HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Lahan Kritis
Kondisi lahan pada suatu wilayah menggambarkan keadaan bentuk lahan
di wilayah tersebut. Indrapuri yang secara geografis berada di kaki pegunungan
Bukit Barisan merupakan lahan-lahan terbuka yang umumnya didominasi oleh
padang rumput dan semak belukar. Lahan-lahan ini merupakan lahan milik
masyarakat yang digunakan sebagai lahan usahatani. Kondisi lahan terbuka
yang diusahakan sebagai lahan usahatani di Kecamatan Indrapuri dapat dilihat
pada Gambar 2.
a. Kondisi lahan sebelum pembersihan b. Pembersihan lahan usaha tani
Gambar 2. Kondisi lahan di Kecamatan Indrapuri
Hasil pengamatan terhadap kriteria tingkat kekritisan lahan di Kecamatan
Indrapuri berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan Direktorat RKT Dirjen
RRL No. 041/Kpts/V/1998 Departemen Kehutanan tahun 1998 disajikan pada
Tabel 5.
Tabel 5. Hasil pengamatan tingkat kekritisan lahan berdasarkan Kriteria
Direktorat RKT Dirjen RRL No. 041/Kpts/V/1998 Departemen
Kehutanan tahun 1998.
Lokasi Pengamatan/Desa
Kriteria (% Bobot)
Total
Skor Kekritisan Tingkat Produktivitas
(30) Lereng(20) Erosi (15) Batu-batuan (5) Manajemen (30)
Ds.Anuek Gle 1 4 3 1 3 250 Kritis
Ds.Reukih Dayah 1 4 3 1 3 250 Kritis
Ds.Krueng
Dari Tabel 5 menunjukkan bahwa tingkat kekritisan lahan pada tiga lokasi
pengamatan termasuk dalam kriteria kritis. Pada lokasi pengamatan Desa Aneuk
Glee dan Desa Reukih Dayah kondisi lahan tergolong kritis (total skor 250),
sedangkan untuk Desa Krueng Lam Kareung juga tergolong kritis (total skor
275). Indikator kekritisan tertinggi pada Desa Aneuk Glee dan Desa Reukih
Dayah lebih dikarenakan kondisi lahan yang lebih terbuka dengan tingkat batuan
yang lebih tinggi sehingga menyebabkan produktivitas yang rendah. Kondisi
batuan pada lokasi pengamatan seperti terlihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Kondisi batuan pada lahan lokasi penelitian
Berdasarkan hasil pengamatan di tiga lokasi dapat disimpulkan bahwa
sebagian besar lahan yang berada di Kecamatan Indrapuri umumnya berada
dalam kondisi lahan kritis dan agak kritis. Kekritisan ini juga dipengaruhi oleh
kurangnya vegetasi sebagai penutupan lahan sehingga lahan tersebut umumnya
terbuka. Vegetasi yang dijumpai didominasi jenis aren (Arenga pinata),
jamblang/juwet (Zyzygium cumini), cermai hutan (Phyllanthus emblica ), laban
(Vitex pubescen), rumput-rumputan (Grass), serta tanaman semak (Bush).
Sistem Agroforesti Pada Lahan Kritis
Hasil wawancara dan pengamatan terhadap sistem agroforestri yang
dilakukan pada lokasi penelitian, diperoleh bahwa pada saat awal melakukan
kegiatan usahatani kondisi lahan umumnya merupakan semak belukar dan
padang rumput. Kegiatan awal yang dilakukan oleh petani adalah pemagaran
yang merupakan keharusan dikarenakan budaya masyarakat sekitar yang
mengembalakan ternak kecil dan besar secara liar tanpa dikandangkan.
Pembersihan lahan dilakukan pada musim panas dimana semak belukar ditebas
dan dilakukan pembakaran. Pengolahan tanah biasanya hanya dilakukan pada
lahan bagian lembah yang dianggap lebih subur dibandingkan punggung bukit
yang ditutupi oleh rumput. Pada awal musim penghujan yaitu pada bulan
September, petani mulai melakukan penanaman tanaman palawija seperti cabai,
terong, timun, dan lainnya. Punggung bukit dan lereng umumnya dilakukan
penanaman tanaman tahunan dan tanaman berkayu. Tanaman pisang
merupakan pilihan utama untuk ditanam, karena masyarakat menganggap dapat
meningkatkan kelembaban tanah terutama pada musim kemarau. Selain itu
tanaman pinang merupakan pilihan petani untuk ditanam pada bagian lereng
bukit karena tanaman ini dapat bertahan pada tanah yang kesuburannya rendah.
Jenis pohon yang mampu bertahan pada kondisi kritis umumnya ditanam pada
punggung bukit seperti jati dan mahoni.
Secara temporal kegiatan usahatani awalnya dimulai dengan menanam
tanaman semusim atau palawija yang dipadukan dengan pohon jenis MPTs,
seiring perjalanan waktu tanaman pohon terutama jenis MPTs terlihat lebih
dominan di lokasi penelitian terutama di Desa Krueng Lam Kareung dan Desa
Aneuk Glee dimana tujuan akhir dari kegiatan usahatani adalah berupa kebun
campuran (sistem agroforestri). Berdasarkan komponen penyusunannya
agroforestri pada lahan kritis yang teridentifikasi dilakukan oleh masyarakat di
lokasi penelitian yaitu agrisilvikultur, silvopastura dan agrosilvopastura. Adapun
ketiga bentuk sistem agroforestri tersebut akan dibahas lebih lanjut.
Agrisilvikultur
Lahan kritis secara fisik memiliki constrain atau komponen penghambat
untuk melakukan kegiatan usahatani (misal; rendahnya tingkat kesuburan,
ketersediaan air dll). Hal ini merupakan pertimbangan bagi petani di dalam
melakukan kegiatan usahatani. Pertimbangan ini yang menyebabkan rendahnya
keinginan petani dilokasi penelitian untuk memproduktifkan lahan-lahan yang
mereka miliki, selain itu petani di lokasi penelitian umumnya juga memiliki lahan
yang relatif lebih subur yaitu di sekitar desa dan rumah mereka, yang jaraknya
lebih dekat dibandingkan lahan-lahan kritis yang mereka miliki.
Kegiatan usahatani yang dilakukan dengan memadukan jenis tanaman
berkayu atau berdaur panjang dengan jenis tanaman semusim (sistem
agrisilvikultur) pada lahan kritis membutuhkan pertimbangan tersendiri bagi
petani. Petani menyadari bahwa kesuburan lahan yang rendah merupakan faktor
penghambat dalam melakukan kegiatan usaha tani terutama untuk tanaman
semusim. Menanam tanaman semusim tidak mungkin dilakukan secara terus
menerus karena akan membutuhkan input yang tinggi terutama untuk pembelian
pupuk, untuk itu petani umumnya menanam tanaman semusim hanya pada awal
kegiatan membuka kebun, hal itu pun dilakukan hanya satu atau dua periode
musim sambil melakukan pemeliharan terhadap tanaman tahunan dan tanaman
berkayu.
Berkebun merupakan pekerjaan sambilan yang dilakukan oleh petani,
sedangkan pekerjaan usahatani utama adalah bersawah, hal ini dapat diketahui
melalui wawancara terhadap responden di Desa Aneuk Glee dan Desa Krueng
Lam Kareung dimana pekerjaan utama sebagian besar adalah petani yaitu
bertanam padi sawah, sehingga umumnya waktu yang dilakukan untuk kegiatan
berkebun hanya setengah hari. Jenis tanaman yang dipilih dalam kegiatan
berkebun merupakan jenis tanaman yang tidak menyita waktu penuh, yaitu
dengan menanam lahannya dengan jenis tanaman berkayu dan tanaman
tahunan yang tidak membutuhkan banyak waktu dalam perawatannya. Adapun
jenis tanaman dominan yang ditanam di dalam kebun berbentuk agrisilvikultur
menurut landscape dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 menunjukkan bahwa pemilihan jenis tanaman berkayu non-MPTs
di dalam landscape lebih diarahkan pada bagian punggung bukit, dimana secara
umum lahannya lebih terbuka dan didominasi oleh batuan (stone) sehingga
tingkat kesuburan lahannya lebih rendah. Pengalaman petani di dalam pemilihan
jenis mahoni dan jati memang sudah teruji lebih tahan untuk ditanam pada
punggung bukit, ditandai dengan sudah banyaknya tanaman mahoni dan jati
yang sudah besar dijumpai di sekitar lokasi penelitian. Selain itu jati dan mahoni
merupakan jenis tanaman pioner yang secara fisiologis dapat beradaptasi pada
lahan kritis. Penanaman dengan tanaman jenis non-MPTs seperti jati dan mahoni
lebih ditujukan untuk konservasi lahan. Pada punggung bukit apabila keadaan
lahan sudah kondusif bagi tanaman lain dilakukan perpaduan dengan jenis
tanaman MPTs, yang bertujuan sebagai pengganti apabila jenis-jenis tanaman
berkayu seperti jati dan mahoni nantinya ditebang, sehingga dapat
mengantisipasi lahan terbuka dan menjadi kritis lagi.
Jenis tanaman MPTs seperti kemiri, mangga, rambutan dan pinang di
dalam landscape ditanam pada bagian lereng dan lembah dimana tingkat
kesuburan tanahnya lebih baik daripada didaerah punggung bukit. Pemilihan
jenis MPTs selain bertujuan untuk ekonomis juga untuk tujuan konservasi lahan.
Tabel 6. Komponen penyusun kebun sistem agrisilvikultur menurut landscape
No Komponen Penyusun Letak Tujuan
1. 2. 3. 4. 5. Tanaman Berkayu Mahoni (Swietennia sp) Jati (Tectona grandis)
Rambutan (Nephelium lappaceum) Pinang (Areca catechu)
Nangka (Artocarpus integra)
Punggung, lereng Punggung, lereng Lereng, lembah Lereng, lembah Punggung, lereng Konservasi Konservasi Ekonomi/konservasi Ekonomi/konservasi Ekonomi/konservasi 1. Tanaman Tahunan
Pisang (Musa Sp) Punggung, lereng Ekonomi 1.
2.
Tanaman Semusim Jagung (Zea mays L) Cabai (Capsicum annum)
Lereng, lembah Lereng, lembah
Ekonomi Ekonomi
Tanaman tahunan yang umum ditanam oleh petani di tiga desa lokasi
penelitian yaitu pisang. Tanaman pisang dipilih karena dapat tumbuh dengan
baik pada lahan kritis dan juga asumsi petani dapat lebih meningkatkan
kelembaban tanah, selain itu tanaman pisang tidak begitu membutuhkan
perawatan dan secara ekonomis pemasarannya lebih mudah.
Tanaman semusim biasanya ditanam pada awal membuka kebun, dimana
keadaan unsur hara pada lahan yang baru dibersihkan masih mencukupi untuk
kegiatan penanaman tanaman semusim. Kegiatan ini tidak dapat dilakukan terus
menerus karena unsur hara pada lahan sudah berkurang, sehingga
membutuhkan input yang tinggi untuk pemupukan. Jenis tanaman semusim yang
sering ditanam adalah jagung, cabai, terong dan timun. Penanaman tanaman
semusim biasanya dilakukan pada bagian lembah, dimana tingkat kesuburan
tanahnya lebih baik daripada daerah punggung dan lereng. Kebun berbentuk
agrisilvikultur di lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar. 4. Kebun berbentuk agrisilvikultur dilokasi penelitian.
Silvopastura
Kecamatan Indrapuri secara geografis memiliki potensi yang besar untuk
lokasi pengembangan ternak dimana sumberdaya lahan yang luas sangat
mendukung. Bentangan alam yang berbukit-bukit kecil dengan ditumbuhi rumput
dan semak belukar merupakan kondisi yang cocok untuk pengembangan sektor
peternakan. Luas lahan penggembalaan/padang rumput yang ada di Kecamatan
Indrapuri seluas 3.255 ha ditambah dengan lahan yang sementara tidak
diusahakan berjumlah 1.350 ha (BPS Kabupaten Aceh Besar, 2006).
Pemanfaatan lahan berkelanjutan sendiri harus memperhatikan
kaidah-kaidah konservasi serta menguntungan secara ekonomi dan dapat diterima
secara sosial tanpa merusak lingkungan. Pola integrasi ternak di dalam sistem
agroforestri memiliki nilai lebih, disamping meningkatkan manfaat ekonomis juga
menjamin keberlanjutan lahan dengan perlakuan konservasi.
Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Besar (2007),
jenis ternak yang umumnya dipelihara oleh masyarakat Kecamatan Indrapuri
adalah kambing dengan jumlah 700 ekor dan sapi potong dengan jumlah 1.621
ekor jantan dan 3.797 ekor betina.
Sumberdaya lahan juga harus didukung dengan manajemen yang tepat
dalam rangka optimalisasi produktivitas. Ditemui tiga sistem manajemen ternak
yang diterapkan di lokasi penelitian yaitu :
1. Sistem tradisional; yaitu dengan melepaskan ternak pada pagi hari untuk
mencari makanan sendiri dan mengandangkannya pada sore hari. Sistem ini
dilakukan oleh sebagian besar petani di lokasi penelitian. Pada ternak sapi
yang betina umumnya diterapkan sistem ini agar terjadinya perkawinan dan
lebih cepat berkembang biak.
2. Sistem semi intensif; yaitu pemeliharaan ternak dengan cara pemeliharaan
pada padang penggembalaan tertentu yang sudah dipagari, kemudian
dikandangkan dan diberi pakan tambahan.
3. Sistem intensif yaitu pemeliharaan ternak dengan dikandangkan. Pada
sistem ini kebutuhan pakan disediakan penuh. Pakan (rumput gajah)
biasanya ditanam pada lahan tertentu kemudian dipotong untuk dijadikan
pakan ternak. Biasanya sistem ini bertujuan untuk penggemukan sapi jantan.
Lahan penggembalaan umumnya dipagari dengan pohon kuda-kuda
(Spondias dulce) dan pohon gamal (Gliricidia sephium) yang merupakan
komponen tanaman kehutanan yang dijadikan pakan bagi ternak. Selain itu
penanaman tanaman berkayu pada lokasi-lokasi tertentu juga ditujukan untuk
tempat ternak berteduh. Pakan ternak dari jenis rumput masih kurang
dibudidayakan di lokasi penelitian karena masih berharap dari rumput liar yang
tumbuh di padang penggembalaan, selain itu penanaman pakan seperti jenis
rumput gajah (Elephant grass) membutuhkan input yang tinggi terutama untuk
pemupukan. Bentuk silvopastura dilokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.
Agrosilvopastura
Identifikasi terhadap sistem agrosilvopastura secara alami sangat mudah
dilakukan dengan mengamati komponen yang berinteraksi didalamnya yaitu
komponen tanaman berkayu dengan tanaman semusim dan juga komponen
ternak pada unit manajemen yang sama dan dilakukan secara terencana.
Gambar. 5. Sistem silvopastura dilokasi penelitian
Sistem agrosilvopastura yang sudah adopted dengan lokasi lahan yang
kritis ditemui di lokasi penelitian, dimana umumnya sudah berbentuk kebun
campuran dengan komponen tanaman berkayu dijumpai sudah besar dan sudah
berumur lebih dari 15 tahun. Sementara itu pada daerah bagian lembah dari
kebun digunakan untuk komponen tanaman semusim secara permanen.
Komponen ternak yang menjadi pilihan adalah ternak sapi dan itik. Selanjutnya
komponen jenis tanaman berkayu, tanaman tahunan, tanaman semusim dan
ternak di dalam kebun berbentuk agrosilvopastura menurut landscape di lokasi
penelitian dapat dilihat pada Tabel 7.
Pengaturan letak jenis komponen agrosilvopastura terlihat diatur
sedemikian rupa sehingga masing-masing komponen dapat berinteraksi dengan
baik dan meghindari interaksi negatif. Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa
tanaman berkayu biasanya ditanam di sekitar pagar, punggung dan lereng yang
dipadukan dengan tanaman pisang sebagai tanaman tahunan. Sementara itu
untuk tujuan ekonomi dan konservasi, dilakukan penanaman rumput gajah untuk
pakan ternak pada bagian lereng searah kontur.
Tabel 7. Komponen penyusun kebun sistem agrosilvopastura menurut
Landscape
No Komponen Penyusun Letak Tujuan
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tanaman Berkayu Mahoni (Swietennia sp) Jati (Tectona grandis) Kemiri (Aleuritas moluccana) Mangga (Mangifera indica) Nangka (Artocarpus integra) Rambutan (Nephelium lappaceum) Pinang (Areca catechu)
Punggung, lereng Punggung, lereng Lereng Lereng Lereng Lereng, lembah Punggung, lereng Konservasi Konservasi Ekonomi/konservasi Ekonomi/konservasi Ekonomi/konservasi Ekonomi/konservasi Ekonomi/konservasi 1. 2. Tanaman Tahunan Pisang (Musa sp)
Kakao (Theobroma cacao L)
Punggung, lereng Lereng Ekonomi Ekonomi 1. 2. Tanaman Semusim Cabai (Capsicum annum) Terung (Solanum melongena)
Lembah Lembah
Ekonomi Ekonomi 1.
Tanaman Pakan Ternak
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) Lereng, lembah Ekonomi/konservasi 1.
2.
Ternak
Sapi (Bos taurus sp) Itik (Anas plathyrhynchos)
Punggung,lereng Lembah
Ekonomi Ekonomi
Pada bagian lembah diperuntukkan untuk tanaman-tanaman semusim
sehingga terhindar dari persaingan dari tanaman berkayu dan tanaman tahunan.
Penanaman tanaman semusim biasanya dilakukan secara kontinyu sesuai
dengan waktu yang dimiliki petani. Jenis tanaman semusim sendiri biasanya
dipilih dari jenis tanaman yang tidak begitu membutuhkan perawatan.
Kandang ternak sapi sendiri biasanya ditempatkan pada bagian
punggung dan lereng dari kebun sehingga kandang akan ternaungi oleh
tanaman berkayu. Ternak sapi yang dipelihara dikebun biasanya berjumlah 1-3
ekor sesuai dengan kemampuan petani. Tujuan pemeliharaan sapi adalah untuk
penggemukan sehingga petani lebih memilih sapi jantan. Pemeliharaan sapi
dengan dikandangkan dan pakan diberikan secara intensif yang berasal dari
kebun. Kandang ternak itik dibangun pada bagian lembah dari kebun, untuk itu
biasanya dibuat kolam-kolam atau sumur yang bertujuan ganda yaitu untuk
kebutuhan ternak terhadap air juga untuk menyiram tanaman semusim.
Komponen ternak di areal kebun memberikan interaksi mutualisme atau
saling menguntungkan dimana pakan ternak diperoleh dari tanaman di dalam
kebun dan kotoran ternak dijadikan pupuk organik untuk tanaman. Jenis tanaman
yang biasa dijadikan pakan ternak sapi di kebun yaitu rumput, pohon pisang,
pohon kuda-kuda dan pohon gamal yang biasanya dijadikan tanaman pagar.
Bentuk agrosilvopastura di lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Bentuk agrosilvopastura yang ada di lokasi penelitian
Subsistem lahan
Hasil wawancara dengan responden menunjukkan 90 % responden
memiliki luas lahan lebih dari 1 ha dengan status hak milik. Lahan yang mereka
miliki jaraknya antara 500 m s/d 1 Km dari perkampungan. Selain itu responden
umumnya juga memiliki lahan lain, yaitu sawah yang menjadi matapencarian
utama mereka.
Topografi di lokasi kebun umumnya landai yaitu dengan tingkat
kelerengan 8-15%. Tingkat kesuburan lahan pada kebun tergolong rendah,
ditandai dengan telah terjadi erosi berat dan banyaknya batuan diatas
permukaan tanah.
Sumber air di kebun sangat terbatas terutama pada musim panas dimana
umumnya petani masih menggantungkan usahataninya dari hujan. Hanya 37 %
responden yang memiliki sumur di kebun sementara 53 % berharap dari hujan.
Constrain
pada subsistem lahan adalah tingkat kesuburan lahan yang rendah,
dan ketersedian air yang tidak mencukupi terutama pada musim panas.
Subsistem tenaga kerja
Pekerjaan utama responden di lokasi penelitian 60 % merupakan petani
dan sisanya terbagi di sektor lain. Pekerjaan tani yang utama adalah bersawah
dimana ketika musim bersawah petani umumnya meninggalkan aktivitas di
kebun, setelah selesai panen di sawah baru petani memanfaatkan waktunya di
kebun. Dari data 30 orang responden hanya 7 % yang bekerja full time di kebun
sementara 93 % bekerja setengah hari di kebun. Selanjutnya didapati bahwa
untuk meningkatkan produksi, resonden umumnya lebih menginginkan tenaga
kerja daripada lahan, ini menunjukkan bahwa kurangnya tenaga kerja merupakan
constrain
untuk meningkatkan produktivitas.
Kebun mendatangkan orang bekerja umumnya untuk keperluan
pembersihan lahan, selain itu biasanya dikerjakan sendiri bila ada waktu luang.
Pekerjaan utama laki-laki di kebun yaitu pada saat pembersihan lahan dan
pemeliharaan, sementara pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan di kebun
yaitu kegiatan pemanenan dan pasca panen.
Subsistem dana
Pengeluaran utama keluarga yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup
hariannya, dimana saat ini harga sembako sangat menyulitkan kehidupan petani,
terutama pasca tsunami dimana dengan banyaknya kehadiran NGOs ternyata
membawa dampak tidak langsung terhadap mahalnya harga-harga bahan pokok.
Selain itu kebutuhan untuk anak-anak sekolah juga menjadi perhatian dari
responden.
Pendapatan utama responden di lokasi penelitian yaitu dari bertani padi
sawah, sedangkan penghasilan lain diperoleh dari kebun, jasa dan dagang. Dari
wawancara yang dilakukan ternyata responden mempunyai penghasilan
tergolong rendah dimana sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, hal ini merupakan faktor penghambat dalam meningkatkan
produktifitas kebun.
Di lokasi penelitian umumnya masyarakat memiliki ternak sapi yang
biasanya ditujukan sebagai tabungan. Tabungan dalam bentuk ternak ini
dipersiapkan untuk tujuan-tujuan tertentu misalnya untuk biaya menyekolahkan
anak, pernikahan anak atau untuk kebutuhan hidup pada masa-masa sulit.
Subsistem produksi makanan
Produksi makanan utama responden yaitu bertanam padi sawah, dimana
keluarga mengarahkan untuk menghasilkan kebutuhan pokok akan tetapi sering
gagal melakukannya, hal ini disebabkan karena petani biasanya menjual hasil
panen padinya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lainnya, sehingga tidak
mencukupi lagi untuk kebutuhan hidupnya. Adapun strategi yang dilakukan
petani untuk menutupi kekurangan terhadap makanan pokok yaitu dengan
berkebun atau berternak. Adapun faktor penghambat dalam produksi makanan
pokok yaitu besar input yang dikeluarkan terutama untuk pembelian pupuk yang
semakin hari semakin tinggi, sementara harga jual hasil panen padi tidak
mengalami peningkatan yang cukup berarti.
Subsistem kebijakan pembangunan dan infrastruktur
Melihat sumbangan sektor pertanian yang mendominasi
sumbangan sektoral, maka dapat dipastikan bahwa pengembangan
bidang pertanian merupakan hal utama yang dilakukan oleh pemerintah
Kabupaten Aceh Besar dimana arahan ditujukan kepada bidang
tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perkebunan serta
kehutanan (BAPPEDA Kabupaten Aceh Besar. 2006)
Didukung sumberdaya lahan yang luas kemungkinan untuk
pengembangan sektor pertanian masih sangat memungkinkan. Adapun
program Kabupaten Aceh Besar tahun 2007 yang dituangkan di dalam
program aksi bersama meliputi :
1. Peningkatan kelembagaan.
2. Pengembangan tanaman palawija dan holtikultura seluas 10.125 Ha.
3. Program peningkatan ketahanan pangan.
5. Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Petani, dengan kegiatan
kredit usaha tani.
6. Pengembangan tanaman perkebunan dilaksanakan pada lahan – lahan
tidur, lahan alang – alang dan lahan marginal lainnya yang tersebar pada
beberapa kecamatan.
Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menyadari potensi yang dimiliki untuk
pengembangan pertanian masih besar peluangnya terutama dalam hal
memanfaatkan lahan-lahan yang selama ini belum dikelola dengan optimal.
Data dari Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Besar didapati bahwa
pemanfaatan lahan-lahan kritis di Kabupaten Aceh Besar ditujukan untuk
kegiatan hutan rakyat pola block grant dengan luas 900 ha, dengan komposisi
tanaman MPTs 40 % dan tanaman non-MPTs 60 %. Program ini tentu saja
ditujukan untuk mengurangi lahan kritis, meningkatkan produktifitas lahan dan
peningkatan ekonomi masyarakat. Dinas Perkebunan Aceh Besar memanfaatkan
lahan-lahan kritis untuk kegiatan pengembangan kelapa sawit dimana target
penanaman hingga tahun 2012 yaitu seluas 6.000 ha. Penanaman sawit ini
dilakukan pada lahan-lahan masyarakat yang selama ini diterlantarkan. Dinas
Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura melakukan Pengembangan
tanaman palawija dan holtikultura seluas 10.125 ha, termasuk didalamnya
lahan-lahan yang selama ini kurang produktif. Dinas Peternakan memanfaatkan
lahan lahan kritis untuk pengembangan padang penggembalaan seluas 51.256
ha dan kebun rumput seluas 599 ha.
Dari data di atas dapat dilihat bahwa arahan kebijakan pemerintah yang
mendukung untuk memanfaatkan lahan kritis dengan sistem agroforestri. Akan
tetapi dibutuhkan singkronisasi dari berbagai stakeholder dalam pemanfaat lahan
kritis ini dengan sistem agroforestri.
Infrastruktur sangat mendukung dalam proses produksi, akan baik dan
lancar produksi jika faktor pendukungnya juga baik. Peningkatan produktifitas
lahan terutama kebun, dibutuhkan akses yang baik yaitu sarana jalan menuju ke
kebun dan dari kebun ke pasar.
Akses masyarakat ke kebun dan dari kebun ke pasar di lokasi penelitian
tergolong baik, dimana dijumpai jalan-jalan pengerasan dan jalan setapak yang
ditemui memudahkan akses masyarakat dalam melakukan kegiatan usaha tani.
Selain itu pemasaran hasil kebun terutama jenis buah-buahan seperti mangga,
rambutan dan nangka sangat mudah pemasarannya karena Kecamatan
Indrapuri memiliki sentra-sentra penjualan komuditas tersebut. Sarana jalan ke
kebun dan pasar dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Sarana jalan ke kebun dan pasar
Evaluasi Kesesuaian Lahan Agroforestri
Karakteristik lahan di suatu wilayah dapat berfungsi sebagai indikator
kondisi lahan di wilayah tersebut. Data sifat kimia dan biofisik tanah dari hasil
analisis laboratorium Balai Penelitian Tanah dan Agroklimat (BALITANAK) Bogor
(Lampiran 4.) dan dideskripsikan berdasarkan Petunjuk Teknis Pengamatan
Tanah (Balai Penelitian Tanah, 2004) digunakan untuk evaluasi kesesuaian
lahan. Karakteristik lahan dan persyaratan karakteristik lahan untuk berbagai
jenis komponen penyusun didalam sistem agroforestri, dapat dilihat pada
Lampiran 6 kriteria kesesuaian lahan untuk sistem agrisilvikultur, Lampiran 7
kriteria kesesuaian lahan untuk sistem silvopastura, dan Lampiran 8 kriteria
kesesuaian lahan untuk sistem agrosilvopastura.
Evaluasi kesesuaian lahan di lokasi penelitian dilakukan dengan melakukan
kecocokan antara kualitas dan karakteristik lahan dengan persyaratan
penggunaan tertentu atau persyaratan tumbuh tanaman yang akan
dikembangkan. Dalam rangka untuk keperluan analisis karakteristik lahan
dilakukan pengambilan sampel tanah di tiga titik pengamatan yang sistem
penggunaan lahannya berbentuk agrisilvikultur di Desa Aneuk Glee, hal ini
dilakukan karena umumnya di Desa ini petani melakukan kegiatan berkebun
dengan sistem agrisilvikultur. Pengambilan sampel tanah untuk penggunaan
lahan sistem silvopastura di lakukan di Desa Reukih Dayah, dengan
pertimbangan bahwa pada saat identifikasi penggunaan lahan dijumpai bahwa
pada umumnya di Desa tersebut lahan dimanfaatkan untuk kegiatan beternak
sapi. Pengambilan sampel tanah dengan bentuk penggunaan lahan
agrosilvopastural dilakukan di Desa Krueng Lam Kareung, dengan pertimbangan
bahwa di Desa ini terdapat kebun berbentuk agrosilvopastura yang sudah
adopted
di Desa ini. Sampel tanah untuk masing-masing bentuk penggunaan
lahan diambil di beberapa titik yang mewakili kemudian dikompositkan menjadi
satu sampel tanah untuk masing-masing bentuk penggunaan lahan.
Syarat-syarat tumbuh dari jenis-jenis tanaman yang umum
dibudidayakan di lokasi penelitian menurut bentuk penggunaan lahan ditabulasi
untuk keperluan evaluasi lahan. Persyaratan yang digunakan adalah persyaratan
berdasarkan Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian
(Djaenudin et al. 2003).
Hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk jenis tanaman yang penggunaan
lahannya berbentuk agrisilvikultur pada Tabel 8. Komponen tanaman berkayu
dan tanaman tahunan tingkat kesesuaiannya tergolong cukup sesuai (S2),
dimana yang menjadi faktor pembatas untuk tanaman jenis jati (Tectona grandis)
dan pisang (Musa sp) yaitu bahaya erosi dan penyiapan lahan karena banyaknya
singkapan batu di permukaan tanah. Untuk pohon mahoni (Swietennia sp) faktor
pembatas yaitu bahaya erosi. Pohon nangka (Artocarpus integra) dengan faktor
bembatas yaitu retensi hara, bahaya erosi dan penyiapan lahan. Rambutan
(Naphelium lappaceum) yang menjadi faktor pembatas yaitu ketersediaan air,
retensi hara, bahaya erosi dan penyiapan lahan. Pinang (Areca catechu) yang
menjadi faktor pembatas yaitu ketersedian air dan bahaya erosi. Faktor
pembatas untuk tingkat S2 seperti retensi hara dapat diperbaiki dengan
pemberian input pupuk, pengapuran, pengolahan tanah atau sebagainya yang
biasanya dapat diatasi oleh petani.
Tanaman jagung (Zea mays) dan cabai merah (Capsicum annum) tingkat
kesesuaiannya tergolong S3 atau sesuai marjinal, dimana faktor pembatasnya
yaitu ketersediaan air. Faktor pembatas ini akan berpengaruh terhadap
produktifitasnya.
Tabel 8.Tingkat kesesuaian lahan berbagai jenis tanaman pada sistem agrisilvikultur
Karakteristik Lahan Jenis Tanaman
Jati Mahoni Nangka Rambutan Pinang Pisang Jagung Cabai merah Temperatur rerata (tc) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S2 S1
Ketersediaan air (wa) S1 S1 S1 S2 S2 S1 S3 S3
1. Curah hujan (mm) S1 S1 S1 S2 S2 S1 S3 S3
2. Kelembaban udara (%)
3. Lama masa kering (bulan)
Ketersediaan Oksigen (oa) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1
Drainase S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 Media perakaran (rc) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 1. Tekstur tanah S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 2. Bahan kasar (%) 3. Kedalaman efektif (cm) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 Retensi hara (nr) S1 S1 S2 S2 S1 S2 S2 S2 1. KTK liat (cmol) S2 S2 S2 S2 S2 2. Kejenuhan basa (%) S1 S1 S1 S1 S1 3. pH H2O S1 S1 S1 S1 S1 S1 S2 S2 4. C - Organik (%) S2 S2 S1 S2 S1 S1 Tosisitas (xc) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 Salinitas (ds/m) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1
Bahaya erosi (eh) S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2
1. Lereng (%) S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 2.Bahaya erosi S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 Bahaya banjir (fh) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 1. Genangan S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 Penyiapan lahan (lp) S2 S2 S2 S2 S2 S2 1. Batuan di permukaan (%) S2 S2 S2 S2 S2 S2 2.Singkapan batuan (%) S2 S2 S2 S2 S2 S2
Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa komponen penyusun sistem silvopastura
untuk tanaman berkayu tingkat kesesuaian lahan tergolong cukup sesuai (S2)
dimana untuk jati yang menjadi faktor pembatas yaitu retensi hara, bahaya erosi
dan penyiapan lahan. Ketiga faktor pembatas dapat diperbaiki dengan
pengelolan lahan yang tepat yaitu penanaman searah kontur, pemupukan,
pengapuran dan penyiapan lahan yang tepat pada daerah berbatu. Untuk
tanaman mahoni yang menjadi faktor pembatas yaitu ketersediaan air, retensi
hara dan bahaya erosi. Pada tanaman tahunan pisang tingkat kesesuai tergolong
S2 dengan faktor pembatas yang cukup banyak yaitu media perakaran, retensi
hara, toksisitas, bahaya erosi dan penyiapan lahan. Hasil evaluasi kesesuaian
lahan untuk jenis tanaman pada sistem silvopastura dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Tingkat kesesuaian lahan berbagai jenis tanaman pada sistem
silvopastura
Karakteristik LahanJenis tanaman
Jati Mahoni Pisang Rumput
gajah Temperatur rerata (tc) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 Ketersediaan air (wa) S1 S2 S1 S1
1. Curah hujan (mm) S1 S2 S1 S1
2. Kelembaban udara (%) S1 S1
3. Lama masa kering (bulan) S1 S1 S1
Ketersediaan Oksigen (oa) S1 S1 S1 S1
Drainase S1 S1 S1 S1 Media perakaran (rc) S1 S2 S2 1. Tekstur tanah S1 S1 S1 2. Bahan kasar (%) S2 S2 3. Kedalaman efektif (cm) S1 S1 S1 S1 Retensi hara (nr) S2 S2 S2 S3 1. KTK liat (cmol) S2 S2 2. Kejenuhan basa (%) S1 S1 3. pH H2O S2 S2 S2 S3 4. C - Organik (%) S1 S1 Tosisitas (xc) S1 S1 S2 S1 Salinitas (ds/m) S1 S1 S2 S1
Bahaya erosi (eh) S2 S2 S2 S2
1. Lereng (%) S2 S2 S2 S2 2.Bahaya erosi S2 S2 S2 S2 Bahaya banjir (fh) S1 S1 S1 S1 1. Genangan S1 S1 S1 S1 Penyiapan lahan (lp) S2 S2 S2 1. Batuan di permukaan (%) S2 S2 S2 2.Singkapan batuan (%) S2 S2 S2
Bentuk penggunaan lahan silvopastura, tanaman utama yang diharapkan
adalah dari rumput gajah, akan tetapi disini terlihat bahwa tanaman rumput gajah
memiliki tingkat kesesuain lahan sesuai marjinal atau S3, dimana yang menjadi
faktor pembatas yaitu retensi hara. Kesesuaian potensialnya dapat ditingkatkan
menjadi cukup sesuai atau S2 dengan pemberian pupuk dan pengapuran, akan
tetapi hal ini menjadi pertimbangan bagi petani karena akan meningkatkan input
di dalam produksinya.
Hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk jenis tanaman yang penggunaan
lahannya berbentuk agrosilvopastura dapat dilihat pada Tabel 10. Komponen
tanaman berkayu jati (Tectona grandis), mahoni (Swietennia sp), kemiri
(Aleuritas moluccana), memiliki tingkat kesesuaian lahan tergolong S2 atau
cukup sesuai, sedangkan mangga (Mangifera indica), nangka (Artocarpus
integra
), rambutan (Naphelium lappaceum), pinang (Areca catechu) tergolong
tingkat S3 atau sesuai marjinal. Tanaman tahunan pisang (Musa sp), kakao
(Theobroma cacao L) dan pakan ternak rumput gajah (Pennisetum purpureum),
dengan tingkat kesesuaian tergolong sesuai marjinal S3.
Pada Tabel 10 juga dapat dilihat bahwa faktor penghambat utama pada
lahan berbentuk agrosilvopastura ini adalah media perakaran dan retensi hara,
dimana untuk media perakaran terutama tekstur tanah tidak dapat diperbaiki,
akan tetapi untuk retensi hara dapat diperbaiki dengan kegiatan pengapuran,
penambahan organik dan pemupukan. Perbaikan terhadap faktor penghambat
yang dapat diperbaiki akan menaikkan kesesuaiannya satu tingkat misalkan dari
S3 sesuai marjinal menjadi S2 atau cukup sesuai.
Tabel 10.Tingkat kesesuaian lahan berbagai jenis tanaman pada sistem agrosilvopastura
Karakteristik Lahan
Jenis Tanaman
Jati Mahoni Nangka Mangga Rambutan Kemiri Pinang Pisang Kakao Cabai
merah Terung
Rumput gajah Temperatur rerata (tc) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S2 S2 S1 S1 Ketersediaan air (wa) S1 S2 S1 S2 S2 S2 S2 S1 S2 S3 S3 S2
1. Curah hujan (mm) S1 S2 S1 S2 S2 S1 S2 S1 S1 S3 S3 S1
2. Kelembaban udara (%) S1 S1 S1 S1 S2 S1 S2
3. Lama masa kering (bulan) S1 S1 S2 S1 S2
Ketersediaan Oksigen (oa) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1
Drainase S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 Media perakaran (rc) S3 S3 S3 S3 S2 S3 S3 S3 S3 S3 S2 1. Tekstur tanah S3 S3 S3 S3 S1 S3 S3 S3 S3 S3 S1 2. Bahan kasar (%) S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 3. Kedalaman efektif (cm) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 Retensi hara (nr) S1 S2 S3 S3 S3 S2 S2 S3 S3 S2 S3 S1 1. KTK liat (cmol) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 2. Kejenuhan basa (%) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 3. pH H2O S2 S2 S2 S1 S2 S2 S1 S1 S3 S1 S1 S1 4. C - Organik (%) S3 S3 S3 S1 S2 S3 S3 S2 S3 S1 Tosisitas (xc) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 Salinitas (ds/m) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1
Bahaya erosi (eh) S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2
1. Lereng (%) S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 2.Bahaya erosi S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 Bahaya banjir (fh) S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 1. Genangan S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 Penyiapan lahan (lp) S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 1. Batuan di permukaan (%) S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 2.Singkapan batuan (%) S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2 S2
Analisis Finansial
Sistem agroforestri menghasilkan bermacam-macam produk yang jangka
waktu pemanenannya berbeda, di mana paling sedikit satu jenis produknya
membutuhkan waktu pertumbuhan yang lebih dari satu tahun. Selain itu untuk
melihat sejauh mana suatu usaha agroforestri memberikan keuntungan, maka
analisis yang paling sesuai dipakai adalah analisis proyek yang berbasis
finansial.
Analisis finansial pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui seberapa
besar manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan, berapa keuntungannya,
kapan pengembalian investasi terjadi dan pada tingkat suku bunga berapa
investasi itu memberikan manfaat. Melalui cara berpikir seperti itu maka harus
ada ukuran-ukuran terhadap kinerjanya (Suharjito et al. 2003).
Ukuran yang digunakan yaitu Net Present Value (NPV), Benefit Cost
Ratio
(BCR) dan Internal Rate of Return (IRR). Tingkat suku bunga yang
digunakan untuk analisis finansial ini adalah 8% sesuai dengan tingkat suku
bunga Bank riil saat ini. Umur yang digunakan yaitu 20 tahun dengan asumsi
bahwa untuk jenis-jenis tanaman MPTs umur ekonomisnya mulai terjadi
penurunan dan tanaman non-MPTs sudah dapat dilakukan pemanenan.
Asumsi-asumsi yang digunakan untuk analisis finansial terdapat pada Lampiran 9.
Berdasarkan Analisis finansial berbagai sistem agroforestri pada
Lampiran 10, Lampiran 11 dan Lampiran 12, diperoleh hasil analisis finansial
terhadap sistem agroforestri di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Hasil analisis finansial sistem agroforestri di Kecamatan Indrapuri.
Kriteria Agrisilvikultur Silvopastura Agrosilvopastura
Total Biaya/Cost Rp. 82.859.500,- Rp.324.821.500,- Rp. 165.665.650,- Total Benefit Rp.254.925.000,- Rp.598.800.000,- Rp. 557.425.000,- Keuntungan Nominal Rp.163.065.500,- Rp.273.978.500,- Rp. 391.759.350,- Biaya terdiskon Rp. 44.399.881,- Rp.167.949.175,- Rp. 87.100.392,- Benefit terdiskon Rp. 99.774.291,- Rp.252.060.960,- Rp. 234.997.186,- NPV Rp. 55.374.410,- Rp. 84.111.784,- Rp. 147.896.794,- BCR 2.2 1.5 2.7 IRR 31% 38% 46%
Berbagai bentuk penggunaan lahan di atas dapat dilihat bahwa total biaya
yang paling besar dikeluarkan yaitu pada sistem silvopastura dikarenakan
besarnya modal yang dikeluarkan untuk pembelian bakalan ternak sapi.
Demikian juga dengan benefit atau manfaat yang diperoleh menunjukkan yang
terbesar terjadi pada sistem silvopastura, akan tetapi keuntungan terbesar
ditunjukkan oleh sistem agrosilvopastura demikian juga untuk nilai NPV tertinggi
ditunjukkan oleh sistem agrosilvopastura dengan nilai BCR yaitu 2.7, dengan
NPV per hektar pertahun yaitu Rp. 7.394.840,-.
NPV per hektar pertahun menunjukkan bahwa sistem agrisilvikultur yang
paling rendah yaitu Rp. 2.768.721,-, nilai ini tergolong rendah dibandingkan
sistem yang lain, akan tetapi setimpal dengan waktu kerja yang diberikan oleh
petani, dimana kebun merupakan pekerjaan sambilan sementara pertanian
utama yaitu bertanam padi sawah. Untuk sistem silvopastura dengan NPV
perhektar pertahun Rp. 4.205.589,-, walaupun dilakukan juga hanya sebagai
pekerjaan sambilan nilainya lebih tinggi dari sistem agrisilvikultur, hal ini
disebabkan oleh biaya/cost yang dikeluarkan lebih besar sehingga
penghasilannya juga lebih besar, akan tetapi jika dibandingkan nilai BCR nya,
sistem agrisilvikultur lebih baik dengan nilai 2.2 dibanding sistem silvopastura
yang hanya 1.5.
Sistem agrosilvopastura dengan nilai NPV per hektar pertahun Rp.
7.394.840,- lebih baik dibandingkan sistem lainya, ini juga ditunjukkan oleh nilai
BCR nya mencapai 2.7, ini mengindikasikan bahwa biaya/cost yang rendah
dapatkan hasil/benefit yang tinggi. Hasil analisis finansial sistem agroforestri di
Kecamatan Indrapuri, diperoleh nilai IRR≥nilai discount rate (i), nilai NPV > 0
(positif), dan B/C Ratio ≥ 1 untuk semua bentuk penggunaan lahan. Kesimpulan
yang dapat diambil bahwa semua sistem agroforestri berdasarkan sistem
penyusunnya baik itu berbentuk agrisilvikultur, silvopastura dan agrosilvopastura
layak untuk dilaksanakan.
Pendapat Masyarakat Terhadap Sistem Agroforestri
Karakteristik masyarakat
Masyarakat desa yang menjadi responden dalam penelitian ini berasal dari
tiga desa dalam Kecamatan Indrapuri yaitu Desa Aneuk Glee, Desa Reukih
Dayah dan Desa Krueng Lam Kareung yang terdiri dari 26 orang laki-laki (87%)
dan 4 perempuan (13%). Tingkat pendidikan responden pada umumnya sudah
cukup baik. Hal ini tercermin dari tingkat pendidikan responden yang merata dari
tingkat SD (27%), SLTP (30%), SMU (37%) sedangkan yang sampai Perguruan
Tinggi hanya berjumlah 2 orang (7%). Uraian tentang karakteristik masyarakat
yang menjadi responden disajikan pada Tabel 12.
P
ekerjaan utama responden umumnya pada sektor pertanian. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa mata pencaharian responden pada sektor
pertanian sebesar 60 %, pedagang 7%, PNS 7% serta sektor lainnya sebesar
27%. Selain bermata pencaharian utama sebagai petani sebagian dari mereka
juga mempunyai pekerjaan sampingan seperti berdagang atau jualan 13% dan
jasa 13%. Hal ini mereka lakukan untuk menambah penghasilan keluarga
sehingga mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih
tinggi. Sedangkan responden yang menjadikan usahatani sebagai pekerjaan
sampingan sebesar 40%. Semua responden berasal dari suku Aceh dengan
lama tinggal responden di lokasi penelitian <5 tahun sebanyak 13%, dengan
range
lama tinggal 5-10 th sebesar 27% dan > 10 th sebesar 60%, namun tidak
semua sebagai penduduk asli melainkan warga Aceh dari wilayah lain yang
kemudian tinggal dan menetap di lokasi tersebut.
Tabel 12. Karakteristik responden di Tiga Desa Kecamatan Indrapuri
No. Karakteristik KriteriaAneuk Glee Reukih Dayah Kr. Lam Kareung Total n % n % n % n % 1. Jenis kelamin L 9 90 8 80 9 90 26 87 P 1 10 2 20 1 10 4 13 Total 10 100 10 100 10 100 30 100 2. Umur <35 Th 3 30 2 20 2 20 7 23 35-44 Th 4 40 4 40 3 30 11 37 45-54 Th 2 20 2 20 4 40 8 27 55-64 Th 1 10 2 20 1 10 4 13 >65 th 0 - 0 - 0 - 0 0 Total 10 100 10 100 10 100 30 100 3. Pendidikan SD 2 20 3 30 3 30 8 27 SMP 3 30 4 40 2 20 9 30 SMU 4 40 3 30 4 40 11 37 PT 1 10 0 - 1 10 2 7 Total 10 100 10 100 10 100 30 100 4. Pekerjaan
utama Petani Pedagang 7 70 5 50 6 60 18 60 0 - 1 10 1 10 2 7
PNS 1 10 0 - 1 10 2 7
Lainnya 2 20 4 40 2 20 8 27
Total 10 100 10 100 10 100 30 100
5. Pekerjaan
sampingan Bertani Dagang (jualan) 3 30 5 50 4 40 12 40 1 10 1 10 2 20 4 13
Jasa 2 20 1 10 1 10 4 13
Tidak ada pekerjaan 4 40 3 30 3 30 10 33
Total 10 100 10 100 10 100 30 100 6. Pendapatan <1.000.000 6 60 6 60 5 50 17 57 1.000.000 - 2.000.000 3 30 2 20 4 40 9 30 >2.000.000 1 10 2 20 1 10 4 13 Total 10 100 10 100 10 100 30 100 7. Lama tinggal <5 th 2 20 0 - 2 20 4 13 5-10 th 3 30 4 40 1 10 8 27 >10 th 5 50 6 60 7 70 18 60 Total 10 100 10 100 10 100 30 100
Pendapat masyarakat terhadap rehabilitasi lahan kritis dengan sistem
agroforestri
Pendapat masyarakat adalah pandangan mereka terhadap usahatani di
lahan pertanian mereka. Pendapat masyarakat dapat diketahui dari keinginan
dan pandangan mereka terhadap kegiatan usahatani mereka serta keinginan
mereka untuk tetap berusaha pada sektor pertanian tersebut. Pendapat
masyarakat terhadap rehabilitasin kritis dengan sistem agroforestri di lokasi
penelitian disajikan pada Tabel 13.
Masyarakat yang menjadi responden semuanya memiliki usahatani di
desanya dan kesemua mereka menyatakan lahan usahataninya tergolong kritis.
Tabel 13. Pendapat masyarakat terhadap rehabilitasi lahan kritis dengan sistem
agroforestri di Tiga Desa Kecamatan Indrapuri
No Pertanyaan Jawaban responden Total Aneuk Glee Reukih Dayah Kr. Lam Kareung n % n % n % n %
Pendapat Terhadap Sistem Agroforestri
1. Apakah Saudara mengetahui mengenai lahan kritis
a. Ya 9 30 7 23 9 30 25 83
b. Tidak 1 3 3 10 1 3 5 17
2. Apakah Saudara setuju adanya usaha rehabilitasi
lahan kritis
a.Ya 10 33 10 33 10 33 30 100
b. Tidak
3. Apakah saudara mengetahui tentang
sistem agroforestri
a.Ya 5 17 2 7 3 10 10 33
b. Tidak (kemudian diberi penjelasan) 5 17 8 27 7 23 20 67 4. Apakah saudara setuju rehabilitasi lahan kritis
dengan sistem agroforestri
a.Ya 10 33 9 30 10 33 29 97
b. Tidak 1 3 1 3
5. Apakah saudara pernah menerima penyuluhan mengenai rehabilitasi lahan kritis dengan
sistem agroforestri
a.Ya 5 17 2 7 4 13 11 37
b. Tidak 5 17 8 27 5 17 18 60
6. Apakah saudara sudah menerapkan
sistem agroforestri
a.Sudah 9 30 6 20 10 33 25 83
b.Belum 4 13 4 13
7. Sistem agroforestri mana yang saudara lakukan/
inginkan
a.Menggabungkan tanaman berkayu dengan panenan 3 10 1 3 2 7 6 20 b. Menggabungkan tanman berkayu dengan ternak 2 7 7 23 1 3 10 33 c. Menggabungkan tanaman berkayu dengan panenan dan ternak 4 13 2 7 4 13 10 33
d. Kebun campuran 1 3 3 10 4 13
Hasil wawancara menunjukkan jumlah responden yang mengetahui
mengenai lahan kritis sebanyak 25 orang (83%) dan sebanyak 20 orang atau
(67%) tidak mengetahui mengenai sistem agroforestri dan setelah diberi
penjelasan sebagian besar responden (97%) setuju rehabilitasi lahan kritis
dengan sistem agroforestri.
Selanjutnya didapati sebagian besar responden sudah pernah
menerapkan sistem agroforestri, hanya di Desa Reukih Dayah 4 orang (13%)
yang belum menerapkan sistem agroforestri. Sistem agroforesti yang diterapkan
persentasenya juga merata, baik itu sistem agrisilvikultur, sistem silvopastura dan
agrosilvopastura. Selain dari kebijakan lokal yang memang sudah dari dulunya
menerapkan sistem agroforestri di dukung dengan adanya upaya dari instansi
terkait memberikan penyuluhan dan melakukan kegiatan agroforestri hampir
setiap tahunnya di Kecamatan Indrapuri.
Desain Agroforestri Pada Lahan Kritis
Desain sistem agroforestri ditujukan untuk memperbaiki sistem yang ada
dan memberi arahan terhadap penggunaan lahan untuk kegiatan usahatani,
yaitu dengan cara mengkaji apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan
performansi sistem dan sistem apa yang paling menjanjikan untuk dijadikan
usahatani, untuk itu diperlukan berbagai pertimbangan yang diperoleh dari
kegiatan prediagnosis dan diagnosis terhadap sistem yang ada, kemudian
mencari permasalahan yang terjadi pada sistem untuk kemudian dilakukan
intervensi terhadap sistem tersebut.
Pada kegiatan prediaknostik telah dilakukan pengamatan dan analisis
terhadap tapak atau kondisi lahan umum lokasi penelitian, dimana setelah
dilakukan pembobotan ulang terhadap tingkat kekritisan lahan ditemukan bahwa
pada lokasi penelitian umunya tergolong kritis. Kemudian pada identifikasi
terhadap sistem agroforestri yang ada dilokasi penelitian ditemukan tiga bentuk
sistem agroforestri berdasarkan komponen penyusunnya yaitu agrisilvikultur,
silvopastura dan agrosilvopastura.
Diagnosis terhadap lahan yang menjadi lokasi penelitian umumnya
bergelombang dengan bukit-bukit kecil yang terhampar begitu luasnya di
Kecamatan Indrapuri, ini memiliki potensi yang besar untuk pengembangannya.
Lahan yang umumnya tergolong kritis memerlukan input teknologi di dalam
pemanfaatannya baik itu untuk kehutanan, perkebunan, pertanian dan
peternakan. Pemanfaatan lahan secara monokultur akan sulit dikembangkan
pada daerah yang tingkat kesuburannya rendah, karena akan membutuhkan
input yang tinggi di dalam pengelolaannya. Telah banyak studi kasus dan
penelitian yang menunjukkan bahwa sistem agroforestri sangat efektif diterapkan
pada lahan-lahan kritis.
Adopsi teknologi dalam kegiatan usaha tani perlu diketahui constrain
spesifik yang ada di lokasi tersebut. Faktor penghambat itu sendiri ada yang
dapat dimanipulasi atau diperbaiki dengan teknologi akan tetapi ada juga faktor
penghambat yang sulit diperbaiki karena akan membutuhkan cost yang tinggi
dan sulit diperbaiki oleh petani, untuk itu diperlukan bantuan dari pihak terkait
untuk membantu petani di dalam pengelolaannya. Pada Tabel 14 menunjukkan
constrain
yang ada dilokasi penelitan dan teknologi yang memungkinkan untuk
diadopsi di dalam kegiatan usaha tani.
Tabel 14. Kendala dan alternatif input teknologi
No Kendala
Input
Teknologi
1. Ketiadaan dana untuk modal Kebijakan pemerintah dalam
pemanfaatan lahan kritis dan bantuan kredit lunak.
2. Kesuburan tanah rendah Penanaman tanaman berkayu,
pemupukan dan pemulsaan
3. Rendahnya serasah Pemupukan dan pemulsaan
4. Curah hujan musiman yang tidak mencukupi
Penanaman tanaman berkayu dan pembuatan sumur atau kolam penampungan air
5. Banyaknya batuan Pengolahan tanah
6. Rendahnya mutu makanan ternak Penanaman rumput pakan ternak
yang tahan terhadap kondisi lahan kritis
Percampuran jenis tanaman yang mengkombinasikan tanaman berkayu,
tanaman tahunan dan tanaman semusim ternyata memiliki dampak atau interaksi
yang terjadi di dalam sistem ini. Interaksi itu sendiri ada yang menguntungkan
dan ada yang merugikan, untuk itu diperlukan manajemen yang baik agar
interaksi negatif dapat dihindari sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
Beberapa bentuk agroforestri yang sudah adopted dilokasi penelitian,
menunjukkan bahwa dengan pengetahuan lokal petani telah mengaplikasikan
sistem agroforestri dalam berkebun. Pemilihan jenis-jenis tanaman berkayu
seperti jati dan mahoni menunjukkan bahwa kedua jenis ini sesuai dengan
kondisi lahan yang kritis, selain itu pemilihan tanaman Multipurpose trees (MPTs)
seperti pinang, rambutan, nangka, mangga, dan kemiri lebih disebabkan karena
harga jual yang bagus dan untuk pemasarannya juga mudah. Pemilihan jenis
tanaman tahunan seperti pisang dikarenakan bahwa pisang selain memperoleh
manfaat ekonomi yang relatif lebih cepat juga bertujuan untuk meningkatkan
kelembaban tanah. Penanaman tanaman semusim dilakukan pada masa-masa
tertentu, itupun hanya untuk kebutuhan sendiri dan pemilihan jenisnya lebih
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Keberhasilan agroforestri berbasis
pohon salah satunya didasarkan pada pemilihan jenis. Prinsip pemilihan jenis
pohon dalam agroforestri adalah ketepatan antara lokasi pemapanan dengan
karakteristik jenis terpilih serta nilai peruntukannya (Suryanto, 2005).
Dari pengetahuan lokal masyarakat didalam pemilihan jenis, serta
pengaturan tata letak, dipadu dengan hasil evaluasi lahan serta analisis finansial
berbagai komponen yang terdapat dalam sistem agroforestri, ada beberapa
rekomendasi yang dapat diberikan dalam pemanfaatan lahan-lahan kritis yang
ada di Kecamatan Indarpuri khususnya dan Kabupaten Aceh Besar pada
umumnya.
Berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian lahan maka direkomendasikan
jenis tanaman berkayu Non MPTs adalah jati dan mahoni karena tergolong
cukup sesuai (S2), untuk tanaman MPTs seperti rambutan, nangka, mangga,
pinang dan kemiri pada daerah tertentu tergolong sesuai marginal (S3), akan
tetapi dengan pemberian pupuk dapat ditingkatkan menjadi cukup sesuai (S2).
Demikian juga halnya untuk tanaman tahunan seperti pisang dan kakao dengan
pemberian pupuk dapat ditingkatkan kesesuaiannya menjadi cukup sesuai (S2).
Tanaman semusim umunya tergolong (S3) atau sesuai marginal, ini tentu saja
membutuhkan input yang cukup tinggi untuk pemupukan.
Hasil pengamatan dan wawancara didapati bahwa penanaman jenis
tanaman menurut landscape seperti terlihat pada Gambar 8, dimana umumnya
tanaman berkayu seperti jati dan mahoni akan lebih baik ditanam pada daerah
punggung bukit, karena sifatnya yang pionir dan lebih adopted pada kondisi
lahan yang ekstrim. Pada punggung bukit apabila keadaan lahan sudah kondusif
bagi tanaman lain maka dilakukan perpaduan dengan jenis tanaman MPTs, yang
bertujuan sebagai pengganti apabila jenis-jenis tanaman berkayu seperti jati dan
mahoni nantinya ditebang, sehingga dapat mengantisipasi lahan terbuka dan
menjadi kritis lagi.
Tanaman MPTs, tanaman tahunan dan pakan ternak lebih baik ditanam
pada bagian lereng dan lembah, dengan asumsi bahwa tingkat kesuburannya
lebih baik daripada di bagian punggung bukit. Perpaduan jenis tanaman sendiri
harus diperhitungkan agar tidak terjadi interaksi negatif antara tanaman berkayu
dan tanaman tahunan. Penanaman tanaman semusim dilakukan pada bagian
lembah yang mendapat cukup matahari, karena umunya tanaman semusim
membutuhkan matahari yang cukup banyak dalam pertumbuhannya.
Penanaman di daerah lereng harus memperhatikan kaidah konservasi,
yang didukung oleh bangunan konservasi seperti teras atau guludan dan
penanaman dilakukan searah kontur untuk menghindari erosi. Pembuatan
bangunan konservasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat
kelerengan lahan. Semakin tinggi tingkat kelerengan lahan maka semakin
dibutuhkan bangunan konservasi. Selanjutnya diketahui bahwa air menjadi
permasalahan tersendiri bagi petani, disarankan agar pada bagian lembah dari
kebun dilakukan pembuatan sumur atau kolam penampungan air agar pada
musim panas ketersedian air mencukupi untuk kebutuhan usahatani. Adapun
desain agroforestri pada lahan kritis menurut landscape dapat dilihat pada
Gambar 9.
Desain pada Gambar 8 dan Gambar 9 ditujukan untuk lahan yang relatif
bergelombang yang umum ada di lokasi penelitian. Dengan kondisi lahan yang
berbeda antara di punggung, lereng dan lembah, tentu dibutuhkan pertimbangan
dalam melakukan desain terutama mengenai perpaduan antar berbagai
komponen. Pada lahan ini pengaturan jenis dilakukan dengan menempatkan
jenis-jenis tanaman yang disesuaikan dengan kemampuannya untuk dapat
tumbuh dengan baik. Pengelompokan dilakukan dengan menanam tanaman
jenis berkayu non-MPTs seperti jati dan mahoni di daerah punggung bukit,
tanaman MPTs dan tahunan seperti nangka, rambutan, mangga, pisang, pinang
dan coklat, ditanam pada bahagian lereng dan tanaman semusim pada bahagian
lembah.
Kandang sapi
Gambar 8. Profil sistem agroforestri pada lahan kritis menurut landscape
Non-MPTS:Jati,MahoniTanaman MPTS, Tanaman Tahunan, Pakan ternak
Tanaman Semusim
Sumur/ Kolam penampungan