• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) merupakan suatu hal yang baru di Kabupaten Kerinci ataupun Provinsi Jambi. Dengan adanya hal baru ini maka menjadi suatu fenomena yang kedepannya di harapkan memberi manfaat yang begitu besar baik itu seperti pasokan energi listrik yang berlimpah, dan juga pendirian industri-industri baru yang membutuhkan pasokan listrik besar, seperti industri kayu manis,kopi,kebun karet,dan juga industri-industri lainnya. Dampak dari plta ini tentu juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap pemerinah Kabupaten Kerinci maupun Provinsi Jambi, seperti dapat meningkatkan PAD Kabupaten Kerinci,baik dari penjualan arus listrik dan juga untuk kedepannya di harapkan menjadi daya tarik objek wisata yang memberikan dampak baik terhadap masyarakat sekitar. Seperti yang kita ketahui bahwa harapan di dalam suatu pembangunan memang mengedepankan manfaat yang akan di terima oleh masyarakat sekitar namun pada saat proses pembangunan hal tersebut juga akan memberikan benturan sebaliknya,harapan yang di maksud merupakan tercapainya kesejahteraan masyarakat sekitar (Kali Agustinus, 2012).

Kabupaten Kerinci merupakan salah satu Kabupaten dari Provinsi Jambi yakni berada di ujung Propinsi Jambi tepatnya di antara Provinsi Sumatera Barat dan juga Provinsi Jambi. Berbicara tentang Kerinci tentunya kita terfokus pada hal wisata alam dan juga perkebunan hal tersebut di karenakan Kabupaten Kerinci memang mengandalkan sektor agraris dan juga sektor pariwisata baik itu Gunung Kerinci dan juga kebun teh yang tentunya telah di ketahui manca negara,namun masih menyimpan keindahan alam lainnya yag tercermin dari waktu ke waktu.

peningkatan pada sektor pariwisata juga mempunyai peran yang besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkait dengan kondisi sosial ekonomi lebih maju kedepannya (Zaleha Siti, 2008).

Danau Kerinci pada umumnya sama dengan danau lainnya selain menjadi tempat mencari ikan juga menjadi salah satu objek wisata pada hari-hari tertentu

(2)

seperti hari lebaran dan hari istimewa lainnya. pada masa sekarang ini di Danau Kerinci telah di lakukan pembangunan pintu air pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Danau Kerinci, yang sebagian besar pembangunan berada di Kecamatan Batang Merangin. pembangunan ini diharapkan mampu berguna untuk masyarakat Daerah dan juga pemerintahan sekitar. Pembangunan yang di lakukan mempunyai nilai yang begitu besar sehingga dapat di sebut sebagai mega proyek untuk jangka panjang. Pembangunan ini sangat di dukung oleh pemerintah di karenakan kedepannya dapat menjadi tumpuan dalam hal kelistrikan , di satu sisi juga dapat memperoleh tenaga listrikan dan membuka kesempatan kerja baru (Nurayni, 2021).

Menurut data BPS Kerinci,Kecamatan Batang Merangin dengan luas wilayah 190.391 (ha) dan jumlah penduduk 14.319 ini rata-rata masyarakat sama halnya dengan masyarakat Kerinci pada umunya yaitu berprofesi sebagai petani,baik itu petani sayuran dan mengandalkan hasil perkebunan kopi dan kayu manis. Hal ini juga berhubungan tingkat pendidikan masyarakat sekitar yang terbilang rendah. Kecamatan Batang Merangin dengan luas lahan yang begitu luas tidak menutup kemungkinan terdapat masyarakat yang tidak mempunyai lahan sendiri membuat mereka menjadi pekerja atau buruh harian. Hal ini didasari atas kepemilikan lahan secara individu oleh masyarakat setempat, yang membuat sebagian besar masyarakat bekerja sebagai buruh harian.

Faktor utama yang mendasari sebagian masyarakat memilih menjadi petani ialah tidak lain kebiasaan turun temurun keluarga di Kecamatan Batang Merangin.

Selain kebiasaan luas wilayah juga mempengaruhi masyarakat memilih menjadi sebagai petani dengan kepadatan penduduk yang kecil di hadapkan luas wiayah yang besar maka tidak sulit bagi masyarkat di Kecamatan Batang Merangin dalam memperoleh lahan pertanian. Rata-rata Masyarakat ataupun anak muda yang telah menempuh jenjang pendidikan SMA memilih tidak untuk melanjutkan jenjang pendidikannya dan lebih memilih membuka lahan baru ataupun bekerja untuk lahan orang tua mereka sendiri.

(3)

Tabel 1.1 Luas wilayah dan jumlah penduduk Kecamatan Batang Merangin Tahun 2022

No Nama Desa Luas Wilayah

(Ha)

Jumlah KK

Jumlah Penduduk Laki-

Laki

Perempu an

Jumlah

1 Tarutung 3.341 546 771 830 1.601

2 PL.Sangkar 1.782 1.722 901 1.021 1.982

3 Seb.Merangin 15.067 282 457 425 882

4 Lbk. Paku 2.406 486 717 737 1.456

5 Tamia 5.277 789 1.231 1.369 2.600

6 Ps. Tamia 93.458 801 1.003 1.399 2.402

7 Pmt.

Lingkung

3.450 460 519 553 1.072

8 BT. Merangin 53.025 372 531 695 1.226

9 M.Hemat 12.645 326 623 535 1.158

Jumlah 190.391 4.507 5.753 7.566 14.319

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) merupakan jenis pembangkit listrik yang memakai energi potensial ataupun energi kinetik yang di ubah menjadi energi listrik. Pada umumnya PLTA menggunakan bendungan ataupun aliran sungai sebagai penggerak turbin untuk menghasilkan energi listrik. Energi listrik yang di hasilkan kemudian disalurkan ke berbagai daerah yang di cakupi PLTA itu sendiri. Pada PLTA Kerinci yang di bangun tepatnya di Kecamatan Batang Merangin kapasitas listrik yang di hasilkan melalui rumah turbin sebesar 350 MW (Megawatt) yang terbilang cukup besar. Dengan harapan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik untuk jangka panjang Kabupaten Kerinci dan Provinsi Jambi pada umumnya (Djihad M Ali, 2009)

(4)

Menurut Nurayni (2021) “pembangkit listrik memiliki banyak manfaat, tetapi juga bisa berbahaya, sehingga diperlukan regulasi. Undang-Undang Ketenagalistrikan Republik Indonesia No. 30 Tahun 2009 diperlukan untuk lebih menjamin keselamatan umum, keselamatan kerja, keselamatan instalasi dan pelestarian fungsi lingkungan dalam penyediaan tenaga listrik dan penggunaan energi listrik. Selain itu, ketersediaan Listrik yang merata dan banyak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu bentuk pembangkit listrik yang dibangun terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat adalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA).”

Pembangunan pembangit listrik tenaga air (PLTA) Kerinci telah menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Menurut data penerimaan karyawan pada pertengahan tahun 2021 jumlah pekerja pada PLTA sebanyak 1300 orang yang mana 860 orang diantaranya berasal dari Kecamatan Batang Merangin. Hal ini di karenakan adanya peraturan adat istiadat yang hanya mengizinkan pekerja hanya berasal masyarakat Kecamatan Batang Merangin itu sendiri,hanya ada beberapa orang seperti tenaga ahli ataupun manager yang di datangkan langsung dari pusat.

Penyerapan tenaga kerja yang dominan dari masyarakat tentu saja telah mempengaruhi aktivitas perekonomian penduduk sekitar. Minat masyarakat dalam bekerja dalam pembangunan PLTA tentu juga menandakan adanya suatu harapan peningkatan perekonomian masyarakat

Pada pembangunan PLTA selama observasi yang di lakukan terdapat dampak yang timbul dengan adanya pembangunan. baik itu dampak pada kondisi sosial maupun kondisi ekonomi para pekerja. Dampak kondisi sosial dalam pembangunan lebih condong kearah yang negatif, seperti sering terjadinya permasalah konflik pada interaksi sosial para pekerja. Interaksi sosial pada pekerjaan yang di lakukan merupakan hubungan yang terjadi sesama pekerja yang bekerja pada pembangunan PLTA baik itu bersifat positif maupun negatif.

Adapun pokok permasalahan memicu terjadinya konflik antara pekerja sebagai berikut :

1) Perubahan Struktur Pekerjaan

(5)

Perbedaan struktur pekerjaan antara bekerja pada suatu perusahaan dan juga bekerja sebagai petani tentu terdapat perbedaan. Perbedaan itu dapat berupa waktu bekerja,kedisiplinan dalam bekerja dan juga terdapat struktur pekerjaan yang jelas antara atasan dan juga bawahan. Dalam bekerja pada suatu perusahaan tentu para karyawan cenderung mengikuti ataupun menjalakan suatu prosedur yang telah di tetapkan oleh pimpinannya. Dengan demikian perubahan inilah yang belum seutuhnya di terima oleh pekerja buruh yang berasal dari masyarakat sekitar, hal ini yang sering memicu konflik yang terjadi dalam bekerja.

2) Tenaga Kerja Luar Daerah

Tenaga kerja yang berasal dari luar daerah menjadi salah satu faktor dalam permasalahan interaksi sosial yang terjadi. Sama halnya tenaga kerja yang berasal dari negara lain atau asing,permasalahan yang timbul akibat tenaga kerja luar daerah di picu kecemburuan sosial masyarakat seperti terhadap tingkat kedudukan di dalam perusahaan dan pada profesional tenaga kerja luar daerah dalam bekerja.

Pembangunan PLTA yang di lakukan selain berdampak pada kondisi sosial para pekerja juga berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat. Seperti tingkat pendapatan masyarakat, semakin tinggi dampak tingkat pendapatan masyarakat setelah bekerja pada pembangunan PLTA tentu mengartikan bahwa cita pembangunan yang di lakukan sebagian kecil telah berhasil. Menurut M Hasan (2018) pembangunan tidak hanya berfokus pada tercapainya suatu fisik bangunan itu sendiri melainkan dampak yang bersifat baik bagi perekonomian masyarakat di sekitarnya. Adapun dampak yang timbul akibat pembangunan PLTA Kerinci pada kondisi ekonomi atau tingkat pendapatan cenderung meningkat. Hal ini di tandai dengan minat masyarakat yang begitu tinggi ingin bekerja di PLTA Kerinci.

Menurut Olvit Oniwati Kayupa (2015) Tingkat pendapatan merupakan nilai untung ataupun hasil bersih dari suatu pekerjaan yang di lakukan dari bekerja yang kemudian dinyatakan dalam bentuk satuan rupiah. Tingkat pendapatan pada masyarakat dibagi atas tiga hal yakni tinggi,menengah,dan juga bawah.

Pembangunan PLTA yang di lakukan tentu mempengaruhi tingkat pendapatan sebagian masyarakat yang bekerja, adapun indikator dampak PLTA yang mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat sebagai berikut :

(6)

1) Perubahan Mata Pencaharian

Mata pencaharian merupakan unsur utama manusia di dalam memperoleh penghasilan. Dengan adanya mata pencaharian maka masyarakat akan bekerja yang kemudian akan menerima balas jasa dari mata pencaharian yang di lakukan berupa tingkat pendapatan. Dampak perubahan mata pencaharian dari pembangunan PLTA tentu mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat.

Adapun sebelum adanya pembangunan PLTA mayoritas penduduk Kecamatan Batang Merangin bekerja sebagai petani atau berkebun,setelah adanya pembangunan PLTA masyarakat cenderung beralih profesi sebagai karyawan buruh pada pembangunan PLTA.

2) Kesempatan Kerja

Kesempatan kerja dapat diartikan para pekerja yang dapat bekerja maupun mampu di tampung oleh lapangan usaha yang membutuhkan tenaga pekerja.

Dalam hal suatu pembangunan yang di lakukan baik itu berskala besar maupun kecil jumlah tenaga kerja yang di butuhkan tentu berbeda pula. Pada pembangunan PLTA di Kerinci jumlah tenaga kerja yang di butuhkan cukup banyak mengingat luas area pembangunan yang di lakukan terbilang besar yang tersebar di berbagai area di wilayah aliran sungai Kecamatan Batang Merangin.

Semakin banyak jumlah kesempatan kerja yang di tawarkan maka semakin baik bagi masyarakat sekitar dalam menanggulangi masyalah perekonomian masyarakat sekitar.

Pembangunan PLTA telah memberikan kesempatan kerja pada masyarakat sekitar maupun tenaga kerja yang berasal dari luar. Dapat dilihat dalam gambar di atas proses penerimaan tenaga kerja baru. Peluang yang seperti ini tentu menjadi harapan baru dalam perubahan tingkat pendapatan masyarakat yang mendatangkan kesejahteraan. Sukirno (2012) berpendapat bahwa jumlah makanan, air bersih,tingkat pendidikan,fasilitas tempat tinggal yang layak,rumah sakit,suplai listrik,dan juga infrastruktur merupakan indikator dalam menentukan tingkat kesejahteraan. Sebagaimana hal tersebut di atur oleh Undang-Undang Dasar 1945 tentang Nomor 7 Tahun 1974. .

(7)

Dalam hal penyerapan tenaga kerja terdapat perbedaan tingkat pendapatan atau gaji antara tenaga kerja yang berasal dari wilayah sekitar dan juga tenaga kerja dari luar daerah. Adapun gaji para pekerja dari wilayah setempat sebesar Rp 3-5 juta/bulan, sedangkan tenaga kerja yang berasal dari luar daerah memperoleh pendapatan atau gaji sebesar Rp 10-25 juta. Hal ini juga didasari posisi dalam bekerja yang mana masyarakat dari wilayah setempat rata-rata bekerja sebagai admin perusahaan untuk jenjang pendidikan S1 dan sebagian besar masyarakat dengan pendidikan SMA sederajat ataupun tidak bersekolah sama sekali bekerja sebagai pekerja buruh. Tenaga kerja yang berasal dari luar daerah dalam pembangunan rata menjadi tenaga ahli yang mana hal ini di dasari dari jenjang pendidikan dan juga pengalam kerja yang berbeda dari masyarakat sekitar. Hal yang seperti tentu amat merugikan bagi masyarakat setempat dengan peluang yang begitu besar tentu di harapkan masyarakat sekitar dapat menjadi peran penting dalam pembangunan.

3) Lama Berkerja

Dengan gaji pokok rata-rata Rp 2.8 juta/bulan tentu dengan nominal tersebut terbilang rendah dengan masyarakat yang bekerja pada umumnya telah berkeluarga. Adapun solusi dalam permasalahan tersebut masyarakat cenderung berupaya meningkatkan pendapatan dengan memilih menambah jam kerja lebih dari jam kerja pokok. Jam kerja pada pembangunan PLTA dimulai pada jam 08.00 sampai dengan jam 16.00. Dengan mengambil kelebihan jam kerja masyarakat dapat menambah pendapatan cukup besar dengan nilai 1 jam kerja lembur sebesar Rp 23.000/jam. Rata-rata masyarakat mampu mengambil kelebihan jam kerja sebanyak 60 jam/bulan artinya ada pertambahan pendapatan sebesar Rp 1.3 juta/bulan dengan gaji pokok di awal Rp 2.8 juta/bulan.

Kemudian selain dampak tingkat pendapatan pekerja yang berasal dari masyarakat Kecamatan Batang Merangin, tidak di pungkiri bahwa terdapat dampak dari pembangunan terhadap masyarakat yang mempunyai usaha seperti toko kelontong atau warung dan juga rumah makan di sekitar area pembangunan PLTA. Hal tersebut di karenakan pada pembangunan PLTA di Kecamatan Batang Merangin berfokus ataupun pembangunan yang di lakukan sebagian besar

(8)

terdapat di Desa Batang Merangin Dusun Bedeng Lima. Usaha usaha kecil yang di miliki masyarakat di sekitar area pembangunan tentu sedikit tidaknya terpengaruh akibat dari adanya pembangunan PLTA ini di karenakan rata-rata masyarakat bertransaksi di area pembangunan seperti membeli kebutuhan yang mereka perlukan.

Pada pembangunan PLTA ini tentu menuai berbagai respon masyarakat baik itu respon negatif maupun positif dari pembangunan ini. Pada pembangunan PLTA yang terjadi di lakukan secara tentu terdapat berbagai hal kemungkinan terjadi seperti dampak akibat pembangunan PLTA terhadap lingkungan sekitar area pembangunan selain area Dusun Bedeng Lima khusus Kecamatan Batang Merangin itu sendiri di karenakan pembangunan tersebut memanfaatkan aliran sungai Kecamatan Batang Merangin. Berbagai dampak dari kemungkinan dari adanya pembanguan dapat berupa ketinggian air sungai Batang Merangin,tanah lonsor,dan kondisi jalan area sekitar proyek.

Menurut Olvit Oniwati Kayupa (2015) pembangunan PLTA yang di lakukan pada lingkungan masyarakat dapat memberikan dampak yang berupa dampak positif dan juga dampak negatif bagi masyarakat yaitu,akan ada pertumbuhan ekonomi maupun pergerakan perekonomian di lingkungan masyarakat hal ini di dasari penyerapan tenaga kerja yang di lakukan yang berarti ada penyerapan tenaga kerja terhadap masyarakat yang menganggur. Dampak negatif yang timbul juga harus menjadi fokus utama dalam menanggulangi keberhasilan dalam pembangunan,seperti perubahan pola hidup masyarakat yang berubah yang condong kepada dampak yang buruk.

Menurut Olvit Olniwati Kayupa (2015) suatu rancangan maupun program yang di terapkan untuk memperluas kepekaan masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya yakni kesejahteraan masyarakat akan lebih baik dari pada sebelumnya proses pembangunan. Dengan harapan masyarakat di sekitar lokasi tersebut agar dapat lebih mandiri kedepannya dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraannya yang lebih baik dengan tercapainya sasaran kapasitas output masyarakat yang harus dapat di capai melalui upaya penyerapan tenaga kerja ini, dengan tidak membedakan status melainkan keseteraan,kemampuan individu, dan

(9)

kerja sama antara pihakpihak terkait. Karena dalam pada proses pembangunan semua bekerja dalam suatu kelompok ataupun suatu divisi saling bekerja sama, saling membantu satu dengan yang lainnya guna menunjang keberhasilan program sehingga mendorong kegitan pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan kesempatan penyerapan tenaga kerja yang optimal yang mempengaruhi pendapatan yang lebih baik dari sebelumnya, dan dari segi pendidikan akan terjadi adanya perubahan pola pikir masyarakat sekitar yang kedepannya menganggap bahwa taraf pendidikan begitu penting karena apabila kebutuhan utama masyarakat telah terpenuhi maka timbul kebutuhan lainnya seperti tingkat pendidikan. Apabila hal di atas telah tercapai maka dapat mencerminkan keberhasilan suatu daerah itu sendiri. Proses pembangunan ini begitu di harapkan mampu memberikan dampak yang baik bagi masyarakat karena memberikan harapan baru bagi warga baik itu peningkatan perekonomian penduduk,pengurangan jumlah pengangguran,dan peningkatan taraf pendidikan yang dapat bersanding pula dengan kenaikan perkembangan dari ekonomi warga setempat.

Berdasarkan dari pengamatan awal yang di lakukan di temukan adanya fenomena-fenomena baru yang muncul akibat dari adanya pembangunan yang dilakukan seperti pada kondisi ekonomi, masyarakat yang sebelumnya bekerja sebagai petani berangsur beralih menjadi karyawan pada pembangunan PLTA, begitu juga pada alat transportasi yang di gunakan masyarakat yang rata-rata dulu kendaran motor roda dua baik itu digunakan sehari-hari maupun untuk bekerja ada perubahan seperti membeli kendaraan baru dan juga membeli alat kendaraan roda empat (4). Dalam hal kondisi sosial dengan adanya perubahan pada struktur dalam bekerja pada perusahaan tentu sedikitnya mempengaruhi interaksi sosial masyarakat baik itu interaksi baru sesama pekerja yang yang berasal dari daerah setempat dan juga tenaga kerja luar daerah pada pembangunan PLTA.

Dengan landasan latar belakang inilah yang membuat penulis tertarik akan melakukan penelitian terhadap “Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Batang Merangin Kabupaten Kerinci (Studi Kasus Pembangunan Pembangkit listrik Tenaga Air (PLTA) ”.

(10)

Referensi

Dokumen terkait

• Grup dapat melakukan penetapan yang tidak terbatalkan untuk investasi utang yang memenuhi kriteria biaya perolehan diamortisasi atau FTVOCI sebagai diukur

Panel LVMDP Adalah Panel yang berfungsi sebagai panel penerima daya/power dari transformer 20KV/380V dan mendistribusikan power tersebut lebih lanjut ke panel Low voltage

LAPAN memiliki 4 bidang kompetensi utama, yaitu sains antariksa dan atmosfer, penginderaan jauh, teknologi penerbangan dan antariksa, dan kebijakan penerbangan dan

Berbagi linkmelalui note dapat dilakukan oleh guru Anda, kawan-kawan Anda, maupun Anda sendiri. Apabila Anda ingin berdiskusi atau menanyakan sesuatu melalui

Pada Ruang Baca Pascasarjan perlu dilakukan pemebersihan debu baik pada koleksi yang sering dipakai pengguna maupun

Menurut teori hukum Perdata Internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai

Kesulitan investor untuk menentukan saham yang dapat di masukkan portofolio, diversifikasi, dan estimasi return risiko dapat diatasi dengan penyusunan portofolio

Admin ke SPK Penjurusan Siswa dapat melakukan proses seperti login dengan username dan password admin Proses input data siswa,input data guru, input data minat,