ILMU PENYAKIT KULIT & KELAMIN
DAN PARASITOLOGI
TIM UKMPPD FK
Universitas Malahayati
Refreshing TEORI
•
Bahan dan Sumber Pembelajaran
•
SKDI 2012
–
Daftar Penyakit
–
Daftar Keterampilan klinis
Daftar Keterampilan Klinis dikelompokkan menurut
sistem tubuh manusia untuk
menghindari pengulangan.
Pada setiap keterampilan klinis ditetapkan tingkat
kemampuan yang harus dicapai di akhir pendidikan
dokter dengan menggunakan
•
Tingkat kemampuan 1 (
Knows
): Mengetahui dan
menjelaskan
•
Tingkat kemampuan 2 (
Knows How
): Pernah
melihat atau didemonstrasikan
•
Tingkat kemampuan 3 (
Shows
): Pernah
melakukan atau pernah menerapkan di
bawah supervisi
•
Tingkat kemampuan 4 (
Does
): Mampu
melakukan secara mandiri
–
4A.Keterampilan yang dicapai pada saat lulus dokter
–
4B.Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah seles
ai internsip dan/atau
Daftar Keterampilan SKDI 2012
No
Keterampilan
Tingkat
PEMERIKSAAN
FISIK
1
Inspeksi
kulit
4A
2
Inspeksi
membran
mukosa
4A
3
Inspeksi
daerah
perianal
4A
4
Inspeksi
kuku
4A
5
Inspeksi
rambut
dan
skalp
4A
6
Palpasi
kulit
4A
7
Deskripsi
lesi
kulit
dengan
perubahan
primer
dan
sekunder,
misal
ukuran,
distribusi,
penyebaran,
konfigurasi
4A
8
Deskripsi
lesi
kulit
dengan
perubahan
primer
dan
sekunder,
seperti
uku
distribusi,
penyebaran
dan
konfigurasi
No
Keterampilan
Tingkat
PEMERIKSAAN
TAMBAHAN
9
Pemeriksaan
dermografisme
4A
10
Penyiapan
dan
penilaian
sediaan
kalium
hidroksida
4A
11
Penyiapan
dan
penilaian
sediaan
metilen
biru
4A
12
Penyiapan
dan
penilaian
sediaan
Gram
4A
13
Biopsi
plong
(
punch
biopsy
)
2
14
Uji
tempel
(
patch
test
)
2
15
Uji
tusuk
(
prick
test
)
2
16
Pemeriksaan
dengan
sinar
UVA
(lampu
Wood)
4A
TERAPEUTIK
17
Pemilihan
obat
topikal
4A
18
Insisi
dan
drainase
abses
4A
19
Eksisi
tumor
jinak
kulit
4A
20
Ekstraksi
komedo
4A
21
Perawatan
luka
4A
22
Kompres
4A
23
Bebat
kompresi
pada
vena
varikosum
4A
24
Rozerplasty
kuku
4A
PENCEGAHAN
Tingkat Kemampuan 1: mengenali dan menjelaskan
Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk
Tingkat Kemampuan 3: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan
Merujuk:
3A. Bukan gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan
pada keadaan yang bukan gawat darurat
rujuk.
3B
.
Gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat
diagnosis
klinik
dan
memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan
nyawa atau
mencegah
keparahan
dan/atau kecacatan pada
pasien.
Tingkat Kemampuan 4: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara
mandiri dan tuntas
4A.
Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter
4B.
Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atauDengan de
mikian didalam Daftar Penyakit ini level kompetensi tertinggi adalah
4A
Daftar Penyakit-SKDI 2012
Infeksi
Virus
1
Veruka
vulgaris
4A
2
Kondiloma
akuminatum
3A
3
Moluskum
kontagiosum
4A
4
Herpes
zoster
tanpa
komplikasi
4A
5
Morbili
tanpa
komplikasi
4A
6
Varisela
tanpa
komplikasi
4A
7
Herpes
simpleks
tanpa
komplikasi
4A
Infeksi
Bakteri
8
Impetigo
4A
9
Impetigo
ulseratif
(ektima)
4A
10
Folikulitis
superfisialis
4A
11
Furunkel,
karbunkel
4A
12
Eritrasma
4A
13
Erisipelas
4A
14
Skrofuloderma
4A
15
Lepra
4A
16
Reaksi
lepra
3A
Infeksi
Jamur
18
Tinea
kapitis
4A
19
Tinea
barbe
4A
20
Tinea
fasialis
4A
21
Tinea
korporis
4A
22
Tinea
manus
4A
23
Tinea
unguium
4A
24
Tinea
kruris
4A
25
Tinea
pedis
4A
26
Pitiriasis
vesikolor
4A
27
Kandidosis
mukokutan
ringan
4A
Gigitan
Serangga
dan
Infestasi
Parasit
28
Cutaneus
larva
migran
4A
29
Filariasis
4A
30
Pedikulosis
kapitis
4A
31
Pedikulosis
pubis
4A
32
Skabies
4A
Dermatitis
Eksim
34
Dermatitis
kontak
iritan
4A
35
Dermatitis
kontak
alergika
3A
36
Dermatitis
atopik
(kecuali
recalcitrant
)
4A
37
Dermatitis
numularis
4A
38
Liken
simpleks
kronik/neurodermatitis
3A
39
Napkin
eczema
4A
Lesi
Eritro-Squamosa
40
Psoriasis
vulgaris
3A
41
Dermatitis
seboroik
4A
42
Pitiriasis
rosea
4A
Kelainan
Kelenjar
Sebasea
dan
Ekrin
43
Akne
vulgaris
ringan
4A
44
Akne
vulgaris
sedang-berat
3A
45
Hidradenitis
supuratif
4A
46
Dermatitis
perioral
4A
47
Miliaria
4A
Penyakit
Vesikobulosa
48
Toxic
epidermal
necrolysis
3B
Penyakit
Kulit
Alergi
50
Urtikaria
akut
4A
51
Urtikaria
kronis
3A
52
Angioedema
3B
Penyakit
Autoimun
53
Lupus
eritematosis
kulit
2
Gangguan
Keratinisasi
54
Ichthyosis
vulgaris
3A
Reaksi
Obat
55
Exanthematous
drug
eruption,
fixed
drug
eruptio
n
4A
Kelainan
Pigmentasi
56
Vitiligo
3A
57
Melasma
3A
58
Albino
2
59
Hiperpigmentasi
pascainflamasi
3A
60
Hipopigmentasi
pascainflamasi
3A
Neoplasma
61
Keratosis
seboroik
2
62
Kista
epitel
3A
Tumor
Epitel
Premaligna
dan
Maligna
63
Squamous
cell
carcinoma
(Karsinoma
sel
skua
mosa)
2
64
Basal
cell
carcinoma
(Karsinoma
sel
basal)
2
Tumor
Dermis
65
Xanthoma
2
Tumor
Sel
Melanosit
67
Lentigo
2
68
Nevus
pigmentosus
2
69
Melanoma
maligna
1
Rambut
70
Alopesia
areata
2
71
Alopesia
androgenik
2
72
Telogen
eflluvium
2
73
Psoriasis
vulgaris
2
Trauma
74
Vulnus
laseratum,
punctum
4A
75
Vulnus
perforatum,
penetratum
3B
76
Luka
bakar
derajat
1
dan
2
4A
77
Luka
bakar
derajat
3
dan
4
3B
78
Luka
akibat
bahan
kimia
3B
79
Luka
akibat
sengatan
listrik
3B
Urtikaria
Reaksi vaskular di kulit akibat
bermacam-macam sebab,
biasanya ditandai dengan edema
setempat yang cepat timbul dan
menghilang perlahan-lahan
berwarna pucat dan kemerahan,
meninggi di permukaan kulit,
sekitarnya dapat dikelilingi halo
Etiologi: obat, makanan, gigitan
serangga, bahan
fotosensitizer
,
inhalan, kontaktan, trauma fisik,
infeksi, psikis, genetik, atau
Klasifikasi urtikaria
Berdasarkan waktu
Akut: Kurang dari 6 minggu
Kronik: lebih dari 6 minggu
Berdasarkan morfologi
Papular: berbentuk papul
Gutata: sebesar tetesan air
Girata: ukurannya
besar-besar
Berdasarkan luas:
Lokal
Generalisata
Angioedema: terkena
lapisan yang lebih dalam
daripada dermis atau
submukosa
•
Berdasarkan penyebab
– Karena reaksi imunologik
• Bergantung pada IgE (atopi, karena antigen spesifik)
• Ikut sertanya komplemen (reaksi sitotoksik, reaksi kompleks imun, defisiensi C1 esterase inhibitor)
• Reaksi alergi tipe IV
– Reaksi nonimunologik
• Langsung memicu sel mast
• Bahan yang menyebabkan perubahan metabolisme asam arakidonat
• Trauma fisik
Jenis Keterangan
Urtikaria adrenergik Urtikaria yang berhubungan dengan kenaikan konsentrasi noradrenalin dan adrenalin plasma. Dapat dipicu dengan pemberian adrenalin atau noradrenalin
Urtikaria kolinergik (bagian dari
urtikaria fisik)
Urtikaria yang dipicu karena kenaikan suhu tubuh sendiri dan keringat
Urtikaria dingin Urtikaria yang dipicu karena rangsangan dingin
Urtikaria fisik Kelompok urtikaria yang dipicu oleh rangsangan fisik dari luar. Gejala khas: dermografisme
•
Gejala:
–
Gatal, rasa terbakar, atau tertusuk
–
Eritema atau edema berbatas tegas, kadang
bagian tengah tampak lebih pucat
–
Besarnya dapat lentikular, numular, plakat
•
Pengobatan:
–
Menghindari penyebab
–
Antihistamin
Pemeriksaan Penunjang
•
Cryoglobulin, Hemolysin
•
THT, gigi, mencari fokus
infeksi bila ada
•
IgE, eosinofil,
komplemen
•
Prick test untuk alergen
inhalan
•
Eliminasi makanan
•
Histopatologi
•
Urtikaria fisik akibat
sinar
→
foto tempel
•
Mecholyl intradermal
•
Ice cube test utk
urtikaria dingin
Urtikaria
Skabies
Penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi
terhadap
Sarcoptes scabiei var. hominis
Transmisi: kontak langsung (
skin to skin
), tidak langsung (pakaian)
Kelainan kulit akibat terowongan tungau atau karena garukan
penderita
Gejala:
Pruritus nokturna
Menyerang manusia secara kelompok
Adanya terowongan (kunikulus) yang berwarna putih/keabuan,
lurus/berkelok, panjang 1 cm, pada ujung didapatkan papul/vesikel.
Predileksi: sela jari tangan, pergelangan tangan bag volar, siku luar,
lipat ketiak depan, areola mammae, umbilikus, bokong, genitalia
eksterna, perut bawah
Ditemukan tungau
Obat: sulfur presipitat 4-20%, benzil benzoat 20-25%, gameksan
1%, krotamiton 10%, permetrin 5%
Psoriasis vulgaris
Bercak eritema berbatas tegas dengan skuama kasar berlapis-lapis
dan transparan
Predileksi: skalp, perbatasan skalp-muka, ekstremitas ekstensor
(siku & lutut), lumbosakral
Khas: fenomena tetesan lilin, Auspitz sign, Kobner sign
Patofisiologi:
Genetik: berkaitan dengan HLA
Imunologik: diekspresikan oleh limfosit T, sel penyaji antigen dermal,
dan proliferasi keratinosit
→
peningkatan turn over epidermis
Pencetus: stress, infeksi fokal, trauma, endokrin, gangguan
metabolisme, obat, alkohol, dan merokok
Tata laksana:
Sistemik: KS, sitostatik (metotreksat), levodopa, etretinat, dll
Topikal: preparat ter, KS, ditranol, tazaroen, emolien, dll
PUVA (UVA + psoralen)
93. Trikomoniasis
•
Infeksi saluran urogenital bagian bawah oleh
Trichomonas vaginalis
, bisa
bersifat akut/kronik, penularan biasanya melalui hubungan seksual (dapat
juga melalui pakaian atau karena berenang)
•
Gejala klinis:
– Pada wanita:
• Sekret vagina seropurulen berwana kekuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak, berbusa
• Dinding vagina kemerahan, terdapat abses yang tampak sebagai granulasi berwarna merah (strawberry appearance), dispareunia, perdarahan pascakoitus, perdarahan intermenstrual
– Pada laki-laki: gambaran klinis lebih ringan, mirip uretritis nongonore
•
Pemeriksaan:
– Sediaan basah : tropozoit bergerak aktif
– Pemeriksaan pewarnaan Giemsa
•
Pengobatan:
– Topikal: cairan irigasi (H2O, asam laktat), supositoria/gel trikomoniasudal
– Sistemik: metronidazol (2 g single dose atau 500 mg x 7 hari), tinidazol
Karakteristik beberapa IMS
Penyakit Karakteristik
Gonorrhea Duh purulen kadang-kadang disertai darah. Diplokokus gram negatif.
Trikomoniasis Duh seropurulen kuning/kuning kehijauan, berbau tidak enak, berbusa. Strawberry appearance.
Vaginosis bakterial Duh berbau tidak enak (amis), warna abu-abu homogen, jarang berbusa. Clue cells.
Kandidosis vaginalis Duh berwarna kekuningan, disertai gumpalan seperti kepala susu berwarna putih kekuningan. Sel ragi, blastospora, atau hifa semu.
Gonorrhea
Penyakit yang disebabkan infeksi
Neisseria
gonorrhoeae
Masa tunas 2-5 hari
Jenis infeksi:
Pada pria: uretritis, tysonitis, parauretritis, littritis,
cowperitis, prostatitis, vesikulitis, funikulitis, epididimitis,
trigonitis
Gambaran uretritis: gatal, panas di uretra distal, disusul
disuria, polakisuria , keluar duh yang kadang disertai darah,
nyeri saat ereksi
Pada wanita: uretritis, oarauretritis, servisitis, bartholinitis,
salpingitis, proktitis, orofaringitis, konjungtivitis (pada bayi
baru lahir), gonorrhea diseminata
Gonorrhea
Pemeriksaan:
Sediaan langsung: diplokokus gram negatif
Kultur: agar Thayer-Martin
Pengobatan
Diagnosis Pilihan pengobatan
Uncomplicated gonococcal infection of the cervix,
urethra, pharynx, or rectum
First line: Ceftriaxone (250 mg IM, single dose) or Cefixime (400 mg PO, single dose)
plus
Treatment for Chlamydia if chlamydial infection is not ruled out: Azithromycin (1 g PO, single dose) or Doxycycline (100 mg PO bid for 7 days)
Alternative: Ceftizoxime (500 mg IM, single dose) or
Cefotaxime (500 mg IM, single dose) or Spectinomycin (2 g IM, single dose) or Cefotetan (1 g IM, single dose) plus probenecid (1 g PO, single dose)or Cefoxitin (2 g IM, single dose) plus probenecid (1 g PO, single dose)
Herpes zoster
Penyakit yang disebabkan virus varicella zoster yang menyerang kulit dan
mukosa, merupakan reaktivasi setelah infeksi primer (varicella)
Predileksi: daerah torakal, unilateral, bersifat dermatomal
Gejala:
Gejala prodromal sistemik (demam, pusing, malaise) & lokal (myalgia, gatal, pegal)
Timbul eritema yang kemudian menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar eritematosa & edema, kemudian menjadi pustul dan krusta
Pembesaran KGB regional
Herpes zoster oftalmikus: infeksi n.V-1
Sindrom Ramsay-Hunt: gangguan n. fasialis & otikus
Komplikasi: neuralgia pascaherpetik: nyeri yang timbul pada daerah
bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah sembuh
Pengobatan: acyclovir (pada herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan
defisiensi imun)
Kandidosis
Kandidosis: penyakit jamur bisa bersifat akut/subakut disebabkan
oleh genus
Candida
Klasifikasi
Kandidosis mukosa: kandidosis oral,
perleche
, vulvovaginitis, balanitis,
mukokutan kronik, bronkopulmonar
Kandidosis kutis: lokalisata, generalisata, paronikia & onikomikosis,
granulomatosa
Kandidosis sistemik: endokarditis, meningitis, pyelonefritis, septikemia
Reaksi id (kandidid)
Faktor
Endogen: perubahan fisiologik (kehamilan, obesitas, iatrogenik, DM,
penyakit kronik), usia (orang tua & bayi), imunologik
Eksogen: iklim panas, kelembaban tinggi, kebiasaan berendam kaki,
kontak dengan penderita
Kandidosis kutis
Bentuk klinis:
Kandidosis intertriginosa: Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat
paha, intergluteal, lipat payudara, sela jari, glans penis, dan
umbilikus berupa bercak berbatas tegas, bersisik, basah,
eritematosa. Dikelilingi ileh satelit berupa vesikel-vesikel dan
pustul-pustul kecil atau bula
Kandidosis perianal: Lesi berupa maserasi seperti dermatofit
tipe basah
Kandidosis kutis generalisata: Lesi terdapat pada
glabrous skin
.
Sering disertai glossitis, stomatitis, paronikia
Pemeriksaan: KOH (selragi, blastospora, hifa semu), kultur
di agar Sabouraud
Pengobatan: hindari faktor predisposisi, antifungal
(gentian violet 0,5-1%, nistatin, amfoterisin B, grup azole)
Morfologi koloni C.
albicans pada medium
padat agar Sabouraud
Dekstrosa
Bulat dengan
permukaan sedikit
cembung, halus, licin
Warna koloni putih
kekuningan dan berbau
asam seperti aroma
Pitiriasis rosea
•
Dermatitis eritroskuamosa yang disebabkan
oleh infeksi virus (
self-limiting disease
)
•
Bentuk klinis:
–
Dimulai dengan lesi inisial berbentuk eritema
berskuama halus dengan kolaret (
herald patch
)
–
Disusul dengan lesi yang lebih kecil di badan, paha
dan lengan atas, tersusun sesuai lipatan kulit
(
inverted christmas tree appearance
)
•
Pengobatan: simtomatik
Kusta/morbus Hansen
•
Penyakit infeksi kronik akibat infeksi
Mycobacterium leprae
•
Gejala klinis:
Tuberculoid
Few well-defined hypopigmentedhypesthetic macules with raised edges and varying in size from a few
millimeters to very large lesions covering the entire trunk.
Erythematous or purple border and hypopigmented center. Sharply
defined, raised; often annular; enlarge peripherally. Central area becomes atrophic/depressed.
Advanced lesions are anesthetic, devoid of skin appendages (sweat glands, hair follicles). test pinprick, temperature, vibration
Any site including the face.
May be a thickened nerve on the edge of the lesion; large peripheral nerve enlargement frequent (ulnar).
Lepromatous
Skin-colored or slightly
erythematous papules/nodules. Lesions enlarge; new lesions occur
and coalesce. Later: symmetrically distributed nodules, raised
plaques, diffuse dermal infiltrate, which on face results in loss of hair (lateral eyebrows and eyelashes) and leonine facies (lion's face). Bilaterally symmetric involving
earlobes, face, arms, and buttocks, or less frequently the trunk and lower extremities.
More extensive nerve involvement
Tipe Lesi Batas Permukaan BTA Lepromin
I Makula
hipopigmentasi
Jelas Halus agak berkilat, anestesi - + TT Makula eritematosa bulat/lonjong, bagian tengah sembuh Jelas Kering bersisik, anestesi - + kuat BT Makula eritematosa tidak teratur, mula-mula ada tanda kontraktur Jelas Kering bersisik, anestesi +/- + lemah BB Plakat, dome-shaped, punched-out Agak jelas Agak kasar, agak berkilat + -
BL Makula infiltrat merah Agak jelas
Halus berkilat
+ -
LL Makula infiltrat difus berupa nodus simetri, saraf terasa sakit
Tidak jelas
Halus berkilat
Pausibasilar Multibasilar
Lesi kulit
(makula datar, papul meninggi, nodus)
•1-5 lesi
•Hipopigmentasi/eritema
•Distribusi tidak simetris
•Hilangnya sensasi yang jelas
•>5 lesi
•Distribusi lebih simetris
•Hilangnya sensasi kurang jelas
Kerusakan saraf
(menyebabkan hilangnya sensasi/kelemahan otot yang dipersarafi)
Hanya satu cabang saraf Banyak cabang saraf
•
Pemeriksaan
–
Bakterioskopik: Ziehl-Neelsen
–
Histopatologik: sel datia Langhans, atau sel Virchow
Pemeriksaan sensibilitas
•
Jarum
→
nyeri
•
Kapas
→
raba
•
Rasa suhu bila belum jelas
Pitiriasis versikolor
Penyakit jamur superfisial yang kronik disebabkan
Malassezia furfur
Gejala:
Bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat
hitam, meliputi badan, ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas,
leher, muka, kulit kepala yang berambut
Asimtomatik – gatal ringan, berfluoresensi
Pemeriksaan: lampu Wood (kuning keemasan), KOH 20%
(hifa pendek, spora bulat: meatball & spaghetti
appearance)
Obat: selenium sulfida (shampoo), azole, sulfur presipitat
Jika sulit disembuhkan atau generalisata, dapat diberikan
ketokonazol 1x200mg selama 10 hari
Filariasis
Penyakit yang disebabkan cacing
Filariidae
, dibagi menjadi 3
berdasarkan habitat cacing dewasa di hospes:
Kutaneus:
Loa loa, Onchocerca volvulus, Mansonella streptocerca
Limfatik:
Wuchereria bancroftii, Brugia malayi, Brugia timori
Kavitas tubuh:
Mansonella perstans, Mansonella ozzardi
Fase gejala filariasis limfatik:
Mikrofilaremia asimtomatik
Adenolimfangitis akut: limfadenopati yang nyeri, limfangitis
retrograde, demam,
tropical pulmonary eosinophilia
(batuk, mengi,
anoreksia, malaise, sesak)
Limfedema ireversibel kronik
Grading limfedema (WHO, 1992):
Grade 1 - Pitting edema reversible with limb elevation
Grade 2 - Nonpitting edema irreversible with limb elevation
Grade 3 - Severe swelling with sclerosis and skin changes
Wayangankar S. Filariasis. http://emedicine.medscape.com/article/217776-overview
Pemeriksaan & tatalaksana filariasis
limfatik
Pemeriksaan penunjang:
Deteksi mikrofilaria di darah
Deteksi mikrofilaria di kiluria dan cairan hidrokel
Antibodi filaria, eosinofilia
Biopsi KGB
Pengobatan:
Tirah baring, elevasi tungkai, kompres
Antihelmintik (ivermectin, DEC, albendazole)
Suportif
Pengobatan massal dengan albendazole+ivermectin (untuk
endemik
Onchocerca volvulus
) atau albendazole+DEC (untuk
nonendemik
Onchocerca volvulus
) guna mencegah transmisi
Bedah (untuk kasus hidrokel/elefantiasis skrotal)
Wuchereria bancroftii
Brugia malayi
Brugia timori
Perbandingan panjang:lebar kepala 3:1
Inti tidak teratur Inti di ekor 5-8 buah
Perbandingan panjang:lebar kepala 2:1
Inti tidak teratur Inti di ekor 2-5 buah
Panjang:lebar kepala sama Inti teratur
Schistosoma
Penyakit : skistosomiasis= bilharziasis
Morfologi dan Daur Hidup
Hidup in copula di dalam pembuluh darah vena-vena
usus, vesikalis dan prostatika.
Di bagian ventral cacing jantan terdapat canalis
gynaecophorus, tempat cacing betina.
Telur tidak mempunyai operkulum dan berisi
mirasidium, mempunyai duri dan letaknya tergantung
spesies.
Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah,
bermigrasi di jaringan dan akhirnya masuk ke lumen
usus atau kandung kencing
Schistosoma japonicum
TELUR
BENTUK : BULAT AGAK LONJONG DNG
TONJOLAN DI BAGIAN
LATERAL DEKAT KUTUB
UKURAN : 100 x 65 µm
TELUR BERISI EMBRIO
TANPA OPERKULUM
SERKARIA
Schistosoma sp
Gejala klinis
–
Efek patologis tergantung jumlah telur yang
dikeluarkan dan jumlah cacing .
–
Keluhan : demam, malaise, berat badan
menurun
–
Pada infeksi berat
→
Sindroma disentri
–
Hepatomegali timbul lebih dini disusul
Infeksi cacing tambang
Disebabkan Ancylostoma
duodenale & Necator
americanus
Gejala:
Pruritus lokal pada tempat
yang mengalami invasi
Nyeri abdomen, diare,
muntah
Anemia defisiensi besi
Infeksi berat menyebabkan
pneumonitis (Loefflerlike
syndrome)
Nama cacing Cacing dewasa Telur Obat
Ascaris
lumbricoides
Mebendazole, pirantel pamoat
Taenia solium Albendazole,
prazikuantel, bedah Enterobius vermicularis Pirantel pamoat, mebendazole, albendazole Ancylostoma duodenale Necator americanus Mebendazole, pirantel pamoat, albendazole Schistosoma haematobium Prazikuantel Trichuris trichiura Mebendazole, albendazole
Cutaneous larva migrans (creeping
eruption)
Peradangan berbentuk linear,
berkelok-kelok, menimbul dan
progresif
Penyebab:
Ancylostoma
braziliense
dan
Ancylostoma
caninum
Larva masuk kulit, menimbulkan
rasa gatal dan panas, diikuti lesi
linear berkelok-kelok, menimbul,
serpiginosa membentuk
terowongan
Gatal hebat pada malam hari
Pengobatan: tiabendazole,
albendazole, cryotherapy, kloretil
Fascioliasis
Human fascioliasis is usually recognized as an
infection of the bile ducts and liver, but infection
in other parts of the body can occur.
In the early (acute) phase, symptoms can occur
as a result of the parasite's migration from the
intestine to and through the liver.
Symptoms can include gastrointestinal problems
such as nausea, vomiting, and abdominal
pain/tenderness. Fever, rash, and difficulty
breathing may occur.
Microscopy
A, B, C: Telur Fasciola hepatica. Pengecatan: iodine. A,B bentuk membulat; C. Terlihat operculum pada
Cutaneous Anthrax
•
95% of all cases globally
•
Incubation: 2 to 3 days
•
Spores enter skin through open wound or
abrasion
•
Papule
→
vesicle
→
ulcer
→
eschar
•
Case fatality rate 5 to 20%
•
Untreated – septicemia and death
Center for Food Security and Public Health, Iowa State University, 2011
Center for Food Security and Public Health, Iowa State University, 2011
Day 2
Day 6
Day 4
Day 6
Day 6
Day 10
The Organism
•
Bacillus anthracis
•
Large, gram-positive,
non-motile rod
•
Two forms
–
Vegetative, spore
•
Over 1,200 strains
•
Nearly worldwide distribution
Center for Food Security and Public Health, Iowa State University, 2011
Kelainan Penjelasan
Pemfigus vulgaris Penyakit kulit autoimun berbula kronik, menyerang kulit dan membran mukosa yang secara histologik ditandai dengan bula intraepidermal akibat proses akantolisis dan secara imunopatologik ditemukan antibodi terhadap komponen desmosom pada permukaan keratinosit jenis IgG, baik terikat maupun beredar dalam darah. Khas: bula kendur, bila pecah menjadi krusta yang bertahan lama, nikolsky sign (+)
Pemfigoid bulosa Perbedaan dengan pemfigus vulgaris: keadaan umum baik, dinding bula tegang , bula subepidermal, terdapat IgG linear
Pemphigus Vulgaris Bullous Pemphigoid
Paraneoplastic Pemphigus e.c Castleman tumor
Cleared when the tumor removed
Pemphigus Foliceus
Cicatricial Pemphigoid Pemphigus Vulgaris
Balantidium coli
~55
m
~70 x 45
m
(up to 200
m)
•
Most people who are infected with
Balantidium coli
remain asymptomatic. An
infected individual may have cysts or
trophozoites in their feces, but be free of any
other symptoms or complaints
•
Common symptoms of Balantidiasis include
chronic diarrhea, occasional dysentery
(diarrhea with passage of blood or mucus),
nausea, foul breath, colitis, abdominal pain
Immature Entamoeba histolytica
cyst (mature cysts have 4 nuclei)
Trophozoites of Entamoeba histolytica with ingested erythrocytes