PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE YANG DIUKUR DENGAN KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, INDEPENDENSI DEWAN
KOMISARIS, KOMITE AUDIT, DEWAN DIREKSI DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
DENGAN PROFITABILITAS SEBAGAI VARIABEL MODERATING PADA PERUSAHAAN
PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2015- 2017
TESIS
Oleh
VICKY ROSALIA 177017036
MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
MODERATING PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR
DI BEI TAHUN 2015- 2017
TESIS
Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains Program Studi Akuntansi Pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sumatera Utara
Oleh
VICKY ROSALIA 177017036
MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
TIM PENGUJI TESIS
Telah Diuji dan Dinyatakan LULUS di Depan Tim Penguji Pada Hari Rabu Tanggal 24 April 2019
Judul Tesis : Pengaruh Corporate Governance Yang Diukur Dengan Kepemilikan Institusional, Independensi Dewan Komisaris, Komite Audit, Dewan Direksi Dan Kualitas Audit Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Profitailitas Sebagai Variabel Moderating Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bei Tahun 2015-2017
Nama Mahasiswa : Vicky Rosalia
NIM : 177017036
Program Studi : Magister (S2) Akuntansi
Rina Br Bukit, SE, M.Si, Ak, CA, Ph.D Ketua Penguji/Pembimbing Dr. Azizul Kholis, SE, M.Si, CMA, CSRS Anggota Penguji/Pembimbing Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak, CA, CMA Anggota Penguji
Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ac, Ak, CA Anggota Penguji Prof. Dr. HB. Tarmizi, SU Anggota Penguji
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Sumatera Utara, Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama Mahasiswa : Vicky Rosalia
NIM : 177017036
Program Studi : Magister (S2) Akuntansi Jenis Karya : Tesis
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non Exclusive Royalty Free Right) atas tesis saya yang berjudul :
PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE YANG DIUKUR DENGAN KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, INDEPENDENSI DEWAN
KOMISARIS, KOMITE AUDIT, DEWAN DIREKSI DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
DENGAN PROFITABILITAS SEBAGAI VARIABEL MODERATING PADA PERUSAHAAN
PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2015- 2017
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan) dengan Hak Bebas Royalti Non Ekslusif ini Universitas Sumatera Utara Berhak Menyimpan dalam Bentuk database, merawat, dan mempublikasikan tesis saya tanpa meminta izin dari saya sebagai penulis dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian Pernyataan ini Saya perbuat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan
Pada Tanggal : 24 April 2019 Yang menyatakan,
Vicky Rosalia
Pernyataan Keaslian Tesis
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis saya yang berjudul
PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE YANG DIUKUR DENGAN KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, INDEPENDENSI DEWAN
KOMISARIS, KOMITE AUDIT, DEWAN DIREKSI DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
DENGAN PROFITABILITAS SEBAGAI VARIABEL MODERATING PADA PERUSAHAAN
PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2015- 2017
tidak pernah diajukan untuk memperoleh gelar kerjasama di suatu perguruan tinggi lain dan tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya. Apabila dikemudian hari saya terbukti melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, gelar dan ijazah yang telah diberikan oleh universitas betal saya terima.
Medan, 24 April 2019
Yang memberikan pernyataan,
Vicky Rosalia 177017036
RIWAYAT HIDUP
1. Nama : Vicky Rosalia
2. Tempat/Tgl Lahir : Medan/ 04 September 1995
3. Agama : Katolik
4. Orang Tua
a. Ayah : Fransiscus Gultom
b. Ibu : Yosephine Strauss
5. Alamat : Jl. Sei Rokan No. 62, Medan 6. Pendidikan
a. SD : SD Negeri 060888 Medan (2001-2007) b. SMP : SMP Negeri 10 Medan (2007-2010) c. SMA : SMK Negeri 1 Medan (2010- 2013) d. Sarjana (S1) : S1 Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas
Sumatera Utara (USU) Medan (2013-2017)
7. Pekerjaan : Wiraswasta
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia- Nya yang memberikan kesehatan, perlindungan dan kemudahan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul “Pengaruh Corporate Governance Yang Diukur Dengan Kepemilikan Institusional, Independensi Dewan Komisaris, Komite Audit, Dewan Direksi Dan Kualitas Audit Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Profitailitas Sebagai Variabel Moderating Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bei Tahun 2015-2017”.
Tesis ini merupakan karya tulis sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Pascasarjana Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, guna meraih gelar Magister (S2).
Dalam menyelesaikan Proses Studi Magister Akuntansi di Universitas Sumatera Utara, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus atas dukungan, motivasi, bantuan dan arahan dari berbagai pihak. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak, CA, CMA selaku Ketua Program Studi Magister Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara sekaligus dosen penguji.
4. Bapak Dr. Iskandar Muda, SE, M.Si, Ak, CA selaku Sekretaris Program Studi Magister Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Rina Br Bukit SE, M.Si, Ak, CA, Ph.D dan Bapak Dr. Azizul Kholis, SE, M.Si, CMA, CSRS selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan saran kepada peneliti dalam proses penelitian dan penulisan tesis ini.
6. Bapak Prof. Dr. Azhar Makmun, M.Ec, Ac, Ak, CA dan Bapak Prof. Dr.
HB. Tarmizi, SU selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan saran dan kritik untuk perbaikan sehingga tesis ini dapat selesai.
7. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Administrasi Program Magister Akuntansi atas segala ilmu dan bantuan yang diberikan.
8. Orang tua peneliti tercinta Bapak H. Ir. Ridwan Lubis, Bapak Fransiscus Gultom dan Mama Yosephine Strauss, dan Adik-adik tersayang Debby, Felix, Veronica, Sofhia, Cristian Pratama dan teman terdekat penulis Jeffry Manurung.
9. Teman-teman kuliah pada program Magister Akuntasi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara stambuk 2017 yang penuh rasa kekeluargaan dalam berbagi ilmu dan pengalaman selama menjalani perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak sempurna, namu kiranya dalam ketidaksempurnaannya tersebut tetap dapat memberikan manfaat baik bagi pengembangan ilmu akuntansi. Penulis juga berharap karya ilmiah ini dihasilkan menjadi tahapan baru untuk menghasilkan karya tulis yang semakin baik.
Medan, 24 April 2019 Penulis
Vicky Rosalia
DAFTAR ISI
Hal Halaman Judul ..……….
Halaman Pengesahan ………
Halaman Tim Penguji ………...
Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi Ilmiah ………..
Halaman Pernyataan Originalitas ………...
Daftar Riwayat Hidup ………...
Kata Pengantar ………..
Daftar Isi …...
Daftar Tabel ……...
Daftar Gambar ……...
Daftar Lampiran ………
Abstrak ………...
BAB I PENDAHULUAN...
1.1 Latar Belakang Penelitian...
1.2 Perumusan Masalah...
1.3 Pertanyaan Penelitian……….
1.4 Tujuan Penelitian...
1.5 Manfaat Penelitian...
1.6 Originalitas Penelitian...
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...
2.1 Landasan Teori...
2.1.1 Agency Theory……….
2.1.2 Signalling Theory……….
2.1.3 Nilai Perusahaan...
2.1.4 Pengertian Corporate Governance...
2.1.5 Profitabilitas...
2.2 Review Peneliti Terdahulu (Theoritical Mapping)...
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS...
3.1 Kerangka Konsep...
3.2 Hipotesis Penelitian...
BAB IV METODE PENELITIAN………
4.1 Jenis Penelitian………...
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian……….
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian………..
4.4 Metode Pengumpulan Data...
4.5 Definisi Operasional dan Metode Pengukuran Variabel………
4.5.1. Good Corporate Governance………
i ii iii iv v vi vii x xii xiii
xiv xv
1 1 9 10 11 11 12 14 14 14 15 15 17 30 36 43 43 48 49 49 49 49 51 51 51
4.5.2 Profitabilitas (X5)……….
4.5.3 Nilai Perusahaan (Y)……….
4.6 Metode Analisis Data……….………
4.7 Uji Asumsi Klasik...
4.7.1 Uji Normalitas………...
4.7.2 Uji Multikolinieritas………..
4.7.3 Uji Autokorelasi………
4.7.4 Uji Heterokedastisitas………
4.8 Pengujian Hipotesis….………...
4.8.1 Uji t………
4.8.2 Uji F………...
4.8.4 Uji Residual………...
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN………..
5.1 Analisis Statistik Deskriptif………
5.2 Uji Asumsi Klasik………..
5.2.1 Uji Asumsi Normalitas………..
5.2.2 Uji Multikolinearitas………..
5.2.3 Uji Heteroskedastisitas………..
5.2.4 Uji Autokorelasi………
5.3 Analisis Koefisien Determinasi………..
5.4 Uji Signifikansi Pengaruh Simultan (Uji )………..
5.5 Analisis Regresi Linear Berganda dan Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t)………..
5.6 Uji Signifikansi Profitabilitas dalam Memoderasi Pengaruh Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen, Komite Audit, Dewan Direksi, Kualitas Audit terhadap Nilai Perusahaan dengan Uji Residual………..
BAB VI SIMPULAN………
6.1 Simpulan………
6.2 Keterbatasan………..
6.3 Implikasi………
DAFTAR PUSTAKA...
53 53 56 56 57 57 58 58 59 60 60 60 62 62 63 63 66 67 68 68 69 70
74 79 79 81 81 83 LAMPIRAN………. 90
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
1.1 2.1
Originalitas Penelitian……….
Penelitian Terdahulu...
12 37
4.1 Sampel perusahaan perbankan tahun 2015 – 2017………….. 50
4.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel………... 55
5.1 Statistik Deskriptif berdasarkan Variabel Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen, Komite Audit, Dewan Direksi, Kualitas Audit, Profitabilitas dan Nilai Perusahaan... 62 5.2 Uji Normalitas……….. 64
5.3 Uji Multikolinearitas……… 66
5.4 Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson……….. 68
5.5 Koefisien Determinasi………. 68
5.6 Uji Pengaruh Simultan dengan Uji ………... 69
5.7 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji )……… 70
5.8 5.9 Uji Signifikansi Profitabilitas dalam Memoderasi Pengaruh Kepemilikan Institusional, Independensi Dewan Komisaris, Komite Audit, Dewan Direksi, dan Kualitas Audit terhadap Nilai Perusahaan ………. Uji Signifikansi Profitabilitas dalam Memoderasi Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Nilai Perusahaan………. 75 75 5.10 Uji Signifikansi Profitabilitas dalam Memoderasi Pengaruh Komisaris Independen terhadap Nilai Perusahaan…………... 76
5.11 Uji Signifikansi profitabilitas dalam Memoderasi Pengaruh Komite Audit terhadap Nilai Perusahaan………. 76
5.12 Uji Signifikansi profitabilitas dalam Memoderasi Pengaruh Dewan Direksi terhadap Nilai Perusahaan………... 77
5.13 Uji Signifikansi profitabilitas dalam Memoderasi Pengaruh Kualitas Audit terhadap Nilai Perusahaan………... 77
DAFTAR GAMBAR
No.Gambar Judul Halaman
3.1 Kerangka Konseptual ... 43 5.1 Normalitas dengan Pendekatan Normal Probability
Plot………
65 5.2 Uji Normalitas dengan Pendekatan Histogram ……… 65 5.3 Uji Heteroskedastisitas ………. 67
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
I Daftar Populasi ... 90
II Pengujian SPSS ……….. 92
III IV
Pengujian SPSS dengan ROA sebagai variabel
moderating ………..
Komposisi GCG ………..
98 100
ABSTRAK
Pengaruh Corporate Governance yang Diukur dengan Kepemilikan Institusional, Independensi Dewan Komisaris, Komite Audit, Dewan
Direksi dan Kualitas Audit Terhadap Nilai Perusahaan dengan Profitabilitas sebagai Variabel Moderating pada Perusahaan
Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2017 Vicky Rosalia1, Rina Bukit2, Azizul Kholis3
Tujuan penelitian ini untuk menguji dan menganalisis pengaruh Corporate Governance yang Diukur dengan Kepemilikan Institusional, Independensi Dewan Komisaris, Komite Audit, Dewan Direksi dan Kualitas Audit Terhadap Nilai Perusahaan. Penelitian ini juga menguji pengaruh Profitabilitas dalam memoderasi hubungan antara Corporate Governance terhadapNilai Perusahaan.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kausatif.Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2015- 2017 sejumlah 43 perusahaan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh jumlah sampel 41 perusahaan dengan tahun pengamatan 3 tahun sehingga total sampel sejumlah 123. Pengujian data penelitian menggunakan analisis regresi linier berganda dan uji residual untuk variabel moderating.
Hasil penelitian menunjukkan Corporate Governance yang Diukur dengan Kepemilikan Institusional, Independensi Dewan Komisaris, Komite Audit, Dewan Direksi dan Kualitas Audit berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan secara simultan. Sedangkan secara parsial Kepemilikan Institusional, Komite Audit, Dewan Direksi dan Kualitas Audit berpengaruh secara signifikan terhadap Nilai Perusahaan, sedangkan Independensi Dewan Komisaris tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Nilai Perusahaan. Untuk variabel moderating yaitu Profitabilitas tidak mampu memoderasi hubungan Kepemilikan Institusional, Independensi Dewan Komisaris, Komite Audit, dan Kualitas Audit Terhadap Nilai Perusahaan.
Kata kunci: corporate governance , profitabilitas
ABSTRACT
Influence of Corporate Governance Based on Institutional Ownership, Independence of Board of Commissioners, Auditing Committee, Board
of Directors, and Auditing Quality on Values of Companies with Profitability as Moderating Variable at the Banking Companies
Listed on the BEI (Indonesia Stock Exchange) in 2015-2017 Vicky Rosalia1, Rina Bukit2, Azizul Kholis3
The objectives of the research are to test and analyze the influence corporate governance based on the institutional ownership, independence of board of commissioners, auditing committee, board of directors, and auditing quality on the values of companies. The objective of research is also to test the influence of probability in moderating the correlation between the corporate governance on the values of companies.
This is a causative research. The population is 43 banking companies listed on BEI in 2015-2017. Purposive sampling technique based on certain criteria is used to determine the samples. Based on the criteria, 41 banking companies have been observed for 3 years that 123 samples are determined. Data are tested by using the multiple linier regression analysis and the residual test is used for the moderating variable.
The research result shows that corporate governance based on the institutional ownership, independence of board of commissioners, auditing committee, board of directors, and auditing quality influences simultaneously the values of companies. However, partially, the institutional ownership, independence of board of commissioners, auditing committee, board of directors, and auditing quality influence the values of companies significantly. Independence of board of commissioners does not influence the values of companies significantly.
Profitability, as the moderating variable, cannot moderate the correlation between the institutional ownership, independence of board of commissioners, auditing committee, board of directors, and auditing quality on the values of companies.
Keywords: corporate governance, profitability
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Setiap perusahaan tentunya menginginkan nilai perusahaan yang tinggi sebab hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Menurut Haruman (2008) nilai perusahaan yang tinggi dapat meningkatkan kemakmuran bagi para pemegang saham, sehingga para pemegang saham akan menginvestasikan modalnya kepada perusahaan tersebut. Dalam memaksimalkan nilai perusahaan prosesnya sering memunculkan konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham (pemilik perusahaan) yang disebut agency problem. Selain itu pihak manajemen yaitu manajer perusahaan tidak jarang mempunyai tujuan dan kepentingan lain yang bertentangan dengan tujuan utama perusahaan dan sering berdampak dengan mengabaikan kepentingan pemegang saham. Perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham ini mengakibatkan timbulnya konflik yang biasa disebut agency conflict, hal ini terjadi ketika manajer mengutamakan kepentingan pribadi, dan pemegang saham tidak menyukai kepentingan pribadi dari manajer karena berdampak pada penambahan biaya bagi perusahaan yang menyebabkan penurunan keuntungan perusahaan dan berpengaruh terhadap harga saham sehingga menurunkan nilai perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976).
Konflik- konflik yang terjadi pada perusahaan dapat dilihat pada beberapa kasus skandal akuntansi yang menimpa perusahaan dan berdampak pada nilai
2
perusahaan. Seperti kasus Enron yang memanipulasi laporan keuangan dengan mencatat keuntungan 600 juta Dollar AS padahal sebenarnya perusahaan mengalami kerugian. Pelaporan keuangan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya ini dapat terjadi dikarenakan sebagian besar staf akuntansi Enron adalah mantan auditor diKAP Andersen. Dimana KAP Andersen adalah akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan Enron. Setelah kasus ini diungkap dan dilakukan penyelidikan, akhirnya KAP Andersen dinyatakan bersalah karena melakukan hambatanterhadap proses pengadilan melalui penghancuran dokumen- dokumen yang terkait dengan audit yang mereka lakukan menurut Ujiyantho (2007).
Di Indonesia juga terjadi beberapa kasus pelaporan keuangan yang tidak benar atau manajemen laba. Seperti kasus PT. KAI pada tahun 2005, PT. KAI mengumumkan memperoleh keuntungan sebesar Rp 6,90 miliar. Padahal sebenarnya mengalami kerugian sebesar Rp 63 miliar. Hal ini mengakibatkan Menteri Keuanganterhitung sejak tanggal 6 Juli 2007 membekukan izin Akuntan Publik (AP) yang mengaudit laporan keuangan PT.KAI yaitu Drs.Salam Mannan, pemimpin rekan pada KAP S. Mannan, Sofwan, Adnan dan Rekan selama sepuluh bulan melalui Keputusan Menkeu No. 500/KM.1/2007. Sanksi itu diberikan karena Salam Mannan melakukan pelanggaran terhadap Standar Profesional Akuntan Publik dan Kode Etik dalam kasus audit umum ataslaporan keuangan PT Kereta Api (Persero) Tahun 2005.
Selain itu adanya kasus pada PT. Kimia Farma melakukan penggelembungan (overstated) laba perusahaan dalam laporan keuangan 2001
yang mengakibatkan penjatuhan sanksi kepada auditor PT. Kimia Farma karena atas risiko audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba tersebut, meskipun telah melakukan prosedur audit sesuai SPAP. Kasus yang dialami Enron, PT. Kimia Farma, dan PT. KAI memberikan indikasi penurunan kualitas audit. Kasus skandal keuangan ini membuat masyarakat ragu atas integritas dan kredibilitas para auditor dalam meminimalkan besarnya praktik manajemen laba. Dan akhir-akhir ini informasi yang berkembang untuk group perusahaan yang terdapat di Indonesia juga memiliki potensi untuk melakukan manajemen laba.
Menyikapi hal ini, pemerintah Indonesia dan International Monetary Fund (IMF) melakukan economy recovery dengan memperkenalkan konsep Good Corporate Governance sebagai tata cara kelola perusahaan yang sehat. Konsep ini diharapkan dapat melindungi pemilik perusahaan dan pemegang saham dan kreditor agar dapat memperoleh kembali investasinya. Penelitian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) menyimpulkan penyebab krisis ekonomi di Negara-negara Asia, termasuk Indonesia, adalah (1) mekanisme pengawasan dewan komisaris dan komite audit pada suatu perusahaan tidak berfungsi dengan efektif dalam melindungi kepentingan pemegang saham dan (2) pengelolaan perusahaan yang belum professional. Dengan demikian penerapan konsep corporate governance di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan pemegang saham tanpa mengabaikan kepentingan pemilik perusahaan dan pemegang saham. Good corporate governance (GCG) merupakan salah satu elemen kunci yang menghubungkan
4
pihak manajemen perusahaan, dewan komisaris, para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Dengan adanya GCG, maka pengelolaan bisnis akan melibatkan kepentingan stakeholders serta penggunaan sumber daya yang pada akhirnya akan membawa pengaruh kinerja perusahaan yang lebih efektif dan efisien. Adapun 4 komponen utama yang diperlukan dalam penerapan konsep Corporate Governance ini meliputi fairness, transparency, accountability dan responsibility. Dengan adanya penerapan corporate governance diharapkan dapat menciptakan nilai tambah untuk semua pemegang saham. Nilai tambah yang dimaksud adalah perlindungan efektif terhadap investor dalam memperoleh kembali investasinya dengan wajar dan bernilai tinggi hal ini dapat tercermin dari laporan keuangan dan nilai pasar saham perusahaan
Hasil penelitian Santoso (2017) menunjukkan bahwa Good Corporate Governance yang diwakili oleh proxy kepemilikan institusional memiliki pengaruh langsung yang signifikan positif terhadap nilai perusahaan. Good Corporate Governance yang diwakili proxy kepemilikan institusional memiliki pengaruh tidak langsung yang signifikan terhadap nilai perusahaan dengan menggunakan kinerja keuangan sebagai variabel intervening. Dalam penelitian Thoiri (2011) menunjukkan bahwa good corporate governance yang diukur dengan Kepemilikan manajerial (X2.1), Kepemilikan institusional (X2.2), Komisaris independen (X2.3), Komite audit (X2.4) berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan. Retno dan Sapari (2017) dalam penelitiannya menyatakan bahwa Corporate Governance yang diukur dengan kepemilikan
manajemen, kepemilikan institusional dan proporsi dewan komisaris berpengaruh secara positif terhadap nilai perusahaan.
Corporate governance merupakan tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan antara berbagai partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah kinerja perusahaan menurut Haruman (2008). Corporate governance adalah rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola perusahaan juga mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat luas.
Menurut Tumirin (2007) adanya penerapan corporate governance akan mempengaruhi tercapainya nilai perusahaan. Perusahaan tentunya harus memastikan kepada para penanam modal bahwa dana yang mereka tanamkan untuk kegiatan pembiayaan, investasi, dan pertumbuhan perusahaan digunakan secara tepat dan seefsien mungkin serta memastikan bahwa manajemen bertindak terbaik untuk kepentingan perusahaan. Penerapan corporate governance dapat didorong dari dua sisi, yaitu etika dan peraturan. Dorongan dari etika (ethical driven) datang dari kesadaran individu pelaku bisnis untuk menjalankan praktik bisnis yang mengutamakan kelangsungan hidup perusahaan, kepentingan stakeholder dan menghindari cara-cara menciptakan keuntungan sesaat.
6
Sedangkan dorongan dari peraturan (regulatory driven) “memaksa” perusahaan untuk patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pedoman Umum Corporate Governance Indonesia, 2006).
Mekanisme corporate governance meliputi banyak hal, contohnya jumlah dewan komisaris, indepedensi dewan komisaris, ukuran dewan direksi, keberadaan komite audit dan kualitas audit. Dengan adanya salah satu mekanisme corporate governance ini diharapkan monitoring terhadap manajer perusahaan dapat lebih efektif sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan nilai perusahaan. Jadi jika perusahaan menerapkan sistem corporate governance diharapkan kinerja tersebut akan meningkat menjadi lebih baik, dengan meningkatnya kinerja perusahaan diharapkan juga dapat meningkatkan harga saham perusahaan sebagai indikator dari nilai perusahaan sehingga nilai perusahaan akan tercapai, menurut Carningsih (2009), indikator mekanisme corporate governance yang digunakan adalah komisaris independen. Hal tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa keberadaan komisaris ini dapat melakukan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada direksi secara efektif dan lebih memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
Menurut Sibarani (2013) hanya dua dari tiga indikator variabel corporate governance penelitiannya yang memberikan pengaruh terhadap nilai perusahaan, yaitu variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional dengan arah yang negative artinya dapat memperlemah nilai perusahaan sedangkan komite audit tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. (Wardoyo dan Veronica, 2013) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa Good Corporate Governance yang
diukur dengan variabel ukuran dewan direksi memiliki pengaruh secara signifkan terhadap nilai perusahaan sedangkan variabel Good Corporate Governance lainnya,yaitu ukuran dewan komisaris, independensidewan komisaris dan jumlah anggota komite audit tidak memiliki pengaruh secara signifkan terhadap nilai perusahaan. Menurut Siahaan (2013) proporsi dewan independen (PIB) tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan karena tidak didukung secara empiris. Ini berarti semakin tinggi proporsi independen papan dalam perusahaan, maka perusahaan akan menjadi lebih rendah nilai, dan sebaliknya. Hak Pemegang Saham secara positif dan signifikan mempengaruhi nilai Perusahaan Perlakuan Pemegang Saham berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai Perusahaan.
Pemangku Kepentingan dalam Tata Kelola Perusahaan Secara Signifikan dan secara positif mempengaruhi Pengungkapan Nilai Perusahaan.. Tanggung jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi secara signifikan dan positif memengaruhi Nilai Peruahaan (Sumarno dkk., 2016)
Pada umumnya, faktor keuangan merupakan kunci utama yang akan memengaruhi nilai perusahaan. Faktor keuangan berbicara tentang bagaimana perusahaan mencari dana, mendapatkan dana dan mengalokasikan dana tersebut agar efisien dalam penggunaannya. Nilai perusahaan dapat mencerminkan nilai aset yang dimiliki perusahaan seperti surat – surat berharga. Saham merupakan salah satu surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan, tinggi rendahnya harga saham banyak dipengaruhi oleh kondisi emiten.
Profitabilitas adalah faktor yang memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada manajemen untuk melakukan dan mengungkapkan kepada pemegang
8
saham laporan secara lebih luas. Profitabilitas juga disinyalir sebagai faktor yang memengaruhi luas pengungkapan yang dilakukan perusahaan. Profitabilitas digunakan sebagai variabel moderating dalam penelitian ini karena profitabilitas merupakan salah satu alat ukur perusahaan untuk menentukan keefektifan kinerja perusahaan, menurut Handoko (2010).
Menurut Nofrita (2013) dalam penelitiannya mengatakan bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan positif terhadap nilai perusahaan. (Dewi dan Wirajaya, 2013) mengatakan dalam penelitiannya bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan pada nilai perusahaan. Menurut Nawaiseh (2017) dalam penelitiannya mengatakan bahwa ada efek signifikan secara statistik dari FP diukur dengan TQ pada FV, tetapi hubungan linear antara dua variabel hanya ditafsirkan 34,4% dari total penyimpangan dalam variabel FV yang menandakan bahwa adanya pengaruh signifikan proitabilitas terhadap nilai perusahaan.
Teori signaling menunjukkan bahwa profitabilitas yang tinggi berkaitan dengan prospek perusahaan yang bagus sehingga memicu investor untuk meningkatkan permintaan saham. Permintaan saham yang meningkat menyebabkan nilai perusahaan meningkat. Profitabilitas merupakan tingkat kemampuan perusahaan untuk mengukur efektivitas manajemen yang dihitung oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan investasi perusahaan menurut Nofrita (2013). Perhitungan laba rugi membantu pemakai laporan keuangan meramalkan arus kas masa depan. Dengan adanya profitabilitas sebagai variabel moderating maka profitabilitas dapat memoderasi hubungan GCG terhadap Nilai Perusahaan
di mana profitabilitas yang tinggi akan menarik investor dengan meningkatkan kualitas perusahaan sehingga menyebabkan nilai perusahaan juga meningkat.
Diharapkan bahwa pengungkapan corporate governance dalam laporan keuangan berkorelasi dengan profitabilitas perusahaan tersebut.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, terdapat perbedaan hasil penelitian tentang pengaruh corporate governance terhadap nilai perusahaan. Dari situ penulis mencoba menganalisis pengaruh corporate governance terhadap nilai perusahaan dengan menggunakan indikator corporate governance yang lebih lengkap dibanding penelitian sebelumnya yaitu penelitian dengan judul “Pengaruh Corporate Governance yang Diukur dengan Kepemilikan Institusional, Independensi Dewan Komisaris, Komite Audit, Dewan Direksi dan Kualitas Audit Terhadap Nilai Perusahaan dengan Profitabilitas sebagai Variabel Moderating pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2017”
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas terdapat konflik keagenan yang dapat dilihat pada beberapa kasus skandal akuntansi yang menimpa perusahaan karena kurangnya pengawasan tata kelola perusahaan yang baik didalam perusahaan dan berdampak pada nilai perusahaan dan adanya perbedaan hasil dari peneliti-peneliti terdahulu. Untuk meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi konflik keagenan, penulis mencoba menganalisis pengaruh corporate governance terhadap nilai perusahaan dengan menggunakan indikator corporate governance yang terdiri dari kepemilikan institusional, independensi dewankomisaris, komite audit, dewan direksi dan kualitas audit.
10
Profitabilitas merupakan informasi penting yang menjadi referensi stakeholder dalam pengambilan keputusan selain informasi penerapan GCG.
Semakin tinggi profitailitas, semakin banyaknya pengungkapan didalam perusahaan. Semakin baik profitabilitas perusahaan maka stakeholder akan merespon informasi tersebut sebagai sinyal positif dan berdampak pada peningkatan nilai perusahaan sesuai dengan teori sinyal. Untuk itu penulis mencoba menganalisis profitabilitas sebagai pemoderasi hubungan antara GCG dengan nilai perusahaan.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Dari latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan? 2. Apakah independensi dewan komisaris berpengaruh terhadap nilai
perusahaan?
3. Apakah komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan? 4. Apakah dewan direksi berpengaruh terhadap nilai perusahaan? 5. Apakah kualitas audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan?
6. Apakah kepemilikan institusional, independensi dewan komisaris, komite audit, dewan direksi dan kualitas audit, berpengaruh secara simultan terhadap nilai perusahaan?
7. Apakah profitabilitas mampu memoderasi hubungan antara kepemilikan institusional, independensi dewan komisaris, ukuran dewan komisaris, komite audit, dan kualitas audit, terhadap nilai perusahaan?
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan 2. Pengaruh independensi dewankomisaris terhadap nilai perusahaan 3. Pengaruh dewan direksi terhadap nilai perusahaan
4. Pengaruh komite audit terhadap nilai perusahaan 5. Pengaruh kualitas audit terhadap nilai perusahaan
6. Pengaruh kepemilikan institusional, independensi dewan komisaris, komite audit, dewan direksi dan kualitas audit, secara simultan terhadap nilai perusahaan
7. Pengaruh profitabilitas dalam memoderasi hubungan antara kepemilikan institusional, independensi dewan komisaris, komite audit, dewan direksi dan kualitas audit, terhadap nilai perusahaan.
1.5 Manfaat Penelitian
Dengan hasil penelitian ini diharapakan dapat memberikan manfaat yang antara lain adalah sebagai berikut :
1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat mempertajam daya piker ilmiah serta meningkatkan kompetensi keilmuan dalam disiplin yangdigeluti.
2. Memberikan kontribusi kepada para pemakai laporan keuangan dan praktisi penyelenggara perusahaan dalam memahami mekanisme corporate governance sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
12
3. Temuan penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian akuntansi keuangan mengenai nilaiperusahaanmaupun corporate governance.
4. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan melengkapi temuan empiris yang sudah ada di bidang akuntansi untuk kemajuan dan pengembangan ilmiah pada masa yang akan dating dan memperkayakhasanah keilmuan pada umumnya.
1.6 Originalitas Penelitian
Penelitian ini mengembangkan penelitian yang dilakukan oleh (Retno dan Sapari, 2017) yang berjudul Pengaruh Corporate Social Responsibility Dan Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan.
Tabel 1.1 Originalitas Penelitian
Keterangan Penelitian Terdahulu Penelitian Sekarang Dependen - Nilai Perusahaan - Nilai Perusahaan Independen - Corporate Social
Responsibility
- Corporate Governance yang diproxykan dengan:
1. Kepemilikan Manajemen 2. Kepemilikan Institusional 3. Proporsi Dewan Komisaris
Independen
- Corporate Governance yang diukur dengan:
1. kepemilikan institusional, 2. komisaris independen, 3. komite audit,
4. dewan direksi 5. kualitas audit
Moderating - Profitabilitas
Sampel Perusahaan public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2012- 2015 yang termasuk dalam peringkat CGPI yang diberikan oleh IICG
Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2015- 2017
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Agency Theory
Agency theory menjelaskan tentang hubungan kontraktual antara pihak yang mendelegasikan keputusan tertentu dengan pihak yang menerima pendelegasian tersebut (agen/direksi/manejemen). Dalam agency theory ada beberapa asumsi dasar yang menjadi dasar yaitu :
1. Agency Conflict yaitu konflik yang timbul sebagai akibat dari manajemen melakukan tindakan yang sesuai dengan kepentingannya yang dapat mengorbankan kepentingan pemegang saham untuk memperoleh return dan nilai jangka panjang perusahaan.
2. Agency problem yang timbul sebagai akibat dari kesenjangan antara kepentingan pemegang saham sebagi pemilik dan manajemen sebagai pengelola.
Dalam menekan atau menurunkan konflik keagenan, manajemen secara konsisten dan berkesinambungan perlu menerapkan prinsip Good Corporate Governance dalam perusahaan. Penerapan Corporate governance dapat berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima tingkat pengembalian atas dana yang telah diinvestasikan.
2.1.2 Signalling Theory
Signalling Theory atau teori sinyal menyatakan bahwa pihak eksekutif perusahaan yang memiliki informasi lebih baik akan terdorong untuk menyampaikan informasi tersebut kepada calon investor agar harga saham perusahaannya meningkat. Hal positif dalam signalling theory dimana perusahaan yang memberikan informasi yang bagus akan memberikan sinyal kepada investor tentang bagusnya kinerja masa depan yang diberikan oleh perusahaan dan akan dipercaya oleh pasar (Wolk dan Tearney, 1997).
Manajer pada umumnya termotivasi untuk menyampaikan informasi yang baik mengenai perusahaannya ke publik secepat mungkin, misalnya melalui jumpa pers. Namun pihak diluar perusahaan tidak tahu kebenaran dari informasi yang disampaikan tersebut. Jika manajer dapat memberi sinyal yang meyakinkan, maka publik akan terkesan dan hal ini akan terefleksi pada harga sekuritas. Jadi dapat disimpulkan karena adanya asymetric information, pemberian sinyal kepada investor atau publik melalui keputusan-keputusan manajemen menjadi sangat penting menurut Atmaja (2008).
2.1.3 Nilai Perusahaan
(Nurlela dan Islahudin, 2008) menjelaskan bahwa enterprise value atau dikenal dengan firm value merupakan konsep penting bagi investor, karena merupakan indikator bagi pasar untuk menilai secara keseluruhan. Nilai perusahaan sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham. Semakin tinggi harga saham semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi
16
keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan dipresentasikan oleh harga pasar dari saham yang merupakan cerminan dari keputusan investasi, pendanaan, dan manajemen aset. Menurut Mahendra (2012) nilai perusahaan sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham. Semakin tinggi harga saham semakin tinggi pula nilai perusahaan. nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengannilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Sama halnya dengan (Bringham dan Houston, 2006) menejelaskan nilai perusahaan sangat penting karena nilai perusahaan yang tinggi diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham, semakin tinggi harga saham maka semakin tinggi pula nilai perusahaan.
Harga saham dan nilai perusahaan mengikhtisarkan penilaian kolektif investor tentang seberapa baikkah keadaan suatu perusahaan, baik kinerja saat ini maupun prospek masa depannya (Bearly et al, 2007). Suatu perusahaan dikatakan mempunyai nilai yang baik jika kinerja perusahaan juga baik. Memasukkan perusahaan kepasar modal merupakan pilihan yang cukup efisien untuk menarik para investor agar dapat berinvestasi diperusahaan, dengan menunjukkan perusahaan memiliki nilai yang tinggi dimata investor maka dapat membuat investor percaya untuk menanamkan dananya diperusahaan. Keputusan pendanaan merupakan salah satu keputusan yang penting bagi perusahaan karena berkaitan dengan keputusan perusahaan dalam memperoleh sumber dana untuk
modal dalam membiayai investasi. Stuktur modal merupakan kombinasi hutang dan ekuitas dalam struktur keuangan jangka panjang perusahaan (Brigham dan Houston, 2001).
Nilai perusahaan dalam penelitian ini diukur menggunakan Tobin‟s Q . Perusahaan yang memiliki Tobin‟s Q dengan nilai yang semakin tinggi menunjukkan bahwa prospek pertumbuhan perusahaan semakin baik, karena investor akan mengeluarkan pengorbanan yang lebih untuk perusahaan yang memiliki nilai pasar aset yang lebih besar daripada nilai bukunya. Apabila nilai Q lebih kecil dari 1, berarti investasi dalam aktiva tidak menarik menurut Herawaty (2008). Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan.
2.1.4 Pengertian Corporate Governance
Istilah “corporate governance” pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury Committe, Inggris (1992) yang menggunakan istilah tersebut dalam laporannya yang kemudian dikenal sebagai Cadbury Report (yang dikemukakan oleh Sukrisno, 2009). Beberapa definisi yang diberikan dari berbagai sumber dapat dijadikan acuan.
Menurut Cadbury Commitee of United Kingdom “A set of rules that define the relationship between shareholders, managers,creditors, the government, employees, and other internal and external stakeholders in respect to their right and responsibilities, or the system by which companies are directed and controlled”. Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI, 2009)
18
tidak membuat definisi tersendiri tetapi mengambil definisi dari Cadbury Committe of United Kingdom, yang kalau diterjemahkan adalah:”... seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka; atau dengan kata lain suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.” Sukrisno (2011) mendefinisikan tata kelola perusahaan yang baik sebagai suatu sistem yang mengatur hubungan peran Dewan Komisaris, peran Direksi, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD, 2004) mendefenisikan GCG sebagai: “The structure through which shareholders, directors, managers, set of the board objectives of the company, the means of attaining those objectives and monitoring performance.” [“Suatu struktur yang terdiri atas para pemegang saham, direktur, manajer, seperangkat tujuan yang ingin dicapai perusahaan, dan alat-alat yang akan digunakan dalam mencapai tujuan dan memantau kinerja.”]
Corporate governance muncul untuk memberikan keyakinan dan kepercayaan terhadap investor bahwa dana yang mereka investasikan dalam perusahaan digunakan secara tepat dan efisien serta tujuan perusahaan dapat tercapai yaitu meningkatkan kekayaan pemegang saham dan nilai perusahaan juga meningkat menurut Santoso (2014). Dalam penerapan corporate governance terdapat beberapa prinsip-prinsip yang dapat di aplikasikan di dalam perusahaan.
Penerapan corporate governance yang baik dan benar (GCG) akan menjaga
keseimbangan antara pencapaian tujuan ekonomi dan tujuan masyarakat serta menjauhkan perusahaan dari pengelolaan yang buruk yang mengakibatkan perusahaan terkena masalah menurut Dwitridinda, yang dikemukakan dalam Oktofian (2015)
OECD menyatakan dalam upaya mengembangkan beberapa prinsip yang dapat dijjadikan acuan oleh pemerintah atau para pelaku bisnis dalam mengatur mekanisme hubungan antar para pemangku kepentingan tersebut.
Prinsip- prinsip Good Corporate Governance menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG)
1. Transparasi (Transparency)
Transparansi yaitu mengelola perusahaan secara transparan dengan semua stake holder (orang-orang yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan aktivitas perusahaan). Di sini para pengelola perusahaan harus berbuat secara transparan kepada penanam saham, jujur apa adanya dalam membuat laporan usaha, tidak manipulatif.
Keterbukaan informasi dalam proses pengambilan keputusan dan pengungkapan informasi yang dianggap penting dan relevan.
2. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas yaitu kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban dalam perusahaan, sehingga pengelolaan perusahaan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Manajemen harus membuat job description yang jelas kepada semua karyawan dan menegaskan fungsi-fungsi dasar setiap bagian.
20
Dari sini perusahaan akan menjadi jelas hak dan kewajibannya, fungsi dan tanggung jawabnya serta kewenangannya dalam setiap kebijakan perusahaan.
3. Responsibilitas (Responsibility)
Responsibilitas yaitu menyadari bahwa ada bagian-bagian perusahaan yang membawa dampak pada lingkungan dan masyarakat pada umumnya. Di sini perusahaan harus memperhatikan amdal, keamanan lingkungan, dan kesesuaian diri dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat.
Perusahaan harus apresiatif dan proaktif terhadap setiap gejolak sosial masyarakat dan setiap yang berkembang di masyarakat.
4. Independensi (Independency)
Independensi yaitu berjalan tegak dengan bergandengan bersama masyarakat.
Perusahaan harus memiliki otonominya secara penuh sehingga pengambilan- pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan otoritas yang ada secara penuh. Perusahaan harus berjalan dengan menguntungkan supaya bisa memelihara keberlangsungan bisnisnya, namun demikian bukan keuntungan yang tanpa melihat orang lain yang juga harus untung. Semuanya harus untung dan tidak ada satu pun yang dirugikan.
5. Kesetaraan (Fairness)
Kesetaraan yaitu semacam kesetaraan atau perlakuan yang adil di dalam memenuhi hak dan kewajibannya terhadap stake holder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Perusahaan harus membuat sistem yang solid untuk membuat pekerjaan semuanya seperti yang diharapkan. Dengan pekerjaan yang fair tersebut
diharapkan semua peraturan yang ada ditaati guna melindungi semua orang yang punya kepentingan terhadap keberlangsungan bisnis kita.
Pembentukan dewan komisaris dan komite audit ini merupakan suatu bentuk penerapan prinsip–prinsip good corporate governance dalam perusahaan untuk meningkatkan keakuratan dan kehandalan dari informasi keuangan yang digunakan investor dalam pengambilan keputusan investasi.
Dalam peraturan BAPEPAM LK Kep–134/BL/2006 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan bagi emiten atau perusahaan publik, disebutkan bahwa dalam penyampaian laporan tersebut emiten harus memuat laporan pelaksanaan kerja dewan komisaris dan komite audit sebagai bagian dari laporan corporate governance. Informasi–informasi tersebut terdiri dari jumlah rapat, tingkat kehadiran dan jumlah anggota dalam dewan komisaris maupun komite audit. Penerapan tata kelola perusahaan diharapkan dapat meminimalisir praktik manajemen laba dalam suatu perusahaan, dimana hal tersebut dapat merugikan pengguna laporan keuangan karena informasi yang terkandung dalam laporan keuangan menjadi bias dan tidak akuntabel.
Tujuan dalam penerapan GCG tersebut dalam rangka:
1. Mendorong kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, serta kesetaraan dan kewajaran.
2. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan yaitu Dewan Komisaris, Direksi dan Rapat Umum Pemegang Saham.
22
3. Mendorong pemegang saham, dewan komisaris dan anggota direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya yang dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang- undangan.
4. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama disekitar perusahaan.
5. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan pemangku lainnya.
6. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.
Mekanisme Corporate Governance
1. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan saham institusional adalah saham perusahaan yang dipegang oleh institusi lain. Institusi merupakan sebuah lembaga yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan termasuk investasi saham.
Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar (lebih dari 5%) mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor manajemen. Institusi sebagai pemilik saham dianggap lebih mampu dalam mendeteksi kesalahan yang terjadi karena investor institusi lebih berpengalaman dibandingkan dengan investor individual. Institusi unggul dengan memiliki kemampuan dalam memperoleh
informasi dibandingkan investor individual. Hal ini akan semakin membatasi manajemen dalam memainkan angka-angka dalam laporan keuangan menurut Saptantinah (2005).
Kepemilikan institusional merupakan proporsi kepemilikan saham oleh institusi pendiri perusahaan, bukan institusi pemegang saham publik yang diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh investor institusi intern menurut Sujoko (2007). Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lain menurut Tarjo (2008).
Kepemilikan institusional memiliki arti penting dalam memonitor manajemen karena adanya kepemilikan institusional akan meningkatkan pengawasan yang lebih optimal karena dianggap mampu memonitor setiap keputusan yang diambil oleh para manajer secara efektif. Dengan tingginya tingkat kepemilikan institusional, maka semakin besar tingkat pengawasan ke manajer dan dapat mengurangi konflik kepentingan antara manajemen sehingga masalah keagenan menjadi berkurang. Menurut Bushee (1998) menyatakan bahwa kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengurangi insentif para manajer yang mementingkan diri sendiri melalui tingkat pengawasan yang intens. Kepemilikan institusional dapat mengawasi pergerakan didalam perusahaan, sehingga menghasilkan output yang baik dan meningkatkan nilai perusahaan.
2. Struktur Dewan Komisaris
Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas mengawasi secara umum dan atau khusus sesuai dengan anggaran dasar dan memberi nasehat pada direksi (UU
24
PT No. 40 Tahun 2007). Dewan direksi berfungsi untuk mengurus perusahaan, sementara dewan komisaris berfungsi untuk melakukan pengawasan. Selain itu, komisaris independen berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang dalam pengambilan keputusan oleh dewan komisaris.
Komisaris independen didefinisikan sebagai seorang yang tidak terafiliasi dalam segala hal dalam pemegang saham pengendali yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan direksi atau dewan komisaris, serta tidak menjabat sebagai direktur pada suatu perusahaan yang terkait, menurut peraturan yang dikelurkan oleh BEI menurut Pohan (2008). Jumlah Komisaris Independen proporsional dengan jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham yang tidak berperan sebagai pengendali dengan ketentuan jumlah Komisaris Independen sekurangkurangnya tiga puluh persen (30%) dari seluruh anggota komisaris, disamping hal itu Komisaris Independen memahami undangundang dan peraturan tentang pasar modal serta diusulkan oleh pemegang saham yang bukan merupakan pemegang saham pengendali dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Pengukuran Variabel proporsi Komisaris Independen dapat dilakukan dengan cara perbandingan jumlah komisaris independen dengan jumlah Dewan Komisaris (Siallagan dan Machfoedz 2006; Sandy dan Lukviarman, 2015).
Komite Nasional Kebijakan Governace (2006) menetapkan beberapa kriteria untuk menjadi komisaris independen pada perusahaan, yaitu sebagai berikut:
a. Tidak memiliki hubungan afiliasi dengan pemegang saham pengendali perusahaan yang bersangkutan
b. Tidak memiliki hubungan afiliasi dengan direktur dan/ atau komisaris lainnya pada perusahaan yang bersangkutan
c. Tidak bekerja rangkap sebagai direktur di perusahaan lainnya yang terafiliasi dengan perusahaan yang bersangkutan
d. Tidak menduduki jabatan eksekutif/ mempunyai hubungan bisnis dengan perusahaan yang bersangkutan dan perusahaan lainnya yang terafiliasi dalam jangka waktu 3 tahun terakhir
e. Tidak menjadi partner atau principal di perusahaan konsultan yang memberikan jasa pelayanan profesional pada perusahaan dan perusahaan- perusahaan lainnya yang terafiliasi
f. Bebas dari segala kepentingan dan kegiatan bisnis atau hubungan yang lain yang dapat diinterpretasikan menghalangi atau mengurangi kemampuan komisaris independen untuk bertindak dan berfikir independen demi kepentingan perusahaan
g. Memahami peraturan perundang-undangan PT, UU Pasar Modal, dan UU serta peraturan lain yang terkait.
Menurut Vafeas (2003), disamping konsentrasi pada kepemilikan, peranan dewan komisaris juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas laba dengan membatasi tingkat manajemen laba melalui fungsi monitoring atas jumlah atau ukuran dewan komisaris sehingga proksi komposisi dewan komisaris dapat digunakan untuk mengukur corporate governance.
3. Komite Audit
26
Komite audit adalah suatu komite yang beranggotakan satu atau lebih anggota Dewan Komisaris dan dapat meminta kalangan luar dengan berbagai keahlian, pengalaman, dan kualitas lain yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan Komite Audit. Menurut Hiro (1995), Komite Audit adalah sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk mengerjakan pekerjaan tertentu atau untuk melakukan tugas-tugas khusus atau sejumlah anggota Dewan Komisaris perusahaan klien yang bertanggungjawab untuk membantu auditor dalam mempertahankan independensinya dari manajemen.
Menurut Pohan (2014) dewan komisaris wajib membentuk komite audit yang beranggotakan sekurang-kurangnya tiga orang anggota, diangkat dan diberhentikan serta bertanggung jawab kepada dewan komisaris. Komite audit memberikan pandangan mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan kebijakan keuangan, akuntani dan pengendalian internal perusahaan menurut Mayangsari, (2003).
Tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-41/PM/2003 menyatakan:
1. BUMN maupun Emiten atau Perusahaan Publik wajib membentuk Komite Audit yang bekerja secara kolektif dan berfungsi membantu Komisaris dan Dewan Pengawas.
2. Komite Audit dipimpin oleh seorang ketua yang bertanggungjawab kepada Komisaris dan Dewan Pengawas.
3. Komite Audit terdiri dari sekurang-kurangnya satu orang Komisaris Independen dan sekurang-kurangnya dua orang lainnya berasal dari luar perusahaan.
Komite audit bertugas memberikan pendapat professional yang indepanden kepada dewan komisaris serta mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian dewan komisaris, yang meliputi:
a. Menelaah informasi keuangan yang akan dikeluarkan oleh perusahaan seperti laporan keuangan serta proyeksi dan informasi keuangan lainnya.
b. Menelaah independensi dan objektivitas akuntan publik.
c. Menelaah kecukupan pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan publik untuk memastikan semua risiko yang penting telah dipertimbangkan.
d. Menelaah efektivitas pengendalian internal perusahaan.
e. Menelaah tingkat kepatuhan perusahaan tercatat terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan peraturan perundangan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan.
f. Melakukan pemeriksaan terhadap dugaan adanya kesalahan dalam keputusan rapat direksi atau penyimpangan dalam pelaksanaan keputusan rapat direksi. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan oleh komite audit atau pihak independen yang ditunjuk oleh komite audit atas biaya perusahaan tercatat yang bersangkutan.
Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) dan YPPMI Institute, yang dikutip oleh (Surya dan Yustiavandana, 2006) Komite Audit pada umumnya mempunyai tanggungjawab pada tiga bidang, yaitu:
1. Laporan Keuangan (Financial Reporting) Komite Audit bertanggungjawab untuk memastikan bahwa laporan yang dibuat manajemen telah memberikan gambaran yang sebenarnya tentang kondisi keuangan, hasil usaha, rencana dan komitmen perusahaan jangka panjang.
28
2. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) Komite Audit bertanggungjawab untuk memastikan bahwa perusahaan telah dijalankan sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku dan etika, melaksanakan pengawasan secara efektif terhadap benturan kepentingan dan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan perusahaan.
3. Pengawasan Perusahaan (Corporate Control) Komite Audit bertanggungjawab untuk pengawasan perusahaan termasuk didalamnya hal-hal yang berpotensi mengandung risiko dan sistem pengendalian intern serta memonitor proses pengawasan yang dilakukan oleh auditor internal.
Menurut Fadhila (2014) dalam penelitiannya beberapa alasan komite audit perusahaan berpengaruh terhadap tax avoidance yaitu:
Pertama, Jika semakin sedikit komite audit yang dimiliki oleh perusahaan maka pengendalian kebijakan keuangan yang dilakukan oleh komite audit sangat minim sehingga akan meningkatkan tindakan manajemen dalam melakukan pajak agresif, begitu juga dengan sebaliknya.
Kedua, Kredibilitas perusahaan yang memiliki komite audit yang sedikit atau kurang dari yang ditetapkan BEI akan mempengaruhi integritas dan kredibilitas keuangan perusahaan jika saja pajak agresif atau tax avoidance dapat dilakukan dengan mudah oleh perusahaan.
4. Dewan Direksi
Dewan direksi dalam suatu perusahaan akan menentukan kebijakan yang akan diambil atau strategi perusahaan tersebut secara jangka pendek maupun jangka panjang. Direksi harus memastikan dan bertanggung jawab, bahwa
perusahaan telah sepenuhnya menjalankan seluruh ketentuan yang ada dalam anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, karena jika seorang direksi lalai dalam menjalankan tugasnya maka akan mengakibatkan kerugian pada perusahaan, dan direksipun harus segera mengambil tindakan untuk mencegah timbul ataupun berkelanjutan kerugian tersebut.
5. Kualitas Audit
Dalam penerapan corporate governance, salah satu elemen terpenting adalah transparansi. Kualitas Audit dengan pengungkapkan yang akurat (transparansi) menjadi salah satu elemen yang penting.
Dies dan Giroux dalam Annisa (2011) menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan kualitas audit antara lain:
a. Lamanya auditor/ umur audit, semakin lama maka semakin rendah kualitas auditnya.
b. Jumlah klien, semakin banyak maka semakin baik kualitas auditnya.
c. Kesehatan keuangan klien, semakin sehat maka ada kecenderungan klien menekan auditor untuk mengikuti standar yang berlaku.
d. Review oleh pihak ketiga, kualitas audit semakin tinggi apabila direview oleh pihak ketiga.
Berdasarkan penelitian Khoirunnisa, laporan keuangan yang diaudit oleh auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) The Big Four dengan beberapa referensi dipercaya lebih berkualitas sehingga menampilkan nilai perusahaan yang sebenarnya, oleh karena itu diduga perusahaan yang diaudit oleh KAP The Big
30
Four memiliki tingkat kecurangan yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang diaudit oleh KAP non The Big Four.
Kualitas audit biasa diukur berdasarkan besar kecilnya ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) yang melakukan audit pada suatu perusahaan (Widiastuty dan Febrianto), jika perusahaan diaudit oleh KAP The Big Four, maka akan lebih independen karena lebih dapat bertahan dari tekanan manajer untuk melaporkan adanya pelanggaran (Watts, 1986).
Berdasarkan agency theory penerapan corporate governance dalam perusahaan maka perusahaan akan melaporkan keuangannya secara transparansi dan pihak manajemen serta institusi yang terkait dapat memonitoring pergerakan usaha yang akan meningkatkan nilai perusahaan. Corporate governance juga dapat berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima tingkat pengembalian atas dana yangtelah diinvestasikan.
2.1.5 Profitabilitas
Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk mendapatkan laba (keuntungan) dalam suatu periode tertentu. Profitabilitas suatu perusahaan akan mempengaruhi kebijakan investor atas investasi yang dilakukan.
Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba akan dapat menarik para investor untuk menanamkan dananya guna memperluas usahanya, sebaliknya tingkat profitabilitas yang rendah akan menyebabkan para investor menarik dananya. Sedangkan bagi perusahaan sendiri profitabilitas dapat digunakan sebagai evaluasi atas efektivitas pengelolaan badan usaha tersebut.
Teori signaling menunjukkan bahwa profitabilitas yang tinggi berkaitan dengan prospek perusahaan yang bagus sehingga memicu investor untuk meningkatkan permintaan saham. Permintaan saham yang meningkat menyebabkan nilai perusahaan meningkat. Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukkan apakah badan usaha tersebut mempunyai prospek yang baik dimasa yang akan datang. Dengan demikian setiap badan usaha akan selalu meningkatkan profitabilitasnya, karena semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu badan usaha maka kelangsungan hidup badan usaha tersebut akan lebih terjamin.
Penilaian profitabilitas adalah proses untuk menentukan seberapa baik aktivitas–aktivitas bisnis dilaksanakan untuk mencapai tujuan strategis, mengeliminasi pemborosan – pemborosan dan menyajikan informasi tepat waktu untuk melaksanakan penyempurnaan secara berkesinambungan. Ada beberapa pengukuran kinerja terhadap profitabilitas perusahaan dimana masing – masing pengukuran dihubungkan dengan volume penjualan, total aktiva dan modal sendiri. Secara keseluruhan ketiga pengukuran ini akan memungkinkan seorang analis untuk mengevaluasi tingkat earning dalam hubungannya dengan volume penjualan, jumlah aktiva, dan investasi tertentu dari pemilik perusahaan.
Profitabilitas keuangan perusahaan dideskripsikan dalam bentuk laporan laba – rugi yang merupakan bagian dari laporan keuangan korporasi, yang dapat digunakan oleh semua pihak yang berkepentingan untuk membuat keputusan ekonomi. Berdasarkan financial report yang diterbitkan perusahaan, selanjutnya
32
dapat digali informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, struktur permodalan, aliran kas, kinerja keuangan dan informasi lain yang mempunyai relevansi dengan laporan keuangan perusahaan. Menurut Prastowo (2008) menyatakan bahwa informasi kinerja perusahaan, terutama profitabilitas diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan dimasa depan, sehingga dapat memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan kas (dan setara kas) serta untuk merumuskan efektifitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumberdaya.
Profitabilitas keuangan perusahaan sudah tentu merupakan kinerja perusahaan yang ditinjau dari kondisi keuangan perusahaan.Profitabilitas keuangan perusahaan tercermin dari laporan keuangannya, oleh sebab itu untuk mengukur profitabilitas keuangan perusahaan diperlukan analisis terhadap laporan keuangannya.
Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan.Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan.Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihaslikan dari penjualan dan pendapatan investasi.Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan.
Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan neraca dan laporan laba – rugi.Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi.
Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan perusahaan dalam rentang waktu
tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut.
Hasil pengukuran tersebut dapat dijadikan alat evaluasi kinerja manajemen selama ini, apakah mereka telah bekerja secara efektif atau tidak. Jika berhasil mencapai target yang telah ditentukan mereka dikatakan telah berhasil mencapai target untuk satu periode atau beberapa periode, sebaliknya jika gagal atau tidak berhasil mencapai target yang telah ditentukan, ini akan menjadi pelajaran bagi manajemen untuk periode kedepan. Kegagalan ini harus diselidiki letak kesalahan dan kelemahannya sehingga kejadian tersebut tidak terulang. Kegagalan atau keberhasilan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk perencanaan kedepan, sekaligus untuk menggantikan manajemen yang baru terutama setelah manajemen lama mengalami kegagalan. Rasio profitabilitas ini sering disebut sebagai salah satu alat ukur kinerja manajemen.
Tujuan penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan, maupun bagi pihak luar perusahaan antara lain :
1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalamsatu periode tertentu.
2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.
4. Untuk menilai besarnya laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri.
5. Untuk mengukur seluruh produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri.