38
BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan menguraikan hasil dari pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny.K yang mengalami diabetes melitus. pada bab ini meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi dengan membandingkan antara teori dan kasus yang ada.
A. Pengkajian Keperawatan Keluarga
Pada data pengkajian yang di dapatkan penulis dengan metode wawancara sebagai pengumpulan data didapatkan hasil yaitu : Ny.K mengatakan terdapat luka terbentuk sejak 3 hari yang lalu di jari kaki sebelah kiri. Ny.K mengatakan terdapat luka dikakinya yang sukar sembuh, Ny.K mengatakan sering haus dan suka kencing pada malam hari, sering lemas. Ny.K mengatakan Menghindari makan yang manis-manis, Makan habis ½ porsi, BB sebelum sakit 75 kg dan setelah sakit 65kg, Ny.K jarang mengemil karna takut gula darahnya naik, Klien mengatakan akhir-akhir ini tidak nafsu makan. Hal ini sesuai dengan tanda dan gejala menurut teori Menurut Corwin (2009). Yaitu : Poliuria (peningkatan pengeluaran urine), Polidipsi (peningkatan rasa haus), Polifagia (peningkatan rasa lapar), Rasa lelah dan kelemahan otot, Berat badan menurun, Gatal-gatal, Mata kabur, Gatal dikemaluan (wanita), Ipotensi, Kesemutan dan Penyembuhan luka yang buruk. Namun pada Ny.K tidak ditemukan tanda dan gejala seperti polifagi, gatal-gatal dan gatal dikemaluan.
Menurut Smeltzer & Suzzanne, 2002 Faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe II adalah Usia, Obesitas, Riwayat keluarga, Kelompok etnik. Pada kasus terlihat bahwa diabetes melitus yang dialami Ny.K adalah berasal dari faktor riwayat keluarga dan faktor usia Ny.K yang sudah 50 tahun. Tanda dan gejala menurut Menurut Corwin (2009). Poliuria (peningkatan pengeluaran urine), Polidipsi
39
(peningkatan rasa haus), Polifagia (peningkatan rasa lapar), Rasa lelah dan kelemahan otot. Maka jika dibandingkan antara teori dan kasus Ibu.K maka tidak ada kesenjangan antara faktor resiko dm dan manifestasi klinik.
Ibu.k mengatakan usianya 50 tahun dan telah menderita diabetes melitus sudah lebih dari 10 tahun. Menurut Bustan Nadjib (2015, h.122). dijelaskan bahwa DM tipe II kebanyakan dialami oleh klien usia diatas 40 tahun, karena berhubungan dengan degenerasi atau kerusakan organ dan faktor gaya hidup.
Selain umur yang bertambah, umur juga menentukan angka kejadian penderita termasuk klasifikasi diabetes melitusnya.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan : kesadaran Ny.K compos mentis, TTV : Td: 150/90 mmhg N: 80x/menit S: 36°C RR: 18 x/menit, kadar GDS : 301 mg/dl, BB 65 kg, TB 160 cm, terdapat luka gangren di kaki kanan dan kiri keadaan luka : kaki kanan : ada luka di bawah digiti V lebar 2 cm kedalaman
½ cm, warna luka merah dan agak pink, ada slaf berwarna kekuningan, kapalan dan luka dipunggung kaki lebar 2 cm warna merah. kaki kiri : lokasi luka tepat pada digiti III lebar 2cm kedalaman ½cm, warna hitam, kekuningan, bau khas dan luka ditelapak kaki lebar 4cm kedalaman 2cm warna pucat, kekuningan dan terdapat kapalan. Hal ini dibenarkan oleh teori menurut (Kemenkes RI, 2013) yaitu salah satu komplikasi diabetes kronis yaitu : Kaki diabetik Terdapat empat faktor utama yang berperan pada kejadian kaki diabetik yaitu a) kelainan vaskuler : angiopati, contoh : aterosklerosis, b) kelainan saraf : neuropati otonom dan perifer c) infeksi d) perubahan biomekanika kaki. Dan teori Menurut (WHO, 2001 dalam Dina Dewi SLI, FIK UI, 2008). Luka diabetes adalah infeksi, ulkus dan/atau kerusakan jaringan yang lebih dalam yang terkait dengan gangguan neurologis dan vaskuler pada tungkai. (Aini, Nur dan Aridiana, Ledy Martha, 2016) Diabetic foot ulcer (DFU) didefinisikan sebagai erosi pada kulit yang meluas mulai dari lapisan dermis sampai ke jaringan yang lebih dalam, akibat dari bermacam-macam faktor yang di tandai dengan ketidakmampuan jaringan yang luka untuk memperbaiki diri tepat pada waktunya. Menurut
40
Aini, N dan Aridiana, LM, 2016. Grade 2 = ulkus meluas sampai ligament, tendon, kapsula sendi atau fasia dalam tanpa abses atau osteomielitis.
Dari hasil perbandingan yang didapatkan oleh penulis bahwa tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus yang ada, Ny.K mengalami tanda dan gejala serta mengalami komlikasi dari diabetes yang disebutkan di teori.
B. Dignosa Keperawatan
Berdasarkan teori Kemenkes RI (2013) dan Doenges (2012). terdapat 6 diagnosa yang dapat timbul pada klien dengan Diabetes Melitus, namun yang penulis angkat yaitu Resiko Infeksi, Perubahan nutrisi : kurang/ brlebihan dari kebutuhan tubuh dan Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM dan penatalaksanaanya. Penulis tidak menegakkan diagnosa Gangguan perfusi jaringan perifer pada sat pengkajian penulis menemukan akral ibu.k masih hangat ctr >3 detik, Resiko kekurangan volume cairan pada saat pengkajian penulis tidak dapat menemukan data seperti catatan intake dan output Ny.K dalam satu hari. dan Gangguan integritas kulit penulis menemukan kuliet ibu.k masih elastis namun terdapat luka dalam kasus ini penulis berfokus untuk mengatasi resiko penyebaran infeksi. Diagnosa pertama yang penulis angkat yaitu Resiko Penyebaran Infeksi (Gangren) Diagnosa tersebut diangkat sesuai dengan definisi menurut (carpenito, 2009) yaitu suatu kondisi individu yang mengalami peningkatan resiko terserang organisme patogenik virus, jamur,bakteri, protozoa, atau parasite lain dari sumber-sumber eksternal, sumber-sumber endogen atau eksogen dan berpotensi untuk terjadinya penggandaan mikroorganisme secara cepat atau zat-zat racunya.
Rasional menurut (Kemenkes RI, 2013) diabets mlitus dapat menyebabkan komplikasi yang krinis seperti Kaki diabetik salah satu faktor utama yang berperan pada kejadian kaki diabetik yaitu infeksi. Apabila hal ini tidak segera di atasi akan menimbukan penyebaran infeksi dan luka semakin melebar. Adanya keinginan dan motivasi keluarga untuk merawat anggota keluarga secara mandiri dan inegin membawanya ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pengobatan dapat mencegah resiko penyebaran infeksi yang lebih lanjut. Daignosa kedua yaitu resiko perubahan nutrisi kurang dari
41
kebutuhan tubuh. Diagnosa tersebut diangkat berdasarkan definisi menurut carpenito (2009). Bahwa keadaan ketika seorang individu mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrisi yang tidak adekuat untuk metabolik. Rasional : pada penderita DM meningkatnya metabolisme, pemecahan glikogen untuk energi yang menyebabkan cadangan energi berkurang dan asupan nutrisi yang kurang adekuat dapat menyebabkan hipoglikemi dan penurunan berat badan serta memperhambat penyembuhan luka. Diagnosa ketiga yaitu kurang pengetahuan mengenai penyakit DM dan penatalaksanaanya.
Diagnosa tersebut diangkat berdasarkan definisi (NANDA, 2012) yaitu penyerapan informasi kognitif yang berhubungan dengan topik tertentu yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan dapat ditingkatkan.
Rasional : dengan pengetahuan yang meningkat tentang Diabetes Melitus merupakan dasar tindakan pencegahan dan pengobatan dan membuat penderita akan semakin mengerti tentang tindakan pencegahan dan memonitoring sehingga tingkat penderita Diabetes Melitus dapat diminimalisir.
C. Perencanaan Keperawatan
Rencana keperawatan masalah yang terjadi pada Ny.k menurut Doenges (2012). Sesuai masalah yang sudah ditentukan oleh penulis intervensi untuk diagnosa pertama adalah Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga tentang cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan perawatan luka, Lakukan perawatan luka secara berkala, Libatkan keluarga untuk memantau intake nutrisi, Monitor adanya tanda gejala infeksi, Ukur tanda-tanda vital, Berikan informasi tentang tanda dan gejala infeksi dan Motivasi keluarga dan klien untuk ke pusat pelayanan kesehatan agar mendapatkan terapi pemberian antibiotic sesuai instruksi.
Rencana keperawatan ini berdasarkan teori Kemenkes RI (2013). Sesuai masalah yang sudah ditentukan oleh penulis intervensi untuk diagnosa kedua adalah Kaji pola pemasukan diet dan status nutrisi, Beri informasi tentan program diet DM, timbang BB setiap hari, Libatkan keluarga untuk
42
memonitoring pemasukan nutrisi setiap hari : bantu klien saat makan bila kelelahan : berikan makan pengganti bila tidak mau makan saat waktu makan, Anjurkan keluarga untuk memberikan lingkungan yang rileks dan berikan waktu yang cukup untuk makan, Anjurkan klien dan keluarga untuk memonitor kadar glukosa darah, Libatkan keluarga untuk memonitoring tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia dan lakukan tindakan atau lapor kepetuga kesehatan sesuai prosedur yang telah dijelaskan.
Rencana keperawatan ini berdasarkan teori Kemenkes RI (2013). Sesuai masalah yang sudah ditentukan oleh penulis intervensi untuk diagnosa ketiga adalah Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang penyakit DM (pengertian, penyebab, tanda dan gejala dan akibat lanjut), Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang pencegahan DM, Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang cara perawatan klien DM dirumah meliputi : diet, latihan, obat-obatan dan kebersihan diri, senam kaki, perawatan kaki atau luka DM serata cara memantau kadar glukosa darah, Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang tanda-tanda hipoglikemi dan hiperglikemi serata penanganan awalnya, Jelasakan tentang pengertian menjaga kebersihan dan penataan lingkungan yang dapat mencegah cidera pada klien dan Jelaskan tentang fasilitas kesehatan (puskesmas dan RS) yang dapat dimanfaatkan untuk penanganan masalah DM
D. Implementasi
Penulis melakukan Implementasi telah sesuai dengan Perencana Keperawatan yang telah dibuat, implementasi keperawatan pada Ny.K dengan Diabetes Melitus.
Intervensi yang dilakukan sudah disesuaikan dengan kondisi berdasarkan teori menurut (Andarmoyo 2012) yaitu beberapa pedoman dan prinsip dalam pelaksanaan asuhan keperawatan di keluarga yaitu sebagai berikut : interaksi dimana fokusnya adalah subsistem keluarga dengan kesehatan di lingkungannya, pendekatan dengan menggunakan proses keperawatan, sesuai kemampuan yang dimiliki keluarga kegiatan utama adalah penyuluhan kesehatan atau perawatan kesehatan di rumah, memberikan asuhan
43
keperawatan keluarga secara keseluruhan, melibatkan peran serta aktif seluruh anggota keluarga, memanfaatkan sumber daya yang ada dalam keluarga dan teknologi tepat guna selama perawatan di rumah. Seperti implementasi yang sudah dilakukan yaitu untuk menentukan hipoglikemi karna Ny.K tidak memiliki alat perawat mensiasati agar Ny.k mengingat tanda dan gejala hipoglikemi.
Implementasi yang diberikan pada keluarga Tn.S khususnya Ny.K dikaitkan dengan prinsip implementasi keperawatan keluarga menurut (Andarmoyo, 2012) bahwa memberikan pendidikan kesehatan terhadap klien tanpa melibatkan keluarga dapat mengakibatkan perawatan diri dan pemulihan yang buruk, pendidikan dapat mencakup berbagai bidang khususnya dalam mengambil keputusan bagi keluarga untuk mencegah resiko penyakit dan masalah kesakitan serta dampaknya.
Dalam implementasi penulis menemukan faktor pendukungnya adalah saat melakukan tindakan keperawatan keluarga Tn.S dan khususnya Ny.K aktif dan mampu bekerjasama dengan baik serta adanya dukungan dari keluarga untuk melakukan apa yang dianjurkan oleh perawat secara mandiri.
Faktor penghambat : dalam melakukan tindakan keerawtan tidak semua anggota keluarga yang ikut serta dalam melakukan perawatan sacara mandiri ke pada anggota keluarga khususnya Ny.K dan perawat sulit menyatukan persepsi klien dan keluarga untuk datang ke fasilitas kesehatan. Solusi : perawta lebih meningkatkan kembali cara komunikasi dengan keluarga agar dapat semua keluarga ikut serta dalam merawat anggota kluarga yang mengalami diabetes melitus.
E. Evaluasi
Evaluasi pada keluarga Tn.S belum tercapai dalam asuhan keperawatan pada Ny.K dengan Diabetes Melitus dalam konteks keluarga yaitu pada Diagnosa pertama disimpulkan bahwa masalah Teratasi berdasarkan tujuan dan kriteria hasil Ny.K terbebas dari resiko infeksi dikarnakan evaluasi
44
pada hari ke tiga luka Ny.K menunjukan kadaan luka tidak ada tanda-tanda infeksi ditandai dengan berkurangnya slaf dan luka berwarna kemerahan.
Diagnosa kedua disimpulkan bahwa masalah Belum Teratasi berdasarkan kriteria hasil klien menunjukan pola makan yang baik, kadar gukosa darah dalam batas normal, namun dalam kasus ini penulis menemukan bahwa klien belum bisa mengontrol gula darahnya dikarnakan klien tidak memiliki alat untuk mengecek gula darah dan tidak ada peningkatan berat badan. Diagnosa ketiga berdasarkan tujuan dan kriteria hasil klien dan keluarga dapat menjelaskan tentang pengertian, penyebab, tanda gejala dan akibat lanjut, cara perawatan klien, cara menciptakan lingkungan yang aman untuk klien DM, serta sumber/ fasilitas kesehatan yang dapat dimanfaatkan dalam penanganan DM. Dalam diagnosa ini klien dan keluarga mampu memahami dan meningkatnya ilmu pengetahuan tentang penyakit Diabetes Melitus yang diderita Ny.K.