1
LAPORAN KASUS Kepada Yth:
( Divisi Infeksi Menular Seksual)
Dipresentasikan pada : Hari/Tanggal :
Jam :
KONDILOMA AKUMINATA PADA SEORANG WANITA YANG TERINFEKSI
HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS
Oleh:
Ni Wayan Sulianti Siskadewi Pembimbing:
Dr. dr. AAGP Wiraguna, SpKK(K), FINSDV,FAADV
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I
BAGIAN / SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD / RSUP SANGLAH
DENPASAR 2016
2 PENDAHULUAN
Kondiloma akuminata (KA) atau genital warts merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV), yang mengenai mukosa dan kulit anorektal dan genitalia.1 Pada saat ini dikenal lebih dari 100 tipe HPV yang dapat menyebabkan kondiloma akuminata yang meliputi varian nononkogenik seperti HPV tipe 6, 11, 42, 43, 44 yang berhubungan dengan kondiloma genital dan varian onkogenik terutama HPV tipe 16, 18, 31, 33, 35 yang berhubungan dengan risiko keganasan yaitu intraepithelial neoplasia dan karsinoma sel skuamosa.
Berdasarkan potensi untuk terjadi displasia epitel dan keganasan, HPV dibagi menjadi dua tipe yaitu HPV risiko tinggi dan risiko rendah. HPV tipe 6 dan 11 merupakan HPV risiko rendah yang dapat menyebabkan KA sekitar 90%
kasus, sisanya oleh HPV risiko tinggi. Human Papilloma Virus (HPV) hampir selalu ditularkan melalui hubungan seksual, baik genital-genital, oral-genital maupun genital-anal. Permukaan mukosa yang lebih tipis lebih rentan untuk inokulasi virus daripada kulit berkeratin yang lebih tebal.
2
3,4,5
Insiden tertinggi pada wanita usia 20-30 tahun, dan dalam dua dekade terakhir ini cenderung meningkat 4-5 kali lipat dari sebelumnya. Di Amerika Serikat, setiap tahunnya tercatat 500.000-1.000.000 kasus baru yang ditemukan.
6,7
Kondiloma akuminata sering ditemukan pada pasien dengan infeksi HIV, dapat menyerang semua ras dimana frekuensi laki-laki dan perempuan adalah sama.
Diperkirakan bahwa 30 hingga 50 % orang dewasa yang aktif secara seksual terinfeksi oleh Human Pappiloma Virus (HPV), paling sering pada usia 16-25 tahun. Terdapat 500 ribu sampai 1 juta kasus baru KA di Amerika Serikat setiap tahunnya, dengan angka kejadian 3,4% (0,87 kasus per 100 orang). Prevalensi sebesar 1% pada orang yang aktif secara seksual. Insiden kondiloma akuminata pada poliklinik kulit dan kelamin RSUP Sanglah sebanyak 92 kasus baru per 280 kasus IMS dengan pria 50 dan wanita 42, hamil 3 dan HIV positif 11 pasien.8
3 Berikut dilaporkan kasus kondiloma akuminata pada seorang wanita yang disertai infeksi HIV. Kasus ini dilaporkan untuk menambah wawasan mengenai kondiloma akuminata sebagai IMS pada seorang wanita yang terinfeksi HIV meliputi hubungan antara KA dengan infeksi HIV dan pilihan pengobatan yang dapat diberikan.
KASUS
Pasien seorang wanita, berusia 29 tahun, suku Bali, datang berobat ke Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah pada tanggal 17 November 2016 dengan nomor rekam medis 16.00.63.99.
Penderita datang dikonsulkan dari bagian VCT dengan keluhan utama muncul benjolan di sekitar kelamin sejak 1 bulan yang lalu. Awalnya kecil lama kelamaan menjadi membesar dan bertambah banyak. Benjolan juga teraba kasar.
Pasien juga tidak mnegeluh nyeri, gatal ataupun keluar darah dari benjolan tersebut.
Riwayat pernah menderita benjolan yang sama pada kemaluan disangkal.
Pasien dinyatakan terinfeksi HIV sejak 3 bulan yang lalu dan telah mendapat pengobatan antiretroviral (ARV). Riwayat penyakit sistemik lainnya seperti jantung, kencing manis, asma, dan tekanan darah tinggi disangkal. Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan dan sakit yang sama.
Pasien bekerja sebagai pegawai spa. Riwayat kontak seksual dengan pacar 1 bulan yang lalu tanpa menggunakan kondom dan pacar pasien belum disirkumsisi. Pasien berhubungan seksual melalui vagina. Pasien pertama kali berhubungan seksual saat berusia 18 tahun dengan pacar, menikah pada usia 21 tahun. Riwayat multipartner seksual pada pasangannya tidak diketahui. Keluhan yang sama pada pasangan tidak diketahui.
Pasien tidak pernah ada riwayat penggunaan narkoba dengan jarum suntik yang dipakai secara bergantian. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol disangkal. Pasien tidak ada riwayat menderita penyakit jantung, kencing manis, tekanan darah tinggi, keganasan, penggunaan obat kemoterapi dan kortikosteroid
4 dalam jangka panjang. Riwayat alergi obat dan makanan disangkal. Riwayat penyakit dalam keluarga dikatakan tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan keluhan serupa.
Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 84 kali/menit, respirasi 20 kali/menit, dan temperatur aksila 36,5°C. Berat badan 50 kg dan tinggi badan 161 cm. Pada status generalis didapatkan kepala normosefali, tidak didapatkan kerontokan rambut, pada kedua mata tidak ditemukan tanda anemia atau ikterus. Pemeriksaan telinga, hidung dan tenggorokan didapatkan kesan tenang dan pada leher tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah bening. Pada pemeriksaan thoraks didapatkan suara jantung dan paru dalam batas normal. Pada pemeriksaan abdomen tidak didapatkan adanya distensi, bising usus terdengar dalam batas normal. Pada ekstremitas atas dan bawah tidak terdapat edema dan teraba hangat. Tidak ditemukan kelainan pada kuku.
Status venereologi pada labia mayor, labia minor dan perianal didapatkan didapatkan papul multipel dengan permukaan verukosa, sewarna kulit, bentuk bulat, batas tegas, ukuran ∅ 0,3-0,5 cm (gambar 1).
(Gambar 1) (Gambar 2)
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis dengan kondiloma akuminata yang didiagnosis banding dengan kondiloma lata.
Pemerikaan acetowhite menggunakan asam asetat 4% pada lesi papul di labia mayor, labia minor dan perianal didapatkan pemutihan pada lesi. (gambar 2).
5 Diagnosis kerja pada pasien adalah kondiloma akuminata.
Penatalaksanaan yang diberikan adalah dilakukan tutul asam trikloroasetat (TCA) 80% (tutul pertama) pada lesi kondiloma akuminata yang akan dilakukan setiap minggu sampai lesi menghilang. Pasien diberi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) untuk tidak melakukan hubungan seksual selama pengobatan.
PENGAMATAN LANJUTAN I (Hari ke-7, 24 November 2016)
Pasien datang kembali untuk kontrol. Dari anamnesis didapatkan beberapa benjolan lama sudah mulai rontok. Benjolan baru tidak ada. Riwayat kontak seksual tidak ada.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, status present dan status generalis dalam batas normal. Status venereologi pada labia mayor, labia minor dan perianal didapatkan didapatkan papul multipel dengan permukaan verukosa, sewarna kulit, bentuk bulat, batas tegas, ukuran ∅ 0,2-0,4 cm . Erosi multipel, batas tegas, bentuk bulat - geografika, ukuran ∅ 0,3-0,5 cm dan 0,2x1 cm - 0,5x1,5 cm (gambar 3).
(Gambar 3)
Diagnosis kerja pada pasien adalah follow up kondiloma akuminata (membaik). Penatalaksanaan yang diberikan adalah tutul TCA 80% sekali setiap minggu sampai lesi menghilang. Pasien disarankan agar tidak kontak seksual selama pengobatan, kontak seksual selalu menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan seksual.
6 PEMBAHASAN
Human papilloma virus (HPV) sebagai penyebab KA tergolong dalam virus deoxyribonucleic acid (DNA) famili papillomaviridae dengan diameter 50-55 nm.
Virus ini menginfeksi lapisan basal epitel, namun replikasi virus hanya terjadi pada sel-sel keratinosit stratum granulosum dan spinosum yang telah berdiferensiasi secara lengkap. Masa inkubasi KA bervariasi dari 3 minggu hingga 8 bulan, namun virus juga dapat bersifat dorman pada lapisan epitel dan tidak menimbulkan manifestasi klinis sepanjang hidup penderitanya.3,9HPV 6 dan HPV 11 paling sering ditemukan pada kutil genital (kondiloma akuminata).
Human papilloma virus menginfeksi sel basal melalui mikroabrasi pada kulit. Mekanisme masuknya virus belum diketahui dengan pasti, kemungkinan perlekatan dimediasi oleh heparin sulfat proteoglikan. Masuknya virus ke dalam sel kemungkinan melalui endositosis yang dimediasi oleh chlatrin. Genom virus kemudian ditranslokasikan ke nukleus, setelah itu gen E1 dan E2 diekspresikan untuk mempertahankan salinan genom dalam jumlah yang rendah. Protein ini berikatan dengan daerah asal replikasi virus dan menarik DNA polimerase seluler serta protein lain yang dubutuhkan untuk replikasi DNA. Pada lapisan suprabasal, ekspresi gen E1, E2, E5, E6 dan E7 berkontribusi untuk mempertahankan genom virus dan menginduksi proliferasi sel, meningkatkan jumlah sel terinfeksi HPV pada epitel, menghasilkan sel dalam jumlah besar yang pada akhirnya memproduksi virion infeksius. Pada sel yang lebih berdiferensiasi terjadi aktivasi promotor diferensiasi dan mempertahankan ekspresi gen E1, E2, E6 dan E7.
Kemudian akan terjadi aktivasi gen E4 yang produknya akan menginduksi amplifikasi replikasi genom virus, meningkatkan jumlah salinan virus per sel dalam jumlah besar, dan dalam waktu bersamaan juga terjadiekspresi gen L1 dan L2. Produksi gen L1 dan L2 yaitu protein kapsid mayor dan minor, bergabung untuk pembentukan kapsid virus dan pembentukan virion pada lapisan granular, yang kemudian mencapai lapisan tanduk dan dilepaskan bersama dengan deskuamasi sel epitel.
3
10,11
7 Induksi karsinogenesis oleh HPV tipe risiko tinggi merupakan proses beberapa langkah dimana infeksi persisten merupakan kejadian awal yang menyebabkan inisiasi, namun perubahan genetik lanjutan diperlukan untuk transformasi sel yang terinfeksi menjadi ganas. Efek onkogenik ini disebabkan oleh ekspresi protein E6 dan E7 yang berikatan dengan dan menyebabkan inaktivasi gen supresor tumor p53 dan pRB. Human papilloma virus onkogenik juga mengganggu kontrol siklus sel dan apoptosis melalui gangguan jalur cyclindependent kinases (CDK)10,13
Infeksi HPV terutama ditularkan melalui hubungan seksual, baik genital- genital, oral-genital, maupun genital-anal. Kerentanan terhadap infeksi HPV dipengaruhi oleh faktor genetik (polimorfisme HLA kelas II), gangguan pada sistem imunitas (penderita HIV, resipien transplantasi renal dan kehamilan).
Faktor risiko terjadinya infeksi HPV genital adalah peningkatan jumlah pasangan seksual pasien maupun pasangan seksualnya, pasangan yang tidak melakukan sirkumsisi, riwayat merokok, dan faktor hormonal (kehamilan, menstruasi, konsumsi kontrasepsi oral).
14,15
Pada kasus, terdapat faktor kerentanan terhadap infeksi HPV berupa gangguan sistem imunitas yaitu adanya infeksi HIV. Faktor risiko penularan HPV terjadi melalui hubungan seksual, dimana dari anamnesis terdapat riwayat berhubungan dengan banyak pasangan seksual sejak usia sangat muda yaitu 18 tahun tanpa menggunakan kondom dan pasangan yang tidak melakukan sirkumsisi.
Kondiloma akuminata seringkali tidak menimbulkan keluhan pada penderitanya, tetapi dapat menyebabkan ketidaknyamanan karena dapat timbul rasa gatal, rasa terbakar, nyeri, perdarahan dan menimbulkan discharge. Terdapat 4 gambaran klinis kondiloma akuminata yakni kondiloma akuminata yang mempunyai gambaran seperti kembang kol; bentuk papular yaitu papul-papul yang berbentuk kubah dengan permukaan halus dan licin, diameter 1-4 mm;
bentuk keratotik yang mempunyai lapisan tebal pada permukaanya sehingga dapat menyerupai veruka vulgaris atau keratosis seboroik; dan bentuk papul datar yang tampak sebagai makula atau dengan sedikit peninggian. Secara umum kondiloma
8 paling sering terdapat pada area yang lembab dengan epitel berkeratin sebagian.
Pada lesi dengan ukuran besar dapat timbul perdarahan dan iritasi, akibat adanya gesekan.
Pada kasus, ditemukan gambaran klinis bentuk akuminata berupa papul - papul berbentuk oval dengan permukaan verukosa.
16,17
Diagnosis kondiloma akuminata dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemberian asam asetat membantu memperjelas visualisasi lesi dengan perubahan warna menjadi putih (acetowhite).
Pada tes asam asetat, lesi yang dicurigai dioleskan asam asetat 5% dengan lidi kapas, dalam 3-5 menit lesi akan berubah warna menjadi putih. Tidak seperti IMS yang lain, HPV tidak dapat dikultur dan tidak terdapat pemeriksaan serologis untuk mendeteksi HPV, namun terdapat pemeriksaan dengan teknik PCR untuk mendeteksi DNA HPV yang memiliki sensitivitas yang tinggi.18,19 Pemeriksaan PCR untuk diagnosis dan penentuan tipe virus bukanlah pemeriksaan rutin yang biasa tersedia dan umumnya hanya tersedia di pusat laboratorium penelitian.20 Pemeriksaan histopatologi dilakukan bila diagnosis meragukan, lesi memburuk selama pengobatan, pasien imunokompromais, berisiko tinggi untuk mengalami karsinoma anal atau lesi tidak merespon dengan pengobatan standar.18,19 Pada pemeriksaan histopatologi akan terlihat gambaran papilomatosis, akantosis, rete ridges yang memanjang dan menebal, parakeratosis dan vakuolisasi pada sitoplasma (koilositosis).18,21,22 Meskipun secara klinis lesi KA mudah untuk kenali, pada beberapa lesi sulit untuk dibedakan dengan lesi kondiloma akuminata. Kondiloma lata merupakan salah satu bentuk klinis sifilis sekunder yang ditandai dengan papul atau plak yang tampak lembab, hipopigmentasi dan maserasi dengan permukaan yang licin. Kondiloma lata memiliki kemiripan dengan kondiloma akuminata sebagai lesi yang meninggi, namun terdapat beberapa perbedaan, yaitu :1) KA tampak seperti kembang kol yang berlapis sedangkan kondiloma lata tampak licin, 2) KA tampak kering sedangkan kondiloma lata tampak lembab, dan 3) KA tampak berdungkul sedangkan kondiloma lata cenderung pipih. Apabila secara klinis juga sulit dibedakan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan mikroskop lapangan gelap
9 (Dark Field Microscope/DFM) dan pemeriksaan serologis VDRL dan TPHA pada lesi kondiloma akuminata.11,23
Pada kasus, pemeriksaan acetowhite menunjukkan hasil positif dan didiagnosis banding dengan kondiloma lata telah dapat disingkirkan dengan pemeriksaan mikroskop lapangan gelap (Dark Field Microscope/DFM) tidak ditemukan gambaran Treponema pallidum dan pemeriksaan serologis VDRL dan TPHA non reaktif. Walaupun pemeriksaan histopatologi tidak dikerjakan, namun dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang telah mendukung diagnosis kondiloma akuminata.
Penatalaksanaan kondiloma akuminata pada pasien bertujuan menghilangkan gejala klinis atau lesi yang tampak, sehingga dapat mencegah transformasi ke arah keganasan. Tanpa pengobatan, kondiloma akuminata dapat mengalami regresi, menetap, bertambah besar atau bertambah jumlahnya. Dibutuhkan beberapa kali waktu pengobatan untuk menghilangkan lesi kondiloma tersebut. Dengan demikian perlu diberikan penjelasan kepada pasien mengenai pengobatan yang diberikan dan kemungkinan untuk terjadinya rekurensi.
Terdapat berbagai modalitas terapi yang dapat digunakan dalam penatalaksanaan kondiloma akuminata. Pemilihan modalitas terapi tergantung ukuran dan jumlah lesi, lokasi anatomis, morfologi, pilihan dan kenyamanan pasien, biaya, efek samping dan pengalaman klinisi. Hampir seluruh modalitas terapi yang dilakukan terhadap kelainan ini bertujuan untuk menghasilkan kerusakan fisik dari sel yang terinfeksi tetapi tidak dapat mengeradikasi HPV.
Pada setiap modalitas terapi, bila lesi tidak memperlihatkan perbaikan bermakna setelah 3 kali terapi yang dilakukan oleh petugas kesehatan maka perlu dipertimbangkan terapi lain. Pada umumnya modalitas terapi kondiloma akuminata digolongkan menjadi dua kelompok besar yaitu terapi dengan menggunakan obat dan pembedahan. Center for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2010, merekomendasikan regimen terapi lini pertama dan terapi alternatif untuk kondiloma akuminata. Sebagai terapi lini pertama adalah podofiloks dan imiquimod yang dapat dilakukan sendiri oleh pasien serta terapi yang dilakukan oleh petugas kesehatan meliputi tindakan bedah (bedah beku,
18,24
10 eksisi skalpel atau gunting, kuretase, bedah listrik/elektrokauter), penggunaan tingtura podofilin dan asam triklorasetat (TCA). Sementara itu, terapi alternatif untuk KA mencakup bedah laser dan interferon intralesi.
Rekurensi pada kondiloma akuminata biasanya terjadi pada 3 bulan pertama setelah pengobatan. Pasien sebaiknya secara rutin memperhatikan apakah akan timbul lesi lagi atau kekambuhan. Sebaiknya pasien dianjurkan untuk dievaluasi atau kontrol 3 bulan lagi. Setelah follow up selama 3 bulan, dengan kondiloma akuminata sudah tidak tampak dan telah bersih serta tidak ada efek samping dari pengobatan, maka tidak diperlukan tindakan lebih lanjut pada pasien imunokompeten. Namun pada pasien imunokompromais, risiko terjadinya rekurensi lebih tinggi sehingga dianjurkan untuk tetap memperhatikan kemungkinan rekurensi tersebut.
25
Asam trikloroasetat (TCA) mempunyai konsentrasi yang bervariasi antara 80 - 90%. Bahan ini mampu berpenetrasi cepat dan memiliki efek kaustik dengan menimbulkan koagulasi dan nekrosis pada jaringan superfisial. Keuntungan dari TCA adalah sangat efektif untuk lesi yang kecuil. Selain itu, absorbsi sistemik rendah sehingga aman digunakan pada daerah vagina, anal dans serviks serta aman untuk wanita hamil. Asam trikloroasetat diaplikasikan secara hati - hati pada lesi hingga menjadi bentukan gambaran bekuan putih (frosting), dioleskan setiap minggu dan dapat diulang hingga maksimal 6 minggu. Angka keberhasilan terapi berkisar antara 70 hingga 80%.
24
Pada kasus, pengobatan yang diberikan adalah dengan tutul asam trikloroasetat (TCA) dengan konsentrasi 80%. Pengobatan direncanakan dilakukan setiap minggu secara bertahap. Respon pengobatan didapatkan berupa rontoknya beberapa lesi kondiloma akuminata.
26,27
Human Immunodeficiency Virus (HIV) sendiri termasuk dalam golongan retrovirus yang bersifat limfotropik pada manusia. Infeksi HIV dapat ditularkan melalui kontak seksual dengan orang yang terinfeksi, paparan terhadap darah yang mengandung virus (misalnya melalui penggunaan jarum suntik bersama atau transfusi darah), dan transmisi vertikal dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya.
Virus HIV bereplikasi pada organ limfoid selama infeksi. Stimulasi kronis dari
11 sistem imun menyebabkan aktivasi imun yang tidak tepat dan kelelahan sistem imun yang progresif sehingga terjadi kerusakan jaringan limfoid. Gangguan pada sistem imun ini menyebabkan tubuh tidak dapat mempertahankan imun respon yang spesifik terhadap HIV sehingga virus terus berkembang. Gangguan sistem imun juga menyebabkan tubuh menjadi rentan terhadap infeksi oleh patogen lainnya.24
Secara klinis World Health Organization (WHO) pada tahun 2003 membagi infeksi HIV dalam 4 stadium. Stadium I adalah infeksi HIV asimptomatik dan kadang hanya ditandai dengan limfadenopati generalisata.
Stadium II mencakup penurunan berat badan <10%, manifestasi kulit dan mukosa ringan, herpes zoster dalam 5 tahun terakhir dan radang saluran pernafasan atas yang berulang. Stadium III mencakup penurunan berat badan
>10%, diare kronik yang tidak dapat dijelaskan lebih dari 1 bulan, demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan, kandidiasis orofaringeal, oral hairy leukoplakia, infeksi bakteri yang berat dan tuberkulosis. Stadium IV mencakup wasting syndrome, pneumonia oleh Pneumocystis carinii, toksoplasmosis serebri, diare kriptosporodiosis lebih dari 1 bulan, kriptokokus ekstrapulmonal, retinitis oleh cytomegalovirus, herpes simpleks mukokutan lebih dari 1 bulan, leukoensefalopati multifokal progresif, mikosis diseminata, kandidiasis esofagus, mikobakteriosis atipikal diseminata, septikemia salmonelosis non tifoid, tuberkulosis ekstrapulmonal, limfoma, ensefalopati HIV dan sarkoma kaposi. Terapi antiretroviral (ARV) mulai diberikan pada pasien dengan jumlah sel CD4 <350 sel/mm
3 tanpa memandang stadium klinisnya dan dianjurkan pada semua pasien HIV positif dengan tuberkulosis aktif, ibu hamil dan koinfeksi hepatitis B tanpa memandang jumlah CD4.
Pada kasus, pasien didiagnosis HIV stadium I berdasarkan klinis yaitu asimptomatis, namun jumlah CD4 200 sel/mm
28
3 (<350 sel/mm3)
Prognosis kondiloma akuminata pada kasus adalah dubius karena pasien memiliki respon pengobatan yang baik namun adanya imunokompromais
dan diberi terapi ARV berupa kombinasi zidovudine, lamivudine dan nevirapine.
12 menyebabkan terdapat risiko rekurensi dan risiko perkembangan ke arah keganasan, yang selanjutnya perlu dilakukan observasi.
SIMPULAN
Dilaporkan satu kasus kondiloma akuminata pada seorang wanita yang disertai infeksi HIV stadium I. Gambaran klinis pada pasien adalah lesi papul verukosa multipel pada labia mayor, labia minor dan perianal yang memutih dengan pemeriksaan acetowhite. Respon pengobatan dengan TCA 80% selama 2 kali tutul adalah terdapat perbaikan yang signifikan dengan menghilangnya beberapa lesi.
Prognosis dari pasien adalah dubius karena walaupun telah terjadi perbaikan lesi kondiloma akuminata, adanya infeksi HIV dapat menyebabkan risiko terjadinya rekurensi dan risiko perkembangan ke arah keganasan.Pada pasien diberikan edukasi mengenai faktor predisposisi dan risiko penularan KA.
13 DAFTAR PUSTAKA
1. Mayer, K.H. and Carballo-Dieguez, A. Homosexual and Bisexual Behavior in Men in Relation to STDs and HIV Infection. In: Holmes, K.K., Sparling, P.F., Stamm, W.E., Piot, P., Wasserheit, J.N., Corey, L., Cohen, M.S. and Watts DH.
eds. Sexually Transmitted Diseases. Fourth edition. New York: McGraw-Hill;
2008, p. 203-18.
2. Goldstone, S.E. Diagnosis and treatment of HPV-Related Squamous Intraepithelial Neoplasia in Men who Have Sex with Men. The PRN Notebook 2005; 10(4); 11-6.
3. Winer RL, and Koutsky LA. 2008. Genital Human Papillomavirus Infection. In : Holmes KK, Sparling PF, Stam WE, Piot P, Wasserheit JN, Corey Lawrence, Cohen MS, Watts DH., editors. Sexually Transmitted Disease. 4 th
4. Androphy EJ, Welton, M.L. Human Papilloma Virus Infections. In : Wolff K, Goldsmith LA, Katz S, Gilchrest BA, Pallen AS, Leffell DJ, eds.. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 8
edition. New York: MacGraw-Hill. p.489-501
th
5. Thappa DM, Senthilkumar M, Laxmisha C. Anogenital wart-an overview.
Available from : INDIAN J SEX TRANSM DIS 2004;VOL,. 25 NO. 2, 55.
edition. New York: MacGraw-Hill; 2012 p.2421-33.
6. Gutman RE, Peipert JF, Weitzen S, Blume J. Evaluation of Clinical Methods for Diagnosing Bacterial Vaginosis. American College of Obstetrian and Gynecologists, Vol. 105, No. 3, 2005 : p: 551-6
7. Djuanda A. Penyakit Virus. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. p. 112-4.
8. Anonim. Register pasien poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar tahun 2015. Tidak dipublikasikan.
9. Rowen, D., Fox, P., Goon, P. Anogenital Human Pappilomavirus Infection:
Natural History, Epidemiology. In: Gupta, S., Kumar, B., eds. Sexually Transmitted Infections. 2nd
10. Egelkrout, E.M, Galloway, D.A. The Biology of Genital Human Papillomaviruses. In: Holmes KK, Sparling PF, Stamm WE, Piot P, Wasserheit JN, Correy L, Cohen MS, Watts DH, editors. Sexually Transmitted Diseases. 4
ed. Elsevier; 2012, p. 360-65.
th
11. Fernandes, J.V, Fernandes, T. A. A. Human Papillomavirus: Biology and Pathogenesis. In: Broeck DV, editors. Human Papillomavirus and Related Diseases-From Bench to Bedside-A Clinical Perspective. InTech; 2012.p.3-41 ed. New York: McGrawHill;2008.p.463-388
12. Song, D., Li, H., Dai, J. Effect of human papillomavirus infection on the immune system and its role in the course of cervical cancer. Oncology letters. 2015;
10:600-606
13. Yanofsky, V.R., Patel, R.V., Goldenberg. Genital Warts; A Comprehensive Review. Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology. 2012; 5(6): 25-36.
14. Garg, T., Chander, R., jain, A., Barara, M. Sexuallytransmitted disease among men who have sex with men: A retrospective analysis from Suraksha clinic in a tretiary care hospital. Indian J Sex Transm Dis. 2012; 33(1): 16-19
15. Wang, H.Y., Xu, J.J., Zou, H.C., reilly, K.H. Sexual Risk Behaviour and HIV Infection among Men and Women in China: evidence From A Systematic Review and Meta-Analysis. BioMed Research International. 2015; 6: 1-12
14 16. Sung, J.H., Ahn, E.J., Kwon, H., Park, S.E. Association of immune status with recurrent anal condylomata in human immunodeficiency virus-positive patients. J Korean Soc Coloproctol. 2012; 28(6):294-8.
17. Center for Disease Control and Prevention (CDC). Sexually Transmitted Diseases Treatment Guidelines, 2010. MMWR 2010; 59(No.RR-12): 1-109.
18. Griensven, F.V. and Wijngaarden, J.W. A Review of The Epidemiology of HIV Infection and Prevention Responses among MSM in Asia. AIDS 2010; 24 (suppl 3):S30–S40.
19. Grossman, D., Leffel, D.J. Squamous Cell Carcinoma. In: Goldsmith L.A., Katz S.I., Gilchrest B.A., Paller A.S., Leffell D.J., Wolff K., editors. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. 8th
20. Dunne, E.F., Burstein, G.R., Stone, K.M. Anogenital Human Papillomavirus Infection in Males. Adolescent Medicine 2003; 14(3): 613-32.
Ed. New York: McGraw Hill; 2012. p.
1283-93..
21. Zanotti, K.M., Belinson, J. Update on the Diagnosis and Treatment of Human Papillomavirus Infection. Cleveland Clinic Journal of Medicine 2002; 69: 2-9.
22. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Perawatan, dukungan dan Pengobatan bagi ODHA. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2003.
23. Desphande, D.J., Porro, A.M., Junior, G.f.s., Tomimori, J. Human papillomavirus infection: etiopathogenesis, molecular biology and clinical manifestations. An Bras Dermatol. 2011; 86(2): 306-17
24. Tonna, M.C. Anal condyloma acuminatum. Gastroenterology Nursing. 2009;
32(5): 342-9.
25. Kreuter, A., Wieland, U. Human papillomavirus-associated diseases in HIV- infected men who have sex with men. Current Opinion in Infectious Disease.
2009; 22:109-114.
26. Fathi, R., Tsouks, M.M. Genital warts and other HPV infections: Established and novel therapies. Clinic in Dermatology. 2014; 32: 299-306
27. Gormley, R.H, Kovarik, C.L. Human papilloma virus-related genital disease in the immunocompromised host: part II. J Am Acad Dermatol. 2012; 66(6): 883.1- 14
28. Anonim. Tatalaksana pemberian ARV. Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada orang Dewasa. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.2011. hal. 14-26.
15