SKRIPSI
PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, DANA PERIMBANGAN, PENDAPATAN ASLI DAERAH TERHADAP ALOKASI BELANJA
MODAL PADA KABUPATEN/KOTA SUMATERA UTARA PERIODE 2012-2016
OLEH :
SILFI PUSPITA 140503045
PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah Terhadap Alokasi Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota Sumatera Utara Periode 2012-2016” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan, atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi untuk Program S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara.
Medan, Desember 2018 Yang Membuat Pernyataan
Silfi Puspita NIM. 140503045
ABSTRAK
PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, DANA PERIMBANGAN, PENDAPATAN ASLI DAERAH TERHADAP ALOKASI BELANJA
MODAL PADA KABUPATEN/KOTA SUMATERA UTARA PERIODE 2012-2016
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi, dana perimbangan, dan pendapatan asli daerah terhadap belanja modal di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2012-2016.
Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif/hubungan. Bentuk hubungan yang digunakan adalah hubungan kasual atau hubungan sebab akibat. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder. Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 23 sampel dengan periode pengamatan 5 tahun (2012- 2016), sehingga jumlah data penelitian ini sebanyak 115 amatan. Teknik pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Dan metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi data panel yang akan dilakukan menggunakan bantuan software EVIEWS.
Hasil yang ditemukan dalam penelitian yaitu pendapatan asli daerah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. Sedangkan pertumbuhan ekonomi dan dana pperimbangan secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap belanja modal. Hasil lainnya yaitu pertumbuhan ekonomi, dana perimbangan dan pendapatan asli daerah secara simultan berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.
Kata Kunci: Pertumbuhan ekonomi, dana perimbangan, pendapatan asli daerah, belanja modal
ABSTRACT
INFLUENCE OF ECONOMIC GROWTH, EQUALIZATION FUNDS, REGIONAL ORIGINAL INCOME ON THE CAPITAL EXPENDITURE IN
REGENCY/CITY AT NORTH SUMATRA PROVINCE PERIOD 2012-2016 This study aims to determine the effect of economic growth, equalization funds, and local revenues on capital expenditures in the province of North Sumatra in 2012-2016.
This type of research is associative research / relationships. The form of relationship used is a casual relationship or cause and effect relationship. In this research the data used is secondary data. The number of samples used is 23 sample with a observation period of 5 years (2012-2016), so that the amount of this research data was as much as 115 observations. The sample selection technique used purposive sampling technique. And the method of data analysis used is panel data regression analysis which will be done using EVIEWS software aid.
The results found in the study of local revenue are partially significant effect on capital expenditure. While economic growth, and equalization funds does not significantly affect capital expenditure. Other outcomes are economic growth, equalization funds, and local revenues simultaneously have a significant effect on capital expenditures.
Keywords: Economic growth, equalization funds, regional original income, capital expenditures
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis telah mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah Terhadap Alokasi Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota Sumatera Utara Periode 2012-2016” ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis sangat bersyukur atas penyelesaian skripsi ini, dimana skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi penyelesaian pendidikan Program Strata Satu (S1) pada Program Sarjana di Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Sumatera Utara.
Shalawat beriring salam kita sanjungkan kepangkuan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat ini.
Selama penyusunan skripsi ini, Penulis telah banyak menerima bimbingan, dukungan, saran, motivasi serta doa dari berbagai pihak selama penulisan skripsi ini.
Teristimewa untuk kedua orang tua saya yang sangat saya kagumi dan cintai yaitu Ayahanda Alm. Junaidi dan Ibunda Siti Rumida yang tidak pernah lelah memberikan kasih sayang, doa, nasihat serta semangat yang tulus hingga saat ini.
Kemudian kepada kakak saya Fitrah Febriani dan adik saya Azisal Fauzan yang selalu memberikan semangat, serta kepada keluarga besar saya yang selalu memberikan doa dan dukungannya.
Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE., M.S selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak., CPA., selaku ketua Departemen/Program Studi S1 Akuntansi dan Bapak Alm. Drs. Syahrul Rambe M.M., Ak., selaku Sekretaris Departemen/Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Iskandar Muda, SE., M.Si, Ak selaku Dosen Pembimbing, yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta semangat dalam proses penyelesaian skripsi ini. Kepada Bapak Drs. Rasdianto, M.Si, Ak selaku Dosen Penguji dan Bapak Drs. Chairul Nazwar, M.Si, Ak selaku Dosen Pembanding, atas segala saran dan masukan positif yang telah diberikan kepada saya selama ini.
4. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara khusunya Dosen Jurusan Akuntansi yang telah memberikan ilmu selama perkuliahan berlangsung, serta kepada pegawai yang telah memberikan bantuan administrasi kepada saya selama ini.
5. Sahabat-sahabat penulis selaku teman seperjuangan yaitu MTMB Girls diantaranya Mutiara, Amel, Indah, Onny, Hilda, Yoyo, Yuli yang telah memberikan penulis doa dan dukungan, serta EXO, Blackpink, iKON yang telah memberikan semangat.
6. Keluarga besar HMI Komisariat FE USU serta semua teman-teman seperjuangan S-1 Akuntansi FEB USU angkatan 2014, semoga kita senantiasa diberikan kebaikan serta kesuksesan untuk setiap langkah oleh Allah SWT.
Saya berharap skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak. Saya juga berharap semoga skripsi ini dapat menjadi bahan referensi bagi penelitian selanjutnya dan dapat menambah ilmu bagi yang membaca. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih banyak dan mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk setiap kesalahan dan kekhilafan.
Medan, Desember 2018 Penulis
Silfi Puspita NIM. 140503045
DAFTAR ISI
HALAMAN
PERNYATAAN ...i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ...iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ...xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 7
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori ... 9
2.1.1 Alokasi Belanja Modal ... 9
2.1.2 Pertumbuhan Ekonomi ... 11
2.1.3 Dana Perimbangan ... 12
2.1.4 Pendapatan Asli Daerah ... 20
2.2. Penelitian Terdahulu ... 23
2.3. Kerangka Konseptual ... 26
2.4. Hipotesis Penelitian ... 27
2.4.1 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Alokasi Belanja Modal ... 27
2.4.2 Pengaruh Dana Perimbangan terhadap Alokasi Belanja Modal ... 28
2.4.3 Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Alokasi Belanja Modal ... 29
2.4.4Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Dearah terhadap Alokasi Belanja Modal ... 30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian ... 33
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 33
3.3. Batasan Operasional ... 34
3.4. Defenisi Operasional ... 34
3.4.1 Alokasi Belanja Modal ... 35
3.4.2 Pertumbuhan Ekonomi ... 35
3.4.3 Dana Perimbangan ... 35
3.4.4 Pendapatan Asli Daerah ... 37
3.5. Skala Pengukuran Variabel ... 38
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian ... 39
3.6.1 Populasi Penelitian ... 39
3.6.2 Sampel Penelitian ... 41
3.7 Jenis Data Penelitian ... 41
3.8 Metode Pengumpulan Data ... 42
3.9 Teknik Analisis Data ... 42
3.9.1 Analisis Deskriptif ... 42
3.9.2 Analisis Regresi Data Panel ... 43
3.9.3 Uji Asumsi Klasik ... 47
3.9.4 Pengujian Hipotesis ... 50
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... ... 54
4.1 Data Penelitian... ... 54
4.2 Analisis Data... ... 54
4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif... ... 54
4.2.2 Uji Asumsi Klasik... ... 56
4.2.2.1 Uji Normalitas... ... 56
4.2.2.2 Uji Multikolonearitas... ... 57
4.2.2.3 Uji Autokorelasi... ... 57
4.2.2.4 Uji Heteroskedastisitas... ... 58
4.2.3 Penentuan Model Estimasi antara CEM dan FEM dengan Uji Chow... ... 58
4.2.4 Penentuan Model Estimasi antara FEM dan REM dengan Uji Hausman... ... 59
4.2.5 Pengujian Hipotesis... ... 60
4.2.6 Analisis Koefisien Determinasi... ... 61
4.2.7 Uji Signifikan Pengaruh Simultan (F)... ... 61
4.2.8 Persamaan Regresi Data Panel dan Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t)... ... 62
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian... ... 63
4.3.1 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Alokasi Belanja Modal... ... 63
4.3.2 Pengaruh Dana Perimbangan Terhadap Alokasi Belanja Modal... ... 63
4.3.3 Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Alokasi Belanja Modal... ... 64
4.3.4 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah Terhadap Alokasi Belanja Modal... ... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... ... 66
5.1 Kesimpulan... ... 66
5.2 Saran... ... 66
DAFTAR PUSTAKA ... 68
LAMPIRAN.... ... 73
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
2.1 Daftar Penelitian Terdahulu. ... 23
3.1 Skala Pengukuran Variabel ... 38
3.2 Daftar Pemerintahan Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara ... 40
4.1 Uji Statistik Deskriptif... ... 55
4.2 Uji Multikolonieritas... ... 57
4.3 Uji Autokolerasi... ... 58
4.4 Uji Heterokedastisitas... ... 58
4.5 Uji Chow... ... 59
4.6 Uji Hausman... ... 60
4.7 Uji F dan Uji t... ... 61
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
2.1. Kerangka Konseptual ... 26 4.1 Uji Normalitas dengan Uji Jarque-Bera ... 56
DAFTAR LAMPIRAN
No.Lampiran Judul Halaman
Lampiran 1 Data ... 73 Lampiran 2 Hasil uji Eviews ... 76
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perubahan kepemimpinan nasional dari Orde Baru menuju Orde Reformasi, pola hubungan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Pusat mengalami perubahan, dimana sebelum reformasi, sistem pemerintahan yang dianut bersifat sentralistik, kemudian semenjak tahun 1999 berubah menjadi sistem desentralisasi atau yang sering dikenal sebagai era otonomi daerah yang ditandai dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah yang telah dilakukan revisi menjadi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 kemudian dikeluarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dimana Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan pemerintahan daerah sehingga perlu diganti.
Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 mengatur mengenai kewenangan pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan diarahkan untuk mempercepat kesejahteraan rakyat, termasuk kewenangan untuk melakukan pengelolaan keuangan daerah sendiri. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari beban anggaran pendapatan dan belanja daerah yang disusun
secara tahunan dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Dalam menjalankan otonomi daerah, pemerintah daerah dituntut untuk menjalankan roda pemerintahan secara efisien dan efektif, mampu mendorong peran serta masyarakat dalam pembangunan, serta meningkatkan pemerataan dan keadilan dengan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Banyak hal yang ingin dicapai melalui otonomi daerah. Anggaran daerah merupakan rencana keuangan yang menjadi dasar dalam pelaksanaan pelayanan publik.
Pemberian otonomi daerah berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi suatu daerah karena memberikan kebebasan kepada pemerintah daerah untuk membuat rencana keuangan sendiri dan membuat kebijakan-kebijakan yang dapat bepengaruh pada kemajuan daerahnya. Pertumbuhan Ekonomi mendorong pemerintah daerah untuk melakukan pembangunan ekonomi dengan mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu kemitraan dengan masyarakat untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru yang akan mempengaruhi perkembangan kegiatan ekonomi daerah tersebut (Mudrajat Kuncoro, 2004). Kenyataan yang terjadi dalam pemerintah daerah saaat ini adalah dengan adanya peningkatan Pertumbuhan Ekonomi ternyata tidak diikuti dengan peningkatan Belanja Modal hal ini dapat dilihat dari kecilnya jumlah Belanja Modal dibandingkan dengan jumlah Belanja Pegawai.
Insfrastruktur dan sarana prasarana yang ada didaerah akan berdampak kepada Pertumbuhan Ekonomi. Jika sarana dan prasarana memadai maka masyarakat akan dapat melakukan aktivitas sehari-harinya secara aman dan nyaman yamg akan
berpengaruh pada tingkat produktivitasnya semakin meningkat, dan dengan adanya insfrasturktur yang memadai akan mendorong atau menarik investor untuk membuka usaha di daerah tersebut. Dengan bertambahnya Pendapatan Asli Daerah maka akan berdampak pada periode yang akan datang yaitu produktivitas masyarakat meningkat dan bertambahnya investor akan meningkatkan Belanja Modal.
Pemerintah daerah mengalokasikan dana dalam bentuk anggaran belanja modal dalam APBD untuk menambah aset tetap. Alokasi belanja modal ini didasarkan pada kebutuhan daerah akan sarana dan prasarana, baik untuk kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan maupun untuk fasilitas publik. Selama ini belanja daerah lebih banyak digunakan untuk belanja rutin yang relatif kurang produktif. Pemanfaatan belanja lebih baik dialokasikan untuk hal-hal produktif, misalnya untuk melakukan aktivitas pembangunan, kemudian penerimaan pemerintah hendaknya lebih banyak untuk program-program layanan publik, pendapat ini menyiratkan pentingnya mengalokasikan belanja untuk berbagai kepentingan publik (Darwanto dan Yustikasari, 2007). Belanja modal (capital expenditures) merupakan belanja yang dibutuhkan untuk menyediakan aset tetap yang dibutuhkan pemerintah, baik untuk operasional maupun untuk melaksanakan fungsi pelayanan publik yang bersangkutan seperti biaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang-barang modal yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan, antara lain pembelian tanah, gedung, mesin dan kendaraan, peralatan, instalasi dan jaringan, furniture, software, dan sebagainya (Farel, 2015). Di dalam jenis belanja modal diperhitungkan total kebutuhan dana
untuk pengadaan aset ditambah pajak dan marjin keuntungan pihak ketiga yang akan menjadi pelaksana kegiatan pengadaan asset tersebut.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, salah satu sumber pendapatan daerah adalah PAD yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah. Peningkatan PAD diharapkan meningkatkan investasi belanja modal pemerintah daerah sehingga kualitas pelayanan publik semakin baik tetapi yang terjadi adalah peningkatan pendapatan asli daerah tidak diikuti dengan kenaikan anggaran belanja modal yang signifikan hal ini disebabkan karena pendapatan asli daerah tersebut banyak digunakan untuk membiayai belanja lainnya.
Setiap daerah mempunyai kemampuan keuangan yang tidak sama dalam mendanai kegiatan-kegiatannya, hal ini menimbulkan ketimpangan fiskal antara satu daerah dengan daerah lainnya. Oleh karena itu, untuk mengatasi ketimpangan fiskal pemerintah mengalokasikan dana yang bersumber kepada APBN untuk mendanai kebutuhan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi. Salah satu dana perimbangan dari pemerintah ini adalah Dana Alokasi Umum (DAU) yang pengalokasiannya menekankan aspek pemerataan dan keteradilan yang selaras dengan penyelengaraan urusan pemerintahan (UU 32/2004). Dengan adanya transfer dari pusat ini diharapkan pemerintah daerah bisa mengalokasikan PAD yang didapatnya untuk membiayai Belanja Modal di daerahnya. Namun pada kenyataannya, transfer dari pemerintah pusat merupakan sumber dana utama pemerintah daerah untuk membiayai operasi
utamanya sehari-hari atau belanja daerah. Belanja Modal merupakan bagian dari belanja daerah yang juga didanai dari DAU, dan diperhitungkan oleh pemerintah daerah dalam APBD.
Terkait dengan hal diatas, Astuti (2013) melakukan penelitian tentang Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan Terhadap Pengalokasian Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Data yang digunakan adalah laporan realisasi APBD dari tahun 2009-2011. Hasil penelitiannya ini menunjukkan bahwa secara parsial Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi Khusus berpengaruh secara signifikan positif terhadap pengalokasian belanja modal. Sedangkan Dana Alokasi Umum dan Dana Bagi Hasil Pajak dan Sumber Daya Alam tidak berpengaruh terhadap pengalokasian belanja modal. Secara simultan, Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Bagi Hasil Pajak dan Sumber Daya Alam mempunyai pengaruh signifikan positif terhadap pengalokasian belanja modal. Kemudian Yusin (2015) melakukan penelitian mengenai Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Luas Wilayah terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Data yang digunakan adalah laporan realisasi APBD dari tahun 2011-2013. Hasil penelitiannya ini menunjukkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum, dan Luas Wilayah secara bersamaan atau simultan berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal pada kabupaten/Kota di Sumatera Utara. PAD berpengaruh tidak signifikan terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota Sumatera Utara, hal ini dikarenakan masih kecilnya dana yang didapatkan dari PAD Sumatera Utara. Dana
Alokasi Umum berpengaruh signifikan terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, sedangkan Luas Wilayah berpengaruh tidak signifikan terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.
Perbedaan penelitian yang dilakukan Astuti dan Yusin terletak pada variabel penelitiannya. Astuti lebih merincikan dana perimbangan baik itu yang berasal dari dana alokasi umum, dana alokasi khusus dan dana bagi hasil pajak dan sumber daya alam tetapi tidak memasukkan variabel luas wilayah. Perbedaan peneliti terdahulu lainnya terletak pada periode waktu penelitian. Penelitian terdahulu meneliti dengan data yang ada pada tahun 2009-2013. Oleh karena keterbatasan penelitian terdahulu tersebut, saya selaku penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan lebih banyak sample yang akan diteliti yaitu pada tahun 2012-2016.
Berdasarkan penjelasan di atas peneliti akan membuat karya ilmiah berupa skripsi dengan judul “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara Periode 2012-2016”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis membuat perumusan masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah Pertumbuhan Ekonomi bepengaruh terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Sumatera utara?
2. Apakah Dana Perimbangan berpengaruh terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara?
3. Apakah Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara?
4. Apakah Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah berpengaruh secara simultan terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di atas adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara.
2. Untuk mengetahui pengaruh Dana Perimbangan terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara.
3. Untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara.
4. Untuk mengetahui pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai pemerintahan daerah yang sehubungan dengan pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota Sumatera Utara.
2. Bagi Pemerintah Daerah, diharapkan hasil penelitian menjadi bahan rujukan serta tambahan informasi dalam hal pengelolaan keuangan daerah baik itu dari segi Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah, serta pemanfaatan pengeluaran berupa Belanja Modal di Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara sehingga pemerintah daerah dapat memanfaatkan potensi wilayah dengan efektif dan efisien.
3. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi ilmiah serta sumber referensi untuk melakukan penelitian yang sejenis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Alokasi Belanja Modal
Belanja modal adalah belanja yang digunakan dalam rangka pengadaan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan. Dalam Erlina, dan Rasdianto (2013), nilai aset tetap dalam belanja modal yaitu sebesar harga beli/bangun aset ditambah seluruh belanja yang terkait dengan pengadaan/pembangunan aset sampai aset tersebut siap digunakan. Syaiful (2006) menjelaskan bahwa belanja modal dapat dikategorikan menjadi 5 (lima) kategori utama, yaitu:
a. Belanja tanah
Belanja tanah adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/pembelian/penyelesaian, balik nama dan sewa tanah, pengosongan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat, dan pengeluaran lainnya sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dan sampai tanah dimaksud dalam kondisi siap pakai.
b. Belanja peralatan dan mesin
Belanja peralatan dan mesin adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin serta inventaris kantor yang memberikan manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan dan sampai peralatan dan mesin dimaksud dalam kondisi siap pakai.
c. Belanja gedung dan bangunan
Belanja gedung dan bangunan adalah pengeluaran/ biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah kapasitas sampai gedung dan bangunan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
d. Belanja jalan, irigasi, dan jaringan
Belanja jalan, irigasi dan jaringan adalah pengeluaran atau biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian atau peningkatan pembangunan/pembuatan serta perawatan, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan jalan irigasi dan jaringan yang menambah kapasitas sampai jalan irigasi dan jaringan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
e. Belanja fisik lainnya
Belanja Fisik Lainnya adalah pengeluaran biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian/peningkatan atau pembangunan serta perawatan terhadap fisik lainnya yang tidak dapat dikategorikan kedalam kriteria belanja modal tanah, peralatan dan mesin gedung dan bangunan, dan jalan irigasi dan jaringan.
2.1.2 Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Boediono (1999), pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output perkapita yang diproksi den gan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang
digunakan untuk mengukur total nilai barang dan jasa yang dihasilkan pada suatu daerah. Menurut konsep teori ekonomi untuk mengukur total nilai barang dan jasa yang dihasilkan pada suatu negara atau nasional adalah Produk Domestik Bruto (PDB). Menurut Samuelson dan Nordhaus (2005) bahwa ada empat faktor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Faktor-faktor tersebut adalah (1) sumber daya manusia, (2) sumber daya alam,(3) pembentukan modal, dan (4) teknologi. Bahwa pengeluaran pemerintah berperan dalam pembentukan modal melalui pengeluaran pemerintah diberbagai bidang seperti sarana dan prasarana.
Produk Domestik Bruto merupakan indikator makro ekonomi yang pada umumnya digunakan untuk mengukur kinerja ekonomi di suatu Negara, untuk tingkat wilayah, provinsi maupun Kabupaten/Kota, digunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Secara teori dapat dijelaskan bahwa PDRB merupakan bagian dari PDB, sehingga dengan demikian perubahan yang terjadi di tingkat regional akan bepengaruh terhadap PDB atau sebaliknya. Penyajian angka - angka dalam PDRB dibedakan menjadi dua, yaitu PDRB atas dasar harga berlaku dan PDRB atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah dari barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga yang berlaku pada tahun berjalan setiap tahun. PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan memamakai harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar. PDRB menurut harga konstan banyak digunakan untuk menganalisis suatu perkembangan, karena data ini memberikan informasi yang lebih rill setelah dikoreksi atas pengaruh inflasi.
2.1.3 Dana Perimbangan
Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2016 menyatakan bahwa dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi yang terdiri atas Dana Transfer Umum dan Dana Tranfser Khusus. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 mengatur tentang pembagian dana perimbangan, sumber- sumber dana bagi hasil, mekanisme pengalokasian dana bagi hasil, mekanisme pengalokasian dana alokasi umum, mekanisme pengalokasian dana alokasi khusus, pemantauan serta evaluasi.
Dana perimbangan adalah pendapatan yang diterima pemerintah daerah yang berasal dari sumber eksternal dan tidak memerlukan adanya pembayaran kembali (Patrick, 2007). Dana perimbangan ini merupakan hasil kebijakan pemerintah pusat dibidang desentralisasi fiskal demi keseimbangan fiskal antara pusat dan daerah, yang terdiri dari Dana Bagi Hasil (pajak dan sumber daya alam) dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar daerah.
Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dengan adanya era desentralisasi, pengawasan keuangan
terhadap pemerintah daerah harus lebih efektif dilakukan oleh pemerintah pusat agar tercipta suasana pemerintahan daerah yang transparan dan akuntabel. Pengawasan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan membentuk Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang melaksanakan fungsi pengawasan keuangan internal dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang melakukan fungsi pengawasan eksternal (Cahyat, 2004). UU No. 33 Tahun 2004 pada Pasal 1 ayat 19, menjelaskan Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dan Pasal 10 ayat 1 menjelaskan dana perimbangan terdiri atas: Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus. Menurut Permendagri No.32 Tahun 2008, dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, kepada daerah diberikan Dana Perimbangan melalui APBN yang bersifat transfer dengan prinsip money follows function. Salah satu tujuan pemberian Dana Perimbangan tersebut adalah untuk mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah dengan daerah dan antar daerah, serta meningkatkan kapasitas daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah. Dana perimbangan dihitung dengan perbandingan antara dana perimbangan dengan total pendapatan.
Adapun pembagian dana perimbangan yaitu:
1. Dana Alokasi Umum
DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dari pengertian yang
diambil dari Undang-undang nomor 33 tahun 2004 tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa DAU merupakan sarana untuk mengatasi ketimpangan fiskal antar daerah dan di sisi lain juga memberikan sumber pembiayaan daerah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa DAU lebih diprioritaskan untuk daerah yang mempunyai kapasitas fiskal yang rendah. Menurut Undang-undang nomor 33 tahun 2004 porsi DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam APBN.
Sementara itu, proporsi pembagian DAU untuk Provinsi dan Kabupaten/Kota ditetapkan sesuai dengan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. Secara definisi DAU dapat diartikan sebagai berikut (Sidik, 2003:25) :
1. Salah satu komponen dan perimbangan pada APBN yang pengalokasiannya didasarkan atas konsep kesenjangan fiskal atau selah fiskal yang selisih antara kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal.
2. Instrumen untuk mengatasi horizontal imbalance yang dialokasikan dengan tujuan peningkatan kemampuan keuangan antar daerah dan penggunaannya ditetapkan sepenuhnya oleh daerah.
3. Equalization grant, berfungsi untuk menetralisasi ketimpangan kemampuan keuangan dengan adanya PAD, bagi hasil pajak, dan bagi hasil SDA yang diperoleh daerah otonomi dan pembangunan daerah.
2. Dana Alokasi Khusus
DAK adalah dana yang bersumber dari Pendapatan APBN & dialokasikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah sesuai prioritas nasional. Tujuan DAK adalah membantu daerah tertentu untuk mendanai kebutuhan sarana prasarana pelayanan dasar masyarakat dan untuk mendorong percepatan pembangunan daerah dan pencapaian sasaran prioritas nasional. DAK dimaksudkan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah tertentu yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah. DAK memiliki karakter yang paling spesifik di antara dana transfer lainnya di mana DAK hanya dapat digunakan sesuai dengan menu kegiatan yang ditetapkan oleh Departemen Teknis yang terkait dengan bidang alokasi DAK. DAK dapat dikategorikan sebagai matching grant karena adanya kewajiban penyediaan dana pendamping dan sekaligus restricted grant karena
karakternya sebagai categorical grant-in-aid. (Mardiasmo, 2006).
Pengalokasian DAK ditentukan dengan memperhatikan tersedianya dana dalam APBN. Kegiatan khusus yang akan didanai dari DAK diusulkan oleh Menteri Teknis dan baru ditetapkan setelah berkoordinasi dengan Mentri Dalam Negeri, Mentri Keuangan, dan Mentri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, sesuai dengan Renja Pemerintah. Ketetapan tentang kegiatan khusus tersebut disampaikan kepada Mentri Keuangan. Setelah menerima usulan kegiatan
khusus, Menteri Keuangan melakukan penghitungan alokasi DAK, yang dilakukan melalui dua tahapan, yaitu:
1. Penentuan daerah tertentu yang menerima DAK. Daerah tersebut harus memenuhi kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.
2. Penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah, yang ditentukan dengan perhitungan indeks berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Kriteria umum adalah perumusan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja Pegawai Negeri Sipil Daerah.
3. Dana Bagi Hasil
Menurut Erlina (2012 : 29), Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan pada daerah dengan memperhatikan potensi daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah. Dana Bagi hasil terdiri dari DBH Pajak dan DBH Sumber Daya Alam.
a. Dana Bagi Hasil Pajak
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 menyatakan bahwa DBH yang bersumber dari pajak dan sumber daya alam. DBH yang bersumber dari Pajak terdiri atas :
PBB (Pajak Bumi dan Bangunan)
BPHTB (Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan)
PPh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.
Penerimaan Negara dari PBB dibagi dengan imbangan 10% untuk Pemerintah dan 90% untuk daerah. DBH PBB untuk daerah sebesar 90%
dibagi dengan rincian 16,2 % untuk provinsi yang bersangkutan, 64,8 % untuk kabupaten/kota yang bersangkutan, dan 9% untuk biaya pemungutan.
Sedangkan bagian pemerintah yang 10% dialokasikan untuk seluruh kabupaten dan kota, dengan rincian 6,5 % dibagikan secara merata kepada seluruh kabupaten dan kota, dan 3,5 % dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten dan/ kota yang realisasi penerimaan PBB sector Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya mencapai/ melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan.
Penerimaan Negara dari Biaya Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dibagi dengan imbangan 20 % untuk Pemerintah dan 80% untuk daerah. DBH BPHTB untuk daerah sebesar 80% dibagi dengan rincian 16%
untuk provinsi yang bersangkutan, dan 64 % untuk kabupaten/kota yang bersangkutan. Sedangkan bagian pemerintah yang 20% dialokasikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota.
Penerimaan Negara dari PPh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 dibagikan kepada daerah sebesar 20 % dengan rincian 8%
untuk provinsi yang bersangkutan dan 12% untuk kabupaten/kota dalan provinsi yang bersangkutan.
Penyaluran DBH PBB dan BPHTB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan PBB dan BPHTB tahun anggaran berjalan dengan 3 (tiga) tahap yaitu bulan April, Agustus, dan November. Sedangkan Penyaluran DBH PPh WPOPDN dan PPh Pasal 21 dilaksanakan berdasarkan prognosa realisasi penerimaan PPh WPOPDN dan Pasal 21 tahun anggaran berjalan dan dilaksanakan secara triwulan yaitu:
1. Penyaluran triwulan pertama sampai dengan triwulan ketiga masing-masing sebesar 20% dari alokasi sementara.
2. Penyaluran triwulan keempat didasarkan pada selisih antara Pembagian Definitif dengan jumlah dana yang telah dicairkan selama
triwulan pertama sampai dengan triwulan ketiga.
Jika terjadi kelebihan penyaluran karena penyaluran triwulan pertama sampai dengan triwulan ketiga yang didasarkan atas pembagian sementara lebih besar daripada pembagian definitif maka kelebihan dimaksud diperhitungkan dalam penyaluran tahun anggaran berikutnya.
Penetapan alokasi DBH Pajak ditetapkan oleh Menteri Keuangan. DBH pajak itu sendiri disalurkan dengan cara pemindahbukuan dari rekening kas umum negara ke rekening kas umum daerah.
b. Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya Alam)
Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya Alam) berasal dari penerimaan sumber daya alam kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan panas bumi.
Penyaluran Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan sumber daya alam tahun anggaran berjalan dan dilaksanakan secara triwulan. Penyaluran ini dilaksanakan dengan cara pemindahbukuan dari rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah.
Penetapan alokasi sumber daya alam yang berada pada wilayah yang berbatasan atau berada pada lebih dari satu daerah, Mentri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil sumber daya alam berdasarkan pertimbangan mentri teknis terkait paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari Mentri Teknis. Mentri Teknis bertugas menetapkan daerah penghasil dan dasar perhitungan DBH Sumber Daya Alam paling lama 60 hari sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan setelah berkonsultasi dengan Mentri Dalam Negeri.
2.1.4 Pendapatan Asli Daerah
Menurut Mardiasmo (2002: 132) pendapatan asli daerah adalah penerimaan yang diperoleh dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik
daerah, hasil pengeloalaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Penerimaan yang digali di daerah tersebut digunakan sebagai modal dasar pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan dan usaha–usaha daerah untuk memperkecil ketergantungan dana dari pemerintah pusat. Tujuan dari PAD yakni untuk memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan Desentralisasi. Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, salah satu sumber pendapatan daerah adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber di dalam daerahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber penerimaan daerah asli yang digali di daerah tersebut untuk digunakan sebagai modal dasar pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan dan usaha-usaha daerah untuk memperkecil ketergantungan dana dari pemerintah pusat. Adapun kelompok PAD yang dipisahkan menjadi empat jenis pendapatan, diantaranya:
1. Pajak Daerah
Berdasarkaun UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang dimaksud pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pajak tersebut digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah.
Jenis-jenis pajak kabupaten/kota terdiri atas pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan Jalan, pajak mineral bukan logam dan batuan, pajak parkir, pajak air tanah, pajak sarang burung walet, pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan, dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. Sedangkan yang termasuk pajak daerah untuk provinsi adalah pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak air permukaan, dan pajak rokok.
2. Retribusi Daerah
Berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2009 Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Beberapa kelompok retribusi daerah, yakni: Retribusi jasa umum, adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Retribusi jasa usaha, adalah retribusi atas jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta. Retribusi perizinan tertentu, adalah retribusi atas kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pembinaan,
pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, serta penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
3. Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan
Hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan merupakan penerimaan daerah yang berasal dari pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD dan bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta maupun kelompok masyarakat.
4.Lain-lain Pendapatan yang Sah
Berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2004 menjelaskan Pendapatan Asli Daerah yang sah, disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pendapatan ini juga merupakan penerimaan daerah yang berasal dari lain-lain milik pemerintah daerah. Undang-undang nomor 33 tahun 2004 mengklasifikasikan yang termasuk dalam pendapatan asli daerah yang sah meliputi: (1) hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan; (2) jasa giro;
(3) pendapatan bunga; (4) keuntungan adalah nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing; (5) komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan, pengadaaan barang ataupun jasa oleh pemerintah.
2.2 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Daftar Penelitian Terdahulu Peneliti Judul Penelitian Variabel
Yang Digunakan
Hasil Penelitian
Gultom (2011)
Pengaruh Petumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan Terhadap Pengalokasian Belanja Modal
Pada Pemerintahan Kabupaten
Kota di Provinsi Sumatera Utara
Independen:
1. Pertumbuhan Ekonomi 2. PAD 3. Dana Perimbangan
Dependen:
Belanja Modal
Secara simultan
Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli
Daerah, Dana Perimbangan
berpengaruh terhadap pengalokasian belanja modal.
Secara parsial
Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh negatif terhadap pengalokasian belanja modal, PAD berpengaruh positif tetapi
tidak signifikan, Dana Perimbangan
berpengaruh signifikan positif
terhadap pengalokasian belanja
modal.
Romario R.F (2012)
Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Bagi Hasil
Terhadap Pengalokasian Belanja Modal Kabupaten Kota di Sumatera
Utara
Independen:
1. PAD 2. DAU 3. DBH Dependen:
Belanja Modal
Secara simultan PAD, DAU, DBH
berpengaruh signifikan terhadap pengalokasian belanja modal.
Secara parsial PAD, DAU berpengaruh signifikan sedangkan DBH tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap pengalokasian belanja modal.
Siregar Pengaruh Pendapatan Asli Independen: Secara parsial dana
(2013) Daerah dan Dana Transfer Terhadap Belanja Modal Pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Aceh
1. PAD
2. Dana transfer Dependen:
Belanja Modal
bagi hasil pajak sumber daya alam mempunyai pengaruh signifikan posotif terhadap belanja modal, sedangkan PAD, DAU, dana bagi hasil pajak tidak berpengaruh positif.
Secara simultan PAD, DAU, dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil sumber daya alam berpengaruh signifikan posotif terhadap belanja modal.
Adisti (2015)
Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus
Terhadap Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat
Independen:
1. PAD 2. DAU 3. DAK Dependen:
Belanja Modal
Secara simultan PAD, DAU, DAK
berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.
Secara parsial PAD, DAU, DAK tidak berpengaruh secara signifikan terhadap belanja modal pada pemerintahan kabupaten/kota di Sumatera Utara.
Prayogo (2015)
Pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Alokasi Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat
Independen:
1. PAD 2. Retribusi Daerah 3. DAU 4. DAK Dependen:
Belanja Modal
Pajak daerah dan retribusi daerah tidak memiliki pengaruh secara parsial, namun DAU dan DAK memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap alokasi belanja modal.
Pajak daerah, retribusi daerah, DAU, DAK memiliki pengaruh signifikan secara simultan terhadap alokasi belanja modal.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu:
1. Beberapa penelitian terdahulu menggunakan variabel Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus sebagai variabel independen, sedangkan penelitian ini menggunakan Dana Perimbangan dan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
2. Penelitian terdahulu menggunakan periode penelitian dari tahun 2007-2013 sedangkan di penelitian ini menggunakan periode penelitian 2012-2016.
3.
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual menjelaskan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang telah didefinisikan sebagai masalah yang penting. Kerangka konseptual menghubungkan variabel bebas dan variabel terikat secara teoritis.
Kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi,
Dana Perimbangan, Dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Alokasi Belanja Modal
2.4 Hipotesis Penelitian
2.4.1 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Alokasi Belanja Modal
Kebijakan otonomi daerah merupakan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus tiap-tiap daerah. Hal ini mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat
Pertumbuhan Ekonomi
Dana Perimbangan
Pendapatan Asli Daerah
Alokasi Belanja Modal
melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Tetapi, kemampuan daerah yang satu dengan daerah yang lainnya dalam mengelola potensi lokalnya dan ketersediaan sarana prasarana serta sumber daya sangat berbeda.
Perbedaan ini dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang beragam antara satu daerah dengan daerah lainnya (Nugroho, 2010).
Pertumbuhan ekonomi merupakan proses kenaikan output perkapita yang diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto. Pertumbuhan ekonomi bertujuan untuk peningkatan ekonomi yang berkelanjutan. Menurut penelitian Lin dan Liu (2000) bahwa upaya desentralisasi memberikan pengaruh yang sangat berarti terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Oates (1995) dalam Lin dan Liu (2000) membuktikan bahwa antara desentralisasi dengan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Darwanto dan Yustikasari (2007) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembanguan. Faktor-faktor tersebut antara lain sumber daya alam, tenaga kerja, investasi modal, kewirausahaan, komunikasi, komposisi sektor industri, teknologi, pasar ekspor, situasi perekonomian internasional, kapasitas pemerintah daerah, pengeluaran pemerintah dan dukungan pembangunan.
Berdasarkan landasan teori dan argumen di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kebijakan otonomi daerah mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Dimana pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah berbeda-beda sesuai dengan potensi tiap-tiap daerah. Sehingga semakin tinggi tingkat pertumbuhan perekonomian tentu akan mengakibatkan bertumbuhnya investasi
modal swasta maupun pemerintah. Hal inilah yang mengakibatkan pemerintah lebih leluasa dalam menyusun anggaran belanja modal. Oleh karena itu, untuk hipotesis pertama dinyatakan sebagai berikut :
H1 : Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh positif terhadap Alokasi Belanja Modal.
2.4.2 Pengaruh Dana Perimbangan terhadap Alokasi Belanja Modal
Dana perimbangan merupakan perwujudan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dengan daerah. Salah satu dana perimbangan adalah Dana Alokasi Khusus, DAK merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada pemerintah daerah untuk membiayai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan prioritas nasional. Tujuan DAK untuk mengurangi beban biaya kegiatan khusus yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah. Pemanfaatan DAK diarahkan kepada kegiatan investasi pembangunan, pengadaan, peningkatan, perbaikan sarana dan prasarana fisik pelayanan publik dengan umur ekonomis panjang. Dengan diarahkannya pemanfaatan DAK untuk kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pelayanan publik yang direlasikan dalam belanja modal.
Sementara lembaga SMERU menyatakan bahwa Dana alokasi khusus merupakan salah satu sumber pendanaan untuk belanja modal. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan antara pemberian dana transfer dari pemerintah pusat (DAK) dengan alokasi anggaran pengeluaran daerah melalui belanja modal. Berdasarkan landasan teori dan penemuan empiris tersebut maka menghasilkan hipotesis sebagai berikut:
H2: Dana perimbangan berpengaruh positif terhadap Alokasi Belanja Modal.
2.4.3 Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Alokasi Belanja Modal
Kewenangan pemerintah daerah dalam pelaksanakan kebijakannya sebagai daerah otonomi sangat dipengaruhi oleh kemampuan daerah tersebut dalam menghasilkan pendapatan daerah. Semakin besar pendapatan asli daerah yang diterima, maka semakin besar pula kewenangan pemerintah daerah tersebut dalam melaksanakan kebijakan otonomi. Pelaksanaan otonomi daerah bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik dan memajukan perekonomian daerah. Salah satu cara untuk meningkatkan pelayanan publik dengan melakukan belanja untuk kepentingan investasi yang direalisasikan melalui belanja modal (Solikin, 2010).
Menurut Mardiasmo (2002: 132), Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan daerah dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lainPendapatan Asli Daerah yang sah. Belanja Modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi antara lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan dan aset tak berwujud (Halim, 2004).
Darwanto (2007) menyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap alokasi belanja modal. Temuan ini dapat mengindikasikan bahwa besarnya PAD menjadi salah satu faktor penentu dalam menentukan belanja modal. Hal ini sesuai dengan PP No 58 tahun 2005 yang
menyatakan bahwa APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintah dan kemampuan daerah dalam menghasilkan pendapatan. Setiap penyusunan APBD, alokasi belanja modal harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah dengan mempertimbangkan PAD yang diterima. Sehingga apabila Pemda ingin meningkatkan belanja modal untuk pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, maka Pemda harus menggali PAD yang sebesar-besarnya. Berdasarkan landasan teori dan beberapa hasil penelitian diatas maka hipotesis berikutnya adalah sebagai berikut :
H3 : Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap Alokasi Belanja Modal.
2.4.4 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah terhadap Alokasi Belanja Modal
Pertumbuhan Ekonomi adalah proses kenaikan output perkapita. Secara tradisional Pertumbuhan Ekonomi ditunjukan untuk peningkatan yang berkelanjutan Produk Domestik Regional Daerah/PDRB. Pertumbuhan Ekonomi yang baik harus didukung dengan insfrastruktur atau sarana dan prasarana yamg memadai guna memperlancar kegiatan ekonomi. Biasanya jika Pertumbuhan Ekonomi suatu daerah baik, maka pemerintah daerah setempat akan terus meningkatkan Belanja Modalnya dari tahun ke tahun guna melengkapi dan memperbaiki sarana dan prasarana, tetapi disesuaikan pada tahun anggaran.
Kemampuan daerah untuk menyediakan sumber-sumber pendapatan yang berasal dari daerah sangat tergantung pada kemampuanmerealisasikan potensi
ekonomi daerah setempat menjadi bentuk-bentuk kegiatan ekonomi yang mampu menciptakan penerimaan daerah untuk membiayai pembangunan tersebut.
Desentralisasi fiskal memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan dengan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanaan, peningkatan peran serta, prakarsa dan pemberdayaan masyarakat setempat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber pembiayaan untuk Belanja Modal. PAD di dapatkan dari iuran langsung dari masyarakat, seperti pajak, retribusi dan lain sebagainya. Tanggung jawab agen (pemerintah daerah) kepada prinsipal (masyarakat) adalah memberikan layanan publik (public service) yang baik kepada masyarakat melalui Belanja Modal.
Dana Perimbangan merupakan konsekuensi adanya penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Seperti halnya dengan PAD, Dana Perimbangan adalah salah satu sumber untuk menambah investasi modal (Belanja Modal) yang membedakannya, PAD berasal dari dana masyarakat yang dikumpulkan sedangkan Dana Perimbangan berasal dari dana APBN.
H4 : Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap alokasi Belanja Modal.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian asosiatif yang bersifat kausal, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya (Umar, 2003:30).
Dalam penelitian ini terdapat variabel independen dan variabel dependen, dimana variabel independen merupakan variabel bebas yang mempengaruhi atau menjadi penyebab berubahnya atau timbulnya variabel dependen (variabel terikat), sedangkan variabel dependen sebagai variabel terikat atau tergantung merupakan variabel yang dipengaruhi atau disebabkan oleh adanya variabel bebas. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pertumbuhan Penduduk, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai variabel independen, serta alokasi anggaran belanja modal sebagai variabel dependen.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
1. Penelitian ini dilakukan dengan mencari data yang berasal dari situs Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak Perimbangan Keuangan (www.djpk.depkeu.go.id)
2. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2018 hingga penelitian selesai.
3.3Batasan Operasional
Variabel penelitian yang digunakan terdiri dari :
1. Variabel independen (bebas), merupakan variabel yang mempengaruhi variable lain (Umar, 2003:50). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pertumbuhan Ekonomi, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Variabel independen dalam penelitian ini disimbolkan dengan “X1” (Pertumbuhan Penduduk), “X2” (Dana Perimbangan), “X3” (Pendapatan Asli Daerah).
3.
2. Variabel dependen (terikat), merupakan variabel yang dijelaskan atau yang dipengaruhi oleh variabel independen (Umar, 2003:50). Variabel dependen dalam penelitian ini disombolkan dengan “Y” (Belanja Modal).
3.4 Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan uraian tentang pengertian konsep atau variabel ke dalam suatu definisi yang dinyatakan dalam bentuk spesifik dan merupakan kriteria yang dapat diuji secara empiris. (Sumarni dan Salamah, 2006:26).
Pengukuran variabel menggunakan skala. Ada empat macam tipe skala pengukuran, yaitu nominal, ordinal, interval dan rasio. Penelitian ini menggunakan data skala rasio. Hal ini dikarenakan skala rasio menyajikan nilai yang sesungguhnya dari variabel-variabel yang diukur dengan skala rasio. (Rochaety,dkk. 2009 : 76).
Atau dengan kata lain, data skala rasio menunjukkan keberadaan secara relative
terhadap data lain. Adapun definisi operasional variabel-variabel dapat dilihat di bawah ini :
3.4.1 Alokasi Belanja Modal
Belanja Modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal, antara lain untuk pembangunan, peningkatan dan pengadaan serta kegiatan non fisik yang mendukung pembentukan modal.
3.4.2 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi adalah kenaikan PDB/PNB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak yang dinyatakan dalam persen (Arsyad (2005 : 7).
3.4.3Dana Perimbangan
Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005 ).
Dana Perimbangan = DAU + DAK + DBH
Pembagian dana perimbangan meliputi : Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH).
1. Dana Alokasi Umum (DAU)
Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang berasal dari APBN, yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
2. Dana Alokasi Khusus (DAK)
Dana Alokasi Khusus merupakan dana yang berasal dari APBN, yang dialokasikan kepada daerah untuk membantu membiayai kebutuhan khusus.
3. Dana Bagi Hasil (DBH)
Dana bagi hasil merupakan komponen dana perimbangan yang memiliki peranan penting dalam menyelenggarakan otonomi daerah karena penerimaannya didasarkan atas potensi daerah penghasil sumber pendapatan daerah yang cukup potensial dan merupakan salah satu modal dasar pemerintah daerah dalam mendapatkan dana pembangunan dan memenuhi belanja daerah yang bukan berasal dari pendapatan asli daerah selain dana alokasi umum dan dana alokasi khusus.
3.4.4Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan dari sumber-sumber daerah sendiri, yang dipungut berdasar peraturan daerah dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang terdiri dari Hasil Pajak Daerah (HPD), Retribusi Daerah (RD), Pendapatan dari Laba Perusahaan Daerah (PLPB) dan Lain-lain Pendapatan yang Sah (LPS), yang dirumuskan dengan :
PAD=HPD+RD+PLPD+LPS Keterangan :
PAD = Pendapatan Asli Daerah HPD = Hasil Pajak Daerah RD = Retribusi Daerah
PLPD = Pendapatan dari Laba Perusahaan Daerah LPS = Lain-lain Pendapatan yang Sah
3.5Skala Pengukuran Variabel
Adapun skala pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Skala Pengukuran Variabel Variabel yang
Diukur
Definisi Operasional
Ukuran Skala
Belanja Modal (Y) Belanja yang digunakan dalam rangka pengadaan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 bulan untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintahan.
Laporan realisasi belanja modal
2012-2016
Rasio
Pertumbuhan Ekonomi (X1)
Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDB/PNB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat
pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak yang dinyatakan dalam persen.
Laporan realisasi pertumbuhan ekonomi 2012-
2016
Rasio
Dana Perimbangan (X2)
Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Laporan realisasi dana perimbangan
2012-2016
Rasio
Pendapatan Asli Daerah (X3)
PAD adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah.
Laporan realisasi pendapatan asli daerah 2012-2016
Rasio
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian 3.6.1. Populasi Penelitian
Menurut Sumarni dan Wahyuni (2006:69), “Populasi merupakan keseluruhan obyek yang diteliti dan terdiri atas sejumlah individu, baik yang terbatas (finite) maupun tidak terbatas (infinite)”. Populasi dalam penelitian ini adalah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara yang terdiri dari 33 pemerintahan kabupaten/kota, diantaranya 25 pemerintahan kabupaten dan 8 pemerintahan kota pada periode tahun 2012-2016.
Tabel 3.2
Daftar Pemerintahan Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara No. Pemerintah Kabupaten No. Pemerintah Kota
1. Kabupaten Asahan 1. Kota Binjai
2. Kabupaten Batubara 2. Kota Gunung Sitoli
3. Kabupaten Dairi 3. Kota Medan
4. Kabupaten Deli Serdang 4. Kota Padang Sidempuan 5. Kabupaten Humbang Hasundutan 5. Kota Pematang Siantar
6. Kabupaten Asahan 6. Kota Binjai
7. Kabupaten Batubara 7. Kota Gunung Sitoli
8. Kabupaten Dairi 8. Kota Medan
9. Kabupaten Labuhan Batu Utara 10. Kabupaten Langkat
11. Kabupaten Mandailing Natal 12. Kabupaten Nias
13. Kabupaten Nias Barat 14. Kabupaten Nias Selatan 15. Kabupaten Nias Utara 16. Kabupaten Padang Lawas 17. Kabupaten Padang Lawas Utara 18. Kabupaten Pakpak Barat
19. Kabupaten Samosir
20. Kabupaten Serdang Bedagai 21. Kabupaten Simalungun 22. Kabupaten Tapanuli Tengah 23. Kabupaten Tapanuli Selatan 24. Kabupaten Tapanuli Utara 25. Kabupaten Toba Samosir
Sumber: http://www.sumutprov.go.id
3.6.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian populasi yang digunakan untuk memperkirakan karekteristik populasi. Penentuan sampel dilakukan secara nonrandom (nonprobability sampling) dengan metode purposive sampling yang dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu. Adapun kriteria yang ditentukan oleh peneliti dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut:
1. Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara yang mempublikasikan Laporan keuangan daerah antara tahun 2012-2016 dalam situs Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak Perimbangan Keuangan (www.djpk.depkeu.go.id)
2. Tersedianya data Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara antara tahun 2012-2016 pada situs Badan Pusat Statistik (www.bps.go.id/sumut)
Berdasarkan kriteria diatas, maka Pemerintah Kabupaten/Kota yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 23 Kabupaten/Kota.
3.7 Jenis Data Penelitian
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara atau data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain. Data yang digunakan yaitu data kuantitatif yaitu data berupa angka yang diperoleh dari laporan keuangan daerah dan Badan