UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM MAGISTER THEOLOGI
KATEKESE UMAT
USAHA MEMBANGUN KETERLIBATAN UMAT BERIMAN DALAM KARYA KATEKESE
Tesis diajukan oleh :
ANTONIUS VIRDEI ERESTO GAUDIAWAN NPM : 076312046/PPs/M.Th.
untuk memperoleh
GELAR MAGISTER THEOLOGI 2009
iii
KATA PENGANTAR
Melalui gagasan tentang Katekese Umat, Gereja Indonesia mencoba semakin melibatkan kaum awam di dalam pembinaan iman umat beriman.
Sayangnya, di sana-sini harus diakui bahwa Katekese Umat sampai saat ini tidak begitu banyak dipakai di kalangan umat beriman. Harus diakui bahwa di beberapa keuskupan, Katekese Umat sudah ditinggalkan. Pengolahan dan pendalaman melalui PKKI-PKKI rasanya terbuang percuma jika Katekese Umat itu sendiri tidak dimanfaatkan.
Berlandaskan keprihatinan itu, juga kepentingan penulis sendiri untuk semakin mendalami katekese, penulis mencoba menggali Katekese Umat itu sendiri. Ingin dicari hakikat dari Katekese Umat sendiri. Hal-hal apa yang melatarbelakanginya dan akhirnya keprihatinan dasar apa yang bisa dikembangkan dari Katekese Umat itu sendiri. Selanjutnya, hal apa yang perlu dicatat dalam rangka keprihatinan dari Katekese Umat itu sendiri.
Penulis sendiri sebagai seorang tenaga pendidik pada lembaga formatio katekis merasa perlu untuk mendalami tema ini. Pertama-tama supaya penulis sendiri semakin memahami katekese dan selanjutnya memahami Katekese Umat itu sendiri. Dari pemahaman itu, diharapkan penulis sendiri dapat semakin membantu para calon katekis di dalam formatio mereka.
iv
Lebih dari itu, melihat perkembangan Katekese Umat yang saat ini kelihatannya stagnan, penulis merasa terpanggil untuk kembali menghidupkan dan mengembangkan Katekese Umat. Jangan sampai apa yang sudah dirumuskan sekian lama itu tak berguna dan tak bergaung bagi kehidupan menggereja.
Secara khusus penulis menghaturkan terima kasih kepada Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan Widya Yuwana Madiun yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk terlibat di dalam karya formatio bagi para calon katekis. Ucapan terima kasih juga penulis haturkan kepada Rm. B. Kieser SJ dan Rm. Purwatma Pr yang telah berkenan membimbing penulis dalam penulisan tesis ini. Penulis juga menghaturkan terima kasih atas segala dukungan dari berbagai pihak sehingga penulisan tesis ini bisa selesai pada waktunya.
Tentu saja penulisan ini tidak lepas dari berbagai macam kekurangan.
Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang berguna bagi penulis dalam pengembangan karya tulis ini. Dan semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit sumbangan bagi perkembangan katekese di Indonesia.
Madiun, 1 Agustus 2009
v
Daftar Isi
Halaman Judul………. i
Halaman Persetujuan Pembimbing……… ii
Kata Pengantar………. iii
Daftar Isi………... v
Abstrak……….. xi
Abstract………. xii
Bab I Pendahuluan………... 1
1.1 Latar Belakang Pemikiran……….. 1
1.2 Pokok Permasalahan……….. 3
1.3 Batasan Masalah………. 5
1.4 Tujuan Penulisan……… 6
1.5 Metode dan Sumber Penulisan………... 7
1.6 Sistematika Penulisan………. 8
Bab II Perkembangan Katekese Umat………... 10
2.1 Sejarah Perkembangan Katekese Umat dalam PKKI………. 10
vi
2.1.1 PKKI I………. 11
2.1.2 PKKI II……… 12
2.1.3 PKKI III………... 16
2.1.4 PKKI IV……….. 19
2.1.5 PKKI V……… 22
2.1.6 PKKI VI……….. 26
2.1.7 PKKI VII………. 29
2.1.8 PKKI VIII……….... 31
2.2 Latar Belakang Katekese Umat……….. 35
2.2.1 Budaya Musyawarah yang Ada di Indonesia……….. 35
2.2.2 Arus Demokratisasi………. 38
2.2.3 Kemajuan Ilmu-ilmu tentang Manusia……… 39
2.2.4 Gereja sebagai Persekutuan Umat Allah dan Sakramen Keselamatan……… 41
2.2.5 FABC I……… 44
2.3 Kepentingan Pengembangan Katekese Umat……… 45
2.3.1 Menemukan Arah Katekese Indonesia……… 45
2.3.2 Membina Iman yang Terlibat……….. 47
2.3.3 Membangun Komunitas Basis Gerejawi………. 49
2.4 Tanggapan terhadap Katekese Umat……….. 51
vii
Bab III Paham Katekese Umat………... 53 3.1 Struktur Katekese Umat………. 53
3.1.1 Katekese Umat sebagai Komunikasi Iman akan Yesus Kristus………. 54 3.1.2 Peserta sebagai Subjek dari Katekese Umat……… 55 3.1.2.1 Umat yang Beriman………. 56 3.1.2.2 Umat yang Bergulat dengan Pengalaman Konkret
Aktual……….. 57 3.1.2.3 Umat yang Memandang Pengalaman Aktualnya
dalam Terang Iman………. 58
3.1.2.4 Umat dalam Kesatuan dengan Gereja Universal……. 59 3.1.2.5 Umat yang Berkatekese………... 61 3.1.3 Fasilitator dalam Katekese Umat……… 62 3.1.3.1 Fasilitator sebagai Pemudah dalam Katekese Umat… 63 3.1.3.2 Fasilitator yang Memiliki Keterampilan
Berkomunikasi……….……… 66 3.1.3.3 Fasilitator yang Akrab dengan Pergulatan Iman…… 67 3.1.4 Iman akan Yesus Kristus Menjadi Isi Katekese……….. 70 3.1.5 Pengalaman Konkret Menjadi Medan Pergulatan Iman…….. 72 3.2 Tujuan Katekese Umat………... 74
3.2.1 Pertumbuhan Iman Umat sebagai Tanggung Jawab Umat Beriman……… 74
viii
3.2.2 Iman yang Terlibat dalam Kehidupan…….……… 75
3.2.3 Membangun Jemaat dengan Orientasi Kerajaan Allah……... 78
3.2.4 Membangun Komunitas Basis Gerejawi……….……… 81
3.3 Syarat-syarat Katekese Umat……….……… 83
3.3.1 Berpusat pada Pengalaman Iman akan Yesus….……… 83
3.3.2 Sikap Saling Menghargai dan Keterbukaan……… 85
3.3.3 Dilaksanakan dalam Dialog dengan Seluruh Tradisi Gereja.. 86
3.3.4 Peka dan Penuh Empati terhadap Permasalahan- permasalahan Sosial………...………. 87
3.3.5 Katekese Umat Merangkul Pihak Lain……..….……… 89
3.4 Hambatan-hambatan dalam Katekese Umat………..……… 90
3.4.1 Budaya Mendengarkan atau Pasif………...……… 90
3.4.2 Iman tanpa Perwujudan dalam Kehidupan Konkret………… 92
3.4.3 Kurangnya Koordinasi dan Pembina Katekese Umat yang Kompeten………. 93
Bab IV Pemahaman Kritis terhadap Katekese Umat………... 97
4.1 Katekese………. 97
4.1.1 Pengertian Katekese……… 97
4.1.2 Isi Katekese………. 99
4.1.3 Tugas Utama Katekese……… 99
4.1.4 Pelaku Katekese……….. 102
ix
4.2 Hakikat Katekese Umat: Katekese dari Umat, oleh Umat, dan
untuk Umat………. 103
4.3 Suasana Saling Menghargai demi Katekese Umat………. 112
4.4 Kompetensi Fasilitator………... 117
4.5 Sebuah Problematik……… 119
Bab V Belajar dari FABC………... 122
5.1 Sekilas FABC………. 122
5.2 Gereja Lokal……….……..…… 125
5.3 Evangelisasi……… 128
5.4 Dialog dan Inkulturasi……… 132
5.4.1 Dialog………..……… 132
5.4.1.1 Dialog dengan Pluralitas Budaya……… 134
5.4.1.2 Dialog dengan Pluralitas Agama………. 135
5.4.1.3 Dialog dengan Realitas Kemiskinan………... 138
5.4.2 Inkulturasi……… 142
5.5 Umat Beriman Awam………. 143
5.6 Inspirasi FABC bagi Katekese Umat………... 145
5.6.1 Inspirasi dari Paham Gereja Lokal dan Evangelisasi bagi Katekese Umat……… 147
5.6.2 Inspirasi dari Paham Dialog dan Inkulturasi bagi Katekese Umat……… 149
x
5.6.3 Inspirasi dari Paham tentang Kaum Awam bagi Katekese Umat……… 150
Bab VI Penutup……….. 152
Lampiran 1: Berbagai Pernyataan Bersama dalam PKKI………… 156 Rumus Katekese Umat yang Dihasilkan oleh PKKI II……… 156 Usaha Pembinaan Pembina Katekese Umat Proses dan Pokok-pokok
Pemikiran PKKI III……….……… 158
Pernyataan Bersama Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan Se-
Indonesia (PKKI) V……….. 162
Lampiran 2: Contoh Rencana Katekese Umat: Katekese Umat tentang Tanah………. 165 Pertemuan Pertama: Tanah adalah Warisan Leluhur yang
Mempersatukan Kita……… 165 Pertemuan Kedua: Tanah sebagai Sumber Kehidupan
Kita………..………. 169
Daftar Pustaka………. 172
xi Abstrak
Kristus sejak semula mengutus Gereja untuk mewartakan Injil. Ini adalah misi yang penting bagi Gereja. Melalui katekese, umat beriman dididik sehingga sampai pada kedewasaan iman dan membangun pertobatan dalam kehidupannya.
Katekese ini menjadi tanggung jawab setiap anggota Gereja.
Untuk semakin melibatkan seluruh umat di dalam usaha pembinaan iman umat beriman, Komisi Kateketik KWI menetapkan Katekese Umat sebagai arah dan dasar katekese di Indonesia. Katekese umat adalah katekese dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Unsur pokok di dalam katekese umat itu adalah sharing iman atau komunikasi iman. Melalui sharing iman tersebut, para peserta saling membantu mengembangkan iman peserta katekese umat. Karena katekese adalah pendidikan iman, sharing iman tentu tidak memenuhi semua aspek katekese.
Katekese membutuhkan unsur pengajaran iman.
Belajar dari FABC, disadari bahwa pewartaan adalah tanggung jawab setiap Gereja lokal. Di tengah pluralitas agama, pluralitas budaya, dan realitas kemiskinan yang ada Gereja Asia berusaha mewujudkan ajaran kristiani. Untuk itu, dibutuhkan keterlibatan setiap anggota Gereja. Supaya kaum beriman semakin terlibat di dalam karya katekese, perlulah diadakan formatio katekis sehingga mereka sadar, mau, dan mampu terlibat di dalam pembinaan iman umat beriman.
xii
Abstract
From the beginning, Christ sent his disciples to preach the gospel. This is an important mission of the Church. By catechesis, Christians are educated to grow their faith and spirituality and to reconcile to their own life with the message of the Gospel. Catechesis formation is the responsibility of all Christians.
To invite all Christians in the catechesis, Commission for Catechetics of the Indonesian Bishops’ Conference (Komisi Kateketik Konferensi Wali Gereja Indonesia) introduced Katekese Umat as the direction and foundation of Indonesian catechesis. Katekese Umat is a mystagogical process, which is from Christians, by Christians, and for Christians. The most fundamental element of this process of “Katekese Umat” is faith-sharing in which participants help each other to develop their faith. Because catechesis is a form of education of faith, faith-sharing is important, yet does not cover the whole aspects of catechesis. The teaching of faith is needed as well.
Learning from FABC documents, it is necessary to be aware that evangelization is the responsibility of the local Church. In the midst of plurality of religions, and Asian traditions and overwhelming poverty, the Asian Church attempt to live and express Christians’ faith within an Asian context. For that reason, ecclesial as well as social involvement of all Christians is crucial. In order to grow their involvement, the formation of catechists is greatly recommended so that they gradually become aware, willing, and capable to participate in the education of faith for all Christians.
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Pemikiran
Pewartaan merupakan misi Gereja yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaannya. Sejak semula, Kristus mengutus Gereja untuk mewartakan kabar baik bagi semua orang. Berbagai bentuk pewartaan telah berkembang sejak zaman dahulu sampai dengan saat ini. Bagi Gereja Indonesia, pewartaan itu juga telah membuat benih Sabda tersebar dan bertumbuh dengan subur. Oleh karena itu, tak pelak perlu disadari dan disyukuri karya pewartaan dari para misionaris beserta pengganti-pengganti mereka dan dari pewarta-pewarta lokal yang telah dengan susah payah mewartakan Sabda Allah kepada masyarakat Indonesia.
Sebagai bagian dari pewartaan itu sendiri, katekese merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Katekese sebagai sebuah pendidikan iman bagi umat beriman kristiani juga telah mengalami perkembangan di sana-sini. Sejalan dengan itu, pada tahun 1977, Panitia Kateketik merumuskan sebuah usaha untuk memperbarui katekese dengan bentuk baru yaitu Katekese Umat. Katekese Umat itu kemudian menjadi bahan pembicaraan dalam pertemuan kateketik nasional selama beberapa dekade. Melalui Katekese Umat tersebut, Panitia Kateketik ingin mengajak supaya semua umat beriman bertanggung jawab terhadap perkembangan katekese di Indonesia.
Sejalan dengan refleksi di dalam rumusan Katekese Umat itu, Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) juga melihat bahwa pewartaan justru harus terjadi di dalam Gereja lokal yang sungguh menghidupi nilai-nilai Kristiani di tengah pluralitas agama, pluralitas budaya, dan realitas kemiskinan yang ada di sekitarnya. Itu semua dibangun melalui dialog dengan agama-agama lain, dengan budaya-budaya lain, dan dengan semua orang, terutama mereka yang miskin. Dari dialog tersebut, diharapkan Gereja Asia menjadi Gereja yang terinkulturasi.
Dalam segala usaha itu, Gereja Asia menyadari bahwa membangun Gereja lokal bukanlah sekedar tanggung jawab kaum klerus saja. Diperlukan kerjasama antara kaum klerus, religius, dan awam. Mereka semua bertanggung jawab dan berperan serta penuh dalam pembangunan Gereja lokal. Dengan demikian, mereka semua diajak untuk terlibat secara penuh di dalam karya pewartaan Gereja.
Di balik semua gerakan itu, ada usaha baik dari Gereja lokal maupun dari Gereja universal untuk semakin melibatkan umat beriman awam di dalam karya Gereja. Selama ini, karya pewartaan identik dengan pewartaan dari para imam, bruder, suster, atau pun para katekis saja. Sementara itu, mereka yang lain hanya menjadi pendengar yang dituju oleh para pewarta itu.
Nyatanya, Gereja bukanlah sekedar hierarki. Gereja adalah seluruh umat Allah yang dipersatukan di dalam iman kepercayaan para rasul dan berada dalam kesatuan dengan Paus di Roma. Oleh karena itu, melalui Katekese Umat, umat beriman, siapapun dia, diberi kesempatan untuk membagikan pengalaman imannya. Di sana terjadi sharing iman sehingga diharapkan terjadi sebuah proses katekese sebagai pembinaan iman.
1.2 Pokok Permasalahan
Di dalam Pertemuan Kateketik Antar-Keuskupan se-Indonesia Pertama (PKKI I), disepakati bahwa Katekese Umat menjadi arah dan dasar bagi katekese Indonesia. Katekese Umat itu diarahkan supaya semakin membentuk umat beriman yang terlibat di dalam pembinaan iman umat beriman.
Permasalahannya, pada lingkup bawah, Katekese Umat ini sering dilakukan sambil lalu dan menjadi model drop dari atas. Atau bahkan secara jujur harus diakui bahwa di Keuskupan Agung Semarang (KAS), Katekese Umat belum atau tidak dipromosikan dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, Katekese Umat ini tinggal menjadi konsep yang mungkin dimiliki oleh para ahli teologi, katekese, dan mungkin komisi kateketik. Sementara umat tidak pernah dilibatkan sama sekali. Pada tingkat lingkungan atau wilayah, mereka tinggal memakai panduan yang diberikan oleh Panitia APP atau Adven dari Keuskupan. Ada tema yang satu, tunggal, dan seragam dengan daerah lain.
Bahkan, pada tingkat paling bawah, bahan Katekese Umat yang dibentuk dan dirumuskan dengan sangat baik oleh Panitia APP maupun Adven itu seringkali tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di suatu kesempatan renungan Adven yang pernah penulis ikuti, model Katekese Umat di mana semua membagikan pengalaman hidupnya, menemukan akar masalah, menatapkannya dengan Kitab Suci dan merencanakan sebuah aksi dan kemudian mengevaluasinya ternyata tidak terjadi sebagaimana diharapkan. Untuk berbagi pun mereka enggan.
Kadang para peserta sampai saling melemparkan dan menuduh antar-peserta.
Fasilitator kadang hanya comotan dan mempersiapkan hanya dengan membaca
panduan yang sudah ada. Yang menggelikan, ketika mereka sudah membagikan pengalaman konkret mereka, akar permasalahan tidak diketemukan dan dirumuskan. Setelah itu, proses merenungkan permasalahan itu dan dihadapkan dengan Kitab Suci menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi setiap peserta.
Dalam arti tertentu dan dalam lingkup yang terbatas, rasanya Katekese Umat yang dicanangkan oleh Gereja Indonesia sebagai arah katekese mengalami keterbatasan dan kemandulan. Kalau demikian, ada sebuah pertanyaan besar apakah katekse ini sudah semakin membuat umat beriman mau terlibat di dalam karya pewartaan Gereja.
Untuk itu, kami ingin kembali melihat dan mengamati bagaimana Katekese Umat itu sebetulnya. Perkembangan apa saja yang selama ini sudah dirumuskan dan dinyatakan dari PKKI ke PKKI. Bagaimana dan dalam kondisi apa sejatinya Katekese Umat itu bisa dan mesti berjalan. Ke mana Katekese Umat mau dibawa di dalam langkah Katekese Umat. Dan selanjutnya, kami ingin melihat sungguhkah Katekese Umat ini mencukupi untuk menjawab tantangan keterlibatan seluruh umat beriman?
Permasalahan-permasalahan itu kami kerucutkan pada sebuah pertanyaan dasar, “Apakah Katekese Umat memang bisa mendorong keterlibatan umat dalam pembinaan iman umat beriman?” Kalau tidak, apa yang bisa dibuat untuk semakin mengembangkan keterlibatan umat di dalam pembinaan iman itu?
1.3 Batasan Masalah
Tulisan ini akan membatasi pada beberapa lingkup kecil. Lingkup pertama adalah pembahasan tentang Katekese Umat. Katekese ada berbagai ragam dan tentu saja juga memiliki berbagai macam pandangan. Karena yang kami bahas adalah katekese Indonesia, maka penyempitan kami pilih pada Katekese Umat.
Katekese Umat adalah arah dan dasar dari katekese di Indonesia. Oleh karena itu, layak kalau tema ini yang menjadi sudut pandang.
Katekese Umat itu tidak akan kami pandang sebagai sebuah praksis dan kemudian kami lihat di lapangan secara konkret. Paham tentang Katekese Umat akan coba dibahas sejarah dan perkembangannya dari dokumen PKKI.
Diharapkan dari sana semakin bisa dipahami jati diri Katekese Umat itu. Apa saja yang ada di sana, bidang apa saja yang bisa disentuh, bagian mana saja yang baik, dan bagian mana saja yang belum di sentuh. Selanjutnya, Katekese Umat itu akan coba dibahas dan dikupas secara lebih sistematik.
Setelah memahami jati diri Katekese Umat itu, selanjutnya perlulah belajar dari FABC berkaitan dengan bagaimana mengembangkan pewartaan dan sekaligus keterlibatan kaum awam. Diharapkan ada sumbangan yang bisa diambil dari FABC itu demi perkembangan Katekese Umat itu sendiri.
Hanya pada dua bidang itulah penulisan ini akan berjalan. Dalam kesempitan itu, diharapkan pembahasan bisa semakin baik dan mendalam.
1.4 Tujuan Penulisan
Dari pembahasan dan perjumpaan dua bidang tersebut, diharapkan semakin jelas apakah Katekese Umat yang sudah sekian lama dirumuskan dan ditetapkan itu tepat dan sesuai untuk membangun keterlibatan umat di dalam pembinaan iman.
Ini menjadi semacam ajakan dan rekomendasi untuk kembali melihat pendidikan dan arah katekese zaman sekarang. Ada bahaya bahwa Katekese Umat sudah dirasa lapuk dan tidak lagi bisa berguna. Atau juga karena sudah terjadi sekian lama, Katekese Umat kemudian ditinggalkan karena dianggap sudah tidak up to date. Pertanyaannya, apakah Katekese Umat ini menjadi inspirasi dan jiwa bagi lembaga-lembaga pendidikan kateketik dalam rangka mendidik para calon katekis.
Sekiranya Katekese Umat masih tepat dan relevan, diharapkan tulisan ini menjadi semacam usulan dan rekomendasi untuk kembali menggiatkan Katekese Umat. Dengan demikian, pendidikan para fasilitator Katekese Umat bisa semakin didorong. Beberapa usulan bisa dirumuskan ulang demi semakin mengembangkan Katekese Umat.
Selain itu, sekarang ini penulis sedang terlibat di dalam proses formatio bagi para calon katekis. Di dalam salah satu kurikulumnya, terdapatlah pembahasan tentang Katekese Umat. Melalui tulisan ini, penulis ingin memahami dan mendapatkan penjelasan tentang Katekese Umat. Dengan demikian, penulis berharap bisa semakin terlibat di dalam pembinaan para calon katekis tersebut.
1.5 Metode dan Sumber Penulisan
Untuk penulisan ini, dua tahapan penting ingin dilihat yaitu mengamati secara mendalam perkembangan Katekese Umat dari PKKI ke PKKI. Dari pengamatan itu, ingin dicari jati diri dan inti sari dari Katekese Umat. Coba diurai struktur-struktur yang ada di dalam Katekese Umat tersebut. Ini dibuat dengan mencari kejelasan dari dokumen-dokumen Komisi Kateketik yang membahas tentang Katekese Umat.
Selanjutnya, Katekese Umat itu akan coba diteropong dengan berbagai pernyataan akhir dari sidang pleno FABC. Di sana, ingin dilihat apa itu pewartaan, subjek pewartaan, dan siapa yang terlibat di dalam usaha pewartaan itu sendiri. Tentu dokumen itu akan coba dilihat dalam kelengkapannya dengan keterangan-keterangan yang lain dari dokumen-dokumen FABC yang lain.
Baru setelah pembahasan dua hal itulah akan ditemukan dan direfleksikan bagaimanakah Katekese Umat seharusnya, dan bagian mana saja dari Katekese Umat yang kiranya baik dan perlu semakin dikembangkan. Dari sinilah dibentuk sebuah refleksi.
Untuk mendukung usaha itu, maka metode yang lebih dipilih adalah metode studi dokumen, yaitu dokumen dari Komisi Kateketik serta dokumen FABC. Ini dipilih karena ini yang paling memungkinkan untuk memahami Katekese Umat dan FABC. Selain itu, Keuskupan Agung Semarang sendiri tidak menggalakkan Katekese Umat itu. Maka, tidak mungkinlah melakukan dan mengamati Katekese Umat di Keuskupan Agung Semarang ini. Untuk meneliti pelaksanaan Katekese Umat, dibutuhkan penelitian yang dilakukan pada
keuskupan lain yang memang nyata melaksanakan Katekese Umat. Dan itu tentu memakan waktu, biaya, dan pemikiran yang tidak dapat ditanggung oleh penulis.
1.6 Sistematika Penulisan
Untuk mendukung penulisan ini, maka karangan ini akan dibagi menjadi enam bab. Bab pertama berbicara tentang latar belakang penulisan, pokok permasalahan, batasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sumber penulisan. Pada bagian ini, ingin dijelaskan berbagai latar belakang yang mendahului serta pertanyaan dasar yang ada di dalam tulisan ini.
Bab yang kedua berbicara tentang sejarah perkembangan Katekese Umat dari PKKI I sampai dengan PKKI VIII. Selanjutnya, akan dilihat secara kurang lebih menyeluruh segala sesuatu yang ada di sekeliling Katekese Umat, yakni latar belakang dari Katekese Umat itu sendiri. Di sini, secara selayang pandang dilihat perkembangan dan pergeseran yang terjadi di dalam Katekese Umat.
Setelah pada Bab II berbicara tentang sejarah perkembangan Katekese Umat, pada Bab Ketiga, Katekese Umat itu coba diuraikan secara konstruktif dan sistematis, yakni tujuan Katekese Umat, syarat-syarat Katekese Umat, serta hambatan-hambatan dalam pelaksanaan Katekese Umat.
Setelah mendalami Katekese Umat, sebelum melangkah lebih jauh lagi, maka pada Bab Keempat, dimunculkan sebuah pembahasan kritis yang mengembangkan pengertian tentang Katekese Umat. Pembahasan kristis itu meliputi perumusan Katekese Umat itu sendiri, suasana saling menghargai demi Katekese Umat, serta peran fasilitator di dalam Katekese Umat.
Selanjutnya, pada Bab Kelima, pembahasan kemudian beranjak kepada FABC. Di sini, Katekese Umat coba dikontekstualkan dalam aspirasi dan pemikiran FABC, khususnya mengenai tugas pewartaan Gereja di Asia. Ini semua dilihat dengan mempelajari dokumen-dokumen FABC beserta dengan berbagai artikel pendukungnya.
Dan akhirnya, pada Bab Keenam, coba diambil sebuah sumbangan yang bisa diambil dari FABC bagi keterlibatan umat beriman dalam pembinaan iman umat beriman sebagaimana diharapkan melalui katekese umat.
Pada akhirnya, semoga tulisan ini sungguh menjadi usaha untuk melihat kembali Katekese Umat, dan menempatkannya pada konteks membangun Gereja yang melibatkan semua umat beriman untuk bertanggung jawab dalam pembinaan iman umat beriman. Dengan demikian, diharapkan Katekese Umat bisa dikembangkan dan direkomendasikan sedemikian rupa sehingga bisa sungguh menjadi arah dan dasar dari katekese Indonesia.
BAB II
Perkembangan Katekese Umat
2.1 Sejarah Perkembangan Katekese Umat dalam PKKI
Dalam sejarah perkembangan Gereja Indonesia sampai akhir tahun enam puluhan, belum pernah diadakan perbincangan dan pembahasan tentang katekese.
Katekese selama ini masih menjadi gerakan sporadis dan terpisah-pisah. MAWI (Majelis Wali Gereja Indonesia) belum memberikan banyak perhatian untuk bidang itu.
Pada tahun 70-an, Gereja Katolik Indonesia ditantang untuk meninjau kembali pengertian katekese yang dilaksanakan sampai saat itu. MAWI tahun 1977 dalam sidang tahunannya secara khusus membahas tema “Mencari Arah Katekese di dalam Gereja yang Berkembang di Indonesia”1. Dari sidang para uskup itu, dirumuskan bahwa “katekese ialah usaha saling menolong terus- menerus dari setiap orang untuk menyarikan dan mendalami hidup pribadi maupun bersama menurut pola Kristus menuju kepada hidup kristiani yang dewasa penuh”2. Secara singkat, rumusan itu kemudian dipertegas menjadi
“katekese sebagai komunikasi iman umat, katekese dari umat, dan untuk umat,
1 Komkat KWI, Upaya Pengembangan Katekese di Indonesia, Kanisius, Yogyakarta 1997, 9.
2 J.S. Setyakarjana SJ, “Keprihatinan Pastoral R. Hardawiryana SJ”, dalam Sentire Cum Ecclesia:
Bakti Membangun Gereja yang Hidup, Hartono Budi SJ & M. Purwatma Pr (eds), Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta 2005, 231.
katekese yang menjemaat, yang berdasarkan pada situasi konkret setempat menurut pola Yesus Kristus”3.
Di balik rumusan itu, terdapat gagasan untuk melibatkan semua umat beriman kristiani, baik klerus, religius, katekis, maupun umat beriman awam yang lain dalam karya katekese. Selama ini, ada kesan bahwa perkembangan iman umat beriman tergantung pada peran para klerus, katekis, maupun kaum religius.
Dari hasil sidang tahunan para uskup itu, kemudian digagas adanya sebuah pertemuan kateketik secara nasional. Sebelumnya, belum pernah diadakan pertemuan antar-Panitia Kateketik (Pankat) dari setiap Keuskupan di Indonesia.
J.S. Setyakarjana SJ, sebagai ketua Pankat KWI waktu itu, menggagas diadakannya pertemuan nasional itu. Pada tahun 1977 di Sindanglaya Bogor, diselenggarakan Pertemuan Kateketik Antar-Keuskupan se-Indonesia (PKKI) I4. Dari sidang PKKI I itu, disadari dan dimunculkan gagasan tentang Katekese Umat (KU). Pada bagian ini, akan coba dipaparkan perkembangan dalam pertemuan kateketik nasional dari I sampai VIII sebagai usaha untuk semakin mengenali Katekese Umat.
2.1.1 PKKI I
PKKI I dilaksanakan di Sindanglaya tanggal 29 Juni – 5 Juli 1977. Dalam pertemuan itu, direfleksikan dan disharingkan pengalaman berkatekese di setiap keuskupan di Indonesia. Dari refleksi dan sharing itu, kemudian muncul gagasan untuk mengembangkan sebuah katekese yang dibuat oleh umat, dari umat, dan
3 J.S. Setyakarjana SJ, “Keprihatinan Pastoral R. Hardawiryana SJ”, 231.
4 J.S. Setyakarjana SJ, “Keprihatinan Pastoral R. Hardawiryana SJ”, 236.
untuk umat. Dari sinilah kemudian didengungkan gagasan tentang Katekese Umat. Tetapi, pada pertemuan ini, Katekese Umat belum begitu dirumuskan dengan jelas. Katekese Umat baru menjadi gagasan yang ingin coba diterapkan dalam praksis katekese bagi umat beriman. Gagasan dari pertemuan ini kemudian menyebar dan dikembangkan di setiap Keuskupan. Dalam rangka sejarah perkembangan Katekese Umat, ini merupakan tonggak di mana Katekese Umat berdiri.
Tampaknya, hasil dari PKKI I ini merupakan penguatan atau perumusan ulang dari apa yang sudah diputuskan oleh sidang MAWI sebelumnya. Kalau demikian, bisa agak dipahami bahwa perumusan gagasan tentang Katekese Umat ini pertama-tama berkembang bukan dari kalangan katekis sendiri, tetapi diinsipirasi dan dimotori oleh hierarki Gereja. Dalam arti positif, hierarki mau memberdayakan kaum awam. Sementara itu, kesadaran awam akan peran serta mereka di dalam katekese baru mulai berkembang.
2.1.2 PKKI II
PKKI II dilaksanakan pada tanggal 29 Juni – 5 Juli 1980 di Wisma Samadi Klender. Pada pertemuan ini, gagasan Katekese Umat yang muncul pada PKKI I dan sudah coba dibuat dan dikembangkan di masing-masing Panitia Kateketik kemudian coba dirumuskan secara lebih definitif. Pertemuan ini muncul karena kesadaran akan kebutuhan untuk meninjau kembali jalan yang sudah ditempuh, untuk bertukar pengalaman, dan untuk saling menyemangati.
Pengertian tentang Katekese Umat sebagaimana dirumuskan di dalam PKKI I “ibarat benih: pohon apakah gerangan yang tumbuh dari benih itu; apakah pertumbuhan itu sehat; apakah sudah dapat dipetik buahnya. Pembina-pembina tenaga katekis merasa ada kekaburan dan ketidakjelasan tentang Katekese Umat itu sehingga sulit mengarahkan tenaga katekis menurut haluan itu”5. Dirasa perlu mencari penjernihan dan kejelasan terhadap gagasan Katekese Umat yang digulirkan pada PKKI I di Sindanglaya tiga tahun sebelumnya supaya Katekese Umat sebagai arah katekese di Indonesia lebih operasional.
Dari PKKI II di Wisma Samadi Klender ini, dihasilkan dan dirumuskan sebuah rumus Katekese Umat. Pada bagian pertama, dirumuskan dengan tegas apakah yang dimaksud dengan Katekese Umat, yaitu: “komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antar anggota jemaat/kelompok.
Melalui kesaksian para peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna”6.
Selanjutnya, pada bagian kedua, dijelaskan bagaimanakah sharing iman itu. “Dalam Katekese Umat itu, kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan pengantara kita menanggapi Sabda Allah”7. Masih pada bagian yang sama, kemudian dijelaskan peran Yesus dan Kitab Suci, “Yesus Kristus tampil sebagai pola hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Baru, yang mendasari penghayatan iman Gereja di sepanjang Tradisinya”8.
5 Th. Huber SJ, Katekese Umat, Kanisius, Yogyakarta 1981, 7.
6 PKKI II, art. 1.
7 PKKI II, art. 2.
8 PKKI II, art. 2.
Pada bagian ketiga, ditegaskan bahwa “yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman, yang secara pribadi memilih untuk lebih memahami Kristus”9. Dalam kerangka itu, “Kristus menjadi pola hidup pribadi, pun pula pola kehidupan kelompok”10. Masih pada bagian ini, diberi catatan bahwa “penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja itu sendiri”11.
Pada bagian keempat dijelaskan tentang peran pemimpin katekese.
“Pemimpin katekese terutama sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator). Ia adalah pelayan yang menciptakan suasana yang komunikatif. Ia membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka”12.
Pada bagian yang kelima, dijelaskan tentang iman yang sederajat dan suasana keterbukaan sebagai prasyarat dalam Katekese Umat. “Katekese Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, … Peserta berdialog dalam suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan”13.
Pada akhirnya, pada bagian keenam dijelaskan tujuan dari Katekese Umat itu sendiri. Ada empat tujuan Katekese Umat, yaitu: “… dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari; … bertobat (metanoia) kepada Allah …; semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita; … makin menjemaat, …;
sehingga … memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah
9 PKKI II, art. 3.
10 PKKI II, art. 3.
11 PKKI II, art. 3.
12 PKKI II, art. 4.
13 PKKI II, art. 5.
masyarakat”14. Untuk rumusan yang lebih lengkap dari rumus PKKI II ini, bisa dilihat pada lampiran.
P. Th. Huber SJ menyatakan bahwa rumusan itu tidak bebas dari tumpang tindih pengulangan, susunan yang tidak logis, maupun kekaburan-kekaburan tertentu15. Itu bisa dipahami karena rumusan ini hanya dibuat dalam waktu satu minggu oleh sedemikian banyak orang. Memang, rumusan itu bisa dirumuskan kembali sehingga lebih logis, singkat, padat, dan jelas. Akan tetapi, hal semacam itu tidak dibuat. Kekurangan-kekurangan yang ada pada rumusan tersebut coba diimbangi dengan menampung sebanyak mungkin gagasan-gagasan dari para peserta PKKI II itu. Kalau demikian, rumusan ini menjadi lebih bermakna dan menggigit. Bukan yang singkat, padat, maupun logis yang lebih dibutuhkan.
Kalau usulan mereka masuk dan ditampung, bukankah justru akan muncul perasaan bangga dan bergairah bagi para peserta.
Kini, rumus Katekese Umat itu sudah lebih jelas. Permasalahan bagaimana arah ini dilaksanakan dalam keuskupan masing-masing sangat ditentukan oleh keadaan konkret daerah dan kelompok yang bersangkutan. Setiap pelaksana katekese dan terlebih setiap Panitia Kateketik harus merenungkan dan memilih melalui cara mana Katekese Umat ini bisa dijalankan di dalam jangkauan kerjanya, dengan siapa saja harus dimulai lebih dulu, dan apa yang menjadi dorongan maupun rintangan dari setiap daerah16.
14 PKKI II, art. 6.
15 PKKI II, art. 6.
16 PKKI II, art. 6.
2.1.3 PKKI III
PKKI III dilaksanakan di Pacet Jawa Timur pada tanggal 29 Januari – 5 Februari 1984. Pertemuan nasional katekis ini lebih berbicara tentang pembinaan pembina Katekese Umat. Masalah pembina Katekese Umat merupakan sebuah masalah yang penting. Mereka menjadi fasilitator dalam kegiatan Katekese Umat.
Maka, masalah ini dibicarakan karena memang mereka (para fasilitator)–lah yang akan menjadi ujung tombak bagi berjalannya Katekese Umat. Sebagai ujung tombak, mereka perlu dididik dengan sedemikian rupa sehingga sungguh bisa menghidupkan dan mengembangkan Katekese Umat di setiap bidang.
Berdasarkan usulan yang dikirimkan dari setiap Pankat dan Lembaga Kateketik, akhirnya disepakati bahwa tema pokok PKKI III adalah “Pembinaan Pembina Katekese Umat” dengan ditambahkan tema sekunder yaitu “Katekese Keluarga dan Sekolah Minggu”. Dari tema itu, dirumuskan tujuan PKKI III sebagai berikut: “Melalui PKKI III ini, kita mau memahami atau belajar dari pengalaman rekan-rekan keterampilan-keterampilan dalam meningkatkan usaha pembinaan pembina Katekese Umat, sehingga kita memperoleh perluasan pandangan, peneguhan, dan persaudaraan”17.
Berikut ini coba diuraikan pokok-pokok pemikiran PKKI III itu18. Akan tetapi, untuk melihat keputusan dari PKKI III secara lengkap, lihat pada bagian lampiran.
Berkaitan dengan pembina Katekese Umat, dijelaskan bahwa “pembina Katekese Umat ialah seorang yang mampu dan rela untuk menjalankan Katekese
17 PKKI II, art. 6.
18 Komkat KWI, “Usaha Pembinaan Pembina Katekese Umat”, Ekawarta, 2/IV/1984, 19-22.
Umat dalam kelompok umat dasar”19. Peran mereka di dalam katekese mutlak penting. Berkaitan dengan hal itu, para pembina Katekese Umat diharapkan adalah seorang pribadi yang “… beriman Katolik yang sadar akan panggilan Roh untuk melayani sesama; … rela mengumpulkan, menyatukan, dan membimbing kelompok umat dasar untuk melaksanakan Katekese Umat …; … menghargai setiap peserta …; … berperan sebagai pengarah dan pemudah untuk menciptakan suasana komunikatif …”20.
Untuk itu, ada dua keterampilan yang harus dimiliki oleh pembina Katekese Umat yaitu keterampilan berkomunikasi dan keterampilan berefleksi.
Dalam keterampilan berkomunikasi, pembina Katekese Umat diharapkan terampil dalam “mengumpulkan, menyatukan, dan mengarahkan suatu kelompok …;
mengungkapkan diri, berbicara, dan mendengarkan; serta menciptakan suasana yang memudahkan peserta untuk mengungkapkan diri dan mendengarkan pengalaman orang lain”.21 Dalam keterampilan berefleksi, pembina Katekese Umat diharapkan untuk terampil dalam “menemukan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari; menemukan nilai-nilai kristiani dalam Kitab Suci, ajaran Gereja, dan tradisi kristiani lainnya; serta menggumuli nilai-nilai kristiani dalam kehidupan konkret”.22
Supaya itu semua dipenuhi, maka para pembina Katekese Umat perlu dibina melalui pengalaman/praktek hidup, komunikasi pengalaman iman, komunikasi dengan tradisi kristiani, arah keterlibatan baru atau pembaharuan
19 PKKI III, art. 2.
20 PKKI III, art. 2.
21 PKKI III, art. 3.
22 PKKI III, art. 3.
hidup dan keterlibatan kelompok umat dalam pengembangan masyarakat. “Sulit membayangkan suatu bentuk pembinaan pembina Katekese Umat yang tidak mengandung pengalaman Katekese Umat”23.
Berdasarkan hasil PKKI III ini, menjadi jelas bagaimanakah sosok pembina Katekese Umat. Berkaitan dengan watak, dirumuskan dengan tegas bahwa seorang pembina Katekese Umat haruslah seorang Katolik yang sadar akan panggilannya, rela membimbing umat, memiliki penghargaan terhadap setiap peserta, dan bertugas hanya menjadi pengarah dan pemudah dalam berkatekese. Untuk bisa mewujudkannya, dibutuhkan keterampilan untuk berkomunikasi dan berefleksi. Inilah sosok yang diharapkan dari seorang pembina katekese. Supaya sosok itu bisa ada dan hadir, dibutuhkan sebuah pola pembinaan bagi para calon pembina katekese. Di dalam pembinaan itu, mereka perlu mengalami atau memiliki pembinaan dalam: pengalaman hidup, komunikasi pengalaman iman, komunikasi dengan tradisi kristiani, dan pembaruan arah keterlibatan. Memang di sana-sini akan terdapat penghambat dan pendukung usaha pembinan pembina Katekese Umat itu sendiri. Tetapi, Gereja harus tetap gigih untuk terus mengembangkan dan mengusahakan pembina Katekese Umat yang semakin baik mutunya dan kurang lebih cukup untuk memenuhi kebutuhan pembinaan bagi umat beriman.
23 PKKI III, art. 4.
2.1.4 PKKI IV24
PKKI IV dilaksanakan di Denpasar pada tanggal 24-28 Oktober 1988.
Tema yang dipilih untuk pertemuan ini adalah “Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat”. Tema ini membawa wawasan baru yang menantang perubahan strategi dalam berkatekese. Sebetulnya, dari beberapa pertemuan pendahuluan untuk koordinasi dan persiapan PKKI IV ini, ada empat bidang yang ingin dibahas yaitu: evaluasi Katekese Umat, evaluasi Kurikulum 1984, pola-pola pelajaran agama dan Katekese Umat, serta analisis sosial. Pada bagian ini, secara khusus hanya akan dibahas dan diungkap dua bidang yang secara langsung berhubungan dengan Katekese Umat.
Pada dapur Katekese Umat, direfleksikan dan disharingkan bahwa Katekese Umat ternyata bisa berjalan. Tetapi, pada beberapa hal juga belum berjalan. Itu antara lain karena pembina yang kurang memahami Katekese Umat, hierarki yang sering tidak memerhatikan Katekese Umat, klerikalisme sentris masih kuat, materi Katekese Umat yang dilaksanakan melulu hal-hal gerejawi, dan hambatan struktural sehingga umat pasif25. Bahkan, sempat muncul tanda tanya besar, “Sebetulnya Katekese Umat itu apa?” Unsur-unsur pokok Katekese Umat dalam penjabarannya masih dimengerti secara berbeda-beda. Tetapi, dari sana juga muncul pertanyaan, “apakah memang pemahaman Katekese Umat itu belum merata ataukah sebetulnya belum adanya satu banting stir, suatu perubahan
24 Sekretariat Komkat KWI, “PKKI IV, Membina Iman yang terlibat dalam Masyarakat”, dalam Ekawarta, 1/IX/1989, 4-10.
25 Komkat KWI, Upaya Pengembangan Katekese di Indonesia, 11.
sikap mental umat pun sang pemandu sendiri? Mungkin kita sudah mengerti banyak, tetapi tidak berbuat banyak”26.
Beranjak dari sharing dan pengalaman yang semacam itu, dalam dapur Katekese Umat, disadari perlunya kemampuan untuk membumikan iman di dalam kehidupan. Membumikan iman berarti memasukkan pengalaman hidup sehari-hari di dalam masyarakat di dalam refleksi iman. Dalam kerangka itu, diperlukan kemampuan dan kemauan untuk melihat dan menyadari segala macam situasi sosial yang ada di masyarakat. Untuk itu, dibutuhkan sebuah analisis sosial yang semakin membantu umat beriman untuk membaca dan memetakan situasi sosial kehidupannya. Untuk itu, dapur Katekese Umat membutuhkan bantuan dari dapur analisis sosial.
Sementara itu, di dapur analisis sosial, peserta mencoba menganalisis suatu masalah sosial dan akhirnya menemukan akar masalahnya. Para peserta mencoba menganalisis masalah politik, struktur, sosial budaya, agama, dan sebagainya. Hasil dari analisis itu kemudian dimanfaatkan di dalam pembahasan setiap regio supaya semakin konkret. Hal itu perlu dibuat karena setiap wilayah tentu memiliki kekhususan pengalaman yang berbeda dari daerah lain. Dalam hal ini, analisis sosial merupakan sebuah sarana atau alat bedah untuk melihat permasalahan dengan lebih tepat. Selanjutnya, setelah ditemukan akar dari permasalahan, hasil analisis bisa digunakan dalam Katekese Umat.
Dari sinilah akhirnya disadari perlunya pembaruan atas seluruh gagasan dan pelaksanaan katekese. Supaya Katekese Umat sungguh mampu
26 Sekretariat Komkat KWI, “PKKI IV, Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat”, 7.
menumbuhkan iman yang terlibat, perlulah analisis sosial. Tetapi, karena mereka bukanlah sosiolog, melainkan katekis dan pembina katekese, analisis sosial perlu dibatasi pada lingkup katekese saja27.
Refleksi PKKI IV atas tema “Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat” merupakan sebuah pengembangan atas seluruh kegiatan katekese sejak PKKI I. Di dalam PKKI, sejak awal telah dirumuskan sebuah Katekese Umat yang berasal dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Saat ini, PKKI IV sadar akan kekurangan di dalam pelaksanaan Katekese Umat. Iman masih terpisah dari kehidupan konkret. Pelaksanaan Katekese Umat dirasa masih terlalu interen.
PKKI IV mengajak supaya iman dikembangkan di dalam keterlibatan.
Memang PKKI IV menganjurkan penggunaan analisis sosial untuk menemukan akar permasalahan sosial yang ada. Tetapi, ada kesan bahwa analisis sosial yang dilaksanakaan PKKI IV terbatas terutama pada analisis sosial dalam bidang politik, ekonomi, dan kemasyarakatan. Unsur keagamaan dan kebudayaan, yang juga merupakan realitas masyarakat, tidak atau kurang dibicarakan. Padahal, gejala-gejala sosial ini sangat menonjol di Indonesia28.
Di sisi lain, di dalam PKKI IV itu juga belum dibicarakan secara mendalam peran Sabda Allah dan bagaimana hasil analisis sosial itu didialogkan dengan Sabda Allah sendiri. Padahal, ini adalah proses yang penting dalam melaksanakan sebuah Katekese Umat29.
27 Sekretariat Komkat KWI, “PKKI IV, Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat”, 8.
28 Fx. Adisusanto SJ, “Menelusuri Jejak-jejak PKKI IV”, Ekawarta, 4/IX/1989, 15.
29 Fx. Adisusanto SJ, “Menelusuri Jejak-jejak PKKI IV”, 15.
2.1.5 PKKI V
PKKI V dilaksanakan di Wisma Caringin Bogor pada tanggal 22 – 30 September 1992. Permasalahan yang dibicarakan masih berkutat pada “Membina Iman yang terlibat dalam masyarakat”. Berkaitan dengan Katekese Umat, ada beberapa permasalahan yang bisa diangkat dari perkembangan yang terjadi setelah PKKI IV.
Pertama, secara positif harus dihargai bahwa pelaksanaan Katekese Umat telah membawa dampak yang positif. Umat mulai aktif dalam kegiatan katekese.
Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa budaya satu arah, dalam arti hanya mendengar saja, masih kuat berakar pada budaya-budaya di Indonesia ini30.
Kedua, di dalam PKKI IV telah dirasakan pentingnya sebuah analisis sosial untuk membantu umat dalam menemukan permasalahan dasar, dan selanjutnya mengolahnya dalam terang Sabda. Akibatnya, umat semakin bisa menyadari masalah-masalah yang ada di masyarakatnya. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa di sana-sini banyak ditemukan umat yang belum menghayati imannya sebagai iman yang bersifat sosial31. Ada juga bahaya dan permasalahan di mana analisis sosial hanya berhenti pada analisis dan tidak dibawa pada kehidupan konkret.
Ketiga, Katekese Umat sebagai suatu proses belum begitu diminati dan dihayati. Orang cenderung ingin memperoleh hasil yang cepat dan masak.
Padahal, Katekese Umat adalah sebuah proses yang tidak sekali jadi dan harus
30 Sekretariat Komisi Kateketik KWI, “Pertemuan Nasional ke-V Para Katekis Antar Keuskupan Seluruh Indonesia: Rapat Persiapan Februari 1992”, Ekawarta, 2/XII/1992, 61.
31 Sekretariat Komisi Kateketik KWI, “Pertemuan Nasional ke-V Para Katekis Antar Keuskupan Seluruh Indonesia”, 61.
dibuat dalam jangka waktu yang panjang32. Ada bahaya bahwa umat tidak mau bersusah-susah untuk mengolah iman mereka sendiri.
Keempat, disadari bahwa iman ternyata di sana-sini belum menjadi inspirasi ketika umat beriman melakukan tindakan dalam hidupnya. Sebagai contoh, budaya untuk menjenguk atau membantu orang atau tetangga yang kesulitan pertama-tama bukan hasil dari dorongan iman, tetapi lebih sebagai hasil dari dorongan kebudayaan gotong-royong33. Untuk itu, iman perlu ditempatkan dalam posisi yang sebetulnya, yaitu sebagai dasar dan pondasi kehidupan.
Kelima, lembaga-lembaga kateketik kurang begitu memberi porsi pada praktek katekese bagi para calon katekis. Akibatnya, ketika mereka lulus dan terjun ke lapangan, mereka justru harus banyak belajar dari para katekis senior.
“Mereka merasa justru lebih banyak belajar dengan lokakarya-lokakarya katekese yang diadakan di Keuskupan di mana mereka bekerja daripada di almamaternya”34.
Dengan kembali memahami PKKI IV dan memerhatikan berbagai laporan dan permasalahan yang muncul dari keuskupan-keuskupan di atas, akhirnya ditetapkan tujuan dari PKKI V. Tujuan itu dirumuskan demikian: “Memahami dan meyakini pentingnya katekese sosial sebagai upaya untuk membina iman yang terlibat dalam masyarakat”35.
32 Sekretariat Komisi Kateketik KWI, “Pertemuan Nasional ke-V Para Katekis Antar Keuskupan Seluruh Indonesia”, 61.
33 Sekretariat Komisi Kateketik KWI, “Pertemuan Nasional ke-V Para Katekis Antar Keuskupan Seluruh Indonesia”, 61.
34 Sekretariat Komisi Kateketik KWI, “Pertemuan Nasional ke-V Para Katekis Antar Keuskupan Seluruh Indonesia”, 61.
35 Sekretariat Komisi Kateketik KWI, “Sekilas Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan Se- Indonesia ke 5 (PKKI V)”, Ekawarta, 5/XII/1992, 40.
Dari PKKI V itu, dihasilkan sebuah pernyataan bersama. Berikut akan diambilkan beberapa gagasan pokok dari pernyataan bersama tersebut. Untuk melihat pernyataan bersama itu secara lengkap, bisa dibaca pada bagian lampiran.
Pada bagian awal dari pernyataan bersama itu, disadari bahwa “pertemuan dengan tema ‘Membina Iman yang terlibat dalam Masyarakat’ ini lebih bercorak usaha untuk belajar bersama-sama tentang bagaimana lewat bantuan analisis sosial kami bisa melihat situasi masyarakat dengan lebih jelas dalam dimensi keselamatannya”36.
Pada dasarnya analisis sosial bukanlah hal yang baru. Analisis sosial
“hanyalah suatu sarana, namun juga suatu sarana yang penting”37. Analisis sosial itu “berusaha mengungkapkan wujud konkret ketidakadilan dalam struktur sosial yang berlaku. … lewat model analisis ini pula cara-cara tanpa kekerasan bisa dicari dan diusahakan untuk mengubah struktur masyarakat dan mencari alterntifnya”38. Untuk itu, analisis sosial menuntut “suatu kepekaan akan ketidakadilan yang muncul dari spiritualitas kedekatan dengan orang kecil”39.
Latar belakang teologis dari penggunaan analisis sosial di dalam Katekese Umat adalah kesadaran akan misi Gereja: “Mewartakan Injil Kerajaan Allah dan ikut serta menjadi saksi serta pelaku perwujudan awalnya di dunia ini”40. Maka, pewartaan itu sekaligus adalah pewartaan Yesus Kristus di tengah situasi konkret masyarakat.
36 PKKI V, art. 2.
37 PKKI V, art. 5.
38 PKKI V, art. 5.
39 PKKI V, art. 5.
40 PKKI V, art. 6.
Disadari dalam pertemuan tersebut bahwa analisis sosial bisa dibantu oleh ilmu-ilmu lain. “Dengan bantuan ilmu-ilmu manusia, analisis dijalankan dalam perspektif untuk menemukan wujud realitas Kerajaan Allah, atau kekuatan- kekuatan penentangnya, di masa sekarang”41.
Berkaitan dengan penggunaan Kitab Suci dalam katekese yang menggunakan analisis sosial, disadari bahwa masalahnya adalah “bagaimana mempertemukan pengalaman kemasyarakat masa kini dengan pengalaman iman alkitabiah”42. Akhirnya, disadari bahwa “Katekese Umat itu suatu proses, dan penggunaan Kitab Suci dalam proses tersebut bukanlah semata-mata soal menemukan teks yang tepat, melainkan soal membiasakan diri terbuka akan pengalaman iman orang lain, dan terutama pengalaman iman alkitabiah, sehingga terbiasa pula dengan dinamika perjumpaan dengan Allah dalam macam-macam wujud konkret”43.
Akhirnya, diyakini bahwa katekese dengan analisis sosial tersebut “ikut serta memberi wujud konkret pada realisasi Kerajaan Allah, realisasi yang bagaimanapun di dunia ini selalu bercorak tanda yang menanti pemenuhan definitifnya oleh Allah di akhir zaman44.
Sebagaimana yang menjadi usulan dan gagasan dari PKKI IV, memang analisis sosial sebagai mata bedah untuk melakukan Katekese Umat mulai digarap dengan lebih mendalam. Itu semua dibuat dalam bentuk-bentuk latihan. Para peserta diajak untuk berlatih. Selanjutnya, mereka diajak untuk bergulat dengan
41 PKKI V, art. 7.
42 PKKI V, art. 8.
43 PKKI V, art. 8.
44 PKKI V, art. 10.
Sabda Allah, untuk mencari inspirasi dari sana. Apa yang kurang dari PKKI IV kini telah ditambahkan dan dilengkapi.
2.1.6 PKKI VI
PKKI VI dilaksanakan di Wisma Samadi Klender pada tanggal 1 – 10 Agustus 1996. Di dalam pertemuan itu, tema yang diambil adalah “Menggalakkan Karya Katekese di Indonesia”. Di dalam tema itu, terlihat bahwa tidak ada suatu hal baru yang mau digumuli di dalam pertemuan itu45. Kesempatan ini lebih mau dilihat dan dipakai sebagai kesempatan bagi para aktivis katekese untuk saling berbagi dan mencari titik temu dalam usaha menggalakkan karya katekese di Indonesia. PKKI ini hanya memperdalam apa yang sudah dijalankan selama ini.
PKKI VI ini ingin lebih tajam mengamati perkembangan masyarakat dewasa ini. Memang zaman ini mengalami banyak kemajuan positif yang patut diacungi jempol. Negara bisa membangun dengan baik. Akan tetapi, di sana-sini juga terdapat hal-hal negatif yang perlu dicermati secara mendalam. Arus globalisasi yang kuat menyebabkan rakyat terperangkap dalam budaya massa.
Konsumerisme memengaruhi masyarakat. Politik diwarnai oleh konflik-konflik kepentingan.
Di tengah situasi seperti itu, Gereja ditantang untuk menegaskan kembali jati dirinya di tengah masyarakat. Gereja ditantang untuk menjadikan nilai-nilai Kerajaan Allah hadir di dalam masyarakat masa kini. Dalam usaha itu, Gereja tetap perlu terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus, serta mau berdialog dan
45 Melkhior Koli Baran, ”Tekad Memangun Jemaat Kerajaan Allah: Ansos Masih Jadi Andalan dalam Katekese”, Ekawarta, 17, no. 1-2, 32.
bekerja sama dengan semua orang. Jemaat Gereja perlu berbaur dengan masyarakat yang ada di sekitarnya46.
Usaha untuk menegaskan jati diri Gereja di dalam situasi zaman ini perlu didukung oleh katekese yang memadai serta spiritualitas yang cocok bagi tenaga- tenaga katekese. Dalam usaha menggalakkan karya katekese demi menegaskan jati diri Gereja itu, pada PKKI VI ini, dibahas 6 tema. Tetapi, hanya tema-tema yang berkaitan langsung dengan Katekese Umatlah yang akan dibahas di sini.
Kelompok yang membahas tema “Kitab Suci dalam Katekese Umat – Ansos” mencoba mengolah peran Kitab Suci dalam Katekese Umat – ansos.
Mereka melihat bahwa Kitab Suci sungguh penting dalam katekese. Tetapi ada beberapa kesulitan dalam kenyataan. Kesulitan pertama adalah kesulitan material di mana banyak umat tidak memiliki Kitab Suci. Kesulitan kedua adalah kesulitan berkaitan dengan pemahaman akan Kitab Suci. Sedang kesulitan ketiga adalah dalam menggunakan dan memilih teks Kitab Suci dalam Katekese Umat – ansos.
Meskipun demikian, telah dibuat beberapa usaha untuk mengatasi hal itu. Di beberapa tempat, sudah coba dibuat kursus maupun lokakarya Kitab Suci serta kerja sama dengan lembaga kateketik, Komisi Kitab Suci, maupun ahli-ahli Kitab Suci. Diharapkan umat semakin dekat dan terbiasa dengan Kitab Suci. Itu semua untuk mengusir kekhawatiran dan keragu-raguan dalam memanfaatkan Kitab Suci sebagai inspirasi, peneguh, pembanding, dan pengkritik47.
Kelompok yang membahas tema “Peranan katekese dalam membangun jemaat yang berorientasi pada Kerajaan Allah” mencoba menggali sejauh mana
46 Dr. M. Purwatma Pr, “Menggalakkan Karya katekese di Indonesia: Refleksi dan Rangkuman PKKI – VI”, Ekawarta,16, no. 4, 20.
47 Dr. M. Purwatma Pr, “Menggalakkan Karya katekese di Indonesia”, 22.
katekese sungguh membangun jemaat yang berorientasi pada Kerajaan Allah.
Jemaat yang berorientasi pada Kerajaan Allah yang digambarkan adalah jemaat yang mengikuti semangat Kristus dan sungguh menjadi jemaat setempat. Namun, beberapa kendala ditemui di dalam usaha itu. Banyak jemaat nyatanya tidak bisa terlibat dan menghayati perannya di dalam Gereja. Mereka cenderung terlalu hierarkis, dan sementara umat awam sering hanya mengagungkan para imam dan menyudutkan peran katekis. Di lain sisi, katekese yang terjadi kurang inkulturatif sehingga mengakibatkan sikap mendua dalam iman dan dalam kehidupan konkret48. Meskipun berada di antara tegangan sudah mengusahakan dan beberapa juga belum mengusahakan katekese yang berorientasi pada Kerajaan Allah, disadari bahwa hal ini mendesak. Kesadaran untuk membangun Kerajaan Allah di bumi Indonesia yang semakin gersang ini menjadi sesuatu hal yang mendesak.
Disini, peran Katekese Umat tidaklah kecil49.
Kelompok yang berbicara tentang tema “Spiritualitas dan keterampilan katekis untuk katekese Ansos” melihat pentingnya spiritualitas dan keterampilan dari para katekis. Seringkali keberhasilan Katekese Umat bersandar pada peran katekis. Spiritualitas katekis ingin ditempatkan pada spiritualitas dan tugas perutusan Gereja. Gereja sejak semula dipanggil untuk menjalankan tugas perutusan sebagaimana dibuat oleh Yesus. Hidup dan perutusan Gereja terarah kepada dunia agar Kerajaan Allah semakin dihadirkan di dunia ini. Ini jugalah yang kemudian menjadi tugas seluruh umat beriman. Dengan demikian, ini juga menjadi tugas dan sekaligus spiritualitas para katekis. Dalam tugas pewartaannya,
48 Dr. M. Purwatma Pr, “Menggalakkan Karya katekese di Indonesia”, 23.
49 Dr. M. Purwatma Pr, “Menggalakkan Karya katekese di Indonesia”, 24.
seorang katekis menghayati panggilannya sebagai anggota Gereja yang mengikuti Kristus mewartakan Kerajaan Allah di dunia.
2.1.7 PKKI VII
PKKI VII dilaksanakan di Sawiran Jawa Timur pada tanggal 24-30 Juni 2000. Refleksi PKKI VII sekarang bergeser pada Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Ini karena pengaruh pertemuan SAGKI tahun 2000. Dirasakan bahwa Katekese Umat sudah hidup dan berkembang di tengah umat; tentu dengan melihat berbagai macam situasi positif dan negatif yang ada di lapangan.
Pada kesempatan itu, juga direfleksikan tentang KBG. Komunitas Basis Gerejawi adalah persekutuan yang senantiasa bertumbuh, berkembang, dan berada di tengah-tengah perjalanan. Komunitas Basis Gerejawi adalah suatu cara menggereja di mana suatu kelompok yang cukup kecil menjelmakan ciri-ciri konstitutif Gereja seperti memiliki pengalaman hidup yang mendasar (perjuangan akan keadilan, ketenteraman hidup, perjuangan hak, pembebasan dari kemiskinan), menimba kekuatan hidup dari Sabda Allah sebagai sumber kebebasan otentik, terbuka kepada segala macam orang, mempunyai kualitas communio yang menandai “relasi” antar-anggota, dan lain-lain50. KBG itu memiliki ciri: komunitasnya relatif kecil, mendasari hidupnya pada firman Allah, berorientasi kepada kaum kecil, menghayati pola hidup alternatif, menjadi basis pemberdayaan umat awam, memiliki stabilitas teritorial tertentu, serta terbuka dan mempunyai kedekatan dan keterlibatan permanen dengan orang miskin.
50 Komisi Kateketik KWI, “Laporan Komisi Kateketik Pada Sidang Sinodal KWI: Jakarta 6-11 November 2000”, Spektrum, 29, no. 3, 70.
Katekese Umat mempunyai segala karakter yang dapat mendukung berkembangnya Komunitas Basis Gerejawi, seperti kesederajatan dasariah yang menandai komunikasi iman dari umat ke umat, titik tolaknya pada pengalaman, pemusatan diri pada Sabda Allah, orientasi pada aksi, sikap kritis (analisis sosial) pada situasi masyarakat, dan sebagainya. Di lain sisi, Katekese Umat membutuhkan dan mengandaikan sebuah taraf komuniter di dalam diri peserta Katekese Umat. Tanpa ada taraf komuniter ini, sikap berbagi dan kesederajatan antar-anggota tidak akan bisa berjalan dengan baik.
Untuk itu, Katekese Umat perlu dibuat untuk menunjang berdirinya dan terbentuknya KBG ini. Oleh karena itu, Katekese Umat perlu menghantar umat pada kesadaran perlunya berkomunitas, membangun komunitas, dan saling mengenal. Katekese Umat perlu menghantar anggota komunitas sampai memiliki visi, misi, dan spiritualitas yang sama. Katekese Umat harus mengamalkan kesederajatan. Semua anggota memiliki peran yang sama. Hanya dalam suasana yang seperti itulah Katekese Umat bisa sungguh berkembang dan mengembangkan Komunitas Basis Gerejawi.
Di sini, bisa terlihat bahwa refleksi tentang Katekese Umat akhirnya berkembang. Katekese Umat dibuat sehingga mendukung KBG. Ini adalah pengembangan lebih lanjut dari Katekese Umat. Penambahan tema KBG dalam refleksi Katekese Umat adalah sebuah gerak langkah maju.
2.1.8 PKKI VIII
PKKI VIII diselenggarakan pada tanggal 22-28 Februari 2004 di Wisma Misericordia, Malang. Di dalam pertemuan ini, tema yang diambil adalah Katekese Umat yang Membangun Hidup Gereja yang Kontekstual. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana Katekese Umat bisa menunjang pertumbuhan dan perkembangan Kelompok Basis Gerejani. Dicari usaha supaya Katekese Umat bisa membangun KBG yang lebih berdimensi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya.
KBG dicetuskan di dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2000. KBG dicanangkan sebagai cara hidup menggereja yang baru.
Tetapi, disadari bahwa KBG sampai saat ini masih hanya berkutat pada kegiatan- kegiatan rohani, liturgis, dan belum banyak menyentuh dimensi sosial, politik, dan ekonomi. KBG belum memiliki daya transformatif bagi kehidupan masyarakat51. Dengan demikian, dimensi sosial, politik, dan ekonomi belum disentuh dalam kehidupan umat beriman di berbagai kelompok. Penghayatan iman pincang karena tidak ada keterlibatan dan kepedulian terhadap bidang sosial, ekonomi, dan politik masyarakat. Liturgi masih menduduki posisi yang paling penting. Iman kristiani selalu diidentikkan dengan perayaan kultis-liturgis.
Dalam situasi seperti itu, PKKI VIII ini bermaksud antara lain untuk mencari solusi konkret untuk memberdayakan KBG agar lebih transformatif, serta lebih berdaya guna dalam membangun kehidupan manusia sesuai kehendak
51 Komisi Kateketik KWI, “PKKI VIII: Katekese Umat yang Membangun Hidup Gereja (KBG) yang Kontekstual”, Spektrum, 2 & 3/XXXV/2007, 245.
Tuhan52. Dalam hal ini, ingin dicari dan diusahakan supaya Katekese Umat yang menjadi arah dari katekese Indonesia sungguh bisa menghidupkan iman umat dalam rangka membangun KBG. Apa yang perlu dibuat dan diusahakan dalam Katekese Umat demi membangun KBG yang menjadi arah pembentukan Gereja Indonesia?
Pembangunan KBG memang dirasakan perlu dengan bantuan dari Katekese Umat. Itu bisa dipahami karena Katekese Umat merupakan bagian dari lima bidang kehidupan Gereja: liturgia, kerygma, diakonia, martyria, dan koinonia. Sebagai bagian dari lima bidang kehidupan Gereja itu, Katekese Umat pantas menjadi penunjang yang penting bagi berjalan dan berkembangnya KBG.
Dari perbincangan dan refleksi yang terjadi di dalam PKKI VIII ini, di sadari bahwa KBG merupakan sebuah terobosan untuk semakin mengembangkan Gereja Indonesia. KBG merupakan wadah yang bisa jadi bentuknya beragam, tetapi memiliki roh yang sama. KBG menjadi sarana pembentukan masyarakat yang transformatif sehingga iman sungguh berdaya bagi kehidupan. Dalam arti itu, KBG menjadi sebuah wadah untuk semakin memberdayakan masyarakat, yakni memberdayakan mereka yang lemah, miskin, dan tersingkir, tetapi sekaligus juga mengetuk hati mereka yang berkuasa sehingga semakin terdorong untuk menggunakan kekuasaan mereka secara arif dan bijaksana. Sebagai sebuah metode misi pada abad ini, KBG bersedia untuk tenggelam, menyelam, dipermandikan dalam konteks sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan
52 Komisi Kateketik KWI, “PKKI VIII”, 245.
masyarakat53. Sebagai usaha pemberdayaan dan metanoia, KBG bukanlah bentukan dari atas dan didrop begitu saja. KBG merupakan sebuah wadah sporadis yang dirawat, dituntun, dan didampingi dari bawah. KBG sungguh hidup dari dan dalam pengalaman, baik pengalaman keberhasilan maupun pengalaman kegagalan54. Di sinilah KBG menjadi wadah persaudaraan umat beriman.
Dalam usaha mengembangkan KBG yang semacam itu, disadari bahwa bentuk dari Gereja berubah. Pola menggereja berubah. Ini jelas menuntut suatu katekese yang baru juga. Katekese Umat perlu disesuaikan dan diperkembangkan sedemikian rupa sehingga sungguh pas dengan kebutuhan Gereja. Di dalam PKKI VIII ini, disadari bahwa Katekese Umat merupakan ujung tombak bagi proses pemahaman dan pembentukan KBG55. Melalui Katekese Umat, gagasan dan spiritualitas KBG bisa semakin bertumbuh dan berkembang. Di sini, terjadi konsientisasi akan permasalahan, mempertemukan pengalaman dengan Sabda Tuhan, merumuskan aksi, dan akhirnya mengevaluasi dan memperbaiki aksi.
Dengan demikian, di dalam Katekese Umat terjadi dinamika yang terus berlanjut dan berputar. Terjadi perluasan, pendalaman, perbaikan, dan penajaman.
Dalam hubungan dengan KBG, Katekese Umat yang baik adalah (1) Katekese Umat yang menyadarkan persoalan dan menjawab kebutuhan umat beriman; (2) Katekese Umat yang membawa pada kemandirian hidup di tengah tata dunia; (3) Katekese Umat yang menyadarkan umat untuk berperan aktif
53 Komisi Kateketik KWI, “PKKI VIII”, 250.
54 Komisi Kateketik KWI, “PKKI VIII”, 251.
55 Komisi Kateketik KWI, “PKKI VIII”, 253.
dalam karya pastoral; serta (4) Katekese Umat yang menegakkan dan menghidupkan kembali iman yang integral56.
Secara konkret, ketika Katekese Umat berada dalam KBG, Katekese Umat harus bersentuhan dengan masalah sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat. Di sini, pendekatan yang diambil di dalam Katekese Umat mencakup tahap informatif, konsientisasi, dan akhirnya praksis serta aksi. Di sini, Katekese Umat menggodok permasalahan bersama di komunitas dengan kehadiran pendamping atau fasilitator. Dalam terang Kitab Suci, pemahaman itu dipersoalkan dan dipertajam sehingga terbentuk cara pandang Kristiani atas suatu permasalahan. Dari pemahaman yang sudah dipertajam itu, kemudian dibuat aksi, mencari jalan keluar, dan merumuskan kiat pemecahan. Setelah aksi, proses mesti berjalan terus dengan laporan dan evaluasi kegiatan dalam pertemuan kelompok.
Dengan demikian, Katekese Umat menjadi proses yang terus berlanjut dan berputar, dan di sana selalu terjadi perluasan, pendalaman, perbaikan, dan penajaman57.
Ketika Gereja berubah, katekese juga mengalami perkembangan. Itulah yang terjadi di dalam PKKI VIII ini. Katekese Umat sebagai sebuah sarana yang ada di dalam Gereja Indonesia kembali disesuaikan demi perkembangan Gereja sendiri. Katekese Umat tidak mau lepas dari gerak Gereja Indonesia.
56 Daniel B. Kotan (ed), Membangun Komunitas Basis Gerejawi Berdaya Transformatif Lewat Katekese Umat: Sharing, refleksi kritis dan gagasan dari PKKI VIII, Komisi Kateketik KWI, Jakarta 2004, 125-126.
57 Daniel B. Kotan (ed), Membangun Komunitas Basis Gerejawi Berdaya Transformatif Lewat Katekese Umat, 132-133.
2.2 Latar Belakang Katekese Umat
Katekese Umat bukanlah sebuah arah yang muncul begitu saja dari langit.
Ada berbagai macam latar belakang yang memengaruhi mengapa akhirnya Katekese Umat dipilih sebagai arah dasar dari karya katekese di Indonesia.
Berkaitan dengan latar belakang tersebut, ada dua hal yang cukup mewarnai yaitu latar belakang budaya dan pergerakan Gereja Asia sendiri. Dua bidang itu akan coba dibahas di bawah ini untuk semakin menajamkan pemahaman akan Katekese Umat.
2.2.1 Budaya Musyawarah yang Ada di Indonesia58
Di dalam budaya Indonesia, dikenal adanya budaya musyawarah. Budaya musyarawarah ini sudah mengakar sedemikian lama dan berkembang di dalam budaya nasional. Di desa-desa zaman dahulu, kita bisa melihat bagaimana masyarakat suatu kampung atau desa berkumpul bersama untuk membicarakan masalah tertentu. Sebagai contoh, ketika sebuah kampung atau desa ingin mengadakan kegiatan bersih desa, maka para kepala keluarga kemudian diundang untuk berkumpul dan berbicara bersama tentang kegiatan bersih desa yang akan dilaksanakan.
Di dalam kebiasaan musyawarah warga tersebut, keputusan bersama biasanya diambil dengan mendengarkan pandangan dari masing-masing orang.
Dari pembicaraan tersebut, kemudian dicapai sebuah mufakat yang akan
58 Yosef Lalu Pr, Katekese Umat, Komisi Kateketik KWI, Jakarta 2007, 63.
dijalankan dan berlaku untuk mereka semua. Tidak ada voting dan tidak ada yang kalah atau menang di dalam musyawarah tersebut.
Di dalam kegiatan musyawarah tersebut, tidak ada perbedaan antarpeserta.
Setiap peserta duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Tidak ada yang mendominasi di dalam pembicaraan. Tidak ada pandangan yang kemudian dianggap sebagai pandangan yang bersifat otoritatif. Semua pandangan mendapat penghargaan dari setiap peserta musyawarah. Di sini berkembang kesejajaran dan kesederajatan setiap peserta, serta keterlibatan setiap peserta. Di balik itu semua, ada penghargaan akan setiap pribadi yang hadir dalam kegiatan musyawarah tersebut. Setiap peserta dianggap memiliki pengalaman dan kemampuan untuk mengutarakan gagasan yang baik. Tidak ada perasaan malu kalau dari orang yang lebih muda muncul gagasan yang ternyata lebih jitu dan lebih baik. Ini tentu berbeda dengan gaya pembicaraan yang bersifat otoritatif yang dikembangkan di dalam militer.
Aspek yang kedua adalah keterlibatan setiap peserta. Melalui kegiatan musyawarah, sebetulnya setiap peserta dilibatkan secara total. Mereka tidak sekedar menerima akibat dari keputusan-keputusan yang diambil oleh pihak-pihak tertentu, terutama mereka yang berkuasa. Mereka diajak untuk terlibat dalam pengambilan keputusan sejak awal dan kemudian pelaksanaannya. Dengan demikian, ketika kesepakatan atau mufakat diambil, tidak ada salah satu pihak yang kalah atau menang. Sebelum keputusan diambil, setiap peserta diperkenankan untuk mengungkapkan pandangannya. Ketika keputusan atau mufakat sudah diambil, keputusan itu berlaku untuk setiap peserta. Tidak ada