• Tidak ada hasil yang ditemukan

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN BAB I HAKIKAT PER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PSIKOLOGI PERKEMBANGAN BAB I HAKIKAT PER"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

HAKIKAT PERKEMBANGAN, TEORI DASAR

PERKEMBANGAN, DAN PERKEMBANGAN

PRANATAL

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Perkembangan

Semester Genap Jurusan Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Oleh :

Nurul Istiqomah

1511505338

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

HAKIKAT PERKEMBANGAN

I.

Pengertian Perkembangan

Perkembangan merupakan serangkaian perubahan yang terjadi pada individu secara progresif mulai dari masa konsepsi sampai akhir hayat. Psikologi perkembangan adalah bidang keilmuan yang mempelajarinya melalui hubungan antara usia dan tahapan perkembangan yang terjadi.

Perkembangan yang terjadi mencakup perubahan secarakualitatif dan kuantitatif

(yang kemudian disebut dengan pertumbuhan). Secara kualitatif, individu berkembang menurut fungsi diri seperti kemampuan, sikap, dan sifat yang tidak dapat diukur kapasitasnya. Sedangkan secara kuantitatif, individu berkembang menurut struktur dan ukuran tubuh seperti tinggi badan, beratbadan, dan ukuran otak yang dapat diukur perubahannya.

Terdapat dua proses berlawanan yang terjadi dalam perkembangan, yaitu :

pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Selain itu, perkembangan tak akan lepas dari adanya kematangan dan pengalaman individu. Individu yang telah matang kondisi psikis atau fisiknya akan mengalami perubahan secara progresif sehingga akan terjadi tanggapan dan jalinan interaksi majemuk yang terintegrasi menjadi pengalaman. Kemudian individu dapat dikatakan berkembang.

Menurut Bower, perkembangan memiliki sifat berkesinambungan maksudnya perkembangan merupaka proses siklik dengan berkembangnya berbagai kemampuan yang kemudian akan menghilang dan dapat muncul kembali pada tahapan usia berikutnya. Artinya perubahan yang terjadi tidak selalu berupa peningkatan namun merupakan serangkaian gelombang secara keseluruhan proses perkembangan yang terjadi secara berulang. Seringkali polanya mengikuti kurva berbentuk lonceng, dimana pada awal kehidupan terjadi peningkatan, di usia pertengahan cenderung mendatar, dan pada akhirnya mengalami penurunan namun dinamika perkembangan itu ke semuanya merupakan sebuah satu kesatuan yang saling terkait.

(3)

a. Adanya perubahan

Keadaan manusia selalu dinamis, akan selalu terjadi perubahan – perubahan mulai masa konsepsi hingga kematian tiba. Perubahan yang akan terjadi, meliputi :

Perubahan ukuran ;fisiktinggi, berat, organ dalam tubuh; mental  memori,

penalaran, persepsi, dan imajinasi.

Perubahan proporsi  perubahan perbandingan antara kepala dan tubuh

Hilangnya ciri lama ciri egosentrisme yang hilang dengan sendirinyaberganti

dengan sikap prososial.

Munculnya ciri baru hilangnya sikap egosentrisme pada anak akan memunculkan

cirri baru yaitu sikap yang prososial.

b. Perkembangan awal lebih kritis daripada perkembangan selanjutnya

Masa lima tahun pertama pada anak merupakan masa – masa yang paling krusial dalam sepanjang rentang kehidupan. Pada masa inilah dikenal dengan istilah golden age atau masa keemasan pada tahap perkembangan manusia. Kemampuan bawaan anak akan dipengaruhi pula oleh lingkungan tempat anak menghabiskan masa kecilnya.

Dasar – dasar permulaan yang meliputi sikap kritis, sikap, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun – tahun pertama kehidupan akan sangat menentukan seberapa jauh individu berhasil beradaptasi dalam kehidupan ketika mereka bertambah usia.

c. Perkembangan adalah hasil proses kematangan dan belajar

Kematangan adalah terbukanya sifat – sifat bawaan individu. Kematangan sebagai pondasiuntuk belajar dan menentukan pola – pola umumdan urutan perilaku yang lebih umum. Misalnya dalam fungsi phylogenetik yaitu merangkak -> duduk ->berjalan.

Belajar adalah perkembangan yang berasal dari proses latihan dan usaha pada pihak individu. Dalam fungsi ontogenik misalnya seperti fungsi – fungsi yang terdapat khusus pada individu yaitu menulis, mengemudi, atau berenang.

Terdapat tiga fakta tentang keterhubungan kematangan dan belajar pada perkembangan, yakni :

- Kemajemukan kepribadian, pola – pola, dan sikap – sikap terdapat pada individu merupakan hasil dari kematangan dan belajar.

- Kematangan memberi batasan dimana perkembangan tidak dapat memperoleh kemajuan sekalipun dengan metode balajar yang paling disukai dan dengan motivasi yang kuat dari pihak yang belajar.

(4)

d. Pola perkembangan dapat diramalkan

Pola perkembangan fisik dan motor mengikuti hukum arab perkembangan

sebagai berikut :

- Hukum Chepalocaudal, perkembangan yang menyebar ke seluruh tubuh berawal dari kepala menuju kaki.

- Hukum Proxmodistal, perkembangan dari yang dekat ke jauh. Kemampuan jari jemari seorang anak berawal dari pergerakan lengan terlebih dahulu.

e. Pola perkembangan memiliki karakteristik yang dapat diramalkan

Pola perkembangan berkarakteristik ditandai dengan adanya dua periode, yaitu

equilibrium, jika individu mampu dengan mudah beradaptasi dengan tuntutan lingkungan dan berhasil dalam beradaptasi dengan pribadi maupun dengan sosialnya. Pola kedua, disequilibrium –jika individu mengalami kesukaran dalam beradaptasi akibatnya proses adaptasi dengan diri sendiri maupun social menjadi buruk. Keduanya berpotensi memengaruhi tahapan berikutnya.

f. Perbedaan individu dalam perkembangan

Dobzhansky, “Setiap orang secara biologis dan genetis benar – benar berbeda satu dari yang lainnya, bahkan dalam kasus bayi kembar.”

Meskipun setiap individu memiliki pola perkembangan yang sama, namun masing – masing individu memiliki cara dan kecepatannya sendiri. Beberapa individu berkembang dengan lancar, tepat dengan usianya. Beberapa individu yang lain berkembang dengan pergerakan yang cukup pesat, sedangkan individu yang lainnya lagi mengalami perkembangan yang menyimpang..

Perbedaan yang dimiliki oleh tiap individu tidak lepas dari faktor genetik dan lingkungan individu yang berbeda – beda pula.

g. Periode pola perkembangan

Periode dalam pola perkembangan, meliputi : pralahir, masa neonatus,masa bayi, masa kanak – kanak awal, masa kanak – kanak akhir, dan masa puber.

Dalam setiap periode terdapat keseimbangan dan ketidakseimbangan serta pola perilaku normal dan yang terbawa dari periode sebelumnya biasanya disebut perilaku bermasalah.

h. Adanya harapan social untuk setiap periode perkembangan

(5)

dituntut untuk memenuhi harapan – harapan dan standar yang telah ditentukan oleh lingkungan tempat dimana ia tinggal.

i. Setiap tahap perkembangan memiliki risiko

Rentang kehidupan dihubungkan dengan risiko perkembangan tertentu, baik dalam segi fisik, psikis, lingkungan, maupun masalah – masalah adaptasi yang tak dapat dihindari.

j. Kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode dalam pola perkembangan

Tahun – tahun pertama kehidupan biasanya individu akan mengalami masa yang paling bahagia sedangkan pada masa puber merupakan masa – masa paling tidak bahagia. Seringkali ditemui bahwa banyak sekali anak – anak yang dapat bermain dengan suka cita, sedangkan ditemui pula remaja yang frustrasi dan mudah berputus asa.

III. Tugas – Tugas Perkembangan

Tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikut; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakkan, dan kesulitan – kesulitan dalam menuntaskan tugas – tugas berikuntya (Robert Havighurst, 1961).

Berdasarkan rentang usia tahapan perkembangan, menurut Havighurst tugas – tugas perkembangan dibagi menjadi berikut ini :

1. Masa Bayi dan Masa Awal Kanak – Kanak (0 – 6tahun)

- Belajar berjalan (9 – 15bulan) - Belajar memakan makanan padat - Belajar berbicara

- Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh (<4 tahun) - Belajar mengenal perbedaan seks dan tata caranya

- Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis - Membentuk konsep – konsep (pengertian)

- Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain.

(6)

- Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani. 2. Akhir Masa Kanak – Kanak (6 – 12tahun)

- Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan – permainan umum

- Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh

- Belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya - Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita

- Mengembangkan keterampilan – keterampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung

- Mengembangkan pengertian – pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari – hari

- Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai - Mengembangkan sikap terhadap kelompok – kelompok social dan lembaga –

lembaga

- Mencapai kebebasan pribadi

3. Masa Remaja (12 - 18 tahun)

- Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita

- Mencapai peran social pria dan wanita

- Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif - Mengharapkan dan mencapai perilaku social yang bertanggung jawab

- Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang – orang dewasa lainnya

- Mempersiapkan karir ekonomi

- Mempersiapkan perkawinan dan keluarga

- Memperoleh peringkat nilai dan system etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideology

4. Awal Masa Dewasa (18 – 40 tahun)

- Mulai bekerja

- Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara - Mencari kelompok social yang menyenangkan

5. Masa Usia Pertengahan (40 – 60 tahun)

- Mencapai tanggung jawab social dan dewasa sebagai warga negara

- Membantu anak – anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia

- Mengembangkan kegiatan – kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa

(7)

- Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan – perubahan fisiologis yang terjadi pada tahap ini

- Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan

- Menyesuaikan diri dengan orang tua yang semakin tua

6. Masa Tua (>60 tahun)

- Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan

- Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income (penghasilan keluarga)

- Menyesuaikan diri dengan kematian bersama pasangan hidup - Membentuk hubungan dengan orang – orang yang seusia - Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan - Menyesuaikan dengan peran social secara luwes

IV. Metode Penelitian

1. Metode Umum

Metode umum memberikan lebih banyak data mengenai keseluruhan perkembangan atau beberpa aspek dari objek penelitian. Selain itu juga meninjau pengaruh faktor endogen (bawaan) dan oksigen (lingkungan, khususnya kebudayaan). Metode umum dibagi lagi menjadi beberapa metode, diantaranya sebagai berikut :

a. Metode Cross-Sectional

Suatu metode yang digunakan untuk melakukan penelitian terhadap beberapa kelompok individu dalam jangka waktu yang relatif singkat. Penelitian dilakukan kepada kelompok individu dengan tingkatan usia yang berbeda – beda.

Contoh : Meneliti sekelompok anak berusia 5 tahun, 8 tahun, dan 11 tahun. Kelompok anak usia remaja dan orang dewasa berusia 17 tahun, 25 tahun, dan 45 tahun. Kelompok variable terikat : IQ, memori, relasi teman sebaya, kedekatan dengan orang tua, perubahan hormone, dan lain – lain.

b. Metode Longitudinal

Suatu metode dalam penelitian yang dilakukan dengan cara menyelidiki individu dalam jangka waktu yang lama. Dengan metode ini biasanya diteliti beberapa aspek tingkah laku pada satu/dua orang yang sama dalam waktu beberapa tahun.

Contoh : Mengikuti perkembangan seseorang dalam jangka waktu tertentu, seperti selama masa kanak – kanak atau mengikuti perkembangan seseorang selama masa remaja.

(8)

Metode sekuensial ini merupakan kombinasi dari metode cross-sectional

dan longitudinal.

Contoh : Pendekatan dimulai dengan studi cross-sectional yang mencakup individu dari usia yang berbeda. Berbulan – bulan setelah pengukuran awal, individu yang sama diuji lagi (aspek longitudinal). Pada waktu selanjutnya, sekelompok subjek baru diukur pada masing – masing tingkat usia. Kelompok baru pada masing – masing tingkat ditambahkan pada waktu berikutnya untuk mengontrol perubahan yang gugur dari studi, pengujian ulang mungkin telah meningkat kinerja mereka.

d. Metode Cross-Cultural

Suatu metode dalam penelitian yang mempertimbangkan faktor – faktor lingkungan atau kebudayaan yang berpengaruh terhadap perkembangan individu. Pendekatan ini, banyak digunakan untuk mengetahui perbedaan – perbedaan atau persamaan – persamaan perkembangan anak pada beberapa latar belakang kebudayaan yang berbeda – beda, baik melalui percobaan, maupun tes pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan pengumpulan data lainnya untuk diolah dan dianalisa persamaan dan perbedaannya.

Contoh : Ingin mengetahui tentang besar kecilnya pengaruh dari faktor social, ekonomi, pola pengasuhan, dan gaya hidup terhadap cirri kepribadian dan perkembangan kognitif.

2. Metode Spesifik

Metode spesifik adalah cara – cara khusus yang digunakan untuk mengetahui gejala perkembangan yang sedang timbul pada suatu tahapan perkembangan. Metode spesifik dibagi lagi menjadi beberapa metode, diantaranya sebagai berikut :

(9)

Suatu metode yang dilakukan untuk mengamati semua tingkah laku yang munculpada suatu tahapan perkembangan tertentu. Dibedakan menjadi dua macam observasi, yakni:

- Observasi Alami : pengamatan tingkah laku yang terjadi secara alami tanpa dikontrol oleh pengamatnya.

- Observasi Terkontrol : dilakukan bilaman lingkungan tempat anak berada diubah sedemikian rupa sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga akan muncul – muncul respon yang diharapkan.

b. Metode Eksperimen

Penelitian dilakukan dengan kegiatan percobaan pada individu untuk mencapai hasil yang diinginkan.

c. Metode Klinis

Merupakan kombinasi dari metode observasi dan eksperimen. Dilakukan dengan cara mengamati objek penelitian, kemudian dilakukan percakapan dan proses tanya-jawab untuk menggali informasi.

d. Metode Tes

Metode yang digunakan untuk mengadakan pengukuran tertentu terhadap objeknya. Merupakan instrumen penting dalam kegiatan penelitian bidang psikologi kontemporer untuk mengetahui jenis kemampuan, minat, sikap, dan hasil kerja.

V. Teori – Teori Dasar Perkembangan

1. Teori Nature

Terbentuknya sifat/perilaku manusia melalui proses biologis yang lebih terfokus pada genetik, hormon, dan proses hereditas lainnya . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri tertulis bahwa nature berarti sifat; watak; pembawaan. Sampai pada batas tertentu, perkembangan kita diprogram oleh kode genetik yang kita warisi. Beberapa ahli filosofi seperti Plato dan Descrates berpendapat bahwa ada beberapa hal yang telah manusia miliki sejak dia lahir, terjadi begitu saja, tanpa campur tangan dari lingkungan di sekitarnya.

2. Teori Nurture

(10)

3. Teori Konvergensi

Teori ini merupakan gabungan dari kedua teori di atas yang menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan dalam mempengaruhi dan menentukan perkembangan individu.

Faktor pembawaan manusia dalam teori ini disebut sebagai faktor endogen yang meliputi faktor kejasmanian seperti kulit putih, rambut keriting, rambut warna hitam. Selain faktor kejasmanian faktor ada juga faktor pembawaan psikologis yang disebut dengan temperamen. Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak adalah keseluruhan ari sifat manusia yang namapak dalam perilaku sehari-hari sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan dan bersifat tidak konstan. Jika watak atau karakter bersifat tidak konstan maka temperamen bersifat konstan. Selain temperamen dan sifat jasmani, faktor endogen lainnya yang ada pada diri manusia adalah faktor bakat (aptitude). Aptitude adalah potensi-potensi yang memungkinkan individu berkembang ke satu arah.

Untuk faktor lingkungan yang dimaksud dalam teori ini disebut sebagai faktor eksogen yaitu faktor yang datang dari luar diri manusia berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang populer disebut sebagai milieu. Perbedaan antara lingkungan dengan pendidikan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan. Bila lingkungan bersifat pasif tidak memaksa bergantung pada individu apakah mau menggunakan kesempatan dan manfaat yang ada atau tidak. Sedangkan pendidikan bersifat aktif dan sistematis serta dijalankan penuh kesadaran.

4. Teori Perkembangan Kognitif (Jean Piaget)

Tahap-tahap perkembangan menurut piaget ini diringkas dalam tabel berikut

Tahap Usia/Tahun Gambaran

Sensorimotor 0 – 2 Bayi bergerak dari tindakan refleks instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui pengkoordinasian pengalaman-pengalaman sensor dengan tindakan fisik

Preoperationa

l 2 – 7 Anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar ini menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensor dan tindak fisik.

Concrete

operational 7 – 11 Pada saat ini anak dapat berfikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkrit dan mengklasifikasikan benda-benda kedalam bentuk-bentuk yang berbeda.

(11)

operational abstrak dan logis. Pemikiran lebih idealistik.

5. Teori Perkembangan Moral (Kohlberg)

Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg , ialah internalisasi yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal. Teori Perkembangan moral dalam psikologi umum menurut Kohlberg terdapat 3 tingkat dan 6 tahap pada masing-masing tingkat terdapat 2 tahap diantaranya

2. Orientasi hedonistic Instrumental suatu perbuatan dinilai baik apabila berfungsi sebagai instrument untuk memahami kebutuhan atau kepuasan 4. Orientasi keteraturan dan orientasi

perilaku yang dinilai baik adalah mentaati aturan untuk menghindari hukuman kata hati

5. Orientasi control sosial legalistic dan semacam perjanjian antardirinya dan lingkungan sosial. Perbuatan dinilai baik apabila sesuai

6. Orientasi kata hari kebenaran ditentukan oleh kata hati, sesuai dengan prisip prinsip etika universal yang bersifat abstrak dan penghormatan terhadap martabat manusia

6. Teori Perkembangan Psikoseksual (Sigmund Freud)

(12)

ini kepuasan seksual manusia berada pada aktivitas anus. Contoh, seorang bayi akan merasa puas bila aktivitas pengeluaran dari anusnya berjalan dengan baik.

Fase Phalic (3 - 5 tahun), pada fase ini manusia akan mencoba mengenali identitas kelaminnya. Contoh, seoarang anak laki-laki akan meniru segala perbuatan yang dilakukan oleh Ayahnya dan seoarang anak perempuan akan meniru segala perbuatan yang dilakukan oleh Ibunya. Fase Latent (6 - 12 tahun), aktivitas seksual manusia pada fase ini cenderung tidak nampak. Hal ini terjadi karena individu sedang disibukkan dengan pencarian prestasi. Fase Genital (12 tahun ke atas), fase ini adalah fase akhir dari keseluruhan fase yang ada. Fase ini adalah fase dimana munculnya kembali aktivitas seksual manusia.

7. Teori Perkembangan Psikososial (Erik H. Erikson)

Developmental Stage Basic Components

Infancy (0-1 thn) Trust vs Mistrust

Early childhood (1-3 thn) Autonomy vs Shame, Doubt Preschool age (4-5 thn)

School age (6-11 thn) Adolescence (12-10 thn)

Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority

Identity vs Identity Confusion Young adulthood ( 21-40 thn) Intimacy vs Isolation

Adulthood (41-65 thn) Generativity vs Stagnation Senescence (+65 thn) Ego Integrity vs Despair

8. Teori Perkembangan Belajar

Classical Conditioning – Ivan Pavlov

Classical Conditioning adalah tipe belajar dimana stimulus mendapat kapasitas untuk membangkitkan respon yang pada awalnya ditimbulkan oleh stimulus lain. Pendapat ini dikemukakan oleh Ivan Pavlov.

Mekanisme

Terdapat dua aspek stimulus, yakni Unconditioned Stimulus (US), stimulus yang secara otomatis menimbulkan respon tanpa adanya pengkondisian dan

Conditioned Stimulus (CS), didahului oleh stimulus netral serta dua aspek respon, yakni Unconditioned Response (UR), respon otomatis terhadap US dan

Conditioned Response (CR), respon terhadap CS yang didahului oleh pengkondisian.

(13)

dan subjek tetap memberikan respon terhadap CS, respon seperti ini bisa disebut CR karena subjek memberikan respon terhadap CS setelah diberikan pengkondisian (yaitu pemberian US).

Operant Conditioning – B. F. Skinner

Operant Conditioning adalah tipe belajar dimana tanggapan/respon datang dikontrol oleh konsekuensinya, menekankan pada hubungan sebab – akibat. Dikemukakan oleh Skinner yang sebelumnya telah diteliti oleh Thorndike.

Mekanisme

Manipulasi akibat-akibat yang diberikan terhadap suatu perilaku dengan tujuan untuk menaikkan atau menurunkan kemungkinan munculnya perilaku tersebut, sehingga reinforcement perlu dilakukan secara berulang. Lingkungan mempengaruhi perilaku yang dimunculkan oleh individu dan frekuensi munculnya perilaku berubah-ubah sesuai dengan pemerkuat yang mengikutinya. Pada tipe

operant conditioning, pemerkuat (reinforcement) diberikan sesudah munculnya perilaku.

Terdapat 4 prosedur operant conditioning menurut Skinner, yaitu;

1. Positive Reinforcement; Ketika Individu memunculkan perilaku yang diharapkan, maka pemerkuat positif (menyenangkan) diberikan.

2. Negative Reinforcement; Ketika individu menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan, maka pemerkuat negatif (tidak menyenangkan) diberikan.

3. Punishment; Jika individu menunjukkan perilaku yang diharapkan (perilaku operan) maka hukuman diberikan, jika tidak memunculkan perilaku itu, maka hukuman dihentikan.

4. Ommision Training; Jika individu memunculkan perilaku operan, maka pemerkuat akan dihentikan, namun jika individu tidak memunculkan perilaku operan pemerkuat menyenangkan akan diberikan.

Observational Learning - Bandura

(14)

Mekanisme

Dalam proses pembelajaran tipe ini, diperlukan model sebagai media untuk dapat diamati secara langsung. Model diharapkan memiliki pengaruh yang kuat kepada pembelajar demi terciptanya keberhasilan proses. Model pun harus mampu mengembangakan efikasi diri dan menimbulkan pemerkuat bagi pembelajar.

9. Teori Perkembagan Bahasa

Bayi beru lahir sampai usia satu tahun lazim disebut dengan istilah infant artinya tidak mampu berbicara. Istilah ini memang tepat kalau dikaitkan dengan kemampuan berbicara. Perkembangan bahasa bayi dapat dibagi dua yaitu :

Tahap Perkembangan Artikulasi

Tahap ini dilalui bayi antara sejak lahir kira-kira berusia 14 bulan. Usaha kearah “menghasilkan” bunyi-bunyi itu sudah mulai pada minggu-minggu sejak kelahiran bayi tersebut. Perkembangan menghasilkan bunyi ini disebut perkembangan artikulasi, dilalui seorang bayi melalui rangkaian tahap sebagai berikut.

a) Bunyi Resonansi

Penghasilan bunyi, yang terjadi dalam rongga mulut, tidak terlepas dari kegiatan dan perkembangan montorik bayi pada bagian rongga mulut. Baunyi yang paling umum yang dapat dibuat bayi adalah bunyi tangis karena merasa tidak enak atau merasa lapar dan bunyi-bunyi sebagai batuk, bersin, dan sedawa. Disamping itu, ada pula bunyi bukan tangis yang disebut bunyi “kuasi resonansi, bunyi ini belum ada konsonannya dan vokalnya belum sepenuhnya mengandung resonansi.

b) Bunyi berdekut

Mendekati usia dua bulan bayi telah mengembangan kendali otot mulut untuk memulai dan mengentikan gerakan secara mantap. Pada tahap ini suara tawa dan suara berdekut (cooking) telah terdengar. Bunyi berdekut ini agak mirip dengan bunyi [ooo] pada burung merpati. Bunyi yang dihasilkan adalah bunyi konsonan belakang dan tengah dengan vocal belakang, tetapi dengan resonansi penuh. Bunyi konsonannya mirip dengan bunyi [s] dan bunyi hampat velar yang mirip dengan bunyi [k] dan [g].

(15)

Berleter adalah mengelurkan bunyi yang terus menerus tanpa tujuan. Berleter ini biasanya dilakukan oleh bayi yang berusia antara empat sampai enam bulan.

d) Bunyi Berleter Ulang

Tahap ini dilalui si anak berusia antara enam sampai sepuluh bulan. Konsonan yang mula-mula dapat diucapkan adalah bunyi labial [p] dan [b], bunyi letup alveolarm [t] dan [d], bunyi nasal [j]. Yang paling umum terdengar adalah bunyi suku kata yang merupakan rangkaian konsonan dan vocal seperti “ba-ba-ba” atau “ma-ma-ma”.

e) Bunyi vakabel

Vakabel adalah bunyi yang hamper menyerupai kata, tetapi tidak mempunyai arti dan bukan merupkan tiruan orang dewasa. Vokabel ini dapat dihasilkan oleh sang anak antara usia 11 sampai 14 bulan.

 Tahap Perkembangan Kata dan Kalimat

Kemampuan bervakabel dilanjutkan dengan kemampuan mengucapkan kata, lalu mengucapkan kalimat sederhana, dan kalimat yang lebih sempurna.

a. Kata Pertama

Kemampuan mengucapkab kata pertama sangat ditentukan oleh penguasaan artikulasi, dan oleh kemampuabn mengaitkan kata dengan benda yang menjadi rujukkan (de Vilers, 1097 dalam Purwo, 1989). Pada tahap ini anak cenderung menyederhanakan pengecapannya yang dilakukan secara sistematis.

b. Kalimat Satu Kata

Kata pertama yang berhasil diucapkan anak akan disusul oleh kata kedua, ketiga, keempay dan seterusnya. Kalimat satu kata yang lazim disebut ucapan holofrasis.

c. Kalimat Dua kata

Yang dimaksud dengan kalimat dua kata adalah kalimat yang hanya terdiri dari dua buah kata, sebagai kelanjutan dari kalimat satu kata. d. Kalimat Lebih lanjut

Pernguasaan kalimat dua kata mencapai tahap tertentu, maka berkembanglah penyusunan kalimat yang terdiri dari tiga buah kata.

Tahap Menjelang Sekolah

(16)

sebab sifatnya hanya menolong anak untuk siap memesuki pendidikan dasar. Ketika memasuski taman kanak-kanak anak sudah menguasai hampir semua kaidah dasr gramatikal bahanya. Dia sudah dapat membuat kalimat berita, kalimat Tanya, dan sejumlah konstuksi lain. Anak pada prasekolah ini telah mempelajari hal-hal yang di luar kosakata dan tata bahasa. Merka sudah dapat menggunakan bahasa dalam konteks social yang bermacam-macam.

VI. Masa Pranatal

Masa prantal adalah periode perkembangan pertama dalam jangka kehidupan manusia dan secara biologis, hidup dimulaipada waktu konsepsi, yaitu pembuahan dari ovum oleh sperma, dan berakhir pada waktu kelahiran. Masa didalam kandungan atau prenatal atau masa konsepsi ini sangat penting artinya, karena merupakan awal kehidupan.

Ciri-ciri Periode Pranatal :

Kondisi yang baik dalam tubuh Ibu dapat menunjang perkembangan sifat

bawaan sedangkan kondisi yang tidak baik dapat menghambat perkembangan bahkan sampai mengganggu pola perkembangan yang akan datang.

Jenis kelamin individu yang baru diciptakan sudah dipastikan pada saat

pembuahan dan kondisi-kondisi dalam tubuh ibu tidak akan mempengaruhinya, sama hal nya dengan sifat bawaan

Perkembangan dan pertumbuhan yang normal lebih banyak terjadi selama

periode prenatal dibandingkan pada periode-periode lain dalam seluruh kehidupan individu

Periode prenatal merupakan masa yang mengandung banyak bahaya, baik

fisik maupun psikologis

Periode prenatal merupakan saat dimana orang-orang yang berkepentingan

sikap-sikap pada diri individu yang baru diciptakan

Pemulaian Kehidupan :

Pematangan

(17)

terbelah, yang selanjutnya akan terbelah menurut panjangnya dan membentuk dua sel baru

Ovulasi

Proses lepasnya satu telur yang matang selama siklus haid

Pembuahan(fertilisasi)

yang terjadi pada masa kehamilan merupakan tahpa ketiga dari permulaan perkembangan sejak mulanya kehidupan baru.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan prenatal :

Kesehatan Ibu

Gizi Ibu

Pemakaian bahan-bahan kimia Oleh Ibu

Keadaan dan ketegangan emosi Ibu

Usia orangtua atau ibu terlalu tua atau muda keduanya kurang menguntungkan bagi perkembangan bayi dalam rahim

Ada juga pengaruh bulan terakhir atau masa kelahiran

Urgensi Pranata

Walaupun masa prenatal ini relative pendek, akan tetapi penting karena enam hal berikut :

Segala sesuatu yang didapatkan dari warisan, ayng menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya ditetapkan pada masa ini

Keadaan-keadaan yang menguntungkan didalam badan Ibudapat memlihara perkembangan dari potensi-potensi yang didapatkan dari warisan, sedangkan keadaan-keadaan yang kurang baik dapat ataupun merubah pola perkembangan yang akan datang

Apabila dibandingkan dengan keadaan didalam periode-periode yang lain, dalam masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat

Sikap orang-orang yang berarti akan sangat mempengaruhi cara mereka mengahdapi si kecil, terutama dalam tahun-tahun pertama pembentukan dirinya

Periode prenatal masa yang mengandung banyak bahaya, baik fisik maupun psikis.

(18)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Volume. 4, No. 1, April 2015

“Hubungan Sibling Rivalry Dengan Motivasi Berprestasi Pada Remaja”

Tri Vevandi MMW Tairas

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Abstrak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antra sibling rivalry dengan motivasi berprestasi padaremaja. Sibling rivalry adalah perilaku yang menunjukkan kecemburuan, kompetisi dan penolakan antar saudarakandung untuk memperebutkan perhatian dan kasih sayang orang tua. Sedangkan motivasi berprestasi adalah motifmencapai hasil yang sebaik-baiknya dengan pedoman suatu standar keunggulan tertentu. Penelitian dilakukan padaremaja yang mempunyai saudara kandung yaitu adik dan sedang menjalani pendidikan di sekolah dengan jumlahsubjek sebanyak 154 orang. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner berupa skala sibling rivalry yangterdiri dari 49 aitem dan skala motivasi berprestasi yang terdiri dari 25 aitem. Analisis data yang digunakan padapenelitian ini adalah teknik korelasi Pearson Correlation dengan bantuan software IBM SPSS 20.0 for windows.Bedasarkan hasil analisis data penelitian diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,469 dengan taraf signifikansi 0,001.Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat sibling rivalry dengan motivasiberprestasi pada remaja dengan kekuatan hubungan yang sedang.

Kata Kunci: Sibling rivalry, Motivasi Berprestasi, Remaja

(19)

Hasil penelitian ini juga sesuai denganpendapat Millman & Schaefer (1981) bahwa anak yanglebih tua memiliki keseriusan, ketekunan dalammengerjakan tugas dan memiliki motivasi yang tinggimencapai prestasi lebih dari saudara kandungnya.McClelland (1987) menyatakan bahwa motivasiberprestasi akan mempengaruhi hasil prestasiindividu sehingga individu yang memiliki ketekunan,keseriusan, dengan usaha yang sungguh-sungguh. dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan akanmendapat hasil yang maksimal pula. Remaja yangmenjadi subjek penelitian ini merupakan masaperalihan dari anak-anak menuju dewasa dengansegala dinamika yang dilaluinya, pada salah satu tugasperkembangan Havighurst (dalam Monks, 1999)remaja mampu mencapai tingkah laku sosial yangbertanggung jawab atas apa yang sedangdijalankannya. Dalam hal ini adalah pendidikan yang diberikan oleh sekolah. Remaja dituntut untuk dapatberkarya dan berprestasi dan bertingkah laku seperti orang dewasa.

DAFTAR PUSTAKA

Desmita. (2013). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

(20)

Haditono, S. Rahayu. (2006). Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Hurlock, B. Elizabeth. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

Setyawati, Nanik. (2009). Teori Balajar Bahasa. Semarang: IKIP PGRI Semarang

Vevandi, Tri., M.M.W. Tairas. (2015). Hubungan Sibling Rivalry dengan Motivasi Berprestasi Pada Remaja. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, Vol. 4 (1), hal. 46 – 56

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada siswa kelas IV SDN 2 Bojong dalam dua siklus, setiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan, maka dapat

Bea dan cukai akan menganalisa dokumen yang di lampirkan apakah sudah sesuai dengan barang yang diimpor atau belum untuk penjaluran barang tersebut Dalam

Mengajarkan kepada pasien tentang tanda dan gejala infeksi pada luka episiotomy yang meliputi Bekas luka jahitan terasa sakit, panas, gatal sehingga mengganggu proses buang

Berdasarkan kepada hasil estimasi maka dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa terdapat kaitan antara produktifitas (kelahiran pertama), prestasi peternak penerima

Mekanika sederhana – usus halus atas Kolik (kram) pada abdomen pertengahan sampai ke atas, distensi, muntah empedu awal, peningkatan bising usus (bunyi gemerincing

Ruang lingkup hyperkes dapat dijelaskan sebagai berikut (Rachman, 1990) : a. Kesehatan dan keselamatan kerja diterapkan di semua tempat kerja yang di dalamnya melibatkan aspek

ada de%ek pada eni &#34;ang #erperan pada langka$(langka$ proses $oronogenesis. Keadaan ini dit!r!nkan) #ersi%at resesi%. Apa#ila de%ek #erat aka kas!s s!da$ dapat