• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 10/PUU-XV/2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 10/PUU-XV/2017"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 10/PUU-XV/2017

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DAN

UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN DOKTER

TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

MENDENGARKAN KETERANGAN AHLI/SAKSI PRESIDEN (VIII)

J A K A R T A

RABU, 2 AGUSTUS 2017

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 10/PUU-XV/2017 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Praktik Kedokteran [Pasal 1 angka 4, angka 12, angka 13, Pasal 14 ayat (1) huruf a, Pasal 29 ayat (3) huruf d, Pasal 38 ayat (1) huruf c] dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Dokter [Pasal 24 ayat (1), Pasal 36 ayat (3), Pasal 39 ayat (2)]

terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 PEMOHON

1. Judilherry Justam 2. Nurdadi Saleh

3. Pradana Soewondo, dkk.

ACARA

Mendengarkan Keterangan Ahli/Saksi Presiden (VIII) Rabu, 2 Agustus 2017 Pukul 11.07 – 13.17 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Arief Hidayat (Ketua)

2) Anwar Usman (Anggota)

3) Aswanto (Anggota)

4) I Dewa Gede Palguna (Anggota)

5) Maria Farida Indrati (Anggota)

6) Manahan MP Sitompul (Anggota)

7) Saldi Isra (Anggota)

8) Suhartoyo (Anggota)

9) Wahiduddin Adams (Anggota)

(3)

Ida Ria Tambunan Panitera Pengganti Pihak yang Hadir:

A. Pemohon:

1. Judilherry Justam 2. Nurdadi Saleh

3. Marulam Panggabean 4. Zainal Azhar

5. Arman Adel 6. Sudjoko Kuswadi

7. Indah Suci Widya Hening 8. Setiawati

B. Kuasa Hukum Pemohon:

1. Vivi Ayunita

2. Ai Latifah Fardiyah C. Pemerintah:

1. Mulyanto 2. Ninik Hariwanti 3. Kirana Pritasari 4. Barlian

5. Intan Ahmad 6. Sundoyo

7. Diah Saminarsih D. Ahli dari Pemerintah:

1. Herkutanto 2. Refly Harun

E. Saksi dari Pemerintah:

1. Akmal Taher F. Pihak Terkait:

1. Ilham Oetama Marsis 2. Mahesa Pranadipa 3. Hadi Wijaya

4. Muhammad Adi Humaidi 5. Maria Murbarita

(4)

G. Kuasa Hukum Pihak Terkait:

1. Zulhaina Tanamas 2. Muhammad Joni

(5)

1. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sidang dalam Perkara Nomor 10/PUU- XV/2017 dengan ini dibuka dan terbuka untuk umum.

Saya cek kehadirannya. Pemohon, silakan siapa yang hadir?

2. KUASA HUKUM PEMOHON: VIVI AYUNITA

Terima kasih, Yang Mulia. Pada hari ini hadir saya Vivi Ayunita dan Ai Latifah selaku Kuasa Pemohon bersama dengan Prinsipal sebelah kiri saya, dr. Judilherry Justam. Di sebelah kanan saya, ada dr. Nurdadi Saleh, lalu ada dr. Marulam Panggabean, kemudian ada dr. Zainal Azhar, juga ada dr. Arman Adel, selanjutnya ada dr. Sudjoko Kuswadi, dan juga ada dr. Indah Suci Widya Hening, dan juga dr. Setiawati. Terima kasih, Yang Mulia.

3. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, terima kasih. DPR tidak hadir. Dari Pemerintah, silakan.

4. PEMERINTAH: MULYANTO

Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Yang hadir dari Pihak Pemerintah dari Kementerian Ristek dan Dikti, Prof. Intan Ahmad (Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan). Kemudian, Bapak Barlian, S.H., M.Kes. (Staf Ahli Menteri Bidang Hukum Kesehatan).

Kemudian, Ibu dr. Kirana Pritasari, M.K.M. (Sekretaris Badan BPSDM).

Kemudian, Bapak Sundoyo, S.H., M.K.M. (Kepala Biro Hukum dan Organisasi). Kemudian, Diah Saminarsih (Staf Khusus Menteri).

Kemudian, dari Kementerian Hukum dan HAM, Ibu Ninik Hariwanti, S.H., L.L.M. (Direktorat Litigasi) dan saya sendiri Pak Mulyanto. Dari Ahli, Yang Mulia, Prof. Dr. Herkutanto, S.P., S.H., L.L.M. Kemudian, Dr. Refly Harun, S.H., M.H., L.L.M. Kemudian, dari Saksi Prof. dr. Akmal Taher, Sp.Ok. Ya, kemudian, Ratna tidak bisa hadir, Yang Mulia karena sakit.

5. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Ya. Keterangan tertulis, ya?

6. PEMERINTAH: MULYANTO

SIDANG DIBUKA PUKUL 11.07 WIB

KETUK PALU 3X

(6)

Ya.

7. KETUA: ARIEF HIDAYAT Baik.

8. PEMERINTAH: MULYANTO

Mungkin sidang berikutnya, Yang Mulia, izin.

9. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Anu … keterangan tertulis kita terima saja, sudah cukup, ya.

10. PEMERINTAH: MULYANTO Terima kasih, Yang Mulia.

11. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Kemudian, dari Pihak Terkait, silakan.

12. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: MUHAMMAD JONI

Terima kasih, Yang Mulia. Atas perkenaan, Yang Mulia, kami hadir Pihak Terkait. Saya selaku Penasihat Hukum, Muhammad Joni, S.H., M.H. Kemudian, Zulhaina Tanamas, S.H. Hadir juga hari ini Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, Sp.Og (K). selaku Ketua Umum. Yang kedua, Dr. Muhammad Adi Humaidi, Sp.OT. (Sekretaris Jenderal), Dr. Mahesa Paranadipa, M.H.

(Ketua Bidang Organisasi), dr. Hadi Wijaya, M.P.H., M.H.Kes (Ketua Bidang Advokasi dan Legislasi), dan dr. Maria Murbarita (Ketua Bidang Advokasi dan Legislasi) juga. Terima kasih, Yang Mulia.

13. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, terima kasih. Pak Yanto, yang dipersoalkan kemarin sebelum

… atau sidang yang lalu tentang kehadiran Pak Sitorus dan pak … pak siapa namanya … saya lupa, pak direktur itu. Gimana, bu?

14. PEMERINTAH: NINIK HARIWANTI

Ya, baik. Nanti kami akan susulkan secara tertulis, Yang Mulia.

(7)

15. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Ya. Apakah hadir pada waktu penyusunan RPP itu, kan?

16. PEMERINTAH: NINIK HARIWANTI

Hadir, tapi yang nanti akan memberi klarifikasi.

17. KETUA: ARIEF HIDAYAT Ya, itu keterangannya, ya?

18. PEMERINTAH: NINIK HARIWANTI Ya.

19. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Itu kita butuhkan sekali, ya.

20. PEMERINTAH: NINIK HARIWANTI Siap.

21. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Ya. Begitu, Yang Mulia, ya. Sudah kita cek nanti untuk … baik.

Baik. Kita pada sidang pagi hari ini akan mendengarkan Ahli dan Saksi yang diajukan oleh Pemerintah. Sebelum menyampaikan keterangannya, saya persilakan untuk diambil sumpahnya terlebih dahulu. Prof. Herkutanto, dan Pak Refly Harun, serta Prof. Akmal Taher, saya persilakan maju ke depan untuk diambil sumpahnya. Prof.

Herkutanto beragama Katolik. Kemudian, Pak Refly dan Prof. Akmal Taher beragama Islam, ya.

Baik. Yang beragama Katolik terlebih dahulu, Prof. Herkutanto.

Silakan, Prof. Maria.

22. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI Ya. Mohon ikuti saya.

“Saya berjanji sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya. Semoga Tuhan menolong saya.”

23. AHLI DARI PEMERINTAH: HERKUTANTO

(8)

Saya berjanji sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya. Semoga Tuhan menolong saya.

24. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI Terima kasih.

25. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih. Pak Wahiduddin, saya persilakan untuk Ahli dulu Pak Refly Harun, kemudian Prof. Akmal Taher sebagai Saksi.

26. HAKIM ANGGOTA: WAHIDUDDIN ADAMS

Untuk Ahli, Dr. Refly Harun, lafal yang saya tuntunkan untuk diikuti.

“Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya.”

27. AHLI DARI PEMERINTAH: REFLY HARUN

Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya.

28. HAKIM ANGGOTA: WAHIDUDDIN ADAMS

Untuk Dr. Akmal Taher sebagai Saksi, ikuti lafal yang saya tuntunkan.

"Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Saksi akan memberikan keterangan yang sebenarnya, tidak lain dari yang sebenarnya."

29. SAKSI DARI PEMERINTAH: AKMAL TAHER

Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Saksi akan memberikan keterangan yang sebenarnya, tidak lain dari yang sebenarnya.

(9)

Terima kasih, Pak Wahiduddin. Silakan kembali ke tempat, Rohaniwan. Terima kasih.

Dari Pemohon, Ahli dahulu atau Saksi dahulu?

31. PEMERINTAH: MULYANTO

Izin, Yang Mulia dari ah … dari Pemerintah.

32. KETUA: ARIEF HIDAYAT Ya, dari Pemerintah, sori.

33. PEMERINTAH: MULYANTO Ya.

34. KETUA: ARIEF HIDAYAT Silakan.

35. PEMERINTAH: MULYANTO

Pertama, Dr. Refly Harun, Yang Mulia, kemudian Dr. Prof. dr.

Herkutanto.

36. KETUA: ARIEF HIDAYAT Oh, jadi (...)

37. PEMERINTAH: MULYANTO Terima kasih (...) 38. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Ahli terlebih dahulu, ya. Pak Refly, silakan.

39. AHLI DARI PIHAK PEMERINTAH: REFLY HARUN Assalamualaikum wr. wb.

40. KETUA: ARIEF HIDAYAT

(10)

Waalaikumsalam wr. wb.

41. AHLI DARI PIHAK PEMERINTAH: REFLY HARUN

Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi, Pemohon, Pemerintah, DPR, dan Pihak Terkait. Izinkanlah saya menyampaikan keterangan Ahli saya yang sebenarnya hanya me … meliputi satu substansi saja, yaitu mengenai Freedom of Association (kebebasan berserikat dan berkumpul). Selanjutnya, saya bacakan sebagai berikut.

Pendapat hukum, legal opinion ini disampaikan atas permintaan dari Pemerintah dalam kaitan dengan pengujian Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Dokter terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Sebelum lebih jauh menguraikan permasalahan keberlakuan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013, terlebih dahulu Ahli sampaikan bahwa secara konseptual menurut Ahli, kelembagaan suatu organisasi yang tumbuh dari masyarakat dalam hal ini organisasi profesi, seharusnya tidak boleh memonopoli oleh … dimonopoli oleh satu lembaga karena potensial bertentangan dengan prinsip demokrasi dan konstitusi sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 28 dan Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Selanjutnya, pendapat hukum, legal opinion berkenaan judicial riview Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 akan Ahli sampaikan sebagai berikut.

Bahwa ketentuan Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 berbunyi sebagai berikut. “Organisasi profesi adalah Ikatan Dokter Indonesia untuk dokter dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia untuk dokter gigi.”

Bahwa ketentuan a quo menempatkan Ikatan Dokter Indonesia (Indonesian Medical Association) sebagai representasi profesi satu- satunya bagi dokter di seluruh wilayah Indonesia.

Bahwa penempatan Ikatan Dokter Indonesia sebagai wadah tunggal profesi dokter menyisakan persoalan konstitusionalitas sebagai berikut.

Apakah wadah tunggal profesi sejalan dengan prinsip demokrasi dan konstitusi, terutama perkembangan terakhir ini, Yang Mulia? Bahwa secara faktual, keberlakuan pasal a quo menegasikan keberadaan Perhimpunan Dokter Spesialis, Perhimpunan Dokter Seminat yang juga memiliki hak konstitusional yang sama untuk diak … diakui sebagai Organisasi Profesi Dokter dan mungkin organisasi-organisasi lainnya juga yang terkait dengan dunia kedokteran.

(11)

Bahwa selain menegasikan keberadaan Perhimpunan Dokter Spesialis, Perhimpunan Dokter Seminat, wadah tunggal profesi juga bertentangan dengan ketentuan Pasal 28 dan Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang memberikan jaminan pemenuhan hak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Bahwa dalam statusnya sebagai organisasi profesi atau organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dari masyarakat, seharusnya eksistensi kelembagaan Ikatan Dokter Indonesia tidak boleh memonopoli segala urusan kedokteran dari hulu hingga hilir. Sebab, menurut pendapat Ahli, dalam sistem ketatanegaraan hanya lembaga negara (state organ) yang memiliki kewenangan yang bersifat mengatur dan memonopoli kewenangan itu. Itu pun disertai dengan mekanisme pengawasan atau check and balances.

Bahwa Mahkamah Konstitusi melalui putusan Nomor 112/PUU- XII/2014 dan Nomor 36/PUU-XIII/PUU- … secara langsung maupun tidak langsung menegasikan keberadaan wadah tunggal profesi advokat dan meneguhkan hak atas kebebasan berserikat (right to a freedom of association) dengan memerintahkan pengadilan tinggi seluruh Indonesia mengambil sumpah advokat yang diusulkan organisasi advokat yang saat itu secara de facto ada, yakni Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) dan Kongres Advokat Indonesia.

Bahkan perkembangan sekarang semua organisasi, IKADI dan lain sebagainya, itu kalau kemudian mengajukan penyumpahan, itu wajib disumpah juga oleh pengadilan tinggi. Jadi, dari single bar ke multi bar.

Bahwa keberadaan Ikatan Dokter Indonesia sebagai wadah tunggal profesi dokter juga bertentangan dengan Pasal 1 Nomor 20 dan juncto Pasal 36 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Dokter yang hanya merujuk pada organisasi profesi dan secara spesifik tidak merujuk pada organisasi profesi tunggal Ikatan Dokter Indonesia.

Jadi, Yang Mulia, ada perkembangan di antara dua undang- undang ini. Undang-undang pertama mengatakan organisasi itu adalah Ikatan Dokter Indonesia, itu tahun 2004, tapi tahun 2013 mengatakan bahwa hanya dikatakan organisasi profesi yang diakui oleh pemerintah.

Jadi, secara spesifik tidak disebut lagi Ikatan Dokter Indonesia, itu sama seperti penamaan Bank Indonesia di dalam konstitusi, tidak disebutkan secara spesifik Bank Indonesia, tapi sebuah bank central. Yang artinya, pada suatu saat bukan tidak mungkin kemudian Bank Indonesia itu bubar, digantikan bank central yang lain. Karena itulah maksud dalam proses perumusan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang dulu.

Bahwa Mahkamah Konstitusi sebagai the guardian of the constitution tidak boleh membiarkan terjadinya praktik monopoli kewenangan sebagaimana yang dilakukan oleh Ikatan Dokter Indonesia.

Oleh karena itu, perlu kiranya Mahkamah Konstitusi meninjau Pasal 1

(12)

angka 12 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 yang secara nyata- nyata bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

Jadi, tesis Ahli dalam kesempatan ini, Yang Mulia adalah ... yaitu kalau organisasi itu tumbuh dari bawah, tumbuh dari masyarakat, maka kemudian tidak boleh memegang praktik monopoli. Kalau seandainya ada kesadaran untuk membuat wadah tunggal, maka itu harus suatu kesadaran yang tidak boleh dipaksakan, dan kalau seandainya kemudian ada pihak lain yang ingin membuat organisasi yang sama yang juga mengatur tentang dunia kedokteran misalnya atau dunia profesi lainnya, maka sesungguhnya seharusnya undang-undang tidak melarangnya. Ini dalam konteks judicial review.

Itulah sebabnya … tetapi kalau itu berasal dari pihak pemerintah, maka bisa saja kemudian menjadi wadah tunggal. Itulah yang mendasari pemikiran, misalnya ada ide untuk membuat dewan advokat Indonesia dalam konteks apa ... advokat. Karena pada waktu itu yang dikritik terbesar terhadap Peradi adalah ini organisasi masyarakat, tetapi kemudian seperti memiliki peran negara, yaitu bisa mengutip iuran, bisa mengadakan pendidikan, dan lain sebagainya. Lalu kemudian, tanpa kejelasan pertanggungjawaban.

Nah, seharusnya organisasi semacam ini yang memiki peran monopolistik seperti ini hanya bisa ditimbulkan oleh negara, bukan oleh society. Tapi kita pahami, Yang Mulia, zaman dulu memang agak berbeda memang. Banyak sekali organisasi-organisasi quasi state seperti misalnya pramuka, seperti misalnya Ikatan Dokter Indonesia, dan lain sebagainya yang ketika pada era reformasi menjadi bermasalah karena quasi state ini kemudian tidak bisa lagi menggunakan fasilitas-fasilitas negara yang diperlukan, sebagai contoh misalnya pramuka, agak bingung sekarang pramuka ketika mau memelihara tempat pramuka di Cibubur itu. Karena secara the jure, itu milik pramuka dan kemudian disokong, didanai oleh kementerian, kadang-kadang pendidikan, kadang- kadang Kemenpora, tapi pada saat ini agak susah karena pramuka adalah organisasi kemasyarakatan, sementara dana negara tidak bisa diberikan begitu saja kepada organisasi kemasyarakatan. Jadi, quasi state ini hendak dipisahkan kalau kita lihat fenomena terakhir.

Nah karena itulah sebabnya, Ahli berpendapat bahwa karena perkembangan zaman yang ada, bisa sangat mungkin Ikatan Dokter Indonesia yang dulu kita anggap sebagai organisasi yang ideal karena hanya tunggal dan satu, dan kadang-kadang dianggap sebagai role model, barangkali dalam konteks saat ini, dalam gelombang demokrasisasi dan konstitusi, dan karena dia tumbuh dari masyarakat, tidak boleh lagi memonopoli, kecuali dia kemudian dijadikan lembaga yang dibentuk oleh negara, tentu dengan sistem rekruitmen yang kemudian diatur undang-undang semacam fit and proper test dan lain

(13)

sebagainya yang melibatkan lembaga-lembaga negara dan sistem check and balances, misalnya presiden dan DPR.

Demikian, pendapat Ahli. Terima kasih, Yang Mulia. Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum wr. wb.

42. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Waalaikumsalam wr. wb. Terima kasih, Pak Refly, silakan duduk.

Berikutnya, sekarang Prof. Herkutanto. Saya persilakan.

43. AHLI DARI PIHAK PEMERINTAH: HERKUTANTO

Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Perkenankan kami menyampaikan bahwa Ahli memberikan keterangan ini agar berdasarkan surat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan maupun Ahli adalah kebetulan Ketua Konsil Kedokteran, namun Ahli tidak ada hubungannya dan tidak mewakili institusi KKI.

Majelis Yang Mulia, kajian ini diawali dengan permohonan pengujian terhadap sekelompok pasal dalam Undang-Undang Praktik Kedokteran. Jadi, kita melihat bahwa dua konsep esensial yang muncul dari ahli … dari yang dimintakan oleh Pemohon adalah masalah sistem dan masalah pemain. Sistem, itu adalah terkait dengan regulasi praktik kedokteran dan pemain adalah asosiasi profesi dan kolegium.

Yang Mulia, ini akan terkait dengan masalah akuntabilitas profesi terhadap publik yang apabila tidak dipenuhi, niscaya menimbulkan berbagai fenomena konflik. Konflik itu timbul akibat ketidakserasian atau inkompatibilitas pada sistem atau pada pemainnya.

Dan mengapa demikian? Baik sistem yang tidak akuntabel atau pemainnya tidak akuntabel, niscaya menimbulkan rasa ketidakadilan dan berujung pada konflik karena ada peristiwa yang harus dirugikan.

Ternyata ada satu fenomena yang mencengangkan, Yang Mulia.

Kalau kita melihat, ternyata di dalam kurun waktu 10 tahun terhadap regulasi terkait profesi kedokteran, itu dilakukan lima kali judicial review, dimana tiga kali diantaranya atau 60%-nya menjadi sasaran adalah Undang-Undang Praktik Kedokteran ini, walaupun konsil kedokteran belum ber ... genap tiga periode.

Dan, Yang Mulia, pertanyaannya adalah apa sebenarnya yang tengah terjadi? Apakah problematiknya terhadap sistem, ataukah terhadap pemainnya, ataukah kepada keduanya?

Yang Mulia, dalam kajian ini, Ahli tidak sedang mengidentifikasi siapa yang bersalah ataupun berpotensi menimbulkan pihak tertentu dan Ahli menganalisis, baik pada sistem maupun pada pemain. Terkait dengan hal itu, terhadap dua hal utama yang harus dijawab.

(14)

Yang pertama, itu adalah bagaimana tata regulasi praktik kedokteran yang lazim di dunia dan perbandingannya di Indonesia? Lalu, model regulasi apakah yang saat ini tengah kita gunakan?

Yang kedua adalah bagaimana cara para pihak seharusnya berperan di dalam tatanan regulasi praktik kedokteran yang ada dan sudah tepatkah kita mempersepsikan apa itu kolegium dan apa itu profesi?

Yang Mulia, kalau kita bisa melihat dari segi sistemnya, maka kita melihat bahwa di dunia ada empat model regulasi yang didasarkan pada sifat pengaturannya, itu bisa secara, pertama, dilihat dari segi pemainnya, internal atau eksternal, dan dari segi sistemnya, itu adalah formal atau informal. Kalau kita melihat bahwa pada dasarnya yang mirip-mirip dengan Indonesia adalah model yang formal internal, dimana ini seperti persis di Inggris, dan Canada, dan Australia, dimana di situ berperan adalah general medical council atau konsil kedokterannya dan kolegium.

Nah, untuk Indonesia, itu merupakan bentuk hybrid atau bentuk campuran antara formal internal dengan informal dan eksternal. Karena di sini, kita melihat ada interaksi antara publik dengan pejabat atau profesi ... profesional leaders, dalam arti kata bahwa profesional leaders itu adalah pimpinan dari IDI. Untuk itu, hal ini dikatakan sebagai model co-regulasi.

Dan Yang Mulia, yang terpenting adalah mengapa dalam persidangan ini co-regulasi kok digunakan di Indonesia? Apakah masih cocok? Dan juga dengan adanya fenomena di judicial rivew lima kali dalam periode 10 tahun, tentunya kita harus berpikir kembali untuk menerapkan model itu.

Yang Mulia, berikutnya adalah terkait dengan pemainnya. Kami perlu menerangkan secara historis perkembangan kolegium yang terjadi di dunia, lazimnya dan di Indonesia, khususnya. Secara tradisional, perkembangan kolegium di dunia sebagai nampak dalam slide ini, terjadi sekitar pada abad ke-13 di daratan Eropa dimana muncul yang namanya guild merupakan himpunan dari orang-orang ahli di bidang tertentu, misalnya pandai besi, pandai tembikar, dan seterusnya. Tujuan mereka berkumpul adalah untuk melindungi pekerjaan mereka dan melindungi klien mereka dari orang-orang yang mengaku ahli, tapi ternyata tidak terbukti. Kumpulan orang-orang ahli tersebut dinamai guild dan diakui oleh kerajaan atau negara saat itu dan karena berdampak positif, yaitu mengurangi potensi konflik di dalam masyarakat, maka setiap wilayah atau kerjaan, itu hanya ada satu guild untuk pekerjaan tertentu.

Para anggota guild ini mempertahankan mutu pekerjaannya dan mendidik anggota-anggotanya yang baru dengan ketat. Dan mulai dari situlah, maka guild menjadi suatu profesi dalam arti kata yang sebenarnya hingga berabad-abad sekarang. Di mana sekitar abad ke-14

(15)

di Florence, Italia, guild untuk para dokter disebut sebagai colegio medico pada gilirannya di Inggris medical college atau kolegium.

Jadi, satu negara ada satu kolegium untuk spesialisasi tertentu.

Dan barulah pada awal abad ke-19, didirikan asosiasi dokter yang disebut sebagai British Medical Association dan dikenal sebagai nama professional medical and surgical association.

Jadi, bagi masyarakat di barat, Yang Mulia. Perbedaan antara kolegium dan asosiasi profesi sudah jelas sejak lebih dari satu abad yang lalu. Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan di Indonesia, Yang Mulia? di Indonesia, pemerintah kolonial Belanda tidak memperkenalkan konsep profesionalisme di lingkungan pendidikan kedokteran dan pemahaman kolegium tidak dikenal sampai dengan Belanda meninggalkan Indonesia.

Timbul kerancuan pemahaman antarkolegium dan asosiasi profesi sehingga kita cenderung mencampuradukkan kedua pengertian itu.

Berdirinya asosiasi kedokteran Indonesia itu dimulai sejak Budi Utomo pada era kebangkitan nasional dengan tujuan kemerdekaan Hindia Belanda berturut-turut menjadi vereniging van indische artsen dan kemudian vereniging van indonesische geneeskundige yang bertujuan perjuangan persamaan hak dengan dokter Belanda dalam kompetensi, penghasilan, dan pendidikan.

Kemudian, Yang Mulia, barulah Ikatan Dokter Indonesia berdiri pada Tahun 1950 dan untuk kolegium sendiri, Yang Mulia, itu baru terbentuk sekitar Tahun 1967 yang dimotori oleh kelompok PPDS-CHS sebagaimana disampaikan oleh Prof. Samsul Hidayat dan baru sekitar tahun 1970 terbentuk kolegium untuk berbagai macam disiplin ilmu.

Yang Mulia, akhirnya Ahli sampai pada kesimpulan paparan ini.

Indonesia memperkenalkan konsep co-regulasi pada Undang-Undang Praktik Kedokteran pada saat itu dengan asumsi yang valid pada saat itu, yaitu tidak akan terjadi masalah pada main-nya. Namun adanya lima kali judicial review terhadap regulasi yang terkait profesi selama 3 periode KKI, ini tampaknya menunjukkan Indonesia harus berpikir ulang untuk menerapkan model co-regulasi. Andaikan saja tidak terjadi kegaduhan-kegaduhan yang merepotkan Mahkamah Konstitusi, mungkin Ahli akan yakin bahwa model co-regulasi akan dapat dipertahankan.

Yang Mulia, Ahli menaruh dugaan kuat, ini terkait dengan kesimpulan yang kedua, yaitu bahwa kerancuan pemahaman konsep kolegium dan konsep asosiasi profesi karena memang alasan-alasan historis, itu akan menjadi problematik terjadinya masalah macam begini.

Itu yang bisa kami sampaikan, Yang Mulia. Terima kasih atas kesempatannya.

44. HAKIM KETUA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih, Prof. Herkutanto. Silakan duduk kembali. Untuk Saksi, kesaksian dari Dr. dr. Ratna Sitompul, Sp.M (K) sudah kami terima

(16)

secara tertulis. Di dalam makalah ini sudah disampaikan kesaksiannya, makalah 10 halaman, ditandatangani baru 1 Agustus 2017. Jadi, Pemerintah tidak perlu disampaikan secara lisan, dianggap keterangan tertulis ini sudah diterima di Mahkamah, ya. Baik. Kemudian, sekarang kita dengarkan Prof. Akmal Taher. Silakan.

45. SAKSI DARI PIHAK PEMERINTAH: AKMAL TAHER

Yang Mulia Ketua dan Majelis Hakim Konstitusi, yang terhormat Pemerintah, yang terhormat Dewan Perwakilan Rakyat, yang terhormat Para Termohon, dan yang terhormat Para Pihak Terkait, Pengurus Besar IDI, hadirin sekalian. Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera, selamat pagi. Pada pagi ini, saya bertindak sebagai Saksi Pemerintah dalam permohonan uji materi tentang praktik kedokteran dan pendidikan kedokteran.

Saya terlibat sebagai panitia kerja pemerintah dalam pembuatan Undang-Undang Pendidikan Kedokteran dan sebagai Ketua Tim Kelompok Kerja Percepatan Pengembangan Program Dokter Layanan Primer yang dikeluarkan dengan SK dua menteri. Kemudian juga pada tahun 2013-2015, saya menjabat sebagai Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Departemen Kesehatan.

Setelah diundangkannya Undang-Undang Pendidikan Kedokteran, maka tugas Pemerintah selanjutnya adalah membuat aturan berupa peraturan Pemerintah sesuai amanah undang-undang dan menfasilitasi semua pemangku kepentingan agar terbentuk program studi DLP, sehingga bisa menghasilkan dokter layanan primer.

Pembukaan program dokter spesialis baru ini, akan saya ceritakan pengalaman saya karena saya sangat terlibat sejak menjadi ketua kelompok kerja atau ketua Pokja dari pembentukan Dokter Spesialis Layanan Primer.

Izinkan saya sedikit membuat simplikasi terhadap … sebenarnya alurnya. Kalau kita lihat di sini, alur pembentukan yang didasarkan atas Undang-Undang Praktik Kedokteran, sebenarnya adalah perhimpunan dokter, kemudian akan membetuk kolegium, kolegium itu membentuk standar pendidikan dan standar kompetensi, kemudian standar ini diberikan kepada majelis kolegium atau MKKI yang merupakan isinya adalah kolegium yang sudah ada, yang saat ini barangkali kurang-lebih sekitar 33 kolegium spesialis, kelihatan di sini. Kemudian, baru disahkan atau ditetapkan oleh konsil kedokteran.

Kalau kita melihat, di sini ada tiga sebenarnya, organ atau institusi yang berperan betul pada pembentukan dokter spesialis yang baru. Bila kita ingin Pemerintah atau negara memerlukan dokter spesialis baru, yaitu siapa? Ada perhimpunan dokter, kolegium, dan majelis kolegium, dan ketiga ini ada di lingkungan Ikatan Dokter Indonesia.

(17)

Peran pemerintah baru ada setelah disampaikan ke konsil kedokteran, dimana ada 4 wakil pemerintah di antara 17 anggota konsil kedokteran. Apa yang ingin saya perlihatkan adalah bahwa kalau ada persoalan di awal, di lingkungan IDI sendiri, maka bisa dipahami bahkan bisa mungkin terjadi, dan ini yang akan saya ceritakan. Kalau ada terjadi di situ, maka akan terjadi … akan terhambat usaha Pemerintah maupun usaha negara untuk membentuk dokter spesialis. Ini contoh pertama yang saya ingin sampaikan adalah waktu saya segera menjadi waktu itu menjadi … ini ada satu rekomendasi dari pemangku kesehatan yang sebenarnya didukung oleh PB IDI diajukan kepada Kementerian Kesehatan, yaitu apa?

Yaitu, di sini ada permohonan untuk yang diajukan oleh Dirjen Dikti waktu itu, kemudian konsorsium Kedokteran Keluarga Indonesia.

Untuk diketahui bahwa dulu namanya biasanya kita memakai istilah dokter keluarga, konsul ini seperti perhimpunan. Kemudian, oleh kolegium Dokter Primer Indonesia yang terdiri atas dokter keluarga dan majelis kolegium.

Jadi, praktis sebenarnya ada tiga unsur tadi, kalau kita lihat skema tadi, sebenarnya sudah setuju, tapi memang yang agak sebenarnya yang menimbulkan pertanyaan adalah sebenarnya tidak perlu diajukan ke Kementerian Kesehatan. Sebenarnya kalau kita lihat alur tadi, sebenarnya kalau sudah ada perhimpunannya, ada kolegiumnya, tinggal dibuat standar, disetujui oleh majelis kolegium, itu akan terjadi program studinya, tapi ini diajukan malah ke Kementerian Kesehatan.

Ini yang saya ingin sampaikan bahwa memang barangkali waktu itu, saya tidak akan berpretensi, ada kemungkinan waktu itu, ada … mungkin ada persoalan intern sendiri di sana, kita enggak tahu.

Kemudian, saya ingin sampaikan apa yang sebenarnya diajukan waktu itu, saya langsung saja. Ini yang diajukan, ada lima hal. Maksud saya akan konsentrasi untuk mempersingkat waktu pada yang poin keempat, yaitu apa? Meningkatkan kualitas pelayanan primer melalui pendidikan dokter keluarga yang baku, terstruktur, formal, dan terakreditasi dan dilakukan secara kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, IDI, dan fakultas kedokteran.

Yang ingin saya sampaikan di sini bahwa sebenarnya melihat seperti ini sudah ... sudah ada barangkali kesepakatan di antara IDI, yang masalah adalah sampai sekarang ... sampai waktu itu, walaupun semua sudah sepakat, tidak terbentuk juga program studi bahkan sampai sekarang pun itu masih ... masih dalam proses.

Sekali lagi, kita ... saya tidak mengatur yang pasti karena prosesnya semua terjadi di dalam intern IDI. Pemerintah jelas mendukung, bahkan di departemen kesehatan ada sub direktorat kedokteran keluarga. Jadi sebenarnya sudah ... pemerintah juga sudah sepaham dengan itu.

(18)

Kemudian, saya akan masuk tahap berikutnya, tadi ...

rekomendasi tadi itu disampaikan pada bulan Maret 2013, enam bulan sebelum undang-undang pendidikan kedokteran itu diundangkan.

Kemudian sekarang, sampai saatnya terbentuknya undang-undang Agustus 2013, Undang-Undang Pendidikan Kedokteran disetujui oleh DPR, memang pada prosesnya memang ada beberapa kali dari profesi IDI menarik diri dari panja pemerintah, tapi itu kaitannya tidak dengan dokter layanan primer, lebih berkait dengan memang banyaknya usulan- usulan dari profesi yang dirasakan tidak ditampung oleh panitia kerja.

Selanjutnya, pengalaman kita selanjutnya adalah untuk menindaklanjuti tadi ... undang-undang tadi, pemerintah dalam hal ini Kemdikbud dan … Depdikbud dan Depkes membuat pokja dimana saya menjadi ketuanya. Di sini terlihat bahwa kita membuat pokja pengembangan kebijakan dokter layanan primer, dibentuk pokja, dan tugasnya seperti tadi, skema tadi, sederhana sekali, buat standar kompetensi, buat standar pendidikan, membuat perhimpunannya.

Kemudian, dengan itu kita harapkan mestinya enggak ada masalah lagi, tinggal dibuat nanti barangkali program studinya. Tapi pada kenyataanya, tidak sesederhana itu. Ini yang pertama.

Kesulitan pertama muncul, waktu anak organisasi di bawah IDI, yaitu perhimpunan Dokter Umum Indonesia, mengajukan materi atau judicial review terhadap Undang-Undang Pendidikan Kedokteran, dimana DLP menjadi salah satu yang diuji. Tapi, PB IDI sendiri pada waktu itu masih ikut dalam pokja kita, ya kita asumsikan bahwa artinya apa?

Artinya, PB IDI sendiri masih pada pendapatnya untuk ikut mendukung dokter layanan primer. Bahwa salah satu anak organisasi itu mau judicial review, saya kira itu persoalan intern di IDI sendiri.

Ini adalah satu contoh buku yang diterbitkan oleh IDI sampai Oktober 2014 tentang Dokter Layanan Primer. Di buku ini disebutkan bahwa pada hakikatnya dokter keluarga yang sudah diperjuangkan IDI oleh 34 tahun, itulah yang namanya dokter layanan primer. Jadi ada pergantian terminologi nama di situ.

Di buku ini, Ketua PB IDI memberikan sambutan dan meminta buku ini dijadikan acuan. Ketua kehormatan juga memberikan sambutan dan menyatakan pentingnya dokter layanan primer. Penyusun buku ini sendiri adalah wakil PB IDI yang ada di kelompok kerja untuk pembuatan layanan primer ini. Tetapi itu berlangsung terus, kita ...

artinya pemerintah terus melakukan usaha untuk melakukan pekerjaannya, bersama-sama dengan semua stakeholder, hasilnya itu apa? Kita memang meminta Ketua Majelis Kolegium Kedokteran menjadi ketua subpokja, jadi supaya apa ... supaya sosialisasinya itu mudah, supaya koordinasinya mudah, antara IDI yang akan memberikan pengakuan atau pengesahan dengan pembentukan dokter layanan primer seperti itu.

(19)

Dan pada saat itu, Ketua MKKI meminta pokja melakukan sosialisasi di MKKI dan di Majelis Pengembangan Profesi Kedokteran.

Saya sendiri yang melakukan sosialisasi itu. Lebih dari itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan juga mengundang semua kolegium dan semua perhimpunan Kementerian Kesehatan untuk melakukan sosialisasi dihadiri oleh sebagian besar kolegium dan perhimpunan.

Pada dasarnya, pada saat itu tidak ada penolakan, yang ada satu- satunya adalah dari Perhimpunan Dokter Umum Indonesia. Karena apa?

Karena PDUI pada waktu itu sedang masih mengajukan judicial review dan belum ada keputusannya dan PDUI meminta kita ber ... tidak melakukan sosialisasi apa pun sebelum ada keputusan Mahkamah Konstitusi, yang sudah tentu tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah karena tidak mungkin menunggu putusan, padahal undang-undang sudah diundangkan, sampai saat seperti ini sebenarnya kita sudah mempunyai perhimpunan waktu itu, tidak ada resmi juga dari PB IDI untuk menolak perhimpunan ini, walaupun tidak ada surat dari PB IDI mengenai permohonan untuk pembentukan perhimpunan tersebut.

Ini adalah hanya memperlihatkan bagaimana kedua kementerian, sebenarnya sudah melakukan usaha juga maksimal untuk melakukan langkah-langkah sosialisasi untuk dokter layanan primer ini. Jadi, dapat disimpulkan, pada titik ini, sebenarnya hasil kerja pokjanya sudah ada, sudah ada standar kompetensi, sudah ada standar pendidikan, bahkan beberapa hal tentang kurikulum sudah disiapkan, dan sudah ada pendirian organisasi profesi, dan kolegium yang sudah di ... dilegalkan dengan keputusan notaris. Tapi sekali lagi, selama ini belum mendapat pengesahan oleh ... mendapat persetujuan oleh PB IDI atau disahkan oleh muktamar, memang ini belum ... belum sah.

Saya kembali lagi pada slide saya yang pertama. Jadi kalau kita lihat di sini, perhimpunannya sudah ada, kolegiumnya sudah ada, standar pendidikannya sudah ada, MKKI sudah kita berikan sosialisasi, tapi selama ini belum disahkan. Memang pemerintah tidak bisa melakukan apa pun untuk melanjutkan proses untuk terbentuknya pendidikan dokter spesialis seperti ini.

Selanjutnya pada muktamar IDI, keluar keputusan muktamar menolak untuk membahas dokter layanan primer. Yang masalah di sini adalah memang tidak dikatakan menolak dokter layanan primer, tapi menolak membahas dengan menolak artinya sama, yaitu apa?

Perhimpunannya tidak disahkan artinya karena dibicarakan pun tidak di muktamar IDI.

Oleh karena itu, kita di pemerintah dan tidak juga ... pemerintah juga atau stakeholder mendapatkan keterangan tentang alasan kenapa tidak dibicarakan. Itu setidaknya yang dapat kita dapatkan dari dokumen-dokumen yang formal. Dan sebulan setelah itu, keluar Putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak uji materi, sehingga Undang-Undang

(20)

Pendidikan Kedokteran tidak bertentangan dan kembali ke pasal yang tertuang dalam undang-undang.

Jadi pada saat seperti ini masalahnya akan memang menjadi makin complicated. Karena apa? Karena di satu pihak muktamar sudah tidak mengesahkan, tapi Mahkamah Konstitusi sudah me ...

menyampaikan putusannya. Jadi dokter layanan primer menurut versi pemerintah harus tetap dijalankan dan kita terus membuat persiapan dalam bentuk perangkat halus berupa kurikulum dan lain-lain, dan perangkat keras berupa sarana dan prasarana.

Kemudian, ini juga dibuat tim pokjanya yang seperti itu dan langkah selanjutnya adalah membuatan rancangan peraturan pemerintah. Ini diamanahkan oleh Undang-Undang Pendidikan Kedokteran aspek legalnya. Nanti sejawat saya dari Kementerian Ristekdikti yang akan mendetailkan proses ini. Tapi pada dasarnya, mula-mula PB IDI ikut dan MKKI ikut dalam pembahasan pembuatan RPP, tapi pada bulan Maret, PB IDI menarik lagi diri dari pembahasan dengan alasan bahwa konsisten dengan keputusan muktamar. Dan kita sendiri, ya, enggak mendapatkan karena tidak mendapatkan apa pun rincian alasannya itu, tapi kita terus melakukan usaha-usaha untuk melakukannya.

Nah, bagaimana dengan MKKI? Majelis Kolegium Kedokteran yang mestinya secara berkecimpung di bidang pendidikan dan demi keilmuan, itu juga tidak pernah memberikan pendapatnya. Sampai saat ini kita tidak pernah melihat adanya pendapat resmi dari Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia tentang dokter layanan primer, sehingga tidak memungkinkan memang kalau kita lihat alur tadi bahwa ini akan menjadi suatu program studi.

Selanjutnya pemerintah terus melakukan usaha, dalam bentuk apa? Karena kita memerlukan banyak puskesmas dan lain sebagainya untuk menjadi lahan pendidikan, kita melakukan sosialisasi ke seluruh Indonesia, tapi pada saat ini memang kita mendapat hambatan lagi, yaitu apa? Ada larangan dari PB IDI untuk anggotanya mengikuti sosialisasi ini, sehingga mempersulit memang usaha kita untuk mempersiapkan ini.

Yang kedua. Selain dari itu ada lagi dalam usaha untuk membuat kurikulum dan sebagainya, mengharmonisasikan kurikulum, kita mengundang kolegium yang 33 itu, beberapa kita undang, tapi mereka tidak datang. Karena apa? Karena ada lagi surat dari PB IDI yang melarang kolegium untuk datang pada acara yang dibuat oleh PPSDM Kementerian Kesehatan. Saya kira inilah kira-kira gambaran secara apa yang saya alami selama saya menjadi ketua pokja dan menjadi Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan 2013-2015. Wabillahi taufik wal hidayah wassalamualaikum wr. wb.

(21)

46. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih, Prof. Silakan duduk. Dari Pemerintah, ada yang akan dimintakan penjelasan lebih lanjut, atau merespons keterangan dari Para Ahli dan Saksi, atau sudah cukup?

47. PEMERINTAH: MULYANTO Yang Mulia.

48. KETUA: ARIEF HIDAYAT Ada? Silakan.

49. PEMERINTAH: SUNDOYO

Terima kasih, Yang Mulia. Ada beberapa hal yang ingin kami klarifikasi, baik kepada dua Ahli maupun satu Saksi.

Yang pertama adalah kami ingin mengklarifikasi dari Ahli Dr. Refly Harun. Tadi sudah disampaikan oleh Ahli bahwa terkait dengan definisi atau pengertian organisasi profesi yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 29 Pasal 1 itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Kami juga ingin mencoba melihat bagaimana definisi organisasi profesi yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013.

Ada hal yang menarik sebenarnya Saudara Ahli dan ini yang akan kami klarifikasi. Kalau kita baca secara lengkap dalam definisi Pasal 1 angka 20 bahwa organisasi profesi adalah organisasi yang memiliki kompetensi di bidang kedokteran atau kedokteran gigi yang diakui oleh pemerintah. Yang ingin kami klarifikasi adalah ada beberapa pendapat di masyarakat bahwa IDI adalah bukan merupakan organisasi masyarakat.

Lalu, kami mencoba mengklarifikasi hal ini ke Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kesehatan sudah membuat surat ke Kumham pada bulan Mei tahun 2017 dan itu dijawab di bulan Juli tanggal 6 tepatnya, tahun 2017. Yang terdaftar memang di sana adalah terakhir tahun 2009, yang ingin kami tanyakan kepada Ahli adalah apakah kata diakui oleh pemerintah ini adalah tunduk kepada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 yang notabene sebenarnya adalah sebagai organisasi masyarakat atau bukan? Itu untuk Saudara Ahli, Dr. Refly.

Yang kedua, kami ingin juga klarifikasi dan mempertanyakan kepada Saudara Ahli Prof. Herku. Dari beberapa yang dua rekan tadi ada beberapa hal yang cukup tegas disampaikan oleh Saudara Ahli di beberapa negara terkait dengan bagaimana organisasi profesi yang diibaratkan tadi adalah IDI, lalu bagaimana ada kolegium, itu dipisahkan betul.

(22)

Kita semua memaklumi bahwa tahun 2004 telah diundangkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran ini secara umum sebenarnya adalah mengatur tentang bagaimana terkait dengan praktik kedokteran. Lalu di tahun 2013, itu diundangkan Undang-Undang Nomor 20 tentang Pendidikan Kedokteran. Kalau kita coba lihat secara umum, kelihatannya memang ada pemisahan betul bagaimana terkait dengan pelayanan kedokteran itu diatur undang- undang sendiri, lalu terkait dengan pendidikan juga diatur undang- undang sendiri. Kalau kita kaitkan dengan existing saat ini bahwa kolegium itu adalah ada di bawah IDI, apakah kalau kita lihat dari dua undang-undang ini masih cukup relevan kolegium itu ada di bawah IDI?

Itu untuk Prof. Herku.

Sementara untuk Saksi, Prof. Akmal adalah kami ingin mengklarifikasi dan menegaskan kembali Saudara saksi bahwa tadi sudah cukup banyak diuraikan di antaranya adalah pokja ini sudah menyiapkan berbagai persiapan agar bagaimana DLP ini bisa berjalan dengan baik, gitu. Mulai bagaimana terkait dengan masalah sudah ditetapkan, sudah berhasil menetapkan standarnya, standar kompetensi, standar pendidikan dan segala macam, gitu. Ini kira-kira tidak bisa berjalannya ini karena persoalan apa, gitu?

Yang kedua, juga ini kalau kita coba kaitkan kembali ke Prof. Refly adalah apakah karena persoalan sebagaimana yang Saudara sampaikan, Saudara Ahli, yang poin 6 bahwa dalam statusnya, sebagai organisasi profesi atau organisasi kemasyarakatan seharusnya eksistensi kelembagaan IDI tidak memonopoli segala urusan kedokteran dari hulu sampai dengan hilir, sebab menurut ahli, dalam sistem ketatanegaraan hanya lembaga negara yang memiliki kewenangan yang bersifat mengatur dan memonopoli kewenangan. Apakah ini juga merupakan dampak dari ... apa namanya ... IDI satu-satunya yang dianggap sebagai organisasi profesi yang sah saat ini?

Itu mungkin barangkali, Saudara Ahli. Terima kasih.

50. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, dikumpulkan dulu. Dari Pemohon?

51. PEMOHON: JUDILHERRY JUSTAM

Terima kasih, Yang Mulia. Pertama untuk Ahli, dalam sidang yang lalu, ketika Hakim Ketua menanyakan kepada Kuasa Hukum Pihak Terkait IDI, mengapa PB IDI menolak putusan Mahkamah Konstitusi?

Kuasa Hukum Pihak Terkait menyatakan bahwa yang menolak itu bukan PB IDI, tetapi muktamar, maksudnya muktamar IDI yang terakhir. Hal ini saya kaitkan dengan keterangkan Pihak Terkait di sidang MK, pada

(23)

begini, “IDI selaku organisasi profesi berhak untuk menentukan pendapatnya dan mempertahankan pendapatnya, termasuk mengenai profesi dokter itu sendiri dalam bentuk keputusan muktamar dan lain- lain, sehingga tidak beralasan Para Pemohon menyebutnya sebagai melawan kebijakan pemerintah atau mengabaikan regulasi, sebab ...” ini kami garis bawahi, “... IDI sebagai organisasi profesi berorientasi pada profesi kedokteran yang memiliki otoritas dan independensi profesi (profession authority and independency),” ini disebut oleh IDI. Nah, singkatnya IDI mengatakan bahwa ini adalah self regulatory organization. Pertanyaan kami adalah kepada Ahli, dari sudut hukum tata negara yang Ahli katakana, apakah anggapan sebagai self regulatory organization itu, lalu IDI dapat menempatkan keputusan organisasi, dalam hal ini muktamar, lebih penting atau lebih ditaati ketimbang undang-undang maupun keputusan MK? Bagaimana pendapat Ahli?

Kedua, dalam persidangan MK ini, IDI selalu membaca fungsinya sebagai trade union, juga sebagai organisasi massa, serikat pekerja.

Padahal di samping sebagai organisasi profesi, IDI juga memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan anggota, sebagaimana tercantum dalam AD/ART IDI Pasal 8, dalam usaha IDI memperjuangkan kepentingan kesejahteraan anggota.

Nah, memperjuangkan kepentingan anggota, itu kan, bukankah itu merupakan fungsi dari trade union atau serikat pekerja? Organisasi dokter di Inggris saja menyebutkan dirinya sebagai British Medical Association is a trade union and professional body for doctors in the UK.

Bagaimana pendapat Ahli?

Kemudian, pada Ahli Prof. Herkutanto. Saudara Ahli menyampaikan dalam kesimpulannya bahwa pemahaman konsep kolegium dan konsep asosiasi profesi di Indonesia masih rancu dan kerancuan ini harus diluruskan, ya. Dan mengatakan mengenai co- regulasi yang terjadi, apakah itu masih bisa dipertahankan dan mengingat konteks keadaan sekarang ini, dimana lima kali sudah undang-undang bidang kedokteran di-judicial review-kan.

Nah, tolong ... tolong jelaskan kepada kami, apa yang Saudara Ahli maksudkan dengan kerancuan itu? Dan juga, bagaimana fungsi baik kolegium maupun asosiasi dalam memperjuangkan kepentingan ekonomis anggotanya, kesejahteraannya? Apakah ada beda antara kolegium dan profesi?

Kemudian, Prof. elku ... Prof. ... Prof. ... Prof. Herkutanto, dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004, Pasal A1 angka 3 disebutkan,

“Kolegium kedokteran Indonesia dan kolegium profesi Indonesia adalah badan yang dibentuk oleh organisasi profesi untuk masing-masing cabang disiplin ilmu yang bertugas mengampu cabang disiplin ilmu tersebut.” Yang kami pertanyakan adalah kolegium dibentuk oleh organisasi profesi. Menurut Ahli sebelumnya, ini seperti telur dan ayam.

Profesi dulu, apa kolegium dulu? Analoginya seperti ini, Yang Mulia, IDI

(24)

itu baru ada, kalau sudah ada dokter. Dokter itu baru ada, setelah ada diproduksi oleh fakultas kedokteran. Jadi, rasanya tidak mungkin IDI membentuk fakultas kedokteran.

Analogi yang lain adalah dengan spesialis. Perhimpunan dokter spesialis baru ada, setelah ada dokter spesialis. Dokter spesialis baru ada, setelah ada produksi dari kolegium. Jadi, apakah mungkin organisasi profesi yang membentuk kolegium? Ini kan di belakang, telur dan ayam. Jadi, dari segi ini, yang ingin saya tanyakan kepada Ahli, apakah ini ... apakah ini satu kerancuan juga, apakah ini bisa terjadi?

Kemudian, satu lagi. Soal Ahli menguraikan berbagai ahli profesi di luar negeri. Di Indonesia ternyata saat ini, ada anggota pengurus besar IDI, termasuk ketua umumnya menjadi anggota atau komisioner dari KKI (Konsil Kedokteran Indonesia), dan konsil ini timbul ...

berpotensi timbulnya konflik kepentingan. Bagaimana praktik di negara lain? Apakah ada juga kasus dimana seorang ketua medical association, juga duduk sebagai anggota medical council? Di Inggris namanya ...

disebut, general medical council.

Terakhir, untuk Saksi Prof. Akmal Taher. Saksi, ada yang terasa aneh, agak janggal, atau aneh menurut kami. PB IDI menolak program studi DLP, tetapi di lain pihak menyatakan bahwa IDI bisa menerima program studi dokter keluarga. Dalam hal konten program studi DLP disebutkan bahwa DL mencakup 80% disiplin kedokteran keluarga. Jadi, pada dasarnya ada keselarasan antara ilmu kedokteran keluarga dan dokter layanan primer.

Sebetulnya, hampir seluruh argumen IDI untuk menentang adanya disiplin dokter layanan primer, sebetulnya juga bisa ditujukan pada disiplin dokter keluarga. Misalnya, IDI menentang pendidikan postgraduate untuk DLP. Dokter keluarga itu juga postgraduate, di manapun itu terjadi. Kenapa untuk ... untuk DLP itu ditentang, kenapa dokter keluarga tidak ditentang? Untuk dokter keluarga, juga dibutuhkan pendidikan dua, tiga tahun, setelah selesai, menjadi dokter. Kenapa untuk DLP, menambah pendidikan dua, tiga tahun, ditentang oleh PB IDI? Nah, di sini ada ketidak konsisten. Jadi, ingat … saya ingin menanyakan berdasarkan pengalaman Saksi, apa sih, sebetulnya yang menjadi masalah? Soalnya enggak ada keselarasan antara keluarga dan DLP ini.

Kemudian Saudara Saksi mengatakan, tapa persetujuan PB IDI, maka perkumpulan spesialis atau kolegium tidak akan terbentuk, yang dengan sendirinya tidak ada standar kompetensi dan syarat Pendidikan, yang berarti adalah spesialisasi tersebut tidak akan terbentuk.

Bahkan dalam banyak hal, untuk memperoleh putusan izin, dibawa dulu ke muktamar IDI untuk mendapatkan persetujuan. Ada hal yang janggal atau bahkan maaf, absurd bahwa masalah akademis pendidikan, diputuskan dalam forum muktamar, yang berdasarkan

(25)

putusannya berdasarkan suara terbanyak ... suara terbanyak di muktamar. Kolegium spesialis tidak punya suara.

Nah ... nah, ibaratnya, kalau 2+2=4, di dalam ... di dalam putusan berdasarkan suarat terbanyak, bisa menjadi lima. Jadi, tidak ada landasan akademisnya lagi. Masalah akademis dibawa ke masalah

“politik” dari ... dari IDI.

Nah, Saksi juga pernah menjadi anggota salah satu anggota kolegium. Nah, bagaimana pengalaman Saksi menghadapi kenyataan ini?

Terakhir, FK UNPAD telah menyelenggarakan pendidikan DLP.

Walaupun sekarang status lulusannya, Yang Mulia, terkatung-katung karena tidak diakui oleh ... oleh ... ditolak oleh IDI. IDI menyebutkan, prodi DLP tidak boleh diselenggarakan tanpa ada PP sebelumnya.

Pertanyaan saya, apa dasar hukum FK UNPAD melaksanakan prodi DLP tanpa menunggu terbitnya PP? Terima kasih, Yang Mulia.

52. KETUA: ARIEF HIDAYAT Baik, terima kasih.

53. KUASA HUKUM PEMOHON: VIVI AYUNITA Satu lagi, Yang Mulia.

54. KETUA: ARIEF HIDAYAT Ha?

55. KUASA HUKUM PEMOHON: VIVI AYUNITA Dari dokter (…)

56. KETUA: ARIEF HIDAYAT Ha?

57. KUASA HUKUM PEMOHON: VIVI AYUNITA Ada satu lagi dari Pemohon.

58. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Ya, ringkas, singkat karena sudah banyak yang kita beri kesempatan.

(26)

PEMOHON: SETIAWATI BUDI NINGSIH

Terima kasih, Yang Mulia. Saya berusahaan sesingkat mungkin karena pertanyaan-pertanyaan saya sudah diajukan tadi oleh dr. Yudil.

Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada Prof. Refly dan Prof.

Herkutanto. Kalau IDI sebagai organisasi masyarakat, haruskah mereka mendaftar ke Kemenkumham secara rutin atau tidak? Kemudian, kalau kolegium itu sebagai badan pendidikan maupun di sekarang di dalam IDI atau nanti menjadi organisasi yang independen, haruskah mereka mendaftar sebagai badan pendidikan ke Kemenkumham atau Kemenristek, atau ke mana mereka harus mendaftar? Sebab kenyataan sekarang, kita bisa melihat bahwa organisasi profesi kedokteran itu banyak yang tidak mendaftarkan diri kepada Kemenkumham maupun Kemenristek, tapi mereka menjalankan fungsi ormas dan menjalankan fungsi pendidikan.

Kemudian tadi sudah ditanyakan sebenarnya kehadiran para petinggi IDI di KKI. KKI sebagai regulator, petinggi IDI sebagai pemain, apakah itu tidak merupakan suatu konflik kepentingan? Saya kira itu, Yang Mulia, terima kasih banyak.

59. KETUA: ARIEF HIDAYAT Baik. Dari Pihak Terkait.

60. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: MUHAMMAD JONI

Terima kasih, Yang Mulia, atas perkenan Yang Mulia, kami ingin bertanya dan menyampaikan konstruksi dari Pihak Terkait. Pertama, tentunya pertanyaan kami ini untuk dalam posisi Pihak Terkait. Yang kedua, dalam hal ada pertanyaan yang disampaikan dari Pihak Pemohon berkaitan dengan muktamar, mungkin pertanyaannya bisa dilengkapi dengan fakta-fakta persidangan yang lain. Jadi sehingga Ahli tidak menjawab hanya dengan satu jurus karena fakta persidangan termasuk surat dari PB IDI yang berkaitan dengan muktamar, itu sudah disampaikan. Jadi supaya tidak bias dan “dipahami” dengan hal yang berbeda. Garis bawahnya adalah bahwa muktamar itu, putusan muktamar itu adalah sebelum putusan MK. Jadi bukan putusan MK lahir lantas lahir muktamar secara vis a vis menolak putusan Mahkamah Konsititusi. Itu yang perlu dilengkapkan sehingga pendapatnya bulat untuk kesehatan bagi kita semua.

Pertama, pertanyaan kepada Ahli Refly Harun, saya ingin menggunakan kesempatan ini sekaligus juga mungkin keterangan kami ini dijadikan ... mohon dijadikan pertimbangan karena berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor (...)

(27)

61. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Yang keterangan nanti disampaikan di dalam kesimpulan, tapi ini hanya respons pada Ahli atau pertanyaan meminta pendapat dari Ahli.

Ya, kalau itu keterangan, nanti silakan saja komentar itu disampaikan di kesimpulan, ya?

62. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: MUHAMMAD JONI Terima kasih, Yang Mulia.

63. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Jadi, ini ke arah Para Ahli dan Saksi. Tidak merespons ke Pemohon, tidak merespons ke Pemerintah, itu yang dimaksud, ya, Pak Joni, ya?

64. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: MUHAMMAD JONI Ya, terima kasih, Yang Mulia.

65. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Kalau ini kan forumnya kita mendengarkan keterangan Ahli dan Saksi dari Pemerintah kalau Anda mau mendapatkan, menambahkan keterangan karena ada kesaksian begini, silakan di kesimpulan, tidak sekarang ini, ya?

66. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: MUHAMMAD JONI Ya.

67. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Sekarang hanya ditujukan pada Saksi dan Ahli saja.

68. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: MUHAMMAD JONI

Ya, terima kasih, Yang Mulia. Pertanyaan kepada Ahli, mohon dijawab perihal Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 88 Tahun 2015 yang dalam pengujian terhadap Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2004 tentang Pasal 52 ... 50 ayat (2) yang amar putusannya adalah menolak permohonan untuk menguji Pasal 50 ayat (2), yang intinya bahwa dalam pertimbangan tersebut Mahkamah Konstitusi mengatakan bahwa adanya satu wadah tunggal adalah bagian daripada pengawasan untuk menjaga

(28)

mutu dan organisasi profesi sebagia hal yang tunggal, itu adalah dalam konteks untuk pengawasan oleh negara agar untuk perlindungan daripada praktik kedokteran atau pelayanan kesehatan itu sendiri.

Jadi kua-normatif sudah ada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 88 dan berbagai Putusan Mahkamah Konstitusi yang terkait dengan itu, misalnya tentang uji materiil Undang-Undang tentang Jabatan Notaris.

Jadi hukum positif konstitusi dan jurisprudensi MK sudah sangat bulat bahwa organisasi profesi itu harus tunggal, dan mungkin ini menjadi pendapat yang berbeda dan kita akan menjadi kaya.

Yang kedua, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa adalah sangat terburu-buru Saudara Ahli Refly Harun mengatakan ini adalah monopoli karena konstruksi organisasi IDI saat ini dalam Pasal 14 ayat (1) anggaran dasar yang pimpinan pusatnya terdiri atas PB IDI, saya ulangi PB IDI, bukan IDI, yang kedua terdiri atas majelis-majelis MKEK, MPPK, dan MKKI.

Nah, jadi ada posisi hukum yang sangat jelas bahwa MKEK sebagai Majelis Etika kedokteran, MPPK sebagai majelis profesi yang pelayanan, perhimpunan pelayanan, dan MKKI sebagai kolegium, itu adalah setara dengan PB IDI yang eksekutif. Jadi, ibarat kata, ini adalah semacam kumpulan atau perhimpunan yang menjadi federasi, ada dalam satu tubuh bagi IDI.

Kalau diibaratkan organ manusia, dia ada tangan, ada kepala, ada perut, ada otak yang diciptakan menjadi indah dalam satu tubuh menjadi insan manusia. Jadi, mungkin perlu menambah informasi lagi kepada Saudara Refly bahwasanya IDI itu terdiri atas PB IDI dan majelis-majelis.

Dan itu adalah sesuai dengan anggaran dasar dan ini adalah dari bawah.

Datang dari bawah komunitas dan masyarakat dokter itu sendiri, itu yang kedua.

Yang ketiga, yang ingin saya sampaikan adalah Putusan Mahkamah Konstitusi yang Nomor 82/PUU-XIII/2015 dalam angka 312 yang menyebutkan … saya bacakan adalah bahwa profesi dokter dan dokter gigi memperoleh otonomi untuk melakukan save regulation berdasarkan kepercayaan publik. Jadi, MK sudah punya pertimbangan dan pendapat hukum bahwa save regulation bagi organisasi profesi itu diakui dan ini adalah hal yang mengikat bagi kita semua, dan itu adalah bagian yang harus kita hormati sebagai produk keputusan MK.

Jadi, save regulation yang dilakukan oleh profesi, apakah itu KKI kemudian organisasi profesi yang namanya IDI dan PDGI, itulah sesuatu yang sudah konstitusional menurut pendapat kami dan bagaimana pendapat ahli soal itu.

Yang berikut adalah soal (…)

(29)

69. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Sebentar, sebentar. Perlu dijernihkan ini. Ini nanti menjadi perhatian publik yang keliru nanti kalau di … apa namanya … ini karena sidang terbuka untuk umum. Saudara mengatakan save regulation itu hanya berlaku untuk kepentingan IDI di dalam. Tapi save regulation itu tidak boleh bertentangan dengan hukum undang-undang di atasnya. Ya, jadi terus mengatur seenaknya sendiri, independen, itu enggak boleh karena ini tergantung juga dengan undang-undang, dengan hukum, dengan konstitusi. Jadi, save regulation-nya hanya untuk internal. Tapi save regulation tidak boleh bertentangan dengan di atasnya. Jadi jangan dianukan … save regulation seolah-olah seenaknya sendiri mengatur. Itu Putusan Mahkamah yang pertama.

Kemudian yang kedua, organisasi profesi adalah organisasi profesi itu tunggal. Itu juga Putusan Mahkamah enggak gitu. Dalam organisasi profesi advokat, itu multi bar, bukan single bar yang dianu. Jadi, organisasi profesi itu bisa banyak, bisa satu. Kalau untuk hukum, sudah terbuka, tapi untuk kedokteran yang jadi masalah, apakah itu berbahaya untuk masyarakat atau tidak dalam standar-standar? Itulah yang didiskusikan.

Jadi, Anda mengutip Putusan Mahkamah, kalau itu organisasi profesi itu tunggal, itu salah. Kita organisasi profesi di advokat untuk yang bisa berlaku secara universal sebetulnya, bukan tunggal, ini yang harus kita klirkan. Ya, jangan memotong Putusan Mahkamah untuk kepentingan yang salah karena ini nanti publik melihatnya juga bisa salah. Karena ini sidang terbuka untuk publik, ya.

Ya, Pak Refly, betul begitu kan ya, Pak Rely, ya? Lha itu yang nanti Anda harus respons itu. Enggak begitu. Putusan MK. Jadi, Putusan MK jangan dipotong-potong hanya sisi itu. Ini ada dua yang Anda potong sehingga bisa memunculkan persepsi yang berbeda di dalam masyarakat ya. Baik, silakan diteruskan.

70. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: MUHAMMAD JONI

Ya, terima kasih, Yang Mulia. Telah mengingatkan kami dan kami setuju dengan itu. Hal ini karena kami memang melihat secara makro, dalam bahasa kami sendiri tentang Putusan Mahkamah Konstitusi. Tapi pertanyaannya adalah (…)

71. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Jadi, jangan memandang bahwa Putusan Mahkamah terus dengan bahasa Anda sendiri. Ini kita erga omnes, berlaku untuk seluruhnya, jadi enggak boleh menafsirkan sendiri-sendiri, itu yang harus Anda anu. Pak Joni jangan bermain-main dengan pasal ya, itu kalau begitu pukrul itu.

(30)

72. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: MUHAMMAD JONI Ya, terima kasih, Yang Mulia.

Kedua, saya lanjutkan ke Pak Herkutanto. Pak Herkutanto tadi mengatakan bahwa terbentuknya kolegium pada sejarahnya itu lebih dahulu dari organisasi profesi (medical association). Dan itu terbentuk sebelum … sebelum bahkan hampir … lebih dari 1 abad. Pertanyaannya adalah apakah persoalan sejarah pembentukan kolegium … organisasi profesi IDI, kemudian di dalamnya ada kolegium?

Kemudian, disahkannya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004, apakah hal itu sudah pernah dipertimbangkan, tidak? Sudah historis, tidak, itu menjadi pertimbangan dalam pembahasan dan pengesahan Undang-Undang Praktik Kedokteran? Jadi, tentang sejarah kolegium yang lebih dahulu di Inggris, kemudian organisasi profesi. Apakah hal itu menjadi pertimbangan tidak sehingga akhirnya, normanya, sistemnya adalah kolegium, itu ada pada organisasi profesi.

Kemudian, saya ingin tanyakan perihal pendapat Ahli.

Berdasarkan anggaran dasar bahwa IDI itu terdiri atas pengurus besar dan majelis-majelis, di dalamnya ada kolegium. Menurut pendapat Ahli, dan ini sudah merupakan putusan daripada muktamar dalam anggaran dasar, apakah kondisi ini ada pada … pada pendapat Ahli dengan praktiknya, ada? Itu sudah berjalan bagaimana? Kemudian, apa yang sudah direspons oleh KKI terhadap posisi IDI yang sedemikian rupa?

Bahwa ada MPPK, ada MKEK, ada MPP, ada MKKI yang secara setara itu bersama-sama dengan PB IDI.

Yang terakhir untuk Pak Prof. Saksi. Kalau tadi dikatakan program studi (prodi) DLP, kami ingin menyampaikan bahwa DLP yang dipahami seperti halnya di dalam putusan Mahkamah Konstitusi, termasuk di dalamnya itu adalah posisinya bersifat sebagai pilihan, ya. Dan kontennya, itu menyangkut kedokteran komunitas, dokter keluarga, dan kesehatan masyarakat. Apakah seperti itu sebenarnya konsep DLP yang sekarang di … sedang disusun?

Nah, saya … yang kedua, ingin mengonfirmasi. Berdasarkan informasi dari … yang kami peroleh dari PB IDI bahwa ada kesepakatan rapat di Menko PMK yang … mohon respons … bahwa yang dimaksud dengan DLP itu adalah dokter keluarga dan dia adalah setara dengan spesialis.

Yang ketiga, yang terakhir adalah apa pengalaman Saksi bahwa prodi itu memang harus disetujui oleh … oleh KKI? Prodi, katakan prodi berkaitan dengan … dengan kesehatan atau kedokteran. Apakah pada faktanya dan apa regulasinya, sehingga prodi itu mesti mendapat pertimbangan atau … atau rekomendasi dari KKI? Dan apakah hal itu juga berlaku juga untuk … untuk organisasi profesi? Atau ada pertimbangan dari organisasi profesi?

(31)

Yang terakhir, yang ingin saya tanyakan adalah dalam hal DLP, apakah konstruksi yang sekarang ini kurikulumnya, itu 80% sebagai prodi yang baru atau bagaimana kurikulum yang sekarang sedang disiapkan oleh pihak pemerintah? Terima kasih.

73. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, terima kasih. Dari meja Hakim? Pak Pal, kemudian Pak Suhartoyo di sisi kanan, kemudian Prof. Saldi, ya. Silakan.

74. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA

Ya, saya sebelum ke Ahli, saya mau nanti mungkin Saksi juga bisa menegaskan. Karena kalau dibandingkan dengan keterangan yang sebelumnya dan keterangan Saksi Prof. Akmal tadi, ada kecocokan. Tadi Pihak Terkait hendak membantah bahwa penolakan IDI terhadap … apa

… DLP itu sebelum putusan Mahkamah Konstitusi. Tapi setelah putusan lahir, juga masih tetap ditolak dan itu dijadikan … bahkan sebagai konsideran untuk “memecat” Ketua IDI Cabang Bandung yang bersaksi juga di Mahkamah ini. Tapi nanti tolong diinikan … di … kita konfirmasi.

Dan mungkin, nanti juga Pihak Terkait juga bisa memberikan penjelasan mengenai soal itu. Bahwa kondisi sebelum … kondisi sebelum putusan Mahkamah, ya, ada putusan muktamar demikian. Tapi setelah ada putusan muktamar, ternyata IDI masih tetap juga dengan pendirian itu.

Nah, itu … mungkin itu perlu dijelaskan dan mungkin juga diklarifikasi oleh Saksi Prof. Akmal, ya.

Nah, kemudian memang terkait soal organisasi profesi ini, Ahli Dr.

Refly Harun, saya mau tanya … nanti mungkin ini terkait dengan Prof.

Herkutanto, ya, sebagai Ahli, gitu. Memang ada kondisi-kondisi tertentu, kan … ini kan … ya, di dalam ilmu … untuk … khusus untuk bidang kedokteran, ya, kita memahami karena ini langsung berkaitan dengan tubuh manusia dan nyawa manusia. Apakah memang prinsip general kebebasan berserikat itu memang berlaku penuh atau enggak di situ?

Atau kalaupun tidak … nah, kalaupun misalnya memang dimungkinkan di situ ada wadah tunggal dan … dan itu berkait dengan keterangan Prof.

Herkutanto tadi yang empat model itu kan, Pak, itu? Tapi, apakah memang ruang lingkup kewenangannya sebagai save regulator itu seluas seperti IDI, kalau di negara lain? Ini dua ditambahkan, Prof. Jadi, yang untuk bagian hukumnya barangkali Prof. … Dr. Refly akan menjawab itu

… kekhususan ini. Atau … apakah ada semacam exception atau semacam kekhasan khusus untuk dokter, sehingga memerlukan satu organisasi profesi, misalnya? Karena itu menyangkut soal … apa namanya … dia bisa … apa … berkaitan dengan tubuh manusia, dan langsung berkaitan dengan nyawa, dan sebagainya, sehingga ada satu standar yang memang di … diperlukan? Tetapi, apakah di lain pihak

(32)

dengan model yang ... kewenangan yang dimiliki di sekarang ini?

Mungkin profesinya Prof. Herkutanto, ini bisa menjelaskan. Apa hal itu terpenuhi atau justru telah melampaui batasan itu, gitu, ya?

Nah, itu berkaitan dengan organisasi IDI sendiri yang saya … saya pikir demikian. Dan selebihnya, tadi justru pertanyaan-pertanyaan saya sebenarnya sudah banyak disampaikan oleh … oleh Pemohon Dr.

Judilherry tadi. Itu memang ada berkaitan dengan pertanyaan yang mau saya sampaikan, sehingga saya kira saya tidak perlu mengulangi hal-hal demikian. Demikian, Pak Ketua, terima kasih.

75. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik. Terima kasih, Yang Mulia. Silakan, Yang Mulia Pak Suhartoyo.

76. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO

Terima kasih, Yang Mulia Pak Ketua. Untuk Pak Refly ya, mirip- mirip dengan apa yang disampaikan Yang Mulia Pak Palguna, ya.

Memang ketika kemudian … apa … prinsip-prinsip kebebasan berserikat, berkumpul itu secara universal tidak dilaksanakan, memang kemudian menimbulkan masalah.

Kemudian, ketika Pak Refly mengilustrasikan bahwa organisasi profesi dokter ini kemudian diilustrasikan dengan Peradi, advokat itu memang sepintas sepertinya sama, tapi sebenarnya kan, ada hak yang sangat krusial yang … ada persoalan yang krusial yang disampaikan Pak Palguna tadi yang menyangkut masalah nyawa manusia dan lain sebagainya.

Nah, tapi sebenarnya kan, semangatnya Pak Refly itu kan, sama bahwa Peradi pun sebenarnya wadah tunggal. Kemudian, IDI ini pun sebenarnya kan, seperti itu. Tapi, persoalannya memang apakah kemudian pertanyaan yang penting, mohon dijawab, ketika kita mempertanyakan prinsip-prinsip kebebasan berserikat, berkumpul, kemudian itu kita “paksakan”, namun demikian nanti malah menimbulkan resistensi yang sedemikian kuat dan bahkan kemudian akan menimbulkan kayak dokter … kayak IDI kan, sekarang sudah mulai ada sempalan-sempalan misalnya, kan?

Sementara ada sesuatu yang sangat mendasar sekali, di situ ada implementasi tentang pembinaan, pengawasan, dan mungkin soal kompetensi yang harus selalu dicermati untuk dokter ini, tapi tidak tahu juga kalau nanti juga akhirnya organisasi dokter ini juga kayak … kayak advokat karena memang sebenarnya kan, semangat itu memang tinggal semangat karena pada akhirnya kan, memang beberapa … bukan beberapa, banyak tarik … tarik-menarik kepentingan yang akhirnya

(33)

Mahkamah Agung sebagai … apa … pengendali pun akhirnya juga menyerah.

Apakah IDI kalau saya lihat keterangan Saksi Pak Profesor anu tadi … Akmal tadi, ini juga sebenarnya Kementerian Kesehatan juga kewalahan ini. Padahal sebenarnya kan, Kementerian Kesehatan, Bapak bagian dari Kementerian Kesehatan yang dulu dirjen sekarang staf ahli, saya lihat cv Bapak itu, sebenarnya kan ya, memang itu independen soal kelembagaan yang organisasi profesi, tapi kan, ada kewenangan- kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah, oleh penguasa ini yang bagaimana supaya IDI ini bisa kemudian juga bagaimana berkontribusi.

Jangan kemudian dengan egosentrisnya selalu … apa … terkungkung di dalam, kemudian menggunakan keku … kekuasaan yang ada, tapi sementara yang lain, kepentingan-kepentingan secara nasional diabaikan. Seperti soal DLP itu.

Kalau Bapak katakan, ini saya bergeser dulu Pak Refly ke Saksi.

Kalau Bapak katakan sebagai Saksi mengatakan bahwa ini persoalan DLP ini hanya tinggal persetujuan atau rekomendasi dari IDI, Bapak dari bagia … Bapak selaku bagian dari pemerintah kan, alangkah … apa, ya

… kasihannya, Pak. Kemudian pemerintah bisa dikendalikan oleh IDI yang sebenarnya semua infrastukturnya sudah lengkap, ya kan. Sudah mau di-launching.

Memang alasan IDI kemarin persoalannya belum ada Kepres, Pak, Kepres atau perpres itu, PP. Sedangkan itu kan, sebenarnya wilayahnya Bapak, wilayah pemerintah. Sekarang Bapak di sini mengatakan bahwa karena belum ada rekomendasi IDI. Mana yang benar kalau begitu, kan?

Jadi, kasihan, Pak. Kementerian, Bapak ini kan … kementerian itu kan adalah pembantu presiden. Itu yang harusnya mesti dicermati, jangan kemudian apakah memang ada persoalan-persoalan di dalam, ini pertanyaan saya juga ke Ahli. Ada persoalan-persoalan yang di dalam itu yang kemudian unsur yang ada di pemerintah, tokoh-tokoh yang ada di pemerintah, penentu-penentu kebijakan itu yang kemudian juga sulit melakukan tindakan, sulit melakukan sikap karena apa? Karena bagian dari internal IDI juga seperti Bapak, maaf ya, Bapak kan, juga dokter.

Bapak tidak bisa terpisah dari IDI juga, staf ahli lho, Bapak. Jadi, mohon maaf, apa yang ada di pikiran-pikiran Ibu menteri itu, itu bagian … itu adalah support-nya dari Bapak.

Ada persoalan apa kalau begitu? Ini pertanyaan saya untuk Saksi.

Tapi, untuk Pak Refly tadi itu Pak Refly, apa kemudian Pak Refly apa kita memaksakan prinsip-prinsip tadi itu, hak konstitusional itu? Tapi kemudian memang justru kontra produktif akan menimbulkan resistensi dan sempalan-sempalan yang kemudian malah jauh dari fungsi-fungsi pembinaan dan pengawasan dan soal pengawasan kompetensi itu.

Terutama standar medik yang kaitannya adalah masyarakat banyak soal nyawa manusia, itu Pak … Pak Refly.

(34)

Kemudian, Pak Herkutanto, ya. Prof, begini Prof, Bapak kan bagi

… Bapak Ketua KAI … konsil kedokteran di … kemudian saya ingin tanya, secara organisatoris hubungannya dengan IDI seperti apa ini, Pak?

Bapak belum jelaskan tadi dengan IDI. Apakah ada hubungan koordinasi atau ada fungsi-fungsi pengawasan di situ, fungsi-fungsi pembinaan di situ, kalau ada, semestinya ... Bapak selaku ketua konsil kedokteran, ya, Bapak, ya, kan? Itu bisa tidak kemudian organisasi Bapak itu bisa ikut ada keterlibatan di situ untuk melakukan pengawasan-pengawasan, sehingga, sehingga Bapak ... jadi, sehingga rumah besar IDI yang mestinya bisa mengayomi ini, kemudian justru tidak, malah sebaliknya, di dalamnya ternyata menjadi ‘dugaan adanya penyalahgunaan’ yang mungkin kemudian para anggotanya pun sudah pada gerah di situ yang akhirnya sering ada persoalan-persoalan dibawa ke Mahkamah Konstitusi ini. Mungkin itu saja, Pak Ketua dari saya. Terima kasih.

77. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih, Yang Mulia. Silakan, Prof. Saldi.

78. HAKIM ANGGOTA: SALDI ISRA

Terima kasih, Pak Ketua. Saya tidak akan mengajukan pertanyaan yang berat-berat terhadap Dr. Refly Harun. Jadi, tidak Dr. Lagi disebut sudah dr. Refly Harun. Sudah paham betul, ya, kayaknya apa ... isu-isu di kedokteran.

Pertanyaan pertama, saya untuk Ahli, Saudara Dr. Refly Harun, kalau ada organisasi non state, kayak IDI, itu boleh, enggak, organisasi seperti itu yang dikatakan independen atau apa, lalu menegasikan peran negara? Pertanyaan ini penting karena tadi kan ada beberapa bukti dalam selama persidangan ini … apa namanya ... tidak melaksanakan ini, tidak mau begini, dan segala macamnya, terutama untuk … apa namanya ... perkembangan lebih lanjut dari dokter layanan primer itu.

Itu padahal jelas, ini kan fungsi atau peran negara yang harus dilaksanakan untuk kesejehtaraan dan juga untuk pendidikan. Satu, untuk Pak Refly.

Kedua, ini untuk Prof. Herkutanto. Tadi di penjelasan Bapak mengatakan bahwa ... di penjelasan Ahli mengatakan, ada empat mode regulasi praktik kedokteran itu di dunia dan di Indonesia menurut Ahli tadi menganut model informal eksternal. Nah, pertanyaan saya adalah kalau berdasarkan tadi menurut ahli, melihat situasi hari ini, kata Ahli tadi, ini pengelompokan terhadap informal eksternal itu harus digeser atau mulai dipikirkan untuk berubah kepada pengelompokan lain. Kira- kira begitu.

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak kedua cavum nasi sempit, sekret bening, konka inferior berwarna livide , terdapat massa lunak, bertangkai, bulat,

Mahasiswa juga belum terbiasa melakukan pembelajaran dengan metode penugasan kelompok sehingga masih banyak mahasiswa yang berdiskusi dengan teman dari kelompok

Jenis penelitian yang dilakukan adalah melakukan sampling limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) memodifikasi dan menjadi pertimbangan penggunan SNI 19-3964-1994

Hasil penelitian ini, yaitu perbedaan kelas sosial yang ada pada cerpen “Perkawinan Mustaqimah” karya Zulfaisal Putera yang terbagi menjadi dua, yaitu golongan sangat

Dengan adanya modul pengembangan bimbingan kelompok untuk mencegah perilaku seks bebas pada peserta didik, diharapkan dapat membantu guru dalam memberikan

Untuk kegiatan sholat wajib dhuhur dan ashar berjamaah siswa berada di tanggung jawab pihak sekolah karena setiap waktunya sholat dhuhur dan sholat ashar siswa di

zingiberi asal Temanggung dan Boyolali yang telah disimpan dalam medium tanah steril selama enam tahun masih tumbuh dengan baik pada medium PDA dan memenuhi cawan Petri setelah

Pengkajian transtivitas terhadap pidato kampanye Ahok pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 menghasilkan tiga simpulan, yakni 1) seluruh tipe transitivitas