MUSRENBANG PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2016
BANDUNG, Kamis 14 April 2016
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
RENCANA KEBIJAKAN
TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA TA 2017
Disampaikan oleh:
Direktur Dana Perimbangan
ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO 2017
Cost Recovery (miliar USD) 13,9 11,0 12,0
PDB Nominal (Triliun Rp) 11.540 12.638 13.906
a. Pertumbuhan ekonomi (%, yoy)
4,79
5,3
5,3
5,5-5,9
b. Inflasi (%, yoy)
3,35
4,7
4,0
4,0±1
c. Tingkat bunga SPN 3 bulan (%)
5,97
5,5
6,0
5,5-6,5
d. Nilai tukar (Rp/US$)
13.392
13.900
13.400
13.700-14.200
e. Harga Minyak Mentah Indonesia (US$/barel)
49
50
35
35-45
f. Lifting Minyak (ribu barel per hari)
777,6
830
810
740-760
g. Lifting Gas (ribu barel setara minyak per hari)
1195,4
1.155
1.115
1050-1150
Indikator
2015
2016
2017
Realisasi
APBN
Proyeksi
RAPBNP
Proyeksi Pagu
Indikatif
4. a. Meningkatkan alokasi DAK melalui pengalihan dana dekonsentrasi dan tugas
pembantuan di K/L yang telah menjadi kewenangan daerah.
b. Memperkuat sistem pengalokasian DAK fisik berdasarkan kebutuhan daerah
(proposal based) dan sistem pelaporan monitoring dan evaluasi.
2. Meningkatkan besaran dan memperbaiki pembobotan dalam formulasi alokasi DAU
guna
meningkatkan pemerataan
kemampuan keuangan antar daerah.
5.
Meningkatkan alokasi anggaran Dana Insentif Daerah (DID) untuk
memberikan
penghargaan
kepada daerah yang berkinerja baik dalam pengelolaan keuangan,
perekonomian dan kesejahteraan daerah.
1. Meningkatkan Alokasi anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa dalam APBN 2017
mendekati
anggaran Kementerian/Lembaga (Belanja K/L).
KEBIJAKAN TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA TA 2017
3. Meningkatkan kualitas penganggaran dan penyaluran DBH dan penguatan DAU sebagai
instrumen equalization grant.
6.
Meningkatkan efisiensi dan efektivitas dana otsus Provinsi Papua, Papua Barat, dan
Provinsi Aceh, serta Dana Keistimewaan DIY.
7.
Meningkatkan alokasi
Dana Desa hingga 10% dari dan diluar transfer ke daerah sesuai
Road
KEBIJAKAN DANA TRANSFER UMUM KE DEPAN
(DANA ALOKASI UMUM)
1. Menerapkan formula DAU secara konsisten melalui pembobotan:
o Alokasi Dasar;
o Komponen Kebutuhan Fiskal; o Komponen Kapasitas Fiskal.
2. Menetapkan besaran pagu DAU Nasional sebesar 27,7% dari PDN Neto yang ditetapkan dalam APBN, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
3. Meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah (sebagai equalization grant) yang ditunjukkan oleh Indeks Williamson yang paling optimal, melalui pembatasan porsi alokasi dasar dan mengevaluasi bobot variabel kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal, dengan arah mengurangi ketimpangan fiskal antar daerah.
4. Menetapkan besaran DAU yang bersifat final (tidak mengalami perubahan), dalam hal terjadi perubahan APBN yang menyebabkan PDN Neto bertambah atau berkurang.
Jangka Pendek (TA 2017)
• Perbaikan Formula khususnya perhitungan Kebutuhan Fiskal dan Kapasitas Fiskal sesuai dengan variabel yang sudah ditentukan di UU Nomor 33 Tahun 2004.
• Perbaikan transparansi perhitungan DAU dengan mempertimbangkan bobot variabel dalam jangka menengah (tidak berubah tiap tahun).
• Masa transisi penerapan revisi UU 33/2004 (dengan menghilangkan AD) bobot atau peranan AD secara bertahap terus dikurangi sehingga jika perubahan UU 33/2004 disepakati untuk
menghilangkan AD maka formula baru akan lebih mudah dirancang tanpa AD.
Jangka Menengah
Revisi UU 33/2004 : formulasi DAU diubah dengan menghilangkan AD dan menerapkan konsep Celah Fiskal.
Jangka Panjang
• Formula DAU berdasarkan cluster, misalnya
berdasarkan kepadatan penduduk untuk Kab./Kota atau luas wilayah untuk Kabupaten dan jumlah penduduk untuk Kota.
• Kebutuhan dearah diukur dari kebutuhan riil daerah yang dikaitkan dengan kinerjanya dari estimasi menurut fungsi dan cakupan pelayanan.
• Pengukuran Kapasitas Fiskal menggunakan varibel potensi berdasarkan rasio agregat (PAD + DBH Pajak) dan DBH SDA dengan basis terkait (average effective taxes/revenue rate)
KEBIJAKAN DAU KE DEPAN KEBIJAKAN DAU TA 2016
DBH PAJAK
1. Mempercepat pengalokasian DBH Pajak melalui percepatan penyediaan data rencana dan prognosa penerimaan pajak
2. Penggunaan Biaya Pemungutan PBB sebesar 9% yang merupakan bagian daerah digunakan untuk mendanai kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah (block grant).
3. Membagi penerimaan PBB bagian pusat sebesar 10% secara merata kepada seluruh Kab./Kota
4
.
Mempercepat penyelesaian Kurang Bayar DBH SDA
5. Memperluas penggunaan DBH CHT yang semula berdasarkan UU No. 39/2007 tentang Cukai hanya dapat digunakan untuk mendanai:
• peningkatan kualitas bahan baku,
• pembinaan industri,
• pembinaan lingkungan sosial,
• sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan/atau
• pemberantasan barang kena cukai ilegal
Menjadi dapat juga digunakan untuk kegiatan yang lain sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah (block grant) dengan porsi 50%.
KEBIJAKAN DANA TRANSFER UMUM KE DEPAN
(DANA BAGI HASIL)
KEBIJAKAN DBH TA 2016
DBH SDA
1 Mempercepat penetapan alokasi DBH SDA melalui percepatan penyampaian data dari Kementerian Teknis
2. Menetapkan alokasi DBH SDA secara tepat jumlah sesuai dengan rencana penerimaan berdasarkan potensi daerah penghasil;
3. Menyempurnakan sistem penganggaran dan pelaksanaan atas PNBP yang dibagihasilkan ke daerah; 4. Mempercepat penyelesaian Kurang Bayar DBH SDA;
5. Mempertegas penerapan prinsip:
• By Origin; yaitu : (a) Daerah penghasil mendapatkan porsi lebih besar (b) Daerah lain (dalam provinsi yang bersangkutan) mendapatkan bagian pemerataan dengan porsi tertentu;
• Realisasi : penyaluran DBH SDA berdasarkan realisasi penerimaan tahun anggaran berjalan
KEBIJAKAN DBH TA 2017
1. Menambah cakupan DBH PBB termasuk PBB sektor lainnya (a.l. PBB Perikanan, Kabel bawah laut) diluar sektor pertambangan, perkebunan, dan perhutanan.
2. Melakukan pembagian DBH kepada daerah penghasil berdasarkan prinsip by origin.
3. Mempercepat penyelesaian kurang bayar/kurang salur dan lebih bayar/salur DBH kepada daerah.
KEBIJAKAN DANA TRANSFER KHUSUS KE DEPAN
(DANA ALOKASI KHUSUS)
KEBIJAKAN DAK TA 2017KEBIJAKAN DAK TA 2016
32
1. Mendukung implementasi Nawacita:
•Ketiga: membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka NKRI;
•Kelima: meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia;
•Keenam: meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing di pasar internasional;
•Ketujuh: kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor domestik.
2. Mendukung percepatan pembangunan infrastruktur publik daerah;
3. Mendukung pemenuhan anggaran pendidikan (20%) dan kesehatan (5%) dengan tetap menjaga lingkungan hidup dan kehutanan;
4. Mengakomodasi usulan kebutuhan dan prioritas daerah dalam mendukung pencapaian prioritas nasional (Proposal Based),
5. Memperkuat kebijakan afirmasi untuk mempercepat pembangunan daerah perbatasan, tertinggal, dan pesisir/kepulauan;
6. Mempercepat pengalihan anggaran belanja K/L (dekonsentrasi dan tugas pembantuan) yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK;
7. Merealokasi dana transfer lainnya (BOS, TPG, TAMSIL, dan P2D2) ke dalam DAK non fisik;
8. Menyesuaikan kewajiban penyediaan dana pendamping DAK sesuai dengan kemampuan fiskal daerah.
1. PENINGKATAN PAGU:
meningkatkan anggaran DAK, termasuk dari pengalihan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang sudah menjadi kewenangan daerah ke DAK.
2. FOKUS PADA PENCAPAIAN TARGET PRIORITAS NASIONAL:
mempertajam fokus DAK Fisik untuk bidang/sub bidang infrastruktur publik dan sarana/prasarana pelayanan dasar berdasarkan prioritas nasional dan kewilayahan, termasuk untuk daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan.
3. BERBASIS PROPOSAL
pengalokasian DAK Fisik berdasarkan usulan kebutuhan daerah, dengan mempertimbangkan prioritas nasional. 3. SINKRONISASI DAK DENGAN PENDANAAN LAINNYA:
Pengalokasian DAK disinergikan dan disinkronisasikan dengan pendanaan lainnya guna mendukung pencapaian prioritas nasional.
4. PERUBAHAN ALOKASI BERDASARKAN KEWENANGAN: Merubah alokasi DAK Fisik dan DAK Nonfisik sesuai dengan perubahan kewenangan yang diatur dalam UU No.23/2014 (pendidikan SMA/SMK, Kehutanan, Energi skala kecil).
Kriteria Penilaian
SINKRONISASI USULAN DAK DALAM PERENCANAAN
Pedoman Dijabar kan Pedoman Pedoman
KEBIJAKAN DANA INSENTIF DAERAH KE DEPAN
Anggaran :
• Pagu diperbesar agar besaran alokasi yang diterima masing-masing daerah lebih signifikan sebagai instrumen fiskal untuk menstimulasi peningkatan kinerja pengelolaan keuangan dan kesehatan fiskal daerah, kinerja pelayanan dasar, dan kinerja ekonomi serta kesejahteraan daerah.
• Tetap dialokasikan kepada Provinsi, Kabupaten, dan Kota berdasarkan kriteria utama dan
kriteria kinerja.
TA. 2016
TA. 2017
• Dialokasikan kepada Provinsi, Kabupaten, dan Kota berdasarkan kriteria utama dan
kriteria kinerja.
• Ditujukan untuk
memberikan
penghargaan (
reward
) kepada daerah
yang mempunyai kinerja baik dalam
Kesehatan Fiskal dan Pengelolaan
Keuangan daerah
(termasuk Pajak
Daerah
dan
Retribusi
Daerah)
Pelayanan Dasar Publik Perekonomian
dan
kesejahteraan
(termasuk
pengendalian tingkat inflasi)
.
•
Penggunaan
tidak terikat
pada fungsi
KEBIJAKAN DANA DESA (DD) KE DEPAN
•
Peningkatan alokasi Dana Desa sebesar
126% dari tahun TA. 2015 (alokasi Dana
Desa tahun 2015 sebesar Rp.20,77
miliar
dan
pada
tahun
2016
ditingkatkan menjadi sebesar Rp.46,98
miliar) diikuti dengan
peningkatan
akuntabilitas dan kinerja dana desa,
bagi yang berkinerja buruk akan
dilakukan
penundaan
penyaluran
dana desa.
•
Untuk mendorong Kab/Kota memenuhi
alokasi Dana Desa (ADD) sebesar 10%,
kepada
Kab/Kota
yang
tidak
mengalokasikan akan diberikan sanksi
berupa penundaan atau pemotongan
DAU/DBH nya.
KEBIJAKAN DANA DESA (DD) TA 2017 KEBIJAKAN DANA DESA (DD) TA 2016
10
•
Meningkatkan
alokasi
Dana
Desa
mencapai 10% dari dan di luar Dana
Transfer
ke Daerah sesuai amanat UU
No.6 Tahun 2014.
•
Sesuai
road map
dana desa 2015-2019,
Dana Desa TA.2017 direncanakan
meningkat sebesar 121%
(dari Rp46,98
triliun tahun 2016 menjadi Rp81,1
triliun), sehingga rata-rata Dana Desa
per desa mencapai lebih dari Rp1
miliar.
•
Untuk
mendorong
Kab/Kota
peningkatan kualitas penggunaan Dana
Desa, pelaksanaan monitoring dan
evaluasi Dana Desa akan diintensifkan.
•
Meningkatkan sinergi dan sinkronisasi
Perlu adanya penajaman, sinkronisasi, dan konsistensi dalam menetapkan program/kegiatan yang direncanakan dalam Musrenbang, dari Musrenbang Desa s.d. Musrenbang Nasional.
Untuk bidang-bidang yang menjadi prioritas nasional, perlu adanya LINK & MATCH antara program/kegiatan yang akan didanai oleh Pusat (anggaran K/L), Provinsi, kabupaten/kota dan Desa,agar dapat menghasilkan output yang terkoneksi dan memberikan manfaat yang optimal. contoh:
a. Sinkronisasi kegiatan pembangunan jalan nasional, jalan provinsi,jalan kab/kota dan jalan desa, dalam rangka menciptakan konektivitas transportasi nasional.
b. Sinkronisasi kegiatan pembangunan waduk, jaringan irigasi primer, irigasi sekunder, irigasi tersier dan embung desa, dalam rangka kedaulatan pangan.
SINKRONISASI PENDANAAN PROGRAM/KEGIATAN
APBN-APBD-APBDES
Kewenangan
Pusat
Kewenangan
Provinsi
Kewenangan
Kabupaten/kota
Kewenangan Desa
APBN
(RKA-KL)
APBD Prov
(RKA-SKPD)
APBD Kab/Kota
ALOKASI TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA AGREGAT
KABUPATEN/KOTA/PROVINSI SE JAWA BARAT 2011-2016
Sumber: DJPK 12
1. Dalam kurun waktu 5 tahun Total Dana Transfer ke Daerah se-Provinsi Jawa Barat meningkat signifikan, dari semula Rp33,4 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp64,4 triliun pada tahun 2016.
2. Proporsi DAU terhadap total TKDD masih yang terbesar dibandingkan jenis dana transfer yang lain, namun ditahun 2016 proporsinya menurun menjadi 51,3% jika dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 56,9%. 3. DAK Fisik tahun 2016 mengalami
peningkatan sebesar 39,4% jika dibanding tahun 2015, dari semula Rp3,07 triliun menjadi Rp4,3 triliun.
(dalam miliar Rp)
Tahun DBH PAJAK DBH SDA DAU DAK DANA TRANSFER
STRUKTUR BELANJA APBD PROVINSI/KAB/KOTA
DI PROV. JAWA BARAT
Proporsi terbesar belanja daerah adalah belanja pegawai, namun kecenderungannya menurun.
Proporsi belanja modal relatif kecil, dengan persentase di bawah 30%. Proporsi terbesar adalah pada tahun 2013 dengan proporsi sebesar 17,7% dari total anggaran belanja dalam APBD.
Jenis Belanja
(miliar Rupiah) 2011 2012 2013 2014 2015
14
REALISASI SILPA PEMDA DI PROV. JAWA BARAT
TAHUN 2009-2013
• SILPA di Kab/Kota di Jawa Barat cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
• SILPA di Provinsi Jawa Barat cenderung meningkat dari tahun ke tahun walapun mengalami penurunan pada tahun 2012.
TINGKAT AKUNTABILITAS DI PROVINSI JAWA BARAT
• Tingkat akuntabilitas Provinsi Jawa Barat dari tahun ke tahun semakin baik, dimana tahun 2013 jumlah daerah yang memperoleh WTP meningkat menjadi 6 daerah.
16
Penetapan APBD daerah se-Jawa Barat Tahun 2011-2015
Penyampaian APBD daerah se- Jawa Barat Tahun 2011-2015
S.d
Desember Januari Februari Maret April
2011 2 14 8 3 1
2012 6 14 8 0 0
2013 11 16 1 0 0
2014 16 9 3 0 0
2015 17 9 2 0 0
S.d
Desember Januari Februari Maret April
2011 0 10 8 9 1
2012 0 8 13 7 0
2013 0 16 7 5 0
2014 0 14 10 3 1
(dalam triliun rupiah)
POSTUR TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA
TA 2015 DAN TA 2016
18
POSTUR 2015 APBN
2015
APBNP
2015 POSTUR 2016
RAPBN 2016
APBN
2016 SELISIH
Transfer ke Daerah 637,9 643,8 Transfer ke Daerah 735,2 723,2 (12,0)
I. Dana Perimbangan 516,4 521,7 I. Dana Perimbangan 710,7 700,4 (10,3)
A. Dana Transfer Umum 495,5 491,5 (4,0)
A. Dana Bagi Hasil 127,6 110,0 1. Dana Bagi Hasil 107,2 106,1 (1,1)
1. Pajak 50,5 54,2 a. Pajak 51,7 51,5 (0,205)
2. Sumber Daya Alam 77,1 55,8 b. Sumber Daya Alam 55,5 54,6 (0,915)
B. Dana Alokasi Umum 352,8 352,8 2. Dana Alokasi Umum 388,2 385,4 (2,8)
B. Dana Transfer Khusus 215,2 208,9 (6,3)
C. Dana Alokasi Khusus 35,8 58,8 a. DAK Fisik 91,7 85,4 (6,3)
II. Dana Transfer Lainnya 104,4 104,4 b. DAK Non Fisik 123,4 123,5 -
II. Dana Insentif Daerah 5,0 5,0 -
III. Dana Otsus dan Dana
Keistimewaan DIY 19,4 17,7 (1,6)
III. Dana Otonomi Khusus 16,6 17,1 A. Dana Otonomi Khusus 18,9 17,2 (1,6)
IV. Dana Keistimewaan DIY 0,547 0,547 B. Dana Keistimewaan DIY 0,547 0,547 -
Dana Desa 9,0 20,7 Dana Desa 46,9 46,9 -
PENGALOKASIAN DANA DESA
PP 60/2014
PP 22/2015
• Jumlah Penduduk adalah Jumlah Penduduk Desa pada kabupaten/kota.
• Jumlah Penduduk Miskin adalah Jumlah Penduduk Miskin Desa pada kabupaten/kota • Luas Wilayah adalah Luas Wilayah Desa pada kabupaten/kota
PETA JUMLAH DESA PER PROVINSI
(Termasuk Pemekaran Jumlah Desa pada 2015)
NO BIDANG DAK SUBBIDANG DAK ALOKASI PEMDA
1 PENDIDIKAN
a. Pendidikan SD/SDLB Kabupaten/Kota b. Pendidikan SMP/SMPLB Kabupaten/Kota c. Pendidikan SMA Kabupaten/Kota d. Pendidikan SMK Kabupaten/Kota
2 KESEHATAN dan
KELUARGA BERENCANA
a. Pelayanan Kesehatan Dasar Kabupaten/Kota b. Pelayanan Kesehatan d. Keluarga Berancana Kabupaten/Kota
3
INFRASTRUKTUR PERUMAHAN,
PERMUKIMAN, AIR MINUM DAN SANITASI
a. Infrastruktur Perumahan dan
Pemukiman Kabupaten/Kota b. Infrastruktur Air Minum Kabupaten/Kota c. Infrastruktur Sanitasi Kabupaten/Kota
4 KEDAULATAN PANGAN
a. Infrastruktur Irigasi a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota
b. Pertanian a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota
Contoh Kegiatan yang Perlu Disinkronisasikan antara
yang didanai dari DAK dan Dana Desa
Bidang/Subbidang DAK
perikanan darat dan laut22 NO BIDANG DAK SUBBIDANG DAK ALOKASI PEMDA
7 KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN HIDUP
a. Lingkungan Hidup a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota
b. Kehutanan a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota
8 TRANSPORTASI
a. Infrastruktur Jalan a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota
b. Perhubungan a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota c. Transportasi Perdesaan Kabupaten/Kota
9
SARANA PERDAGANGAN, INDUSTRI KECIL &
MENENGAH, dan PARIWISATA
a. Sarana Perdagangan a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota
b. Industri Kecil dan Menengah Kabupaten/Kota
c. Pariwisata a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota
10 PRASARANA
PEMERINTAHAN DAERAH
a. Prasarana Pemda a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota
b. Prasarana Satpol PP a. Provinsi
b. Kabupaten/Kota
24
Rasio Pendapatan Asli Daerah per Total Pendapatan rata-rata Provinsi Jawa Barat menunjukkan tren meningkat pada tahun 2012 dan 2015. Namun demikian Rasio Pendapatan Asli Daerah per Total Pendapatan rata-rata Provinsi Jawa Barat lebih tinggi dibanding dengan rata-rata Provinsi .
Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja Daerah
Rasio Total Belanja Pegawai per Total Belanja rata-rata Provinsi Jawa Barat menunjukkan tren menurun pada tahun 2012 sampai tahun 2015. Rasio Total Belanja Pegawai per Total Belanja Provinsi Jawa Barat tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 masih lebih rendah dibanding dengan rasio rata-rata seluruh Provinsi di Indonesia.
Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan
RASIO PAD TERHADAP TOTAL PENDAPATAN DAN RASIO BELANJA
PEGAWAI TERHADAP TOTAL BELANJA DAERAH
Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Jawa Barat
•
IPM Provinsi Jawa Barat mulai
tahun 2010 hingga tahun
2013 meningkat namun
masih berada di bawah IPM
Nasional.
•
Secara wilayah, IPM Provinsi
Jawa Barat tahun 2013
26
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT dalam %)
Provinsi Jawa Barat
•
TPT Provinsi Jawa Barat mulai
tahun 2010 turun hingga tahun
2014. TPT Provinsi Jawa Barat
berada di atas rata-rata nasional
mulai tahun 2012-2014.
•
Secara wilayah, TPT Provinsi Jawa
Barat berada pada peringkat 3
dari 6 provinsi di wilayah Jawa
atau tertinggi ketiga setelah
Provinsi DKI Jakarta.
Tingkat Kemiskinan (Jumlah Penduduk Miskin dalam %)
Provinsi Jawa Barat
•
Tingkat kemiskinan Provinsi Jawa
Barat mulai tahun 2010 terus
menurun hingga tahun 2014, dan
berada di bawah tingkat
kemiskinan Nasional.
•
Secara wilayah, tingkat
kemiskinan Provinsi Sulsel berada
pada peringkat 4 dari 6 provinsi di
wilayah Jawa. Tertinggi adalah
Provinsi Jawa Timur.
28