Informasi Dokumen
- Penulis:
- Dr. Bambang Sardjono, MPH
- Drg. Sudono, M.Kes
- Drg. Dewi Karni Sari, M.Kes
- Drg. Ellya Farida, M.Kes
- Drg. Nurindah.K, M.Kes
- Drg. Yunnie Adiseani
- Drg. Adila Putri
- Drg. Leslie Nur Rahmani
- Pengajar:
- Dr. H.R. Dedi Kuswenda, M.Kes
- Dr. Supriyantoro, Sp. P, MARS
- Sekolah: Kementerian Kesehatan RI
- Mata Pelajaran: Kesehatan Gigi dan Mulut
- Topik: Pedoman Paket Dasar Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas
- Tipe: pedoman
- Tahun: 2012
- Kota: Jakarta
Ringkasan Dokumen
I. PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Undang-Undang Dasar 1945 mengamanahkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera dan mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari upaya tersebut, dengan tujuan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pencegahan dan pengobatan penyakit gigi dan mulut.
1.1 TUJUAN
Tujuan umum dari pedoman ini adalah untuk mengintegrasikan paket pelayanan kesehatan gigi dan mulut dasar ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional melalui pendekatan Primary Health Care (PHC). Tujuan khusus mencakup terselenggaranya pelayanan yang aman dan terjangkau, serta meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
1.2 SASARAN
Sasaran dari pedoman ini mencakup berbagai pihak, seperti Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi, Puskesmas, serta organisasi profesi dan institusi pendidikan yang terkait dengan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini bertujuan agar semua pihak dapat berkontribusi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di masyarakat.
II. PENANGANAN KEGAWATDARURATAN MEDIK GIGI
Pelayanan kesehatan dalam menghilangkan nyeri gigi dan penatalaksanaan infeksi gigi-mulut dilakukan dalam Penanganan Kegawatdaruratan Medik Gigi (Oral Urgent Treatment/OUT). Tindakan ini mencakup pemberian obat, pertolongan pertama untuk infeksi dan trauma, serta rujukan untuk kasus-kasus yang kompleks.
2.1 INDIKASI
Indikasi penanganan kegawatdaruratan meliputi infeksi rongga mulut seperti abses gigi, serta trauma gigi yang sering terjadi pada anak-anak dan dewasa. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
2.2 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan untuk kasus abses gigi meliputi pemberian antibiotik dan analgesik, serta rujukan ke dokter gigi jika diperlukan. Untuk trauma gigi, pertolongan pertama meliputi pembersihan luka dan pemberian obat sesuai indikasi. Penanganan yang tepat dapat mencegah infeksi dan komplikasi lebih lanjut.
III. PENCEGAHAN KARIES GIGI MELALUI PEMBERIAN PASTA GIGI MENGANDUNG FLUOR
Pasta gigi yang mengandung fluor merupakan metode yang efektif dalam pencegahan karies gigi. Penggunaan pasta gigi ini harus dilakukan secara rutin, minimal dua kali sehari, untuk memperoleh efek pencegahan yang optimal.
3.1 EVIDENCE BASED
Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi fluor secara topikal melalui pasta gigi dapat mengurangi risiko karies secara signifikan. Oleh karena itu, penting untuk mempromosikan penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor di kalangan masyarakat.
3.2 PENGGUNAAN PASTA GIGI
Pasta gigi yang terjangkau dan efektif harus tersedia untuk seluruh masyarakat. Edukasi mengenai cara penggunaan yang benar juga diperlukan untuk memastikan efektivitas penggunaan pasta gigi dalam mencegah karies.
IV. PENAMBALAN GIGI DENGAN INVASI MINIMAL TANPA BUR
Atraumatic Restorative Treatment (ART) adalah metode penanganan karies dengan intervensi minimal tanpa menggunakan bur. Metode ini sangat berguna dalam konteks pelayanan kesehatan gigi di daerah terpencil dan berbiaya rendah.
4.1 PENGERTIAN ART
ART bertujuan untuk memberikan perawatan yang aman dan nyaman bagi pasien, terutama anak-anak. Metode ini mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan, serta dapat dilakukan tanpa peralatan mahal.
4.2 BAHAN TAMBALAN
Bahan tambalan yang digunakan dalam ART umumnya adalah glass ionomer. Penting untuk memastikan kualitas bahan tambalan agar restorasi yang dihasilkan dapat bertahan lama dan efektif dalam mencegah karies.
V. PENUTUP
Dokumen ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas. Monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan diperlukan untuk memastikan efektivitas implementasi pedoman ini.
5.1 MONITORING DAN EVALUASI
Monitoring dan evaluasi bertujuan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan pedoman ini dalam meningkatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Data yang diperoleh akan digunakan untuk perbaikan berkelanjutan.
5.2 PENCATATAN DAN PELAPORAN
Pencatatan dan pelaporan yang sistematis sangat penting untuk mendokumentasikan semua aktivitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini akan membantu dalam pengambilan keputusan dan perencanaan program di masa mendatang.
Referensi Dokumen
- The Oral Health Atlas Mapping a Neglected Global Health Issue ( Beaglehole, Benzian et al. )
- Caries-preventive effect of a one-time application of composite resin and glass-ionomer sealants after 5 years ( Beiru N, Frencken JE, van ‘t Hof MA, Taifour D, van Palenstein Helderman WH )
- Caries preventive effect of resin-based and glass ionomer sealants over time: A systematic review ( Beiru N, Frencken JE, van ‘t Hof MA, van Palenstein Helderman WH )
- Caries preventive effect of sealants produced with altered glass-ionomer materials after 2 years ( Chen X, Du MQ, Fan M, Mulder J, Huysmans MCDNJM, Frencken JE )
- Survival of ART Sealants and ART restorations: A meta-analysis ( De Amorim RG, Leal SC, Frencken JE )