• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Budaya merupakan suatu pola dari keseluruhan keyakinan dan harapan yang dipegang teguh secara bersama. Kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah “merupakan wujud ideal yang bersifat abstrak yang tak dapat diraba yang ada didalam pikiran manusia yang dapat berupa gagasan, ide, norma, keyakinan, dan lain sebagainya”. Unsur-unsur kebudayaan yang universal meliputi, sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan bahasa dan kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem teknologi dan peralatan.

Berkomunikasi merupakan salah satu aktivitas yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kelancaran dan keberhasilan sebuah aktivitas komunikasi ditentukan oleh perangkat yang menjembatani antara si pengirim pesan dan si penerima pesan. Bahasa tulis merupakan “sebuah perangkat komunikasi yang efektif dan merupakan representasi fisik dan struktur pemikiran yang ada di otak kita. Huruf merupakan bagian terkecil dalam struktur bahasa tulis dan merupakan elemen dasar untuk membangun sebuah kata atau kalimat”.

(Danton Sihombing; 2001; 2).

Sunardi Purwosuwito (2005) mengatakan bahwa “Tipografi memegang peranan penting dalam segala hal yang berkenaan dengan penyampaian bahasa non verbal (menggunakan tulisan) dalam segala bentuk publikasi, karena kita harus tahu berapa ukuran tulisan yang akan kita gunakan, efek dan bentuk yang akan kita tampilkan sehingga sifat dan pesan yang muncul sesuai dengan tujuan komunikasi yang ingin kita sampaikan kepada publik”.

Di Indonesia, hingga sekitar tahun 1960/70an, istilah tipografi belumlah begitu dikenal sebagaimana pengertiannya sekarang. Pada masa itu, tugas- tugas di kampus desain masih dikenal dengan nama lettering; mahasiswa harus membuat huruf dengan tangan (hand-drawn lettering), dimana ketrampilan menggunakan kuas dan cat poster menjadi batu ujian utama dalam menentukan kualitas sebuah karya. “Legibility dan readability menjadi sesuatu yang tidak mudah dicapai, mengingat faktor optis yang bisa berubah ketika huruf-huruf

‘diset’ dengan pensil dengan ketika sudah diisi dengan warna (filled)”. Bekerja

(2)

dengan mengandalkan ketrampilan tangan masih menjadi satu-satunya pilihan teknis saat itu. (Surianto Rustan; 2011; 8).

Dalam era komunikasi seperti sekarang, tipografi sudah merupakan bentuk visual komunikasi yang sangat kuat, karena bahasa yang tampak ini menghubungkan pikiran dan informasi melalui penglihatan manusia. Dalam bukunya yang berjudul Tipografi Komputer untuk Desain Grafis Adi Kusrianto mengatakan “dalam melakukan komunikasi dan menyampaikan pesan pada awalnya dikenal ada dua cara, yaitu menuturkan pesan itu atau menuliskannya”.

Sebelum manusia mengenal tulisan, orang zaman dahulu mengingat peristiwa- peristiwa penting dalam sejarah hidupnya secara lisan dengan cara menghafal catatan itu. Salah satu cara untuk menghafal adalah dalam bentuk membuat syair dan menuturkan kembali syair itu kepada orang lain. (Adi Kusrianto; 2004;

3).

Perancangan huruf nantinya merupakan sebuah perwujudan dan perkembangan dalam dunia tipografi yang pesat serta kemudahan untuk menciptakan huruf secara individu. Berbagai jenis huruf telah diciptakan dan memiliki karakter sendiri, namun tidak banyak jenis huruf baru yang diciptakan desainer muda yang memiliki nama serta karakter Indonesia. Selain itu juga mencoba kemungkinan lain daripada sekedar menggambar ulang dan memakai motif tradisional yang sudah ada dengan media komputer dan menempelkannya sebagai elemen tambahan pada sebuah organisasi tata letak.

Pada perancangan huruf terinspirasi dari bentuk alat musik Betawi yaitu tanjidor. Tanjidor sendiri merupakan salah satu kesenian kebudayaan Indonesia, alat musik ini biasa dimainkan pada saat acara iring-iringan pengantin, pawai atau peringatan hari besar kota Jakarta, dan masih berlangsung hingga saat ini.

Sehingga pada perancangan typeface ini bukan saja mengeksplorasi bentuk tanjidor sebagai warisan budaya Betawi namun juga sebagai wujud untuk menumbuhkan rasa mencintai terhadap budaya Betawi.

Berdasarkan dari latar belakang yang diuraikan, maka solusi desain dalam perancangan ini yaitu dengan mempelajari tentang kebudayaan yang ada di Indonesia khususnya budaya Betawi sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan rasa mencintai terhadap budaya Betawi.

Menciptakan suatu kegiatan positif salah satunya dengan membuat karya desain yang bertemakan kebudayaan, karena secara tidak langsung akan

(3)

memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam menciptakan suatu karya dengan mengeksplorasi budaya lokal Indonesia sebagai ide kreatif.

Membuat suatu karya desain yang dapat menunjukkan identitas kebudayaan Betawi salah satunya dengan merancang huruf. Dimana huruf merupakan suatu media komunikasi visual dalam penyampaian bahasa non verbal (menggunakan tulisan).

B. Orisinalitas (State of The Art)

Huruf tersebut akan diwujudkan dengan cara mendesain huruf dengan penyederhanaan bentuk dari eksplorasi karakter tanjidor, huruf yang diciptakan nantinya akan mengacu pada bentuk keluarga berkaki tau serif, dengan disertakan varian bentuk standar keluarga huruf yaitu tipe regular, italic, dan bold.

Untuk pengaplikasiannya nanti akan diaplikasikan pada perangkat lunak komputer.

Dengan memunculkan suatu identitas yang mengingatkan kembali rasa kebanggaan terhadap budaya Betawi, yang mampu menumbuhkan rasa mencintai budaya Betawi sehingga terwujud upaya melestarikan kebudayaan Indonesia. Cara dalam menumbuhkan kembali rasa memiliki budaya Indonesia ialah dengan suatu identitas dalam bentuk yang mewakili citra budaya Indonesia.

Identitas tersebut selanjutnya dikomunikasikan dengan tujuan sebagai suatu ajakan untuk menumbuhkan rasa mencintai budaya Indonesia.

Seperti pada perancangan huruf kali ini yang mengangkat tema

"Identitas Budaya Betawi", dalam penciptaan tipografi bercitrakan budaya lokal

ini diharapkan mampu menyampaikan pesan kepada khalayak untuk tetap menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia dan menumbuhkan kembali rasa mencintai budaya Indonesia.

Identitas budaya merupakan “rincian karateristik atau ciri kebudayaan yang dimiliki sekelompok orang yang kita ketahui batas-batasnya ketika dibandingkan dengan karateristik atau ciri-ciri kebudayaan lain” (Alo Liliweri;

2003; 72). Dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya Alo Liliweri menguraikan “bahwa secara etimologi kata identitas berasal dari identity yang berarti kondisi atau kenyataan tentang sesuatu yang sama atau

mirip satu sama lain, kondisi atau fakta tentang sesuatu yang sama diantara dua orang atau dua benda, kondisi atau fakta yang menggambarkan sesuatu yang sama diantara dua orang (individualitas) atau dua kelompok atau benda,

(4)

menunjukkan tentang suatu kebiasaan untuk memahami identitas dengan kata

‘identik’ ” (Alo Liliweri; 2003; 67).

Namun Alo Liliweri memandang identitas pada aspek yang lebih luas tidak hanya dilekatkan pada manusia, tetapi juga pada benda yang memiliki cirri yang sama. Sedangkan budaya atau kebudayaan menurut Burnett Taylor dalam karyanya yang berjudul Primitive Culture, adalah keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat istiadat dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat.

Disamping mengetahui pengertian kebudayaan kita juga harus mengetahui unsur-unsur kebudayaan manusia yang antara lain adalah sejarah kebudayaan, identitas sosial, budaya material, peranan relasi, kesenian, bahasa dan interaksi, stabilitas kebudayaan, kepercayaan atas kebudayaan dan nilai, perilaku non-verbal, hubungan antar ruang, konsep tentang waktu, pengakuan dan ganjaran, pola piker, dan aturan-aturan budaya.

Dengan memilih tema budaya diharapkan dapat mewujudkan suatu karya desain yang dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap kebudayaan yang ada di Indonesia.

Makna khusus huruf sebetulnya adalah satuan dalam alphabet (yang dalam bahasa latin terdari dari 26 buah). Pada prakteknya, penggunaan dalam penyebutan makna huruf meluas, tidak hanya mewakili 26 karakter dalam alfabet, melainkan juga angka, tanda baca, simbol mata uang dan lainnya.

Sebagai acuan dalam penciptaan huruf bertemakan budaya Betawi, pendekatan yang dilakukan berdasar pada bentuk tanjidor yang telah disederhanakan bentuknya menjadi figur ikonik tanjidor yang lebih sederhana.

Dalam perancangan huruf bertujuan mengajak khalayak untuk kembali menumbuhkan rasa mencintai kebudayaan Indonesia. Dengan mencintai kebudayaan Indonesia secara tidak langsung juga akan menumbuhkan minat untuk melestarikan kebudayaan tersebut. Dan juga dapat dijadikan suatu identitas yang mewakili citra budaya Betawi.

C. Peluang dan Tantangan

Sebagai salah satu upaya untuk mengangkat citra tanjidor yang selama ini sudah sedikit terlupakan dengan seiring berkembangnya zaman, mindset tanjidor sebagai alat musik yang menjadi instrumen estetis dengan nilai historis yang tinggi dan sebagai simbol dari kebudayaan Betawi. Sebagai sarana untuk

(5)

meningkatkan awareness khalayak untuk lebih mengetahui tanjidor atau merasa memiliki terhadap kebudayaan Betawi.

Merupakan sebuah perwujudan dan perkembangan dalam dunia tipografi dengan menciptakan typeface berkarakter tanjidor, namun tidak banyak jenis huruf baru yang diciptakan desainer muda yang memiliki nama serta karakter Indonesia.

Untuk mengkomunikasikan ide atau informasi, tipografi memiliki peranan penting dalam desain grafis dan dapat dijadikan sebagai salah satu identitas budaya Betawi.

 

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

192 / 393 Laporan digenerate secara otomatis melalui aplikasi SSCN Pengolahan Data, © 2018 Badan

Menjelaskan cara menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan atau pengurangan bilangan bulat Bersama siswa mendiskusikan cara penyelesaian soal cerita tentang penjumlahan

Pengukuran frekuensi pukulan pendeta dilakukan sebelum dan sesudah pelatihan pada masing-masing kelompok dengan metode pengukuran jumlah pukulan dalam tiga puluh

Masalah utama yang akan dijawab dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : Apakah penerapan Metode pembelajaran Make a Match (Menjodohkan) dan MediaKartundapat