• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal CARWAJI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal CARWAJI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

email: [email protected]

http://jurnal.ikipmumaumere.ac.id/index.php/carwaji

Analisis Struktur Batin Dalam Syair Adat

Poto Wua Ta’a

Bernadus Bura 1

, Robertus Adi S.Owon 2

, Ahmad Yani 3

, Rikardus Nasa 4

, Selestina Seles 5

Informasi artikel ABSTRAK Sejarah Artikel :

Diterima Revisi Dipublikasikan

Penelitian ini bertujuan untuk melestarikan kembali budaya adat poto wua ta’a di Desa Tanarawa menjadi abadi karena berakar pada budaya. Penelitian ini dilakukan di Desa Tanarawa, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini dari tiga orang tokoh adat. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan teknik rekam dan catat. Teknik analisis yang digunakan adalah tanskripsi, klasifikasi data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Hasil analisis pada syair adat poto wua ta’a antara lain, pertama tema dalam syair adat poto wua ta’a yaitu (1) tema perkenalan, (2) tema peminangan, (3) tema keluarga, (4) tema ketuhanan. Kedua nada dalam syair adat poto wua ta’a sebagai berikut (1) nada romantik yang mencakup (2) nada tanya, (3) nada menjawab, (4) nada mengajak, (5) nada mencekam, (6) nada intensi/ memohon, (7) nada memiliki. Ketiga rasa dalam syair adat poto wu’a ta’a yaitu (1) Rasa gembira, (2) Rasa sedih, (3) rasa malu. Keempat amanat dalam syair adat poto wua ta’a yaitu (1) Amanat yang berkaitan dengan menjaga kesucian, (2) Amanat yang berkaitan dengan Tugas dan tanggung jawab kepala keluarga, (3) Amanat jangan lupa akan do’a dan permohonan kepada Tuhan, (4) Peduli dan rukun damai dengan keluarga dan masyarakat.

Keywords : Struktur Batin Syair Adat Poto Wua Ta’a

How to Cite : ABSTRACT Bura, B et al. (2017).

Analisis Struktur Batin Dalam Syair Adat Poto Wua Ta’a. Jurnal CARWAJI, 2(1), pp. 22-33.

Analysis of Inner Structure in Customary Poetry Poto Wua Ta’a. This research aims to preserve the traditional culture of Poto Wua Ta'a in Tanarawa Village to be eternal because it is rooted in culture. This research was conducted in Tanarawa Village, Waiblama District, Sikka Regency. The method used is descriptive qualitative method. Data sources in this study were from three traditional leaders. This research uses interview method with record and note technique. The analysis technique used is the description, classification of data, analyzing data, and making conclusions. The results of the analysis on the traditional poem Poto Wua Ta'a, among others, the first theme in the traditional poem Poto Wua Ta'a, namely (1) the theme of introduction, (2) the theme of proposal, (3) the theme of family, (4) the theme of divinity. The two tones in the traditional poem poto wua ta'a are as follows (1) romantic tone which includes (2) question tone, (3) answer tone, (4) invitation tone, (5) tense tone, (6) intention / request tone, (7) the tone has. The three flavors in the traditional poem Poto Wu'a Ta'a are (1) feeling happy, (2) feeling sad, (3) shame. The four mandates in the traditional poem Poto Wua Ta'a, namely (1) Mandate relating to maintaining purity, (2) Mandate relating to the duties and responsibilities of the head of the family, (3) Mandate do not forget prayer and petition to God, (4) Caring and getting along in peace with family and community.

Alamat korespondensi:

IKIP Muhammadiyah Maumere, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Maumere Indonesia 

E-mail:

[email protected];

Copyright © 2017 IKIP Muhammadiyah Maumere PENDAHULUAN

Implikasi lain dari globalisasi adalah tergerusnya bahasa, seni, serta adat-istiadat yang selama ini dijaga dan dilestarikan oleh nenek moyang, akan hilang dan tidak dikenali

lagi oleh para pemuda yang hidup di zaman sekarang. Padahal sastra lisan adat istiadat justru memiliki nilai-nilai karakter yang mampu menjadi pedoman dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

(2)

Jurnal CARWAJI|23

Struktur batin merupakan amanat atau pesan yang disampaikan penyair kepada pembaca, dan merupakan pembanding dengan kesimpulan tentang nilai atau kegunaan puisi bagi pembaca (Kinayati Djojosuroto, 2005: 23- 27). Struktur batin terdiri dari beberapa

komponen, yaitu tema, nada (tone), rasa

(feeling), amanat.

J. Waluyo (2003: 7.15) memberikan kategori tema, yaitu tema: Perkenalan, Cinta

kasih pria dan wanita (peminangan),

Kemanusiaan (keluarga), Tema ketuhanan. Adapun nada dalam syair, memberikan contoh seperti berikut: Nada romantik (nada bertanya, nada menjawab, nada mengajak), Nada mencekam, Nada intensi atau permohonan,

Nada memiliki (J. Waluyo, 2003:7.19).

Selanjutnya, ada dua istilah yang oleh para sastrawan sering kali disamakan dengan rasa,

yaitu feeling dan emosi. Feeling adalah sikap

sang penyair terhadap pokok permasalahan atau objeknya (Henry Guntur; 1993: 11).

Amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun dan berada dibalik tema yang

diungkapkan. Amanat yang hendak

disampaikan oleh penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang diberikan (Waluyo, 1991:130).

Syair adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyair berdasarkan pengalaman jiwa dan bersifat imajinatif (Waluyo, 1987: 25). Menurut Bura (2017: 146) dua moan tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 2 larik dalam satu bait, terbentuk dari frase berstruktur beku, kata pertama pada setiap frase menjadi larik pertama, kata kedua menjadi larik kedua jumlah kata setiap larik 3 sampai 6 kata.

Dari beberapa teori dapat disimpulkan

bahwa syair

adalah ucapan atau susunan kata

yang fasih

yang terikat oleh rima

(pengulangan bunyi) dan sematra (unsur

irama yang berpola tetap) dan biasanya

mengungkapkan imajinasi yang indah dan

berkesan memikat.

Poto Wua Ta’a atau pelamaran merupakan tahapan dimana keluarga pria melakukan penyerahan wua ta’a (sirih pinang) dengan melewati tahap awal yang disebut dengan logu ata ewok temo atau masuk minta dimana keluarga laki-laki mengutus beberapa orang untuk bertemu sang kekasih yang akan dilamar dan mempertanyakan kesediaan dari perempuan dan keluarganya agar anak laki-laki

mereka masuk menjadi anggota keluarga perempuan yang akan dilamarnya.

Berdasarkan hasil wawancara antara penulis dengan responden, penulis mendapat informasi mengenai syair adat poto wua ta’a bahwa masyarakat Desa Tanarawa mengenal

sistem perkawinan matriarkat. Matriarkat

menurut Artinya, laki-laki yang mau

membangun keluarga baru harus pergi

meninggalkan kedua orang tuanya dan bersatu dengan keluarga perempuan. Karena itu inisiatif untuk membangun sebuah keluarga baru biasanya berasal dari pihak laki-laki. Seorang laki-laki dewasa (tibo lamen) menyampaikan keinginan akan seorang gadis kepada delegasi (wa’i wa klasa dola).

METODE

Penelitian ini dilakukan di Desa

Tanarawa, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka. Metode yang digunakan adalah metode

deskriptif kualitatif yang berusaha

menggambarkan dan melukiskan data yang ada dan kemudian menarik kesimpulan secara umum berdasarkan masalah yang ditetapkan. Sumber data dalam penelitian ini syair lisan poto wua ta’a dengan informan Bapak Harleti Duli (61 tahun), Bapak Donatus Juang (54 tahun), dan Bapak Henderikus Hewer (54 tahun). Ketiganya merupakan ketua adat pada suku di Desa Tanarawa.

Teknik pengambilan data dengan

menggunakan metode wawancara, rekam, dan catat, dan observasi. Teknik analisis data yang

digunakan untuk mengolah data dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Traskripsi 2) klasifikasi data 3) menganalisis

data yang sudah diklasifikasikan 4)

Membuat

kesimpulan dari data yang sudah dianalisis

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tema dalam Syair Adat Poto Wua Ta’a

Penelitian yang telah dilakukan terhadap syair adat poto wua ta’a, dan untuk memperoleh pemahaman secara tuntas hasil penelitian, pembahasan berikut ini akan mengaitkan hasil penelitian dengan teori yang ada. Syair adat poto wua ta’a dijiwai oleh beberapa tema tradisional yang merupakan bukti bahwa antara perempuan dan laki-laki sudah sah menjadi calon suami dan istri atau bertunangan. Legitimasi dari pertunangan ini melalui sebuah acara yang disebut dengan acara poto wua ta’a.

(3)

24| Jurnal CARWAJI

Dalam sastra tulis tema sering

dimanifestasikan secara eksplisit. Dalam sastra lisan, tema justru sering dimanifestasikan secara implisit atau tersirat. Demikian pula dalam syair adat poto wua ta’a tema dinyatakan secara implisit sehingga tema yang dapat diambil dalam syair adat poto wua ta’a sebagai berikut. (1) tema perkenalan, (2) tema peminangan, (3) tema keluarga, (4) tema doa.

1. Tema perkenalan

Data syair adat poto wua ta’a dengan tema perkenalan yang digunakan sebagai tuturan dalam perkenalan sebagai berikut:

1) Werun hai lau e

Watan hai reta e

Orang baru siapa disana

Orang baru siapa disitu

2) Te’a to’o kow

Dagang

balik

ko apa

Jual emas atau bukan

Berdagang emas

atau bukan

3)

Ami eo tea to’o

Ami eo dagang

balik

Kami tidak

menjual emas

Kami tidak berdagang emas 4)

Ami poi pra wai

Ami poi toso me

Kami mau

melamar istri

Kami mau meminang

5)

Ami poi sorong

poron

Ami poi kadak

uter

Kami hanya

andalkan parang

Kami hanya

bermodal busur

6)

Emai ea wua

Ebawo musung

bako

Datang makan siri

pinang

Mari isap rokok

7)

Ea wua mera

wiwir

Musung bako gahu ahang

Makan sirih pinang merahkan bibir

Rokok hangatkan

rahang

Tuturan Syair adat di atas memberikan

gambaran bahwa ada pertanda anjing

menggonggong babi mendengkur sehingga keluarga pihak perempuan kaget dan bertanya seperti pada data (1) “Werun hai lau e/ Watan hai reta e” artinya orang baru siapa di sana, orang baru siapa di situ menggambarkan bahwa pihak perempuan menanyakan siapa gerangan orang yang datang dari kejauhan sana.

Dalam tuturan syair adat poto wua ta’a juga terjadi komunikasi timbal balik dimana pihak laki-laki mulai menjawab pertanyaan

yang dilemparkan yaitu terdapat pada data (3) “Ami eo te’a to’o /Ami eo dagang balik” yang artinya kami tidak menjual, kami tidak berdagang. Tuturan pada syair ini menjelaskan kepada pihak yang bertanya bahwa kami tidak

menjual atau pun berdagang. Namun

kedatangan kami bermaksud untuk melamar istri dan ingin dikarunia anak dari seorang perempuan.

Tema Peminangan

Pinang dalam (KBBI, 2006:480)

tumbuhan yang pohonnya tidak bercabang,

daunnya berumbai-rumbai, buahnya dipakai

untuk teman makan sirih. Pinang jika

ditambah imbuhan awalan

Pe

- dan

akhiran-an

maka akan mendapat sengau

M

maka

mata pinang akan menjadi peminangan.

Di bawah ini penulis tampilkan data syair adat poto wua ta’a yang berkaitan dengan tema peminangan sebagai berikut:

8. Wua mai poto lepo

Ta’a mai dokang

woga

Pinang datang masuk rumah

Sirih datang masuk ke rumah

9. Poto wali suku wutun

Dokang wali rabi ona

Serahkan di dalam kamar

Serahkan di sudut

kamar

10. Mai litin beli

lepo

Bawo ler beli

woga

Datang

dan

tinggallah di rumah

Jadi tumpuan untuk keluarga

11. Lepo a’un naha

giit

Woga a’un naha

mangan

Bangun

rumah

tangga kuat

Jadilah

rumah

tangga yang kokoh

12. lepo au’n giit

dadin

Woga

a’un

mangan totan

Rumah

tanggah

yang kuat

Rumah

tanggah

kokoh

sepanjang

masa

13. Wua mai mera

wiwir

Bako mai gahu

ahang

Makan Sirih pinang

merahkan bibir

Rokok

hangatkan

rahang

14. Dadi du’a nora

lai

Dadi bihan nora

lalan

Jadilah suami dan

istri

Sehingga

menuju

(4)

Jurnal CARWAJI|25

Syair pada data (8) “Wua mai poto lepo /Ta’a mai dokang woga” artinya bahwa pinang datang masuk rumah dan sirih datang masuk ke rumah. Menjelaskan bahwa wua mai (pinang datang) dan ta’a mai (sirih datang) itu sebenarnya adalah utusan dari pihak laki-laki. Utusan itu terdiri dari perempuan dan laki-laki, dimana perempuan disimbolkan dengan wua (pinang) dan laki-laki disimbolkan dengan ta’a (sirih) dan utusannya datang membawa serta sirih pinang. Wua ta’a (sirih pinang) juga sebagai alat resmi yang sangat besar nilainya di mata masyarakat.

Selanjutnya masih tersirat tema

peminangan yang digambarkan pada data (9) “Poto wali suku wutun /Dokang wali rabi ona” yang artinya bahwa serahkan ke dalam kamar dan menyerahkan disudut kamar utama. Sirih dan pinang yang di bawa oleh utusan sang lelaki diserah terimakan, dan pihak perempuan menerima dan meletekan di kamar utama. Peletakan di sudut kamar utama ini sebagai simbol lamaran diterima baik oleh keluarga perempuan.

Tema keluarga

Keluarga mempunyai peran utama dalam pembentukan sifat dan karakter anak. Peran keluarga memberikan nasihat terdapat dalam syair adat poto wua ta’a sebagai berikut:

15.

Lopa gou ata

roun

Lopa bata ata

ubun

Jangan memetik daun terlarang

jangan memetik pucuk terlarang

16. Odi tilu riwun

rena

Odi

mata

ngasung ita

Nanti banyak orang dengar

Nanti banyak orang lihat

17. Odi ata to ho’o

Odi

ata

hiri

kengong

nanti orang tertawain nanti orang menghina

Syair pada data (15) “Lopa gou ata roun / Lopa bata ata ubun” artinya jangan petik daun terlarang dan jangan petik pucuk terlindung. Syair tersebut menjelaskan bahwa roun dan ubun atau daun dan pucuk tersebut adalah sombol dari wanita lain atau laki-laki lain atau bisa juga merupakan harta milik orang lain. Artinya dalam hidup berumah tanggah harus saling jujur antara suami dan istri. Jangan pernah mengambil atau merampas barang milik orang lain. Seperti sebagai istri harus setia pada

suami dan jangan melirik suami orang, dan sebaliknya sebagai suami tidak boleh melirik istri orang, karena hal tersebut merupakan perbuatan tidak terpuji. Sehingg suami maupun istri harus menjauhi pantangan atau janji adat sehingga tidak merusak rumah tangga.

Jika larangan atau pantangan pada data (15) dilanggar akan muncul akibat pada data (16) “Odi tilu riwun rena / Odi mata ngasung ita”. Artinya nanti seribu telinga mendengar dan seribu mata melihat. Syair ini memberikan gambaran bahwa perbuatan yang salah atau masalah harus dibicarakan baik-baik oleh suami dan istri sehingga tidak didengar atau dilihat banyak orang. Berikut masih tersirat akibat larangan dan pantangan apabila dilangagar maka berakibat pada data (17) “Odi ata to ho’ot / Odi ata hiri kengong”artinya nanti orang tertawa sinis dan nanti orang menghina. Artinya bahwa suatu masalah apapun jika tidak dibicarakan baik-baik akan menimbulkan gosip juga tertawa sinis dari banyak orang.

Tema Ketuhanan

Keluh kesah atau curahan hati seseorang dengan Tuhan agar sesuatu yang diharapkan akan membuahkan hasil yang manis. Data syair poto wua ta’a yang dapat menggambarkan tema do’a sebagai berikut.

18

. Maring blupur

hutu

Herong

gete

lima

Mohom

kepada

leluhur

Juga mohon kepada

Yang Kuasa

19.

Gliki tilun mala

diin

Kolok

mata

mala prina

Pasanglah

telinga

dan dengarlah

Bukalah mata dan

lihatlah

20.

Ete a’u neni not

Ete a’u pra

prawi

Saat

ini

saya

memohon

Saat

ini

saya

berpasrah

21.

U’a uma naha

ihin

Kare tua naha

dolo

Kerja

kebun

mendapat hasil

Irislah

moke

dapatkan

air

kehidupan

22.

Ma bua buri

ganu wetan

Gae teto ganu

atong

Pergi

beranak

cuculah

bagaikan

jewawut

Gendong bagaikan

sayur bayam

Syair pada data (20) “Ete a’u neni not / Ete a’u pra prawi” artinya saat ini saya

(5)

26| Jurnal CARWAJI

memohon, saat ini saya berpasra. Syair ini menggambarkan bahwa pada saat acara poto wua ta’a keluarga juga tidak lupa memohon do’a kepada Sang Pencipta yaitu Tuhan. Pada data (18) “Maring blupur hutu / Herong gete lima” artinya bahwa mohon kepada leluhur juga kepada Yang Kuasa. Syair ini menggambarkan permohonan dari seseorang untuk kehidupan suami istri di kemudian hari. Agar usaha dan karya mereka selalu berhasil berkat berkat campur tangan Tuhan. Syair di atas juga tidak terlepas dari data (19) “Gliki tilun mala di’in / Kolok mata mala prina” artinya bahwa pasang

telinga dan bukalah mata dengarlah

permohonan kami. Syair ini menggambarkan seseorang yang memohon agar do’a dan

permohonannya selalu didengar dan

dikabulkan. Permohonan tersebut agar setiap usaha seperti pada data (21) “U’a uma naha ihin / Kare tua naha dolo”artinya kerja kebun mendapat hasil, iris moke mendapatkan air kehidupan. Syair diatas merupakan permohonan agar diberikan hasil pertanian yang baik. Permohonan ini juga terdapat pada data (22) “Ma bua buri ganu wetan / Gae teto ganu atong” artinyaPergi beranak cuculah bagaikan jewawut dan gendong bagaikan sayur bayam. Syair ini terserit permohonan somoga suami dan istri diberkahi anak cucu yang banyak dan merawatnya dengan baik agar menjadi anak yang pintar dan taat kepada kedua orang tua dan keluarganya.

Nada Dalam Syair Adat

Poto Wua Ta’a

Hasil penelitian ditemukan nada yang terdapat dalam syair adat poto wua ta’a adalah (1) nada romantik, nada bertanya, nada

menjawab, nada mengajak) (2) nada

melankonik, (3) nada intensi/memohon, (3) nada memiliki.

Nada romantik

Dalam kaitan dengan poto wua ta’a, bertanya merupakan permintaan keterangan

atau informasi yang berkaitan maksud

kedatangan orang baru. Berikut tampilan bukti syair yang termasuk nada bertanya.

1.

Werun hai lau e

Watan hai reta e

Orang baru siapa di

sana

Orang baru siapa di situ

2.

Te’a to’o kow

apa

Dagang balik ko

apa

Jual emas atau apa

Berdagang

emas

atau bukan

Syair pada data (1) “Werun hai lau e / Watan hai reta e” artinya orang baru siapa disana, orang baru siapa disitu. Syair ini menggambarkan bahwa rasa ingin tahu yang tinggi dari seorang perempuan saat melihat orang baru dari kejauhan sehingga dengan suasana hati yang tenang mempunyai rasa ingin tahu lalu melemparkan pertanyaan untuk mengetahui siapa sebenarnya yang datang dari kejauhan. Syair pada data (2) “Te’a to’o kow apa / Dagang balik kow apa” artinya jual emas atau apa, berdagang emas atau apa. Syair ini masi tersirat keingintahuan yang begitu luar biasa sehingga perempuan tersebut masih terus melemparkan pertanyaan lanjutan untuk orang baru yang belum dikenal.

Nada menjawab

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KBBI, 2006:267) merupakan memberi

jawaban, membalas atau sahutan dengan tujuan memberikan informasi, jawaban, balasan, (atas pertanyaan, kritikan) yang diberikan.

3. Ami eo tea to’o Ami eo dagang balik

Kami tidak menjual emas

Kami tidak berdagang emas

4. Ami poi pra wai Ami poi toso me

Kami mau melamar istri

Kami mau meminang

5.

Ami poi sorong

poron

Ami poi kadak

uter

Kami

hanya

andalkan parang

Kami

hanya

bermodal

busur

panah

Syair pada data (3) “Ami eo te’a to’o / Ami eo dagang balik” yang artinya kami tidak menjual, kami tidak berdagang. Tuturan pada syair ini menjelaskan pihak laki yang baru

datang memberikan informasi mengenai

maksud kehadiran mereka, kepada pihak yang bertanya bahwa kami tidak menjual atau pun berdagang. Pada data (4) “Ami poi pr’a wai / Ami poi toso me artinya mau mencari istri atau mau memiliki seorang perempuan dan ingin agar dikarunia anak. Syair tersebut masih menggambarkan kepedulian mereka terhadap pertanyaan yang dilemparkan, sehingga mereka

terus menyampaikan maksud kedatangan

mereka bukan berdagang melainkan melamar gadis. Syair (5) “Ami poi sorong poron/Ami poi kadak uter” artinya kami hanya andalkan parang, kami hanya bermodal busur. Syair tersebut masih menggambarkan bahwa pihak

(6)

Jurnal CARWAJI|27

laki-laki dengan kejujurannya terus meceritakan maksud kehadiran mereka untuk melamar istri, bukan dengan harta yang mewah yang menopang mereka untuk berkeluarga melaikan, hanya mengandalkan parang dan panah untuk menghidupi keluarga kelak.

Nada Mengajak

Mengajak menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia (KBBI, 2006:19) merupakan

meminta,menyurug, mempersilahkan agar turut mengambil bagian atau menyatakan ajakan seseorang kepada orang yang diajak bicara untuk bersama-sama melakukan sesuatu.

6.

Emai ea wua

ebawo musung

bako

Datang makan sirih

pinang

Mari isap rokok

7.

Ea

wua

mera

wiwir

Musung

bako

gahu ahang

Makan sirih pinang

merahkan bibir

Isap

rokok

hangatkan rahang

Syair pada data (6) “Emai ea wua / Ebawo musung bako” artinya datang makan sirih pinang dan isap rokok hangatkan rahang. Syair ini menggambarkan suasana hati tenang dan gembira saat mengenal seseorang yang tergambar dalam jiwa penyair. Mengenal seseorang merupakan satu kebanggaan besar sehingga tersirat dalam syair dimana pihak perempuan dengan senang hati mengajaknya orang baru untuk menyempatkan diri singgah kerumah. Syair pada data (7) “Ea wua mera wiwir/musung bako gahu ahang” artinya makan sirih pinang merahkan bibir, isap rokok

hangatkan rahang. Pihak perempuan

mengajaknya untuk bertandang ke rumah dan disuguhan sirih pinang serta rokok hanyalah sebagai sarana atau alat komunikasi untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai maksud kedatanga laki-laki baru itu.

Nada mencekam

Mencekam menurut (KBBI, 2006:130) merupakan perasaan tertekan, perasaan terjepit atau murung yang menggambarkan suasana hati yang haru. Tekanan suara lebih rendah dan perlahan serta sesuai untuk syair yang bertemakan kehampaan dan kerinduan. Berikut ini yang termasuk nada mencekam adalah sebagai berikut

16.

Lopa gou ata

roun

Lopa bata ata

ubun

Lopa bata ata ubun

Jangan memetik

pucuk terlindung

25. Ma bua buri ganu wetan

Gae teto ganu

atong

Pergi beranak cuculah bagaikan jewawut

Gendong bagaikan

sayuran 26. Bano lopa toen

toger

Rema lopa

borong korok

Jalan jangan lupa

untuk kembali

Pergi jangan lupa

pamit 27.

Mai beli

wa’un-wa’un

Bawo beli lu’at-lu’at

Datanglah terus

malam-malam

Kemarilah terus tiap pagialam-malam 28.

Uhe mu’e du’e

die

Dan

mu’e

hading nawang

Pintu selalu terbuka Tangga disini menanti

29.

Bui ba’a men

buan

Nawang ba’a pun lu’ur

Menuggu anak

kandung

Menanti anak mantu Syair pada data (16) “Lopa gou ata roun /Lopa bata ata ubun” artinya jangan memetik

daun terlarang, jangan memetik pucuk

terlindung. Menjelaskan bahwa roun (daun) dan Syair ini tersirat keharuan yang tergambar dalam diri laki-laki dan perempuan yang tertekan telah melepas masamuda yang selalu bebas menuju kehidupan baru yang harus menjadikan pribadi yang lebih dewasa dan sudah diikat oleh adat, sehingga mereka

mempunyai kewajiban untuk memelihara

dengan menjauhkan pantangan dan larangan seperti menjaga kesucuian pertunangan mereka. Syair pada data (25) “Ma bua buri ganu wetan / Gae teto ganu atong” artinya pergi beranak

cuculah bagaikan jewawut, gendonglah

bagaikan sayuran. Syair ini menggambarkan bahwa keharuan dan kerinduan dari orang tua kedua belah pihak agar anak mereka dapat diberikan keturunan. Hal ini juga menjadi suatu beban dan tanggung jawan yang tergambar dalam diri laki-laki dan perempuan yang memikirkan harapan orang tua mereka suatu saat mereka bisa dikaruniai keturunan.

Pada data (26) “Bano lopa toen toger /Rema lopa borong korok”jalan jangan lupa untuk kembali, pergi jangan lupa pamit. Syair ini tersirat keharuan, kegelisaan seorang laki-laki yang mengingat masa mudanya jika keluar dari rumah sesuka hatinya, Namun sekarang orang tua menyampaikan bahwa sebagai seorang suami punya tanggung jawab yang besar sehingga keluar rumah harus melalui ijin dengan istri dan keluar rumah jangan lupa

(7)

28| Jurnal CARWAJI

untuk berpamitan. Hal itulah yang membuat laki-laki terharu mengingat masa mudanya yang selalu diberikan kebebasan, namun hidup setelah berkeluarga dirinya merasa terikat oleh adat. Syair pada data (27) “Mai beli wa’un-wa’un /Bawo beli lu’at-lu’at” maksudnya datanglah terus malam-malam dan kemarilah terus tiap pagi.

Syair berikut juga masih tersirat

kepiluhan dan kerinduan akan masa muda dalam diri seorang laki-laki yang sudah tidak punya kebebasan lagi dan sudah diikat adat sehingga jika bepergian harus cepat kembali. Pada data (28) “Uhe mu’e du’e die /Dan mu’e hading nawang” artinya pintu selalu terbuka, tangga disini menanti. Kesedihan orang tua akan kehadiran anaknya, dan orang tua menyampaikan bahwa pintu selalu terbuka lebar dan tangga rumah selalu menanti kehadiran anak mereka dan anak istrinya kelak. Syair pada data (29) “Bui ba’a men buan/ Nawang ba’a pun lu’ur artinya menuggu anak kandung dan menanti anak mantu. Syair ini masih menceritakan kasih sayang orang tua yang akhirnya merasakan kehilangan karena anak mereka pergi bersatu dengan keluarga perempuan dan membangun keluarga baru, bahwa pintu dan tangga rumah selalu menanti kehadiran anak kandungnya dan anak mantu mereka suatu saat nanti.

Nada Intensi/Memohon

Intensi/Memohon menurut (KBBI, 2006: 257) merupakan makna suatu ungkapan dibedakan dengan ekstensi keinginan atau permohonan khusus yang diajukan umat dalam upacara misa. Suatu permohonan seseorang

supaya mendapatkan sesuatu semoga

permintaan dikabulkan.

21.

Maring blupur

hutu

Herong

gete

lima

Mohon kepada leluhur Beritau kepada Yang Kuasa

22.

gliki tilun mala

diin

kolok

mata

mala prina

Pasanglah

telinga

dan dengarlah

Bukalah mata dan

lihatlah

23.

Ete a’u n

Ete a’u

pra prawi eni

not

Saat

ini

saya

memohon

Saat

ini

saya

berpasra

24. U’a uma naha ihin

Kerja

kebun

mendapat hasil

Kare tua naha dolo

Irislah

moke

dapatkan air kehidup

25. Ma bua buri ganu wetan

Gae teto ganu atong

Pergi

beranak

cuculah

bagaikan

jewawut

Gendong bagaikan

sayur bayam

Syair Pada data (23) “Ete a’u neni not / Ete a’u pra prawi” artinya Ssaat ini saya memoho, saat ini saya berpasrah. Syair ini menggambarkan bahwa pada saat acara poto wua ta’a keluarga juga tidak lupa memohon doa agar setiap usaha dan karya mereka berhasil berkat campur tangan Tuhan. Pada data (21) “Maring blupur hutu / Herong gete lima” artinya bahwa mohon kepada leluhur juga

kepada Tuhan Yang Kuasa. Syair ini

menggambarkan permohonan dari seseorang untuk kehidupan suami istri di kemudian hari. Agar usaha dan karya mereka selalu berhasil berkat do’a leluhur dan Sang Ilahi. Syair di atas juga tidak terlepas dari data (22) “Gliki tilun mala di’in/Kolok mata mala prina” artinya bahwa pasang telinga dan bukalah mata dengarlah permohonan dan do’a kami. Syair ini menggambarkan seseorang yang memohon agar do’a dan permohonannya selalu didengar dan dikabulkan.

Juga syair pada data (24) “U’a uma naha ihin / Kare tua naha dolo”artinya kerja kebun mendapat hasil, iris moke mendapatkan air kehidupan. Syair ini tersirat do’a dan permohonan agar anak mereka kelak kerja kebun dan iris moke dapat diberikan hasil yang berlimpah. Syair di atas juga masih tersirat permonon pada data (25) “Ma bua buri ganu wetan / Gae teto ganu atong” artinya pergi beranak cuculah bagai jewawut dan gendong

bagaikan sayur bayam. Syair di atas

menggambarkan bahwa permohonan keluarga agar pasangan suami dan istri diberkahi anak. Juga anak yang diberkahi dapat dipelihara dengan baik dan mejadi anak yang berguna bagi kedua orang tuanya dan keluarga.

Nada memiliki

Syair yang termasuk nada memiliki sebagai berikut.

11.

Mai litin beli

lepo

Bawo ler beli

woga

Datang dan tinggallah di rumah

Jadi tumpuan untuk keluarga

(8)

Jurnal CARWAJI|29

Woga

a’un

naha mangan

tangga kuat

Jadilah rumah tangga yang kokoh

13. Lepo au’n giit dadin

Woga

a’un

mangan totan

Rumah

tanggah

yang kuat

Rumah

tanggah

kokoh

sepanjang

masa

Syair pada data (11) “Mai litin beli lepo / Bawo ler beli woga” artinya datang dan tinggallah di rumah, jadi tumpuan untuk keluarga. Syair ini masih menggambarkan rasa kegembiraan yang sangat mendalam dalam diri keluarga pihak perempuan yang seakan-akan merasa memiliki anak laki-laki yang masuk menjadi anggota keluarga mereka sehingga orang tua perempuan langsung menyambut baik kehadiran keluarga laki-laki dan langsung menyampaikan harapan mereka, agar suatu saat menjadi tumpuan harapan untuk keluarga. Syair pada data (12) “Lepo aun naha giit / Woga a’un naha mangan” artinya bangun rumah tangga kuat, jadilah rumah tangga yang kokoh. Syair ini menggambarkan kebahagiaan dalam diri keluarga perempuan yang seakan-akan merasa seperti anaknya sendiri. Sehingga keluarga perempuan langsung berpesan kepada laki-laki tersebut bahwa semoga dengan kehadirannya menjadikan keluarga perempuan kuat dan kokoh serta menjadikan rumah tangga yang harmonis. Syair pada data (13) “Lepo a’un giit dadin / Woga a’un mangan totan” artinya rumah tanggah yang kuat, rumah tanggah

kokoh sepanjang masa. Syair ini

menggambarkan kebahagiaan yang luar biasa dari keluarga perempuan yang seakan-akan benar-benar memiliki sehingga mereka tetap

berpesan semoga kedatangannya juga

menjadikan rumah tanggah yang kuat dan jaya sepanjang masa.

Rasa Dalam Syair Adat Poto Wua Ta’a

Berdasarkan penelitian yang telah

dilakukan terhadap syair adat poto wua ta’a, maka secara lebih jelas dapat ditentukan rasa yang terdapat dalam syair adat poto wua ta’a sebagai berikut. (a) Rasa senang, (b) Rasa ibah/ empati, (c) Rasa malu.

Rasa senang

Rasa senang merupakan perasaan

terbebas dari ketegangan. Biasanya kesenangan

itu disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba-tiba (surprise) dan kesenangan biasanya bersifat sosial, yaitu melibatkan orang-orang lain sekitar kita senang. Dibawah ini penulis tampilkan syair adat poto wua ta’a yang termasuk dalam pengambilan rasa sebagai berikut:

11.

Mai litin beli

lepo

Bawo ler beli

woga

Datang dan tinggallah di rumah

Jadi tumpuan untuk

keluarga

12. Lepo aun naha giit

Woga

a’un

naha mangan

Bangun

rumah

tangga kuat

Jadilah

rumah

tangga yang kokoh

13.

Wua mai mera

wiwir

Bako mai gahu

ahang

Siri

pinang

merahkan bibir

Rokok

sudah

hangatkan rahang

14.

Dadi du’a nora

lai

Dadi

bihan

nora lalan

Jadilah suami dan

istri

Sehingga menuju

jalan lurus

Pada data (14) “Wua mai mera wiwir/Bako mai gahu ahang” artinya siri pinang merahkan bibir, rokok sudah hangatkan rahang. Syair di atas tersirat kebahagiaan yang tergambar dalam diri keluarga perempuan saat menerima siri pinang dari pihak laki-laki. Siri pinang itu lalu disuguhkan untuk keluarga yang hadir saat itu sebagai simbol permohonan agar direstui hubungan mereka.

Setelah siri pinang dimakan oleh

keluarga dan keluara menyatakan bahwa siri

pinang yang dimakan sebagai pertanda

hubungan mereka direstui seperti pada data (15) “Dadi du’a nora lai / Dadi bihan nora lalan” Artinya jadilah suami dan istri jadilah menuju jalan lurus. Syair ini tergambar kebahagiaan dalam diri laki-laki dan perempuan saat keluarga kedua belah pihak makan siri pinang dan menyatakan bahwa anak mereka sudah di sahkan menjadi suami dan istri yang kelak akan

menjadi keluarga yang harmonis selalu

menjalankan kehidupan dengan jalan mulus serta dapat memecahkan masalah keluarga sendiri.

Syair di atas terlihat jelas kesenangan keluarga perempuan saat menerima wua ta’a (siri pinang) dari keluarga perempuan. Juga keluarga laki-laki merasa bahagia karena diterima dengan baik kedatangan mereka. Kesenangan juga terdapat dalam syair pada data

(9)

30| Jurnal CARWAJI

(11) “Mai litin beli lepo / Bawo ler beli woga” artinya datang dan tinggallah di rumah, jadi tumpuan untuk keluarga. Syair ini masih menggambarkan rasa kegembiraan dan rasa memiliki yang sangat mendalam sehingga orang tua perempuan langsung menyambut baik kehadiran keluarga laki-laki dan langsung menyampaikan harapan mereka, agar suatu saat menjadi tumpuan harapan untuk keluarga.

Syair pada data (12) “Lepo aun naha giit / Woga a’un naha mangan” artinya bangun rumah tangga yang kuat, jadilah rumah tangga yang kokoh. Syair ini menggambarkan rasa gembira seperti sudah memiliki sepenuhnya anak laki-laki tersebut. Keluarga perempuan menyampaikan harapan bahwa, perpaduan dari dua insan menjadi satu semoga menjadi ikatan yang kuat dan kokoh tidak dapat dipisahkan.

Harapan keluarga agar kehadirannya

menjadikan keluarga perempuan semakin kuat dan kokoh serta menjadikan rumah tangga yang harmonis.

Rasa Iba

Rasa Iba menurut (KBBI, 2006: 245) merupakan perasaan kasihan, terharu dan kasihan terhadap suatu peristiwa yang terjadi. Berikut adalah syair adat poto wua ta’a, yang termasuk rasa haru, sebagai berikut.

28. Uhe mu’e du’e

die

Dan mu’e gera

hading

Pintu selalu terbuka

Tangga disini

menanti

29.

Bui ba’a men

buan

Nawang

ba’a

pun lu’ur

Menuggu anak

kandung

Menanti anak mantu

30.

Nari oti wa’in

Plo oti nain

Istrahat kaki dulu

Tarik nafas dulu

31.

Emai ita ea daha

Ebawo ita tinu linok

Mari kita makan

nasi

Mari kita minum air

Syair pada data (28) “Uhe mu’e du’e die /Dan mu’e gera hading artinya pintu selalu terbuka, tangga disini menanti. Orang tua merasa iba seperti kehilangan anak laki-laki yang harus pergi dan menjadi anggota keluarga perempuan, dan orang tua menyampaikan bahwa pintu selalu terbuka lebar dan tangga rumah selalu menanti kehadiran kalian. Syair pada data (29) “Bui ba’a men buan /Nawang ba’a pun lu’ur artinya menuggu anak kandung dan menanti anak mantu. Syair ini masih menceritakan kasih sayang orang tua yang

merasa terharu yang melepas pergi anak mereka yang akan menjadi anggota dalam keluarga perempuan. Sehingga mereka berpesan kepada anak mereka bahwa mereka selalu menantikan kehadiran anak kandung mereka dan istrinya suatu saat nanti.

Syair pada data (30) “Nari oti wa’in/Plo oti nain” artinya istirahatkan kaki dulu, tarik nafas dulu. Syair ini menggambarkan bahwa rasa ibah sang istri kepada suaminya yang baru pulang kebun, sehingga istri menyuruh suaminya untuk istrahat kaki dan tarik nafas. Syair ini merupakan bagian dari nasihat orang tua kepada anak perempuan mengenai tugas pelayanan seorang istri kepada suaminya saat pulang kerja. Syair berikut masi tersirat rasa empati seorang istri setelah mengarahkan suaminya untuk istirahat juga mengajak pada data (31) “emai ita ea daha / ebawo ita tinu linok” artinya mari kita makan nasi, mari kita minum air. Syair ini tersirat rasa empati seorang istri kepada suaminya. Saat suami pulang kerja

sebagai seorang istri harus menyiapkan

makanan untuk sang suami.

Rasa malu

Malu menurut (KBBI, 2006: 390)

merupakan perasaan terganggu karena

melakukan sesuatu yang tidak wajar, merasa tidak enak hati karena berbuat kesalahan. Sebagian terdapat dalam syair berikut.

16. Lopa gou ata

roun

Lopa bata ata

ubun

Jangan memetik

daun terlarang

Jangan memetik

pucuk terlindung

17.

Odi tilu riwun

rena

Odi

mata

ngasung ita

Nanti banyak orang

dengar

Nanti banyak orang

lihat

18.

Odi ata to ho’ot

Odi

ata

hiri

kengong

Nanti orang

tertawain

Nanti orang

menghina

Syair pada data (16) “Lopa gou ata roun / Lopa bata ata ubun” artinya jangan memetik

daun terlarang, jangan memetik pucuk

terlindung. Syair tersebut menjelaskan bahwa roun dan ubun atau daun dan pucuk tersebut adalah sombol dari wanita lain atau laki-laki lain atau bisa juga merupakan harta milik orang lain. Artinya dalam hidup berumah tanggah harus saling jujur antara suami dan istri. Jangan pernah mengambil atau merampas barang milik orang lain.

(10)

Jurnal CARWAJI|31

Jika sebuah larangan atau pantangan dilanggar maka akan menimbulkan akibat pada data (17) “Odi tilu riwun rena / Odi mata ngasung ita” artinya nanti ribuan telinga mendengar, nanti ratusan mata melihat. Syair ini menjelaskan bahwa perbuatan mencuri merupakan perbuatan yang tidak terhormat, jagalah nama baik kamu dan kami keluarga. Laki dan perempuan merasa malu apa bila suatu saat mereka melanggar ikatan adat dan akhirnya membuat orang lain mendengar dan meihat masalah yang mereka hadapi. Syair ini masih tersirat rasa malu bila melanggar pantangan dan akan berakibat seperti data (18) “Odi ata to ho’ot /Odi ata hiri kengong” artinya akan

menjadi bahan tertawaan. Syair ini

menggambarkan bahwa suatu masalah apapun jika tidak dibicarakan baik-baik maka akan menjadi bahan tertawaan dan hinaan dari masyarakat.

Amanat Dalam Syair Adat Poto Wu’a Ta’a

Berdasarkan hasil penelitian tentang syair adat poto wua ta’a. Maka syair yang dapat dijadikan dasar pengambilan pesan sebagai berikut.

14.

Wua mai mera

wiwir

Bako mai gahu

ahang

Sirih pinang merahkan bibir

Rokok sudah

hangatkan rahang

15. Dadi du’a nora

lai

Dadi bihan nora

lalan

Jadilah suami dan

istri

Sehingga menuju jalan lurus

16. Lopa gou ata

roun

Lopa bata ata

ubun

Jangan memetik

daun terlarang

Jangan memetik

pucuk terlarang

17. Ma gopi uma

gete

Ma

kare

tua

mosan

Pergi dan bukalah

kebun besar

Pergi dan irislah

moke

18. Gopi uma naha

ihin

Kare tua naha

dolo

Buka kebun

mendapat hasil

Irislah moke

dapatkan air

kehidupan

19. Maring blupur

hutu

Herong

gete

lima

Mohom kepada

leluhur

Juga mohon kepada

Yang Kuasa

20. Gliki tilun mala

diin

Pasanglah telinga

dan dengarlah

Kolok

mata

mala

prina

Bukalah mata dan

lihatlah

21.

Ete a’u neni not

Ete a’u pra

prawi

Saat ini saya

memohon

Saat ini saya

berpasrah

22. U’a uma naha

ihin

Kare tua naha

dolo

Kerja kebun

mendapat hasil

Irislah moke

dapatkan air

kehidupan

23. Ma bua buri

ganu wetan

Gae teto ganu

atong

Gae teto ganu

atong

Pergi Beranak

cuculah bagaikan

jewawut

Gendong bagaikan

sayur bayam

24.

Bano lopa toen

toger

Rema

lopa

borong korok

Jalan jangan lupa

untuk kembali

Pergi jangan lupa

pamit

25. Mai beli

wa’un-wa’un

Bawo beli

lu’at-lu’at

Datanglah terus

malam-malam

Kemarilah terus tiap

pagi

26.

Uhe mu’e du’e

die

Dan mu’e gera

hading

Pintu selalu terbuka

Tangga disini

menanti

27.

Bui ba’a men

buan

Nawang

ba’a

pun lu’ur

Menuggu anak

kandung

Menanti anak mantu

Syair pada data (14) “Wua mai mera wiwir/Bako mai gahu ahang” artinya sirih pinang merahkan bibir, rokok sudah hangatkan rahang. Syair ini menggambarkan bahwa orang tua memberikan pesan kepada perempuan sekaligus mengingatkan kembali bahwa sirih dan pinang sudah kami terima dan sudah kami makan sehingga harus bisa membawa diri untuk pasangan masing-masing. Pada data (15) “Dadi dua nora lai/ Dadi bihan nora lalan” artinya jadilah suami dan istri, sehingga menuju jalan lurus. Syair ini menjelaskan bahwa orang tua memberikan nasihat kepada laki-laki dan perempuan, bahwa siri pinang sudah dimakan maka kalian dinyatakan sah menjadi suami dan

(11)

32| Jurnal CARWAJI

istri. Sehingga kalian berdua akan menjadi suami dan istri.

Pada data (16) “Lopa gou ata roun/Lopa bata ata ubun” artinya jangan memetik daun terlarang, jangan memetik pucuk terlindung. Syair tersebut menjelaskan bahwa roun dan ubun atau daun dan pucuk tersebut adalah simbol dari wanita lain atau laki-laki lain atau bisa juga merupakan harta milik orang lain. Artinya dalam hidup berumah tangga harus saling jujur antara suami dan istri.

Pada data (17) “Ma gopi uma gete / Ma

kare tua mosan” artinya pergi dan bukalah

kebun besar, pergi dan irislah moke. Syair ini tersirat tanggung jawab orang tua yang begitu besar sehingga masih memberikan nasihat kepada anak laki-laki harus bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi anak istri.

Pada data (18) “Gopi uma naha ihin / Kare tua naha mosan” pergi bukalah kebun besar dan iris moke agar mendapatkan air kehidupan. Orang tua memberikan nasihat kepada anak meraka agar harus bekerja keras untuk kehidupan mereka di kemudian hari, buka kebun yang besar dan iris moke harus mendapatkan air yang banyak. Syair Pada data (19) “Ete a’u neni not / Ete a’u pra prawi” artinya saat ini saya memoho, saat ini saya berpasrah. Syair ini menggambarkan bahwa pada saat acara poto wua ta’a keluarga juga tidak lupa memohon do’a agar setiap usaha dan karya mereka berhasil berkat campur tangan Tuhan. Pada data (19) “Maring blupur hutu / Herong gete lima” artinya bahwa mohon kepada leluhur juga kepada Tuhan Yang Kuasa. Syair ini menggambarkan permohonan dari seseorang untuk kehidupan suami istri di kemudian hari. Agar usaha dan karya mereka selalu berhasil berkat do’a leluhur dan Sang Ilahi. Untuk itu dalam hidup kita diajak sebagai manusia yang lemah harus mendekatkan kita dengan Tuhan. Syair di atas juga tidak terlepas dari data (20) “Gliki tilun mala di’in / Kolok mata mala prina” artinya bahwa pasang telinga dan bukalah mata dengarlah permohonan dan do’a kami. Syair ini menggambarkan seseorang yang memohon agar do’a dan permohonannya selalu didengar dan dikabulkan. Agar do’a kita dikabulkan kita harus berdoa dengan sepenuh hati. Juga syair pada data (22) “U’a uma naha ihin / Kare tua naha dolo”artinya kerja kebun mendapat hasil, iris moke mendapatkan air kehidupan. Syair ini tersirat do’a dan permohonan agar anak mereka kelak kerja

kebun dan iris moke dapat diberikan hasil yang berlimpah.

Dalam syair ini kita diajarkan agar bekerja dengan ulet dan jangan lupa akan doa agar kita diberikan hasil seperti yang kita harapkan. Syair pada data (23) “Ma bua buri ganu wetan / Gae teto ganu atong” artinya pergi

beranak cuculah bagaikan jewawut dan

gendong bagaikan sayur bayam. Syair ini tersirat do’a dan harapan Orang tua kepada pasangan suami dan istri agar bisa memberikan keturunan. Pada data (24) “Bano lopa toen toger / Rema lopa borong korok” artinya jalan jangan lupa untuk kembali pergi jangan lupa pamit. Syair ini tersirat kesetiaan seseorang yang harus peduli pada pasanganya. Dimana sebagai suami saat keluar rumah harus pamit dan diketehui oleh orang istri. Syair pada data (25) “Mai beli wa’un-wa’un / Bawo beli lu’at-lu’at” artinya datanglah terus malam-malam dan kemarilah terus tiap pagi. Artinya nasihat orang tua agar anaknya bahwa harus peduli

pada pasangan mereka masing-masing.

Kemanapun bepergian harus jujur dengan pasangan dan secepat mungkin kembali ke rumah.

Data (26) “Uhe mu’e du’e die / Dan mu’e hading nawang” artinya pintu selalu terbuka dan tangga disini menanti. Syair ini menggambarkan kerukunan dan kedamaian dengan keluarga dan masyarakat. (27) “Bui ba’a men buan/Nawang ba’a pun lu’ur” artinya menuggu anak kandung dan menanti anak mantu. Syair ini masih tersirat pesan orang tua kepada anak laki-laki bahwa tanggung jawab yang begitu besar yang menjadi tugas seorang kepala rumah tangga. Syair ini mengajarkan kita dalam hidup sesame manusia harus saling peduli. Untuk mengayomi keluarga dan anak-anak.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kami ucapkan kepada LP3M IKIPMu yang telah membantu dalam penelitian ini, selanjutnya kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan data penelitian serta ucapan terima kasih juga buat teman-teman dosen yang ikut terlibat dalam proses berlangsungnya penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. ( 2006 ), Kamus Besar Bahasa

Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasiona, Pusat Bahasa.

(12)

Jurnal CARWAJI|33

Bura, Bernadus. 2017. Analisis Struktur Dan Nilai Pendidikan Puisi Lisan Duan Moan Etnik Krowe Di Kabupaten Sikka NTT Dan Pemanfaatan Sebagai Alternative Bahan Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia Di SMA Kelas X Semester I. Tesis

Djojosuroto. Kinayati.2005. Puisi: Pendekatan

dan Pembelajaran. Jakarta: Nuansa.

Waluyo . Herman 1987. Teori dan Apresiasi

Puisi. Jakarta: Erlangga

Waluyo Herman. 2003. Apresiasi Puisi.

Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Waluyo Herman. 1991. Apresiasi Puisi. Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Jadi dalam penelitian ini fenomena yang akan diteliti adalah mengenai keadaan penduduk yang ada di Kabupaten Lampung Barat berupa dekripsi, jumlah pasangan usia

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat- Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Hubungan Caregiver Self-efficacy dengan

Dalam pelajaran ke-7 ini, kita akan berlatih bagaimana menindak-lanjuti perkenalan yang lalu, bagaimana menjawab atau menanggapi pernyataan positif dan negatif, dan kita juga

Untuk membantu anak dalam bersosialisasi, program bimbingan dan konseling di sekolah dasar sebaiknya memasukan kegiatan permainan kelompok, hasil penelitian Landreth

Dalil tersebut tidak dapat dibantah oleh Termohon (P.T. Goro Batara Sakti). Berdasarkan perjanjian perdamaian yang telah disahkan oleh Pengadilan Niaga, seharusnya

Dilihat dari langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam proses pembelajaran terdiri dari 5 tahapan adalah peserta didik dibagi menjadi

Perbedaan dari ketiga video profile tersebut dengan Perancangan Video Profil sebagai Media Informasi Pada Lorin Solo Hotel adalah dilihat dari konsep video dengan

15.Orang yang bersholawat akan mendapatkan pujian yang baik dari Allah di antara penghuni langit dan bumi, karena orang yang bersholawat, memohon kepada Allah agar memuji,