BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Landasan Penelitian Terdahulu
Tabel 2
Landasan Penelitian Terdahulu Nama
Peneliti
Judul Penelitian Tujuan Penelitian Hasil Penelitian Rahayu, Sri
Makassar 2014
“ANALISIS
PENGARUH BIAYA OPERASIONAL TERHADAP KINERJA
KEUANGAN PADA PT. PLN (PERSERO) WILAYAH
SULSELRABAR”
Untuk mengetahui apakah biaya operasional berpengaruh terhadap kinerja keuangan pada PT.PLN (Persero) wilayah Sulselrabar.
Berdasarkan hasil analisis dan
pembahasan, dapat
disimpulkan bahwa biaya operasional (x) berpengaruh terhadap kinerja keuangan (y) pada PT. PLN (persero)
wilayah Sulselrabar Kurniawan,
Indra Bandung 2014
“PENGARUH BIAYA
OPERASIONAL TERHADAP KINERJA
KEUANGAN PADA PT.
Untuk mengetahui apakah biaya operasional berpengaruh terhadap kinerja keuangan pada PT.TELEKOMUNIKASI INDONESIA, Tbk.
Dari hasil perhitungan analisis regresi linear sederhana diperoleh bahwa biaya operasional (x) berpengaruh
TELEKOMUNIKASI INDONESIA, TBK
negatif terhadap kinerja
keuangan (y).
Nasution, Fadillah Ramdhani
Makassar, 2013
“PENGARUH BIAYA
OPERASIONAL TERHADAP LABA BERSIH PADA PT.
BANK NEGARA
INDONESIA, Tbk
“Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana
pengaruh biaya
operasional terhadap laba bersih pada PT. Bank Negara Indonesia, Tbk Cabang
Makassar.
Berdasarkan hasil analisis dan
pembahasan, dapat
disimpulkan bahwa biaya operasional berpengaruh (x) terhadap laba bersih (y)
pada PT.
BANK NEGARA INDONESIA, Tbk Cabang Makassar
Dari landasan penelitian terdahulu diatas terdapat perbedaan, hasil penelitian dari Kurniawan (2014) menjelaskan bahwa variabel biaya operasional (x) tidak berpengaruh terhadap variabel kinerja keuangan (y), dan juga penelitian yang dilakukan Nasution (2013) hanya menjelaskan variabel (y) adalah laba bersih sedangkan penelitian yang lain menjelaskan variabel (y) adalah total laba bersih setelah pajak dibagi dengan total aset (ROA). Dan juga penelitian terdahulu yang lain memiliki hasil yang sama yaitu variabel (x) berpengaruh pada variabel (y). Perbedaan peneleitian
terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti lakukakan adalah objek penelitian dan variabel (y) yang dimiliki oleh Nasution (2013) yaitu laba bersih, sedangkan variabel (y) yang akan peneliti gunakan sama dengan variabel (y) yang digunakan oleh Kurniawan (2014) dan Rahayu (Makassar, 2014) yaitu laba bersih setelah pajak dibagi dengan total aset (ROA).
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Pengertian Biaya
Pengertian biaya menurut (Mulyadi 2015:8) “Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu”. Siregar dkk (2014:23) yaitu “Cost adalah pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat sekarang atau masa yang akan datang.” Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa biaya dapat diartikan sebagai nilai pengorbanan untuk memperoleh barang atau jasa yang berguna untuk masa yang akan datang atau mempunyai manfaat melebihi satu periode akuntansi yang diukur dalam satuan uang. Biaya terbagi menjadi dua, yaitu biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit adalah biaya yang terlihat secara fisik, misalnya berupa uang. Sementara itu, yang dimaksud dengan biaya implisit adalah biaya yang tidak terlihat secara langsung,
misalnya biaya kesempatan dan penyusutan barang modal. Biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
2.2.1.1 Klasifikasi Biaya
Biaya muncul karena adanya suatu kegitan yang terjadi dalam kegiatan operasional perusahaan. Banyak kegiatan terjadi dalam perusahaan sehingga banyak klasifikasi biaya.
Biaya utama dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan tempat biaya tersebut terjadi, yaitu:
1. Biaya Produksi (Production Cost)
Biaya produksi (production cost) adalah semua biaya yang terdapat di dalam lingkungan atau ruang tempat kegiatan produksi. Biaya produksi dibedakan menjadi tiga komponen, yakni sebagai berikut:
Biaya bahan mentah (raw materials), ialah nilai dari semua bahan yang diolah dalam proses produksi.
Upah tenaga kerja langsung (direct labour), ialah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang ditugasi mengolah bahan mentah dalam proses produksi
Biaya pabrik tidak langsung (factory overhead) ialah semua biaya yang terjadi dan terdapat di dalam lingkungan pabrik,
tetapi tidak secara langsung berhubungan dengan proses kegiatan.
2. Biaya Administrasi (Administration Expenses)
Biaya administrasi (administration expenses), ialah semua biaya yang terdapat di dalam lingkungan dimana kegiatan administrasi dilakukan.
3. Biaya Pemasaran (Marketing Expenses)
Biaya pemasaran (marketing expenses) ialah semua biaya yang terdapat di dalam lingkungan dimana pemasaran dilakukan.
2.2.1.2 Pengertian Biaya Operasional
Menurut Murhadi (2013:37) “Biaya operasi (operating expense) merupakan biaya yang terkait dengan operasional perusahaan yang meliput biaya penjualan dan administrasi (selling and administrative expense), biaya iklan (advertising expense), biaya penyusutan (depreciation and amortization expense), serta perbaikan dan pemeliharaan (repairs and maintenance expense)”. Sedangkan menurut Sofyan Harahap (2011:242) menyatakan bahwa pengertian biaya sebagai berikut: “Biaya adalah semua yang dibebankan kepada produk barang dan jasa yang akan dijual untuk mendapatkan revenue”. Ada beberapa unsur biaya operasional yang terdapat pada laporan laba rugi sebuah perusahaan, sehingga biaya operasional bisa mempengaruhi profitabilitas suatu perusahaan. Jika pendapatan usaha lebih besar dari biaya
operasional yang dikeluarkan maka laba akan meningkat, sebaliknya jika pendapatan usaha lebih kecil dari biaya operasional yang dikeluarkan maka akan terjadi penuruna pada laba. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya operasional (operating expense) adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan sehari-hari diluar kegiatan proses produksi.
2.2.1.3 Jenis Biaya Operasional
Pada umumnya biaya operasional terbagi atas tiga, yaitu:
a. Biaya Tetap, ialah biaya yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh perubahan aktivitas perusahaan. Ini berarti terjadi peningkatan atau penurunan aktivitas perusahaan, maka biaya tetap tidak mengalami perubahan. Contoh biaya operasional tetap (Sasongko, 2010:86) adalah gaji bulanan karyawan.
b. Biaya Variabel, ialah biaya yang jumlahnya berubah-ubah secara proporsional dengan berubahnya volume produksi. Artinya jika terjadi peningkatan volume produksi maka biaya variabel akan mengalami peningkatan, begitu pula sebaliknya. Contoh biaya operasional variabel adalah komisi penjualan untuk wiraniaga (salesperson). Besar atau kecilnya komisi penjualan yang harus dibayar oleh perusahaan dipengaruhi oleh tinggi atau rendahnya tingkat penjualan perusahaan. Semakin tinggi tingkat penjualan perusahaan, maka semakin tinggi pula komisi penjualan yang harus dibayarkan oleh perusahaan kepada wiraniaganya (Sasongko, 2010:86-87).
c. Biaya Semi-Variabel ialah biaya yang sebagian mempunyai sifat tetap yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan dan sebagian lagi mempunyai sifat variabel yang besar kecilnya dipengaruhi perubahan perusahaan. Contoh biaya operasional semi variabel antara lain insentif dan pemeliharaan mesin.
2.2.2 Laporan Keuangan
2.2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2015:1) merpakan suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Laporan keuangan merupakan informasi yang diharapkan mampu memberikan bantuan kepada pengguna untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat finansial.
Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memeroleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan (Munawir , 2002:56).
2.2.2.2 Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keangan (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2015:9) adalah untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keungan, dan arus kas entitas ang bermanfaat bagi sebagian besar laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomik. Laporan keuangan juga mennjukan hasil pertanggung jawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam
rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi:
aset
liabiitas
ekuitas
penghasilan dan beban, termasuk kentungan dan kerugian;
kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagi pemilik; dan
arus kas
Informasi tersebut, beserta informasi lain yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan, membantu pengguna laporan keuangan dalam memprediksi arus kas masa depan entitas dan, khusunya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.
2.2.2.3 Komponen Laporan Keuangan
Komponen laporan keungan (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2015:10):
laporan posisi keuangan pada akhir periode;
laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain selama periode;
laporan perubahan ekuitas selama periode;
laporan arus kas selama periode;
catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifkan dan informasi penjelasan lain;
informasi komparatif mengenai periode terdekat sebelumnya sebagaimana ditentukan dalam paragraf 38 dan 38A; dan
laporan posisi keuangan pada awal periode terdekat sebelumnya ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifkasi pos-pos dalam laporan keuangannya sesuai dengan paragraf 40A-40D.
a. Neraca
(Kasmir, 2010:28) adalah Laporan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan
pada tanggal tertentu. Neraca (Horne dkk, h.193) adalah ringkasan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu yang menunjukkan total aset dengan total kewajiban ditambah total ekuitas pemilik. Dalam neraca ada beberapa kompenen yaitu aset, kewajiban atau yang sering disebut utang, dan komponen terakhir adalah ekuitas (modal).
1. Aset
Menurut Hanafi (2003:51), “Aset adalah manfaat ekonomis yang akan diterima pada masa mendatang, atau akan dikuasai oleh perusahaan sebagai hasil dari transaksi atau kejadian”. Menurut Gill (2006:9) “Aktiva (Assets) ialah uang tunai, barang dagangan, tanah, bangunan/gedung, dan peralatan atau sejenisnya
yang bernilai, yang dimiliki oleh perusahaan”. Menurut Martani (2012:139) “Aset adalah sebagai sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh”.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa aset adalah aset adalah sumber daya yang dimiliki perusahaan berupa uang tunai, barang dagangan, tanah, bangunan/gedung, dan peralatan atau sejenisnya yang mempunyai nilai bagi perusahaan serta memiliki manfaat ekonomis yang akan diterima di masa yang akan datang.
2. Kewajiban
Kewajiban (Keown, 2004:37) adalah Sumber pembiayaan dari kredit oleh para penyalur atau suatu pinjaman dari bank. kewajiban digolongkan menjadi kewajiban lancar dan kewajiban jangka panjang.Kewajiban lancar (Soemarso, 2004:230) adalah kewajiban-kewajiban yang akan jatuh tempo dalam satu tahun atau dalam satu siklus kegiatan normal perusahaan.Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban-kewajiban yang jatuh tempo lebih dari satu tahun.
3. Ekuitas
Menurut PSAK (2002:49), pengertian ekuitas ialah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban, dengan kata lain ekuitas adalah suatu perkiraan yang mencerminkan porsi hak atau kepentingan pemilik perusahaan terhadap harta perusahaan tersebut..
b. Laporan Laba Rugi
Menurut Najmudin (2011:71) Laporan laba-rugi atau income statement profit and loss statement adalah membandingkan pendapatan terhadap beban pengeluarannya
untuk menentukan laba atau rugi bersih. Laporan ini memberikan informasi tentang hasil akhir perusahaan selama periode tertentu. Menurut Husnan (2006:60) Laporan laba rugi, menunjukkan laba atau bersih yang diperoleh perusahaan dalam periode waktu tertentu (misalnya satu tahun). Laba (atau rugi) = Penghasilan dari penjualan – biaya dan ongkos. Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi meliputi:
Jenis-jenis pendapatan yang diperoleh dalam satu periode.
Jumlah rupiah dari masing-masing jenis pendapatan .
Jumlah keseluruhan pendapatan.
Jenis-jenis biaya atau beban dalam satu periode.
Jumlah rupiah masing-masing biaya atau beban.
Jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan.
Hasil usaha yang diperoleh dengan mengurangi jumlah pendapatan dan biaya selisihnya disebut laba atau rugi.
c. Laporan Perubahan Ekuitas
Menurut Kasmir (2012:29), laporan perubahan modal merupakan laporan yang berisi jumlah dan jenis modal yang dimiliki pada saat ini. Laporan perubahan modal merupakan Laporan yang menggambarkan jumlah modal yang dimiliki perusahaan
saat ini serta sebab-sebab berubahnya modal. Infromasi yang diberikan dalam laporan perubahan modal meliputi:
Jenis-jenis dan jumlah modal yang ada saat ini.
Jumlah rupiah tiap jenis modal.
Jumlah rupiah modal yang berubah.
Sebab-sebab berubahnya modal.
Jumlah rupiah modal sesudah perubahan d. Laporan Arus Kas
Menurut Rudianto (2012:194) mendefinisikan laporan arus kas adalah sebagai berikut: “Laporan arus kas adalah suatu laporan tentang aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan selama periode tertentu, beserta penjelasan tentang sumber-sumber penerimaan dan pengeluaran kas tersebut”.
2.2.2.4 Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan (Ikatan Akuntansi Indonesia) adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengendalikan sumber daya yang dimiliki. Kinerja keuangan (Rahayu, 2010:14-15) adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturanaturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Kinerja keuangan adalah prestasi kerja yang telah
dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu dan tertuang pada laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Kinerja keuangan (Darsono, 2009:47) ialah hasil kegiatan operasi perusahaan yang disajikan dalam bentuk angka-angka keuangan.
Ada 5 (lima) tahap dalam menganalisis kinerja keuangan secara umum yaitu:
a. Melakukan review terhadap data laporan keuangan. review disini dilakukan dengan tujuan agar laporan keuangan yang sudah dibuat tersebut sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam dunia akuntansi, sehingga dengan demikian hasil laporan keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
b. Melakukan perhitungan. Penerapan metode perhitungan disini adalah disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan yang sesuai dengan analisis yang diinginkan.
c. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan terhadap hasil yang telah diperoleh. Dari hasil hitungan yang telah diperoleh tersebut kemudian dilakukan perbandingan hasil hitungan dari berbagai perusahaan lainnya.
Metode yang paling umum dipergunakan untuk melakukan perbandingan ini ada dua yaitu:
Time series analysis, yaitu membandingkan secara antarwaktu atau antar periode, dengan tujuan itu nantinya akan terlihat secara grafik.
Cross sectional approach, yaitu melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang sejenis yang dilakukam secara bersamaan.
d. Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan.
e. Mencari dan memberikan pemecahan masalah terhadap permaslahan yang ditemukan.
Analisis rasio keuangan dibagi menjadi 4 yaitu:
Rasio Profitabilitas
Rasio Likuiditas
Rasio Solvabilitas
Rasio Aktivitas
2.3 Return On Asset (ROA)
Menurut Kasmir (2014:201), Return On Assets merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Menurut Munawir (2007;91) kegunaan dari analisa Return On Assets dikemukakan sebagai berikut :
1. Dapat diperbandingkan dengan rasio industri sehingga dapat diketahui posisi perusahaan terhadap industri, hal ini merupakan salah satu langkah dalam perencanaan strategi.
2. Jika perusahan telah menjalankan praktik akuntansi dengan baik maka dengan analisis Retun on Assets ( ROA ) dapat diukur efisiensi penggunaan modal yang menyeluruh yang sensitif terhadap setiap hal yang mempengaruhi keadaan keuangan perusahaan.
2.4 Perumusan Hipotesis
Biaya operasi yang dimiliki PT PLN (persero) Indonesia dapat dilihat sangat tinggi. Dengan biaya operasional yang tinggi dapat menyebabkan laba yang dihasilkan sangat rendah, sebaliknya jika perusahaan dapat menekan biaya operasional makan perusahaan akan dapat menghasilkan laba yang sagat tinggi pula. Adapun hasil penelitian dari penelitian terdahulu Rahayu (2014) menyatakan bahwa biaya operasional berpengaruh terhadap kinerja keuangan pada PT.PLN (Persero) wilayah SUSELRABAR.
Menurut Arikunto (2006:71) berpendapat bahwa hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. sehingga peneliti menyatakan hipotesis penelitian dari penelitan ini adalah:
Ha: Diduga biaya operasional berengaruh terhadap kinerja keuangan berdasarkan return on asset (ROA) pada PT.PLN (Persero) Indonesia.
2.5 Rerangka Pikir
Rerangka pikir merupakan arah penelitian yang dilakukan oleh penulis dan digambarkan dalam skema berikut ini:
Gambar 2 Rerangka Pikir
Dari rerangka pikir, PT PLN (Persero) Indonesia merekap keuangan perusahaan dalam bentuk angka-angka dan disajikan dalam laporan keuangan yaitu laporan laba rugi. Laporan laba rugi berpengaruh besar terhadap kinerja keuangan. Laporan laba rugi dibedakan beberapa jenis, diantaranya adalah biaya operasional. Menurut Hidayat (2007:27), “Menganggap bahwa pemanfaatan biaya yang rendah dapat dihubungkan secara langsung dengan tingkat profitabilitas yang tinggi”.Sedangkan dalam pengertian lain menurut Hidayat (2007:42), “Untuk mendapatkan profitabilitas perusahaan yang maksimal, organisasi kerja harus berfikir untuk menekan tingkat biaya”. Hubungan biaya operasional terhadap kinerja keuangan yaitu besar kecilnya nilai dari kinerja keuangan (ROA) dipengaruhi oleh nilai dari
BIAYA OPERASIONAL ROA
biaya operasional. Semakin besar biaya operasional perusahaan maka semakin banyak nilai pengurang pada pendapatan yang mengakibatkan nilai laba bersih ikut menurun, begitu juga sebaliknya. Jika biaya operasional lebih sedikit dari pendapatan maka nilai ROA juga akan semakin baik.Peneliti akan menganalisis pengaruh biaya operasional terhadap kinerja keuangan pada perusahaan tersebut.
Hasil dari kinerja keuangan yang telah dianalisis akan direkomdasikan kepada PT PLN (Persero) Indonesia.