• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Influence Of Brand Image On Consumer Loyalty In The Restaurant TIP-TOP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "The Influence Of Brand Image On Consumer Loyalty In The Restaurant TIP-TOP"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

KERANGKA TEORI

2.2 Deskripsi Teori

5.1.1 Brand (Merek)

brand (merek) dapat diibaratkan seperti kita mengenal manusia lewat

namanya. Sedangkan menurut Asosiasi Pemasaran Amerika mendefinisikan

Brand (Merek) sebagai nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi

dari semuanya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikannya dari barang atau

jasa pesaing (Kotler, 2008). Brand (Merek) adalah suatu nama, istilah, tanda,

lambang atau desaign, atau gabungan semua yang diharapkan mengidentifikasi

barang atau jasa dari seorang penjual atau sekelompok penjual, dan diharapkan

akan membedakan barang atau jasa dari produk pesaing (Laksana, 2008).

Pendapat Keller (dalam Sadat, 2009) istilah brand berasal dari kata brandr

yang berarti “to brand” yaitu aktivitas yang sering dilakukan para peternak sapi

Amerika dengan memberikan tanda pada ternak-ternak mereka untuk

memudahkan identifikasi kepemilikan sebelum dijual ke pasar. Sedangkan

menurut Afif (dalam Sadat, 2009) kata merek yang sering kita gunakan sebagai

terjemahan kata brand berasal dari bahasa Belanda yang diadopsi dan digunakan

secara luas dalam bahasa pemasaran kita.

Dalam perkembangannya, merek memiliki banyak definisi. Hal ini tidak

lepas dari beragamnya perspektif pemerhati dan ahli pemasaran. Seperti pendapat

Kegan (dalam Sadat, 2009) misalnya mendefinisikan merek sebagai sekumpulan

citra dan pengalaman kompleks dalam benak pelanggan, yang mengomunikasikan

(2)

diproduksi oleh perusahaan tertentu. Menurut Sadat (2009) dari beberapa

pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa menciptakan merek dapat dimulai

dengan memilih nama, logo, simbol, desain, serta atribut lainnya, atau dapat saja

merupakan kombinasi dari aspek-aspek tersebut yang bertujuan untuk

membedakan sebuah produk dengan produk pesaing melalui keunikan serta segala

sesuatu yang dapat menambah nilai bagi pelanggan.

5.1.2 Kriteria Brand (Merek)

Menilai baik-tidaknya suatu brand (Merek) dapat dilihat dari kriteria-kriteria

mengenai merek yang baik. Ada beberapa kriteria merek yang baik, yaitu

(Setiawan, 2006) :

1. Terlindung dengan baik

2. Mudah diucapkan

3. Mudah Diingat Mudah dikenali

4. Menarik

5. Menampilkan manfaat produk atau saran penggunaan produk

6. Menonjolkan citra perusahaan atau produk

7. Menonjolkan perbedaan produk dibanding pesaing

4.1.3 Image (Citra)

Image (citra) merupakan suatu komponen pendukung bagi sebuah merek,

dimana ia mewakili “wajah” dan juga mutu sebuah produk. Jika merek ibarat

mengenal manusia dari namanya, maka image (citra) bagaikan kesan yang kita

lihat dari manusianya. Seperti yang dikatakan Kotler (dalam Kotler & Susanto,

1999) bahwa citra adalah persepsi masyarakat terhadap perusahaan. Pendapat

(3)

bahwa citra merupakan apa yang dipikirkan atau bahkan dibayangkan orang-orang

tentang sesuatu.

Menurut Setiadi (2003) mengatakan bahwa persepsi merupakan proses

dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi

untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. Selain itu

Harowitz (dalam Francoeur, 2004) menemukan bahwa citra adalah sekumpulan

dari memory fragmens, rekonstruksi, reinterpretasi, dan simbol yang dikenakan

objek, perasaan ide-ide. Jadi dapat kita lihat secara lebih mendalam bahwa citra

merupakan serangkaian proses yang terangkum dalam persepsi individu.

Jadi jelaslah bahwa persepsi konsumen mengenai sebuah merek berisi gambaran

dari sekumpulan identitas ataupun ekspresi kepribadian yang dimasukkan ke

dalam suatu produk atau merek. Untuk itu produsen perlu kreatifitas dan usaha

yang keras dalam membangun citra, karena belum tentu apa yang kita

proyeksikan sama dengan apa yang dipersepsikan konsumen. Membangun citra

merupakan suatu hal yang penting bagi produsen. Sebab citra adalah suatu kriteria

yang digunakan konsumen dalam membuat keputusan membeli. Sebagaimana

dikatakan oleh Beach (dalam Francoeur, 2004) yang mendefinisikan citra sebagai

skemata atau cognitif pathways yang digunakan dalam pengambilan keputusan.

5.1.4 Brand Image (Citra Merek)

Sepeti yang telah diuraikan di atas, bahwa brand (merek) bagaikan

mengenal orang lewat namanya dan image (citra) itu bagaikan melihat orang dari

kesannya. Maka brand image (citra merek) dapat dianalogikan sebagai melihat

suatu kesan dari sebuah nama. Seperti yang dikatakan oleh Susanto (2007) bahwa

(4)

merek. Dimana hal ini menyangkut bagaimana seorang konsumen

menggambarkan apa yang mereka pikirkan mengenai sebuah merek dan apa yang

mereka rasakan mengenai merek tersebut ketika mereka memikirkannya (Maja

Hribar, 2007). Hal ini sejalan dengan penjelasan Setiadi (2003) mengenai persepsi

yang mengatakan bahwa persepsi merupakan proses dimana seseorang memilih,

mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu

gambaran yang berarti di dunia ini.

Selain itu, dalam konsep pemasaran, citra merek sering direferensikan

sebagai aspek psikologis, yaitu : citra yang dibangun dalam alam bawah sadar

konsumen melalui informasi dan ekspektasi yang diharapkan melalui produk atau

jasa (Setiawan, 2006). Untuk itulah pembangunan sebuah citra merek, terutama

citra yang positif menjadi salah satu hal yang penting. Sebab tanpa citra kuat dan

positif, sangatlah sulit bagi perusahaan untuk menarik pelanggan baru dan

mempertahankan yang sudah ada, dan pada saat yang sama meminta mereka

membayar harga yang tinggi (Susanto, 2007).

Brand image juga dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul

dibenak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu. Asosiasi tersebut

secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang

dikaitkan kepada suatu merek, sama halnya ketika kita berfikir tentang orang lain.

Asosiasi ini dapat dikonseptualisasi berdasarkan: jenis, dukungan, kekuatan, dan

keunikan (Shimp, 2003). Menurut Fandi Tjiptono (1997) citra merek (Brand

Image) yakni deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek

tertentu. Menurut Kotler (2008) citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang

(5)

memori konsumen. brand image (Citra merek) umumnya didefinisikan segala hal

yang terkait dengan merek yang ada dibenak ingatan konsumen.

Brand image (citra merek) merepresentasikan keseluruhan persepsi

konsumen terhadap merek yang terbentuk karena informasi dan pengalaman

konsumen terhadap suatu merek (Suryani, 2008). Citra merek dibentuk melalui

kepuasan konsumen, penjualan dengan sendirinya diperoleh melalui kepuasan

konsumen, sebab konsumen yang puas selain akan kembali membeli, juga akan

mengajak calon pembeli lainnya (Aaker, 1996). Merek yang kuat adalah merek

yang jelas, berbeda, dan unggul secara relevatif dibanding pesaingnya. Kalau kita

berbicara tentang produk, kita hanya membicarakan ruang lingkup, kualitas, dan

penggunaan.

5.1.5 Loyalitas Konsumen

Loyalitas adalah pilihan yang dilakukan konsumen untuk membeli brand

(merek) tertentu dibandingkan brand (merek) yang lain dalam kategori produk

(Giddens dalam Dewi, 2011). Menganalisa loyalitas konsumen akan lebih berhasil

apabila mampu memahami aspek psikologis manusia. Persepsi merupakan salah

satu aspek tersebut dan sebelum persepsi konsumen terbentuk terhadap suatu

objek, dalam hal ini kualitas, harga, dan suasana restoran merupakan faktor yang

memotivasi konsumen dalam suatu produk. Konsumen mempunyai rasa suka dan

tidak suka setelah mereka membeli produk dan kemudian persepsi terbentuk dan

akan menentukan perilaku terhadap merek restoran yang menjual produk tersebut.

Hal ini dikarenakan persepsi menjelaskan evaluasi kognitif, perasaan emosional,

(6)

Loyalitas konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang ditawarkan oleh

suatu perusahaan yang tercermin dari kebiasaan konsumen dalam melakukan

pembelian barang atau jasa secara terus menerus harus selalu diperhatikan oleh

perusahaan atau produsen. Bagi perusahaan, loyalitas konsumen dapat

memberikan nilai yang tinggi bagi inisiatif kepedulian para pelanggan, yaitu lebih

mudah dan lebih murah untuk mempertahankan pelanggan yang loyal, daripada

menarik pelanggan baru yang loyalitasnya belum terbukti. Dengan demikian

perusahaan perlu mengamati loyalitas konsumen untuk dapat memenuhi

keinginan dan kebutuhan konsumen serta tercapainya tujuan suatu perusahaan.

Loyalitas menurut Engel adalah loyalitas konsumen akan suatu barang

atau jasa tersebut secara terus-menerus, kebiasaan ini termotivasi sehingga sulit

dirubah dan sering berakar dalam keterlibatan yang sangat tinggi (Engel, dkk,

1995).

Selanjutnya Griffin (dalam Jasfar, 2002) berpendapat bahwa seorang

pelanggan dikatakan setia atau loyal apabila pelanggan tersebut menunjukkan

perilaku pembelian secara teratur atau terdapat suatu kondisi dimana mewajibkan

pelanggan membeli paling sedikit dua kali dalam selang waktu tertentu. Upaya

memberikan kepuasan pelanggan dilakukan untuk mempengaruhi sikap

pelanggan, sedangkan konsep loyalitas pelanggan lebih berkaitan dengan perilaku

pelanggan daripada sikap dari pelanggan. Dari pernyataan di atas memberikan

dimensi yang lebih luas tentang ukuran perilaku pelanggan yang loyal, antara lain:

1. Loyalitas pelanggan diukur dari frekuensi konsumsi suatu produk tertentu

(7)

lebih tinggi berarti dapat dikatakan lebih loyal dari pelanggan yang

frekuensinya lebih rendah.

2. Ukuran loyalitas pelanggan berkembang pada perilaku pembelian

pelanggan terhadap layanan baru yang dikeluarkan, artinya bila suatu

restoran mengeluarkan produk/varian baru maka pelanggan akan bersedia

mencoba produk baru tersebut.

3. Loyalitas pelanggan adalah sikap daripada pelanggan dalam memberikan

rekomendasi bagi orang lain untuk memakai jasa yang sama.

Pada umumnya konsumen yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap suatu

restoran cenderung fanatik dan memakai kembali produk restoran tersebut apabila

memerlukannya, tanpa berfikir panjang konsumen yang mempunyai loyalitas

tinggi akan mengambil keputusan untuk memakai barang atau jasa tersebut.

Konsumen dengan loyalitas tinggi akan memberitahukan keunggulan dan kualitas

layanan tersebut kepada orang lain bahkan sering memberikan saran untuk

menggunakan layanan jasa yang diberikan kepada konsumen. Fullerton dan

Taylor (dalam Jasfar 2002) membagi tingkat loyalitas konsumen dalam tiga tahap:

1. Loyalitas advokasi, merupakan sikap pelanggan untuk memberikan

rekomendasi kepada orang lain untuk melakukan pembelian ulang

terhadap produk atau jasa. Loyalitas advokasi pada umumnya disertai

dengan pembelaan konsumen terhadap produk atau jasa yang dipakai.

2. Loyalitas repurchase, loyalitas pelanggan berkembang pada perilaku

pembelian pelanggan terhadap layanan baru yang dikeluarkan oleh suatu

(8)

3. Loyalitas paymore, loyalitas pelanggan untuk kembali melakukan

transaksi untuk menggunakan produk atau jasa yang telah dipakai oleh

konsumen tersebut dengan pengorbanan yang lebih besar.

Ciri-ciri loyalitas konsumen :

Konsumen yang loyal terhadap suatu merek memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Memiliki komitmen pada merek tersebut

2. Berani membayar lebih pada merek tersebut bila dibandingkan dengan

merek lain.

3. Merekomendasikan merek tersebut kepada orang lain.

4. Dalam melakukan pembelian kembali produk tersebut, tidak melakukan

pertimbangan

5. Selain mengikuti informasi yang berkaitan dengan merek tersebut, juga

selalu mengikuti perkembangannya.

6. Dapat menjadi semacam juru bicara dari merek tersebut dan selalu

(9)

5.2 Kerangka Konsep

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

7.3 Hubungan brand image dengan loyalitas konsumen

Brand image akan sangat mempengaruhi keputusan konsumen dalam

memilih dan mengambil keputusan untuk membeli dan mengkonsumsi suatu

produk, brand image yang baik akan membuat konsumen menjadi loyal dengan

produk/jasa yang ditawarkan begitu pula sebaliknya, maka dengan brand image

yang baik konsumen akan melakukan pembelian secara berulang. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa brand image merupakan salah satu yang

berpengaruh terhadap loyalitas konsumen.

(10)

5.4 Penelitian Terdahulu

Adapun yang mendukung penelitian ini dapat dipengaruhi oleh penelitian

terdahulu yang berkaitan dengan pengaruh brand image terhadap loyalitas

konsumen, sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti sehingga dapat

dijadikan referensi dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian tersebut adalah

menganalisis pengaruh brand image terhadap loyalitas konsumen. Diantaranya

adalah sebagai berikut:

1. Danny Alexander Bastian, dengan judul Analisa Pengaruh Citra Merek

(Brand Image) dan Kepercayaan Merek (Brand Trust) Terhadap Loyalitas

Merek (Brand Loyalty) ADES PT. Ades Alfindo Putra Setia, tujuan

penelitian untuk mengetahui pengaruh variabel Brand Image terhadap Brand

Trust ADES PT Ades Alfindo Putra Setia. Kesimpulan, variabel brand image

berpengaruh positif signifikan terhadap brand loyalty. Hal ini menunjukkan

citra merek yang dibentuk karena perusahaan mampu memberikan presepsi

yang baik kepada konsumennya dan juga menjaga dan mengelola hubungan

dengan konsumen ADES. Variabel brand trust berpengaruh terhadap brand

loyalty. Hal ini menunjukkan upaya yang ada dalam membangun

kepercayaan konsumen melalui pemenuhan kebutuhan keinginan konsumen

akan air minum kemasan. Variabel brand image berpengaruh signifikan

terhadap brand trust. Hal ini menunjukkan bahwa sejauh mana citra merek

perusahaan mampu menciptakan kepercayaan merek terhadap pelanggan,

karena ketika konsumen sudah terpuaskan kebutuhan dan harapannya, maka

(11)

2. Antonio Nalau, dengan judul Brand Image Terhadap Loyalitas Pelanggan

J.Co Donuts & Coffee Di Plaza Mulia Samarinda, tujuan penelitian untuk

mengetahui pengaruh Citra Merek (Brand Image) melalui variable

keunggulan asosiasi merek (favorability of brand association), kekuatan

asosiasi merek (strenght of brand association) dan keunikan asosiasi merek

(uniqueness of brand association) terhadap Loyalitas Pelanggan J.CO Donuts

& Coffee di Plaza Mulia Samarinda. Untuk mengetahui variabel Citra Merek

(Brand Image) yang mana yang dominan mempengaruhi Loyalitas Pelanggan

J.CO Donuts & Coffee di Plaza Mulia Samarinda. Kesimpulan, Melalui

pengujian secara serempak/simultan (Uji F) dapat disimpulkan bahwa citra

merek (brand image) dengan indikator keunggulan asosiasi merek

(favorability of brand associaton), kekuatan asosiasi merek (strength of brand

association) dan keunikan asosiasi merek (uniqueness of brand association)

secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap

variabel dependen, yaitu loyalitas pelanggan sehingga dapat dikatakan bahwa

citra merek melalu indicator keunggulan asosiasi merek, kekuatan asosiasi

merek dan keunikan asosiasi merek berpengaruh positif terhadap loyalitas

pelanggan J.CO Donuts & Coffee di Plaza Mulia Samarinda.

Berdasarkan pengujian secara parsial (Uji t), ternyata hasil penelitian

membuktikan bahwa tidak semua indikator dari variabel independen citra

merek (brand image), yaitu keunggulan asosiasi merek (favorability of brand

associaton), kekuatan asosiasi merek (strength of brand association) dan

keunikan asosiasi merek (uniqueness of brand association) mempunyai

(12)

pelanggan J.CO Donuts & Cofee di Plaza Mulia Samarinda. Variabel

keunggulan asosiasi merek disini terbukti berpengaruh secara dominan positif

dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan sehingga dapat dikatakan bahwa

keunggulan asosiasi merek berpengaruh dominan dan positif terhadap

loyalitas pelanggan. Lalu keunikan asosiasi merek disini juga terbukti

berpengaruh secara positif tetapi tidak dominan dan signifikan terhadap

loyalitas pelanggan sehingga dapat dikatakan bahwa keunikan asosiasi merek

berpengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan. sedangkan kekuatan

asosiasi merek disini terbukti berpengaruh negatif dan tidak signifikan

terhadap loyalitas pelanggan atau dapat dikatakan keunggulan asosiasi merek

tidak berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan.

3. Farid Yuniar Nugrohoho, judul Pengaruh Citra Merek dan Kepuasan

Pelanggan Terhadap Loyalitas Konsumen (Studi Kasus Perilaku Konsumen

Rumah Makan Gudeg Pawon Di Janturan Umbulharjo). Tujuan penelitian

Menganalisis citra merek rumah makan “Gudeg Pawon” Menganalisis

kepuasan konsumen rumah makan “Gudeg Pawon” Menganalisis loyalitas

pelanggan rumah makan “Gudeg Pawon” Menganalisis pengaruh citra merek

dan kepuasan konsumen terhadap loyalitas pelanggan pada produk rumah

makan “Gudeg Pawon”. Kesimpulan, Citra merek pada rumah makan gudeg

pawon baik, dengan skor rata-rata skor rata – rata citra merek sebesar 32,743.

Dengan skor rata – rata tertinggi adalah pada dimensi keempukan

(krecek,tempe,telur/ayam) sesuai dengan harapan konsumen sebesar 4,37 .

Kepuasan konsumen rumah makan gudeg pawon adalah cukup baik, dengan

(13)

tertinggi adalah pada dimensi bumbu dan bahan olahan lain sebesar 4,05 .

Loyalitas konsumen rumah makan gudeg pawon adalah baik, dengan skor

rata–rata loyalitas konsumen adalah sebesar 19,62 (78,50), dengan skor rata –

rata tertinggi adalah pada dimensi merekomendasikan Gudeg Pawon kepada

orang lain dan melakukan pembelian ulang Gudeg Pawon sebesar 4,083.

Adanya pengaruh citra merek terhadap loyalitas pelanggan pada produk

rumah makan gudeg pawon. Teknik analisis yang digunakan adalah

menggunakan model regresi linear berganda. Nilai konstanta (a) diperoleh

sebesar 0,046 yang berarti apabila variabel citra merek diasumsikan tidak ada

maka loyalitas konsumen yang terbentuk sebesar 0,046. Koefisien regresi

citra merek (b) sebesar 0,379 menunjukkan bila ada peningkatan citra merek

maka akan meningkatkan loyalitas konsumen Rumah Makan Gudeg Pawon.

Nilai koefisien determinasi (adjusted R2) yang diperoleh adalah sebesar 0.447

yang berarti kontribusi pangaruh variabel citra merek, adalah sebesar 44,7 %

dan sisanya sebesar 55,3 % dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Hal ini

berarti variabel citra merek mampu memberikan pengaruh yang besar

terhadap perubahan loyalitas konsumen Rumah Makan Gudeg Pawon.

4. Priska Nita Anggraeni, judul Pengaruh Citra Merek Terhadap Loyalitas

Konsumen Deangan Kepuasan Konsumen Sebagai Mediasi Pada Produk

VIVA Kosmetik di Kota Surabaya. Tujuan penelitian untuk menganalisis

pengaruh functional benefit terhadap kepuasan konsumen pada produk Viva

kosmetik di kota Surabaya. Untuk menganalisis pengaruh functional benefit

terhadap loyalitas konsumen pada produk Viva kosmetik di kota Surabaya.

(14)

pada produk Viva kosmetik di kota Surabaya. Untuk menganalisis pengaruh

symbolic benefit terhadap loyalitas konsumen pada produk Viva kosmetik di

kota Surabaya. Untuk menganalisis pengaruh kepuasan konsumen terhadap

loyalitas konsumen pada produk Viva kosmetik di kota Surabaya. Untuk

menganalisis kepuasan konsumen memediasi hubungan functional benefit

terhadap loyalitas konsumen pada produk Viva kosmetik di kota Surabaya.

Untuk menganalisis kepuasan konsumen memediasi hubungan symbolic

benefit terhadap loyalitas konsumen pada produk Viva kosmetik di kota

Surabaya.

5. Novita Wongso, judul Pengaruh Brand Image Terhadap Loyalitas Konsumen

KFC di Perumahan Citra Garden 2. Tujuan penelitian untuk mengetahui

pengaruh Brand image terhadap loyalitas konsumen KFC di Perumahan Citra

Garden 2. Kesimpulan, Berdasarkan hasil perhitungan Mean Score pada

indikator brand image seperti: kualitas produk, bahan yang digunakan, iklan,

logo, rasa, harga, variasi rasa, dan pelayanan, maka indikator utama brand

image KFC adalah kualitas produk, yaitu sebesar 4.16. Kemudian hasil

perhitungan Overall Mean Score (OMS) pada brand image, memiliki nilai

sebesar 3.85, yang terletak pada rentang: 3.41 – 4.20, yang berarti bahwa

brand image KFC di mata konsumen adalah baik. Hal ini dikarenakan

kualitas produk KFC yang bermutu dan terjamin serta pelayanan yang cepat

sehingga memenuhi kepuasan konsumen. Berdasarkan hasil perhitungan

Mean Score pada indikator loyalitas konsumen seperti: melakukan pembelian

kembali, membeli antarlini produk, rekomendasi, dan tidak berpindah merek,

(15)

produk, yaitu sebesar 4.01. Kemudian hasil perhitungan Overall Mean Score

(OMS) pada loyalitas, memiliki nilai sebesar 3.78, yang terletak pada rentang:

3.41 – 4.20, yang berarti bahwa loyalitas konsumen KFC adalah tinggi.

Loyalitas konsumen KFC pada tingkat ini termasuk dalam kategori loyalitas

yang terbagi, yaitu konsumen yang loyal kepada dua atau tiga merek. Dalam

penelitian ini, terlihat bahwa variabel brand image memberikan pengaruh

yang signifikan terhadap variabel loyalitas konsumen. Besarnya pengaruh

brand image terhadap loyalitas konsumen KFC di Perumahan Citra Garden 2

yaitu 77.1%. Berdasarkan hasil analisa regresi sederhana, dapat disimpulkan

bahwa apabila brand image ditingkatkan maka loyalitas konsumen KFC di

Perumahan Citra Garden 2 akan meningkat. Selain itu, berdasarkan hasil uji f

dan uji t, kolom sig. terdapat P-Value sebesar 0.000, yang berarti

menunjukkan bahwa P-Value lebih kecil dari _ = 0.05 (0.000 < 0.05). Hal ini

menyatakan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima. Dengan kata lain secara

statistik terbukti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel

brand image terhadap variabel loyalitas konsumen KFC Perumahan Citra

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

bahwa kepuasan konsumen sangatlah penting, dengan pelayanan dan atribut produk yang sangat memuaskan dapat menimbulkan kepuasan konsumen. Begitu pula dengan kualitas brand image

Produsen terkadang tidak mampu memahami secara langsung pikiran konsumen terhadap suatu produk, citra merek atau brand image merupakan kesan dari hasil

Brand Loyalty secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian Nipponparts, ditandai dengan Konsumen yang loyal terhadap Nipponparts pasti

Sebaliknya untuk tipe konsumen yang brand switchers merasa kurang cocok dan tidak puas dengan kualitas produk fashion merek ZARA yang telah mereka kenakan sebelumnya sehingga

This study is expected to provide input to the coffee shop management on how to increase their brand loyalty which can be done by increasing their brand awareness, brand image, and

Hasil Uji Regresi Linier Berganda Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh brand ambassador, brand image, country of origin

Consumers will never be loyal to a brand if the credibility of the brand is wrong in the minds of consumers, this shows that the brand image of Tiket.com is positive in the eyes of

Jurnal Mirai Management ISSN : 2598-8301 Online The Influence Of Brand Image And Service Quality On Customer Loyalty Mediated By Consumer Satisfaction Coffee Products Mochammad