• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Pendidikan Agama Islam (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Pendidikan Agama Islam (1)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan untuk memenuhi mata kuliah Pendidikan Agama Islam pada Program Diploma Tiga (DIII)

1. Mahlia Zahra 11130034 2. Helmy Maulana 11130084 3. Yafkhan Imam Munandar 11130512 4. Risma Kurniasari 11132073 5. Bella Wibi DI 11132332 6. Amitha Fitri IR 11132634 7. Rahma Dian S 11130883 8. Yunia Kamilasari 11131275

Program Studi Komputerisasi Akuntansi

Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Bina Sarana Informatika Jakarta

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala limpahan Rahmat kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul”SUPER STUDENTS DALAM ISLAM”

Dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Kami menyadari bahwa tanpa bimbingan dan dorongan dari semua pihak, maka penulisan makalah ini tidak akan lancar. Oleh karena itu pada kesempatan ini, ijinkanlah kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

1. Direktur Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Bina Sarana Informatika.

2. Ketua Program Studi Komputerisasi Akuntansi Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Bina Sarana Informatika.

3. Bapak Nanang Lidwan selaku Dosen Pendidikan Agama Islam.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh sekali dari sempurna, untuk itu kami mohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan dimasa yang akan datang. Akhir kata semoga makalah ini dapat berguna bagi kami khususnya dan bagi para pembaca yang berminat pada umumnya.

Depok, 8 Desember 2015

(3)

iii

Kata Pengantar ...

ii

Daftar Isi...

iii

BAB I PENDAHULUAN...

1

1.1 Latar Belakang...

1

1.2 Maksud dan Tujuan ...

1

1.3 Sistematika Penulisan ...

2

BAB II PEMBAHASAN ...

3

2.1 Konsep Dasar Pendidikan Islam...

3

2.1.1 Pengertian Tarbiyah...

3

2.1.2

Pengertian Ta’lim

...

4

2.1.3

Pengertian Ta’dib...

5

2.1.4 Pengertian Pendidikan Islam ...

5

2.1.5 Karakteristik Pendidikan Islam ...

7

2.2 Pengertian Pendidikan Barat ...

8

2.2.1 Konsep Pendidikan Barat ...

11

2.2.2 Karakteristik Pendidikan Barat...

12

2.2.3 Perbedaan Filsafat Pendidikan Islam dengan

Filsafat Pendidikan Barat...

13

2.3 Pengertian Super Student...

14

2.4 Tips Menjadi Pelajar Super ...

14

BAB III PENUTUP ...

16

3.1 Kesimpulan ...

16

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu unsur pembangunan peradaban bangsa adalah melalui pendidikan. Sedangkan hasil akhir sebuah pendidikan tergantung pada tujuan awal pendidikan itu sendiri. Islam dan barat memiliki pandangan berbeda mengenai hal tersebut. Paham rasionalisme yang berkembang dibarat dijadikan dasar pijakan bagi konsep-konsep pendidikan barat. Ini jauh berbeda dengan islam yang memiliki Al-Quran, Sunnah, dan Ijtihad para ulama sebagai konsep pendidikannya. Hal inilah yang membedakan ciri-ciri dari pendidikan yang ada diBarat dengan pendidikan Islam. Masing-masing peradaban ini memiliki karakter yang berbeda sehingga dengan produk yang dihasilkan pun memiliki ciri-ciri yang berbeda.

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dari penyusunan makalah ini adalah sebagai tolak ukur sampai sejauh mana mahasiswa memahami mengenai pendidikan secara islam. Disamping itu makalah ini disusun dengan tujuan :

1. Sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam. 2. Menerapkan teori tentang pendidikan dalam islam.

(5)

1.1 Sistematika Penulisan

Sistematika Penulisan merupakan uraian tentang susunan dari penulisan itu sendiri yang dibuat secara teratur dan terperinci, sehingga dapat memberikan gambaran secara menyeluruh. Adapun sistematika penulisan pada makalah ini terdiri dari tiga bab, yaitu sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini membahas gambaran umum latar belakang yaitu pentingnya tema yang dibahas dalam Pendidikan Agama Islam, tujuan serta sistematika penulisan yang di bahas dalam bab demi bab.

BAB II PEMBAHASAN

Pada bab ini berisi tentang pokok bahasan yang harus dibahas sesuai dengan tema.

BAB III PENUTUP

(6)

3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Pendidikan Islam

Pendidikan merupakan salah satu unsur yang sangat penting terhadap pembentukan karakter dan pembangunan peradaban suatu bangsa. Setidaknya ada tiga faktor pembentukan sebuah peradaban yaitu pandangan hidup (worldview), ilmu pengetahuan (science) dan salah satunya adalah Pendidikan (Education).

Konsep Dasar pendidikan Islam ini mencakup pengertian istilah Tarbiyah, Ta’lim, Ta’dibdan Pendidikan Islam.

2.1.1. Pengertian Tarbiyah

Abdurrahman An-Nahlawi mengemukakan bahwa menurut kamus Bahasa Arab, lafal At-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu:

1. Raba-Yarbu, yang berarti bertambah dan bertumbuh. Makna ini dapat diliat dalam firman Allah yang artinya: “Dan suatu Riba (tambahan) yang kalian berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu adalah

menambah pada sisi Allah”(QS. Ar-Rum:39)

2. Rabiya-Yarba, dengan wajan (bentuk) khafiya-yakhfa, yang berarti menjadi

besar. Atas dasar makna inilah Ibnu Al-Arabi mengatakan: “Jika orang bertanya tentang diriku, maka Mekkah adalah tempat tinggalku dan disitulan aku

(7)

3. Rabba-Yarubbu, dengan wajan (bentuk) Madda-Yamuddu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara. Makan ini antara lain ditunjukan oleh perkataan Hasan bin Tsabit sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu Al-Manzhur dalam Lisan Al-Arab: “Sesungguhnya ketika engkau tampak pada hari keluar di halaman istana, engkau lebih baik daripada

sebutir mutiara putih bersih yang dipelihara oleh kumpulan air laut”

Dari ketiga asal kata diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri dari empat unsur, yaitu:

1. Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang Baligh.

2. Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam. 3. Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi anak menuju kepada kebaikan dan

kesempurnaan yang layak baginya. 4. Proses ini dilaksanakan secara bertahap.

2.1.2. Pengertian Ta’lim

At-Ta’lim merupakan bagian kecil dari At-Tarbiyah Ai-Aqliyah yang bertujuan memperoleh pengetahuan dan keahlian berfikir, yang sifatnya mengacu pada domain kognitif. Hal ini dapat dipahami dari pemakaian kata ‘Allama’ dikaitkan dengan kata ‘Aradha’ yang mengimplikasikan bahawa proses pengajaran adam tersebut pada

(8)

5

2.1.3. Pengertian Ta’dib

Muhammad Nadi Al-Badri, sebagaimana dikutip oleh Ramayulis mengemukakan pada zaman klasik orang hanya mengenal kata ta’dib untuk

menunjukan kegiatan pemdidikan. Pengertian seperti ini terus terpakai sepanjang masa kejayaan islam, hingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal manusia pada masa itu disebut Adap, dan seorang pendidik pada masa itu disebut Mu’adib.

Ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan pencipta sedemikian rupa sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan didalam tatanan wujud dan keberadaannya (Al-Attas:60). Pengertian ini berdasarkanm Hadist Nabi: “Tuhanku telah mendidikku dan telah membaguskan pendidikanku”

2.1.4. Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan islam adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspek.

(9)

memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.

Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin. Di

dalamnya terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan , yaitu:

1. Potensi psikologis dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas bijak dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.

2. Potensi perkembangan kehidupan manusia sebagai ‘khalifah’ di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya, baik yang alamiah maupun yang ijtima'iyah dimana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.

Dari pendapat dua tokoh Islam di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan islam, bukan hanya mementingkan pembentukan pribadiuntuk kebahagian dunia tetapi juga untuk kebahagiaan di akhirat. Lebih dari itu pendidikan islam berusaha membentuk pribadi yang bernafaskan ajaran-ajaran islma, sehingga pribadi-pribadi yang terbentuk itu tidak terlepas dari nilai-nilai agama. Hal ini mendorong perlunya mengetahui tujuan-tujuan pendidikan Islam secara jelas.

(10)

7

a. Tujuan-tujuan individual, seperti pertumbuhan yang diinginkan pada pribadi mereka, serta pada persiapan yang dimestikan kepada mereka pada kehidupan dunia dan akhirat.

b. Tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan keseluruhan tingkah laku masyarakat umumnya.

c. Tujuan-tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi dan sebagai suatu aktifitas di antara aktifitas-aktifitas masyarakat.

Meski demikian tujuan akhir pendidikan Islam tidak lepas dari tujuan hidup seseorang Muslim. Karena pendidikan Islam itu hanyalah suatu sarana untuk mencapai tujuan hidup muslim bukan tujuan akhir. Dan tentunya tujuan pendidikan islam yang ingin dicapai harus berangkat dari dasar-dasar pokok pendidikan dalam ajaran islam, yaitu keutuhan (syumuliyah), keterpaduan, kesinambungan, keaslian, bersifat praktikal, kesetiakawanan dan keterbukaan.

2.1.5. Karakteristik Pendidikan Islam

Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, pemdidikan islam mempunyai beberapa karakteristik, yaitu:

1. Penguasaan ilmu pengetahuan. Ajaran dasar islam mewajibkan mencari ilmu pengetahuan bagi setiap Muslim dan Muslimat.

(11)

3. Penekanan pada nilai-nilai akhlak dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang di dapat dari pendidikan islam terikat oleh nilai-nilai akhlak.

4. Penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, hanyalah untuk pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umum.

5. Penyesuaian terhadap perkembangan anak. Sejak awal perkembangan islam, pendidikan islam diberikan kepada anak sesuai umur, kemampuan, perkembangan jiwa dan bakat anak. Setiap usaha dan proses pendidikan haruslah memperhatikan faktor perkembangan anak.

6. Pengembangan kepribadian. Bakat alami dan kemampuan pribadi tiap-tiap anak didik diberikan kesempatan berkembang sehingga bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.

7. Penekanan pada amal saleh dan tanggung jawab. Setiap anak didik diberi semangat dan dorongan untuk mengamalkan ilmu pengetahuan sehingga benar-benar bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.

Dengan karakteristik-karateristik pendidikan tersebut tampak jelas keunggulan pendidikan islam dibanding dengan pendidikan lainnya. Karena pendidikan dalam islam mempunyai ikatan langsung dengan nilai-nilai dan ajaran islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

2.2 Pengertian Pendidikan Barat

(12)

9

oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya (survival), baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Dengan begitu tujuan pendidikan harus berpangkal pada tujuan hidup.

Di Barat, pendidikan menjadi ajang pertarungan ideologis dimana apa yang menjadi tujuan pendidikan – secara tidak langsung merupakan tujuan hidup – berbenturan dengan kepentingan-kepentingan lain . Di sinilah perbedaan pendapat para filosof Barat dalam menetapkan tujuan hidup. Orang-orang Sparta salah satu kerajaan Yunani lama dahulu berpendapat bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti kepada negara, untuk memperkuat negara. Dan pengertian kuat menurut orang-orang Sparta adalah kekuatan fisik. Oleh sebab itu tujuan pendidikan Sparta adalah sejajar dengan tujuan hidup mereka, yaitu memperkuat, memperindah dan mempertegus jasmani. Oleh sebab itu orang-orang yang kuat jasmaninya, bisa berkelahi dengan harimau dan singa disanjung-sanjung, dianggap pahlawan di masyarakat Sparta.

Sebaliknya orang Athena, juga salah satu kerajaan Yunani lama, berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencari kebenaran (truth), dan kalau bisa menyirnakan diri pada kebenaran itu. Tetapi apakah kebenaran itu? Plato lebih dulu mengandaikan bahwa benda, konsep-konsep dan lainnya bukanlah benda sebenarnya. Dia sekedar bayangan dari benda hakiki yang wujud di alam utopia. Manusia terdiri dari roh dan jasad. Roh itulah hakikat manusia, maka segala usaha untuk membersihkan, memelihara, menjaga dan lain-lain roh itu disebut pendidikan.

(13)

mengingkari sama sekali wujud Tuhan dan hari akhir. Ada madzhab rasionalisme yang berpangkal pada Plato, Aristoteles, Descartes, Kant, dan lainnya; ada madzhab impirisme yang dipelopori oleh John Locke yang terkenal dengan kerta putih (tabu rasa); ada madzhab progressivisme yang dipelopori oleh John Dewey yang berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah lebih banyak pendidikan; ada madzhab yang berasal dari sosiolog, yaitu sosiologi pengetahuan yang menitik beratkan budaya; selanjutnya ada madzhab fenomenologi atau eksistensialisme yang beranggapan bahwa pendidikan seharusnya bersifat personal, oleh sebab itu sekolah tidak ada gunannya dan harus dibubarkan. Hal ini tercermin dalam firman Allah SWT yang menggambarkan orang-orang Dahriyyun (Naturalist), “Mereka berkata tidak ada hidup kecuali hidup kita di dunia ini. Kita mati kita hidup, tidak ada yang

membinasakan kita kecuali masa. Sedangkan mereka dalam hal ini tidak tahu

apa-apa. Mereka hanyalah menyangka-nyangka”(QS.45:23).

Tokoh pendidikan Barat, John Dewey berpendapat tentang tujuan pendidikan berdasarkan pada pandangan hidup, "Since there is nothing to which growth is relative save more growth, there is nothing to which education is subordinate save more education. The education process has no end beyond itself –it is its own end" Madzhab yang dibawa oleh Dewey ini terkenal dengan nama Pragmatisme dalam falsafah, sedangkan dalam pendidikan disebut Progressivisme yang terlalu menitik beratkan kepada kegunaan (utilitarian).

(14)

11

pengaruh pada masyarakat dunia umumnya – hal yang membanggakan kalangan elit yang memerintah dan masyarakat Barat. Pada abad ke-21 ini, orientasi tujuan pendidikan Barat mulai beralih pada usaha mencari keuntungan dengan jalan apa pun, yang bermakna eksploitasi, kekuasaan, pertarungan, teror dan pembunuhan.

2.2.1 Konsep Pendidikan Barat

Ada 4 konsep yang dipegang oleh perspektif barat. Mulai dari Sekuler, Liberal, Pragmatis dan Materialis. Dari 4 konsep ini dapat diartikan bahwa konsep pendidikan perspektif barat sangat berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. 1. Sekuler

Memisahkan antara ilmu dengan agama. Maksudnya, pendidikan barat lebih mementingkan ilmu daripada agama yang didapat dari ilmu itu, mereka hanya mementingkan jasmani dan tidak memikirkan akan rohani.

2. Liberal

Bebas. Maksudnya, pendidikan barat itu bebas melakukan segala hal yang disuka, tetapi tetap mengarah akan ilmu yang dipelajarinya itu.

3. Pragmatis

(15)

4. Materialis

Sebatas materi saja. Jadi, pendidikan itu hanyalah sebatas materi. Mereka tak memikirkan kedepan akan apa yang mereka sedang pelajari itu. Mereka hanya tertuju pada satu tujuan yaitu hasil nilai pelajaran yang baik.

2.2.2. Karakteristik Pendidikan Barat

Menurut Syed Naquib Al-Attas, ilmu dalam peradaban barat tidak dibangun diatas wahyu dan kepercayaan agama namun dibangun diatas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan serta nilai-nilai etika dan moral diatur oleh rasio manusia terus menerus berubah. Sehingga dari cara pandang yang seperti inilah pada akhinya akan melahirkan ilmu-ilmu sekuler.

Masih menurut Al-Attas, ada lima faktor yang menjiwai budaya dan peradaban barat, yaitu:

1. Menggunakan akal untuk membimbing kehidupan manusia. 2. Bersikap dualitas terhadap realitas dan kebenaran.

3. Menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekuler. 4. Menggunakan doktrin humanism.

5. Menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.

(16)

13

Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan barat dibentuk dari acuan pemikiran falsafah mereka yang dituangkan dalam dalam pemikiran yang bercirikan materialisme, idealisme, sekularisme dan rasionalisme. Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran dan makna ilmu itu sendiri. Rene Descartes misalnya, tokoh filsafat barat asal perancis ini menjadikan rasio sebagai kriteria satu-satunya dalam mengukur kebenaran.

Selain itu para filosof lainnya seperti John Locke, Immanuel Kant, Martin Heidegger, Emillio Betti, Hans George Gadammer dan lainnya juga menekankan rasio dan panca indera sebagai sumber ilmu mereka, sehingga melahirkan berbagai macam paham dan pemikiran seperti empirisme, humanisme, kapitalisme, eksistensialisme, realitifisme, atheisme dan lainnya yang ikut mempengaruhi berbagai disiplin keilmuan seperti dalam filsafat, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi dan lainnya.

2.2.3. Perbedaan Filsafat Pendidikan Islam dengan Filsafat Pendidikan Barat

(17)

tetapi juga untuk kebahagiaan pahala dan dosa. Ilmu itu bebas nilai (value free).

Super Student adalah murid-murid yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan mempunyai tingkat ketakwaan yang tinggi pula terhadap Allah SWT. Semua orang dapat menjadi super student di sekolah atau di kampusnya asalkan mereka mau berusaha dan belajar dengan tekun serta berakhlak baik.

Dari definisi lain, super student adalah seseorang yang tidak lelah mengenal ilmu dan mengamalkan ilmu. Dari rasulullah, para sahabat atau murid-murid nabi, harus menyebarkan ilmunya kepada orang lain.

2.3.1 Tips Menjadi Pelajar Super

Hidup ini terlalu singkat untuk menjadi biasa. Jangan hanya menjadi rata-rata siswa menjadi murid super dalam islam. Tips ini dapat membantu anda menjadi pemain bintang disekolah atau perguruan tinggi.

1. Belajar serta diiringi berdoa dan sholat

(18)

15

3. Menumbuhkan keinginan membara untuk sukses disekolah/perguruan tinggi. Setiap saat memikirkan keberhasilan, bicara tentang kesuksesan dan mimpi tentang kesuksesan.

4. Belajar untuk memotivasi diri anda sendiri.

5. Fokus pada tujuan studi anda. Jangan mudah terganggu. Tuliskan tujuan anda dan menempelkan didinding dimana anda dapat melihat setiap hari.

6. Jangan hanya membandingkan kinerja teman-teman anda. Bandingkan dengan diri anda juga. Anda adalah musuh terbesar anda dan terus menerus melakukan lebih baik dari sebelumnya adalah tanda bahwa anda maju.

7. Rendah hati. Belajar tidak pernah berhenti disini dan anda memiliki banyak ruang untuk perbaikan.

(19)

6

1.1 Kesimpulan

Penjelasan tentang pendidikan Islam dan Barat diatas memperlihatkan adanya kesenjangan pola berfikir yang digunakan para ilmuwan mereka sehingga menghasilkan karakter yang berbeda. Jika sumber dan metodologi ilmu di Barat bergantung sepenuhnya kepada kaedah empiris, rasional dan cenderung meterialistik serta mengabaikan dan memandang rendah cara memperoleh ilmu mempunyai wahyu dan kitab suci, maka metodologi dalam ilmu pengetahuan Islam bersumber dari kitab suci Al-Quran yang diperoleh dari wahyu, Sunnah Rasulullah SAW, serta Ijtihad para ulama.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Prof. H.M. M.Ed. 2000. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum) Jakarta: Bumi Aksara.

Azra, azyumardi. 1999. Esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu

Dewey, J., Democracy and Education, London: Mac. Milan, 1916.

Fuad Farid Ismail, Abdul Hamid Mutawali. 2012. Cara mudah belajar Filsafat (Barat dan Islam).

Yogyakarta: IRCiSoD pendidikan.blogspot.com

Rochaity, Ety. 2006. Sistem informasi Management Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Referensi

Dokumen terkait

b) Peserta didik membaca hal-hal penting dalam buku bacaan yang berkaitan dengan semangat mencari ilmu dari para tokoh terkenal. c) Setiap kelompok

Marah atau gadab merupakan suatu luapan emosi karena disebabkan oleh tidak senangnya terhadap sesuatu, atau bisa juga diartikan dengan perasaan

Kehadiran manusia tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Manusia hakikatnya adalah makhluk ciptaan Alaah SWT. Pada diri manusia terdapat

Sebagai contoh, mengqiyaskan hukum apel kepada gandum dalam hal riba fadhal (riba yang terjadi karena adanya kelebihan dalam tukar menukar antara dua bahan kebutuhan pokok atau

1) Sampai atau tidaknya sesuatu hadits.. Menurut Sahabat Ali dan Ibnu Abbas, istri yang ditinggal mati suaminya sedangkan ia dalam keadaan hamil, maka ia harus menjalani 'iddah

Pendapat ketiga yang menolak pendapat, bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap, dan bahwa dalam Islam terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi golongan ini juga

Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-

Inilah yang menjadi salah satu dasar kenapa Allah menciptakan langit dan bumi yang menjadi tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata