BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Desain penelitian
Penelitian dilakukan dengan rancangan penelitian potong lintang (cross sectional study) yang bersifat analitik.
3.2Waktu dan tempat penelitian 3.2.1 Waktu penelitian
Penelitian dilakukan mulai bulan Februari 2016 sampai April 2016,
3.2.2 Tempat penelitian
1. Penelitian dilakukan di Divisi Tumor dan Bedah Kulit SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP. H. Adam Malik Medan. 2. Pengambilan sampel darah dan pemeriksaan kadar insulin puasa
dan kadar glukosa darah puasa dilakukan di Laboratorium klinik Prodia.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi target
Semua pasien skin tag yang berobat ke Divisi Tumor dan Bedah Kulit SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin di RSUP.H.Adam Malik Medan.
3.3.2 Populasi terjangkau
Pasien-pasien yang menderita skin tag yang berobat ke Divisi Tumor dan Bedah Kulit SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP. H. Adam Malik Medan mulai bulan Februari sampai April 2016.
3.3.3 Sampel
Sampel penelitian terdiri dari bagian dari populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
3.3Besar Sampel
Untuk menghitung besar sampel maka digunakan rumus berikut:
Rumus : n = Zα + Zβ 2 + 3
0,5ln (1+r)//(1-r)
Kesalahan tipe I = 5 %, hipotesis dua arah, Zα = 1,96
Kesalahan tipe II = 20 %, maka Zβ = 0,842
r = koefisien hubungan = 0,47 (dikutip dari kepustakaan No.1)
Maka : n = 1,96 + 0,842 2 + 3
0,5 ln [(1 +0,47) / (1 - 0,47]
3.5 Cara Pengambilan Sampel Penelitian
Cara pengambilan sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling
3.6 Identifikasi Variabel
Variabel bebas : Resistensi insulin Variabel terikat : Skin tag (jumlah lesi) 3.7Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi
3.7.1 Kriteria Inklusi
1. Pasien sskin tag yang didiagnosis melalui anamnesis dan pemeriksaan klinis
2. Berusia 20-60 tahun
3. Bersedia ikut serta dalam penelitian dengan menandatangani informed consent
3.7.2 Kriteria Eksklusi
1. Pasien skin tag yang sedang hamil dan menyusui
3.8 Alat dan Cara Penelitian
3.8.1 Alat Penelitian
1. Satu pasang sarung tangan
2. Satu buah alat ikat pembendungan (torniquet). 3. Satu buah spuit disposable 10 cc.
4. Dua buah vacutainer (tabung pengumpul darah steril) 5 cc. 5. Satu buah plester luka.
6. Kapas.
7. Alkohol 70%. 8. Povidon iodine.
3.8.2 Cara Kerja
3.8.2.1 Pencatatan data dasar
1. Pencatatan data dasar dilakukan oleh peneliti di Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP H. Adam Malik Medan.
2. Pencatatan data dasar meliputi identitas penderita, anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan dermatologis, sesuai formulir catatan medis terlampir.
3.8.2.2.Cara pengambilan darah : Pengambilan sampel darah
1. Pengambilan sampel darah dilakukan pada pagi hari antara pukul 08.00-09.00 WIB, setelah pasien sebelumnya berpuasa selama 10-12 jam, dan dilakukan di Laboratorium Klinik Prodia Jl. S. Parman No. 17/223 G Medan
2. Dengan menggunakan sarung tangan, memastikan lokasi penusukan, yaitu daerah vena mediana cubiti pada lipat siku. 3. Torniquet dipasang pada lengan atas dan pasien diminta
untuk mengepal telapak tangan hingga vena jelas terlihat. 4. Lokasi penusukan didesinfeksi dengan kapas alkohol 70%
secara sentrifugal. Spuit disiapkan dengan memeriksa jarum dan penutupnya. Setelah itu vena mediana cubiti ditusuk dengan posisi sudut 45 derajat dengan jarum menghadap keatas, darah dibiarkan mengalir kedalam jarum.
5. Pasien diminta untuk membuka kepalan tangannya agar aliran darah bebas, dan darah diambil hingga volume yang dibutuhkan.
7. Sampel darah kemudian dimasukkan ke dalam dua tabung vacutainer 5 cc untuk pemeriksaan KGD puasa dan kadar insulin puasa.
8. Selanjutnya sampel darah disimpan dalam freezer suhu -200C, yang akan stabil selama 3 bulan sebelum pemeriksaan. Hindari kontaminasi dan pajanan langsung sinar matahari. 9. Pemeriksaan KGD puasa juga dilakukan di Laboratorium
Klinik Prodia Jl. S. Parman No. 17/223 G Medan, menggunakan alat Architect ci8200 Integrated System. 10.Sampel untuk pemeriksaan kadar insulin puasa selanjutnya
dikirim ke Laboratorium Klinik Prodia Pusat di Jakarta. Proses pemeriksaan kadar insulin puasa dilakukan dengan metode chemiluminescent immunometric assay, dengan menggunakan alat Advia Centaur XP Immunoassay dengan kit insert menggunakan Immulite® 2000 Insulin. Hasil analisisnya dapat diperoleh dalam waktu lebih kurang 1 jam. 3.9 Definisi Operasional
3.9.1 Umur
Alat ukur: data rekam medik
Hasil ukur: pengelompokan umur menjadi jumlah tahun Skala ukur : Skala rasio
3.9.2 Riwayat keluarga skin tag
Diketahui berdasarkan anamnesis dari subyek penelitian mengenai anggota keluarga (ayah, ibu, saudara kandung) yang juga menderita skin tag
3.9.3 Jumlah lesi Skin tag
Jumlah lesi skin tag berupa papul filiform warna kulit, lunak, bertangkai, berwarna seperti warna kulit ataupun hiperpigmentasi yang ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis. Alat ukur: Pemeriksaan fisik dan dermatologis Hasil ukur: Jumlah total lesi skin tag pada tubuh Skala ukur: Skala rasio
3.9.4 Resistensi insulin (HOMA-IR)
Suatu keadaan terjadinya gangguan respon metabolik terhadap kerja insulin, akibatnya untuk kadar glukosa plasma tertentu dibutuhkan kadar insulin lebih banyak dari normal untuk mempertahankan keadaan normoglikemi. Metode pengukuran resistensi insulin yang dipakai pada penelitian ini adalah HOMA-IR.
Hasil ukur: dikatakan resistensi insulin bila nilai HOMA-IR ≥ 2,6 Skala ukur: Skala rasio
3.10 Kerangka operasional
Gambar 3.1 Diagram Operasional
Pasien skin tag yang berobat ke poliklinik Bedah Kulit SMF I. Kes. Kulit dan Kelamin RSUP. H. Adam Malik Medan
Memenuhi kriteria inklusi & eksklusi
Sampel
Pengukuran kadar gula darah puasa
Pengukuran kadar insulin puasa
Penilaian HOMA-IR untuk menentukan resistensi insulin
Pencatatan data dan tabulasi dalam tabel distribusi frekuensi
3.11 Pengolahan dan analisis data
1. Data-data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan program komputer dan selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel distribusi.
2. Untuk menilai hubungan antara dua variabel yaitu kadar insulin resistensi dan jumlah lesi digunakan uji korelasi. Apabila data mempunyai distribusi normal maka digunakan uji korelasi parametrik Pearson, sedangkan apabila data tidak terdistribusi secara normal digunakan uji korelasi non parametrik Spearman.
3.12 Ethical Clearance
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini dilakukan pengukuran resistensi insulin terhadap 33 pasien skin tag yang didiagnosis melalui pemeriksaan klinis dari mulai Februari 2016 sampai April 2016.
4.1 Karakteristik Subjek Penelitian
Karakteristik subjek pada penelitian ini ditampilkan berdasarkan kelompok jenis kelamin, usia,suku,riwayat keluarga,lokasi lesi,jumlah lesi,bentuk lesi.
4.1.1. Karakteristik Pasien Skin tag Berdasarkan Kelompok Jenis Kelamin
Tabel 4.1. Distribusi subjek penelitian berdasarkan kelompok jenis kelamin.
Jenis kelamin Jumlah (n) % Laki-laki 9 27.3 Perempuan 24 72,7 Total 33 100
Dari tabel 4.1, tampak bahwa sampel berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki yaitu 24 orang (72,7%).Hal ini sesuai dengan penelitian Gautama et al pada tahun 2014 di RSUP Sanglah Denpasar dimana didapatkan pasien dengan jenis kelamin laki-laki 22 orang (40%) dan perempuan 33 orang (60%).35
Pada penelitian Rasi et al di Iran pada tahun 2013 dijumpai pasien skin tag pada laki-laki 63 orang (41,5%) dan perempuan 89 orang (58,5%).36 Penelitian Maluki et al pada tahun 2015 dilaporkan pasien laki-laki 13 orang (31,3%) dann perempuan 38 orang (68,63%).37
4.1.2. Karakteristik Pasien Skin tag Berdasarkan Kelompok Umur
Tabel 4.2. Distribusi subjek penelitian berdasarkan kelompok umur
Umur Jumlah (n) % 20-30 8 15,2 31-40 6 16,2 41-50 13 39,4 51-60 9 27.3
Total 33 100
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar penderita skin tag dengan kelompok umur 41 - 50 tahun (39,4%) di ikuti dnegan kelompok umur 51 - 60 tahun (27,3%) dan kelompok umur 31 – 40 tahun (18,2%) dan persentase terkecil dijumpai pada kelompok umur 20- 30 tahun (15,1%). Hal ini menunjukkan bahwa penderita skin tag lebih banyak terjadi pada usia dewasa.
dijumpai pada populasi lebih dari 40 tahun usianya (46%), dan insidennya meningkat pada usia lebih tua mencapai 59% pada usia 70 tahun. 5
Pada penelitian El Safoury et al menunjukkan peningkatan jumlah skin tag dengan usia dan mencapai nilai puncak (antara usia 51 dan 60 tahun pada kelompok diabetes dan tidak obesitas dan antara 41 dan 50 tahun pada kelompok nondiabetes).38 Thappa melaporkan 35 subyek skin tag dimana dijumpai risiko mendapatkan skin tag berhubungan dengan bertambahnya usia.39
4.1.3. Karakteristik Pasien Skin tag Berdasarkan Suku Tabel 4.3 Distribusi subjek penelitian berdasarkan suku
Suku Jumlah (n) % Aceh 1 3,0 Batak 11 33,0 Jawa 19 57,6 Minang 2 6,1 Total 33 100
sumber utama lainnya baik oleh laki-laki maupun perempuan yaitu sebesar 55,54%.40
4.1.4. Karakteristik Pasien Skin tag Berdasarkan Riwayat Keluarga Tabel 4.4 Distribusi subjek penelitian berdasarkan riwayat keluarga skin tag
Berdasarkan riwayat keluarga menderita skin tag yaitu tidak menderita (39,4%), ibu (33,3%), bapak (12,1%), dan nenek, kakak, ibu dan bapak, ibu dan nenek,bapak dan kakak masing-masing (3,0%).
Menurut Banik dan Lubach pada tahun 1987 dikatakan dijumpai 46% skin tag bawaan pada 750 orang tanpa diseleksi (25% laki-laki dan 21% perempuan).41 Berdasarkan penelitian Erkek et al pada tahun 2011 dijumpai 38 (65,5%) pasien skin tag dari 58 pasien mempunyai riwayat keluarga pasien skin tag.10 Pada Riwayat Keluarga skin tag Jumlah (n) %
penelitian El Safaoury pada tahun 2011 di Kairo menemukan tidak ada perbedaan yang signifikan antara penderita skin tag yang mempunyai riwayat keluarga dengan yang tidak mempunyai riwayat keluarga yang menderita skin tag.31
4.1.5. Karakteristik Pasien Skin tag Berdasarkan Lokasi Lesi Tabel 4.5 Distribusi subjek penelitian berdasarkan lokasi lesi
Lokasi lesi Jumlah (n) % Regio Abdomen 1 3,0 Regio Auricula 1 3,0 Regio Axilla 2 6,1 Regio Colli 19 57,6 Regio Colli, axilla 4 12,1
Regio Colli, axilla,abdomen 1 3,0 Regio Colli,axilla,fossa cubiti 1 3,0
Regio Inguinal 1 3,0 Regio Inframammae 1 3,0 Regio lumbalis 2 6,1
Total 33 100
colli,axilla,abdomen, regio colli,axilla,fossa cubiti, regio gluteal, regio inframamae masing-masing (3,0%), serta regio lumbalis (6,1%).
Lokasi yang paling sering adalah colli, axilla, inguinal, femur, perineal dan inframamae, palpebrae dan lipatan intergluteal.5,10,11 Berdasarkan penelitian Hassan AM et al pada tahun 2013 dari 25 pasien, lesi skin tag 96% pada daerah colli, 44% pada axilla, 12% pada daerah thoraks, 8% pada daerah palpebrae, 4 % pada daerah inframmae dan femur.12 Penelitian Demir S et al, dari 120 pasien, lesi skin tag 89% pada daerah colli, 28% pada daerah axilla, 22% pada daerah vertebralis, 20% pada daerah lain.19 penelitian Galadari dan Rajab daerah yang paling sering terjadi skin tag adalah regio colli dan area fleksural lainnya.42 Penelitian Tamega et al lesi skin tag di leher 85,7%, pada axilla 62,2% dan 28,6% di lokasi lainnya dan di lokasi lainnya.5
4.1.6. Karakteristik Pasien Skin tag Berdasarkan Jumlah Lesi Tabel 4.6 Distribusi subjek penelitian berdasarkan jumlah lesi
Jumlah lesi Jumlah (n) %
1-5 25 75,8
6-10 3 9,1
>10 5 15,2
Berdasarkan jumlah lesi yaitu jumlah lesi terbanyak 1-5 (75,8%), jumlah lesi lebih dari 10 (15,2%) dan terendah 6-10 (9,1%).
Penelitian Demir S et al pada tahun 2002, dari 120 pasien, jumlah lesi skin tag <3 sebanyak 41%, 4-6 sebanyak 20%, 7-9 sebanyak 13% dan jumlah lesi >10 sebanyak 26%.19 Margolis et al melaporkan pertama kali bahwa pasien laki-laki diprediksikan akan menderita diabetes jika lesi skin tag multipel, besar,
hiperpigmentasi dan bilateral.43
4.1.7. Karakteristik Pasien Skin tag Berdasarkan Bentuk Lesi Tabel 4.7 Distribusi subjek penelitian berdasarkan bentuk lesi
Bentuk lesi Jumlah (n) %
Filiform 3 9,1 Filiform, pedunkulasi 3 9,1
Papul 8 24,2 Papul, filiform 8 24,2 Papul, filiform,pedunkulasi 4 12,1 Pedunkulasi 7 21,2
Total 33 100
4.2.Hasil Kadar Glukosa Darah Puasa pada Subjek Penelitian
Tabel 4.8 Hasil kadar glukosa darah puasa pada subjek penelitian
Kadar Glukosa Darah Puasa Jumlah (n) % Rendah 0 0 Normal 25 75,5 Tinggi 8 24,2
Total 33 100
Tabel di atas menunjukkan bahwa umumnya pasien skin tag mempunyai kadar glukosa darah puasa dalam batas normal (75,5%).
Berdasarkan penelitian Hegazy et al pada tahun 2013 dijumpai 90% pasien skin tag yang ikut dalam penelitian ditemukan kadar glukosa darah dan HBA1c yang normal.44 Sedangkan berdasarkan penelitian Salem et al pada tahun 2013 juga dikatakan tidak dijumpai peningkatan post-prandial glukosa darah, kadar glukosa darah puasa, IMT serta kolesterol darah dengan banyaknya jumlah skin tag.13 Hasil penelitian Tosson et al pada tahun 2013 menunjukkan bahwa kadar glukosa darah puasa dan HbA1C signifikan meningkat pada pasien skin tag dibandingkan kontrol.45
signifikan.46 Pada penelitian Shenoy et al dijumpai kadar glukosa darah puasa pada pasien skin tag lebih tinggi daripada kontrol namun tidak signifikan secara statistik.47
4.3. Hasil Kadar Insulin Puasa pada Subjek Penelitian
Tabel 4.9 Hasil kadar insulin puasa pada subjek penelitian
Kadar Insulin Puasa Jumlah (n) % Rendah 4 12,1 Normal 23 69,7 Tinggi 6 18,2
Total 33 100
Berdasarkan tabel diatas umumnya kadar insulin puasa subjek penelitian normal yaitu sebanyak 69,7 %.
4.4. Hasil Resistensi Insulin pada Subjek Penelitian Tabel 4.10 Hasil kadar insulin puasa pada subjek penelitian
Tabel di atas menunjukkan bahwa rsistensi insulin pada pasien skin tag sebanyak (45,5%). Pada penelitian Rezzonico et al pada tahun 2009 melaporkan resistensi insulin sebanyak 82% pada pasien skin tag.6
4.5. Hubungan antara jumlah lesi dengan KGD, Insulin dan HOMA-IR Tabel 4.11 Hubungan jumlah lesi skin tag dengan KGD, Insulin dan HOMA-IR Variabel r p
KGD 0,465 0,006 Insulin 0,209 0,268 HOMA-IR 0,376 0,031
Hasil analisis hubungan dengan uji Spearman karena data tidak berdistribusi normal, didapatkan adanya hubungan yang signifikan (P=0,006) antara jumlah lesi dengan kadar glukosa darah dengan kekuatan hubungan (r) positif sebesar 0,46 yang menunjukkan hubungan tingkat sedang, dan juga adanya Resistensi Insulin (HOMA-IR) Jumlah (n) %
45,5 ≥2,6 15 45,5
< 2,6 18 54,5
korelasi yang signifikan antara jumlah lesi dengan skor HOMA yang mempunyai kekuatan hubungan (r) positif sebesar 0,38 yang menunjukkan hubungan tingkat sedang namun tidak ada hubungan yang signifikan antara jumlah lesi dengan kadar insulin (P= 0,268). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah lesi berkaitan erat dengan peningkatan kadar glukosa darah dan resistensi insulin. Maka hipotesis penelitian yang menyatakan semakin tinggi nilai resistensi insulin semakin banyak jumlah lesi skin tag dapat diterima.
meningkatkan insulin growth factor (IGF) 1 bebas dan penurunan IGFBP 3 sebagai efek mitogenik pada keratinosit.32
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Karakteristik pasien skin tag umumnya paling sering dijumpai pada perempuan (72,7%) kelompok usia terbanyak pada usia 41- 50 tahun (39,4%),suku terbanyak adalah suku Jawa 19 orang (57,6%), sebagian besar dijumpai riwayat keluarga (57,4%), lokasi lesi skin tag terbanyak regio colli (57,6%), jumlah lesi terbanyak 1-5 (75,8%), bentuk lesi terbanyak papul dan papul,filiform (24,2%), dan resistensi insulin sebanyak 45,5 %.
2. Didapatkan hubungan yang signifikan antara jumlah lesi dengan kadar glukosa darah puasa dengan kekuatan hubungan (r) positif sebesar 0,46 yang menunjukkan hubungan tingkat sedang, dan juga adanya hubungan yang signifikan antara jumlah lesi dengan skor HOMA-IR (resistensi insulin) yang mempunyai kekuatan hubungan (r) positif sebesar 0,38 yang menunjukkan hubungan tingkat sedang namun tidak ada hubungan yang signifikan antara jumlah lesi dengan kadar insulin.
5.2 Saran