• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE PENEMUAN TERBIMBING PAD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN METODE PENEMUAN TERBIMBING PAD"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN METODE PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI AJAR

KUBUS DAN BALOK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

DI KELAS VIII MTS HIFZHIL QUR’AN MEDAN TAHUN AJARAN 2012/2013

Yudi Pramono Pawiro

Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara

email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: apakah penerapan metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an Medan . Objek dalam penelitin ini adalah hasil belajar matematika siswa melalui penerapan metode penemuan terbimbing pada materi ajar kubus dan balok. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, dan wawancara. Berdasarkan hasil observasi pada setiap siklus penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pengelolaan kegiatan pembelajaran adalah rata- rata penilaian observasi setiap siklusnya yaitu 2,5 (kategori baik) dan 3,58 (kategori sangat baik). Berdasarkan tes hasil belajar menunjukkan bahwa tingkat ketercapaian proses pembelajaran matematika berada di atas standar yang telah ditetapkan yaitu sebesar 85%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar pada pokok bahasan kubus dan balok melalui penerapan metode penemuan terbimbing adalah rata-rata pencapaian hasil belajar siswa setiap siklusnya yaitu 65,625% dan 90,625%.Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa VIII MTs

Hifzhil Qur’an Medan

Kata Kunci : Metode Penemuan Terbimbing dan Hasil Belajar Siswa Abstract

This research propose for know : what application guide discovery method can be

improve study result. Type of research is classroom action research consisting of two cycles.

(2)

experiment is the result of application of mathematics lerarning through guide discovery

method at subject matter cube and beam. The Instrument used this research is observation,

test and interview.Besed on observations at each cycle showed that improved management of

learning activities is the average valuation 2,5 (good catagories) and 3,58 (very good

categories). Besed on study result show achievement of the learning process of mathematics

is above the established standard that is equal to 85 %. The result showed improvement math

result on subject matter cube and beam with application guided discovery method every cyle

is 62,625% and 90,625%. Besed on that act can be concluded that the application of guided

discovery method can improve math study result of class VIII MTs Hifzhil Qur’an Medan.

Key Word: Guided Discovery Method and Study Result

PENDAHULUAN

Standar kompetisi mata pelajaran matematika adalah siswa memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta mempunyai kemampuan bekerjasama. Artinya, siswa diharapkan dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang penekanannya pada penataan nalar, pembentukan sikap siswa serta ketrampilan dalam penerapan matematika. Untuk siswa dalam pembelajaran matematika diharapkan tidak menghafal rumus, konsep, dan prosedur yang diajarkan tetapi memahami konsep tersebut dan tahu darimana rumus itu didapat. Peran seorang guru sangat dibutuhan dalam keberhasilan pembelajaran, sehingga guru harus memiliki kompetensi keprofesian keguruan yang baik termasuk memiliki kemampuan merancang dan mengimplementasikan berbagai metode pembelajaran yang dianggap sesuai dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan siswa termasuk didalamnya memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran untuk menjamin efektifitas pembelajaran di sekolah-sekolah.

(3)

Salah satu metode pembelajaran aktif dari sekian banyak metode pembelajaran yang ada, penemuan terbimbing yang merupakan satu model instruksional kognitif, model penemuan yang berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa sehingga dalam proses pembelajaran siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar menempatkan guru sebagai fasilitator, berpikir sendiri, menganalisis sendiri, sehingga dapat ‘menemukan’ konsep umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru.

Pada metode penemuan terbimbing adalah sistem dua arah yang melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Siswa melakukan penemuan, sedangkan guru membimbing mereka kearah yang tepat atau benar. Gaya pengajaran demikian, oleh Gagne disebut penemuan terbimbing (guide discovery), sekalipun didalam kelas yang terdiri dari 20 sampai 30 siswa.

Dengan kata lain pembelajaran dengan metode penemuan merupakan salah satu cara untuk menyampaikan ide/gagasan dengan proses menemukan, dalam proses ini siswa berusaha menemukan konsep dan rumus dan semacamnya dengan bimbingan guru. Kegiatan pembelajaran semacam ini menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran, guru hanya berperan sebagai fasilitator untuk mengatur jalannya pembelajaran. Proses pembelajaran yang demikian membawa dampak positif pada pengembangan kreativitas berpikir siswa. Dalam model pembelajaran dengan penemuan terbimbing, peran siswa cukup besar karena pembelajaran tidak lagi terpusat pada guru tetapi pada siswa. Guru memulai kegiatan belajar mengajar dengan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan siswa dan mengorganisir kelas untuk kegiatan seperti pemecahan masalah, investigasi atau aktivitas lainnya. Guru menyediakan data dan siswa diberi pertanyaan atau masalah untuk membantu mereka mencari jawaban, kesimpulan generalisasi dan solusi. Pemecahan masalah merupakan suatu tahap yang penting dan menentukan. Ini dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Dengan membiasakan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dapat diharapkan akan meningkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika, karena siswa dilibatkan dalam berpikir matematika pada saat manipulasi, eksperimen, dan menyelesaikan masalah.

(4)

kepada kelas untuk dipecahkan.

Adapun Fase - Fase Penemuan Terbimbing yaitu:1

Fase Deskripsi

Fase 1: Pendahuluan Guru berusaha menarik perhatian siswa dan menetapkan fokus pelajaran.

Fase 2: Fase Terbuka Guru memberi siswa contoh dan meminta siswa mengamati dan membandingkan contoh-contoh

Fase 3: Fase Konvergen Guru menanyakan pertanyaan-pertanyaan lebih spesifik yang dirancang untuk membimbing siswa mencapai pemahaman tentang konsep atau generalisasi.

Fase 4: Fase Penutup dan Penerapan Guru membimbing siswa memahami defenisi suatu konsep atau pertanyaan generalisasi dan siswa menerapkan pemahaman mereka ke dalam konteks baru.

Materi kubus dan balok merupakan materi ajar pada kelas VIII SMP/MTs, materi ini spesifik dan sudah terdefenisi dengan jelas, artinya materi ini membahas terkait dengan konsep sehingga metode penemuan terbimbing layak untuk dipakai dalam pembelajaran di kelas untuk materi kubus dan balok. Adapun kerangka materi adalah sebagai berikut:

Standar Kompetensi : 5.Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma dan limas serta bagian bagiannya.

Kompetensi Dasar : 5.1 Mengidentifikasi sifat-sifat kubus, balok, prisma dan limas serta bagian-bagiannya.

1.2 Membuat jaring-jaring kubus, balok, prisma dan limas.

(5)

5.3 Menghitung luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma dan

limas.

Indikator : 1. Menyebutkan bidang, rusuk, diagonal bidang, bidang diagonal, serta

diagonal ruang kubus.

2. Melukis jaring-jaring kubus dan balok.

3. Menghitung luas permukaan kubus dan balok.

4. Menghitung volume kubus dan balok.

Setelah membaca metode tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitin guna meningkatkan hasil belajar siswa dengan judul “ Penerapan Metode Penemuan Terbimbing Pada Materi Ajar Kubus Dan Balok Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Di Kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an Medan Tahun Ajaran 2012/2013”.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:1) Pembelajaran masih berpusat pada guru ; 2) Kurangnya inovasi siswa belajar matematika; 3) Rendahnya hasil belajar matematika siswa.

Berdasarkan identifikasi masalah yang dikemukakan diatas, masalah yang dikaji dalam penelitian ini perlu dibatasi sehingga penelitian ini lebih terarah, efektif, dan efisien serta memudahkan dalam melaksanakan penelitian, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: : Apakah penerapan metode penemuan terbimbing pada materi ajar kubus dan balok dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an Medan Tahun Ajaran 2012/2013.

Adapun tujuan penelitian untuk mengetahui penerapan metode penemuan terbimbing pada materi ajar kubus dan balok dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an Medan Tahun Ajaran 2012/2013.

(6)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode belajar penemuan terbimbing pada materi kubus dan balok. PTK dapat diartikan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya

memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan tindakan yang terencana dalam situasi

nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut.2Dari konsep diatas ada

beberapa hal yang harus digaris bawahi. Perta ma, PTK adalah rangkaian kegiatan yang dimulai menyadari masalah, kemudian tindakan untuk memecahkan masalah dan refleksi

terhadap tindakan yang dilakukannya. Kedua, masalah yang dikaji adalah masalah yang terjadi di dalam kelas, artinya PTK memfokuskan pada masalah yang berkaitan dengan

proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dan guru di dalam kelas. Ketiga, PTK dimulai dan diakhiri dengan kegitan refleksi diri artinya yang melaksanakan PTK itu sendiri

adalah guru. Keempat, PTK dilakukan berbagai tindakan, artinya PTK bukan sekedar mengetahui sesuatu akan tetapi adanya aksi dari guru untuk proses kebaikan. Kelima,PTK dilakukan dlam situasi nyata,artinya aksi yang dilakukan guru dilakukan dalam setting

pembelajaran yang sebenarnya tidak mengganggu program pembelajaran yang sudah

direncanakan.

Prosedur tindakan kelas ini terdiri dari beberapa siklus. Dalam satu siklus terdiri atas empat tahap, yaitu: 1) Perencanaan tindakan ; 2) Pelaksanaan tindakan ; 3) Observasi dan wawancara ; 4) Refleksi. Lebih jelasnya prosedur tindakan kelas ini adalah:

Tahap Perencanaan Tindakan

Pada tahap ini kegiatan dilakukan adalah merencanakan tindakan yaitu sebagai berikut: Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang memuat langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan metode pembelajaran penemuan terbimbing. Membuat lembar observasi untuk melihat aktivitas kelas ketika pembelajaran berlangsung.

Tahap Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melakukan kegiatan mengajar, dimana peneliti yang bertindak sebagai guru. Kegitan mengajar yang dilakukan merupakan pengembangan dan pelaksanaan dari skenario pembelajaran yang telah dirancang. Pada akhir tindakan kepada siswa test hasil belajar untuk melihat hasil yang dicapai oleh siswa setelah pemberian tindakan.

(7)

Tahap Observasi Tahap observasi yang dimaksud adalah tahap pengamatan yang dilakukan saat kegiatan pembelajaran berlangsung bersamaan dengan tahap pelaksanaan tindakan, gunanya untuk mengamati aktivitas belajar mengajar di kelas. Dalam tahapan ini peneliti didampingi seorang guru pengamat. Pengamatan dilakukan oleh guru mata pelajaran matematika kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an Medan.

Tahap Refleksi

Hasil refleksi ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk tahap perencanaan pada siklus selanjutnya.

Penelitian ini akan dilakukan di MTs Hifzhil Qur’an Medan. Adapun subjek penelitian ditetapkan di kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an Medan yang berjumlah 32 siswa semester II T.A. 2012/2013.

Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui tes, lembar observasi, wawancara dan dokumentasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Amir Daien Indrakusuma bahwa tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara yang cepat dan tepat.3 Dalam hal tertentu untuk tes yang telah disusun sesuai dengan kurikulum (materi dan tujuan) agar memenuhi validasi dapat pula diminta bantuan ahli bidang studi untuk menotasikan apakah konsep materi yang diajarkan telah memadai atau tidak sebagai sampel tes. Dengan demikian validasi isi tidak memerlukan uji coba dan analisis statistik atau dinyatakan dalam bentuk angka.4 Observasi merupakan kegiatan pengamatan terhadap kegiatan yang telah dilakukan dan perubahan yang telah terjadi pada saat diberikan tindakan. Hal ini dilihat dari segi sikap, respon, pandangan, minat dan motivasi sewaktu guru mengajar. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara langsung yang dilakukan oleh peneliti pada saat berlangsungnya tindakan, pertanyaan-pertanyaan yang diberikan melalui wawancara diarahkan untuk mengetahui kesulitan yang dialami siswa dalam meneyelesaikan soal-soal kubus dan balok yang diberikan pada saat pelaksanaan tindakan. Wawancara yang dilakukan difokuskan pada tes hasil belajar siswa di akhir pemberian tindakan.Sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengetahui proses pembelajaran pada siswa melalui pendokumentasian foto-foto pada saat proses tindakan penelitian di MTs Hifzhil Qur’an.

3 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2005), h. 32. 4Samsul Sitakar, “

(8)

Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi, katagori hasil belajar siswa penyajian data, analisis hasil observasi dan indikator keberhasilan.Proses reduksi data dilakukan dengan menyeleksi, menyederhanakan, dan mengorganisasikan data yang telah disajikan dalam bentuk transkrip catatan lapangan. Untuk katagori hasil belajar secara individu siswa dikatakan telah tuntas apabila DS ≥ 65% dan secara klasikal,suatu kelas dikatakan tuntas belajar jika kelas tersebut terdapat 85%. Ketuntasan belajar perorangan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

% 100

 

B A DS

Keterangan :

DS = Daya Serap

A = Skor yang telah diperoleh siswa

B = Skor maksimal

Ketuntasan belajar klasikal dapat dihitung dengan mengggunakan rumus :

% 100

 

N X D

Keterangan :

D = Persentase kelas yang tuntas belajar X = Jumlah siswa yang telah tuntas belajar N = Jumlah seluruh siswa

Hasil observasi yang telah dilakukan oleh observer yaitu guru matematika kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an, dilakukan penganalisaan degan rumus:

Pi:

Dimana Pi = hasil pengamatan pada pertemuan ke-i

Adapun kriteria rata-rata penilaian observasi menurut Sugito :

0-1 - 1 artinya kurang baik

1,2- 2,1 artinya cukup

2,2 - 3,1 artinya baik

3,4 - 4,0 artinya sangat baik.

(9)

minimal baik pelaksanaannya telah sesuai dengan pembelajaran matematika melalui metode penemuan terbimbing. Sedangkan indikator hasil : Tindakan dikatakan berhasil jika tingkat ketuntasan klasikal telah mencapai 85%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Langkah pertama sebelum dilakukannya perencanaan dan tindakan terhadap siswa adalah pemberian tes awal. Tujuannya diberikannya tes awal yang diberikan kepada siswa sebelum melakukan perencanaan adalah untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berhubungan kubus dan balok. Setelah tes wal diberikan kepada 32 orang siswa di kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an Medan, maka dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa belum mencapai ketuntasan belajar individu. Dimana ada 19 orang (59,375%) dari keseluruhan siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar dan 13 orang (40,625%) dari jumlah siswa keseluruhan yang mencapai ketuntasan belajar, kemudian peneliti melakukan siklus I untuk mencapai ketuntasan belajar klasikal ≥ 85%.

Siklus I

Perencanaan Tindakan

Sebelum melakukan pelaksanaan tindakan terlebih dahulu membuat rencana pelaksaanan pembelajaran yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran penemuan terbimbing, membuat observasi dan membuat tes hasil belajar. Pada tahap ini diberikan tes awal kepada siswa, tujuannya diberikan tes awal untuk mengetahui kemampuan awal siswa terhadap mata pelajaran matematika. Setelah tes awal diberikan ada beberapa siswa yang tidak tuntas dalam belajar matematika yaitu 59,375%.

Hasil tes awal tersebut digunakan sebagai acuan dalam pemberian tindakan dilakukan suatu tindakan pembelajaran yaitu dengan pembelajaran penemuan terbimbing, dimana peneliti bertindak sebagai guru. Pengajaran yang kan dilaksanan terdiri dari dua siklus dan setia siklus terdiri dari dua kali pertemuan.

Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap pemberian tindakan dilakukan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan penemuan terbimbing.

(10)

b. Guru menginformasikan tentang pembelajaran penemuan terbimbing serta prosedur pembelajaran.

c. Guru membagi kelompok menjadi 6, tiap kelompok terdiri dari 4 – 5 orang.

d. Guru meminta peserta didik untuk mencari informasi mengenai materi kubus dan balok.

e. Setiap siswa melakukan penemuan dengan bimbingan dari guru.

f. Guru meminta perwakilan kelompok mempersentasikan hasil diskusinya dan guru merumuskan jawaban yang benar.

g. Siswa diminta membuat catatan penting dari kegiatan belajar ini.

Kegiatan belajar yang dilakukan merupakan pengembangan dan pelaksanaan dari rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun pada siklus I. Peneliti mengembangkan rencana pelaksanaan pada siklus I berdasarkan hasil dari tes awal dan wawancara terhadap beberapa siswa.

Setelah pengajaran siklus I, diberikan tes I kepada siswa untuk melihat hasil belajar setelah penerapan metode penemuan terbimbing yang diterapkan didalam kelas. Adapun hasil belajar siswa pada tes I sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut ini.

Daftar Persentase Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I

No Nama Siswa Skor

Keterangan

Tuntas Tidak Tuntas

1 2 3 4 5

1 Ainun Mardiyah 66,875 Tuntas

2 Alfan Aulia 100 Tuntas

3 Anita Firdaus Harahap 82,5 Tuntas 4 Anjeli Septi Anggrani 100 Tuntas

5 Avivatur Rohima Arva 75 Tuntas

6 Azlita Rahma Sitompul 58,75 Tidak Tuntas

7 Danny Chalik Malik 75 Tuntas

8 Dzakiyatul Ilmi 87,5 Tuntas

9 Eva Syahrina 75 Tuntas

10 Fahrozi 82,5 Tuntas

11 Farah Afivah 87,5 Tuntas

12 Ida Aprriala 87,5 Tuntas

13 Khairul Anwar 48,25 Tidak Tuntas

14 M. Nuh Salam Lubis 45,25 Tidak Tuntas

15 M.Ary Hamzah 82,5 Tuntas

16 M.Fauzi 10 Tidak Tuntas

17 M.Hafiz 75 Tuntas

(11)

No 1 2 3 4

19 M.Yasin Asyraf 100 Tuntas

20 Mardiana Harahap 66,25 Tuntas

21 Mila Sulistiani 25 Tidak Tuntas

22 Nadia Umami 25 Tidak Tuntas

23 Nida Khofifa 25 Tidak Tuntas

24 Nur Asnita 86,25 Tuntas

25 Nur Hasanah 40 Tidak Tuntas

26 Nurhidayah 42,5 Tidak Tuntas

27 Rahma Nur 82,5 Tuntas

28 Rizki Fauziah Harahap 87,5 Tuntas

29 Shailala Aidriva 57,5 Tidak Tuntas

30 Siti Sakinah Siregar 75 Tuntas

31 Zahirah Firmansyah 100 Tuntas

32 Zuliana Nasution 100 Tuntas

Jumlah 2189

Rata-rata X 68,40625

Persentase 65,625 % 34,375%

Ketuntasan Klasikal 65,625 % Observasi

Dari tabel diperoleh data bahwa masih banyak siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar individual maka pembelajaran pada siklus I masih belum memenuhi kriteria peningkatan hasil belajar. Dimana ada 11 orang (34,375%) dari keseluruhan siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar dan 21 orang (65,625%) dari jumlah siswa keseluruhan yang mencapai ketuntasan belajar. Dari data tersebut disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I perlu ada perbaikan yakni dengan melanjutkan ke siklus II.

Hasil Observasi Aktivitas Mengajar Guru Siklus I

No Indikator Deskriptor Nilai

A Membuka Pelajaran 1. Menarik perhatian siswa.

2. Menertibkan siswa.

3. Merincikan tujuan pembelajaran.

4. Memotivasi siswa

2

2

2

2

B Mengatur Waktu dan

Strategi Pembelajaran

1. Merancang materi ajar dengan sistematis.

2. Menggunakan waktu secara efektif dan efisiensi

2

(12)

3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan

metode penemuan

terbimbing .

4. Kegiatan Pembelajaran bervariasi.

3

2

C Menggalakan ketertiban

siswa dalam proses pembelajaran.

1. Membentuk kelompok siswa dengan tertib.

2. Memberi dorongan kepada siswa agar turut serta mengerjakan tugasnya dalam kelompknya.

3. Mengamati kegiatan siswa sedang berdiskusi.

4. Memimpin diskusi kelas antar kelompok.

2

2

2

2

D Berkomunikasi dengan

Siswa

1. Memotivasi siswa untuk bertanya.

2. Membantu siswa untuk memahami soal-soal.

3. Melatih siswa untuk member komentar.

4. Memberikan pertanyaan kepada siswa.

2

2

3

2

E Aktivitas Siswa 1. Menyakan yang tidak

dimengerti kepada guru. 2. Memperhatikan guru.

3. Aktif pada saat diskusi kelompok.

4. Menjawab pertanyaan guru/siswa dari kelompok lain.

3

3

3

3

F Menutup Pelajaran 1. Merangkum materi

pelajaran.

2. Member pujian atau penghargaan kelompok yang nilainya tinggi.

3. Memotivasi kelompok yang nilainya rendah.

4. Memberi tugas.

4

4

3

3

(13)

Sedangkan wawancara dilakukan terhadap siswa yang mendapat nilai rendah yang tujuannya untuk menelusuri kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal kubus dan balok. Berdasarkan hasil wawancara ternyata siswa menjawab bahwa soal yang diberikan tidak sesuai dengan waktu yang tersedia serta siswa kurang teliti dalam menyelesaikan soal yang diberikan.

Hasil Refleksi

Berdasarkan hasil belajar siklus I dan lembar observasi guru serta wawancara yang diperoleh bahwa hasil belajar siswa terletak pada katagori sedang, siswa masih banyak yang belum memahami materi kubus dan balok disebabkan kurang optimalnya guru dalam mengajar. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan pengajaran secara umum belum terlaksana sesuai dengan perencanaan, masih terdapat kekurangan dan penggunaan waktu yang kurang efisien. Siswa masih kelihatan kaku dan kondisi pembelajaran belum berjalan lancar, hal ini disebabkan siswa kurang antusias dengan pembelajaran penemuan terbimbing yang masih asing yang mereka alami. Selain itu siswa masih takut untuk menanyakan hal yang tidak mereka mengerti kepada guru.

Berdasarkan permasalahan di atas menjadikan penulis berfikir untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang diperoleh, maka pada siklus II direncanakan:

a. Guru harus mampu mengatur penggunakan waktu pembelajaran denagn baik. b. Guru harus mampu meningkatkan pengelolaan kegiatan pembelajaran diantaranya

membuka pelajaran dengan lebih baik salah satunya dengan membawa media balok dan kubus untuk menarik perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing yang telah dicapai sebelumnya pada siklus I. Siklus II

Perencanaan Tindakan

Yang masih menjadi permasalahan pada siklus I adalah:

a. Siswa masih kurang mampu menyelesaikan soal-soal tentang kubus dan balok

b. Pembelajaran penemuan terbimbing masih belum terlaksana sesuai dengan perencanaan.

(14)

penemuan terbimbing diterapkan dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan Tindakan

Pada siklus ini peneliti membagi pertemuan belajar atas dua kali pertemuan. Pemberian tindakan dilakukan dengan kegiatan belajar dimana peneliti bertindak sebagai guru. Kegiatan belajar yang dilakukan merupakan pengembangan dan pelaksanaan dari rencana perbaikan pembelajaran yang telah disusun pada tahap perencanaan ( lampiran 2).

Pengajaran yang dilakukan difokuskan pada proses belajar yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam belajar matematika. Pada pertemuan terakhir, peneliti kembali memberikan tes hasil belajar kepada siswa untuk melihat bagaimana hasil belajar siswa setelah diajarkan dengan penerapan pembelajaran penemuan terrbimbing.

Setelah pengajaran siklus II, diberikan tes II kepada siswa untuk melihat hasil belajar setelah penerapan metode penemuan terbimbing. Adapun hasil belajar dari tes II siswa MTs Hifzhil Qur’an kelas VIII sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut ini :

Daftar Persentase Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II

No Nama Siswa Skor

Keterangan

Tuntas Tidak Tuntas

1 2 3 4 5

1 Ainun Mardiyah 100 Tuntas

2 Alfan Aulia 85 Tuntas

3 Anita Firdaus Harahap 100 Tuntas 4 Anjeli Septi Anggrani 100 Tuntas 5 Avivatur Rohima Arva 100 Tuntas 6 Azlita Rahma Sitompul 70 Tuntas

7 Danny Chalik Malik 85 Tuntas

8 Dzakiyatul Ilmi 100 Tuntas

9 Eva Syahrina 100 Tuntas

10 Fahrozi 20 Tidak Tuntas

11 Farah Afivah 100 Tuntas

12 Ida Aprriala 85 Tuntas

13 Khairul Anwar 85 Tuntas

14 M. Nuh Salam Lubis 100 Tuntas

15 M.Ary Hamzah 85 Tuntas

16 M.Fauzi 45 Tidak Tuntas

17 M.Hafiz 85 Tuntas

18 M.Harun 60 Tidak Tuntas

19 M.Yasin Asyraf 65 Tuntas

20 Mardiana Harahap 100 Tuntas

21 Mila Sulistiani 100 Tuntas

(15)

No 1 2 3 4

23 Nida Khofifa 75 Tuntas

24 Nur Asnita 85 Tuntas

25 Nur Hasanah 75 Tuntas

26 Nurhidayah 100 Tuntas

27 Rahma Nur 100 Tuntas

28 Rizki Fauziah Harahap 100 Tuntas

29 Shailala Aidriva 80 Tuntas

30 Siti Sakinah Siregar 100 Tuntas

31 Zahirah Firmansyah 100 Tuntas

32 Zuliana Nasution 100 Tuntas

Jumlah 2760

Rata-rata ∑ X 86,25

Persentase 90,625 % 9,375 %

Ketuntasan Klasikal 90,625 %

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ketuntasan belajar siswa tercapai. Dimana siswa yang tuntas belajar berjumlah 29 orang (90,625%) dari jumlah siswa. Dan yang tidak tuntas belajar adalah 3 orang (9,375%) dari jumlah siswa. Dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar siswa secara klasikal tercapai yaitu 90,625% dengan nilai rata-rata mencapai 85,06, dengan demikian penerapan metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Observasi

Pada pengajaran siklus II, diberikan tes II kepada siswa untuk melihat adanya peningkatan hasil belajar dengan menerapkan metode penemuan terbimbing. Setelah dilakukan kegiatan pembelajaran pada siklus II, maka hasil belajar siswa mencapai ketuntasan belajar klasikal. Sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut:

Hasil Observasi Aktivitas Mengajar Guru Siklus II

No Indikator Deskriptor Nilai

A Membuka Pelajaran 1. Menarik perhatian siswa.

2. Menertibkan siswa.

3. Merincikan tujuan pembelajaran.

4. Memotivasi siswa

3

4

4

4

B Mengatur Waktu dan

Strategi Pembelajaran

1. Merancang materi ajar dengan sistematis.

2. Menggunakan waktu secara efektif dan efisiensi

3. Melaksanakan kegiatan

4

(16)

pembelajaran sesuai dengan metode penemuan terbimbing .

4. Kegiatan Pembelajaran bervariasi.

4

3

C Menggalakan ketertiban

siswa dalam proses pembelajaran.

1. Membentuk kelompok siswa dengan tertib.

2. Memberi dorongan kepada siswa agar turut serta mengerjakan tugasnya dalam kelompknya.

3. Mengamati kegiatan siswa sedang berdiskusi.

4. Memimpin diskusi kelas antar kelompok.

3

4

4

4

Berdasarkan rincian hasil penelitian, diketahui bahwa penelitian berlangsung dua siklus. Pada siklus I dengan menggunakan rencana pembelajaran (RPP), lembar observasi, dan tes hasil belajar untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam belajar matematika. Setelah tes awal dan tes siklus I diberikan kepada siswa maka hasil dari tes tersebut digunakan sebagai acuan tindakan selanjutya.Yang menjadi permasalahan adalah hasil belajar siswa masih rendah dan pembelajaran penemuan terbimbing belum terlaksana sesuai dengan perencanaan. Penyebabnya adalah media yang digunakan tidak sesuai dengan materi pembelajaran, pada siklus I guru seharusnya membawa kerangka kubus dan balok bukan kotak yang berbentuk kubus dan balok sehingga kurang menarik minat serta tidak membantu menjelaskan konsep materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

(17)

Pada siklus II sesuai dengan pengembangan pada pembelajaran siklus I dan masih menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing dengan memperbaiki pengelolaan kegiatan pembelajaran diantaranya membuka pelajaran, mengatur waktu dan strategi pembelajaran, menggalakan ketertiban siswa dalam proses pembelajaran. Pada membuka pelajaran guru menunjukan media kubus dan balok yang terbuat dari karton serta aplikasi pelajaran kubus dan balok sehari-hari, hal ini akan menarik perhatian serta minat siswa sehingga siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas serta media tersebut sesuai dengan konsep materi luas permukaan, volume kubus dan balok.

Pada tes II terdapat tiga orang atau 9,375% dari jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar dan terdapat 29 orang atau 90,625% dari jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar. Secara klasikal sudah memenuhi ketuntasan. Dari hasil observasi diperoleh jumlah rata-rata keseluruhan adalah 3,58. Dalam hal ini kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran mengalami peningkatan.

Berdasarkan hasil dari siklus I dan siklus II di atas, sejalan dengan teori Lesle J.Briggs yang menyatakan media adalah alat untuk memberi perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses pembelajaran. Dalam hal ini pada siklus II guru menggunakan media yang tepat dalam menanamkan konsep luas permukaan dan volume kubus dan balok kepada siswa sehingga siswa lebih memahami materi yang disampaikan pada siklus II. Hal ini sesuai dengan prosedur dalam merencanakan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing, yaitu menyiapkan contoh, dalam hal ini kubus dan balok sebagai contoh atau media yang membantu siswa dalam memahami pelajaran.

Kemudian pengelolaan pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas berjalan dengan baik sehingga sistem pembelajaran terjadi secara dua arah antara siswa dan guru. Siswa melakukan penemuan, sedangkan guru membimbing mereka kearah tepat atau benar. Maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan penemuan terbimbing berjalan secara efektif dan efisien. Dalam metode pembelajaran dengan penemuan terbimbing, peran siswa cukup besar karena pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru tetapi pada siswa. Hal ini dapat dilihat pada siklus II, aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran sangat baik, maka dapat disimpulkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran yang aktif sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

(18)

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, maka diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal hasil belajar kubus dan balok kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an mengalami peningkatan. Maka metode penemuan terbimbing pada pokok bahasan kubus dan balok dapat meningkatan hasil belajar siswa kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an Medan tahun ajaran 2012/2013.

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, maka penulis memberikan beberapa saran, yaitu :

1) Sebaiknya guru memakai metode penemuan terbimbing untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok bahasan kubus dan balok; 2) Diharapkan seluruh siswa, khususnya siswa kelas VIII MTs Hifzhil Qur’an agar lebih giat dan aktif serta mempererat kerjasama antara sesama siswa sehingga dapat lebih memahami materi yang dipelajari; 3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti topik atau masalah yang sama disarankan untuk melakukan penelitian pada pokok bahasan atau metode pembelajaran lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto ,Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : Bumi Aksara, 2005.

Eggen, Paul.,Don Kauchak, Strategi dan Model Pembelajaran.Jakarta:PT Indeks,2012.

Samsul Sitakar, “Penerapan Metode Tutor sebaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Tajwid Al-Qur’an Di Kelas IV MDA Yayasan Pendidikan Rusyda Medan T.A 2011/2012”( Skripsi ; Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara.

Referensi

Dokumen terkait

Pemerintah Desa memiliki peran yang sangat signifikan dalam pengelolaan proses sosial di dalam masyarakat. Tugas utama yang harus diemban Pemerintah Desa

Analisa data dilakukan secara deskriptif terhadap hasil pengujian kualitas daging bebek yang meliputi sifat mutu organoleptik yang warna, bau dan konsistensiann kandungan

The fact that the results of the longitudinal analysis ap- pear to change from time period to time period suggests that (a) it is important to analyze the data frequently and (b)

Salah satu yang harus selalu diperhatikan adalah masalah harga, harga yang murah (dibandingkan dengan toko lain) akan membuat konsumen senang datang ke toko kita apalagi bila

pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan keuangan daerah kabupaten dan kota. Dalam melaksanakan tugas, bidang bina anggaran daerah bawahan mempunyai tugas :.. Penyiapan

Sayaseorang yang Ramah, PekerjaKeras, BertanggungJawabdancepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. KritisdanBerpikirLogis, Disiplin,

Halaman ini terdapat data Dosen dengan matakuliah yang di ampu yang untuk selanjutnya Dosen akan melakukan input data nilai mahasiswa.. Tampilan Menu

Untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat penerimaan aroma, rasa, intensitas rasa (manis), tekstur, warna dan overall sampel kwetiau kering instan yang tanpa substitusi tepung