• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Organisasi Kognitif dan Afektif d

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sistem Organisasi Kognitif dan Afektif d"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

r

I

Jurnal

ISSN: 1412-1700

Volume 13 Number 12014 Accredited by DGHE SK No. 81 /DIKTI/KeplZOl 1

{otur4u t.

,.t 't:t. ,.:i,:: l Number 1 2014

,- 1.-it-:

b,- illi-i 'ii:

Manajemen

Teknologi

(2)

W

I nstitutTeknotogi Bandung

Publisher:

Jurnal Manajemen Teknologi Sekolah Bisnis dan Manajemen Insitut Teknologi Bandung

PrintISSN : 1'412-1'700 OnLine ISSN:2089-7928

Chief Editor

Atik Aprianingsih, DBA

Associate Editor

Yos Sunitiyoso, Ph.D

Circulation and Distribution

Supri Haryanto, S.Sos

Ady Nugroho, SP

EDITORIAL BOARD

Prof. Syamsul

Amat

Prof. Kuntoro

Mangkusubroto

Sani Susanto, Ph.D

Fakultas

Ekonomi

Sekolah Bisnis dan

Manajemen

Fakultas Teknologr Industri Universitas Negeri

Padang

Insitut Teknologi

Bandung

Universitas Katolik Pzrahyzngan

Dr. Mursyid Hasan

Basri

Reza Ashari Nasution,

Ph.D

Prof. Jann HidajatTjakraatmadia

Sekolah Bisnis dan

Manajemen

Sekolah Bisnis dan

Manajemen

Sekolah Bisnis dan Manaiemen Insitut Teknologi

Bandung

Insitut Teknoiogi

Bandung

Insitut Teknologi Bandung Prof. Wilson

Bangun

Prof. Joniarto

Parung

Prof. Conrad William Watson

Fakultas

Ekonomi

Fakultas

Teknik

Sekolah Bisnis dan Manajemen

Universitas I{risten Maranatha

Bandung

Universitas

Surabal,a

Insitut Teknologi Bandung

Prof. Surna Tjahia

Djajadiningrat

Ruslan Prijadi,

Ph.D

Prof. Dermawan Wibisono

Sekolah Bisnis dan

Manajemen

Fakultas

Ekonomi

Sekolah Bisnis dan Manajemen Insitut Teknologi

Bandung

Universitas

Indonesia

Insitut Teknologi Bandung

Prof. Christantius

Dwiatmadia

Prof. Utomo Sariono

Putro

Dr. Agung Wicaksono

Fakultas Ekonomika dan

Bisnis

Sekolah Bisnis dan

Manajemen

Sekolah Bisnis dan Manajemen Universitas I{risten Satya

\Wacana

Insitut Teknologi

Bandung

Insitut Teknologi Bandung

Dr. Pri

Flermawan

Dr. Bambang

Rudito

Prof. Sudarso Kaderi \(ityono

Sekoiah Bisnis dan

Manajemen

Sekolah Bisnis dan

Manajemen

Sekolah Bisrus dan Manajemen Insitut Teknologi

Bandung

Insirut Teknologi

Bandung

Insitut Teknologi Bandung

Deddy Priatmodjo Koestindartoto,

Ph.D

Prof. Togar Mangihut

Simatupang

Gatot Yudoko, Ph.D

Sekolah Bisnis dan

Manajemen

Sekolah Bisnis dan

Manajemen

Sekolah Bisnis Jan Manajemen Insitut Teknologr

Bandung

Insitut Teknologi

Bandung

Insitut Teknologi Bandung

Dwi Larso,

Ph.D

Prof. Moses L.

Singgih

Dr. Aurik Gustomo

Sekolah Bisnis dan

Manajemen

Fakultas Teknik

Industti

Sekolah Bisnis dan Mana]emen Insitut Teknologr

Bandung

Institut Teknologi Sepuluh

Nopember

Insitut Teknologi Bandung

Editorial Address:

Unit Research and Knowledge

Sekolah Bisnis dan Manaiemen, Instirut Teknologr Bandung Jl. Ganesha No. 10 Bandung 40132

Telp/Fax (022) 2531'923 / (022) 2504249

(3)

Sistem

Organisasi

Kognitif

dan

Afektif

dan Pengaruhnya terhadap

Kine{a

Apotek

di

Sutabeyai

Efek

Moderasi Orientasi

Kewirausahaan

Badri

Munir

Sukoco,

Vindi

Yiciana

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga

Abstrak. Apotek nerupakan indnstrl -yang rangrlt diatur olelt peneriatah dengan tirtgkat persrti'ngan iang

tingi

kare*a rltferensiasijangdita*,arkan rendah dan densitas.yangmkup tinggz di btberaprt area. &Ienaiknya, kondisi

tersebntjrga ntenbaat kircerya apatuk beragam; selsinga tlengan menganaka.n

ptEekti{

rtrie*tai pasar, penelitian

iyi berirgunenta:'i hahnw respons$itas pcngelok apatek akan tindakttfi pesaing ffidl,tpsn kebutuhan pelangan dapal

nemberlikan kinefanjtu.Nsetinijuga berurguntntasi baltwa oriartasi kewirannlsaaniangd,irzilikipengelol* akan

ruenguatkan pengatwb tersebat. &,Iekarcisme tentang bagaimana penualsaax. rneruhenluk reryansifittts terl:adap pesiing nanpan peknganjug,t diinwstigasi. Nset ini nendistribusi,h.rtn nruei leepada pengelala @atek di ,f urabaiw -,tengoi

,ttpoo

il,ntjo*

i31

wspo*den- Mengunakan

PIJ,

lt^^ilpmelitian menanjukkan bahtua rerporsfitas teriattap in,lakan pesaing berpengarab terhadap kineSa apa*A, sedat4gkan reqpoastfihx terhadup pelanggan tidak'

ttglofii*

E{ek

iod*ui

oiintasi kewiraasaltdrr:ft}dvtgtlibipotesiskanjuga tid(tk terbttkli. Respansfilas terbad@

pltiAgaiptigonrhi sana kaafrya okh sisten nrganisasijangkognitlf dan afekt$ sedarugkan resPttnsfitas terltadap

'pttoofuni

tei;h dtptogoruhi oleh sisten organisasi_yang ajbktf. Intplikasi man$erial dan akadenis disaiikan kbitt

Iunj ut dabn pene liti*x ini.

Kata

kunci:

Sisttrx Organisni Kognitf, Sis*ru Argalisasi AfektiJ fuspon:fitar pada Puaing ke4oasiiitas

pada Pe langan, Kn e rja, dan llpa te

k

Abstmct. Apatberury is a l:igtlS regukted and rcneetiti.ue indastrjt d*e to less dffirentiation and ltiglt densiU itt

certain areas.- Interutitgp, tbe patfonnanrc aJ' apotl:uaries is lteterogtneous; *nd based tt'n narket orientatian pertpatiue we argue tl:atise mndition txistt due to dffirett leuel on respondingnnpetitors' actions as wdl at cttstotners'

-

neih. Further, ie argue that naxagers' enlrepreneurial aient'ation mn slrengtlsen tbue relalionsh$s. The ntecbanism

of bow can ap*tlsuariu dewlop

tliir

reryonsitnness to rot@etitors aftd tilstatsers aln is iwwstigated. Wle distri'buted

quutitnnaitis dnalxgapoptt:icary rnaffagtrs

i*

Surahaga andgenerated 131 respo*rcs.

Bi

asingPIJ, tlte results

intlicatt that re:pon.riteitst ts towpetiton posititvfv inflamu ors tbrirpetfomra.ni;e, altile responsiaeness lo rwslotners is

not. T'he ruodeiting

rfrtt

of en*iprenearial orientation i.r also not conf.nned. Rtsponsit'eness to rompelitors is h;gh| deterrnined bj eugiliiw and afft*ue arganiqational ystern, wlsilz respansiuenrcs ta ctt$tmers nain$ determiwd fut

aLfectiue organiqational gtten. &{anageial and amdemir in$litatians areJarther discaxed in this paper'

Keywords:

Cagnit:itw Otgnriqat*m Sjslext, .Afe*ive Or;gaaiqation Sjtstem, Reryonsiueness to Canrpetitorc, Responsi aeness to C usto ners, P erJarrnann, and D rttgs tare

Rcccircd: 9 Juli 201 3, Rcrision: 1 1 Apd 2ll1'{, Acccptcd: I 4 Aprn 20 I 4

Priot lssN: 141?-1?0{i; oolinc ISS}i: ?oE9-?928' Dol: http:rrldx'doi'org/10'12695/imt'2Lrl4'13'l'2

l"pyAgfrig:t'i+. ?ublistrcct b.y i-tnit Rcscar-ch md !fuov'lcdgc, Schooi oI- I]usincss and i{an*gcmmt - Institut'Icknologi Eandmg (SBM-I'rB)

I Jurnal

22

| Mana\emen Teknologi I Vt,l.13 | No.t i 2t114
(4)

Sakan dan Viciana/ .fitten Organisasi KognitiJ' dan,4J'ektll' dan Peng,aruhrya terhadap Kinerya Apntek di -larabay: F.fek Moderasi Oientasi

Kewiraasahaan

'1,. Pendahuluan

Apotek

merupakan tempat

untuk

pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi,

dan

perbekalan kesehatan

lainnya

kepada

masyarakat (I{epmenkes

No.

1

332IMENKES/SK/X / 2002).

Nleskipun

layanan diperuntukkan bagi kesehatan, namun

saat

ini

berbagai

tantan€lan

dapat

mempengaruhi

kinerja

dan

kelangsungan hidup apotek

di

Indonesia. Pertama, densitas

,vang

tidak

merata

di

Indonesra.

Data

dart Itemenkes

RI

(2011) menunjukkan bahwa apotek yang betoperasi

di

seluruh Indonesia sejumlah 16.603 apotek. Jawa

Timur

memiliki

1 .586 apotek dan 260/o dl:antarany^ berlokasi di

Surabaya.

Lebih

lanjut,

data

dari

Dinas

I{esehatan

Surabaya

menunjukkan

bahwa sebagian besar apotek berlokasi

di

Surabaya

Timur

(179 apotek). Hal

ini

dapat dimengerti,

mengingat

pusat

layanan

kesehatan yang menjadi rujukan

di

Indonesia

Timur,

RSUD

Dt. Soetomo, juga terletak di wila,vah ini.

I{edua, perang hatga antar apotek. Menurut

CEO

Kmia

Farma,

Imam

Fathotrahman, pertumbuhan industri apotek pada tahwn 207 2

relaaf

stabil

pada

angka 6,5"'/o @anirestu,

2013). Sedangkan diJawa Timur jumlah apotek

bertumbuh 35,630/o pada periode 2007-2010

(Dinas

I{esehatan Surabaya, 2011). Jumiah yang

tinggi

tanpa jarak minimal antar apotek,

maka

persaingan

pun

semakin

ketat

dan

memudahkan pelanggan untuk membeli obat sesuai dengan daya

beh dan

fasjlitas \rang

didapat. Hasil diskusi peneliti dengan beberapa

pengelola apotek menunjukkan bahwa banyak

apotek baru yang berdiri menggunakanharga mutah sebagai daya tariknya, sehingga apotek

yang

sudah

lama berdiri

akan

melakukan

tindakan yang sama dan terjadilah perang harga

yang tentunya tidak menyehatkan bagi kinerja apotek.

I{etiga, mulai diberlakukannya Sistem Jaminan

Sosial

Nasional

dengan

penyelenggar^fiya

Badan

Penyelenggara

Jaminan

Sosial diprediksikan akan menurunkan omzet apotek

sebesar 40%o (Ardia, 2013).

Selama ini, penguasaan pasar penyaluran obat

oleh apotek mencapai 43%,

diikuti

toko-toko umum sebesar 1870,

toko

obat 1.4o/o, melalui dokter sebesar 73o/o, dan sisanya (12y") melalui

rumah sakit

(Pharma Indonesia,

2012).

Penguasaan pasar tersebut akan semakin turun dikatenakan masyarakat kelas

bawah

yang

selama ini luga menjadi pelanggan apotek akan

memilih obat generik dibandingkan paten yang

banyak dijual oleh apotek.

Dari

gambafan tersebut

di

atas, responsifitas perusahaan terhadap tindakan yang dilakukan pesaing maupun kebutuhan

baru

pelanggan

sangat krusial dalam memenangkan pesaingan

(|aworski

dan I{ohli, I993;

I(irca,

Jayachzndran,

dan

Bearden,

2005).

Responsivitas

tersebut

akan

membentuk

keungguian bersaing

yang

baru

dalam

lingkungan yang kompetitif, yakni adaptabilitas (Reeves

dan Deimler,

201I),

dan

akan berkontnbusi pada kinerja perusahaan secara

berkelanjutan.

Namun

mekanisme

yang

bagaimanakah

agar

apotek

memiliki

responsifitas yang trnggi terhadap pesaing dan

pelanggan?

Menggunakan

kombinasi

perspektif orientasi pasar Saworski dan I{ohLi,

1993; Narver dan Siater, 1990) dan teori sistem

terbuka flohnson, I{ast, dan Rosenzweig, 1963;

dan

l{atz

dan

l{ahn,

1978), penelitian

ini

menguji

secara

empiris

pendapat

yang dikemukakan

oleh

Homburg,

Grozdanovic, dan I{larmann (2007) bahwa sistem organisasi

kogitif

dan

afektif

berperan

dalam

pembentukan responsifitas tersebut.

Diskusi

diatas

me n

jelaskan

bahwa

responsifttas apotek terhadap tindakan yang

dilakukan pesaing maupun yang dibutuhkan pelanggan merupakan kunci dari kesuksesan

((ohli

dan Jaworski, 1990).

Namun

dalam

kondisi yang bagaimana responsifitas tersebut

memiliki

dampak

yang

lebih

kuat? Dalam

konteks persaingan yang tinggi dengan pasar

yang

dilayani

relatif

sama, seperti industri

apotek, tentunya

pengelola

apotek

yang

memiliki

kemampuan

untuk

berinovas-i,

proaktif, dan

berani

mengambil

resiko (Matsuno, Mentzer, dan Ozsomer,2002) akan mampu mefespon secafa cepat dan tepat.

Jutnal

Manajemen Teknologi Vo1.13 No.1 | 2014

(5)

Sttkotadanl'idana/ SitemOrganisasiKognitif danAfektif danPengarahnlaterhadapkneryaApotekdiSarabay:EfekModerasiOientast kairausahaan

Penelitian sebelumnya menuniukkan bahwa orientasi kewirausahaan meruPakan

can

yang

efektif

dalam menghadapi tindakan pesaing

maupun

mengurangi tekanan

pefsaingan,

karena perusahaan melakukan scanftiilg dan memonitor lingkungan secara kontinl,-u (Keh,

Nguyen,

dan

Ng,

2007)

dan

melakukan

penyesuaian sesuai

yang

diharapkan

oleh

pelanggan

maupun

yang dilakukan

oleh

pes aing (R.eeves dan D eimle r, 201' 1)'

Berikut

ini

adalah kontribusi yang ditawarkan

oleh

penelitian

ini:

Pertarna, peneLitian ini

menguji secara empiris hasil penelitian yang telah dilakukan

oleh Homburg

dkk.

(2007)

terkait pengaruh responsifitas perusahaan di

industri

yang

cukup

unik,

yakni

apotek, di Indonesia. I{edua, penelitian

ini

mempeduas penggunaan kombinasi

teori

sistem terbuka Sohnson

dkk.,

1963;

I{atz

dan

I{ahn,

1978) dengan orientasi pasar )rang saat

ini

masih

larang dilakukan.

I(etiga,

penelitian ini

memperluas konsep yang dikembangkan oleh Homburg

dkk.

(2007) dengan menggunakan

orientasi

kewirausahaan

sebagai

variabel

moderato

r

y^ng

diasumsikan

daPat

menguatkan pengaruh responsifitas terhadap kinetja perusahaan. Hal ini iuga sesuai dengan pendapat dari \Wu, Lin, dan Chen (2013) bahwa kemampuan organisasi

untuk

selalu terbuka, baik terhadap sumber eksternal dan intetnal,

akzn menladikan kinerj a petusahaan lebih baik.

2.

Tinjauan

Pustaka dan Pengembangan

Hipotesis

2.1.

Sistem

Otganisasi

Teori

sistem terbuka

(open

ystemt

theory)

memprediksikan

bahwa

daya tahan sebuah

perusahan tergantung pada kemampuannya dalam mengadaptasikan aktifitasnya terhadap perubahan lingkungan

flohnson dkk.,

1963;

I{atz

dan

I{ahn,

1.978).

Teod

sistem melihat

bahwa

responsifitas

perusahaan terhadap

perubahan lingkungan merupakan

hasil

interaksi dari beberapa sub-sistem didalamnya

(I(ast dan

Rosenzweig, 1'970). I{onsisten dengan studi yang dilakukan oleh Homburg

dkk.

(2007), penelitian

ini

mengadaptasikan

literatur

pada

orientasi pasar

(marke t odentation

-

Jaworski dan

I(ohli,

1993) dan budaya organisasi (lrJarver dan Slater, 1990)

untuk menggunakan dua sub-sistem organisasi

dalam menetangkan responsifitas perusahaan

(Hult, I{etchen, dan Slatet, 2005) : pemrosesan

informasi organisasi dan budaya organisasi'

Pemrosesan

informasi oleh

organisasi biasa

dikenal dengan kognisi otganisasi (Sims dan

Gioia,

1986).

Anggota

organisasi

akzn

termotivasi

untuk

mempfoses informasi

bilamana mereka mempersepsikan ada nilai kognitif didalamnya (Hansen dan Haas, 2001).

Sistem organisasi

kognitif

merupakan

pemfosesan

informasi yang

terkait

dengan

pesaing (atau pelanggan) didalam organisasi

(Homburg

dkk.,

2007),

yang

terdiri

atas

akuisisi, diseminasi, analisis, dan penyimp^n n

(Sinkula, 1994).

Akuisisi

merupakan proses

dimana organisasi mendapatkan pengetahuan

melalui riset pasar, laporan yang terpublikasi.

dan

komunikasi

infotmal

(Homburg

dkk..

2007). Diseminasi merupakan proses terkait

dengan

pendistribusian

informasi

didalam oranisasi,

baik

melalui

rapat,

laporan,

atav

database Qt[altz

dan

I{ohli,

1996). Analisis merupakan pfoses menghubungkan informas.

datr berbagai sumber

dan

mendapatkar

pemahaman yang sama atas interpretasi yan€

dihasilkan (Homburg

dkk.,

2007)

Penyimpanan merupakan

aktifias

yanf

menghubungkan

tugas

untuk

membua memod (datab ase) organisasi.

Budaya organisasi merupakan "pola dari nilai

nilai

yang

terbagi

dan

keyakinan

y^nf

membantu aflggota organisasi

mengert

bagaimana

organisasi

berfungsi

dat

menyediakan

nofma dari

perilaku

mefeka' (Deshpande

dan

\Webster,

1989;

hal.

4)

Anggota

organisasi

akan

bertindak

sesuz

dengan

nilai,

keyakinan,

dan

nofma-nofmi

yang

disediakan

oleh

budaya

organisas

mengingat meteka

terikat

secafa emosiona

terhadap organisasi tetsebut (Beyer dan Ninc 2001). Sehingga sistem organisasi yang afekti didefinisikan sebagai seiauh nrana perhattat organisasi dititikbetatkan pada tindakan yan

dilakukan pesaing

(atau yang

dibutuhkar

Jurnal

Manajemen Teknologi Vo1.13 lNo.1 12014

(6)

|tkoco dan Viciana/ Si.rtem Organisasi Kagnittf dan Afektif dan Pengaraltn1a terhadap kneja Apotek di Smabay: Efek Moderasi Oientasi

Keu,iraa.rahaan

pelanggan)

menjadi

nilai,

keyakinan, dan

norma

ofganisasi

(Homburg

dkk.,

2007).

Nfengingat informasi yang diterima organisasi

cukup

beragam

dan

kemampuan untuk

mempfosesnya terbatas

-

informatian ouer/oad

(Eppler dan N{engis,2004), sistem organisasi

afektif

akan memberikan ar^han informasi

mana yalrg akan diproses guna menghasilkan keputusan secafa cepat.

Teo ri p enilaian

kognitif

(c ogn i ti u e app ra i s a I t b e o ryt

-

Lazarus,1997;Lazarus dan Folkman, 1985)

memprediksikan bahwa proses

kognitif

dan

afektif

menciptakan

"kecenderungan

tindakan" (action tendencies) setrap ada stimulus baru dari lingkungan. Penilaian individu akan

stimulus ada dua mode: pemrosesan otomatis

dan

yang disengaja Q,azarus, 1991). Dalam mode pemrosesan otomatis, jika sebuah situasi

dintlai memiliki

relevasi yang

tinggi

dengan

tujuan yang ditetapkan, maka respoll afektif mendominasi tindakan yang dilakukan.

Bilamana rvaktu dan peluang ada, maka respon yang disengala akan melibatkan kognisi secara

dominan. Berdasarkan hasil tersebut, riset

ini

berasumsi bahwa sistem organisasi

kognitif

dan

afektif

digunakan dalam organisasi tidak

berimbang,

ter€lantung

dart

relevansi dan

keters ediaan waktu untuk mempro s esnya.

2.2.

Responsifitas Perusahaan

I{onsep

pemasaran, sebagai

dasar

dari pemikiran pemasafan

modetn,

menetapkan

bahwa

untuk

mencapai

kesuksesan .yang

berkelanjutan,

pefusahaan

harus

mengidentifikasi dan memuaskan kebutuhan pelanggan

lebih

efektif

dari

yang dilakukan oleh pesaingnya (Da,v, 1994). Sebagian besar

literatur terkait

orientasi pasar menjelaskan sejauhmana perusahaan

akan

bedaku, atau

cenderung

untuk

berlaku,

sesuai dengan konsep pemasaran

(I{irca dan

Hult,

2009;

I{ohli

danJaworski, 1990). Selama ini, orientasi

pasar

dikonseptualisasikan

dari

perspektif

perilaku dan budaya (Homburg dan Pflesser,

2000). Perspektif perilaku

menitikberatkan pada aktifitas perusahaan yang berhubungan

dengan memperoleh dan mendiseminasi serta

merespon atas

informasi

yang dikumpulkan

dipasar

(mis:

I{ohli

dan

Jaworski,

1990).

Perspektif budaya memfokuskan pada norma

dan nilai perusahaan yang mendorong perilaku anggotanya agar konsisten dengan orientasi

terhadap pasar @eshpand6 dan \Webster,1,993;

Narver dan Slater, 1990).

Dalam penelitian ini, responsifitas perusahaan

merupakan

pengembangan

dari

konsep

orientasi pasar yang mendasatakanpada kedua

perspektif

tersebut. I{ecepatan merupakan

kunci utama dari responsifitas perus ahaan, dan

penelitian

ini

mengadopsi pendapat

dari

Homburg

dkk.

(2007) bahwa responsifitas

terhadap pesaing adalah sejauh mana sebuah

organisasi

mefespon

secara

cepat

akan

perubahan

yang dilakukan

oleh

pesaing.

sedangkan responsifitas terhadap pelanggan adalah sejauh mana perusahaan secara cepat

perubahan yang terkait dengan pelanggan.

2.3.

Orientasi Kewirausahaan

Perusahaan

petlu

mengadopsi

pemikiran entrepreneurial untuk mengeksplor pasar yang

sedang

tumbuh

atau

kebutuhan konsumen

vang tidak terpenuhi (Atuahene-Gima dan I{o,

200I).

Schindehutte,

Morris, dan

I{ocak (2008) mengindikasikan bahwa perilaku yang

mendorong

pasar

merupakan esensi

dari tindakan yang ent{epreneurial, merefleksikan

tingginya

jiwa

kewirausahaan.

Orientasi

kewirausahaan metupakan pfoses, praktek,

dan

aktifitas

pengambilan keputusan yang mengarah pada masuknya perusahaan ke pasar

baru

atatt menawarkan

hal

baru

di

pasar

(Lumpkin

dan

Dess, 1996).

I{atenanva,

orientasi kewirausaha

n

sangat penting dalam proses kewirausahaan pefusahaan, termasuk didalamnva menyadari

dan

mengeksploitasi

peluang vang ada (Schindehutte dkk., 2008).

S ebagian besar kons ep orientasi kewiraus ahaan

menggunakan

3 dimensi

dalam

menlelaskannya:

proaktif, inovatif,

dan pengambilan

resiko

(I{reiser,

Marino,

dan

Weaver,2002; Matsuno dkk. 2002).

Jutnal

(7)

Ssktco dan l/icianaf Sisten Organisasi KognitiJ dan,4fektif tlan Pengarahnla terhadap Kinerya Apotek di Surabqta: Efek Moderasi Oientasi

Keniralsahaan

Proaktif

merupakafl seiauhmana perusahaan

mengantisipasi

kebutuhan

dan

perubahan pasar

di

masa

depan (Kreiser

dkk',

2002;

L.rmpkin

dan Dess, 1996) dengan "mencari peluang baru yang mungkin atau tidak terkait

d.ttg^

oPerasi Yang ada

s^at

ini,

memperkenalkan produk baru dan merk lebih

awal

dan

pesaing,

dan

sec^ra

stfategis

mengurangi operasi yang sudah m^t^trg ^taLr

d.idalam tahapanmenurun dari daur hidupnya"

(\hnkatraman,

1.989; inal. 949). Inovatifitas merupakan seiauhmana perusahaan tedibat

dan

mewuiudkan

ide baru'

kebaruan yang

tinggi,

eksperimentasi,

dan

kreatifitas yang

^kii

layznan,dan proses baru (I-umpkin dan

mengarah pada terciptanya

produk,Dess,

1996; Wang, 2008). Mengambil

resiko

merupakan

seiauhmana perusahaan mau membuat komitment sumberdaya yang besar

dan

beresiko karena zdanya peluang untuk gagal,biladilakukan (Boso, Stoty, dan Cadogan'

201,3).

2.4.

PengembanganHiPotesis

Para

peneliti

dalam strategi

betsaing

menekankan

pentingnya

kognisi'

misalnya

Porter

(1980,

hal. 72)

menyatakan hahwa

organisasi membutuhkan "beberapa sistem

inieliien bagi

pesaing"

guna

menganalisis

lingkungan persaingan secar^ sukses' Begitu

jug^

banyak

penelitian empiris

yang

minyatakan

bahwa

dalam

pengambilan

keputusan bersaing,

kognisi

sangat

dibutuhkan. Seperti yang disampaikan oleh Clark dan Montgomery (1999) bahwa manaier

menggunakan

proses

kategorisasi

dalam mengidentifikasikan pesaing-pesaingnya'

Perbedaan

model mental

inilah

y^ng

menjadikan patamanaier dalam suatu industri

menggunakan proses

yang berbeda

dalam menanggapmya

dan

menghasilkan respon yang berbeda pula (Daniels, Johnson, dan De

Chernatony 2002).

Pzda level

organisasi,

Ghoshal

dan

\Westney

(1991)

melaporkan

bahwa

perusahaan

akan

lebih

memahami lingkungannya

bila

mereka mengumpulkan

dan

mengintetpretasikan

informasi

tentang

pesaingnya.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pemrosesal

informasi yang

terkait

dengan pesaing lebil menitikberatkan pada

kognisi

dibandingkar

afeksi,

mengingat ketersediaan sumberday

untuk

memprosesnya

lebih tinggi

(Shiv dar Fedorikhin, 1'999).

Selanjutnya,

pesaing tentunya

tidak

aka:

bersedia untuk berbagi informasi tentang akl

yang

telah

^t^u ^k^n

mereka lakukan sert

alasin dibaliknya (Homburg dkk., 2007)' Hr

ini

meniadikan informasi yang reliabel tetka

dengan pesaing susah

didaPatka

(A4ontgomety,

Moore, dan

Urbany,

2005 menjadikan mekanisme petolehan infotma melalui sistem dan prosedur yang baku da

mendorong penggunaan kognisi. Selain it'

ketidakpastian akan

tindakan

pesain

meniadikannya susah

untuk

diprediksi

da

diatasi, sehingga perusahaan akan tergantur pada sinyal-sinyal yang samar dan komplel

ircta"fq

Elfenbein, dan Staw, 2010). Semak

tinggi

ketidakpastian

y^ng

dihadapi

tetkz

dengan tindakan

pesaing, semakin genc

perosahaan untuk memperoleh informasi dr

memprosesnya (Chen, Su,

dan

Tsai, 200'

Sehingga

fungsi

sistem

organisasi

yal

kognitif

dalam

mengarahkan

resP(

perosuhaun tethadap tindakan pesaing ak'

mendominasi dibandingkan

y^ng

afekt

Sehingga,

H,:

Responsfrtas apotek terbadap pesaing san, dipengaruhi secara positif oleh sistem organis

kognitrf diban dingkanl ang {e kttf.

Pada

industri yang

membutuhkan tingl kepercayaan

tinggi,

seperti apotek

yx menjuai obat, keperczyaan

^trtara pembeli

d

penjual sangat dipengaruhi oleh aspek sot dari hubung

n

yang ada (Schultz and Flva

2002).

I{atakteristik

tenag

peniual

ya

membantu dalam

interaksi

sosial, misah emotional intelligence S'ozel1,

Pettiiohn,

c Parker, 2004), kemampuan

untuk

mengel minat pelanggan dalam bersosialisasi maug

sikap

yang

positif

terhadap

pelangp (Sharma,

tggg), telah

menunjukkan da

meningkatkan

efektifitas

dati

hubunl

dengan pelanggan.

Interaksi

sosial

ini

i'

penting dalam mengembangkan layznzn y

Jutnal

(8)

5'nkon dan Ltidanaf Sisten Organisa.ri Ko.qnittf dan AJektif dan Pengaruhn-ya terbadap knerfa,lpotek di .lmabaya: Efek L[oderasi Oientav

Keuirau.e ahaan

ditav'arkan karena pertemuan secafa regular

dengan pelanggan akan membantu pefusahaan

untuk

mengide

ntifikasi

keinginan

dan

kebutuhan mereka

(mis:

I{oufteros,

Vonderembse, dan Jayaram, 2005; Sethi, 2000).

Penelitian

dalam bidang psikologi

iogu

menuniukkan nilai

positif

dari interaksi social

"perasaan dapat

dilihat

...

sebagai pendarang

utama dari banyak tanggapan (yang dilakukan

perusahaan) " (Forgas 2003,hal. 597).

Selain itu, apotek iuga sedng mendapati situasi

yangmembutuhkan keputusan vang spontan di

saat pelanggan membutuhkan (Homburg dkk., 20()7).

Lebih

khusus, pegawai apotek yang

sering berinteraksi dengan pelanggan sering

tidak

memiliki waktu

untuk

menggali

informasi

lebih

dalam

dan

memprosesnya, sehingga

nilai dan

keyakinan

yang

dimiJiki perusahaan akan mengarahkan mereka untuk mengambil keputusan. Hai

ini

sesuai dengan

teori

perulaian

kognitif

bahwa ketersediaan

sumberdal,a

untuk

memproses bagatmana sebuah

informasi

diproses, apakah dominan

akan

diproses secara

kognitif

atau

afektif (Lazarus, 1.991). Bilamana sumberdava untuk memproses terbatas, afektif memiliki dampak yang besar terhadap perilaku, dan sebaliknya

kognitrf akan lebih berperan bilamana

kognitif

digunakan mengingat sumberdalra waktu yang

ada (Shiv dan Fedorikhin, 1 999).

Dalam

banr,ak situasi, pelanggan memiliki

keinginan )rang tlnggi untuk betbagi informasi terkait keinginan dan kebutuhannl'a (Cannon

dan

Perreault, 1999). Tentunya

berbagi

informasi tersebut

berpengaruh

terhadap

bagaimana organisasi

akan

mempfosesnya.

I{ebutuhan

organisasi

untuk

mendapatkan

informasi akan

terkurangt

(Homburg

dkk., 2007) dan mekanisme

untuk

memprosesnya

akan berkurang karena pelanggan ingin segera

ditanggapr (Thomke dan

Von Hippel,

2002).

I{onsekuensinya, ketersediaan

}'ang

mudah

dan keinginan yang rendah untuk menganalisis

menjadikan sistem afektif akan lebih dominan

untuk

digunakan

dalam

membentuk

responsifitas terhadap keinginan pelanggan. Sehingga,

Hr:

Responsiftas apatek terhadap pelanggan sangat dipengaruhi secara positlf oleh sisten organisasi

oft

ktif

di b an di ngkan 1 a ng kogn i trf.

I{onsisten dengan literatur orientasi pasat (mis:

I{ohli

dan Jaworski,

1990;

Homburg

and

Pflesser 2000) dan berdasarkan rekomendasi

dari

Lehmann (2004),

penelitian

ini

mendefisnikan

kinerja apotek menjadi

dua

dimensi,

yakni kinerja

pasar

dan

keuangan.

I{inerja

pasar adaTah efektifitas dari aktifitas-aktifitas pemasaran yang dilakukan oleh apotek tetkait dengan sasaran-sasaran pasar, misalnya

kepuasan pelanggan,

pertumbuhan,

dan pangsa pasar (Homburg dan Pflesser, 2000);

sedangkan

kinerja

keuangan

terkait

dengan

kinerja

keuangan

dari

apotek dibandingkan pesaing, misalnya

terkait

dengan

laba

yang dihasilkan, pertumbuhan 7aba, dan

retutn

on

sales (Homburg dkk., 2007).

Sesuai dengan prediksi

teori

sistem terbuka, responsifitas petusahaan terhadap pesaing dan

pelanggan akan berpengaruh secara

positif

terhadap

kinerja

pemasaran

dan

keuangan

apotek

yang

i.tg"

telah

dibuktikan

dalam beberapa penelitian, misalnya Jayachandran,

Hewett,

dan

I{aufman

(2004)

maupun

Homburg

dkk.

(2007).

Hal

yang sama juga

disampaikan

oleh

$7hite,

Yaradarajan, dan

Dacin (2003, hal. 63) bahwa

"untuk

bertahan

dan

sejahtera dalam pasar yang kompetitif, perusahaan harus merespon secara

konunp

terhadap peluang dan ancaman )'ang terdapat

pada lingkungan

yang

selalu

berubah."

Responsifitas

tersebut akan

menjadikan perusahaan adaptable

dan

selalu berkineria diatas rata-rata (Reeves dan

Deimle4

201I).

Sehingga,

H,:

Responsiftas apolek lerhadap (a) tindakanyng dilakukan pesaing maupan

(b)

kebatahan p e langgan b erp engaru h po si

trf

terh adap kl n e ri a

perasahaan.

Seperti yang dijealskan sebelumnya, apotek merupakan industri yang memiliki sumberdaya

dan

pasar

yang

sama, sehingga dinamika kompetisr vang ada sangatlah

unggi

(Chen,

1996).

Meskipun

pe

tusahaan memiliki

responsifitas

yang

tinggi,

baik

terhadap undakan yang dilakukan oleh pesaing maupun kebutuhan baru 1'ang

dimiliki

oleh pelanggan,

namun bilamana apotek (pengelolanya) kurang

aktif

dalam menghasilkan ide-ide

batu

dan

I Jurnal

27

| \l"nrj.-en leknologi lV,r)

lj,No.

I

2014
(9)

-f trkora rlan I'idana/ Sisten Or,qanisasi Kognitl dan A;t'ektif dan Pengarahnla terhadap lSnerja Apotek di Sarabay: Efek Moderasi Oientast Kat,jrat,rahaan

solusi

kreatif

-

inovatifitas (Lumpkin

dan

Dess, 1996), tentunya kinerja yang diharapkan

udak akan terczpal Sebaliknya, responsifitas yang

tinggi diiringi

kemampuan perusahaan

menghasilkan

produk yang memiliki

nilai kebaruan yang tinggi akan menghasllkan

frst'

mauer aduantage dan kinerja yang tinggi (Suarez

danLanzolla,2}}7).

Hal yang sama juga teriadi bilamana pengelola apotek berani mengambil resiko dan proaktif. Pengelola

apotek

yang berani

mengambil resiko akan mengambil peluang yang ada di

pasar, meskipun

ke

cil,

dengan

hatapan

mendapatkan hasil yang lebih besar dari biaya

yang digunakannya (I-umpkin dan Dess, 1996)'

Setiap tindakan pesaing at^tr

kebutuhan

pelanggan

akan

suatu layanan

akan

segera

ditespon dengan mengambil keputusan guna mengkapitalisasinya, sehingga kinerja apotek akan iauh

lebih tinggi

dibandingkan apotek yang pengelolanya kurang mengambil resiko.

Pengelola vang

proaktif

juga akan meniadikan

apotek selalu

mengambil

inisiatif

untuk

berkompetisi secara

agresif

dengan apotek yang iain (Boso dkk., 2013). Hal

ini

iaga akan mendorong perusahaan selalu didepan dzlarn produk at^ulay^nanbaru, sehingga dihaiapkan

kinerjanya

akan

selalu

diatas

rata-rata.

Sehingga,

Hr:

Pengaruh responsiftas apotek terhadap

k)

tindakan

yng

dilakukan pesaing naapwn (b)

kebutu h an p e langgan n emp unlai p engaru h pa

sitf

yang lebib kuat bilamana pengelo/an1a nemiliki orientasi kewirausahaan tinggt dibandingkanJdng rendah.

3.

MetodePenelitian

Obyek

penelitian

ini

adzlah

apotek

yang

beroperasi

di

kota

Surabaya

Timur,

dimana densitas

apotek

lebih tinggi

dibandingkan

kawasan lain di Surabaya. Jumlah keseluruhan

apotek yang beropetasi seban,vak 179 buah,

namun riset

ini

hanya menyasaf pada apotek

yang dikelola

secara

mandiri

dan

bukan

termasuk apotek ;t'ranchise atau apotek rumah

sakit dan

klinik,

sehingga

total

apotek yang disasar sebanyak 171 baah.

Apotek

wanlzba memiliki iarrngan yang luas dalam perputaran

obat-obatan, sementara apotek

rumah

sakit

dan klinik merupakan bagian dari rumah sakir

dan

klinik

yang selalu ram

t

dengan pasien

Maka dari

itu,

apotek mandiri (perseorangan'

dipilih karena pengelola apotek mandiri harur

melakukan pengambilan keputusan

dar

strategi secar^ mandiri

untuk

dapat bertahar

dalam

iangka

waktu yang panjang

padt

persaingan yang ketat

ini.

Responden yanl

disasar

zdalah

pemilik

apotek,

pengelolr

(manajer)

apotek,

atauPun pegawai

yan{

ditun

juk

oleh

keduanl'a

dikatenakar

mengetahui

kondisi

apotek; yang menerimr kuesioner dan diberikan

waktu

satu minggt untuk menyele s aik anny a. I{ue sioner yang telai

terisi akan diambil oleh peneliti dengan tetlebil

dahulu

melakukan

konfirmasi

kepad responden.

Riset

ini

menggunakan

3

item

Y^n,

dikembangkan

oleh I{ohli,

Jaworski,

da:

I{umar

(1993)

dan Moorman

(1995) gun

mengukur dimensi mendapatkan informas

sedangkan diseminasi informasi (3 item) jug

mengadaptasikan penelitian

I{ohli

dkk. (1993

Adapun

analisis

(3 item)

dan

penfimpana

informasi (3 item)

menggunakan

item

yan

dikembangkan

oleh

Homburg

dkk.

(2007

Lima item

yang digunakan

untuk

mengukt sistem otganisasi

yang

afektif

mengadop penelitian yang dilakukan oleh Deshpande da

\Webster (1989). Guna mengukur responsifitz

pada pesaing

dan

pelanggan,

riset

ir

mengadopsi

item

yang

dikembangkan ole

Homburg dkk.

(2007) yang terinspirasi ole

Jayachandran

dkk.

(2004).

Untuk

kiner pemasaran,

3

item

diadopsi

dari

penelitia

Homburg

dan Pflesser (2000), sedangkan

item

kinerja

keuangan mengadopsi

da

penelitian Homburg dkk. (2007).

Semua

item

tersebut

diukur

menggunakan skala

Likert,

dengan angka

1

menuniukkz tidak setuju dan angka 5 menuniukkan setui

Terkait dnegan orientasi kewitausahaan, ris

ini

mengadopsi

5

item

yang diadopsi dz

Naman

dan

Slevin

(1993)

dan

diuk' menggunakan

6

skala Likert, dengan angka

menuniukkari sangat tidak setuju dan angka

menuniukkan sangat seruju.

Jurnai

Manajemen Teknologi

(10)

|ukoco dan Viciana/ .listem Organisa.ri Kogniti;f dan AfektiJ dan Pengarahnla terhadap Kinerya Aponk di .larabay: Efek trIaderasi Oientau

Keairausahtan

Riset

ini

juga

menggunakafl

lima

variabel

sebagai kontrol: lama berdiri, ienis konsumen

in"g

dilayani, jumlah

peniualan,

jumlah

pegawai,

dan

pemilik/manajer.

Menurut

Homburg dkk.

(2007), keempat

faktor

yang pertama harus dikontrol terkait dengan kinerja perusahaan, sedangkan status sebagai pemiJiki atau mznajer dijadikan kontrol untuk meLihat

apakah ada perbedaan respon yang diberikan

oleh manajer dengan pemilik.

Guna

mengurangi

common-method uariail(e

(CMV),riset ini melakukan b a lan ci ng order, yakni menguf

utkan

peftanyaan

tidak

secaf a

berurutan (kinerja

di

awal,

diikuti

oleh sistem

organisasi,

orientasi

kewirausahaan, dan responsifitas

pada

pesaing

dan

pelanggan.

Penggunaan sumber pefi^nya^n yang berbeda

serta

skala pengukuran

yang

berbeda juga

merupakan salah satu upaya untuk mengurangJ.

CMV

sesuai dengan saran

dari

Podsakoff, Macl(enzie, Lee, dan Podsakoff (2003).

Terdapat

I13

responden

yang

mengrsi

kuesioner dengan response rate sebesar 66,080/0.

Responden wanita cukup dominan (78,80%), dengan umur diatas 30 tahun lebih dad B5%.

Latar

belakang pendidikan sebagai apoteker diatas 90%0, dengan

4

orang bergelar master

dan

doktor.

E,mpat

puluh

enam

orang mengelola apoteknya sendiri, sedangkan 67

orang (59,300/o) menjadi pengelola apotek

milik

orang lain. Pemilik apotek yang bukan apoteker

sebanyak 61. orang (540/o), sedangkan apotek yang dimiliki oleh apoteker sebanvak 52 buah.

Terdapat

22

apotek yang

memiliki

proporsi penjualan obat tesep dokter (ORD) lebih besar

das. ouer the coanter (OTC), sedangkan 53 buah memiiiki proporsi yang sebaliknya. Adapun 38

buah apotek memiliki proporsi yang seimbang.

Apotek

dengan pegawai

antan

3-5

orang

sebanyak 65 buah, adapun yang memiliki lebih

dari 1,0 orang sebnayak 1B buah. Empat puluh

Sembilan

orang

telah

bertindak

sebagai

pengelola apotek

lebih

dari

6

tahun, sisanya

beragam

vang didominasi

oleh

4-6

tahun

pengalaman.

Apotek

yang telah beroperasi

lebih

dari

10

tahun sebanyak 41 buah, diikuti 3-6 tahun (34

buah),

7-10 tahun (30

buah),

dan

sisanya

kurang

dari

3

tahun. Sebagian besar apotek

(41,60oh) memiliki konsumen antara 25 hrngga

50 orang, dan proporsi yang memiliki jumlah konsumen lebih dari jumlah tersebut sebanyak

30,100/o.

Dua

belas apotek

memiliki

penghasilan diatas 100 juta rupiah, 28 apotek berpenghasilan

51-100

juta, dan

sisanya

memiliki

pendapatan dibawahnya. Terkait

dengan pangsa pasar, lebih dari 50% memiliki pangsa pasar kurang

dari

5o/o dan hanya 7

apotek yang memiliki pangsa pasar diatas 2006

di daerah operasinya.

4.

Analisis

Pendekatan partial least square (Smart PLS 2.0;

Chin,

1998) digunakan

untuk

memodelkan

jalur yang mengestimasikan pengukuran dan

pafametef-p al:ametef stfuctufal dalam structural

e q a a ti o n m o d e/ (S END \<ar ena dalam p enelitian ini

menggunakan variabel

reflektif

(modal sosial

kognitif,

struktural,

dan

relasional; berbagi

pe

ngetahuan,

dan

interdependensi)

dan

formatif

(kinerja hubungan) secara betsam^ n.

Untuk

mengukur

property psikometri

dari

instrument penelitian. riset

ini

menggunakan

prosedur yang

digunakan

oleh

I{leijnen,

Ruyter,

and

\Wetzels (2007), menggunakan indikator reflektif pada seluruh konstruk (lihat Tabel

l).

Model

null

t^np^

hubungan

struktural

diestimasikan,

dan

reliabilitas

dievaluasi dengan t^ta-rata composite scale reliabililt (CR)

dan auerage uariance extracted (AVE) (Chin, 1998;

Fornell and

Larcker,

1981).

Untuk

semua

pengukuran, semua nilai CR diatas 0,700 dan

AVE, juga diatas 0,500 (Fornell and Larcker, 1981). Selain itw, conuergent ualidi4, dievaluasi

dengan meLihat pada standardiqed laadings dad pengukuran yang digunakan (Chin, 1998), dan

semuariya menunjukkan angka lebih dari 0,500.

Satu

item

pada orientasi kewirausahaan yang

memiliki loadings dibawah 0,500 dihapus dalam penghitungan lebi h lani u t.

Jurnal

Nlanajemen Teknologi Vol.13 I No.1 2011

(11)

S tr ka;a da, I -iiana i S isten Or.qanisasi Kognilyf dan Afeknf dan Pengaruhnya terhadap Kinerya Apotek di Surabaya: Efek Moderasi Oientasi ku'irnrcal:aan

Tabel 1. Validitas dan Reliabilitas Variabel Penelitian

Composite Cronbach's u

reliabil

Perusahaan kami dan Astra ....,.

lGCompl/

Kami mengumpulkan informasi teniang,'.... secara sistematis

lGCustl

dan terus-menerus

lGCompZ

Kami mengumpulkan informasi

tentang

secara

lGCust2

menyeluruh

lGComp3/

Kami mengamati perilaku '....' secara s$emats dan

terus-lGCu$3

menerus

Mendiseminasi infornnsi

lDCompl

/

Pegawai kami menghabisl€n waktu yang culflp untuk

bertu ka r pe rkemba ngan terbaru terkait ...,.. den gan peg awai lain dalam 1 apotek

0,913/ 0,922 0,937/ 0,943

0,9211

0,901

O,BBZ 0,867 0,853/ 0,843 0,876/ 0,867

0,892 0,892

O,BB6/

O,886

0,906/ 0,906 0,957/ 0,866 0,943/ 0,977

0,90 1/

0,866

0,945/ 0,935

0,903/ 0,893

0,9231 0,905

0,9 54/ 0,%4

0,9121

0,906

0,840/

0,B34

0,876/

0,B75

0,926/ 0,916 lDCustl

lDCust2 lDComp3/ lDCust3

lSCompZ lSCu$2 lSComp3/ lSCu$3

lDComp2/

Kami secara terafur mengedarkan dokumen yang memberikan

informasi relevan mengenai ,,....

Semua pegawai apotek kami secara terafur menerima

informasi terkait dengan perkembangan yang dimiliki oleh Menganalisis lnformasi

lACompl/

Kami menganaliss informasi tentang ...". secara sistematis

lACusll

dan teratur

lACompZ

Pemilik Apotek secara periodik menganalisis dan

lACusl2

menginterpretasikan informasiyang terkumpul tenhng .. '. '

lAComp3/

Pegawai apotek kami secara teratur bertemu untuk

lACu$3

menganalisisperubahanterkait..'...

Menyimpan infomasi

lSCompl/

Kami menyimpan dan memperbarui informasi tentang ..."'

lSCuSi

kami dalam sistem informasi yang sesuai (contoh: data base)

secara sistematis dan teratur

Kami menympan dan memperbarui informasi tentang '.'...

tcami dalam dokumen-dokumen yang sesuai secara sistematls dan teratur

Semua pegawai apotek kami memiliki akses dan menlmpan

9Ftem Kognitif

_

"

Mendapatkan informasi

informasi vanq tersedia Sistem Afektif

SAComp'1/ SACustl SACompZ SACust2 SAComp3/ SACust3 SAComp4/ SACust4 SAComp5/ SACust5

Kami sadar

bahwa

adalah faktor penting yang mempengaruhi lqesuksesan apotek kami

Kami menekankan aktivitas terkaii ... dan sukses Kami memiliki budaya yang berorientasi pada ... ... kami adalah titik uhma dari aktivitas apotek kami

0,655/ 0,648 0,896/ 0,899 0,901/ 0,899 0,904/ 0,904 0,83'1/

0,918/ 0,923

0,876/ 0,896

Kami memiliki strategi yang berdasar pada pemahaman

il

Jurnal

Manajemen Teknologi Vol.13 lNo.1 12014

(12)

J'trkon dan Viciana/ .li:ten Organisasi Kognittf dan AJekttJ dan Pengarahnya terhadap Kineja Apotek di Sarabay: EJik Moderasi Oientast

Keuirausaltaan

Tabel 1. Validitas dan Reliabilitas Variabel Penelitian (Sambungan)

Responsifitas Perusahaan

Hubungan perusahaan kamidengan dengan Astra telah meningkafl(an ...

ResCompl/ Kami merespon secara cepat jika sesuatu yang penting terjadi

ResCu$1

pada...l€mi

ResComp2/ Kami secara cepat mengimplementasikan aktiVhsaktivitas ResCu

st2

ya ng terka it de ng an . . . kami

ResComp3/ Jika tindakan kami yang terkait dengan

...

tidak

ResCusl3

menghasilkan

efek yang

diinginkan,

kami

segera

menggant nya

ResComp4/ Kami bereaksi secara cepat terhadap perubahan mendasar

ResCust4

pada... kami

0,956/ 0,868

0,9271

0,901 0.933/

0,912 0.924t 0,886

0,965/ 0,895

0,951/ 0,915

Odentasi Kewirausahaan

EO'1

E02 E03 E04 E05

Kami memulai suatu aksidan direspon/diikuli oleh apotek lain

Kami selalu mengubah/memperbarui bentuk pelapnan kami terhadap pelanggan

Kami dengan cepat memperkenallen obat baru di apotek kami

Kami sangat memperhatikan pemasaran obat dan pelayanan di apotek kami

Kami memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengambil tndakan vanq berisiko tinqqi

0,762 0,852 0,571

0,5 50

0,245

0,783 0,690

Kinerja Perusahaan Kinerja pemasaran

Selama 3 tahun terakhrr terkait dengan pesaing anda, bagaiman kinerja apotek anda dalam: MPFl Menin gkatkan kepuasan pel ang gan 0,897

0,8%

0,913

0,857

MPF2

Mendapafl<an pertumbuhan penjualan

MPF3 Mendapafl<an/mengamankan pangsa pasaryang

diharapkan

0.856 Kinerja keuargan

FPF,1 Mendapat<an laba png diharapkan

0,969

0,864 0,958

0,789

FPF2

Mendapafl<an pertumbuhan laba yang diharapkan

Catatan: ltem pertanyaan yang tercetak miring dihapus untuk analisis lebih lanjut dikarenakan outer loadings yang rendah

FPF3 Me4,apailran req{l on sa

Menurut Ghozali

Q01.1),

variabel

dengan

indikator

formatif

tidak

dapat

dianalisis

dengan hanya

melihat

conuegent ualidi4t dan composite reliabili4,

sepertr halnva

konstruk reflektif. Untuk itu, analisis tambahan dengan

menilai koefisien regresi

dan

signifikansJ.nl'a

dilakukan

untuk kinerja

perusahaan. Hasil analisis

juga

menuniukkan bahwa koefislen regresinva

memiliki

tingkat signifikansi yang diharapkan, sehingga semua

vadabel

yang

digunakan

dalam penelitian

ini

memiliki validitas dan reliabilitas yang diharapkan.

Untuk mengecek dampak dari potensi common ruethad uaiance

(CM\D

daiam penelitian

ini,

2

langkah pengujian dilakukan.

Pertama,

menggunak zn uii H ar m a n' s o n e -fo c ta r te s I dengan

menempatkan semua

item

pertanyaan dzlam

p ri n ctp a / ca np o n e nt fa ctor an a

!

si s (Pods

akoff

dan

Organ, 1986). Hasilnya menunjukkan bahwa

tidak

ada

satu faktor yang

mendominasi. (terdapat

6

faktor

yang

dihasilkan dengan

64,8900/o adalah

latal

uaiance,

dan

faktor

pertama mempunyai

19,09Io/o variance).

I{edua,

.tji

discriminant

ualiditl

dilakukan

mengikuti prosedur yang dikembangkan oleh

Fornell and Larcker

(1981). Bilamana nilai AVE,

untuk

setiap variabel

lebih

besar dari kuadrat korelasi variabel tersebut, mzka dapat

dikatakan bahwa

^rrta;r

variabel

penelitian

memiliki

discriminant

ualiditl. Tabel

2

menunjukkan hasil tersebut dan terlihat bahr,va

nilai masing-masing AVE,lebih besar dari nilai

kuadrat dart

korelasi

variabel-vatiabel

penelitian.

Jutnal

Manajemen Teknologi Vo1.13 jNo.1 12014 0,481

(13)

G

.E

m

'o a, qp.l +c

iti Ci !bo !;, ;'-! r)

jE

s^ dN f4u >n

}.;

5o 'oy -Od *rc do. c.r

T&

!C ql 6

U5 bDU dtr >N h0i

!;

dC '!6 ld H.k

.-trd -! M'd dp Ot E! J-!

Sukoru dan ltinanaf Ststem Organnasi Kognitrf dan Afektif dan Pengaruhnla terhadap knerja,4potek di Sarabay: Efek Moderasi Oiental

Keuirat.rahaan

b- q) :1" !o q) ro \tr lcJ t+ \t \f cD (0

e9o)r{)c)\fF\-F(6(o(66) oc\FaaooaossQGD

s s Q \f F Q lt\ O F\ o.) (O CO r

!- \ \t Q e c,o (o (c) <o rO cr) (t tI)

qqqQq\\\.:o?c-.'qnt

eD 1..- cD c') O c\l ts C\ F tc) (g <- Lr)

Y' !9 \f ia Q c\l c\ c\r c\ o o) si o

QQFOQFFFSCDT-u)<-\f fr, SD cD F F- O t- a 6D C\t rf tr)

e r11 F- e ql s <rt F N F- rri o, <>

qqqqq-q-q\q\e'.,qqn

F- cD Fr F Q (b \t cF) @ o o <D € C\stsc|AC!C\C\6lt1+1+Or_

OOOOO\ftf)\fu)(c>(')$-(O A N O (() cD (D l- O OOOOO\ftf)\fu)(c>(')$-(O O) O C\l

aaaQAc\lGlOtr)-il-.+O-oaoQo(o\tooCo(ocD+c\

\ cD l-- !- Q (Y) r<f O + oO cO cr) €) c\tsFQ|c'c\tOL()N.sf.sfor

qqqqq\tqaq\c9a?i-s9 Q q-{ Q !0 (') O O) O (O O) O c\r

99999olc)@Los=to'_ OOOQOaT(oF(O(OC).trc\

(o c\l : (\l crl ro c\ () (o o rf (o (ooqF-c!cf)N(f)o)ro(oCf)

-:c!ic!qqqqqclqc.l

n

q

r.o \f

a

aRNd€>p>3sgs

qqq

iqqqq?<?-;q

38439€5SERS8=

\\

c-qTc?"-:q":cr{c?qg.

8d38F=:?:gES3

I c q

-q

a Y -. Y ". n q ':

T

-: o) o c.) 9? (o trl (o Lo (g ro cD 9\.1

q(o=;q\|r-@F@6=o90

c q n "! T q - q -. i - - q

SHHSSRRSfrSgHE

O (\l 6 O) .<f,

- o - o F- sf - cr) C\l .{' (O r @ O) (.o O) @ Lr) \- (ri co

c2

*: -

c?

q q

cD <?

cl ": -q ":

oq

C\l C\l (\l C\

- <t CO $ C.) S lf) rf) \f

c (ttc

P-ES

'Fcco)

'=iX'6(s=c.c

F.

eE

8-t

-sE

l€c

€-s*€-s*F-E'EE

i p*gq=-8=-Bg-gE€

l.=

+3As-RE

F=g€E

H

lE E

g

g

f

-9'

.

--

(u

a

o-l:=tt=EEEEbb.e.o

lF

E

€ €

E E

.E

6 d

* * ;

a

15

e

E;

s

3

3-3

#

e e 5

I a/, (\a

o

oo (\t ci en st EI (E (! &, IE

o

c

o

o-dt -o6 L CI a d O ri o ! I c3

a

U (l O. st q O

.i

O c(

I.

32 Iurnai
(14)

Sakoto dan Vicianaf ,\'isten Organisati Kagnitif dan Afektif dan Pengaruhtrya terhadap Kinerja Apotek di Sarabay: Efek Moderasi Orientas.t.

Keairuuvhaan

Untuk

menguii hipotesis,

riset

ini

menggunak

^n ., tra ctu rLt / e q tl a ti 0 il m 0 d e li ng dengan

metode pdrtidl least quare (PLS) menggunakan

Smart PLS 2.0 (Chin, 1998). Mengingat dua

variabel merupakan variabel

formatif

(kinerja hubungan dan variabel kontrol), peng€lunaan

PLS tepat dalam menganaLisis model penelitian

yang

menggunakan

variabel

teflektif

dan

fotmatif.

Prosedur yang digunakan dengan

menghasilkan sub-sampel 300 dari kasus yang

dipilih

secara random, dengan penggantian,

dan

data aslinya.

I{oefisien

jalur

kemudian dihasilkan

untuk

sub-sampel yang tetpiJih.

r-statistik

dihitung

untuk

semua

koefisien,

berdasarkan stabilitas antar sub-sampel yang

mengindikasikan

jalur

mana.

y^ng

signifikan

secara statistik.

Penelitian

ini

menggunakan second-order factor

untuk sistem organisasi yang kognitif, baik bagi

pesaing

dan

pelanggan,

maupun

kinerja perusahaan.

Prosedur

ini

ingu

konsisten dengan

lang

dilakukan

oleh Homburg

dkk.

(2007) guna mengelola jumlah parameter yang

digunakan dan pada saat yan€l sama menjaga

maltifaceted

nature

tf

construct

(Little,

Cunningham, Shahar, dan

\fidaman,

2002),

dilakukan ttem p arce linguntuk variabel-variabel

tersebut.

Hal

ini

i.rg,

ditunjang

dengan

tingginya

Cronbach's Alpha (diatas 0,700) untuk masing-masing dimensi seperti yang disajikan pada Tabel1.

Hasil

analisis menunjukkan

bahwa

sistem

organisasi

afektif

(f1r=0,261,

t -

2,294)

memiliki

pengaruh

yang

lebih

besar dibandingkan sistem organisasi yang kogniuf

(f3 r= 0,1, 9 0, t= 1,832), s ehingga H, terkonfirma si

dalam penelitian

ini.

Hipotesis

kedua memprediksi bahwa responsifitas perusahaan

pada pesaingnya dipengaruhi secara dominan

oleh

sistem

organisasi

yang

kognitif

dibandingkan

afe

ktif. Hasil

analisis

menunjukkan bahwa

pengaruh

sistem

organisasi yang

kognilf

(11.=9,362, t=3,776)

dan

afektif

(po=0,426,

t=4,295)

memiliki

tingkat

signifikansi yang sama, sehingga H"

dalam penelitian

ini

tidak

terkonfirmasi.

Hipotesis ketiga menyatakan bahwa pengaruh responsifitas perusahaan pada tindakan yang

dilakukan pesaing maupun yang dibutuhkan

pelanggan

berkontribusi

positif

terhadap

kiner

ja

perus

ahaan.

Hasil

analisis

menunjukkan

bahwa responsifitas

pada

pesaing berpengaruh secara

positif

tethadap

kinerja

perusahaan (f3r=0,198,

t-

2,305),

sedangkan responsifitas pada pelanggan tidak

berpengaruh secara

signifikan

(fj,,=0,1,0I, t=0,755), sehingga hanya H." yang terdukung.

R2:0,374

Jutnal

Nlanajemen Teknologi Vol.13 lNo.1 12014

R2:0

0:0,I s

R1-0.170

Catatan: ' menunjukkan p<0,100, - menunjukkan p<0,05, " menunjukkan p<0,01, '"^ mcnunjukkan p<0,001

Sistem Kognitif

Respon pada Pesaing

Sistem Afektif

Kewirausahaan

Respon pada Pelanggan

Sistem Afektif

Pelanggan

Gambar 1. Model Penelitian

(15)

Stkoco 1an Viciana/ Sisten Organisasi Kognitif rtan,A;t'ekti;f d.an Pengarubnla terhadap l(ineia A1>otek di SarabEa: E;t'ek Moderasi Orunta'

Keuirattsahaan

Hipotesis

keempat menyatakan

bahwa

pengaruh

positif

responsifitas perusahaan

pada pesaing dan pelanggan akan dimoderasi oleh orientasi kewiraus ahaan y zngdimiliki oleh

pengelola, semakin

tinggi

otientasi

kewirausah^an

m

ka pengaruh tersebut akan

semakin menguat. Guna menguiinya, riset

ini

mengikuti prosedur yang digunakan oleh Gray dan Meister Q004), riset

ini

memodelkannya

dengan mengintetaksikan

vartab

el responsifitas

pada

pesaing

dan

pelanggan

dengan orientasi

kewirausahaan

sebagai

moderator

dengan

menggunakan metode

centering seperti yang disarankan oleh Fraziet,

Tix danBarron (2004).

Misalnya,

untuk

menielaskan

bagaimana

pengaruh

tingkat orientasi

kewirausahaan tethadap hubungan

^nt^r^ responsifitas pada pesaing dengan kinerja petusahaan, riset

ini

menciptakan

n

m

vadabel interaksi

baru dengan responsifitas pada pesaingsorientasi

kewirausahaan.

Mengingat

variabel

responsifitas

pada

pesaing

dan

orientasi kewirausahaan

(1item

dihapus katena loading yang rendah) masing-masing memiliki 4 item,

maka terdap at1'6 rtemhasil interaksi keduanya'

Intetaksi

antat^ responsifitas

pada

pesaing

dengan

orientasi

kewirausahaan tidak

signifikan (Fr=-0,115,

t

=

0,895), begitu juga

interaksi afltar^ responsifitas pada pelanggan dengan orientasi kewirausahaan (pr=-0,115,

t=0,895);

sehingga

H*

tidak

terdukung'

Adapun pengaruh variabel

kontroi

terhadap

kinerja

petusahaan

jngu

signifikan,

yakni

iumlah pegawai dan penjualan serta jenis obat

yang

dibeli

konsumen berpengaruh secara

positif dan signifikan terhadap kinerja apotek'

5.

KesimPulan

Penelitian

ini

dapat

disimpulkan

sebagai

berikut: Pertama, peneliuan

ini

menuniukkan

bahwa sistem organisasi yang kognitif memiliki

kontribusi yang

sama signifikannya dengan

sistem

organisasi

yang

afektif

dalam

membentuk

responsifitas perusahaan pzda

pesaing.

Jurnal

Manajemen Teknologi Vo1.13 lNo.1 12014

Hasil

ini

bertentangan dengan argumen

sebelumnya bahwa pemtosesan informasi y

komprehensif terkait dengan tindakan pesr

akan

mendorong

organisasi mengguna

sistem

organisasi

kognitif lebih

domi dibandingkan

afektif

(Homburg

dkk.,

2(

Shiv dan Fedodkhin, 1999). Hal

ini

munl dikarenakan

industri

apotek

diatur

den

banyak regulasi oleh pemerintah maupun e

profesi

dranlan apoteker meniadikan ke

sistem,

baik kognitif dan

afektif,

berpr

dalam

membentuk responsifitas

terha

pesaing sama kuatnya. Selain

itu,

mengir responden penelitian

ini

adalah pengelola pemilik apotek yang notabene sebagian b

lulusan

Fakultas

Fatmasi.

Univers

Airlangga, maka interaksi sosial dan emosi

ant^t

^poteker sangat

tinggi

sehingga

sis

organisasi

afektif

iogu

berperan

dt

membentuk responsifitas terhadap pesainp

Yang

kedua, penelitian

ini

mengkonfir: bahwa sistem organisasi afektif lebih dom

dalam membentuk resPonsifitas

^P

terhadap pelanggan dibandingkan

syl

organisasi

kogrutif.

Hal

ini

seialan der

penemuan

Homburg

dkk.

(2007)

bt

nofma

atau ntfat organisasi berperan dorr

membentuk tesponsifitas

apotek

terh

kebutuhan pelanggan

dibandinP

pemrosesan informasi yang meteka lakr Interaksi sosial yang tinggi dengan pelan

(mis: I(oufteros dkk.,

2005; Sethi,

2

kebutuhan untuk mengambil keputusan s

spontan (Shiv

dan

Fedorikhin,

1'999),

kerelaan

untuk

Pelanggan

untuk

be

informasi

secara

terbuka

(Cannon Perteault, 1999;

Thomke dan

Von

Hj

2002) meniadikan perusahaan menggur

afeksinya dibandingkan kognisinya

c

menanggapi kebutuhan Pelanggan'

I{etiga,

penelitian

ini

menuniukkan b

responsifitas terhadap pesaing berkont:

positif

terhadap

kineria

apotek, sedat

responsifitas terhadap

pelanggan

signifikan.

Hasil

ini

hanya mengkonfi

sebagian dari penemuan Homburg dkk. (

maupun

Jayachandran

dkk.

(2004).

H

dimungkinkan karena

Pelanggan

a1
(16)

.lukaco dan Vicianaf .\'is/em Organisasi Kognitif dan AJiktif dan Penganrhnla terbadap knerya Apotek di Sarabay: Efek il[oderasi Orientasi Kuuitau.raltaan

sebagian besar merupakan rujukan dari dokter,

*sehingga mereka tidak memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap kinerja apotek. Meskrpun

apotek

i.,gu

dapat meniual

OTC,

namun proporsinya masih

relatif

kecil dibandingkan

ORD.

Guna

meningkatkan

kinerja

apotek,

tentunya berinteraksi

secara

sosial

dan

emosional dengan dokter perujuk obat akan

lebih efektif.

I{eempat, peneLitian

ini

menemukan bahwa

orientasi

kewirausah^afl

yang

dimiliki

oleh

pengelola

^ta:u

pemilik

tidak

memoderasi

secara

signifikan

pengaruh

respnsifitas

perusahaan

pada

pesaing

dan

pelanggan terhadap

kinerja

apotek. Nleskipun

dalam penelitian ini telah memisahkan pemiJik apotek

yang

berlatar belakang apoteker

dan

non-apoteker (pebisnis), namun dlant^ta keduanya

tidak terdapat perbedaan yang signifikan ant^ra

r^ta-t^t^

keduanya

terkart

dengan odentasi

kewirausahaan.

Dengan kata

lain,

orientasi

kewiraus ah aan diantar a pemilik atau p engelola

apotek di Surabaya memiliki level yalg

tn-u.

Hasil

peneJitian

ini

mempunvai

implikasi

manajerial

sebagai

berikut:

Pertama,

pra

manajet periu mengembangkan tesponsifitas terhadap pesaing yang berkontribusi

positif

terhadap kinerja apotek. Hasil penelitran

ini

menunjukkan bahwa pemrosesan informasi secara

kognitif

dan

afektif

meningkatkan

responsifitas

apotek

terhadap

tindakan

pesaing.

I{edua, meskipun dalam penelinan rni terlihat bahwa responsifitas terhadap pelanggan tidak

berpengaruh

secara

signifikan

terhadap

kinerja, namun sistem organisasi

kognitif

dan

afekuf

perlu didorong,

mengingat belum banyak apotek yang menggunakan keduanya

sebagai sumber informasi sebelum keputusan

diambil.

Riset

ini

berpendapat

bahwa responsifitas pelanggan bisa diiadikan dasar

bagi perusahaan

untuk

membedakan dirinya

dengan

apotek

lain

yan€!

nantinva

akan

meniadikan keunggulan bersaing

dalam

memperebutkan pelanggan [X/u dkk., 2013).

I{etrga,

pengelola atau

pemilik

dapat

benchmarking pada

industri

apotek

di

negara

lain,

misalnya

USA

dengan

CVS

Pharmacy,

yang berevolusi tidak hanya menjual ORD dan

OTC,

namun mengombinasikannya dengan

conuenience store sehtngga pendapatan menjadi lebih tinggi.

Meskipun peneJ,itian ini telah dilakukan dengan

baik,

namun

masih

terdapat

beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian

ini

terbatas

hanya

pada apotek

di

Surabaya. Tentunya dengan mendistribusikan kuesioner ke daerah

lain

maupun

industri

lainnya

akan

meningkatkan generalizability

dari

hasrl

penehtian

iru.

I{edua,

penggunaan sumber

tunggal

(pengelola

atav

pemilik)

,vang

menjawab semua

variabel penelitian

yang

digunakan meningkatkan

potensi

c0mm0n

tnetltad uariance

(Podsakoff

dkk.,

2003).

Penelitian

kedepan

diharapkan

dapat menggunakan sumber yang berbeda, baik dari pihak apotek maupun data sekunder lainnya

(misal:

laporan

penjualan

dari

PBF

^tau produsen obat). I{etiga, mengingat orientasi kewirausahaan terbentuk dalam jangka waklu

yang lama, tentunya menggunakan rass-sectiona/

netbod

ttdak

dapat

meng-capture fenomena tersebut. Untuk

itu,

penelitian

kualitatif

vang

longitudinal akan dapat memberikan gambaran

yang jelas terkait

dengan

proses

pembentukannya dan pengaruhnya terhadap kinerja apotek.

DaftarPustaka

Ardia, H. (2013). BPJS Berjalan,40o/o Revenue

Ritel

Farmasi

Te

rancam

Hilang.

l:

t t

p

: I /

u, LL,

lv

"

b

i

s n

i

.r

f a l; nr" u tn f i

d

ex.p hp I b t ri tc I ltpl s-h e ry't /an-4 {} rt re nu e- ritr lfa ru as i- lert n ta n - b i la ng.

Diakses pada tanggal 18 Februart2014.

Atuahene-Gima,

I{.,

&

I(o,

A.

(2001).

An

Eempirical Investigation

of

the

E,ffect

o

f Market

O

rientation

and

Entrepreneurship Orientation

Alignment

on

Product

Innovation.

O rgani qoti o n 5' ri e n ce, 1 2 (1), 5 4-7 4.

Jurnal

Nfana]emen Teknologi Vo1.13 lNo.1 12014

(17)

Strkoco tlan l,'iciana/ Sistem Or2anisasi Kogniti.f tlan Afektif dan Pengruhrya terhadap Kinerya Apotek di Sarabay: Efek Maderasi Oia Keniraasdhaan

Banirestu,

H.

(201,3).

CEO

I{imia

Farma: Transformasi

Apotek

meniadi Janngan

Health

Care Provider. Malalah

Swa

Online: http:l / nua.co.idf rco-inleruieu.'f

rca-ki n i aJ"arn a - tran sJrt r ttt a-ri - ap o / e k- rt e nj a d i -.faringan-bealtb-rcrt prouider Diakses pada

tanggal 1 B F eb tuari 20 1 4.

Beyer, J.

M.

&

Nino,

D.

(2001). Culture as a

Soutce, Expression and Reinforcer

of

Emotions tn Orgatizztions," in E n oti o n s

at Work: T he ory' Res earch an d App licatio n s i n

Management, RoY

L.

PaYne and CarY L.

Cooper, eds. Chichester, UI{: John \X/iley

& Sons, 173-97.

Boso, N., Story,

V

M.,

&

Cadogan,J.

\(

(2013).

Entrepreneurial

Orientation,

Matket

Orientation,

Network Ties,

and Performance: Study

of

Enttepreneurial Firms in a Developing Economy. Journal

of B usine ss Venturing 28 (6),7 0B-7 27 . Cannon, J. P.

&

Perreault

Jt.,

$il

D.

(1999).

Buyer-Seller Relationships

in

Business

Markets. Joarnal

of

Marketing Research,

36Q\ovemb er),439-60.

Chen,

MJ.

(1996). Competitor Analysis and

Intet-firm

RivalrY: Towards

a

Theoretical

Integration.

Academl oJ Man age m e n t Re uie w, 21', 1, 00 -1' 3 4.

Chen, M.-J.,

St, K.,

&

Tsai,

r'Xl

Q007).

Competitive Tension:

The

Awareness-Motivation-Capability

Perspective'

Acadenl

of

Managenent Journal,

50

(1), 101-1 1 B.

Chin, \Xl

\il

(1998). The Partial Least Squares

Approach

for

Structural

Equation

Modeling. In: Modern Methodsfor Bu.tiness Research,ed. G.A. Marcoulides. Mahwah'

NJ,

Lawrence

Etlbaum

Associates, 295-336.

Clark,

B.

&

Montgomery,

D.

B'

(1999).

Managerial

Identification

of

Competitors. Journal

of

Marketing,

63fluly),67-83.

Daniels, K.,Johnson, G.,

&

de Chernatony, L. (2002).Task and Institutional Influences

on

Managers'

Mental Models of

Competitio

n.

Organilalion S tu dies, 23 (1), 31.-62.

Day, G. S. (1994). The Capabilities

of

Matket-Driven

Organizations. Journal

of

M arke ti ng 5 8 (October), 37 -52.

Deshpand6,

R.

&

$Tebster

Jr.,

F'E.

(1 Orgarizanonal Culture and Mark Defining the Research Agenda. Joar

M a rke ti ng 53 Q anuary), 3-1 5 .

Eppler,

M.J.&

Mengis,J. Q004). The Co

of

Information Ovedoad:

A

Revir

Liter^tare

from

Organization Sc

Accounting, Marketing,

and

R Disciplines. T he Infornation S ociefl ,

325-44.

Forgas, J.

P.

(2003). Affective Influenc

Attitudes andJudgments, in Handl Alfectiue Sciences, Richard

J.

Dav

I{laus R. Scherer, and H.

Hill

Gold eds.

Oxford:

Oxford

UniversiT 596-618.

Fornell, C.,

&

Larcker, D.F. (1981). Evai

Structural Equation

Models

Unobservable

Variables

Measurement Errof. Joarnal of Ma

Research, 1 8(1), 39-50.

Frazier,P. A., Tix, A. P., &

Batron,I{.

E,. (

Testing Moderator and Mediatot

I

in

Counseling PsychologY Res

Journal

of

Counseling PsYcholol

1,15-1,34.

Ghozab.,

I.

(201,1).

Structural

E,q

Modelling Metode

Alternatif

c

Partial Least

Square.

Edisi

3.

Penerbit

Universitas

DiPonr

Semarang.

Ghoshal,

S.

&

Westney,

D'E,.

(

Organtzrng

ComPetitor Ar

Systems. Strategic Management

"

12(1),1,7-31.

Hansen,

M. T. &

Haas,

M.

R.

Competing for Attention in

l{no'

Markets: Electronic

Docr

Dissemination

in a

Manag

Consulting

ComPanY. Admini

S cien ce pu arte

rfi

, 46 (1), 1' -28.

Homburg, C. & Pflesser, C. (2000). A

M

laye

r

Model

of

Market-or

Orgarizanonal

Culture:

Measu

Issues

and

Performance

Out

Joarnal

of

Marketing

Ret

37 Q'dovemb er), 449 -62.

Homburg, C., Grozdanovic,

M.

&

I{a

M. (2007). ResPonsiveness to Cus

and Competitors:The Role

of A

and Cognitive Organtzational S

J o arn a I of M arke ting, 7 1' (7) : 1 8-3 8.

Jurnal

(18)

SukocodanViciana/ SistenOrgantsaiKognitif dan,4fekti;f danPengaruhnlaterhadapknaTaApotekdi.\'arabala:EJiktrfodera:iOientasi

Knyirau.raltaau

Hult, T.G.,I{etchenJr., D.,

&

Slater, S. (2005).

Market Orientation and

Performance:

'

An Integration of

Disp

^{^te

Apptoache s. S trategic Management Jzarndl,

26(12),1173-81.

Jaworski, B. J.

&

I{ohli,

A. K.

(1993). Market

Orientation: Antecedents

and

Consequences. Journal

of

Marketing,

57flu\),53-70.

Jayachandran, S., Hewett,

K.,

&

I{aufman, P.

Q00 4). Customer Response Capabilitf in

a Sense-and-respond Era:

The

Role

of

Customer I(nowledge Prccess. Journal af

the Acadenl

af

Marketing Science, 32(3),

219-233.

Johnson, R. A.,I{ast, F. E., & Rosenzweig,J. E. (1963). The Theory and Management of

51 s te n s. New York: McGraw-Hill.

I{ast,

F.

E.

&

Rosenzweig,

J.

E.

(1970).

Organiqation and Management:

A

Slstens

App ro ac h. New York: McGraw-Hill.

Katz, D.

&

I(ahn, R.

L.

(1978). The Sacial

Pycbology

of

Organirytions. 2"u ed. New

York: John \7iley & Sons.

I{eh,

H.

T., Nguyen,

T. T. M.,

&

Ng, H.

P.

(2007). The Effects

of

Entrepreneurial Odentation and Marketing Information on the Performa

Gambar

Tabel 1. Validitas dan Reliabilitas Variabel Penelitian
Tabel 1. Validitas dan Reliabilitas Variabel Penelitian (Sambungan)
Gambar 1. Model Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah film “ Confessions of a Shopaholic ” yang bercerita tentang kehidupan wanita bernama Rebecca Bloomwood yang merupakan seorang

Tapi tunggu dulu, bukan berarti Anda tidak mengeluarkan uang sama sekali. Untuk menjalankan bisnis dropship secara online tentunya Anda harus punya

Kecemasan adalah gangguan alam perasaan ( affective ) yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak. mengalami gangguan dalam

- Membuat pengaman untuk menghindari kerusakan pada pohon, struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan lainnya, - Menjaga

Hasil penelitian tingkat kepuasan pasien pada aspek tangible berdasarkan pekerjaan diperoleh hasil sebagian besar kepuasan dirasakan oleh responden yang bekerja (82,1%)..

Dalam suatu kewirausahaan tidak akan lengkap jika tidak melakukan suatu pemasaran, pemasaran ini bertujuan selain untuk memperkenalkan produk yang telah dibuat/diproduksi

Aspek 4 : Aplikasi Pengetahuan Meningkatkan Kecergasan (Domain Kognitif) Standard Kandungan 4.1 Mengaplikasikan konsep kecergasan semasa. melakukan aktiviti kecergasan

Puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Penerapan Pendekatan Saintifik dengan