• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Jumlah Penduduk

Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa pada tahun 2014 jumlah penduduk Eks Desa Sendi ada 190 jiwa dan terdiri dari 41 Kepala Keluarga. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di Eks Desa Sendi adalah pasangan suami istri dengan umur diatas 30 tahun, dan mereka tinggal di rumah bersama anak mereka. Namun, ada juga yang sudah lanjut usia, diantaranya ada nenek yang tinggal bersama cucunya. Anak-anak yang tinggal di Eks Desa Sendi banyak yang masih bersekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD). Seluruh warga Eks Desa Sendi beragama Islam.

Warga yang tinggal di Eks Desa Sendi mempunyai lembaga yang mereka buat sendiri, berawal dari kelompok tani biasa hingga berubah menjadi Forum Pembela Rakyat (FPR). Lembaga ini berisi ahli waris eks warga Desa Sendi yang berjumlah 236 kepala keluarga. Tujuan mereka membuat lembaga ini adalah untuk merebut hak atas tanah warisan itu bukan dengan sedikit alasan. Di samping alasan sejarah, bukti-bukti yang mereka miliki juga tidak bisa dihilangkan. Salah satunya adalah makam leluhur warga Sendi yang masih terawat. Meski Eks Desa Sendi telah ditinggalkan penduduknya puluhan tahun, namun makam itu tetap terjaga. Selain itu saksi hidup pelaku sejarah juga masih bisa dimintai keterangan. Ada beberapa orang yang dulu pernah tinggal di Desa Sendi yang sampai saat ini masih hidup.

(2)

5.2 Tingkat Pendidikan

Pada zaman sekarang ini pendidikan sudah dianggap sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi oleh sebagian besar anggota masyarakat. Orang-orang yang berpendidikan tinggi akan menempati posisi dalam status sosial yang lebih tinggi. Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 10 disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan oleh pemerintah, dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing dan membantu, mengawasi penyelengaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Setiap warga negara mempunyai hak untuk mendapatkan kesempatan sepenuhnya guna mendapatkan pendidikan, sehingga bisa mendapatkan sejumlah pengetahuan, kemampuan dan keterampilan. Untuk mengetahui keberhasilan suatu proses pendidikan atau pengajaran dapat ditunjukkan salah satunya oleh prestasi belajar yang dicapai. Prestasi belajar yang baik akan membimbing individu untuk lebih berkembang lagi. Hingga pada masa yang akan datang tingkat pendidikan dapat menjadi nilai tolak ukur dalam suatu pekerjaan yang akan diambil dan dapat menjadi parameter kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Tabel 1. Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Jumlah %

a. Tidak sekolah 8 20

b. SD 23 57,5

c. SMP 6 15

d. SMA/SMK 3 7,5

Jumlah 40 100

Tingkat pendidikan responden merupakan jenjang pendidikan formal yang ditempuh oleh responden tersebut. Tabel 1 memperlihatkan bahwa jenjang

(3)

pendidikan masyarakat sekitar Tahura yang paling dominan adalah SD sebesar 57,5%. Sebagian besar warga Eks Desa Sendi hanya bersekolah hingga tingkat Sekolah Dasar, hal tersebut dikarenakan SD masih bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Berdasarkan dialog yang kami lakukan dengan repsonden, ada beberapa permasalahan yang menyebabkan responden memiliki tingkat pendidikan yang rendah, yaitu mereka belum menganggap bahwa pendidikan yang cukup itu penting untuk masa depan. Selain itu, faktor ekonomi masih menjadi kendala dalam menempuh pendidikan. Karena pendapatan hanya bisa mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Faktor pendukung lain adalah, akses menuju sekolah yang masih jauh dan sulit untuk di tempuh. Anak-anak SD yang kami temui rata-rata berjalan kaki berombonga, karena lokasi sekolah yang cukup jauh dan kontur jalan yang berbukit-bukit hingga memakan waktu yang banyak untuk menuju ke sekolah. Cuaca di daerah tersebut juga cenderung hujan dan kabut. Cukup membahayakan anak kecil yang berjalan kaki di jalan. Jika ingin melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus menempuh jalan yang cukup jauh, karena SMP terdekat berada di sebelah Eks Desa Sendi. Oleh karena itu, warga Eks Desa Sendi banyak yang bersekolah hanya sampai tingkat SD. Padahal tingkat pendidikan ini berpengaruh terhadap pilihan dan peluang yang dapat diraihnya, termasuk pemilihan jenis pekerjaan dan dalam segala bentuk pemanfaatan Tahura dan lingkungan sekitarnya.

(4)

5.3 Jenis Pekerjaan

Pekerjaan merupakan sebuah tuntutan kehidupan, di mana bekerja itu mempunyai tujuan sebagai pemenuh dari kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan ini dilakukan guna mempertahankan kehidupan. Hal ini dikarenakan manusia hidup itu memerlukan makanan (pangan), tempat tinggal (papan), pakaian (sandang), dan kebutuhan kebutuhan yang lain seperti kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Referensi waktu yang dipakai untuk menilai apakah seseorang bekerja atau sedang mencari kerja mempengaruhi besarnya angkatan kerja dan partisipasi angkatan kerja, pengangguran, dan perimbangan antar sektor dari penduduk yang tergolong angkatan kerja (Rusli, 1994).

Tabel 2. Jenis Pekerjaan

Pekerjaan Utama Jumlah %

a. Pedagang 9 22,5

b. Petani 17 42,5

c. Wiraswasta 13 32,5

d. Ibu Rumah Tangga 1 2,5

Jumlah 40 100

Pekerjaan utama responden yang dominan adalah bekerja sebagai petani sebesar 42,5%. Berbeda tipis dengan pekerjaan wiraswasta yang berjumlah 32,5%. Pekerjaan sebagian besar warga Eks Desa Sendi adalah menjadi petani, karena setiap kepala keluarga mendapat jatah tegalan yang lebih besar daripada luas areal untuk dijadikan rumah. Luas lahan untuk tegalan adalah 3440m² dan untuk rumah dan pekarangan adalah 240m². Tegalan tersebut banyak digunakan masyarakat untuk bercocok tanam, seperti tanaman perkebunan, pertanian atau

(5)

membuat kandang untuk hewan ternak. Dan sebagian besar warga mempunyai satu buah warung di areal wisata Tahura R. Soeryo. Mereka berjualan makanan dan jajanan di warung tersebut. Selain itu, seperti yang dijelaskan pada tabel pendidikan, rendahnya pendidikan mereka tentunya berimbas kepada pilihan jenis pekerjaan yang di peroleh. Bekerja sebagai petani tidak membutuhkan tingkat pendidikan tinggi dan keterampilan khusus.

Pendidikan sangatlah penting, meskipun masyarakat sangatlah mampu namun pemerintah juga harus ikut andil dalam pemecahan masalah tersebut. Dalam hal perekonomian pemerintah juga harus memikirkannya, misalnya melakukan pelatihan kerja kepada masyarakat sebagai modal masyarakat untuk berwirausaha untuk meningkatkan perekonomian. Hal ini dimaksudkan agar terjadi kesetaraan antara pendidikan dengan perekonomian masyarakat.

5.4 Kepemilikan Lahan

Setiap warga yang tinggal di Eks Desa Sendi mendapatkan tanah 12 x 20m (240m²) untuk rumah dan 80 x 40m (3200m²) untuk tegalan yang di tempati hingga sekarang. Semua di bagi merata dengan 41 Kepala keluarga. Selain itu mereka juga mendapat lahan di dekat gerbang Tahura untuk membuka warung untuk berjualan, satu warung berukuran 5 x 8 m, warung disini sangat berpotensi untuk meningkatkan penghasilan karena pendapatan yang di peroleh bisa lebih dari cukup. Apalagi jika pada saat hari libur atau hari besar, wisatawan yang datang akan meningkat. Mereka menjual berbagai macam makanan dan minuman ringan, namun banyak juga yang berjualan makanan khas daerah tersebut.

(6)

Untuk tegalan yang di peroleh warga, mereka gunakan untuk bercocok tanam tanaman perkebunan/pertanian, seperti : daun bawang, sawi, labu siam, pakis, kubis, buncis, cabai, wortel dll. Hasil yang diperoleh dari penjualan hasil dari tegalan tersebut cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau di konsumsi sendiri. Selain itu, ada beberapa warga yang membudidayakan lebah madu.

Tabel 3. Jenis Tanaman yang dikembangkan

No Kepemilikan lahan Jumlah

1 Jenis tanaman perkebunan:

a. Alpukat 17 b. Kopi 1 c. Pisang 11 d. Sukun 2 e. Nangka 8 f. Bambu 1

2 Jenis tanaman pertanian:

a. Daun bawang 4 b. Sawi 3 c. Labu siam 3 d. Pakis 9 e. Kubis 2 f. Buncis 3 g. Jahe 1 h. Cabai 2 i. Wortel 3 3 Jenis peternakan: a. Kambing 6 b. Ayam 2 c. Sapi 1 d. Lebah madu 4 Jumlah responden 40

(7)

Terlihat dari table 3 diatas sangat beraneka ragam jenis yang di tanam di areal tegalan yang dimiliki tiap keluarga, di mulai dari tanaman perkebunan yang di dominasi oleh alpukat, tanaman pertanian oleh pakis dan peternakan oleh kambing. Responden berjumlah 40 orang, diantara 40 orang tersebut tidak hanya memiliki satu jenis tanaman atau hewan di tegalannya. Satu orang bisa memiliki beberapa jenis tanaman dan beberapa jenis hewan ternak.

Berdasarkan struktur tanahnya, wilayah Kabupaten Mojokerto cenderung cekung ditengah-tengah dan tinggi di bagian selatan dan utara. Bagian selatan merupakan wilayah pegunungan dengan kondisi tanah yang subur, yaitu meliputi Kecamatan Pacet, Trawas, Gondang, dan Jatirejo. Menurut data BPS Kabupaten Mojokerto tahun 2015, Kecamatan Pacet berada pada ketinggian 470 mdpl. Yang berarti daerah tersebut sudah dikategorikan masuk dalam dataran tinggi. Hal tersebut menjelaskan bahwa ada tanaman berpotensi yang dapat di kembangkan, contohnya pakis yang cepat tumbuh dan gampang untuk di budidayakan. Hasil dari penjualan pakis juga lumayan besar tidak kalah dengan tanaman lain. Dan pada tahun 2014 saat rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Mojokerto di hidangkan masakan berbahan dasar pakis, yang merupakan ciri khas daerah ini.

5.5 Tingkat Pendapatan

Pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan (Sukirno, 2006). Pendapatan yang akan di hitung pada penelitian

(8)

ini adalah dari beberapa jenis pekerjaan yang di lakukan oleh responden dan dihitung dari setiap kepala keluarga dan di jumlahkan dalam satu tahun.

Tabel 4. Sumber pendapatan

No Sumber pendapatan Rata-rata pendapatan/KK/Tahun (Rp) % 1 Petani 8.744.638 5 2 Buruh a. Buruh bangunan 585.000 8 b. Buruh pabrik 1.200.000 4 c. Buruh tani 1.080.000 16 3 Wirausaha d. Pedagang 60.446.000 56 e. Tambal ban 30.000 6

f. Tukang parkir (sabtu-minggu) 336.000 1

4 Kiriman anak 15.000 4

Jumlah 74.168.888 100

Setelah mengetahui sumber pendapatan yang dihasilkan dan berapa besar jumlahnya, maka bisa diklasifikasikan nominal pendapatan untuk menentukan klasifikasi pendapatan berdasarkan UMK Kabupaten Mojokerto. Besarnya UMK tersebut adalah Rp. 2.695.000,00/bulan. Sehingga pendapatan dalam satu tahunya adalah Rp. 32.340.000,00.

Tabel 5. Klasifikasi pendapatan berdasarkan UMK Kabupaten Mojokerto

No Klasifikasi Pendapatan Berdasarkan UMK Kategori

UMK Rupiah Jumlah %

1 < UMK < 32.340.000 31 77,5

2 (1xUMK)-(2xUMK) 32.340.000-64.680.000 3 7,5

3 > 2x UMK >64.680.000 6 15

(9)

Klasifikasi pendapatan petani hutan rakyat berdasarkan UMR Kota Mojokerto dalam satu tahun yaitu:

1. Penduduk miskin: Pendapatan < Rp. 32.340.000/Tahun, angka tersebut diambil dari UMK dalam satu tahun dikalikan satu kali.

2. Penduduk sederhana: Pendapatan Rp. 32.340.000-64.680.000/Tahun, angka ini didapatkan dari UMK dalam satu tahun sampai rentang pendapatan dua kali UMK/Tahun.

3. Penduduk kaya: Pendapatan > Rp. 64.680.000, angka ini didapatkan dari dua kali UMK dalam satu tahun.

Berdasarkan total pendapatan KK/tahun dan klasifikasi pendapatan berdasarkan UMK Kabupaten Mojokerto, dapat diketahui tingkat kesejahteraan masyarakat Eks Desa Sendi. Berdasarkan tabel di atas, klasifikasi pendapatan yang paling dominan (77,5%) adalah pendapatan penduduk miskin dengan pendapatan kurang dari Rp. 32.340.000/Tahun. Namun ada yang masuk dalam klasifikasi kaya berjumlah 4 Kepala keluarga. Kesenjangan pendapatan ini dipengaruhi beberapa faktor antara lain: jenis tanaman yang di kelola, kemampuan tenaga kerja, jumlah anggota keluarga, kebutuhan keluarga, dan tingkat pendidikan. Selain itu Kabupaten Mojokerto adalah salah satu kawasan industri yang sedang berkembang di Indonesia itu yang membuat UMK Kabupaten Mojokerto tinggi.

Dengan ketinggian diatas 480 mdpl dan bertanah subur maka warga yang tinggal di Eks Desa Sendi sangat bergantung pada kegiatan bercocok tanam atau menjadi petani walaupun hasilnya jika dilihat dalam satu tahun belum keluar dari

(10)

kategori penduduk miskin. Namun hal tersebut sudah dapat di katakan baik. Karena, di daerah Pandeglang Banten tepatnya di sekitar Gunung Payung yang mempunyai ketinggian sama dengan Eks Desa Sendi ini warganya hanya bercocok tanam untuk makan sehari-hari, dan penghasilan utama datang dari bidang jasa seperti menjadi guide atau pramuwisata dan membuka warung namun tidak sebanyak di sekitar Tahura R. Soeryo. Daerah tersebut berisi objek wisata pendakian gunung dan terdapat pula batu-batu karang yang tinggi dan sebuah gua kramat yang bernama Sanghyang sirah.

5.6 Interaksi Masyarakat Dengan Tahura Raden Soerjo

Tahura biasanya berlokasi tidak jauh dari perkotaan atau pemukiman yang gampang diakses, dan tidak terletak di tengah hutan belantara. Dilihat dari status hukumnya, Tahura merupakan kawasan lindung yang dikategorikan sebagai hutan konservasi bersama-sama dengan cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam dan taman buru. Meski dikategorikan sebagai kawasan konservasi, Tahura memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi dan pariwisata komersial. Namun pengusahaan Tahura sebagai kawasan wisata komersial dibatasi dengan peraturan yang ketat agar fungsi pelestariannya tetap terjaga.

Menurut PP No.69 Tahun 1998 tentang kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam, selain sebagai kawasan pelestarian alam, Tahura juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Secara umum, Tahura bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan berikut :

(11)

1. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi.

3. Koleksi kekayaan keanekaragaman hayati.

4. Penyimpanan karbon, pemanfaatan air serta energi air, panas, dan angin serta wisata alam.

5. Pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar dalam rangka menunjang budidaya dalam bentuk penyediaan plasma nuftah.

6. Pembinaan populasi melalui penangkaran dalam rangka

pengembangbiakan satwa atau perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam lingkungan yang semi alami.

7. Pemanfaatan tradisional oleh masyarakat setempat, dapat berupa kegiatan pemungutan hasil hutan bukan kayu, budidaya tradisional, serta perburuan tradisional terbatas untuk jenis yang tidak dilindungi.

Menurut wawancara dengan warga Eks Desa Sendi, masih memanfaatkan beberapa hasil dari Tahura, diantaranya adalah mengambil hasil hutan non kayu berupa jamur atau tumbuhan pakis. Tumbuhan tersebut biasanya digunakan untuk sayuran sehari-hari jika warga tidak memiliki uang untuk membeli bahan makanan lain yang lebih bergizi. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar warga sekitar Tahura masih bertaraf miskin. Warga juga kadang mengambil kayu yang sudah lapuk atau patah dengan sendirinya untuk digunakan sebagai kayu bakar. Kompor dengan bahan bakar gas masih belum familiar bagi masyarakat Eks Desi Sendi, dikarenakan minimnya pengetahuan dan sosialisasi.

(12)

Di desa tersebut masih belum ada listrik dari pemerintah, namun warga berinisiatif membangun sumber listrik tenaga air. Alat pembangkit listrik tersebut dibeli secara gotong royong dan bantuan Lembaga Swadaya Masyarakat. Sumber air tersebut didapat dari air terjun yang berada di dalam kawasan Tahura. Jika musim kemarau dan air terjun mengalami kekeringan maka warga mulai kesulitan dalam mendapatkan listrik. Turbin pembangkit listrik tersebut dijaga oleh 2 warga siang dan malam secara bergantian. Jika turbin tersumbat sampah atau kotoran maka aliran listrik akan menurun maka penjaga tersebut yang akan membersihkan turbinnya.

Di dalam Tahura terdapat banyak sumber mata air alami, namun hanya beberapa yang bisa dimanfaatkan warga untuk sumber air minum dikarenakan tempat sumber mata air tersebut sangat jauh dari pemukiman atau lokasinya yang berada di pinggir jurang. Warga mengambil air dari sumber mata air tersebut menggunakan pipa paralon yang dialirkan dari sumber mata air hingga ke penampungan, kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga, sebagian warga sudah menggunakan air dari sumur yang dibuat di sekitar rumah mereka.

Warga Eks Desa Sendi banyak yang memelihara ternak. Sebagian besar pakan ternak diambil dari kawasan Tahura. Biasanya pakan ternak yang berupa rumput gajah atau dahan kaliandra dipungut pada pagi hari. Namun tidak semua warga mencari pakan ternak untuk ternaknya pribadi. Ada beberapa warga yang hanya menjual jasa mencari pakan ternak.

Kawasan Tahura juga memiliki pemandangan yang indah dengan udara yang sejuk. Kondisi alam ini banyak di manfaatkan oleh masyarakat dari daerah

(13)

lain sebagai lokasi wisata. Warga Eks Desa Sendi memanfaatkan kunjungan wisatawan dengan berdagang. Mereka banyak yang memiliki warung di sekitar Tahura Raden Soerjo untuk menjual makanan dan minuman

(14)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa, aspek sosial ekonomi masyarakat yang berada di sekitar Tahura R. Soeryo adalah sebagai berikut :

1. Pada tahun 2014 jumlah penduduk Eks Desa Sendi ada 190 jiwa. Tingkat pendidikan terakhir yang terbanyak di tempuh adalah hingga Sekolah Dasar. Sebagian besar penduduk di Eks Desa Sendi yang berjumlah sekitar 42,5% bekerja sebagai petani. Setiap warga Eks Desa Sendi mendapat tanah ukuran 12 x 20m (240m²) untuk rumah dan 80 x 40m (3200m²) untuk tegalan. Setiap tegalan ditanami oleh tanaman perkebunan dan pertanian. Sebagian besar penduduk (77,5%) memiliki pendapatan dibawah UMK Kabupaten Mojokerto.

2. Bentuk interaksi penduduk Ex Desa Sendi dengan Tahura ada beberapa macam, sebagai berikut : mengambil bahan makanan berupa jamur atau tumbuhan paku, sumber mata air untuk kebutuhan sehari-hari dan pembangkit listrik, memungut kayu bakar dan pakan ternak, dan pariwisata alam.

(15)

6.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan saran sebagai berikut :

1. Diperlukan penyuluhan atau pelatihan kepada masyarakat tentang mengelola tanaman pertanian dan perkebunan agar menghasilkan panen yang berkualitas dan kuantitas yang baik.

2. Diperlukan peningkatan peran pihak terkait dalam membantu mengelola kawasan sekitar Tahura agar terwujudnya manfaat hutan bagi kehidupan makhluk hidup, baik manfaat ekologi, ekonomi maupun sosial budaya.

Gambar

Tabel 1. Tingkat Pendidikan
Tabel 2. Jenis Pekerjaan
Tabel 3. Jenis Tanaman yang dikembangkan  No  Kepemilikan lahan  Jumlah  1  Jenis tanaman perkebunan:
Tabel 4. Sumber pendapatan  No  Sumber pendapatan  Rata-rata  pendapatan/KK/Tahun  (Rp)  %  1  Petani  8.744.638  5  2  Buruh  a

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menjelaskan bagaimana tumbuhan menyerap makanan ( air dan garam mineral dari tanah) melalui akar, tentunya tidak dapat dilakukan hanya dengan metode ceramah atau

Menurut asumsi penelitian bahwa untuk sarana pengolahan air minum di Kecamatan Telaga sudah cukup baik hal ini dilihat dari hasil observasi yang di dapat dimana

Selain itu disisi lain masih terdapat kawasan permukiman yang tidak memiliki sarana dan prasarana air minum sehingga masyarakat memperoleh air minum dari sumber mata air dan

Manfaat dengan adanya budidaya lele tidak hanya bagi pengelola saja tetapi untuk warga sekitar juga banyak, mulai dari air bekas lele dibuat untuk pupuk padi

Selain itu disisi lain masih terdapat kawasan permukiman yang tidak memiliki sarana dan prasarana air minum sehingga masyarakat memperoleh air minum dari sumber mata air dan pembuatan

Objek wisata air terjun Lepo merupakan salah satu objek wisata alam yang ada di Kabupaten Bantul. Potensi alam yang dimiliki objek wisata Lepo mampu menarik wisatawan

Kanakke ketika ditanya dimana biasanya anda membuang sampah setiap harinya mengatakan bahwa : “biasanya disini setiap hari adaji tempat sampah sendiri dari warga disini, tempat sampah

Destinasi Ciwangun Indah Camp ini hampir tidak akan kekurangan air dikarenakan berada di kawsan pegunungan dan ada sumber air alami yang di dapat oleh destinasi Ciwangun Indah Camp maka