i
Bidang Ilmu :Kesehatan
LAPORAN PENELITIAN
HIBAH BERSAING TAHUN II
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
MELALUI PELATIHAN DAN IMPLEMENTASI ERGONOMI
UNTUK MENINGKATKAN
KUALITAS KESEHATAN PEMATUNG
DI DESA PELIATAN, UBUD, GIANYAR, BALI
OLEH:
Prof. Dr. I Made Sutajaya, M.Kes. (NIDN 0017126802)
Prof. Dr. Ni Putu Ristiati, M.Pd.(NIDN 0004015001)
Dibiayai dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)
Universitas Pendidikan Ganesha
dengan Nomor DIPA: 023.04.2.552581/2014
Tanggal 5 Desember 2013
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
ii HALAMAN PENGESAHAN Judul Penelitian Bidang Penelitian Ketua Peneliti a. Nama Lengkap b. NIP/NIK c. NIDN d. Jabatan Fungsional e. Jabatan Struktural f. Fakultas/Jurusan g. Pusat Penelitian h. Alamat Institusi i. Telpon/Faks/E-mail Waktu Penelitian
: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan dan Implementasi Ergonomi untuk
Meningkatkan Kualitas Kesehatan Pematung di Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali
: Kesehatan
: Prof. Dr. I Made Sutajaya, M.Kes. : 196812171993031003
: 0017126802 : Guru Besar : -
: MIPA/ Pendidikan Biologi : Universitas Pendidikan Ganesha : Jalan Udayana Singaraja Bali
: 081338193753/ [email protected]
: Tahun ke II dari rencana dua tahun Pembiayaan :
a. Tahun pertama b. Tahun kedua c. Tahun ketiga
d. Biaya dari instansi lain
: Rp. 47.250.000,- : Rp. 27.000.000,- : Rp. -
: tidak ada
Mengetahui, Singaraja, 25 Agustus 2014
Dekan Fakultas MIPA Ketua Peneliti,
Prof. Dr. Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si. Prof. Dr. I Made Sutajaya, M.Kes. NIP.19581231198601 1 005 NIP. 19681217199303 1 003
Menyetujui
Ketua Lembaga Penelitian
Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngurah Marhaeni, M.A. NIP. 19640326199003 2 002
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat’Nyalah maka Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahap II yang berjudul: “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan dan Implementasi Ergonomi untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan Pematung di Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali” dapat diselesaikan sesuai rencana. Dalam penulisan laporan penelitian ini, kami banyak mendapat masukan-masukan atau saran-saran dari berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penulisan laporan penelitian tersebut.
Kami menyadari sepenuhnya akan kekurangan isi laporan penelitian ini, sehingga dengan kerendahan hati kami mohon kritik dan saran untuk kelengkapan dan kesempurnaan laporan penelitian tersebut. Sebagai akhir kata kami berharap agar laporan penelitian ini bermanfaat terutama bagi mereka yang tertarik dengan masalah-masalah ergonomi di industri kecil, khususnya dalam bidang kesehatan pekerja.
Singaraja, Agustus 2014
iv
DAFTAR ISI
Halaman
Judul………. i
Halaman Pengesahan... ii
Kata Pengantar... iii
Daftar Isi………... iv
Daftar Tabel... vi
Daftar Gambar... vii
Daftar Lampiran... viii
Abstrak………... ix
Abstract ... x
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Tujuan Khusus... 3
1.3 Urgensi (Keutamaan) Penelitian... 3
1.4 Temuan atau Inovasi yang Ditargetkan... 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ergonomi dan Manfaatnya dalam Pemberdayaan Masyarakat... 6
2.2 Antropometri dan Stasiun Kerja ... 8
2.3 Faktor Beban Kerja yang Dipertimbangkan dalam Mendesain Stasiun Kerja... 9
2.4 Faktor Kelelahan yang Dipertimbangkan dalam Mendesain Stasiun Kerja... 10
2.5 Kaitan antara Keluhan Muskuloskeletal dan Stasiun Kerja... 11
2.6 Kearifan Lokal yang Berkaitan dengan Ergonomi... 11
2.7 Studi Pendahuluan yang Telah Dilakukan... 12
2.8 Peta Jalan Penelitian... 14
2.9. Hipotesis Penelitian... 15
BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian... 16
3.2 Penentuan Sumber Data………. 17
3.2.1 Subjek Penelitian... 17
3.2.2 Populasi dan Sampel... 17
3.2.3 Kriteria Sampel... 17
3.3 Besar Sampel... 17
3.4 Variabel Penelitian……….. 18
3.5 Prosedur Penelitian………. 18
3.6 Analisis Data……… 20
v
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian... 22
4.2 Pembahasan... 27
4.2.1 Beban Kerja Pematung... 27
4.2.2 Keluhan Muskuloskeletal Pematung... 28
4.2.3 Kelelahan Pematung... 30 4.2.4 Produktivitas... 32 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan... 34 5.2 Saran... 34 DAFTAR PUSTAKA……... 35 LAMPIRAN... 38
vi
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 4.1 Hasil Analisis Data Kualitas Kesehatan Pematung……… 22
Tabel 4.2 Hasil Analisis Data Kondisi Awal Pematung sebelum
Perbaikan Kondisi Kerja………. 22
Tabel 4.3 Data Kondisi Lingkungan pada Periode I……….. 23 Tabel 4.4 Data Kondisi Lingkungan pada Periode II………. 24 Tabel 4.5 Hasil Analisis Data Kualitas Kesehatan
dilihat dari Beban Kerja Pematung ………. 25 Tabel 4.6 Hasil Analisis Data Kualitas Kesehatan
dilihat dari Keluhan Muskuloskeletal Pematung……… 25 Tabel 4.7 Hasil Analisis Data Kualitas Kesehatan
dilihat dari Kelelahan Pematung……… 26 Tabel 4.8 Hasil Analisis Data
vii
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Peta Jalan Penelitian... 14
Gambar 4.1. Posisi dan Sikap Kerja Pematung
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Luaran Penelitian dalam Bentuk Artikel... 38
Lampiran 2. Luaran Penelitian dalam Bentuk Desain Stasiun Kerja... 53
Lampiran 3. Hasil Analisis Data Beban Kerja ……….. 54
Lampiran 4. Hasil Analisis Data Keluhan Muskuloskeletal... 55
Lampiran 5. Hasil Analisis Data Kelelahan ………. 56
Lampiran 6. Hasil Analisis Data Produktivitas... 57
Lampiran 7. Justifikasi Anggaran Penelitian tahun II ………. 58
Lampiran 8. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas…………. 60
Lampiran 9. Ketersediaan Sarana dan Prasarana Penelitian... 61
Lampiran 10. Biodata Ketua dan Anggota Tim Peneliti……….. 64
ix ABSTRAK
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
MELALUI PELATIHAN DAN IMPLEMENTASI ERGONOMI UNTUK MENINGKATKAN
KUALITAS KESEHATAN PEMATUNG DI DESA PELIATAN, UBUD, GIANYAR, BALI
Oleh:
I Made Sutajaya & Ni Putu Risttiati Jurusan Pedidikan Biologi FMIPA Undikksha
Email; [email protected]
Tujuan penelitian adalah memberdayakan masyarakat melalui pelatihan dan implementasi ergonomi untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan produktivitas pematung. Setelah dilakukan pelatihan ergonomi dengan pendekatan sistemik, holistik, interdisipliner, dan partisipatori (SHIP) diharapkan agar kualitas kesehatan yang dinilai dari beban kerja, keluhan muskuloskeletal, dan kelelahan pematung dapat dikurangi serta produktiviitas dapat ditingkatkan. Penelitian eksperimental ini melibatkan 30 sampel yang diberikan perlakuan berupa pelatihan ergonomi dan implementasi hasil pelatihan tersebut. Melalui rancangan pre
and post test group design (treatment by seubjject design) didata denyut nadi, keluhan
muskuloskeletal, dan kelelahan sebelum dan sesudah kerja. Produktivitas dihitung setiap akhir kerja. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t paired dengan taraf signifikansi 5%. Hasilnya adalah terjadi penurunan: (a) beban kerja sebesar 83,45%; (b) keluhan muskuloskeletal sebesar 13,52%; dan kelelahan sebesar 11,27% secara bermakna (p<0,05). Itu membuktikan bahwa kualitas kesehatan pematung dapat ditingkatkan. Konsekuensinya adalah terjadi peningkatan produktivitas secara bermakna sebesaar 19,45% (p<0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan implementasi ergonomi dapat mengurangi beban kerja, keluhan muskuloskeletal, dan kelelahan, serta meningkatkan produktivitas pematung.
x ABSTRACT
COMMUNITY DEVELOPMENT
THROUGH TRAINING AND IMPLEMENTATION OF ERGONOMICS TO IMPROVE SCULPTOR QUALITY HEALTH
IN PELIATAN VILLAGE, UBUD, GIANYAR, BALI by
I Made Sutajaya & Ni Putu Risttiati
Biology Education Department FMIPA Undikksha Email; [email protected]
The research objective is to empower the community through training and implementation of ergonomics to improve the health and productivity of the sculptor. After training on ergonomics with a systemic, holistic, interdisciplinary, and participatory (SHIP) approach is expected to be quality assessed health of the workload, musculoskeletal complaints, and fatigue can be reduced and produktiviitas sculptor can be improved. This experimental study involved 30 samples of a given treatment in the form of ergonomics training and implementation of the training results. Through pre and post test design group design (treatment by subject design) recorded heart rate, musculoskeletal complaints, and fatigue before and after work. Productivity is calculated every end of the work. Data were analyzed by paired t test with a significance level of 5%. The result is a decrease: (a) workload by 83.45%; (b) musculoskeletal complaints by 13.52%; amounted to 11.27% and fatigue were significantly (p <0.05). It proves that the quality of the sculptor's health can be improved. The consequence is an increase in productivity was significantly sebesaar 19.45% (p <0.05). It can be concluded that community empowerment through training and implementation of ergonomics can reduce the workload, musculoskeletal complaints, and fatigue, and increase productivity sculptor.
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan ergonomi telah dilakukan di tahun I dan implementasi ergonomi yang dilakukan di tahun II dinilai sangat diperlukan. Dikatakan demikian karena terbukti bahwa kondisi kerja yang menyertai pematung di Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali dinilai tidak ergonomis sehingga pematung mengalami peningkatan beban kerja sebesar 13,5%, keluhan muskuloskelatal sebesar 41,3%, dan kelelahan sebesar 46,8% (Sutajaya & Ristiati, 2013). Itu terjadi karena di dalam mendesain stasiun kerja, sampai saat ini belum mengacu kepada data antropometri pekerja. Di samping itu dalam proses desain belum menyertakan pekerja sejak dini sehingga sering terjadi ketidaksesuaian antara yang diinginkan oleh desainer dengan pekerja yang akan menggunakan desain tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut telah dilakukan pemberdayaan pekerja melalui pelatihan ergonomi yang dapat meningkatkan pengetahuan pematung sebesar 39%, motivasi kerja sebesar 34,9%, kepedulian terhadap kondisi tubuhnya sebesar 36,9% dan sikap kewirausahaan berbasis kesehatan sebesar 37,2% (Sutajaya & Ristiati, 2013). Untuk membuktikan kehandalan pelatihan ergonmi tersebut perlu diimplementasi konsep-konsep ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dalam mendesain stasiun kerja pematung, sehingga diharapkan dapat mengurangi beban kerja, keluuhan muskuloskeletal, dan kelelahan yang merupakan indikator kualitas kesehatan. Di samping itu melalui pendekatan sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatori (SHIP) akan terwujud desain stasiun dan proses kerja yang secara teknis sesuai dengan pekerjanya dan secara fisiologis tidak menimbulkan keluhan muskuloskeletal, tidak mengakibatkan beban kerja yang terlalu berat dan dapat memperlambat munculnya kelelahan (Azadeh, et al, 2007).
Penerapan ergonomi yang mengupayakan agar pekerja selalu dalam kondisi sehat, aman, dan nyaman dalam proses kerja merupakan suatu yang urgen untuk dilaksanakan dan sesegera mungkin harus diimplementasikan (Manuaba, 2008; Azadeh, et al, 2007). Jika hal ini diabaikan, maka kualitas kesehatan pekerja diyakini akan terganggu bahkan bisa menimbulkan deformitas pada organ tubuhnya dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Salah satu cara yang bisa ditempuh agar para pekerja yang berkecimpung
2
di dalam kegiatan yang ada di industri kecil tetap dalam kondisi yang sehat, aman, nyaman, efektif dan efisien serta produktivitasnya tinggi maka diperlukan kaidah-kaidah ergonomi yang berbasis kearifan lokal di dalam melakukan kegiatan atau aktivitas di tempat kerja.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat dibuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut.
Pada Tahun I
1. Apakah pelatihan ergonomi sebagai salah satu cara pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan pematung tentang konsep ergonomi yang dapat diimplementasikan di tempat kerja?
2. Apakah pelatihan ergonomi sebagai salah satu cara pemberdayaan masyarakat dapat memotivasi pematung untuk mendesain stasiun kerjanya berdasarkan konsep ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal?
3. Apakah pelatihan ergonomi sebagai salah satu cara pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kepedulian pematung terhadap kondisi tubuhnya yang dinilai dari kualitas kesehatannya?
4. Apakah pelatihan ergonomi sebagai salah satu cara pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kewirausahaan pematung berbasis kesehatan sebagai wujud nyata dari keberhasilan pemberdayaan masyarakat ?
Pada Tahun II
1. Apakah implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat mengurangi beban kerja pematung ?
2. Apakah implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal pematung ?
3. Apakah implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat mengurangi kelelahan pematung ?
4. Apakah implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat meningkatkan produktivitas pematung ?
3 1.2 Tujuan Khusus
Menyimak latar belakang masalah tersebut, tujuan khusus yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Tujuan penelitian pada tahun pertama adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui pelatihan ergonomi sebagai salah satu cara pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan pematung tentang konsep ergonomi yang dapat diimplementasikan di tempat kerja.
2. Mengetahui pelatihan ergonomi sebagai salah satu cara pemberdayaan masyarakat dapat memotivasi pematung untuk mendesain stasiun kerjanya berdasarkan konsep ergonomi yang relevan dengan kearifan local.
3. Mengetahui pelatihan ergonomi sebagai salah satu cara pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kepedulian pematung terhadap kondisi tubuhnya yang dinilai dari kualitas kesehatannya.
4. Mengetahui pelatihan ergonomi sebagai salah satu cara pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kewirausahaan pematung berbasis kesehatan sebagai wujud nyata dari keberhasilan pemberdayaan masyarakat.
b) Tujuan penelitian pada tahun kedua adalah sebagai berikut.
1. Mengatahui implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat mengurangi beban kerja pematung.
2. Mengatahui implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal pematung.
3. Mengatahui implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat mengurangi kelelahan pematung.
4. Mengatahui implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat meningkatkan produktivitas pematung.
1.3 Urgensi (Keutamaan) Penelitian
Urgensi (keutamaan) penelitian difokuskan pada luaran sebagai berikut.
1. Implementasi data antropometri yang mengacu kepada kearifan lokal dan dilengkapi dengan hasil analisis persentil dan digunakan sebagai acuan di dalam mendesain stasiun kerja. Luaran ini dapat digunakan sebagai acuan dalam
4
memperbaiki infrastruktur di industri kecil sehingga dapat meminimalkan penyakit akibat kerja dan kualitas kesehatan pekerja dapat ditingkatkan.
2. Implementasi data ukuran alat kerja termasuk meja kerja dan tempat duduk yang dapat digunakan untuk mencari kesesuaian antara antropometri pekerja dengan stasiun kerjanya serta geometri yang mengacu kepada konsep asta bumi.
3. Implementasi data antropometri dan data ukuran alat kerja di dalam melakukan uji coba modul penataan stasiun kerja yang mengacu kepada prinsip asta kosala-kosali dan asta bumi.
4. Implementasi data antropometri dan data ukuran alat kerja di dalam membuat miniatur tempat kerja yang ergonomis.
5. Kualitas kesehatan yang mengacu kepada indikator: beban kerja, keluhan muskuloskeletal, dan kelelahan.
6. Implementasi data antropometri, data ukuran alat kerja, data kondisi lingkungan di dalam menguji coba modul dan desain stasiun kerja yang ergonomik yang dirancang pada tahun I
7. Gambaran tentang kualitas kesehatan pematung yang dapat ditingkatkan melalui implementasi ergonomi yang yang relevan dengan kearifan lokal sebagai temuan pada tahun II
8. Gambaran tentang produktivitas pematung setelah diimplementasikan konsep ergonomi yang yang relevan dengan kearifan lokal sebagai temuan pada tahun II.
1.4 Temuan atau Inovasi yang Ditargetkan
Temuan atau inovasi yang ditargetkan adalah: (1) Pada tahun pertama: (a) berhasil diberdayakan 30 orang pematung melalui pelatihan ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dan cocok diimplementasikan dalam memperbaiki kondisi kerja pematung sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatannya; (b) draft modul penataan ruang kerja; dan (c) draft desain stasiun kerja yang ergonomis; (2) Pada tahun kedua hasil yang ditargetkan adalah (a) dapat diketahui keberhasilan implementasi ergonomic dalam memperbaiki kondisi kerja pematung sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan pematung yang dinilai dari indikator keluhan muskuloskeletal, kelelahan, beban kerja, dan produktivitasnya, (2) desain stasiun kerja, (3) modul penataan stasiun kerja yang ergonomic, dan (4) artikel ilmiah.
5
Terkait dengan temuan atau inovasi tersebut dapat dijelaskan tentang luaran penelitian yang ditargetkan adalah sebagai berikut.
a. Luaran wajib: (a) artikel ilmiah yang dipublikasikan di seminar nasional; (b) artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal nasional ber-ISSN; dan (c) gambaran tentang Teknologi Tepat Guna yang diimplementasikan dalam desain dan modul penataan stasiun kerja.
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ergonomi dan Manfaatnya dalam Pemberdayaan Masyarakat
Ergonomi berasal dari kata Yunani yaitu ergon (kerja) dan nomos (aturan). Definisi ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan alat, cara kerja dan lingkungan pada kemampuan, kebolehan dan batasan manusia sehingga diperoleh kondisi kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien sehingga tercapai produktivitas yang setinggi-tingginya (Manuaba, 2008). Ergonomi sangat diperlukan di dalam suatu kegiatan yang melibatkan manusia di dalamnya dengan memperhitungkan kemampuan dan tuntutan tugas.
Kemampuan manusia sangat ditentukan oleh faktor-faktor profil, kapasitas fisiologi, kapasitas psikologi dan kapasitas biomekanik, sedangkan tuntutan tugas dipengaruhi oleh karakteristik dari materi pekerjaan, tugas yang harus dilakukan, organisasi dan lingkungan dimana pekerjaan itu dilakukan (Manuaba, 2008). Dengan ergonomi dapat ditekan dampak negatif pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dengan ergonomi berbagai penyakit akibat kerja, kecelakaan, pencemaran, keracunan, ketidak-puasan kerja, kesalahan unsur manusia, bisa dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya (Manuaba, 2008).
Sumber kerja diartikan sebagai aspek-aspek fisik, social atau organisasional dari pekerjaan yang dapat: (a) menurunkan tuntutan pekerjaan dan biaya yang berkaitan dengan faktor fisiologis dan psikologis; (b) berfungsi dalam pencapaian tujuan kerja; (c) menstimulasi pertumbuhan, pembelajaran, dan perkembangan individu. Sumber kerja merupakan predictor terpenting dari engagement, karena mampu memprediksi komitmen suatu organisasi. Sumber kerja berperan dalam pembentukan proses motivasi karena karyawan mampu memenuhi kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan ekonomi, kompetensi, dan berhubungan dengan orang lain. Penelitian terkini menyatakan bahwa suber kerja termasuk pada level tugas sebagai umpan balik kinerja, level interpersonal sebagai dukungan dari rekan kerja, dan level organisasi sebagai pembinaan supervisor (Bakker & Leiter, 2010; Bakker, 2010; Bakker, et al, 2011 ; Bakker, et al, 2008; Shimazu, et al, 2010)
Pemanfaatan prinsip-prinsip ergonomi dalam mendesain suatu produk membuat produk tersebut menjadi lebih sesuai dengan pemakai (users friendly), memuaskan, nyaman dan
7
aman (Manuaba 2008; Fam, et al, 2007; Limerick, et al, 2007). Untuk memudahkan dan mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul, penerapan ergonomi hendaknya menggunakan bahasa yang sederhana, bahasa perusahaan atau bahasa masyarakat. Pendekatan sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatori (SHIP) hendaknya selalu dimanfaatkan dalam setiap pemecahan masalah atau merencanakan sesuatu sehingga tidak ada lagi masalah yang tertinggal atau muncul di kemudian hari (Manuaba, 2008; Azadeh, et al, 2007). Di samping itu pendekatan SHIP hendaknya diterapkan dalam pemilihan dan alih teknologi sehingga menjadi tepat guna, dengan persyaratan: (a) secara teknik hasilnya lebih baik; (b) secara ekonomi lebih menguntungkan; (c) secara sosial budaya dapat diterima; (d) kesehatan dapat dijamin dan dipertanggungjawabkan; (e) hemat dalam pemakaian energi; dan (f) tidak merusak lingkungan (Manuaba, 2008; Munaf, et al., 2008). Dari beberapa perbaikan ergonomi terbukti bahwa dengan penerapan ergonomi mampu memberikan keuntungan secara ekonomi, meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kerja. Malah telah sampai pada simpulan good ergonomi is good economic (Sutjana, et al., 2008).
Pemberdayaan masyarakat terkait erat dengan faktor internal dan eksternal. Tanpa mengecilkan arti dan peranan salah satu faktor, sebenarnya kedua faktor tersebut saling berkontribusi dan mempengaruhi secara sinergis dan dinamis. Meskipun dari beberapa contoh kasus yang disebutkan sebelumnya faktor internal sangat penting sebagai salah satu wujud self-organizing dari masyarakat namun juga perlu memberikan perhatian pada faktor eksternalnya (Anonim, 2012). Cook (1994) dalam Anonim (2012) menyatakan pembangunan masyarakat merupakan konsep yang berkaitan dengan upaya peningkatan atau pengembangan masyarakat menuju ke arah yang positif.
Giarci (2001) (dalam Anonim, 2012) memandang community development sebagai suatu hal yang memiliki pusat perhatian dalam membantu masyarakat pada berbagai tingkatan umur untuk tumbuh dan berkembang melalui berbagai fasilitasi dan dukungan agar mereka mampu memutuskan, merencanakan dan mengambil tindakan untuk mengelola dan mengembangkan lingkungan fisiknya serta kesejahteraan sosialnya. Proses ini berlangsung dengan dukungan collective action dan networking yang dikembangkan masyarakat. Itu berarti pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan ergonomi sesungguhnya mengupayakan agar masyarakat menyadari betapa pentingnya kesehatan dan kebugaran dalam bekerja. Di sisi lain melalui pelatihan ergonomi dapat diwujudkan pembangunan berkelanjutan, karena
8
akan tercipta pekerja-pekerja yang tangguh tanpa terpapar oleh kondisi kerja yang tidak aman, tidak sehat, dan tidak nyaman. Pada akhirnya akan diperoleh mekanisme kerja yang efektif, efisien, dan produktif.
2.2 Antropometri dan Stasiun Kerja
Di dalam mendesain alat kerja dan ruang kerja yang mengacu kepada antropometri pemakai, perlu dipertimbangkan: (a) tinggi rendahnya tuntutan terhadap beban otot pada saat beraktivitas; (b) tingkat bahaya yang ditimbulkan pada saat melakukan aktivitas dengan menggunakan alat kerja tertentu dan di ruang kerja tertentu pula; (c) letak beban paling besar pada saat mengangkat dan mengangkut beban, mengoperasikan alat-alat kerja, duduk di kursi kerja, dan bekerja di meja kerja; (d) posisi kerja pada saat melakukan kegiatan (duduk, berdiri, jongkok, setengah jongkok, duduk bersila, kombinasi); (e) sikap kerjanya (alamiah atau tidak alamiah); (f) sifat kerjanya statis atau dinamis dilihat dari kontraksi otot yang terjadi pada saat melakukan aktivitas; (g) kemungkinan variasi posisi dan sikap kerja; (h) pola-pola gerakan badan yang dikaitkan dengan batasan-batasan gerakan sendi; (i) lamanya kerja dengan memanfaatkan tenaga fisik atau otot; (j) tinggi rendahnya presisi atau ketelitian yang diinginkan; dan (k) organ-organ yang terlibat langsung dengan komponen-komponen alat (Grandjean, 2007; Bazrgari, 2007; Sutjana, et al, 2008).
Di dalam mendesain alat dan ruang kerja perlu dipertimbangkan konponen-komponen di atas, karena upaya untuk menyesuaikan antropometri dengan desain alat dan ruang kerja pada dasarnya tergantung kepada: (a) keadaan, frekuensi dan kesulitan dari aktivitas yang dilakukan terkait dengan pengoperasian alat-alat kerja; (b) sikap tubuh selama beraktivitas; (c) syarat-syarat untuk keleluasaan gerak terkait dengan aktivitas yang dilakukan di ruang kerja tersebut; dan (d) keamanan, kenyamanan dan keselamatan yang diharapkan dengan penambahan dimensi kritis (Grandjean, 2007).
Di samping itu ada beberapa gerakan yang harus didukung oleh kesesuaian antara antropometri pemakai dengan alat yang dioperasikan atau ruang kerja tempat beraktivitas yaitu; (a) gerakan pada saat duduk, berdiri, berjalan atau kombinasi; (b) gerakan di dalam menggunakan fasilitas atau mengoperasikan alat-alat kerja; (c) gerakan-gerakan yang berkaitan dengan emergency; (d) gerakan pada saat mengambil atau menaruh dan
9
menjangkau sesuatu; dan (e) gerakan melintas di gang atau di antara alat-alat kerja yang ada pada saat pindah tempat kerja (Grandjean, 2007).
Antropometri memang sangat diperlukan untuk menyesuaikan antara alat atau ruang kerja dengan orang yang bekerja atau beraktivitas di tempat tersebut, sebab seandainya ini tidak terpenuhi maka akan menimbulkan: (a) ketidak-nyamanan dalam beraktivitas; (b) kelelahan lebih cepat muncul; (c) risiko terjadinya kesalahan dalam beraktivitas lebih tinggi; (d) beban kerja meningkat lebih cepat; (e) energi yang diperlukn untuk usaha kerja yang sama ternyata lebih tinggi; (f) sering menimbulkan gangguan otot terutama pada sistem musculoskeletal; dan (g) produktivitas menurun (Grandjean, 2007).
2.3 Faktor Beban Kerja yang Dipertimbangkan dalam Mendesain Stasiun Kerja
Aasa, et al (2006) melaporkan bahwa aktivitas yang disertai dengan adanya stres mental dan fisik dapat meningkatkan rerata denyut nadi secara bermakna sebesar 16,80 denyut per menit pada pria dan 18,70 denyut per menit pada wanita (p < 0,01). Pada proses kerja tampaknya beban kerja yang dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal akan saling mempengaruhi sehingga memunculkan perpaduan antara beban kerja fisik dan mental. Beban kerja tersebut diekspresikan melalui perubahan frekuensi denyut nadi yang dapat digunakan sebagai salah satu data objektif untuk menentukan berat-ringannya suatu aktivitas. Akan tetapi dari beberapa laporan peneliti tampaknya suatu pekerjaaan yang didominasi oleh beban kerja mental tidak akan mengubah kategori beban kerja atau beban kerja berada pada kategori ringan (75 - 100 denyut per menit). Oleh karena itu perlu dilihat peningkatan frekuensi dari denyut nadi istirahat ke denyut nadi kerja sesuai dengan pernyataan Adiputra (2006) bahwa perubahan frekuensi denyut nadi tidak boleh melebihi 35 denyut per menit pada pria dan 30 denyut per menit pada wanita dari denyut nadi istirahat.
Adiputra (2006) menyatakan bahwa untuk beban kerja yang sama, subyek orang Bali telah merespon lebih berat 15% di atas orang Thai dan 30% di atas orang Barat. Itu berarti kriteria di atas harus dikurangi 30% dari orang barat yaitu: (a) untuk pria 35 – (35 x 30%) = 24,5 denyut per menit dan (b) untuk wanita 30 – (30 X 30%) = 21 denyut per menit. Dengan kata lain, walaupun kategori beban kerjanya sama, namun peningkatan frekuensi denyut nadi dengan subjek orang Bali tidak boleh melebihi 25 denyut per menit untuk pria dan 21 denyut per menit untuk wanita. Kondisi seperti ini diprediksi akan berlaku sama untuk orang
10
Indonesia karena mereka hidup di daerah tropis dengan temperatur udara dan kelembaban yang tinggi. Kondisi seperti ini dinyatakan dapat mempengaruhi kemampuan dan kesehatan seseorang.
2.4 Faktor Kelelahan yang Dipertimbangkan dalam Mendesain Stasiun Kerja
Kelelahan secara umum merupakan suatu keadaan yang tercermin dari gejala perubahan psikologis berupa kelambanan aktivitas motoris dan respirasi, adanya perasaan sakit, berat pada bola mata, pelemahan motivasi, aktivitas dan fisik lainnya yang akan mempengaruhi aktivitas fisik maupun mental (Grandjean, 2007; Steward, et al, 2008; Suter, 2008). Kelelahan sesungguhnya merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut atau dapat dikatakan sebagai alarm tubuh yang mengisyaratkan seseorang untuk segera beristirahat. Mekanisme ini diatur oleh sistem saraf pusat yang dapat mempercepat impuls yang terjadi di sistem aktivasi oleh sistem saraf simpatis dan memperlambat impuls yang terjadi di sistem inhibisi oleh saraf parasimpatis. Menurunnnya kemampuan dan ketahanan tubuh akan mengakibatkan menurunnya efisiensi dan kapasitas kerja. Seandainya kondisi seperti ini dibiarkan berlanjut tentunya akan mempengaruhi produktivitas seseorang. Grandjean (2007) menyatakan bahwa kelelahan yang berlanjut dapat menyebabkan kelelahan kronis dengan gejala: (a) terjadi penurunan kestabilan fisik; (b) kebugaran berkurang; (c) gerakan lamban dan cenderung diam; (d) malas bekerja atau beraktivitas; dan (e) adanya rasa sakit yang semakin meningkat.
Di samping itu kelelahan juga menyebabkan gangguan psikosomatik seperti: (a) sakit kepala; (b) pusing-pusing; (c) mengantuk; (d) jantung berdebar; (e) keluarnya keringat dingin; (f) nafsu makan berkurang atau hilang; dan (g) adanya gangguan pencernaan (Grandjean, 2007). Terkait dengan fakta tersebut tampaknya dalam proses kerja para pekerja tidak akan terlepas dari kelelahan saat mengikuti aktivitas. Kondisi tersebut akan semakin parah jika pada proses kerja disertai dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat, aman dan nyaman, suasana kerja yang membosankan dan sarana atau prasarana yang tidak mengacu aspek-aspek ergonomi.
11
2.5 Kaitan antara Keluhan Muskuloskeletal dan Stasiun Kerja
Aasa, et al (2006), David, et al (2008), dan Marras, et al (2009) melaporkan bahwa keluhan sistem muskuloskeletal merupakan masalah besar dalam suatu industri yang disebabkan oleh: (a) tempat kerja yang tidak memadai; (b) aktivitas yang bersifat repetitif; (c) desain alat dan peralatan yang tidak sesuai dengan si pemakai; (d) organisasi kerja yang tidak efisien; (e) jadwal istirahat yang tidak teratur; dan (f) sikap kerja yang tidak alamiah. Escorpiso (2008) melaporkan bahwa keluhan muskuloskeletal menempati urutan pertama di antara penyakit akibat kerja lainnya yang dipengaruhi oleh karakteristik individu (umur lebih dari 30 tahun), di mana pekerja yang mengalami gangguan tersebut sebanyak 44,9%.
Grandjean (2007) menyatakan bahwa sikap kerja yang tidak alamiah menimbulkan kontraksi otot secara statis (isometrik) pada sejumlah besar sistem otot tubuh manusia dan kontraksi otot statis dapat mengakibatkan: (a) tenaga atau energi yang diperlukan lebih tinggi dalam usaha yang sama; (b) denyut nadi meningkat lebih tinggi; (c) cepat merasa lelah; dan (d) setelah bekerja, otot memerlukan waktu pemulihan yang lebih lama.
Reenan, et al (2009) dan Vieira, et al (2008) menyatakan bahwa keluhan muskuloskeletal terjadi pada sistem muskuloskeletal yang meliputi: (a) tulang-tulang yang merupakan struktur penyangga tubuh; (b) jaringan otot yang dapat berkontraksi sehingga menimbulkan gerakan; (c) tendo yang merupakan jaringan penghubung otot dengan tulang; (d) ligamen yang merupakan jaringan penghubung tulang dengan tulang; (e) kartilago (tulang rawan) yang berfungsi sebagai bantalan sendi; (f) saraf yang merupakan sistem komunikasi antara otot, tendo dan jaringan lainnya dengan otak; dan (g) pembuluh darah yang berfungsi sebagai organ transportasi nutrisi ke seluruh jaringan tubuh melalui darah dan ke organ pembuangan.
2.6 Kearifan Lokal yang Berkaitan dengan Ergonomi
Kearifan lokal adalah unsur kebudayaan tradisional yang telah memiliki sejarah yang panjang dan hidup dalam kesadaran kesadaran kolektif manusia dan masyarakat sejagat, terkait dengan sumber daya alam, sumber daya kebudayaan, sumber daya manusia, ekonomi, hokum dan keamanan (Geriya, 2007). Secara konseptual kearrifan lokal merupakan bagian dari sistem pengetahuan sederhana (Sarna, 2008). Di antara keanekaragaman jenis kearifan lokal, ditemukan beberapa kearifan lokal yang memiliki kualitas dan keunggulan dengan
12
kandungan nilai-nilai universal seperti historis, religius, etika, estetika, sains dan teknologi yang disebut lokal genius.
Tri Hita Karana sebagai warisan budaya Bali ternyata memiliki banyak keterkaitan dengan ergonomi karena kaya dengan filosofi, nilai, etika lokal, dan dengan focus berupa konfigurasi nilai harmoni. Dalam hal ini prinsip ergonomi yang mengutamakan unsur kenyamanan, kesehatan, keamanan, efisiensi, dan efektivitas serta produktivitas kerja amat terkait dengan konsep Tri Hita Karana yang sangat mempengaruhi perilaku orang Bali dalam beraktivitas. Di samping itu warisan leluhur tentang konsep keseimbangan yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana tersebut selalu menjadi inspirasi bagi pengelolaan sumber daya alam di Bali. Dalam hal ini penerapan ergonomi di industri kecil yang berbasis kearifan lokal sesungguhnya adalah beruasaha agar terjadi keseimbangan antara aktivitas manusia dengan daya dukung alam di sekitarnya. Penanganan limbah perusahaan dan pembatasan waktu kerja merupakan upaya ergonomi untuk menserasikan antara tuntutan tugas dengan kemampuan manusia dan faktor lingkungan yang menyertai para pekerja saat beraktivitas.
Budaya Bali sangat menekankan keseimbangan dari pola relasi hubungan dengan Tuhan, manusia, dan lingkungan. Kedinamisan keseimbangan pola relasi ini sangat terkait dengan dinamika perjalanan waktu dan keadaan yang terjadi (desa, kala, patra). Konsep desa
kala patra juga menjadi acuan dalam perbaikan stasiun dan proses kerja di industri kecil,
karena konsep ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilan intervensi ergonomi di suatu daerah. Ajaran Catur Purusartha (Dharma, Artha, Kama, Moksa) diarahkan untuk mencapai tujuan kebebasan yang abadi dan kesejahteraan seantero alam semesta dengan istilah mokshartam jagadhita. Tujuan untuk mencapainya adalah dengan Catur Marga (Karma, Bhakti, Jnana, Raja). Konsep ini amat terkait dengan prinsip ergonomi yang menekankan kepada upaya manusia untuk meningkatkan produktivitas kerjanya dalam mencapai kesejahteraan hidup dan tetap terjaganya kualitas kesehatan jasmani dan rohani.
2.7 Studi Pendahuluan yang Telah Dilakukan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ditemukan bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhannya tidak bisa terlepas dari: (a) alat-alat kerja dan tugasnya (task); (b) organisasi kerja; dan (c) lingkungan kerja. Di tempat kerja berbagai masalah ergonomi masih banyak terjadi seperti: (a) alat kerja yang tidak memadai atau tidak sesuai denngan
13
antropometri; (b) sikap kerja yang tidak alamiah; (c) mikroklimat yang tidak memadai; (d) organisasi kerja yang tidak mendukung tercapainya hasil yang maksimal; (e) jam kerja berkepanjangan tanpa istirahat; (f) kerja bergilir yang tidak manusiawi; (g) kerja statis; (h) kurang gizi; dan (i) ligkungan kerja yang tidak aman dan tidak nyaman. Untuk mengatasi masalah tersebut penerapan ergonomi sejak dini mutlak diperlukan dan merupakan suatu keharusan untuk mempertimbangkan unsur-unsur budaya yang akan mempengaruhi mekanisme atau proses penerapannya demi tercapainya hasil yang maksimal (Sutajaya & Ristiati, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013)
Penelitian ergonomi yang menyentuh unsur tubuh manusia yaitu: bayu (kekuatan),
sabda (suara) dan idep (pikiran) dapat dijelaskan: (a) dalam menentukan permasalahan di
tempat kerja hendaknya memperhatikan status nutrisi atau energi dan pemanfaatan tenaga otot (bayu) terkait dengan subjek yang akan dilibatkan dan intervensi ergonomi yang dikenakan terhadap subjek penelitian; (b) dalam membuat protokol penelitian unsur sabda atau pendapat (suara) subjek perlu diperhatikan, karena apa yang diinginkan peneliti belum tentu sesuai dengan keinginan subjek; dan (c) saat memperbaiki kondisi kerjanya diharuskan untuk mengajak subjek secara partisipatori turut berpikir atau memanfaatkan idep mereka demi tercapainya kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak (Sutajaya, dkk, 2009). Penelitian ergonomi yang menyentuh unsur sarana berlogika yaitu desa (tempat), kala (waktu) dan patra (kebiasaan) dapat dijelaskan: (a) pada proses penelitian karateristik lokasi (tempat) penelitian sangat menentukan keberhasilan suatu penelitian karena terkait dengan cara pemilihan sampel, rancangan yang digunakan, dan strategi pendataan. Untuk itu perlu diketahui karakteristik suatu wilayah yang akan dijadikan objek penelitian sehingga penelitian dapat berlangsung lancar dengan hasil yang maksimal; (b) waktu penelitian juga sangat menentukan validitas dan reliabilitas data yang diperoleh karena jika salah menentukan alokasi waktu penelitian bisa berakibat fatal atau penelitian mengalami kegagalan, misalnya: penelitian dilakukan saat ada upacara agama, ini tentu akan mempengaruhi kondisi subjek; dan (c) kebiasaan setempat perlu dipertimbangkan agar diperoleh data yang akurat karena kebiasaan seseorang yang mungkin sudah dilakukan selama bertahun-tahun atau bahkan berabad-abad lamanya tidak bertindak sebagai variabel pengganggu atau menjadi masking effect dalam analisis data (Sutajaya, dkk, 2009).
14
Penelitian ergonomi yang menyentuh unsur peradilan yaitu bukti, saksi dan ilikita (logika) dapat dijelaskan: (a) bukti keberhasilan intervensi ergonomi sering digunakan sebagai acuan di dalam melaksanakan intervensi berikutnya, karena bukti yang bisa dilihat dan dirasakan oleh pekerja dapat bertindak sebagai pemicu motivasi pihak terkait untuk memperbaiki kondisi kerjanya; (b) saksi juga diperlukan untuk mempromosikan keberhasilan intervensi ergonomi karena apa yang dikatakan atau dilaporkan oleh saksi yang dalam hal ini adalah subjek dan peneliti dapat mempengaruhi minat pekerja atau orang lain yang tertarik dengan intervensi tersebut untuk diterapkan di tempat mereka; dan (c) ilikita atau logika sangat berpengaruh dalam mengambil suatu keputusan terkait dengan upaya perbaikan yang akan dilakukan, karena dalam penerapan ergonomi diawali dengan perbaikan yang sifatnya mudah dikerjakan, murah biayanya dan masuk akal. Itu berarti secara logis apa yang diterapkan dalam penelitian ergonomi hendaknya masuk akal dan bisa berlanjut atau tidak hanya terbatas sebagai penelitian saja (Sutajaya, dkk, 2009).
2.8 Peta Jalan Penelitian
Peta jalan penelitian yang telah dilakukan lima (lima) tahun terakhir dapat dicermati pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Peta Jalan Penelitian
Hibah Bersaing Periode II (Tahun I) (2013)
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan dan Implementasi Ergonomi untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan Pematung di Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali
Hibah Bersaing Periode I (2011 dan 2012):Perbaikan Kondisi Kerja
Berbasis Kearifan Lokal yang Relevan dengan Konsep Ergonomi untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan dan Produktivitas Pematung di Desa Peliatan Ubud Gianyar
Stranas (2010): Implementasi Kearifan Lokal yang Relevan
dengan Konsep Ergonomi untuk Mengatasi Kondisi Kerja di Industri Kecil
Stranas (2009): Penerapan Ergonomi Berbasis
Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kualitas
15 2.9. Hipotesis Penelitian
Bertolak dari kajian pustaka dan studi pendahuluan yang telah dilakukan dapat dibuat hipotesis penelitian (khusus untuk penelitian tahun II) sebagai berikut.
1. Implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat mengurangi beban kerja pematung.
2. Implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal pematung.
3. Implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat mengurangi kelelahan pematung.
4. Implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dapat meningkatkan produktivitas pematung.
16 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian
Pada tahun I dilakukan penelitian deskriptif yang difokuskan pada pelatihan ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal dan cocok diimplementasikan dalam mendesain stasiun kerja pematung dan dikaitkan dengan kualitas kesehatannya yang dinilai dari indikator beban kerja, keluhan muskuloskeletal, dan kelelahan. Penelitian deskriptif tersebut dirancang berdasarkan pendekatan sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatori (SHIP) (Manuaba, 2006 a dan 2006 b).
Penelitian ekperimental pada tahun II menggunakan rancangan pre and post test
group design (treatment by subjects design), dengan pola dasar sebagai berikut (Colton,
2007).
P ---- RS---O1---(-)---O2---WOP---O3---(p)---O4 Gambar 1. Bagan Rancangan Penelitian
Keterangan:
P adalah populasi berupa pekerja di industri kecil RS adalah sampel dipilih secara random
O1 adalah pendataan sebelum kerja pada kelompok yang belum mendapatkan perlakuan berupa implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal
O2 adalah pendataan sesudah kerja pada kelompok yang belum mendapatkan perlakuan berupa implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal
O3 adalah pendataan sebelum kerja pada kelompok yang sudah mendapatkan perlakuan berupa implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal
O4 adalah pendataan sesudah kerja pada kelompok yang sudah mendapatkan perlakuan berupa implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal
(-) adalah kondisi kerja sebelum implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal (p) adalah kondisi kerja setelah implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal WOP adalah washing out period atau proses penghilangan efek sebelum diberi perlakuan
17 3.2 Penentuan Sumber Data
3.2.1 Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah pematung yang ada di Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, alat kerjanya, dan stasiun kerja yang digunakan untuk beraktivitas.
3.2.2 Populasi dan Sampel
Populasi target pada penelitian ini adalah semua pematung yang ada di Desa Peliatan. Populasi terjangkau adalah semua pematung yang memenuhi kriteria inklusi yang berjumlah 107 pematung. Sampel pada penelitian ini adalah pematung yang terpilih dalam penentuan jumlah sampel dan dilibatkan secara penuh pada penelitian ini.
3.2.3 Kriteria Sampel
Untuk menghindari adanya bias yang disebabkan oleh karakterisistik subjek dibuat kriteria untuk membatasi jumlah subjek yang bisa dilibatkan dalam penelitian ini. Kriteria inklusi dalam penentuan sampel adalah: berbadan sehat, bersedia sebagai subjek penelitian, tidak memiliki cacat tubuh, dan tidak dalam keadaan sakit pada otot dan tulangnya.
Di samping itu juga ditentukan kriteria eksklusi dengan ketentuan: bekerja secara individu, jika bekerja berkelompok, jumlah anggota kelompok kurang dari 12 orang, dan tidak menggunakan peralatan bermesin
Kriteria drop out yang dipersyaratkan pada penelitian ini adalah: tidak bekerja pada saat penelitian, menderita sakit saat penelitian berlangsung, dan karena alasan tertentu mengundurkan diri sebagai sampel
3.3 Besar Sampel
Jumlah sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 orang yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling). Teknik penentuan besar sampel adalah: (a) mengacu kepada jumlah populasi terjangkau sebanyak 107 pematung yang tersebar di sepuluh banjar yang ada di Desa Peliatan dibuat daftar nama pematung; (b) dari daftar nama tersebut dicermati jumlah pematung yang bekerja berkelompok dan bekerja secara individu; (c) pematung yang bekerja secara berkelompok di masing-masing banjar
18
dirandom untuk mendapatkan tiga kelompok pematung dengan jumlah anggota kelompok antara 12 – 17 pematung; dan (d) dari ketiga kelompok pematung tersebut dipilih secara acak 30 pematung sebagai sampel penelitian.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah: (a) variabel bebasnya adalah implementasi ergonomi yang relevan dengan kearifan lokal; (b) variabel tergantungnya adalah kualitas kesehatan yang dinilai dari indikator beban kerja, keluhan muskuloskeletal, kelelahan dan produktivitas pematung; dan (c) variabel kontrolnya adalah kondisi subjek (umur, berat badan, tinggi badan, jenis kelamin, dan status kesehatan), organisasi kerja (sistem pengupahan, metode kerja, dan proses kerja), dan kondisi lingkungan di tempat kerja (suhu, kelembaban, dan kebisingan)
3.5 Prosedur Penelitian
Untuk menghindari adanya kesalahan dalam pengumpulan data, dibuat prosedur penelitian sebagai berikut.
Pendataan pada tahun I
1. Data kearifan local yang relevan dengan konsep ergonomi didata dengan metode wawancara dan dikaitkan dengan literatur yang relevan dan digunakan sebagai materi pada pelatihan ergonomic.
2. Antropometri pekerja diukur dengan menggunakan antropometer di mana pekerja diminta untuk bersandar di tembok pada posisi tegak dimana buttock dan belakang kepala harus menyentuh tembok.
3. Gambaran tentang kualitas kesehatan pematung didata dengan cara: (a) denyut nadi (beban kerja) dihitung dengan metode sepuluh denyut (ten pulse method), dilakukan sebanyak 2 kali yaitu denyut nadi istirahat (pretest) dihitung 10 menit sebelum kerja (setelah pekerja istirahat selama 5 menit) dan denyut nadi kerja dihitung sesaat akan berakhirnya pekerjaan (posttest). Data dasar ini digunakan untuk menentukan kriteria beban kerja; (b) keluhan muskuloskeletal yang didata dengan kuesioner Nordic Body Map, dilakukan sebelum dan sesudah kerja dengan
19
jalan memberi tanda silang (X) pada jawaban yang tersedia, sesuai dengan rasa sakit atau kaku pada otot skeletal yang dirasakan. Data dasar ini digunakan untuk membuat penuntun praktis penentuan lokasi keluhan muskuloskeletal; dan (c) kelelahan didata dengan 30 items of rating scale dengan cara memilih item-item yang tersedia sesuai dengan kondisi pekerja saat itu. Data dasar ini digunakan untuk menganalisis validitas dan reliabilitas kuesioner dan nantinya akan digunakan sebagai penuntun praktis dalam penentuan tingkat kelelahan pekerja. 4. Keseluruhan data di atas dan dilengkapi dengan data kondisi lingkungan seperti
intensitas penerangan, kelembaban relatif, suhu ruang kerja, dan kecepatan angin serta data ukuran alat-alat kerja digunakan sebagai data dasar di dalam membuat desain stasiun kerja yang mengacu kepada kearifan lokal yang relevan dengan konsep ergonomi.
Pendataan pada Tahun II
1. Kualitas kesehatan pematung dinilai dari indicator: (a) denyut nadi (beban kerja) dihitung dengan metode sepuluh denyut (ten pulse method), dilakukan sebanyak 2 kali yaitu: (1) denyut nadi istirahat (pretest) dihitung 10 menit sebelum kerja (setelah pekerja istirahat selama 5 menit) dan (2) denyut nadi kerja dihitung sesaat akan berakhirnya pekerjaan (posttest); (b) keluhan muskuloskeletal yang didata dengan kuesioner Nordic Body Map, dilakukan sebelum dan sesudah kerja dengan jalan memberi tanda silang (X) pada jawaban yang tersedia, sesuai dengan rasa sakit atau kaku pada otot skeletal yang dirasakan; (c) kelelahan didata dengan 30
items of rating scale dengan cara memilih item-item yang tersedia sesuai dengan
kondisi pekerja saat itu; dan (d) produktivitas dihitung dengan rumus output (jumlah produk yang dihasilkan) per input (perubahan parameter fisiologis) dikalikan time (waktu yang diperlukan dalam bekerja)
2. Kondisi lingkungan antara sebelum dan sesudah perbaikan kondisi kerja didata sebanyak tiga kali yaitu: (a) ketika pematung mulai bekerja; (b) setelah pematung bekerja selama dua jam; dan (c) setelah pematung bekerja empat jam.
20 3.6 Analisis Data
Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis dengan cara sebagai berikut.
1. Data kondisi subjek dianalisis secara deskriptif dengan mencari rerata dan simpang baku atau standar deviasinya.
2. Data antropometri pekerja dianalisis dengan uji persentil 5, 50, dan 95.
3. Data kondisi lingkungan dianalisis dengan uji t group jika datanya berdistribusi normal atau dengan uji Mann-Whitney jika datanya tidak berdistribusi normal pada taraf signifikansi 5%.
4. Data penilaian terhadap dampak pelatihan atau lokakarya ergonomi dengan pendekatan SHIP yang menyangkut tentang pengetahuan, motivasi, kepedulian, dan kewirausahaan pematung dianalisis secara deskriptif.
5. Data kualitas kesehatan pekerja (frekuensi denyut nadi, keluhan muskuloskeletal, dan kelelahan) dan produktivitas pematung dianalisis dengan uji t paired pada taraf signifikansi 5%.
21
Delapan (8) aspek ergonomi: (1) energi/ status nutrisi; (2) pemanfaatan tenaga otot; (3) sikap/posisi tubuh saat beraktivitas; (4) kondisi lingkungan; (5) kondisi waktu; (6) kondisi sosial; (7) kondisi informasi; dan (8) interaksi manusia dan alat kerja. Enam (6) kajian teknologi tepat guna:
(1) secara teknik bisa dikerjakan; (2) secara ekonomi terjangkau dan lebih menguntungkan; (3) secara sosial budaya dapat diterima semua pihak; (4) kesehatan dapat dijamin dan dipertanggungjawabkan; (5) hemat energi; dan (6) tidak merusak lingkungan
Konsep kearifan lokal berupa: (1) Asta Kosala-kosali; (2) Asta Bumi; (3) Tri Hita Karana; (4) konsep pemali; dan (5) Ayurveda Ilmu Kedokteran Hindu SHIP Approach Identifikasi Masalah Prioritas masalah (urgen, esensial, dan penting) Indikator yang dinilai sebagai akibat
dari masalah tersebut adalah
1. Kualitas kesehatan yang tercermin dari:
a) Peningkatan kelelahan pekerja
b) Peningkatan keluhan muskuloskeletal
c) Peningkatan frekuensi denyut nadi kerja (beban kerja) 2. Produktivitas
3. Kondisi lingkungan kerja
SWOT analisis terhadap sarana/prasarana, infrastruktur di industri kecil, peluang peningkatan produktivitas, dan kondisi tempat kerja
Rencana aksi/ tindak lanjut (action plan) yang mengacu kepada unsur 5 W 2H dan 1R yaitu; What: apa yang akan dikerjakan Why: mengapa itu yang dikerjakan How: bagaimana cara
mengerjakannnya
When: kapan mulai dilaksanakan Where: di mana dilaksanakan Who: siapa stakeholders yang dilibatkan
How Much: berapa biaya yang diperlukan
Regulation: peraturan yang mana yang bisa memayungi kegiatan tersebut
Temuan pada Tahun I (2013) adalah: (1) hasil penilaian terhadap subjek setelah diberikan pelatihan ergonomi yang relevan dengan konsep kearifan local yaitu pengetahuannya meningkat 39%, motivasi meningkat 34,9%, kepedulian terhadap kondisi tubuhnya meningkat 36,9% dan sikap kewirausahaan berbasis kesehatan meningkat 37,2% dan (2) diperoleh gambaran tentang kualitas kesehatan pematung yaitu beban kerjanya meningkat 13,5%, keluhan musculoskeletal meningkat 41,3%, dan kelelahan meningkat 46,8%
Luarannnya: draft modul penataan stasiun kerja yang
ergonomic, draft desain stasiun kerja, dan artikel yang telah dipublikasikan di seminar nasional
3.7 Bagan Alir Penelitian
Rencana Penelitian Tahun II (2014)
Implementasi ergonomi yang relevan dengan kosep ergonomi dalam memperbaiki stasiun kerja patung yang betujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan yang dinilai dari beban kerja, keluhan
muskuuloskeletal, kelelahan, dan produktivitasnya.
Luarannya: (1) gambaran teknologi tepat guna yang
diimplementasikan dalam desain dan modul penataan stasiun kerja; (2) modul penataan stasiun kerrja; dan (3) artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal nasional ber-ISSN
Temuan pada studi pendahuluan (tahun 2012) Sarana dan prasarana atau
infrastrustur di industri kecil tidak antropometris
Proses kerja sangat statis Kondisi lingkungan di tempat
kerja tidak nyaman Produktivitas rendah Muncul berbagai penyakit
akibat kerja yang berpotensi menurunkan kualitas kesehatan pematung
22 BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian pada tahun I yang difokuskan pada kualitas kesehatan pematung dapat dicermati pada Tabel 4.1
Tabel 4.1 Hasil Analisis Data Kualitas Kesehatan Pematung
Variabel Sebelum Kerja Sesudah Kerja Nilai p Perubahan
Rerata SB Rerata SB Beban kerja 80,93 5,93 91,82 3,93 0,0001 13,5% Keluhan Muskuloskeletal 29,80 0,97 42,10 1,89 0,0001 41,3% Kelelahan 31,30 0,65 45,94 1,56 0,0001 46,8%
Bertolak dari hasil analisis data pada Tabel 4.1 dapat dikatakan bahwa kualitas kesehatan pematung dalam kondisi yang mengkhawatirkan karena terjadi perubahan antara sebelum dan sesudah kerja yang melebihi 10%. Itu berarti perlu dilakukan pembenahan atau redesain terhadap kondisi kerjanya dengan harapan agar kualitas kesehatan pematung dapat ditingkatkan. Untuk mengetahui kondisi awal pematung sebelum diberikan perbaikan yang mengacu kepada konsep ergonomic yang diimplementasikan melalui pendekatan partisipatore, dilakukan pendataan terhadap kualitas kesehatan pematung. Hasil analisis data dapat dicermati pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil Analisis Data Kondisi Awal Pematung sebelum Perbaikan Kondisi Kerja Variabel Sebelum Kerja Sesudah Kerja Nilai p Perubahan
Rerata SB Rerata SB Beban kerja 81,64 4,06 100,66 2,93 0,0001 22,3% Keluhan Muskuloskeletal 29,51 0,54 48,37 1,93 0,0001 63,9% Kelelahan 31,12 0,47 52,42 1,59 0,0001 68,4%
Ternyata dari hasil analisis sesuai Tabel 4.2 ditemukan bahwa kondisi awal dari kualitas kesehatan pematung cukup mengkhawatirkan dilihat dari persentase peningkatan beban kerja, keluhan musculoskeletal, dan kelelahannya yang meningkat lebih dari 20%. Itu berarti bahwa kalau hanya melalui pelatihan saja belum mampu mengatasi kondisi kerja yang
23
tidak ergonomic yang menyertai pematung dalam aktivitasnya di temppat kerja. Dengan demikian diperlukan aplikasi ergonomic yang lebih nyata terutama yang berkaitan dengan perbaikan kondisi kerja.
Data kondisi lingkungan yang didata selama tiga hari pada Periode I dapat dicermati pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Data Kondisi Lingkungan pada Periode I
Variabel Hari I Hari II Hari III Rerata
Pk. 07.30 11.30 Pk. 15.30 Pk. 07.30 Pk. 11.30 Pk. 15.30 Pk. 07.30 Pk. 11.30 Pk. 15.30 Pk. Suhu basah 26,5 26 26 26,5 26 26 26,5 26 26 26,17 Suhu kering 27,5 28 29 27,5 28 29 27,5 28 29 28,17 Kelembaban Relatif 65 67 68 65 67 68 65 67 68 66,67 Intensitas Cahaya 254 312 338 280 358 352 280 345 348 318,56 Tingkat kebisingan 62 76 80 58 78 80 54 78 82 72,00 Sirkulasi Udara 0,02 0,03 0,03 0,01 0,02 0,03 0,02 0,02 0,02 0,02
Bertolak dari kondisi lingkungan pada periode I dapat dinyatakan bahwa suhu basah dan suhu kering dalam kondisi nyaman. Kelembaban relatif juga dalam batas nyaman yang disertai dengan intensitas penerangan dalam kategori cukup memadai. Dilihat dari tingkat kebisingan alat kerja juga masih dalam batas yang dapat ditoleransi oleh tubuh manusia. Sirkulasi udara juga dalam kategori nyaman. Dengan demikian berarti perubahan kualitas kesehatan pematung lebih dominan diakibatkan oleh sikap kerja yang tidak alamiah.
Data kondisi lingkungan yang didata selama tiga hari pada Periode II dapat dicermati pada Tabel 4.4.
24
Tabel 4.4 Data Kondisi Lingkungan pada Periode II
Variabel Hari I Hari II Hari III Rerata
Pk. 07.30 Pk. 11.30 Pk. 15.30 Pk. 07.30 Pk. 11.30 Pk. 15.30 Pk. 07.30 Pk. 11.30 Pk. 15.30 Suhu basah 26,5 26 27 26,5 26 26 26,5 26 26 26,28 Suhu kering 27,5 28 30 27,5 30 29 27,5 30 29 28,72 Kelembaban Relatif 65 67 66 65 64 68 65 64 68 65,78 Intensitas Cahaya 258 310 325 270 340 358 275 335 345 312,89 Tingkat kebisingan 54 78 82 54 74 80 58 80 84 71,56 Sirkulasi Udara 0,02 0,02 0,03 0,02 0,03 0,03 0,02 0,02 0,02 0,02
Bertolak dari kondisi lingkungan pada periode II dapat dinyatakan bahwa suhu basah dan suhu kering dalam kondisi nyaman. Kelembaban relatif juga dalam batas nyaman yang disertai dengan intensitas penerangan dalam kategori cukup memadai. Dilihat dari tingkat kebisingan alat kerja juga masih dalam batas yang dapat ditoleransi oleh tubuh manusia. Sirkulasi udara juga dalam kategori nyaman.
Dengan demikian berarti perubahan kualitas kesehatan pematung lebih dominan diakibatkan oleh sikap kerja yang semula tidak alamiah menjadi alamiah yang disertai dengan istirahat aktif untuk setiap satu jam kerja. Di samping itu respon fisiologis yang dinilai dari kelelahan, keluhan musculoskeletal, dan beban kerja yang mengacu kepada perubahan denyut nadi dipastikan diakibatkan oleh perubahan kondisi kerja yang memungkinkan pematung bekerja lebih alamiah yang disertai dengan aktivitas pindah tempat saat mengambil bahan yang akan digunakan sebagai bakalan patung. Intervensi ini dikenal dengan istilah istirahat aktif, dimana sesunggguhnya para pematung masih aktif bekerja, akan tetapi saat pindah tempat memberikan kesempatan kepada bagian jaringan otot yang tadinya tertindih sehingga sirkulasi darah terhambat menjadi terbebas yang menyebabkan sirkulasi darah menjadi lancar.
Hasil analisis data kualitas kesehatan dilihat dari perubahan beban kerja yang terjadi sesudah perbaikan kondisi kerja yang dilakukan pada penelitian tahun II dapat dicermati pada Tabel 4.5
25
Tabel 4.5 Hasil Analisis Data Kualitas Kesehatan dilihat dari Beban Kerja Pematung Variabel Periode I Periode II Nilai t Nilai p Perubahan
Rerata SB Rerata SB Denyut nadi istirahat 81,64 4,06 80,91 3,82 1,428 0,164 0,89% Denyut nadi kerja 100,66 2,94 92,26 3,01 12,814 0,0001 83,45% Nadi kerja 19,02 3,95 11,35 2,77 12,320 0,0001 40,33%
Beban kerja pematung sebelum kerja antara periode I dan II adalah komparabel. Itu berarti bahwa, kondisi awal pematung sesaat sebelum bekerja adalah relatif sama dilihat dari jumlah denyut nadi per menit. Dengan demikian perubahan yang terjadi di akhir kegiatan semata-mata diakibatkan oleh kondisi kerja yang sudah didesain secara ergonomis.
Hasil analisis data kualitas kesehatan dilihat dari perubahan keluhan muskuloskeletal yang terjadi sesudah perbaikan kondisi kerja yang dilakukan pada penelitian tahun II dapat dicermati pada Tabel 4.6
Tabel 4.6 Hasil Analisis Data Kualitas Kesehatan dilihat dari Keluhan Muskuloskeletal Pematung
Variabel Periode I Periode II Nilai t Nilai p Perubahan
Rerata SB Rerata SB Keluhan muskuloskeletal sebelum kerja 29,51 0,54 29,52 0,68 0,096 0,924 0,03% Keluhan muskuloskeletal sesudah kerja 48,37 1,93 41,83 1,44 16,516 0,0001 13,52% Selisih 18,86 1,97 12,31 1,79 15,093 0,0001 34,73%
Keluhan muskuloskeletal pematung sebelum kerja antara periode I dan II adalah komparabel. Itu berarti bahwa, kondisi awal pematung sesaat sebelum bekerja adalah relatif sama dilihat dari skor keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian perubahan yang terjadi di akhir kegiatan semata-mata diakibatkan oleh kondisi kerja yang sudah didesain secara ergonomis.
Hasil analisis data kualitas kesehatan dilihat dari perubahan kelelahan yang terjadi sesudah perbaikan kondisi kerja yang dilakukan pada penelitian tahun II dapat dicermati pada Tabel 4.7
26
Tabel 4.7 Hasil Analisis Data Kualitas Kesehatan dilihat dari Kelelahan Pematung Variabel Periode I Periode II Nilai t Nilai p Perubahan
Rerata SB Rerata SB Kelelahan sebelum kerja 31,12 0,47 31,17 0,74 0,286 0,777 0,16% Kelelahan sesudah kerja 52,42 1,59 46,51 1,54 12,763 0,0001 11,27% Selisih 21,30 1,69 15,34 1,58 11,833 0,0001 27,98%
Kelelahan pematung sebelum kerja antara periode I dan II adalah komparabel. Itu berarti bahwa, kondisi awal pematung sesaat sebelum bekerja adalah relatif sama dilihat dari tingkat kelelahannya. Dengan demikian perubahan yang terjadi di akhir kegiatan semata-mata diakibatkan oleh kondisi kerja yang sudah didesain secara ergonomis.
Hasil analisis data produktivitas kerja pematung sesudah perbaikan kondisi kerja yang dilakukan pada penelitian tahun II dapat dicermati pada Tabel 4.8
Tabel 4.8 Hasil Analisis Data Produktivitas Kerja Pematung
Variabel Periode I Periode II Nilai t Nilai p Perubahan
Rerata SB Rerata SB
Produktivitas 229,49 44,69 274,13 42,61 9,574 0,0001 19,45%
Produktivitas kerja antara Periode I dan II mengalami peningkatan sebesar 19,45%. Ini menunjukkan bahwa dengan mengurangi kelelahan, keluhan musculoskeletal, dan beban kerja secara bersamaan akan berdampak terhadap peningkatan produktivitas.
27
Gambar 4.1. Posisi dan Sikap Kerja Pematung Saat Beraktivitas
4.2 Pembahasan
4.2.1 Beban Kerja Pematung
Temuan penelitian mengindikasikan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan ergoonomi berorientassi kearifan lokal sangat diperlukan sebagai upaya untuk mengurangi beban kerja pematung. Dikatakan demikian karena ternyata setelah bekerja pematung mengalami peningkatan beban kerja sebesar 13,5% (p < 0,05). Persentase peningkatan beban kerja yang relatif besar tersebut mengindikasikan bahwa penerapan istirahat aktif, penyesuaian antropometri dengan peralatan kerja, perbaikan kondisi lingkungan dan sikap kerja sangat perlu untuk diimplementasikan sebagai upaya untuk menurunkan beban kerja secara bermakna. Hal itu perlu dilakukan agar pematung dapat bekerja secara efektif dan efisien yang disertai dengan kondisi lingkungan yang nyaman, sehat, dan aman. Melalui perbaikan tersebut ternyata dapat mengurangi beban kerja sebesar 83,45% (p < 0,05) dilihat dari denyut nadi kerja yang dihitung sesaat setelah pematung bekerja. Itu bisa terjadi karena dengan semakin alamiahnya sikap kerja pematung membuat mereka merasa lebih nyaman untuk beraktivitas. Di sisi lain penggunaan peralatan kerja yang
28
antropometris juga berkontribusi terhadap upaya untuk mengurangi beban kerja pematung. Dalam hal ini penerapan istirahat aktif ternyata sangat berguna untuk memperlancar sirkulasi darah pematung, sehingga denyut nadi kerja yang semula cukup tinggi yaitu dengan rerata 100,66 dpm dapat diturunkan menjadi 92,26 dpm.
Temuan ini setara dengan temuan peneliti lain yaitu: (a) Arimbawa (2009) melaporkan bahwa redesain peralatan kerja secara ergonomis dapat mengurangi beban kerja para pembuat minyak kelapa di Kecamatan Dawan Klungkung sebesar 14,69%; (b) Artayasa (2007) melaporkan bahwa pendekatan ergonomi total pada proses angkat angkut kelapa dapat mengurangi beban kerja sebesar 10,61%; (c) Purnomo (2007) melaporkan bahwa sistem kerja dengan pendekatan ergonomi total dapat mengurangi beban kerja pekerja di industri gerabah Kasongan Bantul sebesar 21,69%; (d) Sajiyo (2008) melaporkan bahwa beban kerja tukang gulung sigaret kretek tangan di Kediri Jawa Timur menurun sebesar 20,81% (p < 0,05) setelah dilakukan redesain tempat dan sistem kerja dengan intervensi ergonomi; (e) Josephus (2011) melaporkan bahwa beban kerja nelayan di Amurang Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara menurun sebesar 53,56% setelah dilakukan intervensi ergonomi pada proses penangkapan ikan dengan pukat cincin; (f) Widana, dkk (2012) melaporkan bahwa beban kerja petani sayur menurun sebesar 18,67% setelah dilakukan implementasi ergonomi pada pengolahan tanah pertanian di Tabanan Bali; (g) Purnamawati (2013) melaporkan bahwa intervensi ergonomi dapat mengurangi beban kerja pembuat banten ngaben pranawa sebesar 13,22%; dan (h) Adnyana (2013) melaporkan bahwa aplikasi sinergi Ergo-Mechanical-System dapat mengurangi beban kerja pekerja wanita pembuat sarana banten sebesar 21,90%.
4.2.2 Keluhan Muskuloskeletal Pematung
Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan ergoonomi berorientassi kearifan lokal sangat diperlukan sebagai upaya untuk mengurangi keluhan muskuloskeletal pematung. Dikatakan demikian karena ternyata setelah bekerja pematung mengalami peningkatan keluhan muskuloskeletal sebesar 41,3% (p < 0,05). Persentase peningkatan keluhan muskuloskeletal yang relatif besar tersebut mengindikasikan bahwa penerapan istirahat aktif, penyesuaian antropometri dengan peralatan kerja, perbaikan kondisi lingkungan dan sikap kerja sangat perlu untuk diimplementasikan sebagai upaya
29
untuk menurunkan keluhan muskuloskeletal secara bermakna. Melalui perbaikan tersebut ternyata dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal sebesar 13,52% (p < 0,05) dilihat dari keluhan muskuloskeletal yang didata sesaat setelah pematung bekerja. Itu bisa terjadi karena dengan semakin alamiahnya sikap kerja pematung membuat mereka merasa lebih nyaman untuk beraktivitas dan terjadi keleluasaan gerak pada otot-otot yang bekerja Di sisi lain penggunaan peralatan kerja yang antropometris juga berkontribusi terhadap upaya untuk mengurangi keluhan muskuloskeletal pematung. Dalam hal ini penerapan istirahat aktif ternyata sangat berguna untuk memperlancar sirkulasi darah pematung, sehingga skor keluhan muskuloskeletal yang semula cukup tinggi yaitu dengan rerata 48,37 dapat diturunkan menjadi 41,83. Penurunan skor tersebut membuktikan bahwa terjadi sirkulasi darah yang semakin lancar pada sistem muskuloskeletal yang membuat suplai oksigen ke otot semakin memadai.
Temuan ini setara dengan temuan peneliti lain seperti: (a) Purnomo (2007) melaporkan bahwa pekerja di industri kecil pembuat gerabah di Kasongan Bantul mengalami penurunan keluhan muskuloskeletal sebesar 87,80% (p < 0,05) setelah diterapkan sistem kerja dengan pendekatan ergonomi total; (b) Artayasa (2007) melaporkan bahwa pekerja wanita pengangkut kelapa di Semaja Antosari Tabanan mengalami penurunan keluhan muskuloskeletal sebesar 10,61% setelah diterapkan pendekatan ergonomi total; (c) Sajiyo (2008) melaporkan bahwa keluhan muskuloskeletal tukang gulung sigaret kretek tangan di Kediri Jawa Timur menurun sebesar 66,94% dilihat dari gerak kepala, 61,52% dilihat dari gerak bahu, dan 81,75% dilihat dari gerak anggota gerak atas (p < 0,05), setelah dilakukan redesain tempat dan sistem kerja dengan intervensi ergonomi; (d) Arimbawa (2009) juga melaporkan bahwa keluhan muskuloskeletal pembuat minyak kelapa di Dawan Klungkung menurun sebesar 26,17% (p < 0,05) setelah dilakukan redesain peralatan kerja secara ergonomis; (e) Surata (2011) melaporkan bahwa petani budidaya rumput laut di Desa Ped Nusa Penida mengalami penurunan keluhan muskuloskletal sebesar 56,15% (p < 0,05) setelah dilakukan redesain alat pengering rumput laut dan sistem kerjanya; (f) Josephus (2011) melaporkan bahwa keluhan muskuloskeletal nelayan di Amurang Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara menurun sebesar 53,55% setelah dilakukan intervensi ergonomi pada proses penangkapan ikan dengan pukat cincin; (g) Suardana (2012) melaporkan bahwa ergo-arsitektur dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal pekerja sebesar 2,22% pada