• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal penelitian Agraria Mata Kuliah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Proposal penelitian Agraria Mata Kuliah"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Proposal penelitian Agraria Mata Kuliah Kajian Agraria (KPM 321)

PENGARUH KONVERSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI

(Studi Kasus Kelurahan Cisarua dan Desa Tugu Utara Kabupaten Bogor)

Nurmitha Atmia I34120046

Dosen :

Prof. Dr. EndriatmoSoetarto, MA Dr. SatyawanSunito

HeruPurwandari, SP, Msi MartuaSihaloho, SP, Msi

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(2)

Daftar Isi

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

Latar belakang...1

Perumusan masalah...2

Tujuan...3

BAB II...4

PENDEKATAN TEORITIS...4

2.1 Definisi Lahan pertanian...4

2.2 Penggunaan Lahan...5

2.3 Peraturan penggunaan lahan...5

2.4 Konversi Lahan...6

2.5 Konsep kesejahteraan rakyat...8

2.6 Indikator Kesejahteraan Rakyat...9

2.7 Diferensiasi Kesejahteraan Petani...10

BAB III...12

METODOLOGI PENELITIAN...12

3.1 Pendekatan Penelitian...12

3.2 Lokasi dan waktu penelitian...12

3.3 Sumber data dan teknik pengumpulan data...13

3.4 Teknik analisis data...13

DAFTAR PUSTAKA...14

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Menurut BPS 2010 Jumlah penduduk Indonesia adalah 237 641 326 jiwa dengan kepadatan penduduk indonesia baru mencapai 124 jiwa per km2 pada tahun 2010, tetapi kepadatan penduduk pulau jawa telah mencapai 1033 jiwa per km2 , sedangkan kepadatan penduduk kalimantan, maluku dan irian jaya (papua) masing-masing hanya 26 jiwa per km2, 34 jiwa per km2 dan 9 jiwa per km2 (Rusli 2012). Adapun Kabupaten Bogor yang akan menjadi lokasi penelitian memilki luas wilayah 2.710,62 Km2 dengan jumlah penduduk 4.070.630 jiwa. Semakin tingginya tingkat pertumbuhan penduduk sedangkan luas lahan tidak bertambah maka rasio manusia-lahan1 menjadi semakin besar.

Meningkatnya kepadatan penduduk maka permintaan akan lahanpun akan semakin tinggi permintaan akan lahan didalam aktivitas masyarakat antara lain untuk menunjang ketersediaan pangan, sandang, papan dan fasilitas kehidupan dasar lainnya dalam kuantitas, kualitas dan tingkat keragaman tertentu. Kebutuhan akan lahan ini meningkat dari waktu ke waktu dipicu oleh pertumbuhan penduduk, perkembangan struktur masyarakat dan perekonomian sebagai konsekuensi logis dari hasil pembangunan. Penggunaan lahan di pedesaan memuat kepentingan yang mungkin lebih sederhana. Dengan tuntutan umum berfokus pada produksi pertanian. Sebaliknya, tuntutan kepentingan dalam penggunaan lahan di perkotaan berdimensi lebih kompleks, selain sektor ekonomi (industri dan jasa) juga kepentingan kelembagaan sosial dan pemerintahan, serta pengendalian lingkungan (Nugroho 2004). Keberadaan lahan pertanian memberikan manfaat yang sangat luas secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Oleh karena itu hilangnya lahan pertanian akibat dikonversi ke penggunaan non pertanian dapat menimbulkan dampak negatif terhadap berbagai aspek pembangunan. Salah satu dampak konversi lahan yang sering mendapat sorotan masyarakat adalah terganggunya ketahanan pangan yang merupakan salah satu tujuan pembangunan nasional (Irawan, 2004 dalam Munir 2008).

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Cisarua Desa Tugu Utara yang terletak di kabupaten Bogor, dimana letaknya cukup strategis karena berada didaerah pinggiran kota dan dekat dengan ibukota negara Indonesia yaitu Jakarta. Luas Desa Tugu Utara sebesar 1.703 ha merupakan desa terluas kedua setelah desa tugu selatan. Sebagian besar daerah tugu utara berupa perbukitan dengan ketinggian 800-1200 m dpl dan suhu udara rata-rata sekitar 18 derajat celcius

(4)

dengan curah hujan sebesar 200-300mm/bulan. Kondisi topografi seperti ini mengharuskan pengelolaan kawasan dengan tepat. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi menyebabkan fungsi lahan tidak sesuai dengan fungsi semula. Adapun dalam kependudukan Desa Tugu Utara termasuk dengan tingkat kepadatan sedang dan masih dibawah rata-rata kelurahan cisarua dengan tingkat pertumbuhan 0,039.

Desa Tugu Utara Kelurahan Cisarua merupakan salah satu daerah yang mengalami konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian seperti industri, pemukiman, villa, tempat wisata dan restoran, hal tersebut disebabkan oleh adanya potensi wisata seperti perkebunan tehyang terletak pada ketinggian 1000 meter dari permukaan laut sehingga menjadi andalan wisata Jawa Barat dan trademark bagi Bangsa Indonesia di forum pariwisata Intermasional (Marsusanti 2007) dan pemandangan yang masih asri yang menyebabkan banyak wisatawan yang mulai mengetahui dan merasa nyaman berada dalam suasana asri dan segar didaerah pegunungan, tidak heran banyak dibangun fasilitas-fasilitas yang menunjang kebutuhan mereka untuk berwisata, yaitu villa, tempat wisata, restoran, tempat hiburan dan lain-lain. Hal ini sangat memprihatinkan, mengingat daerah tersebut cukup subur untuk dijadikan lahan pertanian.. Sejak tahun 1960, jalur alternatif jakarta-bandung mulai di buka inilah yang memicu terjadinya pembangunan yang kian melesat di daerah kelurahan cisarua dan puncak (Marsusanti 2007). Melihat Kondisi tersebut sangat memperihatinkan, adanya konversi lahan tersebut mengakibatkan kemacetan disekitar wilayah puncak, dan juga tata ruang puncak tidak teratur . Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut, salah satunya adalah untuk mengatasi banjir akan dibangun waduk didaerah ciawi. Dengan terus meningkatnya konservasi lahan pertanian maka lahan pertanian semakin menyempit, para petani kesulitan mendapatkan lahan pertanian sedangkan petani banyak bertumpu atau berpenghasilan utama dari lahan pertanian, jika lahan pertanian beralih fungsi ke non pertanian maka perlu diteliti Bagaimana pengaruh konversi lahan pertanian ke non pertanian terhadap tingkat kesejahteraan petani sekitar ?

1.2 Perumusan masalah

(5)

 Bagaimana proses konversi lahan pertanian ke non pertanian di desa Tugu Utara Kelurahan Cisarua?

 Bagaimana pengaruh konversi lahan pertanian ke non pertanian terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga petani di desa Tugu Utara Kelurahan Cisarua ?

1.3 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:

 Menganalisis proses konversi lahan pertanian ke non pertanian

 Menganalisis pengaruh konversi lahan pertanian ke non pertanian terhadap tingkat kesejahteraan tangga petani di desa Tugu Utara Kelurahan Cisarua

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Definisi Lahan pertanian

(6)

terutama di Jawa, Madura dan Bali, serta beberapa pusat permukiman di luar daerah, dimana kepadatan penduduk dan nisbah jumlah penduduk terhadap luas lahan (man-land ratio) sudah sedemikian besar sehingga lahan dan air menjadi sumberdaya produksi pertanian yang semakin langka, baik secara kuantitatif (luas areal yang semakin sempit dan terpencar) maupun secara kualitatif (kualitas dan kesuburan tanah menurun karena tekanan ekologi yang berlebihan).

Adapun pengertian lahan pertanian yaitu : Rusli (2012) menyatakan bahwa Lahan pertanian dalam arti luas mencakup tidak hanya arable land atau cultivable land seperti sawah dan tegalan atau ladang tetapi juga productive non-arable land (hutan, padang, pengembalaan, dan lain-lain). Lahan pertanian dalam arti luas ini merupakan lahan-lahan yang dapat bermanfaat untuk pertanian (usable agriculture land). Sedangkan,Secara empiris lahan pertanian yang paling rentan terhadap alih fungsi adalah sawah. Hal tersebut disebabkan oleh : (1) kepadatan penduduk di pedesaan yang mempunyai agroekosistem dominan sawah pada umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan agroekosistem lahan kering, sehingga tekanan penduduk atas lahan juga lebih tinggi; (2) daerah pesawahan banyak yang lokasinya berdekatan dengan daerah perkotaan; (3) akibat pola pembangunan di masa sebelumnya, infrastruktur wilayah pesawahan pada umumnya lebih baik dari pada wilayah lahan kering; dan(4) pembangunan prasarana dan sarana pemukiman, kawasan industri, dan sebagainya cenderung berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar, dimana pada wilayah dengan topografi seperti itu (terutama di Pulau Jawa) ekosistem pertaniannya dominan areal persawahan (Iqbal dan Soemaryanto 2007).

Berdasarkan fakta empirik di lapangan, ada dua jenis proses konversi lahan sawah, yaitu konversi sawah yang langsung dilakukan oleh petani pemilik lahan dan yang dilakukan oleh bukan petani lewat proses penjualan. Sebagian besar konversi lahan sawah tidak dilakukan secara langsung oleh petani tetapi oleh pihak lain yaitu pembeli. Konversi yang dilakukan langsung oleh petani luasannya sangat kecil. Hampir 70 persen proses jual beli lahan sawah melibatkan pemerintah, yaitu ijin lokasi dan ijin pembebasan lahan (Soemarno 2013)

2.2 Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan (land use) didefinisikan sebagai setiap bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan guna memenuhi kebutuhan hidupnya baik dari segi materi maupun spiritual (Arsyad, 2000 dalam Marsusanti, 2007)

.

Penggunaan lahan secara umum dibagi dalam dua hal (Marsusanti, 2007): 1. Penggunaan lahan pedesaan, dengan menitik beratkan pada produksi

(7)

2. Penggunaan lahan perkotaan, dengan menitik beratkan pada tempat tinggal sentra ekonomi, jasa & pemerintahan.

Dari pembagian penggunaan lahan diatas, maka Janudianto (2004) dalam Marsusanti (2007) mengklasifikasikan penggunaan lahan menjadi sembilan kategori diantaranya hutan lebat/belukar, kebun campuran, pemukiman, sawah. 2.3 Peraturan penggunaan lahan

Pierce dan Turner (1990:16-20) dalam Nugroho (2004). Ada dua pendekatan bagi perumusan peraturan penggunaan lahan :

 Sistem hak properti (property right system/PRS). Pendekatan PRS mementingkan upaya-upaya penilaian terhadap sumber daya alam sehingga dapat dialokasilkan ke pasar. Sasaran kebijakan berupa suatu insentif (pajak atau subsisdi) yang dikenakan kepada pemilik lahan agar memberikan manfaat sosial secara optimal. Misalnya, untuk memberikan isentif bagi lahan sawah, industri yang akan berdiri diatas lahan sawah, industri yang akan berdiri diatas lahan sawah ditarik pajak yang cukup tinggi atau sebaliknya petani yang mempertahankan sawahnya diberi subsidi faktor-faktor produksi.

 Keseimbangan bahan (material balance). Pendekatan keseimbangan bahan mementingkan materi dan aliran-aliran energi didalam suatu sumberdaya sehingga manfaatnya dapat dioptimalkan bagi kesejahteraan masyarakat. Penerapan kedua pendekatan diatas didalam pembangunan dipengaruhi oleh karakteristik wilayah, sumber daya, dan kemajuan teknologi. Karakteristik sumberdaya menghasilkan aliran eksternalitas yang cukup berat sehingga pendekatan keseimbangan bahan dianggap relevan. Sementara itu, bila kemajuan teknologi mampu mengurangi eksternalitas, pendekatan PRS dapat dipakai. Dalam hal karakteristik wilayah mampu mengurangi tekanan sebagian eksternalitas, kedua pendekatan dapat diaplikasikan. Pendekatan keseimbangan bahan bertujuan merumuskan luas wilayah karakteristik wilayah, sementara pendekatan PRS dapat menyediakan penawaran dalam mengalokasikan eksternalitas.

2.4 Konversi Lahan

(8)

dan wilayah. Sedangkan, Iqbal dan Soemaryanto (2007) menyatakan bahwa istilah alih fungsi (konversi) lahan merupakan perubahan spesifik dari penggunaan untuk pertanian ke pemanfaatan bagi non pertanian. Konversi lahan dapat diartikan sebagai perubahan fungsi sebagian atau seluruhkawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yangmembawa dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri (Utomo et al. 1992). Konversi lahan dapat diartikan sebagai berubahnya fungsi sebagian atau seluruh kawasan dari fungsinya semula seperti direncanakan menjadi fungsi lain yang berdampak negatif terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Misalnya, berubahnya peruntukan fungsi lahan persawahan beririgasi menjadi lahan industri, dan fungsi lindung menjadi lahan pemukiman (Soemarno 2013).

Secara garis besar, alih fungsi lahan bisa berjaan secara sistematis dan sporadis Nugroho (2004). Peralihan secara sitematis memuat karakter perencanaan dan keinginan publik sehingga luasan lahan hasil peralihan lebih terkendali dan terkonsolidasi dalam kerangka perencanaan tata ruang. Untuk mengoptimalkan tujuan penggunaan lahan maka diperlukan adanya pertemuan permintaan dan penawaran dialokasikan dan diputuskan didalam suatu kelembagaan. Mekanisme tersebut terlihat dalam pembangunan kawasan industri, pemukiman, dan sarana infrastrukturnya. Adapun peralihan secara sporadis memuat karakter lebih individual atau oleh sekelompok masyarakat sehingga luasan hasil peralihan tidak dapat diprediksi dan menyebar tidak terkonsolidasi. Pertemuan antara permintaan dan penawaran diputuskan diluar kelembagaan sehingga sering mengakibatkan kerugian di salah satu pihak dan disertai penggunaan lahan yang tidak optimal.

Permasalahan pokok dalam alih fungsi lahan, Farvacque dan Mc Auslan (1992) dalam Nugroho (2004) :

 Kebijakan yang terdesentralisasi dan tidak operasional

Tidak terorganisasinya sektor industri dengan pertanian, khususnya ditingkat emerintahan daerah menghasilkan kebijakan pengendaliaan alih fungsi lahan sawah yang tidak dapat dioperasaikan secara efektif.

 Kebijakan yang tidak fleksibel

(9)

Petani pemilik sawah dapat menanggapinya dengan menjual sawah dan berpindah ke profesi lainnya. Ketiga, pemerintah tampaknya tidak mengantisipasi tingkat urbanisasi yang tinggi, terutama diwilayah JABODETABEK. Keadaan ini mengakibatkan kebijakan penggunaan lahan tidak bersifat terencana sebelumnya.

 Kebijakan yang kurang tepat memecahkan permasalahan  Kebijakan yang tidak efisien

Indikasi penilaian lahan sawah yang tidak memenuhi harapan statistik (sufficent statistic) dengan muadah diamati ketimpangannya dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya. Hasil kompilasi Nasoetion dalam Nugroho (2004) memperlihatkan bahwa rasio sewa lahan sawah terhadap industri adalah 1: 500, terhadap perumahan rasionya 1:622, terhadap pariwisata rasionya 1:14 dan terhadap hutan produksi rasionya 1:2,6. Bila ukuran sewa lahan tersebut digunakan, mekanisme pasar otomatis akan membawa alih funsi sawah secara besar-besaran menjadi kepentingan industri dan sebaliknya meruntuhkan sistem produksi padi nasional. Seyogjanya kebijakan penggunaan lahan, khususnya perlindungan alih funsi lahan, memberikan insentif yang mengarah kepada penilaian statistik yang mengarah kepada penilaian statistik yang memadai pada lahan sawah.

 Kebijakan yang gagal mengakomodasi kepentingan orang miskin

Kebijakan penggunaan lahan secara langsung atau melalui kebijakan lainnya umumnya kurang mengakomodasi kelompok masyarakat miskin.

Berdasarkan hasil studi yang dikemukakan oleh Lembaga penelitian IPB (1996) dalam Marsusanti (2007) secara umum terdapat dua faktor penting yang berperan dalam perubahan penggunaan lahan yaitu :

1. Faktor kelembagaan 2. Faktor non kelembagaan

Faktor kelembagaan yang berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah memberikan pengaruh 70 % dalam mendoorong alih guna lahan. Sedangkan faktor non kelembagaan termasuk didalamnya kualitas sumberdaya lahan hanya berperan 30 %, sehingga bobot kebijakan pemerintah dalam mempengaruhi proses alih guna sangat besar. Struktur yang berkaitan langsung dengan perubahan lahan yaitu :

1. Struktur permintaan 2. Strukttur penawaran

(10)

Menurut penelitian oleh Suputra, Amabarawti dan Tenaya (2012) di Subak Daksina Ada empat faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan, yaitu faktor kondisi lahan, faktor ketergusuran (keterkaitan dengan kondisi penduduk), faktor pemanfaatan lahan (untuk kepentingan sendiri) dan faktor ketidakefektifan lahan.

Permintaan terhadap sumberdaya lahan menjadi faktor pendorong proses perubahan penggunaan lahan yang dibagi dalam tiga kelompok utama :

1. Deforerti baik ke arah pertanian intensif maupun non pertanian 2. Konversi lahan terutama ke non pertanian

3. Penelantaran lahan 2.5 Konsep kesejahteraan rakyat

Kesejahteraan merupakan suatu konsep yang dimana dalam konsep tersebut diukur kelayakan kualitas hidup manusia, baik dari sandang, papan dan pangan serta akses untuk memperolehnya. Menurut Suharto (2006) dalam Amelia (2013) menyintesiskan konsep kesejahteraan yang sering diartikan berbeda oleh orang dan negara yang berbeda. Hasil sintesisnya menyimpulkan bahwa sedikitnya ada empat makna yang terkandung dalam konsep kesejahteraan, sebagai berikut.

1. Sebagai kondisi sejahtera (well-being). Pengertian ini biasanya menunjuk pada istilah kesejahteraan sosial (social welfare) sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material dan non-material. Kondisi sejahtera terjadi manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena kebutuhan dasar akan gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan dapat dipenuhi; serta manakala manusia memperoleh perlindungan dari resiko-resiko utama yang mengancam kehidupannya.

2. Sebagai pelayanan sosial, yakni mencakup jamian sosial, pelayanan kesehatan, pendidikan, perumahan, dan pelayanan sosial personal.

3. Sebagai tunjangan sosial.

4. Sebagai proses atau usaha terencana yang dilakukan oleh perorangan, lembaga-lembaga sosial, masyarakat maupun badan-badan pemerintah untuk meningkatkan kualitas kehidupan (pengertian pertama) melalui pemberian pelayanan sosial (pengertian kedua) dan tunjangan sosial (pengertian ketiga).

2.6 Indikator Kesejahteraan Rakyat

Kesejahteraan rakyat sangat berbeda berdasarkan sudut pandang setiap orang, untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan indikator yang tetap dan dijadikan indikator utama kesejahteraan Menurut BPS (2006), indikator kesejahteraan yaitu:

(11)

Masalah kependudukan yang meliputi jumlah, komposisi dan distribusi penduduk merupakan masalah yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan. Oleh sebab itu, untuk menunjang keberhasilan pembangunan nasional dalam penanganan masalah kependudukan, pemerintah tidak saja mengarahkan pada upaya pengendalian jumlah penduduk, tetapi juga menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain itu itu, program perencanaan pembangunan sosial disegala bidang harus mendapat prioritas utama yang berguna untuk peningkatan kesejahteraan penduduk.

2. Kesehatan dan gizi

Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk dengan menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. Selain itu, aspek penting lainnya yang turut mempengaruhi kualitas fisik penduduk adalah status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi.

3. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses pemberdayaan peserta didik sebagai subjek sekaligus objek dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Faktor kemiskinan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan belum semua anak Indonesia dapat menikmati kesempatan pendidikan dasar. Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan bahwa semakin tinggi pendidikan yang dicapai suatu masyarakat, maka dapat dikatakan masyarakat tersebut semakin sejahtera.

4. Ketenagakerjaan

Ketenagakerjaan merupakan salah satu aspek penting yang tidak hanya untuk mencapai kepuasan tetapi juga untuk memenuhi perekonomian rumah tangga dan kesejahteraan seluruh masyarakat.

5. Taraf dan pola konsumsi

(12)

secara umum dengan menggunakan indikator proporsi pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan.

6. Perumahan dan lingkungan

Rumah tangga dijadikan sebagai salah satu indikator kesejahteraan bagi pemiliknya. Semakin baik fasilitas yang dimiliki, dapat diasumsikan semakin sejahtera rumah tangga yang menempati rumah tersebut. Berbagai fasilitas yang dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan tersebut antara lain dapat dilihat dari luas lantai rumah, sumber air minum, fasilitas buang air besar rumah tangga, dan tempat penampungan kotoran akhir (jamban).

7. Sosial dan budaya

Semakin banyak seseorang memanfaatkan waktu luang untuk melakukan kegiatan sosial budaya maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut memiliki tingkat kesejahteraan yang semakin meningkat. Pembahasan mengenai sosial budaya lebih difokuskan pada kegiatan sosial budaya yang mencerminkan aspek kesejahteraan, seperti melakukan perjalanan wisata dan akses pada informasi dan hiburan, yang mencakup menonton televisi, mendengarkan radio dan membaca surat kabar.

2.7 Diferensiasi Kesejahteraan Petani

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sitorus et al. (2008) maka dapat dilihat ciri-ciri sosial ekonomi yang menjadi indikator kesejahteraan petani yaitu :

Tingkat Kesejahteraan Ciri Sosial Ekonomi

Miskin  Luas kebun milk < 2ha

 Tidak punya Lahan  Buruh lepas

 Rumah papan

Sedang/Menengah  Luas kebun milik 2-5 ha

 Rumah setengah permanen

Kaya  Luas kebun milik >5 ha

 Pegawai

 Rumah permanen

Kaya Raya  Luas kebun milik >20ha

 Rumah Mewah (bertingkat + pagar)

(13)

lagi)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian

(14)

melihat proses konversi dan penguatan data dari hasil penelitian kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui studi kasus, observasi dan wawancara mendalam menggunakan panduamn wawancara. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Konversi lahan pertanian ke nonpertanian (2) tingkat kesejahteraan rumah tangga tani.

Data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh melalui studi literatur yang sumbernya berasal dari berbagai dokumen-dokumen pemerintah Desa Tugu Utara, data-data dari dinas-dinas terkait, makalah ilmiah dan lain sebagainya, sedangkan data primer yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 60 responden dari dua RT (Rukun Tetangga) berbeda. Pemilihan RT ditentukan melalui teknik cluster sampling (Singarimbun, 1989). Seluruh kampung penelitian dibagi menjadi dua kluster yaitu kampung yang jauh dari jalan raya sebanyak 12 kampung dan kampung yang dekat dengan jalan raya sebanyak 8 kampung. Dipilih dua kampung secara purposif berdasarkan informasi dari aparat setempat yaitu Kampung Sampay mewakili kampung yang dekat jalan raya dan Kampung Sukatani mewakili kampung yang jauh dari jalan raya. Dari dua kampung tersebut dipilih dua RT untuk menjadi sampel kedua yang ditentukan secara purposif. RT yang terpilih yaitu RT 01/RW 03 sebanyak 121 rumah tangga dan RT 06/RW 04 sebanyak 91 rumah tangga. Dari kedua RT dipilih masing-masing 30 responden, sehingga total responden secara keseluruhan sebanyak 60 responden. (Dharmawan dan Lestari 2011)

3.2 Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Cisarua dan Desa Tugu Utara Kabupaten Bogor. Alasan memilih lokasi tersebut adalah :

 Desa Tugu Utara merupakan wilayah pegunungan namun sudah mengalami konservasi lahan

(15)

3.3 Sumber data dan teknik pengumpulan data

Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi langsung di lapangan serta dari hasil kuesioner yang ditanyakan langsung kepada responden melalui wawancara. Wawancara mendalam juga digunakan untuk memperoleh data primer dari informan dengan menggunakan panduan pertanyaan. Data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen yang terkait dengan data-data bentuk kegiatan reforma agraria berupa redistribusi tanah. Data-data tersebut akan diperoleh dari BPN dan kantor desa, serta organisasi lain yang memiliki dokumen terkait konversi lahan di lokasi. Data sekunder juga didapatkan melalui literatur yang berkaitan dengan penelitian seperti yang seperti buku penelitian, bab dalam buku penelitian, skripsi, tesis serta karya ilmiah yang dipublikasikan melalui internet.

3.4 Teknik analisis data

Data primer diolah dan disajikan dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel yang diinginkan. Uji korelasi RankSpearman dilakukan dengan bantuan perangkat lunak statistika yaitu SPSS versi 16 for windows untuk melihat keterkaitan dari pengaruh konversi lahan pertanian ke nonprtanian terhadapa tingkat kesejahteraan rumah tangga petani di Desa Tugu Utara. Data primer tersebut selanjutnya dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian. Sementara itu untuk pendekatan kualitatif digunakan metode triangulasi untuk memberikan penguatan dari data yang diperoleh melalui kuesioner dengan melibatkan wawancara mendalam dan observasi. Gabungan data tersebut diolah dan dianalisis dengan disajikan dalam bentuk teks naratif, matriks, atau bagan, kemudian ditarik kesimpulan dari semua data yang telah diolah.

DAFTAR PUSTAKA

Amelia R. 2013. Peranan reforma agraria dalam meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan petani. [Skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

(16)

Dharmawan dan Lestari. 2011. Dampak sosio ekonomis dan sosio ekologis konversi lahan. Sodality : Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia (05) [Internet]. [diunduh 2014 Mei 25]; 5(1):1-12.

Tersedia pada

http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/viewFile/5835/4500. Iqbal,M dan Soemaryanto. 2007. Strategi pengendalian alih fungsi lahan pertanian

bertumpu pada partisipasi masyarakat. [internet]. [diunduh 2014 Juni 3]. Tersedia pada : http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/ART5-2c.pdf Marstaningsih A. 2008. Peluang perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi

permukiman berdasarkan karakteristik pemilik lahan (Studi Kasus Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung,Kabupaten Bogor) [Skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Marsusanti E. 2007. Identifikasi dan analisis permasalahan institusi dalam kompleksitas penataan kawasan puncak (Studi Kasus Kelurahan Cisarua dan Desa Tugu Utara Kabupaten Bogor) [Tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Munir M. 2008. Pengaruh konversi lahan pertanian terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga petani (Kasus: Desa Candimulyo, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah) [Skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Nugroho I. 2004. Pembangunan Wilayah : Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan. Jakarta (ID) : LP3ES

Rusli S. 2012. Pengantar Ilmu Kependudukan. Jakarta (ID): LP3ES

Sitorus et al. 2008. Perubahan struktur agraria dan diferensiasi kesejahteraan petani. [laporan hasil penelitian]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor

Soemarno. 2013. Konversi lahan (MK. Landuse planning & land management). [internet]. [diunduh 2014 Juni 2]. Tersedia pada

Tenaya, Ambarawati, Suputra. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsil lahan studi kasus di subak daksina, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. E-journal Agribisnis dan Agrowisata (1) [Internet]. [diunduh 2014 Juni 3]; 1(1):1-8. Tersedia pada :

(17)

Lampiran

Lampiran 1. Kuesioner

KUESIONER

PENGARUH KONVERSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI

(18)

No. Responden : ……… Lokasi Wawancara : ………

Hari/Tanggal : ………

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2014

KUISIONER I

Petunjuk:

Isilah jawaban pada titik-titik (...) serta berilah tanda (√) pada setiap kolom ( ) yang sesuai di bawah ini

IDENTITAS RESPONDEN

(19)

Umur : ...

Jenis Kelamin : ... Tempat Tinggal : ... Lokasi bekerja : ...

Faktor-faktor yang mendorong pengambilan keputusan petani untuk mengkonversi lahan

3. Berapa jumlah anggota keluarga Anda (termasuk Anda)? ………….orang

4. Berapa jumlah anggota keluarga yang masih menjadi tanggungjawab Anda (termasuk Anda)? ………….orang

5. Apakah ada anak (usia sekolah) Anda yang masih bersekolah? ( ) Ya ( ) Tidak (langsung ke nomor 7)

Jika tidak, apa alasannya:... 6. Berapa jumlah anak Anda yang masih sekolah?

…………..orang

b. Tingkat pendapatan rumah tangga

7. Apakah ada dari anggota keluarga Anda (tidak termasuk Anda) yang sudah bekerja?

( ) Ya ( ) Tidak (langsung ke nomor 11)

8. Berapa jumlah anggota keluarga Anda yang sudah bekerja? …………..orang

9. Apakah anggota keluarga Anda yang sudah bekerja tersebut membantu Anda dalam memenuhi kebutuhan keluarga?

( ) Ya ( ) Tidak (langsung ke nomor 11)

10. Berapa proporsi bantuan yang dilakukan oleh anggota keluarga Anda yang sudah bekerja tersebut? ………….% kebutuhan keluarga

11. Berapa total pendapatan rumah tangga Anda? Rp.………../bulan

(20)

( ) Ya ( ) Tidak

Jelaskan……….

c. Kepemilikan Lahan

13. Apakah status lahan yangAnda miliki? ( ) Sewa ( ) Sakap ( ) Milik ( ) Gadai

14. Berapa luas lahan yang Anda miliki? ………….ha

15. Apakah Anda hanya bergantung pada lahan tersebut untuk sumber penghasilan?

( ) Ya (langsung ke no. 18) ( ) Tidak

16. Berapa persentase pendapatan pertanian yang berasal dari lahan tersebut terhadap total pendapatan tumah tangga. ………..% pendapatan rumah tangga.

17. Apakah ada bagian dari lahan Anda yang Anda konversi? ( ) Ya ( ) Tidak (Langsung ke nomor 20)

18. Berapa persentase lahan yang anda konversi dari lahan yang anda milki?...%bulan

19. Berapa total pendapatan rumah tangga Anda sebelum mengkonversi lahan?

C. FAKTOR EKSTERNAL

20. Apakah ada dari tetangga yang memiliki lahan pertanian di sekitar lahan Anda yang mengkonversi lahan pertaniannya menjadi villa atau tempat wisata tau restoran? ( ) Ya ( ) Tidak

21. Berapa banyak? ………orang

22. Apakah ada pengusaha di bidang non pertanian yang mempengaruhi Anda agar mengkonversi lahan?

( ) Ya ( ) Tidak (langsung ke nomor 24)

23. Berapa kali pengusaha tersebut datang menemui Anda untuk kepentingan tersebut? …………kali

24. Apakah pemerintah daerah mendukung pengembangan pertanian di sini? ( ) Ya ( ) Tidak (langsung ke nomor 26)

25. Apakah bentuk dukungan pemerintah daerah tersebut?

………

(21)

.

a) Panduan Pertanyaan (responden/petani yang mengkonversi lahan)

1. Sejak kapan Anda menjadi petani? 2. Mengapa Anda menjadi petani?

3. Tanaman apa yang paling menjanjikan? 4. Apa orientasi Anda bertani?Jelaskan.

5. Apakah dengan bertani, Anda bisa memenuhi kebutuhan keluarga Anda terutama dalam hal konsumsi?

6. Bagaimana peran pemerintah daerah dalam menangani masalah pertanian di desa ini?Apakah pernah memberi bantuan saprotan dll?Jelaskan.

7. Bagaimana cara Anda mendapatkan lahan tersebut? 8. Seberapa penting lahan yang Anda miliki bagi Anda? 9. Menurut Anda, apa fungsi utama lahan bagi Anda?

10. Sejak kapan Anda menjual lahan anda untuk dijadikan villa, restoran atau industri atau pemukiman?

11. Mengapa demikian?

12. Mengapa Anda mengkonversikan lahan Anda? Jika mungkin, ceritakan latar belakang/proses bagaimana Anda mengkonversikan lahan Anda.

13. Apakah ada yang mendorong Anda untuk mengkonversi lahan Anda? Jika ya, bagaimana prosesnya?

14. Setelah Anda mengkonversi lahan, pernahkah pemerintah daerah mengingatkan untuk kembali menanami lahan Anda?

15. Menurut Anda, apakah ada perbedaan sebelum Anda mengkonversikan lahan Anda dengan sesudah mengkonversi dilihat dari aspek kesejahteraan. Jelaskan. 16. Menurut Anda, apa dampak dari adanya pembangunan villa, atau tempat wisata

atau industri bagiAnda?

b) Panduan Pertanyaan (responden/petani yang tidak mengkonversi lahan)

1. Sejak kapan Anda menjadi petani? 2. Mengapa Anda menjadi petani?

(22)

5. Apakah dengan bertani, Anda bisa memenuhi kebutuhan keluarga Anda terutama dalam hal konsumsi?

6. Bagaimana peran pemerintah daerah dalam menangani masalah pertanian di desa ini?Apakah pernah memberi bantuan saprotan dll?Jelaskan.

7. Bagaimana cara Anda mendapatkan lahan tersebut? 8. Seberapa penting lahan yang Anda miliki bagi Anda? 9. Menurut Anda, apa fungsi utama lahan bagi Anda?

10. Mengapa Anda tidak mengkonversi lahan Anda seperti yang dilakukan oleh tetangga-tetangga Anda?

c) Panduan Pertanyaan (Aparat desa/tokoh masyarakat/warga ssetempat)

1. Apa rata-rata jenis mata pencaharian utama bagi masyarakat desa ini? 2. Kira-kira berapa jumlah petani di desa ini?

3. Siapa saja petani yang memiliki lahan sendiri?

4. Siapa saja petani yang kini mengubah lahannya menjadi tambang pasir dan batu?

5. Sejak kapan fenomena konversi lahan mulai banyak terjadi di desa ini? 6. Menurut Anda, mengapa petani di sini banyak yang mengkonversikan lahannya?

Kira-kira, apa faktor utama yang mendorong mereka mengkonversi lahan? 7. Apakah ada pengusaha atau perusahaan yang bergerak di bidang non pertanian

yang membeli lahan-lahan para petani atau mempengaruhi menjual tanahnya? 8. Bagaimana peran pemerintah daerah dalam menangani masalah pertanian di

desa ini?

9. Bagaimana reaksi pemerintah daerah terhadap fenomena konversi lahan yang marak terjadi di desa ini?

10. Menurut Anda, bagaimana tingkat kesejahteraan petani yang telah mengkonversi lahan?

11.Menurut Anda, apa dampak dari kegiatan penambangan batu dan pasir yang banyak dilakukan oleh masyarakat desa ini bagi lingkungan?

12. Apakah ada penanganan lebih lanjut?

13. Menurut Anda, apa fungsi utama lahan bagi masyarakat di sini?

d) Panduan Pertanyaan Tentang Persepsi Masyarakat Terhadap Lahan (masyarakat/petani/tokoh masyarakat/perangkat desa)

1. Menurut Anda, apakah lahan sangat bernilai ekonomi?

2. Seberapa besar ketergantungan masyarakat khususnya petani terhadap lahan? 3. Ciri-ciri apa yang membuat lahan bernilai tinggi?

4. Mengapa sering terjadi jual beli lahan? 5. Apa yang membuat nilai lahan menurun?

(23)

7. Bagaimana sistem pewarisan lahan di desa ini?

(24)
(25)
(26)
(27)
(28)

Referensi

Dokumen terkait

Pembangunan dan pertumbuhan jumlah penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan akan jumlah lahan yang tidak sedikit, sehingga lahan yang dapat dimanfaatkan semakin terbatas ,

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan kapanpun dan dimanapun mereka berada. Pendidikan sangat penting artinya,

Fakta yang masih menunjukkan adanya proses pemiskinan petani sawah (tanaman pangan) adalah (1) Pertumbuhan dan Perkembangan Jumlah Penduduk (Rasio Manusia Lahan

Pertambahan jumlah penduduk yang terjadi sangat pesat di wilayah Indonesia (Provinsi Sumatera Utara khususnya) menyebabkan kebutuhan lahan semakin besar.Banyaknya jumlah

Penataan ruang menjadi sangat penting peranan pada saat tekanan penggunaan lahan semakin meningkat seiring berkembangnya penduduk dan semakin pesatnya industrialisasi, maka

Dengan bertambahnya jumlah populasi manusia atau penduduk, maka jumlah kebutuhan makanan yang diperlukan juga semakin banyak. Bila hal ini tidak diimbangi dengan

Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok bagi manusia. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, kebutuhan akan rumah ikut meningkat. Itu terbukti dengan semakin banyaknya

Tiga hal pokok yang menjadi dasar analisis ketahanan pangan yakni (1) ketersediaan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik jumlah