• Tidak ada hasil yang ditemukan

Quality Outcome dan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Paru di R.S.& Puskesmas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Quality Outcome dan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Paru di R.S.& Puskesmas"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

Quality Outcome dan

Kualitas Hidup

Pasien Penyakit Paru di R.S.& Puskesmas

Dr.Priyanti ZS SpP(K) &

Dr.Mukhtar Ikhsan SpP(K), MARS

(2)

PENDAHULUAN

Penyakit paru : masalah kesehatan penting di Indonesia

SKRT 2005, dari 10 penyakit tersering: peringkat kedua Pneumonia , ketiga TB paru , kelima Asma dan PPOK

Penyakit paru kronik misalnya: Asma bronkial, PPOK, Bronkiektasis, Kanker paru, Pneumokoniosis,TB paru

Penyakit Asma, PPOK, Bronkiektasis, Pneumokoniosis dan Kanker Paru tidak dapat disembuhkan

Tujuan utama penatalaksanaan pada penyakit tersebut adalah meningkatkan kualitas hidup

2

(3)

Pendahuluan

• Nilai QoL baik  keadaan pasien baik

• Perubahan QoL  oleh pengobatan atau kualitas mutu pelayanan kesehatan

• Non-health QoL  faktor berhubungan dengan lingkungan (sosio-ekonomi, rumah, kualitas air, stabilitas komunitas)

• HRQoL dan Non-HRQoL  saling berkaitan

(4)

KUALITAS HIDUP

Merupakan suatu keadaan dari:

1. Kemampuan 2. Keterbatasan 3. Gejala

4. Keadaan psikososial

yang menggambarkan kemampuan

individu untuk melakukan fungsi dan

mendapat kepuasan diri dari berbagai

peran atau fungsinya.

(5)

Area HRQoL

• Status fungsional  merawat rumah, menggunakan telefon, memakai baju

• Status mental atau emosional (gejala depresi, afek positif)

• Keterlibatan sosial (keterlibatan dengan orang lain, aktivitas)

• Keadaan gejala (nyeri, sesak napas,

kelelahan)

(6)

• Evaluasi kemampuan pasien dalam kehidupan sehari-hari

• Keadaan pasien secara umum, termasuk status mental, tingkat stres, fungsi seksual dan

penilaian pribadi terhadap status kesehatan

• Kualitas hidup  dapat diukur dengan generic measures atau disease specific

• Rehabilitasi medis  meningkatkan kualitas

hidup

(7)

BEBERAPA METODE PENGUKURAN KUALITAS HIDUP PENYAKIT PARU

• Medical Outcome Study Short Form 36 (MOS SF 36) bersifat umum

• St. George Respiratory Questioner (SGRQ)  penyakit spesifik

• Chronic Respiratory Disease Questionare (CRDQ atau CRQ)  penyakit spesifik

• Asthma Quality of Life Questionnaire

(AQLQ)

(8)

St. GEORGE RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ)

Berisi 76 butir pertanyaan 1. Gejala : - sesak napas

- frekuensi gejala - berat gejala

2. Aktivitas

3. Dampak  fungsi sosial dan

psikologis

(9)

MANFAAT PROGRAM LATIHAN PADA

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

(10)

Peningkatan hasil uji jalan 6 menit

(11)

-18 -16 -14 -12 -10 -8 -6 -4 -2 0 2

Kasus Kontrol

Gejala Activiti Dampak Total

P = 0.000

Perbaikan SGRQ

(12)

Kesimpulan Penelitian

Program latihan selama 6 minggu

meningkatkan kualitas hidup dan kapasitas

fungsional paru

(13)

PENELITIAN

MANFAAT REHABILITASI PARU

DALAM MENINGKATKAN ATAU MEMPERTAHANKAN KUALITAS HIDUP DAN KAPASITAS FUNGSIONAL

PASIEN PPOK DI RS PERSAHABATAN

(14)

Awal 6 minggu 12 minggu 0

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60

perlakuan kontrol

Rerata skor gejala

Gambar 1. Perubahan Skor Gejala setelah 6 minggu dan 12 minggu

(15)

Awal 6 minggu 12 minggu 0

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60

perlakuan kontrol

Rerata skor aktiviti

Gambar 2. Perubahan rerata skor aktivitas setelah 6 minggu dan 12 minggu

(16)

Awal 6 minggu 12 minggu 0

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65

perlakuan kontrol

Rerata skor dampak

Gambar 3. Perubahan rerata skor dampak

setelah 6 minggu dan 12 minggu

(17)

Awal 6 minggu 12 minggu 0

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60

perlakuan kontrol

Rerataskortotal

Gambar 4. Perubahan Skor Total setelah

(18)

Aw a l 6 m i n g g u 1 2 m i n g g u 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4

1 5

Perubahan R erata V O ₂ m aks

perlakuan kont rol

R erata nilai V O ₂ m aks

Gambar 5. Perubahan Rerata Nilai VO₂ maks awal, 6 minggu dan 12 minggu

18

(19)

Kesimpulan Penelitian

1. Rehabilitasi paru dapat meningkatkan kualitas hidup, didapatkan penurunan rerata nilai SGRQ

2. Rehabilitasi paru dapat meningkatkan kapasitas fungsional, didapatkan peningkatan jarak jalan 6 menit kelompok

perlakuan‏

3. Rehabilitasi paru 12 minggu dapat meningkatkan

kapasitas fungsional dan kualitas hidup yang telah dicapai setelah perlakuan 6 minggu

(20)

PENELITIAN

EFIKASI PEMBERIAN KOMBINASI

INHALASI SALMETEROL - FLUTIKASON PROPIONAT MELALUI ALAT DISKUS

PADA

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK

(21)

0 10 20 30 40 50 60 70 80

SGRQ Gejala

Perlakuan 57,00 48,04

Kontrol 55,75 67,30

Awal Akhir

p=0,77 p<0,001

(22)

0 10 20 30 40 50 60 70

SGRQ Aktiviti

Perlakuan 64,02 52,90

Kontrol 61,09 62,99

Awal Akhir

Gambar 2. Rerata perubahan skor akivitas SGRQ

p=0,06 p=0,77

(23)

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

SGRQ Dampak

Perlakuan 36,51 34,17

Kontrol 38,88 44,50

Awal Akhir

Gambar 3. Rerata perubahan skor dampak SGRQ

p=0,63 p=0,02

(24)

- 10 20 30 40 50 60

Skor total SGRQ

Perlakuan 48,13 42,07

Kontrol 48,30 53,62

Awal Akhir

Gambar 4. Rerata perubahan skor total SGRQ

p=0,001 p=0,97

(25)

ST GEORGE’S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE

• Perubahan skor SGRQ 

– skor aktivitas  rerata 11,1210,34%.

– skor gejala ↓  rerata 8,9514,08%.

– skor dampak ↓  rerata 2,345,00%.

– skor total ↓  rerata 6,062,74%.

• Szafranski dkk. dan Calverley dkk. LABA

 perbaikan kualitas hidup (SGRQ).

(26)

Kesimpulan Penelitian

Pemberian kombinasi inhalasi Salmeterol-Flutikason propionat selama 3 bulan:

– me VEP

1

5,36%

– me frekuensi eksaserbasi 28,57%.

– me keluhan sesak (me skor MMRC 0,42).

– me jarak jalan 6 menit 42,53 m.

– memperbaiki kualitas hidup

(pe skor total SGRQ 6,06%).

(27)

Kesimpulan Penelitian (2)

Kejadian tidak diharapkan  faringitis & suara serak pada pemberian kombinasi inhalasi Salmeterol-Flutikason propionat jarang & tidak

berat sehingga pemberian kombinasi inhalasi salmeterol-flutikason propionat selama 3 bulan

cukup aman.

(28)

PENELITIAN

HUBUNGAN DERAJAT ASMA DENGAN

KUALITAS HIDUP YANG DIUKUR DENGAN

ASTHMA QUALITY OF LIFE QUESTIONNAIRE

(29)

47

42 41

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

Jumlah subjek

Jumlah subjek  130 pasien

(36,15%)

(32,31%) (31,54%)

(30)

Domain AQLQ X ( SD) Median Kisaran

Gejala 4,79 ( 1,07) 4,87 2,25 – 6,83 Keterbatasan

aktiviti 4,93 ( 0,89) 4,91 2,45 – 6,82 Fungsi emosi 5,01 ( 1,23) 5,40 2,00 – 7,00 Pajanan

lingkungan 4,91 ( 1,13) 5,12 1,00 – 7,00

Skor Kualitas Hidup Seluruh Subyek

(31)

5.48 4.71

4.39

5.43 4.64

4.23

5.42

4.744.56

5.71

4.8 4.4

5.53 4.76

4.36

0 1 2 3 4 5 6

p=0,000 p=0,000 p=0,000 p=0,000 p=0,000

p=0,096 p=0,055

p=0,303 p=0,162 p=0,209

Skor Kualitas Hidup

Berdasarkan Derajat Asma

(32)

Domain Batuk

Gangguan saat tidur malam

Aktiviti

sehari-hari Mengi Penggnaan obat pelega Total - 0,544 - 0,667 - 0,680 - 0,639 - 0,669

Gejala - 0,572 - 0,743 - 0,746 - 0,725 - 0,739

Keterbatasa

n aktiviti - 0,493 - 0,547 - 0,552 - 0,521 - 0,536

Fungsi

emosi - 0,433 - 0,528 - 0,537 - 0,502 - 0,543

Pajanan

lingkungan - 0,375 - 0,465 - 0,517 - 0,433 - 0,496

Korelasi Antara Gejala Klinis Dengan Kualitas Hidup AQLQ

(33)

Domain KVP% prediksi VEP1% prediksi APE

Total + 0,240 + 0,320 + 0,280

Gejala + 0,216 + 0,295 + 0,263

Keterbatasan

aktiviti + 0,190 + 0,271 + 0,300 Fungsi emosi + 0,212 + 0,281 + 0,194 Pajanan

lingkungan + 0,201 + 0,290 + 0,286 Korelasi Fungsi Paru Dengan Kualitas Hidup AQLQ

(34)

Domain Kekuatan

korelasi (r) Arah

korelasi Nilai p

Total

0,047 Negatif 0,592

Gejala

0,040 Negatif 0,648

Keterbatasan

aktiviti

0,110 Negatif 0,214

Fungsi emosi

0,078 Positif 0,380

Pajanan

lingkungan

0,099 Negatif 0,263

Korelasi Skor Kualitas Hidup Dengan Usia

(35)

Skor Kualitas Hidup Berdasarkan Jenis Kelamin

4.83 5.11 4.77 4.87 4.84 5.23 4.89 5.4 4.85 5.13

0 1 2 3 4 5 6 7

Total Gejala Keterbatasan

Aktiviti

Fungsi Emosi Pejanan Lingkungan Perempuan Laki-laki

p=0,257 p=0,869 p=0,048 p=0,093 p=0,202

(36)

Domain Kekuatan

korelasi (r) Arah korelasi Nilai p

Total 0,059 Negatif 0,507

Gejala 0,030 Negatif 0,734

Keterbatasan

aktiviti 0,125 Negatif 0,156

Fungsi emosi 0,048 Positif 0,585

Pajanan

lingkungan 0,059 Negatif 0,507

Korelasi Skor Kualitas Hidup Dengan Lama Menderita Asma

(37)

Skor Kualitas Hidup Berdasarkam Tingkat Pendidikan

4.97 4.38 4.9 4.62 5.02 4.58 5.02 4.86 5.02

4.55 4.83 4.73 4.86 5.07 4.77

0 1 2 3 4 5 6 7

T o t al Gejala Ket erb at asan

A kt ivit i

F ung si Emo si Pejanan Ling kung an

Rendah Sedang Tinggi

p=0,083

p=0,452

p=0,173

p=0,388

p=0,109

p=0,495

p=0,144

p=0,924 p=0,408

p=0,440

p=0,493 p=0,371 p=0,460 p=0,281 p=0,735

(38)

4.79 4.71 4.85 4.74 4.95

4.69 4.49 4.83 4.88 4.72

5.15 5.15 5.08 5.35

5.05

0 1 2 3 4 5 6 7

Total Gejala Keterbatasan Aktiviti

Fungsi Emosi Pajanan Lingkungan

Korelasi Skor Kualitas Hidup

Berdasarkan Pemakaian Kortikosteroid

p=0,675 p=0,015

p=0,349

p=0,003

p=0,996 p=0,109 p=0,514

p=0,036

p=0,353 p=0,044

p=0,075 p=0,046 p=0,274 p=0,005 p=0,462

(39)

Skor Kualitas Hidup Berdasarkan Riwayat Merokok

p=0,521 p=0,634 p=0,256 p=0,524 p=0,980 p=0,425 p=0,854 p=0,899 p=0,664 p=0,655

p=0,725 p=0,900 p=0,424 p=0,962 p=0,811

(40)

Domain Kekuatan korelasi (r)

Arah

korelasi Nilai p

Total 0,130 Positif 0,141 (uji spearman)

Gejala 0,129 Positif 0,145 (uji spearman)

Keterbatasan

aktiviti 0,104 Positif 0,241 (uji spearman) Fungsi emosi 0,104 Positif 0,238 (uji spearman) Pajanan

lingkungan 0,082 Positif 0,353 (uji spearman)

KORELASI SKOR KUALITAS HIDUP DENGAN INDEKS MASSA TUBUH

Tidak ada korelasi antara peningkatan IMT

(41)

Kesimpulan Penelitian

• Hubungan antara nilai fungsi paru dengan kualitas hidup mempunyai korelasi lemah.

• Kualitas hidup pasien asma lebih dipengaruhi oleh gejala klinis dibandingkan nilai fungsi paru

• Kualitas hidup pada pasien asma tidak dipengaruhi

oleh jenis kelamin, usia, lama menderita asma, tingkat pendidikan, riwayat merokok dan indeks massa tubuh

• Penggunaan inhalasi kortikosteroid hanya

mempengaruhi kualitas hidup domain gejala dan

fungsi emosi

(42)

KUALITAS HIDUP PADA PASIEN KANKER PARU

• Tergantung jenis kanker

- NSCLC : stadium, pembedahan dan kemoterapi paliatif - SCLC : agresif  kemoterapi

• Memakai kuesioner

- European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire (EORTC QLQ-C30)

- Nottingham Health Profile (NHP)

- EORTC Lung Cancer Questionnaire ( EORTC QLQ-LC13 )

(43)

PENILAIAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN TB PARU

DAN

BEKAS TB PARU

(44)

• Lee BH, et al  Gambaran klinis dan HRQoL Pasien bekas TB dengan luluh paru, 23 pasien

• Evaluasi: fungsi paru, exercise tolerance dan HRQoL dengan menggunakan SGRQ

• Hasil: spirometri menunjukkan pola obstruktif dan restriktif. Skor penilaian SGRQ berkorelasi dengan VEP1, VEP1/KVP dan VO2 max

POST-TUBERCULOSIS DESTROYED LUNG: CLINICAL CHARACTERISTICS AND HEALTH-RELATED

QUALITY OF LIFE MEASUREMENT

(45)

Measuring health-related quality of life in TB:

a systematic review

 Guo Na et al  Dampak TB dan pengobatannya terhadap kualitas hidup pasien

 12 penelitian asli yang memenuhi kriteria inklusi. Menggunakan formulir SF-36

 TB mempengaruhi kualitas hidup pasien

 Pengobatan TB berpengaruh positif dalam kualitas hidup pasien, kesehatan fisik lebih cepat pulih daripada kesehatan mental

 Walaupun sudah selesai pengobatan dan BTA

negatif  kualitas hidup lebih rendah daripada

(46)

Using the SGRQ to ascertain health quality in persons with treated pulmonary TB

• Pasipanodya et al  evaluasi pasien TB dgn SGRQ

• 313 pasien TB atau bekas TB, kuesioner HRQoL (SGRQ)

• Kesimpulan: pasien TB dan bekas TB memiliki nilai SGRQ yang berbeda bermakna

dibandingkan populasi normal  kecacatan

akibat TB paru berdampak negatif terhadap

kehidupan pasien

(47)

Health-Related Quality of Life Trajectories among adults with TB. Differences between latent and active infection

• Marra et al  Menilai dampak infeksi TB aktif dan laten thd HRQoL

• 104 Pasien TB dan 102 pasien TB laten, menggunakan SF-36 dan the Beck depression inventory (BI) saat visit pertama, 3 bulan dan 6 bulan

• Kesimpulan: pasien TB aktif menunjukkan perbaikan

HRQoL yang nyata setelah 6 bulan pengobatan

(48)

Is the quality of life different in patients with active and inactive TB ?

 Unalan et al  evaluasi QoL pasien TB aktif dan tidak aktif, rawat jalan

 Hubungan antara QoL, demografi, karakteristik sosio- kultural dan hal-hal yang berkaitan dengan penyakit dan depresi

 196 pasien TB aktif dan 108 tidak aktif, menggunakan kuesioner SF-36 dan DBI

 Kesimpulan : QoL pasien TB tidak aktif hampir sama pasien TB aktif

 Faktor yg mempengaruhi: karakteristik demografi- sosiokultural, depresi, waktu tidur dan lama

pengobatan

(49)

Factor influencing quality of life patients with active TB

 Marra et al  Identifikasi area QoL pada pasien TB dengan menggunakan interview fokus grup dan

individu, 39 pasien

 Pertanyaan terbuka tentang TB, berdiskusi

pengalaman selama pengobatan TB, dampak dalam kehidupan mereka, keteraturan minum obat dan pengalaman efek samping

 Kesimpulan: walaupun penyakit TB bisa

disembuhkan, pelayanan kesehatan sebaiknya juga tetap memperhatikan QoL pasien TB

 QoL TB perhatikan aspek non-pengobatan dalam

penatalaksanaan TB

(50)

PENUTUP

Penyakit paru masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia

Penyakit paru kronik umumnya tidak dapat

disembuhkan, penatalaksanaan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup

Pemberian obat dan tindakan rehabilitasi dapat

meningkatkan kualitas hidup pasien asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

Pada kanker paru kualitas hidup tergantung jenis kanker

Walaupun penyakit TB dapat disembuhkan, pelayanan kesehatan sebaiknya juga tetap memperhatikan QoL

pasien TB

(51)

Terima

Kasih

Gambar

Gambar 1. Perubahan Skor Gejala setelah                       6 minggu dan 12 minggu
Gambar 2. Perubahan rerata skor aktivitas                   setelah 6 minggu dan 12 minggu
Gambar 3. Perubahan rerata skor dampak
Gambar 4. Perubahan Skor Total setelah
+3

Referensi

Dokumen terkait

Rekomendasi tindakan teknik latihan nafas dalam (deep breathing exercise) efektif untuk meningkatkan nilai saturasi oksigen pada pasien penyakit paru obstruktif

Berdasarkan hasil penelitian tentang gabaran kualitas hidup pada penderita penyakit paru obstruktif kronik di Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta, dapat ditarik

Bronkitis kronis adalah salah satu jenis PPOK (penyakit paru obstruktif kronik). Tabung bronkial meradang menghasilkan banyak lendir. Bronkitis ini menjadi

ANALISIS KUALITAS HIDUP PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK SETELAH MENGIKUTI PROGRAM REHABILITASI PARU YANG DINILAI DENGAN.. COPD ASSESSMENT TEST (CAT) DAN UJI JALAN

Populasi yang diteliti adalah seluruh pasien penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang digolongkan menjadi PPOK Ringan, PPOK Sedang, PPOK Berat, PPOK Sangat Berat

KESIMPULAN DAN SARAN Setelah dilakukan pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik PPOK dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi dengan pemberian terapi

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik PPOK dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi dengan masalah keperawatan bersihan

Penelitian Rohman, Fitri, & Purwono, 2021 mengenai penerapan batuk efektif terhadap pengeluaran sputum pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik PPOK menunjukkan bahwa setelah diberi