• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUFASSAR DAN MUJMAL DALAM TAFSIR AL-MUNIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MUFASSAR DAN MUJMAL DALAM TAFSIR AL-MUNIR"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MUFASSAR DAN MUJMAL DALAM TAFSIR AL-MUNIR

Islamiyah

Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darussalam Bangkalan, Indonesia Email: [email protected]

Abstrak

Tafsir adalah hal yang sangat penting untuk memhami kandungan isi al-Qur’an bagi kita sebagai umat Islam. Hal ini tak lain karna al-Qur’an adalah salah satu pedoman hidup umat Islam. Instrumen dalam menafsirkan al-Qur’an juga sangat banyak dan semuanya itu adalah penting. Salah satu dari instrumen itu adalah ilmu tafsir. Di dalamnya membahas tentang bagaimana menghasilkan tafsiran yang mendekati pada isi kandungan al-Qur’an. Diantaranya adalah tentang mufassar dan mujmal. Instrumen tersebut banyak kita temukan dalam berbagai kitab tafsir, diantaranya nya adalah kitab Tafsir al-Munir karangan Syeikh Wahbah al-Zuhaili.

Kata Kunci: Mufassar, Mujmal, al-Munir, Wahbah al-Zuhaili.

Pendahuluan

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Karena itu ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab mengerti isi Al-Qur’an. Lebih dari itu, ada orang yang merasa telah dapat memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dengan bantuan terjemahannya sekalipun ia tidak mengerti bahasa Arab. Anggapan seperti itu sebenarnya keliru. Sebab, banyak orang yang mengerti bahasa Arab, tetapi tidak mengerti isi Al-Qur’an. Karena itu, tidak mengherankan bila orang Arab sendiri banyak yang tidak mengerti kandungan Al-Qur’an. Bahkan di antara para sahabat dan tabiin ada yang salah memahami Al-Qur’an, karena tidak memiliki instrumen untuk memahaminya, yaitu ilmu-ilmu Al-Qur’an. Sebagai Muslim, kita wajib mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat manusia.

Ilmu-ilmu itu meliputi asba>b nuzu>l, naskh-mansu>kh, al-‘a>m-al-kha>s>, muh}kam- mutasha>bih, mufassar-mujmal, dan banyak lagi yang lain yang termasuk rentetan dari qawa>’id al-tafsi>r atau ilmu tafsir.

Dan dalam tulisan ini akan dibahas tentang mufassar-mujmal secara mendetail

beserta applikasinya dalam kitab tafsir “al-Tafsi>r al-Muni>r”.

(2)

110 al-Thiqah Vol. 3, No. 2 Oktober 2020 Pengertian Mufassar

Mufassar menurut bahasa adalah mus}taq dari awd}ah}a atau bayyana yang artinya menerangkan atau menjelaskan

1

. Jadi mufassar adalah hal yang diterangkan atau dijelaskan. Sedangkan menurut istilah adalah lafal yang menunjukkan suatu hukum yang jelas yang tidak membutuhkan takwil ataupun takhs}i>s, akan tetapi masih dimungkinkan dinsakh pada masa kenabian

2

.

Dari definisi di atas dapat diketahui, kedudukan mufassar itu di atas al-Z}ahir dan al-Nas} dalam kejelasannya karena dalam al-Z}ahir dan al-Nas} masih ada takwil dan takhs}is. Sedangkan mufassar itu sendiri tidak perlu memakai takwil dan takhs}is.

Diantara contoh-contoh mufassar adalah sebagai berikut

3

:

1. Surat al-Nur ayat 4 tentang hadd al-qadhf, dan ayat 2 tentanghadd al-zina> : ةَدْلَج َينِناََثَ ْمُهوُدِلْجاَف َءاَدَهُش ِةَعَ بْرَِبِ اوُتَْيَ َْلَ َُّثُ ِتاَنَصْحُمْلا َنوُمْرَ ي َنيِذَّلاَو

ُةَيِناَّزلا ٍةَدْلَج َةَئِم اَمُهْ نِم ٍدِحاَو َّلُك اوُدِلْجاَف ِنِاَّزلاَو

Lafal َينِناََثَ dan َةَئِم merupakan bilangan. Dan bilangan itu tidak bisa bertambah ataupun berkurang, maka dua lafal itu merupakan mufassar. Oleh karana itu, dala>lah dari dua ayat tersebut menunjukkan yaitu wajibnya hadd al-qadhf itu 80 kali jilid dan dalam zina 100 kali merupakan dala>lah wad}i>h}ah qat}’iyyah (menunjukkan hukum yang jelas dan pasti) tidak perlu adanya takwil dan takhs}i>s}.

2. Surat al-Ma’a>rij ayat 19-20.

( اًعوُلَه َقِلُخ َناَسْنلإا َّنِإ ( اًعوُزَج ُّرَّشلا ُهَّسَم اَذِإ ) 19

) 20 ( اًعوُنَم ُْيَْْلْا ُهَّسَم اَذِإَو ) 21

Ahmad ibn Yahya ditanya tentang lafal اًعوُلَه , kemudian dia menjawab:

“Allah telah menjelaskannya ( اًعوُزَج ُّرَّشلا ُهَّسَم اَذِإ), dan tidak ada penjelasan yang lebih jelas dari penjelasan Allah.

Halu>’ adalah s}ighat atau lafal yang mujmal kemudian disusul dengan penjelasan (baya>n tafsi>ri>y qat}’i>y) yang menjelaskan kemujmalannya

1 . Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), 1055.

2 . Kha>lid Abdurrahman al-‘Ak, Us}ul al-Tafsi>r wa Qawa>’iduhu, (Beirut: Da>r al-Nagha>is, 1986), 332.

3 . Ibid, 332-333

(3)

(berupa al-Qur’an itu sendiri) sehingga lafal tersebut menjadi mufassar tanpa harus ditakwil.

3. Surat al-Baqarah ayat 43 dan Ali ‘imra>n ayat 97.

َينِعِكاَّرلا َعَم اوُعَكْراَو َةاَكَّزلا اوُتَآَو َة َلََّصلا اوُميِقَأَو

ْسا ِنَم ِتْيَ بْلا ُّجِح ِساَّنلا ىَلَع َِِّلِلَّو اًنِمَآ َناَك ُهَلَخَد ْنَمَو َميِهاَرْ بِإ ُماَقَم ٌتاَنِ يَ ب ٌتَيََآ ِهيِف َّنِإَف َرَفَك ْنَمَو ًلَيِبَس ِهْيَلِإ َعاَطَت

ََّلِلّا ( َينِمَلاَعْلا ِنَع ٌِّنَِغ ) 97

Lafal al-s}alat al-zaka>t, dan al-hajj adalah mujmal (universal) yang memiliki banyak arti secara bahasa, kemudian lafal tersebut memiliki makna khusus dalam shari’ah. Ada banyak ayat yang menyebutkan dua lafal tersebut dalam bentuk mujmal seperti ayat yang telah disebutkan. Kemudian nabi Muhammad menjelaskannya, dan memperinci makna-maknanya dengan ucapan, dan perbuatan Nabi. Seperti, Nabi s}alat kemudian berkata: “ اولص يلصأ نِومتيأر امك “. Dan Nabi berhaji kemudian berkata: “مككسانم نِع اوذخ “.

Dengan demikian lafal yang mujmal tadi menjadi al-mufassar bi al-sunnah.

Dan begitu juga dengan setiap lafal mujmal dalam al-Qur’an menjadi mufassar setelah dijelaskan dengan al-qur’an itu sendiri atau dengan hadis, yang memungkin penjelasan tersebut menjadi bagian yang menyempurnakan nas}-nas} al-Qur’an lain yang mujmal.

Mufassar ada dua. Pertama, lafal yang menjadi mufassar dengan sendirinya yakni s}i>ghat lafal tersebut sudah mufassar sehingga menutup kemungkinan adanya takwil dan takhs}i>s}, seperti contoh pada pertama yang telah disebut mengenai lafal َينِناََثَ dan َةَئِم . Kedua, mufassar karna adanya al-baya>n al-tafsi>r al-qat}’i>y yakni disusul dengan s}i>ghat lain yang datang dari yang berhak menjelaskan ayat. Seperti lafal mujmal yang telah dijelaskan oleh al-Qur’an atau sunnah dengan penjelasan yang pasti.

Hukum mufassar itu sendiri, wajib di amalkan sesuai ketentuan dalil sebelum ada dalil lain yang menasakhnya. Jadi dala>lah al-mufassar terhadap suatu hukum lebih kuat dari pada dala>lah al-nas{ dan dala>lah al-z}a>hir. Jika dala>lah al-mufassar bertentangan dengan dala>lah al-nas {dan dala>lah al-z}a>hir, maka yang didahulukan adalah dala>lah al-mufassar.

4

4 . Ibid, 334.

(4)

112 al-Thiqah Vol. 3, No. 2 Oktober 2020 Pengertian Mujmal

Mujmal menurut bahasa adalah al-ikhtis}a>r yaitu ringkas (global)

5

. Sedangkan menurut istilah, al-Bazdawiy mengatakan: “mujmal adalah lafal yang memiliki banyak arti dan maksud yang ambigu

6

.

Menurut pendapat lain (pengarang kita Dustu>r al-‘Ulama’), mujmal adalah lafal yang memiliki banyak arti tanpa ada yang mengungguli satu sama lain

7

. Muhammad Abu Zahra mengatakan mujmal adalah lafal yang mengandung sejumlah keadaan atau hukum yang tercakup di dalamnya, dan tidak dapat diketahui ketentuannya tanpa adanya penjelasan lebih lanjut (mubayyin). Sedangkan mubayyin lafal yang sudah kelas ketentuannya

8

.Sedangkan menurut al-Suyu>t}i mujmal adalah lafal yang belum jelas petunjuknya (dala>lahnya)

9

. Mujmal terbagi tiga macam

10

:

1. Lafal yang tidak dipahami artinya secara bahasa seperti lafal al-halu>’u sebelum ditafsirkan.

2. Lafal yang artinya diketahui secara bahasa akan tetapi maksud dari lafal tersebut lum diketahui. Seperti lafal al-riba>, al-s}alat, dan al-zaka>t.

3. Lafal yang telah diketahui artinya secara bahasa, akan tetapi memiliki banyak arti dan yang dimaksud adalah salah satu dari arti-arti tersebut. Dan masih dimungkinkan untuk dijelaskan atau ditentukan dengan mencari dalam al-Qur’an dan hadis.

Sebab-sebab lafal menjadi mujmal di antaranya adalah:

11

1. Ishtira>k, yaitu memilik makna lebih dari satu. Seperti lafal makna nikah yang telah dicontohkan. Contoh lain adalah lafal quru>’ dalam ayat ُتاَقَّلَطُمْلاَو ٍءوُرُ ق َةَث َلََث َّنِهِسُفْ نَِبِ َنْصَّبََتََي

12

. Quru>’dalam ayat tersebut mencakup dua makna yaitu haid dan suci.

5 . Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir..., 211.

6 . Kha>lid Abdurrahman al-‘Ak, Us}ul al-Tafsi>r...,352.

7 . Ibid.

8 . Muchlis Usman, Kaidah-Kaidah Istinbat} Hukum Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002), 61.

9 . Abdurrahma Ibn Abu Bakar al-Suyu>t}i, al-Itqa>n fi> ‘Ulum al-Qur’a>n, (Beirut: Da>r al- Kutub al-‘Ilmiyah, 2012). 335.

10 . Kha>lid Abdurrahman al-‘Ak, Us}ul al-Tafsi>r..., 352-323.

11 . Abdurrahma Ibn Abu Bakar al-Suyut}i, al-Itqa>n ………., 335-336.

12 . QS; 2: 228.

(5)

2. Al-h}adhf: ada lafal yang terbuang, seperti dalam ayat َّنُهوُحِكْنَ ت ْنَأ َنوُبَغْرَ تَو

13

. Setelah lafal wa targhabu>na ada lafal yang dibuang, dan lafal itu bisa berupa

‘an atau fi>.

3. Ikhtila>f marji’ al-d}ami>r, seperti dalam ayat ُحِلاَّصلا ُلَمَعْلاَو ُبِ ي َّطلا ُمِلَكْلا ُدَعْصَي ِهْيَلِإ ُهُعَ فْرَ ي

14

. D}ami>r fa>’il dalam lafal yarfa’uhu kembali pada lafal yang berbeda dengan d}ami>r dalam lafal ilayhi (yaitu Allah). Sedangkan d}ami>r fa>’il dalam lafal yarfa’uhu bisa kembali pada lafal ُحِلاَّصلا ُلَمَعْلا dan bisa kembali pada lafal ُبِ يَّطلا ُمِلَكْلا.

4. Ih}tima>l al-‘at}f wa al-isti’naf, seperti dalam ayat

ِمْلِعْلا ِفِ َنوُخِساَّرلاَو َُّلِلّا َّلَِّإ ُهَليِوَْتَ ُمَلْعَ ي اَمَو

15

. Wawu dalam lafal َنوُخِساَّرلاَو mencakup dua arti bisa al-‘at}f dan bisa al-isti’naf.

5. Ghara>bat al-lafz. Contohnya, seperti lafal َّنُهوُلُضْعَ ت َلََف dalam ayat َءاَسِ نلا ُمُتْقَّلَط اَذِإَو َّنُهَجاَوْزَأ َنْحِكْنَ ي ْنَأ َّنُهوُلُضْعَ ت َلََف َّنُهَلَجَأ َنْغَلَ بَ ف

16

.

6. ‘Adam kathrat al-isti’mal (jarang digunakan), seperti َعْمَّسلا َنوُقْلُ ي lafal dalam ayat َنوُبِذاَك ْمُهُرَ ثْكَأَو َعْمَّسلا َنوُقْلُ ي .

7. Al-taqdi>m wa al-ta’khi>r, seperti dalam ayat

)129( ىًّمَسُم ٌلَجَأَو اًماَزِل َناَكَل َكِ بَر ْنِم ْتَقَ بَس ٌةَمِلَك َلَّْوَلَو

17

. Lafal اًماَزِل َناَكَل yang seharusnya diletakkan di akhir berada di awal ( اًماَزِل َناَكَل ىًّمَسُم ٌلَجَأَو ةَمِلَك َلَّْوَلَو ).

8. Qalb al-manqu>l, seperti lafal َينِنيِس ِروُطَو dan َينِسَيَ ْلِإ dalam ayat َينِسَيَ ْلِإ ىَلَع ٌم َلََس.

18

9. Al-takri>r al-qa>ti’ liwas}l al-kala>m fi> al-d}ahir, seperti lafal َنيِذَّلا dalam

ayat ْمُهْ نِم َنَمَآ ْنَمِل اوُفِعْضُتْسا َنيِذَّلِل ِهِمْوَ ق ْنِم اوَُبَْكَتْسا َنيِذَّلا َُلََمْلا َلاَق

19

.

13 . QS; 4: 127.

14 . QS; 35: 10.

15 . QS; 3: 7.

16 . QS; 2: 232.

17 . QS; 20: 129.

18 . QS; 37: 130.

19 . QS; 7: 75.

(6)

114 al-Thiqah Vol. 3, No. 2 Oktober 2020

Hukum mujmal itu ada beberapa pendapat dan yang paling s}ah}i>h adalah tidak boleh diamal bagi orang mukallaf

20

. Lafal yang mujmal itu wajib dicari (ditelusuri) maksudnya dari al-Qur’an atau hadis (s}a>hib al-shar’), jika memang tidak ada cara lagi untuk bisa mengetahui makna yang dimaksud dari lafal mujmal , maka wajib bertawaqquf untuk menjelaskan maknanya.

Penerapan Mufassar Dan Mujmal dalam al-tafsi>r al-Muni>r 1. Latar Belakang Intelektual Penulis

Nama pengarang al-Tafsi>r al-Muni>r adalah Prof. Dr. Wahbah Ibn Mus}t}a>fa> al-Zuhayli. Beliau adalah seroang pakar hukum Islam yang berkebangsaan Shiria

21

yang bermadzhab Hanafi. Ia dilahirkan di kawasan Dhi>r

‘At}iyah pada tanggal 6 Maret 1932 . Ayahnya, Mus}t}afa al-Zuhayli - yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaannya- adalah seorang penghafal al-Qur’an an dan banyak melakukan kajian terhadap kandungannya

22

.

Lazimnya anak-anak pada saat itu, Wahbah al-Zuhayli belajar al-Qur’an dan menghafalnya dalam waktu relatif singkat. Setelah menamatkan sekolah dasar, ayahnya menganjurkan kepada beliau untuk melanjutkan sekolah di Damaskus.

Pada tahun 1946, Wahbah pindah ke Damskus untuk melanjutkan sekolah ke tingkat Tsanawiyah dan Aliyah dan lulus pada tahun 1953. Setelah itu, Wahbah melanjutkan ke perguruan tinggi dan meraih gelar sarjana mudanya di Universitas Al-Azhar, Fakultas Shari>’ah pada tahun 1956

23

.

Semangat menuntut ilmu beliau tidak putus, ia melanjutkan pendidikannya sampai jenjang doktoral. Dan berhasil menyelesaikan program doktoralnya pada tahun 1963. Dan pada tahun itu pula beliau menjadi dosen Fakultas Syari’ah di Damaskus. Kemudian menjadi wakil dekan. Kemudian setelah itu beliau dipercayai untuk menjadi ketua jurusan Fiqh dan madzhab Islam. Selain itu beliau menjadi dosen terbang di berbagai universitas swasta dan negri. Dan hal itu berlangsung lebih dari 7 tahun.

24

20 . Abdurrahma Ibn Abu Bakar al-Suyut}i, al-Itqa>n………., 335.

21 . Wahbah Zuhayli, Usu>l al-Fiqh al-Isla>m, (Beirut: Daaral-Fikr, 1986), Cover depan.

22 . Al-sayyid Muhammad Ali ayyazi, al-Mufassiru>n H}aya>tuhum wa Manhajuhum, (Teheran:

Wizarat al-Tsaqafah wa al-Irsyad al-Islami, 1414) 684.

23 . Ibid.

24 . Ibid, 685.

(7)

2. Karya –kaya Wahbah al-Zuhayli

Adapun karya Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaily ini lebih dari 30 buah

25

, diantaranya adalah:

a. Us}u>l al-Fiqh al-Isla>m b. Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh c. Al-Tafsi>r al-Muni>r\.

d. Atha>r al-H}arb fi al-Fiqh al-Isla>miy

e. Takhri>j wa Tah}qi>q Aha>di>th wa Tuh}fat al-Fuqaha’

3. Tentang Al-Tafsi>r al-Muni>r\

Al-Tafsi>r al-Munir: fi al-‘Aqi>dah wa al-Shari>ah wa al-Manhaj. Kitab ini terdiri dari 16 jilid besar, tidak kurang dari 10.000 halaman

26

. Untuk pertama kali, kitab ini diterbitkan pada tahun 1991 oleh Da>r al-Fikr Damaskus

27

. Sebagaimana buku fikihnya, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, ditulis dengan tujuan untuk memudahkan para pengkaji ilmu ke-Islaman, begitu juga dalam penulisan tafsirnya ini. Beliau menjelaskan dalam muqaddimah tafsirnya:

“Tujuan utama dalam penulisan kitab ini adalah mengikat umat Islam dengan Al-Qur’an yang merupakan firman Allah dengan ikatan yang kuat dan ilmiah. Sebab, Al-Qur’an adalah pedoman dan aturan yang harus ditaati dalam kehidupan manusia. Konsern saya dalam kitab ini bukan untuk menjelaskan permaslahan khilafiyah dalam bidang fikih, sebagaimana dikemukakan para pakar fikih, akan tetapi sayang ingin menjelaskan hukum yang dapat diambil dari ayat Al- Qur`an dengan maknanya yang lebih luas. Hal ini akan lebih dapat diterima dari sekedar menyajikan maknanya secara umum. Sebab Al-Qur’an mengandung aspek aqidah, akhlak, manhaj, dan pedoman umun serta faedah-faedah yang dapat dipetik dari ayat-ayat-Nya. Sehingga setiap penjelasan, penegasan, dan isyarat ilmu pengetahuan yang terekam di dalamnya menjadi instrumen pembangunan kehidupan sosial yang lebih baik dan maju bagi masyarakat modern secara umum saat ini atau untuk kehidupan individual bagi setiap manusia.”

28

25 . Ibid.

26. Muhammad Amin Suma. Ulumul Qur’an , (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2013), 435.

27 . Muhammad Ali ayyazi, al-mufassiru>n h}aya>tuhum wa manhajuhum....684.

28 . Wahbah Al-Zuhayli,. at-Tafsir al-Munir: Fi< al-‘Aqi>dah wa al-Shari>’ah wa al-Manhaj.(

Damaskus: Dar al-Fikr, 2005), Jilid 1,, 9.

(8)

116 al-Thiqah Vol. 3, No. 2 Oktober 2020

Beliau juga mengomentari sendiri tentang kita tafsir ini. Beliau mengatakan:

"Tafsir al-Munir ini bukan hanya sekedar kutipan dan kesimpulan dari beberapa tafsir, melainkan sebuah tafsir yang ditulis dengan dasar selektifitas yang lebih shahih, bermanfaat, dan mendekati ruh (inti sari) kandungan ayat al-Qur’an, baik dari tafsir klasik maupun modern dan tafsir bi al-ma’thur ataupun tafsir rasional. Di dalamnya juga diupayakan untuk menghindari perbedaan teori atau pandangan teologi yang tidak dibutuhkan dan tidak berfaedah.

29

4. Skema uraian kitab tafsir al-Tafsi>r al-Muni>r fi al-‘Aqi>dah wa al-Shari>ah wa al-Manhaj edisi Da>r al-Fikr, Damaskus,2005 M.

29. Ibid, Jilid 15, 2.

No Jilid Surah Ayat Jumlah Halaman Keterangan 1

1 Al-Fa>tihah 7

816 Makkiyah

2

Al-Baqarah 1-

252 Madaniyah

2

Al-Baqarah 253- 286 664

3 Ali 'Imra>n 200 Madaniyah

4

Al-Nisa>' 1-23

Madaniyah

3 Al-Nisa>' 24-

176 644

5 Al-Ma>'idah 1-81

Madaniyah 4

Al-Ma>'idah 82-

120 672

6 Al-An'a>m 165 Makkiyah

7 Al-A'ra>f 1-87

Makkiyah 5

Al-A'ra>f 88-

206 720

8 Al-Anfal 75 Madaniyah

9 Al-Tawbah 1-92

Madaniyah 6

Al-Tawbah 93-

129

10 Yu>nus 109 632 Makkiyah

11 Hu>d 123 Makkiyah

12

Yu>suf 1-52

Makkiyah 7

Yusuf 53-

111 606

13 Al-Ra'd 43 Madaniyah

14 Ibrahi>m 52 Makkiyah

(9)

15 Al-Hijr 99 Makkiyah

16 Al-Nahl 128 Makkiyah

17 8

Al-Isra' 111

680

Makkiyah

18 Al-Kahf 110 Makkiyah

19 Maryam 98 Makkiyah

20 Ta>ha> 135 Makkiyah

21 9

Al-Anbiya>' 112 670

Makkiyah

22 Al-Hajj 78 Makkiyah

23 Al-Mu'minu>n 118 Makkiyah

24 Al-Nu>r 64 Madaniyah

25 10

Al-Furqa>n 77

632

Makkiyah

26 Al-Shu'ara' 227 Makkiyah

27 Al-Naml 93 Makkiyah

28 al-Qasas 88 Makkiyah

29

Al-'Ankabu>t 1-45

Makkiyah

11

Al-'Ankabu>t 46- 69

660

30 Al-Ru>m 60 Makkiyah

31 Luqma>n 34 Makkiyah

32 Al-Sajadah 30 Makkiyah

33 Al-Ahza>b 73 Madaniyah

34 Saba' 54 Makkiyah

35 Fa>tir 45 Makkiyah

36

Ya>si>n 1-27

Makkiyah

12

Ya>si>n 28- 83

584

37 Al-S}a>fa>t 182 Makkiyah

38 S}a>d 88 Makkiyah

39 Al-Zumar 75 Makkiyah

40 Gha>fir 85 Makkiyah

41

Fus}s}ilat 1-46

Makkiyah

13

Fus}s}ilat 47- 54

662

42 Al-Shu>wra> 53 Makkiyah

43 Al-Zukhruf 89 Makkiyah

44 Al-Dukha>n 59 Makkiyah

45 Al-Ja>thiya>t 37 Makkiyah

46 Al-Ahqa>f 35 Makkiyah

47 Muhammad 38 Madaniyah

48 Al-Fath 29 Madaniyah

49 Al-Hujurat 18 Madaniyah

50 Qa>f 45 Makkiyah

(10)

118 al-Thiqah Vol. 3, No. 2 Oktober 2020 51

14

Al-Dha>riya>t 60

728

Makkiyah

52 Al-Tu>r 49 Makkiyah

53 Al-Najm 4 Makkiyah

54 Al-Qamar 55 Makkiyah

54 Al-Rahma>n 78 Madaniyah

56 Al-Wa>qi'ah 96 Makkiyah

57 Al-Hadi>d 29 Madaniyah

58 Al-Muja>dalah 22 Madaniyah

59 Al-Hashr 24 Madaniyah

60 Al-Mumtahanah 13 Madaniyah

61 Al-S}aff 14 Madaniyah

62 Al-Jumu'ah 11 Madaniyah

63 Al-

Muna>fiqu>n 11 Madaniyah

64 Al-

Tagha>>bun 18 Madaniyah

65 Al-T{ala>q 12 Madaniyah

66 Al-Tahri>m 12 Madaniyah

67

15

Al-Mulk 30

904

Makkiyah

68 Al-Qalam 52 Makkiyah

69 Al-Ha>qqah 52 Makkiyah

70 Al-Ma'a>rij 44 Makkiyah

71 Nu>h 28 Makkiyah

72 Al-Jinn 28 Makkiyah

73 Al-Muzammil 20 Makkiyah

74 Al-Mudaththir 56 Makkiyah

75 Al-Qiya>mah 40 Makkiyah

76 Al-Insa>n 31 Madaniyah

77 Al-Mursala>t 50 Makkiyah

78 Al-Naba' 40 Makkiyah

79 Al-Na>zi'at 46 Makkiyah

80 Abasa 42 Makkiyah

81 Al-Takwir 29 Makkiyah

82 Al-Infit}a>r 19 Makkiyah

83 Al-Mutaffifi>n 36 Makkiyah

84 Al-Inshiqa>q 25 Makkiyah

85 Al-Buruj 22 Makkiyah

86 Al-T}ariq 17 Makkiyah

87 Al-A'la 19 Makkiyah

88 Al-Gha>shiyah 26 Makkiyah

89 Al-Fajr 30 Makkiyah

90 Al-Balad 20 Makkiyah

(11)

5. Sistematika Penulisan Al-Tafsi>r al-Muni>r\

Untuk langkah sistematika pembahasan dalam tafsirnya ini, Wahbah, menjelaskan dalam muqaddimah tafsirnya, sebagai berikut

30

:

a. Mengklasifikasikan ayat al-Quran – dengan urutan mushaf - yang ingin ditafsirkan dalam satu judul pembahasan dan memberikan judul yang cocok.

b. Menjelaskan kandungan setiap surat secara global/umum.

c. Menjelaskan sisi kebahasaan ayat-ayat yang ingin ditafsirkan, dan menganalisanya.

30. Wahbah Al-Zuhayliy,. at-Tafsi>r al-Muni>r: fi `Aqi>dah wa al-Shari>’`ah wa al-Manhaj.,...jilid1, 12.

91 Al-Shams 15 Makkiyah

92 Al-Layl 21 Makkiyah

93 Al-Duha> 11 Makkiyah

94 Al-Sharh 8 Makkiyah

95 Al-Ti>n 8 Makkiyah

96 Al-'Alaq 19 Makkiyah

97 Al-Qadr 5 Makkiyah

98 Al-Bayyinah 8 Makkiyah

99 Al-Zalzalah 8 Madaniyah

100 Al-'A>diya>t 11 Makkiyah

101 Al-Qa>ri'ah 11 Makkiyah

102 Al-Taka>thur 8 Makkiyah

103 Al-Ashr 3 Makkiyah

104 Al-Hamzah 9 Makkiyah

105 Al-Fi>l 5 Makkiyah

106 Quraish 4 Makkiyah

107 Al-Ma'u>n 7 Makkiyah

108 Al-Kauthar 3 Makkiyah

109 Al-Ka>firu>n 6 Makkiyah

110 Al-Nasr 3 Madaniyah

111 Al-Masad 5 Makkiyah

112 Al-Ikhla>s 4 Makkiyah

113 Al-Falaq 5 Makkiyah

114 Al-Na>s 6 Makkiyah

16 Fakhr al-

Ahadith 1316

(12)

120 al-Thiqah Vol. 3, No. 2 Oktober 2020

d. Menjelaskan sebab turun ayat – jika ada sebab turunnya -, dan menjelaskan kisah-kisah sahih yang berkaitan dengan ayat yang ingin ditafsirkan.

e. Menjelaskan ayat-ayat yang ditafsirkan dengan rinci.

f. Mengeluarkan hukum-hukum yang berkaitan dengan ayat yang sudah ditafsirkan.

g. Membahas kesusastraan dan i’rab ayat-ayat yang hendak ditafsirkan.

Dalam kitab Tafsir al-Munir, ada satu hal yang sangat menarik, yang mungkin tidak disebutkan Wahbah dalam muqaddimahnya ini adalah, ketika menafsirkan kumpulan ayat, Wahbah tidak lupa menjelaskan korelasi (munasabat) antar ayat. Beliau juga menjelaskan bahwa pada tempat-tempat tertentu, ia membahas ayat-ayat tertentu dengan sistematika tafsir tematik/maud>u>’iy. Sebagai contoh ketika menafsirkan ayat- ayat yang menceritakan tentang jihad, hukum kriminal, warisan, hukum nikah, riba, khamar, dan lain-lain

31

.

6. Metode Penafsiran Tafsir Al-Tafsi>r Al-Muni>r a. Sumber Penafsiran

Muhammad Ali Ayyyazi dalam bukunya - Al-Mufassiru>n Haya>tuhum wa Manhajuhum -, beliau mengatakan bahwa pembahasan kitab tafsir al-Muni>r ini menggunakan gabungan antara tafsi>r bi al-Ma’thur dengan tafsi>r bi al- ra’yi, serta menggunakan gaya bahasa dan ungkapan yang jelas, yakni gaya bahasa kontemporer yang mudah dipahami bagi generasi sekarang ini. Oleh sebab itu, beliau membagi ayat-ayat berdasarkan topik untuk memelihara bahasan dan penjelasan di dalamnya

32

.

Wahbah sendiri menilai bahwa tafsirnya adalah model tafsir al-Qur’an yang didasarkan pada al-Qur’an sendiri dan hadis-hadis s}ahih, mengungkapkan asba>b al-nuzu>l dan takhrij al-hadith, menghindari cerita-cerita Isra>’iliyat, riwayat yang buruk, dan polemik, serta bersikap moderat

33

.

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa metode penasiran tafsir ini ditijau dari sumbernya adalah termasuk Iqtira>n yaitu menggabungkan Ma’thur dengan ra’yi.

31. Ibid.

32 . Muhammad Ali ayyazi, al-mufassiru>n h}aya>tuhum wa manhajuhum, (Teheran: Wizara>t al- Thaqafah wa al-Irsyad al-Islami, 1414), 685-686.

33 . Wahbah Al-Zuhayliy,. at-Tafsi>r al-Muni>r:………., 6.

(13)

b. Cara Penjelasan

Dalam banyak penafsiran, Wahbah sering menyertakan beberapa pendapat mufassir lain. Dengan demikian, ditinjau dari segi cara penjelasnnya, tafsir al-Muni>r menggunakan metode muqa>ran.

c. Keluasan Penjelasan

Sebagai mana yang telah di seb\utkan dalam sisitematika penulisan tafsir al-Muni>r, Wahbah Menjelaskan sisi kebahasaan ayat-ayat yang ingin ditafsirkan, dan menganalisanya. Kemudian menjelaskan ayat-ayat yang ditafsirkan dengan rinci dan mengeluarkan hukum-hukum yang berkaitan dengan ayat yang sudah ditafsirkan. Serta membahas kesusastraan dan i’rab ayat-ayat yang hendak ditafsirkan. Dari sini dapat diketahui tafsir al-Muni>r menggunkan metode tafs}i>liy.

d. Sasaran dan Tertib Ayat Yang Ditafsirkan

Dalam tafsir al-Muni>r, Wahbah menafsirkan ayat sesuai dengan urutan mus}h}af ‘uthmani yaitu dari al-fa>tih}ah sampai al-na>s sebagaimana yang tertulis dalam kerangka tabel di atas. Dan ditegaskan dalam sistematika penulisan. Maka dapat disimpulkan metode tafsir al-Muni>r ditinjau dari sasaran dan tertib ayat termasuk metode tah}li>liy.

e. Corak Penafsiran

Ada lima corak penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang dikenal selama ini, yaitu:

1) Corak filsafat (al-falsafi>)

2) Corak penafsiran ilmiah (al-‘ilmi>) 3) Corak fikih atau hukum (al-fiqhi>) 4) Corak tasawuf (al-shufi>)

5) Corak sastra budaya kemasyarakatan (al-adabi al-ijtima’i>).

Sedangkan Muhammad Amin Suma berpendapat lain, selain corak-corak di atas, ia menambahkan beberapa corak lagi dalam penafsiran al-Qu’ran, yaitu:

corak tarbawi> (Pendidikan) dan corak Akhla>qi>.

34

34. Suma, Muhammad Amin. Ulumul Qur’an ..., 396-400.

(14)

122 al-Thiqah Vol. 3, No. 2 Oktober 2020

Dalam menentukan corak tafsir dari suatu kitab tafsir, dalam hal ini adalahTadsir al- Munir, yang diperhatikan adalah hal yang dominan dalam tafsir tersebut. Jika disejajarkan dengan pembagian corak tafsir yang diajukan di atas, menurut hemat penulis, tafsir ini lebih cocok diklasifikasi dalam corak tafsir fiqhi> atau hukum. Hal ini dikarenakan -setelah ditinjau dalam tafsirnya- beliau banyak menjelaskan kandungan hukum Islam terhadap beberapa ayat dan latar belakang beliau yang merupakan ulama ahli fiqh. Dan sebagaimana kesimpulan yang diambil oleh imam Muhammad Ali ayyyazi tentang aspek-aspek yang tercakup dalam al-Tafsir al-Munir

35

, sebagai berikut:

“Setiap tema yang diangkat dan dibahas mencakup tiga aspek, yaitu: Pertama, aspek bahasa, yaitu menjelaskan beberapa istilah yang termaktub dalam sebuah ayat, dengan menerangkan segi-segi balaghah dan gramatika bahasanya. Kedua, tafsir dan bayan, yaitu deskripsi yang komprehensif terhadap ayat-ayat, sehingga mendapatkan kejelasan tentang makna-makna yang terkandung di dalamnya dan keshahihan hadis-hadis yang terkait dengannya. Ketiga, fiqh al-hayat aw al-ahkam, yaitu perincian tentang beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari beberapa ayat yang berhubungan dengan realitas kehidupan manusia.

7. Contoh Mufassar Dan Mujmal Dalam Al-Tafsi> r Al-Muni>r.

a. Surat al-Fa>tih}ah ayat 7

( َينِ لاَّضلا َلََّو ْمِهْيَلَع ِبوُضْغَمْلا ِْيَْغ ْمِهْيَلَع َتْمَعْ نَأ َنيِذَّلا َطاَرِص ) 7

Penafsiran Wahbah tentang َتْمَعْ نَأ yang masih mujmal di tafsirkan dengan َنيِذَّلا ayat lain sehingg menjadi mufassar (termasuk mufassar bi al-Qur’an), sebagai berikut:

ْمِهْيَلَع َتْمَعْ نَأ َنيِذَّلا َطاَرِص ) (

كئلوأ نسحو ،ينقباسلا ءادهشلاو ينقيدصلاو ينيبنلا نم ،مهيلع تمعنا نم قيرط يا

.اقيفر

b. Surat al-Baqarah ayat 228

35. Muhammad Ali ayyazi, al-mufassiru>n }haya>tuhum wa manhajuhum....688.

(15)

ِفِ َُّلِلّا َقَلَخ اَم َنْمُتْكَي ْنَأ َّنَُلَ ُّلَِيَ َلََّو ٍءوُرُ ق َةَث َلََث َّنِهِسُفْ نَِبِ َنْصَّبََتََي ُتاَقَّلَطُمْلاَو ْنِإ َّنِهِماَحْرَأ

ِمْوَ يْلاَو َِّلِلِّبِ َّنِمْؤُ ي َّنُك

ِبِ َّنِهْيَلَع يِذَّلا ُلْثِم َّنَُلََو اًح َلَْصِإ اوُداَرَأ ْنِإ َكِلَذ ِفِ َّنِهِ دَرِب ُّقَحَأ َّنُهُ تَلوُعُ بَو ِرِخَْلْا ٌةَجَرَد َّنِهْيَلَع ِلاَجِ رلِلَو ِفوُرْعَمْل

( ٌميِكَح ٌزيِزَع َُّلِلّاَو ) 228

Penafsirannya:

رهطلا يسمو ،عامتجلإا ءرقلا لصا و .دادضلأا ظافلأ نم وهف ،ةقيقح ضيلحا ىلعو رهطلا ىلع برعلا ملَكلا فِ ،ءرق عجم )ءوُرُ ق(

تقول هئيمج داتعلما ءيشلا ءيلمج تقولا ىلع ءرقلا قلطي دقو ،محرلا فِ مدلا عامتجلإ اءرق ضيلحا يسمو ،ندبلا فِ مدلا عامتجلإ اءرق ا ربِدلإو ،مولعم ءاج و .اءرق هئيمج تقو برعلا تسم ،مولعم تقو فِ هئيمج اداتعم ضيلحا ناك المو .مولعم تقول هربِدإ داتعلما ءيشل

رلما :ةلبانلحا و ةيفنلحا لاق اذل " كئارقأ ميَأ ةلَصلا يعد" : شيبح بيأ تنب ةمطافل ملسو هيلع الله ىلص هلوق فِ ضيلحا نىعبم ءرقلا دا

لما لاقو ،ضيلحا ءرقلبِ

.رهطلا هب دارلما :ةيعفاشلا و ةيكلا c. Surat al-Baqarah ayat 229-230

ُتْ يَ تَآ اَِّمِ اوُذُخَْتَ ْنَأ ْمُكَل ُّلَِيَ َلََّو ٍناَسْحِِبِ ٌحيِرْسَت ْوَأ ٍفوُرْعَِبم ٌكاَسْمِإَف ِنَتََّرَم ُق َلََّطلا اَميِقُي َّلََّأ اَفاََيَ ْنَأ َّلَِّإ اًئْ يَش َّنُهوُم

َِّلِلّا َدوُدُح َف َِّلِلّا ُدوُدُح َكْلِت ِهِب ْتَدَتْ فا اَميِف اَمِهْيَلَع َحاَنُج َلََف َِّلِلّا َدوُدُح اَميِقُي َّلََّأ ْمُتْفِخ ْنِإَف

َّدَعَ تَ ي ْنَمَو اَهوُدَتْعَ ت َلَ

( َنوُمِلاَّظلا ُمُه َكِئَلوُأَف َِّلِلّا َدوُدُح ) 229

َ ب ْنِم ُهَل ُّلَِتَ َلََف اَهَقَّلَط ْنِإَف َميِقُي ْنَأ اَّنَظ ْنِإ اَعَجاََتََي ْنَأ اَمِهْيَلَع َحاَنُج َلََف اَهَقَّلَط ْنِإَف ُهَْيَْغ اًجْوَز َحِكْنَ ت َّتََّح ُدْع

ا

( َنوُمَلْعَ ي ٍمْوَقِل اَهُ نِ يَ بُ ي َِّلِلّا ُدوُدُح َكْلِتَو َِّلِلّا َدوُدُح ) 230

Penafsirannya:

و فلسلا روهجمو ءاطع و دهامج لاقز ليلدب ةثلثلا ةقلطلا :ناسحبِ حيرستلا نم دارلما : راصملأا ءاملع

:لوقي الله تعسم ،ملسو هيلع الله ىلص بينلا لأس هنأ ،هيْغو دواد بيا دنع يدسلأا نيزر بيأ ثيدح ُق َلََّطلا(

َلََف اَهَقَّلَط ْنِإَف( لىاعت هلوق نوكيو .ناسحبِ حيرست وا :لاقف؟ ةثلاثلا نيأف )ِنَتََّرَم َز َحِكْنَ ت َّتََّح ُدْعَ ب ْنِم ُهَل ُّلَِتَ

اًجْو

.اذلَ ناايب )ُهَْيَْغ

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan yang dimaksud lafal yang

menunjukkan suatu hukum yang jelas yang tidak membutuhkan takwil ataupun

takhs}is} . Dan kedudukan mufassar itu di atas al-Z}ahir dan al-Nas} dalam kejelasannya

(16)

124 al-Thiqah Vol. 3, No. 2 Oktober 2020

karena dalam al-Z}ahir dan al-Nas} masih ada takwil dan takhs}is. Sedangkan mufassar itu sendiri tidak perlu memakai takwil dan takhs}is.

Sedangkan mujmal adalah lafal yang mengandung sejumlah keadaan atau hukum yang tercakup di dalamnya, dan tidak dapat diketahui ketentuannya tanpa adanya penjelasan lebih lanjut (mubayyin).

Penerapan mufassar dalam tafsir al-Muni>r, adakalnya berupa mufassar bi al- Qur’an dan mufassar bi al-sunnah. Penyebutan contoh antara mufassar dan mujmal dijadikan satu (contoh yang sama) karna antara keduanya tidak terpisahkan. Lafal yang mujmal akan menjadi mufassar saat ada mubayyin seperti yang telah di jelaskan.

Daftar Pustaka

Ali Ayyazi, Muhammad, al-mufassirun hayatuhum wa manhajuhum, Teheran: Wizarat al- Tsaqafah wa al-Irsyad al-Islami, 1414.

‘Ak (al), Kha>lid Abdurrahman , Us}ul al-Tafsi>r wa Qawa>’iduhu, Beirut: Da>r al- Nagha>is, 1986.

Muchlis Usman, Kaidah-Kaidah Istinbat} Hukum Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002),

Munawwir, Ahmad Warson Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.

Suma , Muhammad Amin. Ulumul Qur’an , Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2013.

Suyu>t}i (al),Abdurrahma Ibn Abu Bakar, al-Itqa>n fi> ‘Ulum al-Qur’a>n, Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2012.

Zuhayli (al), Wahbah. at-Tafsir al-Munir: fi `Aqidah wa asy-Syari`ah wa al-Manhaj.

Damaskus: Dar al-Fikr, 2005.

Zuhayli (al), Wahbah, Usul al-Fiqh al-Islam, Beirut: Daaral-Fikr, 1986.

Referensi

Dokumen terkait

b. Secara langsung H}asan al-Tura&gt;bi&gt; tidak menjelaskan bagaimana ia menyusun sistematika kitab al-Tafsi&gt;r al-Tawhi&gt;di&gt; dan metode tafsirnya, tetapi penulis

Al-Shinqi&gt;t}i berbeda pendapat dengan imam Ma&gt;lik dalam kitab tafsir Ad}wa&gt;’ al-baya&gt;n lebih dari 120 masalah bahkan dia mengomentari pendapat imam

Penelitian ini berjudul “Hakikat Manusia Perspektif Teori Al-Wah}dah Al- Qur’a&gt;niyah dalam Kitab Al-Asa&gt;s fi&gt; Al-Tafsi&gt;r Karya Sa’i&gt;d H{awwa&gt;”,

Memerhatikan cara al-Sa‘di&gt; dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran, dapat disimpulkan bahwa kitab Tafsi&gt;r al-Sa‘di&gt; ditinjau dari segi sumbernya menggunakan dua

di atas adalah penulis dalam penelitian ini lebih fokus dalam komparasi antara pandangan al-Zamakhsyari dalam kitab tafsir al-Muni&gt;r dan Wahbah al- Zuh}aili dalam

24 Menurut para pakar, kitab tafsir sufistik tertua yang sampai kepada kita adalah Tafsi&gt; r al-Qur’a&gt; n al-‘Az} i&gt; m karya Sahl al- Tusta&gt; ri (w. 25 Selain itu

Tafsi&gt;r al-Barru merupakan kitab tafsir dengan bahasa Indonesia yang disusun oleh Muhammad Rusli Malik.. Penelitian ini berdasar pada asumsi bahwa Tafsi&gt;r al- Barru

Salah satu kitab tafir yang pantas diperhitungkan adalah kitab Ruh al-Ma‟ani fi tafsir al-Quran „Adzim wa al-sab‟i al-Matsani karya al-Alusi dan karna Rasulullah SAW tidak menafsirkan