27)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Penelitian terdahulu

Penelitian terdahulu terkait dengan penelitian yang ingin di teliti, setelah itu penulis membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah ada ataupun belum ada (Skripsi,tesis, dll) melalui langkah ini, maka dapat di lihat sejauh mana ke aslian serta posisi penelitian yang ingin di lakukan. Penelitian terdahulu sendiri mempunyai relasi/hubungan yang berkaitan dengan penelitian yang di ambil antar lain :

Tabel 2.1 Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu

Nama peneliti dan jurnal skripsi

Penelitian terdahulu

Perbedaan penelitian

Persamaan penelitian 1 Safitri & Retnasary

(2020) Strategi Komunikasi Guru SMA Alfa Centauri Bandung Masa Pembelajaran Online di Situasi Pandemi COVID-19

Fokus Penelitian ini terdapat pada strategi

komunikasi guru di masa

pembelajaran online dalam situasi pandemi COVID-19

Fokus Penelitian Terfokus pada Komunikasi pembelajaran yang dilakukan oleh Guru Dan kepala Sekolah Selama Pembelajaran Online di masa pandemi COVID-19.

Menggunakan metode kualitatif dengan analisa deskriptif kualitatif

(28)

2 Arifah Suryaningsih (2020) peningkatan motivasi belajar siswa secara online pada pelajaran animasi 2D melalui strategi komunikasi persuasif

Fokus penelitian ini menggunakan strategi

komunikasi persuasif yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dengan semangat berkreasi siswa dalam pembuatan animasi 2D

Fokus Penelitian Terfokus pada Komunikasi pembelajaran yang dilakukan oleh Guru Dan kepala Sekolah Selama Pembelajaran Online dimasa pandemi covid-19

Menggunakan metode kualitatif dengan analisa deskriptif kualitatif

3 Rosali (2020) judul aktifitas

Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19

Fokus penelitian ini berfokus pada aktifitas peserta didik selama pembelajaran daring dilakukan.

Fokus Penelitian Terfokus pada Komunikasi pembelajaran yang dilakukan oleh Guru Dan kepala Sekolah Selama Pembelajaran Online dimasa pandemi covid-19

Menggunakan metode kualitatif dengan analisa deskriptif kualitatif

B. Pengertian dan Konsep Teori 1. Konsep Strategi Komunikasi

Startegi berasal dari bahasa yunani klasik yaitu “ Stratos“ yang artinya tentara dan kata “agein” yang berarti memimpin, jadi strategi adalah konsep militer yang dapat diartikan seni peran par ajenderal (The Art Of General) atau suat rancangan yang terbaik untuk memerangi peperangan (Hafied Cangara, 2014).

Strategi dalam komunikasi adalah cara mengatur pelaksanaan operasi komunikasi agar berhasil. Strategi komunikasi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai satu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta

(29)

15

jalan yang hanya menunjukkan arah, tetapi juga harus menunjukkan taktik operasionalnya. (Abidin, 2015: 155).

Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut; strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus menunjukkan taktik operasionalnya. (Effendy, 2003: 301).

Onong Uchjana Effendy (Dede Wahyudi, 2013:57) berpendapat bahwa strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (Planning) dan (Managemen) untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut Strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya.

Komunikasi memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita dan sehari-hari, baik dalam membentuk hubungan sosial maupun hubungan interpersonal. Komunikasi terjadi dalam berbagai konteks komunikasi seperti komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, serta komunikasi massa. Komunikasi juga terjadi dalam berbagai bidang komunikasi seperti komunikasi perusahaan, komunikasi tradisional, komunikasi lingkungan, komunikasi politik, komunikasi pendidikan, komunikasi sosial, komunikasi organisasi, komunikasi bisnis, komunikasi pemasaran, komunikasi pembangunan, komunikasi terapeutik dalam keperawatan, komunikasi antar budaya,

(30)

komunikasi lintas budaya, komunikasi internasional, komunikasi kesehatan, komunikasi pemerintahan, dan komunikasi pembelajaran.

Fungsi dan Tujuan Komunikasi Ada empat tujuan komunikasi menurut Hermawan (2012:10-12) adalah:

1. Menemukan, salah satu tujuan komunikasi menyangkut penemuan diri (personal discovery), dengan berkomunikasi kita dapat memahami diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita ajak bicara secara lebih baik.

2. Untuk berhubungan 3. Untuk Meyakinkan

4. Untuk bermain, kita menggunakan banyak perilaku komunikasi kita untuk bermain dan menghibur diri seperti mendengarkan pelawak, pembicaraan, musik, film, dan sebagainya. Dapat disimpulkan tujuan dari komunikasi sebenarnya dapat disadari ataupun tidak, dapat dikenali ataupun tidak. Tujuan komunikasi pada dasarnya tetaplah sama yaitu untuk memindahkan pengertian yang dimiliki seseorang kepada penerima agar dia mempunyai pengertian baru setelah kita mengkomunikasikan sesuatu.Adapun fungsi dasar komunikasi menurut Alo Liliweri (2011: 136-137) adalahpendidikan dan Pengajaran komunikasi menjadi sarana penyediaan pengetahuan, keahlian dan keterampilan untuk memperlancar peran manusia dan

(31)

17

memberikan peluang bagi orang lain untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Tubb dan Moss (2006 : 24) terdapat lima faktor instrumen komunikasi berjalan dengan efektif yaitu (1) pemahaman terhadap pesan oleh penerima (2) memberikan kesenangan kepada pihak-pihak yang berkomunikasi (3) memengaruhi sikap oramg lain (4) memperbaiki hubungan (5) memberikan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan dalam bentuk tindakan dari penerima pesan.

Informasi, ada pepatah yang mengatakan bahwa siapa saja yang menguasai informasi, maka dialah yang menguasai dunia. Yang artinya komunikasi menyediakan informasi tentang keadaan dan perkembangan lingkungan disekelilingnya. Diskusi, melalui diskusi dan debat akan ditemukan kesatuan pendapat sambil tetap menghargai perbedaan yang dimiliki orang lain. Persuasi, komunikasi memungkinkan para pengirim pesan bertindak sebagai seorang persuader terhadap penerima pesan yang diharapkan akan berubah pikiran dan perilakunya. Promosi Kebudayaan, komunikasi juga menyediakan kemungkinan atau peluang untuk memperkenalkan, menjaga, dan melestarikan tradisi budaya suatu masyarakat. Integrasi, dengan komunikasi maka makin banyak orang yang saling mengenal dan mengetahui keadaan masing-masing.

Menurut Effendy Uchjana, (2005) komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh satu orang ke orang lain untuk menginformasikan, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara

(32)

lisan (langsung) maupun tidak langsung (melalui media). Strategi komunikasi pada hakikatnya adalah perencanaan (Planning)dan Manajemen (management) untuk mencapai tujuan.

Berdasarkan semua penjelasan diatas dapat diketahui bahwa komunikasi merupakan suatu proses pengalihan informasi dari komunikator kepada komunikan sehingga nantinya diperoleh pemahan tentang apa yang dimaksud antara satu sama lainnya. Komunikasi yang efektif bisa kita dapatkan apabila antara penyebar pesan dan penerima pesan dapat menimbulkan suatu pengertian yang sama terhadap pesan yang akan disampaikan tersebut.

Proses pentahapan komunikasi ini mengandung maksud bahwa komunikasi hendaknya dimulai dengan membangkitkan perhatian atau attention. Dalam hubungan ini komunikator harus menimbulkan daya tarik.

Dimulainya komunikasi dengan membangkitkan perhatian akan menjadi suatu awal suksesnya proses komunikasi. Apabila perhatian komunikan telah terbangkitkan, hendaknya disusun dengan upaya menumbuhkan minat atau interest, yang merupakan derajat yang lebih tinggi dari perhatian. Minat merupakan kelanjutan dari perhatian yang merupakan titik tolak bagi timbulnya suatu hasrat atau desire untuk melakukan suatu kegiatan yang diharapkan oleh komunikator.

(33)

19

2. Unsur-Unsur dalam Strategi Komunikasi

Dalam melaksanakan strategi komunikasi ada beberapa unsur yang harus diperhatikan antara lain (Effendy, 2006:32). Sumber (komunikator) Secara teoritis hasil atau akibat penyampaian pesan terhadap pihak penerima, bila sumber mempunyai:

a. Kredibilitas dalam menyampaikan kebijakan penyiaran, kompetensi dari narasumber terutama saat acara formal seperti seminar atau membina masyarakat sangat diperhatikan. Pejabat tertentu yang terkait penyiaran maupun opinin leader dan akademisi sebagai penentu kredibilitas suatu komunikator

b. Daya tarik narasumber yang kredibel juga dituntut menarik dalam mengemas penyajian materinya sehingga pesan yang dikomunikasikan dapat dengan mudah sampai kepada publik.

Untuk mendukung teori ini, tujuan komunikasi sebaiknya dinyatakan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami karena hal ini akan berkaitan dan pengaruh terhadap seluruh kegiatan strategi komunikasi.

Dalam dunia bisnis, tujuan strategi pada umumnya adalah untuk menentukan dan mengkomunikasikan gambaran tentang visi perusahaan melalui sebuah sistem tujuan utama dan kebijakan. Strategi menggambarkan sebuah arah yang didukung oleh berbagai sumber daya yang ada. Strategi komunikasi yang dilakukan bersifat makro dan proses strategi komunikasi

(34)

berlangsung secara vertikal piramidal. Berikut ini dijelaskan unsur-unsur (Sastropoetro, 1991: 89) tersebut yaitu:

a. Sumber

Sumber adalah dasar yang digunakan di dalam penyampaian pesan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri.

b. Komunikator

Komunikator dapat berupa individu yang sedang berbicara atau menulis, kelompok orang, organisasi komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, dan sebagainya. Dalam komunikasi, komunikator dapat menjadi komunikan, dan sebaliknya komunikan dapat menjadi komunikator (Suryanto, 2015: 161).

c. Pesan

Pesan dapat disampaikan secara panjang lebar, namun perlu diperhatikan dan diarahkan pada tujuan akhir dari komunikasi.

d. Saluran

Saluran komunikasi atau media adalah perantara dalam penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan yang bertujuan untuk efisiensi penyebaran informasi.

(35)

21

e. Komunikan

Komunikan adalah penerima pesan yang sekaligus merupakan tujuan dari proses komunikasi.

f. Efek

Efek adalah perubahan yang terjadi dipihak komunikan atau tujuan setelah menerima pesan.

g. Umpan Balik

Umpan balik ialah tanggapan yang diberikan oleh komunikan oleh seorang komunikator.

3. Tujuan dari strategi Komunikasi

Tujuan itu dibuat menurut Liliweri (2011:248) adalah:

a. Memberitahu (announcing) Tujuan utama dari strategi komunikasi adalah untuk memberitahu tentang kapasitas dan kualitas informasi (one of the first goals of your communication strategy is to announce the availability of informotion on quality). Oleh karena itu, informasi yang akan dipromosikan sedapat mungkin berkaitan dengan informasi utama dari seluruh informasi yang demikian penting (Liliweri,2011:248). Sehingga pihak icepot sebisa mungkin memberitahu informasi utama dari isi kampanye-nyayaitu

(36)

membantu pelestarian lingkungan. Melalui bantuan media cetak dan media sosial dengan tambahan gambar-gambar yang menarik.

b. Memotivasi (motivating) Penyebaran informasi harus diusahakan agar informasi yang disebarkan dapat memotivasi masyarakat untuk peduli. Tidak hanya mendapatkan icecream yang enak, namun masyarakat ikut berkontribusi mengurangi sampah atau limbah kemasan makanan atau minuman. Maka dibuatlah pot yang beraneka ragam warna yang menarik sebagai wadah icecream yang dapat digunakan kembali sebagai media tanam (Liliweri, 2011:

248).

c. Mendidik (educating) Memberikan pendidikan kepada masyarakat bahwa pot yang digunakan sebagai wadah atau kemasan icecream dapat digunakan sebagai media untuk menanam (Liliweri, 2011:248).

d. Penyebaran Informasi (informing) Salah satu tujuan strategi komunikasi adalah menyebarluaskan informasi kepada masyarakat atau audiens yang menjadi sasaran kita. Diusahakan agar informasi yang disebarkan ini merupakan informasi yang spesifik dan aktual (Liliweri, 2011:248).

e. Mendukung Pembuat Keputusan (supporting decision making) Dalam rangka membuat keputusan, maka informasi yang

(37)

23

dikumpulkan, dikategorikan, dianalisis sedemikian rupa, sehingga dapat dijadikan informasi utama bagi

Menurut Robin Mehall dalam Cangara (2013:45) strategi komunikasi adalah sebuah dokumen tertulis yang menggambarkan tentang apa yang harus dilakukan yang berhubungan dengan komunikasi dalam pencapaian tujuan, dengan cara apa yang dapat dilakukan sehingga tujuan tersebut dapat dicapai, dan kepada siapa program komuniaksi itu ditujukan, dengan peralatan dan dalam jangka waktu berapa lama hal itu bisa dicapai, dan bagaimana cara mengukur (evaluasi) hasil-hasil yang diperoleh dari program tersebut.

Jadi, starategi komunikasi pada hakikatnya adalah suatu perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai tujuan tertentu dalam praktik operasionalnya. Strategi komunikasi yang efektif adalah sebagai berikut:

a. Bagaimana mengubah sikap (how to change the attitude) b. Mengubah opini (to change the opinion)

c. Mengubah Perilaku (to change behaviour)

(38)

4. Langkah-Langkah Strategi Komunikasi

Dalam rangka melaksanakan strategi komunikasi diperlukan langkah-langkah strategis yang perlu dijalankan untuk menyusun langkah- langkah tersebut dibutuhkan suatu pemikiran dengan memperhitungkan komponen-komponen komunikasi serta faktor pendukung dan faktor penghambat komunikasi.

a. Mengenali Sasaran Komunikasi

Sebelum melancarkan komunikasi, perlu mempelajari siapa-siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi. Hal ini akan sangat bergantung pada tujuan komunikasi, apakah tujuan dari komunikasi tersebut sebatas komunikan mengetahui (dengan metode informatif) atau agar komunikan melakukan tindakan tertentu dengan menggunakan metode persuasif.

b. Pemilihan Media Komunikasi

Media komunikasi banyak jumlahnya, pemilihan media komunikasi sangatlah bergantung pada komunikasi yang akan dituju. Untuk menyampaikan pesan terhadap masyarakat perkotaan maka media yang lebih efektif untuk digunakan adalah media cetak., audio dan audio visual.

Sedangkan untuk masyarakat pedesaan media yang sering digunakan adalah papan pengumuman atau juga radio komesial maupun radio komunitas.

c. Pengkajian Tujuan Komunikasi

Pesan komunikasi mempunyai tujuan tertentu. Ini menentukan teknik yang harus diambil, apakah menggunakan teknik informasi, teknik persuasi,

(39)

25

atau teknik intruksi. Pesan komunikasi terdiri atas isi pesan dan lambang. Isi pesan komunikasi bisa satu, tetapi lambang yang digunakan bisa macam- macam. Lambang yang bisa digunakan untuk menyampaikan isi komunikasi adalah bahasa, gambar, warna, kias dan lain-lain.

Komunikasi organisasi menurut Wiryanto (dalam Khomsahrial Romli, 2011) adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal adalah komunikasi yang di setujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus di lakukan dalam organisasi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang di setujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual. Secara umum, fungsi komunikasi dalam organisasi menurut Sendjaja (1994) adalah sebagai berikut:

1) Fungsi Informatif

Organisasi dapat di pandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi.

Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu.

Informasi yang di dapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti.

(40)

2) Fungsi Regulatif

Fungsi ini berkaitan dengan peraturan – peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu:

a) Berkaitan dengan orang–orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang di sampaikan. Juga memberi perintah atau intruksi supaya perintah – perintahnya di laksanakan sebagaimana mestinya.

b) Berkaitan dengan pesan, yaitu pesan – pesan regulatif yang pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk di laksanakan.

3) Fungsi Persuasif

Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang di harapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang di lakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar di banding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.

(41)

27

4) Fungsi Integratif

Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu:

a) Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, news latter) dan laporan kemajuan organisasi.

b) Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.

Golddhaber (1986) memberikan definisi komunikasi organisasi sebagai proses penciptaan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. Pengertian tersebut mengandung beberapa konsep sebagai berikut :

a) Proses

Suatu organisasi adalah suatu sistem yang terbuka dan dinamis yang secara tidak langsung menciptakan saling tukar menukar informasi satu sama lain. Karena kegiatan yang berulang-ulang dan tiada hentinya tersebut maka dikatakan sebagai suatu proses.

(42)

b) Pesan

Pesan adalah susunan simbol yang penuh arti tentang objek, orang, kejadian yang dihasilkan oleh interaksi dengan orang lain. Pesan dalam organisasi dapat dilihat menurut beberapa klasifikasi yang berhubungan dengan bahasa, penerima yang dimaksud, metode difusi, dan arus tujuan dari pesan. Klasifikasi pesan dalam bahasa dapat dibedakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu verbal dan non verbal, dimana pesan verbal dalam organisasi berupa: surat, memo, percakapan, dan pidato. Sedangkan pesan non verbal dalam organisasi bisa berupa: bahasa gerak tubuh, sentuhan, ekspresi wajah, dan lain-lain.

c) Jaringan

Organisasi terdiri dari satu seri orang yang tiap-tiapnya menduduki posisi atau peranan tertentu dalam organisasi. Ciptaan dan pertukaran pesan dari orang-orang ini terjadi melewati suatu setjalan kecil yang dinamakan jaringan komunikasi. Suatu jaringan komunikasi ini mungkin mencakup hanya dua orang, beberapa orang atau keseluruhan organisasi. Luas dari jaringan komunikasi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya: arah dan arus pesan, isi pesan, hubungan peranan, dan lain-lain.

d) Keadaan saling tergantung

Hal ini telah menjadi sifat dalam organisasi yang merupakan suatu sistem yang terbuka. Bila suatu bagian dari organisasi mengalami gangguan maka

(43)

29

akan berpengaruh kepada bagian yang lainnya dan mungkin juga kepada seluruh sistem organisasi.

e) Hubungan

Karena organisasi merupakan suatu sistem yang terbuka, sistem kehidupan sosial maka untuk berfungsinya bagian-bagian itu terletak pada manusia yang ada dalam organisasi. Oleh karena itu hubungan manusia dalam organisasi yang memfokuskan kepada tingkah laku komunikasi dari orang yang terlibat suatu hubungan perlu dipelajari. Sikap, skill, dan moral dari seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh hubungan yang bersifat organisasi.

f) Lingkungan

Yang dimaksud lingkungan adalah semua totalitas secara fisik dan faktor sosial yang diperhitungkan dalam pembuatan keputusan mengenai individu dalam suatu sistem. Yang termasuk dalam lingkungan internal adalah personal (karyawan), staf, golongan fungsional dari organisasi, dan juga komponen lainnya seperti tujuan, produk, dan lainnya. Organisasi sebagai sistem terbuka harus berinteraksi dengan lingkungan eksternal seperti: teknologi, ekonomi, dan faktor sosial. Karena faktor lingkungan berubah-ubah maka organisasi memerlukan informasi baru untuk mengatasi perubahan dalam lingkungan dengan menciptakan dan melakukan penukaran pesan baik secara internal maupun eksternal.

(44)

g) Ketidakpastian

Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang diharapkan. Ketidakpastian dalam organisasi juga disebabkan oleh terjadinya banyak informasi yang diterima daripada informasi yang sesungguhnya diperlukan untuk menghadapi lingkungan mereka. Bisa dikatakan ketidakpastian dapat disebabkan oleh terlalu sedikit informasi yang didapatkan dan juga karena terlalu banyak informasi yang diterima.

5. Hambatan-hambatan komunikasi dan cara mengatasinya a. Hambatan Komunikasi

Hambatan komunikasi adalah segala sesuatu yang menghalangi atau mengganggu tercapainya komunikasi yang efektif. Hambatan komunikasi dapat mempersulit dalam mengirim pesan yang jelas, mempersulit pemahaman 20 terhadap pesan yang dikirimkan, serta mempersulit dalam memberikan umpan balik yang sesuai. Secara garis besar, terdapat 3 (Tiga) jenis hambatan komunikasi yaitu hambatan personal, hambatan fisik, hambatan kultural atau budaya.

1. Hambatan personal Hambatan personal merupakan hambatan yang terjadi pada peserta komunikasi, baik komunikator maupun komunikan/komunikate. Hambatan personal dalam komunikasi meliputi sikap, emosi, stereotyping, prasangka, bias, dan lain-lain.

(45)

31

2. Hambatan kultural atau budaya Komunikasi yang kita lakukan dengan orang yang memiliki kebudayaan dan latar belakang yang berbeda mengandung arti bahwa kita harus memahami perbedaan dalam hal nilai-nilai, kepercayaan, dan sikap yang dipegang oleh orang lain.

Hambatan kultural atau budaya mencakup bahasa, kepercayan dan keyakinan. Hambatan bahasa terjadi ketika orang yang berkomunikasi tidak menggunakan bahasa yang sama, atau tidak memiliki tingkat kemampuan berbahasa yang sama. Hambatan juga dapat terjadi ketika kita menggunakan tingkat berbahasa yang tidak sesuai atau ketika kita menggunakan jargon atau bahasa “slang” atau “prokem” atau “alay”

yang tidak dipahami oleh satu atau lebih orang yang diajak berkomunikasi. Hal lain yang turut memberikan kontribusi terjadinya hambatan bahasa adalah situasi dimana percakapan terjadi dan bidang pengalaman ataupun kerangka referensi yang dimiliki oleh peserta komunikasi mengenai hal yang menjadi topik pembicaraan.

3. Hambatan fisik Beberapa gangguan fisik dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi. Hambatan fisik komunikasi mencakup panggilan telepon, jarak antar individu, dan radio. Hambatan fisik ini pada umumnya dapat diatasi.

(46)

b. Cara Mengatasi Hambatan Komunikasi Berbagai hambatan komunikasi yang dapat menyebabkan ketidakefektifan komunikasi dapat kita atasi dengan memperhatikan beberapa hal berikut ini:

1. Pengirim pesan/komunikator/sender Komunikasi adalah suatu proses yang berlangsung dua arah dan diawali oleh pengirim pesan.

Pengirim pesan hendaknya merumuskan informasi sedemikian rupa agar tujuan komunikasi tercapai. 22 Pengirim pesan harus proaktif dalam membuat penerima/komunikan/komunikator/receiver mengerti dan memahami pesan yang disampaikan. Seringkali, apa yang dikatakan tidak selalu sesuai dengan apa yang didengar. Untuk menghindarinya, hal-hal yang harus dilakukan adalah :

a. Menyatakan satu ide atau gagasan dalam satu waktu.

b. Menyatakan ide atau gagasan dengan singkat.

c. Memberikan penjelasan ketika diperlukan.

d. Melakukan pengulangan jika diperlukan.

e. Menerima dan memberikan umpan balik.

f. Melakukan pilihan kata, nada suara dan bahasa tubuh yang tepat.

(47)

33

g. Mengembangkan sikap empati terhadap penerima komunikan dalam mengatasi hambatan kultural atau budaya dalam komunikasi

2. Pesan

Pesan merupakan informasi sederhana yang ingin disampaikan oleh pengirim pesan kepada penerima. Pesan dapat berupa pesan verbal maupun pesan non verbal. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya masalah, pengirim harus :

a. Menggunakan terminologi yang tepat.

b. Berbicara dengan jelas.

c. Waktu pengiriman pesan disesuaikan dengan kesiapan penerima pesan untuk mendengarkan atau menerima pesan.

d. Menggunakan volume suara yang sesuai.

e. Pesan yang disampaikan hendaknya bersifat inklusif dan informatif. Inklusif artinya bahwa pesan berisi segala sesuatu yang diperlukan oleh penerima pesan untuk memahami maksud pengirim. Informasi artinya pesan merupakan sesuatu yang ingin diketahui oleh penerima pesan.

(48)

3. Penerima/komunikan/komunikate/receiver

Penerima pesan membutuhkan informasi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Untuk itu, penerima pesan harus memegang kendali atas seluruh proses komunikasi yang berlangsung. Agar penerima pesan memegang kendali, adalah penting bagi penerima pesan untuk yakin bahwa pengirim pesan memahami apa yang diinginkan oleh penerima pesan dan mengapa mereka menginginkannya. Aktif mendengarkan adalah suatu proses yang digunakan oleh penerima pesan untuk memfasilitasi komunikasi dan meningkatkan penampilan. Dalam artian, penerima pesan aktif dalam proses komunikasi. Agar penerima pesan dapat mendengarkan dengan aktif

4. Umpan Balik Pesan

Penerima yang efektif memverifikasi pemahaman mereka terhadap pesan yang dikirim oleh pengirim pesan. Mereka menyadari kata- kata, nada suara, dan bahasa tubuh ketika mereka memberikan umpan balik. Berbagai bentuk umpan balik yang diberikan dapat berupa pengakuan, pengulangan, dan parafrase. Kemudian, yang dimaksud dengan pengakuan adalah bahwa penerima pesan telah menerima dan 24 memahami pesan yang disampaikan. Untuk pesan yang bersifat informatif yang rumit, pengakuan saja tidaklah cukup untuk memastikan dan memahami pesan yang disampaikan. Sedangkan,

(49)

35

yang dimaksud dengan pengulangan adalah mengulang kembali kata- kata yang disampaikan oleh pengirim pesan. Terakhir, yang dimaksud dengan parafrase adalah mengulang kata-kata yang disampaikan oleh penerima pesan sendiri kepada pengirim pesan.

Parafrase memungkinkan penerima pesan untuk melakukan verifikasi terhadap pemahaman pesan dan menunjukkan kepada pengirim pesan bahwa penerima pesan mendengarkan pesan dengan baik. (Ambar, 2017).

C. Kerangka Fikir

SD INPRES SAMBUNG JAWA 1

Hambatan Yang dihadapi

1. Hambatan Personal 2. Hambatan

Kultural/Budaya 3. Hambatan Fisik Strategi Komunikasi:

1. Mengenal Khalayak 2. Menyusun Pesan 3. Menetapkan Metode (Yusuf Zainal Abidin, 2015)

Komunikasi Pembelajaran Yang Efektif

(50)

C. Fokus Penelitian

Deskripsi fokus penelitian ini:

Penelitian ini terfokus tentang strategi komunikasi apa saja yang dilakukan pada penerapan pembelajaran online yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Guru di SD Inpres Sambung Jawa 1. Dengan menggunakan beberapa indikator sebagai berikut :

a. Mengenal Khalayak b. Menyusun Pesan c. Menetapkan metode

(51)

37

E. Deskripsi Fokus Penelitian

Berdasarkan uraian dari kerangka pikir diatas maka dapat didekan matfinisikan sebagai berikut :

1. Mengenal khalayak atau karakteristik khalayak maka akan mempermudah komunikator dalam menyampaikan informasi atau pesan kepada komunikan yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi

2. Menyusun pesan yaitu menentukan materi atau tema yang akan disampaikan kepada khalayak sehingga mampu membangkitkan perhatian khalayak terhadap pesan-pesan yang disampaikan

3. Menetapkan metode yaitu menyiapkan metode penyampaian pesan kepada khalayak yang berdasarkan cara pelaksanaannya meliputi Redudancy dan Canalizing. Sedangkan berdasarkan bentuknya meliputi Informative, persuasive, educative, dan cursive

Hambatan yang dihadapi adalah segala sesuatu yang sifatnya menghambat atau menghalangi untuk tercapainya suatu tujuan yang ingin dicapai. Adapun hambatan yang dihaapi yaitu

1. Hambatan personal

2. Hambatan budaya/kultural 3. Hambatan fisik

(52)

Dengan penjabaran ini diharapkan agar dapat menghindari terjadinya penafsiran yang keliru dari pembaca dan keluar dari pokok permasalahan, oleh karena itu penelitian fokus pada “Strategi Komunikasi Kepala Sekolah dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19 (Studi Kasus SD Inpres Sambung Jawa 1)”.

(53)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Adapun waktu penelitian dilaksanakan dari tanggal 12 Agustus – 10 Oktober 2021. Lokasi penelitian yaitu pada SD Inpres Sambung Jawa 1 terkait penyelenggaran pembelajaran online. Alasan Peneliti memilih lokasi ini karena data ataupun dokumen-dokumen dapat diperoleh dari SD Inpres Sambung Jawa 1 dan informan dapat dihubungi secara online. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang Strategi Komunikasi Organisasi dalam pembelajaran Online Tingkat Sekolah Dasar.

B. Tipe dan Jenis Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah metode kualitatif dengan cara melakukan wawancara dan observasi langsung terhadap informan. Tujuannya untuk mengetahui Strategi Komunikasi Kepala Sekolah dan GuruDalam Penerapan Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19 ( Studi Kasus SD Inpres Sambung Jawa 1).

(54)

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini bersifatdeskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan cara peneliti terjun langsung ke lapangan guna untuk memperoleh data yang valid.

C. Sumber Data

Sumber data ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang didapatkan peneliti secara langsung, sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan peneliti dari sumber data yang sudah ada. Dibawah ini penjelasan yang lebih lanjut yaitu sebagai berikut:

1. Data Primer

Data primer, yaitu data yang diperoleh dari pengamatan langsung (observasi/wawancara), dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada implementor dan masyarakat yang berpengaruh tentang bagaimana proses mengenaiStrategi Komunikasi Kepala Sekolah Dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19 (Studi Kasus SD Inpres Sambung Jawa 1). Data primer juga dimaksudkan untuk pengenalan kondisi fisik dan sosial lokasi penelitian secara langsung melalui kunjungan ke semua informan penelitian atau dapat dilakukan melalui wawancara.

(55)

41

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data pendukung yang diperlukan untuk melengkapi data primer yang dikumpulkan. Hal ini dilakukan sebagai upaya penyesuaian dengan kebutuhan data lapangan yang terkait dengan objek yang dikaji. Data sekunder terutama diperoleh melalui dokumentasi.

D. Informan Penelitian

Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive yaitu sengaja memilih orang-orang yang dianggap paling mengetahui dan dapat memberikan informasi sesuai dengan tujuan penelitian. Berikut merupakan jumlah informan dalam penelitian.

Tabel 3.1 Informan Penelitian

No Informan

1. Kepala Sekolah SD INP SAMBUNG JAWA 1

2. Guru/Tenaga Pengajar di SD INP SAMBUNG JAWA 1 3. Orang Tua Murid/Wali Murid

(56)

E. Teknik Pengumpulan Data

Guna memperoleh data yang relevan dengan tujuan penelitian, maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan peneliti secara langsung dilapangan untuk memperoleh data mengenai mengenai Strategi Komunikasi Kepala Sekolah dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19 (Studi Kasus SD Inpres Sambung Jawa 1).

2. Wawancara

Peneliti akan melakukan wawancara langsung secara mendalam kepada informan yang menjadi obyek dari penelitian ini yaituKepala Sekolah, Pegawai/Guru yang bersangkutan serta orang tua murid.

Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh informasi penelitian mengenai mengenai Strategi Komunikasi Kepala Sekolah dan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19 (studi Kasus SD Inpres Sambung Jawa 1).

F. Dokumentasi

Dokumentasi adalah melakukan pengumpulan data mengenai pembelajaran online yang diarahkan dan diawasi SD Inpres Sambung Jawa 1 yang berkaitan dengan pembelajaran Online Tingkat Sekolah Dasar.Penelitian mengambil data berbentuk catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen, literatule dan sebagainya.

(57)

43

G. Teknik Analisis Data

Analisis data ialah langkah selanjutnya untuk mengelola data dimana datayang diperoleh, dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untukmenyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian. Dalam model ini terdapat 3 (tiga) komponen pokok. Menurut Miles dan Huberman (2007) ketiga komponen tersebut yaitu:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Penyajian data dan penarikan kesimpulanatau verifikasi. Proses reduksi data adalah suatu proses pemilihan data penyederhanaan, pengabstrakan data dan transformasi kasat yang manual dari catatan- catatan dilapangan.

2. Penyajian Data (Data Display)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data merupakan kumpulaninformasi tersusun untuk memungkinkan terdapatnya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan dengan melihat penyajian-penyajianagar kita dapat memahami apa yang tengah terjadi serta yang harus dilakukan.

3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion Drawing/Verification)

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikankesimpulan dan verifikasiadalah dengan memulai mencaridata dan mencari arti pola-pola, benda, mencatat keteraturan, penejelasan, konfigurasi yang munkin alur sebab akibat dan proposisi.

(58)

H. Keabsahan Data

Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengujian kredibilitasdata adalah dengan triangulasi. Menurut sukri (Sugiyono, 2013), Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, danberbagai waktu. Lebih lanjut Sugiyono membagi triangulasi ke dalam tiga macam, yaitu:

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada.Kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

2. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen.Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.

(59)

45

3. Triangulasi Waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel.Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.

(60)

46

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum SD Inpres Sambung Jawa 1 a. Sejarah Singkat SD Inpres Sambung Jawa 1

SD Inpres Sambung Jawa 1 adalah salah satu satuan pendidikan dengan jenjang Sekolah Dasar berstatus Negeri yang didirikan pada tanggal 01 januari tahun 1973 dengan No. SK Operasional: 421.2/5764/DP/IX/2016 dengan luas tanah 3 m2 di Kelurahan Sambung Jawa, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam menjalankan Kegiatannya, SD Inpres Sambung Jawa 1 berada di bawah naungan kementrian pendidikan dan kebudayaan. SD Inpres Sambung Jawa I beralamat di Jl.

Tanjung Rangas No. 1, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dengan kode pos 90134.

SD Inpres Sambung Jawa 1 dengan nomor pokok sekolah nasional 40313266 telah berhasil meraih Akreditasi B dengan No.

SK Akreditasi 160/SK/BAP-SM/XI/2017. memiliki fasilitas berupa Listrik guna untuk membantu kegiatan belajar mengajar. Sumber listrik yang digunakan oleh SD Inpres Sambung Jawa 1 berasal dari Listrik PLN. Selain listrik SD Inpres Sambung Jawa 1 juga

Referensi

Dokumen terkait

Pada dasarnya Pondok Putri Tebuireng dan PP Walisongo merupakan pesantren dengan model pendidikan yang sama.Akan tetapi Pondok Putri Tebuireng dan PP Putri

Analisis lanjutan terhadap kelompok senyawa induser diperoleh 50 senyawa yang ternyata memiliki idS melebihi -9,5 kkal/mol terhadap kelima protein target dengan

 Konsep rumah tangga pertanian adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya melakukan dan bertanggungjawab dalam kegiatan pembudidayaan,

berdasarkan usia, tingkat pendidikan, dan tingkat masa kerja secara keseluruhan sebagian besar dari responden memiliki skor penilaian 52,508 sampai dengan 61,752 dengan jumlah 70

terhadap kamu di Mahkamah Tinggi Malaya di Kuala Lumpur oleh ...-nama pemiutang-...beralamat...dan Mahkamah telah memerintahkan bahawa Petisyen Pemiutang ini

Melalui penerapan sistem data warehouse dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan, diantaranya proses analisis ataupun pengelolaan informasi berdasarkan data

D 23 April 2015 14:00 wib Yohanes Widodo - Yohanes Widodo LUKAS Nobertus Ribut Catherine Dianti 080903594 3. PENGARUH TINGKAT KEPERCAYAAN ENDOSER IKLAN TERHADAP MINAT BELI

Penelitian ini bertujuan (1) untuk membuat media pembelajaran berupa lembar kerja berbasis Android, (2) untuk mengetahui respon siswa terhadap lembar kerja siswa