Sosialisasi Perundang-Undangan Hak Kekayaan Intelektual Terkait Dalam Konteks Penyetan Kekayaan Budaya (Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional)

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL TERKAIT DALAM

KONTEKS PENYELAMATAN KEKAYAAN BUDAYA

(Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional)

Oleh :

Dr. OK. Saidin, SH, M.Hum, (NIDN : 0013026203) Dr. Edy Ikhsan, SH, MA, (NIDN : 0016026304) Dr. Abdul Hakim Siagian, SH, M.Hum (NIDN : 0115086502)

Atas Biaya Sendiri

FAKULTAS HUKUM

(5)

SOCIALIZATION OF RELATED INTELLECTUAL PROPERTY RIGHT LEGISLATION IN THE CULTURAL RESCUE CONTEXT

(Traditional Knowledge and Traditional Cultural Expression)

ABSTRACT

Dr. OK. Saidin, SH, M. Hum *) Dr. Edy Ikhsan, SH, MA **)

Dr. Abdul Hakim Siagian, SH, M.Hum ***)

In the preamble of Republic of Indonesia Constitution 1945, the goal of this country, the reason of the establishment of this country, is included. The goal is regulated in 4 (four) important points:

1. To protect the whole people of Indonesia and the entire homeland of Indonesia.

2. To advance general prosperity.

3. To develop the nation’s intellectual life.

4. To contribute to the implementation of the world order based on freedom, lasting peace, and social justice.

It is obvious, to reach the independence goal, Indonesia must utilize every potential source. The source owned by Indonesia is part of the cultural wealth based on natural resources (the wealth of flora and fauna, natural wealth of mineral, oil, water and air) and human resources.

In the relation with intellectual property right protection, the natural resources and human resources hold a very important role and position. The reason is that anthropologically, human is the base of culture and human is also the one who can utilize the natural potential to build the civilization.

The form of the protection in law is called as intellectual property right protection which subject to national legal rules and international law. Intellectual Property Right consists of Copyrights and industrial right of patent, industrial design, plant variety, integrated circuit and mark.

In Indonesian Law, legal instrument of that can be found in Act number 28 of 2014 regarding Copyright, Act number 14 of 2001 regarding Patent, Act number 29 of 2000 regarding Plant Variety Protection, Act number 31 of 2000 regarding Industrial Design, Act number 32 of 2000 regarding Integrated Circuit, Act number 15 of 2001 regarding Mark. But even so, the whole legislation on traditional knowledge and traditional cultural expression today are not capable in protecting what is called as protection on traditional knowledge and traditional cultural

*) Lecturer in Law Faculty USU **) Lecturer in Law Faculty USU

(6)

expression. Today, the protection about that is only put in Intellectual Property Right legislation above.

The issue faced by Indonesia today is that lots of cultural knowledge and traditional cultural expression haven’t been inventoried, so protection is hard to be given. The cultural wealth should have been listed because it is regarding the wealth that should be developed and maintained by Indonesian social community. For that, socialization regarding related Intellectual Property Right legislation regarding traditional knowledge and traditional cultural expression is necessary to be conducted.

In this socialization in November 12th 2015, which was participated by 152

people, consisted of 3 Adat Law social communities, which were: Simalungun, Malay, and Karo social community in many social levels which were: traditional leaders, organization leaders, student leaders, intellectual leaders, and youth leaders. They are the ones who are hoped to be the development agents to “transmit” the knowledge regarding the role of the society in protectiong traditional culture and traditional cultural expression in relation with legal rules about intellectual property rights.

At last, through interactive seminar method, this socialization of intellectual property rights legislation to social community of Simalungun, Malay and Karo, is hoped to be inventoried in national culture wealth in the future, especially in traditional knowledge and traditional cultural expression which in turn, the rights can be listed as communal wealth right of the society.

(7)

RINGKASAN

SOSIALISASI PERUNDANG-UNDANGAN

HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL TERKAIT DALAM

KONTEKS PENYELAMATAN KEKAYAAN BUDAYA

(Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional)

Dr. OK. Saidin, SH, M.Hum *)

Dr. Edy Ikhsan, SH, MA **)

Dr. Abdul Hakim Siagian, SH, M.Hum ***)

Dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, termaktub tujuan negara, yang menjadi alasan negara ini didirikan. Tujuan negara dirumuskan dalam 4 (empat) point penting yaitu :

1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. 2. Memajukan kesejahteraan umum

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa

4. Melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tentu saja untuk mencapai cita-cita kemerdekaan itu, Indonesia harus memanfaatkan semua potensi sumber daya yang dimilikinya. Sumber daya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia adalah bahagian dari unsur kekayaan budaya yang berpangkal pada sumber daya alam (keanekaragaman hayati-flora dan fauna-, kekayaan alam berupa mineral, minyak, air, udara) dan sumber daya manusia.

Dalam kaitannya dengan perlindungan hak kekayaan intelektual, sumber daya alam dan sumber daya manusia memegang peranan dan posisi penting. Alasannya adalah karena secara antropologis manusia adalah pangkal dari kebudayaan dan manusia jugalah yang dapat memanfaatkan potensi alam yang tersedia untuk membangun peradabannya.

Bentuk perlindungannya dalam hukum disebut sebagai perlindungan hak kekayaan intelektual yang tunduk pada aturan-aturan hukum nasional dan hukum internasional. Hak kekayaan intelektual terdiri dari hak cipta (copy rights) dan hak kekayaan perindustrian yang terdiri dari paten, desain industri, perlindungan varietas baru tanaman, desain tata letak sirkuit terpadu dan merek.

Dalam hukum Indonesia, instrument hukum yang mengatur itu dijumpai dalam Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Undang-undang No.

*) Dosen Fakultas Hukum USU **) Dosen Fakultas Hukum USU

(8)

14 Tahun 2001 tentang Paten, Undang-undang No. 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Baru Tanaman, Undang-undang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, Undang-undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. Namun demikian, seluruh perangkat undang-undang itu saat ini belum mampu melindungi apa yang disebut dengan perlindungan atas pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. Saat ini perlindungan tentang hal itu ditumpangkan saja pada perundang-undangan HKI tersebut di atas.

Permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia saat ini adalah banyaknya pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional yang belum terinventarisir sehingga sulit untuk dapat diberikan perlindungan. Kekayaan budaya tersebut seharusnya sudah waktunya untuk didaftar karena hal itu menyangkut kekayaan yang harus dikembangkan dan dipelihara oleh komunitas masyarakat Indonesia. Untuk itulah sosialisasi terhadap peraturan perundang-undangan HKI terkait perlindungan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional perlu untuk dilakukan.

Dalam pelaksanaan sosialisasi itu pada tanggal 12 November 2015 yang diikuti oleh 152 peserta yang terdiri dari 3 komunitas masyarakat hukum adat yaitu : komunitas masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo dalam berbagai peringkat yang meliputi : para tokoh-tokoh adat, tokoh-tokoh organisasi, tokoh-tokoh mahasiswa, tokoh-tokoh intelektual dan tokoh pemuda. Mereka ini diharapkan nantinya dapat menjadi agen pembangunan guna “menularkan” pengetahuan tentang peranan masyarakat dalam rangka perlindungan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional dalam kaitannya dengan peraturan perundang-undangan hukum hak kekayaan intelektual.

Akhirnya, dengan melalui metode ceramah interaktif, sosialisasi peraturan perundang-undangan HKI ini kepada komunitas masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo diharapkan ke depan dapat diinventaris kekayaan budaya nasional khususnya dalam bidang pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional yang pada gilirannya hak-hak itu dapat didaftarkan sebagai hak kekayaan komunal masyarakat.

(9)

TARGET LUARAN

Target atau sasaran yang menjadi obyek sosialisasi ini adalah tokoh-tokoh Masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo yang tergabung dalam Aliansi Simekar.

Luaran yang diharapkan adalah terinventarisir dan terdokumentasi kekayaan budaya yang meliputi, pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya Masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo dalam bentuk laporan kegiatan dan jika dimungkinkan akan dipublikasikan secara nasional.

Setelah Sosialisasi diperoleh tokoh-tokoh masyarakat Simalungun, Melayu, Karo yang dapat menjadi agen pembangunan guna mensosialisasikan tentang arti penting perlindungan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya

(10)

PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 12 Nopember 2015 di Medan dengan memilih tempat di Gedung Prof. T. Amin Ridwan, MA, PhD. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Acara dimulai dengan kata sambutan dari tokoh masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo yang diwakili oleh T. Mira Sinar yang diikuti dengan sambutan-sambutan lain termasuk dari yang mewakili Deputi Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk selanjutnya dilaksanakan sosialisasi yang dipimpin oleh moderator, salah seorang dari tokoh masyarakat Karo. Sosialisasi disampaikan oleh Dr. OK. Saidin, SH, M.Hum dengan judul “PERSPEKTIF PERUNDANG-UNDANGAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL TERKAIT

DALAM KONTEKS PENYELAMATAN KEKAYAAN BUDAYA” dengan

jumlah peserta yang hadir sebanyak 152 orang.

HASIL KEGIATAN

(11)

Pada akhirnya diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan dapat diinventarisir hak-hak masyarakat hukum adat sebagai kekayaan budaya yang meliputi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional.

KESIMPULAN DAN SARAN

(12)

TIM PELAKSANA

I. Ketua

1. Nama Lengkap : Dr. OK. Saidin, SH, M.Hum

2. NIP/NIDN : 196202131990031002 / 0013026203

3. Tanggal Lahir : 13 Februari 1962

4. Tempat Lahir : Kisaran

5. Jenis Kelamin : Laki-laki

6. No. Telepon (HP) : 081264798135

II. Anggota I

1. Nama Lengkap : Dr. Edy Ikhsan, SH, MA

2. NIP/NIDN : 196302161988031002 / 0016026304

3. Tanggal Lahir : 16 Februari 1963

4. Tempat Lahir : Medan

5. Jenis Kelamin : Laki-laki

(13)

III. Anggota II

1. Nama Lengkap : Dr. Abdul Hakim Siagian, SH, MA

2. NIDN : 0115086502

3. Tanggal Lahir : 15 Agustus 1965

4. Tempat Lahir : A.Bon Bon

5. Jenis Kelamin : Laki-laki

(14)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami sampaikan kehadirat Allah SWT, karena atas segala

Rahmat dan KaruniaNya akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas sosialisasi ini sebagai bahagian dari kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kegiatan ini kami laksanakan pada tanggal 12 November 2015 yang dihadiri oleh 152 peserta dari komunitas masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo dari berbagai lapisan yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh adat, akademisi, aktivis organisasi pemuda, sejarawan, budayawan, dan kalangan mahasiswa.

Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya mengetahui kekayaan budaya komunitas masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo (Simekar) sebagai hak kekayaan intelektual (intellectual property rights) dalam bidang pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. Sasaran selanjutnya adalah komunitas masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo dapat menginventarisir pengetahuan tradisional yang mereka miliki untuk kemudian dilindungi berdasarkan rezim peraturan perundang-undangan hak kekayaan intelektual.

Sosialisasi melalui kegiatan penyuluhan hukum ini diselenggarakan atas dasar :

(15)

Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara pada tanggal 11 September 2015.

2. Surat Izin Pelaksanaan Pengabdian Pada Masyarakat yang diterbitkan Dekan Fakultas Hukum USU No. 3670/UN5.2.1.2/KMS/ 2015 tanggal 9 Nopember 2015 atas nama : Dr. OK. Saidin, SH, M.Hum, Dr. Edy Ikhsan, SH, MA dan Dr. Abdul Hakim Siagian, SH, M.Hum.

3. Surat Tugas yang diterbitkan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian/Pelayanan Kepada Masyarakat Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara pada tanggal 12 November 2015.

Tentu saja kami berterima kasih kepada Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian/Pelayanan Kepada Masyarakat Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan peluang kepada kami untuk dapat melaksanakan kegiatan ini.

Selain itu, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Untuk itu secara khusus kami sampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara.

(16)

3. Kalangan budayawan : Dr. Shafwan Hadi Umry, M, M.Hum, kalangan sejarawan : Dr. Suprayitno, M.Hum, kemudian dari tokoh etnik Karo : Dr. Asmyta Surbakti, M.SI, Dosen Fakultas Ilmu Budaya USU, tokoh etnik Simalungun : Erond L. Damanik dari Universitas Negeri Medan dan tokoh etnik Melayu : Tengku Tirhaya Sinar, PhD.

4. Secara khusus kepada Tengku Mira Sinar, MA. selaku Ketua Aliansi Masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo yang telah memberikan peluang kepada kami untuk melakukan sosialisasi ini.

5. Semua pihak yang turut membantu dalam pelaksanaan sosialisasi ini.

Kami menyadari bahwa dalam pelaksanaan sosialisasi ini tidak luput dari berbagai

macam kekurangan yang kiranya dapat dijadikan sebagai pedoman untuk perbaikan di masa

yang akan datang.

Semoga kegiatan yang telah kami lakukan ini membawa manfaat bagi masyarakat

kita semua.

Medan, 17 Nopember 2015 Koordinator Pelaksana

(17)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

ABSTRACT ... i

RINGKASAN ... iii

TIM PELAKSANA ... viii

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Analisis Situasi ... 6

B. Permasalahan ... 7

C. Tinjauan Pustaka ... 7

BAB II : TARGET DAN LUARAN ... 36

BAB III : KERANGKA PEMECAHAN MASALAH ... 37

BAB IV : PELAKSANAAN KEGIATAN ... 38

A. Khalayak Sasaran yang Strategis ... 38

B. Keterkaitan ... 39

C. Metode Kegiatan ... 39

D. Rencana dan Jadwal ... 41

(18)

BAB V : HASIL KEGIATAN ... 43

A. Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian ... 43

B. Analisis Hasil Kegiatan ... 45

C. Faktor Pendorong dan Penghambat ... 46

BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN ... 49

A. Kesimpulan ... 49

B. Saran ... 50

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, termaktub tujuan negara, yang menjadi alasan negara ini didirikan. Tujuan negara dirumuskan dalam 4 (empat) point penting yaitu :

1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. 2. Memajukan kesejahteraan umum

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa

4. Melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tentu saja untuk mencapai cita-cita kemerdekaan itu, Indonesia harus memanfaatkan semua potensi sumber daya yang dimilikinya. Sumber daya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia adalah bahagian dari unsur kekayaan budaya yang berpangkal pada sumber daya alam (keanekaragaman hayati-flora dan fauna-, kekayaan alam berupa mineral, minyak, air, udara) dan sumber daya manusia.

(20)

antropologis manusia adalah pangkal dari kebudayaan. Hanya manusia makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki budaya. 1

Peradaban umat manusia tumbuh dan berkembang atas dasar “olah budi” dan “olah daya”. Budi dan daya adalah kreatifitas makhluk manusia. Keterkaitannya dengan bidang hukum hak kekayaan intelektual adalah hak kekayaan intelektual itu

lahir atas hasil kerja otak, 2 hasil kerja rasio. Hasil dari pekerjaan rasio manusia yang menalar.3 Itu pada satu sisi, di sisi lain adapula hasil kerja emosional. Hasil kerja hati dalam bentuk abstrak yang dikenal dengan rasa perpaduan dari hasil kerja rasional dan emosional itu melahirkan sebuah karya yang disebut karya intelektual. 4 Hasil

kerjanya itu berupa benda immateril. Benda tidak berwujud. Kita ambil misalnya karya cipta lagu. Untuk menciptakan alunan nada (irama) diperlukan pekerjaan otak. Menurut ahli biologi otak kananlah yang berperan untuk menghayati kesenian, berhayal, menghayati kerohanian, termasuk juga kemampuan melakukan sosialisasi dan mengendalikan emosi. Fungsi ini disebut sebagai fungsi nonverbal, metaforik,

1 Lebih lanjut lihat Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Penerbit

Djambatan, Jakarta, 2010.

2 Otak yang dimaksudkan bukanlah otak yang kita lihat seperti tumpukan daging yang enak

digulai, yang beratnya 2% dari total berat tubuh, tetapi otak yang berperan sebagai pusat pengaturan segala kegiatan fisik dan psikologis, yang terbagi menjadi dua belahan; kiri dan kanan.

3 Kata “menalar” ini penting, sebab menurut penelitian pakar antropologi fisik di Jepang, seekor

monyet juga berpikir, tetapi pikirannya tidak menalar. Ia tidak dapat menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.

4 Hasil kerja rasional dan emosional itu dalam kajian ilmu kedokteran merupakan hasil kerja

(21)

intuitif, imajinatif dan emosional. Spesialisasinya bersifat intuitif, holistik dan mampu memproses informasi secara simultan. 5

Hasil kerja otak itu kemudian dirumuskan sebagai intelektualitas. Orang yang optimal memerankan kerja otak dan hatinya disebut sebagai orang yang terpelajar, mampu menggunakan rasio, mampu berpikir secara rasional dengan menggunakan logika dan menyeimbangkannya dengan kerja hati yang melahirkan kearifan atau kebijaksanaan (wisdom) (metode berpikir, cabang filsafat), karena itu hasil pemikirannya disebut rasional atau logis. Orang yang tergabung dalam kelompok ini disebut kaum intelektual.6

Begitulah, ketika irama lagu tadi tercipta berdasarkan hasil kerja otak, ia dirumuskan sebagai Hak Kekayaan Intelektual. Berbeda misalnya dengan hasil kerja fisik, petani mencangkul, menanam, menghasilkan buah-buahan. Buah-buahan tadi adalah hak milik juga tapi hak milik materil. Hak milik atas benda berwujud.

Demikian pula hasil kerja otak (intelektualitas) manusia dalam bentuk penelitian atau temuan dalam bidang teknologi ia juga dirumuskan sebagai Hak Kekayaan Intelektual. Kemampuan otak untuk menulis, berhitung, berbicara, mengingat fakta dan menghubungkan berbagai fakta menghasilkan ilmu pengetahuan

5 Lebih lanjut lihat Makoto Shichida, Whole Brain Power Kekuatan Menggabungkan Dua Otak,

Gramedia, Jakarta, 2014. Lihat juga Shigeo Haruyama, Keajaiban Otak Kanan, Gramedia, Jakarta, 2014.

6 Kalau kaum intelektual ini kemudian menjalankan pengetahuan yang dirumuskannya sebagai

(22)

dan teknologi, disebut juga sebagai fungsi preposisi verbal linguistis, logis dan analitis yang merupakan pekerjaan belahan otak kiri.

Dengan uraian di atas, tampaklah titik terang asal-usul kata intellectual

property rights itu. Asal muasal, kata intelektual yang dilekatkan pada kata hak

kekayaan. Hak itu lahir atas hasil perjuangan kerja otak dengan pertimbangan kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional.

Tidak semua orang dapat dan mampu mempekerjakan otak (nalar, rasio, intelektual) secara maksimal. Oleh karena itu tak semua orang pula dapat menghasilkan intellectual property rights. Hanya orang yang mampu mempekerjakan otaknya sajalah yang dapat menghasilkan hak kebendaan yang disebut sebagai

intellectual property rights. Itu pulalah sebabnya hasil kerja otak yang membuahkan

Hak Kekayaan Intelektual itu bersifat eksklusif. Hanya orang tertentu saja yang dapat melahirkan hak semacam itu. Berkembangnya peradaban manusia, dimulai dari kerja

otak itu.7

Bagi masyarakat yang hidup dibelahan dunia yang menganut ajaran kapitalis, tentu ia menyebutkan hasil karya semacam itu sebagai hak ekslusif. Tentu saja bagi Indonesia yang menganut falsafah Pancasila, mestinya menyebutnya sebagai karya yang lahir atas berkah dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Bukan hasil karya yang semata-mata lahir dari kemampuan manusia pribadi yang lahir tanpa “campur

7 Itu sebabnya pakar biologi dan pakar antropologi fisik, mengatakan sebenarnya manusia itu

(23)

tangan” Tuhan.

Banyak hak kekayaan intelektual sebagai kekayaan budaya yang tak terselamatkan antara lain yang bersumber dari sumber daya alam. Kopi yang ditanam di dataran tinggi Sinabung dan Saribu Dolok, diberi merek oleh pengusaha Amerika dan didaftarkan di Amerika dengan merk “Mandheling”. Demikian pula pengetahuan tradisional kita tentang, daun jambu biji untuk sakit perut, daun jarak untuk menurunkan panas, daun ketepeng dan lengkuas untuk obat penyakit kulit, sarang laba-laba untuk menutupi luka lebar, daun rumput pahit untuk menghentikan pendarahan pada luka luar, kunyit untuk mengobati luka dalam dan lain-lain, akan tetapi para perusahaan farmasi mengambil ekstrak hasil bumi Indonesia dan untuk memproduksi obat-obatan atas dasar pengetahuan tradisional masyarakat Indonesia.

Undang-undang hak kekayaan intelektual Indonesia yang terkait dengan itu seperti Undang-undang Hak Cipta, Paten, Perlindungan Varietas Tanaman, Design Industri saat ini belum mampu memberikan perlindungan yang maksimal. Di samping itu, perlindungan tentang pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional sampai saat ini belum ada undang-undangnya.

(24)

A. Analisis Situasi

Saat ini kekayaan budaya bangsa, banyak yang dimanfaatkan oleh pihak asing untuk kepentingan mereka tanpa memperhatikan hak ekonomi (economic rights) yang melekat pada kesatuan masyarakat hukum adat sebagai pemegang hak komunal (community rights).

Khusus untuk masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo yang disingkat dengan “simekar” kekayaan budaya masyarakatnya sampai saat ini belum terinventarisir dan terdokumentasi dengan baik.

Situasi seperti itu terjadi, berpangkal pada ketidak tahuan masyarakatnya tentang arti penting perlindungan atas kekayaan budaya tradisional sebagai bahagian dari kekayaan budaya bangsa yang dilindungi melalui instrument hukum hak kekayaan intelektual.

(25)

B. Permasalahan

Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Simalungun, Karo dan Melayu yang tergabung dalam Aliansi Simekar, tak faham bahkan kurang mendapat sosialisasi tentang arti penting perlindungan kekayaan budaya meliputi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. Sehingga dalam banyak hal, ada beberapa pengetahuan tradisional ekspresi budaya tradisional tidak terinventarisir dan tidak terdokumentasi dengan baik.

Bagaimana bentuk perlindungan hukum atas kekayaan budaya yang meliputi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional menurut sistem perlindungan yang diberikan oleh instrument perundang-undangan hak kekayaan intelektual Indonesia ? Langkah-langkah apa yang perlu ditempuh untuk kegiatan atau aktivitas melakukan inventarisasi dan pendokumentasian kekayaan budaya yang meliputi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional pada kelompok masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo.

C. Tinjauan Pustaka

1. Istilah HKI

(26)

2014 istilah itu disederhanakan dengan istilah Kekayaan Intelektual, seiring dengan itu Kementerian Kehakiman kemudian menamakan institusi yang mengurusi urusan Hak Kekayaan Intelektual itu dengan nama Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Perubahan pada penggunaan istilah itu bukan tidak beralasan.Dengan merujuk pemakaian istilah yang sama yang digunakan oleh beberapa negara, Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual cenderung menyutuji istilah Kekayaan Intelelktual, dengan menghapuskan kata “Hak”.

Meskipun penghapusan kata “hak” dalam pemakakian istilah yang sebenarnya berasal dari terminologi asing “Intellectual Property Rights” yang sebenarnya sejak awal difahami bukanlah istilah yang tumbuh dari peradaban hukum Indonesia. Di beberapa negara dan dalam berbagai literatur masih tetap menggunakan istilah “Intellectual Properrty Rights” yang mencantumkan kata “right” atau kata “recht” di ujung kata Intellectual property. 8

Menurut hemat kami, penggunaan istilah haruslah dikembalikan pada sejarah lahirnya terminologi yang melatar belakangi munculnya frase itu. Secara akademis harus difahami bahwa istilah Hak Kekayaan Intelektual tidak serta merta lahir begitu saja dalam tatanan hukum yang berlaku pada satu negara baik itu hukum yang berlaku dalam satu negara dengan latar belakang sistem hukum civil law atau dengan latar belakang common law.

8 Lihat lebih lanjut Mr. E.J. Arkenbout, Mr. P.G.F.A. Geerts, Mr. P.A.C.E. van der Kooij,

(27)

Indonesia dengan latar belakang hukum civil law dan sejak awal telah diperkenalkan salah satu bidang Hak Kekayaan Intelektual seperti hak cipta dengan istilah Auteursrecht yang diatur dalam Auteurswet 1912 Statblaad No.600 dan octrooi recht untuk menyebutkan hak paten seperti yang diatur dalam Octrooi wet produk Kolonial Belanda yang dimuat dalam Lembaran Negara Hindia Belanda Tahun 1910 Nomor 313, demikian juga tentang merek yang diatur dalam Reglement Industriele

Eigendom yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dimuat dalam

Lembaran Negara Hindia Belanda Tahun 1912 No. 545 ketika itu, hal ini semakin menguatkan argumentasi kami istilah “hak” yang berasal darui frase “recht” atau “right” tak dapat dihilangkan untuk menyebutkan istilah “Hak Kekayaan Intelektual” menjadi istilah “Kekayaan Intelektual”.

(28)

tentang keberadaan hak kekayaan intelektual sebagai obyek hukum benda sudah ada cikal bakalnya ketika KUH Perdata membuat kategori benda berdasarkan wujudnya, yaitu benda berwujud (benda materiil) dengan benda tidak berwujud (benda immateriil).Pengelompokan benda yang demikian dapat ditelusuri dari buku II KUH Perdata yang mengatur tentang Hukum Benda (van Zaaken) yang dimuat dalam Pasal 499. Frase “zaak” yang diterjemahkan dengan “benda” terdiri dari “ goederen” yang diterjemahkan dengan “barang” dan “rechten” yang diterjemahkan dengan “hak”. Barang adalah benda berwujud stoffelijk voorwerp)9 atau benda materiil sedangkan hak adalah benda tidak berwujud atau benda immateriil berupa "buah pikiran, hasil otak manusia (menslijke idean, voortbrengselen van de menselijke geest) dapat pula menjadi obyek hak obsolut".10

Walaupun buah pikiran bukan merupakan benda material (stoffelijk voorwerp). Ia juga bukan hak subyektif (persoonlijk recht) dalam bidang hukum kekayan (noch een subyektief vermogensrecht). Jadi ia termasuk ke dalam rumusan benda dalam Pasal 499 KUH Perdata dan oleh sebab itu pula ia termasuk kedalam rumusan hak benda (zakelijk recht)11 jika buah pikiran itu berisikan idea atau gagasan yang lahir dari hasil penelitian berupa ilmu pengetahuan, seni dan sastra (yang dilindungi sebagai hak cipta) (auteurechts) atau dalam bentuk invensi yang dilindungi dalam bentuk paten (octrooi rechts).

9 Ibid, h. 14.

10 Mahadi, Hak Milik Imaterial, BPHN, Tanpa tempat, 1985, h. 4.

11 Soedewi Masjchoen Sofwan, SH, Hukum Perdata : Hukum Benda, Liberty, Yogyakarta, 1981

(29)

Untuk membedakannya dengan barang-barang material menurut Pasal 499 KUH Perdata, maka :

"Buah pikiran yang menjadi obyek hak absolut dan juga hak atas buah pikiran dinamakan : benda immaterial",12 demikian Prof. Mahadi.

Dalam kepustakaan hukum Indonesia, yang merupakan hasil transplantasi hukum asing, salah satu bentuk dari benda yaitu hak kekayaan intelektual (intellectual property rights). Oleh karena itu, kata “rights” (hak) tetaplah harus dilekatkan pada kata “intellectual property” untuk membedakannya dengan barang (benda berwujud). Jika kata hak dilepaskan maka kata intellectual property akan kehilangan makna atau sifat immaterielnya sehingga pemaknaannya menjadi benda berwujud (goederen).

Dengan mengutip Pitlo, Mahadi menulis :

"... ofsschoon zij evenmin als het vorderingsrecht enn "zaak" tot voorwerp hebben, behoren zij wederom net als de vorrdering tot de in art 555 vermelde "rechten" enkunen zij dus zelf tot voorwerp van een zakelijrecht dienen. Een idee is geen zaak, het recht op een idee well, een uitvinding kan men niet verpander, well het octrooirecht. Zoo kan men ook aandelen in enn N.V. en enn B.V. tot object van vruchtgebruik maken artt 2:88 en 2.197 of van pandrecht (artt 2:89 en 2:198). De regels vorr de overdracht, de verpanding en van de rechten op immateriele goederen, ofschoon grotendells in de genoemde bijzondere wetten geschreven maken deel uit van het zakenrecht. Waar de bijzondere wet zwijgt, moeten wij de voor zaken in het algemeen gegeven be palingen toepassen".

Maksudnya (demikian terjemahan Mahadi) :

"Serupa seperti hak tagih, hak immaterial tidak mempunyai barang sebagai obyeknya. Juga serupa seperti hak tagih, hak immaterial termasuk kedalam "hak-hak" yang disebut Pasal 499 KUH Perdata. Oleh sebab itu hak immaterial itu sendiri bukan

(30)

barang, tapi hak atas buah pikiran adalah benda, sesuatu penemuan tak dapat kita gadaikan, tapi hak oktroi dapat ; sero-sero dalam sesuatu Perseroan Terbatas dapat kita alihkan dengan hak hasil ; sero-sero itu dapat kita gadaikan. Aturan-aturan tentang penyerahan, tentang penggadaian dan lain-lain hak-hak immaterial, meskipun terdapat dalam Undang-Undang khusus, adalah bagian dari hukum benda. Untuk hal-hal yang tidak diatur oleh Undang-Undang khusus itu, harus kita pergunakan aturan-aturan yang dibuat untuk benda".13

Jadi semakin jelas bahwa jika mengacu kepada pendapat Pitlo, hak milik intelektual termasuk dalam cakupan Pasal 499 KUH Perdata, jadi ia termasuk benda, tepatnya benda tidak berwujud. Kalaupun ternyata hal tersebut tidak diatur dalam peraturan khusus, maka peraturan dan asas-asas hukum yang terdapat dalam sistem hukum benda dapat diterapkan terhadapnya.

Prof. Mahadi ketika menulis buku tentang Hak Milik Immateril mengatakan, tidak diperoleh keterangan yang jelas tentang asal usul kata “hak milik intelektual”. Kata “Intelektual” yang digunakan dalam kalimat tersebut, tak diketahui ujung pangkalnya.14 Tampaknya perlu juga ditelusuri asal-muasal frase hak kekayaan intelektual itu.

Saya coba kembali untuk menyimak berbagai referensi dan catatan-catatan yang berkaitan dengan asal-usul kata “intellectual” (intelektual) yang ditempelkan pada kata property rights (hak kekayaan). Berbagai buku saya baca, saya juga tak

13 Ibid, h. 4-5.

(31)

memperoleh keterangan. Namun setelah saya cermati maksud dan cakupan dari istilah itu dapatlah kira-kira saya buat uraian sebagai berikut.

Hak kekayaan intelektual itu adalah hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang

bersumber dari hasil kerja otak, 15 hasil kerja rasio. Hasil dari pekerjaan rasio manusia yang menalar.16 Itu pada satu sisi, di sisi lain adapula hasil kerja emosional.

Hasil kerja hati dalam bentuk abstrak yang dikenal dengan rasa perpaduan dari hasil kerja rasional dan emosional itu melahirkan sebuah karya yang disebut karya intelektual. 17 Hasil kerjanya itu berupa benda immateril. Benda tidak berwujud. Kita ambil misalnya karya cipta lagu. Untuk menciptakan alunan nada (irama) diperlukan pekerjaan otak. Menurut ahli biologi otak kananlah yang berperan untuk menghayati kesenian, berhayal, menghayati kerohanian, termasuk juga kemampuan melakukan sosialisasi dan mengendalikan emosi. Fungsi ini disebut sebagai fungsi nonverbal, metaforik, intuitif, imajinatif dan emosional. Spesialisasinya bersifat intuitif, holistik dan mampu memproses informasi secara simultan. 18

15 Otak yang dimaksudkan bukanlah otak yang kita lihat seperti tumpukan daging yang enak

digulai, yang beratnya 2% dari total berat tubuh, tetapi otak yang berperan sebagai pusat pengaturan segala kegiatan fisik dan psikologis, yang terbagi menjadi dua belahan; kiri dan kanan.

16 Kata “menalar” ini penting, sebab menurut penelitian pakar antropologi fisik di Jepang,

seekor monyet juga berpikir, tetapi pikirannya tidak menalar. Ia tidak dapat menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.

17 Hasil kerja rasional dan emosional itu dalam kajian ilmu kedokteran merupakan hasil kerja

otak juga sebagai pusat dari simpul saraf. Kalau hati dalam terminology kedokteran memiliki fungsi lain, yakni untuk menjaga keseimbangan gula darah, jika terdapat kelebihan, disimpan dalam hati yang disebut dengan fungsi lever. Oleh karena itu hati yang dimaksudkan disini adalah kecerdasan emosional yang dapat diukur dengan Emotional Quotient (EQ) yang dibedakan dengan kecerdasan rasional yang dapat diukur dengan tingkat kecerdasan yang disebut dengan Intelegensia Quantity (IQ)

18 Lebih lanjut lihat Makoto Shichida, Whole Brain Power Kekuatan Menggabungkan Dua

Otak, Gramedia, Jakarta, 2014. Lihat juga Shigeo Haruyama, Keajaiban Otak Kanan, Gramedia,

(32)

Hasil kerja otak itu kemudian dirumuskan sebagai intelektualitas. Orang yang optimal memerankan kerja otak dan hatinya disebut sebagai orang yang terpelajar, mampu menggunakan rasio, mampu berpikir secara rasional dengan menggunakan logika dan menyeimbangkannya dengan kerja hati yang melahirkan kearifan atau kebijaksanaan (wisdom) (metode berpikir, cabang filsafat), karena itu hasil pemikirannya disebut rasional atau logis. Orang yang tergabung dalam kelompok ini disebut kaum intelektual.19

Begitulah, ketika irama lagu tadi tercipta berdasarkan hasil kerja otak, ia dirumuskan sebagai Hak Kekayaan Intelektual. Berbeda misalnya dengan hasil kerja fisik, petani mencangkul, menanam, menghasilkan buah-buahan. Buah-buahan tadi adalah hak milik juga tapi hak milik materil. Hak milik atas benda berwujud.

Demikian pula hasil kerja otak (intelektualitas) manusia dalam bentuk penelitian atau temuan dalam bidang teknologi ia juga dirumuskan sebagai Hak Kekayaan Intelektual. Kemampuan otak untuk menulis, berhitung, berbicara, mengingat fakta dan menghubungkan berbagai fakta menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi, disebut juga sebagai fungsi preposisi verbal linguistis, logis dan analitis yang merupakan pekerjaan belahan otak kiri.

Dengan uraian di atas, tampaklah titik terang asal-usul kata intellectual property

rights itu. Asal muasal, kata intelektual yang dilekatkan pada kata “hak kekayaan”.

19 Kalau kaum intelektual ini kemudian menjalankan pengetahuan yang dirumuskannya sebagai

(33)

Hak itu lahir atas hasil perjuangan kerja otak dengan memadukan kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional.

Tidak semua orang dapat dan mampu mempekerjakan otak (nalar, rasio, intelektual) secara maksimal. Oleh karena itu tak semua orang pula dapat menghasilkan intellectual property rights. Hanya orang yang mampu mempekerjakan otaknya sajalah yang dapat menghasilkan hak kebendaan yang disebut sebagai

intellectual property rights. Itu pulalah sebabnya hasil kerja otak yang membuahkan

Hak Kekayaan Intelektual itu bersifat eksklusif. Hanya orang tertentu saja yang dapat melahirkan hak semacam itu. Berkembangnya peradaban manusia, dimulai dari kerja

otak itu.20 Manusia yang memiliki kemampuan seperti itu adalah manusia pilihan.

Manusia yang dianugerahkan talenta oleh Allah SWT dengan kelebihan-kelebihan tertentu sehingga memiliki keistimewaan untuk menjadi pencipta atau inventor.

Bagi masyarakat yang hidup dibelahan dunia yang menganut ajaran kapitalis, tentu ia menyebutkan hasil karya semacam itu sebagai hak ekslusif. Tentu saja bagi Indonesia yang menganut falsafah Pancasila, mestinya menyebutnya sebagai karya yang lahir atas berkah dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Bukan hasil karya yang semata-mata lahir dari kemampuan manusia pribadi yang lahir tanpa “campur tangan” Tuhan.

20 Itu sebabnya pakar biologi dan pakar antropologi fisik, mengatakan sebenarnya manusia itu

(34)

Kembali kita pada persoalan istilah tadi. Dalam kepustakaan hukum Anglo Saxon ada dikenal sebutan Intellectual Property Rights. Kata ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Hak Milik Intelektual”, yang sebenarnya menurut hemat penulis lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi Hak Kekayaan Intelektual. Alasannya adalah kata “hak milik” sebenarnya sudah merupakan istilah baku dalam kepustakaan hukum.21 Padahal tidak semua Hak Kekayaan Intelektual itu merupakan

hak milik dalam arti yang sesungguhnya. Bisa merupakan hak untuk memperbanyak saja, atau untuk menggunakannya dalam produk tertentu dan bahkan dapat pula berupa hak sewa (rental rights), atau hak-hak lain yang timbul dari perikatan seperti lisensi, hak siaran, dan lain sebagainya.

Istilah hak kekayaan intelektual saat ini sudah dibakukan dalam berbagai peraturan organik yang diterbitkan oleh Pemerintah. Bila ditelusuri perjalanan penggunaan istilah hak kekayaan intelektual di tanah air, istilah itu sebetulnya diterjemahkan dari istilah asing yakni Intellectual Property Rights (IPR) yang kemudian oleh berbagai pihak diterjemahkan menjadi Hak Milik Intelektual bahkan ada juga yang menterjemahkannya Hak Milik Atas Kekayaan Intelektual. Setelah tahun 2000, Menteri Hukum dan HAM (waktu itu masih bernama Menteri Hukum dan Perundang-undangan) mengeluarkan Surat Keputusan Nomor M.03.PR.07.10

21 Perdebatan seru tentang istilah ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Ada yang

(35)

Tahun 2000 dan bersamaan dengan itu dikeluarkan Surat Persetujuan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Nomor 24/M/PAN/1/2000 22dan dibakukanlah

penggunaan istilah yang berasal dari Intellectual Property Rights menjadi “Hak Kekayaan Intelektual” dengan menggunakan singkatan “HKI” atau akronim “HaKI”. Dengan demikian, penggunaan istilah yang telah dibakukan saat ini adalah “Hak Kekayaan Intelektual” tanpa menggunakan kata “atas”. Namun saat ini setelah diterbitkannya Undang-undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 ada keinginan pemerintah untuk menghilangkan kata “hak” sehingga menjadi “kekayaan intelektual” atau disingkat dengan KI saja. Seperti telah diuraikan di depan, menghilangkan kata “hak” dalam terminologi Hak Kekayaan Intelektual kurang tepat, tidak memiliki alasan akademis jadi sudah tepatlah digunakan istilah Hak Kekayaan Intelektual atau disingkat HKI. Dengan menempatkan kata “hak” istilah hukum ini tidak kehilangan pijakan dan tidak kehilangan “roh”nya. Rohnya adalah pada kata “hak” yang tidak berwujud. Semua diskursus tentang intelektual property rights berkisah tentang “hak” bukan tentang benda berwujud (atau dalam terminologi hukum benda disebut sebagai barang).

Jika ditelusuri lebih jauh, Hak Kekayaan Intelektual sebenarnya merupakan bagian dari benda, yaitu benda tidak berwujud (benda immateril). Benda dalam kerangka hukum perdata dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai kategori salah satu

22 Surat Keputusan Menteri Hukum dan PerUndang-Undangan tersebut didasari pula dengan

(36)

di antara kategori itu, adalah pengelompokan benda ke dalam klasifikasi benda berwujud dan benda tidak terwujud. Untuk hal ini dapatlah dilihat batasan benda yang dikemukakan oleh pasal 499 KUH Perdata, yang berbunyi: menurut paham undang-udang yang dimaksud dengan benda ialah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik. 23 Untuk pasal ini, kemudian Prof.Mahadi menawarkan, seandainya dikehendaki rumusan lain dari pasal ini dapat diturunkan kalimat sebagai berikut: yang dapat menjadi objek hak milik adalah benda dan

benda itu terdiri dari barang dan hak.24

Selanjutnya sebagaimana diterangkan oleh Prof. Mahadi barang yang dimaksudkan oleh pasal 499 KUH Perdata tersebut adalah benda materil (stoffelijk

voorwerp), sedangkan hak adalah benda immateril. Uraian ini sejalan dengan

klasifikasi benda menurut pasal 503 KUH Perdata, yaitu penggolongan benda ke dalam kelompok benda berwujud (bertubuh) dan benda tidak berwujud (tidak bertubuh).

Benda immateril atau benda tidak berwujud yang berupa hak itu dapatlah kita contohkan seperti hak tagih, hak atas bunga uang, hak sewa, hak guna bangunan, hak guna usaha, hak atas benda berupa jaminan, Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual

Property Rights) dan lain sebagainya. Selanjutnya mengenai hal ini Pitlo,

sebagaimana dikutip oleh Prof. Mahadi mengatakan, serupa dengan hak tagih, hak

23 R. Soebekti dan R.Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita,

Jakarta, 1986, hal. 155. Menurut hemat penulis, tidak hanya sekadar hak milik, tetapi dapat menjadi objek harta kekayaan (property rights).

(37)

immateril itu tidak mempunyai benda (berwujud) sebagai objeknya. Hak milik immateril termasuk ke dalam hak-hak yang disebut pasal 499 KUH Perdata. Jika disederhanakan dalam bentuk skema, uraian di atas dapat digambarkan sebagai berikut :

Benda Materil Barang

Benda (Berwujud)

Pasal 499

KUH Perdata Benda Immateril Hak

(Tidak Berwujud)

Oleh karena itu hak milik immateril itu sendiri dapat menjadi objek dari suatu hak benda. Selanjutnya dikatakannya pula bahwa, hak benda adalah hak absolut atas sesuatu benda berwujud, tetapi ada hak absolut yang objeknya bukan benda berwujud. Itulah yang disebut dengan nama Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual

Property Rights).25

Kata “hak milik” (baca juga: hak atas kekayaan) atau property yang digunakan dalam istilah tersebut sungguh menyesatkan, kata Mrs. Noor Mout—Bouwman. Karena kata harta benda/property mengisyarakan adanya suatu benda nyata. Padahal Hak Kekayaan Intelektual itu tidak ada sama sekali menampilkan benda nyata. Ia bukanlah benda materil. Ia merupakan hasil kegiatan berdaya cipta pikiran manusia yang diungkapkan ke dunia luar dalam suatu bentuk, baik material maupun immaterial. Bukan bentuk penjelmaannya yang dilindungi akan tetapi daya cipta itu

(38)

sendiri. Daya cipta itu dapat berwujud dalam bidang seni, industri dan ilmu pengetahuan atau paduan ketiga-tiganya.26

Merujuk pada pandangan Bouwman, maka sudah tepatlah untuk tidak menghilangkan kata “hak” pada terminologi hak kekayaan intelektual. Menghilangkan kata “hak” sehingga tinggal kata kekayaan intelektual saja akan menyesatkan. Sesat, karena sifat immaterilnya akan hilang, padahal dalam studi hak kekayaan intelektual selamanya bercerita tentang hak, tentang benda immateril.

Keterangan Bouwman ini sedikit dapat memberikan kejelasan terhadap pandangan Prof. Mahadi yang dikemukakan pada awal bab ini mengenai asal usul kata “intelektual” yang dilekatkan pada kata hak milik. Pandangan para tokoh intelektual yang disebut di atas (Mahadi dan Bouwman) ditambah dengan beberapa referensi dari buku-buku ilmu kedokteran, cukuplah untuk mengantarkan kita pada satu definisi bahwa hak kekayaan intelektual adalah hak kebendaan immaterial atau hak atas benda tidak berwujud yang lahir atas kemampuan intelektual manusia berupa hasil kerja kecerdasan intelegensia dan kecerdasan emosional. Kemampuan intelektual manusia lewat kecerdasan intelegensia dan kecerdasan emosional, telah melahirkan banyak karya cipta mulai karya ilmu pengetahuan, seni sampai pada karya sastra, yang kemudian dilindungi sebagai hak cipta dan invensi yang kemudian dilindungi sebagai paten. Demikian juga hasil kemampuan intelektual manusia itu

26 Bouwman Noor Mout., Perlindungan Hak Cipta Intelektual: Suatu Rintangan Atau

Dukungan Terhadap Perkembangan Industri, makalah pada Seminar Hak Milik Intelektual, Kerja

(39)

melahirkan berbagai temuan dalam bidang industri dan teknologi, mulai dari teknologi mesin pesawat terbang sampai pada teknologi mobil ramah lingkungan yang dilindungi sebagai hak paten dan paten sederhana baik dalam bentuk paten proses atau paten produk. Hasil kerja kemampuan intelektual manusia juga yang dapat menghasilkan karya seni yang apabila diwujudkan dalam aktivitas industri dapat menghasilkan rancangan berupa desain industri. Hasil intelektual manusia juga yang menghasilkan tanda pembeda antara produk barang atau jasa yang diproduksi oleh produsen, sehingga memudahkan konsumen untuk membedakan masing-masing barang atau jasa yang diproduksi oleh para produsen tersebut. Ini kemudian dilindungi sebagai hak merek. Demikian pula hasil kecerdasan intelektual manusia kemudian melahirkan varietas tanaman yang unggul dalam berbagai hal, seperti hasil yang lebih baik, tahan hama, bentuk buah, warna buah dan lain sebagainya. Ini kemudian dilindungi sebagai hak atas varietas tanaman. Kemajuan teknologi informasi dan teknologi elektronika, juga tidak terlepas dari capaian atas kemampuan intelektual manusia atas invention dan inovationnya dalam bidang merangkai jaringan elektronik, inilah kemudian yang dilindungi sebagai jaringan elektronika terpadu

(integrated circuits).

(40)

2. Ruang Lingkup HKI

Konsekuensi lebih lanjut dari batasan Hak Kekayaan Intelektual ini adalah, terpisahnya antara Hak Kekayaan Intelektual itu dengan hasil material yang menjadi bentuk jelmaannya. Yang disebut terakhir ini adalah benda berwujud (benda materil). Suatu contoh dapat dikemukakan misalnya hak cipta dalam bidang ilmu pengetahuan (berupa Hak Kekayaan Intelektual) dan hasil material yang menjadi bentuk jelmaannya adalah buku, begitu pula temuan (istilah undang-undang invensi) dalam bidang paten (bagian Hak Kekayaan Intelektual), dan hasil benda materi yang menjadi bentuk jelmaannya adalah minyak pelumas, misalnya. Jadi yang dilindungi dalam kerangka Hak Kekayaan Intelektual adalah haknya, bukan jelmaan dari hak tersebut. Jelmaan dari hak tersebut dilidungi oleh hukum benda dalam kategori benda materil (benda berwujud).

Pengelompokan Hak Kekayaan Intelektual itu lebih lanjut dapat dikategorikan dalam kelompok sebagai berikut:

1. Hak Cipta (Copy Rights)

2. Hak Milik (baca : hak kekayaan) Perindustrian (Industrial Property Rights).27

27 Redaksi, Indonesia Perlu Perhatikan Hak Milik Intelektual, Kompas, Jakarta, 19 Februari

1986, hal. 1. Lebih lanjut lihat, Cornish, Llewelyn & Aplin, Intellectual Property : Patents, Copyright,

Trade Marks and Allied Rights, Sweet & Maxwell, London, 2013. David Bainbridge, Intellectual Property, Pearson Education Limited, England, 2002. Andrew Christie & Stephen Gare, Blackstone’s Statutes on Intellectual Property, Oxford University Press, New York, 2004. Prabuddha Ganguli, Intellectual Property Rights Unleashing the Knowledge Economy, Tata McGraw-Hill Publishing

Company Limited, New Delhi, 2001. Christopher May, The Global Political Economy of Intellectual

Property Rights, The new enclosures Second Edition, Routledge, London, 2010. Jill McKeough, Kathy

Bowrey & Philip Griffith, Intellectual Property Commentary and Materials, Lawbook Co, Australia, 2002. Christopher May, The Global Political Economy of Intellectual Property Rights, The new enclosures Second Edition, Routledge, London, 2010. Michael Spence, Intellectual Property, Oxford University Press, New York, 2007. Peter Tobias Stoll, Jan Busche and Katrin Arend, WTO –

(41)

Hak cipta sebenarnya dapat lagi diklasifikasikan ke dalam dua bagian, yaitu: a. Hak cipta dan

b. Hak yang berkaitan (bersempadan) dengan hak cipta (neighbouring rights). Istilah neighbouring rights, belum ada terjemahan yang tepat dalam bahasa hukum Indonesia. Ada yang menerjemahkannya dengan istilah hak bertetangga dengan hak cipta, adapula yang menerjemahkannya dengan istilah hak yang berkaitan atau berhubungan dengan hak cipta. Dalam Undang-undang No. 28 Tahun 2014 istilah neighbouring rights diterjemahkan menjadi hak terkait.

Penulis menggunakan istilah “hak yang bersempadan dengan hak cipta”, oleh karena kedua hak itu (copy rights maupun neighbouring rights) adalah dua hak yang saling melekat berdampingan tetapi dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Beberapa konvensi internasional juga memisahkan pengaturan antara copy rights dengan neihbouring rights. Jika copy rights diatur dalam Bern Convention, neighbouring rights diatur dalam Rome Convention Tahun 1961. Undang-undang Hak Cipta Indonesia menggunakan istilah hak terkait atau hak yang berkaitan dengan hak cipta untuk menyebutkan frase neighbouring rights.

Neighbouring rights, dalam hukum Indonesia, pengaturannya masih

ditumpangkan dengan pengaturan hak cipta. Namun jika ditelusuri lebih lanjut

neighbouring rights itu lahir dari adanya hak cipta induk. Misalnya liputan

(42)

Keduanya masih merupakan satu kesatuan, tetapi dapat dipisahkan. Begitu pula antara hak cipta lagu dengan hak penyiarannya, yang pertama merupakan hak cipta sedangkan hak yang disebut terakhir adalah neighbouring rights. Itulah alasannya, kami lebih cenderung menggunakan istilah hak yang bersem-padan dengan hak cipta, untuk terjemahan istilah neigbouring rights. Kedua hak itu saling melekat, saling menempel, tetapi dapat dipisahkan. Adanya neighbouring rights selalu diikuti dengan adanya hak cipta, namun sebaliknya adanya hak cipta tidak mengharuskan adanya

neighbouring rights.

Selanjutnya hak atas kekayaan perindustrian dapat diklasifikasikan lagi menjadi:

1. Patent (Paten)

2. Utility Models (Model dan Rancang Bangun) atau dalam hukum Indonesia, dikenal dengan istilah paten sederhana (simple patent).

3. Industrial Design (Desain Industri) 4. Trade Merk (Merek Dagang)

5. Trade Names (Nama Niaga atau Nama Dagang)

6. Indication of Source or Appelation of Origin 28

Pengelompokan hak atas kekayaan perindustrian seperti tertera di atas didasarkan pada Convention Establishing The World Intellectual Property Organization. Dalam

28 Untuk menyebutkan asal atau sumber barang yang diproduksi dan diberi merek dengan tanda

(43)

beberapa literatur, khususnya literatur yang ditulis oleh para pakar dari negara yang menganut sistem hukum Anglo Saxon, bidang hak atas kekayaan perindustrian yang dilindungi tersebut, masih ditambah lagi beberapa bidang lain yaitu: trade secrets,

service mark, dan unfair competition protection. Sehingga hak atas kekayaan

perindustrian itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Patent

2. Utility Models

3. Industrial Designs

4. Trade Secrets

5. Trade Marks

6. Service Marks

7. Trade Names or Commercial Names 8. Appelations of Origin

9. Indications of Origin

10. Unfair Competition Protection. 29

Jika ditelusuri hasil Putaran Uruguay (Uruguay Round) tahun 1994 yang membuahkan kerangka TRIPs (The Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) bahagian dari capaian atau hasil kesepakatan GATT/WTO, terdapat dua bidang lagi yang perlu ditambahkan sebagai cakupan dari hak kekayaan intelektual, yakni:

1. Perlindungan Varietas Baru Tanaman, dan

2. Integrated Circuits (rangkaian elektronika terpadu).

29 William T. Frayer, Materi ceramah pada Intellectual Property Theaching of Tracher’s

Program Conducted by The Faculty of Law, University of Indonesia, yang disponsori oleh Kantor

Sekretariat Negara RI dan United Nations Development Programe/World Intellectual Property

(44)

Jika pengklasifikasian di atas disederhanakan, dalam satu bagan maka pengelompokan itu dapat dilihat dalam bagan sebagai berikut :

Bagan 1

Kedudukan Hak Kekayaan Intelektual Dalam Sistem Hukum Perdata HUKUM PERDATA

Subyek Hukum Hukum Harta Hukum Hukum

Manusia/Badan Kekayaan Perikatan Waris

Hukum (Salah satu cara

Untuk pengalihan HKI)

Hukum Franchise Obyek Franchise

Benda

Benda Materil Benda Immateril

Hukum Hak

Kekayaan Intelektual (HKI) : Hak yang berkaitan dengan hak cipta 1. Hak Cipta Neighbouring rights

2. Hak Milik Industri

a. Merek Hak yang berkaitan dengan Merek : b. Paten 1. Unfair competition

c. Desain Industri 2. Appliation of origin/indication of d. Sirkuit Terpadu origin/geographical indication e. Varietas Tanaman

Hak yang berkaitan dengan paten :

1. Trade secrets

2. Informasi yang dirahasiakan/ Undisclosed information

(45)

tentang neighbouring rights diatur dalam UU Hak Cipta, demikian pula pengaturan tentang utility models (UU kita tidak mengenal istilah ini tetapi menggunakan istilah Paten Sederhana) diatur dalam UU Paten, begitu juga ten-tang trade mark, service

mark, trade names or commercial names appelations of origin dan indication of

origin diatur dalam UU Merek. Adalagi bagian yang menurut hemat kami tidak

termasuk dalam cakupan bidang HKI tetapi dalam berbagai literatur termasuk dalam cakupan HKI yakni unfair competition, rahasia dagang dan indication of origin atau sekarang dikenal sebagai indikasi geografis itu adalah figure hukum yang memiliki keterkaitan dengan hak kekayaan intelektual.

Saat ini pengaturan tentang masing-masing bidang HKI itu kita temukan dalam undang-undang Indonesia, yaitu tentang Hak Cipta diatur UU No. 28 Tahun 2014, tentang Merk diatur dalam UU No. 15 Tahun 2001, dan tentang Paten diatur dalam UU No.14 Tahun 2001.

Pada tahun 2001 bersamaan dengan lahirnya UU Paten dan Merek Indonesia sebelumnya telah menerbitkan beberapa peraturan baru yang tercakup dalam bidang perlindungan Hak Kekayaan Intelektual di samping paten dan merek yang sudah lebih dulu disahkan yaitu UU No. 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman, UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri dan UU No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

(46)

2. Paten diatur dalam UU No. 14 Tahun 2001 3. Merek diatur dalam UU No. 15 Tahun 2001

4 Perlindungan Varietas Baru Tanaman diatur dalam UU No. 29 Tahun 2000 5. Rahasia Dagang diatur dalam UU No. 30 Tahun 2000

6. Desain Industri diatur dalam UU No. 31 Tahun 2000, dan

7. Desain tata letak sirkuit Terpadu diatur dalam UU No. 32 Tahun 2000.

Jika di telusuri skema ruang lingkup HKI dalam uraian terdahulu dan menghubungkannya dengan peraturan perundang-undangan HKI Indonesia, agaknya telah tersahutilah amanah yang diagendakan oleh GATT/WTO (1994).

Di samping peraturan perundang-undangan nasional, selain ratifikasi GATT 1994, Indonesia juga telah meratifikasi beberapa konvensi atau traktat interna-sional antara lain Konvensi Paris yang diratifikasi melalui Keppres No. 15 Tahun 1997,

Patent Cooperation Treaty yang diratifikasi melalui Keppres No. 16 Tahun 1997,

Trade Mark Law Treaty Ratifikasi melalui Keppres No. 17 Tahun 1997, Konvensi

Bern yang diratifikasi melalui Keppres No. 18 Tahun 1997 serta WIPO Copyrights

Treaty yang diratifikasi melalui Keppres No. 19 Tahun 1997.30 Terdapat juga

beberapa konvensi internasional lainnya dalam bentuk traktat atau perjanjian bilateral, antara lain :

30 Akan tetapi perlu juga difahami bahwa sekalipun Indonesia telah meratifikasi beberapa

(47)

1. Keputusan Presiden RI No. 17 Tahun 1988 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta atas Karya Rekaman Suara antara Negara Republik Indonesia dengan Masyarakat Eropa;

2. Keputusan Presiden RI No.25 Tahun 1989 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat;

3. Keputusan Presiden RI No.38 Tahun 1993 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan Australia;

4. Keputusan Presiden RI No.56 Tahun 1994 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan Inggris;

5. Keputusan Presiden RI N0. 74 Tahun 2004 tentang Pengesahan WIPO

Performances and Phonogram Treaty (WPPT); 31

Selain hak-hak yang disebut di atas menurut hemat penulis, ada bentuk figur hukum yang patut juga untuk dimasukkan ke dalam bagian Hak Kekayaan Intelektual adalah tentang perlindungan terhadap pembiakan hewan yang di dalamnya termasuk

31 Disebut sebagai Beijing Treaty karena kesepakatan itu lahir dari diplomatic conference yang

dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2012 di Beijing yang juga sekaligus mengakhiri 12 tahun negosiasi multilateral di bawah WIPO. Indonesia menjadi negara ke-53 yang menandatangani Beijing Treaty ini, namun traktat ini belum diberlakukan menunggu ratifikasi paling sedikit 30 negara-negara anggota penandatangan. Lebih lanjut lihat PTRI Jenewa/EDPY, Indonesia Tandatangani Beijing Treaty on

(48)

jenis hewan ternak, ikan, udang, dan lain-lain yang memiliki implikasi komersial. Di samping itu, dalam kaitannya dengan penerapan UU Rahasia Dagang perlu pula diterbitkan UU tentang Franchise atau waralaba, meskipun hal ini berkaitan dengan lisensi dan hukum perikatan.

Dalam perjanjian franchising, bukan wujud bendanya yang dilindungi seperti Kentucky Fried Chicken, Pizza Hut, Mc. Donald, Coca-Cola, Wendy's atau

merek yang melekat pada produk tersebut, tetapi adalah hak untuk boleh melaksanakan atas izin pemegang atau pemilik hak kekayaan intelektual untuk menjalankan hak dimaksud. Khusus mengenai produk makanan dan minuman yang dilindungi sebagai rahasia dagang beserta seluruh atribut yang harus dipenuhi dalam pemasarannya. Maka menjadi sebuah kebutuhan untuk diwujudkan segera Undang-undang tentang waralaba tersebut.32 Ada benda immateril yang menjadi objek perjanjian dalam perikatan franchising tersebut. Oleh karena itu menurut hemat penulis, jika suatu saat nanti Indonesia akan membuat kodifikasi hukum perdata, maka hukum benda yang menjadi objek perikatan franchising, seyogianya figur hukum ini haruslah ditempatkan dalam kerangka hukum perikatan. Perikatan

franchisingnya sendiri dapat ditempatkan dalam subsistem hukum perikatan sebagai

bagian dari sistem hukum perdata.

32 Disini ditemukan adanya unsur kerahasiaan atas suatu produk. Hak yang bernilai itu justru

(49)

Bagaimana dengan unfair competition? Apakah bidang ini termasuk dalam bagian ruang lingkup HKI? Menurut hemat kami, bidang ini tidak termasuk dalam ruang lingkup HKI, sebab tidak ada hak kebendaan yang dilindungi. Unfair

competition atau persaingan secara tidak sehat, tak boleh dilakukan dalam bidang apa

saja, termasuk HKI. Namun demikian dalam persetujuan TRIPs secara khusus ditempatkan dalam satu klausul tentang unfair competition yang berkaitan dengan perlindungan HKI.

Berkaitan dengan standar perlindungan, ketentuan dalam persetujuan Uruguay

Round memberikan hak kepada negara anggota untuk membatasi cakupan dari hak

perlindungan sampai batas tertentu. Misalnya dalam hal yang menyangkut

compulsory licensing serta pembatasan hak untuk mencegah ada-nya praktik-praktik

yang bersifat antikompetitif. Ketentuan tersebut terdapat pada section 8 dari persetujuan yang menentukan aturan main dalam menangani perbuatan atau tindakan yang bersifat antikompetitif.

Persetujuan tersebut membolehkan negara anggota, melalui undang-undang nasionalnya, untuk mencegah atau mengendalikan praktik-praktik antikompetisi yang merupakan penyalahgunaan hak tersebut seperti grant back conditions dan paket lisensi paksa compuksary licencing atau coercive packaged licensing. Tanpa upaya mencegah praktik sejenis itu akan lebih sulit untuk memperoleh alih teknologi. 33

33 Pasal-pasal dalam UU Hak Cipta dan paten Indonesia memuat ketentuan-ketentuan semacam

(50)

Undang-undang domestik negara-negara berkembang di bidang tersebut tidak akan mempunyai akibat yang terlalu besar dan efektif, tanpa adanya kerja sama yang penuh dari negara induk perusahaan-perusahaan multilateral sebagai pemegang hak kekayaan intelektual (khususnya dalam bidang hak cipta dan paten) dalam menetapkan informasi yang berada di luar jangkauan dan informasi yang tidak bersifat rahasia.

3. Warisan Budaya Tradisional

Pembicaraan tentang warisan budaya suatu bangsa dan hak-hak komunitas pendukungnya telah berlangsung lama. Setidak-tidaknya di dalam forum WIPO telah diselenggarakan suatu Intergorvernmental Committee on Intellectual Property Rights

and Genetic Resources, Traditional Knowledge and Folklore (IGC-IPR & GRTKF)

yang telah berlangsung sejak paruh kedua decade Sembilan puluhan. Sayangnya hingga hari ini belum tercapai suatu kesepakatan bulat tentang legally binding

instruments yang menjadi acuan seluruh bangsa-bangsa di dunia dalam menyikapi

persoalan tersebut. Walaupun demikian, capaian yang telah dihasilkan hingga hari ini tetap harus diberikan apresiasi.

(51)

Budaya Tradisional yang digagas dan diinisiasi oleh Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dan saat ini draft tersebut telah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk dibahas sebagai usul inisiatif DPD RI.

Melalui sosialisasi ini diharapkan dapat diperoleh gambaran tentang persoalan yang ada dan sekaligus sebagai upaya menyerap berbagai idea terkait dengan issue utamanya, yaitu bagaimana mengembangkan (develop), memanfaatkan (utilize), mempromosikan (promote), melestarikan (preserve) dan melindungi (protect) warisan budaya sekaligus hak-hak warga masyarakat atas warisan budaya mereka itu, terutama yang bersifat “tak benda” (intangible) atau dalam terminologi HKI disebut sebagai hak kebendaan immaterial (hak atas benda tidak berwujud).

Warisan budaya tradisional dalam konteks HKI (sebagai benda tidak berwujud) meliputi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. Pengetahuan tradisional adalah karya intelektual di bidang pengetahuan dan teknologi yang mengandung unsur karakteristik warisan tradisional yang dihasilkan, dikembangkan dan dipelihara oleh komunitas atau masyarakat tertentu (kesatuan masyarakat hukum adat).34 Sedangkan ekspresi budaya tradisional diartikan sebagai karya intelektual dalam bidang seni, termasuk ekspresi sastra yang mengandung

34 Pengetahuan tradisional diartikan sebagai pengetahuan yang dimiliki atau dikuasai dan

digunakan oleh suatu komunitas, masyarakat atau suku bangsa tertentu yang bersifat turun-temurun dan terus berkembang sesuai dengan perubahan lingkungan. Pengertian ini digunakan dalam Studi of

the Problem of Discrimination Against Indigenous Populations, yang dipersiapkan oleh United Nations Sub-Commission on Prevention of Discrimination and Protection of Minorities. Istilah

pengetahuan tradisional digunakan untuk menerjemahkan istilah traditional knowledge, yang dalam perspektif WIPO digambarkan mengandung pengertian yang lebih luas mencakup indigenous

(52)

unsur karakteristik warisan tradisional yang dihasilkan, dikembangkan dan dipelihara oleh komunitas atau masyarakat tertentu.

Kondisi Indonesia yang memiliki keanekaragaman etnik atau suku bangsa dan memiliki keanekaragaman hayati adalah merupakan kekayaan warisan budaya yang perlu mendapat perlindungan dari sisi hukum hak kekayaan intelektual. Hal itu tidak saja menyangkut daya tarik pihak-pihak di luar kesatuan masyarakat hukum adat dalam pengertian masyarakat lokal tetapi juga pihak asing untuk memanfaatkan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional secara komersial.

(53)

saja ramuan-ramuan itu diolah berdasarkan pengetahuan tradisional baik mengenai kadar, takaran dan aturan penggunaannya.

(54)

BAB II

TARGET DAN LUARAN

Target atau sasaran yang menjadi obyek sosialisasi ini adalah tokoh-tokoh Masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo yang tergabung dalam Aliansi Simekar.

(55)

BAB III

Setelah Sosialisasi diperoleh tokoh-tokoh masyarakat Simalungun, Melayu, Karo yang dapat menjadi agen pembangunan guna mensosialisasikan tentang arti penting perlindungan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya

(56)

BAB IV

PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Khalayak Sasaran yang Strategis

Pada dasarnya kegiatan sosialisasi tentang perundang-undangan hak kekayaan intelektual terkait dalam konteks penyelamatan kekayaan budaya (pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional) ini ditujukan untuk masyarakat secara umum. Namun untuk lebih mengefektifkan sosialisasi ini perlu kiranya dibentuk kelompok-kelompok kecil tertentu di dalam masyarakat sehingga sosialisasi ini dapat tersalurkan dengan baik.

Oleh karena itulah, sebagai sasaran dalam pengabdian masyarakat ini ditetapkan adalah 3 komunitas masyarakat hukum adat yaitu : komunitas masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo dalam berbagai peringkat yang meliputi : para tokoh-tokoh adat, tokoh-tokoh-tokoh-tokoh organisasi, tokoh-tokoh-tokoh-tokoh mahasiswa, tokoh-tokoh-tokoh-tokoh intelektual dan tokoh pemuda.

(57)

Pada akhirnya diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan dapat diinventarisir hak-hak masyarakat hukum adat sebagai kekayaan budaya yang meliputi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional.

B. Keterkaitan

Pengabdian ini dilakukan sesuai dengan aplikasi di bidang ilmu hukum keperdataan serta berdasarkan pada pertimbangan adanya kemudahan dari pihak Masyarakat Hukum Adat Simalungun, Melayu dan Karo untuk melakukan kegiatan ini.

C. Metode Kegiatan

Masalah kesadaran hukum masyarakat berkaitan erat dengan masalah pembangunan nasional dalam hal ini kaitannya terdapat dalam dua dimensi yaitu dimensi pertama kesadaran hukum dapat dipandang independent variable yaitu dipandang sebagai indicator yang dapat menciptakan sarana yang dapat mendukung dan mempercepat pembangunan secara keseluruhan. Dimensi kedua bahwa kesadaran hukum dapat dipandang sebagai suatu obyek atau sasaran pembangunan khususnya pembangunan di bidang hukum.

(58)

pengetahuan warga masyarakat akan aturan hukum diharapkan akan berpengaruh terhadap tingkat penghayatan dan ketaatan terhadap hukum. Permasalahan utama yang ditemukan adalah bahwa pengetahuan masyarakat akan norma hukum masih rendah.

Dalam hal ini salah satu alternatif yang dapat ditempuh adalah memberikan penyuluhan hukum yang diberikan dalam bentuk diskusi dan ceramah serta menyebarluaskan informasi tentang pentingnya untuk mengetahui hak-hak masyarakat hukum adat sebagai kekayaan budaya yang meliputi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional.

Kegiatan yang dilakukan dalam pengabdian masyarakat ini adalah dalam bentuk :

1. Ceramah umum kepada 3 komunitas masyarakat hukum adat yaitu : komunitas masyarakat Simalungun, Melayu dan Karo dalam berbagai peringkat yang meliputi : para tokoh-tokoh adat, tokoh-tokoh organisasi, tokoh-tokoh mahasiswa, tokoh-tokoh intelektual dan tokoh pemuda.

2. Tanya jawab langsung (diskusi) antara penceramah dengan kelompok sasaran. 3. Simulasi tentang Perspektif Perundang-undangan Hak Kekayaan Intelektual

(59)

D. Rencana dan Jadwal Kerja

Kegiatan ini direncanakan dalam kurun waktu 2 (dua) bulan yang direncanakan dilaksanakan pada tanggal 12 Nopember 2015 dengan mengikuti

schedule yang dibuat dalam tabel berikut :

No Nama Kegiatan Minggu Ke-

1 2 3 4 5 6 7 8 1. Survey lapangan

2. Diskusi dan pembuatan proposal

3. Pengajuan proposal

4. Diskusi dan pelaksanaan sosialisasi

5. Pembuatan laporan

E. Susunan Personalia Pelaksana Pengabdian Masyarakat

I. KETUA PELAKSANA

Nama Lengkap : Dr. OK. Saidin, SH, M.Hum

NIP/NIDN : 196202131990031002 / 0013026203

Pangkat/Golongan : Pembina Utama Muda / IV c

Tempat/Tanggal Lahir : Kisaran, 13 Februari 1962

Alamat : Jl. Titi Papan Gg. Pertahanan No. 19

Sei Sikambing D - Medan – 20119

Bidang Keahlian : Hukum Hak Kekayaan Intelektual

II. TENAGA PELAKSANA I

Nama Lengkap : Dr. Edy Ikhsan, SH, MA

(60)

Pangkat/Golongan : Pembina Utama Muda / IV c

Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 16 Februari 1963

Alamat : Jl. Duta Wisata No.101

Komplek Villa Prima Indah, Medan

Bidang Keahlian : Antropologi Hukum

III. TENAGA PELAKSANA III

Nama Lengkap : Dr. Abdul Hakim Siagian, SH, M.Hum

NIDN : 0115086502

Pangkat/Golongan : Lektor / III d

Dosen Tenaga Profesional FH-USU

Tempat/Tgl. Lahir : A.Bon Bon, 15 Agustus 1965

Alamat : Jl. Pelita VI No. 16 Kel. Sidorame Barat II

Kec. Medan Perjuangan, Kota Medan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...