PENGARUH PENGGUNAAN CAMPURAN KULIT BUAH COKLAT DAN AMPAS TAHU FERMENTASI DENGAN Phanerochaeta chrysosporium Dan Monascus purpureus DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS TELUR PUYUH.

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGGUNAAN CAMPURAN KULIT BUAH COKLAT DAN AMPAS TAHU FERMENTASI DENGAN Phanerochaeta chrysosporium Dan Monascus purpureus DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS TELUR

PUYUH

SKRIPSI

Oleh :

Ilfi Rahmi Putri Syanur 0910612243

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS ANDALAS

(2)

PENGARUH PENGGUNAAN CAMPURAN KULIT BUAH COKLAT DAN AMPAS TAHU FERMENTASI DENGAN Phanerochaete chrysosporium

DAN Monascus purpureus

DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS TELUR PUYUH (Coturnik-coturnik japonica)

Ilfi Rahmi Putri Syanur, dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Nuraini, MS dan Dr. Ir. Yan Heryandi, MP, Program Studi Peternakan

Fakultas Peternakan, Universitas Andalas, 2014

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa batasan dan pengaruh penggunaan campuran Kulit Buah Coklat dan Ampas Tahu Fermentasi (KBCATF) dengan Phanerochaete chrysosporium dan Monascus purpureus

terhadap kualitas telur puyuh. Penelitian ini menggunakan 100 ekor puyuh

(Coturnix-coturnix japonica) yang berumur 5 minggu. Metode penelitian adalah

metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 5 perlakuan yaitu A (0% KBCATF dalam ransum), B (3,5% KBCATF dalam ransum), C (7% KBCATF dalam ransum), D (10,5% KBCATF dalam ransum), dan E (14% KBCATF dalam ransum) dengan 4 kali ulangan. Peubah yang diamati adalah kolesterol kuning telur, lemak kuning telur, dan warna kuning telur. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa penggunaan produk campuran kulit buah coklat dan ampas tahu fermentasi (KBCATF) dalam ransum puyuh petelur memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kolesterol kuning telur, lemak kuning telur, dan warna kuning telur puyuh. Hasil uji DMRT menunjukan bahwa pada perlakuan 14% KBCATF terdapat kandungan kolesterol, dan lemak kuning telur paling rendah, dan warna kuning telur paling tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penggunaan KBCATF sampai level 14 % (perlakuan E) dalam ransum puyuh petelur dapat menurunkan kolesterol, lemak, dan meningkatkan warna kuning telur. Pada kondisi ini diperoleh kandungan kolesterol telur 500,87 mg/100g , kandungan lemak telur 29,96 % dan warna kuning telur 8,21.

(3)

I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Dalam usaha peternakan unggas termasuk puyuh, pakan merupakan

prioritas utama yang harus dipenuhi untuk ternak, namun sering menjadi kendala

bagi peternak dalam upaya peningkatan dan pengembangan usaha, karena bahan

pakan yang berkualitas dan mengandung gizi tinggi relatif mahal. Hal ini

disebabkan oleh bahan pakan tersebut masih diimpor dan penggunaannya masih

bersaing dengan kebutuhan manusia. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk

memperoleh bahan pakan alternatif yang relatif murah, mudah didapat dan

bernilai gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan proses biologis

dalam tubuh ternak. Beberapa bahan pakan tersebut adalah kulit buah coklat dan

ampas tahu yang berasal dari limbah agroindustri.

Tanaman coklat (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman

perkebunan yang luas areal penanamannya terus mengalami peningkatan dan

cukup potensial untuk dijadikan sebagai pakan ternak unggas. Di Sumatera Barat

pada tahun 2009, luas areal perkebunan kakao mencapai 61.000 hektar dengan

produksi buah kakao sebanyak 40.988 ton dan pada tahun 2012 sebanyak 63.000

ton (Dinas Perkebunan, 2012). Komposisi buah kakao terdiri dari 73-75% kulit

buah, 2-3% plasenta dan 22-24% biji (Wawo, 2008) sehingga dapat diperkirakan

pada tahun 2012 terdapat kulit buah coklat di Sumatera Barat sekitar 45.000 ton.

Ditinjau dari segi kandungan zat-zat makanan kulit buah coklat

mengandung protein kasar 11,71%, lemak 11,80%, BETN 34,90% tetapi

kandungan serat kasarnya tinggi yaitu 33,79% terutama selulosa 23,10% dan

(4)

0,17% (Wong dan Hasan, 1998), sehingga menjadi kendala dalam

pemanfaatannya sebagai pakan ternak. Oleh karena itu untuk meningkatkan

kualitas kulit buah coklat agar pemanfaatannya dalam ransum ternak maksimal

diperlukan upaya mengurangi kandungan lignin, selulosa, dan theobromin melalui

teknologi fermentasi menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium.

Menurut Valli et al. (1992) Phanerochaete chrysosporium adalah jamur

pelapuk putih yang berasal dari kelas Basidiomycete serta dikenal kemampuannya

dalam mendegradasi lignin. Menurut Dhawale dan Kathrina (1993) dan Howard

et al. (2003) Phanerochaete chrysosporium dapat mendegradasi lignin dan

senyawa turunannya secara efektif dengan cara menghasilkan enzim peroksidase

ekstraselular yang berupa lignin peroksidase (LiP) dan mangan peroksidase

(MnP). Hasil penelitian Fadillah, dkk (2008) melaporkan bahwa fermentasi

batang jagung menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium dapat

mendegradasi lignin sebanyak 81,40% dan mendegradasi selulosa sebanyak

22,30%. Menurut Aisah (2009) fermentasi sludege kertas dengan Phenerochaete

chrysosporium diperoleh aktifitas enzim lignin perioksidase 0,789 U/ml dan

mangan perioksidase 0,062 U/ml.

Selanjutnya kulit buah coklat dan ampas tahu yang difermentasi dengan

Phenerochaete chrysosporium dilanjutkan fermentasi dengan Monascus

purpureus untuk mendapatkan pigmen monakolin yang bertujuan untuk

menurunkan kandungan kolesterol dari telur dan daging ternak puyuh. Fermentasi

dengan Monascus purpureus dapat menghasilkan pigmen monakolin K

(lovastatin) yang merupakan agen hypocholesteromia (Su et al.,2002). Monascus

(5)

(Yashuda, 1985). Hasil penelitian Nuraini dkk (2009) melaporkan bahwa

campuran ampas sagu dan ampas tahu yang difermentasi dengan Monascus

purpureus sampai level 15% dalam ransum puyuh dapat menurunkan kolesterol

kuning telur sebanyak 36,60%.

Fermentasi 80% kulit buah coklat ditambah 20% ampas tahu yang

difermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium dan dilanjutkan Monascus

purpureus terjadi peningkatan kandungan zat makanan yaitu protein kasar

meningkat dari 13,44% menjadi 21,87%, serat kasar turun dari 35,22% menjadi

21,60%, lignin turun dari 25,39% menjadi 15,47%, selulosa turun dari 22,07%

menjdi 14,38%, tannin turun dari 0,103% menjadi 0,005%, theobromin turun dari

0,15% menjadi 0,08% dan terdapat kandungan monakolin 348,73 µg/g, niasin

76,58% mg, oleat 1,95%, linoleat 2,14% dan linolenat 0,40% (Nuraini dkk.,

2013).

Ditinjau dari zat makanan setelah difermentasi pengaruh terhadap kualitas

telur sehingga diharapkan dapat menurunkan kolesterol, lemak, dan meningkatkan

warna kuning telur dalam penggunaannya dalam ransum puyuh. Bagaimana

pengaruhnya penggunaan kulit buah coklat dan ampas tahu fermentasi dengan

Phanerochaete chrysosporium dan Monascus purpureus terhadap kualitas telur

puyuh (kolesterol, lemak, dan warna kuning telur), belum diketahui.

I.2 Identifikasi masalah

Bagaimanakah pengaruh dan berapa batasan penggunaan campuran kulit

buah coklat dan ampas tahu fermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium dan

Monascus purpureus terhadap kualitas telur puyuh (kolesterol, lemak, dan warna

(6)

I.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah : Mengetahui berapa batasan dan

pengaruh penggunaan campuran kulit buah coklata dan ampas tahu (KBCATF)

dengan Phanerochaete chrysosporium dan Monascus purpureus terhadap kualitas

telur puyuh (kolesterol, lemak dan warna kuning telur).

I.4 Manfaat Penelitian

Memberikan informasi pada masyarakat bahwa kulit buah coklat dan ampas

tahu fermentasi (KBCATF) dengan Phanerochaete chrysosporium dan Monascus

purpureus dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan alternatif yang

mengurangi penggunaan jagung dan bungkil kedelai dalam ransum puyuh petelur.

I.5 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dari penelitian ini adalah penggunaan campuran kulit buah coklat

dan ampas tahu yang difermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium dan

Monascus purpureus sampai level 14% dalam ransum dapat menurunkan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...