BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Balita adalah masa post natal atau masa setelah lahir yang terdiri dari beberapa

24 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Balita

Balita adalah masa post natal atau masa setelah lahir yang terdiri dari beberapa periode yaitu masa neonatal, masa bayi, dan masa prasekolah (Narendra dkk, 2002). Bayi yang lahir sehat dapat dilihat dari pertama kali lahir yaitu lahir segera menangis, seluruh tubuh bayi kemerahan, bergerak aktif, menghisap puting susu dengan kuat, dan bayi lahir dengan berat lahir 2500 gram-4000 gram.

Tanda-tanda bayi sakit berat adalah tidak mau menyusu, kaki dan tangan teraba dingin atau bayi demam, dan gerakan kedua lengan dan kaki lemah. Setiap orang tua harus segera membawa bayi kebidan atau dokter jika ada salah satu tanda tersebut. Namun, bayi dan anak sehat bisa dideteksi dari berat badan yang selalu bertambah setiap bulan dan mengikuti pita hijau pada KMS. Perkembangan dan kepandaian anak bertambah sesuai umur, serta anak jarang sakit, gembira, ceria, aktif, lincah, dan cerdas (Depkes, 2006).

B. Diare

1. Pengertian

a. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, 2000 : 501)

(2)

b. Diare adalah buang air besar cair atau tidak terbentuk (Santoso, 2005)

c. Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang tidak biasa (lebih dari 3 kali sehari), juga perubahan dalam jumlah dan konsistensi (feses cair) (Baughman, 2000 : 121).

2. Faktor-faktor yang menyebabkan diare

Faktor-faktor yang menyebabkan diare adalah : a. Status Gizi

Status gizi menjadi indikator ketiga dalam menentukan derajat kesehatan anak. Status gizi yang baik dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak untuk mencapai kematangan yang optimal. Gizi yang cukup juga dapat memperbaiki ketahanan tubuh sehingga diharapkan tubuh akan bebas dari segala penyakit. Status gizi ini dapat membantu untuk mendeteksi lebih dini risiko terjadinya masalah kesehatan (Hidayat, 2008).

Status gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi (Supariasa,2001). Saat mengalami diare berikan anak makanan untuk mencegah kurang gizi dan teruskan ASI. Bila anak tidak mendapat ASI berikan susu yang biasa diberikan.

Untuk anak kurang dari 6 bulan dan belum mendapatkan makanan padat dapat diberikan susu yang diencerkan dengan air yang sebanding selama 2 hari (Herry, 2005 : 274).

(3)

b. Infeksi

Infeksi bisa dipicu oleh beberapa sebab: 1) Amoebiasis

Terutama biasa terjadi di daerah tropis yang menjadi kasus infeksi usus besar yang disebabkan oleh parasit Entamoeba histolityca yang ditularkan oleh makanan atau minuman yang terkontaminasi atau terjadinya sentuhan mulut dengan kotoran secara langsung.

2) Campylobacter

Bakteri Campylobacter dapat menyebabkan diare yang ditularkan lewat minum air yang terkontaminasi, makan daging atau unggas yang kurang matang atau kontak dengan binatang yang terkontaminasi.

3) Cryptosporidium

Inilah penyebab utama wabah diare dipusat-pusat penitipan anak dan dapat menular melalui kontak dengan binatang yang terinfeksi terutama sapi atau orang yang terinfeksi atau karena minum air yang terkontaminasi.

4) Eschericia Coli

Lima kelompok bakteri Eschericia Coli dapat menyebabkan diare pada anak baik dengan secara langsung menyerang dinding usus maupun dengan memproduksi racun yang membuat usus iritasi. Infeksi Eschericia Coli biasanya memyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi.

(4)

Daging sapi kurang masak pada hamburger juga bisa menjadi penyebab sumber infeksi Eschericia Coli.

5) Giardiasis

Disebabkan oleh parasit Giardia. Ia penyebab utama diare pada anak-anak pemakai popok, terutama di tempat penitipan anak. Penyakit ini menyebar lewat sumber air yang terkontaminasi terutama dipusat air umum, aquarium dan kolam serta melalui kontak dengan manusia.

6) Rotavirus

Virus ini penyebab paling utama diare pada anak-anak kecil. Virus ini menyebar melalui kontak dengan tinja yang terinfeksi dan wabah sering terjadi dipusat-pusat penitipan anak dan rumah sakit anak.

7) Salmonella

Bakteri ini 50 % sebagai penyebab adanya keracunan makanan. Hampir semua makanan yang berasal dari hewan, terutama yang mentah atau kurang masak berupa daging, unggas dan telur dapat menyebabkan salmonella.

8) Shigella

Bakteri ini satu dari penyebab utama disentri (diare berdarah) di dunia dan menyebar melalui kontak dengan kotoran (tinja) yang terkontaminasi. 9) Yersinia

Air dan produk daging yang terkontaminasi, terutama usus babi goring dan produk babi lainnya adalah sumber utama infeksi dengan organisme ini (Koplewich, 2005).

(5)

c. Makanan terkontaminasi

Mencegah makanan terkontaminasi dari kotoran, misalnya kontaminasi dari lalat, kecoa, dan tikus dengan cara menutup makanan.

d. Tangan terkontaminasi

Mencegah tangan terkontaminasi bisa dilakukan dengan cara mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dan setelah buang air besar atau buang air kecil (BEM FK UNDIP, 2005 : 156).

Menurut Soegijanto (2002) faktor-faktor yang mempengaruhi diare meliputi :

1) Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang dimaksud adalah kebersihan lingkungan dan perorangan seperti kebersihan puting susu, kebersihan botol susus, dan dot susu, maupun kebersihan air yang digunakan untuk mengolah susu dan makanan.

2) Faktor Gizi

Faktor gizi yang dimaksud adalah misalnya tidak diberikannnya makanan tambahan meskipun anak telah berusia 4-6 bulan. Karena makanan pendamping ASI (MP-ASI) juga sangat diperlukan tubuh bayi sebagai asupan nutrisi, dengan adanya asupan gizi yang baik dari makanan akan membantu penambahan zat kekebalan sehingga tubuh tidak mudah terserang penyakit.

(6)

Faktor pendidikan yang utama adalah pengetahuan ibu tentang masalah kesehatan.

4) Faktor Kependudukan

Faktor ini menunjukan kejadian diare lebih tinggi pada penduduk perkotaan yang padat dan miskin atau kumuh.

5) Faktor Perilaku

Faktor perilaku orang tua dan masyarakat misalnya adalah kebiasaan ibu yang tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, setelah buang air besar (BAB) atau membuang tinja anak.

3. Pencegahan Diare

Tugas penting yang harus dilakukan petugas kesehatan untuk membantu mencegah diare yaitu dengan meyakinkan dan membantu masyarakat untuk melakukan pencegahan tertentu dan mempraktekannya.

Ada 2 pendapat mengenai tindakan pencegahan diare adalah : a. Tindakan pencegahan diare menurut (Herry, 2005) :

1) Pemberian Air Susu Ibu (ASI)

Berikan hanya ASI selama 4-6 bulan pertama kemudian teruskan pemberian ASI paling sedikit untuk 1 tahun pertama.

(7)

Berikan makanan sapihan yang bersih dan bergizi mulai usia 4-6 bulan, makanan yang diberikan adalah yang tidak merangsang misalnya pedas, asam atau masakan yang berbumbu. Selain itu, pilihlah bahan makanan yang tidak keras, namun harus lembut seperti bubur nasi atau roti panggang.

3) Menggunakan Air yang Bersih

Air minum harus yang bersih dari sumber air yang terjaga kebersihannya dan dimasak.

4) Mencuci tangan dengan sabun atau air mengalir

Cuci tangan dengan baik setiap selesai buang air besar, sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan.

5) Menggunakan jamban tertutup dan membuang tinja bayi secara baik dan benar gunakan jamban untuk anak kecil, buang secepatnya tinja dengan cara memasukannya ke dalam jamban atau menguburkan.

6) Imunisasi campak

Imunisasi campak merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Waktu pemberian imunisasi campak adalah pada umur 9-11 bulan (Herry,

2005).

b. Tindakan pencegahan diare menurut (Suryana, 2005) : 1) Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan

(8)

3) Mengkonsumsi makanan yang mengandung cukup kalori, protein, mineral dan vitamin

4) Membersihkan dan mencuci tangan dan peralatan makan sebelum dan sesudah makan, terlebih-lebih pada anak

5) Sediakan setiap saat oralit di rumah untuk mengantisipasi kalau tiba-tiba ada anggota keluarga yang terkena diare.

4. Penanggulangan Diare

Menurut Hidayat (2005) penatalaksanaan atau penanggulangan penderita diare di rumah antara lain:

a. Memberi tambahan cairan

Berikan cairan lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian, jika anak memperoleh ASI eksklusif berikan oralit atau air matang sebagai tambahan.

Anak yang tidak memperoleh ASI eksklusif berikan 1 atau lebih cairan berikut : oralit, cairan makanan (kuah, sayur, air tajin) atau air matang.

Sebagai tenaga kesehatan harus memberitahu ibu berapa banyak cairan seharinya :

1) Sampai umur 1 tahun : 50 sampai 100 ml setiap kali berak 2) Umur 1 sampai 5 tahun : 100 sampai 200 ml setiap kali berak

Minumkan cairan sedikit demi sedikit tetapi sering dan jika muntah tunggu 10 menit kemudian lanjutkan lagi sampai diare berhenti.

(9)

Saat diare anak tetap harus diberi makanan yang memadai, jangan pernah mengurangi makanan yang biasa dikonsumsi anak, termasuk ASI dan susu. Hindari makanan yang dapat merangsang pencernaan anak seperti makanan yang asam, pedas atau buah-buahan yang mempunyai sifat pencahar.

Bila diare terjadi berulang kali, balita atau anak akan kehilangan cairan atau dehidrasi yang ditandai dengan :

1) Anak menangis tanpa air mata 2) Mulut dan bibir kering

3) Selalu merasa haus

4) Air seni keluar sedikit dan berarna gelap, ada kalanya tidak keluar sama sekali.

5) Mata cekung dan terbenam

6) bayi tanda dehidrasi bias dilihat dari ubun-ubun yang menjadi cekung 7) Anak mudah mengantuk

8) Anak pucat dan turgor tidak baik

Untuk menanggulanginya perlu diberi cairan banyak, tidak harus oralit. Bisa berupa teh manis, larutan gula garam atau sup. Air tajin justru cukup efektif bagi bayi untuk mengatasi diare. Dan jauh lebih baik dibandingkan dengan oralit karena tajin mengandung glukosa primer yang mudah diserap. Penggunaan air tajin sebagai obat diare tidak berbahaya untuk bayi sekalipun (Suryana, 2005)

Selain itu ada juga ramuan untuk mengatasi diare : Bahan

(10)

Buah adas ………. 3 sendok teh Daun jambu biji ……… 5 lembar Kulit batang pulasari ………. 10 cm Cara membuat :

Adas dan daun jambu biji dicuci bersih. Adas dimemarkan dan daun jambu biji dipotong kecil-kecil kemudian dimasukan kedalam wadah. Bersama-sama dengan air, campuran itu dididihkan selama 30 menit. Setelah dingin, campuran disaring dan cairan yang diperoleh diminum pagi dan sore, setiap kali ½ gelas. Lakukan hingga diare sembuh (Mursiti, 2002).

Penatalaksanaan penderita diare di tempat pelayanan kesehatan atau penatalaksanaan secara medis (Ngastiyah, 2001):

1) Pemberian cairan

a) Cairan peroral, diberikan pada pasien dengan dehidrasi rungan atau sedang bisa diberi oralit

b) Cairan parenteral, pemberiannya dapat diberikan dengan cara melalui intra vena misalnya cairan Ringer Laktat (RL) yang selalu tersedia di fasilitas kesehatan di mana saja.

c) Pengobatan Diatetik

Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan berat badan < 7 kg jenis makanannya adalah :

a) Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM (Low Lactose Milk), Almiron atau sejenis lainnya).

(11)

b) Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim), bila anak tidak mau minum susu karena di rumah tidak biasa.

c) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa atau asam lemak yang berantai sedang atau tidak jenuh.

2) Obat-Obatan

Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain :

a) Asetosal dosis 25 mg/kg BB/hari

b) Khlorpromazin dosis 0,5-1 mg/kg BB/hari. 5. Klasifikasi Diare

Pada klasifikasi diare dapat dikelompokkan menjadi diare dehidrasi berat, diare dehidrasi sedang atau ringan, diare tanpa dehidrasi, diare persisten, disentri (Hidayat, 2005) :

a. Diare Dehidrasi Berat

Diare dehidrasi berat jika terdapat tanda sebagai berikut letargis atau mengantuk atau tidak sadar, mata cekung, serta turgor kulit jelek. Penatalaksanaannya yaitu lakukan pemasangan infuse, berikan cairan IV

(12)

Ringer Laktat, pemberian ASI sebaiknya tetap diberikan, pertahankan agar bayi dalam keadaan hangat dan kadar gula tidak turun.

b. Diare Dehidrasi Sedang atau Ringan

Diare ini mempunyi tanda seperti gelisah atau rewel, mata cekung, serta turgor kulit jelek. Penatalaksanaannya berikan ASI lebih sering dan lebih lama untuk setiap kali pemberian, berikan oralit, ajari ibu cara membuat oralit, lanjutkan pemberian ASI, berikan penjelasan kapan harus segera dibawa kepetugas kesehatan.

c. Diare Tanpa Dehidrasi

Diare tanpa dehidrasi jika hanya ada salah satu tanda pada dehidrasi berat atau ringan. Penatalaksanaannya berikan ASI lebih sering dan lebih lama setiap kali pemberian, berikan cairan tambahan yaitu berupa oralit atau air matang sebanyak bayi mau, ajari pada ibu cara memberikan oralit dengan memberi 6 bungkus oralit, anjurkan pada ibu jumlah oralit yang diberikan sebagai tambahan cairan, anjurkan untuk meminum sedikit tapi sering.

d. Diare Persisten

Diare persisten apabila terjadi diare sudah lebih dari 14 hari. Tindakan dan pengobatan untuk mengatasi masalah diare persisten dan disentri dalam manajemen balita sakit adalah sebagai berikut : atasi diare sesuai dengan tingkat diare dan dehidrasi, pertahankan kadar gula agar tidak turun, anjurkan agar bayi tetap hangat, lakukan rujukan segera.

(13)

Apabila diare disertai darah pada tinja dan tidak ada tanda gangguan saluran pencernaan. Tindakan dan pengobatan sama dengan diare persisten.

(14)
(15)

C. Pengetahuan 1. Pengertian

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2007). Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003 ).

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan mengukur pengetahuan seseorang,menggunakan alat bantu kuesioner dengan cara menilainya dengan dikategorikan baik, cukup, dan kurang. Pengetahuan baik bila > 80 % , cukup bila 60-80 % , dan kurang bila < 60 % (Khomsan, 2006).

2. Pentingnya Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). Berdasakan pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007)

(16)

Sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) didalam diri seseorang terjadi proses yang berurutan yakni :

a. Awareness ( kesadaran ) dimana orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut

c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus

tersebut bagi dirinya.

d. Trial, sikap dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan

apa yang di kehendaki oleh stimulus

e. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama. Jadi pentingnya pengetahuan disini adalah dapat menjadi dasar dalam merubah perilaku sehingga perilaku itu langgeng (Notoatmodjo, 2003)

3. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo, 2007), yaitu :

a) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

(17)

kembali (recall) terhadap suatu yang spesifikn dari seluruh bahan yang I pelajari atau rangsangan yang telah di terima. Oleh sebab itu, “tahu”ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,menyatakan dan sebagainya. b) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginerprestasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan sebagainya terhadap objek yang telah dipelajari, misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan yang bergizi.

c) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari pada situasi atau kondisi yang riil (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistic dalam penghitungan-penghitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah ( problem solving cycle ) didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang di berikan.

(18)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja ,dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan, dan sebagainya.

e) Sintesis (syntesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam satu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun suatu formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya.

f) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukn justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Pengukuran pengetahauan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas.

(19)

4. Hubungan pengetahuan dengan Perilaku

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2005). Perilaku kesehatan adalah suatu aktivitas daripada manusia itu sendiri. Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulasi yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan .

Blum (1986) menyatakan ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan pada manusia yaitu : genetik (hereditas), lingkungan, pelayanan kesehatan, dan perilaku (Notoatmodjo, 2003).

Menurut teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2003) ada 3 faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku individu maupun kelompok sebagai berikut :

a. Faktor yang mempermudah (presdisposing factor) yang mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, norma sosial, dan unsur lain yang terdapat dalam diri individu maupun masyarakat.

b. Faktor pendukung (Enabling factor) antara lain umur, status sosial ekonomi, pendidikan dan sumber daya manusia.

c. Faktor pendorong (Reinforcing factor) yaitu faktor yang memperkuat perubahan perilaku seseorang yang dikarenakan sikap suami, orang tua tokoh masyarakat atau petugas kesehatan.

(20)

5. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Pengetahuan a. Pengalaman

Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman baik dari pengalaman pribadi maupun dari pengalaman orang lain. Pengalaman ini merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan.

b. Ekonomi (pendapatan)

Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan sekunder, keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih tercukupi bila dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan akan informasi pendidikan yang termasuk ke dalam kebutuhan sekunder.

c. Lingkungan sosial ekonomi

Manusia adalah mahluk sosial dimana didalam kehidupan berinteraksi satu dengan yang lainnya. Individu yang dapat berinteraksi lebih banyak dan baik, maka akan lebih besar dan terpapar informasi.

d. Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam pemberian respon terhadap sesuatu yang datangnya dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang dan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang akan mereka dapatkan.

(21)

Melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media massa (TV, radio, majalah dan lai-lain) akan memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang tidak pernah terpapar informasi media massa.

f. Akses Layanan Kesehatan atau Fasilitas Kesehatan

Mudah atau sulitnya dalam mengakses kesehatan tentunya akan berpengaruh terhadap pengetahuan khususnya dalam hal kesehatan.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dan subjek penelitian atau respon (Notoatmodjo, 2003)

(22)

Faktor Predisposisi 1. Pengetahuan 2. Sikap 3. Kepercayaan 4. Tradisi 5. Nilai – nilai 6. Tingkat pendidikan 7. Tingkat sosial ekonomi

Faktor Pendukung 1. Sarana dan prasarana 2. Terjangkaunya fasilitas

kesehatan

3. Ketersediaan pelayanan kesehatan

Faktor Penguat 1. Sikap dan perilaku

petugas kesehatan 2. Tokoh agama 3. Tokoh masyarakat 4. Peraturan pemerintah

Perilaku ibu dalam pencegahan diare

Sumber : Green, L dalam Notoatmodjo, S, 2003 Gambar 1.Kerangka Teori

(23)

E. Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat

Gambar 1. Kerangka Konsep

Perilaku ibu dalam pencegahan diare Pengetahuan ibu tentang

diare

F. Hipotesis

Ada hubungan pengetahuan ibu tentang diare dengan perilaku ibu dalam pencegahan diare pada anak balita usia 1-5 tahun di wilayah RW V Desa Kaliprau Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang.

(24)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :